Anda di halaman 1dari 10

1

Kata Pengantar Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Hidayat-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Organisasi Internasional I ini dengan judul RATIFIKASI ASEAN AGREEMENT ON TRANSBOUNDARY HAZE POLLUTION OLEH INDONESIA SEBAGAI PENANGGULANGAN MASALAH PENCEMARAN ASAP LINTAS BATAS NEGARA dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Organisasi Internasional I. Penulis menyadari dalam pembuatan tugas ini masih jauh dari sempurna, hal ini tidak lain karena kemampuan dan pengalaman yang terbatas. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk penyempurnaan tugas ini. Pada kesempatan ini dengan tulus, penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih yang teramat besar kepada dosen pengajar mata kuliah Organisasi Internasional I, kedua orang tua penulis dan pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tugas akhir ini. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda kepada semua pihak yang telah turut membantu dalam penyelesaian tugas akhir ini.

Bandung, 4 Desember 2011

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR1 DAFTAR ISI 2 RINGKASAN.3 PENDAHULUAN...4 Latar Belakang4 Tujuan5 Manfaat5 GAGASAN5 Kebakaran Hutan di Indonesia6 ASEAN Agreement on Transboundary Haze pollution atau AATHP 6 Prediksi Penurunan Intensitas Kebakaran Hutan di Indonesia setelah Ratifikasi AATHP 7 Pihak-Pihak yang Dapat Mendorong Indonesia agar Segera Meratifikasi Persetujuan AATHP8 Langkah-Langkah Strategis dalam Mendorong Indonesia untuk Segera Meratifikasi AATHP8 KESIMPULAN8 Gagasan yang Diajukan8 Teknik Implementasi yang Akan Dilakukan8 Prediksi Hasil yang Akan Diperoleh8

Ratifikasi Asean Agreement On Transboundary Haze Pollution oleh Indonesia Sebagai Penanggulangan Masalah Pencemaran Asap Lintas Batas Negara

Ringkasan Dampak-dampak dari kebakaran hutan di Indonesia telah merugikan tidak hanya Indonesia sendiri, namun juga negara-negara tetangganya seperti Malaysia dan Singapore. Selain mengancam kepariwisataan dan keanekaragaman hayati, kebakaran hutan di Indonesia telah mencapai tahap pencemaran asap lintas batas negara. . Pada tahun 2002, ASEAN mengeluarkan Persetujuan ASEAN mengenai Polusi Asap Lintas Batas Negara (ASEAN Agreement On Transboundary Haze Pollution) yang disetujui dan diratifikasi oleh 10 negara anggota untuk menanggulangi masalah polusi asap ini. Namun, hingga tahun ini, Indonesia hanya melakukan persiapan ratifikasi terhadap Persetujuan ASEAN mengenai Polusi Asap Lintas Batas Negara (selanjutnya disebut AATHP) ini. Sehingga, muncul gagasan untuk Indonesia agar segera meratifikasi persetujuan AATHP ini. Tujuan gagasan ini adalah agar Indonesia dapat mereduksi intensitas kebakaran hutan di negaranya melalui ratifikasi AATHP ini. Manfaat yang diperoleh sangat banyak seperti mengendalikan perusahaan yang ingin membuka lahan dengan cara pembakaran hutan, bertukar informasi dan teknologi dengan negara lain untuk kepentingan pencegahan dan mitigasi kebakaran hutan serta pemberdayaan sumber daya manusia dalam hal memantau situasi kebakaran hutan atau titik api. Peratifikasian persetujuan AATHP dalam bentuk RUU membuat pemerintah memiliki wewenang untuk membuat kebijakan publik mengenai persetujuan ini di Indonesia. Melalui kebijakan public tersebut, diharapkan para perusahaan dapat mengadopsi ketetapan-ketetapan yang berlaku yang dibuat atas dasar persetujuan ini. Pihak-pihak yang dipertimbangkan dapat mendorong percepatan ini adalah seluruh anggota-anggota ASEAN yang telah meratifikasi persetujuan ini, pemerintah, aktivis lingkungan, serta masyarakat.

Kata kunci: ASEAN, Kebakaran Hutan, Ratifikasi, Pencemaran asap lintas batas, AATHP

PENDAHULUAN Latar Belakang Kebakaran hutan yang telah menjadi fenomena tahunan di Indonesia membuat negara ini mendapat predikat penghasil asap terbesar di Asia Tenggara. Kebakaran hutan di Indonesia mendapat perhatian internasional dengan terjadinya pencemaran asap lintas-batas negara. Pencemaran asap lintas-batas negara tidak hanya merugikan Indonesia sendiri, namun juga negara-negara tetangga Indonesia. Hal ini menimbulkan masalah lingkungan di beberapa negara sekaligus akibat dari kebakaran hutan yang dialami Indonesia yang merupakan pelanggaran hukum internasional. Sebagai negara anggota ASEAN, kasus kebakaran hutan di Indonesia yang seringkali diakibatkan oleh pembukaan lahan tentunya menjadi masalah serius bagi anggotanya. ASEAN, sebagai organisasi internasional regional merupakan instrument penting dalam penanggulangan masalah ini, mengingat beberapa negara anggotanya terkena dampak dari kebakaran hutan Indonesia. Pada tahun 2002, ASEAN mengeluarkan Persetujuan ASEAN mengenai Polusi Asap Lintas Batas Negara (ASEAN Agreement On Transboundary Haze Pollution) yang disetujui dan diratifikasi oleh 10 negara anggota. Namun, hingga tahun ini, Indonesia hanya melakukan persiapan ratifikasi terhadap Persetujuan ASEAN mengenai Polusi Asap Lintas Batas Negara (selanjutnya disebut AATHP) ini. AATHP bertujuan untuk mencegah dan menanggulangi masalah bersama mengenai pencemaran asap lintas batas negara melalui upaya nasional, regional dan internasional yang intensif, persetujuan ini juga bertujuan untuk menjaga perdamaian antar anggota ASEAN. Pada tahun 2002, persetujuan ini telah ditandatangani oleh 10 negara dan pada tahun 2003, persetujuan ini mulai berlaku setelah diratifikasi oleh enam negara anggota ASEAN. Posisi Indonesia sebagai salah satu negara yang beberapa kali menjadi penyumbang pencemaran asap lintas batas negara hingga akhir tahun 2011 ini belum juga meratifikasi persetujuan ini, sehingga belum dapat menjadi negara pihak yang memiliki hak yang sama dengan negara-negara lain yang telah meratifikasi. Dampak-dampak lingkungan yang terjadi pada negara anggota akibat kasus pencemaran asap lintas batas negara oleh Indonesia ini menghasilkan gagasan agar Indonesia segera meratifikasi persetujuan AATHP. Ratifikasi ini akan menguntungkan terutama bagi lingkungan Indonesia sendiri dan khususnya bagi negara-negara tetangga Indonesia. Keuntungan tersebut adalah mencegah terjadinya kebakaran hutan atau lahan baik yang disengaja maupun tidak serta menanggulangi pencemaran asap lintas batas negara yang telah terjadi di Indonesia terhadap negara-negara lain. Selain itu, dengan diratifikasinya persetujuan ini, maka lahan atau hutan yang terbakar dapat berkurang sehingga kelestarian alam dan keanekaragaman hayati di Indonesia dapat terjaga serta mencegah peningkatan polusi di negara-negara lain.

TUJUAN DAN MANFAAT Tujuan Tujuan dari gagasan ini adalah agar Indonesia segera meratifikasi AATHP dalam bentuk RUU, sehingga apabila telah diratifikasi, pemerintah memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan publik yang dapat mengatur pengusahapengusaha maupun lembaga agar dapat mengadopsi ketetapan-ketetapan yang berlaku. Ketetapan yang diberlakukan nantinya diperkirakan dapat mengendalikan intensitas kebakaran hutan baik yang disengaja maupun tidak sehingga mencegah pencemaran asap lintas batas negara.

