Anda di halaman 1dari 16

TEKNIK MEMBUAT AWETAN BASAH DAN AWETAN KERING

Pembuatan awetan spesimen diperlukan untuk tujuan pengamatan spesimen secara praktis tanpa harus mencari bahan segar yang baru. Terutama untuk spesimen-spesimen yang sulit di temukan di alam. Awetan spesimen dapat berupa awetan basah atau kering. untuk awetan kering, tanaman diawetkan dalam bentuk herbarium, sedangkan untuk mengawetkan hewan dengan sebelumnya mengeluarkan organ-organ dalamnya. Awetan basah, baik untuk hewan maupun tumbuhan biasanya dibuat dengan merendam seluruh spesimen dalam larutan formalin 4%. A. 1. Cara Pembuatan Awetan Kering Awetan pada tumbuhan a. Membuat Herbarium Awetan kering tumbuhan disebut herbarium, alat dan bahan yang digunakan yaitu: 1) 2) 3) 4) 5) karton/duplek kertas Koran sasak dari bambu/tripleks sampel tanaman alat tulis

Cara pembuat herbarium yaitu sebagai berikut: 1) Jika memungkinkan, kumpulkan tumbuhan secara lengkap, yaitu akar, batang, daun dan bunga. Tubuhan berukuran kecil dapat diambil seluruhnya secara lengkap. Tumbuhan beukuran besar cukup diambil sebagian saja, terutama ranting, daun, dan jika ada, bunganya.
1

2)

Semprotlah dengan alcohol 70% untuk mencegah pembusukan oleh bakteri dan jamur.

3) 4)

Sediakan beberapa kertas Koran ukuran misalnya 32 48 cm. Atur dan letakkan bagian tumbuhan diatas Koran. Daun hendaknya menghadap ke atas dan sebagian menghadap ke bawah terhadap kertas Koran tersebut. Agar posisinya baik,dapat dibantu dengan mengikat tangkai/ranting dengan benang yang dijahitkan ke kertas membentuk ikatan.

5)

Tutup lagi dengan Koran. Deikian seterusnya hingga kalian dapat membuat beberapa lembar.

6)

Terakhir tutup lagi dengan Koran, lalu jepit kuat-kuat dengan kayu/bamboo, ikat dengan tali. Hasil ini disebut specimen.

7)

Simpan selama 1-2 minggu ditempat kering dan tidak lembab.

Catatan: a) Di udara lembab, specimen dijemur dibawah terik matahari atau didekat api. b) Secara periodic gantilah kertas Koran yang lembab/basah dengan yang kering beberapa kali. Kertas yang lembab dapat dijemur untuk digunakan beberapa kali. c) Jangan menjemur dengan membuka kertas Koran yang menutupinya. Menjemur specimen tidak boleh terlalu lama sebab proses pengeringan yang terlalu cepat hasilnya kurang baik. d) Jika telah kering, ambil specimen tumbuhan dan tempelkan di atas kertas karton ukuran32 48 cm. Caranya harus pelan-pelan dan hatihati. Bagian-bagian tertentu dapat diisolasi agar dapat melekat pada kertas herbarium.
2

e) Buatlah tabel yang memuat: nama kolektor, nomor koleksi (jika banyak), tanggal,nama specimen (ilmiah, daerah), nama suku/famili dan catatan khusus tentang bunga, buah atau ciri lainnya. f) Tutup herbarium dengan plastic. g) Jika disimpan, tumpukan herbarium harus diberi kapur barus (kamfer) Awetan book. yang telah pada dibuat kemudian dimasukkan dalam daftar

inventaris koleksi. Pencatatan dilakukan kedalam field book/collector sedangkan herbarium keterangan tentang tumbuhan dicantumkan dalam etiket. Dalam herbarium ada dua macam etiket, yaitu etiket gantung yang berisi tentang; nomer koleksi, inisial nama kolektor, tanggal pengambilan spesimen dan daeran tingkat II tempat pengambilan (untuk bagian depan) dan nama ilmian spesimen (untuk bagian belakang). Pada etiket tempel yang harus dicantumkan antara lain; kop( kepala surat) sebagai pengenal indentitas kolektor/lembaga yang menaungi, (No)nomer koleksi,(dd)tanggal ambil, familia, genus, spesies, Nom. Indig(nama lokal), (dd) tanggal menempel, (determinasi)nama orang yang mengidentifikasi spesimen itu, (insula) pulau tempat mengambil, (m. alt) ketinggian tempat pengambilan dari permukaan air laut, (loc) kabupaten tempat pengambilan, dan (annotatione) deskripsi spesimen tersebut.

2.

Awetan pada hewan

Taksidermi

adalah

hewan

hasil

pengawetan,

biasanya

golongan

vertebrata yang dapat dikuliti. Pada pembuatan taksidermi, hewan dikuliti, organ-organ dalam dibuang, untuk selanjutnya dibentuk kembali seperti bentuk aslinya. Ewan-hewan vertebrata yang sering dibuat taksidermi misalnya berbagai jenis mamalia, kadal atau reptil, dsb.
3

Taksidermi

seringkali

dipergunakan

sebagai

bahan

referensi

untuk

identifikasi hewan vertebrata, juga menunjukkan berbagai macam ras yang dimiliki suatu spesies. Selain itu, tentu saja taksidermi dapat dijadikan sebagai media pembelajaran biologi. Alat dan bahan yang diperlukan antara lain: (1) bak bedah; (2) alat-alat bedah seperti gunting dan pinset; (3) alat-alat dan bahan pembius misal kloroform dan sungkup; (4) kawat, benang, kapas, dan jarum jahit; (5) zat pengawet seperti boraks atau tepung tawas, formalin; (6) air.

Cara pembuatan taksidermi adalah sebagai berikut. a. Potong otot-otot paha dan pisahkan tulang paha dari persendian dan pangkal paha, keluarkan bagian ini. b. Potonglah otot-otot pada tumit, keluarkan jaringan lunak pada telapak kaki dengan jalan mengirisnya. Keluarkan semua bagian kaki lainnya yang masih tertinggal di dalam kulit. c. Ulangi langkah pertama dan kedua di atas untuk bagian tangan, dan ekor. d. Untuk bagian kepala, lepaskan kulit secara hati-hati, sertakan telinga, kelopak mata pada kulit. Jaga jangan sampai robek. Potonglah tulang rawan hidung dan biarkan melekat pada kulit.

e.

Potonglah bagian kepala dan leher, bersihkan bekas-bekas otak dengan cara menyemprotkan air.

f. g.

Balikkan kulit dan bersihkan dari sisa daging dan lemak. Basuh bagian permukaan dalam kulit tubuh dengan boraks, demikian pula untuk ekor, kaki, tangan dan tengkorak kepala.

h.

Sebagai pengganti mata, gunakan bola mata tiruan. Bentuk tubuh hewan kembali dengan menggunakan kapuk dan kawat, lalu jahit dengan rapi.

i.

Atur posisi hewan sebagaimana kebiasan hewan sewaktu masih hidup. Pajang taksidermi pada tempat-tempat yang aman dan terhindar dari serangan serangga, bersih dan kering. Insektisida, atau kamper (naftalen) dapat ditambahkan untuk mencegah serangan jamur. Ada baiknya taksidermi disimpan dalam boks kaca.

Kerangka katak yang diawetkan dapat digunakan untuk media pembelajaran macam-macam bentuk tulang. Cara membuat awetan rkering angka katak adalah sebagai berikut: a. Lepaskan semua kulit dan daging dari tulang secara hati-hati. Jangan sampai persendian terputus. Upayakan sebersih mungkin, sampai daging yang melekat pada rangka seminimal mungkin. b. Rendam rangka katak dalam bubur kapur. Bubur kapur dapat dibuat dengan melarutkan CaO ke dalam air, dengan menambahkan sedikit KOH. c. d. Bila tulang telah bersih, cucilah bubur kapur dari rangka. Keringkan rangka dan atur posisinya pada suatu landasan yang telah disediakan terlebih dahulu.
5

e.

Pernis rangka katak tersebut, sehingga tampak lebih menarik dan membuat tulang-tulang menjadi lebih awet.

f.

Beri label atau keterangan pada awetan yang sudah jadi tersebut

Membuat insektarium Insectarium adalah sampel jenis serangga hidup yang ada di kebun binatang, atau museum atau pameran tinggal serangga. Insectariums sering menampilkan berbagai jenis serangga dan arthropoda yang mirip, seperti laba-laba, kumbang, kecoa, semut, lebah, kaki seribu, kelabang, jangkrik, belalang, serangga tongkat, kalajengking dan Belalang sembah alat2 dan bahan2nya mungkin belum tercantum, tetapi mungkin ini sangat membantu. a. Tangkaplah serangga dengan menggunakan jaring serangga. Hati-hati terhadap serangga yang berbahaya. b. Matikan serangga dengan jalan memasukkannya ke dalam kantong plastik yang telah diberi kapas yang dibasahi kloroform. c. Serangga yang sudah mati dimasukkan ke dalam kantong atau stoples tersendiri. Kupu2 dan capung dimasukkan ke dalam amplop dengan hati2 agar sayapnya tidak patah. d. Suntiklah badan bagian belakang serangga dengan formalin 5%. Sapulah (dengan kuas) bagian tubuh luar dengan formalin 5%. e. Sebelum mengering, tusuk bagian dada serangga dengan jarum pentul. f. Pengeringan cukup dilakukan di dalam ruangan pada suhu kamar. Tancapkan jarum pentul pada plastik atau karet busa.

g.

Untuk belalang, rentangkan salah satu sayap ke arah luar. Untuk kupu-kupu, sayapnya direntangkan pada papan perentang atau kertas tebal sehingga tampak indah. Begitu juga capung.

h.

Setelah kering, serangga dimasukkan ke dalam kotak insektarium (dari karton atau kayu). Di dalamnya juga dimasukkan kapur barus (kamper).

i.

Beri label (di sisi luar kotak) yang memuat catatan khusus lainnya.

B. 1.

Cara Pembuatan Awetan Basah Awetan pada tumbuhan

Berikut ini adalah langkah-langkah untuk membuat media pembelajaran berupa awetan basah tumbuhan lumut. a. Bersihkan kotoran dan tanah dari tumbuhan lumut yang ingin diawetkan. b. Siapkan larutan fiksatif dengan komposisi: (1) asam asetat glasial sebanyak 5 ml; (2) formalin sebanyak 10 ml; (3) etil alkohol sebanyak 50 ml. Selanjutnya untuk mempertahankan warna hijau lumut, dapat pula ditambahkan ke dalam larutan fiksatif tadi larutan tembaga sulfat dengan komposisi: (1) tembaga sulfat 0,2 gram; dan (2) aquades sebanyak 35 ml. c. Matikan lumut dengan merendamnya ke dalam larutan fiksatif yang telah ditambahkan larutan tembaga sulfat tadi. Biasanya diperlukan 48 jam perendaman.

d.

Siapkan tempat berupa botol penyimpanan yang bersih, kemudian isi dengan alkohol 70% sebagai pengawetnya.

e.

Masukkan lumut yang telah siap tadi dalam botol penyimpanan, atur posisinya sehingga mudah diamati.

f.

Buatkan label berupa nama spesies lumut tanpa mengganggu pengamatan.

g.

Awetan basah tumbuhan lumut siap digunakan. Secara berkala atau bila perlu, misalnya larutan menjadi keruh atau berkurang, gantilah dengan larutan pengawet yang baru secara hati-hati.

2.

Awetan pada hewan Berikut ini langkah-langkah membuat awetan basah.

a. b. c.

Siapkan spesimen yang akan diawetkan. Sediakan formalin yang telah diencerkan sesuai dengan keinginan. Masukkan spesimen pada larutan formalin yang telah ada dalam botol jam dan telah diencerkan.

d.

Tutup rapat botol dan kemudian diberi label yang berisi nama spesimen tersebut dan familinya.

Cara Membuat Taksidermi (Awetan Kering Hewan) Taksidermi adalah hewan hasil pengawetan, biasanya golongan vertebrata yang dapat dikuliti. Pada pembuatan taksidermi, hewan dikuliti, organ-organ dalam dibuang, untuk selanjutnya dibentuk kembali seperti bentuk aslinya. Ewan-hewan vertebrata yang sering dibuat taksidermi misalnya berbagai jenis mamalia, kadal atau reptil, dsb. Taksidermi seringkali dipergunakan sebagai bahan referensi untuk identifikasi hewan vertebrata, juga menunjukkan berbagai macam ras yang dimiliki suatu spesies. Selain itu, tentu saja taksidermi dapat dijadikan sebagai media pembelajaran biologi. Alat dan bahan yang diperlukan antara lain: (1) bak bedah; (2) alat-alat bedah seperti gunting dan pinset; (3) alat-alat dan bahan pembius misal kloroform dan sungkup; (4) kawat, benang, kapas, dan jarum jahit; (5) zat pengawet seperti boraks atau tepung tawas, formalin; (6) air. Cara pembuatan taksidermi adalah sebagai berikut.

Pertama: Potong otot-otot paha dan pisahkan tulang paha dari persendian dan pangkal paha, keluarkan bagian ini.

Kedua: Potonglah otot-otot pada tumit, keluarkan jaringan lunak pada telapak kaki dengan jalan mengirisnya. Keluarkan semua bagian kaki lainnya yang masih tertinggal di dalam kulit.

Ketiga: Ulangi langkah pertama dan kedua di atas untuk bagian tangan, dan ekor.

Keempat: Untuk bagian kepala, lepaskan kulit secara hati-hati, sertakan telinga, kelopak mata pada kulit. Jaga jangan sampai robek. Potonglah tulang rawan hidung dan biarkan melekat pada kulit. Potonglah bagian kepala dan leher, bersihkan bekas-bekas otak dengan cara menyemprotkan air.

Kelima: Balikkan kulit dan bersihkan dari sisa daging dan lemak.

Keenam: Basuh bagian permukaan dalam kulit tubuh dengan boraks, demikian pula untuk ekor, kaki, tangan dan tengkorak kepala.

Ketujuh: Sebagai pengganti mata, gunakan bola mata tiruan. Bentuk tubuh hewan kembali dengan menggunakan kapuk dan kawat, lalu jahit dengan rapi.

Kedelapan: Atur posisi hewan sebagaimana kebiasan hewan sewaktu masih hidup.

Kesembilan: Pajang taksidermi pada tempat-tempat yang aman dan terhindar dari serangan serangga, bersih dan kering. Insektisida, atau kamper (naftalen) dapat ditambahkan untuk mencegah serangan jamur. Ada baiknya taksidermi disimpan dalam boks kaca.

10

Sedian Preparat Obyek yang akan diamati dengan mikroskop disebut preparat/sediaan. Sediaan dapat dibuat melalui pengirisan atau tanpa melalui pengirisan. Berikut uaraian cara membuat sediaan dengan irisan dan tanpa pengirisan. 1. Membuat irisan melintang dan membujur a. Membuat irisan melintang Setiap irisan yang akan diamati di mikroskop harus dibuat setipis mungkin agar cahaya dapat menembus sehingga dapat terbentuk bayangan dengan baik. Cara membuat irisan melintang batang adalah sebagai berikut : 1) Dengan menggunakan silet yang tajam, potonglah tipis-tipis batang secara melintang. 2) Letakkan irisan batang diatas kaca obyek, kemudian teteskan air dengan menggunakan pipet. 3) Letakkan satu bagian kaca penutup membentuk sudut dengan kaca obyek, segera tutup dan usahakan agar tidak terbentuk gelembung udara. Amati menggunakan mikroskop. b. Membuat irisan membujur Potonglah batang tersebut memanjang menjadi dua bagian sama besar. Kemudian irislah tipis-tipis memanjang pada potongan batang. (lihat gambar). Letakkan irisan pada kaca obyek, kemudian teteskan air dengan menggunakan pipet. Letakkan satu bagian kaca penutup membentuk sudut dengan kaca obyek, segera tutup dan usahakan agar tidak terbentuk gelembung udara. Amati menggunakan mikroskop. c. Membuat irisan dengan memakai gabus Jika kamu mengalami kesulitan mendapatkan irisan yang tipis, kamu dapat memakai gabus. Gabus dipakai untuk menjepit potongan batang, daun, atau lainnya sehingga tidak bergerak saat dipotong.( Lihat gambar)

11

2. Membuat sediaan tanpa pengirisan Pembuatan sediaan tanpa pengirisan ada bermacam-macam, antara lain: a. Sediaan Daun Hydrilla Cara membuat sediaan daun Hydrilla adalah sebagai berikut: 1) Sediakan kaca obyek dan kaca penutup yang bersih 2) Letakkan kaca obyek mendatar diatas meja. Tetesi dengan setetes air melalui pipet. 3) Ambil satu daun hydrilla yang masih muda, kemudian letakkan diatas tetesan air. 4) Tutup dengan kaca penutup. Usahakan tidak terdapat gelembung udara di sediaan tersebut 5) Sediaan siap diamati menggunakan mikroskop b. Sediaan Epidermis Bawang Merah Cara membuat sediaan epidermis bawang merah adalah sebagai berikut: 1) Sediakan kaca obyek dan kaca penutup bersih. Tetesi dengan setetes air dengan menggunakan pipet. 2) Sediakan umbi bawang merah, pilih yang kulitnya tidak mengering. Lepaskan kulit umbi bawang dengan piset atau kuku jari sehingga diperoleh kulit tipis transparan yang merupakan epidermis. 3) Letakkan epidermis (kulit) bawang merah di kaca obyek dan tetesi dengan setetes larutan iodin menggunakan pipet ( jangan sampai epidermis bawang tadi mengering) 4) