Anda di halaman 1dari 25

MATA KULIAH

TEKNOLOGI DAN LINGKUNGAN

MATERI : PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP ILMU LINGKUNGAN PENGANTAR EKOLOGI ALIRAN ENERGI DAN SIKLUS BIOGEOKIMIA PRINSIP DASAR ILMU LINGKUNGAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP PENGANTAR AMDAL DAN AUDIT LINGKUNGAN

DOSEN : ARIF WIDYANTO, S.Pd., M.Si.

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK JURUSAN TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO

2010/2011
I. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP ILMU LINGKUNGAN Definisi Lingkungan Hidup Menurut UU No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, disebutkan bahwa lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Latar Belakang Perlunya Ilmu Lingkungan Kelangsungan hidup manusia sangat bergantung pada lingkungan sebagai sistem pendukung kehidupan (life support system). Pertumbuhan penduduk yang sangat pesat disertai dengan kebutuhan manusia yang semakin meningkat memerlukan sumber daya alam yang besar pula. Namun demikian, di bumi ini ketersediaan sumber daya alam sangat terbatas jenis dan jumlahnya. Adanya desakan kebutuhan manusia yang sangat besar, maka mendorong manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) untuk mengeksploitasi sumber daya alam (SDA). Eksploitasi SDA yang semakin besar dengan didukung oleh kemajuan IPTEK selain berdampak positif terhadap kehidupan manusia juga menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan seperti : kerusakan lingkungan, pencemaran lingkungan, berkurangnya SDA, deforestation, kebakaran hutan, menurunnya keanekaragaman hayati dan sebagainya. Atas dasar hal tersebut maka manusia harus dapat berpikir, berencana dan bertindak secara bijak agar dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya, sehingga diperlukan suatu Ilmu Lingkungan. Pengertian Ilmu Lingkungan Ilmu Lingkungan adalah kajian tentang kenyataan dan upaya yang harus dilakukan oleh manusia untuk mengelola lingkungan hidup sesuai dengan peran dan fungsinya agar dapat mendukung perikehidupan dan meningkatkan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Ruang lingkup Ilmu Lingkungan sangat luas yaitu meliputi semua aspek yang berkaitan dengan ekosistem dan perilaku manusia dalam kehidupannya. Pengkajian tentang ilmu lingkungan diperlukan pemahaman tentang ilmu-ilmu lainnya sehingga ilmu lingkungan merupakan pengkajian secara komprehensif. Ilmu Lingkungan merupakan ekologi terapan (applied ecology), sehingga ekologi merupakan merupakan dasar Ilmu Lingkungan. Dengan

3 demikian sebelum mempelajari tentang ilmu lingkungan maka harus memahami dulu tentang ekologi. Komponen Lingkungan Hidup Komponen Lingkungan Hidup terdiri dari Abiotik, Biotik dan Culture. Abiotik : Edafik (tanah, fisiografi); senyawa anorganik (gas, mineral, unsur dan senyawa kimia); senyawa organik mati (sisa-sisa organisme); klimatik (cahaya matahari, iklim, kelembaban, cuaca, dll); energi (fisika dan kimia). Biotik : Produsen, Konsumen, Dekomposer. Culture : Manusia dan perilakunya.

II. PENGANTAR EKOLOGI Pengertian Ekologi Istilah Ekologi pertama kali disampaikan oleh ahli biologi dari Jerman yang bernama Ernst Haeckel pada tahun 1869. Kata ekologi mula-mula berasal dari bahasa Yunani yaitu oikos (rumah atau tempat tinggal) dan logos (ilmu), arti secara sederhana adalah ilmu tentang rumah atau tempat keberadaan makhluk hidup. Ekologi dapat didefinisikan sebagai berikut : Ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Totalitas atau pola hubungan antara organisme dengan lingkungannya (E.P. Odum). Ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik (inter relationship) antara organisme atau sekelompok organisme dengan lingkungannya secara alamiah melalui tatanan atau ekosistem (A.L. Slamet Riyadi). Ruang Lingkup Ekologi Ruang lingkup menurut bidang kajiannya : Autekologi, yaitu mengkaji hubungan suatu jenis organisme dengan lingkungannya. Misalnya, studi tentang hubungan Pohon Pinus dan lingkungannya merupakan pendekatan yang bersifat autekologi. Synekologi, yaitu mengkaji hubungan kelompok organisme dengan lingkungannya yang berasosiasi bersama sebagai satu kesatuan. Misalnya studi tentang hutan sebagai tempat tumbuh Pohon Pinus merupakan pendekatan yang bersifat synekologi. Ruang lingkup menurut habitat : Yaitu mengkaji ekologi menurut habitat atau tempat keberadaan jenis organisme tertentu. Misalnya habitat padang rumput, habitat padang pasir, habitat hutan tropis dan sebagainya. Ruang lingkup menurut taksonomi : Ekologi tumbuhan, yaitu ekologi yang mempelajari hubungan timbal balik antara tumbuhan dengan lingkungannya. Ekologi Hewan, yaitu ekologi yang mempelajari hubungan timbal balik antara hewan dengan lingkungannya.

Tingkatan Organisasi Makhluk Hidup Makhluk hidup atau organisme mempunyai tingkatan organisasi yang berkisar dari tingkat yang paling sederhana sampai ke tingkat yang paling kompleks. Apabila dideretkan dalam pemahaman ekologi, maka akan terlihat suatu dereten organisasi yang disebut sebagai spektrum biologi, yaitu : Protoplasma Sel Jaringan Organ Sistem organ Organisme Populasi Komunitas Ekosistem Biosfer Protoplasma adalah zat hidup dalam sel dan terdiri dari senyawa organik yang kompleks misalnya lemak dan protein. Sel adalah satuan dasar suatu organisme yang terdiri dari protoplasma dan inti sel. Jaringan adalah kumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Contohnya : Jaringan otot, jaringan kulit. Organ adalah kumpulan dari berbagai jaringan yang mempunyai fungsi tertentu. Contohnya organ mata, telinga, tangan, hidung pada manusia; akar dan daun pada tumbuhan. Sistem organ adalah kumpulan dari organ yang membentuk kerja sama yang harmonis. Contoh sistem pernapasan, sistem pencernaan. Organisme adalah auatu makhluk hidup atau jasad hidup. Populasi adalah kumpulan dari organisme yang sejenis (spesies) yang hidup dan berkembang biak pada daerah tertentu. Populasi tersebut bersifat dinamis yang dapat tumbuh dan

Penjelasannya sebagai berikut :

6 berkembang biak dalam suatu ruang dan waktu selama kondisi lingkungan di sekitarnya sangat mendukung. Contoh : Populasi badak bercula satu di Ujung Kulon. Komunitas adalah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada daerah tertentu. Komunitas memiliki ciri, sifat dan kemampuan interaksi yang lebih kompleks daripada populasi. Interaksi dalam komunitas tidak terbatas hanya antar individu saja tetapi dapat berlangsung antar populasi. Contoh : Komunitas harimau dan babi hutan di Sumatera. Ekosistem adalah tatanan kesatuan yang utuh dan menyeluruh antara segenap komponen lingkungan baik abiotik maupun biotik yang saling mempengaruhi. Secara hirarkis, ekosistem merupakan kumpulan dari berbagai komunitas. Ekosistem juga dapat didefinisikan sebagai tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas dan produktivitas lingkungan hidup (UU No. 23 Tahun 1997). Contoh : ekosistem sungai, ekosistem danau, ekosistem hutan tropis. Biosfer adalah lapisan atau bagian bumi sebagai tempat kehidupan organisme. Biosfer disebut juga ekosfer, yaitu kumpulan dari ekosistem yang ada di seluruh bagian bumi. Biosfer meliputi atmosfer, litosfer dan hidrosfer. Dengan demikian kajian ekologi terbatas hanya pada bagian biosfer saja. Komponen Ekosistem Berdasarkan cara mendapatkan makanan, komponen ekosistem ada dua yaitu : 1. Komponen autotrof Yaitu organisme yang dapat menyediakan atau mensintesis makanan sendiri berupa bahan organik dengan bantuan sinar matahari dan klorofil. Dengan demikian semua tumbuhan hijau termasuk autotrof. 2. Komponen heterotrof Yaitu organisme yang memanfaatkan organisme lain atau bahan-bahan organik yang telah disediakan oleh organisme lain sebagai sumber makanannya. Contoh : binatang, jamur, bakteri pengurai. Berdasarkan jasad/benda penyusunnya, komponen ekosistem adalah sebagai berikut : 1. Komponen Abiotik (benda/jasad mati, bahan tak hidup) Yaitu komponen fisik, kimia dan senyawa organik mati (sisa-sisa organisme) yang merupakan media atau substrat untuk berlangsungnya kehidupan. 2. Komponen Biotik (makhluk hidup) a. Produsen

7 Yaitu organisme autotrof sebagai penyedia makanan. Contoh : rumput, padi. b. Konsumen Yaitu organisme heterotrof yang memakan atau mengkonsumsi organisme lainnya. Konsumen ada tiga macam yaitu : Herbivora (pemakan rumput), contohnya : sapi, rusa, gajah. Karnivora (pemakan daging), contohnya : harimau, singa, srigala. Omnivora (pemakan segala), contohnya : manusia.

c. Dekomposer Yaitu organisme heterotrof yang mampu menguraikan bahan organik dari organisme yang telah mati. Contoh : bakteri pengurai. Banyaknya komponen abiotik dan biotik (produsen, konsumen dan pengurai), interaksi antar komponen tersebut serta proses-proses alami yang berlangsung akan sangat menentukan kompleksitas suatu ekosistem. Interaksi Antar Makhluk Hidup Interaksi antar makhluk hidup terjadi karena masing-masing individu memiliki keinginan untuk selalu hidup dan berupaya mendapatkan dan memanfaatkan sumber daya yang ada guna melangsungkan hidupnya. Apabila dua spesies memiliki ciri atau persyaratan ekologis yang serupa, maka akan terjadi interaksi antar spesies yang hasilnya kemungkinan adalah sebagai berikut : 1. Spesies yang mudah menyesuaikan diri (adaptasi) akan cepat berkembang dan menyebar ke seluruh kisaran tempat hidup spesies lainnya. 2. Masing-masing spesies akan menempati daerah tertentu yang bersebelahan secara eksklusif karena masing-masing spesies mampu beradaptasi dengan baik untuk hidup di sebagian wilayah yang ditempatinya. 3. Spesies yang sulit beradaptasi akan sulit berkembang bahkan kelangsungan hidup spesies tersebut menjadi terganggu. Beberapa jenis interaksi antar makhluk hidup adalah sebagai berikut : 1. Mutualisme

8 Mutualisme merupakan interaksi yang menguntungkan kedua spesies yang berinteraksi. Mutualisme sering disebut sebagai simbiosis mutualisme artinya kehidupan bersama antar dua spesies yang berbeda yang bersifat menguntungkan bagi kedua spesies tersebut. Contohnya : Interaksi antara lebah madu dengan tanaman berbunga. Interaksi antara bakteri pengikat nitrogen dengan tanaman kedelai.

2. Komensalisme Komensalisme merupakan interaksi antara dua spesies berbeda, spesies yang satu mendapat keuntungan sedangkan spesies yang lainnya tidak dirugikan dan juga tidak diuntungkan. Interaksi ini disebut juga simbiosis komensalisme. Contohnya : Interaksi antara tanaman anggrek (sebagai epifit) dengan pohon pinus di hutan. 3. Parasitisme Parasitisme merupakan interaksi antara dua jenis spesies yang berbeda, spesies yang satu mendapat keuntungan sedangkan spesies yang lainnya menderita kerugian. Contohnya : Keberadaan cacing gelang sebagai parasit dalam usus manusia. Tumbuhnya benalu pada pohon mangga. 4. Amensalisme Amensalisme merupakan interaksi antara dua jenis spesies yang berbeda, spesies yang satu mendapat kerugian sedangkan spesies yang lainnya tidak diuntungkan dan juga tidak dirugikan. Contohnya : Keberadaan pohon kecil di bawah pohon besar. Pohon kecil akan terganggu fotosintesisnya karena ternaungi, sedangkan pohon besar tidak diuntungkan dan tidak dirugikan. 5. Neutralisme Neutralisme merupakan interaksi antar organisme yang sifatnya tidak saling menguntungkan dan tidak saling merugikan. Contohnya : Interaksi antara ikan dan siput di suatu kolam. Ikan dan siput tidak saling merasa terganggu walaupun habitatnya sama karena di kolam tersebut sumber makanannya melimpah. 6. Predasi (pemangsaan)

9 Predasi merupakan interaksi antar organisme yang salah satu organisme tersebut memangsa (memakan) organisme lainnya. Organisme yang memakan disebut pemangsa atau predator, sedangkan organisme yang dimakan disebut mangsa. Contoh : Harimau memangsa kijang di hutan. 7. Kompetisi (persaingan). Kompetisi adalah interaksi antar organisme yang memperebutkan sumber daya guna melangsungkan hidupnya. Interaksi ini umumnya terjadi pada organisme yang memiliki relung dan habitat yang sama. Organisme tersebut memiliki kebutuhan sumber daya yang sama sedangkan ketersediaannya terbatas, akibatnya mereka saling bersaing guna melangsungkan hidupnya. Kompetisi ada dua macam, yaitu : a. Kompetisi intraspesifik Kompetisi intra spesifik merupakan kompetisi yang terjadi dalam spesies yang sama. Contoh : Dua ekor singa sedang memperebutkan seekor rusa guna dimangsa. b. Kompetisi interspesifik Kompetisi interspesifik adalah kompetisi yang terjadi antar dua spesies yang berbeda. Contoh : Harimau dan singa sedang bersaing memperebutkan seekor rusa guna dimangsa.

10

III. ALIRAN ENERGI DAN SIKLUS BIOGEOKIMIA ALIRAN ENERGI Kehidupan di bumi sangat tergantung pada sinar matahari. Seluruh organisme (kecuali organisme kimia sintesis yang relatif sedikit jumlahnya) setiap hari mendapatkan zat organik melalui fotosintesis baik secara langsung maupun tak langsung. Fotosintesis tidak dapat berlangsung tanpa adanya sinar matahari. Fotosintesis hanya memakai kurang lebih sepersepuluh dari 1 % energi matahari yang mencapai permukaan bumi. Dari hasil fotosintesis, tumbuhan hijau (autotrof) hanya mengambil sekitar 15 50 % untuk melakukan metabolisme. Sisanya (net fotosintesis atau net produktivitas primer) diambil atau dimanfaatkan oleh organisme heterotrof sebagai sumber energi (makanan) guna melangsungkan hidupnya. Urutan organisme yang dilewati energi dalam suatu komunitas disebut rantai makanan (food chain). Pada umumnya dalam suatu komunitas terdapat berbagai rantai makanan yang berbeda-beda dan kompleks yang saling mengikat bersama-sama membentuk jaring makanan (food web). Setiap rantai makanan atau jaring makanan dimulai dengan organisme autotrof (tanaman hijau) sebagai produsen bagi konsumen pada ekosistem tersebut. Rantai makanan atau jaring makanan berakhir dengan pengurai atau dekomposer yaitu organisme pengurai biasanya bakteri, jamur dan cacing yang selanjutnya akan menghasilkan materi/bahan yang diperlukan kembali oleh tumbuhan (produsen). Hubungan antara produsen dan pengurai sangat beragam. Produsen yang mati dapat diuraikan secara langsung oleh pengurai tanpa melalui konsumen. Produsen dapat dimakan oleh konsumen primer (herbivora) yang selanjutnya dimakan oleh konsumen sekunder (karnivora) dan setelah masing-masing organisme tersebut mati akan diuraikan oleh pengurai atau dekomposer. Bagan jaring-jaring makanan secara sederhana adalah sebagai berikut :

11

Contoh gambar atau bagan jaring-jaring makanan secara sederhana

Kelinci

Srigala

Tanaman

Tikus

Elang

Burung Ular Serangga Katak

PIRAMIDA ENERGI Tingkatan urutan makanan dalam rantai makanan pada suatu komunitas sering disebut oleh ahli-ahli ekologi sebagai tingkat tropis. Semua produsen disebut sebagai tingkat tropis pertama; konsumen primer (herbivora) sebagai tingkat tropis kedua; konsumen sekunder (karnivora) sebagai tingkat tropis ketiga dan seterusnya.

III

12

II

Jenis spesies pada masing-masing tingkat tropis antara komunitas yang satu dengan lainnya adalah berbeda, tetapi pada umumnya mempunyai pola yang sama. Pada setiap urutan tingkat tropis mengalami kehilangan energi dari sistem tersebut. Kehilangan energi ini sesuai Hukum Termodinamika II yang menyatakan bahwa setiap perubahan energi menimbulkan hilangnya energi yang dipakai, atau dengan kata lain bahwa transformasi energi tidak pernah efisien 100 %, selalu ada energi yang keluar dari sistem. Adanya kehilangan energi tersebut mengakibatkan jumlah total energi pada tiap tingkat tropis yang tinggi adalah lebih rendah dibandingkan dengan tingkat tropis yang lebih rendah. Dengan kata lain, jumlah energi pada produsen lebih besar dibandingkan pada konsumen I; demikian pula jumlah energi pada konsumen I lebih besar dibandingkan pada konsumen II. Distribusi energi dalam suatu komunitas dapat digambarkan seperti bentuk piramida (piramida energi) dengan tingkatan tropis I (produsen) di bagian dasar, dan konsumen (tingkatan tropis II dan III) pada bagian atasnya.

SIKLUS BIOGEOKIMIA Siklus biogeokimia sering disebut sebagai siklus materi atau siklus bahan. Disebut siklus biogeokimia karena siklus berlangsung secara kimia melalui perantara makhluk hidup (biologis) dan kembali ke lingkungan fisiknya melalui tanah, air dan udara (geologis). Mekanisme siklus biogeokimia dalam ekosistem berlangsung bersamaan dengan berlangsungnya rantai makanan karena senyawa kimia yang beredar merupakan komponen bahan makanan yang diperlukan oleh makhluk hidup. Beberapa siklus yang penting antara lain adalah siklus air, siklus karbon, siklus nitrogen dan siklus fosfat. Siklus Air (Siklus Hidrologi)

13 Siklus air atau siklus hidrologi merupakan sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi. Pemanasan air laut oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara kontinyu. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan es dan salju (sleet), hujan gerimis atau kabut. Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinyu dalam tiga cara yang berbeda. Evaporasi / transpirasi - Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman dan sebagainya kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (presipitasi) dalam bentuk hujan, salju, es. Infiltrasi / Perkolasi ke dalam tanah - Air bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal di bawah permukaan tanah hingga air tersebut kembali memasuki sistem air permukaan. Air Permukaan - Air bergerak di atas permukaan tanah dekat dengan aliran utama dan danau; makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran permukaan semakin besar. Aliran permukaan tanah dapat dilihat biasanya pada daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai utama yang membawa seluruh air permukaan di sekitar daerah aliran sungai menuju ke laut. Air permukaan, baik yang mengalir maupun yang tergenang (danau, waduk, rawa), dan sebagian air bawah permukaan akan terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan berakhir ke laut. Proses perjalanan air di daratan itu terjadi dalam komponen-komponen siklus hidrologi yang membentuk sisten Daerah Aliran Sungai (DAS). Jumlah air di bumi secara keseluruhan relatif tetap, yang berubah adalah wujud dan tempatnya

Hujan

14

evaporasi

respirasi organisme air permukaan

evaporasi danau

Laut

Penjelasan siklus air : Adanya sinar matahari baik secara langsung maupun tidak langsung akan mengakibatkan evaporasi (penguapan) air laut, sungai, danau dan badan air lainnya yang ada di permukaan bumi. Demikian pula respirasi organisme juga akan membebaskan uap air ke atmosfer. Akibat evaporasi dan respirasi tersebut akan menimbulkan adanya awan yang selanjutnya Hujan akan turun ke bumi dengan menggenangi berbagai cekungan seperti danau, rawa,

menjadi hujan. sungai, laut dan badan air lainnya. Air hujan yang meresap ke dalam tanah berfungsi menjadi cadangan air tanah. Air hujan juga dimanfaatkan oleh seluruh organisme di bumi untuk melangsungkan hidupnya. Air permukaan seperti sungai dan air sub permukaan akan mengalir kembali ke laut. Siklus air akan terus-menerus terjadi dan memberikan suplai air bagi kehidupan di bumi. Siklus air merupakan salah satu faktor yang mengendalikan suhu bumi. Selain itu air juga CO2 BEBAS DI ATMOSFIR merupakan pelarut dan alat angkut bagi berbagai unsur dan senyawa kimia yang sangat diperlukan oleh berbagai organisme di bumi. Siklus Karbon (CO2) PEMBAKARAN : MOTOR PABRIK DSB PRODUSEN FOTOSINTESIS RESPIRASI DEKOMPOSER KONSUMEN RESPIRASI

FOSIL : MINYAK, BATUBARA DAN GAS

15

Penjelasan siklus CO2 : CO2 bebas di atmosfer akan dimanfaatkan secara langsung oleh tumbuhan untuk Materi karbon yang terdapat dalam tumbuhan (autotrof atau produsen) selanjutnya akan melakukan fotosintesis. dimanfaatkan oleh komponen heterotrof (konsumen dan dekomposer) melalui proses rantai makanan. Sebagian CO2 akan dilepaskan kembali ke atmosfer oleh organisme (produsen, konsumen Tumbuhan dan hewan yang mati akan diuraikan oleh dekomposer. Bahan-bahan organik yang telah mati (fosil) dalam waktu lama akan menjadi cadangan Pembakaran minyak, batubara dan gas akan melepaskan kembali CO2 ke atmosfer. CO2 berfungsi sebagai pengatur suhu pada permukaan bumi. Kandungan CO2 di atmosfer akan meningkat jumlahnya melalui aktivitas manusia yang melakukan pembakaran-pembakaran bahan organik terutama minyak, batubara dan gas. Akibat adanya peningkatan kandungan CO2 di atmosfer tersebut, maka panas yang dipancarkan oleh bumi akan diserap oleh CO2 di atmosfer dan dipancarkan kembali ke bumi sehingga suhu bumi menjadi lebih panas (green house effect). Dampak negatif yang lebih jauh lagi dan sangat dikawatirkan adalah akibat peningkatan suhu bumi tersebut dapat mencairkan es di kutub utara dan selatan bumi, sehingga permukaan air laut menjadi naik yang selanjutnya dapat menenggelamkan sebagian wilayah daratan. dan dekomposer) melalui respirasi.

minyak, batubara dan gas.

16

Siklus Nitrogen

Gunung. Meletus N2 di Atmosfir

Bakteri Denitrifikasi

Fiksasi Elektrik

Bakteri Pengikat N Simbiosis Bakteri Pengikat N bebas

Bakteri Nitrat

NO3 Produsen

NO2 Dekomposer Bakteri Nitrit NH3 Penjelasan siklus nitrogen :

Konsumen

Cadangan nitrogen anorganik di atmosfer yang membangun 78 % udara difiksasi oleh

mikroba pengikat nitrogen simbiosis yang selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh produsen (tumbuhan hijau). Fiksasi nitrogen juga dapat terjadi secara elektrik melalui petir tetapi jumlahnya kecil.

17 Materi nitrogen yang terdapat dalam tumbuhan (autotrof atau produsen) selanjutnya akan

dimanfaatkan oleh komponen heterotrof (konsumen dan dekomposer) melalui proses rantai makanan. Mikroba pengikat N yang hidup bebas di dalam tanah dan air akan melepaskan amonia ke Organisme yang mati akan diuraikan oleh dekomposer antara lain menjadi amonia (NH3). Amonia akan diubah oleh bakteri nitrit menjadi nitrit (NO2), selanjutnya nitrit diubah oleh Pada umumnya amonia (dalam bentuk amonium atau NH4) dimanfaatkan oleh tanaman media di sekelilingnya.

bakteri nitrat menjadi nitrat (NO3). tinggi seperti rumput-rumputan dan tanaman tertentu lainnya. Tetapi sebagian besar tanaman yang sedang berbunga lebih menggunakan nitrat daripada amonia. Siklus N dapat diulang terus dari tumbuhan ke bakteri pengurai hingga ke tumbuhan lagi tanpa kembali lagi dalam bentuk N2 ke udara (berbeda dengan siklus CO2 yang selalu kembali ke udara dalam bentuk CO2). Meskipun N tidak perlu kembali ke udara pada setiap perputaran siklus, namun selalu ada pelepasan N2 dari tanah atau air kembali ke udara. Hal tersebut karena ada aktivitas bakteri denitrifikasi yang mampu mengubah amonia, nitrit atau nitrat menjadi N2 dan melepaskannya kembali ke udara.

18

Siklus Fosfat

19 Produsen Konsumen

Sintesis

Dekomposer

Ekskresi

- Batuan Fosfat - Fosil - Bahan Organik

Mikroba Pembentuk Fosfat

Erosi

Hewan Laut

Fosfat Terlarut

Tulang, Gigi

Endapan dangkal di laut

Hilang ke laut dalam

Penjelasan siklus fosfat : Sumber fosfat adalah batuan fosfat, fosil-fosil dan bahan organik. Adanya erosi (misalnya oleh air hujan) dan penambangan yang dilakukan oleh manusia

mengakibatkan sumber fosfat berubah menjadi fosfat terlarut.

20 Fosfat terlarut dapat disintesis oleh tumbuhan untuk keperluan hidupnya. Melalui mekanisme rantai makanan, fosfat mengalir dari tumbuhan (autotrof) ke Bakteri pembentuk fosfat akan merubah organisme yang mati menjadi fosfat terlarut. Ekskresi hewan juga dapat menjadi fosfat terlarut. Di lautan, organisme laut yang mati akan mengendap menjadi fosfat terlarut yang Selain itu sisa-sisa organisme laut yang mati juga dapat mengendap menjadi batuan Fosfat juga dapat masuk (hilang) di lautan yang dalam.

heterotrof (konsumen dan dekomposer).

selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh organisme di lautan. fosfat.

IV. ASAS DASAR ILMU LINGKUNGAN ASAS 1 :

21 Semua energi yang memasuki organisme hidup, populasi atau ekosistem dapat dianggap sebagai energi yang tersimpan atau terlepaskan. Energi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain tetapi tidak dapat diciptakan, hilang, hancur atau dimusnahkan (Hukum Thermodinamika I). ASAS 2 : Tidak ada sistem pengubahan energi yang benar-benar efisien (Hukum Thermodinamika II). ASAS 3 : Materi, energi, ruang, waktu dan diversitas semuanya termasuk katergori sumber daya alam (Life Support System). ASAS 4 : Untuk semua sumber daya alam apabila pemanfaatannya mencapai optimum pengaruh kenaikannya akan terus menurun hingga tingkat minimum dan pada batas itu tidak ada pengaruh yang menguntungkan lagi. Apabila pemanfaatannya dinaikkan hingga batas maksimumnya maka akan berpengaruh terhadap rusaknya sumber daya alam tersebut (Asas Kejenuhan). ASAS 5 : Jenis sumber daya alam dasar ada dua yaitu sumber daya alam yang pemanfaatannya dapat merangsang penggunaan selanjutnya (dapat pulih) dan yang tidak memiliki daya rangsang penggunaan selanjutnya (tidak dapat pulih). (Sifat SDA atas dasar kemampuan pulihnya). ASAS 6 : Individu atau spesies yang dapat menyesuiakan diri dengan lingkungannya cenderung berhasil mengalahkan pesaingnya. ASAS 7 : Semakin tinggi tingkat keanekaragaman hayati maka akan semakin mantap juga ekositem tersebut (Pentingnya Keanekaragaman Hayati). ASAS 8 : Kejenuhan atau tidaknya sebuah habitat oleh keanekaragaman takson, tergantung dari cara habitat dalam lingkungan hidup itu dapat memisahkan takson tersebut. ASAS 9 :

22 Keanekaragaman komunitas yang apapun akan sebanding dengan ratio antara biomassa dan produktivitas atau dengan kata lain efisiensi penggunaan energi akan meningkat dengan meningkatnya kompleksitas komunitas. ASAS 10 : Dalam perjalanan waktu (evolusi) perbandingan antara biomassa dengan produktivitas pada lingkungan yang stabil akan mencapai sebuah asimtot. ASAS 11 : Sistem yang sudah mantap (dewasa) mengeksploitasi sistem yang belum mantap. (Asas Intervensi dan Hegemoni). ASAS 12 : Kemampuan adaptasi suatu sifat atau tabiat bergantung kepada kepentingan relatifnya di dalam suatu lingkungan tertentu (Prinsip adaptasi dan evolusi). ASAS 13 : Lingkungan fisik yang mantap memungkinkan terjadinya keanekaragaman hayati yang mantap pula yang kemudian dapat menggalakkan kemantapan populasi lebih jauh lagi (Daya Dukung Komponen Abiotik). ASAS 14 : Derajat pola keteraturan, fluktuasi populasi tergantung dari pengaruh sejarah populasi sebelumnya.

V. PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

23 Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan kebutuhan hidup dan hak setiap orang. Setiap orang berhak untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Setiap orang wajib melestarikan fungsi lingkungan hidup, mencegah, menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup. Tujuan pengelolaan lingkungan hidup adalah untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan seluruhnya yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Asas Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah : a. Tanggung jawab negara; b. Kelestarian dan keberlanjutan; c. Keserasian dan keseimbangan; d. Keterpaduan; e. Manfaat; f. Kehati-hatian; g. Keadilan; h. Ekoregion; i. Keanekaragaman hayati; j. Pencemar membayar; k.Partisipatif; l. Kearifan lokal; m.Tata kelola pemerintahan yang baik; dan n. Otonomi daerah. Tujuan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah sebagai berikut : a. Melindungi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup;

24 b. menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia; c. menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian ekosistem; d. menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup; e. mencapai keserasian, keselarasan, dan keseimbangan lingkungan hidup; f. menjamin terpenuhinya keadilan generasi masa kini dan generasi masa depan; g. menjamin pemenuhan dan perlindungan hak atas lingkungan hidup sebagai bagian dari hak asasi manusia; h. mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana; i. mewujudkan pembangunan berkelanjutan; dan j. mengantisipasi isu lingkungan global. Prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan hidup : 1. Konsep ekosistem : - Pengelolaan lingkungan hidup berdasarkan pendekatan ekosistem. - Dunia dipandang sebgaai ekosistem terbesar. 2. Konsep daya dukung : - Ruang sebagai wadah kegiatan memiliki kemampuan optimal dalam menampung kegiatan. - Pentingnya pelestarian daya dukung lingkungan. 3. Konsep sumber daya : - Penggunaan sumber daya jangan sampai mempengaruhi kualitasnya. - Jenis dan sumber daya alam, prasarana dan fungsi kawasan serta sumber daya lainnya harus selalu diperhatikan. Strategi pengelolaan lingkungan hidup : 1. Peningkatan partisipasi seluruh pelaku pembangunan. 2. Perencanaan dan penetapan standar kualitas lingkungan. 3. Peran aktif pengawasan pemerintah. Kebijakan dalam pengelolaan lingkungan hidup : 1. Pemilihan lokasi pembangunan yang tepat. 2. Pengurangan produksi limbah. 3. Pengelolaan limbah. 4. Penetapan baku mutu lingkungan. 5. Rehabilitasi dan pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup.

25 6. Pengembangan kelembagaan, peranserta masyarakat dan kemampuan sumber daya manusia. Kendala pengelolaan lingkungan hidup : 1. Kelembagaan dan koordinasi 2. Sumber daya manusia 3. Pengelolaan lingkungan hidup di lapangan 4. Kesadaran dan tanggung jawab masyarakat 5. Teknologi lingkungan

DAFTAR PUSTAKA

1. Hardjasoemantri, Koesnadi, 2002, Hukum Tata Lingkungan, UGM-Press, Yogyakarta. 2. Mitchell, Bruce, dkk, 2000, Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan, UGM-Press, Yogyakarta. 3. Odum, E.P., 1993, Dasar-dasar Ekologi, Edisi Ketiga, UGM-Press, Yogyakarta. 4. Resosudarmo,S., K. Kartawinata., A. Soegiharto, 1990, Pengantar Ekologi, Remaja Rosdakarya, Bandung. 4. Salim, E., 1983, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. 5. Sastrawijaya, A. Tresna, 1991, Pencemaran Lingkungan, Rineka Cipta, Jakarta. 6. Soemarwoto, O., 1994, Ekologi, Lingkungan dan Pembangunan, Djambatan, Bandung. 7. Soemarwoto,Otto,1997, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, UGM-Press, Yogyakarta. 8. Suratno, FG, 1995, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, UGM-Press, Yogyakarta. 9. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.