Anda di halaman 1dari 9

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan Dari hasil percobaan yang telah dilakukan maka didapatkan data percobaan sebagai berikut: Tabel 1. Standarisasi larutan iodin dengan Na2S2O3 No. 1. 2. Larutan Na2S2O3 0.02N (mL) 25.00 25.00 Rata-rata Volume larutan iodin/ lugol (mL) 10.2 10.3 10.25

Tabel 2. Kadar vitamin C dalam sampel Bobot sampel (gram) 0.2000 0.2010 Volume larutan iodin/ lugol (mL) 15 15.5 Normalitas larutan iodin/ lugol (N) 0.0975 0.0975 Kadar vitamin C (% w/w) 64.4 66.2

No.

1. 2.

4.2 Pembahasan Praktikum analisa kuantitatif vitamin C dalam sample dilakukan dengan menggunakan metode titrasi iodimetri (titrasi langsung). Penentuan ini dilakukan dengan menggunakan larutan I2 0,0975 N yang telah distandardisasi sebagai titrant. Sampel yang dipergunakan saat praktikum adalah tablet vitamin C yang banyak dijual di pasaran. Dalam kemasan tablet vitamin C disebutkan bahwa dalam tablet tersebut mengandung vitamin C. Vitamin C atau asam askorabat mempunyai berat molekul 178 dengan rumus molekul C6H8O6. Dalam bentuk Kristal tidak berwarna, vitamin C memiliki titik cair 190-192oC, bersifat larut dalam air dan sedikit larut dalam aseton atau alkohol yang mempunyai berat
1

molekul rendah. Akan tetapi vitamin C sukar larut dalam pelarut organik yang pada umumnya dapat melarutkan lemak. Hal yang pertama kali dilakukan dalam analisa kuantitatif vitamin C adalah standarisasi larutan I2. Proses ini dilakukan dengan menggunakan larutan Natrium Tiosulfat (Na2S2O3), larutan natrium tiosulfat juga sebelumnya telah distandardisasi dengan menggunakan KIO3 sebagai bahan baku primer. Berdasarkan hasil praktikum dan perhitungan diketahui bahwa konsentrasi larutan I2 adalah 0,0975 N. Kestabilan larutan tiosulfat mudah dipengaruhi oleh pH rendah, sinar matahari, serta bakteri yang dapat memanfaatkan sulfur sebagai sumber energi. Selain itu, kestabilan larutan ini juga dipengaruhi oleh kondisi penyimpanan. Titrasi iodimetri dilakukan dengan menggunakan amilum sebagai indikator. Seperti yang sudah diketahui bahwa prinsip dari titrasi iodimetri adalah reduksi analat oleh I2 menjadi I-. Penentuan kadar vitamin C dengan metode titrasi iodimetri ini didasarkan pada prinsip tereduksinya analat oleh I2 menjadi ion I-. Iod merupakan oksidator yang tidak terlalu kuat, sehingga hanya zat-zat yang merupakan reduktor yang cukup kuat yang dapat dititrasi. Sehingga penerapannya tidak terlalu luas, salah satu penerapan titrasi dengan metode iodimetri adalah pada penentuan bilangan iod minyak dan lemak juga vitamin C. Proses pengujian untuk sample tablet vitamin C dilakukan dengan 2 kali dengan bobot sampel yang berbeda , untuk sample 1 dan sampel 2 ditimbang adalah 0,2000 g dan 0,2010 g, sample ditimbang langsung dalam erlenmeyer dan diencerkan dengan menggunakan aquadest setelah itu dititrasi dengan larutan lugol (I2) dengan normalitas 0,0975 N. Proses titrasi dilakukan sampai larutan dalam erlenmeyer berubah warna menjadi biru, warna biru yang dihasilkan merupakan iod-amilum yang menandakan bahwa proses titrasi telah mencapai titik akhir, indikator yang dipergunakan dalam analisa vitamin C dengan metode iodimetri adalah larutan amilum. Berdasarkan hasil praktikum dan perhitungan kadar vitamin C pada sampel tablet vitamin C adalah 64.4% dan 66.2%. Hasil perhitungan kedua kadar vitamin C adalah 66.2% dan itu terlampau jauh dari hasil perhitungan kadar vitamin C pertama, hal tersebut dapat disebabkan karena terlewatnya titik akhir sehingga volume titrasi meningkat, dapat pula disebabkan karena iod merupakan
2

oksidator lemah sehingga tidak dapat bereaksi terlalu sempurna serta selain itu juga karena sifat Iod itu sendiri yang mudah teroksidasi oleh oksigen dalam lingkungan sehingga iodida mudah terlepas, dengan hal itu maka volume titrasi menjadi bertambah. Untuk menghindari hal tersebut, maka sering dibuat kondisi yang menggeser kesetimbangan ke arah hasil reaksi antara lain dengan mengatur pH dan menambahkan bahan pengkompleksan. Akan tetapi hal tersebut tidak dilakukan saat praktikum. Iodimetri merupakan analisis titrimetri yang secara langsung digunakan untuk zat reduktor atau natrium tiosulfat dengan menggunakan larutan iodin atau dengan penambahan larutan baku berlebihan. Kelebihan iodine dititrasi kembali dengan larutan tiosulfat. Baik pada iodimetri maupun iodometri, titrasinya selalu berkaitan dengan I2. Meskipun warna I2 (bentuk teroksidasi) berbeda dengan warna I- (bentuk tereduksi), secara teoritis untuk titrasi ini tidak memerlukan indikator, tapi karena warnanya, dalam keadaan encer, sangat lemah, maka pada titrasi ini diperlukan indikator. Indikator yang digunakan adalah larutan kanji (amilum). Kanji atau amilum dengan I2 akan bereaksi dan reaksinya adalah reaksi yang dapat balik. Amilum ini adalah senyawa yang agak sukar larut dalam air sehingga kalau pada reaksi ini I2 tinggi, kesetimbangan akan terletak jauh di sebelah kanan, kompleks iod-amilum yang terbentuk banyak, akan terjadi endapan. Akibatnya kalau pada titrasi I2 hilang karena tereduksi, kesetimbangannya tidak segera kembali bergeser ke arah kiri, warna kompleks iodamilum agak sukar hilang. Kadar vitamin C dalam tablet atau dalam sari buah sebenarnya tidak dapat dibandingkan. Kadar vitamin C dalam tablet adalah buatan manusia sehigga dapat disesuaikan dengan kebutuhan manusia. Sedangkan kadar vitamin C dalam sari buah tergantung habitat dan nutrisi yang diberikan untuk pertumbuhannya. Jika habitanya mendukung serta asupan nutrisi untuk perkembangan buah tersebut baik, maka kadar vitamin C tersebut akan tinggi. Vitamin C mudah larut dalam air dan mudah rusak oleh oksidasi, panas, dan alkali. Karena itu agar vitamin C tidak banyak hilang, sebaiknya pengirisan dan penghancuran yang berlebihan harus dihindari. Kadar yang tertera pada box luar Vitamin C yang dianalisis sebesar 20% (50mg per tablet). Setelah dibandingkan terhadap hasil, maka diperoleh kesalahan positif. Hal ini dapat disebabkan oleh bebeapa faktor, antara lain ;

1. oksidasi dari iodida dalam keadaan asam oleh O2 dari udara. 4I- + O2 + 4H+ I2 +2H2O Oksidasi ini berjalan lambat dalam keadaan netral, teteapi apabila keadaan asam bertambah maka akan lebih cepat. Sinar matahari pun dapat mempercepat reaksi itu. Oleh karena itu ion- ion iodida yang diasamkan atau tidak diasamkan harus segera dititrasi. 2. kecepatan menguap dari iodium agar penguapan larutan iodium tidak begitu besar maka larutan itu harus dibubuhi KI hingga berlebih (konsentrasi I- minimal 4%), dimana iodida yang ditambahkan itu mengikat molekul- molekul iodium menjadi ion triiodida. Karena reaksi ini bolalk- balik maka suatu larutan triiodida pada reaksi- reaksi kimia bereaksi dengan iodium murni. Tetapi pada prakteknya tidak ditambahkan KI dan pada saat titrasi erlenmeyer tidak ditutup dan memungkinkan iodium menguap yang dapat mempengaruhi titik akhir titrasi menjadi terlalu mencolok yang seharusnya berwarna biru.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan Dari percobaan yang telah dilakukan maka diperoleh kesimpulan bahwa kadar vitamin C yang terkandung dalam suplemen itu adalah 65.3%.

4.2 Saran Adapun saran dari praktikan setelah melakukan percobaan dalam analisis kadar vitamin C dalam sampel meliputi: 1. Diharapkan dalam proses titrasi dapat diamati volume penitar secara tepat agar didapatkan kadar yang semestinya. 2. Diharapkan alat-alat yang dipakai dapat sesuai dengan prinsip analisis volumetri.

DAFTAR PUSTAKA

Krisnandi, H.E. 2002. Penuntun Kimia Analitik Volumetrik. Bogor: SmakBo


http://www.scribd.com/doc/39391267/LAPORAN-TITRASI-IODIMETRI http://www.scribd.com/doc/80541032/Analisa-Vitamin-c-Metode-Iodimetri

LAMPIRAN A. Perhitungan 1. Menghitung Normalitas iodin Diketahui : V1(volume natrium tiosulfat) V2(volume rata-rata iodin) : 25 mL : 10.25 mL

N1(normalitas natrium tiosulfat) : 0.04 N : N2? :

Ditanya Dijawab

V1 x N1=V2 x N2 N2=V1 x N1 / V2 N2= 0.0975 N 2. Menghitung kadar vitamin C Diketahui : Bobot sampel 1 Bobot sampel 2 Normalitas iodin/ lugol : 0.2000 gram : 0.2010 gram : 0.0975 N

Volume larutan iodin/ lugol (1) : 15 mL Volume larutan iodin/ lugol (2) : 15.5 mL Bobot ekivalen asam askorbat : 88.07 g/ek

Ditanya

: % Kadar vitamin C pada sampel ?

Dijawab Sampel 1

% vitamin C : Volume larutan iodin x BE iod x Normalitas iodin x 100% miligram sampel % vitamin C : 15 x 88.07 x 0.0975 x 100% = 64.4% 200 Sampel 2 % vitamin C : Volume larutan iodin x BE iod x Normalitas iodin x 100% miligram sampel % vitamin C : 15.5 x 88.07 x 0.0975 x 100% = 66,2 % 201

ABSTRAK

Vitamin C atau L-asam askorbat merupakan senyawa bersifat asam dengan rumus empiris C6H8O6. Kegunaan vitamin C adalah sebagai antioksidan dan berfungsi penting dalam pembentukan kolagen, membantu penyerapan zat besi, serta membantu memelihara pembuluh kapiler, tulang dan gigi. Kegunaan dosis normal vitamin C adalah 60- 90 mg/hari sehingga tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kadar vitamin C dalam suplemen. Penentuan kadar vitamin c ini melalui 2 tahap yaitu tahap pertama adalah penstandarisasi larutan iodin dengan Na2S2O3 dan tahap kedua adalah penentuan asam askorbat dalam sampel. Penstandarisasian larutan iodin dengan Na2S2O3 dilakukan 2 kali dengan menambahkan indikator kanji, sedangkan dalam penentuan asam askorbat dilakukan dengan melarutkan sampel dengan aquades yang kemudian ditambahkan indikator kanji dan akan terjadi perubahan warna menjadi biru tua saat dititrasi dengan larutan iodin. Larutan iodin yang distandarisasi dengan Na2S2O3 memiliki normalitas sebesar 0.0975 sehingga kadar vitamin C yang terkandung dalam sampel tersebut adalah 58.5% (sampel 1) dan 60.14% (sampel 2). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa massa sampel berpengaruh terhadap kadar vitamin C yang terkandungnya.

Keyword: Asam askorbat, Vitamin C, iodimetri.