ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.

S DENGAN GANGGUAN KEBUTUHAN KESELAMATAN KEAMANAN DI RUANG UMAR RUMAH SAKIT ROEMANI SEMARANG

DISUSUN OLEH : 1. CATUR BESARI N. 2. DESTI SASTRI A. 3. DJUMI JATI 4. DWI ERNAWATI 5. ELIYATUL LAILY G5A206013 G5A206014 G5A206015 G5A206016 G5A206017

PROGRAM NERS FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG 2007

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keselamatan dan keamanan adalah suatu keadaan seseorang atau lebih yang terhindari dari ancaman bahaya atau kecelakaan, keadaan aman dan tentram. Faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan keselamatan dan keamanan yaitu usia, tingkat kesadaran, emosi, status mobilisasi, gangguan sensori, informasi / komunikasi, penggunaan antibiotik yang tidak rasional, keadaan imunitas, ketidakmampuan tubuh dalam memproduksi sel darah putih, status nutrisi, tingkat pengetahuan. Pasien Tn. S umur 68 tahun sudah 19 hari di rawat di Ruang Umar Rumah Sakit Roemani Semarang dengan diagnosa medis cidera kepala ringan, fraktur clavikula, fraktur femur, post WSD, efusi pleura, post reposisi terbuka, operasi costa 2, 3, 4. Pasien tidak dapat beraktifitas apapun. Aktifitas makan, minum, BAK, BAB semuanya dibantu oleh orang lain, adanya faktor risiko terjadinya gangguan keselamatan dan keamanan pada Tn. S yaitu kelemahan fisik, immobilisasi, penggunaan alat bantu seperti pemasangan infus, pemasangan oksigenasi, pemasangan kateter. Mengingat pentingnya kebutuhan gangguan keselamatan dan keamanan pada Tn. S dan adanya faktor risiko yang dapat menyebabkan gangguan kebutuhan keselamatan dan keamanan, maka kelompok membuat “Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Kebutuhan Keselamatan dan Keamanan di Ruang Umar RS Roemani”. B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Mengelola klien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan kesehatan dan keamanan

2. Tujuan Khusus Melakukan asuhan keperawatan klien dengan gangguan kebutuhan keselamatan dan keamanan meliputi : a. b. c. d. e. C. Ruang Lingkup Ruang lingkup penulisan makalah ini adalah “Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Kebutuhan Keselamatan dan Keamanan di Ruang Umar RS Roemani” D. Metode Dalam penyusunan makalah ini menggunakan metode deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Sedangkan teknik pengumpulan datanya dengan : 1. Observasi Yaitu mengadakan pengawasan langsung terhadap keadaan umum pasien serta perkembangannya sambil melaksanakan asuhan keperawatan selama observasi. 2. Wawancara Yaitu tanya jawab dengan pasien, keluarga pasien, perawat dan tenaga kesehatan yang ikut menangani. 3. Studi Dokumentasi Yaitu dengan mempelajari catatan medik pasien, buku laporan serta dokumen lainnya untuk membandingkan dengan kata yang kelompok dapatkan. Melakukan pengkajian Melakukan perumusan diagnosa keperawatan Melakukan perencanaan tindakan keperawatan Melakukan tindakan keperawatan Mengevaluasi tindakan keperawatan

diagnosa keperawatan.4. literatur yang berkaitan dengan kebutuhan dasar perawatan pasien dengan kebutuhan. keselamatan dan keamanan. 4. pengkajian. 5. metode dan sistematika penulisan. ruang lingkup. implementasi dan evaluasi. terdiri atas hal yang ditemukan pendukung dan penghambat . Studi Kepustakaan Yaitu dengan mempelajari buku-buku. Bab II Konsep Dasar. macam-macam bahaya / kecelakaan. Bab III Tinjauan Kasus. E. gangguan kebutuhan keselamatan dan keamanan terdiri atas pengertian. 3. gangguan kebutuhan keselamatan dan keamanan. perencanaan. Sistematika Penulisan 1. Bab V Penutup. terdiri atas pengkajian. tindakan keperawatan. Bab IV Pembahasan. faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan keselamatan dan keamanan. Daftar Pustaka . 2. membandingkan teori dengan pelaksanaan. diagnosa keperawatan. data penunjang. tujuan penulisan. terdiri atas kesimpulan dan saran. Bab I Pendahuluan terdiri atas latar belakang.

BAB II .

6. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Keselamatan dan Keamanan . kelemahan otot dan kesadaran menurun. Usia Pada anak-anak tidak terkontrol dan tidak mengetahui akibat dari apa yang dilakukan. depresi dan marah akan mudah sekali terjadi dan berpengaruh terhadap masalah keselamatan dan keamanan. Pada orang tua / lansia akan mudah sekali terjatuh / kerapuhan tulang. paralysis. 4. Status mobilisasi Keterbatasan aktivitas. menurunnya respons terhadap rangsang. 3. Informasi / Komunikasi Gangguan komunikasi seperti aphasia / tidak dapat membaca dapat menimbulkan kecelakaan. memudahkan terjadinya risiko injuri / gangguan integritas kulit. Gangguan persepsi sensori Kerusakan sensori akan mempengaruhi adaptasi terhadap rangsangan yang berbahaya seperti gangguan penciuman dan penglihatan. 2004). Keamanan adalah keadaan aman dan tentram (Tarwoto & Wartonah. 5. Pengertian Keselamatan adalah suatu keadaan seseorang atau lebih yang terhindar dari ancaman bahaya atau kecelakaan (Tarwoto & Wartonah. 2004).KONSEP DASAR GANGGUAN KEBUTUHAN KESELAMATAN DAN KEAMANAN A. Tingkat Kesadaran Pada pasien koma. B. 7. 2. Emosi Emosi seperti kecemasan. disorientasi dan kurang tidur. 1. paralysis.

Jatuh c. Terluka dalam kamar l. Ketidakmampuan tubuh dalam memproduksi sel darah putih Sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan tubuh terhadap suatu penyakit. 2004) C. Terpotong g. 11. Luka tusuk / luka gores h. 10. demikian sebaliknya kelebihan nutrisi berisiko terhadap penyakit tertentu. Terluka pecahan kaca k. Luka bakar i. Tersiram air panas e. 8. (Tarwoto & Wartonah. Di Rumah a. Keadaan immunitas Gangguan immunitas akan menimbulkan daya tahan tubuh yang kurang sehingga mudah terserang penyakit. Macam-macam Bahaya / Keselamatan Gangguan Kebutuhan Keselamatan dan Keamanan 1. Tertelan alat-alat tumah tangga d. Keracunan . Jatuh dari Jendela / tangga f. Tenggelam j. Jatuh dari sepeda m.Antibiotik dapat menimbulkan resisten dan anafilaktik syok. Status nutrisi Keadaan nutrisi yang kurang dapat menimbulkan kelemahan dan malah menimbulkan penyakit. Tingkat pengetahuan Kesadaran akan terjadinya gangguan keselamatan dan keamanan dapat diprediksi sebelumnya. Tersedak b. 9.

Pengkajian seperti adanya perubahan perilaku pasien karena gangguan sensori komunikasi 1. Keracunan inhalusi / injeksi j. Di Rumah Sakit a. Pemeriksaan laboratorium Gula darah 3. Kesalahan prosedur g.2. Faktor-faktor yang berhubungan dengan sistem sensori komunikasi pasien . Data Penunjang Rontgen 2. 2004) D. Cahaya b. Elektrik syok k. Mikroorganisme (Tarwoto & Wartonah. Aspiksia dan kebakaran l. Pemeriksaan diagnostik 1. Melihat struktur sistem pernafasan Thorax E. Kelembaban e. Cidera f. Temperatur d. Kebisingan c. Peralatan medik h. Radiasi i.

Kelemahan c. Kebosanan dan tidak bergerak f. Kelesuan d. Gangguan persepsi 1. Kesadaran menurun b. Ilusi e. Immobilisasi d. Episode kejang g. Halusinasi b. Perasaan terasing g. Vertigo h. Gangguan proses pikir c.a. Kurangnya konsentrasi h. Risiko injuri berhubungan dengan : . Penggunaan alat bantu F. Diagnosa Keperawatan a. Faktor risiko yang berhubungan dengan keadaan klien a. Epilepsi f. Kurangnya informasi tentang keamanan b. Kurangnya koordinasi dan keseimbangan 2. Kelemahan fisik c. Gangguan kesadaran d. Kurangnya koordinasi otot e.

