Anda di halaman 1dari 1

Pendiri Imperium

Jumat, 08 Juli 05 - oleh : ghodiy

Oleh : Ust. Anis Matta [ usahamulia.net ] Kalau sesudah melakukan perlawanan kita kalah, kita mati. "Sekali bermakna. Sesudah itu mati. Kata Chairil Anwar. Perjuangan mungkin selesai. Mungkin tidak. la tidak selesai kalau ternyata ada yang melanjutkannya. Kita hanya tidak menyaksikannya lagi. Tapi kalau kita hidup, dan menang, situasi jadi sangat berubah. Ada kecakapan lain yang diperlukan disini. Ada kepahlawanan lain yang menantikan disini. Kekuasaan perlu diinstitusikan menjadi sebuah imperium. Banyak petarung yang tidak lagi jadi pahlawan disini. Menyedihkan. Tapi begitulah kenyataannya: mereka hanya bisa bertarung. Mereka tidak tahu bagaimana mendirikan imperium. Begitulah Rasul kita menyeru dalam sunyi. Melawan dalam kesendirian. Tapi kemudian gaungnya membahana. Mempesona banyak orang. Maka ia menjadi arus besar. Dan tumbanglah tirani. Tapi ia tidak berhenti disitu. la terus membangun kekuasaan kebenarannya. Sampai terbentuklah khilafah. Bukan kerajaan. Tapi kekuasaan yang menggunakan segenap energinya untuk mengantar keadilan dan kemakmuran, dari sekedar mimpi masyarakat yang naif, menjadi kenyataan hidup yang kasat mata. Sahabat.sahabat Rasul yang menemani beliau di tahap ini, dengan kecakapan mendirikan dan membangun kekuasaan, memang tidak banyak. Itu memerlukan pengetahuan yang luas, integritas pribadi yang kokoh, kearifan; dan kebijaksanaan yang mendalam. Tidak banyak yang memiliki itu. Itulah : yang membedakan Abu Bakar dan Umar bin Kahttab diantara seluruh sahabat-sahabat beliau. Bersama Sang Rasul, kedua lelaki sejarah itu membangun fondasi negara Islam yang kokoh. Teritori yang luas dan utuh, ideologi dan sistem kenegaraan yang komprehensif dan integral, militer yang kuat, berwibawa dan ekspansif, etika sosial yang luhur, kultur kekuasaan yang zuhud di tengah kemelimpahan. Buahnya adalah keadilan. Buahnya lagi adalah kemakmuran. Dalam tradisi perlawanan, taruhannya adalah keberanian. Disini, taruhannya adalah kearifan. Tapi dalam dua-duanya ada kesunyian. Di sana kamu melawan dalam sunyi, disini kamu bekerja dalam sunyi. Disana kamu berdarah-darah sendiri, disini kamu menguras semua energi jiwamu. Memeras serat-serat pikiranmu. Sendiri. Bertanyalah seseorang kepada sang Khalifah, Umar Bin Khattab: Kapan kamu tidur?" Coba simak jawabannya: Bagaimana aku bisa tidur? Kalau aku tidur siang hari, aku menelantarkan rakyatku. Kalau aku tidur waktu malam, aku menelantarkan diriku sendiri. Ketika orang tertidur kamu terbangun itulah susahnya. Ketika orang merampas kamu membagi itulah peliknya. Ketika orang menikmati kamu menciptakan itulah rumitnya. Ketika orang mengadu kamu bertanggungjawab itulah repotnya. Makanya tidak banyak orang bersamamu disini, mendirikan imperium kebenaran.