P. 1
relasi

relasi

|Views: 76|Likes:
Dipublikasikan oleh Asfira

More info:

Published by: Asfira on Apr 10, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/24/2013

pdf

text

original

1

RELASI

Anggota sebuah himpunan dapat dihubungkan dengan
anggota himpunan lain atau dengan anggota himpunan yang
sama. Hubungan tersebut dinamakan relasi.

Contoh 1
Misalkan M = {Ami, Budi, Candra, Dita} dan N = {1, 2, 3}.
Misalkan pula, Ami berusia 1 tahun, Budi berusia 3 tahun, Candra
berusia 2 tahun dan Dita berusia 1 tahun, maka kita dapat
menuliskan sebuah himpunan P = {(Ami, 1), (Budi, 3), (Candra,
2), (Dita, 1)} dimana P merupakan himpunan pasangan terurut
yang menggambarkan hubungan antara himpunan M dengan
himpunan N. Himpunan P merupakan relasi antara himpunan M
dengan himpunan N dan dapat ditulis sebagai P = {(x,y) , x berusia
y, dimana xeM dan yeN}.

PERKALIAN CARTESIAN DAN RELASI
Misalkan A dan B adalah sembarang himpunan yang tidak
kosong. Perkalian Cartesian A × B adalah himpunan semua
pasangan terurut (x,y) dimana x e A dan y e B.
A × B = { (x,y) | untuk setiap x e A dan y e B }

Contoh 2
Misalkan C = { 2, 3, 4 } dan D = { x, y }.
C × D = { (2,x) , (2,y) , (3,x) , (3,y) , (4,x) , (4,y) }
D × C = { (x,2) , (y,2) , (x,3) , (y,3) , (x,4) , (y,4) }


2

Banyaknya anggota himpunan hasil perkalian cartesian A×B
sama dengan hasil kali antara banyaknya anggota A dengan
banyaknya anggota B .
n(A × B ) = n (A ) × n(B ) .
Pada umumnya, A × B = B × A . Akan tetapi n(A × B ) = n (B × A ).

Contoh 3
1. Dari contoh 2, diketahui n(C ) = 3 dan n(D) = 2.
Dengan demikian n(C × D ) = 3 × 2 = 6.
2. Dari contoh 1, n(M × N ) = n(N × M ) = 12.

Sebuah relasi R yang memasangkan anggota himpunan A
kepada anggota himpunan B, ditulis R : A ÷ B merupakan sebuah
himpunan bagian dari perkalian cartesian A × B, ditulis R _ A×B.
Jika sebuah relasi R didefinisikan pada himpunan A, ditulis
R : A ÷ A, maka R _ A × A.

Contoh 4
1. Misalkan C = {2, 3, 4} dan D = {x, y}.
C × D = {(2,x), (2,y), (3,x), (3,y), (4,x), (4,y)}
Sebuah relasi R1: C ÷ D didefinisikan sebagai
R1 = {(2,y) , (3,x) , (4,x), (4,y)}.
Jelas bahwa R1 _ C × D.
2. Relasi R2 : G ÷ G didefinisikan pada himpunan G = {5, 7, 11}
sebagai R2 = {(x,y) |x < y, dimana x, yeG}.
Relasi tersebut dapat dinyatakan sebagai R2 = {(5,7),(5,11),
(7,11)} dan jelas bahwa R2 _ G × G.





3

PENYAJIAN RELASI
Sebuah relasi dapat disajikan dalam beberapa bentuk, yaitu :
1. himpunan pasangan terurut dalam bentuk pendaftaran
(tabulasi),
P = {(Ami, 1), (Budi, 3), (Candra, 2), (Dita, 1)}
2. himpunan pasangan terurut dalam bentuk pencirian,
P = {(x,y) , x berusia y, dimana xeM dan yeN}
3. diagram panah,
M N







4. diagram koordinat atau grafik relasi,










5. matriks relasi,
1 0 0
0 0 1
0 1 0
1 0 0
P
(
(
(
=
(
(
¸ ¸

Ami
Budi
Candra
Dita
1
2
3
P
Dita Chandra
Budi Ami
3
2
1
4

6. bentuk graf berarah (digraf)










RELASI INVERS
Setiap relasi R dari himpunan A kepada himpunan B
memiliki invers yang dinamakan R
-1
dari himpunan B kepada
himpunan A, yang ditulis sebagai
R
-1
= { ( y , x ) , ( x , y ) e R }
Dengan kata lain, relasi invers R
-1
dari R mengandung pasangan-
pasangan terurut yang bila dibalikkan akan terkandung dalam
relasi R .

Contoh 6
Misalkan A = {1, 2, 3}, B = {a, b} dan relasi R = {(1,a),(2,a),(2,b)
,(3,a)} merupakan relasi dari A pada B. Invers dari relasi R adalah
relasi
R
-1
= { (a,1) , (a,2) , (b,2) , (a,3) }.

Contoh 7
Misalkan W = {a, b, c}, relasi R = {(a,b) , (a,c) , (c,c) , (c,b)}
merupakan relasi pada W. Invers dari relasi R adalah relasi
R
-1
= { (b,a) , (c,a) , (c,c) , (b,c) }.

Ami
Budi
Dita
Chandra
1
2
3
5

KOMPOSISI RELASI
Misalkan R relasi dari himpunan A ke himpunan B dan S
relasi dari himpunan B ke himpunan C. Didefinisikan relasi baru
dari himpunan A ke himpunan C, ditulis R S yang beranggotakan
semua pasangan terurut (a,c) yang memenuhi (a,b) e R dan (b,c)
e S, atau dapat dinyatakan sebagai:
R S = {(a,c)| b e B yang memenuhi (a,b) e R dan (b,c) e S}


Contoh 8
Misalkan A = {x,y,z}, B = {a,b,c,d}, C = {1,2,3,4,5}. R relasi dari A ke
B dan S relasi dari B ke C.
Misalkan R = {(x,a),(x,b),(y,b),(y,c),(y,d),(z,d)} dan
S = {(a,1),(a,3),(b,2),(b,3),(b,5),(d,3),(d,4)}maka
RS={(x,1),(x,2),(x,3),(x,5),(y,2),(y,3),(y,5),(y,4),(z,3),(z,4)}.



















S R
C B
A

x
y
z
a
b
c
d
1
2
3
4
5

R
C
A

x
y
z
1
2
3
4
5

6

SIFAT RELASI
Misalkan R sebuah relasi yang didefinisikan pada himpunan
A. Relasi R dikatakan bersifat refleksif jika untuk setiap a e A
berlaku (a,a) e R.

Contoh 9
Diketahui A = {1, 2, 3}. Pada A didefinisikan relasi R1 = {(1,1),
(1,2), (2,2), (2,3) , (3,3) , (3,2)}. Relasi R1 tersebut bersifat
refleksif.

Contoh 10
Diketahui B = {2,4,5}. Pada B didefinisikan relasi R2 = {(x,y), x
kelipatan y, x, y e B}. Maka R2 = {(2,2), (4,4), (5,5), (4,2)}. Relasi R2
tersebut bersifat refleksif.

Contoh 11
Diketahui B = {2,4,5}. Pada B didefinisikan relasi R3 = {(x,y),x + y
<10, x,yeA}. Maka R3={(2,2), (2,4), (2,5), (4,2), (4,4), (4,5), (5,2),
(5,4)}. Relasi R3 tersebut tidak bersifat refleksif.

Relasi R bersifat simetris jika untuk setiap (a,b) e R
berlaku (b,a) e R.

Contoh 12
Diketahui A = { 1, 2, 3 }. Pada A didefinisikan relasi R4 = {(1,1) ,
(1,2) , (2,2) , (2,1) , (3,3)}. Relasi R4 tersebut bersifat simetris.

Contoh 13
Diketahui B = { 2, 4, 5 }. Pada B didefinisikan relasi R5 = { (x,y) ,
x kelipatan y , x, y e B } = {(2,2) , (4,4) , (5,5) , (4,2)}. Relasi R5
tersebut tidak bersifat simetris karena (4,2) e R5 tetapi (2,4) e
R5.
7

Relasi R bersifat transitif, jika untuk setiap (a,b)eR dan
(b,c)eR berlaku (a,c)eR.

Contoh 14
Diketahui A = { 1, 2, 3 }.
Pada A didefinisikan relasi R6 = {(1,1) , (1,2) , (2,2) , (2,1) , (3,3)}
Relasi R6 tersebut bersifat transitif.

Contoh 15
Relasi R7 = {(1,1) , (1,2) , (2,2) , (2,3) , (3,3) , (3,2)} yang
didefinisikan pada himpunan A = {1, 2, 3 } tidak bersifat transitif,
karena terdapat (1,2) e R7 dan (2,3) e R7, tetapi (1,3) e R7.

Relasi R dikatakan bersifat antisimetris jika untuk setiap
(a,b) e R dan (b,a) e R berlaku a = b.

Contoh 16
Pada himpunan B = { 2, 4, 5 } didefinisikan relasi R8 = { (x,y) , x
kelipatan y , x,y e B }.
Dengan demikian R8 = {(2,2),(4,4),(5,5),(4,2)}. Relasi R8 tersebut
bersifat antisimetris.

Contoh 17
Diketahui A = { 1, 2, 3 }.
Pada A didefinisikan relasi R9 = { (1,1) , (1,2) , (2,2) , (2,1) , (3,3) }
Relasi R9 tersebut tidak bersifat antisimetris karena terdapat
(1,2)eR9 dan (2,1) e R9, tetapi 1 = 2.



8

RELASI EKIVALEN
Relasi R disebut sebagai sebuah relasi ekivalen jika relasi
tersebut bersifat refleksif, simetris dan transitif.

Contoh 18
Diketahui A = { 1, 2, 3 }.
Pada A didefinisikan relasi R1 = { (1,1) , (1,2) , (2,2) , (2,1) , (3,3) }
Relasi R1 tersebut bersifat refleksif, simetris dan transitif. Oleh
karena itu relasi R1 merupakan relasi ekivalen.

Contoh 19
Diketahui B = { 2, 4, 5 }. Pada B didefinisikan relasi R2 = { (x,y) ,
x kelipatan y , x, y e B } maka R2 = { (2,2) , (4,4) , (5,5) , (4,2) }.
Relasi R2 tersebut tidak bersifat simetris, oleh karena itu relasi
tersebut bukan relasi ekivalen.

RELASI PENGURUTAN SEBAGIAN (PARTIAL ORDERING)
Relasi R disebut sebagai sebuah relasi pengurutan
sebagian (partial ordering), jika relasi tersebut bersifat refleksif,
transitif dan antisimetris.

Contoh 20
Diketahui A = { 1, 2, 3 }. Pada A didefinisikan relasi R3 = { (1,1) ,
(1,2) , (2,2) , (2,1) , (3,3) }. Relasi R3 tersebut bersifat refleksif dan
transitif, tetapi tidak bersifat antisimetris. Oleh karena itu relasi
tersebut bukan merupakan relasi pengurutan sebagian.

Contoh 21
Diketahui B = { 2, 4, 5 }. Pada B didefinisikan relasi R4 = { (x,y) ,
x kelipatan y , x,y e B } maka R4 = { (2,2) , (4,4) , (5,5) , (4,2) }.
Relasi R4 tersebut bersifat refleksif, antisimetris dan transitif.
Oleh karena itu relasi tersebut merupakan relasi pengurutan
sebagian.

9

Daftar Referensi
Suryadi, H.S. 1991. Aljabar, Logika dan Himpunan, seri diktat
kuliah Gunadarma. Depok.
Pardede, C. 2003. Lecture Notes Logika Matematika. Universitas
Gunadarma. Depok.

11)} dan jelas bahwa R2  G × G. Pada umumnya. Relasi tersebut dapat dinyatakan sebagai R2 = {(5. Akan tetapi n(A × B ) = n (B × A ).(5. 2.x). (3. Dari contoh 2. (7. ditulis R  A×B. Sebuah relasi R yang memasangkan anggota himpunan A kepada anggota himpunan B. (3. C × D = {(2.y)} Sebuah relasi R1: C  D didefinisikan sebagai R1 = {(2. ditulis R : A  B merupakan sebuah himpunan bagian dari perkalian cartesian A × B.y)}.y) . n(A × B ) = n (A ) × n(B ) . maka R  A × A. (3. (4. (4. A × B  B × A . yG}.x) . Dengan demikian n(C × D ) = 3 × 2 = 6. ditulis R : A  A. Misalkan C = {2. (2.x). 3. y}. Contoh 3 1.y) |x < y. Contoh 4 1. 2.x).Banyaknya anggota himpunan hasil perkalian cartesian A×B sama dengan hasil kali antara banyaknya anggota A dengan banyaknya anggota B . 2 .11). Relasi R2 : G  G didefinisikan pada himpunan G = {5.y). 11} sebagai R2 = {(x. dimana x. Dari contoh 1. (4. 7. Jelas bahwa R1  C × D. n(M × N ) = n(N × M ) = 12. (4. diketahui n(C ) = 3 dan n(D) = 2. Jika sebuah relasi R didefinisikan pada himpunan A.x). 4} dan D = {x.y).7).

(Candra. matriks relasi.y)  x berusia y. 2). 1). P = {(Ami. 1 0 P 0  1 0 0 1 0 0 1  0  0 3 . diagram koordinat atau grafik relasi.PENYAJIAN RELASI Sebuah relasi dapat disajikan dalam beberapa bentuk. yaitu : 1. diagram panah. himpunan pasangan terurut dalam bentuk pendaftaran (tabulasi). (Budi. himpunan pasangan terurut dalam bentuk pencirian. dimana xM dan yN} 3. 3 2 1 Ami Budi Chandra Dita 5. M N P Ami Budi Candra Dita 1 2 3 4. 1)} 2. 3). P = {(x. (Dita.

c) .(2. (c. b. yang ditulis sebagai R -1 -1 -1 dari himpunan B kepada ={(y. (b.b)} merupakan relasi pada W.2) . (c.b) . c}.a)} merupakan relasi dari A pada B.2) . bentuk graf berarah (digraf) Ami Budi Chandra Dita 1 3 2 RELASI INVERS Setiap relasi R dari himpunan A kepada himpunan B memiliki invers yang dinamakan R himpunan A.(2.c) .c) .a) .c) }.(3.a) .x)(x. (c. relasi invers R dari R mengandung pasanganpasangan terurut yang bila dibalikkan akan terkandung dalam relasi R . (a. B = {a. relasi R = {(a.3) }. 3}. Invers dari relasi R adalah relasi R -1 = { (a.a). (b.a).6. 4 .1) . (a. 2. (c.y)R} Dengan kata lain. (a. Contoh 7 Misalkan W = {a.b) . Contoh 6 Misalkan A = {1. Invers dari relasi R adalah relasi R -1 = { (b. b} dan relasi R = {(1.

5).(z.4).(d.(x.b.4)}maka R S={(x.c)  S.d}.(y.5).c) yang memenuhi (a.y.3).z}. atau dapat dinyatakan sebagai: R S = {(a.3).2).(b.d)} dan S = {(a.1).5}.(y.(y.(b.a).(x.d).2). Didefinisikan relasi baru dari himpunan A ke himpunan C. B = {a.b)  R dan (b.(z.(x.b)  R dan (b. R relasi dari A ke B dan S relasi dari B ke C.(b.b).(x.(y.3).3.4.(d.c).3).b).1).2).(y.(z.3).4)}.2.c)  S} Contoh 8 Misalkan A = {x.(y.c)| b  B yang memenuhi (a.c. Misalkan R = {(x. ditulis R S yang beranggotakan semua pasangan terurut (a.3).KOMPOSISI RELASI Misalkan R relasi dari himpunan A ke himpunan B dan S relasi dari himpunan B ke himpunan C.(a. A x R B a b S C 1 2 3 y c z d 4 5 A x y z R C 1 2 3 4 5 5 .(y. C = {1.5).

Pada B didefinisikan relasi R3 = {(x. (4.4) . (4.4).yA}. Relasi R bersifat simetris jika untuk setiap (a. Pada A didefinisikan relasi R1 = {(1. (5. Pada B didefinisikan relasi R5 = { (x.5).2)  R5 tetapi (2. (2.1). y  B}.y) x kelipatan y.2)}. 3}. (1. Relasi R4 tersebut bersifat simetris. (3. 2.y)  x kelipatan y . Contoh 9 Diketahui A = {1.5) . Contoh 12 Diketahui A = { 1.y)x + y <10. 2.5}.a)  R. (4.4)  R 5. (2.5). (5.1) . 4.3)}. Relasi R2 tersebut bersifat refleksif. (2. (4.2). Pada A didefinisikan relasi R4 = {(1. 3 }. Maka R3={(2. Contoh 13 Diketahui B = { 2.4. (2. x.1) . Contoh 11 Diketahui B = {2.3) .2).2). (2. Relasi R dikatakan bersifat refleksif jika untuk setiap a  A berlaku (a. y  B } = {(2.3) . (4. Maka R2 = {(2.2) .2). Relasi R5 tersebut tidak bersifat simetris karena (4. x.4). (4. 5 }.4)}. Relasi R1 tersebut bersifat refleksif.2)}.2) .2). Contoh 10 Diketahui B = {2. Pada B didefinisikan relasi R2 = {(x.b)  R berlaku (b.SIFAT RELASI Misalkan R sebuah relasi yang didefinisikan pada himpunan A. (2.4.5}. (3.4). (1.5).a)  R.2)}. (3.2).2) . x. (5. (4. 6 . (5. Relasi R3 tersebut tidak bersifat refleksif.

(4. Contoh 16 Pada himpunan B = { 2.c)R.1) . (1. Contoh 14 Diketahui A = { 1.2)}. jika untuk setiap (a. 2.3)  R7.Relasi R bersifat transitif.2) .c)R berlaku (a. Pada A didefinisikan relasi R6 = {(1. (1.2) . (3. 3 } tidak bersifat transitif. 3 }.2)R9 dan (2. Relasi R dikatakan bersifat antisimetris jika untuk setiap (a. Relasi R8 tersebut bersifat antisimetris. Pada A didefinisikan relasi R9 = { (1. Contoh 17 Diketahui A = { 1. (2. x. 4. 3 }. 2.1) .b)R dan (b.5).2) .3)  R7. (2.1)  R9. (3.y)  x kelipatan y . (3.3) . 7 .b)  R dan (b.1) .3) .3)} Relasi R6 tersebut bersifat transitif. (1. karena terdapat (1.y  B }. Contoh 15 Relasi R7 = {(1.2)  R7 dan (2.2) .4).(4. (2.2) . (2.2). Dengan demikian R8 = {(2. tetapi 1  2.2)} yang didefinisikan pada himpunan A = {1. (2.3) } Relasi R9 tersebut tidak bersifat antisimetris karena terdapat (1. (2.(5.2) . 5 } didefinisikan relasi R8 = { (x.1) . tetapi (1. (3.1) . 2.a)  R berlaku a = b.

Pada A didefinisikan relasi R3 = { (1. Contoh 20 Diketahui A = { 1. (4. Pada B didefinisikan relasi R2 = { (x.2) }. (4.1) . Oleh karena itu relasi tersebut bukan merupakan relasi pengurutan sebagian. (4. (3. 4. (2.3) }.2) }. 2. Pada A didefinisikan relasi R1 = { (1. (3.1) . Pada B didefinisikan relasi R4 = { (x. 5 }. jika relasi tersebut bersifat refleksif. y  B } maka R2 = { (2. 5 }.1) . Relasi R2 tersebut tidak bersifat simetris. 3 }. tetapi tidak bersifat antisimetris. simetris dan transitif. (4. oleh karena itu relasi tersebut bukan relasi ekivalen. x. (2.y)  x kelipatan y . x.2) . (5. 3 }. Contoh 18 Diketahui A = { 1. (2.1) . antisimetris dan transitif.2) . 4.4) . simetris dan transitif. Contoh 21 Diketahui B = { 2. Relasi R3 tersebut bersifat refleksif dan transitif.y)  x kelipatan y .2) . (2.RELASI EKIVALEN Relasi R disebut sebagai sebuah relasi ekivalen jika relasi tersebut bersifat refleksif.2) . 8 .4) . (1. Relasi R4 tersebut bersifat refleksif. (1.5) . 2. Oleh karena itu relasi R1 merupakan relasi ekivalen. RELASI PENGURUTAN SEBAGIAN (PARTIAL ORDERING) Relasi R disebut sebagai sebuah relasi pengurutan sebagian (partial ordering).3) } Relasi R1 tersebut bersifat refleksif.y  B } maka R4 = { (2. Oleh karena itu relasi tersebut merupakan relasi pengurutan sebagian.2) . Contoh 19 Diketahui B = { 2.2) . transitif dan antisimetris.5) . (5.

Daftar Referensi Suryadi. Depok. Pardede. C.S. Universitas Gunadarma. 2003. H. Lecture Notes Logika Matematika. Logika dan Himpunan. seri diktat kuliah Gunadarma. 9 . Depok. Aljabar. 1991.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->