Anda di halaman 1dari 97

kKEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 420/MENKES/SK/III/2010

TENTANG

PEDOMAN LAYANAN TERAPI DAN REHABILITASI KOMPREHENSIF PADA GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA BERBASIS RUMAH SAKIT

DIREKTORAT JENDERAL BINA PELAYANAN MEDIK KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 420/MENKES/SK/III/2010 TENTANG

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 420/MENKES/SK/III/2010

TENTANG

PEDOMAN LAYANAN TERAPI DAN REHABILITASI KOMPREHENSIF PADA GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA BERBASIS RUMAH SAKIT

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa gangguan penggunaan NAPZA merupakan masalah yang kompleks dan memerlukan penanggulangan yang terpadu dari semua pihak yang terkait;

 

b.

bahwa rumah sakit memiliki peran yang penting dalam memberikan terapi dan rehabilitasi pada gangguan penggunaan NAPZA;

c.

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b perlu menetapkan Keputusan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Layanan Terapi dan Rehabilitasi Komprehensif Pada Gangguan Penggunaan NAPZA Berbasis Rumah Sakit;

Mengingat

:

1.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1997 tentang Pengesahan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika (United Nation Convention Againts Illicit Trafic in Narcotic Drugs and Psycotropic Substances) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 17, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3673);

 

2.

Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

 

4844);

 

3.

Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 143. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5062);

4.

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 5. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

5. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82 , Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

8. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2002 tentang Badan Narkotika Nasional;

9. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 996/Menkes/ SKA/lll/2002 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sarana Pelayanan Rehabilitasi Penyalahgunaan dan Ketergantungan Narkotika, Psikotropika dan Zat Aditif Lainnya;

10. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/Per/ XII/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 439/Menkes/PerA/t/2009;

11. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 486/Menkes/ SK/IV/2007 tentang Kebijakan dan Rencana Strategis Penanggulangan Penyalahgunaan Narkotika, Psiko-tropika dan Zat Aditif Lainnya;

12. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129/Menkes/ SK/ll/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit;

13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/Menkes/Per/III/2008. tentang Rekam Medis;

14. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290/Menkes/Per/ III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan

KESATU : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG PEDOMAN LAYANAN TERAPI DAN REHABILITASI KOMPREHENSIF PADA GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA BERBASIS RUMAH SAKIT.

KEDUA

Pedoman Layanan Terapi dan Rehabilitasi Komprehensif Pada Gangguan Penggunaan NAPZA Berbasis Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam

:

:

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Diktum Kesatu tercantum dalam Lampiran Keputusan ini. KETIGA : Pedoman Layanan

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Diktum Kesatu tercantum dalam Lampiran Keputusan ini.

KETIGA : Pedoman Layanan Terapi dan Rehabilitasi Komprehensif Pada Gangguan Penggunaan NAPZA Berbasis Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua digunakan sebagai acuan bagi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan terapi dan rahabilitasi gangguan penggunaan NAPZA di fasilitas pelayanan kesehatan.

KEEMPAT : Pembinaan dan pengawasan pelaksanaan pedoman ini dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Propinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dengan melibatkan organisasi profesi terkait sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.

KELIMA : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

terkait sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. KELIMA : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 420/MENKES/SK/III /2010 Tanggal: 31

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 420/MENKES/SK/III /2010 Tanggal: 31 Maret2010

PEDOMAN LAYANAN TERAPI DAN REHABILITASI KOMPREHENSIF GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA BERBASIS RUMAH SAKIT

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Untuk merespon masalah ketergantungan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA), yang semakin marak di Indonesia sejak tahun 80-an Kementerian Kesehatan telah menetapkan kebijakan bahwa 10% kapasitas tempat tidur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dialokasikan untuk pasien ketergantungan NAPZA. Dalam beberapa tahun terakhir hampir semua RSJ mengembangkan pelayanan NAPZA. Dari hasil evaluasi dijumpai bahwa masyarakat tidak memanfaatkan pelayanan NAPZA yang telah tersedia di RSJ. Sebagian besar pasien yang dirawat tidak murni karena ketergantungan NAPZA tapi merupakan pasien dengan dual diagnosis (Gangguan jiwa dan Ketergantungan NAPZA).

Beberapa penyebab kurangnya pemanfaatan RSJ bagi masyarakat yang ketergantungan NAPZA, antara lain :

masih tingginya stigma terhadap gangguan jiwa, sehingga seorang pecandu tidak mau datang berobat ke RSJ kecuali sebelumnya sudah ada gangguan jiwa yang diinduksi oleh penggunaan NAPZA seperti kanabis, stimulan atau alkohol.

Pelayanan yang ditawarkan RSJ tidak memenuhi kebutuhan pasien yang mengalami Ketergantungan NAPZA. Terbatasnya jenis pelayanan dan kemampuan petugas RSJ untuk berbagai modalitas terapi. Sebagian besar RSJ hanya menyediakan pelayanan untuk detoksifikasi saja.

RSJ biasanya bekerja sendiri dan menunggu pasien secara sukarela datang. Masih terbatasnya kerjasama dengan masyarakat, LSM dan kelompok pengguna dimana mereka dapat berperan sebagai petugas penjangkau yang akan membawa pasien ketergantungan NAPZA berobat ke RSJ.

Mengacu pada hal tersebut diatas maka perlu disusun pedoman penanggulang-an gangguan penggunaan NAPZA secara komprehensif yang berbasis rumah sakit, misalnya pedoman dengan pendekatan therapeutic community dan pedoman terapi rumatan.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA B. Tujuan Umum Dan Khusus Umum: Sebagai acuan bagi petugas kesehatan

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

B.

Tujuan Umum Dan Khusus

Umum:

Sebagai acuan bagi petugas kesehatan dalam penanggulangan gangguan penggunaan NAPZA

Khusus:

Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan di rumah sakit dalam manajemen gangguan penggunaan NAPZA

C.

Sasaran

1. petugas kesehatan rumah sakit jiwa

2. petugas kesehatan rumah sakit umum

3. LSM

4. Kelompok pengguna NAPZA yang dapat berperan sebagai petugas penjangkau membawa pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA berobat ke rumah sakit

D.

Kebijakan

Kebijakan Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA Kementerian Kesehatan Rl dilaksanakan berdasarkan Kepmenkes Nomor 486/Menkes/ SK/IV/2007, melalui upaya:

1. Peningkatan kesehatan dan pencegahan penyalahgunaan NAPZA melalui upaya promotif dan preventif.

2. Komprehensif dan multi disiplin melalui upaya yang dilakukan sesuai dengan kondisi budaya dan sosial masyarakat setempat meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

3. Pelayanan terapi terintegrasi pada sistem pelayanan kesehatan yang ada. Rumah Sakit Jiwa milik pemerintah menyediakan 10% dari tempat tidur untuk penderita Gangguan penggunaan NAPZA.

4. Mendukung upaya pemulihan oleh masyarakat dan mantan pengguna (ex-users)

5. Melindungi hak asasi manusia dan keselamatan pasien.

6. Pengurangan dampak buruk (harm reduction) pada pengguna Napza suntik

7. Keseimbangan dan koordinasi lintas sektor.

Untuk memperoleh hasil yang optimal, perlu adanya kerjasama dari berbagai pihak, termasuk dengan LSM dan swasta. Pemerintah Daerah mendukung dengan menyediakan tempat dan terapi/obat gangguan penggunaan Napza yang terjangkau, secara berjenjang dari Puskesmas, Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Jiwa

8. Pengembangan sistem informasi

9. Legislasi dan peraturan perundang-undangan.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA E. Strategi Dan Rencana Aksi Sampai tahun 2010, prioritas untuk penanggulangan

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

E. Strategi Dan Rencana Aksi

Sampai tahun 2010, prioritas untuk penanggulangan gangguan NAPZA dilakukan melalui 6 strategi:

1.

Advokasi

Advokasi merupakan komponen yang penting untuk mengajak semua pemangku kepentingan (stakeholders) dapat berperan serta dalam upaya penanggulangan Gangguan penggunaan NAPZA Untuk itu Dinas Kesehatan perlu rnengidentifikasi semua stakeholders antara lain DPRD, Bappeda, BNP/BNK, KPAD, lintas sektor seperti Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Kementerian Hukum dan HAM, Lembaga Swadaya Masyarakat, keluarga, media, akademis, tokoh masyarakat, tokoh agama dan lembaga donor. Keterlibatan semua pemangku kepentingan penting dalam penyusunan program yang bisa menjawab kebutuhan nyata serta lebih jauh mereka juga dapat berperan serta dalam pembiayaan.

Advokasi ini bertujuan untuk mengurangi hambatan yang mungkin terjadi seperti:

ketiadaan pelayanan, stigma terhadap pengguna NAPZA atau pelanggaran hak pasien, tidak ada perumahan dan pekerjaan bagi pasien yang telah selesai mengikuti program pemulihan.

2.

Pemberdayaan Masyarakat

Strategi pencegahan penanggulangan gangguan penggunaan NAPZA melalui pemberdayaan masyarakat diarahkan secara dini untuk meningkatkan keterampilan hidup (life skill) remaja serta pemberdayaan orangtua agar dapat mencegah anak- anaknya dari gangguan pengunaan NAPZA.

Sasaran dari pemberdayaan masyarakat ini dapat dilakukan melalui kelompok- kelompok masyarakat yang terorganisir (seperti karang taruna pramuka, organisasai agama) dan masyarakat luas dengan cara meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kepedulian dan peran serta masyarakat dalam penanggulangan gangguan penggunaan NAPZA.

Untuk masyarakat luas komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) dilakukan melalui media massa baik cetak maupun elektronik atau modalitas lain, sedangkan masyarakat yang terorganisir dapat dilakukan dengan tatap muka ataupun melakukan pelatihan untuk terbentuknya perilaku hidup sehat.

3.

Peningkatan Kapasitas SDM

Guna menjamin terlaksananya penanggulangan Gangguan penggunaan NAPZA, diperlukan tenaga profesional yang mengabdi di pemerintahan, swasta dan masyarakat.

Tenaga profesional tersebut membutuhkan pelatihan-pelatihan yang didesain sesuai kebutuhan dan keterampilan khusus, seperti: pelatihan relapse prevention, pelatihan konselor adiksi, instruktur Cognitive Behaviour Therapy, instruktur motivational enhancement therapy, pendamping ODHA dan lain-lain.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 4. Penguatan Sistem Kesehatan Sistem kesehatan terkait dengan upaya

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

4.

Penguatan Sistem Kesehatan

Sistem kesehatan terkait dengan upaya penanggulangan gangguan penggunaan NAPZA perlu ditingkatkan mulai dari pelayanan kesehatan dasar sampai dengan pelayanan rujukan atau spesialistik,

Peran dan tanggung jawab berbagai institusi kesehatan mulai dari Kementerian Kesehatan, dinas kesehatan provinsi, dinas kesehatan kabupaten /Kota, Puskesmas, RSU, RSJdan RSKO harus lebih jelas.

5.

Pengembangan Model Pelayanan Gangguan Penggunaan NAPZA

Semua pelayanan gangguan penggunaan NAPZA harus dapat menjamin terapi dan perawatan yang terstandarisasi dan memiliki beberapa prinsip pelayanan:

a. Evidence-based: pelayanan yang diberikan harus berbasis bukti dan hasil (outcome) yang dapat terukur dan terstandarisasi

b. komprehensif: pelayanan diberikan secara komprehensif melalui upaya promotif- preventif serta kuratif-rehabilitatif

c. Multidisiplin: Pelayanan harus dilaksanakan oleh tenaga profesional yang multidisiplin dengan memiliki kepemimpinan dan keterampilan teknis tinggi. Pelayanan harus dilaksanakan melalui kerjasama tim yang solid, kompak dan utuh serta mampu menerapkan prinsip pelayanan manajemen kasus.

6.

Pengembangan Pembiayaan dan Keterlibatan Sektor Swasta

Upaya penanggulangan ini tidak akan berhasil, tanpa pembiayaan yang memadai. Mengingat masalah ini sudah menjadi masalah bangsa (bukan hanya masalah kesehatan masyarakat), maka pemerintah baik pusat maupun daerah perlu mengangkat hal ini menjadi salah satu program yang mendapat perhatian khusus. Disisi lain, keterbatasan dana Pemerintah merupakan salah satu hambatan utama, (yang selama ini lebih banyak digunakan untuk penanggulangan HIV/AIDS, sedangkan dana untuk penanganan gangguan penggunaan NAPZA sangat sedikit), oleh karena itu perlu digalang kerjasama dengan berbagai LSM dan swasta/dunia usaha dalam mencapai kelestarian program intervensi. Masyarakat juga perlu digerakkan untuk memberikan kontribusi dalam penanggulangan.

Pada tahun 2005 pemerintah telah menetapkan bahwa jumlah masyarakat miskin dan tidak mampu sebanyak 60.000.000 jiwa. Penderita gangguan penggunaan NAPZA yang termasuk dalam kategori keluarga miskin mempunyai hak untuk mendapatkan jaminan pemeliharaan kesehatan askeskin.

F.

Pengertian

1. Layanan adalah tempat, baik rumah sakit atau klinik umum ataupun khusus yang melaksanakan sebuah program atau kegiatan yang berkaitan dengan masalah Gangguan penggunaan NAPZA

2. Terapi suatu proses pemulihan dengan memberikan intervensi secara fisik, psikologis

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA maupun sosial kepada pasien gangguan penggunaan NAPZA 3. Rehabilitasi adalah suatu

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

maupun sosial kepada pasien gangguan penggunaan NAPZA

3. Rehabilitasi adalah suatu proses pemulihan pasien gangguan penggunaan NAPZA baik dalam jangka waktu pendek maupun panjang yang bertujuan mengubah perilaku mereka agar siap kembali ke masyarakat.

4. Komprehensif adalah suatu terapi yang diberikan secara menyeluruh untuk masalah gangguan penggunaan NAPZA, gangguan jiwa lain (dual diagnosis) serta juga dampak lain yang ditimbulkan akibat gangguan penggunaan NAPZA.

5. Gangguan penggunaan NAPZA adalah suatu pola penggunaan NAPZA yang menimbulkan hendaya atau penyulit/komplikasi yang berarti secara klinis dan atau fungsi sosial, seperti kesulitan untuk menunaikan kewajiban utama dalam pekerjaan/rumah tangga/sekolah, berada dalam keadaan intoksikasi yang dapat membahayakan fisik ketika mengoperasikan mesin atau mengendarai kendaraan, melanggar aturan atau cekcok dengan pasangan.

6. Rumah Sakit adalah tempat pelayanan yang menyelenggarakan pelayanan medik dasar dan spesialistik, pelayanan penunjang medik, pelayanan instalasi dan pelayanan perawatan secara rawat jalan dan rawat inap.

II. MANAJEMEN DALAM PENATALAKSANAAN TERAPI GANGGUAN

PENGGUNAAN NAPZA

A. Pendahuluan

BERBASIS

RUMAH SAKIT

Masalah gangguan penggunaan NAPZA merupakan suatu masalah yang kompleks sehingga penatalaksanaan terapinya tidak dapat hanya dilaksanakan oleh tenaga medis. Dengan perubahan tren NAPZA yang digunakan, setiap petugas kesehatan seharusnya memahami spesifikasi setiap jenis NAPZA dan masalah yang timbul akibat penggunaan NAPZA itu.

Pada umumnya tenaga medis masih memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang terbatas tentang gangguan penggunaan NAPZA yang pada akhirnya berdampak pada penatalaksanaan terhadap pasien. Kondisi ini serlngkali menimbulkan rasa jenuh atau bahkan menimbulkan kesulitan dalam memberikan terapi pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA yang pada akhirnya membuat petugas kesehatan tidak berminat untuk memberikan pelayanan kepada pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA.

Kurangnya mutu pelayanan dalam bidang kesehatan termasuk kepada pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA bukan merupakan suatu kebetulan, hal itu seringkali merupakan perencanaan program yang tidak disiapkan secara terinci dan komprehensif. Rekrutmen petugas yang akan memberikan layanan kepada pasien merupakan titik kritis sebelum menentukan program atau kegiatan. Menentukan kriteria petugas yang sesuai dengan jenis layanan harus dilakukan dengan seksama agar tujuan pelayanan tersebut dapat berjalan secara efektif.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Komitmen dari pimpinan dan seluruh staf serta karyawan dalam organisasi merupakan

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Komitmen dari pimpinan dan seluruh staf serta karyawan dalam organisasi merupakan pendukung yang sangat penting dalam memberikan pelayanan pada pasien gangguan penggunaan NAPZA. Kesinambungan program harus terus dievaluasi agar dapat memenuhi kebutuhan tiap pasien.

B. Terapi Efektif Pada Gangguan Penggunaan NAPZA

Efektifitas terapi pada gangguan penggunaan NAPZA perlu dievaluasi dan ditindaklanjuti secara periodik atau berkala. Di Indonesia monitoring dan evaluasi efektivitas terapi gangguan penggunaan NAPZA sangat minimal atau bahkan tidak dilakukan. Hal ini semestinya sangat penting dilakukan agar layanan yang diberikan dapat optimal dan efektif dalam proses pemulihan mereka.

National Institute on Drug Abuse (NIDA) pada tahun 1999 telah mempublikasikan sebuah buku tentang terapi efektif berdasarkan penelitian di lapangan yang meliputi 13 prinsip:

1. TIDAK ADA satu bentuk terapi yang SESUAI UNTUK SEMUA

2. Kebutuhan terapi harus SIAP DAN TERSEDIA ketika diperlukan

3. Terapi yang efektif mengakomodasi KEBUTUHAN YANG BERAGAM, tidak hanya untuk masalah NAPZA saja

4. Rencana terapi dan layanan lain harus DIKAJI SECARA KONTINYU dan DIMODIFIKASI BILA DIPERLUKAN untuk memenuhi kebutuhan perubahan pada pasien

5. Berada dalam program terapi untuk PERIODE WAKTU YANG ADEKUAT merupakan hal yang sangat penting untuk perubahan perilaku yang signifikan

6. Konseling (individu dan/atau kelompok) dan terapi perilaku lainnya merupakan hal yang SANGAT PENTING

7. Medikasi adalah elemen yang PENTING untuk banyak klien, khususnya bilamana dikombinasi dengan terapi perilaku

8. Orang dengan komorbiditas gangguan mental harus ditangani dengan cara yang TERINTEGRASI

9. Detoksifikasi hanya merupakan LANGKAH AWAL dari pengobatan gangguan penggunaan NAPZA dan detoksifikasi hanya memberi sedikit perubahan terkait PENGGUNAAN NAPZA JANGKA PANJANG

10. Pengobatan yang efektif TIDAK harus secara sukarela

11. Kemungkinan menggunakan NAPZA selama pengobatan harus DIMONITOR secara kontinyu

12. Program pengobatan harus menyediakan kajian untuk HIV/AIDS dan infeksi lain serta konseling untuk membantu pasien merubah perilakunya baik untuk HIV/AIDS dan risiko dari infeksi lainnya

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 13. Kepulihan dari gangguan penggunaan NAPZA dapat menjadi PROSES YANG PANJANG

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

13. Kepulihan dari gangguan penggunaan NAPZA dapat menjadi PROSES YANG PANJANG dan seringkali memerlukan beberapa kali episode pengobatan

C. Berbagai Modalitas Terapi Dan Pendekatan

Berbagai kondisi yang mandasari gangguan penggunaan NAPZA akan mempengaruhi jenis pengobatan yang akan diberikan kepada pasien, kebijakan untuk merawat dan memulangkan pasien, hasil yang dlharapkan, sumber daya manusia yang akan memberikan pelayanan, dan sikap terhadap perilaku pasien. Dibawah ini akan diuraikan beberapa model yang popular dilaksanakan pada masalah Gangguan penggunaan NAPZA.

1. Therapeutic Community -TC Model, model ini merujuk pada keyakinan bahwa Gangguan penggunaan NAPZA adalah gangguan pada seseorang secara menyeluruh. Dalam hal ini norma-norma perilaku diterapkan secara nyata dan ketat yang diyakinkan dan diperkuat dengan memberikan reward dan sangsi yang spesifik secara langsung untuk mengembangkan kemampuan mengontrol diri dan sosial/komunitas. Pendekatan yang dilakukan meliputi terapi individual dan kelompok, sesi encounter yang intensif dengan kelompok sebaya dan partisipasi dari lingkungan terapeutik dengan peran yang hirarki, diberikan juga keistimewaan (privileges) dan tanggung jawab. Pendekatan lain dalam program termasuk tutorial, pendidikan formal dan pekerjaan sehari-hari. TC model biasanya merupakan perawatan inap dengan periode perawatan dari dua belas sampai delapan belas bulan yang diikuti dengan program aftercare jangka pendek.

2. Model Medik, model ini berbasis pada biologik dan genetik atau fisiologik sebagai penyebab adiksi yang membutuhkan pengobatan dokter dan memerlukan farmakoterapi untuk menurunkan gejala-gejala serta perubahan perilaku. Program ini dirancang berbasis rumah sakit dengan program rawat inap sampai kondisi bebas dari rawat inap atau kembali ke fasilitas di masyarakat.

3. Model Minnesota, model ini dikembangkan dari Hazelden Foundation dan Johnson Institute. Model ini fokus pada abstinen atau bebas NAPZA sebagai tujuan utama pengobatan. Model Minessota menggunakan program spesifik yang berlangsung selama tiga sampai enam minggu rawat inap dengan lanjutan aftercare, termasuk mengikuti program self help group (Alcohol Anonymous atau Narcotics Anonymous) serta layanan lain sesuai dengan kebutuhan pasien secara individu. Fase perawatan rawat inap termasuk ; terapi kelompok, terapi keluarga untuk kebaikan pasien dan anggota keluarga lain, pendidikan adiksi, pemulihan dan program 12 langkah. Diperlukan pula staf profesional seperti dokter, psikolog, pekerja sosial, mantan pengguna sebagai addict counselor

4. Model Eklektik, model ini menerapkan pendekatan secara holistik dalam program rehabilitasi. Pendekatan spiritual dan kognitif melalui penerapan program 12 langkah merupakan pelengkap program TC yang menggunakan pendekatan perilaku, hal ini sesuai dengan jumlah dan variasi masalah yang ada pada setiap pasien adiksi.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 5. Model Multi Disiplin, program ini merupakan pendekatan yang lebih komprehensif

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

5. Model Multi Disiplin, program ini merupakan pendekatan yang lebih komprehensif dengan menggunakan komponen disiplin yang terkait termasuk reintegrasi dan kolaborasi dengan keluarga dan pasien

6. Model Tradisional, tergantung pada kondisi setempat dan terinpirasi dari hal-hal praktis dan keyakinan yang selama ini sudah dijalankan. Program bersifat jangka pendek dengan aftercare singkat atau tidak sama sekali. Komponen dasar terdiri dari : medikasi, pengobatan alternatif, ritual dan keyakinan yang dimiliki oleh sistem lokal contoh : pondok pesantren, pengobatan tradisional atau herbal.

7. Faith Based Model, sama dengan model tradisional hanya pengobatan tidak menggunakan farmakoterapi

D. Fungsi Inti Layanan Terapi dan Rehabilitasi Gangguan Penggunaan Napza

1. Skrining, merupakan proses untuk menentukan apakah pasien dapat masuk atau mengikuti model terapi yang tersedia

2. Intake, proses administrasi dan asesmen awal untuk masuk ke dalam program

3. Orientasi, memberikan gambaran kepada pasien tentang ; program secara umum dan tujuan dari masing-masing program, ketentuan/aturan yang harus dipatuhi agar pasien bisa keluar dari program sesuai dengan tujuan program, untuk program rawat jalan dijelaskan jam pelayanan dan jenis layanan yang tersedia, biaya pengobatan yang harus dikeluarkan oleh pasien, jika ada serta hak-hak pasien

4. Asesmen, prosedur ini dilaksanakan oleh konselor atau petugas yang ditunjuk untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, masalah yang dimiliki pasien dan rencana kebutuhan terapi untuk pasien secara individu

5. Rencana Pengobatan, proses yang dilakukan oleh konselor atau profesi lain bersama pasien untuk mengidentifikasi dan membuat urutan masalah dan solusi yang diperlukan; membuat persetujuan segera untuk sasaran program jangka pendek dan jangka panjang; menetapkan proses pengobatan dan sumber daya yang dibutuhkan

6. Konseling (individual, kelompok dan orang lain yang bermakna): menggunakan ketrampilan khusus untuk membantu pasien, keluarga atau kelompok dalam mencapai tujuan pengobatan melalui eksplorasi masalah dan pengaruhnya terhadap pasien; menilai sikap dan perasaan pasien; mempertimbangkan alternatif pemecahan masalah; dan membuat keputusan

7. Manjemen Kasus, aktifitas yang diberikan oleh tempat layanan, agensi, sumber lain, atau orang lain di luar layanan yang bersama sama merencanakan rancangan dan aksi dalam rangka mencapai sasaran/tujuan pengobatan. Kegiatan ini dapat melibatkan orang yang menjadi penghubung (misal LSM) atau pendamping

8. Intervensi Krisis, layanan ini merespons kondisi akut baik emosional dan/atau distres fisik yang terjadi pada pengguna NAPZA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 9. Pendidikan Pasien, menyediakan informasi untuk individu maupun kelompok mengenai

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

9. Pendidikan Pasien, menyediakan informasi untuk individu maupun kelompok mengenai masalah NAPZA serta layanan atau sumber daya yang tersedia untuk membantu pasien

10. Rujukan, mengidentifikasi kebutuhan pasien yang tidak dapat diperoleh dari konselor/terapis atau tempat layanan serta membantu pasien untuk menggunakan layanan dukungan dan sumber daya lain yang tersedia di masyarakat

11. Memelihara pencatatan dan pelaporan, membuat grafik hasil dari asesmen dan rencana pengobatan, menulis laporan, catatan kemajuan pasien, kesimpulan saat pulang dan data lain yang berhubungan dengan kondisi pasien.

12. Konsultasi dengan profesional lain berkaitan dengan pengobatan atau layanan pasien, yang berhubungan dengan staf yang berada di dalam pusat layanan atau professional lain di luar layanan untuk meyakinkan kualitas pengobatan pasien yang komprehensif.

E. Komponen Program Terapi Dan Rehabilitasi Gangguan Penggunaan NAPZA

Tidak ada pengobatan yang lengkap tanpa memperhatikan kebutuhan lain pasien secara bermakna. Sesuai dengan sifat adiksi pasien membutuhkan layanan baik secara multipel maupun bervariasi. penting bagi pasien untuk mendapatkan kontribusi lain yang berarti untuk mencapai keberhasilan dalam program pengobatan yang seharusnya diberikan secara lengkap/sesuai oleh penyedia layanan.

Dua belas layanan yang seharusnya tersedia atau tergabung sebagai komponen dalam pusat layanan adalah :

1. Medik/Klinis - menyediakan layanan medis/psikiatris secara profesional pada tempat dan saat diperlukan serta mampu untuk menentukan baik kondisi fisik maupun psikologis pasien.

2. Nutrisi/Gizi - merencanakan diet yang dibutuhkan pasien.

3. HIV, Hepatitis B dan C, IMS (Infeksi Menular Seksual) melakukan pemeriksaan HIV, Hepatitis B/C dan IMS serta melakukan tindakan yang sesuai termasuk VCT (Voluntar, Counseling and Testing) dan PITC (Provider Initiated Testing and Counselling).

4. Spiritual - menyediakan pendidikan agama dan mendorong pasien untuk melaksanakan kegiatan ibadah sesuai dengan kepercayaan mereka.

5. Layanan/Terapi Keluarga termasuk intervensi keluarga untuk mendorong pasien yang menolak masuk ke dalam program pengobatan dan juga untuk memelihara dukungan kepada pasien dalam proses pemulihan.

6. Pencegahan kekambuhan mengajarkan pasien untuk mengenali situasi dengan risiko tinggi dan pencatus yang mungkin menyebabkan menggunakan NAPZA kembali, untuk mengembangkan strategi kemampuan menghadapi tekanan dari luar dan belajar untuk mengelola situasi slip (menggunakan NAPZA kembali

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA sekali, jatuh atau kambuh menggunakan NAPZA). 7. Aftercare - merupakan suatu

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

sekali, jatuh atau kambuh menggunakan NAPZA).

7. Aftercare - merupakan suatu kelanjutan dari layanan perawatan seperti dukungan kepada kelompok pemulihan, konseling, latihan ketrampilan hidup, penempatan kerja, rujukan dan layanan lain sesuai kebutuhan pasien.

8. Konseling - hubungan terapeutik antara pasien yang membutuhkan bantuan dengan konselor yang dapat menyediakan pertolongan dan dapat secara individu, kelompok atau keluarga.

9. Bantuan hukum - bertugas untuk membantu pasien dalam kebutuhan atau masalah yang berkaitan dengan aspek legal.

10. Terapi vokasional - mengajarkan untuk mampu bersosialisasi dan ketrampilan bekerja untuk pasien yang sesuai dengan minat dan kompetensi mereka.

11. Latihan ketrampilan hidup - mengembangkan ketrampilan sosial untuk berkomunikasi lebih baik, meningkatkan harga diri dan menerapkan dasar-dasar kehidupan bebas/bersih dari NAPZA (sober).

12. Pendidikan dan informasi - melanjutkan pendidikan formal yang relevan dengan kemampuan pasien, meningkatkan pengetahuan tentang konsekuensi gaya hidup berisiko dan lain-lain.

F. Tahapan Pengobatan Dan Hasil Yang Diharapkan

Merupakan program yang dibangun untuk jangka panjang dengan tahapan-tahapan yang merupakan satu rangkaian pengobatan yang panjang. Dalam mengejar pemulihan, pasien dituntun untuk memiliki kemajuan secara berurutan dari satu layanan ke layanan lain seperti dari detoksifikasi ke rehabilitasi fase primary ke tahap aftercare dan follow up (lanjutan). Tahapan dalam program ini dirancang berdasarkan perkembangan yang diharapkan dari pasien dengan gangguan penggunaan zat melalui proses pengobatan. Setelah proses intake/awal, pasien diproses untuk tahapan orientasi, diikuti dengan tahapan awal, tahapan menengah, tahapan akhir dan tahapan re-entry. Akhirnya tahapan akan dilalui sesuai dan berhubungan dengan kemajuan pasien. Hal ini kemungkinan dapat diperlihatkan dalam berbagai tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada pasien dalam berbagai periode selama dalam program pengobatan. Akan bijaksana bilamana jumlah dan jenis keistimewaan yang diberikan membuat pasien gembira atau menikmati.

Kemajuan akan dibuat grafik sesuai dengan rangkaian pengobatan dari keadaan ketergantungan menjadi tidak ketergantungan NAPZA secara lengkap.

1. Pra Pengobatan

a. Identifikasi dan Intervensi Krisis

b. Penerimaan dalam program

c. Orientasi

d. Detoksifikasi

e. Pengobatan Komorbiditas, masalah medis dan psikiatris

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2. Perawatan Primer (Primary Care) a. Program terapi untuk pasien dan

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

2.

Perawatan Primer (Primary Care)

a. Program terapi untuk pasien dan keluarga

b. Pendidikan

c. Rekreasi

d. Spiritual

e. Perawatan kesehatan baik fisik maupun mental

f. Kesadaran diri

g. Evaluasi

3.

Perawatan Sekunder (Secondary Care)

a. Lanjutan konseling untuk pasien dan keluarga

b. Rekreasi

c. Pendidikan

d. Spiritual

e. Perawatan kesehatan

f. Dukungan sebaya

g. Rehabilitasi vokasional

h. Pencegahan kekambuhan

i. Aftercare

Tahap

Aktifitas

Waktu

Hasil yang diharapkan

Pra pengobatan

 

1-3

 

minggu

Identifikasi-

Konseling individu dan keluarga

 

Memotivasi

pasien

untuk

intervensi krisis

mendapat pengobatan

 

Menciptakan kesadaran tentang masalah yang dihadapi pasien

Penerimaan

Pendaftaran

 

Memperoleh informasi tentang pasien, keluarga dan riwayat penggunaan NAPZA

Skrining (pemeriksaan tubuh, wawancara, tes urin)

Orientasi

Tur fasilitas layanan, pengenalan singkat peraturan dan tata tertib layanan

 

Pemahaman aturan dan tata tertib dalam fasilitas layanan

Program

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA   Diskusi dengan pasien dan keluarga    Persiapan psikologis pasien

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

 

Diskusi dengan pasien dan keluarga

 

Persiapan psikologis pasien untuk pengobatan

Membangun hubungan dengan penanggung jawab

Merencanakan pengobatan

Detoksifikasi

Isolasi dalam ruang pengobatan/perawatan

 

Penatalaksanaan gejala putus NAPZA

Penatalaksanaan

Melakukan kajian dan pemeriksaan secara medis

 

Stabilisasi

Komorbiditas

Layanan kesehatan untuk penyakit lainnya

evaluasi

Kajian ulang dan tinjauan untuk pengobatan lanjut atau rencana pengobatan baru

 

Membantu kemajuan dan

kemampuan pasien keseluruhan

secara

Tahapan

Aktifitas

Waktu

Hasil yang diharapkan

Sekunder

 

3-12

 

bulan

Sesi Terapeutik

Konseling individu, Sesi kelompok, Sesi keluarga

 

Kegiatan lanjutan dalam pemulihan

Membangun ikatan dengan recovering addict yang senior

Rekreasional

Permainan Outing

 

Meningkatkan kesehatan dan mempererat ikatan dalam program

Pendidikan

Seminar, bicara dan workshop

 

Mengikutsertakan dalam kegiatan publik dan aktifitas umum

Spiritual

Seminar, Diskusi, Latihan dan penerapan

 

Menerima kekuatan yang tetinggi dan memahami keberadaan Tuhan

Perawatan

Asesmen/pemeriksa-an dan Pengobatan

 

Menjaga kesehatan fisik dan mental

Kesehatan

Seminar kesehatan

 
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Pemahaman Membentuk hubungan/ Berbagi/Diskusi    Memperkuat keyakinan

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Pemahaman

Membentuk hubungan/ Berbagi/Diskusi

 

Memperkuat keyakinan dan mempertimbang-kan nilai-nilai yang dianut selama ini

diri

Kelompok

Pertemuan Alcohol Anonymous dan Narcotic Anonymous

 

Bersiap-siap untuk masuk program reentry

Dukungan

Mengembangkan ketrampilan sosial

Vokasional

Latihan Kerja/Job Training, Wawancara kerja

 

Program latihan kerja

Penempatan di tempat bekerja

Pengelolaan waktu dan keuangan

Pencegahan

Seminar, Workshop, Diskusi

 

Mengenali pola kambuh dan pencetus kekambuhan

Kekambuhan

 

Mengembangkan kemampuan menghadapi masalah, mengelola terpeleset, terjatuh atau kambuh menggunakan NAPZA

Tahapan

Aktifitas

Waktu

Hasil yang diharapkan

Aftercare

 

Setelah

 

12-18

bulan

Pertemuan

Konseling berkelanjutan, dukungan kelompok dalam proses pemulihan

 

Menguatkan kestabilan

kelompok

Meningkatkan proses pemulihan secara keseluruhan

dukungan

12

langkah

 

(Twelve Step)

 
 

-

membawa

program

layanan

kepada

lingkungan

1. Outreach/Penjangkauan

G. Layanan Lain Yang Tersedia

masyarakat.

2. Rawat Jalan/Ambulatory - pasien datang ke pusat layanan untuk mendapatkan layanan, informasi, konseling, daycare, manajemen kasus, pelatihan dan lajn-lain.

3. Family Support Group - menginisiasi/fasilitasi untuk berbagi pengalaman diantara anggota keluarga.

4. Recovery Support Group/Kelompok Pendukung Pemulihan fasilitasi/ memotivasi

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA pasien untuk berpartisipasi dalam kelompok dukungan mandiri (Self Help Group). H.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

pasien untuk berpartisipasi dalam kelompok dukungan mandiri (Self Help Group).

H. Evaluasi Pengobatan

Evaluasi hasil pengobatan dilakukan secara periodik dalam setiap fase/tahapan pengobatan. Diperlukan pembentukan tim untuk mengevaluasi kemajuan setiap pasien yang terdiri dari berbagai profesi. Apabila evaluasi menunjukkan tidak adanya kemajuan pada pasien maka perlu ditinjau ulang program terapi selanjutnya agar diperoleh hasil yang optimal.

Beberapa ha! yang perlu dievaluasi untuk setiap pasien adalah :

a.

Kondisi fisik/medis

b.

Kondisi penggunaan NAPZA

c.

Masalah psikologis

d.

Masalah keluarga

e.

Masalah sosial, termasuk masalah pekerjaan, pendidikan, finansial, hukum

f.

Masalah lain yang penting dan terkait dengan adiksi

g.

Pengobatan dan intervensi sosial yang telah diberikan

h.

Penilaian efektifitas program secara keseluruhan

I. Rekruitmen Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia (SDM) merupakan modal utama dalam melaksanakan program pengobatan dan rehabilitasi pasien gangguan penggunan Napza. Seringkali sulit untik mendapat SDM yang berkualitas dan mempunyai ketertarikan pada masalah gangguan penggunaan NAPZA. Hal ini seringkali disebabkan adanya persepsi yang salah bahwa bekerja di bidang ini banyak kerja dengan sedikit kemungkinan untuk perkembangan karier dan kenaikan pangkat. Oleh karena itu, setiap institusi perlu untuk membuat suatu ketentuan mengenai pengembangan karier dan promosi bagi setiap SDM yang bekerja pada pusat layanan gangguan penggunaan NAPZA.

Seleksi SDM yang baik merupakan dasar untuk memberdayakan SDM tersebut secara efektif, meskipun tidak ada garansi penuh bahwa mereka yang sudah diterima akan bekerja secara efisien dan produktif, banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi efisiensi dan stabilitas SDM. Pelamar dapat dimotivasi dengan pertimbangan lain selain hanya uang/gaji seperti pendidikan, pelatihan atau kesempatan untuk mengembangkan keahlian di bidang gangguan penggunaan NAPZA.

Sejak pengobatan dan rehabilitasi bukan lagi merupakan organisasi yang tradisional, ada keunikan dalam melakukan penerimaan SDM dimana tidak banyak orang yang tertarik untuk melakukan pekerjaan dalam waktu yang panjang (lebih 8 jam kerja), on call 24 jam dalam 7 hari, bekerja saat hari libur, tinggal dalam suatu fasilitas dan yang sangat nyata mereka harus menghadapi pasien dengan masalah ketergantungan NAPZA yang seringkali melakukan kekerasan, ketidakstabilan mental, hal ini bisa diklasifikasikan sebagai pekerjaan berisiko tinggi.

1. Beberapa strategi untuk rekrutmen/penerimaan SDM :

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  Membuat iklan di surat kabar atau radio  Layanan On

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Membuat iklan di surat kabar atau radio

Layanan On line (jika dimungkinkan tersedia internet/ website)

Berhubungan dengan sekolah sesuai dengan profesi yang dibutuhkan

Rujukan/rekomendasi dari petugas atau pasien

Melakukan jejaring dengan profesi yang berbeda dan organisasi pemerintah

Melakukan seleksi melalui kampus

2. Kebutuhan dasar untuk SDM pada pusat pengobatan dan rehabilitasi NAPZA

Usia sedikitnya antara 21 sampai 35 tahun, agar masa penyesuaiannya lebih mudah

Pendidikan yang sesuai dengan posisi dan tugasnya

Untuk recovering addict, harus sudah lulus dari pusat layanan yang mempunyai reputasi dan sedikitnya sudah 2 tahun abstinensi, mempunyai pengalaman melaksanakan program 12 Langkah dan modalitas terapi lainnya

Untuk konselor harus memiliki sertifikat konselor adiksi

Bersedia untuk memberikan waktunya lebih panjang dari pegawai tempat lain

Kualitas personal dalam dedikasi, loyalitas dan ketertarikan pada bidang pekerjaan tinggi

Harus memiliki 'hati' dan 'jiwa' untuk menolong orang dengan spirit kemanusiaan yang tinggi

Mampu berkreasi, mempunyai dorongan diri yang kuat dan berorientasi pada hasil

Bersedia untuk menceburkan diri ke dalam program fasilitas residensial

Bersedia mengikuti berbagai pelatihan baik secara lokal, regional maupun internasional

3. Proses Seleksi

a.

Tes psikologi, untuk mengetahui kepribadian dan motivasi kerja individu

b.

Wawancara Individu; untuk memperoleh SDM yang berkualitas, memberikan informasi tentang bidang kerja, menentukan tingkat intelejensi pelamar, menciptakan keinginan baik organisasi. Wawancara akan meliputi:

Kematangan emosional

Keterandalan

Percaya diri

Sikap terhadap pekerjaan

Kreativitas

Sistem nilai

Gaya hidup

Sikap kritikal

c.

Wawancara Kelompok: pendekatan ini sangat direkomendasi sebagai tambahan dari hasil wawancara individu, Beberapa jenis wawancara kelompok yang dilakukan meliputi:

III.

III. MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  Ketrampilan komunikasi dan menulis  Pemahaman dan tilikan diri yang

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Ketrampilan komunikasi dan menulis

Pemahaman dan tilikan diri yang mendalam

Ketulusan hati dan komitmen untuk ikut serta dalam misi melindungi kehidupan

Kemampuan untuk berinteraksi dengan teman lainnya

Tingkat komprehensif

Menentukan pencapaian tujuan

Keseriusan dalam melaksanakan pekerjaan

PEMBELAJARAN DARI RUMAH SAKIT JIWA DALAM LAYANAN TERAPI DAN REHABILITASI PASIEN GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA

A.

Layanan Yang Dilaksanakan Di Rumah Sakit Jiwa

1.

Gawat Darurat Pada Gangguan Penggunaan NAPZA

 

Pada prinsipnya penatalaksanaan gawat darurat gangguan penggunaan NAPZA dapat dilakukan di unit gawat darurat untuk pelayanan umum atau unit gawat darurat untuk gangguan jiwa yang terdapat di Rumah Sakit Jiwa tanpa harus menyediakan unit gawat darurat tersendiri. Bila memungkinkan unit gawat darurat gangguan penggunaan NAPZA dapat dibuat tersendiri.

Untuk dapat menangani kasus-kasus gawat darurat NAPZA dengan baik perlu dilakukan pelatihan untuk tim unit gawat darurat yang meliputi ketrampilan untuk menangani kasus-kasus kedaruratan medik yang terjadi akibat penggunaan NAPZA, seperti overdosis opioida, intoksikasi benzodiazepin, intoksikasi amfetamin.

Beberapa Rumah Sakit Jiwa dapat menangani kasus intoksikasi amfetamin, alkohol dan halusinogen. Untuk intoksikasi NAPZA lain (misal: Benzodiazepin, Dekstrometorfan) beberapa Rumah Sakit Jiwa dapat menangani kondisi akut, termasuk kondisi gaduh gelisah.

Untuk kasus overdosis; khususnya overdosis heroin biasanya pasien dibawa ke Rumah Sakit Umum meskipun seringkali dokter gawat darurat Rumah Sakit Umum tidak tahu diagnosis overdosis heroin/kasus heroin

Beberapa Rumah Sakit Jiwa telah menggunakan skala penilaian putus NAPZA untuk kasus putus heroin (opioida). Masih perlu dilakukan pelatihan Gawat Darurat Gangguan penggunaan NAPZA karena umumnya Tim gawat darurat Rumah Sakit Jiwa belum pernah mendapatkan pelatihan kegawatdaruratan dalam bidang Gangguan penggunaan Napza,

Pasien yang telah menunjukkan perbaikan setelah ditangani di unit gawat darurat dapat dilanjutkan dengan parawatan rawat inap atau detoksifikasi untuk kasus putus NAPZA atau berobat jalan untuk kondisi yang sudah memungkinkan untuk pulang.

2.

Rawat Jalan/Rumatan:

- Umumnya medikasi yang tersedia di Rumah Sakit Jiwa untuk penanganan

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA simtomatis. Semua jenis NAPZA dapat dilayani termasuk komplikasi medis maupun

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

simtomatis. Semua jenis NAPZA dapat dilayani termasuk komplikasi medis maupun psikiatris. Terapi rumatan di Rumah Sakit Jiwa umumnya belum tersedia.

- Umumnya Layanan Psikososial seperti Konseling Dasar Individual/Kelompok, Terapi Kelompok, Family Support Group, Dukungan Kelompok Sebaya, Terapi Musik, Outing, Terapi Vokasional, Motivational Interviewing, Cognitive Behavioural Therapy, ReEmotive Behaviour Therapy di Rumah Sakit Jiwa masih kurang.

- Umumnya Rumah Sakit Jiwa telah dapat menyediakan Layanan Penunjang Dasar seperti laboratorium dasar Kimia Klinik. Untuk pemeriksaan NAPZA umumnya menggunakan Deep Stick disertai tes konfirmasi. Pemeriksaan radiologi dan elektromedik (EEG, Brain Mapping, EKG) juga tersedia di Rumah Sakit Jiwa.

3. Detoksifikasi

Umumnya detoksifikasi dilakukan di fasilitas rawat inap Rumah Sakit Jiwa dengan menggunakan medikasi simtomatis. Khusus untuk detoksifikasi heroin (opioida) selain simtomatis juga ada yang mempunyai pengalaman tapering off dengan metadon dan buprenorfin

4. Rehabilitasi

Jangka Pendek (Short Term) (1-3 bulan)

Beberapa Rumah Sakit Jiwa telah melaksanakan program ini dengan fokus pada perubahan perilaku. Dilakukan skrining masalah medis dan psikologis.

Jangka Panjang - Long term (6 bulan - lebih)

Beberapa Rumah Sakit Jiwa sudah dapat melaksanakan program rehabilitasi untuk jangka waktu 6 bulan. Ada juga yang sudah menjalankan program re-entry (hingga 9 bulan). Ada juga yang sudah menjalankan Therapeutic Community (TC) secara penuh yang dilanjutkan dengan/aftercare

Setiap intervensi dilakukan secara bertahap, misalnya untuk lama waktu dilaksanakan rehabilitasi untuk pasien (dalam program rehabilitasi biasanya disebut residen) dimulai dengan program jangka pendek terlebih dahulu. Bila rehabilitasi sudah dapat berjalan secara bermakna, lama waktu dilaksanakan rehabilitasi untuk residen kemudian diperpanjang, misalnya menjadi minimal 6 bulan.

Umumnya diperlukan waktu yang cukup lama sejak mulai berdirinya rehabilitasi sampai dapat melakukan program yang melibatkan keluarga. Pada awal program, biasanya keluarga hanya dilibatkan terkait masalah residen. Untuk selanjutnya keluarga dapat diajak bekerjasama agar terlibat dalam beberapa program, seperti program dukungan keluarga dengan anak yang terlibat gangguan penggunaan NAPZA atau program dukungan residen dengan HIV positif.

Memulai program aftercare hanya jika program jangka pendek sudah berhasil dilalui dengan baik. Biasanya kegiatan aftercare dilaksanakan di luar lingkungan Rumah Sakit

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Jiwa. Seiring dengan banyaknya kasus ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), perlu dibentuk

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Jiwa.

Seiring dengan banyaknya kasus ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), perlu dibentuk kelompok sebaya khusus untuk ODHA pada penasun (pengguna NAPZA suntik)

5. Layanan Psikososial dan Penunjang

Pada umumnya Rumah Sakit Jiwa sudah melakukan konseling dasar, terapi kelompok dan psikoedukasi keluarga.

6. Evaluasi Terapi

Kebanyakan Rumah Sakit Jiwa belum melakukan secara khusus, kecuali residen yang sudah mengalami komplikasi medis atau psikiatris.

7. Sistem Rujukan/Jejaring

Sebagian Rumah Sakit Jiwa sudah melaksanakan kerjasama dengan berbagai institusi baik pemerintah maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

B. Tantangan Di Lapangan

1. Sumber Daya Manusia

Biasanya tenaga medis dan paramedis terbatas dan kurang berminat untuk bekerja di bangsal gangguan penggunaan NAPZA, mereka lebih tertarik untuk bekerja di bangsal umum atau bangsal penyakit jiwa. Salah satu alasan mereka enggan bekerja di bangsal gangguan penggunaan NAPZA karena kurangnya pengetahuan dan kekhawatiran berlebihan terhadap pasien gangguan penggunaan NAPZA yang terinfeksi HIV.

Ketrampilan petugas dalam penatalaksanaan pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA masih terbatas. Ada petugas yang belum mengikuti pelatihan, ada juga yang enggan mengikuti pelatihan.

Komitmen untuk merencanakan dan menjalankan program dari pengambil keputusan sampai pelaksana kurang kuat dijumpai di beberapa Rumah Sakit Jiwa.

untuk

Kesulitan

mendapat

peer educator/konselor pada awal menjalankan

program.

Reward/honor petugas yang belum memenuhi standar minimal

2. Penerapan Program

Penerapan program sulit dilaksanakan karena pengetahuan dan ketrampilan terbatas sehingga kurang percaya diri untuk menjalankan program

Keterbatasan dana sehingga beberapa program tidak dapat dilaksanakan misalnya outing, terapi vokasional, terapi rekreasional.

Keterbatasan pengalaman dalam penanganan kasus dengan dual diagnosis

program

Kesinambungan

tidak

itu

(sustainability)

yang

mendapatkan

terhenti

bantuan

direncanakan

kelanjutannya

sehingga

program

ketika

bantuan

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA berhenti. 3. Sarana dan Prasarana  Sarana dan prasarana seringkali

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

berhenti.

3. Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana seringkali dipersepsikan harus terpisah dari kegiatan rumah sakit secara keseluruhan, Sebagian RS telah melakukan pelayanan dengan menggunakan fasilitas RS yang tersedia.

4. Evaluasi Terapi

Sudah dilaksanakan evaluasi terapi secara sederhana, belum dilakukan dengan menggunakan tools/panduan yang terstandarisasi

5. Rujukan/Jejaring

Kerjasama RSJ dengan LSM, RSU, Puskesmas, Lapas di banyak tempat masih terbatas. RSJ yang sudah melayani ODHA umumnya kerjasama sudah berjalan baik dalam bidang HIV/AIDS

Advokasi ke beberapa pemangku kepentingan (Badan Narkotika Propinsi, Badan Narkotika Kabupaten/Kota, Komisi Penanggulangan AIDS, Pemerintah Daerah) masih ada kendala

Kerjasama lintas sektor dan lintas program belum berjalan dengan optimal

IV. EFEK DAN GEJALA KLINIS GANGGUAN PENGGUNAAN NAP2A

Bab ini akan membahas pengaruh segera atau beberapa saat (efek akut) sesudah menggunakan NAPZA dan pengaruh penggunaan jangka panjang (efek kronis). Pengguna NAPZA apapun jenisnya, selalu mengharapkan efek yang menyenangkan bagi dirinya ("efek positif) yaitu euforia, tenang, rileks dan disinhibisi. Efek lainnya pada umumnya tidak disukai ("efek negatif) misalnya halusinasi, waham, berdebar-debar. Efek NAPZA terhadap pengguna dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu jenisnya (CNS depressant atau CNS stimulant), dosisnya (intoksikasi saja atau overdose), lamanya penggunaan (toleransi atau belum ada toleransi), NAPZA lain yang digunakan bersamaan, situasi (sendiri atau berkelompok) dan harapan pengguna terhadap NAPZA tersebut (ingin lepas kendali agar lebih berani atau ingin tenang).

Dalam Bab ini hanya akan dibahas NAPZA yang sering digunakan saat ini di Indonesia.

1. AMFETAMIN

a. Efek Fisik dan Psikologis

Efek dari metamfetamin lebih kuat dibandingkan efek dari amfetamin. Metamfetamin diketahui lebih bersifat adiktif, dan cenderung mempunyai dampak yang lebih buruk. Pengguna metamfetamin dilaporkan lebih jelas menunjukkan gejala ansietas, agresif, paranoia dan psikosis dibandingkan pengguna amfetamin. Efek psikologis yang ditimbulkan mirip seperti pada pengguna kokain, tapi berlangsung lebih lama.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Efek fisik akut dan psikologis :   Dosis rendah Dosis tinggi

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Efek fisik akut dan psikologis :

 

Dosis rendah

Dosis tinggi

Susunan Syaraf Pusat, neurologi, perilaku

Penigkatan stimulasi, insomnia, dizziness, tremor ringan

Stereotipik atau perilaku yang sukar ditebak

Euforia/disforia,bicara

Perilaku kasar atau irasional, mood yang berubah-ubah. termasuk kejam dan agresif

berlebihan

Meningkatkan rasa percaya diri dan kewaspadaan diri

Cemas, panik

Bicara tak jelas

Menekan nafsu makan

Dilatasi pupil

Paranoid,kebingungan dan gangguan persepsi

Peningkatan energi, stamina dan penurunan rasa lelah

Sakit kepala, pandangan kabur, dizziness

Psikosis (halusinasi delusi, paranoia)

 

Dengan penambahan dosis.dapat meningkatkan libido

Gangguan

serebrovaskular

Kejang

Sakit kepala

Koma

Gemerutuk gigi

Gemerutuk gigi

Distorsi bentuk tubuh secara keseluruhan

Kardiovaskular

Takikardia (mungkin juga bradikardia)

Stimulasi kardiak (takikardia.angina.MI)

.hipertensi

vasokonstriksi/

Palpitasi.arimia

hipertensi

kolap kardiovaskuler

Pernapasan

Peningkatan frekwensi napas dan kedalaman pernapasan

Kesulitan bernapas/gagal napas

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Gastrointestinal  Mual dan muntah  Mulut kering  Konstipasi

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Gastrointestinal

Mual dan muntah

Mulut kering

Konstipasi ,diare atau kram abdominal

Mual dan muntah

kram abdominal

Kulit

kulit berkeringat.pucat

kemerahan atau

hiperpireksia

flushing

hiperpireksia, disforesis

Otot

peningkatan refleks tendon

 

b. Efek fisik dan psikologis jangka panjang :

berat badan menurun, malnutrisi, penurunan kekebalan

gangguan makan, anpreksia atau defisiensi gizi

kemungkinan atrofi otak dan cacat fungsi neuropsikologis

daerah injeksi: bengkak, skar, abses

kerusakan pembuluh darah dan organ akibat sumbatan partikel amfetamin pada pembuluh darah yang kecll.

disfungsi seksual

gejala kardiovaskuler

delirium.paranoia, ansietas akut, halusinasi. Amphetamines induced psychosis akan berkurang bila penggunaan Napza dihentikan , bersamaan dengan diberikan medikasi jangka pendak.

depresi, gangguan mood yang lain (misal distimia), atau adanya gangguan makan pada protracted withdrawal.

penurunan fungsi kognitif, terutama daya ingat dan konsentrasi.

c. Gejala Intoksikasi:

Agitasi

Kehilangan berat badan

Takikardia

Dehidrasi

Hipertermi

Imunitas rendah

Paranoia

Delusi

Halusinasi

Kehilangan rasa lelah

Tidak dapat tidur

Kejang

Gigi gemerutuk.rahang atas dan bawah beradu

Stroke

Gangguan kardiovaskular

Kematian

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA d. Perilaku sehubungan dengan kondisi intoksikasi:  Agresif/ perkelahian 

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

d. Perilaku sehubungan dengan kondisi intoksikasi:

Agresif/ perkelahian

Penggunaan alkohol

Berani mengambil risiko

Kecelakaan

Sex tidak aman

Menghindar dari hubungan sosial dengan sekitarnya

Penggunaan obat-obatan lain

Problem hubungan dengan orang lain

e. Gejala withdrawal:

Depresi

Tidak dapat beristirahat

Craving

Ide bunuh diri

Penggunaan obat-obatan

Masalah pekerjaan

Pikiran-pikiran yang bizzare

Mood yang datar

Ketergantungan

Fungsi sosial yang buruk

2.

KANABIS

a. Komplikasi fisik dan psikososial

Efek akut

Seperti umumnya dengan napza , efek dari kanabis tergantung dengan dosis yang digunakan.individunya dan kondisi saat itu. Beberapa hal di bawah ini di anggap sebagai efek positif bagi pengguna.yaitu :

perasaan tenang (relaksasi)

euforia

disinhibisi

peningkatan persepsi penglihatan dan pendengaran

nafsu makan meningkat

persepsi waktu yang salah

sulit untuk konsentrasi

Sedangkan efek akut negatif adalah:

ansietas dan panik

paranoia

halusinasi pendengaran dan penglihatan

gangguan koordinasi

kehilangan memori jangka pendek

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  takikardia dan aritmia supraventrikuler Kanabis tidak menyebabkan overdosis yang

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

takikardia dan aritmia supraventrikuler

Kanabis tidak menyebabkan overdosis yang fatal

Gejala yang umum terj$di pada kondisi putus kanabis adalah

ansietas, tidak dapat beristirahat dan mudah tersinggung

anoreksia

tidur terganggu dan sering mengalami mimpi buruk

gangguan gastrointestinal

keringat malam hari

tremor

Gejala-gejala yang terjadi biasanya ringan dan berakhir setelah satu atau dua minggu. Pasien dengan putus kanabis hanya memerlukan manajemen gejala jangka pendek.

3.

OPIODA

a. Efek Opioda

SISTIM ORGAN

EFEK

Sistim Saraf

Analgesi

euforia

sedasi, mengantuk, depresi pernapasan

penekanan refleks batuk

pupil konstriksi

Gastroitestinal

mual dan muntah

konstipasi

spasme biliar ( peningkatan tonus sfingter Oddi)

Endrokrin

perubahan hormon sex pada wanita (kadar FSH dan LH rendah ,peningkatan kadar prolaktin) berdampak pada gangguan siklus menstruasi, penurunan libido, galaktorhea

penurunan kadar testosteron pada laki-laki,penurunan libido

meningkatnya hormon anti diuretik (ADH), penurunan kadar ACTH

Lainnya

gatal-gatal,berkeringat,kulit kemerahan (reaksi histamin)

kekeringan pada daerah mulut.mata dan kulit

pengeluaran urin yang sulit

tekanan darah rendah

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA b. Simpton putus opioid dengan kerangka waktu Jarak waktu dari suntikan

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

b. Simpton putus opioid dengan kerangka waktu

Jarak waktu dari suntikan terakhir

Gejala Umum

6 – 12 jam

mata dan hidung berair, menguap

berkeringat

12 – 24 jam

agitasi dan iritabel

berdiri bulu roma (goosebumps)

berkeringat, perasaan panas dan dingin

kehilangan nafsu makan

Lebih dari 24 jam

keinginan kuat untuk menggunakan heroin (craving)

kram perut, diare

kehilangan nafsu makan, mual, muntah

nyeri punggung.nyeri per§sndian,tangan atau kaki, sakit kepala

sulit tidur

letargi, kelelahan

tidak dapat istirahat, irritable, agitasi

sulit konsentrasi

perasaan panas dan dingin, keringat meningkat

Hari ke 2 sampai 4

semua gejala mencapai puncaknya

Hari ke 5 sampai 7

kebanyakan gejala fisik mulai berkurang.

nafsu makan mulai kembali

Minggu ke 2

gangguan fisik mulai menghilang. Dapat muncul keluhan lain seperti tidak dapat tidur, rasa lelah, irirtable, craving

Beberapa minggu sampai beberapa bulan

kembali ke pola tidur .level aktivitas dan mood normal. Meningkatnya kesehatan secara umum dan penurunan craving

4.

BENZODIAZEPIN

Semua benzodiazepin bersifat sedatif, ansiolitik dan anti konvulsan.

a. Efek jangka pendek

o

mengantuk, letargi, kelelahan

o

gerakan yang tidak terkoordinasi, penurunan reaksi terhadap waktu dan ataksia

o

penurunan fungsi kognisi dan memori (terutama amnesia anterograde)

o

kebingungan

o

kelemahan otot atau hipotoni

o

depresi

o

nistagmus, vertigo

o

disarthria, bicara cadel/tidak jelas

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA o pandangan kabur, mulut kering o sakit kepala   euforia paradoksal,

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

o

pandangan kabur, mulut kering

o

sakit kepala

 

euforia paradoksal, rasa girang, tidak dapat beristirahat, hipomania dan perilaku inhibisi yang ekstrim (terutama pengguna dosis tinggi dapat merasa tidak dapat dilukai, kebai terhadap serangan atau pukulan dan merasa dirinya tidak dapat dilihat orang sekitarnya) o efek potensiasi dengan napza depresah susunan syaraf pusat lainnya, misal alkohol dan opioid yang dapat meningkatkan risiko penekanan pernapasan

o

b.

Efek jangka panjang

Mirip dengan efek jangka pendek, ditambah dengan :

toleransi terhadap efek sedatif/hipnotik dan psikomotor

emosi yang "tumpul" (ketidakmampuan merasa bahagia atau duka sehubungan dengan hambatan terhadap emosi)

siklus menstruasi tidak teratur, pembesaran payudara

ketergantungan (dapat terjadi setelah 3 sampai 6 bulan dalam dosis terapi)

d.

Gejala Putus Benzodiazepin :

Umumnya mencakup:

insomnia

ansietas

irritable

tidak dapat beristirahat

agitasi

depresi

tremor

dizziness

Jarang terjadi, tapi perlu penanganan serius :

kejang (kejang hampir menyerupai pengguna alkohol dosis tinggi)

delirium

Gejala lain mencakup:

kedutan otot dan nyeri

anoreksia, mual

kelelahan

tinnitus

hiperakusis, fotofobia, gangguan persepsi

depersonalisasi, derealisasi

pandangan kabur

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 5. ALKOHOL a. Intoksikasi Alkohol Akut   Intoksikasi dapat

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

5.

ALKOHOL

a.

Intoksikasi Alkohol Akut

 

Intoksikasi dapat dikenali dengan gejala-gejala :

ataksia dan bicara cadel/tak jelas

emosi labil dan disinhibisi

napas berbau alkohol

mood yang bervariasi

 

b.

Komplikasi akut pada intoksikasi atau overdosis :

 

paralisis pernapasan, biasanya bila muntahan masuk saluran pernapasan

obstructive sleep apnoea

aritmia jantung fatal ketika kadar alkohol darah lebih dari 0,4 mg/ml

 

c.

Gejala klinis sehubungan dengan overdosis alkohol dapat meliputi:

 

penurunan kesadaran, stupor atau koma

perubahan status mental

kulit dingin dan lembab, suhu tubuh rendah

 

d.

Gejala putus alkohol:

Biasa terjadi 6-24 jam sesudah konsumsi alkohol yang terakhir: Gejala putus alkohol ringan :

Tremor

Khawatir dan agitasi

Berkeringat

Mual dan muntah

Sakit kepala

Takikardia

Hipertensi

Gangguan tidur

Suhu tubuh meningkat

Gejala putus alkohol berat:

muntah

agitasi berat

disorientasi

kebingungan

paranoia

hiperventilasi

delirium tremens (DTs) adalah suatu kondisi gawat darurat pada putus alkohol yang tidak ditangani .muncul 3-4 hari setelah berhenti minum alkohol. DTs

agitasi, restlessness, tremor kasar, disorientasi,

mencakup

gejala

ketidakseimbangan

cairan

dan

elektrolit,

berkeringat

dan demam tinggi,

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA halusinasi lihat dan paranoia. 6. KOKAIN a. Efek yang diharapkan :

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

halusinasi lihat dan paranoia.

6.

KOKAIN

a.

Efek yang diharapkan :

 

euforia

banyak bicara

bertambahnya percaya diri

energi

berkurang keinginan untuk tidur

 

b.

Efek akut pada dosis rendah :

 

anastesi lokal

dilatasi pupil

vasokonstriksi

peningkatan pernapasan

peningkatan denyutjantung

peningkatan tekanan darah

peningkatan suhu tubuh

 

c.

Efek akut pada dosis tinggi (reaksi toksik):

stereotipik, perilaku repetitif

ansietas/ agitasi berat/ panik

agresif

kedutan otot/tremor/hilang koordinasi

peningkatan refleks

gagal napas

peningkatan tekanan darah yang bermakna

nyeri dada/angina

edema paru

gagal ginjal akut

konvulsi

penglihatan kabur

stroke akut

kebingungan/delirium

halusinasi, lebih sering halusinasi dengar

dizziness

kekakuan otot

lemah, nadi cepat

aritmia jantung

iskemi miokardial dan infark

berkeringat/suhu tubuh sangat tinggi (suhu rektal bisa mencapai 41°C)

sakit kepala

nyeri perut/mual/muntah

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA d. Efek pada penggunaan kronis :  insomnia  depresi 

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

d. Efek pada penggunaan kronis :

insomnia

depresi

agresif atau liar

kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan

kedutan otot

ansietas

psikosis - waham curiga, halusinasi

hilang libido dan/atau impotensi

peningkatan refleks

peningkatan denyut nadi

e. Gejala putus kokain (terjadi setelah beberapa hari penggunaan kokain)

mood disforia (anhedonia atau kesedihan mirip depresi) dan

kelelahan

insomnia atau hipersomnia

agitasi psikomotor atau retardasi

craving

peningkatan nafsu makan

mimpi buruk

gejala putus alkohol mencapai puncaknya dalam 2-4 hari

gejala disforia bisa berlangsung sampai 10 minggu

7. VOLATILE SUBSTANCE (SENYAWA YANG MUDAH MENGUAP)

a.

Efek pada penggunaan akut

mata merah dan berair

bersin dan batuk

nafas berbau napza kimia

lem, solven, bekas cat tertinggal pada baju, jari tangan, hidung, atau mulut

intoksikasi terlihat jelas/ perilaku menyimpang/ berani mengambil risiko

kebingungan

koordinasi yang lemah

mengeluarkan keringat yang berlebihan

ada tanda-tanda tidak biasa/rash,

iritasi kulit di sekitar mulut dan hidung

sekresi nasal yang berlebihan,

secara langsung menghirup

b.

Efek yang diharapkan :

euforia

rasa girang

rasa melambung

rasa tidak dapat dilukai/disakiti

disinhibisi

 disinhibisi MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA c. Efek jangka pendek/efek negatif:  mengantuk 

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

c.

Efek jangka pendek/efek negatif:

mengantuk

gejala mirip flu

mual dan muntah

sakit kepala

diare, nyeri abdominal

pernapasan tidak nyaman

perdarahan hidung dan tenggorokan

perilaku berisiko.

d.

Efek pada dosis tinggi:

berbicara tidak jelas

koordinasi motorik lemah

disorientasi, kebingungan

tremor

sakit kepala

delusi

gangguan penglihatan atau halusinasi

perilaku yang tidak dapat diprediksi

- ataksia

- stupor

- final stages ( kejang, koma cardiopulmonary arrest, kematian ).

e.

Gejala Overdosis Dosis tinggi dapat menyebabkan pasien mengalami:

konvulsi, koma

Gangguan pernafasan

Aritmia jantung

Gangguan atau kematian dapat terjadi karena:

perilaku yang berisiko (tenggelam, jatuh, dll)

sufokasi

aspirasi muntahan

terbakar, ledakan

keracunan, kegagalan organ tubuh (pengguna kronis)

Laryngeal Spasm (Butane) Respiratory Arrest

keracunan logam (bensin/solar)

f.

Gejala putus zat:

Permulaan dan lamanya: tidak diklasifikasikan dalam DSM IV tapi sifat dari gejala putus yang memungkinkan dapat terjadi pada 24-48 jam sesudah penggunaan berakhir Gejalanya:

gangguan tidur

tremor

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  mudah tersinggung dan depresi  mual  diaforesis  ilusi

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

mudah tersinggung dan depresi

mual

diaforesis

ilusi hilang dengan cepat

V. LAYANAN KOMPREHENSIF GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA BERBASIS RUMAH SAKIT

1. Rekruitmen SDM

a.

Sosialisasi program, sebelum dirancang program operasional terapi dan rehabilitasi Gangguan penggunaan NAPZA seharusnya pihak manajemen melakukan sosialisasi kepada seluruh karyawan rumah sakit dan pemangku kepentingan lain yang terkait (donator, LSM atau pemda setempat). Dalam sosialisasi perlu dijelaskan tentang beberapa hal terkait dengan operasional layanan untuk gangguan penggunaan NAPZA tersebut yang meliputi :

Keuntungan yang akan diperoleh ataupun kerugian (kalau ada) yang akan dialami rumah sakit

Jenis layanan atau program terapi dan rehabilitasi gangguan penggunaan NAPZA yang akan dilaksanakan

Staf dan karyawan yang akan terlibat dalam program

Jejaring yang harus dibentuk dengan pemangku kepentingan

Pendanaan dan penghasilan yang dapat diperoleh dari layanan gangguan penggunaan NAPZA

b.

Skrining motivasi untuk bekerja di unit gangguan penggunaan NAPZA dan HIV, umumnya akan terjadi penolakan ketika akan dilakukan rekrutmen atau skrining staf/karyawan yang akan mengelola program untuk gangguan penggunaan NAPZA. Untuk itu pihak manajemen harus mampu meyakinkan kepada karyawan/staf tentang reward yang dapat diperoleh bagi petugas/staf di bangsal gangguan penggunaan NAPZA seperti:

Pelatihan khusus masalah gangguan penggunaan NAPZA

Pemberian insentif khusus sesuai dengan jam kerja

Promosi kenaikan pangkat

Promosi untuk pendidikan berkelanjutan, dan lain-lain sesuai kemampuan rumah sakit

c.

Jenis dan jumlah tenaga/profesi yang dibutuhkan, sangat tergantung dengan jenis layanan yang akan dilaksanakan. Tidak semua jenis profesi harus tersedia dalam sebuah pusat layanan, bilamana memerlukan suatu layanan profesi khusus dapat dilakukan dengan cara sistern rujukan atau membuat kesepakatan kerja.

Dalam bidang teknis-medis tenaga minimal yang diperlukan :

1 orang psikiater dan atau dokter umum yang terlatih di bidang gangguan penggunaan NAPZA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  1 tim (8 orang) perawat/paramedik  1-2 orang instruktur/guru sesuai

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

1 tim (8 orang) perawat/paramedik

1-2 orang instruktur/guru sesuai jenis kegiatan

1 tim (3 orang) konselor adiksi yang sudah terlatih

1 orang pekerja sosial

1 orang pembimbing agama

Dalam bidang administrasi kegiatan pelayanan dibutuhkan :

1 orang tenaga pimpinan/program manajer

1 orang petugas tata usaha

1 orang petugas keuangan

1 orang petugas kebersihan

1 tim (4 orang) petugas keamanan

d. Pelatihan/ketrampilan yang perlu dimiliki, untuk awal pelaksanaan program perlu dilakukan pelatihan pada semua tim teknis/medis baik peningkatan ketrampilan melalui pelatihan maupun magang pada pusat layanan yang sudah mapan/mempunyai kredibilitas.

Pelatihan untuk staf teknis/medis meliputi;

Pengetahuan tentang gangguan penggunaan NAPZA dan praktek pengobatan/perawatan

Ketrampilan yang berkaitan untuk pengkajian/asesment, rencana pengobatan dan konseling individu/kelompok/keluarga

Isu-isu lain berkaitan dengan koordinasi, dokumentasi, kelompok kerja dan profesional/tanggung jawab etika dalam pelayanan

Pengembangan manajemen dan ketrampilan supervisi

Pelatihan untuk non klinikal/teknis staf meliputi:

Komunikasi, manajemen waktu, ketrampilan berkaitan dengan pekerjaan seperti komputer/ IT, kepuasan pelanggan dan lain-lain

Menjaga keamanan di lingkungan fasilitas/kerja

e. Tugas pokok dan fungsi yang jelas, program yang diterapkan pada pusat terapi dan rehabilitasi umumnya merupakan program yang terstruktur sehingga pembagian kerja dari masing-masing individu harus sangat jelas agar program dapat berjalan dengan

baik.

Promosi dalam pengembangan kompetensi (termasuk perencanaan pelatihan), secara periodik sebaiknya dinilai kinerjanya disertai dengan rencana promosi bagi staf/karyawan yang mempunyai dedikasi dan ketrampilan yang bisa diandalkan. Supervisi teknis sangat diperlukan untuk kita ketahui demi kebutuhan pengembangan ketrampilan apa yang dibutuhkan untuk menunjang layanan yang optimal. Persiapan untuk rencana pelatihan diperoleh dengan melakukan :

Training Need Assesment (TNA) setiap tahun

Jadwal tahunan setiap tahun

Alokasi dana untuk pelatihan

Dokumentasi hasil pelatihan

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  Membuat perpustakaan di dalam pusat layanan 2. Sarana Dan Prasarana

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Membuat perpustakaan di dalam pusat layanan

2. Sarana Dan Prasarana

Persyaratan minimal disesuaikan dengan jenis layanan yang akan dibuka, pelayanan dapat memanfaatkan sarana yang selama ini sudah tersedia bahkan meskipun sangat sederhana/minimal. Fasilitas (sarana/prasarana) bisa digabung dengan pelayanan lain pada rumah sakit, tentunya dengan mempertimbangkan keamanan dan kenyaman pasien lainnya. Dibawah ini diterangkan apa saja yang dimaksud dengan sarana dan prasarana dalam layanan terapi dan rehabilitasi Gangguan penggunaan NAPZA

Sarana:

Bangunan atau gedung, misalnya; kantor, ruang pemeriksaan, ruang perawatan, ruang konseling, ruang kelas, asrama, ruang ketrampilan, aula, dapur dan sebagainya.

Prasarana:

Jalan, listrik, telepon, air minum, pagar, saluran air buangan/drainage, peralatan kantor, peralatan layanan baik medis maupun non medis dan sebagainya (generator untuk daerah sering mati listrik, sumur pompa untuk daerah yang air ledengnya sering tidak mengalir).

Kebutuhan minimal dalam pelayanan Gangguan penggunaan NAPZA:

a. Rawat Jalan ; untuk poliklinik Gangguan penggunaan NAPZA dapat digabung dengan poliklinik lain khususnya poliklinik psikiatri, apabila tidak memungkinkan hari layanan untuk pasien dengan Gangguan penggunaan NAPZA tidak diberikan setiap hari tetapi dalam seminggu 2 atau 3 kali layanan. Beberapa sarana yang diperlukan adalah :

Ruang periksa dokter

Ruang konseling/pemeriksaan psikologi

Ruang terapi kelompok untuk sekitar 8-12 orang

b. Rawat Inap :

Detoksifikasi : Ruang perawatan (6-10 tempat tidur) yang aman dari benda- benda yang membahayakan seperti; tiang/pipa besi yang dapat dipatahkan, kisi-kisi yang bisa untuk menggantung diri, kaca, benda tajam

Rehabilitasi : asrama, ruang kantor, ruang kelas, ruang ketrampilan, ruang makan/rekreasi, aula, dapur, ruang olah raga, ruang untuk service area, dan sebagainya sesuai dengan kebutuhan program

3. Model Layanan

a. Rawat Darurat; dapat dilayani kondisi gawat darurat gangguan penggunaan NAPZA dengan mengacu pada standar minimal RSJ tipe A, B, Rumah Sakit Ketergantungan Obat dan RSU tipe A,B maupun C

Penatalaksanaan umum kondisi emergensi gangguan penggunaan NAPZA:

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  Tindakan terfokus pada masalah penyelamatan hidup (life threatening) melalui

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Tindakan terfokus pada masalah penyelamatan hidup (life threatening) melalui prosedur ABC (Airway, Breathing, Circulation) dan menjaga tanda-tanda vital

Bila memungkinkan hindari pemberian obat-obatan, karena dikhawatirkan akan terjadi interaksi dengan NAPZA yang digunakan pasien. Apabila NAPZA yang digunakan pasien sudah diketahui, obat dapat diberikan dengan dosis yang adekuat

Merupakan hal yang selalu penting untuk memperoleh riwayat penggunaan NAPZA sebelumnya baik melalui auto maupun alloanamnesa (terutama dengan keluarganya). Bila pasien tidak sadar perhatikan alat-alat atau barang yang ada pada diri pasien (seperti adanya jarum suntik, obat-obatan dsb)

Sikap dan tata cara petugas membawakan diri merupakan hal yang penting khususnya bila berhadapan dengan pasien panik, kebingungan atau psikotik

Terakhir, penting untuk menentukan atau meninjau kembali besarnya atau beratnya masalah penggunaan NAPZA pasien berdasar kategori dibawah ini:

1. Pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA dalam jumlah banyak dan tanda-tanda vital yang membahayakan berkaitan dengan kondisi intoksikasi. Kemungkinan akan disertai dengan gejala-gejala halusinasi, waham dan kebingungan akan tetapi kondisi ini akan kembali normal setelah gejala-gejala intoksikasi mereda

2. Tanda-tanda vital pasien pada dasarnya stabil tetapi ada gejala-gejala putus NAPZA yang diperlihatkan pasien maka bila ada gejala-gejala kebingungan atau psikotik hal itu merupakan bagian dari gejala putus NAPZA.

3. Pasien dengan tanda-tanda vital yang stabil dan tidak memperlihatkan gejala putus NAPZA yang jelas tetapi secara klinis menunjukkan adanya gejala kebingungan seperti pada kohdisi delirium atau demensia. Dalam perjalanannya mungkin timbul gejala halusinasi atau waham, tetapi gejala ini akan menghilang bilamana kondisi klinis delirium atau dementia sudah diterapi dengan adekuat

4. Bilamana tanda-tanda vital pasien stabil dan secara klinis tidak ada gejala- gejala kebingungan atau putus NAPZA secara bermakna, tetapi menunjukkan adanya halusinasi atau waham dan tidak memiliki insight maka pasien menderita psikosis

5. Penatalaksanaan kondisi gawat darurat gangguan penggunaan NAPZA akan diuraikan sebagai berikut:

5.1. Intoksikasi/Overdosis Opioida:

Merupakan kondisi gawat darurat yang memerlukan penanganan secara cepat

Atasi vital sign (Tekanan Darah, Pernafasan, Denyut Nadi, Temperatur)

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  Berikan antidotum Naloxon HCL (Narcan, Nokoba) dengan dosis 0,01 mg/kg.BB

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Berikan antidotum Naloxon HCL (Narcan, Nokoba) dengan dosis 0,01 mg/kg.BB secara iv, im, sc

Kemungkinan perlu perawatan ICU, khususnya bila terjadi penurunan kesadaran

Observasi selama 24 jam untuk menilai stabilitas tanda-tanda vital

5.2.

Intoksikasi Amfetamin atau NAPZA yang menyerupai

Simptomatik, tergantung kondisi klinis, untuk penggunaan oral :

merangsang muntah dengan activated charcoal atau kuras lambung adalah penting

Antipsikotik , Haloperidol 2-5 mg atau Chlorpromazine 1 mg/kg BB setiap 4-6 jam bila timbul gejala psikotik

Antihipertensi bila Tekanan Darah diatas 140/100 mHg

Kontrol temperatur dengan selimut dingin atau antipiretika untuk mencegah temperatur tubuh meningkat

Aritmia cordis, lakukan Cardiac monitoring ; Propanolol 2-3x40 mg (perhatikan kontraindikasinya)

Bila ada gejala ansietas berikan ansiolitik golongan Benzodiazepin ; Diazepam 3 x 5 mg atau Chlordia-zepoxide 3x25 mg

Asamkan urin dengan Amonium Chlorida 2,75 mEq/kg atau Ascorbic Acid 8 mg/hari sampai pH urin <5 akan mempercepat ekskresi NAPZA

5.3.

Intoksikasi Kanabis

Umumnya tidak perlu farmakoterapi, dapat diberikan terapi suportif dengan talking down

Bila ada gejala ansietas berat:

Lorazepam 1-2 mg oral, atau

Alprazolam 0.5 - 1 mg oral, atau

Chlordiazepoxide 10-50 mg oral

Bila terdapat gejala psikotik menonjol dapat diberikan Haloperidol 1-2 mg oral atau i.m ulangi setiap 20-30 menit

5.4.

Intoksikasi Alkohol

Bila terdapat kondisi Hipoglikemia injeksi 50 mg Dextrose 50%

Bila keadaan Koma :

Posisi face down untuk cegah aspirasi

Observasi ketat tanda vital setiap 15 menit

Injeksi Tiamine 100 mg i.v untuk profilaksis terjadinya Wernicke Encephalopathy.ialu 50 ml Dekstrose 50% iv (urutan jangan sampai terbalik)

Problem Perilaku (gaduh/gelisah):

Petugas keamanan dan perawat siap bila pasien agresif

Terapis harus toleran dan tidak membuat pasien takut atau

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA merasa terancam  Buat suasana tenang dan bila perlu tawarkan makan

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

merasa terancam

Buat suasana tenang dan bila perlu tawarkan makan

Beri dosis rendah sadatif: Lorazepam 1-2 mg atau Haloperidol 5 mg oral, bila gaduh gelisah berikan sacara parenteral (I.m)

Kadar Alkohol Dalam Darah dan Hubungannya Dengan Gejala Pada Sistem Saraf Pusat

KONSENTRASI (g/dl)

PEMINUM

PEMINUM KRONIK

SPORADIK

0,050-0,075

(taraf pesta)

Euforia, Suka berkumpul gregarious), suka mengomel (garroulous)

-Tak tampak gejala

 

-Sering masih terlihat segar

0,100

(intoksikasi secara

Tidak terkoordinasi

Gejala minimal

hukum*)

0,125-0,150

.

Perilaku tak

Menyenangkan, mulai euforia, kurang koordinasi

 

terkontrol

0,200-0,250

Hilang

Membutuhkan usaha untuk mem- pertahankan emosi/kontrol motorik

kewaspadaan,

lethargy

0,300-0,350

Stupor sampai koma

Mengantuk, lamban

Lebih dari 0,500

Fatal, mungkin mem- butuhkan hemodialisis

Koma

*) Di beberapa Negara (atau negara bagian di AS seperti California) secara hukum kadar 0.080 sudah ditetapkan sebagai intoksikasi.

5.5. Intosikasi Sedatif-Hipnotik (Benzodiazepin)

Diperlukan terapi kombinasi yang bertujuan :

a) Mengurangi efek obat dalam tubuh

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA b) Mengurangi absorbsi obat lebih lanjut c) Mencegah komplikasi jangka panjang

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

b) Mengurangi absorbsi obat lebih lanjut

c) Mencegah komplikasi jangka panjang

Langkah I: Mengurangi efek Sedatif-Hipnotik :

Untuk tingkat serum sedatif-hipnotik yang tingginya ekstrim dan gejala-gejala sangat berat, pikirkan untuk haimoperfusion dengan Charcoal resin/Norit. Cara ini juga berguna bila ada intoksikasi berat barbiturat yang lebih short acting.

Tindakan suportif termasuk:

a) pertahankan jalan nafas, pernafasan buatan bila diperlukan

b)

perbaiki gangguan asam basa

Alkalinisasi urin sampai pH 8 untuk memperbaiki pengeluaran obat dan untuk diuresis berikan Furosemide 20-40 mg atau Manitol 12,5-25mg.

Langkah II: Mengurangi absorbsi lebih lanjut:

Rangsang muntah, bila baru terjadi pemakaian. Kalau tidak, pikirkan Activated Charcoal, Selama perawatan pasien harus diperhatikan supaya tidak terjadi aspirasi.

Langkah III: Mencegah komplikasi:

Perhatikan tanda-tanda vital dan depresi pernafasan, aspirasi dan edema paru.

Bila sudah terjadi aspirasi, berikan antibiotik

Bila pasien berusaha bunuh diri, maka dia harus ditempatkan di tempat khusus dengan pengawasan perawat.

5.6. Intoksikasi Halusinogen

Intervensi Non Farmakologik : .

o

Lingkungan yang tenang, aman dan mendukung

o

Reassurance : bahwa obat tersebut menimbulkan gejala-gejala itu; dan ini akan hilang dengan berjalannya waktu (talking down)

Intervensi Farmakologik:

o Bila terjadi bad trip (rasa tidak nyaman) atau serangan panik; berikan anti ansietas : Diazepam 10-30 mg oral

5.7. Intoksikasi Inhalansia

Pertahankan agar pernafasan berlangsung dengan baik agar tidak kekurangan oksigen

Tidak ada antidotum yang spesifik

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  Simptomatik  Pasien dengan gangguan neurologik yang nyata, misalnya

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Simptomatik

Pasien dengan gangguan neurologik yang nyata, misalnya neuropati atau persistent ataxia, harus dievaluasi sebagaimana mestinya dan follow up yang ketat.

b. Rawat Jalan :

Model Tradisional : model layanan ini sama seperti layanan penyakit lain, dokter hanya melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik dan kemudian pengobatan farmakoterapi sesuai dengan diagnosis kerja. Tenaga yang dibutuhkan hanya satu orang dokter dan satu orang perawat yang telah terlatih masalah gangguan penggunaan Napza

Model Komprehensif/Holistik : model ini menyatukan layanan dari berbagai

lain;

psikiater, dokter umum terlatih, psikolog klinis, pekerja sosial, perawat terlatih, konselor. Bilamana pasien mengalami suatu komplikasi medis dapat dirujuk kepada spesialis lain sesuai dengan hasil pemeriksaan medis. Dalam layanan ini

profesi

sesuai

dengan

kebutuhan

pasien.

Profesi

yang

terlibat

antara

jenis intervensi yang dapat diberikan adalah :

- Farmakoterapi

- Konseling

- Psikoterapi individual dengan pendekatan khusus seperti Terapi Kognitif dan Perilaku

- Terapi kelompok

- Terapi Keluarga

- Evaluasi Psikologis

- Evaluasi Sosial

Dalam intervensi psikososial minimal dapat diberikan konseling umum, untuk pasien yang mempunyai risiko tinggi terpapar HIV dapat diberkan layanan VCT (Voluntary Counseling and Testing) dan edukasi tentang berbagai penyakit terkait dengan penggunaan NAPZA khusunya NAPZA dengan cara suntik. Bilamana sudah memiliki dokter yang terlatih dalam CST (Care, Support and Treatment),maka poliklinik dapat memberikan layanan pengobatan untuk Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).

c. Layanan rumatan, merupakan suatu layanan jangka panjang untuk pasien dengan ketergantungan opioida/heroin. Layanan ini harus memenuhi kriteria sesuai dengan pedoman yang telah dibuat secara nasional. Beberapa jenis terapi rumatan bagi ketergantungan opioida yang ada adalah:

1.

Metadon

- Merupakan opioida sintetik yang bekerja long acting (24-36 jam) Digunakan di Amerika Serikat sejak tahun 60 an

- Bilamana digunakan untuk terapi rumatan (maintenance) tidak menimbulkan eforia, sedasi atau efek analgesik

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA - Dosis adekuat sangat individual - Zat aktif: Metadon Hidrokhlorida -

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- Dosis adekuat sangat individual

- Zat aktif: Metadon Hidrokhlorida

- Zat inaktif: Magnesium stearat dan selulosa

- Bentuk sediaan : tablet: disebut juga Diskettes.

- Setiap tablet mengandung 40 mg. Metadon HCI Liquid, dispensing dengan pompa otomatis sehingga dosis kecil dapat terukur dengan baik. Setiap 1 ml mengandung 10 mg metadon HCI

- Penggunaan iv setara dengan morfln

- Mempunyai cara kerja yang serupa dengan morfin, bekerja pada mu reseptor (depresi pernafasan, ketergantungan flsik dan eforia)

- Oral bioavisbility 80 - 90%, artinya bila digunakan melalui oral akan diserap tubuh sebesar 80-90%

- Oiabsorbsi secara perlahan setalah 30 menit pemberian dan mencapai efek puncak 2-4 jam

- Dengan pemberian dosis yang berulang waktu paruh rata-rata 22 jam

2. Buprenorfin

- Buprenorfin merupakan derivat tebain (dalam hukum diklasifikasikan sebagai narkotika)

- Memiliki sifat partial agonist

- Potensi kuat dengan cara kerja 24 jam pada dosis lazim dan 12 jam pada dosis minimal

- Pemberian secara sublingual dengan rasa yang sedikit pahit

- Memberikan efek agonis yang cukup dirasakan oleh pasien

- Tersedia dalam bentuk tablet dengan dosis 2 mg dan 8 mg

- Masa kerja lama bila digunakan untuk pengobatan ketergantungan opioida berbeda dengan efek analgesiknya yang singkat

- Afinitas yang tinggi terhadap mu-reseptor opioida

- Bersaing dengan opioida lain dan memblok efek opioida lain

- Disosiasi yang lambat dari mu-reseptor opioida

- Efek terapeutik yang lebih lama pada pengobatan ketergantungan opioida (berbeda dengan efek analgetik yang relatif singkat)

3. Levo Alfa Asetil Metadol (LAAM)

- Merupakan opioida sintetis agonis yang sama efeknya dengan metadon

- Perubahan rantai kimia menyebabkan efek kerja LAAM lebih lama dari

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA metadon - Waktu kerja mencapai 72 jam (3 hari) sehingga pemberian

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

metadon

- Waktu kerja mencapai 72 jam (3 hari) sehingga pemberian hanya dilakukan 3 hari sekali

- Mengingat efek toksik yang cukup tinggi LAAM saat ini jarang digunakan

Suboxone

- Merupakan kombinasi antara Buprenorfin sembilan bagian dengan Nalokson satu bagian (antagonis opioida)

- Cara kerja, farmakodinamik, cara penggunaan, dosis dan cara penggunaan sama dengan Buprenorfin

- Obat ini sulit untuk disalahgunakan (disuntikan) karena adanya antagonis opioida akan melepas ikatan opioida pada mu-reseptor sehingga. akan timbul gejala putus opioida

d. Rawat Inap, tidak semua pasien memerlukan rawat inap. Rawat inap diperuntukkan bagi pasien yang kondisi fisik maupun psikologisnya sulit untuk diatasi dengan rawat jalan seperti : kondisi putus NAPZA berat, putus NAPZA yang memerlukan tapering off pengobatan (Alkohol, Benzodiazepin) atau adanya penyulit baik secara fisik maupun mental.

4.

Detoksifikasi, Rehabilitasi, Rawat Komplikasi Fisik dan Psikiatrik;

1.

Detoksifikasi

Merupakan suatu langkah awal dalam proses pemulihan

Bertujuan mengatasi kondisi putus NAPZA

Tidak semua pasien memerlukan perawatan detoksifikasi dengan rawat inap, hanya pada kondisi putus NAPZA berat untuk heroin, benzodiazepin dan alkohol atau adanya komplikasi fisik maupun psikologis

Untuk ruangan kondisinya sebaiknya terpisah dengan bangsal penyakit lain karena kemungkinan akan mengganggu pasien lainnya

Detoksifikasi biasanya dilakukan dengan standar minimal dengan simptomatis, apabila memungkinkan dikembangkan untuk detokisifikasi dengan zat substitusi atau UROD (Ultra Rapid Opioid Detoxification)

Beberapa jenis detoksifikasi yang dapat diberikan untuk beberapa jenis NAPZA akan dijelaskan dibawah ini.

1.1.

Putus Opioida

Putus seketika (Abrupt Withdrawal )

Simptomatik, sesuai gejala klinis beri analgetika (Tramadol, Asam Mefenamat, Parasetamol), Spasmolitika (Papaverin), Dekongestan, Sedatif-Hipnotik, Antidiare

Subtitusi dengan golongan Opioida : Kodein, Metadon, Buprenorfin yang diberikan secara tapering off. Untuk Metadon dan Buprenorfin terapi dapat dilanjutkan untuk jangka panjang (Rumatan)

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  Subtitusi non opioida ; Klonidin dengan dosis 17mcg/Kg.BB dibagi dalam

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Subtitusi non opioida ; Klonidin dengan dosis 17mcg/Kg.BB dibagi dalam 3-4 dosis diberikan selama 10 hari dengan tapering off 10%/hari, perlu pengawasan tekanan darah. bila sistole kurang dari lOOmmHg atau diastole kurang 70 mmHg HARUS DIHENTIKAN

Pemberian Sedatif-Hipnotika, Neuroleptika (yang memberi efek sedatif, mis ; klozapine 25 mg) dapat dikombinasikan dengan obat-obat lain

Ultra Rapid Opioid Detoxification (UROD):

- Merupakan detoksifikasi cepat dangan menggunakan anaestesi atau dalam kaadaan tidak sadar saat melepaskan ikatan opioida dari mu- reseptor dengan menggunakan antagonis opioida yaitu Nalokson injeksi

- Harus dilakukan dalam ruang Intensif Care Unit (ICU) karena harus dalam pengawasan dokter dengan monitor terpasang di tubuh selama pasien tidak sadar

- Setelah seletsi pasien harus menaruskan pengobatan oral dengan Naltrekson 50 mg/hari selama 6 bulan sampai 2 tahun sesuai dengan kondisi klinis pasien

1.2. Putus Amfetamin atau Napza yang serupa

- Observasi 24 jam untuk menilai kondisi fisik dan psikiatrik

- Rawat inap diperlukan apabila gejala psikotik berat. gejala depresi berat atau Kecenderungan bunuh diri, dan kompllkasi flsik lain

- Terapi : Antipsikotik (Haloperidol 3 x 1,5-Smg, Risperidon 2 x 1,5-3 mg), Antiansietas (Alprazolam 2 X 0,25-0,5 mg, Diazepam 3 x 5-10 mg, Clobazam 2 x 10 mg) atau Antidepresi golongan SSRI atau Trisiklik/Tetrasiklik sesuai kondisi klinis

1.3. Putus Alkohol

- Pemberian cairan atas dasar hasil pemeriksaan elektrolit dan keadaan umum pasien

- Atasi kondisi gelisah dan agitasinya dengan golongan Benzodiazepin atau Barbiturat

- Pemberian injeksi vitamin B kompleks dosis besar (mis : Vitamin neurotropik) kemudian dilanjutkan dengan pemberian oral vitamin B1, multivitamin dan Asam Folat 1 mg

- Bila ada riwayat kejang, putus alkohol atasi dengan Benzodiazepin (Diazepam 10 mg iv perlahan). Dapat juga diberikan Tiamine 100 mg ditambah 4 mg Magnesium Sulfat dalam 1 liter dari 5% Dekstrosa / normal saline selama 1 -2 jam

- Bila terjadi Delirium Tremens HARUS ADA ORANG YANG SELALU MENGAWASI.

1.4. Putus Sedatif-Hipnotik

Abrupt withdrawal ( pelepasan mendadak ) dapat berakibat fatal karena

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA itu tidak dianjurkan.  Gradual withdrawal (pelepasan bertahap) dianggap lebih

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

itu tidak dianjurkan.

Gradual withdrawal (pelepasan bertahap) dianggap lebih rasional, dimulai dengan memastikan dosis toleransi, disusul dengan pemberian suatu sedatif: Benzodiazepin atau Barbiturat ( Pentotal, Luminal) dalam jumlah cukup banyak sampai terjadi gejala-gejala intoksikasi ringan, atau sampai kondisi pasien tenang. Lalu diteruskan selama beberapa hari sampai keadaan pasien stabil, kemudian baru dimulai dengan penurunan dengan kecepatan maksimal 10 % per 24 jam sampai dosis sedatif nol. Bila penurunan dosis menyebabkan pasien gelisah / insomnia/ agitatif atau kejang, ditunda sampai keadaan pasien stabil, setelah itu penurunan dosis dilanjutkan.

Untuk keadaan putus Barbiturat, dapat diberikan obat yang biasa digunakan oleh pasien. Penurunan dosis total 10 % per hari, maksimal 100 mg/hari,

Teknik substitusi Fenobarbital (Luminal):

- Digunakan Luminal sebagai pengganti, atau barbiturat masa kerja lama yang lain. Sifat long acting akan mengurangi fluktuasi pada serum yang terlalu besar, memungkinkan digunakannya dosis kecil yang lebih aman. Waktu paruhnya antara 12-24 jam , dosis tunggal sudah cukup. Dosis letal 5 kali lebih besar daripada dosis toksis dan tanda-tanda toksisitasnya lebih mudah diamati (sustained nystagmus, slurred speech/cadel dan ataxia). Intoksikasi Luminal biasanya tidak menimbulkan disinhibisi, karenanya jarang menimbulkan problema tingkah laku yang umum dijumpai pada Barbiturat short acting. Kadang-kadang pasien tidak bersedia dberikan Luminal. Dosis Luminal tidak boleh melebihi 500 mg sehari berapa besarnya sekalipun dosis Barbiturat yang diakui pasien dalam anamnesis. Rumus yang dipakai:

Satu dosis sedatif = satu dosis hipnotik (short acting Barbiturat yang dipakai)

Kalau timbul toksitas, 1-2 dosis Luminal berikut dihapus, lalu dosis harian dihitung kembali

Daftar Dosis Ekivalen = (untuk detoksifikasi Sedatif Hipnotik lain)

- 30 mg Luminal kira-kira setara dengan :

- 100 mg Pentonal

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA - 500 mg Khloralhidrat - 400-600 mg Meprobamat - 250-300 mg

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- 500 mg Khloralhidrat

- 400-600 mg Meprobamat

- 250-300 mg Metakualon

- 100 mg Chlordiazepoxide

- 50 mg khlorazepat

- 50 mg Diazepam

- 60 mg Flurazepam

Penatalaksanaan dengan tapering off Benzodiazepin

- Berikan salah satu Benzodiazepin (Diazepam,Klobazam. Lorazepam) dalam jumlah cukup.

- Lakukan penurunan dosis (kira-kira 5 mg) setiap 2 hari

- Berikan hipnotika malam saja (misalnya ; Clozapine 25 mg, Estazolam 1-2 mg )

- Berikan vitamin B complex.

- Injeksi Diazepam intramuskuler/intravena 1 ampul (10 mg) bila pasien kejang/agitasi, dapat diulangi beberapa kali dengan selang waktu 30-60 menit.

e. Rehabilitasi, Program dapat dimulai rehabilitasi jamgka pendek dan bila sarana/prasarana dan SDM sudah memenuhi kriteria dapat dikembangkan menjadi program rehabilitasi jangka panjang

1. Short Term ( Jangka Pendek)

Lama perawatan berlangsung antara 1 sampai 3 bulan tergantung dari kondisi dan kebutuhan pasien

Pendekatan yang dapat dilakukan kearah medik dan psikososial

Masalah medik masih menjadi fokus utama, asesmen dilakukan secara lengkap termasuk pemeriksaan penunjang medik

Indikasi diberikan kepada pasien yang memiliki kegiatan rutin (bekerja, sekolah, dsb)

Asesmen yang perlu dilakukan pada model terapi ini antara lain :

- evaluasi masalah penggunaan NAPZA (Jenis, jumlah, lama pemakaian, dampak yang ditimbulkan, keinginan untuk berhenti)

- evaluasi medis: riwayat penyakit, kondisi fisik saat ini dan penyakit- penyakit lain yang terkait dengan penggunaan NAPZA

- evaluasi psikologis melalui wawancara dan tes psikologi

- evaluasi sosial : riwayat keluarga, pendidikan, pekerjaan dan hubungan sosial

- evaluasi tentang kegiatan agama, penggunaan waktu senggang dan kehidupan pribadi lainnya

Untuk melakukan asesmen memerlukan suatu hubungan terapeutik yang

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA terbina antara pasien dengan terapis dan hasil asesmen tersebut menjadi acuan

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

terbina antara pasien dengan terapis dan hasil asesmen tersebut menjadi acuan untuk terapi selanjutnya

Pengobatan dapat dilanjutkan dengan rawat jalan atau bila masalah yang dihadapi pasien khususnya perilaku belum memungkinkan dapat dilanjutkan dengan rehabilitasi jangka panjang

2. Rehabilitasi Jangka Panjang, dalam hal ini yang akan dibahas adalah modalitas terapi Therapeutic Community (TC) yang menggunakan pendekatan perubahan perilaku.

Direkomendasikan bagi pasien yang sudah mengalami masalah penggunaan NAPZA dalam waktu lama dan berulang kali kambuh atau sulit untuk berada dalam kondisi abstinen atau bebas darl NAPZA

TC dapat digambarkan sebagai model yang cocok atau sesuai dengan pasien yang membutuhkan llngkungan yang mendukung dan dukungan lain yang bermakna dalam mempertahankan kondisi bebas NAPZA atau abstinen. Gambaran dari TC adalah sebagai berikut:

a. Program dangan struktur yang tinggi/ketat

b. Umumnya pasien berada dalam program untuk 6-12 bulan

c. Program pengobatan

d. Program pendidikan

e. Latihan ketrampilan sosial dan penerapannya (seringkali pasien mengalami gangguan fungsi kehidupan yang serius)

f. Diarahkan pada pasien yang mempunyai riwayat perilaku kriminal

g. Mengembangkan sistem dukungan yang sesuai kebutuhan pasien

h. Menstabilkan fungsi kehidupan pasien

i. Rehabilitasi vokasional

Program ini mempunyai suatu aturan yang tertulis maupun tidak tertulis yang diistilahkan dengan cardinal rules dan five pilars yang sangat mengikat setiap residen untuk menjalankan dan siap menerima sanksi bila melanggar aturan tersebut ( pasien peserta TC lazim disebut residen )

Tahapan program TC yang harus dijalani oleh setiap residen adalah sebagai berikut:

a. Proses Intake dan Orientasi (2-4 minggu);

- Wawancara awal

- Informed consent

- Pemeriksaan fisik

- Pengisian formulir

- Orientasi program (walking paper}

- Pengenalan program dan fasilitas layanan

b. Primary Stage (6 sampai 9 bulan):

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Untuk Younger Member (anggota termuda 1-3 bulan) - Aktif mengikuti program

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Untuk Younger Member (anggota termuda 1-3 bulan)

- Aktif mengikuti program

- Penerapan sanksi (reward and punishment)

- Dikunjungi keluarga

- Kegiatan Family Support Group

- Kegiatan Kelompok

Untuk Middle Member (anggota menengah 4-6 bulan)

- Mulai bertanggung jawab terhadap sebagian operational fasilitas/rumah

- Menjadi buddy bagi younger member

- Sudah dapat keluar fasilitas TC dengan pendamping

- Kegiatan dalam kelompok

- Dilakukan Family Support Group (FSG)

Untuk Older member (anggota lama 6-8 bulan)

- Sudah bertanggung jawab penuh terhadap rumah/fasilitas.

- Pelaksanaan reward dan punishment secara penuh

- Boleh meninggalkan fasilitas/rumah

- Dilakukan kegiatan FSQ

- Mengikuti kegiatan kelompok

- Dinyatakan graduate/lulus

c. Tahapan Re-Entry (3 sampai 6 bulan):

o

Fase Orientasi (2 minggu);

Pengenalan program re-entry

Didampingi buddy

Tidak boleh dikunjungi keluarga

Tidak boleh meninggalkan fasilitas TC

Sanksi berupa tugas-tugas mengurus fasilitas

Mengikuti kegiatan kelompok

o

Fase A (1,5 - 2 bulan);

Mengikuti kegiatan kelompok

Dapat dikunjungi keluarga setiap waktu

Diberi ijin menginap 1 malam setiap 2 minggu sekali

Boleh menerima uang jajan setiap minggu secara teratur

Boleh melakukan aktifitas di luar fasilitas TC

o

Fase B (2 bulan);

Mengikuti kegiatan kelompok

Dapat dikunjungi setiap waktu

Diberi ijin pulang menginap 2 malam setiap 2 minggu

Boleh meminta tambahan uang jajan

Boleh melakukan aktifitas di luar fasilitas TC

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA o Fase C (2 bulan);  Mengikuti kegiatan kelompok  Dapat

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

o Fase C (2 bulan);

Mengikuti kegiatan kelompok

Dapat dikunjungi setiap waktu

Diberi ijin pulang

Boleh meminta tambahan uang jajan

Boleh melakukan kegiatan di luar fasilitas TC

Konseling final bagi residen maupun keluarga untuk persiapan pulang

d. Aftercare Program

Program yang ditujukan bagi mantan residen/alumni TC, Program ini dilaksanakan di luar fasilitas TC dan dlikuti oleh semua angkatan dibawah supervisi staf re-entry. Tempat pelaksanaan disepakati bersama

Program ini bertujuin agar alumni TC mempunyai tempat/kelompok yang sehat dan mengerti tentang dirinya serta mempunyai lingkungan hidup yang positif

Bentuk kegiatan yang dilakukan adalah :

- Sharing dalam kelompok tanpa ditanggapi

- Meminta anggota untuk menanggapi suatu topik

- Waktu dan tempat pelaksanaan disepakati bersama

e. Intervensi Psikososial, suatu pendekatan yang mengutamakan pada masalah psikologis dan sosial yang disandang oleh pasien dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan pasien menghadapi setiap masalah (Coping Mechanism).

Intervensi psikososial merupakan komponen kunci untuk terapi gangguan penggunaan NAPZA yang komprehensif baik secara individu maupun kelompok

Intervensi ini dapat diberikan pada setiap tahapan terapi baik dalam keadaan intoksikasi sampai pada saat fase rehabilitasi yang disesuaikan dengan kondisi pasien khususnya pasien dengan kesadaran penuh

Untuk melaksanakan intervensi ini diperlukan pelatihan ketrampilan yang khusus dan memenuhi kriteria tertentu sesuai dengan jenis intervensi

Pendekatan psikososial saja bukan yang superior, program terapi harus didesain sesuai kebutuhan pasien dengan mempertimbangkan faktor budaya, umur, gender serta komorbiditas

Beberapa model intervensi psikososial yang dapat dilakukan dalam layanan pengobatan Gangguan penggunaan NAPZA antara lain :

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 1. Brief Intervention (Bl) Brief Intervention dipertimbangkan untuk berbagai kondisi

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

1. Brief Intervention (Bl)

Brief Intervention dipertimbangkan untuk berbagai kondisi yang melibatkan waktu tenaga profesional yang terbatas untuk mencoba merubah penggunaan NAPZA.Berbagai intervensi membutuhkan waktu antara 5 menit sampai 2 jam.

Bl khususnya dapat dipargunakan untuk pelayanan dasar di puskesmas dan dapat juga digunakan di ruang emergensi, bangsal rumah sakit, dan berbagai kondisi layanan kesehatan lain. Intervensi direkomendasikan untuk beberapa kondisi seseorang seperti dibawah ini:

Penggunaan alkohol yang membahayakan tetapi belum ketergantungan

Ketergantungan alkohol ringan sampai sedang

Ketergantungan nikotin/perokok

Ketergantungan kanabis ringan sampai sedang

Bl tidak direkomendasikan untuk kondisi dibawah ini ;

Pasien yang kompleks dengan isu-isu masalah psikologis/ psikiatrik

Pasien dengan ketergantungan berat

Pasien dengan kemampuan membaca yang rendah

Pasien dengan kesulitan terkait dengan gangguan fungsi kognitif

Pada kondisi ini direkomendasikan untuk melakukan wawancara mendalam.

Bl dapat menggunakan barbagai bentuk format tetapi seringkali termasuk:

1. asesmen singkat

2. materi self- help ( materi yang membantu pemahaman NAPZA contoh leaflet tentang penanganan overdosis.cara menyuntik

3. informasi tingkat penggunaan yang aman

4. anjuran untuk mengurangi konsumsi

5. pengurangan dampak buruk

6. pencegahan kekambuhan

7. asesmen untuk kesiapan berubah termasuk wawancara memotivasi

8. Konseling singkat termasuk pemecahan masalah dan tujuan

9. follow -up.

Enam elemen terapi dalam intervensi singkat yang sering digunakan dan berhasil adalah:

F : Feedback memberikan umpan balik hasil asesmen klinis

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA R : Responsibility  meyakinkan bahwa perilaku penggunaan NAPZA dan masalah

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

R

: Responsibility meyakinkan bahwa perilaku penggunaan NAPZA dan masalah yang ditimbulkannya menjadi tanggung jawab individu .

A

: Advice memberikan kejelasan, anjuran praktis dan materi self help

M

: Menu memberikan beberapa opsi dan intervensi dalam perubahan perilaku

E

: Empathy memperlihatkan sikap tidak menghakimi dan menghayati pasien

S

: Self-Efficacy menekankan kepercayaan terhadap kemampuan individu untuk berubah

2. Konseling Dasar

konseling "

penggunaan NAPZA pada kebanyakan pasien

Konseling adalah suatu proses pertolongan dimana seseorang, dengan tulusdan tujuan jelas, memberikan waktu, perhatian dan keahliannya membantu pasien untuk mempelajari situasi mereka, mengenali dan melakukan pemecahan masalah terhadap keterbatasan yang diberikan lingkungan mereka.

Tujuan dan fungsi konseling ;

sendiri biasanya tidak cukup untuk merubah perilaku

,"

Membantu pasien untuk mempelajari dan memperoleh solusi jangka panjang yang memuaskan bagi masalah-masalah yang dialaminya.

Fungsi Utama Konseling ;

1. Menyampaikan informasi penting

2. Membantu pasien mengklarifikasi dan menempatkan masalah

3. Membantu pasien memilih dan mengambil pendekatan realistik

4. Memberikan dukungan psikomotor melalui ketrampilan komunikasi

Konselor membuat suatu kondisi dimana pasien dapat menjadi teman baik melalui pikiran dan perasaan mereka

Konselor tidak memberikan nasehat, tetapi membantu orang untuk:

o

Mampu mengerti perasaan mereka

o

Menemukan dan memilih alternatif yang nampaknya paling baik bagi mereka

Karakteristik konseling adalah :

 MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA - Merupakan suatu proses interaktif - Merupakan hubungan yang interaktif -

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

- Merupakan suatu proses interaktif

- Merupakan hubungan yang interaktif

- Berdasarkan pada kolaborasi

- Melibatkan berbagai ketrampilan konselor

- Menekankan pada kebebasan personal Menekan-kan pilihan

- Menggunakan penguatan positif Menggunakan dukungan emosional

- Pencatatan secara formal

Dalam proses konseling agar terbangun suatu hubungan terapeutik seorang konselor harus mampu

Melakukan percakapan yang efektif:

- Mendengarkan dengan aktif

- Mencoba mengerti perasaan pasien

- Menanyakan pertanyaan yang baik

- Menghargai pasien maupun perasaan pasien, dan tidak memaksanya berubah

- Tidak menyalahkan atau menghakimi

- Mehyediakan informasi yang tepat

- Menyatakan bahwa pasien tidak sendiri menghadapi masalah untuk mencegah pasien merasa gagal atau ditolak

Memahami prinsip-prinsip umum dalam konseling

3. Wawancara Motivasional (Motivational Interviewing -Ml)

Motivasi adalah suatu keadaan kesiapan atau keinginan untuk berubah, selalu berfluktuasi dari waktu ke waktu atau dari situasi kesituasi lain. Dasar pemikiran atau alasan melakukan wawancara motivasional ini adalah bahwa untuk mencapai perubahan adalah lebih mudah bila motivasi untuk berubah tersebut datang dari dalam dirinya sendiri, dari pada dipaksakan oleh konselor atau terapis.

Wawancara motivasionil adalah sebuah wawancara yang interaksinya berpusat pada pasien dan bertujuan untuk membantu seseorang menggali dan mengatasi ambivalensi tentang penggunaan NAPZA melalui tahap perubahan. Ini sangat berguna bila dilakukan pada pasien yang berada pada tahap prekontemplasi dan kontemplasi, tapi prinsip dan keterampilan wawancara sangat penting pada semua tahap.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Wawancara motivasional didasari pada pengertian bahwa:  Pengobatan yang efektif

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Wawancara motivasional didasari pada pengertian bahwa: