Anda di halaman 1dari 50

Ciri-ciri Gereja Pentakosta Gereja-gereja Pentakosta atau Pentakostalisme (aliran Pentakosta) - yang di Indonesia sering disebut juga Pantekosta

- adalah sebuah gerakan di kalangan Protestanisme yang sangat menekankan peranan karunia-karunia Roh Kudus. Aliran ini sangat mirip dengangerakan Karismatik, namun gerakannya muncul lebih awal dan terpisah dari gereja arus utama. Orang Kristen Karismatik, setidak-tidaknya pada awal gerakannya, cenderung untuk tetap tinggal di dalam denominasi mereka masing-masing.1 Secara ringkas, Gereja Pentakosta memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut:2

Sangat menekankan keyakinan akan peranan Roh Kudus dan karunia-karunia Roh Kudus di dalam kehidupan sehari-hari para pengikutnya.

Pembaharuan infrastruktur ibadah, antara lain lagu-lagu rohani yang digunakan lebih modern dibandingkan dengan lagu-lagu lama yang bernuansa Gregorian.

Gereja mengizinkan peran kaum perempuan dalam pelayanan. Desakralisasi hubungan antara imam dan jemaat yang lebih ditekankan pada nilai kekeluargaan, sehingga jauh dari kesan kesenjangan tingkat kerohanian.

Teologi Pentakosta Gereja Pentakosta juga memiliki cirri teologi yang dapat dipaparkan sebagai berikut:3 Secara teologis, kebanyakan denominasi Pentakosta tergabung dalam evangelikalisme, artinya mereka menekankan bahwa Alkitab itu sepenuhnya dapat dipercaya, hingga pada tingkat ineransi (tidak mengandung kesalahan) dan orang harus bertobat dan percaya kepada Yesus. Orang Pentakosta berbeda dengan orang Fundamentalis karena mereka lebih menekankan pengalaman rohani pribadi. Orang Pentakosta memiliki pandangan dunia yang trans-rasional. Meskipun mereka sangat memperhatikan ortodoksi (keyakinan yang benar), mereka juga menekankan ortopati (perasaan yang benar) dan ortopraksis (refleksi atau tindakan yang benar). Penalaran dihargai sebagai bukti kebenaran yang sahih, tetapi orangorang Pentakosta tidak membatasi kebenaran hanya pada ranah nalar. Dr. Jackie David Johns dalam bukunya tentang kepemimpinan formatif Pentakosta, menyatakan bahwa Alkitab mempunyai tempat yang khusus dalam pandangan dunia pentakostal karena Roh Kudus selalu aktif di dalam Alkitab. Bagi Dr. Johns, pertemuan dengan Alkitab adalah pertemuan dengan Allah. Bagi orang Pentakosta, Alkitab adalah referensi utama bagi persekutuan dengan Allah dan pedoman untuk memahami dunia.
1 2

http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Pentakosta http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Pentakosta 3 http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Pentakosta

Salah satu ciri paling utama yang membedakan Pentakostalisme dengan Evangelikalisme adalah penekanannya pada karya Roh Kudus.Bahasa Roh yang juga dikenal dengan glossolalia, adalah bukti normatif dari baptisan Roh Kudus. Beberapa gereja Pentakosta utama juga meyakini bahwa mereka yang tidak berbahasa Roh belum menerima berkat yang mereka namakan baptisan Roh Kudus. Klaim ini unik bagi kaum Pentakosta dan merupakan salah satu dari sedikit perbedaannya dengan teologi Karismatik. Beberapa pendeta dan anggota gereja mengakui bahwa seorang percaya mungkin mampu berbahasa Roh, tetapi karena berbagai alasan pribadi (misalnya, karena kurangnya pengertian), mereka tidak melakukannya. Hal ini terjadi apabila seorang percaya dipenuhi oleh Roh Kudus, tetapi tidak memperlihatkan apa yang disebut "bukti fisik awal" dalam bentuk berbahasa Roh. Namun hanya sedikit orang yang berpandangan seperti ini. Para kritikus gerakan ini menyatakan bahwa doktrin ini tidak cocok dengan kritik Paulus terhadap gereja perdana di Korintus yang sangat menekankan bahasa Roh (lih. 1 Korintus, ps. 12-14 dalam Perjanjian Baru. Para pendukungnya mengatakan bahwa posisi Pentakostal sangat erat dengan penekanan Lukas dalam Kisah Para Rasul dan mencerminkan suatu hermeneutika yang lebih tajam. Dr. Dale A. Robbins menulis sehubungan dengan keyakinan karismatik bahwa sejarah Gereja menolak pendapat bahwa karunia-karunia karismatik menghilang tak lama setelah masa para rasul. Dr. Robbins mengutip seorang bapa Gereja mulamula, Ireneus (l.k. 130-202) yang menulis sbb. "... kami mendengar banyak saudara di gereja yang memiliki karunia-karunia bernubuat, dan yang berbahasa Roh, dan yang juga menyingkapkan berbagai rahasia manusia demi kebaikan mereka sendiri [pengetahuan]...". Dr. Robbins juga mengutip tulisan Ireneusberikut ini, "Ketika Allah menganggap perlu, dan ketika gereja banyak berdoa dan ber-puasa, mereka melakukan banyak perbuatan yang ajaib, bahkan menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal." Menurut Dr. Robbins, Tertulianus (l.k. 155-230) melaporkan kejadian-kejadian serupa, seperti halnya pula dengan Origenes (l.k. 182251), Eusebius (l.k. 275-339), Firmilianus (l.k. 232-269), dan Krisostomus (l.k. 347407).[1] Keyakinan bahwa orang tidak diselamatkan apabila ia tidak berbahasa roh ditolak oleh kebanyakan aliran utama Pentakosta. Alasan cukup mendasar penolakan itu adalah, bahwa jemaat adalah tubuh yang memiliki peran dan karunia masing-masing. Sebagian gereja Pentakosta berpegang pada teologi Keesaan yang menolak doktrin Tritunggal (Trinitas) yang tradisional dan menganggapnya tidak alkitabiah. Denominasi Keesaan Pentakostal yang terbesar di Amerika Serikat adalah United Pentecostal Church. Kaum Pentakostal Keesaan ini kadang-kadang juga dikenal dengan "Nama Yesus", "Kerasulan" atau yang oleh para pengecamnya disebut sebagai orang-orang Pentakosta "Yesus saja". Hal ini disebabkan oleh keyakinan mereka bahwa para Rasul yang mula-mula itu membaptiskan orang-orang Kristen baru di dalam nama Yesus. Mereka juga percaya bahwa Allah menyatakan diri-Nya dalam berbagai peran, dan bukan dalam tiga pribadi yang berbeda. Namun demikian organisasi-organisasi pentakostal trinitarian yang utama, termasukPentecostal World

Conference dan Fellowship of Pentecostal and Charismatic Churches of North America menentang teologi Keesaan dan menganggapnya sebagai ajaran sesat. Mereka tidak menerima kelompok ini sebagai anggota mereka. Kelompok Keesaan ini pun memperlakukan hal yang sama terhadap kelompok trinitarian. KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Karunia-karunia_Roh_Kudus

Dalam teologi Kristen, karunia-karunia Roh Kudus dipahami sebagai hal-hal yang dimiliki oleh orang Kristen yang pertama kali didapatkan oleh para rasul. Karuniakarunia Roh Kudus ini lahir dalam dalam bentuk bahasa Roh. (Kisah Para Rasul 2:113)[1] Peristiwa ini menjadi titik awal terbentuknyagereja perdana.[1] Pada perkembangan berikutnya, karunia-karunia Roh Kudus itu berupa kemampuan untuk menafsirkan bahasa Roh, berkata-kata dengan hikmat, mengadakan mujizat, menyembuhkan, melayani, bernubuat, dll. (1 Korintus 12-14).4 Anugerah dasar yang diberikan oleh Roh Kudus adalah kemerdekaan, hubungan yang baru dengan Allah melalui Yesus Kristus dan kasih.5 Roh Kudus menciptakan kemerdekaan.6 Dalam 2 Korintus 3:17b, dikatakan bahwa di mana Roh Allah ada, di sana ada kemerdekaan.7 Prinsip dari Roh itu adalah menganugerahi kehidupan karena Roh membebaskan manusia dari perhambaan dosa, hukum dan kematian (Roma 8:2).8 Roh juga menciptakan hubungan yang baru dengan Allah dan Yesus Kristus.[2] Melalui anugerah yang diberikan Roh itu, orang Kristen menerima status sebagai anak-anak Allah, sehingga orang-orang Kristen dapat memanggil Allah dengan sebutan Bapa. Kasih yang ada pada orang-orang Kristen juga merupakan anugerah yang berasal dari Roh Allah itu. Kasih Allah telah dicurahkan kepada orang-orang Kristen melalui Roh Kudus yang diberikan bagi mereka.9

Schatzmann, Siegfried S. A Pauline Theology of Charismata. 1989. Massachusetts. Hendrickson Publisher. 1-2.
5

Schnelle, Udo. Apostle Paul His Life and Theology. 2003. Grand Rapids: Baker

Academic. 490-491.
6 7

Ibid Ibid 8 Ibid 9 Ibid

Bagi Paulus karunia adalah suatu pemberian anugerah Allah untuk kepentingan umatNya.10 Karunia bukan diberikan Allah untuk menambah gengsi seseorang. Paulus ingin menekankan bahwa karunia apapun jenisnya, pemberinya adalah Roh yang sama.11 Tekanan Paulus adalah pada Allah Sang Pemberi Karunia itu, bukan pada orang yang mendapatkan karunia itu ataupun jenis-jenis karunia itu.12 Sementara itu, di dalam beberapa surat Paulus, ditemukan juga istilah pneumatika. Istilah ini berasal dari istilah pneuma yang berarti Roh. Istilah ini berasal dari Bahasa Yunani.13 pneumatika merujuk pada istilah "pemberian-pemberian rohani". Dalam 1 Korintus 12-14, sebenarnya Paulus ingin mengatakan bahwa "pemberian-pemberian rohani" (pneumatika) harus dipahami dalam konteks anugerah yang diberikan oleh Roh Kudus kepada orang-orang percaya.14 [sunting]Penerima karunia-karunia Roh Kudus Menurut Paulus, karunia-karunia rohani ini bukanlah menjadi hak khusus sebagian pihak atau sekelompok kecil manusia saja. Setiap orang Kristen pasti memiliki satu karunia rohani. Di dalam 1 Korintus 12:1 dan Efesus 7:7 dikatakan bahwa karuniakarunia rohani ini diberikan kepada tiap-tiap orang. Selain itu, di dalam Surat Roma, Korintus dan Efesus Paulus mengembangkan gagasan tentang gereja sebagai Tubuh Kristus. Di dalam tubuh itu, setiap anggota memiliki satu fungsi yang berlainan dengan anggota lainnya.15 Jenis karunia-karunia Roh Kudus

Paulus tidak memberikan informasi mengenai jenis-jenis karunia-karunia rohani secara sistematis. Paulus menekankan keragaman dari karunia-karunia rohani dalam tubuh Kristus (Roma 12:6 dan 1 Korintus 12:4). Keberagaman itu harus menemukan harmoninya dalam kesatuan tubuh Kristus untuk kepentingan bersama.16 Berikut ini

10 11

Baker, David L. Roh dan Kerohanian dalam Jemaat. 1991. Jakarta. BPK Gunung Mulia. 21. Ibid 12 Ibid 13 Guthrie, Donald. Teologi Perjanjian Baru. 1995. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 201. 14 Ibid 15 Stott, John R. W. Baptisan dan Kepenuhan. 1999. Jakarta:Yayasan Komunikasi Bina Kasih. hlm, 133138. 16 Ridderbos, Herman. Paul An Outline of His Theology. 1975. USA. Wiliam B. Eerdmans Publishing Company. 446-

akan dipaparkan keragaman karunia rohani yang terdapat dalam Roma 12:6-8; 1 Korintus 12:8-10, 28-30 dan Efesus 4:11:

karunia untuk menjadi rasul (1 Korintus 12:28, dan Efesus 4:11) karunia untuk bernubuat (Roma 12:6, 1 Korintus 12:10, 28, Efesus 4:11) karunia untuk mengajar (Roma 12:7, 1 Korintus 12:28, Efesus 4:11 karunia mengajar dan pastoral) karunia untuk memberitakan Injil (Efesus 4:11, bandingkan dengan 2 Timotius 4:5) karunia untuk melayani (Roma 12:7) karunia untuk membagi-bagikan sesuatu dan menunjukkan kemurahan (Roma 12:8) karunia untuk memimpin (Roma 12:8 bandingkan dengan 1 Korintus 12:28) karunia untuk mengusir setan (Roma 12:8) karunia untuk berkata-kata dengan penuh kebijaksanaan (1 Korintus 12:8) karunia untuk berkuasa (1 Korintus 12:10) karunia untuk menyembuhkan (1 korintus 12:9) karunia untuk berbahasa roh (1 Korintus 12:10,28) karunia untuk menafsirkan bahasa roh (1 Korintus 12:10,28) karunia untuk membedakan bermacam-macam roh (1 Korintus 12:10)

Cara Paulus menyebut karunia-karunia itu dengan urutan dan isi yang bervariasi menunjukkan Paulus memandang Roh bertindak dengan cara yang bebas dan beraneka ragam. Menurut Paulus, tidak ada jenis karunia roh yang lebih berharga ataupun lebih penting daripada karunia lainnya. Paulus juga tidak pernah memandang Roh sebagai pemberi karunia yang terbatas jumlahnya. Karunia-karunia rohani yang diberikan Roh Kudus ini tidak bisa dihitung dan tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya.17 Fungsi Karunia-karunia Roh Kudus

1. Memperkuat persekutuan jemaat Menurut Paulus, bila Roh memberi karunia, maka karunia itu berfungsi untuk kepentingan bersama. Karunia-karunia itu harus digunakan untuk kesejahteraan dan

17

Ridderbos, Herman. Paul An Outline of His Theology. 1975. USA. Wiliam B. Eerdmans Publishing Company. 446-

kesatuan persekutuan itu. Pandangan Paulus ini menampik pemikiran-pemikiran yang berkembang pada jemaat Korintus yang hanya menekankan kepemilikian karuniakarunia rohani untuk membanggakan diri. Setiap anggota Gereja memiliki karunia dan kegunaannya masing-masing yang harus digunakan untuk saling memperlengkapi dan melayani. Karunia-karunia yang beraneka ragam itu harus digunakan untuk membangun jemaat. Menurut Paulus, salah satu bukti konkret dari karunia dari Roh itu adalah adanya pembangunan jemaat (Roma 12:2-5 dan 1 Korintus 12: 16, 1 Korintus 12:14).18 Melakukan pelayanan jemaat Bagi Paulus karunia dengan pelayanan jemaat adalah sebuah bagian yang utuh dan tidak bisa dipisahkan. Jemaat --yang memiliki karunia namun tidak menggunakan karunia tersebut untuk melayani-- telah menyangkal hakikat dari tujuan pemberian karunia rohani tersebut. Dalam pemahaman Paulus, setiap jemaat adalah komunitas karismatik.Semua karunia-karunia rohani itu diberikan untuk tujuan melakukan pelayanan jemaat.19

Karunia Bahasa Roh


http://www.sarapanpagi.org/karunia-bahasa-roh-vt110.html 1. Pengertian20

Bahasa Roh atau bahasa lidah, Yunani (glssolalia, Yunani), -- ungkapan ini tidak ada dalam Perjanjian Baru Yunani -- merupakan gabungan dari kata glssa yang berarti lidah, organ tubuh yang digunakan untuk berbicara, dan kata kerja lale, berbicara, berkata, mengeluarkan suara dari mulut. * Markus 16:17 LAI TB, Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, KJV, And these signs shall follow them that believe; In my name shall they cast out devils; they shall speak with new tongues;
18 19

http://id.wikipedia.org/wiki/ Ibid

20

http://www.sarapanpagi.org/karunia-bahasa-roh-vt110.html

TR, Translit. interlinear, smeia {tanda-tanda (ajaib)} de {lalu} tois {(orang-orang yang)} pisteusasin {percaya} tauta {ini} parakolouthsei {akan menyertai} en {demi} t onomati mou {namaku} daimonia {roh-roh jahat} ekbalousin {mereka akan mengusir } glssais {dengan bahasa-bahasa (dengan lidah-lidah)} lalsousin {mereka akan bicara} kainais {baru} Istilah bahasa lidah, bahasa asing, bahasa roh, dalam Perjanjian Baru menggunakan kata yang sama yaitu' - glssa', "lidah". Markus 16:17 menulis ' ; glssais lalsousin kainais',"berbicara dengan lidah yang 'baru'"; Kisah Para Rasul 2:4 menulis 'lalein heterais glssais', "berbicara dengan lidah yang 'lain'" Mulai Kisah Para Rasul 10:45 dan seterusnya tidak ada lagi kata 'heters' (yang lain) maupun 'kainos' (yang baru), melainkan kata kerja - lale, "berbicara" dan ' - glssa', "lidah". Jadi, baik dalam Kisah Para Rasul maupun surat Korintus menggunakan kata dan ungkapan yang sama yang dewasa ini dikenal dengan ' glssolalia'.

Ada dua jenis bahasa lidah, yaitu bahasa lidah yang dimengerti oleh orang lain (Kisah 2:4) dan bahasa lidah yang harus ditafsirkan karena tidak dimengerti oleh orang lain (1 Korintus 14:2) : * Kisah 2:4 LAI TB, Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkatakata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya KJV, And they were all filled with the Holy Ghost, and began to speak with other tongues, as the Spirit gave them utterance. TR, Translit. interlinear, kai {lalu} eplsthsan {mereka dipenuhi} apantes {semua} pneumatos {(oleh) Roh} hagiou {kudus} kai {dan} rxanto {mulai} lalein {berkatakata} heterais {lain/ asing} glssais {dalam bahasa-bahasa (lidah-lidah)} kaths {menurut} to {(itu)} pneuma {Roh} edidou {memberikan} autois {kepada mereka} apophtheggesthai {untuk mengatakan} * 1 Korintus 14:2 LAI TB, Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada

manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. KJV, For he that speaketh in an unknown tongue speaketh not unto men, but unto God: for no man understandeth him; howbeit in the spirit he speaketh mysteries. {understandeth: Gr. heareth} TR, Translit interlinear, ho {(orang yang)} gar {karena} laln {berkata-kata} glss {dengan (bahasa) lidah} ouk {tidak} anthrpois {kepada manusia-manusia} lalei {berkata-kata} alla {tetapi} t the {kepada Allah} oudeis {tidak satupun} gar {sebab} akouei {mengerti} pneumati {dalam Roh} de {tetapi} lalei {mengatakan} mustria {rahasia-rahasia} Baik bahasa "lidah" atau karunia "lidah" dengan bahasa "roh" itu sama saja. Kedua-duanya diterjemahkan dari kata Yunani glssa. Istilah bahasa lidah atau karunia lidah akrab bagi kalangan tempo doeloe yang akrab dengan Alkitab Terjemahan Lama, yaitu sebelum tahun 1974. Karunia roh dalam Kisah Para Rasul (dimengerti oleh orang lain) dan surat kiriman Paulus (tidak dimengerti oleh orang lain) menggunakan kata yang sama yaitu glssa. Dalam ayat-ayat sebelumnya sudah disinggung, namun marilah kita perhatian terjemahan berikut ini : * 1 Korintus 12:10 LAI TB, Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacammacam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan 'BAHASA ROH', dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan 'BAHASA ROH' itu. LAI TL, dan kepada orang lain, perbuatan mudjizat, dan kepada jang lain nubuat, dan kepada jang lain membedakan segala roh, dan kepada orang lain berdjenisdjenis 'KARUNIA LIDAH', dan kepada jang lain pengetahuan mengartikan makna 'LIDAH' itu. KJV, To another the working of miracles; to another prophecy; to another discerning of spirits; to another divers kinds of tongues; to another the interpretation of tongues: TR, Translit. interlinear, all de{(dan kepada yang lain)} energmata {perbuatan2} dunamen {(yang menghasilkan) mujizat2} all {yang lain} de {dan} prophteia

{karunia memberi pesan (nubuat)} all {(kepada) yang lain} de {dan} diakriseis {membedakan} pneumatn {roh-roh} heter {yang lain} de {dan} gen {jenisjenis} glssn{bahasa-bahasa lidah} all {(kepada) yang lain} de {dan} hermneia {penerjemahan/ penafsiran} glssn {bahasa-bahasa lidah (bahasa-bahasa roh)} Bahasa lidah pertama kali dalam Kisah Para Rasul pasal 2 merupakan "bahasabahasa" (bentuk jamak), tidak berbeda dengan bahasa lidah dalam jemaat Korintus. Kedua-duanya tidak dimengerti oleh pembicara, dalam Kisah Para Rasul hanya dimengerti oleh orang lain, sedangkan dalam Korintus tidak dimengerti orang lain, oleh karena itu memerlukan penafsiran dan/atau penerjemahan. Kata Yunani 'hermneia' di samping bermakna menafsirkan juga bermakna menterjemahkan (lihat, Yohanes 1:38; 1:42; 9:7; Ibrani 7:2).
2. Karunia Roh Karunia Bahasa Lidah21

Tatkala murid-murid yang telah berkumpul dipenuhi dengan Roh Kudus pada hari Pentakosta, mulailah mereka berkata kedalam bahasa-bahasa (glssai) lain seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakannya : * Kisah 2:4-11 2:4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. 2:5 Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. 2:6 Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. 2:7 Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? 2:8 Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: 2:9 kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, 2:10 Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan

21

http://www.sarapanpagi.org/karunia-bahasa-roh-vt110.html

dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, 2:11 baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah." Sehingga banyak orang Yahudi dari luar Palestina tercengang mendengar pujipujian bagi Allah yang dalam bahasa (glssa, Kisah 2:11) dan dialek-dialek (dialektos, Kisah 2: 6-8) yang dipakai di negeri mereka sendiri. Walaupun umum diterima bahwa Lukas melaporkan murid-murid itu berbicara dengan bahasabahasa asing, namun keterangan ini tidak diterima oleh seluruh orang. Sejak dari zaman bapa-bapa Gereja, ada yang menafsirkan ayat 8 itu sebagai mujizat pendengaran, yang dikerjakan dalam diri pendengar-pendengar. Yang dimaksud dengan bahasa lidah disini adalah bahasa lidah yang "benarbenar" merupakan karunia Roh Kudus, bukan bahasa lidah yang dibuat-buat, dipelajari, atau ditiru. Berbicara dalam bahasa roh ialah karunia Roh yang disebut dalam ayat-ayat berikut ini : * Kisah 10:44-46 LAI TB, 10:44 Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. 10:45 Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, 10:46 sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. KJV, 10:44 While Peter yet spake these words, the Holy Ghost fell on all them which heard the word. 10:45 And they of the circumcision which believed were astonished, as many as came with Peter, because that on the Gentiles also was poured out the gift of the Holy Ghost. 10:46 For they heard them speak with tongues, and magnify God. . TR translit. interlinear, 10:44 eti {masih} lalountos {ketika mengatakan} tou petrou {petrus} ta rmata {kata-kata} tauta {ini} epepesen {turun} to pneuma {Roh} to hagion {Kudus} epi {ke atas} pantas {semua} tous {(orang-orang yang)} akouontas {mendengarkan} ton logon {(itu) pemberitaan} 10:45 kai {dan} exestsan {tercengang-cengang} hoi ek {dari} peritoms {golongan yg bersunat} pistoi {(orang-orang) yang percaya} hosoi {semua}

sunlthon {(yang) pergi bersama} t petr {petrus} hoti {karena} kai {juga} epi {ke atas} ta ethn {bangsa-bangsa(bukan Yahudi)} drea {(sebagai) pemberian} tou hagiou {kudus} pneumatos {Roh} ekkekhutai {telah dicurahkan} 10:46 kouon {mereka mendengar} gar {sebab} autn {mereka} lalountn {berkata-kata} glssais {dalam bahasa lidah } kai {dan} megalunontn {memuji kebesaran} ton theon {Allah}. . * Kisah 19:6 LAI TB, Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. KJV, And when Paul had laid his hands upon them, the Holy Ghost came on them; and they spake with tongues, and prophesied. TR, Translit. interlinear, kai {lalu} epithentos {ketika menumpangkan } autois {pada mereka} tou paulou {paulus} tas kheiras {tangan-tangan} lthen {datang} to pneuma {Roh} to hagion {kudus} ep {ke atas} autous {mereka} elaloun {mereka berkata-kata} te {dan} glssais {dengan (bahasa) lidah} kai {dan} proephteuon {penyampaikan pesan Allah (bernubuat)} * Kisah 10:45 LAI TB, Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, TR, Translit. interlinear, kai {dan} exestsan {tercengang-cengan} hoi ek {dari} peritoms {golongan yang bersunat} pistoi {(orang-orang) yang percaya} hosoi {semua} sunlthon {(yang) pergi bersama} t petr {petrus} hoti {karena} kai {juga} epi {ke atas} ta ethn {bangsa-bangsa (non Yahudi)} h drea {(sebagai) pemberian} tou hagiou {Kudus} pneumatos {Roh} ekkekhutai {telah dicuhahkan} Kepenuhan Roh Kudus itu dapat terjadi lebih dari satu kali, bandingkan ayat Kisah Para Rasul 2:4 diatas dengan Kisah 4:31 ini : * Kisah 4:31 LAI TB, Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani TR,

Interlinear, kai {lalu} dethentn {setelah berdoa} autn {mereka} esaleuth {digoyang} ho topos {tempat} en {(dimana)} h san sungmenoi {mereka berkompul} kai {dan} eplsthsan {mereka dipenuhi} hapantes {Semua} pneumatos {Roh} hagiou {Kudus} kai {lalu} elaloun {mengatakan} ton logon {kabar (baik)} tou theou {dari Allah} meta {dengan} parrsias {berani} 3. Penolakan Karunia Bahasa Lidah22 Tokoh Kristen Gregorius dari Nasianzus (Orat, 41.10, In Pantecosten) menolak bahwa karunia bahasa lidah adalah karunia Roh Kudus, penolakan ini dengan dasar bahwa pandangan ini mengalihkan mujizat dari murid-murid ke orang banyak yang tidak percaya, dan mengabaikan juga kenyataan bahwa berbicara dengan bahasa roh itu sudah mulai sebelum ada pendengar-pendengar (Kisah 2:4, bandingkan dengan ayat dalam Kisah 2:6) : * Kisah 2:4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. * Kisah 2:6 Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Banyak ahli modern yang bercorak rasionalistis berpendapat bahwa glssolalia, dalam Kisah 2:1-13 serupa dengan yang diterangkan Rasul Paulus dalam 1 Korintus pasal 12 s/d pasal 14, dan merupakan pengungkapan orang yang kesurupan yang tak dapat dimengerti. Mereka menduga bahwa apa yang mereka sebut berita asli tentang hari Pentakosta (Kisah 2:1-6a, 12 dan ayat selanjutnya, tanpa heterais, dalam Kisah 2:4) hanya menceritakan pengungkapan yang bersifat kesurupan, dan Lukas sendiri menyisipkan singgungan bahasa-bahasa lain. Maksudnya menurut mereka adalah, atau memberi keterangan yang lebih enak pada saat ketika glssolalia tidak dihormati lagi (inilah pendapat H. Weinel, dalam bukunya Die Wirkungen des Geistes und der Geister, 1899, p 74 dab), atau sebagai tafsiran yang merupakan lambang pembalikan dari kutuk di menara Babel (Kejadian 11:1-9), atau sebagai kesejajaran dengan pemberian hukum Taurat di Gunung Sinai dalam 70 bahasa

22

http://www.sarapanpagi.org/karunia-bahasa-roh-vt110.html

umat manusia (ini adalah cerita dalam Midrasy Tankhuma, 25c: Lihat FJ FoakesJackson dan K Lake, The Beginning of Christianity, p 114 dab). Tapi pandangan-pandangan ini merupakan ketidak-percayan belaka. Tidak ada bukti dalam Kitab Kisah Para Rasul untuk mendasarinya, dan tidak masuk akal bahwa Lukas dapat salah mengerti kodrat glssolalia. Kesejajaran yang jelas mengingat bahwa ingatannya pasti dipengaruhi oleh kenyataan, dan bahwa para murid secara nyata berbicara dengan bahasa-bahasa lain. Sampai berapa jauh hal itu terjadi tidak diketahui dengan pasti, sebab kebanyakan pendengar agaknya mengerti bahasa Yunani atau bahasa Aram, tapi paling sedikit logat Galilea mereka dibebaskan dari sifat-sifatnya yang khas, sehingga dapat dimengerti oleh orang banyak yang berbicara jamak itu (ayat Kisah 2:7, bandingkan dengan Markus 14:70) * Markus 14:70 LAI TB, Tetapi Petrus menyangkalnya pula. Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ berkata juga kepada Petrus: "Engkau ini pasti salah seorang dari mereka, apalagi engkau seorang Galilea!" KL 1870, Tetapi bersangkallah ija poela. Maka sabentar lagi kata orang jang berdiri dekat itoe poela kapada Peteroes: Sasoenggoehnja engkau saorang kawan mareka-itoe, karena engkaulah orang Galilea, dan behasamoe pon bagitoe djoega. KJV, And he denied it again. And a little after, they that stood by said again to Peter, Surely thou art one of them: for thou art a Galilaean, and thy speech agreeth thereto. TR, Translit Interlinear, ho {(ia)} de {tetapi} palin {pula} rneito {menyangkal} kai {lalu} meta {sesudah} mikron {sedikit (waktu)} palin {pula} hoi {(orang-orang yang)} paresttes {berdiri di samping } elegon {berkata} t petr {kepada petrus} alths {benar} ex {(dari)} autn {mereka} ei {(engkau berasal)} kai {memang} gar {karena} galilaios {orang galilea} ei {engkau adalah} kai {dan} h lalia {bahasa (dialect/ mode of speech/ pronunciation)} sou {engkau} omoiazei {seperti itu} * Markus 16:17 LAI TB, Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, KJV, And these signs shall follow them that believe; In my name shall they cast out devils; they shall speak with new tongues; TR,

Translit. interlinear, smeia {tanda-tanda (ajaib)} de {lalu} tois {(orang-orang yang)} pisteusasin {percaya} tauta {ini} parakolouthsei {akan menyertai} en {demi} t onomati mou {namaku} daimonia {roh-roh jahat} ekbalousin {mereka akan mengusir } glssais {dengan bahasa-bahasa (dengan lidah-lidah)} lalsousin {mereka akan bicara} kainais {baru} Berbicara dalam bahasa (lidah) yang baru ('glssais lalsousin kainais' disebut dalam Markus 16:17 ini sebagai tanda yang akan menyertai iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Tanda itu menyertai pencurahan Roh Kudus kepada orang-orang non-Yahudi pertama yang bertobat (Kisah 10:44-46; Kisah 11:15) dan pasti merupakan salah satu penjelmaan yang kelihatan di tengah-tengah orang-orang percaya pertama kepada Mesias tanpa menyadari tentang pentakosta berbicara dalam bahasa roh, tatkala Roh Kudus turun kepada mereka (Kisah 19:6). Dalam setiap peristiwa glssolalia yang umum menyuguhkan dimasukkannya golongan orang percaya baru ke dalam Gereja Yahudi Kristen yang berhati-hati itu (bandingkan Kisah 10:47; Kisah 11:17-18 ). 4. Menafsirkan/ Menterjemahkan Bahasa Lidah23 Glssolalia yang timbul di Korintus dalam beberapa segi berbeda dari yang diterangkan dalam Kitab Kisah Para Rasul di Yerusalem, seperti yang di Kaisarea dan Efesus, seluruh kumpulan menerima karunia yang diinginkan itu (1 Korintus 12:10,30). Nampaknya dalam Kitab Kisah glssolalia merupakan pengalaman mula-mula yang bersifat sementara dan yang tak dapat ditolak, tetapi di Korintus terletak dibawah kuasa si pembicara dalam bahasa roh itu (1 Korintus 14:27-28 ). Saat Pentakosta kata-kata Roh itu segera dimengerti oleh pendengar, tapi di Korintus karunia tambahan untuk menafsirkannya harus ada untuk membuatnya dapat dimengerti (Ayat 5,13,27). Hanya pada peristiwa Pentakosta berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain disebut secara khusus. Tapi dimanamana glssolalia dilukiskan sebagai terdiri dari ucapan yang jelas dan bermakna, yang diilhamkan Roh Kudus dan digunakan terutama dalam ibadah (Kisah 2:11; Kisah 10:46; 1 Korintus 14:2, 14-17, 28 ). Bahasa-bahasa roh, bermacam-macam sifatnya (1 Korintus 12:10). Di Korintus agaknya bahasa roh itu bukan bahasa asing, yang dinamai Paulus dengan kata lain (phone , 1 Korintus 14:10-11), sebab yang harus ada untuk memahaminya