pada tempatnya Cek vital sign setiap 4 jam dan kepatenan saluran 1. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan a. d. Prosedur invasive e. Terpaparnya lingkungan yang terkontaminasi penyakit d. Cek keadaan pasien sikap jam berikan penghalang pada tempat tidurnya Rasional : pencegahan risiko b. Kerusakan jaringan c. Kurang informasi tentang keselamatan 3. dan intubasi Rasional : mencegah terjadinya kecelakaan. Kemoterapi / efek pengobatan d. Perubahan proteksi berhubungan dengan a. pernafasan Rasional : monitor faktor risiko. Jangan tinggalkan obat yang dekat dengan tempat tidurnya Siagakan alat-alat emergensi seperti suction. Tindakan Keperawatan Tujuan : agar tidak terjadi injuri. c. Malnutrisi c. Defisit immunologi b. Tidak adekuatnya pertahanan primer b. G. Tindakan keperawatan : a. Penyakit kronis. Malnutrisi f. Penglihatan yang kurang e.2. Diagnosa I .

minum alkohol Pencegahan injuri di rumah Rasional : mencegah injuri Berikan pendidikan kesehatan tentang : Perubahan gaya hidup yang seperti merokok dan . h. Rasional : mencegah jatuh. tidur khusus untuk mencegah dehidrasi Rasional : mencegah komplikasi akibat injuri. e. j. i. Bantu pasien dalam pergerakan / aktivitas ke toilet Lakukan kajian keadaan kulit pasien dan gunakan tempat Rasional : mencegah kecelakaan. f. gangguan persepsi pasien Rasional : mencegah kecelakaan akibat gangguan sensori. g.Rasional : dibutuhkan pada saat emergency. Rasional : mencegah aspirasi. Kunci pada roda tempat tidur Posisi kepala lebih ditinggikan Berikan penerangan yang cukup pada malam hari Kolaborasi dengan dokter dalam menangani masalah Rasional : mempertahankan keamanan. k.

e. Tindakan keperawatan : a. Diagnosa II Tujuan : Pasien tidak mengalami infeksi nosokomial. Monitor vital sign. Diagnosa III Tujuan : pasien tidak ada tanda-tanda infeksi. integritas kulit. g. Luangkan waktu untuk menjelaskan tentang proteksi / metode isolasi Rasional : mengurangi risiko penularan penyakit. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian pengobatan Rasional : mengatasi faktor penyebab c. efek obat dari perdarahan dari bekas suntikan.2. Tekan tempat penyuntikan setelah menyuntik Rasional : menghindari pendarahan f. b. Rasional : data dasar untuk membandingkan adanya gangguan proteksi. Lakukan pendidikan kesehatan tentang : diri. Berikan diet adekuat Rasional : meningkatkan daya tahan tubuh. 3. Pemberian pengobatan Mempertahankan keamanan Teknik insolasi Penggunaan alat-alat proteksi Rasional : memberikan pengetahuan dasar tentang menjaga keamanan . Jaga pasien dari injuri dan infeksi Rasional : mengurangi risiko infeksi d.

Informasikan tentang efek pengobatan Rasional : mencegah infeksi silang. Monitor tanda vital setiap 4 jam Rasional : data dasar untuk mengetahui keadaan normal. vitamin C dan tablet Fe Rasional : meningkatkan daya tahan tubuh. Monitor pemberian antibiotik dan kaji efek sampingnya Rasional : mencegah komplikasi f. b. e. g. Lakukan pendidikan kesehatan tentang : Rasional : memproteksi diri. h. Pencegahan dan penularan penyakit Tanda dan gejala infeksi Hidup sehat memberikan pengetahuan dalam bagaimana cara . Lakukan teknik steril Rasional : mencegah infeksi silang. Pertahankan diet adekuat. d.Tindakan keperawatan : a. Catat hasil laboratorium Rasional : mengidentifikasi adanya infeksi. Gunakan metode pengontrol adanya infeksi Rasional : melindungi pasien dari infeksi c.

fraktur femur : 25 / 3 / 2007 : 11 / 3 / 2007 Pengkajian Hubungan dengan pasien : anak . Reg Dx. Identitas Pasien Nama Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat Suku Bangsa No. Fraktur claviculla. 1.BAB III TINJAUAN KASUS A. 6 Mungkid Magelang : Jawa : 0220593 : SKK. S : 68 tahun : Islam : SMA : Pegawai Swasta : Sawangan No. C : 47 tahun : Perempuan : : : Tn. Medis Tanggal masuk Tanggal pengkajian 2. Penanggung Jawab Nama Umur Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan : Ny.

Kemampuan pasien untuk mengontrol kesehatan. c. 3. post cramatomy. Riwayat kesehatan keluarga Tidak ada riwayat penyakt jantung. C. Kebiasaan hidup Pola Kesehatan Fungsional : Kecelakaan lalu lintas : Gerakan. DM. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan . 2. tekanan : 19 hari : mendadak Upaya yang dilakukan untuk mengatasi langsung di bawah ke rumah 1. Pasien memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan bila perlu. post ws. Riwayat perawatan dan kesehatan dahulu Pasien pernah di rawat di rumah sakit dengan keluhan arthritis rheumatoid. Bila pasien sakit berobat dengan obat warung. Riwayat Penyakit Sekarang Alasan masuk Rumah Sakit Fraktur pencetus Lamanya keluhan Timbulnya keluhan sakit.B. bila tidak ada perbaikan baru pergi ke pelayanan kesehatan. fraktur femur. Persepsi pasien tentang kesehatan dini Pasien sering menjaga kesehatannya dengan meminum jamu. 4. Keluhan Utama Riwayat Kesehatan Fraktur clavikula. d. 1. Sebelum sakit : a. b. Upaya yang biasa dilakukan dalam mempertahankan kesehatan.

Sebelum sakit Sehari 3x. dengan lauk pauk dan sayur. Pengetahuan dan persepsi pasien tentang penyakitnya c. Persepsi pasien terhadap kesehatan diri b. Pola makan selama sakit. minumnya teh manis . Upaya yang biasa dilakukan dalam mempertahankan kesehatan 2. Pola nutrisi dan metabolik a. Diit cair I dingin 3x/hari sekali pemberian 250 cc lewat NGT.Sering Setelah sakit: a.

air putih. teh manis 3. Tidak ada kepercayaan yang mempengaruhi diit e. Keluhan berhubungan dengan kulit Terjadi dekubitus di area punggung dan pantat 4. karena sebelum sakit diit nasi setelah dirawat diit berubah menjadi cair. lunak Sebelum sakit : 1x/hari. tiap pagi Sebelum sakit : pola berkemihnya 4-6 kali/hari Selama sakit : pasien terpasang kateter. Kesulitan dalam beraktivitas : tidak ada Selama sakit Pasien tidak dapat beraktivitas.500 cc/hari c. segala aktivitas dibantu oleh keluarga dan perawat b. Keluhan dalam makan : tidak ada g. sore. Kebiasaan mengkonsumsi vitamin tidak ada f.b. Pola minum : 5-8 gelas/hari. Pola eliminasi a. Apakah keadaan sakit saat ini mempengaruhi pola makan dan minum Ya. Olah raga yang dilakukan : jalan-jalan pagi c. warna hitam. Makanan yang disukai Pasien suka makan ikan lele d. Pola aktivitas dan latihan Sebelum sakit a. Eliminasi feses Selama sakit : sehari 2x pagi. Eliminasi urin . Kegiatan dalam bekerja : pasien seorang teknisi b. c. warna urinnya kuning jernih dengan jumlah 1.

Orang yang terdekat : istri c. lama tidur ± 7 jam/hari dengan kualitas tidur nyenyak. Kemampuan kognitif Kemampuan mengingat Klien mampu mengingat kejadian dan anggota keluarga Klien kurang mampu mengekspresikan yang dirasakan secara verbal tapi mampu memahami pesan yang diterima d.5. terpasang infus. Kemampuan dalam komunikasi Pasien kurang mampu berkomunikasi tapi mampu untuk memahami orang lain. b. Keluhan dengan kemampuan sensori : tidak ada b. Alat bantu yang digunakan Sebelum sakit : memakai kacamata Selama sakit : terpasang oksigen. 6. Pola hubungan dengan orang lain Sebelum sakit a. Persepsi terhadap nyeri P : nyeri bertambah saat melakukan gerakan dan terjadinya tekanan Q : selama dilakukan pergerakan R : ekstrimitas dextra : clavicula dextra dan femur dextra S : T : selama dilakukan pergerakan 7. tidak mengalami gangguan pola tidur. Pola istirahat dan tidur Sebelum sakit : setelah pulang kerja pasien merasa capek kemudian tidur. Selama sakit : pasien sering tidur ± 9 jam/hari. orif c. terpasang kateter. Pola persepsi sensori dan kognitif a. Kepada siapa pasien meminta bantuan : istri d. kecuali jika dibangunkan. Hubungan dalam keluarga : baik Selama sakit : terjadi gangguan komunikasi verbal dan kurang mampu mengungkapkan ekspresi tapi mampu memahami orang lain .

Pola reproduksi dan seksual .8.

tidak ada polip. klien berdiskusi dengan istri dan keluarganya. Pola mekanisme koping a.Hubungan seksual terganggu selama sakit 9. tidak ada infeksi . simetris. terpasang oksigen dengan asal kanul 4 liter. tidak ada pembengkakan. kusam. Yang dilakukan jika mengalami masalah. Persepsi diri dari konsep diri Pasien mengalami gangguan dalam komunikasi verbal sehingga tidak dapat mempersepsikan dirinya 10. tapi lukanya sudah kering Rambut : warna hitam dan beruban. tidak ada lesi. bentuk telinga normal. tidak ada nyeri. reaksi terhadap cahaya tidak ada secret. sclera ikterik. 11. rambut tebal dan agak kotor Mata : kemampuan penglihatan baik. Pengkajian Fisik Penampilan / keadaan umum : kurang baik Tingkat kesadaran : apatis TTV : a. TD : Kepala N: S : 390C RR : Bentuk: simetris Ada luka di bagian temporal. ukuran pupil 2 mm Hidung : tidak ada lendir. tidak ada opistaksis Telinga : tidak ada serumen. Mengambil keputusan : klien mengambil keputusan dengan istri dan keluarga besarnya. Pola nilai kepercayaan / keyakinan Sumber kekuatan menurut pasien adalah keluarganya Sebelum sakit : klien menjalankan ibadah sesuai kepercayaannya Selama sakit : klien tidak mampu melakukan ibadah Tidak ada kebudayaan yang bertentangan dengan kesehatan D. b. konjungtiva anemis.

Dada dan thorax Bentuk dada simetris. 2. tidak nyeri leher. tidak ada otot bantu pernafasan Terpasang kateter Pemeriksaan laboratorium tanggal 11 April 2007 . 2. mulut berbau ada pemasangan alat trakeostomy. e. 1. 2.Mulut : mukosa mulut kering. tidak terjadi pembesaran pada vena jugularis. tidak ada luka Genetal Ekstremitas Kuku : bersih Turgor : oedem di kaki CRT : 2 detik Terpasang infus tangan kanan Kulit Warna coklat Terdapat dekubitus Data Penunjang WSD. 1. E. c. kondisi mulut sangat kotor. d. 3. terdapat luka bekas WSD Paru : indikasi bentuk simetris. 4. tidak ada pembesaran tonsil. 1. tidak b. adanya penyempitan saluran nafas Leher dan tenggorokan : tidak ada benjolan di leher.

Hemoglobin Kimia darah .SGPT .4 g/dl 1.Calcium .0 g/dl 3.Hematologi .5-3.4 0-34 µ L 0-37 µ L 3.Protein total .SGOT .Natrium Hasil 5.Globulin .6 4.5-5.0 4.6 7.Albumin .7 g/dl 8.5 28 12 2.5 mmol/L 135-155 mmol/L .7 6.8-5.Kalium .1-10.6-8.2 141 Normal 12-1 g/dl 6.

.Chlorida 104 95-108 mmol/L .

2. Perdarahan subarachnoid Intra cranial hemoragia lobus frontal kanan Subgalcal hematoma Tidak tampak tanda-tanda intake hemisfer Sisa confusion cerebri terpone fraal perietal scan Subdoral iluis collecti …. Convexita yang bertambah Pemeriksaan tanggal 28 Maret Kesan : (hemotorak) Fraktur 25 Maret Diet : Lunak Efusi pleura clextra .Pemeriksaan radiology: CT-scan tanggal 5/4/07 Kesan 1. nyata 3. Diet : Therapi : Pemeriksaan tanggal 24 Maret 2007 CT Scan Kepala dan Bone Window : Tampak lesi hiperdens cukup luas dengan perikokal edema pada frontolemporal kiri (kontusio serebra) tak tampak efek massa dan midline shifting kontra lateral.

94 4. 12 – 4 – 2007 Hematologi : /mm3 Hb Puasa (9/4 – 11/4) Cair I dingin (sekarang) Naurotam 3 x 3 gr Lapixim 2 x 1 Radin 4 x 1 Flexotide 3 x 1 nebulizer Combiven 3 x 1 nebulizer : 9.000 – 11.2 : 2.000 : 31.900 : 433.Th/ijeksi 12/4 Lab.000 Leukosit Trombo Hematokrit Erytrosit Pengelompokan data .000 /mm3 150.4 12 – 16 g/dl : 9.0 – 6.2 juta/mm3 – 450.000 35 – 55 % 4.

No 1 Tgl 8/4 ‘07 DS Data (DS dan DO) : klien mengatakan nyeri TT DO : pasien lemah Albumin 2 Hb : 9.6 Konjungtiva pucat Terdapat luka post OP clavicula dan femus Suhu : 390C TD : 160 / 100 mmHg Segala aktivitas dibantu keluarga dan perawat Analisa data No 1 Tgl 9/4’07 Data (DS dan DO) DS : klien mengatakan nyeri P Q R S T : nyeri saat bergerak : selama dilakukan pergerakan : clavicula dan dextra : : selama dilakukan post OP femus Etiologi Keperawatan Resiko tinggi Kerusakan infeksi jaringan Masalah TT pergerakan DO : ada luka 2 clavicula. femus Luka kering Leukosit Hb DS : DO : pasien lemah Pasien pucat Pasien sesak nafas Riwayat kecelakaan Usia : sudah tua Nutrisi kurang (Mehatemesis melena) Perubahan proteksi Kelemahan fisik .

Diagnosis keperawatan .

No 1 Diagnosis keperawatan Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan Tanggal ditemukan TT Tanggal teratasi TT .

2 Perubahan proteksi berhubungan dengan kelemahan fisik .

Rencana keperawatan .

Rencana keperawatan Tujuan dan kriteria No Rasional intervensi keperawatan hasil 1 Resiko tinggi Tujuan : setelah 1.000 Leukosit : 9900 Hb : 9. Observasi tindakan kekuatan otot dengan gizi nutrisi kebutuhan ahli untuk Kebutuhan nutrisi terpenuhi Mengidentifikasi adanya infeksi keadaan normal mencegah timbulnya infeksi melindungi pasien infeksi dari x 24 jam tidak terjadi 2.4 5. Berikan perawatan luka dengan prinsip septik dan antiseptik 4. Observasi keperawatan selama 3 2. Kolaborasi pemberian 2 Perubahan proteksi berhubungan dengan kelemahan fisik Tujuan dilakukan : antibiotik setelah 1. Catat hasil laboratorium Trombosit : 443. Monitor tanda Data dasar untuk Diagnosa infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan dilakukan keperawatan selama 6 tanda-tanda infeksi vital setiap 4 mengetahui jam tanda-tanda infeksi 3. Kolaborasi x 24 jam tidak terjadi infeksi nosokmial .

Teridentifikas inya nutrisi kebutuhan 3. Menjaga pasien Mengurangi dari injuri dan resiko infeksi infeksi . Berikan adekuat diet Meningkatkan daya tahan tubuh 4.Kriteria hasil : 1. Keadaan umum pasien baik 2.

Catatan perkembangan .

000) Leukosit (9.900) Hb : 9.4) S:O : obat masuk intra selang S:O : diet cair : susu 2 Memberikan diit adekuat .No Dx 1 Tgl dan Tindakan Keperawatan Jam Respon klien (S dan O) TT Monitor tanda vital setiap 4 S : jam O : TD : 160/100 mmHg Suhu : 390C N: Mengobservasi tanda-tanda S : infeksi Melakukan perawatan luka O : leukosit : (9.900) Memberikan antibiotika Hb (9.4 S:O : luka kering Mencatat hasil Lab luka bersih S:O : trombosit (433.

pasien pucat. tidak terjadi infeksi. riwayat kecelakaan.4 luka : .Menjaga pasien dari injuri S : dan infeksi O : klien jatuh terhindar dan dari infeksi nosokomial Catatan Perkembangan Tanggal Dx 1 11/4/2007 S : 9. No Evaluasi (SOAP) TT O : Luka bersih. A : Masalah belum sebagian P : Pertahankan intervensi. Hb : 9.990 A : Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan intervensi : perawatan luka dengan prinsip 2 aseptik dan antiseptik. 12/4/2007 S : O : Pasien lemah.

observasi tanda-tanda infeksi. Hb : 9. Risiko tinggi infeksi pada Tn. . memberikan perawatan luka dengan prinsip septif dan antiseptik. leukosit : . Dan implementasi yang dilakukan memberikan perawatan luka adanya prinsip septik dan antiseptik. S disebabkan karena adanya kerusakan jaringan. trombosit dan Hb. Adapun rencana tindakannya adalah Memonitor tanda vital selama 4 jam. Evaluasi yang dihasilkan luka bersih. tidak ada tanda-tanda infeksi. Hb : 9. Risiko Tinggi Infeksi Berhubungan dengan Kerusakan Jaringan Risiko tinggi infeksi adalah keadaan dimana seseorang individu periso untuk menyebarkan age-agens patogen atau oportunistik kepada orang lain.6. Catat hasil laborat: leukosit. mencatat hasil laborat. Diagnosa keperawatan ini menjadi prioritas utama karena tingginya tingkat infeksi yang terjadi yaitu Hb rendah : . kondisi kulit yang sudah dokubitus. Perubahan Proteksi Berhubungan dengan Kelemahan Fisik Perubahan proteksi adalah kondisi dimana pasien mengalami penurunan kemampuan untuk melindungi dirinya dari penyakit baik dari luar maupun dari dalam tubuh. lekosit : . Risiko tinggi timbul dari adanya luka post orif pada klafikula dan femur. Leukosit : . Kolaborasi pemberian antibiotik. B. Dan kendala yang dialami adalah tidak dapat memberikan tanda-tanda vital setiap 4 jam karena adanya kepadatan aktivitas perawat. Untuk itu diperlukan adanya pengawasan yang lebih fokus terhadap klien. hingga masalah teratasi sebagian dan diperlukan melanjutkan intervensi : perawatan luka dengan prinsip aseptik dan antiseptik.6 dan klien mengeluh sakit pada daerah post orif bila dilakukan pergerakan. timbulnya dekubitus. dan Kolaborasi pemberian antibiotik.BAB IV PEMBAHASAN A.

nutrisi kurang. pucat. Implementasi yang dilakukan adalah memberikan diet adekuat dan kendala yang dialami mengobservasi kekuatan otot. riwayat kecelakaan. . S munculnya diagnosa keperawatan perubahan proteksi berhubungan dengan kelemahan fisik ditandai dengan pasien lemah. berikan diet adekuat serta menjaga pasien dari injuri dan infeksi. berkolaborasi dengan ahli gizi untuk kebutuhan nutrisi dikarenakan adanya keterbatasan. pasien pucat. sesak nafas. Rencana tindakan yang dilakukan adalah observasi kekuatan otot. Evaluasi yang dihasilkan : pasien masih lemah. ada riwayat kecelakaan hingga masalah belum teratasi untuk itu diperlukan untuk mempertahankan intervensi. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk kebutuhan nutrisi.Pada kasus Tn. usia sudah tua (68).

BAB V PENUTUP A. tindakan keperawatan. 2. Kesimpulan dengan klien mengatakan nyeri. memberikan perawatan luka dengan prinsip septik dan antiseptik. 2. A. Saran 1. mencatat hasil luka dan Hb dan berkolaborasi pemberian antibiotik. Evaluasi yang dihasilkan : masalah teratasi sebagian. ada riwayat kecelakaan usia sudah tua (68). leukosit dan Hb…Tindakan keperawatan yang dilakukan : observasi tanda vital. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan ditandai 1. nutrisi kurang. pucat. Evaluasi yang dihasilkan : masalah belum teratasi. Perawat hendaknya mempertahankan teknik steril dalam melakukan . Perubahan proteksi berhubungan dengan kelemahan fisik ditandai dengan pasien lemah. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan diperlukan kerjasama dengan tim kesehatan lain. Tindakan keperawatan yang dilakukan memberikan diet adekuat. terdapat luka post orif klavikula dan femur. luka kering. sesak nafas.

2005. Salemba Medika. Jakarta. EGC. EGC. 1995 Brunner and Suddarth. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. 2000. Edisi II. Edisi 2. Buku Saku Pemeriksaan dan Riwayat Kesehatan. EGC.DAFTAR PUSTAKA Barbara. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Bates. Tarwito dan Wartonah. . Jakarta. Jakarta. Keperawatan Medical Bedah. Jakarta. Lynda Juall. Carpenito. Volume III.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful