P. 1
ELSDA Institute Annual Position Paper - Tracing Evil in Forestry Sector

ELSDA Institute Annual Position Paper - Tracing Evil in Forestry Sector

4.33

|Views: 1,202|Likes:
Dipublikasikan oleh Grahat Nagara
Hutan yang dieksploitasi oleh industri kehutanan ini tidak
dikelola secara lestari dan gagal mengatasi kemiskinan diwilayah yang kaya dengan hutan. Menurut Bank Dunia, Indonesia telah kehilangan hutan rata‐rata sebesar 2 juta hektar per tahun. Hutan yang rusak telah mencapai 59,2 juta hektar dari total 120 juta hektar kawasan yang diklaim sebagai kawasan hutan (Menteri Negara Lingkungan Hidup, Status
Lahan Hutan Indonesia 2006). Selain menghadapi bencana karena kerusakan hutan, rakyat Indonesia juga tidak menikmati keuntungan ekonomi yang diperoleh oleh para perusahaan dibidang kehutanan. Banyak perusahaan kehutanan yang selalu menyatakan rugi sehingga tidak pernah membayar pajak dan bahkan pada saat krisis keuangan karena jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap nilai dollar Amerika Serikat, perusahaan‐perusahaan kayu yang seharusnya menerima windfall profit dari tingginya nilai dollar secara beramai‐ramai menyatakan rugi dan tidak mampu membayar hutangnya. Disamping tidak menerima keuntungan dari kegiatan kehutanan diwilayahnya serta harus menghadapi bencana, penduduk yang berada disekitar hutan juga sering menjadi korban penegakan hukum yang tidak adil. Para penegak hukum Indonesia masih terpaku kepada memburu orang‐orang yang dapat dibuktikan di pengadilan melakukan proses perusakan hutan. Sehingga penyidikan yang mereka lakukan difokuskan lebih kepada adanya bukti kayu yang ditebang secara ilegal dan orang yang menebang serta membawa kayu ilegal tersebut. Orang yang memerintahkan (umumnya secara lisan) baik untuk melakukan penebangan,
pengangkutan, dan menadah kayu ilegal tersebut tidak pernah disentuh. Mereka yang menikmati keuntungan ekonomi dari bisnis menggunakan kayu ilegal tidak pernah terjerat hukum.
Hutan yang dieksploitasi oleh industri kehutanan ini tidak
dikelola secara lestari dan gagal mengatasi kemiskinan diwilayah yang kaya dengan hutan. Menurut Bank Dunia, Indonesia telah kehilangan hutan rata‐rata sebesar 2 juta hektar per tahun. Hutan yang rusak telah mencapai 59,2 juta hektar dari total 120 juta hektar kawasan yang diklaim sebagai kawasan hutan (Menteri Negara Lingkungan Hidup, Status
Lahan Hutan Indonesia 2006). Selain menghadapi bencana karena kerusakan hutan, rakyat Indonesia juga tidak menikmati keuntungan ekonomi yang diperoleh oleh para perusahaan dibidang kehutanan. Banyak perusahaan kehutanan yang selalu menyatakan rugi sehingga tidak pernah membayar pajak dan bahkan pada saat krisis keuangan karena jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap nilai dollar Amerika Serikat, perusahaan‐perusahaan kayu yang seharusnya menerima windfall profit dari tingginya nilai dollar secara beramai‐ramai menyatakan rugi dan tidak mampu membayar hutangnya. Disamping tidak menerima keuntungan dari kegiatan kehutanan diwilayahnya serta harus menghadapi bencana, penduduk yang berada disekitar hutan juga sering menjadi korban penegakan hukum yang tidak adil. Para penegak hukum Indonesia masih terpaku kepada memburu orang‐orang yang dapat dibuktikan di pengadilan melakukan proses perusakan hutan. Sehingga penyidikan yang mereka lakukan difokuskan lebih kepada adanya bukti kayu yang ditebang secara ilegal dan orang yang menebang serta membawa kayu ilegal tersebut. Orang yang memerintahkan (umumnya secara lisan) baik untuk melakukan penebangan,
pengangkutan, dan menadah kayu ilegal tersebut tidak pernah disentuh. Mereka yang menikmati keuntungan ekonomi dari bisnis menggunakan kayu ilegal tidak pernah terjerat hukum.

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: Grahat Nagara on Dec 12, 2008
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/25/2013

pdf

text

original

Sections

ELSDA  Institute 

 
 

02 
                                                                                                       

                                                                                                                           

ELSDA  Institute 

02 

    CATATAN AWAL TAHUN 2008 

Menelusuri Kejahatan   Bisnis Kehutanan 
  ELSDA Institute, Jakarta 
       

  Penulis 
  1. Triana Ramdhani, S.E., Financial Analyst  2. Albert Hasudungan, S.E., Financial Analyst  3. Zainal Arifin, S.H., Legal Analyst 

4.      

Grahat Nagara, S.H., Legal Analyst  

Diterbitkan Oleh:  Lembaga Ekonomi Lingkungan dan Sumber Daya Alam (ELSDA Institute)      Manggala Wanabakti Building IV/Room 509 A  Jl. Gatot Soebroto Jakarta Pusat, 10270, Indonesia  Telepon  Fax    ELSDA  Institute,  adalah  sebuah  lembaga  yang  terbentuk  atas  keprihatinan  terhadap  kondisi  sumberdaya  alam  Indonesia  saat  ini.  Kami membangun kekuatan dengan menggalang para professional di  bidang hukum dan akuntansi. Kekuatan kami bertumpu pada kedua  bidang  tersebut.  Dua  bidang  yang  selama  ini  dirasakan  belum  optimal  berperan  dalam  penyempurnaan  pengelolaan  lingkungan  dan sumberdaya alam yang lestari.    ISBN       Hak Cipta © ELSDA Institute, 2008  Cetakan Pertama, Februari 2008   Hak  cipta  dilindungi  Undang‐undang.  Dilarang  mengutip  atau  menyebarkan sebagian atau keseluruhan isi buku tanpa izin tertulis  dari penerbit.      : +6221‐5711309/ 57902778  : +6221‐5711309 

 

KATA PENGANTAR 
  Hutan adalah kekayaan rakyat Indonesia yang dikuasai oleh negara dan seharusnya  dipergunakan sebesar‐besarnya untuk kemakmuran rakyat. Pemerintah sebagai pemegang  kekuasaan  negara  telah  mengeluarkan  kebijakan  dibidang  kehutanan  dan  industri  kehutanan  yang  telah  menghasilkan  sebuah  industri  kehutanan  dengan  nilai  milyaran  dollar. Ekspor komoditi berbasis kayu telah mencapai rata‐rata US$ 5 milyar per tahun atau  sekitar  Rp.45  trilliun  per  tahun.    Bisnis  kehutanan  juga  menghasilkan  Penerimaan  Bukan  Pajak (PNBP) yang besar untuk Pemerintah Pusat.  Perusahaan kehutanan harus membayar  kurang  lebih  US$13,5  per  m3  untuk  setiap  kayu  yang  diambil  dari  hutan‐hutan  alam  dan  hutan tanaman yang dibiayai dari uang negara. Jika hutan telah memberikan kayu sebesar  60 juta m3 kayu setiap tahunnya kepada perusahaan kayu di Indonesia, Pemerintah Pusat  seharusnya  telah  menerima  PNBP  kehutanan  senilai  US$  810  juta  atau  setara  Rp.7,29  triliun  setiap  tahunnya.  Dana  kehutanan  ini  kemudian  bisa  digunakan  untuk  membangun  Indonesia khususnya daerah yang kaya dengan hutan.   Peran  ekonomi  kehutanan  ini  tidak  diragukan  lagi  telah  mengeluarkan  bangsa  Indonesia dari masa‐masa yang sulit pada era Orde Lama maupun Orde Baru. Bisnis hutan  telah  mendatangkan  devisa  yang  diperlukan  pemerintah  untuk  mengimpor  kebutuhan  pokok  seperti  beras  dan  menyelesaikan  hutang  PERTAMINA  yang  jika  tidak  ditanggulangi  dapat  menhancurkan  perekonomian  Indonesia.  Pertumbuhan  ekonomi  yang  dihasilkan  oleh  karena  sumbangan  devisa  dari  bisnis  hutan  ini  akhirnya  telah  berhasil  mengangkat  kualitas  hidup  sebagian  besar  bangsa  Indonesia.    Kemiskinan  dan  mahalnya  harga‐harga  barang  dapat  distabilkan  dengan  devisa  dari  hutan.  Hutan  kembali  berperan  menyelamatkan  bangsa  Indonesia    pada  saat  krisis  keuangan  pada  tahun  1997.  Perusahaan‐perusahaan  pulp  dan  plywood  dizinkan  terus  beroperasi  dengan  kapasitas  normalnya  untuk  menghasilkan  devisa  yang  dibutuhkan  untuk  menyelamatkan  perokomian  Indonesia.    Walaupun  untuk  mencapai  hal  ini  tidak  sedikit  biaya  yang  harus 

dibayar oleh rakyat Indonesia. Hutang‐hutang perusahaan ini yang bernilai triliuan rupiah  dihapuskan  oleh  pemerintah  dan  menjadi  beban  APBN  setiap  tahunnya.  Pemerintah  berhutang  miliaran  dollar  untuk  membiayai  penghapusan  hutang‐hutang  tersebut  yang  bunga serta cicilan hutangnya setiap tahun mencapai 30 persen dari total APBN.    Namun  sayangnya,  hutan  yang  dieksploitasi  oleh  industri  kehutanan  ini  tidak  dikelola secara lestari dan gagal mengatasi kemiskinan diwilayah yang kaya dengan hutan.   Menurut Bank Dunia, Indonesia telah kehilangan hutan rata‐rata sebesar 2 juta hektar per  tahun.  Hutan  yang  rusak  telah  mencapai  59,2  juta  hektar  dari  total  120  juta  hektar  kawasan yang diklaim sebagai kawasan hutan (Menteri Negara Lingkungan Hidup, Status  Lahan Hutan Indonesia 2006).  Selain menghadapi bencana karena kerusakan hutan, rakyat  Indonesia juga tidak menikmati keuntungan ekonomi yang diperoleh oleh para perusahaan  dibidang kehutanan. Banyak perusahaan kehutanan yang selalu menyatakan rugi sehingga  tidak pernah membayar pajak dan bahkan pada saat krisis keuangan karena jatuhnya nilai  tukar  rupiah  terhadap  nilai  dollar  Amerika  Serikat,  perusahaan‐perusahaan  kayu  yang  seharusnya  menerima  windfall  profit  dari  tingginya  nilai  dollar  secara  beramai‐ramai  menyatakan  rugi  dan  tidak  mampu  membayar  hutangnya.  Disamping  tidak  menerima  keuntungan  dari  kegiatan  kehutanan  diwilayahnya  serta  harus  menghadapi  bencana,  penduduk yang berada disekitar hutan juga sering menjadi korban penegakan hukum yang  tidak  adil.  Para  penegak  hukum  Indonesia  masih  terpaku  kepada  memburu  orang‐orang  yang  dapat  dibuktikan  di  pengadilan  melakukan  proses  perusakan  hutan.  Sehingga  penyidikan yang mereka lakukan difokuskan lebih kepada adanya bukti kayu yang ditebang  secara ilegal dan orang yang menebang serta membawa kayu ilegal tersebut. Orang yang  memerintahkan  (umumnya  secara  lisan)  baik  untuk  melakukan  penebangan,  pengangkutan,  dan  menadah  kayu  ilegal  tersebut  tidak  pernah  disentuh.  Mereka  yang  menikmati keuntungan ekonomi dari bisnis menggunakan kayu ilegal tidak pernah terjerat  hukum.   

Catatan  awal  tahun  ELSDA  Institute  ini  memberikan  hindsight  kepada  para  pembacanya  tentang  kenapa  peran  ekonomi  kehutanan  yang  besar  dalam  membatu  bangsa  Indonesia  keluar  dari  berbagai  krisis  ekonomi  sepanjang  40  tahun  ini  gagal  menyelesaiakan masalah yang fundamental di Indonesia, yaitu kemiskinan dan kelestarian  hutan.  ELSDA  Institute  melihat  praktek  akuntansi  perusahaan  kehutanan,  program  ekonomi  berbasis  lingkungan,  dan  penegakan  hukum  dibidang  kehutanan.    Analisis  atas  ketiga  persoalan  ini  dapat  memberikan  informasi  kepada  pembacanya  tentang  tanggung  jawab perusahaan kehutanan untuk lebih transparan dan akuntabel terhadap sumber kayu  yang  dipergunakan,  kewajiban  pembayaran  PNBP  kehutanan,  dan  investasi  dibidang  kehutanan  dan  social.  Analisis  ELSDA  juga  dapat  membantu  peningkatan  efektivitas  penegakan  hukum  atas  pelanggaran  hukum  yang  dilakukan  oleh  perusahaan  kehutanan  atau pejabat kehutanan yang seharusnya mengawasi perusahaan ini.    Informasi dan analisis yang dilakukan ELSDA Institute ini sangat diperlukan untuk membuat  hutan menjadi sumber daya alam untuk kemakmuran rakyat Indonesia secara keseluruhan  seperti yang dicita‐citakan oleh pendiri bangsa ini.      Bambang Setiono  Research Fellow   Forest and Governance Program  Center for International Forestry Research (CIFOR) 

     

DAFTAR ISI 
    KATA PENGANTAR    DAFTAR ISI     LAPORAN ANALISIS LAPORAN KEUANGAN  PERUSAHAAN KEHUTANAN 2007  ‐ Triana Ramdhani, S.E.    DEBT FOR NATURE SWAP TAMAN NASIONAL  DAN PELUANG KE DEPAN  ‐ Albert Hasudungan, S.E.    HUTAN HANCUR KORUPSI TUMBUH SUBUR  ‐ Muhamad Zainal Arifin, S.H.    MELIHAT UANG HARAM PERUSAK HUTAN   YANG KEBAL HUKUM  ‐ Grahat Nagara, S.H.    CATATAN  BADAN LAYANAN UMUM 2007  ‐     Triana Ramdhani, S.E.  79  53  21  13  1  vi  iii 

 

 

     

LAPORAN ANALISIS KEUANGAN  PERUSAHAAN KEHUTANAN 2007 
 

   
“Berbicara  tentang  perusahaan,  laporan  keuangan  merupakan  informasi  pengungkapan  secara  rinci  kondisi  keuangan  yang  berasal  dari  kegiatan  operasional  perusahaan.  Maka  sudah  seharusnya  fakta  yang  ada  di  perusahaan  terungkap dalam laporan keuangan.” 
     

Triana Ramdani, Financial Analyst 
           

 
 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 2 
 

2008 

PENDAHULUAN 
Sangat  ironis,  perkembangan  industri  kehutanan  yang  begitu  menguntungkan  tidak  sejalan  dengan  pengelolaan  lingkungan  yang  sustainable. Setelah mengeruk hasil kekayaan alam yang terkandung di dalam  hutan,  perusahaan‐perusahaan  kayu  begitu  saja  membiarkan  hutan  menjadi  gundul dan tidak bermanfaat sama sekali.  Secara  konservatif,  pabrik‐pabrik  yang  terkait  dengan  hutan  (bubur  kayu, kayu lapis, dan kayu gergajian) membutuhkan lebih dari 60 juta m3 kayu,  sementara  hutan  alam,  hutan  tanaman,  dan  hutan  masyarakat  hanya  dapat  memproduksi  secara  legal  dan  berkelanjutan  sekitar  20  juta  m3  kayu.1  Jika  kondisi  ini  dibiarkan  berlanjut,  kita  akan  kehilangan  dua  hal  sekaligus  yaitu  lingkungan  hidup  dan  SDA  serta  kekuatan  ekonomi  dari  perusahaan  berbasis  SDA.2      Berbicara  tentang  perusahaan,  laporan  keuangan  merupakan  informasi  pengungkapan  secara  rinci  kondisi  keuangan  yang  berasal  dari  kegiatan  operasional  perusahaan.  Maka  sudah  seharusnya  fakta  yang  ada  di  perusahaan  terungkap  dalam  laporan  keuangan.  Tapi  apa  yang  terjadi  pada  laporan  keuangan  perusahaan  yang  berbasis  SDA  khususnya  kehutanan?  Kondisi  hutan  yang  rusak  tidak  sama  sekali  terungkap  dalam  laporan  keuangannya. Tanya kenapa?  Seharusnya  pihak  berwenang  lah  yang  menyatakan  wajibnya  pengungkapan  kondisi  SDA  dalam  laporan  keuangan  bagi  perusahaan  yang  berbasis SDA. Harus dibuat standar atas pengungkapan kondisi SDA tersebut.  Saat  ini  aturan  mengenai  standar‐standar  penyusunan  laporan  keuangan  dinyatakan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK).                                                               
  Bambang  Setiono  dan  Yunus  Husein,  “Memerangi  Kejahatan  Kehutanan  dengan  Mendorong  Prinsip  Kehati‐ hatian Perbankan untuk Mewujudkan Pengelolaan Hutan yang  Berkelanjutan:  Pendekatan  Anti  Pencucian  Uang”,  CIFOR  Occasional Paper No. 44 (i), CIFOR, Bogor, 2005, hlm 4.  2   Bambang  Setiono  (CIFOR)  dan  Mulyadi  Noto  (ELSDA Institute), “Indikator dan Instrumen untuk Mendeteksi  Pengelolaan  Sumber  Daya  Alam  dan  Lingkungan  yang  Tidak  Berkelanjutan:  Pendekatan  Analisis  Keuangan”,  Diskusi  Panel  “Menghilangkan  Korupsi  dan  Pencucian  Uang  di  Bidang  Kehutanan”. ELSDA Institute, Jakarta, 31 Mei, 2007, hlm 1.  
1

 

     

Organisasi  IAI  (Ikatan  Akuntan  Indonesia)  merupakan  pihak  yang  berwenang dalam penentuan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)  bagi  perusahaan.  Standar‐standar  yang  ditetapkan  wajib  diterapkan  oleh  setiap perusahaan dalam penyusunan laporan keuangan sesuai dengan bidang  usahanya.  Maka  sudah  selayaknya  standar  yang  dibuat  bisa  benar‐benar  mewakili gambaran kegiatan dan keadaan dari perusahaan.   Khusus  untuk  Akuntansi  Kehutanan,  disinyalir  bahwa  tidak  memadainya  PSAK  32  yakni  tentang  Kehutanan,  mengakibatkan  perusahaan‐ perusahaan  kehutanan  dengan  mudah  untuk  tidak  mengungkapkan  hal‐hal  penting  mengenai  aktivitasnya.  Misalnya  untuk  jumlah  bahan  baku  yang  digunakan  selain  dilaporkan  dengan  satuan  moneter,  seharusnya  dilaporkan  juga  dengan  satuan  dari  bahan  baku  tersebut,  seperti  kayu  dengan  meter  kubiknya.  Jika  dalam  aturannya  memang  tidak  diwajibkan  untuk  dilaporkan,  maka  pihak  auditor  pun  sebagai  pemeriksa  laporan  keuangan  tidak  bisa  berbuat  apa‐apa.  Laporan  yang  disajikan  akan  tetap  benar  di  mata  auditor  karena  telah  sesuai  dengan  aturan  standar  yang  ditetapkan.  Padahal  dari  penjelasan  jumlah  bahan  baku  saja,  bisa  dengan  mudah  diketahui  apakah  perusahaan  kehutanan  terindikasi  melakukan  penyimpangan  seperti  illegal  logging  atau  tidak.  Dengan  PSAK  yang  memadai  niscaya  maraknya  kejahatan  kehutanan di kalangan perusahaan akan bisa dicegah.   Inisiatif  strategis  Akuntan  Indonesia  benar‐benar  ditunggu  guna  membantu mengoperasionalisasikan kebijakan perlindungan lingkungan hidup  yang  sudah  dan  akan  digariskan  pemerintah.  Deloitte  Touche  Tohmatsu  telah  memulai  tahun  2002  dengan  mengembangkan  Sustainablitiy  Reporting  Scorecard  untuk  pelaporan.  Selain  itu,  Global  Reporting  Initiative  (GRI)  juga  mengembangkan  indikator  kinerja  ekonomi,  lingkungan  hidup,  dan  sosial  sebagai  acuan  pelaporan  perusahaan.  Saat  ini,  indikator  tersebut  sudah  digunakan secara luas di 460 negara, di 45 negara sebagai best practices dalam  pelaporan,  yang  kemudian  dikembangkan  oleh  masing‐masing  negara  atau  bahkan oleh perusahaan yang bersangkutan.3 

                                                             
  Heli  Restiati,  “Mengintip  Kejahatan  Lingkungan  lewat Laporan Keuangan Perusahaan”, Biru Voice Tahun I (1),  1 November, 2007. 
3

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 4 
 

2008 

ATURAN IKATAN AKUNTAN INDONESIA 
Aturan  mengenai  penyusunan  laporan  keuangan  perusahaan  yang  bergerak  di  bidang  kehutanan  ditetapkan  pada  PSAK  32.  Namun,  sangat  disayangkan  karena  aturan  yang  ditetapkan  tidak  dapat  dikatakan  cukup  mewakili  atas  kegiatan  dan  keadaan  perusahaan.  Padahal  sesuai  dengan  pengertiannya yang dimaksud dengan laporan keuangan adalah ringkasan dari  seluruh aktivitas perusahaan dalam kurun waktu satu periode.  Dalam  PSAK  tersebut  tidak  dinyatakan  bahwa  perusahaan  harus  mengungkapkan  jumlah  dan  sumber  bahan  baku  yang  digunakan  dalam  bentuk  satuannya.  Pada  paragraf  11  PSAK  32  mengenai  Laporan  Laba  Rugi,  hanya dijelaskan ”Harga Pokok Penjualan harus disajikan masing‐masing untuk  kayu tebangan dan kayu olahan.”   Selain itu aturan‐aturan yang dimuat dalam PSAK 32 hanya mencakup  aturan  untuk  perusahaan  HPH  saja,  tidak  untuk  perusahaan  pulp  and  paper.  Sementara  perusahaan  pulp  and  paper  justru  yang  lebih  berbahaya  terhadap  pengelolaan  lingkungan  karena  banyak  menggunakan  zat‐zat  kimia  yang  bisa  merusak lingkungan. Tingkat produksi perusahaan HPH juga dapat tergantung  dari kebutuhan industri pulp and paper. 

KONTRIBUSI ELSDA 
Untuk  melihat  performa  dari  suatu  perusahaan  adalah  dengan  menganalisis  laporan  keuangannya.  Analisis  yang  digunakan  pun  bisa  bermacam‐macam  tergantung  dari  kebutuhan  si  analisnya.  Misalnya,  untuk  mengidentifikasi penyimpangan yang dilakukan perusahaan dalam pemenuhan  bahan  bakunya,  yang  harus  dilakukan  adalah  menganalisis  struktur  Harga  Pokok Penjualan (HPP), kegiatan HPH (Hak Pengusahaan Hutan), dan kapasitas  produksinya.  Selama  ini  perusahaan  tidak  lagi  bijak  dalam  melakukan  kegiatan  pemanfaatan SDA yang berkelanjutan. Dan belum ditemukan cara yang tepat  untuk mengidentifikasi ketidakpatuhan yang dilakukan oleh perusahaan dalam  eksploitasi hutan yang berkelanjutan, yang mengakibatkan kerugian negara.  

 

     

Atas keprihatinan terhadap kondisi di atas, ELSDA mencoba menyusun  beberapa  indikator  keuangan  yang  bisa  menjelaskan  penyimpangan  tersebut.  Dimana  meskipun  tetap  untuk  sebagian  unsur  menggunakan  asumsi,  paling  tidak bisa diketahui gambaran dari kegiatan perusahaan sebenarnya yang tidak  terungkap dalam laporan keuangan.   Adapun  indikator‐indikator  keuangan  yang  ditetapkan  adalah  Jumlah  dan  Sumber  Pemakaian  Bahan  Baku,  Jumlah  Pemakaian  Bahan  Perusak  Lingkungan,  Jumlah  Pembayaran  Pajak  dan  PNBP,  Arus  Kas  Keluar,  dan  Laba  Perusahaan.  Berdasarkan  analisis  keuangan  yang  dilakukan  atas  instrumen  tersebut,  sejumlah  indikator  umum  pengelolaan  SDA  dan  lingkungan  yang  tidak  berkelanjutan  yang  mengarah  pada  indikasi  penyimpangan  pengelolaan  kehutanan bisa diketahui.  Indikator  Jumlah  dan  Sumber  Pemakaian  Bahan  Baku  akan  memberikan indikasi tentang seberapa besar perusahaan telah mengeksplorasi  sumber  daya  alam.  Informasi  ini  berguna  untuk  menilai  seberapa  jauh  perusahaan telah menerapkan kebijakan pengelolaan SDA yang berkelanjutan.   Sementara  itu,  jumlah  pemakaian  bahan  perusak  lingkungan  adalah  indikator  seberapa  besar  perusahaan  telah  menggunakan  bahan‐bahan  kimia  dan  energi  yang  memberikan  kontribusi  kepada  pemanasan  global  dan  kerusakan air sungai dan lingkungan hidup lainnya. Termasuk dalam indikator  ini  adalah  jumlah  pemakaian  energi  untuk  pembangkit  listrik,  mercuri,  dan  bahan‐bahan racun lainnya.    Jumlah  Pembayaran  Pajak  dan  (PNBP)  yang  telah  dilakukan  oleh  perusahaan.  Jumlah  pembayaran  pajak  dan  PNBP  akan  memberikan  indikasi  tentang  konsistensi  antara  jumlah  SDA  yang  telah  diambil  oleh  perusahaan  dengan  total  kewajiban  perusahaan  kepada  negara  sebagai  akibat  eksploitasi  tersebut.  Perusahaan  yang  mendukung  kelestarian  SDA  secara  minimal  akan  membayar seluruh kewajiban pajak dan PNBP dengan benar dan tepat waktu.   Jumlah  Arus  Kas  perusahaan  yang  dialirkan  ke  luar  bisnis  perusahaan  di  bidang  SDA  akan  memberikan  indikasi  minimnya  komitmen  perusahaan  kepada  upaya  pelestarian  SDA  dan  kesinambungan  usahanya.  Jika  sebagian  besar arus kas perusahaan yang diperoleh dari bisnis SDA disalurkan ke pihak  afiliasi  dan  pihak  ketiga  di  bidang  non  SDA  terkait,  kemampuan  perusahaan  untuk melakukan rehabilitasi dan regenerasi SDA akan sangat kecil. 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 6 
 

2008 

Laba Perusahaan bisa dilihat dari struktur labanya, apakah perusahaan  benar‐benar konsisten dengan usahanya atau tidak. Jika laba usahanya minus  sedangkan laba bersih tinggi, maka konsistensi perusahaan terhadap usahanya  patut  dipertanyakan.  Perolehan  laba  yang  tidak  normal  atau  bahkan  perusahaan  rugi  terus  tapi  jalan  terus,  patut  menjadi  pertanyaan  apa  sebenarnya fokus dari kegiatan utamanya di bidang pemanfaatan sumber daya  alam, khususnya kehutanan.   Saat  ini  dari  delapan  perusahaan  kehutanan  yang  Tbk,  baru  dua  perusahaan  yang  dianalisis  oleh  ELSDA.  Yakni  PT  XYZ  dan  ABC.  Keduanya  merupakan perusahaan yang bergerak di bidang HPH. Berikut kesimpulan dari  analisis  yang  dilakukan  dengan  menggunakan  indikator  keuangan  umum  ELSDA pada kedua perusahaan itu: 

JUMLAH DAN SUMBER PEMAKAIAN BAHAN BAKU 
Dilihat  dari  komitmen  yang  ditetapkan  perusahaan  untuk  concern  dalam pembangunan HTI sebagai salah satu sumber bahan bakunya, berarti  menunjukkan  adanya  kepatuhan  terhadap  pengelolaan  sumber  daya  alam  yang  berkelanjutan.  Akan  tetapi  setelah  melihat  laporan  keuangannya  ternyata  kedua  perusahaan  tersebut  tidak  melaksanakan  komitmennya  untuk membangun HTI.   Tabel 1.Penambahan HTI dan HTI dalam Pengembangan 
Ketarangan   PT XYZ (Rp)  HTI  HTI dalam  Pengembangan    PT ABC (Rp)  HTI  HTI dalam  Pengembangan  2003    426.689.488.624  7.771.128.018      ‐  1.770.898.231  2004    85.995.564.009  2.298.679.055      ‐  ‐  2005    ‐  2006    ‐ 

2.556.374.722 
    ‐  12.144.007.404 

385.761.960 
    57.737.372  18.310.118.940 

Sumber: Laporan Keuangan PT XYZ dan ABC 2003‐2006 

 

Seperti yang disajikan, tidak ada investasi yang signifikan terhadap  HTI  dibandingkan  dengan  nilai  aset  yang  dimilikinya.  Hal  itu  akan  lebih  diulas pada pembahasan Arus Kas yang kembali ke Hutan. Selain itu ketidak 

 

     

konsistenan  kedua  perusahaan  dalam  penambahan  HTI  juga  ditunjukkan  dengan tidak melakukan investasi pada HTI setiap periode.  Setelah  memperhatikan  implementasi  komitmen  perusahaan  dalam  pembangunan  HTI,  selanjutnya  harus  ditelusuri  perusahaan  menggunakan  sumber  kayunya  dari  mana.  Analisis  terhadap  penambahan  HTI  di  atas  akan  membantu  untuk  menyesuaikan  penggunaan  kayu  pada  periode tersebut dengan melihat berapa kayu yang digunakan dan berapa  kayu yang di panen dari HTI.   Jika  terjadi  ketidaksinkronan,  maka  perusahaan  terindikasi  tidak  patuh  terhadap  pengelolaan  lingkungan  yang  berkelanjutan.  Asumsinya,  selain  dari  HPH  dan  HTI  atau  pembelian,  dari  mana  lagi  perusahaan  memperoleh kayunya selain dari hutan alam.   Sayangnya, data‐data pendukung untuk menganalisis kapasitas HTI,  kapasitas  HPH,  dan  Dokumentasi  Pembelian  yang  dibutuhkan  belum  tersedia  dalam  kedua  laporan  keuangan  perusahaan  itu.  Sehingga  analisis  jumlah  dan  sumber  bahan  baku  belum  mampu  mendeteksi  indikasi  ketidakpatuhan pengelolaan kehutanan.  Dengan  data  yang  terbatas,  ELSDA  tetap  berusaha  melakukan  analisis  terhadap jumlah bahan baku kayu bulat yang digunakan, khususnya dalam  satuan meter kubik. Informasi yang dapat diperkirakan seputar Jumlah dan  Sumber Bahan Baku Kayu yang digunakan Perusahaan menggunakan PP No.  74  Tahun  1999  Tentang  Tarif  atas  Jenis  PNBP  yang  Berlaku  Pada  Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Dalam hal ini diasumsikan bahwa  harga rata‐rata kayu per meter kubik adalah Rp 431.000.  Tabel 2. Pemakaian Kayu Bulat 
Keterangan   PT XYZ   Pemakaian Kayu (Rp)  Pemakaian Kayu (m3)    PT ABC   Pemakaian Kayu (Rp)  Pemakaian Kayu (m3)  2003    854,97 M (HPH)  363,13 M (HTI)  1.983.694 (HPH)  842.532 (HTI)      192,6 M  446.922      204,8 M  475.375      196,6 M  456.253      263,3 M  611.046  2004  2005  2006  Tidak dibahas karena tidak diketahui unsur  HPH dan HTI atas kayu yang dipergunakan. 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 8 
 

2008 

Sumber: Paper Indikator dan Instrumen untuk Mendeteksi Pengelolaan Sumber Daya Alam  dan  Lingkungan  yang  Tidak  Berkelanjutan:  Pendekatan  Analisis  Keuangan,  2007  dan Laporan Keuangan Perusahaan PT XYZ dan PT ABC 2003‐2006. 

 

Dari  informasi  di  atas,  terlihat  bahwa  tidak  ada  keseragaman  pengungkapan  mengenai  jumlah  dan  sumber  kayu  bulat  bagi  setiap  perusahaan. Bahkan untuk PT XYZ perbedaan penyajian jumlah dan sumber  bahan baku terjadi antara periode 2003 dengan 2004 dan seterusnya.   Penggunaan  Sumber  Daya  Alam  yang  jelas  tidak  tersaji  dalam  laporan  keuangan  kedua  perusahaan,  sehingga  tidak  diketahui  berapa  bahan  baku  sebenarnya  yang  digunakan.  Kemungkinan  hal  itu  sengaja  dilakukan  untuk  menyamarkan  asal  kayu  yang  sebenarnya.  Maka  kedua  perusahaan  terindikasi  tidak  patuh  pada  pengelolaan  lingkungan  yang  berkelanjutan. 

JUMLAH PEMAKAIAN BAHAN PERUSAK LINGKUNGAN 
Untuk  indikator  ini  tidak  dilakukan  analisis,  karena  indikator  ini  hanya untuk perusahaan pulp and paper. 

JUMLAH PEMBAYARAN PAJAK DAN PNBP 
Informasi  mengenai  jumlah  DR  dan  PSDH  yang  sebenarnya  harus  dibayar  juga  tidak  bisa  diketahui  dengan  pasti  karena  informasi  jumlah  sumber  bahan  bakunya  sendiri  tidak  dikatahui.  Sehingga  tidak  bisa  diklarifikasi kebenarannya. Dan upaya untuk tidak membayar DR/PSDH pun  bisa  dilakukan.  Hal  itu  akan  menimbulkan  kerugian  negara  yang  tidak  sedikit. 

ARUS KAS KELUAR 
Dari  analisis  arus  kas  keluar  ini  dapat  diketahui  dengan  jelas  concern  perusahaan  terhadap  pengelolaan  sumber  daya  alam  yang  berkelanjutan. Yaitu dengan membandingkan berapa kas yang dialokasikan  untuk pembangunan hutan dan kas yang dialokasikan ke pos lain.      

 

     

Tabel 3. Arus Kas untuk Hutan   
Ketarangan   PT XYZ   Arus Kas untuk HTI (Rp)  Mutasi Kas Keluar (m3)  Persentase Kas untuk HTI  terhadap Total Kas Keluar (%)    PT ABC   Arus Kas untuk HTI (Rp)  Mutasi Kas Keluar (m3)  Persentase Kas untuk HTI  terhadap Total Kas Keluar (%)    11,59 M  2.195,13 M  0,53      1,7 M  783,1 M  0,24  2003    4,69 M  1.409,11 M  0,33      ‐  872,8 M  0,00  2004    5,36 M  1.127,25 M  0,47      12,1 M  874,0 M  1,39  2005    1,62 M  847,73 M  0,19      18,3 M  1.154,4 M  1,59  2006 

Sumber: Paper Indikator dan Instrumen untuk Mendeteksi Pengelolaan Sumber Daya Alam  dan  Lingkungan  yang  Tidak  Berkelanjutan:  Pendekatan  Analisis  Keuangan,  2007  dan Laporan Keuangan Perusahaan PT XYZ dan PT ABC 2003‐2006. 

  Tabel  di  atas  menunjukkan  informasi  angka  yang  sangat  fantastik.  Sungguh sangat ironis, perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan tapi  justru uang yang dikeluarkan untuk hutan tidak mencapai 2% pun. Jelas hal  itu  membuktikan  ketidakpatuhan  perusahaan  terhadap  pengelolaan  sumber daya alam yang berkelanjutan. 

LABA PERUSAHAAN 
Indikator  terakhir  yang  akan  dibahas  adalah  mengenai  performa  laba perusahaan yang akan menginformasikan kualitas going concern suatu  perusahaan. Berikut data yang diambil dari laporan keuangan PT XYZ dan PT  ABC:  Tabel 4. Performa Laba/Rugi PT XYZ dan PT ABC 
Ketarangan   PT XYZ (Rp Jutaan)  Pejualan Bersih  Laba (Rugi) Kotor  Laba (Rugi) Usaha  Laba (Rugi) sebelum PPh  Laba (Rugi) Bersih    PT ABC (Rp Jutaan)    1.871.209  (20.778)  (287.641)  104.806  229.581      2003    1.278.060  241.150  56.417  (144.592)  (143.276)      2004    818.030  9.851  (199.777)  355.165  686.842      2005    451.028  (22.500)  (191.819)  16.518  7.190      2006 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 10 
 
Pejualan Bersih  Laba (Rugi) Kotor  Laba (Rugi) Usaha  Laba (Rugi) sebelum PPh  Laba (Rugi) Bersih  689.608  (10.576)  (73.986)  (162.603)  (155.867)  773.559  90.584  17.342  (6.346)  163.427 

2008 
703.992  (12.689)  (90.870)  1.637  (53.109) 

829.103  91.612  26.301  (12.480)  12.846 

Sumber: Paper Indikator dan Instrumen untuk Mendeteksi Pengelolaan Sumber Daya Alam  dan  Lingkungan  yang  Tidak  Berkelanjutan:  Pendekatan  Analisis  Keuangan,  2007  dan Laporan Keuangan Perusahaan PT XYZ dan PT ABC 2003‐2006. 

Untuk  PT  XYZ,  Laba  Usaha  terus  mengalami  kerugian  selama  tiga  periode,  hal  itu  menunjukkan  bahwa  perusahaan  tidak  concern  dengan  bisnis  utamanya  yaitu  di  bidang  kehutanan.  Sedangkan  untuk  Laba  Bersihnya  justru  hanya  mengalami  satu  kali  rugi.  Itu  menunjukkan  adanya  fokus  lain  yang  justru  menjadi  bisnis  utamanya.  Dimana  perusahaan  memperoleh  keuntungan  yang  lebih  menjanjikan  dari  pada  bisnis  kehutanan.  Status  perusahaan  kehutanan  hanya  sebagai  kedok  untuk  mengeruk keuntungan saja.  Untuk  PT  ABC,  meskipun  dua  dari  empat  periode  yang  dianalisis  mengalami kerugian, hal itu dianggap masih dalam tahap wajar. Begitu pun  untuk  perolehan  Laba  Bersihnya,  perusahaan  masih  berada  dalam  tahap  kewajaran.  Namun  demikian  perlu  dilakukan  analisis  lebih  lanjut  untuk  mengetahui secara rinci transaksi keuangan yang terjadi di dalamnya.               

 

11 

     

KENDALA DALAM ANALISIS LAPORAN KEUANGAN  PERUSAHAAN KEHUTANAN 
1. Aturan‐aturan yang dimuat dalam PSAK 32 hanya mencakup aturan untuk  perusahaan HPH saja, sedangkan untuk perusahaan pulp and paper tidak  diatur.   Minimnya  aturan  mengenai  pengungkapan  atau  disclosure  atas  kondisi  lingkungan atau yang berkaitan dengan kepentingan pengelolaan sumber  daya  alam  yang  berkelanjutan  menyulitkan  untuk  mengklarifikasi  kebenaran dari laporan keuangan yang disajikan.  Penghitungan kerugian negara atas terjadimya illegal logging yang masih  bias. Apakah negara dirugikan hanya berdasarkan DR dan PSDH yang tidak  dibayar, atau berdasarkan nilai tegakan pohon yang di tebang. Atau justru  berdasarkan keduanya ditambah dengan nilai kerusakan biodiversity dan  keuntungan yang diperoleh para cukong kayu.  

2.

3.

REKOMENDASI 
1. Perlu dilakukan upaya yang sungguh‐sungguh untuk menghentikan proses  penghancuran  lingkungan  dan  SDA.  Kebijakan  pembangunan  ekonomi  untuk  mendorong  lahirnya  industri  berbasis  sumber  daya  alam  perlu  dimonitor dan dikaji agar lebih berpihak kepada upaya‐upaya pelestarian  lingkungan dan sumber daya alam.   Penelaahan  sejumlah  kebijakan  pembangunan  ekonomi:  kebijakan  investasi,  kebijakan  keuangan,  kebijakan  pelaporan  keuangan  dan  seterusnya. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kebijakan dibidang  akuntansi  dan  pelaporan  keuangan.  Menurut  ELSDA  Institute,  kebijakan  akuntansi  dan  pelaporan  keuangan  yang  dapat  menjelaskan  kinerja  perusahaan dalam mengelola lingkungan dan SDA akan sangat membantu  para  stakeholders  untuk  menilai  tanggung  jawab  perusahaan  untuk  melestarikan lingkungan hidup dan sumber daya alam.   Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengembangkan sejumlah  instrumen  pendeteksi  (berupa  data  dan  informasi  serta  laporan  yang  tersedia  di  area  publik)  untuk  dilakukan  sejumlah  analisis  keuangan  dan  analisis hukum, agar dapat mengidentifikasikan sejumlah indikator umum 

2.

3.

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 12 
 

2008 

pengelolaan  SDA  dan  lingkungan.  Indikator  umum  dapat  menjadi  digunakan untuk mengibarkan red flag yang akan menstimulasi para pihak  terkait  untuk  menyelidiki  lebih  lanjut  dan  lebih  detail  kemungkinan  terjadinya pengelolaan SDA dan lingkungan yang tidak bekesinambungan  bahkan  mungkin  indikasi  tindak  ketidakpatuhan    di  bidang  pengelolaan  lingkungan hidup dan SDA.   4. Kekurangan  pengungkapan  dalam  laporan  keuangan  yang  menyebabkan  hasil  analisis  belum  menghasilkan  informasi  yang  lengkap.  Untuk  itu,  sejumlah  rekomendasi  berkenaan  dengan  perbaikan  muatan  informasi  yang  harus  diungkap  dalam  laporan  keuangan  dapat  diajukan  kepada  pihak‐pihak  yang  berwenang  seperti:  Ikatan  Akuntan  Indonesia  (IAI),  Departemen Keuangan, Badan Pengelola Pasar Modal (Bapepam).  

                           

 

13 

     

DEBT FOR NATURE SWAP  TAMAN NASIONAL   DAN PELUANG KE DEPAN 
  “…program Debt For Nature Swap dapat menjadi salah  satu  solusi  yang  cukup  baik  dalam  menangani  kerusakan  hutan  Indonesia,  khususnya  pada  taman  nasional.”    Albert Hasudungan, Financial Analyst   
       

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 14 
 

2008 

PENDAHULUAN  
Debt  swap  merupakan  mekanisme  pengurangan  utang  yang  secara  umum  dapat  diartikan  sebagai  pertukaran  utang  luar  negeri  dengan  ekuitas  atau dana dalam mata uang  lokal untuk pembiayaan proyek dan atau program  pemerintah (Ragimun, 2005). Salah satu komponen dari debt swap itu adalah  debt  for  nature  swap,  yaitu  program  pengalihan  utang  luar  negeri  untuk  digunakan  ke  dalam  pendanaan  dan  kegiatan  konservasi  hutan.  Saat  ini  Indonesia  mendapat  skema  penghapusan  utang  luar  negeri,  melalui  debt  for  nature swap (DNS) yang berasal dari negara Amerika serikat (AS) dan Jerman.  Total  komitmen  utang  luar  negeri  yang  dibebaskan  oleh  negara  Amerika  serikat  sebesar  19.6  juta  dollar  AS,  sedangkan  negara  Jerman  (melalui  green  program)  berkomitmen  untuk  menghapuskan  utang  luar  negeri  Indonesia  sebesar 12.5 juta euro. Program konservasi hutan dari skema pendanaan DNS  ini  diadakan  di  taman  nasional  yang  dipandang  mengalami  ancaman  deforestasi hutan, dan berada dalam kondisi membahayakan saat ini.   Mekanisme insentif yang diberikan pemerintah Jerman yaitu Indonesia  harus  melakukan  program  konservasi  hutan  di  taman  nasional  dahulu  senilai  50  %  dari  komitmen  utang  luar  negeri  yang  dilunaskan,  baru  pihak  Jerman  akan  membebaskan  utang  luar  negeri  demi  program  konservasi  hutan  di  taman  nasional  sebesar  12.5  juta  euro.  Untuk    perjanjian  dengan  Amerika  serikat (AS), negara Indonesia mendapat pengalihan utang luar negeri sebesar  19.6 juta dollar AS dengan catatan bahwa utang luar negeri Indonesia dipotong  dahulu,  kemudian  negara  Indonesia  harus  membayar  secara  bertahap  19.6  juta dollar AS  untuk dana perlindungan hutan di taman nasional, yang masih  dibahas.  Bagi NGO yang ingin menjadi pengawas penggunaan dana konservasi  hutan  tersebut  (board  of  commitee),  harus  menyumbangkan  dana  20%  dari  19.6 juta dollar tersebut per entitas tersebut.   Saat  ini  program  konservasi  hutan  di  taman  nasional  yang  mulai  dilaksanakan di Indonesia adalah skema DNS Indonesia dengan pihak Jerman,  dengan  nilai  sebesar  12.5  juta  euro.  Program  yang  difokuskan  oleh  departemen  teknis  terkait,  Dephut,  adalah  mengkonservasi  Taman  Nasional  (TN) Gunung Leuser, TN Kerinci Seblat, dan TN Bukit Barisan Selatan. Paper ini  akan  mengkaji  secara  singkat  atas  masalah  debt  for  nature  swap  dan  peran  ELSDA terhadap fenomena debt for nature swap di Indonesia.  

 

15 

     

ANALISIS SWOT TERHADAP DNS DAN HAL YANG  DILAKUKAN ELSDA  
  Pada  bagian  ini  akan  dibahas  tentang  analisis  SWOT  terkait  dengan  mekanisme  dana  DNS  di  negara  Indonesia,  dan  beberapa  kendala  yang  dihadapi terkait dengan debt for nature swap tersebut.  

STRENGTH  
Hal  utama  yang  perlu  digarisbawahi  menjadi  kekuatan  Indonesia,  terkait  dengan  debt  for  nature  swap,  adalah  luas  hutan  di  Indonesia  yang  besar.  Menurut  sumber  data  di  Departemen  Kehutanan,  luas  hutan  Indonesia  mencapai  126.97  juta  hektar  di  tahun  2005.  Selain  itu,  Departemen kehutanan juga memiliki 50 taman nasional di Indonesia yang  tersebar di seluruh Indonesia. Taman nasional yang dilindungi dari  program  DNS  pun  cukup  luas  areal  hutannya,  seperti  yang  terlihat  pada  tabel  di  bawah ini.    Tabel 1. Nama Taman Nasional yang Dikonservasi  Nama Taman Nasional   Luas Hutan   Taman Nasional Gunung Leuser  1,094,692 Ha   Taman Nasional Kerinci Seblat   1,389,509.87 Ha   Taman Nasional Bukit Barisan Selatan   365,000 Ha  
Sumber : Departemen kehutanan‐RI, 2007 

  Jadi,  hal  tersebut  merupakan  faktor  yang  penting  mengapa  negara  donor  yang  sudah  ada,  yakni  Jerman  dan  Amerika  serikat,  tertarik  bekerjasama dengan negara Indonesia dalam bentuk debt for nature Swap.    

WEAKNESS 
Salah  satu  kendala  yang  dihadapi  pemerintah  dalam  mengelola  hutan  nasional  yang  berkelanjutan  adalah  masih  minim  dan  terbatasnya  dana  anggaran  nasional  dari  pemerintah  Indonesia  dalam  rangka  melakukan  upaya  perlindungan  hutan  di  Indonesia.  Alasannya  karena  besarnya beban pemerintah untuk menanggung seluruh pembayaran utang  luar negerinya tersebut. Ada pun jumlah dan persentase utang luar negeri  pemerintah Indonesia dapat dilihat pada tabel dibawah ini.      

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 16 
  Tabel 2. Jumlah dan Persentase Utang Luar Negeri Pemerintah   Keterangan  Jumlah Utang LN  (USD Milyar)  Persentase Terhadap PDB (%)           2002  74.5  31.5 

2008 

Luas Hutan  2003  2004  2005  80.9  80.7  78.3  28.3  25.3  24.5 

2006  na  na 

      Sumber : Data APBN (2002 s/d 2006)‐Departemen Keuangan RI, diolah 

Walaupun  tabel  di  atas  menunjukkan  bahwa  jumlah  utang  luar  negeri  Indonesia  sudah  mengalami  trend  yang  menurun,  namun  penurunannya tidak signifikan dibandingkan dengan sisa beban utang yang  masih  harus  ditanggung  oleh  pemerintah  Indonesia.  Kalau  kita  lihat  pula  dari  persentasenya  terhadap  PDB,  porsi  utang  terhadap  PDB  juga  hanya  mengalami penurunan yang tidak signifikan dan menyisakan besarnya sisa  porsi utang LN terhadap PDB hingga mencapai 24.5% sampai di tahun 2005.  Data itu menyiratkan bahwa pembayaran utang luar negeri yang dilakukan  pemerintahpun  masih  terbatas  dan  dirasakan  kurang  signifikan  dibandingkan  dengan  jumlah  utang  luar  negeri  Indonesia,  yang  akumulasi  bunganya  dapat  membahayakan  bagi  anggaran  keuangan  negara  di  masa   mendatang.    Jadi  masih  dibutuhkan  sumber  pembiayaan  lain  untuk  memperkecil  utang  luar  negeri  pemerintah,  seperti  upaya  negara  kreditor  yang menghapuskan utang luar negeri kita, sehingga kebijakan pengeluaran  pemerintah  untuk  membenahi  hutan  Indonesia  bisa  dilakukan  secara  maksimal.  Oleh  karena  itulah  program  DNS  menjadi  dapat  menjadi  salah  satu  solusi  yang  cukup  baik  dalam  menangani  kerusakan  hutan  di  Indonesia, khususnya pada taman nasional.  Kedua, hal yang masih menjadi kelemahan negara Indonesia adalah  implementasi  perlindungan  hutan  Indonesia  yang  dilakukan  pemerintah  terkait,  khususnya  Departemen  kehutanan,  masih  kurang  efektif  dan  efisien.  Menurut  Departemen  kehutanan,  hutan  di  Indonesia  masih  mengalami  akumulasi  deforestasi  hingga  mencapai  59  juta  hektar  pada  tahun 2007.  Bila kita perhatikan kembali secara mendetail taman  nasional  yang  rusak  di  pulau  Sumatra  juga  cukup  besar.  Berikut  ini  adalah  data  kehancuran  hutan  yang  diakumulasi  sampai  bulan  juni  tahun  2007  di  tiga  taman nasional. 

 

17 

     

Tabel 3. Deforestasi Hutan di Beberapa Taman Nasional  Nama Taman Nasional   Jumlah Kerusakan   Gunung Leuser   Kerinci Seblat   Bukit Barisan Selatan  
Sumber : Departemen Kehutanan, 2007, diolah 

22,559 Ha   303, 776 Ha  111,178 Ha  

  Dari  tabel  tersebut  dapat  kita  lihat  bahwa  kerusakan  taman  nasional  Gunung  leuser  saja  bisa  mencapai  22,559 Ha.  Kalau  kita  rinci  lagi  ke bawah, kerusakan hutan yang paling besar terjadi pada taman nasional  Kerinci  seblat  hingga  mencapai  303,776  Ha.  Oleh  karena  itulah  langkah  preventif  yang  efisien  dan  efektif  untuk  melindungi  taman  nasional  tersebut  merupakan  suatu  permasalahan  yang  perlu  diselesaikan  oleh  pemerintah terkait secepatnya. 

OPPORTUNITY 
Namun  di  tengah  kegetiran  dari  kelemahan  tersebut,  kita  masih  dilegakan dengan peluang dan kesempatan yang ditawarkan oleh DNS yang  sudah  diimplementasikan,  yaitu  DNS  Jerman.  Salah  satu  kesempatan  yang  kita  dapatkan  adalah  penghapusan  utang  luar  negeri  dua  kali  lipat  dari  negara Jerman terhadap biaya/dana yang telah disepakati untuk konservasi  di tiga taman nasional tersebut.   

THREAT 
Hal  yang  menjadi  perhatian  penting  bagi  perlindungan  hutan  adalah  keefektifan    atas  implementasinya.  Indikator  kehancuran  taman  nasional seperti tabel di atas, hendaknya memacu Departemen kehutanan  untuk  meningkatkan  kinerjanya  dalam  perlindungan  hutan  di  taman  nasional.  Ancaman  utama  yang  dihadapi  Indonesia  atas  DNS  ini  yaitu  apabila  Departemen  kehutanan  tidak  mampu  menyelesaikan  program  perlindungan  hutan  di  taman  nasional  secara  efektif  dan  tidak  lulus  audit  auditor  independen,  maka  Indonesia  tidak  akan  mendapat  penghapusan  utang luar negeri dari negara Jerman tersebut.   Selain  itu,  apabila  kita  tidak  mampu  melindungi  dan  mengelola  dana  hutan  tersebut  secara  benar,  maka  bersiap‐siaplah  kita  untuk  kehilangan  kepercayaan  dari  negara  donor  yang  berniat  untuk  membantu  memberikan dana perlindungan hutan bagi Indonesia.  

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 18 
 

2008 

Hal lain yang juga perlu diperhatikan bahwa implementasi program  perlindungan  yang  tidak  efektif  dan  efisien  dapat  membuat  kerugian  atas  anggaran  dan  keuangan  negara.  Kerugian  tersebut  antara  lain  adalah  potensi  utang  luar  negeri  yang  hilang  dan  kerugian  atas  besarnya  pengeluaran  anggaran  nasional  atas  konsekuensi  program  perlindungan  hutan  di  taman  nasional,  yang  tidak  berhasil  diimplementasikan  secara  tepat dan benar oleh departemen teknis tersebut.  

HAL YANG DILAKUKAN ELSDA  
Pada bagian ini akan dibahas mengenai kegiatan, kendala dan prospek  terkait dengan DNS yang sudah dilaksanakan yaitu dengan pemerintah Jerman.    

KEGIATAN YANG DILAKUKAN ELSDA 
Banyak hal yang dilakukan oleh ELSDA Institute untuk berpartisipasi  dalam mensukseskan program perlindungan hutan dengan skema debt for  nature swap tersebut. Pertama, ELSDA Institute mencoba membuat paper  yang  berkaitan  dengan  debt  for  nature  swap.  Kedua,  ELSDA  menjalin  hubungan dan mencari contact person yang mengurus debt for nature swap  yang  sudah  terlaksana,  yakni  dengan  negara  Jerman.  Ketiga,  ESLDA  melakukan  berbagai  tindakan  rekonstruktif  demi  mensukseskan  program  perlindungan  hutan  dengan  skema  pendanaan  debt  for  nature  swap  tersebut.  Hal  yang  sudah  dilakukan  ELSDA  Institute  diantaranya  adalah  menggagas  forum  diskusi  BLU  Taman  Nasional  dan  Pengelolaan  DNS  yang  diadakan pada tanggal 3 Desember 2007.  

KENDALA YANG DIHADAPI ELSDA INSTITUTE 
Ada  beberapa  kendala  baik  yang  pernah  dihadapi  maupun  yang  akan dihadapi. Kendala yang paling sering ditemui tertkait dengan DNS ini  adalah  menghubungi  dan  bertemu  dengan  staf  dan  pejabat  terkait  di  Departemen  Kehutanan.  Selain  itu  tantangan  lain  yang  dihadapi  ELSDA   adalah  mengajak  Departemen  kehutanan  supaya  ELSDA  bisa  terlibat  di  dalam  menyukseskan    program  perlindungan  hutan  dengan  skema  DNS  tersebut.   

 

19 

     

PROSPEK DNS MENURUT PERSEPSI ELSDA 
ELSDA  memposisikan  dirinya  sebagai  LSM  yang  berfokus  pada  ide  follow  the  money.  Jadi  hal  yang  ingin  dibantu  ELSDA  terutama  difokuskan  pada  hal  pengelolaan  keuangan  dari  dana  DNS  Jerman  tersebut,  supaya  dapat membantu mensukseskan keberhasilan program perlindungan hutan  di taman nasional tersebut.  Salah satu rencana dan konsep yang ditawarkan oleh ELSDA adalah  ingin membantu mengelola keuangan dari DNS Jerman dengan tools Badan  Layanan  Umum  (BLU)  ‐  Taman  Nasional.  Hal  ini  dilakukan  agar  upaya  pengelolaan keuangan untuk taman nasional ini dapat lebih profesional dan  bisa  lulus  audit  auditor  independen  yang  telah  ditunjuk  tersebut.  Hal  lain  yang  menjadi  cita‐cita  ELSDA  ke  depan  adalah  membangun  success  story  pengelolaan DNS dari dana bantuan yang berasal dari pemerintah Jerman,  serta  menciptakan  laporan  &  indikator  keuangan  yang  layak  dari  segi  pemeriksaan keuangan oleh auditor independen tersebut. 

DAFTAR PUSTAKA 
Ariadi,  Kurniawan  (2002),  “Pemanfaatan    Skema  Debt  Conversion  Sebagai  Upaya Pengurangan Utang Luar Negeri Pemerintah, Bappenas: Jakarta  Occhiolinni,  Michael  (1990),  “Debt‐For‐Nature‐Swap”,  Worldbank  Working  Paper: International Economics Department  Ragimun,  (2005),  “Tinjauan  Mengenai  Implementasi  Program  Debt  Swap  Sebagai  Salah  Satu  Alternatif  Mengurangi  Beban  Utang  Luar  Negeri”,  Kajian Ekonomi dan Keuangan, Volume 9, Nomor 1, Maret 2005  Data Departemen Kehutanan, Berbagai Edisi   Data Departemen Keuangan, Berbagai Edisi  

       

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 20 
 

2008 

                                         

 

21 

     

HUTAN HANCUR   KORUPSI TUMBUH  
    “Penebangan  liar  di  Indonesia  merupakan  masalah  yang  sangat  kompleks  karena  melibatkan  banyak  aktor  dengan  berbagai  kepentingan dan jaringan, baik itu di pengusaha,  masyarakat, Departemen Kehutanan, pemerintah  daerah,  kepolisian,  maupun  TNI.  Hampir  setiap  praktek illegal logging melibatkan aparat supaya  dapat berjalan mulus.”   
 

Muhamad Zainal Arifin, Legal Analyst 
             

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 22 
 

2008 

PENDAHULUAN 
Secara  umum,  sumber  daya  hutan  dan  lahan  Indonesia  telah  berada  pada titik kritis. Citra satelit menunjukkan 60 juta hektar hutan dalam kondisi  rusak  parah.4  Departemen  Kehutanan  (2003)  mencatat  bahwa  laju  kerusakan  hutan  (degradasi  dan  deforestasi)  selama  12  tahun  (1985‐1997)  untuk  Pulau  Sumatera,  Kalimantan,  dan  Sulawesi  mencapai  1,6  juta  ha  per  tahun.  Pada  periode  pengamatan  tahun  1997‐2000,  angka  deforestasi  hutan  di  Indonesia  meningkat  2,83  juta  hektar.  Sedangkan  tahun  2000‐2005,  angka  deforestasi  hutan turun menjadi 1,08 juta hektar. Menurut Data Asian Development Bank,  rata‐rata  kerusakan  hutan  di  Indonesia  diperkirakan  antara  600.000  hektar  sampai  1,3  juta  hektar  per  tahun.  Namun,  ada  juga  penelitian  lain  yang  menyebutkan  penggundulan  hutan  telah  mencapai  tingkat  kecepatan  1,6‐2,0  juta  hektar  per  tahun.5  Data  yang  lebih  miris  lagi  disajikan  EIA/Telapak  yang  menyatakan kehancuran hutan mencapai 2,8 juta hektar per tahun terparah di  dunia.6  Akibat  adanya  penggundulan  hutan  tersebut,  banyak  musibah  banjir  dan tanah longsor yang datang silih berganti di Indonesia mewarnai perjalanan  tahun  2007.  Bencana  banjir  telah  menerpa  Aceh,  Langkat,  Riau,  Palembang,  Padang, Morowali, dan daerah‐daerah lain yang kaya akan hutan. Ratusan ribu  orang  mengungsi,  ribuan  rumah  terendam,  infrastruktur  rusak  parah  dan  triliunan harta lenyap akibat terjangan banjir. Jika tidak segera diatasi, bencana  banjir dan tanah longsor mungkin akan kembali menerpa pada tahun 2008.   Selain dihadiahi oleh alam dengan rentetan bencana,  pada tahun 2007  Indonesia  diganjar  sebagai  negara  penghancur  hutan  tecepat  di  dunia  versi  Food  and  Agiculture  Organization  (FAO).  Indonesia  pun  tercatat  di  Guinnes                                                               
  Suripto,  “Transnational  Crime  of  Illegal  Logging”,  Presentasi untuk Workshop EIA/Telapak, September 2006  5   Bambang  Setiono  dan  Yunus  Husein,  “Memerangi  Kejahatan  Kehutanan  dengan  Mendorong  Prinsip  Kehati‐ hatian Perbankan Untuk Mewujudkan Pengelolaan Hutan yang  Berkelanjutan:  Pendekatan  Anti  Pencucian  Uang”,  CIFOR  Occasional Paper No. 44 (i), CIFOR, Bogor, 2005, hlm 5  6   EIA  /  Telapak,  “Raksasa  Dasamuka:  Kejahatan  Kehutanan,  Korupsi  dan  Ketidakadilan  di  Indonesia”,  Maret  2007, hlm 2 
4

 

23 

     

World  of  Record  sebagai  negara  penghancur  hutan  tercepat  di  dunia  dengan  rata‐rata  kerusakan  hutan  sebesar  1,871  juta  hektar  per  tahun.  Reward  yang  diterima  Indonesia  tentu  saja  sangat  ironis  karena  pada  Desember  2007  Indonesia  menjadi  tuan  rumah  United  Nation  Framework  Climate  Change  Conference (UNFCCC) di Bali.  Meski banyak hutan yang gundul, ironisnya tidak ada aktor intelektual  yang  dihukum.  Vonis  bebas  terhadap  Adelin  Lis  menjadi  bukti  nyata  bahwa  bangsa  Indonesia  terlampau  permisif  terhadap  pelaku  illegal  logging.  Hal  ini  diperparah  lagi  dengan  pernyataan  dari  Departemen  Kehutanan  yang  lebih  membela  pelaku  pengrusakan  hutan  yang  berijin  dibanding  menjaga  hutan.  Tindak  pidana  kehutanan  hanya  dianggap  sebagai  pelanggaran  administrasi  belaka.  Padahal  praktek  illegal  logging  sudah  semakin  rapi  dan  melibatkan  korporasi sebagai pelaku. Jika pembalakan liar hanyalah suatu kejahatan yang  melibatkan  masyarakat  miskin  yang  kehidupannya  bergantung  kepada  hutan,  seperti  supir  truk    ataupun  penjaga  hutan  yang  bergaji  kecil,  kejahatan  tersebut  tentu  tidak  akan  sulit  untuk  dihentikan.7  Lebih  dari  itu,  kejahatan  kehutanan  telah  melibatkan  korporasi  besar  yang  lebih  mementingkan  mencari  keuntungan  dibandingkan  menjaga  kelestarian  hutan.  Dalam  melakukan illegal logging, korporasi sering berlindung di balik ijin.   Penebangan  liar  di  Indonesia  merupakan  masalah  yang  sangat  kompleks  karena  melibatkan  banyak  aktor  dengan  berbagai  kepentingan  dan  jaringan,  baik  itu  di  pengusaha,  masyarakat,  Departemen  Kehutanan,  pemerintah  daerah,  kepolisian,  maupun  TNI.  Hampir  setiap  praktek  illegal  logging melibatkan aparat supaya dapat berjalan mulus. Membawa kayu bukan  seperti  membawa  jarum  yang  sulit  terlihat.  Pelaku  illegal  logging  harus  melewati  pos‐pos  pemeriksaan  pemerintah  dan  melakukan  praktek  suap  kepada aparat yang berkuasa.  Tahun  2007  menjadi  tahun  kegagalan  pemberantasan  korupsi  di  bidang  kehutanan.  Bagaimana  tidak.  Sepanjang  tahun  2007  jarang  ada  kasus  korupsi  kehutanan  yang  divonis  bersalah.    Satu‐satunya  kasus  illegal  logging  yang  berhasil  menggunakan  UU  Korupsi  yakni  Kasus  “Sejuta  Hektar  Kelapa                                                               
7

 Bambang Setiono dan Yunus Husein, op.cit, hlm 1 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 24 
 

2008 

Sawit” di Kaltim yang melibatkan mantan Gubernur Kaltim, Mantan KaKanwil,  Mantan  Kepala  Dinas  Kehutanan,  Dirjen  Dephut  dan  pengusaha  Martias.  Itu  pun  dilakukan  oleh  KPK  dan  Pengadilan  Tipikor.  Kasus  lain  yang  berpeluang  divonis bersalah dengan menggunakan UU Anti Korupsi yakni kasus DL Sitorus.  Namun  sayang,  pada  waktu  itu  jaksa  menggunakan  dakwaan  alternatif  yakni  korupsi dan kejahatan kehutanan. Di dalam putusan Kasasi, Hakim Mahkamah  Agung lebih memilih UU Kehutanan untuk menghukum DL Sitorus.  Di  samping  itu,  pada  tahun  2007  aparat  penegak  hukum  juga  mengacukan  hasil  analisis  PPATK  yang  terkait  dengan  kasus  illegal  logging,  pencucian  uang  dan  korupsi.  Padahal  di  dalam  beberapa  analisis  PPATK  menggambarkan  secara  gamblang  proses  suap  yang  dilakukan  pengusaha  terhadap aparat. 

GAMBARAN UMUM PENEGAKAN HUKUM  KEJAHATAN KEHUTANAN 
Tak seperti tahun sebelumnya yang lebih mengutamakan pelaksanaan  operasi  hutan  lestari,  pada  tahun  2007  pemerintah  tidak  mencanangkan  operasi pemberantasan illegal logging secara besar‐besaran. Akibatnya, jumlah  kasus illegal logging yang dijerat dengan menggunakan UU kehutanan semakin  menurun.  Dari  data  yang  dihimpun  Direktur  Penyidikan  dan  Perlindungan  Hutan  Departemen  Kehutanan,  menyatakan  bahwa  jumlah  kasus  tahun  2006  berjumlah 1.329 dan pada tahun 2007 (sampai dengan September 2007) turun  drastis menjadi 204 kasus.  Tabel 1. Data Penyelesaian Kasus‐Kasus Kejahatan Kehutanan yang Ditangani  PPNS Kehutanan  Tahun    Jml   Jml  Pe‐ Penyi‐ SP3  P21  Per‐ Vo TSK   Kasus   nyeli‐ dikan  sidangan   nis   dikan   2005   879  732  112  217  6  119  40  217  2006   1.409  1.329  367  320  23  236  84  247 

  s.d Sept  2007  

25 

     
204  75  69  ‐  30  5  8 

182 

Sumber: Departemen Kehutanan, 2007 

Data  yang  dikeluarkan  Kepolisian  Republik  Indonesia  berbeda  jauh  dengan  Departemen  Kehutanan.  Data  yang  diungkap  POLRI  selama  Januari  hingga Agustus 2007, polisi telah menangkap 1.375 tersangka pembalakan liar.  Para tersangka ini ditangkap dalam 1.124 kasus. Hal itu terungkap dalam Rapat  Kerja  Kapolri  Jenderal  Sutanto  dengan  Komisi  III  DPR  (Media  Indonesia  18/9/2007). 

KERUGIAN NEGARA AKIBAT ILLEGAL LOGGING 
Tidak  ada  data  resmi  dari  Departemen  Kehutanan  tentang  kerusakan  hutan  tahun  2007.  Data  kerusakan  hutan  terdekat  yang  dikeluarkan  Dephut  yakni  data  pada  tahun  2000‐2005  sebesar  1,08  juta  hektar  per  tahun.  Sedangkan  rata‐rata  potensi  produksi  hutan  per  hektar  pada  tahun  2007  sebesar  37,78  m3.8  Jika  kita  menggunakan  data  kerusakan  hutan  per  tahun  sebesar  1,08  juta  hektar  dan  dikalikan  dengan  potensi  hutan  37,78  m3  per  hektar,  maka  ada  sekitar  40,802  juta  m3  kayu  yang  ditebang  dari  bumi  Indonesia.   Jumlah produksi kayu di atas tentu saja jauh di atas produksi kayu yang  dihimpun Dephut. Rencana Kerja Tahunan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan  Kayu  (IUPHHK)  Hutan  Alam  yang  dilansir  perusahaan  untuk    tahun  2007  sebesar 9,379 juta m3. Sampai laporan ini dibuat, Dephut belum mengeluarkan  realisasi  produksi  kayu  baik  itu  berasal  dari  Hutan  Alam,  Hutan  Tanaman  maupun  ijin  lainnya  tahun  2007.  Untuk  mengisi  kekosongan  data  2007,  kita  menggunakan  rata‐rata  realisasi  produksi  kayu  terdekat  yakni  antara  2001‐ 2005. Rata‐rata produksi kayu per tahun untuk Ijin Pemanfaatan Kayu sebesar  1,741 juta m3, Hutan Tanaman 8,190 juta m3 dan Hutan Rakyat sebesar 0,304  juta  m3.  Dengan  menggunakan  asumsi  data  RKT  tahun  2007  dan  rata‐rata  realisasi  produksi  kayu  tahunan,  maka  kita  dapat  memperkirakan  jumlah  produksi legal kayu untuk tahun 2007 sebesar  19,614 juta m3.                                                               
 Angka ini diperoleh dari Rencana Kerja Tahun 2007  IUPHHK  Hutan  Alam  yakni  sebesar  9.379.064  m3  dengan  mencakup areal hutan seluas 248.234 hektar. 
8

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 26 
 

2008 

Hal  ini  berarti  ada  sekitar  kayu  21,188  juta  m3  yang  diindikasikan  berasal  dari  illegal  logging  dan  tidak  tercatat  oleh  Dephut.  Kalau  kita  menggunakan harga kayu sebesar US$ 105,82  per m3 (US$ 1 = Rp 9.309,51)9,  maka nilai kerugian negara dari nilai kayu sebesar Rp 20,873 triliun. Kerugian  tersebut  belum  dihitung  dari  nilai  penyimpanan  karbon,  air,  lingkungan  dan  nilai hutan non kayu yang jumlahnya bisa mencapai US$ 1283 sampai dengan  US$ 1416 per hektar.10 

MONITORING KASUS KORUPSI BIDANG  KEHUTANAN 
KASUS DL SITORUS 
Pada bulan Februari 2007, nasib terdakwa tindak pidana kehutanan  Darianus  Lumbuk  Sitorus    atau  yang  dikenal  dengan  DL  Sitorus  berubah  drastis.  Setelah  Pengadilan  Tinggi  (PT)  DKI  Jakarta  memutusnya  bebas,  melalui  putusan  kasasi  Mahkamah  Agung  (MA)  akhirnya  menjebloskannya  kembali ke penjara. Ia diganjar penjara 8 tahun dan dipidana denda sebesar  Rp 5 miliar subsider pidana kurungan 6 bulan.   Dengan  demikian  putusan  kasasi  ini  menguatkan  kembali  putusan  PN Jakarta Pusat. Artinya, DL Sitorus terbukti mengerjakan dan menduduki  secara  sengaja  kawasan  hutan  negara  tanpa  ijin  yang  melanggar  Pasal  6  ayat  (1)  jo  pasal  18  ayat  (2)  PP  No.  28  Tahun  1985  tentang  Perlindungan  Hutan  dan  Pasal  50  ayat  (3)  huruf  a  jo  Pasal  78  ayat  (2)  UU  No  41  Tahun  1999 tentang Kehutanan. Majelis hakim MA menyatakan DL Sitorus terbukti  secara  sah  dan  meyakinkan  telah  bersalah  melakukan  tindak  pidana  mengerjakan  dan  menggunakan  kawasan  hutan  secara  tidak  sah  yang                                                               
  Meski  harga  ini  diambil  dari  harga  kayu  bulat  menurut  FAO  tahun  2002,  namun  harga  ini  mendekati  harga  kayu  pasaran  di  Indonesia.  Menurut  Direktur  Asosiasi  Pengusaha  Hutan  Indonesia,  harga  rata‐rata  kayu  antara  Rp  900.000  s.d.  Rp  1  juta.  Menurut  Bambang  Setiono  peneliti  di  CIFOR, harga rata‐rata kayu Rp 1 juta.  10   Bintang  C.H.  Simangungsong,  Nilai  Ekonomi  dari  Hutan Produksi Indonesia, IWGFF, 2003, hlm 30 
9

 

27 

     

dilakukan  secara  bersama‐sama  dan  dalam  bentuk  perbuatan  berlanjut.  Kasasi  ini  diajukan  Kejaksaan  Tinggi  DKI  Jakarta  karena  tak  puas  dengan  putusan PT DKI Jakarta yang dibacakan pada 11 Oktober 2006. Ketika itu, PT  DKI  Jakarta  memutus  bebas  DL  Sitorus.  Pertimbangannya,  dakwaan  JPU  prematur atau belum saatnya diajukan karena belum ada putusan perdata  mengenai  areal  yang  disengketakan.  Tak  hanya  itu,  gugatan  pembatalan  Surat Menteri Kehutanan di PTUN juga belum berkekuatan hukum tetap.   Di  PN  Jakarta  Pusat,  Jaksa  menerapkan  dakwaan  alternatif  antara  korupsi atau kejahatan kehutanan. Pada dakwaan pertama dan kedua, JPU  menjerat terdakwa dengan pasal tindak pidana korupsi, yaitu pasal 1 ayat 1  sub a jo pasal 28 jo pasal 34 c UU No3 Tahun 1971 jo pasal 43A UU No 31  Tahun 1999 jo UU No 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana  korupsi dan pasal 2 ayat 1 jo pasal 18 UU No 31 Tahun 1999 jo UU No 20  Tahun 2001 pada dakwaan kedua.   Sedangkan pada dakwaan ketiga, terdakwa dijerat pasal 6 ayat 1 jo  pasal 18 ayat 2 PP No 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan dan pasal  50  ayat  3  huruf  a  jo  pasal  78  ayat  2  UU  No  41  Tahun  1999  tentang  Kehutanan.  Majelis  hakim  yang  diketuai  oleh  Andriani  Nurdin  menunda  sidang hingga Jumat, 28 Juli 2006, untuk membacakan putusan.  JPU menuntut DL Sitorus hukuman 12 tahun penjara, dan hukuman  tambahan berupa denda sebesar Rp200 juta subsider enam bulan kurungan  serta mengganti uang kerugian negara sebesar Rp323,655 miliar. Perbuatan  terdakwa, menurut JPU, telah merugikan negara cq Departemen Kehutanan  sebesar  Rp323,655  miliar  yang  terdiri  atas  hilangnya  tegalan  di  47  ribu  hektar  hutan  produksi  negara  sebesar  Rp44,655  miliar,  hilangnya  pemasukan  dana  reboisasi  dan  pengelolaan  sumber  daya  alam  yang  seharusnya  masuk  ke  Departemen  Kehutanan  sebesar  Rp207  miliar  dan  Rp72 miliar.  Namun,  pada  tanggal  10  September  2007  DL  Sitorus,  mengajukan  permohonan  Peninjauan  Kembali  (PK).  DL  Sitorus  hanya  menyodorkan  sebuah  novum,  yaitu  putusan  kasasi  Mahkamah  Agung  (MA)  No.  134  K/TUN/2007.  Putusan  tertanggal  12  Juni  2007  tersebut  berisi  pembatalan  SK  Menteri  Kehutanan  No.  S.149/Menhut‐II/2004  tentang  Permohonan 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 28 
 

2008 

untuk  Mengelola  Perkebunan  Kelapa  Sawit  di  Kawasan  Hutan  Register  40  Padang Lawas Sumatera Utara.  SK  Menhut  tertanggal  13  Oktober  2004  itu  pada  intinya  menyatakan, kawasan hutan yang telah dikuasai dan dijadikan perkebunan  kelapa  sawit  oleh  DL  Sitorus  akan  dipertahankan  sebagai  kawasan  hutan.  Masih  dalam  SK  yang  sama,  Menhut  juga  membatalkan  SK  No.  1680/Menhut‐III/2002  tertanggal  20  September  2002.  SK  tersebut  mengatur  mengenai  Penerbitan  Sertifikat  Tanah  yang  Terletak  di  Dalam  Kawasan  Hutan  Register  40  Padang  Lawas  Sumatera  Utara.  Selain  itu,  Menhut  menghimbau  agar  DL  Sitorus  menghentikan  seluruh  kegiatan  dan  meninggalkan kawasan hutan Register 40 Padang Lawas Sumatera Utara.  Dalam  putusannya,  Majelis  Kasasi  MA  yang  diketuai  Titi  Nurmala  Siagian  menyatakan,  Pengadilan  Tinggi  Tata  Usaha  Negara  (PT  TUN)  DKI  Jakarta telah salah menerapkan hukum tentang tenggang waktu pengajuan  gugatan  TUN.  Menurut  majelis  kasasi,  pengajuan  gugatan  masih  dalam  tenggat  waktu  yang  dimaksud  Pasal  55  UU  No.  9  Tahun  2004  tentang  perubahan  atas  UU  No.  5  Tahun  1986  tentang  PTUN.   Dengan  dibatalkannya SK tersebut oleh MA, DL Sitorus mendapatkan senjata untuk  mengajukan Peninjauan Kembali. Sebab, SK tersebut nyata‐nyata melarang  Direktur  PT  Torganda  ini  menguasai  kawasan  hutan  produksi  di  Padang  Lawas. 

KASUS TEDDY ANTONI 
Pada  April  2007,  Teddy  Antoni  (39),  Direktur  Utama  PT  ATN,  pembalak  13.000  m3  kayu  di  Kepulauan  Mentawai,  Sumbar  yang  dinilai  merugikan negara Rp7,3 miliar, divonis bebas. Majelis hakim dengan Ketua,  Nurhaida  Betty  Aritonang,  SH,  di  PN  Padang  menyatakan  Teddy  wajar  divonis  bebas  dari  tuntutan  berlapis,  karena  persidangan  membuktikan  kejahatan  yang  didakwakan  terhadapnya  tidak  memenuhi  unsur  pidana.  Terkait  pembebasan  Teddy,  JPU,  Jopi  Noveli,  SH,  menyatakan  pikir‐pikir  atau  menyerahkan  kebijakan  selanjutnya  pada  Kepala  Kejaksaan  Tinggi  Sumbar.  

 

29 

     

Sebelumnya  Jaksa  penuntut  Umum,  Jopi  Noveli,  SH  dan  Wiily  Ade  Chaidir,SH, menuntut terdakwa selama enam tahun penjara, denda Rp300  juta dan subsider enam bulan kurungan, karena melanggar pasal 2 ayat 1 jo  pasal  18  ayat  1  huruf  b  UU  No  31  tahun  1999  tentang  korupsi.  Terdakwa  juga dijerat pasal No. 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 ke ‐ KUHP, karena  dugaan  kejahatan  dilakukan  secara  bersama  dengan  dua  koperasi  Mina  Awera  dan  KSU  Simantorai  dalam  izin  pemanfaatan  kayu  (IPK)  di  Sipora  Kepulauan Mentawai.  Dakwaan  sebelumnya,  Teddy  Antoni,  dinilai  bekerjasama  dengan  Zulkarnain  ‐  Ketua  KUD  Mina  Awera  dan  M  Parulian  Samalinggai  (DPO),  menggarap kayu jenis meranti, kruing, mencimin, balam di luar lahan atas  IPK yang dimilikinya. Dalam mengelola kayu tersebut Teddy menyediakan 5  unit buldozer, dan wheel loader, eskavator, motor grader dan dump truck  masing‐masing  satu  unit  serta  peralatan  lainnya  untuk  KSU  Simarotorai.  Pengoperasian  alat  barat  itu  tidak  memiliki  izin  Dirjen/Derektur  Bina  pengembangan  Hutan  Tanaman  yang  seharusnya  sesuai  Kepmenhut  No  428/kpts‐11/2003.  Guna  melancarkan  operasinya  Teddy  Antoni,  juga  menyediakan  empat unit chainsaw atas nama Jailani untuk Koperasi Mina Awera dan lima  operator  ATN.  Selain  itu,  Teddy  juga  menyediakan  enam  unit  kendaraan  roda empat serta mengontrak dua unit kapal. Teddy diadili ke PN Padang,  mulai  20  Desember  2005.  Terdakwa  dalam  sidang  putusan  itu,  didamping  penasehat  hukumnya  Suherman,  SH  dan  Azimar  SH.  Dalam  kasus  ilegal  Logging itu, diperiksa 27 orang saksi. 

KASUS SEJUTA HEKTAR KELAPA SAWIT DI KALTIM 
Kasus  sejuta  hektar  kelapa  sawit  di  Kaltim  melibatkan  5  Tersangka/Terdakwa yakni :  1. Suwarna AF (Gubenur Kaltim)  2. Martias (President Surya Dumai Grup)  3. Uuh Aliyuddin (Ka Kanwil Dephutbun Kaltim)  4. Robian (Kadishut/Plt Ka Kanwil Dephutbun Kaltim)  5. Waskito Suryodibroto (Dirjen PHP Dephutbun)       

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 30 
  Kasus Posisi 

2008 

Sejak  tahun  1998,  SUWARNA  AF  selaku  Gub.  Kaltim    mencanangkan  pembangunan  kebun  kelapa  sawit  Sejuta  hektar    di  Prov.  Kaltim,  namun  dalam  perencanaannya  tidak  dibuat  secara  matang  dan  tanpa  pembahasan dengan DPRD Kaltim.   MARTIAS  selaku  President  BOD  Surya  Dumai  Grup  (SDG)  turut  serta  dalam  pelaksanaan  kegiatan  yang  canangkan  SUWARNA,  dengan  membentuk  Surya  dumai  Grup  Divisi  Pengembangan  Kaltim,  yg  membawahi    antara  lain  :  PT  BUMI  SIMANGGARIS  INDAH,  PT  BULUNGAN  AGRO  JAYA,  PT  KALTIM  BHAKTI  SEJAHTERA,  PT  REPENAS  BHAKTI  UTAMA,  PT  BUMI  SAWIT  PERKASA,  PT  BORNEO  BHAKTI  SEJAHTERA, PT BULUNGAN HIJAU PERKASA (didirikan pada tanggal 29  April  1999),  PT  MARSAM  CITRA  ADIPERKASA  ,  PT  TIRTA  MADU  SAWITJAYA,  PT  SEBUKU  SAWIT  PERKASA  dan  PT  BERAU  PERKASA  MANDIRI, yang alamat dan pemegang sahamnya adalah sama.  Perusahan  SDG  mendapatkan  rekomendasi  dari  Suwarna  selaku  Gub.  Kaltim seluas 147.000 Ha utk bangun perkebunan kelapa sawit. Hal ini   melanggar  batas  maksimum  SK  Menhutbun  No.  107/Kpts‐II/1999  tanggal  3  Maret  1999  tentang  Perizinan  Usaha  Perkebunan  yaitu  sebesar  maksimum  20.000  Ha  bagi  satu  perusahaan  atau  satu  grup  perusahaan dalam satu provinsi.  Lokasi pembangunan kebun kelapa sawit SDG berada di Kab. Bulungan,  Kab. Berau dan Kab. Nunukan.  SUWARNA  meminta  bantuan  WASKITO  (Dirjen  PHP  Dephutbun)  utk  mempercepat  pembangunan  kebun  kelapa  sawit  sejuaa  Ha  di  Kaltim  diantaranya percepatan pemberian IPK dlm rangka land clearing.   MARTIAS  didampingi  PAULUS  TANURAHARDJA  mendatangi  WASKITO  dalam rangka mengurus perijinan IPK.   PAULUS selaku Perwakilan DiVisi Pengmebangan Kaltim SDG di Jakarta  atas  perintah  MARTIAS  mengajukan  permohonan  IPK  langsung  kpd  Dirjen  PHP  yg  dilampiri  antara  lain  rekomendasi  dari  Gub  Kaltim  (SUWARNA)  tanpa  melalui  Ka  Kanwil  Dephutbun  Kaltim  serta  permohonan  tidak  dilampiri  dgn  persyaratan  yaitu  :  Persetujuan  Prinsip  Pelepasan  Kawasan  Hutan  dari  Menteri,  FS  dan  Bukti  telah 

 

31 

     

dilksanakan Tata Batas Areal. Hal ini melanggar pasal 5 ayat (1) dan (2)  Kep Menhutbun No 538/1999  WASKITO  menerbitkan  Persetujuan  Prinsip  IPK  kpd  perusahaan2  SDG  dgn  membuat  surat  kepada  Ka  Kanwil  Dephutbun  Kaltim  dgn  tembusan  Gubernur  dan  Kepala  Dinas  Kehutanan  kaltim  untuk  menerbitkan IPK.  Atas dasar Persetujuan Prinsip IPK dari Dirjen PHP tersebut, SUWARNA   menerbitkan  Surat    Persetujuan  Sementara  Hak  Pengusahaan  Hutan  Tanaman  Perkebunan  (HPH  TP,  Surat  Persetujuan  Prinsip  Pembukaan  Lahan  dan  Pemanfaatan  Kayu  kpd  PT  yg  tergabung  dlm  SDG.  Surat  tersebut  disertai  dgn    instruksi  kepada  Kakanwil  untuk  segera  menerbitkan IPK.  Berdasar  HPHTP,  Ijin  Prinsip  Dirjen  PHP  dan  Persetujuan  Prinsip  Pembukaan Lahan dan Pemanfaatan kayu, UUH ALIYUDDIN, Ka Kanwil  Dephutbun  Kaltim  selaku  pejabat  teknis  menerbitkan  14  IPK  (1999‐ 2000) kepada PT yg tergabung dlm SDG.  Pada  saat  IPK  yg  diterbitkan  oleh  UUH  ALIYUDIN  akan  habis  masa  berlakuknya,  TONY  CANDRA  selaku  Kepala  Perwakilan  Divisi  Kaltim  SDG  di  Samarinda,  atas  perintah  MARTIAS  mengajukan  Dispensasi  Penyerahan Bank Garansi DR‐PSDH kpd Gub Kaltim (SUWARNA)  SUWARNA menerbitkan Dispensasi Penyerahan Bank Garansi DR‐PSDH  kepada perusahaan yg tergabung dlm SDG.  Brdasarkan IPK yg telah diterbitkan oleh UUH ALIYUDIN yg tidak sesuai  dgn ketentuan dan adanya Dispensasi dari SUWARNA, ROBIAN selaku  Kadishut/Plt  Ka  Kanwil  Dephutbun  Kaltim  menerbitkan  14  SK  IPK/Perpanjangan IPK kepada PT yg tergabung dlm SDG.  Dengan  SK  IPK  dan  SK  Perpanjangan  IPK  tersebut,  PT  yang  tergabung  dalam  SDG  melakukan  eksploitasi  kayu  tanpa  ada  keseriuasan  membangun kebun kelapa sawit pada areal seluas kurang lebih 53.600  Ha, dgn jumlah nilai tebangan sekitar Rp. 386.221.139.830,‐. Dikatakan  tidak serius karena pada kenyataannya sampai Juni 2006 hanya 2.170  Ha  yang  dibangun  dari  luas  53.600  Ha  yang  ditebang.  Hal  ini  karena  tidak adanya pengawasan dari Gubernur dan pihak Kanwil Dephutbun   Kaltim serta  Kadishut Kaltim.     

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 32 
  Dakwaan terhadap Suwarna AF 

2008 

Dalam sidang yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi itu,  penuntut  umum  KPK  mendakwa  Suwarna  telah  merugikan  keuangan  negara  sebesar  Rp  346,8  miliar.  Menurut  penuntut  umum,  kerugian  tersebut  diakibatkan  serangkaian  perbuatan  Suwarna  dalam  kurun  waktu  sejak Agustus 1999 sampai Desember 2002. Perbuatan Suwarna yang dinilai  penuntut  KPK  melanggar  mulai  dari  pemberian  rekomendasi  areal  perkebunan  sawit,  memberikan  persetujuan  sementara  Hak  Pengusahaan  Hutan Tanaman Perkebunan (HPHTP sementara) dan Ijin Pemanfaatan Kayu  (IPK),  hingga  memberikan  persetujuan  prinsip  pembukaan  lahan  dan  pemanfaatan  kayu.  Suwarna  juga  dianggap  telah  menyalahi  aturan  ketika  memberikan dispensasi kewajiban penyerahan jaminan bank (Bank Garansi)  kepada  perusahaan  yang  tergabung  dalam  Surya  Dumai  Group  yang  dikendalikan  Martias  alias  Pung  Kian  Hwa  tanpa  mengindahkan  peraturan  teknis bidang kehutanan.   Dengan  mengantongi  IPK  tersebut,  Martias  pada  kenyataannya  tidak  melaksanakan  pembangunan  perkebunan  kelapa  sawit.  Tapi  hanya  memanfaatkan  IPK  guna  mengambil  kayu  pada  areal  hutan  yang  direkomendasikan untuk  perkebunan.  Hasilnya, Martias memperoleh kayu  sebanyak 692 meter kubik senilai Rp 346,8 miliar.   Tindakan  Suwarna  tersebut  oleh  penuntut  dalam  dakwaan  primairnya diancam dengan Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 UU 31/1999 tentang  Pemberantasan  Tindak  Pidana  Korupsi  sebagaimana  diubah  dengan  UU  20/2001  (UU  Korupsi)  jo  Pasal  55  ayat  (1)  ke‐1  KUHP  jo  Pasal  64  ayat  (1)  KUHP.  Dalam dakwaan subsidairnya, Suwarna dianggap menyalahgunakan  kewenangan,  kesempatan  atau  sarana  yang  ada  padanya  dengan  serangkaian  perbuatan  yang  memberikan  ijin  kepada  Surya  Dumai  Group  untuk  pembukaan  lahan  dan  pemanfaatan  kayu.  Perbuatan  ini  diancam  Pasal  3  jo  Pasal  18  UU  Korupsi  jo  Pasal  55  ayat  (1)  ke‐1  KUHP  jo  Pasal  64  ayat (1) KUHP. 

 

33 

     

Tuntutan terhadap Suwarna AF  Tuntutan digelar pada tanggal 2 Maret 2007. Penuntut Umum KPK  menuntut  Gubernur  Kalimantan  Timur  Mayjend  (Purn)  Suwarna  Abdul  Fatah  7  tahun  penjara  dan  denda  Rp200  juta  subsider  kurungan  6  bulan.  Terdakwa  melanggar  pasal  2  ayat  (1)  jo  pasal  18  UU  No.  31  tahun  1999  tentang  Pemberantasan  Tindak  Pidana  Korupsi  sebagaimana  telah  diubah  dengan UU 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke‐1 KUHP jo Pasal 64 ayat  (1) KUHP.  Terdakwa  kasus  korupsi  pelepasan  ijin  pembebasan  seribu  hektar  lahan  perkebunan  kelapa  sawit  ini  dinilai  tidak  menikmati  sendiri  hasil  korupsinya.  Justru  Martias  alias  Pung  Kian  Hwa,  pengendali  sejumlah  perusahaan  yang  tergabung  dalam  Surya  Dumai  Group,  yang  menikmati  hasil  korupsi  Suwarna.  Suwarna  juga  dianggap  telah  menyalahi  aturan  ketika  memberikan  dispensasi  kewajiban  penyerahan  jaminan  bank  (Bank  Garansi) kepada sejumlah perusahaan yang tergabung dalam Surya Dumai  Group  yang  dikendalikan  Martias  tanpa  mengindahkan  peraturan  teknis  bidang kehutanan.  Selain  itu,  Suwarna  juga  memberi  perintah  secara  lisan  kepada  Kepala  Kantor  Wilayah  Kehutanan  dan  Perkebunan  Propinsi  Kaltim  serta  Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Kaltim untuk menerbitkan IPK yang belum  memenuhi syarat kepada Surya Dumai Group.   Dengan  mengantongi  IPK  tersebut,  Martias  pada  kenyataannya  tidak  melaksanakan  pembangunan  perkebunan  kelapa  sawit.  Tapi  hanya  memanfaatkan  IPK  guna  mengambil  kayu  pada  areal  hutan  yang  direkomendasikan  untuk  perkebunan.  Belakangan  terungkap,  proyek  pembukaan lahan itu terbengkalai. Yang aneh, sebagian besar lahan sudah  ditebangi kayunya, tapi tidak ditanami kelapa sawit.  Putusan  Majelis  hakim  yang  diketuai  Gus  Rizal  hanya  menjatuhkan  vonis  1  tahun 6 bulan penjara serta denda Rp200 juta subsidair tiga bulan kurungan  kepada terdakwa Suwarna AF. Majelis hakim menyatakan Suwarna terbukti  melakukan tindak pidana korupsi terkait pelepasan izin pembebasan lahan 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 34 
 

2008 

perkebunan  kelapa  sawit  seribu  hektar.  Pidana  uang  pengganti  tidak  dikenakan  karena  tidak  ada  fakta  persidangan  yang  menyatakan  Suwarna  menikmati hasil tindak pidana korupsi yang dilakukannya.  Walaupun terbukti melakukan tindak pidana korupsi, majelis hakim  menilai  perbuatan  Suwarna  tidak  memenuhi  unsur‐unsur  Pasal  2  ayat  (1)  UU  No.  31  Tahun  1999  sebagaimana  dakwaan  primair  JPU.  Majelis  hakim  justru berpendapat dakwaan subsidair yakni Pasal 3 UU No. 31 Tahun 1999  yang terbukti.   Putusan  ini  diwarnai  dengan  pendapat  berbeda  atau  dissenting  opinion  dari  salah  seorang  anggota  majelis,  Slamet  Subagio.  Slamet  menyatakan  tidak  setuju  dengan  pendapat  mayoritas  majelis  hakim  yang  menyatakan perbuatan terdakwa tidak memenuhi unsur‐unsur pasal dalam  dakwaan  primair.  Dalam  pertimbangannya,  majelis  hakim  menyatakan  berdasarkan  fakta  persidangan  terungkap  bahwa  Suwarna  telah  membuat  sejumlah  kebijakan  dalam  rangka  Program  Pembangunan  Perkebunan  Kelapa Sawit Sejuta Hektar Kalimantan Timur. Kebijakan‐kebijakan tersebut  diantaranya  diberikan  kepada  sejumlah  perusahaan  yang  ternyata  tergabung dalam Surya Dumai Grup.  Kebijakan  dimaksud  antara  lain  penerbitan  surat  persetujuan  prinsip  pembukaan  lahan  dan  pemanfaatan  Kayu,  rekomendasi  areal  perkebunan  sawit,  persetujuan  sementara  hak  pengusahaan  hutan  tanaman perkebunan (HPHTP sementara), izin pemanfaatan kayu (IPK), dan  dispensasi kewajiban penyerahan jaminan bank garansi dana reboisasi (DR)  dan provisi sumber daya hutan (PSDH).   Majelis  hakim  berpendapat  perbuatan  Suwarna  belum  dapat  dikualifikasikan sebagai perbuatan yang melanggar hukum karena beberapa  kebijakan  yang  dibuatnya  seperti  surat  persetujuan  prinsip  pembukaan  lahan dan pemanfaatan Kayu dan persetujuan HPHTP sementara belum ada  dasar hukumnya. Pertimbangan majelis hakim diantaranya didasarkan pada  keterangan  ahli  Soeparno  dari  Biro  Hukum  Departemen  Kehutanan  yang  menyatakan HPHTP sementara, sejauh ini tidak ada dasar hukumnya. 

 

35 

     

Sementara  itu,  untuk  dakwaan  subsidair,  majelis  hakim  menegaskan  bahwa  kebijakan‐kebijakan  yang  dibuat  Suwarna  terbukti  telah  melampaui  kewenangannya  sebagai  Gubernur  Kaltim.  Sebagai  contoh, kebijakan menerbitkan surat persetujuan prinsip pembukaan lahan  dan  pemanfaatan  Kayu  yang  semestinya  bukan  kewenangan  seorang  Gubernur atau Kepala Daerah.  Berdasarkan  Pasal  9  ayat  (1)  SK  Menhut  No.  107/Kpts‐II/1999  tanggal 3 Maret 1999 tentang Perizinan Usaha Perkebunan, maka izin usaha  perkebunan  berskala  besar  diterbitkan  oleh  Menhut.  Padahal,  usaha  perkebunan  yang  dijalankan  perusahaan‐perusahaan  Surya  Dumai  Grup  masuk  kualifikasi  usaha  perkebunan  skala  besar  karena  lebih  dari  10  ribu  hektar.     Selain itu, majelis juga menyatakan kebijakan‐kebijakan yang dibuat  Suwarna  terbukti  secara  nyata  telah  menguntungkan  orang  lain  yakni  Martias alias Pung Kian Hwa yang tidak lain adalah pimpinan Surya Dumai  Grup.  Terkait  unsur  kerugian  negara,  majelis  hakim  berpendapat  perhitungan kerugian negara yang dilakukan oleh ahli dari Badan Pengawas  Keuangan dan Pembangunan (BPKP) tidak valid. Pasalnya, ahli BPKP hanya  menghitung  kerugian  negara  berdasarkan  data‐data  yang  dimiliki  penyidik  KPK dan tidak melakukan penelusuran ke lapangan.   Perhitungan  ahli  BPKP  tidak  melingkupi  fakta  adanya  tunggakan  sejumlah perusahaan Surya Dumai Grup sebesar Rp5.7 milyar untuk PSDH  dan  Rp1,5  milyar  untuk  DR  yang  telah  dibayar  lunas.  Akibatnya,  jumlah  kerugian  negara  Rp  346.823.970.564,24  yang  diperoleh  ahli  BPKP  kurang  akurat dan oleh karenanya dikesampingkan oleh majelis hakim.       

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 36 
 

2008 

Putusan  terhadap  terhadap  terdakwa  kasus  kelapa  sawit  sejuta  hektar di Kaltim selengkapnya lihat tabel di bawah ini:  No.  Terdakwa  Putusan  Tingkat  Pertama  1 tahun 6  bulan  1 tahun 6  bulan  Putusan  Banding  4 tahun  1 tahun 6  bulan  ?  Putusann  Kasasi  4 tahun  1 tahun 6  bulan  ? 

1.  2.  

3. 

4. 

5. 

Suwarna Abdul Fatah  (Gubenur Kaltim)  Martias (President  BOD Surya Dumai  Grup)  Uuh Aliyuddin (Ka  4 tahun  Kanwil Dephutbun  Kaltim)  Robian (Kadishut/Plt  4 tahun  Ka Kanwil Dephutbun  Kaltim)  Waskito Suryodibroto  2,5 tahun  (Dirjen PHP  Dephutbun) 
Sumber: Diolah dari media cetak.   

KASUS BUPATI PELALAWAN RIAU 
Pada  tanggal  13  Agustus  2007,  Komisi  Pemberantasan  Korupsi  (KPK)  menetapkan  Bupati  Pelalawan  Tengku  Azmun  Jaafar  (AJ)    sebagai  tersangka  dalam  kasus  gratifikasi  keluarnya  sejumlah  Izin  Usaha  Pemanfaatan  Hasil  Hutan  Kayu  Hutan  Tanaman.  AJ  ditetapkan  sebagai  tersangka  berdasarkan  Surat  Tanda  Penerimaaan  Barang  Bukti  (STTB)/220/Dak.2/KPK/VI/2007.Azmun  sendiri  sudah  beberapa  kali  diperiksa  KPK  sebagai  saksi  dalam  kasus  tersebut.  KPK  juga  sudah  memeriksa  sejumlah  saksi  lainnya  seperti  Ketua  DPRD  Pelalawan  M  Harris  dan  mantan  Menteri  Kehutanan  Nurmahmudi  Ismal  serta  rekanan  yang  diduga telah memberikan gratifikasi. 

 

37 

     

KPK  telah  menyita  sejumlah  barang  bukti  yang  memperkuat  penetapan  Azmun  sebagai  tersangka.  Barang  bukti  yang  disita  antara  lain  buku  kas  PT  Persada  Karya  Sejati  tahun  2006,  3  lembar  form  PT  Persada  Karya  Sejati  tanggal  26  Januari,  1  lembar  kwitansi  tertanggal  20  Januari  2006  dengan  nilai  Rp600  juta.Kemudian  1  bundel  kesekapatan  antara  CV  Tuan Negeri dengan PT RAPP tertanggal 1 Juli 2003, 1 bundel kesepakatan  CV  Putri  Lindung  Bulan  dengan  RAPP,  dan  1  bundel  kesepakatan  antara  Koperasi Pangkalan Tuo Sakti dengan PT RAPP.  Pada  tanggal  14  Desember  2007,  (KPK)  menangkap  pelaku  pembalakan  liar  Bupati  Pelelawan  Riau  Tengku  Azmun  Jaafar.  Penerbitan  Ijin  Usaha  Pemanfaatan  Hasil  Hutan  Kayu  ‐  Hutan  Tanaman  (IUP)  yang  dikeluarkan  Azmun  diduga  merugikan  negara  sebesar  Rp1,3  triliun.  Dari  hasil  penyidikan  KPK  itu,  antara  2001  hingga  2006  Azmun  diduga  telah  melakukan  perbuatan  melawan  hukum  dalam  penerbitan  IUP  kepada  15  perusahaan  di  Riau. Penerbitan  ijin  itu  dilakukan  pada  lahan  hutan  alam  yang  memiliki  potensi  kayu  dan  bukan  pada  areal  kosong,  padang  alang‐ alang  atau  semak  belukar.  Hal  itu  bertentangan  dengan  PP  No.  34  Tahun  2002  tentang  tata  hutan  dan  rencana  pengelolaan  hutan.  Pasal  30  PP  No.  30/2004 itu menyebutkan usaha pemanfaatan hutan pada hutan tanaman,  dilaksanakan  pada  lahan  kosong,  padang  ilalang  dan  atau  semak  belukar  dihutan produksi.   Dalam  Keputusan  Menteri  Kehutanan  No.  10.1/Kpts‐II/2000  tentang pedoman pemberian IUP pada hutan produksi hal itu juga dilarang.  Kepmenhut  itu  menentukan  areal  yang  dapat  diterbitkan   Pmeberian  IUUPHHK  pada  Hutan  Tanaman  dapat  diberikan  pada  lahan  hutan  yang  telah menjadi lahan kosong atau terbuka dan vegetasi alang‐alang dan/atau  semak  belukar.  Begitupula  untuk  vegetasi  hutan  alam  yang  tidak  terdapat  pohon berdiameter di atas 10 cm tidak boleh diberikan izin. 

KASUS ADELIN LIS 
Kasus Posisi  PT  KNDI  pada  tanggal  30  September  1999  berhak  atas  hutan  di  Kecamatan Muara Batang Gadis, Madina, seluas 58.590 hektare dengan SK  Menhut  Nomor  805/Kpts‐VI/1999.  Adelin  Lis,  salah  satu  "raja  hutan"  dari 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 38 
 

2008 

Sumatera  Utara,  ditangkap  karena  kasus  pembalakan  liar  pada  September  2006  di  Beijing,  Cina.  Ia  adalah  Direktur  Umum  dan  Direktur  Keuangan  PT  Keang Nam Development serta Komisaris PT Inanta Timber Trading.  Pada tanggal 20 Juni 2007 lalu, Adelin Lis selaku direktur keuangan  PT KNDI didakwa atas kasus pidana korupsi dan kerusakan hutan. Adelin Lis  dianggap telah melakukan penggelapan pembayaran DR / PSDH. Di samping  itu,  ia  telah  melakukan  kegiatan  pembalakan  jauh  diluar  jumlah  RKT  yang  notabene dapat menyebabkan kerusakan hutan.  Hakim  Arman Byrin, Robinson Tarigan, Jarasmen Purba, Ahmad Ismedi, dan  Dolman Sinaga.  Jaksa  Harli Siregar SH, Halila SH, Tomo Sitepu, dan Agus Wirawan SH  Tersangka Lainnya  Oscar  Sipayung  (Direktur  Utama  PT  KNDI),  Washington  Pane  (Direktur  Perencanaan  dan  Produksi  PT  KNDI),  Budi  Ismoyo  (Kadis  Kehutanan  Kab  Madina  periode  2006),  dan  Sucipto  (mantan  Kadis  Kehutanan  Madina  periode 2002)  Dakwaan  Pada  dakwaan  kesatu  primer,  jaksa  penuntut  umum  (JPU)  mendakwa  Adelin  dengan  Pasal  2  ayat  (1)  junto  Pasal  18  UU  No  20/2001  tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi junto Pasal 55 ayat (1) ke‐1  junto Pasal 64 ayat (1) KUHPidana dengan ancaman penjara seumur hidup.   Jaksa menyatakan, Adelin bersama dengan Direktur Utama PT KNDI  Oscar  Sipayung  dan  Direktur  Operasional  PT  KNDI  Washington  Pane  merambah hutan di kawasan hutan Sikuang‐ Sungai Natal Kab Madina yang  berada  di  luar  Rencana  Kerja  Tahunan  (RKT)  yang  telah  ditetapkan  sejak 

 

39 

     

2000–2005.  Akibat  penebangan  kayu  dan  tunggakan  Provisi  Sumber  Daya  Hutan  (PSDH)  serta  tunggakan  Dana  Reboisasi  (DR)  negara  dirugikan  sebesar Rp119.802.399.040 dan USD2.938.556,24.   Sementara  dalam  dakwaan  kedua  primer,  jaksa  mendakwa  Adelin  dengan Pasal 50 ayat (2) junto Pasal 78 ayat (1), ayat (14) UU No 41/1999  tentang  Kehutanan  junto  Pasal  64  ayat  (1)  KUHPidana.  Penebangan  hutan  yang dilakukan PT KNDI menurut jaksa, juga tidak dibarengi kegiatan sistem  silvikultur  Tebang  Pilih  Tanam  Indonesia  (TPTI)  dalam  penebangan  pohon  kayu  hasil  hutan  dari  periode  2000–2005  mengakibatkan  kerusakan  hutan  yang parah.  Saksi  Di  antaranya  saksi  itu  adalah  Nirwan  Rangkuti  (P2SKSHH  Dishut  Madina),  Zairun  Harahap  (P2SKSHH  Dishut  Madina),Cardi  Riswandi  dan  Asep  Perry  Muhammad  (Petugas  Ceking  Cruising  Dishut  Madina),  Hanafi  Hasibuan  (Petugas  P2LHP  Dishut  Madina),  dan  M  Tohir  (Kasubdin  Bina  Produksi Dishut Madina).  Selanjutnya,  saksi  dari  Oscar  A  Sipayung  (Dirut  PT  KNDI),Umasda  (Kabag  Perencanaan  dan  Pengawasan  Eksploitasi  Hutan  PT  KNDI),Simon  Agustinus Sihombing (Manager Camp Pinang PT KNDI), Pakner Simanjuntak  (Pengukur  Kayu  Bulat  PT  KNDI),  Lahmudin  (Wakil  Dirut  PT  Mujur  Timber),dan  Wilson  sendiri  selaku  Kepala  Logs  Pond  Camp  Manager  PT  KNDI.  Tuntutan  Jaksa menuntut Adelin Lis hukuman pidana 10 tahun di Pengadilan  Negeri Medan. Adelin juga dituntut denda Rp 1 miliar atau subsider 6 bulan  kurungan dan uang ganti rugi sebesar Rp 119 milyar dan US$ 2,9 juta. Uang  pengganti  ini  ditanggung  renteng  bersama  empat  terdakwa  lainnya,  yaitu  Oscar  Sipayung  (Direktur  Utama  PT  KNDI),  Washington  Pane  (Direktur  Perencanaan  dan  Produksi  PT  KNDI),  Budi  Ismoyo  (Kadis  Kehutanan  Kab  Madina  periode  2006),  dan  Sucipto  (mantan  Kadis  Kehutanan  Madina  periode 2002). 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 40 
  Putusan: Bebas dari segala dakwaan 

2008 

Hakim  menilai  penebangan  hutan  hanya  merupakan  kelalaian  administrasi,  bukan  pidana.  Soal  pidana  korupsi,  menurut  majelis  hakim,  tidak  terbukti  adanya  penebangan  hutan  di  luar  areal  RKT  (rencana  kerja  tahunan).  Dengan  begitu,  dakwaan  penunggakan  provisi  sumber  daya  hutan dan dana reboisasi tidak terbukti pula.  Dalam amar putusannya, majelis hakim menilai bukti yang diajukan  jaksa  kurang  lengkap.  Tidak  ada  foto  atau  video  yang  membuktikan  kerusakan  hutan  yang  dituduhkan.  Saksi  ahli  dari  Institut  Pertanian  Bogor  yang diajukan jaksa, yakni Basuki Wasis dan Darsono, pun dinilai tidak kuat.  Bagaimana  saksi  bisa  membuktikan  kerusakan  hutan  hanya  dengan  penelitian  lapangan  selama  satu  hari,  yang  seharusnya  dilakukan  selama  dua  bulan,  untuk  area  seluas  58  ribu  hektare  milik  keluarga  Adelin  Lis?  Karena itu, hakim pun meloloskan Adelin dari jerat pasal perusakan hutan.  Walaupun  mengakui  PT  KNDI  tidak  menerapkan  sistem  silvikultur  Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI), hakim menyerahkan sanksinya kepada  menteri  kehutanan  sebagai  pemberi  dan  pencabut  izin  HPH.  Dengan  kata  lain, majelis sepakat bahwa PT KNDI hanya dikenai sanksi administratif atas  perusakan  maupun  pelanggaran  hukum  lain  terhadap  58  ribu  ha  hutan  di  Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Madina.  Dalam  putusan,  majelis  juga  menyatakan  bahwa  izin  HPH  PT  KNDI  masih  sah  hingga  sekarang.  Mereka  berpegang  pada  surat  sakti  Menhut  M.S. Kaban kepada Kapolda Sumatera  Utara bertanggal 21 April  2006 dan  Kapolri  Jenderal  Sutanto  bertanggal  7  Juni  2006.    Inti  surat  Menhut  ke  Kapoldasu yang sempat menjadi polemik itu, antara lain, menyebutkan, PT  Mujur  Timber,  PT  Inanta  Timber,  dan  PT  Keangnam  Development  merupakan  perusahaan  swasta  PMDN  yang  memiliki  IUPHHK/HPH.  Kaban  juga minta Kapoldasu memproses kasus tersebut secara objektif. Kapoldasu  juga  diminta  dapat  membedakan  pelanggaran  administratif  dan  pelanggaran pidana.   

 

41 

     

PROBLEM PENGGUNAAN UU ANTI KORUPSI DALAM  MENJERAT PELAKU ILLEGAL LOGGING 
PEMBELOKAN KORUPSI KE PELANGGARAN ADMINISTRASI 
Vonis  bebas  Adelin  Lis  telah  menambah  daftar  panjang  pelaku  illegal logging yang dibebaskan di pengadilan. Sistem peradilan yang korup  ditambah  intervensi  Departemen  Kehutanan  telah  gagal  menuntut  para  pelaku  yang  mendalangi  illegal  logging.  Vonis  tersebut  semakin  memperburuk  citra  Indonesia  sebagai  negara  yang  permisif  terhadap  pelaku pengrusakan hutan. Banyak hutan yang gundul tapi tidak ada aktor  intelektual  illegal  logging  yang  dihukum.  Padahal  sebagai  negara  penghancur  hutan  tercepat  di  dunia,  kita  diharapkan  mengambil  langkah‐ langkah sistematis untuk menghukum para pelaku.  Di dalam kasus Adelin Lis, Hakim menilai bukti yang diajukan jaksa  kurang kuat. Tidak ada foto atau video yang membuktikan kerusakan hutan  yang dituduhkan. Saksi ahli dari Institut Pertanian Bogor yang diajukan jaksa  dinilai  tidak  kuat.  Karena  itu  penebangan  hutan  besar‐besaran  hanya  merupakan pelanggaran administrasi, bukan pidana.   Vonis  bebas  dengan  pertimbangan  hanya  melakukan  pelanggaran  administrasi yang menimpa Adelin Lis bukanlah hal pertama yang terjadi di  Indonesia.  Sebelumnya,  banyak  pelaku  illegal  logging  di  Papua  juga  bebas  karena alasan yang sama.  Bebasnya  pelaku  illegal  logging  disebabkan  pernyataan  dari  Departemen  kehutanan  yang  menyatakan  bahwa  pemilik  ijin  hutan  hanya  dapat  dikenakan  sanksi  administrasi  tatkala  melakukan  kerusakan  hutan.  Ijin yang diberikan Departemen Kehutanan seolah‐olah melegalkan pemilik  ijin  pemanfaatan  hutan  untuk  melakukan  tebang  habis  tanpa  mempertimbangkan prosedur Tebang Pilih Tanaman Indonesia (TPTI).  Padahal  pasal  50  ayat  (2)  UU  No.  41  Tahun  1999  menyatakan  bahwa  pemilik  ijin  pemanfaatan  hutan  yang  melakukan  kerusakan  hutan  dikenai  sanksi  pidana,  bukan  sekedar  sanksi  administrasi.  Seseorang  yang  mempunyai  ijin,  tetapi  melakukan  penebangan  tanpa  mempertimbangkan 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 42 
 

2008 

aspek  lingkungan  dan  kelestarian  hutan  berarti  telah  melakukan  illegal  logging.  Di  samping  itu,  pembelokan  kasus  korupsi  Adelin  Lis  ke  dalam  ranah pelanggaran administrasi membuat persepsi tentang korupsi semakin  kabur  dan  tidak  jelas.  Orang  yang  melakukan  manipulasi  Dana  Reboisasi  (DR)  dan  Provisi  Sumber  Daya  Hutan  (PSDH)  dianggap  hanya  melakukan  pelanggaran administratif belaka.  Padahal  di  dalam  Laporan  Audit  Badan  Pemeriksa  Keuangan  (BPK)  Tahun  2006  terhadap  Penerimaan  Negara  Bukan  Pajak  (PNBP)  Sumatera  Utara  secara  jelas‐jelas  mengindikasikan  terjadinya  tindak  pidana  korupsi.  Ada setidaknya dua modus yang digunakan perusahaan Adelin Lis.   Pertama, melakukan mark down terhadap terhadap ketentuan tarif  DR‐PSDH.  Perusahaan  Adelin  Lis  membayarkan  DR‐PSDH  jenis  kayu  golongan  tinggi  dengan  menggunakan  tarif  kayu  golongan  rendah.  PT  Inanta  Timber  dan  PT  Keang  Nam  Development  Indonesia  (KNDI)  yang  merupakan  bagian  dari  Mujur  Timber  Group  milik  Adelin  Lis  kerap  kali  melakukan  modus  tersebut.  Dengan  modus  ini  negara  dirugikan  miliaran  rupiah.  Hasil  pengecekan  atas  dokumen  kayu  miliki  PT  KNDI  ternyata  diketahui  bahwa  pembayaran  kayu  jenis  Medang  sebanyak  2.372,30  m3  telah  dimasukan  dalam  kelompok  rimba  campuran  dengan  tarif  PSDH  Rp30.000/m3  dan  DR  US$12/m3.  Padahal  seharusnya  jenis  kayu  Medang  masuk  jenis  Meranti  dengan  tarif  PSDH  Rp50.000/m3  dan  DR  US$14/m3,  sehingga terjadi kurang bayar PSDH sebesar Rp47.446.000,00(2.372,30 m3  x Rp20.000) dan DR sebesar US$ 4.744,60 (2.372,30 m3 x US$2).  PT  Inanta  Timber  juga  melakukan  hal  yang  serupa.  Hasil  pengecekan  di  lapangan  menyebutkan  bahwa  pembayaran    PSDH  dan  DR  kayu  jenis  Medang  sebanyak  2.428,86  m3  dan  Mayang  sebanyak  1.168,77  m3  telah  dimasukan  dalam  kelompok  kayu  golongan  rendah.  Dengan  modus  tersebut,  maka  PT  Inanta  Timber  melakukan  penggelapan  PSDH 

 

43 

     

sebesar  Rp71.952.600,00  (3.597,63  m3  x  Rp20.000)  dan  DR  sebesar  US$7,195.26 (3.597,63 m3 x US$2).  Kedua,  melakukan  manipulasi  terhadap  jumlah  kayu  yang  dikenakan  DR/PSDH.  Perusahaan  Adelin  Lis  yang  beroperasi  di  Sumatera  Utara  seringkali  melaporkan  hasil  penebangan  yang  tidak  sesuai  dengan  kayu yang ditebang.   Berdasarkan  data  hasil  stock  opname  tanggal  31  Desember  2005  dan  pengukuran  dan  pengujian  kayu  bulat  tanggal  30  Januari  2006  oleh  Dinas  Kehutanan  Provinsi  Sumatera  Utara,  diketahui  bahwa  PT  Inanta  Timber  telah  menebang  kayu  bulat  melebihi  target  RKT  Tahun  2005  dan  belum  dibayar  PSDH  dan  DR  adalah  sebanyak  2.686,58  m3.  Ada  dugaan  bahwa  PT  Inanta  Timber  sengaja  melakukan  menggelapkan  DR/PSDH  atas  sebagian  kayu  yang  ditebang.  Dengan  modus  tersebut,  maka  kerugian  negara  berupa  PSDH  sebesar  Rp134.329.000,00  (2.686,58  m3  x  tarif  PSDH  sebesar  Rp50.000,00/m3)  dan  DR  US$37.612,12  (2.686,58  m3  x  tarif  DR  sebesar US$14/m3).  Melihat  modus  di  atas,  perusahaan  milik  Adelin  Lis  bukan  sekedar  melakukan pelanggaran administrasi belaka, tetapi lebih dari itu ada unsur  kesengajaan  untuk  memanipulasi  pembayaran  DR/PSDH  yang  dapat  merugikan  keuangan  negara.  Perbuatan  tersebut  dapat  dikategorikan  sebagai  perbuatan  melawan  hukum  karena  melanggar  peraturan  perundang‐undangan.  Dari  sisi  keuntungan,  modus  manipulasi  DR/PSDH  tentu saja dapat memperkaya Adelin Lis dan kroninya. 

PENGHITUNGAN KERUGIAN NEGARA YANG MASIH BIAS 
Putusan Pengadilan Tipikor tingkat pertama mengenai Kasus kelapa  sawit  sejuta  hektar  di  Kaltim  dan  Putusan  Kasus      Adelin  Lis  memberikan  pelajaran  berharga  terkait  perhitungan  kerugian  negara.  Di  dalam  kedua  kasus  tersebut,  hakim  secara  mentah‐mentah  menolak  perhitungan  kerugian  negara  yang  dilakukan  oleh  BPKP.    Perdebatan  tentang  kerugian  negara  apakah  hanya  dihitung  dari  potensi  tegakan,  kerusakan  lingkungan  dan DR/PSDH masih belum ada kesepahaman. 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 44 
 

2008 

Di dalam kasus kelapa sawit sejuta hektar di Kaltim, Penuntut KPK  dengan  menggunakan  perhitungan  BPKP  menaksir  Suwarna  telah  memperkaya Martias sebesar Rp 5,16 miliar atau korporasi sebesar Rp578  miliar  yang  berasal  dari  penjualan  kayu  perusahaan‐perusahaan  yang  bernaung  di  bawah  Surya  Dumai  Group  (SDG),  atau  setidak‐tidaknya  sebesar  Rp346  miliar.  Tiga  versi  yang  mengungkapkan  kerugian  negara  menunjukkan  bahwa  penuntut  umum  kurang  yakin  terhadap  perhitungan  BPKP. Padahal dalam perhitungan tersebut hanya dihitung potensi tegakan  tidak termasuk nilai kerusakan.  Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri  Jakarta  Pusat  Nomor  :  18/PID.B/TPK/2006  /PN.JKT.PST  tanggal  22  Maret  2007    Jo.  Putusan  Pengadilan  putusan  Pengadilan  Tinggi  Tindak  Pidana  Korupsi  pada  Pengadilan  Tinggi  DKI  Jakarta  Nomor  :  03/PID/TPK/2007/PT.DKI tanggal 26 Juni 2007 dalam perkara atas nama H.  SUWARNA  ABDUL  FATAH  dan  Putusan  Pengadilan  Tindak  Pidana  Korupsi  pada  Pengadilan  Negeri  Jakarta  Pusat  Nomor  :  21/PID.B/TPK/2006/PN.JKT.PST  tanggal  03  Mei  2007    dalam  perkara  atas  nama MARTIAS ALIAS PUNG KIAN HWA jumlah kerugian negara sebesar Rp.  5.167.723.032  (lima  milyar  seratus  enam  puluh  tujuh  juta  tujuh  ratus  dua  puluh tiga ribu tiga puluh dua rupiah).   Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri  Jakarta  Pusat  Nomor:  02/PID.B/TPK/2007/PN.JKT.PST  tertanggal  16  Juli  2007  atas  nama  Ir.  UUH  ALIYUDIN,  MM  (Mantan  Kakanwil  Dephutbun  Kaltim)  dan    Putusan  Pengadilan  Tindak  Pidana  Korupsi  pada  Pengadilan  Negeri Jakarta Pusat Nomor : 03/PID.B/TPK/2007/PN.JKT. PST tertanggal 16  Juli  2007  atas  nama  Ir.  H.  ROBIAN,  MSi  (Mantan  Plt.  Kakanwil  Dephutbun  Kaltim  dan  Kadis  Kehutanan  Propinsi  Kaltim),    jumlah  kerugian  negara  sebesar Rp. 186.579.088.185 (seratus delapan puluh enam milyar lima ratus  tujuh  puluh  sembilan  juta  delapan  puluh  delapan  ribu  seratus  delapan  puluh lima rupiah).  Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri  Jakarta  Pusat  Nomor:  08/PID.B/TPK/2007/PN.  JKT.PST  tertanggal  19  September  2007  atas  nama  Ir.  WASKITO  SURYODIBROTO,  MM,  jumlah 

 

45 

     

kerugian  negara  sebesar  Rp.  218.940.223.830.‐  (dua  ratus  delapan  belas  milyar  sembilan  ratus  empat  puluh  juta  dua  ratus  dua  puluh  tiga  ribu  delapan ratus tiga puluh rupiah). 

PENEGAK HUKUM TIDAK MENGOPTIMALKAN   ANALISA PPATK 
Sampai 16 April 2007, ada sekitar 263 Laporan Transaksi Keuangan  Mencurigakan  (LTKM)  terkait  dengan  korupsi  dan  5  LTKM  terkait  dengan  illegal  logging.  Dari  sejumlah  LTKM  tersebut,  sampai  akhir  tahun  2007  PPATK  berhasil  menyelesaikan  analisis  sebanyak  231  untuk  korupsi  dan  4  analisis  untuk  illegal  logging.  Namun  ironisnya,  dari  sejumlah  analisis  PPATK,  tidak  ada  satu  kasus  pun  kasus  illegal  logging  yang  terkait  dengan  pencucian uang dan korupsi diteruskan ke proses peradilan. 
Tabel 3. Statistik Perkembangan Tindak Pidana Asal Berdasarkan jumlah LTKM Setiap  Tahun 
Tindak Pidana Asal  s.d 2003 Korupsi/Penggelapan  Penipuan  Percobaan Penipuan  Kejahatan Perbankan  Pemalsuan Dokumen  Teroris  Penggelapan Pajak  Perjudian  Penyuapan  Narkotika Pornografi Anak  Pemalsuan  Uang/Rupiah  Pencurian  Pembalakan Liar  0 0 2 1 0 2 0 2 0 0 2  5  0 4 0 8 0 0 0 0 0 0 0 0 Tahun 2004 103 149 2 8 12 3 1 2 5 1 1 2 2005 43 45 8 16 10 2 2 2 8 1 0 2 2006 60 32 3 4 53 0 3 0 5 2 0 0 2007 / 16 Apr  57 2 2 0 2 1 1 1 1 0 0 0 263  232  15  36  77  6  7  5  19  4  1  4  Jumlah 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 46 
 
Penyelundupan  Tidak Teridentifikasi /  dll     12  302 149 170 72 0  0  4 6 0 8 0 6 0 5

2008 
4  25 

705 

Padahal dalam beberapa analisis PPATK, menguraikan alur transaksi  dari  pengusaha  kayu  yang  diduga  terkait  illegal  logging  kepada  pejabat  pemerintah dan aparat kepolisian (Lihat Lampiran). Ada setidaknya 6 hasil  analisis  PPATK  yang  terkait  dengan  illegal  logging,  korupsi  dan  pencucian  uang  yang  belum  dipecahkan  oleh  aparat  penegak  hukum.  Transaksi  dari  pengusaha  ke  aparat  pemerintah  dalam  jumlah  yang  begitu  besar  merupakan  transaksi  yang  mencurigakan.  Jika  aparat  pemerintah  tidak  melaporkan  terjadinya  pemberian  kepada  KPK,  maka  pemberian  tersebut  dikategorikan gratifikasi.  
Pasal 12 B (1) Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap  pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan  kewajiban atau tugasnya, dengan ketentuan sebagai berikut:  a. yang nilainya Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih, pembuktian  bahwa gratifikasi tersebut bukan merupakan suap dilakukan oleh penerima  gratifikasi;   yang nilainya kurang dari Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah), pembuktian  bahwa gratifikasi tersebut suap dilakukan oleh penuntut umum.  

b.

(2)  Pidana bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara sebagaimana dimaksud dalam  ayat (1) adalah pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat)  tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp  200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar  rupiah). 

 Berikut  ini  contoh  analisis  PPATK  terrhadap  transaksi  di  bidang  kehutanan: 

 
K asu s 1

47 

     

      
(P e n g u s a h a k a y u ) S M R K A L T IM J H T P T E , L td S IN G A P O R E W P S dn, B hd E C S dn, B hd M A L A Y S IA In c o m in g T r a n s fe r U S D 1 1 ,2 ju ta

In c o m in g T r a n s fe r U S D 0 ,5 ju ta

     

P e m in d a h b u k u a n dana

F R /D N JA K A R T A

T ra n s fe r d a n a K A S P E M D A

S e to r d a n a

S e to r d a n a

M R & Y P W ( P o lis i)

R S (T N I)

H W ( K a d is h u t)

M M & F M (P N S )

     
P age 1

Penjelasan  gambar  itu  adalah  sebagai  berikut.  Pada  Periode  2001‐ 2004, DN dan WST (kuasa FR) diduga mengekspor kayu olahan ke Malaysia  dan  Singapura  melalui  PT  SM  Jakarta.  Hal  ini  diketahui  dari  transfer  USD11,2 juta dari JHT PTE Ltd (Singapura) dan USD0,5 juta dari WP Sdn Bhd,  EC  Sdn  Bhd,  Ti  Co,  dan  ST  Co  (Malaysia).  Atas  transfer  tersebut,  sebagian  besar  dananya  ditransfer  oleh  DN  dan  WST  ke  SMR  (pengusaha  kayu)  di  Samarinda dan pejabat Pemda Papua serta Kas Pemda Papua.  Di  samping  itu,  DN  dan  WST  juga  menarik  dan  langsung  menyetorkan  dana  kepada  oknum  Polisi  (MR  dan  YPW),  oknum  PNS  (MM  dan  FM),  oknum  TNI  (RS)  dan  Oknum  Pejabat  Dishut  (HW)  sebesar  USD128,4  ribu  (Rp1,146  milliar).  Oknum  MR  yang  pada  waktu  menjabat  sebagai Kanitserse tidak melakukan penindakan terhadap perusahaan milik  FR. Padahal perusahaan milik FR diduga melakukan illegal logging.   

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 48 
 

2008 

Tabel 4. Statistik Perkembangan Tindak Pidana Asal Berdasarkan jumlah  Analisis Setiap Tahun 
Tindak Pidana Asal  s.d  2003  Korupsi/Penggelapan  Penipuan  Percobaan Penipuan  Kejahatan Perbankan  Pemalsuan Dokumen  Teroris  Penggelapan Pajak  Perjudian  Penyuapan  Narkotika  Pornografi Anak  Pemalsuan  Uang/Rupiah  Pencurian  Pembalakan Liar  Penyelundupan  Tidak  Teridentifikasi  /  dll     4  240 122 67 522  0  0  0  0  1 1 4 6 0 2 0 8 0 1 0 2 0 0 0 5 1  4  4  21  0  3  0  1  0  0  0  0  0  0  0  0  99 98 2 8 10 3 1 1 2 1 1 2 Tahun 2004 200 5  37 35 6 16 8 2 2 2 1 1 0 2 42 11 2 2 1 0 1 0 4 1 0 0 2006 20 07  53 16 3 2 2 1 3 2 2 0 0 0 231  163  13  29  21  6  7  5  9  3  1  4  Jumlah 

  Hasil  analisis  PPATK  menjadi  bukti  nyata  bahwa  kejahatan  illegal  logging  dapat  dilacak  dengan  menggunakan  aliran  arus  uang.  Seorang  pengusaha  kayu  yang  mentransfer  dalam  jumlah  besar  kepada  pejabat  pemerintah  dan  kepolisian  dapat  diindikasikan  bahwa  dalam  bisnisnya  telah  menerima kayu illegal dan terlibat praktek illegal logging. 

 

49 

     

Tidak optimalnya pemberantasan illegal logging dengan menggunakan  UU  Anti  Korupsi  disebabkan  karena  aparat  penegak  hukum  yang  korup.  Tarif  setoran tiap bulan untuk tiap‐tiap pejabat memang bervariasi. Misalnya aparat  level bawah dan menengah seperti Danlanal menerima Rp 30‐50 juta, pejabat  Polairud Rp 20 juta, Dinas Kehutanan Rp 10 juta, Kapolresta Rp 50 juta, Polsek  KP3  Rp  10  juta.11  Untuk  pangkat  yang  lebih  tinggi  mungkin  memasang  tarif  yang lebih besar. 

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 
KESIMPULAN 
1. Nilai  kerugian  negara  dari  nilai  kayu  akibat  illegal  logging  pada  tahun  2007  sebesar  Rp  20,873  triliun.  Ironisnya,  penyelesaian  kasus  illegal  logging yang menggunakan UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi  masih sangat minim.   Simpang  siur  penghitungan  kerugian  negara  dari  sektor  kehutanan  menjadi  problem  besar  dalam  pemberantasan  korupsi  di  bidang  kehutanan.  Dengan  kesimpangsiuran  kerugian  negara  akan  mengakibatkan banyak terdakwa yang terlepas dari hukuman penjara  dan pengembalian keuangan negara.   Di  dalam  pengungkapan  kasus  illegal  logging  yang  terkait  korupsi,  aparat kepolisian dan kejaksaan kurang mengoptimalkan hasil analisis  PPATK.  Padahal  ada  sekitar  6  analisis  PPATK  yang  menggambarkan  proses  suap  diantara  perusahaan  kehutanan  dengan  pejabat  dan  aparat  pemerintah.  Tidak  dilanjutkannya  hasil  analisis  PPATK  disebabkan  banyak  aparat  penegak  hukum  yang  tersandung  masalah  jika hal ini dilanjutkan di peradilan.   Di  dalam  beberapa  kasus,  aparat  sering  terjebak  pembelokan  korupsi  ke pelanggaran administrasi. Banyak pelaku kejahatan kehutanan yang  berkelit bahwa perbuatan yang dilakukan bukanlah korupsi, melainkan  hanya  pelanggaran  administrasi  belaka.  Menanggapi  trik  tersebut,  aparat penegak hukum sebenarnya tidak perlu terkecoh. Aparat harus 

2.

3.

4.

                                                             
  Kesaksian  Vivin  dalam  persidangan  terdakwa  Pontjodiono di Pengadilan Negeri Cirebon tahun 2006. 
11

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 50 
 

2008 

menggunakan  formulasi  bahwa  pelanggaran  administrasi  kehutanan  yang merugikan keuangan negara merupakan tindak pidana korupsi. 

REKOMENDASI 
1. Penggunaan  UU  Pemberantasan  Tindak  Pidana  Korupsi  perlu  diterapkan  kepada  setiap  kasus  kejahatan  kehutanan  yang  berskala  besar khususnya yang terjadi Riau. Untuk mengetahui terjadinya suap  atau tidak, POLDA Riau perlu meminta analisis transaksi keuangan dari  PPATK.  Hasil  analisis  PPATK  diharapkan  dapat  membantu  dalam  merekonstruksi terjadinya suap diantara pengusaha hutan dan pejabat  pemerintah.  Departemen  Kehutanan,  Kepolisian,  Kejaksaan  Agung,  Mahkamah  Agung,  BPKP,  dan  BPK  diharapkan  dapat  menformulasikan  standar  penghitungan kerugian keuangan negara akibat adanya praktek illegal  logging.  Dalam  hal  ini  perlu  ada  kesepakatan  apakah  kerugian  negara  hanya  berupa  nilai  tegakan,  tunggakan  DR/PSDH  atau  termasuk  kerusakan  lingkungan.  Hasil  dari  formulasi  tersebut  diharapkan  dapat  dijabarkan ke dalam  petunjuk teknis, petunjuk pelaksanaan dan surat  edaran supaya bisa dioperasionalkan di tingkat bawah.  Departemen  Kehutanan  perlu  mengumumkan  tentang  sanksi  administrasi  berupa  denda  terhadap  setiap  perusahaan  yang  melanggar  administrasi  pengusahaan  hutan.  Selama  ini  Departemen  Kehutanan  terkesan  melindungi  para  perusahaan  yang  melakukan  pelanggaran administrasi.  Pada  tahun  2008,  aparat  kepolisian  dan  kejaksaan  perlu  menindaklanjuti  6  hasil  analisis  PPATK  yang  terkait  dengan  illegal  logging, pencucian uang dan korupsi.  

2.

3.

4.

     

 

51 

     

LAMPIRAN‐LAMPIRAN 
   
W   A nH k T H a M ( M e n a n tu T H )

K asus 3

   
PO LR I

S e to r d a n a

S e to r d a n a

TH P engusaha kayu D ib a n tu a n a k d a n m e n a n tu

SEKADAN

 
SETOR SANGGAU

               
 
Page 1

D U A K O N T A IN E R KAYU

R p . 2 5 m ily a r P E R IO D E SEPTEM BER 0 4 -J J U L I 0 5 T A R IK T U N A I

P O N T IA N A K

BANK X

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 52 
     
(P e ru s a h a a n k a y u ) P T. H JP

2008 

K asus 4

SKSHH A spal P e ja b a t D is h u t
K E R U G A IN NEG ARA 35M

           
P engusaha kayu (A R B ) P E M A S O K (P e ru s a h a a n k a y u ) CV. PG P engusaha kayu (U T , Y T , R A R , W , AS, AR, AG, C, MK)

                     
R p . 1 0 , 7 m ily a r P e r io d e F e b 0 3 -A g s t 0 5

T A R IK T U N A I 2 R ek. B ank X

Page 1

 

53 

     

MELIHAT UANG HARAM  PERUSAK HUTAN   YANG KEBAL HUKUM 
 

   
“Satu saja pelaku illegal logging tertangkap, atau  satu  saja  delik  korupsi  seorang  pejabat  diindikasikan,  dengan  rezim  anti  pencucian  uang  seluruh  jaringan  kejahatan  kehutanan  tersebut  akan  terbongkar.  Selama  proses  transaksi  keuangan  antara  para  pelaku  masih  menggunakan sistem keuangan, maka selama itu  pula  alur  harta  para  pelaku  tersebut  menjadi  jejak yang tidak dapat dibantah.” 

 
 

Grahat Nagara, Legal Analyst 
   

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 54 
 

2008 

PENDAHULUAN 
Menjelaskan Kerusakan Hutan dengan Menelusuri Uang  Semua  pihak  setuju  hutan  di  Indonesia  telah  rusak.  Terlepas  apakah  penyebab  utamanya  maupun  luasannya  masih  diperdebatkan,  yang  pasti  hutan  telah  rusak.  Orang  boleh  berargumen  mengenai  istilah  penghancuran,  atau kerusakan hutan, atau deforestasi. Tapi, jumlah kerusakan hutan yang kini  banyak  muncul  sebagai  asesoris  tulisan‐tulisan  yang  mengupas  mengenai  hutan,  memang  sangat  mengejutkan.  Telapak/EIA  menggunakan  istilah  kehancuran  hutan hingga 2,8 juta hektar per tahun. Menempatkan Indonesia  sebagai negara dengan kehancuran hutan terparah.  ELSDA berpendapat, bahwa kerusakan hutan ini tidaklah tanpa sebab,  bukan  hanya  sekadar  karena  mekanisme  alam,  atau  meminjam  istilah  Bambang  Setiono  dari  CIFOR  dalam  sebuah  Pelatihan  Penegakkan  Hukum  Kejahatan Kehutanan, bahwa hutan tidaklah hilang ditiup angin.   Secara  historis,  telah  banyak  digambarkan  dalam  sejarah  bahwa  kerusakan  lingkungan  adalah  akibat  campur  tangan  manusia.  Begitu  juga  dengan  kerusakan  hutan.  Telah  banyak  kasus  yang  menunjukkan  bahwa  kerusakan  hutan,  secara  umum  disebabkan  oleh  menumpuknya  berbagai  ketamakan  ekonomi  yang  sama  sekali  tidak  memperdulikan  sustainability,  termasuk  yang  berbasis  industri.  Indikatornya  sederhana.  CIFOR  mengungkapkan  bahwa  dengan  nilai  ekspor  kayu  yang  sebesar  $5  milyar  per  tahun, ditengarai 70%nya berasal dari sumber yang ilegal. Kalau begitu berarti  setidaknya kurang lebih 31,5 triliyun rupiah per tahun untuk nilai ekspor kayu  itu adalah harta yang bersumber dari kejahatan.  Sayangnya,  sampai  saat  ini  pihak‐pihak  yang  seharusnya  bertanggung  jawab justru tidak tersentuh. Kombinasi antara pejabat dan aparat yang korup  dengan  pengusaha  yang  tamak  memang  kombinasi  yang  tepat.  Simbiosis  berbagai  kejahatan  saling  mendukung  terus  tergerusnya  hutan  di  Indonesia.  Korupsi,  kejahatan  kehutanan,  kejahatan  pencucian  uang,  kejahatan  perbankan,  kekerasan,  dan  hilangnya  hak  azasi  manusia,  merupakan  bentuk‐ bentuk kejahatan yang kerap muncul dalam mekanisme perusakan hutan yang 

 

55 

     

terjadi  di  Indonesia.  Disebut  mekanisme,  karena  ia  berlaku  secara  sistematis  dan terorganisir.  Hukumlah  yang  seharusnya  bertindak  untuk  menyelesaikan  masalah  manusia.  Tapi,  ini  pun  tidak  semudah  membalikkan  telapak  tangan.  Dalam  kasus  kejahatan  kehutanan,  kegagalan  hukum  sudah  menjadi  hiasan  wajib  untuk  ditempelkan  dalam  tulisan  yang  menganalisis  mengenai  kejahatan  kehutanan,  dan  pada  kenyataannya  memang  kenyataannya  demikian.  Berbicara  mandulnya  penegakkan  hukum  kejahatanan  kehutanan,  maka  kita  akan  dihadapkan  pada  berbagai  kendala  mulai  dari  kendala  pembuktian  adanya  kerusakan  hutan,  subyek  atau  pelaku  tindak  pidana  yang  sulit  tersentuh  oleh  hukum,  maupun  modus  kejahatan  kehutanan  yang  tidak  terjangkau  hukum.  Kesemua  kelemahan  hukum  ini  kemudian  didukung  pula  oleh kekuasaan dan uang, yang tentunya tidak dalam jumlah yang kecil. Jelas,  sudah  bukan  barang  baru  kalau  eksploitasi  sumber  daya  hutan  yang  gelap  mata  di  Indonesia  lebih  banyak  dimotori  oleh  cukong  kayu,  dengan  bermodalkan  izin  dengan  cara  korup,  dan  pinjaman  dari  perbankan  yang  akhirnya berujung kredit macet. 
TABEL  1.  Data  Penyelesaian  Kasus‐Kasus  Kejahatan  Kehutanan  yang  Ditangani  PPNS  Kehutanan  Tahun Jumlah Tersangka  2005  2006  s.d Sept 2007  
Sumber: Departemen Kehutanan, 2007, diolah 

Vonis

879 1.409 182

      217        247            8 

  Pendekatan  follow  the  money  yang  diperkenalkan  oleh  rezim  anti  pencucian uang‐lah yang kemudian berusaha mereduksi hambatan‐hambatan  yang ada dalam pelaksanaan penegakkan hukum kejahatan kehutanan. Rezim  ini memanfaatkan motif ekonomi yang dimiliki para pelaku kejahatan. Dengan  rezim  ini,  alur  uang  justru  menjadi  jejak  yang  tidak  terbantahkan  adanya  penyelewengan  jabatan  untuk  melanggengkan  kejahatan  kehutanan.  Dengan  melihat alur uangnya pula, seseorang dapat menilai apakah profil perusahaan 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 56 
 

2008 

ini normal dalam sebuah bisnis kehutanan. Lebih lanjut, rezim ini memberikan  jalan  untuk  tidak  hanya  memenjarakan  pelaku  penebangan,  tetapi  juga  para  aktor  intelektual  yang  sebenarnya  paling  diuntungkan  dari  adanya  kejahatan  ini.  Sehingga  dengan  dasar  hukum  Pasal  2  UU  Anti  Pencucian  Uang,  penyidik  dapat  menggunakan  pasal‐pasal  dalam  delik  pencucian  uang  untuk  pelaku  kejahatan  kehutanan  yang  umumnya  tidak  terjangkau  dengan  UU  Kehutanan  biasa.   Logikanya sederhana, yaitu bagaimana melihat keterlibatan seseorang  dalam  kejahatan  kehutanan  dan  siapa  yang  sebenarnya  diuntungkan  dari  kejahatan ini.   Pendekatan  ini  memang  terbukti  meyakinkan,  sejak  awal  berdirinya  sampai akhir tahun 2007 ini PPATK sebagai unit inteligen keuangan Indonesia  setidaknya telah mengeluarkan 4 buah laporan analisis atas berbagai transaksi  keuangan  yang  diduga  terlibat  dengan  kejahatan  pembalakan  liar.  Sehingga  tidak  heran  kalau,  setidaknya  sepanjang  tahun  2007  ini,  penggunaan  rezim  pencucian uang untuk kejahatan kehutanan cukup sering didengungkan. 
Tabel 2. Data Laporan Hasil Analisis Yang Dikeluarkan Oleh PPATK  Kejahatan Asal Korupsi  Pembalakan liar Penggelapan Pajak Pemalsuan Dokumen  Kejahatan Perbankan  Penyelundupan Pencurian   Penipuan   Terorisme  Narkotika  Pemalsuan Uang Rupiah Pornografi Anak Jumlah Laporan 231 4 7 21 28 4 1 163 6 3 4 3

 

57 

     
Perjudian  Penyuapan  5 9

Sumber: Refleksi Akhir Tahun 2007, PPATK, 2007 

Optimisme  ini  penggunaan  rezim  ini  juga  semakin  menguat  hingga  tahun 2007. Ketika Adelin Lis, yang banyak disebut‐sebut sebagai cukong kayu,  lolos pun dianggap karena jaksa tidak memanfaatkan rezim ini. Tapi tentu saja,  pelaksanaanya  tidak  sesederhana  itu.  Sampai  tahun  2007  ini  berakhir,  tidak  ada satupun cukong kayu, mafia timber, bapak angkat, atau apapun namanya  yang berhasil diminta pertanggungjawabannya atas kejahatan kehutanan yang  telah  ia  lakukan  dengan  rezim  ini.  Akan  tetapi  dalam  kasus  yang  berbeda,  ketika  digunakan  untuk  menjerat  Marthen  Renouw,  rezim  ini  justru  gagal.  Tanpa  menutup  mata  faktor  eksternal  yang  menghambat  penggunaan  rezim  ini. Seperti apa seharusnya rezim ini dilaksanakan untuk kejahatan kehutanan,  saat  ini,  masih  menjadi  problema  tersendiri  bagi  para  penegak  hukum,  khususnya dalam tataran praktis.   Jelas  kiranya,  sampai  tahun  2007  ini  rezim  anti  pencucian  uang  tetap  masih  menjadi  angan‐angan.  Padahal  ditengah  gencarnya  kampanye  anti  pembalakan  liar,  komitmen  Menteri  Kehutanan,  dorongan  politis  dengan  Instruksi  Presiden,  gebrakan  oleh  berbagai  lembaga  swadaya  masyarakat,  semangat  reformasi,  dan  kesadaran  global  mengenai  isu  perubahan  iklim,  Indonesia justru masih tidak mampu untuk paling tidak memberikan secercah  harapan  bahwa  hukumlah  yang  harus  menjadi  panglima  terdepan  dalam  perlindungan terhadap lingkungan khususnya kehutanan.            

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 58 
 

2008 

KETIKA PEJABAT DAN APARAT TAK LAGI  MEMEGANG AMANAT 
Menelusuri Uang dan Kekuasaan Pendukung Kejahatan Kehutanan 

PENGANTAR 
Bagi  para  pelaku  kejahatan,  rezim  anti  pencucian  uang  dengan  pendekatan  follow  the  money‐nya  dalam  kasus  kejahatan  kehutanan  mungkin terlihat seperti pembunuh massal. Satu saja pelaku illegal logging  tertangkap, atau satu saja delik korupsi seorang pejabat diindikasikan, maka  seluruh  jaringan  kejahatan  kehutanan  tersebut  akan  terbongkar.  Selama  proses  transaksi  keuangan  antara  para pelaku  masih  menggunakan  sistem  keuangan,  maka  selama  itu  pula  alur  harta  para  pelaku  tersebut  menjadi  jejak  yang  tidak  dapat  dibantah.  Saking  dianggap  berbahayanya  rezim  ini  sebagian  besar  pihak  berusaha  untuk  melaksanakan  rezim  ini  secara  hati‐ hati. Walaupun, sikap setengah hati kalau tidak dapat disebut plin‐plan ini  jugalah yang terkadang justru menjadi hambatan utama rezim ini dan kasus  MR adalah salah satunya.  Kasus  MR  pada  tahun  2005  sebenarnya  salah  satu  contoh  kasus  yang menarik dalam melaksanakan rezim anti pencucian uang pada bidang  kehutanan,  meskipun  contohnya  memang  contoh  yang  tidak  berhasil.  Marthen  yang  didakwa  secara  alternatif  berlapis  antara  pencucian  uang  atau  korupsi  sekalipun  dapat  melenggang  bebas.  Alasannya  sederhana,  tidak ada saksi kunci. 

KASUS POSISI 
Secara singkat MR adalah seorang komisaris polisi. Sebagai seorang  kabag  serse  MR  berhasil  membangun  jaringan  pertemanan  dengan  berbagai pihak yang diindikasikan sebagai pelaku illegal logging. Ia diciduk  pada  Operasi  Hutan  Lestari  II  dan  diperiksa  di  Jakarta.  Dengan  bantuan  PPATK,  MR  terbukti  menerima  sejumlah  uang  dari  teman‐temannya  tersebut  hingga  sejumlah  1,06  milyar  untuk  periode  September  2002  sampai  Desember  2003.  Pada  tahun  2004  teman‐teman  MR,  yaitu  PT 

 

59 

     

Marindo dan PT Sanjaya digerebek polisi di Bintuni dengan lebih dari 15.000  meter  kubik  kayu  Merbau  disita  dan  15  orang  berkewarganegaraan  Malaysia.  Sayangnya  teman  MR  yang  mentransfer  uang  pada  MR,  yaitu  Yudi dan Wong Sie King berhasil lolos. Meskipun kedua orang teman MR ini  tidak  ada  akhirnya  Jaksa  Penuntut  Umum  di  Jayapura  mendakwa  MR  dengan dakwaan alternatif berlapis.  

HAL YANG MENARIK UNTUK DIPELAJARI 
Ada hal‐hal menarik yang dapat dipelajari dalam kasus MR ini yang  menggambarkan bahwasanya memang seharusnya kasus MR menjadi kasus  yang mudah dengan berbagai bukti, diantaranya:  Pertama.  Pada  kasus  MR,  Jaksa  Penuntut  Umum  mendakwa  Marthen  dengan dakwaan alternatif berlapis antara korupsi atau pencucian uang. 
Alternatif  Kesatu  Berlapis Primair  Dakwaan Pasal 12 a UU No.  31/1999  sebagaimana diubah  dengan UU No.  20/2001 jo. Pasal 64  ayat (1) KUHP.  Fakta Hukum  MR menerima sejumlah  uang dari PT. SM dan PT.  MUJ yang melakukan  kejahatan kehutanan,  padahal MR mengetahui  atau patut menduga bahwa  pemberian tersebut dengan  maksud agar terdakwa  tidak melakukan sesuatu  dalam  jabatannya yang  bertentangan dengan  kewajibannya yaitu tidak  melakukan penyelidikan  maupun penyidikan  terhadap PT. SM dan PT.  MUJ.  Subsidair  Pasal 12 B UU No.  MR menerima sejumlah 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 60 
 
31/1999  sebagaimana diubah  dengan UU No.  20/2001 jo. Pasal 64  ayat (1) KUHP. 

2008 

uang dari PT. SM dan PT.  MUJ dengan maksud agar  MR tidak melakukan  penegakan hukum  terhadap PT. SM dan PT.  MUJ yang telah melakukan  kejahatan kehutanan. 

Lebih  Subsidair 

Pasal 11 UU No.  31/1999  sebagaimana diubah  dengan UU No.  20/2001 jo. Pasal 61  ayat (1) KUHP. 

MR menerima sejumlah  uang dari PT. SM dan PT.  MUJ yang melakukan  kejahatan kehutanan,  padahal MR mengetahui  atau patut menduga bahwa  pemberian tersebut dengan  maksud agar terdakwa  tidak melakukan sesuatu  dalam  jabatannya yang  bertentangan dengan  kewajibannya yaitu tidak  melakukan penyelidikan  maupun penyidikan  terhadap PT. SM dan PT.  MUJ. 

Kedua 

Primair 

Pasal 3 ayat (1) huruf  c UU No. 25/2003  tentang Perubahan  UU No. 15/2002 jo.  Pasal 64 (1) KUHP. 

MR membelanjakan harta  yang diterima dari PT. MUJ  dan PT. SM untuk biaya  operasional kegiatan  penegakan hukum padahal  mengetahui atau patut  menduga bahwa harta 

 

61 

     
tersebut berasal dari hasil  kegiatan PT. MUJ dan PT.  SM yang melakukan  kejahatan kehutanan.  Subsidair  Pasal 6 ayat (1) huruf  b UU No. 25/2003  tentang Perubahan  UU No. 15/2002 jo.  Pasal 64 (1) KUHP.  MR menerima sejumlah  harta dari PT. SM dan PT.  MUJ, padahal MR patut  menduga atau mengetahui  bahwa pemberian tersebut  merupakan hasil kegiatan  PT. MUJ dan PT. SM yang  melakukan kejahatan  kehutanan. 

Sumber: Dakwaan MR, diolah 

Dari  seluruh  dakwaan  tersebut  dapat  terlihat  bahwa  hampir  seluruh  perbuatan  pidananya  mengacu  pada  perbuatan  MR  menerima  harta dari PT. MUJ dan PT. SM, kecuali untuk dakwaan kedua primair, MR  didakwa  atas  fakta  hukum  bahwa  dia  membayarkan  atau  membelanjakan  harta  hasil  yang  ia  ketahui  atau  patut  diduga  berasal  dari  tindak  pidana.  Pada  dakwaan  pencucian  uangnya  jaksa  mendakwa  berlapis  pencucian  uang  aktif  maupun  pasif.  Melihat  fakta  hukumnya  maka  predicate  crimes‐ nya adalah kejahatan kehutanan yang dilakukan oleh PT. SM dan PT. MUJ.  Seharusnya  kasus  ini  dapat  menjadi  contoh  bagaimana  pencucian  uang  dapat  menjadi  independent  crime,  yang  mana  kejahatan  pembalakan  liar  yang  dilakukan  teman  MR,  sebagai  kejahatan  asalnya,  belum  diputus  di  pengadilan (karena statusnya masih buron).  Memang,  seperti  yang  diketahui  bahwa  dakwaan kumulatif  antara  kejahatan asal dan pencucian uang dianjurkan dalam sebuah Surat Edaran  Mahkamah  Agung.  Selain  untuk  saling  mendukung  dan  memperkuat  fakta  hukum,  dakwaan  kumulatif  juga  akan  memperberat  hukuman  kepada  terdakwa.  Namun,  anjuran  penggunaan  dakwaan  kumulatif  dalam  tindak  pencucian  uang  ini  tentu  tidak  mengeliminir  sifat  independensi  kejahatan  tindak  pidana  pencucian  uang.  Pencucian  uang  adalah  kejahatan  yang  dapat  berdiri  sendiri.  Meskipun  hal  ini  memang  menjadi  polemik  dalam 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 62 
 

2008 

berbagai  wacana  maupun  dalam  kesempatan  pada  pelatihan  penegakkan  hukum kejahatan kehutanan. Masalah ini juga lah yang sering menimbulkan  keraguan  diaplikasikannya  rezim  anti  pencucian  uang  dalam  kejahatan  kehutanan.  Padahal  berdasarkan  ketentuan  Penjelasan  Pasal  2  UU  TPPU  sebenarnya jelas bahwa pencucian uang dapat juga digunakan sebagai delik  yang independen. Dalam berbagai kesempatan Direktur Direktorat Regulasi  dan Hukum PPATK, I Ktut Sudiharsa, juga menjelaskan bahwa tindak pidana  pencucian  uang  dapat  menjadi  delik  yang  independen  khususnya  apabila  tindak  pidana  asalnya  tidak  jelas.  Karena  pada  dasarnya  rezim  anti  pencucian  uang  dilaksanakan  dengan  semangat  untuk  merepresifkan  kejahatan‐kejahatan yang sulit tersentuh oleh hukum.  Kedua.  Rezim  anti  pencucian  uang  sangat  bergantung  pada  profil  normal  seseorang,  kebiasaan  seseorang,  dan  kewajaran  prilaku  subyek  tersebut,  termasuk  profil  harta  kekayaannya.  Apabila  kita  telusuri  hartanya,  seseorang  dengan  sebuah  profesi  mungkin  akan  memiliki  grafik  kekayaan  seperti  pada  GAMBAR  1  dibawah.  Gambaran  sederhana  ini  menjelaskan  bahwa  kebiasaan  seorang  profil  untuk  menerima  pendapatan  pada  pada  periode tertentu kemudian akan habis atau berkurang dalam waktu periode  tertentu, dan begitu berulang‐ulang. 
Gambar 1. Gambaran Sederhana Kebiasan Profil yang Normal 

aset

25 waktu

25

25
 

Termasuk  pula  seharusnya  MR.  Sebagai  seorang  aparat  penegak  hukum,  MR  tentu  menerima  gaji  dalam  jumlah  tertentu  yang  kemudian 

 

63 

     

dipakainya  untuk  kegiatan  sehari‐harinya.  MR,  namun  demikian  menghasilkan  grafik  yang  berbeda,  berdasarkan  rekeningnya,  misalnya  seperti pada GAMBAR 2. 
Gambar 2. Gambaran Kebiasan Profil yang Tidak Normal 

75jt 40jt

aset
5jt 25

20jt

25

25

waktu
Sumber: Dakwaan MR, diolah 

 

Perbedaan  ini  terjadi  karena  seperti  yang  dicantumkan  dalam  dakwaan  MR,  seorang  Petugas  Kabag  Serse  Umum,  menerima  kucuran  dana  dari  beberapa  sumber, seperti dalam tabel berikut: 
Tabel 4. Beberapa Transaksi Keuangan Antara MR dan Pelaku Illegal Logging  Tanggal 7 November 2002 27 Desember 2002 9 Januari 2003  13 Agustus 2003 6 Oktober 2003 17 Oktober 2003 21 Oktober 2003 23 Desember 2003 Pengirim Denny Denny Denny Denny Denny Denny Denny Yudi Jumlah  75 juta  20 juta  40 juta  120 juta  140 juta  35 juta  40 juta  30 juta 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 64 
 
23 Desember 2003 
Sumber: Dakwaan MR 

2008 

Yudi

120 juta

Ketiga.  Manusia  pada  umumnya  adalah  makhluk  yang  pamrih,  apalagi  dalam hubungan bisnis. Oleh karena itu, setiap transaksi akan mengandung  maksud  dari  si  pemberi  kepada  penerima.  Meskipun  ini  faktor  subyektif,  namun seseorang tentunya patut menduga apa alasan dibalik transaksi ini  dengan melihat indikatornya, yaitu profil pemberi dan penerimanya.  
Gambar 3. Profil Pihak yang Bertransaksi Dapat Memberikan Gambaran Maksud 

PROFIL PEMBERI

maksud

transaksi

PROFIL PENERIMA
Sumber: Diolah dari Dakwaan MR 

 

Dalam  kasus  MR,  Denny  dan  Yudi  merupakan  orang  pengurus  PT.  Sanjaya  Makmur.  Sebuah  perusahaan  yang  bergerak  dibidang  kehutanan.  Dalam  persidangan,  MR  berkilah  bahwa  dana‐dana  yang  disetor  tersebut  adalah  pinjaman  untuk  operasi  penyidikkan  illegal  logging.  Kalau  pun  menggunakan  “azas  praduga  tak  bersalah”  terhadap  kejahatan  PT  Sanjaya  Makmur dan PT Marindo Utama Jaya, hal ini tetap saja menjadi kecurigaan  ada  alasan  apa  sehingga  MR  harus  meminta  pinjaman  dana  dari  perusahaan kayu? Apakah dana operasional untuk penyidikkan tidak dapat  diperoleh  dengan  cara  lain?  Meskipun  pembelaan  ini  dapat  dinilai  tidak  masuk  akal,  sayangnya  dalam  delik  korupsinya  sebagai  predicate  crime  tindak  pidana  pencucian  uangnya,  hal  ini  tidak  diperdalam  oleh  Jaksa  Penuntut Umum. 

 

65 

     

Keempat.  Dalam  dakwaannya,  cukup  menarik,  Jaksa  Penuntut  Umum  mengambil sebuah alur bahwa pencucian uang harus melihat fakta sebelum  dan  sesudah  transaksi.  Artinya  darimana  asal  uang  tersebut  dan  akan  ke  mana  uang  tersebut.  Untuk  apa?  Melihat  ke  belakang  dimaksudkan  untuk  lebih  menegaskan  bahwa  harta  yang  dimilikinya  berasal  dari  sumber  yang  tidak  jelas.  Sedangkan  melihat  ke  depan  untuk  menegaskan  bahwa  memang  ada  upaya  untuk  menyamarkan  harta  tersebut  sehingga  harta  tersebut dapat ia nikmati lagi, artinya ia tetap sebagai beneficial owner dari  harta tersebut.  Sayangnya  alur  ini  menjadi  tidak  rasional  dalam  skema  dakwaan  JPU  dalam  kasus  MR,  dimana  JPU  tidak  menjelaskan  darimanakah  harta‐ harta  tersebut  sebelum  dimasukan  oleh  Yudi  ke  dalam  rekening  MR.  Apakah  rekening  Yudi  sendiri,  apakah  rekening  perusahaan  PT.  SM,  atau  dana  lain.  Namun,  jaksa  penuntut  umum  malah  dengan  riang  menyampaikan  bahwa  harta  tersebut  dipergunakan  untuk  membiayai  kegiatan  penyidikkan  yang  dilakukan  oleh  MR,  tanpa  memperinci  berapa  saja  yang  digunakan  untuk  penyidikkan  tersebut.  Berapa  yang  digunakan  untuk penyidikkan dari seluruh transfer yang sebesar satu milyar tersebut.  Kalau  ada  sisa,  kemana  saja  sisanya?  Semua  ini  menjadi  pertanyaan  menggantung dalam kasus MR, padahal sudah ada PPATK yang membantu.  Kelima.  Seperti  kebanyakan  kasus.  Hal  yang  biasanya  dianggap  kontroversial  dalam  sebuah  kasus  adalah  putusan  hakim.  Hakim  memang  memiliki  independensi  berdasarkan  keyakinannya,  penemuan  hukum,  kebijaksanannya  dapat  memutuskan  yang  ia  yakini  paling  adil.  Atas  kelebihan dan kekurangannya dalam mengadili tentu harus dimaklumi juga.  Dalam  kasus  MR,  dalil  putusan  hakim  yang  dianggap  kontroversi  adalah  bahwa Yudi Firmansyah merupakan saksi kunci yang tidak dapat dihadirkan  ke  muka  sidang.  Padahal  kalau  kita  melihat  bahwa  alat  bukti  yang  sah  dalam Hukum Acara Pidana, tidak hanya saksi, tetapi juga surat, keterangan  terdakwa, petunjuk, dan keterangan ahli.   Dalam  dakwaan  MR  memang  hampir  semua  elemen  itu  tidak  mendukung  alur  cerita  bahwa  benar  dan  secara  meyakinkan  MR  telah  melakukan  kejahatan,  selain  bukti  nyata  alur  harta  berupa  dokumen  rekening  koran  yang  diafirmasi  oleh  terdakwa  dan    keterangan  ahli.  Dokumen  rekening  koran  merupakan  alat  bukti  yang  sah  dalam  tindak  pidana  pencucian  uang  maupun  tindak  pidana  korupsi.  Sehingga  dengan 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 66 
 

2008 

keterangan  ahli,  dan  petunjuk  dari  beberapa  saksi,  seharusnya  alat‐alat  bukti tersebut dapat meyakinkan hakim untuk menjadi dua alat bukti yang  sah yang dapat memidanakan MR sesuai dengan kejahatannya. 

REFLEKSI PENCUCIAN UANG KASUS MARTHEN RENOUW 
Terakhir, meskipun gagal, hal umum yang dapat dipetik hikmahnya  dalam  kasus  MR,  adalah  bahwa  rezim  anti  pencucian  uang  sangat  berpotensi untuk dapat menjadi senjata yang menakutkan bagi para pelaku  kejahatan,  khususnya  kejahatan  kehutanan  yang  terorganisir  seperti  di  Indonesia. Secara implisit kasus MR lebih menegaskan lagi bahwa memang  pelaku  kejahatan  kehutanan  dilakukan  oleh  perusahaan  yang  mengantongin  izin  dengan  cara  korup  dari  pejabat  dan  dengan  dukungan  aparat. Tentu saja, dengan bantuan sistem peradilan yang korup, kejahatan  kehutanan akan selamanya ada di Indonesia.  Dari  kasus  ini  setidaknya  ada  beberapa  hal  yang  dapat  ELSDA  Institute lakukan, yaitu menyusun basis data profil pejabat, khususnya yang  memegang  jabatan  sebagai  pengambil  keputusan,  seperti  pemberi  izin  –  termasuk  profil  normalnya.  Salah  satu  hal  yang  mendukung  keyakinan  hakim  adalah  petunjuk,  petunjuk  tentunya  dapat  dihasilkan  dari  berbagai  indikator  yang  terdapat  dari  alat  bukti  lain  atau  barang  bukti  yang  ada.  Memperbanyak  indikator  untuk  menegaskan  petunjuk  tersebut  dapat  menjadi jeratan yang membuat para pelaku kejahatan tidak dapat berkelit.           

 

67 

     

MENAMBAH DAFTAR PANJANG SKEPTISME  PENEGAKKAN HUKUM, BELUM ADA AKTOR  INTELEKTUAL YANG DAPAT DIPENJARA 
Mengejar Pencuri Kayu Hingga ke Negeri Tirai Bambu   

PENGANTAR 
Menjerat  aktor  intelektual  dari  kejahatan  kehutanan  memang  tantangan  terbesar  penegakkan  hukum  kejahatan  kehutanan.  Selain  mereka memang secara normatif sulit tersentuh hukum, secara politis pun  mereka memiliki kekuatan kekuasaan dan finansial yang nyata‐nyata sering  menjadi  hambatan  untuk  menyentuh  mereka.  Hal  ini  kemudian  menjadi  lebih  sulit  lagi  apabila  para  timber  baron  ini  mengantongi  izin  yang  sah.  Hukum pun menjadi kemudian tumpul. Begitupula yang terjadi pada kasus  Adelin.  

KASUS POSISI 
Lain  kasus  MR,  lain  pula  AL.  Setelah  terbukti  di  pengadilan  tidak  membalak,  AL  yang  disebut‐sebut  raja  rimba  menghilang  tidak  kelihatan  rimbanya. Dalihnya, menurut penasihat hukumnya Hotman Paris, ia sudah  tidak percaya lagi dengan hukum Indonesia.   Adelin  Lis  ditangkap  karena  kasus  pembalakan  liar  di  KBRI  Beijing  saat sedang mengurus resident permit‐nya dengan alasan untuk izin sekolah  di  Cina  pada  September  2006  lalu.  Direktur  Keuangan  PT  Keang  Nam  Development serta Komisaris PT Inanta Timber Trading ini adalah buronan  triliunan  rupiah.  Pada  tanggal  20  Juni  2007  lalu,  Adelin  Lis  selaku  direktur  keuangan PT KNDI didakwa atas kasus pidana korupsi dan kerusakan hutan.  Adelin Lis dianggap telah melakukan penggelapan pembayaran DR/PSDH. Di  samping  itu,  ia  telah  melakukan  kegiatan  pembalakan  jauh  diluar  jumlah  RKT  yang  notabene  dapat  menyebabkan  kerusakan  hutan.  Ahli  menilai  bahwa  PT  Inanta  Timber  miliknya  menunggak  Provisi  Sumber  Daya  Hutan  sebesar  256  miliar  dan  Dana  Reboisasi  sebesar  2,3  juta  dolar  amerika.  Sedangkan kerusakan yang ditimbulkannya sebesar 225 triliun rupiah. 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 68 
 

2008 

Jaksa  Penuntut  Umum  kemudian  mendakwa  Adelin  dengan  dakwaan  kumulatif  antara  tindak  pidana  korupsi  dengan  kejahatan  kehutanan. Kedua dakwaan tersebut memang terkait dengan fakta hukum  yang berbeda yang dilakukan oleh AL, yaitu melakukan penebangan diluar  RKT  dan  tidak  melakukan  Sistem  Silvikultur  sehingga  menyebabkan  kerusakan  hutan,  kemudian  melakukan  manipulasi  penggelapan  dana  DR  dan PSDH sehingga menyebabkan kerugian negara. 
  Tabel 5. Dakwaan Adelin Lis  Kumulatif  Kesatu  Primair  Dakwaan Pasal 2 (1) jo. Pasal 18 UU No. 31/1999  sebagaimana diubah dengan UU No.  20/2001 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.  Kedua  Primair  Pasal 50 ayat (2) jo. Pasal 78 ayat (1),  ayat (14) UU No 41/1999 jo. Pasal 64  ayat (1) KUHP. 
Sumber: Berbagai surat kabar, diolah 

Majelis  hakim  yang  terdiri  atas  Arman  Byrin,  Robinson  Tarigan,  Jarasmen  Purba,  Ahmad  Ismedi,  dan  Dolman  Sinaga,  namun  demikian  beranggapan berbeda. berbagai pelanggaran hukum yang dilakukan Adelin  menurut  mereka  adalah  ranah  administrasi,  bukan  pidana.  Sederhananya  Adelin  bebas  dari  segala  dakwaan.  Skeptisme  masyrakat  pun  kembali  terbentuk,  bahwa  hukum  kita  memang  masih  jauh  untuk  bisa  menyentuh  aktor intelektual kejahatan kehutanan.  Putusan  bebas  Adelin  jelas  meraih  respon  luar  biasa  dari  masyarakat.  Polda  pun  bereaksi  langsung  mengumumkan  akan  menggunakan pencucian uang untuk Adelin Lis. Polemik penggunaan rezim  kembali mencuat, namun dari kegagalan kasus Adelin Lis ini ada beberapa  fakta hukum yang menarik untuk disimak untuk nantinya menjadi pelajaran  bagaimana  rezim  anti  pencucian  uang  seharusnya  diaplikasikan,  diantaranya. 

 

69 

     

SULITNYA MENJERAT SANG AKTOR INTELEKTUAL   DENGAN PENDEKATAN KONVENSIONAL 
Kasus  Adelin  Lis  menambah  daftar  contoh  bagaimana  sulitnya  mencapai  keadilan  dengan  berbekal  pendakatan  konvensional.  Bahkan  sejak  dimulainya  persidangan,  sudah  banyak  pihak  yang  memprediksikan  bahwa Adelin akan dengan mudah lolos pidana kehutanan dan korupsi. Dari  dua  dakwaan  delik  yang  dituduhkan  Jaksa  Penuntut  Umum  tidak  ada  satupun yang tidak dapat dibantah oleh pelaku.   Pertama.  Masalah  kerusakan  hutan  oleh  pemegang  izin  memang  masih  menjadi  polemik.  Meskipun  Pasal  50  (2)  UU  Kehutanan  telah  menyatakan  jelas bahwa perusakan hutan oleh yang berizin adalah pidana, Departemen  Kehutanan  sebagai  pemegang  kebijakan  dalam  bidang  kehutanan  tetap  bersikukuh  bahwa  pemegang  izin  tidak  mungkin  dikenakan  pidana,  oleh  karenanya  pelanggaran  hukum  yang  dilakukan  oleh  nya  hanyalah  pelanggaran  administratif.  Terhadap  Pasal  50  (2),  Awriya  Ibrahim  dalam  sebuah  Pelatihan  Penegakkan  Hukum  di  ELSDA  Institute  menjelaskan  bahwa  indikatornya  adalah  alih  fungsi  lahan.  Agak  tidak  masuk  akal  kalau  kemudian  dijelaskan  lebih  lanjut  lagi  bahwa  perbahan  alih  fungsi  lahan  hutan itu merupakan wilayah kebijakan Departemen Kehutanan.  Dalam kasus Adelin, dakwaan kedua primair JPU mendakwa Adelin  dengan  Pasal  50  ayat  (2)  jo.  Pasal  78  ayat  (1),  ayat  (14)  UU  No  41  Tahun  1999  tentang  Kehutanan  jo.  Pasal  64  ayat  (1)  KUHPidana.  Penebangan  hutan yang dilakukan PT KNDI menurut jaksa, juga tidak dibarengi kegiatan  sistem  silvikultur  Tebang  Pilih  Tanam  Indonesia  (TPTI)  dalam  penebangan  pohon kayu hasil hutan dari periode 2000–2005 mengakibatkan kerusakan  hutan yang parah.   Kelalaian untuk tidak melakukan sistem silvikultur dan pelanggaran  penebangan  di  luar  Rencana  Kerja  Tahunan  memang  merupakan  ranah  administratif, lihat PP No. 6 Tahun 2007. Namun, pengelolaan yang seperti  ini  justru  sangat  memungkinkan  menyebabkan  kerusakan  hutan.  Sehingga  majelis  hakim  juga  seharusnya  dapat  menilai  bahwa  Adelin  Lis  tidak  memiliki itikad baik untuk melaksanakan pengelolaan hutan yang baik atau  setidak‐tidaknya  melakukan  kelalaian  yang  dapat  menimbulkan  kerusakan  hutan.  Itikad  tidak  baik  ini  juga  sudah  terlihat  dari  awal.  Kejahatan 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 70 
 

2008 

kehutanan  yang  dilakukan  Adelin  Lis  pada  awalnya  tercium  dari  tertangkapnya  kapal  pandu  yang  menarik  tongkang  dengan  muatan  800  batang kayu dengan SKSHH yang sudah kadaluarsa ‐ tertangkap tanggal 23  Januari  2006  dengan  dokumen  tanggal  21  Januari  2006.  Begitu  juga  berikutnya  pada  tanggal  24  Januari  2006  Polisi  menangkap  tongkang  dengan  700  batang  kayu  yang  dokumennya  tidak  sesuai  dengan  isinya.  Kesamaan dari keduanya adalah kayu tersebut berasal dari PT. KNDI dan PT.  ITT  yang  dikelola  oleh  Adelin  Lis.  Direskrim  Ronny  F.  Sompie  menyatakan  bahwa PT. ITT telah melakukan penebangan secara ilegal pada 9 titik. Lima  diantaranya bahkan dilakukan diluar wilayah HPH, sedangkan 4 diantaranya  diluar  Rencana  Kerja  Tahunannya.  Sementara  PT.  KNDI  melakukan  penebangan  di  luar  RKT.  Fakta  hukum  lain  yang  terungkap  dalam  penyidikan yaitu bahwa kedua perusahaan, yaitu PT. KNDI dan PT. ITT juga  melakukan  manipulasi  berkas‐berkas  SKSHH,  dengan  blanko  kosong  yang  diterima dari oknum pejabat Dinas Kehutanan Madina.  Adanya perizinan maupun dilakukannya pembatasan atau berbagai  prosedural formil dalam pengelolaan hutan tentunya dengan tujuan untuk  mencegah  atau  setidaknya  memitigasi  dampak  kerusakan  hutan  akibat  pengelolaan  tersebut.  Spelt  dan  Berge12  menyatakan  bahwa  adanya  berbagai instrumen administratif tersebut adalah untuk mencegah adanya  bahaya  bagi  lingkungan.  Sehingga  ketika  seseorang  tidak  melakukan  kewajiban‐kewajibannya  tersebut  ia  dapat  dinilai  lalai  melakukan  perlindungan  hutan  dan  secara  nyata  kegiatannya  dapat  menyebabkan  kerusakan hutan.  Dalam kasus AL ini, namun demikian, Majelis Hakim menilai bahwa  bukti  yang  diajukan  oleh  JPU  kurang  kuat.  Tidak  ada  foto  maupun  video  yang  membuktikan  kerusakan  yang  dituduhkan.  Saksi  ahli  dari  Institut  Pertanian Bogor yang diajukan jaksa, yakni Basuki Wasis dan Darsono, pun  dinilai  tidak  kuat,  karena  penilaian  kerusakan  hutan  ternyata  hanya  dilakukan dengan penelitian lapangan selama satu hari. Pelanggaran diluar  RKT  pun  dianggap  tidak  terbukti  karena  pada  titik‐titik  tersebut  tidak  ditemukan  adanya  penebangan  melainkan  hanya  merupakan  tempat                                                               
  N.M.  Spelt  dan  J.B.J.M  ten  Beger,  Pengantar  Hukum  Perizinan,  disunting  Ohilipus  M.  Hadjon,  Yuridika,  Surabaya, 1993. 
12

 

71 

     

pengumpulan  kayu.  Akibatnya  pelanggaran  Sistem  Silvikultur  dan  penebangan  diluar  RKT  yang  menjadi  fakta  hukum  yang  seharusnya  mendukung fakta bahwa Adelin Lis telah merusak hutan pun hanya menjadi  senjata tumpul.   Kalaupun terbukti melakukan kerusakan, toh Adelin Lis sebenarnya  dapat  dengan  mudah  berkilah  bahwa  posisinya  pada  PT.  KNDI  hanyalah  direktur  keuangan,  sehingga  tidak  dapat  dimintakan  pertanggungjawaban  atas perbuatan pidana kehutanan yang dilakukan perusahannya.  Kedua.  Dakwaan  kesatu  primair  JPU,  menyatakan  bahwa  Adelin  telah  melakukan tindak pidana sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 18 UU No  20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55  ayat  (1)  ke‐1  jo.  Pasal  64  ayat  (1)  KUHPidana.  JPU  menyatakan,  Adelin  bersama  dengan  Direktur  Utama  PT.  KNDI,  Oscar  Sipayung,  dan  Direktur  Operasional  PT.  KNDI,  Washington  Pane,  telah  melakukan  penebangan  hutan  di  luar  Rencana  Kerja  Tahunan.  Akibatnya  KNDI  menyumbang  kerugian  melalui  PSDH  Rp  309.824.653.850,  kemudian  DR  US$  2.938.556,  dan  kerusakan  lingkungan  yang  ditimbulkan  Rp  202  triliun.  Indikasi  kejahatan korupsi yang dilakukan oleh Adelin Lis sebenarnya dapat terlihat  dari beberapa modus yang dilakukan oleh perusahaan yang dikelola Adelin  yaitu, dengan melakukan mark down tarif DR PSDH dan manipulasi jumlah  kayu. Hakim namun lagi‐lagi berpendapat beda, bahwa semua pelanggaran  yang  dilakukan  Adelin  hanyalah  pelanggaran  administrasi.  Akhirnya  nilai  kerugian  negara  pun  kembali  menjadi  bahan  perdebatan  yang  semakin  bias.  

REZIM ANTI PENCUCIAN UANG UNTUK SI RAJA RIMBA 
Memang seharusnya sejak awal, pencucian uang ini digunakan juga  dalam  kasus  AL.  Instrumen‐instrumen  anti  pencucian  agar  dapat  dimanfaatkan  untuk  melihat  bukti‐bukti  alur  uangnya,  untuk  menjerat  pelaku‐pelaku yang mendukung kegiatan AL misalnya, dengan melihat alur  harta dari PT. KNDI atau PT. ITT dengan Pejabat Dinas Kehutanan yang telah  mengeluarkan blanko kosong. Alur bukti uang ini kemudian dapat menjadi  alat bukti yang dapat dipergunakan dipersidangan untuk melengkapi puzzle  dan  menguatkan  fakta‐fakta  hukum  bahwa  memang  Adelin  Lis  adalah  pelaku tindak pidana.  

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 72 
 

2008 

Akan  tetapi,  lolosnya  Adelin  Lis  dengan  satu  kejahatan  kehutanan  tersebut,  tidak  berarti  bahwa  Adelin  Lis  tidak  dapat  diindikasikan  melakukan  tindak  pidana  pencucian  uang.  Tindak  pidana  pencucian  uang  tidak  hanya  dapat  diindikasikan  dari  adanya  tindak  pidana  yang  dilakukan  oleh  seseorang,  tetapi  juga  dari  adanya  indikasi  transaksi  keuangan  mencurigakan yang dilakukan oleh pelaku tersebut. Oleh karena itu, dengan  melihat  transaksi  yang  dilakukan  Adelin  dibantu  dengan  hasil  analisis  oleh  PPATK, penegak hukum dapat menilai apakah Adelin Lis dapat diindikasikan  melakukan pencucian uang.   Setidaknya  ada  beberapa  indikator  yang  dapat  mengindikasikan  terjadinya transaksi‐transaksi keuangan yang mencurigakan, yaitu:  Pertama, apakah ada transaksi yang janggal untuk dilakukan profil tersebut.  Kejanggalan profil transaksi ini misalnya dapat terlihat dari:  1. Apakah  asal  usul  harta  yang  ditransaksikan  wajar  diterima  oleh  profil  tersebut.  Misalnya  seperti  dalam  kasus  MR,  Renouw  menerima  berkali‐kali  sejumlah  uang  dari  perusahaan  yang  terindikasikan  melakukan illegal logging.  2. Apakah  jumlah  harta  wajar  yang  ditransaksikan  untuk  diterima  oleh  profil  tersebut  tanpa  alasan  yang  jelas.  Misalnya  dalam  kasus  MR,  Renouw  menerima  sejumlah  harta  kekayaan  dalam  jumlah  besar,  padahal alasannya kurang dapat dipertanggungjawabkan.  Kedua,    apakah  ada  transaksi  yang  diluar  kebiasaan  yang  dilakukan  profil  tersebut. Kejanggalan transaksi yang dilakukan oleh seorang profil tersebut  dapat terlihat dari apakah profil pihak‐pihak yang terlibat transaksi tersebut  memiliki  kedudukan  wajar  untuk  melakukan  transaksi.  Misalnya,  dalam  kasus  MR,  adanya  transaksi  antara  MR  yang  seorang  komisaris  polisi  dan  pemilik perusahaan yang diduga melakukan tindak pidana pencucian uang  tentu akan menimbulkan kecurigaan tersendiri. Setidaknya dengan melihat  kedua  profil  para  pihak  yang  bertransaksi  penegak  hukum  dapat  menilai  apakah motif sebenarnya pelaku.  Ketiga,  apakah  ada  indikasi  untuk  menyamarkan  atau  mengaburkan  asal‐ usul transaksi. Kejanggalan ini dapat terlihat dari: 

  1.

73 

     

Apakah  ada  transaksi  yang  dilakukan  profil  tersebut  dengan  menggunakan  identitas  palsu.  Ketika  seorang  profil  melakukan  transaksi  dengan  identitas  palsu,  maka  ia  akan  terlihat  memiliki  maksud untuk menyamarkan asal‐usul transaksi.  2. Apakah  ada  transaksi  yang  dilakukan  profil  tersebut  kepada  perusahaan‐perusahaan fiktif. Perusahaan fiktif juga umum digunakan  untuk menyamarkan alur harta. Dengan ditransfer kepada perusahaan  boneka  tersebut,  harta  tersebut  seolah‐olah  digunakan  untuk  kepentingan  operasional  perusahaan,  padahal  sebenarnya  masuk  ke  dalam penguasaan beneficial owner harta haram tersebut,  3. Apakah  ada  transaksi  yang  batal  dilakukan  profil  tersebut.  Transaksi  yang  dibatalkan  karena  prosedur  KYC  pada  penyedia  jasa  keuangan  akan menimbulkan kecurigaan tersendiri.   4. Apakah  ada  transaksi  atas  harta  kekayaan  yang  berputar‐putar  tanpa  motif ekonomi yang jelas kemudian kembali pada profil yang menjadi  beneficial owner harta kekayaan tersebut.   Indikator‐indikator  tersebutlah  yang  seharusnya  digunakan  untuk  melengkapi  puzzle  informasi  sehingga  memenuhi  keyakinan  bahwa  Adelin  Lis telah melakukan pencucian uang.   Memang  telah  terungkap  bahwa  Adelin  melakukan  berbagai  transfer yang dinilai mencurigakan yaitu diantaranya:  Pertama, Adelin melakukan 13 transaksi transfer harta sejumlah Rp. 10,55  milyar  dari  rekening  atas  nama  Adelin  di  Bank  Buana  ke  rekening  nomor  008‐031288‐001 atas nama Adelin juga di Bank HSBC cabang Medan sejak  tanggal 28 Desember 2004 sampai 27 Juli 2005.   Apabila  dilakukan  tanpa  alasan,  transaksi  ini  salah  satu  contoh  transaksi  keuangan  yang  dilakukan  tanpa  motif  ekonomi  yang  jelas.  Patut  ditekankan  bahwa  dalam  menjerat  tindak  pidana  pencucian  uang  unsur  motif  adalah  unsur  yang  harus  jelas.  Perpindahan  harta  dengan  jumlah  besar yaitu Rp. 10,55 milyar seharusnya tidak wajar apabila dilakukan tanpa  alasan.  Apalagi  transfer  tersebut  dilakukan  antar  rekening  pribadi  dan  dalam jumlah yang rata‐rata sama yaitu berkisar Rp. 750 juta dan Rp. 850  juta.  Lebih  lanjut,  melihat  dari  jumlah  transaksi  yang  besar  tersebut,  penegak hukum dapat melihat juga apakah bank yang menjadi intermediasi  transaksi ini juga menjalankan Prinsip KYC‐nya dengan memenuhi informasi  alasan dan asal usul harta atas transaksi yang dilakukan Adelin Lis. 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 74 
 

2008 

Namun, saksi‐saksi yang diperiksa kepolisian membenarkan bahwa  harta  Adelin  Lis  di  HSBC  tersebut  digunakan  untuk  membayarkan  hutang  kepada  Hock  Seng  Trading  PTE  sejumlah  US$  985  ribu  dan  US$  115.136.  Nilai  tersebut  juga  berkesesuaian  dengan  nilai  yang  ditransfer  Adelin  dari  Bank  Buana  ke  HSBC,  dirupiahkan  jumlah  ribuan  dolar  tersebut  akan  memenuhi  nilai  transaksi  Rp.  10,55.  Tapi  penegak  hukum  tidak  boleh  berpuas  hati  dengan  jawaban  tersebut.  Pertanyaannya  selanjutnya  adalah  apakah benar Adelin memiliki hutang pada Hock Seng Trading itu. Kalaupun  benar,  atas  alasan  apakah  Adelin  berhutang  pada  Hock  Seng  Trading  dan  apakah hutang tersebut hutang pribadi atau hutang perusahaan.  Kemudian  yang tidak kalah penting adalah siapa pemilik Hock Seng Trading tersebut.  Selain itu, analisis alur uang ini juga tidak hanya dilakukan dengan  melihat ke depan, tetapi juga harus dilakukan dengan melihat ke belakang,  yaitu  dengan  melihat  dari  mana  harta  yang  ada  di  rekening  Adelin  pada  Bank  Buana.  Apabila  Adelin  berkilah  bahwa  harta  tersebut  berasal  dari  bisnis sahnya dengan PT Mitra Niaga atas penjualan plywood dari PT. KNDI  dalam  suatu  periode  tertentu.  Bukannya  tidak  mungkin  penegak  hukum  juga  menghitung  berapa  nilai  sebenarnya  yang  diterima  Adelin  dari  penjualan  plywood  tersebut,  dengan  melihat  berapa  jumlah  produksi  PT.  KNDI.  Kedua,  Adelin  mentransfer  juga  uangnya  dari  Bank  Buana  ke  rekening  nomor 00057862071 atas nama PT. Sinar Gunung Sawit Raya (PT. SRGR) di  Bank BNI Jalan Pemuda, Medan. Tercatat 66 kali rekening tranfer uang oleh  Adelin  ke  Rekening  PT.  SGSR,  dengan  nilai  total  sebesar  Rp.  33,04  milyar  dari  tanggal  11  Juni  2004  hingga  5  April  2006.  Dari  alur  transaksinya  PT.  SRGR  kemudian  mentransaksikan  pada  PT  Tirta  Makmur  (PT.  TM)  sebesar  Rp.  14,369  milyar  untuk  membangun  pabrik  kelapa  sawit.  Kemudian,  PT  SRGR juga mentransfer sebesar US$ 373.643 kepada PT Super Andalas Steel  (PT. SAS) untuk keperluan membangun boiler.  Dari total transaksi 33 milyar rupiah tersebut, hampir setengahnya  dipergunakan  untuk  membangun  pabrik  sawit  yaitu  14  milyar  rupiah.  Penegak  hukum  juga  harus  dapat  memverifikasi  apakah  benar  PT.  SRGR  selama  periode  tersebut  membangun  pabrik  sawit.  Apabila  ternyata  PT.  SRGR  tidak  melakukan  pembangunan  sawit  dan  harta  dalam  jumlah  besar 

 

75 

     

dari PT. SRGR berbalik kepada Adelin, maka hal ini menunjukkan bahwa PT.  SRGR  hanyalah  perusahaan  boneka  saja  (shell  company)  untuk  mencuci  uang  haram  yang  dimiliki  Adelin.  Hal  ini  saja  sudah  cukup  untuk  mengindikasikan bahwa Adelin berusaha melakukan proses layering dalam  pencucian uang.  Ketiga,  Adelin  Lis  juga  melakukan  transfer  ke  rekening  nomor  105‐017‐ 80002‐6 atas nama PT Mujur Timber di Bank Mandiri Cabang Imam Bonjol,  Medan.  Transfer  ini  dilakukan  sebanyak  39  kali  dengan  jumlah  Rp.  25,05  milyar  dari  tanggal  26  Mei  2004  sampai  7  Oktober  2005,  dengan  alasan  untuk membiayai berbagai keperluan operasional PT. KNDI dan PT. MTG.  Seperti  halnya  memperlakukan  transaksi‐transaksi  sebelumnya.  Penegak  hukum  juga  harus  dapat  melihat  apakah  benar  kemudian  ada  transfer dari PT. MTG tersebut kepada PT. KNDI yang akan digunakan untuk  membiayai  operasional  PT.  KNDI.  Selanjutnya,  dengan  membandingkan  keseluruhan  sumber  dan  peruntukkan  transaksi  yang  dilakukan  maka  kita  juga  akan  dapat  melihat  apakah  ada  kesesuaian  pada  transaksi‐transaksi  tersebut.  Apabila  Adelin  berdalih  bahwa  itu  merupakan  hasil  penjualan  kayu  plywood  PT.  KNDI  kepada  PT.  MN,  berarti  seharusnya  harta  tersebut  adalah  harta  perusahaan,  agak  menjadi  janggal  kemudian  harta  tersebut  sebagian besar yaitu sekitar 42% dari total harta tersebut justru digunakan  untuk  untuk    keperluan  yang  tidak  ada  hubungannya  dengan  perusahaan  itu sendiri.  
Tabel 6. Beberapa Transaksi Keuangan Antara MR dan Pelaku Illegal Logging  Peruntukkan Hutang pribadi Membiayai PT. SGR Prosentase 12,6% 39,7%

Membiayai  operasional  30,1% PT. MTG 
Sumber: Dakwaan MR, diolah 

  Terakhir,  apabila  pemeriksaan  di  pengadilan  akan  dilakukan  secara  in  absentia,  setelah  penegak  hukum  memiliki  semua  informasi  untuk  menjerat 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 76 
 

2008 

Adelin,  maka  selanjutnya  terserah  Adelin  apakah  ia  akan  keluar  dari  persembunyiannya  untuk  membuktikan  bahwa  hartanya  adalah  harta  yang  sah. 

SIMPULAN DAN REKOMENDASI 
Refleksi Untuk Awal Tahun 2008 

SIMPULAN 
Dari paparan tersebut diatas, setidaknya ada beberapa kesimpulan  yang dapat diambil yaitu:  1. Rezim  anti  pencucian  uang  sangat  berpotensi  untuk  dapat  menjerat  pelaku‐pelaku  kejahatan  yang  biasanya  sulit  disentuh  oleh  hukum.  Dalam  kasus  Renouw  misalnya,  rezim  ini  dapat  membantu  menguatkan fakta hukum yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk  menjerat  pelaku  illegal  logging.  Pertama,  dengan  menelusuri  harta,  maka  penegak  hukum  akan  dapat  melihat  siapa  sebenarnya  yang  diuntungkan dari kejahatan tersebut. Kedua, dengan menelusuri harta  dan melihat profilnya, maka penegak hukum akan dapat melihat motif  apa  yang  tersembunyi  dari  transaksi  tersebut.  Ketiga,  dengan  menelusuri  hartanya  dan  melihat  pola  atau  kebiasaan  transaksinya,  maka  penegak  hukum  dapat  menilai  apakah  pelaku  memang  melakukan tindak pidana pencucian uang atau tidak.  Sayangnya,  sampai  dengan  tahun  2007,  masih  belum  ada  pelaku  intelektual  kasus  illegal  logging    yang  dijerat  dengan  UU  Anti  Pencucian  Uang.  Padahal  kegagalan  demi  kegagalan  menjerat  pelaku  illegal  logging  dengan  UU  Kehutanan  saja  seharusnya  menjadi  bahan  pelajaran dan pertimbangan untuk lebih mengoptimalkan penggunaan  rezim anti pencucian uang.  Masih banyaknya perdebatan mengenai bagaimana rezim penggunaan  anti  pencucian  menimbulkan  keraguan  dan  hambatan  baik  secara  struktural  dan  substansial  dalam  penggunaan  rezim  anti  pencucian  uang.  Dalam  beberapa  kasus  penegak  hukum  terlihat  enggan 

2.

3.

 

77 

     

menggunakan  rezim  ini,  padahal  penggunaan  UU  Kehutanan  dengan  pendekatan  konvensional  seringkali  menjadi  pilihan  yang  tidak  hanya  tidak  efektif,  tidak  efisien  juga  seringkali  dibelokkan  kearah  pelanggaran  administratif.  Seharusnya  penegak  hukum  tidak  hanya  terpaku  pada  harus  membuktikan  terlebih  dahulu  adanya  illegal  logging  yang  dilakukan  pelaku  atau  tidak,  karena  celah  menjerat  adanya  pencucian  uang  bukan  hanya  dimulai  dari  adanya  indikasi  adanya kejahatan asalnya tetapi juga adanya transaksi keuangan yang  dapat dinilai mencurigakan. 

REKOMENDASI 
Berdasarkan  simpulan  tersebut  setidaknya  ada  beberapa  hal  yang  dapat  menjadi  rekomendasi  untuk  kedepannya  dalam  penegakan  hukum  follow the money secara terintegratif, yaitu:  1. Perlunya penggunaan UU Tindak Pidana Pencucian Uang untuk setiap  kasus  kejahatan  kehutanan.  Dengan  penggunaan  UU  ini,  diharapkan  dapat  lebih  menguatkan  berbagai  fakta  hukum  yang  terjadi  dalam  kasus  tersebut  termasuk  untuk  membongkar  bagaimana  keterlibatan  dan oknum pejabat dan aparat, yang turut mendukung keberlanjutan  kejahatan kehutanan tersebut.  2. PPATK  perlu  lebih  aktif  mendorong  penegak  hukum  untuk  mengoptimalkan  penggunaan  rezim  ini  berdasarkan  laporan  hasil  analisis  yang  disampaikan  kepada  penegak  hukum  dan  lebih  banyak  lagi mensosialisasikan penggunaan rezim anti pencucian uang  kepada  para penegak hukum, termasuk mengenai independensi tindak pidana  pencucian uang.                     

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 78 
                                                                 

2008 

 

 

79 

     

CATATAN BADAN LAYANAN  UMUM 2007 
   

“Untuk  menjadi  BLU  Penuh,  diperlukan  orang‐orang  yang  profesional di bidangnya agar dapat menyusun Rencana Stategis  Bisnis  dan  Standar  Pelayanan  Minimal  yang  rasional,  serta  Laporan  Keuangan  yang  akuntabel.  Saat  ini  pejabat  keuangan  dengan  status  akuntan  belum  ada  dalam  BLU‐Pusat  P2H,  tentu  hal  itu  akan  mempersulit  BLU‐Pusat  P2H  untuk  bisa  memenuhi  Persyaratan  Administratif  sebagaimana  diwajibkan  agar  memperoleh status BLU Penuh. “ 
 

  Triana Ramdani, Financial Analyst 
             

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 80 
 

2008 

PENDAHULUAN 
  Pengelolaan  lingkungan  hidup  dan  sumber  daya  alam  yang  tidak  sustainable patut menjadi hal penting yang harus segera ditindaklanjuti. Ulah  manusia‐manusia  yang  tidak  bertanggung  jawab  dengan  mengeksploitasi  kekayaan alam tanpa ada langkah melestarikannya, membuat kondisi alam ini  semakin  tidak  bersahabat.  Maraknya  illegal  logging  merupakan  salah  satu  penyebab  utama  terjadinya  bencana  alam  akhir‐akhir  ini.  Bagaimana  tidak,  hutan yang seharusnya menjadi tempat penyerapan air, sumber oksigen, dan  habitat satwa liar, kini hanya menjadi hamparan tanah kosong semata. Sangat  wajar  jika  kini  bencana  banjir  dan  tanah  longsor  menimpa  hampir  di  seluruh  pelosok Indonesia.   Negara  Indonesia  disebut‐sebut  sebagai  negara  yang  mengalami  deforestasi  paling  tinggi  di  dunia.  Untuk  era  tahun  2000‐an,  laju  kerusakan  hutan telah mencapai jutaan hektar per tahun. Tahun 2000‐2004 mencapai 3,4  juta  ha/tahun,  tahun  2005  mencapai  2,8  juta  ha/thn,  dan  tahun  2006  mencapai  2,72  juta  ha/thn  (Suara  Pembaruan,  23  Mei  2007).  Para  ahli  memprediksi,  jika  hal  ini  dibiarkan  terjadi,  maka  hutan  di  Indonesia  akan  punah dalam jangka waktu kurang dari 15 tahun.  Kegiatan  illegal  logging  dilakukan  baik  oleh  perorangan  maupun  oleh  perusahaan.  Selain  bencana  alam,  negara  pun  turut  dirugikan  dari  kejahatan  kehutanan  itu.  Pasalnya,  setiap  kayu  yang  ditebang  secara  ilegal  tentu  tidak  akan membayar Dana Reboisasi (DR)  dan Provisi Sumber Daya  Hutan  (PSDH).  Dimana menurut peruntukkannya Dana Reboisasi itu akan dipergunakan untuk  membangun  hutan  kembali.  Meskipun  pada  kenyataannya  jauh  dari  yang  disebutkan.  Dimana  karena  rendahnya  efektifitas,  penyaluran  DR  untuk  pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) dihentikan pada tahun 2000.   Menurut  Direktur  Greenomics  Indonesia  Elfian  Effendi  (Kompas,  8/9/2006), masih terdapat Utang HTI tidak tertagih  sejak tahun 1998. Jumlah  total utang yang bersumber dari anggaran negara sektor kehutanan mencapai  Rp 1,45 triliun, yaitu utang pembangunan HTI Rp 1,08 triliun, kredit usaha tani  Rp 170,9 miliar, dan koperasi perumahan Rp 77,89 miliar. Ada juga dana sektor 

 

81 

     

kehutanan  yang  dipinjam  untuk  kepentingan  Sea  Games  Rp  30  miliar,  yang  apabila diperhitungkan bunga, nilainya menjadi Rp 83,24 miliar.  Tahun  2007  ini,  bisa  dikatakan  Pemerintah  mulai  menunjukkan  salah  satu  langkah  konkretnya  dalam  perbaikan  di  sektor  kehutanan.  Pemerintah  membentuk  sebuah  satuan  kerja  (satker)  di  Departemen  Kehutanan,  yakni  Badan Pembiayaan Pembangunan Hutan (BP2H). Satker ini akan  memberikan  pinjaman  berupa  dana  bergulir  kepada  masyarakat  dan  BUMN/S/D  untuk  membangun  hutan  tanaman.  Diharapkan  dengan  pola  pembiayaan  ini  Indonesia bisa benar‐benar melakukan langkah real reboisasi.   Dengan  beberapa  masalah  yang  dihadapi,  badan  yang  kini  berganti  nama  menjadi  BLU‐Pusat  P2H  (Badan  Layanan  Umum  Pusat  Pembiayaan  Pembangunan  Hutan)  dikatakan  memiliki  risiko  kegagalan  yang  cukup  tinggi.  Dimana  perlu  banyak  pihak  yang  harus  berperan  serta  agar  tujuan  dari  BLU‐  Pusat P2H bisa tercapai. Mengingat kinerja DR pada tahun‐tahun sebelumnya  yang tidak terarah dan terkontrol. Namun paling tidak kita harus mendukung  salah satu upaya pemerintah tersebut.  

PERATURAN BADAN LAYANAN UMUM 
Aturan  mengenai  Badan  Layanan  Umum  (BLU)  diatur  dalam  PP  No.  23/2005  tentang  Pengelolaan  Keuangan  Badan  Layanan  Umum  (PK‐BLU).  Dijelaskan  bahwa  yang  dimaksud  dengan  BLU  adalah  instansi  di  lingkungan  Pemerintah  yang  dibentuk  untuk  memberikan  pelayanan  kepada  masyarakat  berupa  penyediaan  barang  dan/atau  jasa  yang  dijual  tanpa  mengutamakan  mencari  keuntungan  dan  dalam  melakukan  kegiatannya  didasarkan  pada  prinsip efisiensi dan produktivitas.  Sedangkan  PK‐BLU  adalah  pola  pengelolaan  keuangan  yang  memberikan  fleksibilitas  berupa  keleluasaan  untuk  menerapkan  praktek‐ praktek  bisnis  yang  sehat  untuk  meningkatkan  pelayanan  kepada  masyarakat  dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan  bangsa,  sebagai  pengecualian  dari  ketentuan  pengelolaan  keuangan  negara  pada umumnya.   

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 82 
 

2008 

Selain Peraturan di atas, secara lebih rinci aturan mengenai BLU diatur dalam  Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang terdiri dari:  1. PMK No. 119/2007  Tentang  Persyaratan  Administratif  dalam  rangka  Pengusulan  dan  Penetapan  Satuan  Kerja  Instansi  Pemerintah  untuk  Menerapkan  Pengelolaan Keuangan BLU.   2. PMK No. 109/2007  Tentang Dewan Pengawas Badan Layanan Umum  3. PMK No. 73/2007  Tentang  Perubahan  atas  Peraturan  Menteri  Keuangan  No.  10/2006  tentang  Pedoman  Penetapan  Remunerasi  bagi  Pejabat  Pengelola,  Dewan Pengawas, dan Pegawai BLU.  4. PMK No. 08/2006  Tentang Kewenangan Pengadaan Barang/Jasa pada BLU.  5. PMK No. 66/2006  Tentang Tata Cara Penyusunan, Pengajuan, Penetapan, dan Perubahan  Rencana Bisnis dan Anggaran serta Dokumen Pelaksanaan Pelaksanaan  Anggaran BLU. 

KONSEP BADAN LAYANAN UMUM 
Konsep  keuangan  yang  paling  membedakan  BLU  dengan  badan  di  lingkungan  pemerintahan  lainnya  adalah  mengenai  fleksibilitasnya  dalam  mengelola  keuangan.  Dimana  BLU  diberikan  hak  untuk  menggunakan  pendapatannya  langsung  tanpa  harus  disetor  ke  kas  negara  terlebih  dulu  sebagai Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).   Dengan pengelolaan seperti itu diharapkan satker akan lebih fleksibel  dalam  mengelola  keuangannya  sendiri.  Sehingga  bisa  meningkatkan  pelayanannya kepada masyarakat.   

 

83 

     

Adapun  perbedaan  lainnya  antara  konsep  BLU  dengan  konsep  badan  sektor  publik yang ada yaitu:   
Tabel 1. Perbedaan Konsep BLU dengan Konsep Badan Sektor Publik Lainnya 
No.  Keterangan  Satker Biasa  BUMN  Satker dengan Status  BLU  Not for Profit   (tidak mengutamakan  keuntungan)  Semi Otonom /  Otonom  Sesuai dengan PP  23/2005  Tidak Dipisahkan dari  Kekayaan Negara 

1. 

Orientasi  Bisnis 

Non Profit  (pendapatan <  belanja) 

Profit Oriented  (pendapatan >  belanja) 

2. 

Hak Otonomi 

Tidak Otonom 

Otonom  

3. 

Pengelolaan  Keuangan  Status  Kekayaan 

Sesuai dengan  mekanisme APBN  Tidak Dipisahkan dari  Kekayaan Negara 

Murni Bisnis 

4. 

Dipisahkan dari  Kekayaan Negara 

Sumber: Pembinaan PK‐BLU oleh Departemen Keuangan 

Kelebihan yang dimiliki BLU dalam fleksibilitasnya adalah mencakup kebebasan  dalam mengelola:  ♦ ♦ ♦ ♦ ♦ ♦ ♦ ♦ ♦ ♦       Pendapatan dan Belanja  Pengelolaan Kas  Pengelolaan Piutang dan Utang  Investasi  Pengelolaan Barang  Surplus/Defisit  Akuntansi  Remunerasi  Status Kepegawaian PNS dan non PNS  Nomenklatur Kelembagaan dan Pimpinan  

 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 84 
 

2008 

MONITORING BADAN LAYANAN UMUM  KEHUTANAN 
Saat  ini  baru  satu  satker  dari  Departemen  Kehutanan  yang  dijadikan  BLU,  yaitu  BLU‐Pusat  P2H.  Badan  ini  didirikan  pada  tanggal  2  Maret  2007  sesuai  dengan  Keputusan  Menteri  Keuangan  No.  137/KMK.05/2007  serta  Peraturan  Menteri  Kehutanan  No.  P.31/Menhut‐II/2007.  Badan  ini  memiliki  kegiatan utama penyaluran pinjaman dana bergulir bagi pembangunan hutan  tanaman baik oleh BUMN/D/S/Koperasi maupun Kelompok Tani Hutan.   BLU‐Pusat  P2H  dibentuk  untuk  meningkatkan  pengelolaan  dan  pemanfaatan hutan produksi terutama yang tidak dibebani hak. Hal ini sejalan  dengan deklarasi Presiden Tanggal 11 Juli 2006 tentang Revitalisasi Pertanian,  Perikanan  dan  Kehutanan  (RPPK),  sektor  Kehutanan  diminta  memberikan  kontribusi  pada  pemanfaatan  lahan  yang  tidak  produktif  menjadi  produktif  (pro  environment),  pertumbuhan  (pro  growth),  bergeraknya  sektor  riil  kehutanan di perkotaan berupa aktifnya industri‐industri kayu berbasis bahan  baku  lestari  (pro  job)  dan  pengentasan  kemiskinan  masyarakat  setempat  melalui  pemberdayaan  ekonomi,  baik  dalam  pola  kemitraan  maupun  sebagai  pelaksana (owner) IUPHHK HTR/HTI (Pro poor). 

STATUS BLU‐PUSAT P2H 
Status  BLU‐Pusat  P2H  adalah  BLU  Bertahap  80%.  Maka  sesuai  dengan  aturan  fleksibilitasnya,  pendapatan  operasional  yang  diperolehnya  hanya  bisa  digunakan  sebesar  80%  saja,  sisanya  yang  20%  tetap  harus  disetor  ke  kas  negara.  Status  Bertahap  diperoleh  karena  persyaratan  administratif  BLU‐Pusat  P2H  dianggap  kurang  memadai  oleh  Menteri  Keuangan untuk menjadi BLU Penuh.   

 

85 

     

Skema Penetapan BLU
No Yes
Menteri Keuangan c.q. Dirjen Perbendaharaan

No Yes

Persyaratan Substantif Persyaratan Teknis

Tim Penilai Satker
Menteri / Pimpinan Lembaga Persyaratan Administratif

BLU Penuh

Persyaratan Substantif Terpenuhi Persyaratan Teknis Terpenuhi Persyaratan Administratif Terpenuhi Persyaratan Substantif Terpenuhi Persyaratan Teknis Terpenuhi Persyaratan Administratif Belum Terpenuhi

No

Yes

Selama 3 Tahun Syarat Administratif Terpenuhi Selama 3 Tahun Syarat Administratif Tidak Terpenuhi

BLU Bertahap

Gambar 1. Skema Penetapan BLU 

Berdasarkan  skema  di  atas,  berarti  BLU‐Pusat  P2H  diberi  waktu  selama  tiga  tahun  untuk  dapat  menyempurnakan  Persyaratan  Administratif tersebut. Dimana persyaratan tersebut terdiri dari:  ♦ Pernyataan  Kesanggupan  Menigkatkan  Kinerja  Pelayanan,  Keuangan, dan manfaat bagi masyarakat.  ♦ Pola Tata Kelola  ♦ Rencana Stategis Bisnis  ♦ Laporan Keuangan Pokok  ♦ Standar Pelayanan Minimal  ♦ Laporan  Audit  Terakhir,  atau  Pernyataan  bersedia  untuk  diaudit  secara Independen. 

KEORGANISASIAN 
Keorganisasian  BLU‐Pusat  P2H  telah  ditetapkan  dalam  Permenhut  No.  P.31/2007  tentang  Organisasi  dan  Tata  Kerja  Pusat  Pembiayaan  Pembangunan  Hutan  yang  telah  disetujui  oleh  Menteri  Pendayagunaan 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 86 
 

2008 

Aparatur Negara. Berdasarkan peraturan tersebut, struktur organisasi BLU‐ Pusat P2H ditentukan sebagai berikut:   
STRUKTUR ORGANISASI PUSAT PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN HUTAN
MENTERI KEHUTANAN

DIREKTUR JENDERAL BINA PRODUKSI HUTAN

SEKRETARIS JENDERAL DEPARTEMEN KEHUTANAN

KEPALA PUSAT PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN HUTAN

KEPALA BAGIAN TATA USAHA

SUB BAGIAN UMUM

SUB BAGIAN HUKUM DAN HUMAS

KEPALA BIDANG PENILAIAN KELAYAKAN USAHA

KEPALA BIDANG PENYALURAN DAN PENGEMBALIAN PINJAMAN

SEKSI PENYIAPAN PENILAIAN

SEKSI EVALUASI DAN PELAPORAN FISIK

SEKSI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN

SEKSI PENYALURAN DAN PENGEMBALIAN

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

   
Gambar 2. Struktur Organisasi Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan 

  Dari  gambar  tersebut,  terlihat  bahwa  struktur  yang  dibentuk  kurang sesuai dengan konsep BLU yang diatur dalam PP 23/2005 pasal 32.  Dimana pejabat pengelola BLU terdiri dari Pimpinan BLU yang bertanggung  jawab  terhadap  keseluruhan  kinerja  BLU,  dibantu  Pejabat  Keuangan  dan  Pejabat  Teknis  yang  masing‐masing  bertanggung  jawab  atas  kinerja  keuangan dan kinerja operasional BLU.   

 

87 

     

Dengan bentuk organisasi di atas, kriteria yang menyatakan unsur  organisasi  BLU  yang  seharusnya  menjadi  tidak  nampak.  Hal  itu  menyebabkan biasnya penanggung jawab utama dalam bidang operasional  dan  keuangan  BLU‐Pusat  P2H.  Terlebih  untuk  bidang  keuangan  dan  akuntansi.  Menurut PP 23/2005 dijelaskan pula bahwa pengawasan terhadap  kinerja BLU akan dilakukan oleh dua pihak. Yakni dari pihak eksternal yaitu  Badan Pengawas, dan pihak internal yaitu Satuan Pengawas Internal (SPI).  Dalam  pasal  35  (1),  BLU  harus  memiliki  SPI  yang  berkedudukan  langsung  di  bawah  Pimpinan  BLU.  Dimana  tugasnya  adalah  untuk  mengawasi  kinerja  BLU  itu  sendiri.  Akan  tetapi  pada  Struktur  Organisasi  BLU‐Pusat  P2H  ternyata  tidak  dibentuk  SPI.  Dan  Dewan  Pengawas  pun  belum  ditetapkan  sampai  saat  ini.  Sehingga  tidak  ada  sama  sekali  yang  mengawasi kinerja BLU‐Pusat P2H.  Padahal  dalam  pasal  5  PMK  109/2007  Badan  Pengawas  berkewajiban  untuk  memberikan  nasihat,  saran,  atau  tanggapan  atas  pengelolaan BLU, laporan keuangan, dan laporan kinerja BLU. Sehingga jika  Badan  Pengawas  sudah  terbentuk  bagi  BLU‐Pusat  P2H,  secara  langsung  akan membantu BLU untuk memenuhi kriteria menjadi BLU Penuh.  Jika  dilihat  dari  persyaratan  Pembentukan  Dewan  Pengawas  pun  sebenarnya BLU‐Pusat P2H sangat memenuhi kriteria. Karena nilai asetnya  menurut neraca lebih dari Rp 75 Milyar. Dan atas dasar nilai aset menurut  neraca BLU‐Pusat P2H yang lebih dari Rp 200 Milyar, maka jumlah Anggota  Dewan Pengawasnya ditetapkan 3 (tiga) sampai 5 (lima) orang.   

KONSEP PENGELOLAAN KEUANGAN 
Saat  ini  BLU‐Pusat  P2H  hanya  menerapkan  konsep  akuntansi  keuangan organisasi nirlaba. Dalam PP 23/2005 pasal 25, atas persetujuan  Menteri  Keuangan  BLU  bisa  menerapkan  sistem  akuntansi  keuangan  apa  saja  yang  sesuai  dengan  jenis  layanannya  dan  diatur  dalam  Standar  Akuntansi Keuangan (SAK) yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan  Indonesia  (IAI). 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 88 
 

2008 

Jika  melihat  jenis  layanannya  yang  memberikan  pinjaman  kepada  nasabah,  BLU‐Pusat  P2H  layak  mengajukan  sistem  akuntansi  keuangan  perbankan. Sehingga penyusunan laporan keuangannya bisa lebih jelas dan  akuntabel  seperti  layaknya  laporan  keuangan  perbankan  pada  umumnya,  meskipun tetap harus mengacu pada akuntansi nirlaba.  Laporan  Keuangan  BLU‐Pusat  P2H  tidak  wajib  dipublikasikan,  padahal  seharusnya  laporan  tersebut  dipublikasikan  agar  dapat  tercipta  transparansi dalam BLU‐Pusat P2H.    

TARGET KINERJA OPERASIONAL BLU‐PUSAT P2H 
Tabel 2. Target Kinerja Operasional BLU‐Pusat P2H Periode 2007‐2008 
No.  1.  2.  3.  4.  Keterangan  Total Dana Bergulir yang akan Disalurkan (Rp)  Dana Bergulir untuk Pembangunan HTR (Rp)  Dana Bergulir untuk Pembangunan HTI (Rp)  Standar Biaya Pembangunan HTR Per Hektar  (Rp)  Standar Biaya Pembangunan HTI Per Hektar  (Rp)  Luas Wilayah HTR yang akan Terbangun (Ha)  Luas Wilayah HTI yang akan Terbangun (Ha)  Sumber: BLU‐Pusat P2H  2007  1,393 Triliun  868,6 Milyar  525 Milyar  4,34 Juta  2008  1,65 Triliun  983,6 Milyar  666,4 Milyar  4,46 Juta  

5. 

5 Juta 

4,46 Juta 

6.  7. 

200.000  105.000 

220.506  147.004 

Hingga  akhir  2007  BLU‐Pusat  P2H  belum  beroperasi  sama  sekali.  Pasalnya, dana bergulir yang dijanjikan sesuai dengan Keputusan Menteri  Keuangan No. 137/2007 sebesar Rp 1,4 Triliun (Pembulatan dari Rp 1,393  Triliun),  tidak  bisa  dicairkan  karena  BLU‐Pusat  P2H  terlambat  menyusun  Rencana Bisnis dan Anggaran sebagai syarat utama pencairannya. 

 

89 

     

Sesuai  dengan  peraturannya  pada  pasal  11  PP  23/2005  bahwa  penggunaan APBN harus berdasarkan Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA)  beserta usulan Standar Pelayanan Minimum (SPM) dan Biaya dari Keluaran  yang akan Dihasilkan BLU yang disetujui oleh Menteri Keuangan.   Sehubungan dengan tidak terealisasinya Anggaran 2007 BLU‐Pusat  P2H,  maka  secara  otomatis  anggaran  tahun  2008  pun  tidak  akan  terealisasi.  Karena  sesuai  dengan  aturannya  (PP  23/2005  pasal  12),  jika  sampai  31  Desember  Menteri  Keuangan  belum  menyetujui  Dokumen  Pelaksanaan  Anggaran  yang  diajukan,  maka  BLU‐Pusat  P2H  hanya  dapat  melakukan  pengeluaran  dana  paling  tinggi  sebesar  angka  Dokumen  Pelaksanaan Anggaran tahun sebelumnya.   Untuk  penentuan  dana  yang  disalurkan,  selayaknya  dihitung  berdasarkan  kebutuhan.  Misalnya  berapa  luas  hutan  tanaman  yang  akan  dibangun  dan  berapa  biaya  standar  yang  dibutuhkannya.  Sehingga  akan  lebih memudahkan dalam menyusun RBA‐nya.   Berbeda  dengan  BLU‐Pusat  P2H,  dana  bergulir  yang  akan  disalurkan  ditetapkan  terlebih  dulu  dari  pada  penentuan  wilayah,  luas  lahan,  dan  biaya  standar  untuk  hutan  tanaman  yang  akan  dibangun.  Sehingga  penentuan  konsep  hutan  tanaman  yang  akan  dibangun  pun  terkesan dipaksakan dan menjadi kurang rasional.   Sampai saat ini konfirmasi atas berapa jumlah IUPHHK‐HTR belum  ditetapkan. Padahal hal itu merupakan syarat utama yang harus dipenuhi  nasabah  untuk  membangun  HTR.  Pengajuan  pembangunan  HTI  dari  Perusahaan  pun  belum  dipublikasikan.  Standar  kelayakan  pengajuan  proposal pembangunan hutan tanaman juga ternyata belum terbuat.  Jika  melihat  konsep  perbankan  dalam  memberikan  pinjaman,  mereka sangat berhati‐hati untuk menentukan apakah sang nasabah layak  untuk  diberi  pinjaman  atau  tidak.  Hal  itu  adalah  untuk  meminimalisir  terjadinya kegagalan pembayaran sang nasabah tersebut.   Kemampuan  teknis  dan  keuangan  dari  debitur  terutama  anggota  koperasi  dan  kelompok  tani  hutan  umumnya  terbatas.  Sedangkan  BLU‐ Pusat  P2H,  sebagian  besar  dana  yang  akan  disalurkan  adalah  kepada  masyarakat  tani  dan  koperasi.  Lantas  bagaimana  BLU‐Pusat  P2H  dapat 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 90 
 

2008 

yakin  bahwa  masyarakat  tani  dan  koperasi  bisa  mengelola  keuangan  dan  mengembalikan pinjamannya pada saat jatuh tempo? 

REKOMENDASI 
1. Untuk  menjadi  BLU  Penuh,  diperlukan  orang‐orang  yang  profesional  di  bidangnya  agar  dapat  menyusun  Rencana  Stategis  Bisnis  dan  Standar  Pelayanan  Minimal  yang  rasional,  serta  Laporan  Keuangan  yang  akuntabel.  Saat  ini  pejabat  keuangan  dengan  status  akuntan  belum  ada  dalam  BLU‐Pusat  P2H,  tentu  hal  itu  akan  mempersulit  BLU‐Pusat  P2H  untuk bisa memenuhi Persyaratan Administratif sebagaimana diwajibkan  agar  memperoleh  status  BLU  Penuh.  Padahal  kehadiran  akuntan  akan  sangat  membantu  BLU‐Pusat  P2H,  karena  penyusunan  laporan  kegiatan  yang akan dibuat harus direfleksikan ke dalam anggaran.  BLU‐Pusat  P2H  sebaiknya  memang  harus  memperkuat  unsur  keuangannya,  karena  seperti  diketahui  bahwa  jenis  layanan  yang  diberikan adalah berupa penyaluran dana seperti perbankan. Maka sudah  selayaknya unsur keuangan menjadi unsur terkuat dalam BLU‐Pusat P2H.  Dalam  penentuan  struktur  organisasi,  agar  terdapat  sinkronisasi  antara  ketentuan  BLU  yang  ditetapkan  oleh  Departemen  Keuangan,  dan  ketentuan  yang  ada  di  Kementerian  Pendayagunaan  Aparatur  Negara,  Departemen  Kehutanan  harus  melakukan  koordinasi  yang  baik  dengan  keduanya.  Sehingga  struktur  organisasi  yang  terbentuk  dapat  sesuai  dengan  ketentuan  dan  kebutuhan.  Yaitu  adanya  kejelasan  mengenai  Pejabat Teknis, Pejabat Keuangan, dan SPI.  Keseluruhan  unsur  organisasi  dalam  BLU‐Pusat  P2H  yang  diduduki  oleh  PNS kemungkinan besar akan menyebabkan birokrasi yang sama dengan  sistem  pemerintahan.  Padahal  adanya  kebijakan  mengenai  penempatan  posisi unsur organisasi oleh non‐PNS merupakan suatu kesempatan untuk  bisa  lebih  menerapkan  prinsip  kewirausahaan,  profesionalisme,  dan  praktek bisnis yang sehat.  Kepada  Departemen  Kehutanan,  sebaiknya  segera  mengusulkan  pembentukan  Dewan  Pengawas  bagi  BLU‐Pusat  P2H.  Karena  selain  berfungsi  sebagai  alat  kontrol,  Dewan  Pengawas  juga  bisa  membantu  BLU‐Pusat P2H untuk memperbaiki kinerja dengan memberikan saran dan  nasehat  kepada  pejabat  pengelola  BLU‐Pusat  P2H.  Maka  dalam  waktu  dekat  peran  Dewan  Pengawas  akan  sangat  diperlukan  untuk  perolehan  status BLU Penuh bagi BLU‐Pusat P2H. 

2.

3.

4.

5.

  6.

91 

     

Selain konsep SAK Nirlaba, seharusnya BLU‐Pusat P2H juga menganut SAK  Perbankan  sesuai  dengan  jenis  layanan  yang  diberikannya  kepada  masyarakat.   Seharusnya Laporan Keuangan dan Laporan Kinerja BLU‐Pusat P2H dapat  dipublikasikan sesuai dengan prinsip transparansi dan akuntabilitasnya.   Tahap  awal  dalam  kegiatan  operasionalnya,  sebaiknya  BLU  Pusat‐P2H  segera menetapkan standar penyusunan dan evaluasi kelayakan proposal  bagi  pengajuan  pinjaman  yang  harus  dipenuhi  oleh  nasabah.  Sehingga  setelah  dana  bergulir  diterima,  dana  tersebut  dapat  langsung  disalurkan  kepada nasabah.  BLU‐Pusat P2H juga harus memiliki data yang jelas mengenai luasan hutan  rusak  yang  akan  dibangun  dan  sesuai  dengan  prioritasnya.  Sehingga  di  periode  selanjutnya  data  hutan  yang  akan  dibangun  lebih  jelas  sebagai  acuan  dalam  penentuan  dana  yang  akan  diberikan  oleh  Departemen  Keuangan,  tentunya  dengan  kesesuaian  standar  biaya  pembangunan  hutan tanaman yang telah dihitung pula. 

7. 8.

9.

10. Proses  pengukuhan  kawasan  hutan  harus  didahului,  inventarisasi  hutan  yang  sesuai  dengan  kondisi  lapangan  guna  menghindari  persoalan  sengketa lahan dengan masyarakat setempat di kemudian hari.  11. Harus  diselenggarakan  suatu  pelatihan  untuk  peningkatan  kemampuan  teknis  dan  keuangan  dari  Debitur  terutama  bagi  kelompok  tani  dan  koperasi  untuk  meminimalisir  kegagalan  pembayaran  pinjaman  yang  diberikan.  12. Menteri  Kehutanan  segera  menetapkan  mekanisme  atau  prosedur  operasi standar dalam memutuskan pinjaman yang bagaimana yang layak  dihapuskan, termasuk ketentuan mengenai agunan/jaminan dan prosedur  yang  jelas  untuk  mengeksekusi  sita  jaminan/agunan  atas  pinjaman  yang  gagal bayar.       

REFERENSI 
1. Badan  Layanan  Umum  Badan  Pembiayaan  Pembangunan  Hutan  (BLU‐ BP2H),  Departemen  Kehutanan  pada  acara  diskusi  panel  “BP2H  Sebagai  Solusi atau Bukan?”. 4 Juli 2007. 

Menelusuri Kejahatan Bisnis Kehutanan ­ 92 
 

2008 

2. Badan  Pembiayaan  Pembangunan  Hutan:  Solusi  Syarat  Risiko,  ELSDA  Institute. 2007.  3. Hutan  Indonesia  Dikhawatirkan  Punah  dalam  Jangka  15  Tahun,  Suara  Pembaruan 23 Mei 2007.  4. Menko  Perekonomian  diminta  Menunda  BLU  Kehutanan,  Kompas  8  September 2006.  5. Pembinaan  BLU  oleh  Menteri  Keuangan,  Departemen  Keuangan  pada  acara diskusi panel “BP2H Sebagai Solusi atau Bukan?”. 4 Juli 2007.  6. Peraturan  Menteri  Kehutanan  No.  P.31/MENHUT‐II/2007  Tentang  Organisasi dan Tata Kerja Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan.  7. Peraturan  Menteri  Keuangan  No.  119/PMK.05/2007  Tentang  Persyaratan  Administratif  dalam  rangka  Pengusulan  dan  Penetapan  Satuan  Kerja  Instansi Pemerintah untuk Menerapkan Pengelolaan Keuangan BLU.   8. Peraturan  Menteri  Keuangan  No.  109/  PMK.05/  2007  Tentang  Dewan  Pengawas Badan Layanan Umum  9. Peraturan  Menteri  Keuangan  No.  73/  PMK.05/2007  Tentang  Perubahan  atas  Peraturan  Menteri  Keuangan  No.  10/2006  tentang  Pedoman  Penetapan  Remunerasi  bagi  Pejabat  Pengelola,  Dewan  Pengawas,  dan  Pegawai BLU.  10. Peraturan  Menteri  Keuangan  No.  08/PMK.02/2006  Tentang  Kewenangan  Pengadaan Barang/Jasa pada BLU.  11. Peraturan  Menteri  Keuangan  No.  66/  PMK.022006  Tentang  Tata  Cara  Penyusunan,  Pengajuan,  Penetapan,  dan  Perubahan  Rencana  Bisnis  dan  Anggaran serta Dokumen Pelaksanaan Pelaksanaan Anggaran BLU.  12. Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan  Badan Layanan Umum.  13. Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 2002 Tentang Dana Reboisasi.     

   

       
Menelusuri Kejahatan  Bisnis Kehutanan 
      Catatan  awal  tahun  ELSDA  Institute  ini  memberikan  hindsight  kepada  para  pembacanya  tentang  kenapa  peran  ekonomi  kehutanan  yang  besar  dalam  membatu  bangsa  Indonesia  keluar  dari  berbagai  krisis  ekonomi  sepanjang  40  tahun  ini  gagal  menyelesaiakan  masalah  yang  fundamental di Indonesia, yaitu kemiskinan dan kelestarian hutan.    ‐       Bambang Setiono 

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->