Manfaat Manfaat dari gagasan ini secara umum adalah (Maruli, 2011): 1. Dengan diratifikasinya AATHP oleh Indonesia diharapkan dapat mengurangi intensitas pencemaran asap lintas batas negara di ASEAN 2. Mengurangi dampak kerusakan lingkungan terutama terhadap Indonesia dan khususnya terhadap negara-negara tetangganya 3. Mengendalikan pihak-pihak yang melakukan pembakaran hutan untuk membuka lahan 4. Memberi peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi tuan rumah ASEAN Center sehingga dapat memanfaatkan secara optimal untuk alih pengetahuan dan teknologi serta penelitian guna meminimalkan terjadinya kebakaran hutan. 5. Meningkatkan pendidikan dan kesadaran masyarakat melalui kerjasama ASEAN dan bantuan internasional dalam hal pencegahan, mitigasi dan pengendalian kebakaran hutan. 6. Memperkuat manajemen dan kemampuan dalam hal pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, pemantauan, penganggulangan dan pengendalian kebakaran hutan. 7. Indonesia memiliki kesempatan untuk memperoleh Clean Development Mechanism (CDM) bila tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan. 8. Menghindari kampanye negatif dari masyarakat Eropa tentang produk sawit maupun kayu Indonesia yang sering dikaitkan dengan produk yang tidak ramah lingkungan. 9. Dari sisi teknis, kerjasama tanggap darurat regional di mana Malaysia dan Singapura merasa berkepentingan untuk membantu Indonesia melakukan pemadaman kebakaran hutan maupu kegiatan pembersihan asap.

GAGASAN Kebakaran Hutan di Indonesia Pembukaan lahan oleh perusahaan, pembakaran sisa-sisa hasil panen, atau musim kemarau berkepanjangan merupakan faktor-faktor penyebab kebakaran hutan di Indonesia. Penanggulangan kebakaran hutan bukanlah hal mudah mengingat api yang mudah menjalar sulit untuk dipadamkan. Kebakaran hutan dapat mengakibatkan terjadinya kabut asap yang dapat mengganggu aktifitas manusia. Apabila terjadi kebakaran hutan dalam skala besar, tidak jarang kabut asap terjadi di negara tetangga Indonesia, sehingga mengganggu aktifitas dan membahayakan kesehatan mereka. Selain itu, keanekaragaman hayati di hutanhutan yang terbakar dapat terancam punah apabila kondisi ini terus dibiarkan. Akibatnya, hal ini dapat memicu reaksi keras dari para aktivis lingkungan serta memicu konflik dengan negara tetangga yang terkena dampak kabut asap dari kebakaran hutan di Indonesia. Saat ini Indonesia menjabat sebagai ketua ASEAN 2011 dan masih dalam tahap persiapan untuk meratifikasi AATHP. Persiapan ratifikasi ini juga belum diketahui apakah akan diratifikasi dalam bentuk RUU atau Kepres (Maruli, 2011). Namun, sejak januari 2011, ratifikasi belum juga dilakukan dan beberapa kasus kebakaran lahan atau hutan masih terjadi. Belum diratifikasinya persetujuan ini oleh Indonesia mengakibatkan Indonesia belum dapat memiliki hak-hak yang dimiliki oleh negara lain yang sudah meratifikasinya. Sebenarnya, pencemaran udara lintas batas negara dapat diselesaikan secara nasional, meskipun terdapat aspek-aspek internasional di dalamnya (Flinterman, 1986 ). Penyusutan sumber polusi setidaknya merupakan tindakan nasional. Jika suatu negara melakukan semua yang mungkin untuk meredamnya, maka masalah dapat terselesaikan. Namun, terdapat dua elemen mengapa dibutuhkan tindakan internasional dalam hal ini (idem). Pertama, sebuah negara berada dalam kondisi yang berbahaya apabila ia tidak memiliki hasrat politik yang kemudian menggagalkan usaha-usaha yang dilakukan oleh pihak lain. Pengabaian politik seperti ini hanya bisa dicegah melalui regulasi internasional. Dampak pencemaran udara lintas batas negara memberikan permasalahan dalam dimensi internasional. Jika suatu negara tidak dapat mengambil tindakan tepat, maka negara lain akan merasakan dampaknya. Kedua, hubungan internasional dewasa ini memungkinkan suatu negara untuk mengadopsi aturan-aturan yang masuk akal tanpa harus melakukan kerjasama internasional.

ASEAN Agreement on Transboundary Haze pollution atau AATHP Kebakaran hutan di beberapa negara di Asia Tenggara telah menimbulkan kerugian tidak hanya pada negara yang mengalami kebakaran hutan namun juga negara sekitarnya. Untuk itu, demi mereduksi terjadinya pencemaran asap lintas batas negara sebagai dampak dari kebakaran, ASEAN telah membuat suatu persetujuan mengenai hal ini, yaitu ASEAN Agreement on Transboundary Haze pollution.

ASEAN Agreement on Transboundary Haze pollution atau AATHP telah diratifikasi oleh Sembilan negara anggota ASEAN pada bulan maret 2010 (Haze.asean.org). Persetujuan ini mendefinisikan polusi kabut asap sebagai hasil dari kebakaran lahan atau hutan yang mengganggu kesehatan manusia, membahayakan sumber daya alam, ekosistem, dan material properti, serta merusak atau mencampuri keramahan lingkungan dan penggunaan lingkungan yang sah. Persetujuan ini bertujuan untuk mencegah dan memantau polusi yang harus di mitigasi melalui persetujuan nasional bersama dan mengintensifikasi kerjasama regional dan internasional. Untuk itu, tindakan pencegahan harus dilakukan, jika perlu juga dilakukan pembangunan dan implementasi tindkan internasional yang bertujuan untuk mengontrol sumber kebakaran, mengidentifikasi kebakaran, membuat sistem pemantauan, penaksiran, dan sistem peringatan dini, pertukaran informasi dan teknologi dan menyediakan bantuan bersama. Pihak-pihak yang bersangkutan harus mengambil tindakan yang benar untuk memantau daerah-daerah rawan kebakaran, kebakaran hutan atau lahan, kondisi lingkungan yang konduktif terhadap kebakaran, dan polusi asap yang muncul akibat kebakaran tersebut, serta pencegahan tindakan lain yang diperlukan. Kerjasama teknis termasuk pelatihan relevan, pendidikan dan kampanye peningkatan peringatan, terutama yang berhubungan dengan promosi praktik zero-burning dan meningkatkan kesadaran akan dampak yang ditimbulkan oleh polusi asap terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. (Kiss, 2007)

Prediksi Penurunan Intensitas Kebakaran Hutan di Indonesia setelah Ratifikasi AATHP Sebagai salah satu penyumbang asap kebakaran hutan ke negara tetangga, Indonesia harus segera meratifikasi persetujuan AATHP. Dengan meratifikasi AATHP dalam bentuk RUU, diharapkan dapat mereduksi angka pembakaran hutan atau lahan oleh suatu perusahaan yang ingin membuka lahan. Meskipun pembakaran lahan atau hutan ini dilakukan dengan prosedur yang tepat, namun seringkali pembakaran hutan ini tidak dapat dikendalikan dan merembet hingga ke batas luar area pembukaan lahan dan mengakibatkan pencemaran lintas batas negara. Peratifikasian persetujuan AATHP dalam bentuk RUU membuat pemerintah memiliki wewenang untuk membuat kebijakan publik mengenai persetujuan ini di Indonesia. Melalui kebijakan public tersebut, diharapkan para perusahaan dapat mengadopsi ketetapan-ketetapan yang berlaku yang dibuat atas dasar persetujuan ini. Persetujuan ini juga memberikan keuntungan dimana adanya pertukaran informasi dan teknologi antar anggota yang telah meratifikasi, sehingga dapat mengurangi kebakaran hutan. Selain itu, Indonesia dapat memperkuat manajemen dan kemampuan dalam hal pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, pemantauan, penanggulangan dan pengendalian kebakaran hutan.

Pihak-Pihak yang Dapat Mendorong Indonesia agar Segera Meratifikasi Persetujuan AATHP

Proses percepatan ratifikasi persetujuan AATHP oleh Indonesia diharapkan dapat terrealisasi. Pihak-pihak yang dipertimbangkan dapat mendorong percepatan ini adalah seluruh anggota-anggota ASEAN yang telah meratifikasi persetujuan ini, pemerintah, aktivis lingkungan, serta masyarakat. Negara-negara anggota ASEAN yang telah meratifikasi persetujuan ini memiliki peran untuk berdiplomasi dengan menunjukkan keuntungan-keuntungan yang didapat melalui persetujuan ini. Selain itu, negara-negara ini dapat berposisi sebagai ancaman bagi Indonesia untuk tidak mempromosikannya dalam aspek kepariwisataan bersama. Pemerintah tentunya berperan besar dalam hal ini, dimana keputusan berada di tangan mereka apakah persetujuan ini akan segera diratifikasi atau tidak. Aktivis lingkungan berperan untuk mendesak pemerintah dengan mensosialisasikan dampak-dampak yang terjadi akibat kebakaran hutan serta edukasi mengenai penanggulangan, pencegahan kebakaran hutan dan mengenai perjanjian AATHP itu sendiri. Masyarakat baik nasional maupun internasional dapat mendukung negaranya untuk segera meratifikasi persetujuan ini demi kesehatan mereka.

Langkah-Langkah Strategis dalam Mendorong Indonesia untuk Segera Meratifikasi AATHP 1. Sosialisasi kepada masyarakat mengenai dampak-dampak yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan serta pencemaran asap lintas batas negara dengan bantuan aktivis lingkungan 2. Mengajukan petisi

KESIMPULAN Gagasan yang Diajukan Untuk dapat mereduksi kebakaran hutan di Indonesia serta dampak utamanya terhadap negara tetangga yaitu pencemaran asap lintas batas negara, maka diajukan gagasan untuk segera meratifikasi persetujuan AATHP. Dengan diratifikasinya persetujuan AATHP ini diharapkan perusahaan-perusahaan dapat mengadopsi ketetapan-ketetapan yang berlaku yang dibuat oleh pemerintah atas dasar persetujuan ini.

Teknik Implementasi yang Akan Dilakukan Teknik pengimplementasian penulisan gagasan ini adalah dengan mensosialisasikannya terhadap masyarakat terutama perusahaan-perusahaan besar

dan mengkampanyekan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan serta membuat petisi kepada pemerintah.

Prediksi Hasil yang Akan Diperoleh Peratifikasian persetujuan AATHP oleh Indonesia sangat menguntungkan bagi Indonesia juga bagi negara-negara tetangganya dalam berbagai aspek, terutama lingkungan. 1. Aspek Lingkungan Mengurangi dampak-dampak kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh kebakaran hutan baik di Indonesia maupun di negara-negara tetangganya. Mengurangi dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan di masyarakat. Menghindari kampanye negatif dari masyarakat Eropa tentang produk sawit maupun kayu Indonesia yang sering dikaitkan dengan produk yang tidak ramah lingkungan

2. Aspek Sosial Meningkatkan pendidikan dan kesadaran masyarakat melalui kerjasama ASEAN dan bantuan internasional dalam hal pencegahan, mitigasi dan pengendalian kebakaran hutan.

3. Aspek Ekonomi Memanfaatkan sumberdaya manusia dan peralatan yang ada di negara ASEAN dan di luar ASEAN untuk melakukan pemantauan, penilaian dan tanggap darurat dari kebakaran hutan atau lahan yang menyebabkan pencemaran asap lintas batas

4. Aspek Politik Memelihara perdamaian antar anggota ASEAN serta meningkatkan citra Indonesia di mata para anggota ASEAN.

DAFTAR PUSTAKA Alexandre Kiss dan Dinah Shelton. 2007. Guide to International Environmental Law. Martinus Nijhoff Publishers: Leiden C. Flinterman (eds). 1986. Transboundary air pollution: international legal aspects of the co-operation of states. Brill. Koh, Kheng Lian. 2009. ASEAN Environmental law, policy, and governance: selected documents, Volume 1. World Scientific. 2011. SIARAN PERS: PERSETUJUAN ASEAN TENTANG PENCAMARAN ASAP LINTAS BATAS. < http://www.menlh.go.id/persetujuan-asean-tentangpencamaran-asap-lintas-batas/> [6 Desember 2011]

2010. ASEAN Agreement on Transboundary Haze <http://haze.asean.org/hazeagreement/> [6 Desember 2011]

pollution.

Maruli, Aditia (ed). 2011. Indonesia Akan Ratifikasi Persetujuan Pencemaran Asap. <http://www.antaranews.com/berita/1295885901/indonesia-akanratifikasi-persetujuan-pencemaran-asap> [6 Desember 2011]