23

http://www.sarapanpagi.org/karunia-bahasa-roh-vt110.html

bukanlah kepandaian ilmu bahasa, tetapi suatu karunia khusus : * 1 Korintus 14:10-19 14:10 Ada banyak -- entah berapa banyak -- macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satu pun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti. 14:11 Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku. 14:12 Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat. 14:13 Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. 14:14 Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. 14:15 Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. 14:16 Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan "amin" atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? 14:17 Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya. 14:18 Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. 14:19 Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh. Bahasa roh itu bukan hanya suara-suara yang tak berarti yang bersifat kesurupan, walaupun nalar budi si pembicara tidak berkenan (ayat 13-14) dan ucapan-ucapannya tetap tidak dapat dimengerti bahkan olehnya sendiripun, jika tiada yang menafsirkan, sebab kata-kata (ayat 19) dan maknanya (ayat 14-17) tetap diakui, dan bahasa roh yang sudah ditafsirkan sama nilainya dengan nubuat (ayat 5). Suatu bentuk bahasa tertentu diisyaratkan oleh kata Yunani untuk menafsirkan, yang dimanapun dalam PB terkecuali Lukas 24:27, selalu berarti menterjemahkan. Sekarang kita kaji ayat berikut ini: * 1 Korintus 12:10 LAI TB, Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan

kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacammacam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan 'BAHASA ROH', dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan 'BAHASA ROH' itu. LAI TL, dan kepada orang lain, perbuatan mudjizat, dan kepada jang lain nubuat, dan kepada jang lain membedakan segala roh, dan kepada orang lain berdjenisdjenis 'KARUNIA LIDAH', dan kepada jang lain pengetahuan mengartikan makna 'LIDAH' itu. KJV, To another the working of miracles; to another prophecy; to another discerning of spirits; to another divers kinds of tongues; to another the interpretation of tongues: TR, Translit. interlinear, all de{(dan kepada yang lain)} energmata {perbuatan2} dunamen {(yang menghasilkan) mujizat2} all {yang lain} de {dan} prophteia {karunia memberi pesan (nubuat)} all {(kepada) yang lain} de {dan} diakriseis {membedakan} pneumatn {roh-roh} heter {yang lain} de {dan} gen {jenisjenis} glssn{bahasa-bahasa lidah} all {(kepada) yang lain} de {dan} hermneia {penerjemahan/ penafsiran} glssn {bahasa-bahasa lidah (bahasa-bahasa roh)} Ada hal menarik jika ingin mengkaji kata "yang lain" menurut 1 Korintus 12:10. Bahasa Yunani menggunakan dua kata yang bermakna "yang lain" yaitu 'alls' dan 'eters'. Ilustrasinya demikian : Jika seseorang menawarkan buah mangga kepada saya dan saya minta 'alls', berarti saya minta "mangga" yang lain, namun jika saya minta 'eters', berarti saya minta "buah" yang lain (yang bukan mangga), barangkali jambu. Nah, baik mujizat, nubuat, dan penafsiran bahasa lidah menggunakan kata 'alls', "yang lain" dari jenis yang sama, tetapi khusus untuk bahasa lidah itu sendiri menggunakan kata 'eters', "yang lain" dari jenis yang berbeda. Yang tidak kalah menarik adalah bentuk tunggal dan jamak, hanya dua saja yang ditulis dalam bentuk tunggal yaitu'prophteia', "nubuat", dan 'hermneia', "penafsiran"; yang lain ditulis dalam bentuk jamak. Jadi, seseorang dapat mengadakan banyak mujizat, yang lain dapat berkata dalam banyak bahasa lidah, tetapi hanya satu nubuat dan satu penafsiran saja bagi yang lain pula. 5. Tanda bagi orang yang tidak beriman?24

24

http://www.sarapanpagi.org/karunia-bahasa-roh-vt110.html

* 1 Korintus 14:22 LAI TB, Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman. TR, Translit. interlinear, hste {karena itu} hai glssai {bahasa-bahasa lidah} eis {(sebagai)} smeion {tanda (peringatan)} eisin {(berfungsi)} ou {bukan} tois {(bagi orang-orang yang)} pisteuousin {percaya} alla {melainkan} tois {(bagi orangorang)} apistois {yang tidak percaya} h de {dan} prophteia {karunia memberi pesan Allah (nubuat)} ou {bukan} tois {(bagi orang-orang)} apistois {yang tidak percaya} alla {melainkan} tois{(bagi orang-orang)} pisteuousin{percaya}

Bahasa roh dalam pertemuan jemaat bisa menjadi suatu tanda yang negatif kepada orang yang tidak percaya karena bahasa roh itu menunjukkan bahwa orang yang tidak percaya itu terpisah dari Allah dan tidak dapat mengerti apa yang sedang terjadi. Akan tetapi, nubuat adalah suatu tanda bagi orang percaya, karena mereka menyadari bahwa itu merupakan karya Roh Kudus yang adikodrati dan bukti bahwa Allah sedang bekerja di dalam jemaat. Bahasa roh bisa menjadi tanda juga bagi orang percaya yang menunjukkan bahwa Roh sedang dicurahkan dan dimanifestasikan di antara umat Allah. 6. Penggunaan Bahasa Lidah25 Secara Pribadi : * 1 Koritus 14:15 "Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku."

Paulus menunjuk kepada pengalaman pribadinya, kepada penggunaan bahasa


25

http://www.sarapanpagi.org/karunia-bahasa-roh-vt110.html

roh secara pribadi. "Aku berdoa dengan rohku" berarti berdoa dengan bahasa roh, dengan menggunakan rohnya sendiri oleh dorongan Roh Kudus. Roh orang percaya berdoa sementara Roh Kudus memberikan apa yang harus dikatakannya. Di sini Paulus membicarakan tentang penggunaan bahasa roh secara pribadi yang ditujukan kepada Allah. Paulus menggunakan bahasa roh tidak hanya untuk berdoa, tetapi juga untuk menyanyi, memuji, dan mengucapkan syukur kepada Allah. "Berdoa dengan akal budiku" berarti berdoa dan memuji dengan akal budinya sendiri dalam bahasa yang telah dipelajarinya, juga oleh dorongan Roh Kudus. * 1Korintus 14:2 Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. Pada dasarnya ada dua cara untuk memahami ayat ini. Pertama, beberapa orang percaya bahwa ayat ini menunjukkan bahwa penggunaan utama bahasa roh, baik dalam jemaat maupun secara pribadi, adalah terutama untuk berbicara kepada Allah dan bukan kepada manusia. Ketika bahasa roh ditujukan kepada Allah, maka pembicara itu sedang berhubungan dengan Allah oleh Roh Kudus dalam bentuk doa, pujian, nyanyian, ucapan berkat, dan ucapan syukur. Yang diucapkan itu adalah "hal-hal yang rahasia", yaitu hal-hal yang tidak dapat dipahami oleh pembicara itu dan oleh para pendengar. Penafsiran ucapan dalam bahasa roh itu mengizinkan jemaat untuk masuk ke dalam manifestasi dari penyembahan yang dipimpin Roh sehingga mereka dapat berkata "Amin" kepada doa atau pujian yang diilhami Roh. Kedua, pada pihak lain, pernyataan Paulus itu bisa berarti bahwa hanya Allah yang mengerti bahasa roh itu (kecuali itu ditafsirkan). Implikasinya adalah bahwa bahasa roh, bila ditafsirkan, diarahkan kepada manusia. Pandangan ini didukung oleh pernyataan Paulus yang menyatakan bahwa berkata-kata dengan bahasa roh tidak diucapkan kepada manusia karena "tidak ada seorang pun yang mengerti".

Didepan Umum :26 Penggunaan karunia ini harus diawasi oleh kehendak pembicara, sekalipun bahasanya tidak dimengerti. Bahasa Lidah boleh dipakai didepan umum, hanya bila ada yang hadir yang dapat menafsirkannya : * 1 Korintus 14:27-28 14:27 Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. 14:28 Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah Pada ayat selanjutnya (1 Korintus 14:29-30 dab) dijelaskan mengenai karunia nubuat, yang ada syaratnya. Berita perantaraan (pernyataan Allah) atau nubuat ini tidak seharusnya diterima tanpa kritik, melainkan harus diuji(bandingkan dengan 1 Tesalonika 5:21), artinya untuk meyakinkan bahwa sumbernya adalah dari Allah dan bukan dari Iblis (bandingkan dengan 1 Korintus 12:10, Ulangan 18:22 dan 1 Yohanes 4:1). Sekalipun ada pembatasan-pembatasan yang ditekankan oleh Paulus, semua yang dapat bernubuat akan beroleh kesempatan menggunakan karunia mereka pada suatu waktu, supaya semua jemat mendapat berkat dari pelayanan Roh Kudus ini. Sama halnya seperti mereka yang berbahasa lidah, ada yang mampu berdiam diri (jika perlu, 1 Korintus 14:28 ), demikianlah nubuat diawasi oleh umat Tuhan. Allah adalah sumber ilham segala karunia-karunia ini, maka tiap kekacauan, atau tidak adanya pengekangan diri, dan pemakaian karunia secara ugal-ugalan yang mungkin ada (atau bahkan sering) dalam kumpulan jemaat, tidak akan mungkin sesuai kehendakNya atau disebabkan oleh Roh Kudus. Umat Tuhan harus bijaksana dalam kebebasannya menggunakan karunia Roh Kudus. Dan Paulus manasehatkan bahwa semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. 7. Penutup Bahasa roh adalah bahasa istimewa, yang tidak mempunyai sifat bahasa biasa, tetapi diilhamkan oleh Roh Kudusuntuk ibadah, sebagai tanda bagi orang-orang yang belum percaya (1 Korintus 14:22), dan jika sudah ditafsirkan, untuk membangun orang-orang percaya. Orang-orang Korintus menambahkan nilai lebih dan menyalahgunakanglssolalia sedemikian rupa, sehingga Paulus

26

http://www.sarapanpagi.org/karunia-bahasa-roh-vt110.html

dengan tegas membatasi pemakaiannya di muka umum (1 Korintus 14:27-28 ), dan menekankan keunggulan nilai nubuat bagi seluruh gereja (ayat 1, 5). Tak dapat dipastikan apakah penjelmaan glssolalia zaman ini benar-benar menyerupai bentuk-bentuknya seperti apa yang tercatat dalam kitab PB. Haruskah seseorang berbahasa lidah?. Sebenarnya, bukan hanya dengan berbahasa lidah, kita memuliakan Allah, melainkan dalam segala sesuatu : * 1 Korintus 10:31 "Aku menjawab: 'Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.'" Bahkan dengan tubuh kita sendiri: * 1 Korintus 6:20 "Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!"
Kepustakaan :

J Behm, Teological Dictionary of the New Testament 1 P 722-727 N.B. Stonehouse, Repentance, Babtism and the Gift of the Holy Spirit, WTJ 13, p 11 dab GB Cutten, Speaking with the Tongues JD G Dunn, Jesus and The Spirit WJ Samarin, Tongues of Men and Angels Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid 1, p 132-133. Dan beberapa sumber lain.

Sejarah Gerakan Pentakosta


http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Pentakosta

Gerakan Pentakosta juga menonjol di kalangan gerakan Kesucian yang pertama-tama mulai menggunakan istilah pentakostal pada tahun 1867 ketika mereka mendirikan Perhimpunan Pertemuan Kemah Nasional untuk Pemasyhuran Kesucian Kristen dengan sebuah catatan yang berbunyi: [Kami mengundang] semua orang apapun juga alirannya ... yang merasa terasing di dalam keyakinan kesuciannya agar semuanya secara bersama-sama dapat mewujudkan baptisan Pentakosta oleh Roh Kudus...27

27

http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Pentakosta

Pentakostalisme modern sesungguhnya dimulai sekitar tahun 1901. Pada umumnya gerakan ini diakui berasal pada waktu Agnes Ozmanmenerima karunia berbahasa roh (glossolalia) pada suatu persekutuan doa di Sekolah Alkitab Bethel di Topeka, Kansas, tahun 1901. Parham, seorang pendeta yang berlatar belakang Metodis, merumuskan ajaran bahwa bahasa roh adalah "bukti alkitabiah" dari baptisan Roh Kudus. Gerakan Pentakosta muncul di Eropah tapi juga muncul di Amerika Utara sekitar tahun 1906. Gerakan ini awalnya muncul dalam Gerakan Methodis yang berkeinginan untuk kembali kepada kegairahan dan kesederhanaan yang menekankan kembali kepada pertobatan secara mendadak yang menjadi cita-cita dalam kebangunan Methodis dan kesempurnaan Kristen seperti yang dianjurkan dalam Teologi Wesley. Dalam perkembangnya penganut gerakan ini membentuk organisasi tersendiri. Pada tahun 1900 salah seorang tokoh gerakan tersebut, Ch. F. Parham (asal dari Gereja Methodis dan keluar) mengembangkan 3 pokok ajaran yang kemudian hari menjadi ciri gerakan Pentakosta pada umumnya, yaitu tekanan pada eskatologi, pada baptisan dengan Roh dan pada karunia-karunia Roh, khususnya karunia lidah, sebagai tanda seseorang telah menerima baptisan Roh.28 Parham meninggalkan Topeka dan memulai pelayanan kebangunan rohani yang membawanya kepada Kebangunan Rohani Azusa Streetmelalui William J. Seymour yang menjadi muridnya di sekolahnya di Houston. Seymour, karena ia seorang kulit hitam, saat itu hanya diizinkan duduk di luar kelas untuk mendengarkan kuliah-kuliahnya. Gerakan ini meluas yang dimulai dari Kebangunan Rohani Azusa Street, pada 9 April 1906 di rumah Edward Lee di Los Angeles. Ia menggambarkan pengalamannya dipenuhi oleh Roh Kudus pada 12 April 1906. Pada 18 April 1906, koran Los Angeles Times memberitakan gerakan ini pada halaman mukanya. Pada minggu ketiga April 1906, gerakan yang kecil namun berkembang pesat itu telah menyewa sebuah gedung African Methodist Episcopal Church yang kosong di 312 Azusa Street dan mulai diorganisir sebagai Misi Iman KerasulanApostolic Faith Mission. Dasa warsa pertama Pentakostalisme ditandai oleh kebaktian-kebaktian antar-ras, "... Orang-orang kulit putih dan hitam bergabung dalam gejolak keagamaan,..." demikian laporan sebuah koran setempat. Hal ini berlangsung hingga 1924, ketika gereja ini terpecah mengikuti garis ras (lih. Apostolic Faith Mission). Namun demikian, ibadahibadah antar-ras berlanjut selama bertahun-tahun, bahkan juga di daerah-daerah selatan A.S. yang tersegregasi. Ketika Persekutuan Pentakostal Amerika Utara terbentuk pada 1948, organisasi itu sepenuhnya terdiri atas denominasi-denominasi Pentakostal kulit putih Amerika. Karena itu United Pentecostal Church tidak bergabung dan kebijakan antar-rasnya bertahan terus sepanjang sejarahnya. Pada 1994, gerejagereja Pentakostal yang tersegregasi kembali ke akar antar-ras mereka dan

28

http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Pentakosta

mengusulkan penyatuan kembali secara resmi kelompok-kelompok Gereja Pentakostal hitam dan putih, dalam sebuah pertemuan yang kemudian dikenal sebagai Mukjizat Memphis. Penyatuan ini terjadi terjadi pada 1998, juga di Memphis, Tennessee. Penyatuan gerakan kulit hitam dan putih menyebabkan Persekutuan Pentakostal Amerika Utara ditata ulang menjadi Gereja-gereja Pentakostal/Karismatik Amerika Utara (Pentecostal/Charismatic Churches of North America). Pada awal abad XX, Albert Benjamin Simpson sangat terlibat dengan gerakan Pentakostal yang berkembang pesat. Pada saat itu para pendeta dan misionaris Pentakostal biasanya dilatih di Missionary Training Institute yang didirikan oleh Simpson. Karena itu, Simpson danC&MA (sebuah gerakan penginjilan yang didirikan Simpson) sangat berpengaruh terhadap Pentakostalisme, khususnya gerejagereja Sidang Jemaat Allah dan Foursquare Church. Pengarh ini mencakup penekanan pada penginjilan, doktrin C&MA, nyanyian-nyanyian dan buku-buku karya Simpson, dan penggunaan istilah 'Tabernakel Injil' yang berkembang menjadi gerejagereja Pentakostal yang dikenal sebagai'Tabernakel Injil Sepenuh'. Gerakan ini dengan cepat menyebar ke seluruh wilayah Amerika Serikat dan negaranegara lain. Menurut data, pada tahun 1972 pengikut aliran Pentakosta di seluruh dunia sudah mencapai 20 juta orang. Gereja Pentakosta mempunyai ciri-ciri yang sama di seluruh dunia, antara lain: kebaktian yang serba bebas, pemakaian Alkitab secara ?spontan?, pembangunan jemaat melalui kegiatan kebangunan rohani yang meliputi dorongan untuk bertobat dan hidup suci, dan anggapan bahwa dalam lingkungan jemaat perlu ada karunia lidah dan karunia kesembuhan sebagai tandatanda orang percaya. Sejak akhir tahun 1950-an, gerakan Karismatik, yang sebagian besar diilhami dan dipengaruhi oleh Pentakostalisme, mulai berkembang di kalangan denominasidenominasi Protestan arus utama, maupun di lingkungan Gereja Katolik Roma. Berbeda dengan "Pentakosta Klasik" yang melulu membentuk gereja-gereja ataupun denominasi Pentakostal, kaum Karismatik bermotokan, "Berkembang di manapun Allah menempatkanmu." Di Inggris, gereja Pentakostal pertama yang dibentuk adalah Apostolic Church (Gereja Kerasulan), yang kemudian diikuti oleh Elim Church (Gereja Elim). Di Swedia, gereja Pentakostal yang pertama adalah Filadelfiafrsamlingen (Persekutuan Filadelfia) di Stockholm. Gereja yang dipimpin oleh Lewi Pethrus ini mulanya adalah sebuah Gereja Baptis, yang kemudian dikeluarkan dari Gabungan Baptis Swedia pada 1913 karena perbedaan-perbedaan doktrin. Saat ini gereja ini mempunyai sekitar 7000 anggota, yang merupakan jemaat Pentakostal terbesar di Eropa utara. Pada tahun 2005, gerakan Pentakostal Swedia mempunyai sekitar 90.000 anggota dengan hampir 500 gereja. Gereja-gereja ini semuanya independen namun mereka melakukan banyak kerja sama. Kaum Pentakostal Swedia sangat aktif dalam melakukan misi dan mendirikan gereja di banyak negara. Di Brazilia, misalnya, gereja-gereja yang didirikan oleh misi Pentakostal Swedia mengaku mempunyai beberapa juta anggota. Sejarah Pentakostalisme di Australia dicatat dalam buku "Heart of Fire" oleh Dr. Barry Chant (1984, Adelaide: Tabor).

Sejarah Pentakostalisme di Indonesia dimulai lebih terkordinir dengan berdirinya De Pinkstergemeente in nederlandsch indie dicatat dalam buku Sejarah Gerakan "Pentakosta dan Karismatik di Indonesia" oleh David DS Lumoindong. Pada awalnya dengan pelayanan missi dari Weenink Van Loon bersama Johanes Thiessen, John Bernard dari Liverpool, Inggris. Weenink Van Loon Hoofd On-derwyzer (Kepala Sekolah), mereka dari satu persekutuan yang bernama De Bond Voor Evangelistie yang membentuk suatu yayasan De Zendings Vereeniging. Yayasan ini mengelola/mengasuh sebuah sekolah Kristen yakni Hollands Chineesche school met de Bijbel, sebagai pimpinan Sekolah ditunjuk Wenink Van Loon. Di samping itu, di Kota Temanggung terdapat pula yayasan Zwakzinhigenzorg yg disponsori oleh Pa Van Steur. Yayasan tersebut bergerak di bidang penampungan anak-anak terlantar yang mempu-nyai sebuah Panti Asuhan yang pimpinannya adalah suster M A Van Alt, semua tokoh tersebut ternyata adalah simpatisan Gereja Gerakan Pentakosta yang diperkenalkan oleh John Bernard. Dalam waktu yang hampir bersamaan bulan Maret 1921 datang pula dua penginjil dari, Bethel Tempel dari Seatle Amerika Serikat yakni Rev C E Grosbeck dan Rev DR Van Klaveren, keduanya membawa serta keluarganya. Mereka tiba di pelabuhan Batavia dengan menumpang KM Suwa Maru pada bulan Maret 1921. Langsung menuju ke Denpasar Bali, tapi waktu itu oleh pemerintah Hindia Belanda menyatakan bahwa Pulau Bali tertutup untuk penginjilan sebab Pulau Bali telah dijadikan sebagai pulau wisata untuk menarik para pelancong dari luar negeri supaya boleh meningkatkan pendapatan keuangan dari pemerintah yang ada. Oleh karena itu kedua penginjil tadi tidak dapat berbuat banyak sekalipun sempat memberitakan injil di pulau dewata ini tapi hasilnya tidak menggembirakan. Dan pada bulan Desember 1922 keduanya berangkat menuju ke Surabaya. Di Surabaya mereka berpisah, Rev R Van Klaveren menuju Jakarta dan melayani dengan Rev.J Thiessen. Sedangkan Rev Groesbeck tetap di Surabaya dan giat mangadakan penginjilan (Camp Meetings) dan kebanyakan yang hadir di dalam camp meeting itu adalah pemuda-pamuda berdarah campuran Belanda Indonesia. (Ambon, Minahasa, Timor). Kemudian Rev Groesbeck bertemu dengan Rev Van Gesel seorang karyawan BPM di Cepu.Dan mereka bersama-sama bergabung pada persekutuan De Bond Voor Evangelisatie. Ibu Moeke Wynen salah seorang yang aktif pada organisasi ini, dan dialah memperkenalkan penginjil dari Seatle USA ini pada organisasi tersebut. De bond Voor Evangelisatie berpusat di Bandung dan pimpinannya adalah antara lain Wenink Van Loon. Pada tanggal 29 Maret 1923 tibalah di Cepu Rev Johannes Thiesen bersama Wenink Van Loon (pimpinan De bond Van Evangelistie dari Bandung dan mengadakan kebaktian. Yang hadir dalam ibadah tersebut sebagian besar adalah pimpinan dan karyawan BPM Cepu dan keluarga mereka diantaranya SIP Lumoindong, Tn Agust Kops, Tn Win Vincentie, dan lainnya. Kemudian keesokan harinya adalah hari Jumat Agung (Goede Vrijdag) Tanggal 30 Maret 1923 diumumkan akan diadakan baptisan air di daerah pasar sore. Jumlah yang dibaptis pada waktu itu adalah 13 jiwa yang nama-nama mereka sbb: Jan Jeckel, Ny Jeckel, tn F G van Gesel, Ny van Gesel, Ch C De Vriew, Tn Frits Salem Lumoindong, Tn Win Vincentie, Ny Vincentie, Tn Agust Kops, Corie Eiderbrink, Anton Leterman, Tn Sambow Ignatius Paulus Lumoindong, Ny SIP Lumoindong Vincentie. Mereka dibaptis oleh Pdt Thiessen dan Pdt Groesbeck, dalam kebaktian Kebangunan Rohani di Cepu Tanggal 29-30 Maret 1923 itu terjadi pemenuhan Roh Kudus pada mereka yang mengikuti Kebaktian dan acara

pembaptisan air. Papa Thiessen dan Wenink Van Loon kembali ke Bandung dan meneruskan pelayanan disana. Sedangkan dari Cepu Api Pentakosta terus menjalar dengan disertai kuasa dan mukjizat mukjizat ke Surabaya dan hampir seluruh Jawa Timur. Para Pelopor aliran Pentakosta ini membagi wilayah pelayanan mereka. Rev Johannes memilih Kota Bandung sebagai basis pelayanannya. Pada mula pelayanannya di Bandung Rev Thiessen menyewa gedung pangadilan negeri (Landraadzaal) sebagai tempat kebaktian, kemudian pindah ke temapat sekarang jl. Marjuk No. 11 untuk dibangun gedung gereja. Dengan pertolongan Tuhan berdirilah gereja (gedung) Pinkster Beweging yang pertama di Bandung. Ny.Kawulur seorang yang buta huruf tapi setelah bertobat dan dipenuhi Roh Kudus maka yang sangat bersemangat memberitakan injil melalui buku-buku atau majalah (warta) rohani Pinkstergemeente yang dibagi-bagikan, padahal ia sendiri tidak dapat membaca. Suatu saat ia masuk ke daerah terlarang bagi umum karena lokasi mereka yang berpenyakit Kusta, ia masuk dan membagikan bacaan tersebut. Seorang yang membacanya kemudian bertanya apa benar Tuhan dapat menyembuhkan segala penyakit?. Iapun menjawab ya pasti jika ia percaya. Orang tersebut memintanya untuk mendoakan, karena Ny.Kawulur belum mendalami ajaran kekristenan maka ia hanya menghafal doa bapa kami, maka orang tersebut didoakan dengan doa Bapa Kami. Tetapi ternyata TUHAN tidak mendengar doa orang karena indahnya dan pandainya seorang berdoa tapi melihat iman dan ketulusan. Mujizat ternyata si penyakitan kusta sembuh seketika, hal ini menghebohkan komplex tersebut, pemimpin rumah sakit tersebut kemudian memanggil Ny.Kawulur dan memintanya memanggil pemimpinnya untuk memberi penjelasan. Maka Ny.Kawulur karena masih awam kemudian memanggil hamba-hamba Tuhan dari jawa, mereka datang dan kemudian terjadilah kebangunan rohani besar-besaran, sejak itulah Pinkstergemeente masuk kalimantan. Ny.Kawulur kemudian mengikuti suaminya yang bertugas dan pensiun di Manado, rumahnya disumbangkan bagi Pinkstergemeente, Ny.Kawulur meninggal dengan suaminya anaknya sudah meninggal duluan semasa perang, ia mengangkat beberapa anak diantaranya Paulus Lumoindong seorang pembawa api Pentakosta tahun 1970an yang mengobarkan gerakan karismatik persekutuan doa di Kota Manado. Louis Johnson dan Arland Wasell berlayar dari Bethel temple dan melayani di Kalimantan, mereka menyeberangi banyak sungai-sungai besar menuju ke pedalaman dari pulau tersebut melebihi dari penginjil-penginjil lain yang pernah lakukan sebelumnya. Tapi akhirnya mereka terpaksa kembali ke Jawa karena Arland Wasell sakit malaria, dan Inice Presho yang memang juru rawat mengasuhnya. Arland hampir tidak mampu sampai ke rumah karena lelahnya perjalanan dengan kereta api dari Surabaya. Ouis Johnson ternyata mengadakan hubungan dengan Eileen English dan bertunangan pada hari Valentin di tahun 1933, yang kemudian diteruskan dengan pernikahan di Magelang dan pesta diadakan di Solo.29

29

http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Pentakosta

Pentakosta di Indonesia Gereja-gereja Pantekosta di Indonesia berasal dari gerakan Pentakosta yang timbul di Amerika Utara sekitar tahun 1906. Gerakan ini awalnya muncul dalam Gerakan Methodis yang berkeinginan untuk kembali kepada kegairahan dan kesederhanaan yang menekankan kembali kepada pertobatan secara mendadak yang menjadi cita-cita dalam kebangunan Methodis dan kesempurnaan Kristen seperti yang dianjurkan dalam Teologi Wesley. Dalam perkembangnya penganut gerakan ini keluar dari Gereja Methodis dan membentuk organisasi tersendiri. Pada tahun 1900 salah seorang tokoh gerakan tersebut, Ch. F. Parham mengembangkan 3 pokok ajaran yang kemudian hari menjadi ciri gerakan Pentakosta pada umumnya, yaitu tekanan pada eskatologi, pada baptisan dengan Roh dan pada karunia-karunia Roh, khususnya karunia lidah, sebagai tanda seseorang telah menerima baptisan Roh.30 Gerakan ini dengan cepat menyebar ke seluruh wilayah Amerika Serikat dan negara-negara lain. Menurut data, pada tahun 1972 pengikut aliran Pentakosta di seluruh dunia sudah mencapai 20 juta orang. Gereja Pentakosta memunyai ciri-ciri yang sama di seluruh dunia, antara lain: kebaktian yang serba bebas, pemakaian Alkitab secara spontan, tak dipertanggungjawabkan secara ilmiah, pembangunan jemaat melalui kegiatan kebangunan rohani yang meliputi dorongan untuk bertobat dan hidup suci, dan anggapan bahwa dalam lingkungan jemaat perlu ada karunia lidah dan karunia kesembuhan sebagai tanda-tanda kesucian.31 Sesuai watak gerakan Pentakosta yang bersifat spontan dan tidak memiliki organisasi yang ketat, gerakan itu secara tidak terencana masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang asal Inggris, J. Barnhard yang kemudian menetap di Temanggung, Jawa Tengah. Dari Temanggung, gerakan ini menyebar ke beberapa kota di Jawa, seperti Cepu dan Surakarta. Mulai tahun 1922, ajaran Pentakosta dibawa ke sana oleh Cornelius E. Groesbeck dan Richard van Klaveren, yang diutus oleh Bethel Temple dari Seatle, Amerika Serikat. Pada tahun 1923, tepatnya pada tanggal 19 Maret 1923 di Cepu berdiri Vereninging De Pinkstergemeente In Nederlandsch Oost Indie (Jemaat Pentakosta di Hindia Timur Belanda). Dan pada tanggal 30 Maret 1923, badan tersebut mendapat SK Gubernur Hindia Belanda dengan Badan Hukum No. 2924, tertanggal 4 Juni 1923 di Cipanas, Jawa Barat, serta diakui sebagai Kerkgenootscap (Badan Gereja) dengan

30

http://www.in-christ.net/blog/yayasan_dan_gereja/gereja_pantekosta_di_indonesia_gpdibagian_1

31

http://www.in-christ.net/blog/yayasan_dan_gereja/gereja_pantekosta_di_indonesia_gpdibagian_1

Beslit No. 33, Staatblad No. 368. Perkembangan selanjutnya, gerakan ini dengan cepat menyebar dari Surabaya ke seluruh Jawa Timur, Sumatera Utara, Minahasa, Maluku dan Irian.32 Kronologi Perpecahan Pada tahun 1937 jemaat tersebut berganti nama menjadi De Pinksterkerk in Nederlands Oost Indie (Gereja Pentakosta di HTB), dan sejak tahun 1942 mulai disebut Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI). Para pemimpin kemudian membentuk Pinksterconvent (Sidang Pentakosta) semacam badan pengurus yang bersifat longgar, sesuai dengan gagasan Pentakosta mengenai organisasi gereja yang berjiwa kongregasionalistis. Seiring dengan kemajuan organisasi tersebut, ketidakcocokan di antara pengurus mulai nampak, dengan pokok persoalannya antara lain:33

Ajaran Jesus Only yang menganggap Nama Yesus meliputi tiga pribadi Trinitas, sehingga pembaptisan cukup kalau dilakukan dalam nama Yesus saja. Ajaran ini dibawa masuk dari Amerika Serikat oleh van Gessel. Ada tidaknya hak seorang perempuan untuk memegang kedudukan kepemimpinan dalam gereja. Hubungan antara jemaat setempat dengan organisasi pusat, misalnya dalam hal milik gereja. Prestise suku atau individual.

Keempat faktor tersebutlah yang menyebabkan terjadinya rentetan perpecahan sehingga menyebabkan jumlah gereja Pentakosta dari 1 nama gereja menjadi 25 nama gereja. Ini dapat dilihat dari beberapa pendeta yang keluar memisahkan diri dari organisasi gereja Pentakosta dan mendirikan gereja baru, seperti: J. Thiessen keluar tahun 1923 dan mendirikan Pinksterbeweging atau Gereja Gerakan Pentakosta (GGP). Zuster M.A. van Alt (Evangelis Wanita) keluar tahun 1931 dan mendirikan De Pinkster Zending atau Gereja Utusan Pentakosta (GUP). F. van Akoude pada tahun 1931 keluar dan mendirikan Gemeente van God, atau Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA). Pdt. D. Sinaga pada tahun 1941 keluar dan mendirikan Gereja Pentakosta Sumatera Utara (GPSU) atau GPdI-Sinaga. Pdt. Tan Hok Tjwan pada tahun 1946 keluar dan mendirikan Sing Ling Kau Hwee atau Gereja Isa Almasih (GIA). Pdt. Renatua Siburian pada tahun 1948 keluar dan mendirikan Gereja Pentakosta Sumatera Utara atau GPdI Siburian.

32

http://www.in-christ.net/blog/yayasan_dan_gereja/gereja_pantekosta_di_indonesia_gpdibagian_1

33

http://www.in-christ.net/blog/yayasan_dan_gereja/gereja_pantekosta_di_indonesia_gpdibagian_1

Pada tahun 1951 beberapa pendeta keluar dan mendirikan Gereja Sidang Jemaat Pentakosta. Pdt. T.G. van Gessel dan Pdt. Ho Liong Seng (Dr. H. L. Senduk), pada tahun 1952 keluar dan mendirikanGereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS). Pada tahun 1957 GBIS pecah dan Pdt. G. Sutupo dan Ing. Yuwono mendirikan Gereja Bethel Tabernakel (GBT). Pdt. Ishak Lew keluar pada tahun 1959 dan mendirikan Gereja Pentakosta Pusat Surabaya (GPPS). Pada tahun 1960 GBIS pecah lagi dan Pdt. A. Parera mendirikan Gereja Nazareth Pentakosta (GNP). Pdt. Karel Sianturi dan Pdt. Sianipar pada tahun 1966 keluar dan mendirikan GPSU atau dikenal dengan namaGPdI-Sianturi. Pdt. Korompis keluar pada tahun 1966 dan mendirikan Gereja Pentakosta Indonesia (GPI). Pada tahun 1967 para pemimpin gereja-gereja Pentakosta di Surabaya dan Timor keluar dan mendirikan Gereja Pentakosta Elim (GPE). Pada tahun 1969 GBIS pecah lagi dan Pdt. H.L. Senduk mendirikan Gereja Bethel Indonesia (GBI) dan Pdt. Jacob Nahuway mendirikan GBI Mawar Saron. Pada tahun 1970 Gereja Bethel Tarbernakel (GBT) pecah dan Ing. Yuwono mendirikan Gereja Pentakosta Tarbernakel (GPT). Sebelumnya pada tahun 1936 Misionaris R.M. Devin dan R. Busby keluar dan membentuk Gereja Sidang-sidang Jemaat Allah (Assemblies of God). Meskipun perpecahan demi perpecahan terjadi, namun mereka tetap berafiliasi pada satu nama yaitu Pentakosta, sehingga timbul inisiatif untuk menyatukan kembali sikap dan pandangan gereja-gereja beraliran Pentakosta. Hal ini diwujudkan dengan berdirinya Dewan Kerjasama Gereja-gereja Kristen Pentakosta Seluruh Indonesia (DKGKPSI) dan Persekutuan Pentakosta Indonesia (PPI). Pada tanggal 10 September 1979, kedua organisasi tersebut bergabung menjadi satu dengan nama Dewan Pentakosta Indonesia (DPI). Pada Musyawarah Besar (Mubes) I DPI tahun 1984, terpilih sebagai Ketua Umum adalah Pdt. W.H. Bolang. Dan pada Mubes II DPI berhasil memilihPdt. A.H. Mandey sebagai Ketua Umumnya. Dan Pada Mubes DPI III di Caringin, Bogor, terpilih sebagai Ketua Umumnya adalah Pdt. M.D. Wakkary. Sebagian besar dari + 70 Sinode Gereja anggota PGPI (Persekutuan Gereja-gereja Pantekosta Indonesia) saat ini, berasal dari pohon besar GPdI. Dapat ditambahkan bahwa penyebab perpecahan lebih pada masalah perbedaan visi organisasi daripada masalah doktrin. Meskipun sudah mengalami perpecahan beberapa kali, namun GPdI tetap merupakan gereja Pentakosta yang terbesar di Indonesia. Di antara Gereja-gereja Pentakosta yang terbesar lainnya terdapat GBI dan GSJA. Ada beberapa gereja Pentakosta yang sudah masuk menjadi anggota PGI, seperti GIA, GBIS, GPPS, dan GGP, Gereja Utusan Pentakosta di Indonesia (GUPDI). Jumlah anggota seluruh gereja Pentakosta di Indonesia saat ini lebih kurang 4 juta. Hal ini berarti, bahwa Gerakan Pentakosta meliputi 10% seluruh umat Kristen di Indonesia. Karakteristik GPdI Organisasi GPdI memiliki sifat yang sangat unik dan sulit dipahami melalui kacamata awam. Namun cara ini telah melekat dan dinilai berhasil maka secara alami terwariskan turuntemurun. Hal ini pula yang sekarang banyak membingungkan dan disalahpahami oleh generasi baru bahkan tidak sedikit terjadi perbedaan pendapat yang tajam. Adapun sifat-sifat unikyang telah melekat tersebut yaitu:

a. Faktor Paternalistis (sangat mengutamakan/menghargai orang tua/senioritas dalam kepemimpinan). b. Pendekatannya lebih bersifat kekeluargaan/persuasif. c. Kombinasi organisasi dan organisme. d. Faktor profesionalisme tidak menjadi utama.

Kondisi-kondisi seperti ini, mengharuskan seorang pemimpin GPdI di dalam segala strata, tidak cukup hanya mengandalkan skill saja, tapi juga memerlukan seni (seni memimpin).

NAMA GPdI

Jauh sebelum NKRI terbentuk maka para founding fathers telah memilih nama yang cocok bagi organisasi ini ialah Gereja Pantekosta di Indonesia, hal ini menunjukkan betapa mereka memiliki semangat kebangsaan/nasionalisme yang kental dan wawasan nusantara yang tinggi. Berarti GPdI memiliki kontribusi penting untuk pembentukan NKRI jauh sebelum Negara ini terbentuk, sehingga kita bukan indekost dan orang asing di negeri sendiri tetapi juga pemilik negeri ini. Karena nama PANTEKOSTA sudah melekat dalam Badan Hukum sejak sebelum kemerdekaan, maka kita tetap memakai Pantekosta dan bukan PENTAKOSTA yang baru belakangan ini populer karena adanya Alkitab terjemahan baru. VISI & MISI GPdI Pada alinea ke-4 Mukadimah AD/ART GPdI, tersirat Visi & Misi GPdI sbb: GPdI terpanggil mengamalkan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus untuk memberitakan Injil Sepenuh yang termaktub dalam Markus 16:15-18 dan Matius 28:19, 20) Jadi Visi GPdI secara umum ialah : Meluaskan Kerajaan Allah. Misinya: Pergi, Beritakan Injil, Jadikan segala bangsa murid Tuhan, Ajarkan Untuk mewujudkan visi dan Misi tersebut, maka Anggaran Rumah Tangga GPdI Bab I, pasal 1 telah menetapkan upaya-upaya kegiatan pelayanan sebagai berikut: -Melaksanakan Pekabaran Injil atau Penginjilan -Membuka Sidang Jemaat/mendirikan bangunan Rumah Ibadah -Mengerahkan seluruh warga jemaat untuk terlibat aktif dalam pelayanan gerejawi.

-Menyelenggarakan Pendidikan rohani dan pendidikan umum. -Menyelenggarakan kegiatan diakonia, sosial dan pengentasan kemiskinan. -Menyelenggarakan usaha penerbitan literature dan bacaan umum -Melakukan penyiaran kegiatan gereja melalui media massa cetak, elektronik, rekaman, musik, dll -Melakukan hubungan antar gereja, baik di dalam maupun di luar negeri. -Melakukan upaya mendapatkan dana dari berbagai sumber yang tidak menyalahi Firman Tuhan. Lembaga-lembaga Pendidikan Alkitab (SA,ST) juga memegang peranan yang sangat penting bagi pencapaian Visi dan Misi GPdI. (ART Bab II pasal 5). GPdI memiliki + 30 lembaga pendidikan Alkitab dan beberapa yang masih sedang dalam proses di MP GPdI. URUTAN PERATURAN (PERUNDANG-UNDANGAN) GPdI 1. Firman Allah -Landasan Idiil 2. AD/ART -Landasan Struktural 3. GBPK -Landasan Operasional 4. Tap-tap MUBES (Ketetapan Mubes) 5. Surat Penetapan/Keputusan Majelis Pusat 6. Surat Keputusan Majelis Daerah, dst

MEKANISME KEPEMIMPINAN 1. Lembaga tertinggi di GPdI adalah MUBES (4 tahun sekali) 2. Mubes melahirkan personalia MAJELIS PUSAT (MP) periode baru. 3. Majelis Pusat mengangkat KOMISI PUSAT (KP) dari Wadah-wadah Pelayanan untuk tingkat nasional.

4. Pada gilirannya, Majelis Pusat memimpin MUSDA-MUSDA untuk melahirkan MAJELIS DAERAH. 5. Majelis Daerah akan mengangkat KOMISI-KOMISI DAERAH (KD) serta MAJELISMAJELIS WILAYAH (MW). 6. Majelis Wilayah mengangkat KOMISI-KOMISI WILAYAH (KW) diwilayahnya. 7. Majelis Daerah juga yang menetapkan GEMBALA-GEMBALA JEMAAT (GJ) sesuai mekanismenya, dan Gembala Jemaat menetapkan KOMISI-KOMISI JEMAAT (KJ) sebagai lengannya. 8. Dan GEMBALA-GEMBALA yang memilih Majelis Pusat (dgn system perwakilan) pada waktu MUBES.

STATISTIK GPdI Menurut Buku Data GPdI 2003 yang diterbitkan MUBES ke-30 yang diadakan di BICC, Nusa Dua, Bali, GPdImemiliki: *Jumlah Sidang Jemaat : GPdI (Mandiri, Muda, Cabang) : 10.799 *Jumlah Pendeta (PDT) = 3891, Pendeta Muda (PDM) = 4689, dan Pendeta Pembantu PDP=3171 *Jumlah Gereja : Permanen =2388 buah, Semi Permanen = 3280, dan Darurat = 3825 buah. *Jumlah Sekolah Alkitab (SA) =23 buah, dan Sekolah Tinggi Alkitab (STA/STT) = 11 buah.

Kilas Balik 85 Tahun Gereja Pantekosta di Indonesia

Dalam rangka menyambut 85 tahun pelayanan GPdI yang puncak acara peringatan HUT-nya berlangsung tanggal 15 September 2006 di Lapangan KONI Sario Manado, berikut Kilas Balik 85 tahun Perjalanan Pelayanan GPdI di Bumi Indonesia.

Semua prestasi ini, adalah hasil kerja keras dan pengabdian yang tidak mengenal lelah dan para pendahulu kita, para Pionir yang telah menabur ladang GPdI dengan linangan air mara dan darah, serta jiwa dan raga mereka yang sangat mengasihi Tuhan, sehingga sekarang Indonesia telah dihiasi dengan cahaya kemuliaan Allah yang sudah menghasilkan 11.000 pelayanan GPdI dengan jumlah jiwa mencapai 3-4 Juta orang Pantekosta yang bertaburan di berbagai pelosok Indonesia, dari desa-desa, kota-kota, dusun-dusun, lembah-lembah, pegunungan pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke dari pulau Miangas sampai pulau Rote. Pra Kemerdekaan Jauh sebelum NKRI berdiri, GPdI sudah hadir di Bumi Indonesia. Tepatnya tahun 1921 benih Pantekosta pertama kali menyentuh negeri ini lewat kedatangan dua keluarga misionaris warga negara Amerika (Seattle) keturunan Belanda yaitu keluarga Pdt. Cornelis Groesbeek dan Kel. Pdt. Dirk Richard Van Klaveren. GPdI lahir ditengah-tengah semangat Kebangkitan Nasional yang sedang mengemuka disaat itu antara era Budi Utomo 1908 sampai Sumpah Pemuda 1928. Barangkali dengan nuansa itu, para founding fathers GPdI turut memberi kontribusi dalam membentuk visi keIndonesiaan dengan memberi nama organisasi gerejawi yang didirikan itu: Gereja Pantekosta di Indonesia walaupun masih bahasa Belanda De Pinkster Gemeente in Nedherlandsch Indie. (kata Indie diartikan kaum Hindia yang kemudian dikenal sebagai Indonesia). Gereja ini bersifat terbuka dan menghimpun seluruh suku di Hindia Belanda saat itu. Dari sini diambil kesimpulan bahwa para Pionir kita sudah memiliki jiwa nasionalisme dengan wawasan kebangsaan yang luas, serta peduli atas nasib bangsanya, lahiriah maupun batiniah.

Sikap ini secara tidak langsung telah memberi andil bagi terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)yang mencakup seluruh suku bangsa dan bahasa di Indonesia dan Sabang sampai Merauke. Perlu diingat bahwa berbagai perjuangan saat itu kebanyakan masih bersifat parsial atau primordial seperti adanya Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera, Jong Ambon, dll. Jadi peranan GPdI bagi kesatuan bangsa dan Negara ini cukup jelas. Tak dapat disangkal bahwa jauh sebelum era kebangkitan nasional, sudah ada gereja-gereja dan aliran utama lainnya yang telah eksis dinegeri ini, walau dalam pemberian nama masih cenderung bernuansa kedaerahan seperti Gereja Masehi Injil Minahasa (GMIM), Gereja Protestan Maluku (GPM), Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Gereja Masehi Injil Timor (GMIT), dll.

Namun lebih dari semuanya, suatu fakta yang tak terbantahkan bahwa GPdI bersama gerejagereja aliran utama itu, bukanlah orang asing di negeri ini. Alasan pertama: kami sudah ada di sini jauh sebelum negara ini berdiri, kedua: sekecil apapun perannya, kami memiliki andil dalam sejarah perjuangan bangsa ini. Artinya berhak memiliki ruang hidup dan bertumbuh di negeri ini bersama semua elemen bangsa lainnya.

Sebab sejarah mencatat bahwa semua agama besar yang diakui luas di Indonesia (Hindu, Budha, Islam, Kristen dan Katolik) telah bertumbuh dan berkembang di sini melalui benih yang datang dari luar, artinya tidak satupun agama tersebut di atas yang asli Indonesia, semuanya diimpor, seperti Hindu yang aslinya dari India, Budha dari Tiongkok, Islam dari tanah Arab dan Kristen dari Palestina.

Karena itu, seyogyanya tidak ada satu pihak pun yang berhak mcngklaim lebih Indonesia daripada yang lain , lebih pribumi dari yang lain. Karena semua kita adalah pendatang, atau kalau disebut pribumi, maka semua kita adalah pribumi yang berhak hidup dan bertumbuh di negeri ini dengan rukun dan damai.

Lahirnya Gerakan Pantekosta

Gerakan Pantekosta adalah lanjutan dari gerakan kesucian (Holiness Movement) yang mulai muncul dari kelompokMetodis pada dasawarsa 1830-an atau pertengahan abad ke 19 karena pertumbuhan rohani yang dirasakannya mulai stagnan di gereja tersebut.

Seperti diketahui, bahwa semangat kerohanian Methodis pun diilhami oleh kelompok Pietisme yang muncul pada abad-abad sebelumnya di gereja-gereja arus utama lainnya seperti Lutheran dan Calvinis. Hal ini dikarenakan gereja yang mulanya diandalkan mengusung nilai-nilai pembaharuan dan pencerahan rohani, mulai terjebak dalam rutinitas, sehingga melembaga dengan kuat, hingga pertumbuhan serta kehidupan rohani mulai melemah.

Pada paruh kedua abad ke 19 muncul banyak kelompok pembaharuan yang mendambakan kebangunan dan kegerakan rohani. Berbagai denominasi baru dari latar belakang kesucian mulai berkembang di Eropa maupun Amerika. Ada yang tetap loyal kepada gereja Methodis tapi ada yang mulai independen dan membentuk organisasi baru a.l Church of God yang didirikan oleh Daniel S. Warner tahun 1880 berpusat di kota Anderson, disusul dengan beberapa gereja yang juga memakai nama Church of God lainnya menjelang abad ke 20. Selain itu ada Fire Baptised Holiness Church atau Gereja Kesucian Baptisan Api berdiri tahun 1895 dengan pimpinannya B.H Irwin dan beberapa gerakan kerohanian lainnya Kelompok-kelompok ini merupakan mata rantai penting yang menyambungkan gerakan kesucian dengan gerakan Pantekosta di abad ke 20.

Charles Fox Parham adalah salah seorang pendeta di Episcopal Methodis Church yang meninggalkan gereja itu karena dirasakan sudah kurang mementingkan kesucian hidup, dan kurang menekankan peranan dan karunia-karunia Roh Kudus serta penyembuhan Ilahi. Tahun 1898 Parham membuka Wisma Penyembuhan Ilahi yang Bernama Bethel Healing Home di Topeka, Kansas.

Menjelang akhir tahun 1900 dia membuka Sekolah Alkitab Bethel (Bethel Bible School) di Luar kota Topeka. Pada liburan Natal 1900 Pdt Parham mengadakan tour penginjilan ke luar kota dan menugaskan para siswa untuk mengkaji kebenaran tentang Baptisan Roh Kudus seperti ditulis dalam Kisah Para Rasul I dan 2. Penyelidikan ini membuka banyak rahasia tentang perlunya kepenuhan Roh Kudus dan glossolalia bagi setiap orang percaya.

Akibatnya pada malam perpisahan tahun menjelang I Januari 1901 atau memasuki abad 20, ketika mereka sedang berdoa, seorang murid yang bernama Agnes Ozman dipenuhi Roh kudus sambil Berbahasa lidah tatkala Pdt. Charles Parham meletakkan tangan ke atasnya. Peristiwa pencurahan Roh Kudus di awal abad ke-20 ini menandai lahirnya Gerakan Pantekosta. Gerakan ini menjadi semakin dahsyat pada tahun 1906 tatkala seorang murid Pdt. Parham yaitu William Seymour dipakai secara luar biasa yang melahirkan kegerakan rohani disertai pencurahan Roh Kudus besar-besaran di Azusa Street, Los Angeles. Sejak saat itu sungai Roh Kudus telah mengalir dengan deras ke seluruh penjuru dunia sampai akhirnya gerakan Pantekosta tiba di Indonesia pada bulan Maret 1921. Misionaris Pantekosta yang datang ke Indonesia itu adalah Richard Van Klaveren dan istri, serta Cornelius E. Groesbeek dan istri bersama dua anaknya yaitu Yenny danCorry. Mereka diutus oleh Pdt. W.H. Offiler pemimpin gereja Bethel Temple di Seattle, Negara bagian Washington Amerika Serikat. Menurut catatan, Ibu Groesbeek meninggal dan dimakamkan di Surabaya pada bulan Oktober 1934, dan Rev. Van Klaveren dimakamkan di kota Jakarta.

Embrio GPdI William Henry Offiler adalah seorang warga Negara Amerika keturunan Inggris yang lahir di Notingham tahun 1875, dan merupakan tokoh dibalik pergerakan Pantekosta di Indonesia. Pada tahun 1914, ketika sedang bekerja sebagai seorang mandor di Glacier National Park, Tuhan memanggil dia dan istrinya melalui sebuah penglihatan untuk pergi ke kota Seattle dan menyerahkan hidup secara fulltime melayani Tuhan. Di kota ini kemudian dia mendirikan dan memimpin gereja Bethel Temple.

Pada tahun 1919, dalam sebuah KKR besar di bawah tenda-tenda raksasa yang dapat menampung ribuan orang di tepi Green Lake, Tuhan bekerja dengan luar biasa dan banyak jiwa dimenangkan, ratusan orang dibaptis selam dan menerima kepenuhan Roh Kudus serta banyak pula visi panggilan Tuhan. Seattle kemudian menjadi pusat penginjilan Pantekosta ke arah barat laut. Dari sini banyak misionaris yang diutus ke berbagai dunia yang lain.

Dua keluarga saat itu yang menerima panggilan Tuhan ke Indonesia adalah Rev. Cornelis E. Groesbeek dan istri bersama dua orang anak mereka (Yanny dan Corry), serta Rev. Richard Van Claveren & istri. Melalui nubuatan dan penglihatan yang ajaib, Tuhan menyatakan panggilan kepada mereka untuk pergi ke sebuah negeri jauh yaitu Netherlandsch Oost Indie (Indonesia). Panggilan mereka masih diuji oleh Pdt. W.H. Offiler beberapa waktu lamanya, dan setelah diteguhkan melalui beberapa proses yang ajaib, maka pada tanggal 4 Januari 1921, berangkatlah kedua keluarga misionaris tersebut dari kota Seattle, Washington dengan menumpang kapal laut

KM Suwamaru melintasi Samudera Pasifik, singgah ke pelabuhan Yokohama, Osaka, dan Hongkong dan tiba di Batavia pada bulan Maret 1921.

Proses Badan Hukum Dari Batavia, kedua hamba Tuhan yang datang dari Bethel Temple, Seattle, USA itu, melanjutkan perjalanan dengan kereta api ke pulau Bali. Namun karena penolakan yang kuat dari imam-imam Hindu dan tua-tua adat setempat, maka pada akhir tahun 1922 mereka ke Surabaya, dan terus ke Cepu, Jawa Tengah. Di kota Cepu inilah terbentuk jemaat Pantekosta yang pertama di Indonesia.

Karena kemajuan yang pesat, maka pada tanggal 4 Juni 1924 Pemerintah Hindia Belanda mengakui eksistensi jemaat ini sebagai sebuah Vereeninging (perkumpulan) dengan nama DePinkster Gemeente in Nederlandsch Indie. Dan oleh kuasa Roh Kudus serta semangat pelayanan yang tinggi, maka jemaat-jemaat baru pun mulai bertumbuh dimana-mana. Tanggal 4 Juni 1937, pemerintah meningkatkan pengakuannya kepada pergerakan Pantekosta ini dari status Vereeninging menjadi Kerkgenootschap (Persekutuan Gereja) berdasarkan Staatsblad 1927 No. 156 dan 532, dengan Beslit Pemerintah No. 33 tanggal 4 Juni 1937 Staatsblad No. 768, dan nama Pinkster Gemeente berubah menjadi Pinksterkerk in Nederlandsch Indie. Kemudian pada zaman pendudukan Jepang tahun 1942, nama Belanda itu diubah menjadi GEREJA PANTEKOSTA di INDONESIA (GPdI). Ketika itu Ketua Badan Pengoeroes Oemoem (Majelis Pusat sekarang) yaitu Pdt. H. N. Runkat.

Tahun 1973, terbit surat pengakuan dari Departemen Agama RI No. E/VII/156/929/73 yang menegaskan bahwa GPdI adalah kelanjutan dari Badan Hukum Kehormatan Kerkgenootschap DePinkster Gemeente in Nederlandsch Indie sesuai Staatsblad tahun 1937 No. 368. Pada tahun 1988, terbit lagi SK Depag RI cq. Dirjen Bimas Kristen No. 30 tahun 1988 yang menyatakan bahwa GPdI adalah Lembaga Keagamaan yang bersifat GEREJA.

Perkembangan Awal Peranan para Pionir yang menjadi jemaat pertama di Cepu, dan lapisan berikutnya yang telah menabur benih Pantekosta dengan kabar Injil sepenuh, patutlah dikenang, sebab oleh perjuangan mereka pohon GPdI telah bertumbuh dengan lebat ke seluruh pelosok Indonesia bahkan sampai ke mancanegara. Mereka antara lain: Pdt. H.N. Runkat yang merambah ladang di Pulau Jawa

(jateng, Jabar, Jakarta, dll), tahun 1926 Pdt. Nanlohy menjangkau Kepulauan Maluku (Amahasa) yang kemudian disusul oleh Pdt. Yoop Siloey dll.

Tahun 1928 Pdt. S.I.P Lumoindong menabur ladang penginjilan Yogyakarta, tahun 1929 Pdt. Julianus Repi dan Pdt.A. Tambuwun menggempur Sulawesi Utara disusul beberapa waktu kemudian oleh Pdt. A. Yokom, Pdt. J. Lumenta, Pdt. Runtuwailan. Dan bergabung pula Pdt. E. Lesnussa yang datang dari Ambon.

Tahun 1930 Pdt. De Boer disusul Pdt. E. Pattiradjawane dan Pdt. A.F. Wassel ke Kalimantan Timur. Tahun 1932 Pdt. R. M. Soeprapto mulai membantu pelayanan di Blitar kemudian Singosari dan tahun 1937 ke Sitiardjo, Malang Selatan. Tahun 1933 Pdt. A.E. Siwi menabur ke pulau Sumatera (Sumsel, Lampung, Sumbar dan kemudian ke Sumatera Utara), Tahun 1935 Pdt. Siloey dkk merintis pelayanan di Kupang NTT. Tahun 1939, dari SULUT/TERNATE Pdt. E. Lesnussa ke Makasar dsk. Tahun 1940 Pdt. J.M.P. Batubara menebas ladang Kalimantan Barat (Pontianak). Pdt. Yonathan Itar pelopor Injil Pantekosta di Irian Jaya, dan lain-lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Oleh pengorbanan mereka, GPdI bertumbuh dengan pesat.

Struktur Organisasi GPdI Forum tertinggi dalam GPdI ialah MUBES yang diadakan 5 tahun sekali. Mubes dihadiri oleh utusan-utusan daerah dan perwakilan-perwakilan Luar Negeri yang ditetapkan oleh Majelis Daerah masing-masing dengan kuota 20/1 atau setiap 20 gembala diwakili 1 utusan. Selain penetapan Garis Besar Program Kerja (GBPK) sebagai landasan operasional pelayanan GPdI 5 tahun ke depan, maka Mubes juga berfungsi memilih pimpinan GPdI tingkat Nasional yang disebut Majelis Pusat (MP).

MP GPdI beranggotakan 24 orang yaitu seorang Ketua Umum, 2 orang ketua, 1 Sekretaris Umum, 2 sekretaris, 1 Bendahara Umum, 2 Bendahara, serta 12 orang anggota yang menduduki 5 Departemen yaitu: Departemen Penggembalaan & Pelayanan Warga Jemaat, Departemen Penginjilan, Pertumbuhan Gereja & Pelayanan Lintas Budaya, Departemen Pengajaran & Pendidikan, Departemen Diakonia, Kesejahteraan & Pelayanan Masyarakat serta Departemen Penerbitan Literatur, Musik & Kidung Gereja. Kemudian MP mengangkat wadah-wadah pelayanan tingkat Nasional yang disebut Komisi Pusat (KP). Komisi Pusat berjumlah 8 orang yaitu:

KP Pelayanan Anak Pantekosta (PELNAP) KP Pelayanan Remaja Pantekosta (PELRAP) KP Pelayanan Pemuda Pantekosta (PELPAP) KP Pelayanan Wanita Pantekosta (PELWAP) KP Pelayanan Pria Pantekosta (PELPRIP) KP Pelayanan Profesi&Usahawan Pantekosta (PELPRUP) KP Pelayanan Mahasiswa Pantekosta (PELMAP) KP Pelayanan Anak Hamba Tuhan Pantekosta (PELHAT)

Ditambah dengan dua lembaga lainnya yaitu Komisi Penginjilan Pusat (KPP) dan Badan Kurator Sekolah-sekolah Alkitab GPdI. Setelah Mubes diadakan, maka pada tahun yang sama setiap daerah menyelenggarakan Musyawarah Daerah (MUSDA) tujuannya antara lain memilih pimpinan tingkat daerah yang disebut Majelis Daerah (MD). Sekarang GPdI memiliki MD dihampir seluruh provinsi di tanah air, kecuali 5 provinsi yang belum memenuhi syarat berdirinya MD GPdI sendiri.

Pengertian Karunia Bahasa Lidah34

Bahasa lidah pertama kali terjadi pada Hari Pentakosta dalam Kisah Rasul 2:1-4. Para rasul keluar dan membagikan Injil dengan orang banyak dan berbicara kepada mereka dalam bahasa mereka masing-masing, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah! (Kisah Rasul 2:11). Kata Bahasa Yunani yang dalam Bahasa Inggris diterjemahkan sebagai lidah secara harafiah berarti bahasa sebagaimana diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Karena itu, karunia berbahasa lidah adalah karunia untuk berbicara dalam bahasa yang si pembicara tidak kuasai supaya orang yang mengerti bahasa tsb dapat
34

http://www.gotquestions.org/indonesia/karunia-berbahasa-lidah.html

dilayani. Dalam 1 Korinuts 12-14 di mana Paulus mendiskusikan karunia-karunia yang ajaib, dia berkomentar bahwa Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran? Menurut Rasul Paulus, dan sesuai dengan bahasa lidah dalam kitab Kisah Rasul, bahasa lidah berguna bagi orang yang mendengar berita dari Tuhan dalam bahasa mereka sendiri, namun tidak ada artinya bagi orang lain, kecuali kalau dijelaskan/diterjemahkan. Orang yang memiliki karunia untuk menafsirkan bahasa lidah (1 Korintus 12:30) dapat mengerti apa yang dikatakan orang dalam bahasa lidah sekalipun dia tidak mengerti bahasa itu sendiri. Penafsir bahasa lidah kemudian akan menjelaskan berita yang disampaikan dalam bahasa lidah itu kepada orang-orang lain sehingga semua orang bisa mengerti. Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya (1 Korintus 14:13). Konklusi Paulus mengenai bahasa lidah yang tidak ditafsirkan sangat kuat. Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh (1 Korintus 14:19). Apakah karunia berbahasa lidah berlaku untuk zaman sekarang? 1 Korintus 13:8 mengatakan bahwa karunia bahasa lidah sudah berakhir, walaupun berakhirnya itu dihubungkan dengan datangnya yang sempurna dalam 1 Korintus 13:10. Sebagian orang melihat berkurangnya nubuat dan berhentinya bahasa lidah sebagai bukti bahwa bahasa lidah akan berakhir sebelum yang sempurna itu datang. Walaupun ini mungkin, namun hal ini tidak jelas dalam ayat ini. Sebagian orang menunjuk pada ayatayat seperti Yesaya 28:11 dan Yoel 2:28-29 sebagai bukti bahwa bahasa lidah adalah tanda dari datangnya penghakiman Tuhan. 1 Korintus 14:22 menjelaskan bahwa bahasa lidah adalah tanda bagi yang tidak percaya. Menurut jalan pikiran ini, karunia bahasa lidah adalah peringatan bagi orang-orang Yahudi bahwa Allah akan menghakimi Israel karena penolakan mereka terhadap Mesias. Karena itu waktu Tuhan betul-betul menghakimi Israel (dengan hancurnya Yerusalem pada tahun 70 AD di tangan Roma), karunia bahasa lidah tidak lagi diperlukan. Walapun pandangan ini mungkin, terpenuhinya maksud utama dari bahasa lidah tidak berarti bahasa lidah harus berakhir. Alkitab tidak pernah secara konklusif menyatakan bahwa karunia berbahasa lidah telah berakhir. Pada saat yang sama, kalau karunia bahasa lidah masih aktif dalam gereja zaman ini, karunia itu harus dilakukan sesuai dengan Kitab Suci. Bahasa lidah harusnya

merupakan bahasa yang sebenarnya dan bisa dimengerti (1 Korintus 14:10). Bahasa lidah dimaksudkan untuk mengkomunikasikan Firman Tuhan dengan orang dari bahasa yang berbeda (Kisah Rasul 2:6-12). Bahasa lidah harus sesuai dengan perintah yang Tuhan berikan melalui Rasul Paulus, Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah (1 Korintus 14:27-28). Bahasa lidah juga harus tunduk kepada 1 Korintus 14:33, Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera (1 Korintus 14:33). Sudah tentu Allah dapat memberi orang karunia berbahasa lidah untuk memampukan orang tsb berkomunikasi dengan orang yang berbahasa lain. Roh Kudus memiliki kedaulatan dalam membagikan karunia-karunia Roh (1 Korintus 12:11). Bayangkan saja bagaimana produktifnya para missionari kalau mereka tidak perlu ke sekolah bahasa dan dapat secara langsung berbicara kepada orang-orang dalam bahasabahasa mereka sendiri. Namun nampaknya Tuhan tidak bekerja seperti ini. Bahasa lidah tidak terjadi pada hari ini dengan cara yang sama dalam Perjanjian Baru sekalipun kalau terjadi itu akan sangat berguna. Kebanyakan orang-orang percaya yang mengaku berbahasa lidah tidak melakukannya sesuai dengan pengajaran Kitab Suci sebagaimana disebutkan di atas. Hal ini menghasilkan kesimpulan bahwa bahasa lidah sudah berakhir atau paling tidak jarang terjadi dalam gereja zaman sekarang. Mereka yang percaya pada bahasa lidah sebagai bahasa doa untuk membangun diri sendiri mendapatkan pandangan itu dari 1 Korintus 14:4 dan/atau 14:28, Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat (1 Korintus 14:4). Dalam pasal 14, Paulus menekankan pentingnya bahasa lidah ditafsirkan (diterjemahkan), lihat 14:5-12. Apa yang Paulus katakan dalam ayat 4 adalah Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat (1 Korintus 14:4). Dalam Perjanjian Baru tidak diberikan instruksi untuk berdoa dalam bahasa lidah. Perjanjian Baru sama sekali tidak memberikan instruksi yang spesifik mengenai berdoa dalam bahasa lidah, atau secara khusus menggambarkan seseorang berdoa dengan bahasa lidah. Selanjutnya jika berdoa dalam bahasa lidah adalah untuk membangun diri sendiri, bukankah itu tidak adil untuk mereka yang tidak punya karunia itu dan karenanya tidak dapat membangun diri mereka? 1 Korintus 12:29-30 jelas mengindikasikan bahwa tidak semua orang memiliki karunia berbahasa lidah.

Apa itu berdoa dalam bahasa lidah? Apakah berdoa dalam bahasa lidah merupakan bahasa antara orang percaya dan Allah?

Pertanyaan: Apa itu berdoa dalam bahasa lidah? Apakah berdoa dalam bahasa lidah merupakan bahasa antara orang percaya dan Allah? Jawaban: Sebagai latarbelakang, silahkan baca artikel yang berjudul karunia bahasa lidah. Ada empat bagian Alkitab yang utama yang dikatakan sebagai bukti berdoa dalam bahasa lidah: Roma 8:26, 1 Korintus 14:4-17; Efesus 6:18 dan Yudas ayat 20. Efesus 6:18 dan Yudas ayat 20 menyebutkan berdoa dalam Roh. Namun demikian, berbahasa lidah sebagai bahasa doa bukanlah merupakan penafsiran yang mungkin untuk berdoa dalam Roh. Roma 8:26 mengajar kita, Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dua poin utama membuat sangat tidak mungkin Roma 8:26 merujuk pada bahasa lidah sebagai bahasa doa. (1) Roma 8:26 menyatakan bahwa adalah Roh yang mengeluh bukan orang-orang percaya. (2) Roma 8:26 mengatakan bahwa keluhan dari Roh tidak terucapkan. Hakekat dasar dari berbahasa lidah adalah mengeluarkan kata-kata. Dengan demikian kita tinggal memiliki 1 Korintus 14:4-17, dan khususnya ayat 14, Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. 1 Korintus 14:14 secara khusus menyebut berdoa dalam bahasa lidah/roh. Apa artinya? Pertama-tama, mempelajari konteksnya mempunyai nilai yang tak terhingga. 1 Korintus 14 pada dasarnya adalah perbandingan/kontras antara karunia berbahasa lidah dan karunia bernubuat. Ayat 2-5 jelas memperlihatkan pandangan Paulus bahwa nubuat itu lebih tinggi derajatnya dibandingkan bahasa lidah. Pada saat yang sama Paulus menyerukan nilai dari bahasa lidah dan menyatakan bahwa dia bangga bahwa dia berkata-kata dengan bahasa lidah lebih dari semua (ayat 18). Kisah pasal 2 menggambarkan kali pertama munculnya bahasa lidah. Pada hari Pentakosta, para rasul berbahasa lidah. Kisah pasal 2 dengan jelas menyatakan bahwa para rasul berbicara dalam bahasa manusia (Kisah 2:6-8). Kata yang diterjemahkan lidah dalam Kisah pasal 2 dan 1 Korintus pasal 14 adalah glossa yang berarti bahasa. Ini adalah kata yang kemudian melahirkan istilah glossary dalam Bahasa Inggris. Berbahasa lidah adalah kemampuan untuk berbicara dalam bahasa yang Anda tidak kuasai, dengan tujuan untuk mengkomunikasikan Injil kepada seseorang yang mengerti bahasa tsb. Dalam wilayah Korintus yang multi kultural nampaknya karunia bahasa lidah sangatlah bermanfaat dan menonjol. Orang-orang percaya di Korintus mampu untuk mengkomunikasikan Injil dan Firman Tuhan dengan lebih baik karena

karunia bahasa lidah. Namun demikian Paulus menyatakan dengan amat jelas bahwa bahkan penggunaan bahasa lidah dengan cara seperti inipun bahasa lidah tersebut harus diterjemahkan (1 Korintus 14:!3, 27). Seorang percaya dari Korintus akan berbahasa lidah, memberitakan kebenaran Allah kepada seseorang yang berbicara bahasa itu, dan kemudian orang percaya itu, atau orang percaya lainnya dari gereja tsb, menerjemahkan apa dikatakan sehingga seluruh jemaat dapat memahami apa yang dikatakan. Kalau demikian apa itu berdoa dalam bahasa lidah dan apa bedanya dengan berbicara dalam bahasa lidah? 1 Korintus 14:13-17 mengindikasikan bahwa berdoa dlam bahasa lidah juga harus diterjemahkan. Sebagai hasilnya nampaknya berdoa dalam bahasa lidah adalah berdoa kepada Allah. Doa ini akan menjadi berkat bagi orang yang mengerti bahasa tsb. namun juga perlu diterjemahkan agar semua jemaat juga dibangun. Penafsiran ini berbeda dengan penafsiran dari orang-orang yang memandang berdoa dalam bahasa lidah sebagai bahasa doa. Pemahaman ini dapat diringkaskan sbb: berdoa dalam bahasa lidah adalah bahasa doa pribadi antara seorang percaya dan Allah (1 Korintus 13:1), bahwa si orang percaya tsb. menggunakannya untuk membangun dirinya sendiri (1 Korintus 14:4). Penafsiran ini tidak Alkitabiah karena alasan-alasan berikut ini: (1) Bagaimana mungkin berdoa dalam bahasa lidah kalau doa itu harus diterjemahkan (1 Korintus 14:13-17)? (2) Bagaimana berdoa dalam bahasa lidah membangun diri sendiri padahal Alkitab mengatakan bahwa karunia roh adalah untuk membangun gereja dan bukan diri sendiri (1 Korintus 12:7)? (3) Bagaimana bahasa lidah dapat merupakan bahasa doa pribadi kalau bahasa lidah adalah tanda untuk mereka yang tidak percaya (1 Korintus 14:22)? (4) Nyata dengan jelas dalam Alkitab bahwa tidak semua orang memiliki karunia bahasa lidah (1 Korintus 12:11, 2830). Bagaimana bahasa lidah dapat menjadi karunia untuk membangun diri sendiri kalau tidak semua orang percaya memilikinya? Bukankah kita semua perlu dibangun? Ada pemahaman tambahan mengenai berdoa dalam bahasa lidah yang perlu dibicarakan. Sebagian orang memahami berdoa dalam bahasa lidah sebagai bahasa kode/rahasia yang mencegah Iblis dan pengikut-pengikutnya mengerti apa yang kita doakan dan mengambil keuntungan dari pengetahuan itu. Penafsiran ini tidaklah Alkitabiah karena alasan-alasan berikut ini: (1) Perjanjian Baru secara konsisten menggambarkan bahasa lidah sebagai bahasa manusia. (2) Alkitab mencatat orangorang percaya yang tak terhingga jumlahnya yang berdoa dalam bahasa mereka masing-masing dengan suara nyaring tanpa kuatir bahwa Iblis akan menyadap doa itu. Bahkan sekalipun Iblis dan pengikut-pengikutnya mendengar dan memahami doa yang kita naikkan mereka sama sekali tidak memiliki kuasa untuk mencegah Allah menjawab doa kita sesuai dengan kehendakNya. Kita tahu bahwa Allah mendengar doa-doa kita dan fakta tsb membuat apakah Iblis dan para pengikutnya mendengar doa-doa kita menjadi tidak lagi relevan. Setelah mengatakan semua itu bagaimana dengan orang-orang Kristen yang telah mengalami berdoa dalam bahasa lidah dan merasa bahwa itu sangat membangun

mereka? Pertama-tama, kita harus mendasari iman dan perbuatan kita pada Alkitab dan bukannya pengalaman. Kita perlu memandang pengalaman kita dalam ternag Kitab Suci dan bukannya menafsirkan Kitab Suci dalam terang pengalaman kita. Kedua, banyak ajaran sesat dan agama dunia yang juga melaporkan peristiwa bahasa lidah/berdoa dalam bahasa lidah. Jelah bahwa Roh Kudus tidak memberikan karuania kepada orang-orang yang tidak percaya ini, Karena itu kelihatan bahwa Iblis bisa memalsukan karunia bahasa lidah. Hal ini seharusnya membuat kita bahkan lebih berhati-hati membandingkan pengalaman-pengalaman kita dengan Kitab Suci. Ketiga, banyak studi telah memperlihatkan bahwa berbicara/berdoa dalam bahasa lidah dapat dipelajari. Melalui mendengar dan mengamati orang-orang berbicara/berdoa dalam bahasa lidah seseorang dapat belajar caranya, bahkan secara tanpa sadar. Hal ini adalah penjelasan yang paling mungkin untuk sebagian besar kasus bahasa lidah/berdoa dalam bahasa lidah yang terjadi di antara orang-orang Kristen. Keempat, perasaan membangun diri sendiri adalah sesuatu yang alamiah. Tubuh kita menghasilkan adrenalin dan endorfin ketika mengalami sesuatu yang baru, menggairahkan, merangsang emosi dan/atau terpisah dari pemikiran rasional. Berdoa dalam bahasa lidah jelas adalah hal yang orang-orang Kristen dapat dengan hormat berbeda pendapat. Berdoa dalam bahasa lidah tidak menentukan keselamatan. Berdoa dalam bahasa lidah bukanlah sesuatu yang memisahkan orang Kristen dewasa dari yang tidak dewasa. Apakah berdoa dalam bahasa lidah adalah bahasa doa bukanlah sesuatu yang mendasar untuk iman Kristen. Jadi sekalipun kami percaya bahwa penafsiran Alkitab soal berdoa dalam bahasa lidah tidak mengarahkan kita utnuk menerima bahwa itu adalah bahasa doa yang bersifat pribadi untuk membangun diri sendiri kami juga mengenali bahwa banyak orang yang mempraktekkan hal ini adalah saudara/i seiman dalam Kristus, dan layak mendapatkan kasih dan hormat kita.

Sabda Hidup (April-Juni 2004)

Bahasa Lidah (Tongue Speaking)


Sumber: http://www.tftwindo.org/livingwords/LW18.htm

Praktek bahasa lidah (bahasa roh) hanya terjadi di zaman Perjanjian Baru, tepatnya pada abad pertama. Kitab-kitab Perjanjian Baru memberikan catatan kapan, dimana dan siapa yang mendapatkan karunia bahasa lidah. Pertama kali di Yerusalem pada hari Pentakosta, rasul-rasul menerima karunia ini secara langsung ketika Roh Kudus turun ke atas mereka (Kisah Rasul 2:1-11); Kornelius dan seisi rumahnya di Kaisarea (Kisah Rasul 10) sebagai kegenapan dari nubuatan nabi Yoel(Yoel 2:28); murid-

murid Yohanes Pembaptis di Efesus melalui penumpangan tangan Rasul Paulus (Kisah Rasul 19); dan orang-orang Kristen di Korintus (1 Korintus 12 14). Apakah Bahasa Lidah Itu? Bahasa lidah bukanlah bahasa surgawi, bukan bahasa malaikat, bukan perkataan yang diucapkan dalam keadaan tak sadarkan diri, bukan perkataan yang hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang terpelajar saja, atau bahasa yang tidak berarti apaapa, seperti yang dipercayai oleh beberapa orang. Gary W. Summers mengutip kata-kata yang ditulis oleh James Rado dan Gerome Ragni dalam buku berjudul Good Morning, Starshine, 1969 Oliver hit, yang berbunyi: Gliddy glup gloopy nibby nabby noopy la la la lo lo. Sabba sibby sabba nooby abba nabba le le lo lo. Tooby ooby walla nooby abba nabba, early morning singing song (pagi buta menembangkan lagu). Menurut Gary, kata-kata ini tidak lebih daripada suku kata yang tidak berarti apa-apa dan bukan bahasa yang nyata dan dapat dimengerti.1 Dalam bahasa Inggris kata-kata di atas disebut dengan istilah gibberish yang berarti perkataan yang cepat dan tidak jelas; bahasa yang tidak masuk akal; kata-kata yang tidak mengandung arti; perkataan yang mengalir lancar dan bodoh.2 Bahasa lidah adalah bahasa manusia yang memiliki makna dan dimengerti. Websters New International Dictionary mendefenisikan bahasa sebagai tubuh katakata dan metode penggabungan kata-kata yang dipakai dan dimengerti oleh suatu kelompok masyarakat.3 Berarti bahasa adalah sarana untuk berkomunikasi antar manusia. Paulus mengatakan bahwa Ada banyak -- entah berapa banyak -- macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satu pun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti (1 Korintus 14:10). Dalam bahasa Ibrani bahasa adalah leshonah yang paling sering diterjemahkan lidah, yang ditujukan pada salah satu anggota tubuh yang menghasilkan perkataan (Hakim-hakim 7:5; 2 Samuel 23:2) atau juga bahasa (Ester 1:22; 3:12; Yeremia 5:15; Yehezkiel 3:5,6). Kata Ibrani, leshonah ini diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, glossa (bdg. Yesaya 28:11 dan 1 Korintus 14:21). Glossa juga berarti lidah, salah satu anggota tubuh (Markus 7:33,35), lidah-lidah seperti nyala api (Kisah Rasul 2:3), atau bahasa (Kisah Rasul 2:4,11; 10:46; 19:6). Kalau kita lihat dalam Kisah Rasul 2:4-11, para rasul berbicara dalam berbagai-

berbagai bahasa secara ajaib. Di dalam ayat 6, orang-orang yang hadir pada hari Pentakosta itu masing-masing mendengar para rasul berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Bahasa yang terdapat dalam Kisah Rasul 2:4, 11, jelas adalah bahasa pribumi para penganut agama Yahudi yang datang untuk merayakan hari raya Pentakosta di Yerusalem.4 Lester Kamp mendefenisikan karunia berbahasa lidah sebagai kemampuan untuk berkata-kata dalam bahasa yang dapat dimengerti orang, tetapi sebelumnya tidak diketahui oleh orang yang berbicara itu. 5 Ini berarti seorang yang mempunyai karunia berbahasa lidah dapat mengerti dan mengucapkan bahasa orang lain (asing) dengan sempurna dan dapat dimengerti oleh si pemilik bahasa tanpa mempelajarinya terlebih dulu secara alami. New English Bible menterjemahkan bahasa roh sebagai ecstatic language (bahasa yang mengherankan). Kata ecstatic berasal dari bahasa Yunani, ekstasis, yang dalam Alkitab diterjemahkan secara kontras mencengangkan, mengherankan (Markus 5:42; 8:8; Lukas 5:26; Kisah rasul 3:10) dan tidak sadarkan diri (Kisah Rasul 10:10; 11:5; 22:7). Tetapi meskipun demikian, kita tidak dapat menyimpulkan bahwa bahasa roh adalah sebuah bahasa yang diucapkan dalam keadaan tidak sadarkan diri. Maka dapat kita katakan bahwa bahasa lidah adalah bahasa yang mengandung makna yang dapat dimengerti dan diucapkan secara spontan oleh seseorang dengan sempurna tanpa mempelajari bahasa itu sebelumnya. Dengan kata lain proses kemampuan berbahasa lidah itu bersifat supernatural atau ajaib. Mengapa? Karena Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya (1 Korintus 12:11). Bagaimanakah Orang-orang Kristen Abad Pertama Menerima Karunia Berbahasa Lidah? Dalam kitab Kisah Rasul hanya ada dua peristiwa bagaimana orang Kristen abad pertama mendapatkan karunia berbahasa lidah. 1. Roh Kudus memberikan karunia berbahasa lidah secara langsung. Pemberian karunia berbahasa lidah secara langsung hanya kepada Para Rasul, termasuk Rasul Paulus (Kisah Rasul 2:4; 1 Korintus 14:18), Kornelius dan seisi rumahnya (Kisah Rasul 10:44-47). Selain dari dua peristiwa ini, tidak ada peristiwa lain yang dinyatakan oleh Alkitab tentang bagaimana orang-orang Kristen abad pertama menerima secara langsung dari Roh Kudus karunia berbahasa lidah.

2. Roh Kudus memberikan karunia berbahasa lidah melalui penumpangan tangan para rasul. Dalam Kisah Rasul 19:1-6 menceritakan tentang rasul Paulus bertemu dengan beberapa orang murid Yohanes, yang kemudian ditobatkan oleh Paulus menjadi orang Kristen dan sekaligus menumpangkan tangannya ke atas mereka sehingga dapat berkata-kata dalam bahasa lidah. Jadi hanya dua cara bagaimana orang-orang Kristen abad pertama mendapatkan karunia berbahasa lidah, yaitu secara langsung dan melalui penumpangan tangan para rasul. Begitulah Roh Kudus memberikan karunia berbahasa lidah kepada mereka. Apakah Tujuan Bahasa Lidah? Ketika seorang Kristen menerima karunia berbahasa lidah maka karunia itu berada dalam kuasanya, dan dia bisa saja menggunakanya dengan motif yang salah (1 Korintus 14:23) atau sebaliknya, menggunakan sesuai dengan kehendak Tuhan. Bahasa lidah tidak dipakai untuk menunjukkan kebolehan seseorang dalam berbahasa asing yang tidak dipelajari sebelumnya. Tetapi Alkitab menyatakan dengan jelas apa tujuan dari bahasa lidah. 1. Untuk mengkomunikasikan wahyu Allah, pengetahuan, nubuat dan pengajaran Tuhan (1 Korintus 14:6). Salah satu fungsi dari bahasa lidah adalah untuk menyatakan firman Allah kepada pendengar yang mengerti bahasa yang dipakai oleh orang yang memiliki karunia berbahasa lidah. Allah tidak pernah bermaksud memberikan karunia ini kepada orang yang dikehendakiNya untuk dipakai sebagai kesempatan memenuhi kepentingan pribadi atau menyatakan kehendak diri si penerima karunia itu sendiri, tetapi untuk menyampaikan seluruh maksud Allah kepada semua umat manusia (Kisah Rasul 20:27; 1 Petrus 4:11). 2. Untuk membangun kerohanian jemaat (1 Korintus 14:5,12, 26). Masud Allah memberi karunia bahasa lidah, seperti karunia-karunia lainnya juga adalah untuk membangun kerohanian setiap individu anggota jemaat. Mike Cope mengatakan bahwa dalam 1 Korintus 14:4, Paulus tidak mengizinkan seorang berbicara dalam bahasa lidah di gereja untuk membangun dirinya sendiri. Sebaliknya rasul Paulus mengizinkan penggunaan bahasa lidah bila ada yang dapat menterjemahkannya (1 Korintus 14:28)7, karena apa yang dikatakan itu akan membangun jemaat, termasuk dirinya sendiri. Karunia berbahasa lidah harus dipergunakan untuk kepentingan bersama (1 Korintus 12:7). 3. Sebagai tanda untuk orang-orang yang tidak percaya (1 Korintus 14:22).

Karunia bahasa lidah adalah suatu praktek yang ajaib. Kita bisa melihat contoh dalam Kisah Rasul 2, orang-orang dari suku bangsa yang berbeda (Kisah Rasul 2:9-11) keheranan mendengarkan para rasul berbicara dalam bahasa mereka masing-masing itulah bahasa lidah atau bahasa roh (Kisah Rasul 2:4,6,12). Kata tercengangcengang dalam ayat 6 menujukkan reaksi dari para pendengar yang telah mendengarkan dan menyaksikan para rasul, orang Galilea berbicara dalam berbagai bahasa yang tidak pernah mereka pelajari sebelumnya (Kisah Rasul 2:8, 9). Paulus mengutip nubuatan kitab Yesaya 28:11 dalam 1 Korintus 14:21, bahwa Dalam hukum Taurat ada tertulis: "Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan." Ayat ini menyatakan tentang beberapa orang Yahudi yang mendengar pemberitaan Injil tetapi tidak mau mentaatinya (Roma 3:2,3), sehingga pemberitaan dengan bahasa lidah hanya sebagai suatu tanda ajaib saja bagi mereka. Kata orang yang tidak percaya dalam 1 Korintus 14:22 ditujukan kepada semua orang, baik Yahudi maupun non-Yahudi. Ini berarti juga bahwa orangorang non-Yahudi yang mendengar pemberitaan Injil dalam bahasa lidah tetapi tidak mentaatinya, maka hal itu hanya menjadi suatu tanda (ajaib) saja 4. Untuk meneguhkan pemberitaan firman Allah (Markus 16:20; Roma 15:19). Karunia-karunia rohani, termasuk karunia bahasa lidah diberikan kepada para rasul dan orang-orang Kristen lainnya pada abad pertama adalah untuk meneguhkan bahwa berita yang mereka sampaikan adalah benar-benar dari Allah. Meskipun beberapa orang tidak percaya, itu tetap firman Allah. Bagi orang-orang yang mendengar, menerima dan mentaati firman itu, menjadi landasan yang teguh bagi keselamatan mereka (Kisah Rasul 2:13, 36,37). Dalam 1 Korintus 14, Paulus memberikan pengertian yang jelas tentang bagaimana menggunakan karunia bahasa lidah yang benar. Menurut Gary W. Summers latar belakang mengapa Paulus menjelaskan hal ini dalam 1 Korintus 12:1-3, karena ada masalah yang terjadi, dimana beberapa orang Kristen di Korintus mengakui bahwa mereka dipengaruhi oleh Roh Kudus dan mengatakan Terkutuklah Yesus. Kalau memang pernyataan ini adalah kesimpulan yang masuk akal mereka ucapkan, maka nasehat Paulus untuk memberi pengertian adalah benar. Tetapi bagaimana mereka dapat mengatakan hal yang demikian melalui inspirasi Roh Kudus ? Jelas tidak dapat. Apakah mereka berpura-pura berbicara seperti dipengaruhi oleh Roh ? Barangkali Roh Kudus tidak memberikan mereka wahyu dalam perhimpunan, sehingga dengan sikap mementingkan diri sendiri, mereka berpura-pura berbicara seperti Roh Kudus sedang memberi mereka perkataan. Mengapa mereka berpikir bisa melakukan itu? Ayat 2 menyatakan bahwa beberapa orang Korintus sebelum menjadi Kristen telah terbiasa berbicara dalam keadaan tidak

sadarkan diri sebagai bagian dari praktek penyembahan berhala mereka. Mereka telah dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu (2 Timotius 3:6). Mereka telah dipimpin oleh kata hati mereka sendiri dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ini menunjukkan beberapa orang Korintus mencoba untuk menghidupkan kembali praktek ucapan-ucapan yang mengherankan (barangkali kata-kata yang tidak berarti atau tidak masuk akal) seperti saat mereka melakukan penyembahan kepada berhala mereka dulu. Jadi dalam usaha mereka untuk menggunakan karunia berbahasa lidah, mereka membiarkan diri dipimpin oleh kata hati yang bersifat psikologis yang pernah mereka alami sebagai penyembah-penyembah berhala.8 Paulus melalui ilham Roh memberikan pengertian sekaligus nasehat kepada orang Kristen di Korintus bagaimana menggunakan karunia berbahasa lidah yang benar. Pertama, bahasa lidah dapat dipakai jikalau ada yang menterjemahkannya (1 Korintus 14:5,9,11,23,27-28). Karunia-karunia rohani, termasuk bahasa lidah yang diberikan oleh Roh Kudus harus digunakan dengan cara yang sopan dan teratur (1 Korintus 14: 40) untuk membangun kerohanian setiap anggota jemaat. Tetapi orang-orang Kristen di Korintus, masing masing ingin menggunakan bahasa lidah (atau karuniakarunia rohani yang lainnya) pada waktu yang bersamaan, sehingga situasi peribadatan menjadi kacau (1 Korintus 14:22,26). Padahal Allah tidak menghendaki kekacauan (1 Korintus 14:40). Situasi seperti ini tidak akan membangun kerohanian anggota jemaat yang tidak mengerti apa yang disampaikan oleh seorang yang memiliki karunia berbahasa lidah, sebaliknya mereka akan mencela (1 Korintus 14:23). Kedua, Bahasa lidah dapat dipakai bila semua audiens mengerti apa yang dikatakan oleh orang yang memiliki karunia berbahasa lidah (1 Korintus 14:23). Tetapi apa yang dipraktekkan oleh aliran Pentakosta dan Karismatik adalah sebaliknya, dimana menurut Gary W. Summers, banyak di antara mereka tidak peduli apakah yang mereka katakan itu berarti atau tidak, pokoknya mereka yakin bahwa Allah sedang berbicara melalui mereka. Jika tidak seorang pun mengerti apa yang mereka katakan, itu tidak menjadi soal. Mereka pikir itu adalah bahasa pribadi mereka sendiri, sekaligus jika hal itu terjadi, maka mereka percaya sebagai bukti mereka telah dibaptiskan dalam Roh Kudus. Praktek ini hanya berdasarkan emosi dan bukan berdasarkan Kitab Suci.9 Ini adalah hal yang menyedihkan karena mereka tidak mengerti firman Tuhan dengan benar. Ketiga, orang yang memiliki karunia berbahasa lidah harus berdiam diri jikalau tidak ada yang menterjemahkan apa yang hendak dikatakannya (1 Korintus 14:28). Situasi perhimpuan untuk menyembah Tuhan harus dilakukan dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24; bdg. 1 Korintus 14: 15). Ini berarti aktivitas rohani harus berlangsung dengan sopan dan teratur (1 Korintus 14: 40). Jika seorang memiliki karunia berbahasa lidah berbicara dan tidak ada yang menterjemahkan, maka akibatnya bukan saja kekacauan yang terjadi, tetapi juga orang yang mendengarnya tidak akan

mengerti apa arti perkataannya, meskipun itu firman Allah, sehingga si pendengar tidak dapat mengaminkan (menyetujui) ucapan si pembicara (1 Korintus 14:9,16). Itu sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi -- bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang?, kata Paulus ( 1 Korintus 14:7-8). Ke-empat, orang yang memiliki karunia berbahasa lidah hanya boleh berbicara kepada dirinya sendiri dan kepada Allah jikalau tidak ada penterjemah (1 Korintus 14:28). Mike Cope menjelaskan, 1 Korintus 14:28 tidak mengatakan bahwa seorang yang berbicara dalam bahasa roh (lidah) berbicara dalam bahasa yang tidak dimengerti kepada dirinya sendiri dan kepada Allah ketika tidak ada penterjemahnya. Kelihatannya, konteks ini berarti bahwa seorang itu berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan dengan Allah di dalam bahasa yang dapat dia mengerti.10 Kapankah Bahasa Lidah Berhenti? Beberapa orang, khususnya aliran Karismatik dan Pentakosta percaya bahwa sampai saat ini karunia berbahasa lidah masih terus diberikan oleh Roh Kudus secara langsung kepada orang yang dikehendakiNya. Tetapi apakah pendapat ini benar? Sebaiknya kita dengan pikiran terbuka menyelidiki bagaimana Alkitab berbicara tentang jangka waktu berlakunya karunia bahasa lidah. Dalam 1 Korintus 13:8, Paulus mengatakan bahwa bahasa roh akan berhenti Kapan ? 1. Jika yang sempurna tiba (1 Korintus 13:10). Beberapa orang menafsirkan kata ini ditujukan kepada Yesus, seorang yang sempurna dan yang akan datang. Pendapat salah inilah yang menuntun mereka untuk percaya bahwa karunia bahasa lidah masih ada, dan itu akan berhenti ketika Yesus yang sempurna itu datang. Tentu tidak ada orang yang menyangkal bahwa Yesus sempurna (Ibrani 5:9). Tetapi konteks ini sama sekali tidak membicarakan hal itu. Kata yang sempurna di ayat ini dalam bahasa Yunani (bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru) adalah teleiov yang artinya lengkap, sempurna, dewasa. Pengertian secara luas kata ini adalah telah mencapai tahap akhir atau perkembangan penuh. Ini berarti telah mencapai kesempurnaan dalam Yesus (Kolose 1:28), telah menjadi dewasa (Efesus 4:13; Ibrani 5:14).11 Selanjutnya dalam 1 Korintus 13:11-12, Paulus memberikan ilustrasi (gambaran) tentang keadaan jemaat saat itu yang belum dewasa secara rohani, sehingga sangat

diperlukan karunia-karunia rohani untuk membantu jemaat bertumbuh dewasa. Jadi setelah mereka menerima apa yang mereka butuhkan untuk mencapai kedewasaan maka yang tidak sempurna (karunia-karunia rohani) itu akan lenyap (1 Korintus 14:10). Vines Complete Expository Dictionary memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai kata yang sempurna (teleion) yang berarti lengkap, sempurna, yang ditujukan pada penyataan kehendak dan cara-cara Allah yang sempurna di dalam Kitab Suci yang lengkap.12 Jadi setelah firman Allah diteguhkan dengan karunia-karunia rohani (Markus 16:20), yang kemudian terhimpun dalam bentuk kitab tertulis seperti yang dikehendaki Allah melalui tulisan tangan orang-orang yang diilhami oleh Roh Kudus (2 Timotius 3: 16; 2 Petrus 1:20, 21), maka saat itulah berakhir karunia-karunia rohani (baca 1 Korintus 12:8-10), termasuk karunia bahasa lidah. Firman Allah sanggup memberi pertumbuhan rohani ( 1 Petrus 2:2; 2 Petrus 3:18) yang akan membawa kepada kesempurnaan dalam Kristus ( 2 Timotius 3: 17 diperlengkapi lebih tepat diterjemahkan sempurna perfect dalam King James) melalui proses belajar rutin, objektif dan dengan pikiran yang terbuka (2 Timotius 2:15; 1 Petrus 4:11; Wahyu 22: 18-19). Dengan adanya firman tertulis maka tidak diperlukan lagi karunia-karunia rohani (yang hanya bekerja saat gereja masih dalam keadaan infansi). 2. Sejak rasul-rasul Tuhan dan orang-orang yang mendapatkan tumpangan tangan mati. Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya bahwa Alkitab mencatat hanya ada dua peristiwa dimana orang Kristen abad pertama menerima karunia berbahasa lidah secara langsung, yakni rasul-rasul pada Hari Raya Pentakosta (Kisah Rasul 2) dan Kornelius serta seisih rumahnya (Kisah Rasul 10). Sedangkan peristiwa lainnya dengan penumpangan tangan rasul-rasul, contohnya beberapa murid Yohanes yang ditobatkan menjadi Kristen oleh Paulus di Efesus (Kisah Rasul 19). Alkitab menyatakan bahwa hanya para rasul yang dapat menumpangkan tangan ke atas orang Kristen lainnya untuk mendapatkan karunia berbahasa lidah. Selain dari pada mereka, Alkitab tidak menyatakannya. Melalui aksi penumpangan tangan rasulrasul-lah Roh Kudus memberikan karunia berbahasa lidah kepada orang yang dikehendakiNYa. Sejak rasul-rasul sudah mati semuanya, termasuk Rasul Yohanes yang dipercayai terakhir mati, kira-kira tahun 90-an Masehi, maka sudah pasti tidak ada lagi yang menjadi pelaksana penumpangan tangan ke atas orang Kristen untuk mendapatkan karunia berbahasa lidah, demikian juga dengan orang-orang Kristen yang telah

menerima karunia itu semuanya sudah mati. Jadi sangat masuk akal bahwa karunia bahasa lidah sudah berhenti. Kalau ada, itu palsu ! Kesimpulan Bahasa lidah adalah salah satu dari beberapa karuni rohani yang tercatat dalam 1 Korintus 12: 8-10. Bahasa lidah adalah bahasa yang dapat dimengerti, baik orang yang mengucapkan maupun orang yang mendengarkannya. Bahasa lidah itu ajaib, karena orang yang tidak pernah mempelajari sebelumnya dapat mengucapkannya dengan sempurna sehingga si pemilik bahasa mengerti dengan jelas ketika mendengarkannya dan sekaligus mengherankan baginya. Bahasa lidah dipergunakan untuk meneguhkan pemberitaan firman Allah. Bahasa lidah hanya berlangsung pada abad pertama ketika gereja masih dalam tahap infansi. Bahasa lidah berakhir ketika wahyu Allah telah terhimpun dalam bentuk Kitab Suci dan setelah para rasul dan orang-orang Kristen yang mendapat penumpangan mati. Catatan Akhir: 1. Summers, Gary W, Atheists and Pagans can speak Gibberish, In Pentacostalism, editor. David P. Brown, Spring, TX 77373, p. 355 2. Ibid. 3. Ibid. 4. Mike Cope, Speaking & The Holy Spirit, In Truth For Today, 202 South Locust Searcy AR., p. 37. 5. Kamp, Lester, Nine Miraculous Gifts, In Pentacostalism, editor David P. Brown, pg. 332. 6. Ibid., p. 334. 7. Mike, op.cit., p. 38. 8. Summers, op. cit., p. 376-377. 9. Ibid., p. 356. 10. Mike, op. cit., p. 40. 11. Ibid., p. 41. 12. Vines Complete Expository Dictionary, Thomas Nelson Publishers, Nashville, Atlanta, London, Vancouver, p. 466