Anda di halaman 1dari 10

PENGEMBANGAN SENTRA AGROINDUSTRI KERAJINAN MENDONG KABUPATEN MALANG DENGAN PENDEKATAN PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL

Fellan Fatih Abdillah, Surjono, Gunawan Prayitno Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145, Indonesia Telp. 62-341-567886; Fax. 62-341-551430; Telex. 31873 Unibraw IA

email: fellan_abdillah@yahoo.com ABSTRAK


Pengembangan agroindustri sebagai prioritas industri masa depan Indonesia memerlukan pendekatan lokalitas dan menitikberatkan pada endogeneous development dengan melibatkan sumber daya lokal yang ada. Salah satu model pengembangan agroindustri adalah dengan mengembangkan sentra-klaster agroindustri. Pengembangan Sentra Agroindustri Kerajinan Mendong di Kabupaten Malang mengalami beberapa kendala antara lain kondisi infrastruktur yang belum memadahi, rendahnya kapasitas diklat, dominasi tengkulak, belum berfungsinya kelembagaan, dan rendahnya spesialisasi dan daya saing sentra. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik, mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dengan analisis multivariat faktor, menyusun konsep dan strategi dengan analisis SWOT dan IFAS-EFAS, serta menyusun arahan pengembangan (fisik spasial) dari sentra agroindustri Kerajinan Mendong Kabupaten Malang. Sentra agroindustri Kerajinan Mendong Kabupaten Malang telah memiliki karakteristik pengembangan ekonomi lokal kecuali struktur organisasi, litbang, badan hukum, dan kerjasama dengan lembaga permodalan. Karakteristik klaster yang dimiliki adalah kedekatan spasial, interaksi, kombinasi kompetensi, dan identitas. Berdasarkan hasil analisis faktor didapatkan enam komponen faktor yang mempengaruhi perkembangan, Hasil dari strategi SWOT dan IFAS-EFAS menempatkan sentra dalam kuadran IVB yang berarti strategi diversivikasi konglomeratis dengan konsep pengembangan berupa peningkatan daya saing dengan merencanakan spesialisasi dan pemasaran. Arahan fisik spasial yang dihasilkan antara lain adalah penentuan tiga area pengembangan (Blayu, Sukoanyar, dan Jembesari) dan satu area pemasaran (Desa Wajak), serta pengembangan jaringan jalan dan angkutan dalam sentra. Kata kunci : pengembangan ekonomi lokal, sentra-klaster, agroindustri, kerajinan mendong

ABSTRAK
Agro-industry development as the priority of Indonesian future industry needs a local approach and emphasis on endogenous development using the potential of local resources. One of many agro-industry development models is developing a center of agro-industry. The development of the center of Mendong Handicraft agro-industry in Malang Regency is facing some constraints like lack of : 1) infrastructure, 2) education and training capacity, 3) function of institution, 4) specialization and competitiveness, and wholesaler domination. The aims of this research are to identify characteristics, to identify influential factors using multivariat factor analysis, to arrange development strategy and concept using SWOT and IFAS-EFAS, and to arrange physical-spatial plans of developing the center of Mendong Handicraft agro-industry. The center of Mendong Handicraft agro-industry of Malang Regency has had Local Economic Development characteristics except organizational structure, research and development, and capitalizing institution. The center of agroindustry has had spatial concentration, interaction, combination of competencies, and identity. Based on the results of factor analysis, there are six groups of influential components. The result of SWOT and IFAS-EFAS strategy places the center of Mendong Handicraft at the IVB quadrant, which refers to the conglomerate diversification strategy. The development concept is raising the competitiveness by planning specialization and marketing. The physical-spatial plans for the center of Mendong Handicraft agro-industry determine three development areas (Blayu, Sukoanyar, and Jambesari), one market area (Wajak), and transportation (linkage) system development. Kata kunci : local economic development, center-cluster, agro-industry, mendong handicraft.

PENDAHULUAN Pengembangan agroindustri sebagai prioritas industri masa depan Indonesia memerlukan pendekatan lokalitas dan menitikberatkan pada endogeneous development dengan melibatkan sumber daya lokal yang ada. Salah satu model pengembangan agroindustri dengan pertimbangan pengembangan lokalitas adalah dengan mengembangkan sentra-klaster agroindustri. Agroindustri Kabupaten Malang merupakan sektor yang potensial dimana 50,46% penduduk menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian yang merupakan penyedia input sektor
31

Jurnal Tata Kota dan Daerah Volume 2, Nomor 2, Desember 2010

PENGEMBANGAN SENTRA AGROINDUSTRI KERAJINAN MENDONG KABUPATEN MALANG DENGAN PENDEKATAN PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL

agroindustri. Pengembangan agroindustri diarahkan pada pembinaan industri kecil menengah dan usaha mikro, kecil dan menengah yang cukup banyak menampung tenaga kerja di Kabupaten Malang (Bappekab Malang, 2009). Salah satu sentra agroindustri yang potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Malang adalah sentra agroindustri Kerajinan Mendong yang terletak di Kecamatan Wajak dan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Jika ditinjau dari komponen 5M Pengembangan Ekonomi Lokal (Blakely, 1989:147), perkembangan sentra agroindustri Kerajinan Mendong Kabupaten Malang menghadapi berbagai hambatan, yaitu antara lain (hasil survey, 2008): (1) Infrastruktur belum dapat berfungsi secara optimal, bahan baku yang melimpah tidak dapat dimanfaatkan dengan optimal, (2) Dominasi tengkulak pada sistem pemasaran sehingga pengusaha sulit untuk melihat kompetisi pasar, dan penetrasi pasar lemah (3) Kelembagaan belum berfungsi dengan baik, masih belum memiliki struktur organisasi yang jelas, pengusaha masih takut untuk memiliki badan hukum, dan (4) Modal pribadi sangat berpengaruh, belum berfungsinya lembaga permodalan dengan baik disamping kurangnya subsidi/bantuan pemerintah. Sedangkan berdasarkan karakteristik klaster (Depkop dan UKM, 2003), sentra memiliki berbagai permasalahan antara lain belum terdapatnya institusi bersama yang dapat mendukung produksi sentra, belum terdapatnya spesialisasi, dan rendahnya daya saing produk, disamping terdapat potensi yang dimiliki yaitu terdapatnya konsentrasi spasial dan interaksi antar unit usaha dalam sentra. Penelitian pengembangan sentra agroinustri Kerajinan Mendong Kabupaten Malang dengan pendekatan pengembangan ekonomi lokal ini bertujuan untuk; (1) mengetahui karakteristik sentra agroindustri, (2) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sentra agroindustri, (3) menyusun strategi dan konsep pengembangan sentra agroindustri, dan (4) menyusun arahan pengembangan (fisik spasial) sentra agroindustri Kerajinan Mendong Kabupaten Malang. METODE PENELITIAN Penelitian Pengembangan Sentra Agroindustri Kerajinan Mendong Kabupaten Malang dengan Pendekatan Pengembangan Ekonomi Lokal merupakan penelitian deskriptif dengan format deskriptif survei. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data

primer adalah data yang didapatkan saat survey primer yaitu hasil observasi lapangan, hasil wawancara, hasil kuisioner, dan potensi-masalah. Data sekunder adalah data yang didapatkan saat survey sekunder yaitu dokumen tata ruang, laporan perkembangan sentra Kabupaten Malang, dan literatur penunjang. Metode analisis yang digunakan yang digunakan dalam penelitian adalah: Mengetahui karakteristik sentra agroindustri dengan menggunakan analisis deskriptif untuk mengidentifikasi karakteristik sentra baik komponen PEL maupun karakteristik klaster, analisis linkage system, analisis potensi masalah, menganalisis perkembangan sentra-klaster dengan menggunakan penilaian skala likert, dan analisis potensi ekonomi wilayah menggunakan analisis location quotient (LQ) dan shift share. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sentra agroindustru dengan menggunakan metode analisis multivariat faktor dengan bantuan software SPSS Menyusun strategi pengembangan dengan menggunakan metode analisis alternatif strategi SWOT dan strategi pengembangan dalam posisi kuadran IFAS-EFAS. Menyusun arahan pengembangan (fisik spasial) sentra agroindustri Kerajinan Mendong Kabupaten Malang Populasi penelitian dalam penelitian ini adalah seluruh unit usaha sentra agroindustri kerajinan mendong Kabupaten Malang yang berjumlah 732 unit usaha yang tersebar di delapan desa (Disperindag dan Pasar Kabupaten Malang, 2009). Sampel ditentukan dengan metode Slovin (Bungin, 2006) sehingga diperoleh 88 sampel. Agar sampel lebih merata di tiap desa, digunakan teknik acak terlapis (stratified random sampling) (Prasetyo, 2007:130) sehingga persebaran sampel tiap desa adalah: Patokpicis (7 responden), Blayu (28 responden), Sukolilo (4 responden), Kidangbang (3 responden), Sukoanyar (2 responden), Wajak (5 responden), Ngembal (6 responden), dan Jambesari (33 responden) HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Karakteristik Sentra Agroindstri Kerajinan Mendong Kabupaten Malang Sentra Agroindustri Kerajinan Mendong Kabupaten Malang merupakan salah satu sentra agroindustri yang cukup potensial di Kabupaten Malang, berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten

32

Jurnal Tata Kota dan Daerah Volume 2, Nomor 2, Desember 2010

Fellan Fatih Abdillah, Surjono, Gunawan Prayitno

Malang tahun 2008, diketahui bahwa nilai produksi yang dihasilkan oleh sentra agroindustri Kerajinan Mendong tersebut mencapai Rp. 3,48 milyar, desa yang memiliki nilai produksi tertinggi yaitu Desa Blayu yang mencapai Rp. 1,91 milyar, untuk lebih jelasnya tentang kapasitas produksi dapat dilihat pada tabel 1 berikut.
Tabel 1. Kapasitas Produksi Sentra Agroindustri Kerajinan Mendong
No 1 2 3 4 5 6 7 8 Desa Patokpicis Blayu Sukolilo Kidangbang Sukoanyar Wajak Ngembal Jambesari Jumlah Nilai Produksi (Rp. 000) 328.500 1.911.000 226.800 158.400 135.000 234.000 324.900 162.910 3.481.510

Sumber: Disperindag dan Pasar Kabupaten Malang, 2009

a. Kegiatan Produksi Mendong (fimbristylis globulosa) merupakan famili dari cperaceae yang digolongkan sebagai rumput semu (terna) yang berlempeng dan mampu menyesuaikan diri terhadap genagan air selama musim hujan. Mendong memiliki beberapa kelebihan antara lain tahan terhadap air dan tidak dapat dimakan oleh hama seperti rayap. Mendong yang telah dipipihkan dapat digunakan untuk bahan pembuatan kerajinan anyaman dan usaha kerajinan lainnya. Usaha produksi kerajinan mendong merupakan usaha turuntemurun yang dilakukan oleh penduduk pada wilayah studi, pada mulanya proses produksi tikar adalah dengan cara menganyam, tetapi saat ini pengrajin telah menggunakan proses penenunan untuk memproduksi tikar mendong. Pembuatan tikar mendong tenun melalui 8 tahap, yaitu antara lain: (1) Pemilihan mendong, (2) Pemotongan mendong, (3) Pemipihan mendong, (4) Pewarnaan mendong, (5) Penjemuran di bawah sinar matahari, (6) Penenunan mendong menjadi tikar, (7) Penjahitan bagian tepi tikar, (8) Pengepakan dan pemasaran tikar. b. Karakteristik Komponen PEL Material 1) Lahan Dari 88 pengrajin yang menjadi obyek penelitian, maka didapatkan atau 6 responden memiliki luas lahan yang digunakan dalam proses produksinya lebih dari 10 m2, 26 responden memiliki lahan seluas antara 6-10 m2, 53 responden memiliki luas lahan antara 2-6 m2, dan 3 responden tidak memiliki lahan.

2) Bangunan Dari 88 pengrajin yang menjadi obyek penelitian, didapatkan 5 responden memiliki luas bangunan di atas 10 m2, 33 responden memiliki luas bangunan antara 6-10 m2, dan 50 responden memiliki luas antara 2-6 m2. 3) Jarak terhadap pasar Dari 88 responden, sebagian besar responden menyaakan bahwa jarak terhadap pasar cukup jauh dikarenakan aksesibilitas/ kondisi jalan. Dari 88 responden, hampir 95% memiliki jarak terhadap pasar lebih dari 1 km, karena kondisi perkerasan jalan yang berupa makadam dan tanah, jarak tersebut harus diakses para pengrajin dengan berjalan kaki. 4) Infrastruktur penunjang Seluruh wilayah studi telah terlayani oleh jaringan listrik PLN, dan dari 88 responden yang diteliti, seluruhnya tidak memiliki keluhan terhadap pelayanan listrik. Tidak semua responden memiliki sambungan telepon, dari 88 responden yang diteliti, terdapat 19 responden yang telah menggunakan sambungan telepon. Prasarana jalan yang terdapat pada wilayah studi terdiri dari jalan aspal, jalan makadam, dan jalan tanah. Dari 88 responden yang diteliti, 10 responden memiliki tempat usaha yang dilewati jalan aspal, 53 responden memiliki tempat usaha yang dilewati jalan makadam, dan 25 responden memiliki tempat usaha yang dilewati jalan tanah 5) Bahan baku Bahan baku yang digunakan dalam produksi seluruhnya berasal dari dalam wilayah sentra. Sawah mendong terletak di Desa Wajak, Sukoanyar, dan Blayu. Bahan baku dari wilayah sentra melimpah sehingga diekspor hingga ke luar wilayah sentra seperti ke Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat.

(Hu)manpower 1) Ketrampilan Seluruh tenaga kerja pada unit usaha kerajinan mendong pada umumnya adalah tenaga terampil. Tenaga kerja pada kerajinan mendong dapat melakukan semua proses produksi baik mulai dari proses pemipihan, proses pewarnaan, hingga proses penenunan dan penjahitan. 2) Jumlah tenaga kerja Dari 88 responden/unit usaha yang diteliti didapatkan jumlah tenaga kerja yang dimiliki adalah 130 tenaga kerja. Dari 130 orang tersebut, 73 tenaga kerja berjenis kelamin wanita, dan 57 tenaga kerja berjenis kelamin pria. 3) Tingkat pendidikan Tingkat pendidikan rata-rata pada responden pada Sentra Agroindustri Kerajinan Mendong sebagian besar merupakan tamatan SD. Dari 88 responden, yang tidak pernah bersekolah dan
33

Jurnal Tata Kota dan Daerah Volume 2, Nomor 2, Desember 2010

PENGEMBANGAN SENTRA AGROINDUSTRI KERAJINAN MENDONG KABUPATEN MALANG DENGAN PENDEKATAN PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL

tidak lulus SD adalah 13 responden, yang memiliki tingkat pendidikan lulusan SD/sederajat adalah 35 responden, yang memiliki tingkat pendidikan SMP/sederajat adalah 23 responden, yang memiliki tingkat pendidikan SMA/sederajat adalah 17 responden, dan tidak ada responden yang memiliki tingkat pendidikan Perguruan Tinggi. 4) Kapasitas diklat Para pengrajin pada Sentra Agroindustri Kerajinan Mendong pada umumnya memperoleh keterampilan dalam mengerjakan proses pembuatan tikar secara turun-temurun. Hasil dari wawancara terhadap responden dan terhadap perangkat desa, diketahui bahwa pada Sentra Agroindustri tersebut tidak pernah diadakan pelatihan khusus tentang usaha agroindustri. Market 1) Sistem pemasaran Sistem pemasaran yang digunakan dalam memasarkan produk tikar mendong oleh pengrajin adalah melalui sistem tengkulak. Masing-masing desa pada wilayah studi memiliki tengkulak kecuali desa Jambesari.

Gambar 1. Aliran Pemasaran Produk Sentra

Management 1) Struktur organisasi Padamasing-masing unit usaha tidak terdapat struktur organisasi yang jelas dalam unit usaha tersebut, dan juga tidak terdapat pembagian tugas yang jelas kepada masing-masing tenaga kerja yang ada pada unit usaha tersebut. 2) Penelitian dan pengembangan Tidak terdapat fungsi penelitian dan pengembangan (litbang) yang jelas pada masingmasing unit usaha. Inovasi yang pernah dilakukan oleh pengrajin mendong yaitu bergantinya para pengrajin dari membuat tikar dengan cara menganyam, ke proses pembuatan tikar dengan cara menenun. 3) Badan hukum Unit-unit usaha kerajinan mendong yang berada pada wilayah studi tidak memiliki badan hukum, atau belum memiliki izin usaha, namun keberadaan sentra agroindustri tersebut berada di bawah binaan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Malang melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar.
34

Money 1) Modal pribadi Para pengrajin mendong yang ada pada wilayah studi pada umumnya menggunakan modal pribadi. Dari 88 responden yang diteliti, seluruh responden menggunakan modal pribadi untuk menjalankan usahanya. Besarnya modal yang dikeluarkan untuk tiap ikat mendong yang digunakan yaitu Rp. 94.000,00 (jika mendong yang digunakan memiliki kualitas baik yaitu dengan harga Rp. 70.000,00 s/d Rp.80.000,00 tiap ikat). Jika dalam satu minggu mendong yang digunakan 3 ikat, maka modal yang dikeluarkan untuk produksi selama satu minggu yaitu Rp. 220.000,00 hingga Rp. 230.000,00. 2) Modal pinjaman Berdasarkan hasil wawancara, para pengrajin pada umumnya enggan menggunakan pinjaman/kredit dikarenakan keuntungan yang diterima oleh para pengrajin tidak selalu pasti. 3) Lembaga permodalan Lembaga permodalan yang ada pada wilayah studi terdiri dari Lembaga Keuangan Mikro Informal, Koperasi Unit Desa (KUD), Koperasi Simpan Pinjam (KSP), Bank Umum (BRI) dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Fasilitas kredit yang disediakan oleh lembaga permodalan yang ada pada wilayah studi adalah kredit simpan pinjam, dan kredit usaha kecil. 4) Subsidi/ bantuan pemerintah Berdasarkan hasil wawancara, didapatkan data bahwa pada Sentra Agroindustri Kerajinan Mendong belum pernah mendapat subsidi atau bantuan dari pemerintah, baik bantuan yang berupa peralatan/barang, maupun yang berupa uang/kredit. c. Karakteristik Klaster Berdasarkan Departemen Koperasi dan UKM, tahun 2003, sentra agroindustri Kerajinan Mendong Kabupaten Malang memiliki karakteristik antara lain: Karakteristik Internal 1) Terdapat konsentrasi/pengelompokan spasial dalam sentra, konsentrasi spasial ini berdekatan pada masing-masing desa karena pada umumnya unit-unit usaha merupakan tetangga. 2) Terdapat interaksi antar unit usaha dalam sentra. Interaksi yang paling sering dilakukan terlihat ketika terjadi saling pinjam bahan baku antar unit usaha ketika kekurangan bahan baku. 3) Terdapat kombinasi SDA dan kompetensi antar unit usaha dalam sentra. Kombinasi SDA dan kompetensi yang terdapat dalam

Jurnal Tata Kota dan Daerah Volume 2, Nomor 2, Desember 2010

Fellan Fatih Abdillah, Surjono, Gunawan Prayitno

sentra bersifat alami dan telah berlangsung lama 4) Tidak/ belum terdapat institusi bersama dalam sentra. Masing-masing unit usaha berjalan tanpa institusi yang dimiliki untuk kepentingan bersama. Karakteristik Eksternal 1) Belum terdapat spesialisasi dari masingmasing unit usaha dalam sentra. 2) Kualitas dan daya saing yang dimiliki oleh produk kerajinan mendong bersifat konvensional. 3) Sentra telah memiliki identitas yang telah diakui oleh pemerintah daerah maupun oleh masyarakat dalam hal ini sebagai pembeli. Untuk menganalisis perkembangan sentra klaster, maka dilakukan penilaian dengan skala likert seperti pada tabel 2 berikut.
Tabel 2. Penilaian Klaster
Karakteristik Konsentrasi spasial antar unit usaha Interaksi antar unit usaha Kombinasi sumber daya dan kompetensi Institusi pendukung/ bersama Spesialisasi

Gambar 2. Jaring laba-laba karakteristik klaster

Skala
1 Tidak ada

Likert
Skor 2

Karakteristik
3 Ada berdekatan Ada, komitmen sentra Ada, komitmen sentra Ada, komitmen sentra Ada, komitmen sentra Diatas ratarata produk sejenis Ada, kuat

Ada, renggang Ada,

Tidak ada

Tidak ada

Ada, alami, tidak jelas,

Tidak ada

Ada,

d. Potensi Ekonomi Wilayah Untuk mengetahui potensi Ekonomi Wilayah untuk Sentra Agroindustri Kerajinan Mendong digunakan dua metode yaitu metode shift share dan metode location quotient (LQ). Data yang digunakan adalah PDRB Kabupaten Malang dan Propinsi Jawa Timur Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) tahun 2004-2007. Berdasarkan analisis LQ, diketahui bahwa LQ produk (dengan pendekatan sektor industri subsektor industri barang lainnya) bernilai 0,83 pada tahun 2007. Pertumbuhan LQ dari tahun ke tahun terus meningkat, mulai tahun 2004 (LQ=075), tahun 2005 (LQ=0,79), tahun 2006 (LQ=0,80) dan tahun 2007 (LQ=0,83). Pertumbuhan nilai LQ mengindikasikan bahwa produk memiliki potensi untuk dikembangkan meskipun saat ini masih belum berpotensi ekspor (LQ>1). Berdasarkan analisis shift-share dengan data yang sama didapatkan bahwa: Angka Cij yaitu pengaruh keunggulan kompetitif (differential shift) subsektor barang lainnya di Kabupaten Malang terhadap subsektor yang sama di Jawa Timur, bernilai 2.850,23, hal ini menunjukkan bahwa subsektor yang dimaksud di Kabupaten Malang kompetitif terhadap sektor yang sama di Propinsi Jawa Timur. Angka Mij yaitu pengaruh bauran industri (industry mix) atau proportional share bernilai -1.257,50 yang berarti pertumbuhan subsektor barang lainnya di Kabupaten Malang lebih kecil dari pada pertumbuhan subsektor yang sama di Propinsi Jawa Timur. Angka Nij yaitu peranan pertumbuhan ekonomi subsektor barang lainnya di Propinsi Jawa Timur terhadap subsektor yang sama di Kabupaten Malang bernilai 5.398,76. Angka Dij yang positif menunjukkan bahwa selama kurun waktu empat tahun (yaitu tahun 2004 s/d 2007) sektor sentra agroindustri mengalami pertambahan nilai absolut atau mengalami kenaikan kinerja perekonomian daerah, yaitu sebesar 6.488,97.
35

Tidak ada

Ada, alami, Rata-rata produk sejenis Ada, lemah

Daya saing Identitas produk sentra

Tidak ada Tidak ada

Sumber: Departemen Koperasi dan UKM, 2003 dimodifikasi

Berdasarkan hasil penilaian tersebut, karakteristik yang meiliki nilai 1 masih belum membentuk suatu klaster sehingga masih berupa sentra, karakteristik yang telah memiliki nilai 2 sebenarnya telah memiliki karakteristik klaster, namun butuh pengembangan lebih lanjut, sedangkan karakteristik yang memiliki nilai 3 berarti telah menjadi klaster yang mapan. Untuk lebih mudahnya dapat dilihat pada gambar 2 berikut ini.

Jurnal Tata Kota dan Daerah Volume 2, Nomor 2, Desember 2010

PENGEMBANGAN SENTRA AGROINDUSTRI KERAJINAN MENDONG KABUPATEN MALANG DENGAN PENDEKATAN PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL

e. Sistem keterkaitan (linkage system) Analisis linkage system dibagai menjadi dua yaitu analisis keterkaitan ke belakang (backward linkage) dan analisis keterkaitan ke depan (forward linkage). Dalam analisis keterkaitan ke belakang, faktor yang diamati adalah tenaga kerja, nilai bahan baku, dan nilai peralatan. Adapun pola penyerapan tenaga kerja, bahan baku, dan peralatan dapat dilihat pada tabel 3 dan 4.
Tabel 3. Pola Penyerapan Tenaga Kerja
No 1 2 3 4 5 6 7 8 Desa Patokpicis Blayu Sukolilo Kidangbang Sukoanyar Wajak Ngembal Jambesari Jumlah jumlah Unit Usaha 57 232 30 23 19 41 50 280 732 Jumlah Tenaga Kerja 73 330 46 30 29 52 74 280 914

Sumber: Disperindag dan Pasar Kabupaten Malang, 2009 Tabel 4. Pola Penyerapan Bahan Baku dan Peralatan
No Nilai Bahan Baku Nilai Peralatan (Rp. 000) (Rp. 000) 1 Patokpicis 219.000 37.425 2 Blayu 1.035.000 109.875 3 Sukolilo 156.600 31.000 4 Kidangbang 97.200 19.200 5 Sukoanyar 94.500 17.550 6 Wajak 154.960 36.010 7 Ngembal 220.620 42.080 8 Jambesari 109.629 6.350 Jumlah 2.087.509 299.590 Desa

Sumber: Disperindag dan Pasar Kabupaten Malang, 2009

Dalam analisis keterkaitan ke depan faktorfaktor yang diamati adalah nilai produksi yang dihasilkan, dan pemasaran dari tikar mendong. Pemasaran tikar mendong terpusat di Pasar Wajak, sedangkan aliran pemasaran produk hingga ke luar kota (Jember, Tulungagung, Gresik, dan Surabaya). Adapun untuk nilai produksi dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Nilai Produksi Tikar Mendong Nilai Produksi No Desa (Rp. 000) 1 Patokpicis 328.500 2 Blayu 1.911.000 3 Sukolilo 226.800 4 Kidangbang 158.400 5 Sukoanyar 135.000 6 Wajak 234.000 7 Ngembal 324.900 8 Jambesari 162.910 Jumlah 3.481.510 Sumber: Disperindag dan Pasar Kabupaten Malang, 2009 36

f. Potensi dan Permasalahan Berdasarkan analisis yang telah dikerjakan sebelumnya, maka potensi dan permasalahan yang ada pada Sentra Agroindustri Kerajinan Mendong Kabupaten Malang adalah sebagai berikut: Potensi: Bangunan yang digunakan tersedia Bahan baku melimpah dengan akses mudah Tenaga kerja terampil Jumlah tenaga kerja mencukupi Modal yang digunakan adalah modal pribadi Terdapat berbagai lembaga permodalan Terdapat program pemerintah yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan usaha Konsentrasi spasial tinggi Interaksi antar unit usaha tinggi Identitas sentra telah dikenal baik Permasalahan: Lahan yang digunakan terbatas Jarak menuju pasar jauh terutama untuk Desa Jambesari Aksesibilitas kurang memadahi (kondisi jalan) Tingkat pendidikan rendah Kapasitas pendidikan dan pelatihan rendah Sistem pemasaran didominasi tengkulak Belum adanya struktur organisasi Belum tersedianya litbang Belum memiliki badan hukum Belum berani untuk meminjam modal Belum terdapat kombinasi kompetensi Belum terdapat institusi bersama dalam sentra Belum terdapat spesialisasi dalam sentra Kualitas dan daya saing produk konvensional 2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sentra Agroindustri Kerajinan Mendong Kabupaten Malang Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja dan seberapa besar pengaruh faktor tersebut terhadap perkembangan sentra, digunakan analisis statistik multivariat, yaitu analisis faktor. Analisis ini digunakan dengan bantuan software SPSS. Hasil analisis faktor awal menunjukkan bahwa dari 24 variabel yang diuji, terdapat 22 variabel yang dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut, yaitu: lahan produksi, bangunan produksi, jarak terhadap pasar, ketersediaan infrastruktur, jumlah bahan baku, ketrampilan, jumlah TK, pemasaran, struktur organiasasi, litbang, badan hukum, modal, pinjaman, lembaga permodalan, subsidi, konsentrasi spasial, interaksi, kombinasi kompetensi, institusi bersama, spesialisasi, daya saing, dan identitas. Berdasarkan hasil analisis faktor didapatkan enam kelompok faktor yang mempengaruhi perkembangan sentra. Faktor-faktor tersebut

Jurnal Tata Kota dan Daerah Volume 2, Nomor 2, Desember 2010

Fellan Fatih Abdillah, Surjono, Gunawan Prayitno

dikelompokkan berdasarkan besarnya varian (eigenvalue) yang dimiliki oleh masing-masing komponen tersebut. Adapun enam kelompok faktor tersebut adalah: Faktor 1, diberi nama faktor sumber daya dasar yang terdiri dari lahan produksi, bangunan produksi, jarak terhadap pasar, ketersediaan infrastruktur, jumlah bahan baku, ketrampilan, pemasaran, modal, konsentrasi spasial, dan interaksi. Faktor 2, diberi nama faktor kelembagaan pendukung yang terdiri dari struktur organisasi, ltbang, badan hukum, dan kombinasi kompetensi. Faktor 3, diberi nama faktor kelompok untuk spesialisasi yang terdiri dari institusi bersama dan spesialisasi. Faktor 4, diberi nama faktor investasi yang terdiri dari pinjaman, dan lembaga permodalan. Faktor 5, diberi nama faktor tenaga kerja dan daya saing yang terdiri dari tenaga kerja dan daya saing. Faktor 6, diberi nama faktor subsidi yang tediri dari subsidi, dan identitas. Dalam analisis faktor juga dihasilkan nilai rotasi faktor dan nilai varian tiap-tiap variabel yang dapat digunakan untuk pembobotan pada analisis strategi lebih lanjut. 3. Strategi dan Konsep Pengembangan Sentra Agroindustri Kerajinan Mendong Kabupaten Malang. a. Strategi Pengembangan Untuk menghasilkan strategi pengembangan digunakan analisis alternatif strategi SWOT dan analisis kuadran IFAS-EFAS. Pada analisis alternatif strategi SWOT, potensi dan permasalahan yang didapatkan pada analisis sebelumnya diklasifikasikan menjadi komponen kekuatan (S), kelemahan (W), peluang (O), dan ancaman (T), kemudian alternatif strategi didapatkan dengan memadukan komponen internal (S dan W) dan komponen eksternal (W dan T), sihingga diperoleh kombinasi strategi SW, S-O, W-T, dan W-O. Dalam strategi kuadran IFAS-EFAS, masingmasing komponen SWOT diberikan bobot dan rating, bobot didapatkan dari nilai rotasi faktor yang dikalikan dengan nilai varian (eigenvalue). Sedangkan rating diperoleh dari hasil penilaian terhadap variabel-variabel yang diuji. Hasil pembobotan dan penilaian selanjutnya dijumlahkan untuk masing-masing komponen SWOT kemudian dicari selisih antara komponen internal (S dan W), dan selisih antara komponen eksternal (O dan T). Selisih komponen internal kemudian menjadi nilai sumbu x (nilai=0,44), dan

hasil selisih komponen eksternal selanjutnya menjadi nilai sumbu y (nilai=0,35), sehingga pada kuadran IFAS-EFAS, didapatkan posisi sentra pada kuadran IVB seperti diperlihatkan oleh gambar 3 berikut. Dalam gambar 3 dapat diketahui bahwa sentra agroindustri Kerajinan Mendong berada pada Kuadran IVB dengan strategi diversifikasi konglomerasi (Conglomerate diversification strategy). Pada kuadran IVB, lingkungan eksternal yang dihadapi oleh sentra agroindustri lebih banyak menyediakan ancaman, namun keunggulan yang dimiliki oleh sentra agroindustri Kerajinan Mendong lebih besar dari pada ancaman yang dihadapi (S-W > O-T).

Gambar 3 Posisi Sentra dalam Kuadran IFAS-EFAS

Alternatif strategi yang dapat dijadikan masukan adalah strategi S-T karena strategi S-T merupakan strategi untuk memanfaatkan kekuatan/keunggulan yang dimiliki untuk menghindari atau meminimalisir dampak dari ancaman yang ada. Adapun alternatif strategi S-T adalah sebagai berikut: 1. Peningkatan ketrampilan pengusaha dalam hal diversifikasi produk dan pemasaran 2. Pemanfaatan jumlah TK yang ada untuk fungsi manajerial dan pemasaran 3. Peningkatan kualitas bahan baku untuk mendukung spesialisasi produk 4. Peningkatan ketrampilan untuk menunjang spesialisasi produk 5. Pendistribusian tenaga kerja pada diversifikasi fungsi dalam usaha 6. Peningkatan kerjasama antar unit usaha 7. Diversivikasi dan inovasi produk 8. Peningkatan ketrampilan TK untuk diversifikasi fungsi dalam usaha b. Konsep Pengembangan Konsep pengembangan Sentra Agroindustri Kerajinan Mendong Kabupaten Malang pada dasarnya adalah penjabaran upaya menghindari ancaman dengan memanfaatkan keunggulan yang dimiliki, konsep pengembangan
37

Jurnal Tata Kota dan Daerah Volume 2, Nomor 2, Desember 2010

PENGEMBANGAN SENTRA AGROINDUSTRI KERAJINAN MENDONG KABUPATEN MALANG DENGAN PENDEKATAN PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL

dititikberatkan pada spesialisasi, pemasaran, dan peningkatan daya saing. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut: 1. Spesialisasi Konsep pengembangan spesialisasi dapat dilihat pada tabel 6 berikut.
Tabel 6. Konsep Pengembangan Spesialisasi
Kondisi Eksternal Belum terdapatny a spesialisai produk Potensi yang dimiliki Bahan Baku Ketrampilan Tenaga Kerja Konsentrasi Spasial Interaksi antar perusahaan Konsep pengembangan Peningkata n kualitas rantai produksi, misal dengan menambah rantai produksi Peningkata n kapasitas pelatihan yang dimiliki oleh pengusaha/ pengrajin agar lebih terarah pada efisiensi produksi Membentu k sebuah institusi bersama untuk menindaklanjuti adanya konsentrasi spasial dan interaksi antar unit usaha dalam sentra

Kondisi Eksterna l

Potensi yang dimiliki

Konsep pengembangan

struktur organisasi bersama dalam sentra

3. Peningkatan Daya Saing Pada dasarnya peningkatan daya saing adalah dampak langsung dari usaha spesialisasi dan pemasaran. Konsep peningkatan daya saing dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8. Konsep Peningkatan Daya Saing
Kondisi Potensi yang Konsep pengembangan Eksternal dimiliki Rendahnya Bahan Peningkatan kualitas Baku bahan baku, kualitas daya mengoptimalkan hasil saing dan Ketrampila n pada mendong kualitas ancaman Tenaga baik. (mendong yang bergesernya Kerja dihasilkan memiliki dua permintaan jenis, yaitu mendong konsumen akan kualitas baik dan kualitas nomor dua) tikar mendong Mengadakan berbagai ke tikar plastik pelatihan peningkatan ketrampilan pengusaha untuk kemampuan inovasi produk, manajerial, penelitian dan pengembangan Kerjasama dengan berbagai pihak (investor baik domestik maupun luar negeri) dalam hal ini pemerintah seharusnya bertindak aktif sebagai fasilitator dan katalisator.

2. Pemasaran Konsep pengembangan dilihat pada tabel 7 berikut.


Kondisi Eksterna l Pemasara n dan harga yang dikendali kan oleh tengkulak Potensi yang dimiliki Ketr ampilan pengrajin Jum lah Tenaga Kerja Terd apat jaringan pemasaran tingkat regional (saat ini masih merupakan aliran pemasaran bahan baku)

pemasaran

dapat

Tabel 7. Konsep Pengembangan Pemasaran


Konsep pengembangan Merencanakan jangkauan pemasaran dengan baik, dan mempersiapkan sarana dan prasarana penunjang pemasaran, Memangkas jalur birokrasi pemasaran dan mempermudah aliran pemasaran dengan meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak Mengadakan berbagai pelatihan peningkatan ketrampilan pengusaha untuk kemampuan manajerial, pemasaran, penelitian dan pengembangan Mendistribusika n tenaga kerja yang ada untuk berbagai fungsi termasuk pemasaran dan penelitian pengembangan melalui

4. Arahan Pengembangan Fisik Spasial Sentra Agroindustri Kerajinan Mendong a. Struktur Tata Ruang Kawasan Sentra Agroindustri Kerajinan Mendong Dalam menganalisis struktur tata ruang kawasan sentra, digunakan metode sistem keterkaitan (linkage system), yaitu penilaian terhadap komponen backward linkage yang meliputi tenaga kerja, bahan baku, dan peralatan, dan komponen forward linkage yaitu produksi. Berdasarkan penilaian terhadap komponenkomponen tersebut, maka diperoleh pusat produksi berada di Desa Blayu, desa lainnya merupakan sub pusat produksi. Untuk penilaian komponen dapat dilihat pada tabel 9 berikut.
Tabel 9. Penilaian Komponen Struktur Tata Ruang Jumlah nilai * Desa Produksi Fungsi bobot Patokpicis 29,636 Sub Pusat Blayu 111,75 Pusat Sukolilo 29,636 Sub Pusat Kidangbang 29,636 Sub Pusat Sukoanyar 29,636 Sub Pusat Wajak 29,636 Sub Pusat

38

Jurnal Tata Kota dan Daerah Volume 2, Nomor 2, Desember 2010

Fellan Fatih Abdillah, Surjono, Gunawan Prayitno Jumlah nilai * bobot 29,636 33,336

Desa Produksi Ngembal Jambesari

Fungsi Sub Pusat Sub Pusat

Sebagai desa pusat produksi sentra, Desa Blayu dikembangkan sebagai desa yang dapat melayani desa-desa lainnya sebagai sub pusat dalam fungsi produksi, fungsi litbang, fungsi manajerial, dan fungsi-fungsi lainnya. i. Area Pengembangan Produksi Berdasarkan konsep Tata Ruang Kawasan Sentra Agroindustri (KSA) Soemarno (2006:351), dalam Kawasan Sentra Agroindustri, fungsifungsi kawasan yang harus dimiliki oleh Kawasan Sentra Agroindustri antara lain: 1. Area Pengembangan (development area), merupakan area yang terdapat unit-unit usaha produksi di dalamnya 2. Area pemasaran (market area), merupakan area untuk fungsi pemasaran produk dan sebagai fungsi transit produk dan bahan baku yang akan diekspor ke luar wilayah sentra. Berdasarkan kedekatan spasial desa produksi, maka diperoleh tiga area pengembangan dan satu area pemasaran yaitu 1. Area pengembangan Blayu: Desa Blayu dan Patokpicis 2. Area pengembangan Sukoanyar: Desa Sukoanyar, Kidangbang, dan Sukolilo 3. Area pengembangan Jambesari: Desa Ngembal dan Jambesari 4. Area pemasaran: Desa Wajak, Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 4

pusat manajerial, penelitian dan pengembangan produk 2. Area Pengembangan Sukoanyar Area ini difungsikan sebagai area produksi kerajinan mendong untuk lebih kepada implikasi diversifikasi produk sentra, selain itu juga difungsikan untuk pelatihan tenaga kerja agroindustri. 3. Area Pengembangan Jambesari Area ini difungsikan sebagai area produksi karena memiliki SDM (tenaga kerja) yang cukup banyak. 4. Area Pemasaran Desa Wajak Area ini difungsikan sebagai pusat pemasaran produk maupun bahan baku Kerajinan Mendong, pusat pemasaran bahan baku dan produk yang akan diekspor (sebagai area transit), dan Area perdagangan di sepanjang Jalan Raya Wajak dan Jalan Panglima Sudirman difungsikan sebagai outlet-outlet pemasaran produk Kerajinan Mendong. j. Arahan Linkage Arahan linkage merupakan arahan perbaikan dan peningkatan fungsi jaringan jalan sarana angkutan dalam sentra agroindustri Kerajinan Mendong. Adapun arahan linkage yang ditentukan adalah sebagai berikut: 1. Peningkatan kualitas perkerasan jalan pada Desa Blayu, Desa Patokpicis, jalan penghubung Desa Sukolilo dan Desa Sukoanyar, jalan yang menghubungkan Area Pemasaran Wajak dengan Area Pengembangan Jambesari, dan jalan yang menghubungkan Desa Ngembal dan Desa Jambesari. 2. Peningkatan dimensi dan perkerasan jalan masuk menuju Pasar Mendong (di dalam Pasar Wajak. 3. Penataan parkir di badan jalan pada Jl Raya Wajak (depan Pasar Wajak) 4. Penataan pedagang di sekitar badan jalan pada jalan masuk menuju pasar mendong 5. Pengadaan angkutan khususnya angkutan barang pada jalan yang menghubungkan area pemasaran Wajak dengan masing-masing area pengembangan PENUTUP 1. Kesimpulan Berdasarkan komponen PEL (5M), karakteristik sentra antara lain lahan produksi, bangunan produksi, perkerasan jalan makadam, bahan baku melimpah, tenaga terampil, tenaga kerja tersedia, tingkat pendidikan SD, belum pernah mendapat pendidikan dan pelatihan, pemasaran didominasi tengkulak, belum ada
39

Gambar 4. Konsep penataan area pengembangan

Setelah area pengembangan ditentukan, maka selanjutnya adalah penentuan fungsi-fungsi area tersebut, adapun fungsi masing-masing area yang ditentukan adalah sebagai berikut: 1. Area Pengembangan Blayu Area ini difungsikan sebagai pusat sentra dan pusat produksi, selain itu juga sebagai

Jurnal Tata Kota dan Daerah Volume 2, Nomor 2, Desember 2010

PENGEMBANGAN SENTRA AGROINDUSTRI KERAJINAN MENDONG KABUPATEN MALANG DENGAN PENDEKATAN PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL

struktur organisasi, belum ada litbang, belum memiliki badan hukum, modal pribadi, belum ada kerjasama modal, terdapat lembaga permodalan. Karakteristik klaster yang dimiliki: konsentrasi spasial, interaksi, kombinasi kompetensi, dan identitas. Berdasarkan analisis faktor, terdapat 6 komponen faktor antara lain: faktor sumber daya dasar (lahan produksi, bangunan produksi, jarak terhadap pasar, ketersediaan infrastruktur, bahan baku, keterampilan, pemasaran, modal, konsentrasi spasial, dan interaksi), faktor kelembagaan pendukung (struktur organisasi, penelitian dan pengembangan, badan hukum, dan kombinasi kompetensi), faktor kelompok untuk spesialisasi (institusi bersama dan spesialisasi), faktor investasi (pinjaman dan lembaga permodalan), faktor tenaga kerja dan daya saing (tenaga kerja dan daya saing), dan faktor subsidi (subsidi dan identitas). Strategi pengembangan yang diterapkan adalah strategi diversifikasi konglomerasi. Konsep pengembangan sentra adalah meningkatkan daya saing sentra melalui perencanaan spesialisasi dan perencanaan pemasaran Pusat produksi adalah Desa Blayu dan desadesa lainnya sebagai sub pusatnya. Arahan area pengembangan yaitu: Area Pengembangan Blayu, Area Pengembangan Sukoanyar, Area Pengembangan Jambesari, dan Area Pemasaran Desa Wajak. Arahan linkage terdiri dari peningkatan kualitas perkerasan jalan pada Desa Blayu, Desa Patokpicis, jalan penghubung Desa Sukolilo dan Desa Sukoanyar, jalan penghubung Area Pemasaran Wajak dengan Area Pengembangan Jambesari, dan jalan penghubung Desa Ngembal dan Desa Jambesari, peningkatan dimensi dan perkerasan jalan masuk menuju Pasar Mendong, penataan parkir di badan jalan pada Jl Raya Wajak (depan Pasar Wajak), penataan pedagang di sekitar badan jalan pada jalan masuk menuju pasar mendong, pengadaan angkutan khususnya angkutan barang pada jalan yang menghubungkan area pemasaran Wajak dengan masing-masing area pengembangan. 2. Saran a. Agar penelitian dapat lebih komprehensif. perlu adanya arahan lebih lanjut tentang dunia usaha (enterprise), SDM, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat b. Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mengatasi permasalahan sistem transportasi dan penataan pasar khususnya di Jl Raya Wajak (depan Pasar Wajak).

c. Masyarakat hendaknya berperan aktif dalam pengembangan sentra agroindustri. d. Pemerintah hendaknya lebih aktif dalam upaya fasilitasi dan kerja sama dengan pihak swasta/ investor dalam pengembangan sentra agroindustri. Pemerintah khususnya Pemerintah Daerah Kabupaten Malang hendaknya lebih jeli dalam melihat dan mengembangkan potensi lokal guna memberi nilai tambah (multiplier effect), membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat, dan pada akhirnya menambah pendapatan daerah (PAD) Kabupaten Malang.

DAFTAR PUSTAKA
Bappekab Malang. 2009. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Malang 2006-2010 Blakely, E.J. 1989. Planning Local Economic Development: Theory and Practice Second Edition. London: Sage Publication. Bungin, Burhan. 2006. Metodologi Penelitian Kuantitatif: Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik serta Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Depkop dan UKM. 2003. Penumbuhan Klaster Agribisnis dalam Sentra UKM. http://www.smecda.com/kajian/files/hslkaj ian/kajian%20efektivitas%20model%20pe numbuhan%20klaster%20bisnis%20ukm/b ab_6.pdf (diakses 19 April 2009). Disperindag dan Pasar Kabupaten Malang. 2009. Profil Sentra IKM Kabupaten Malang 2008. Prasetyo, Bambang & Linna Miftahul Jannah. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Soemarno. 2006. Pengembangan IndustriAgrobisnis yang Mempunyai Potensi Di Jawa Timur. images.soemarno.multiply.com/attachment/0/Rg B8gAoKCpkAACiB3lE1/AGROINDUST RI.doc?nmid=22635697. (diakses 16 April 2009).

40

Jurnal Tata Kota dan Daerah Volume 2, Nomor 2, Desember 2010

Beri Nilai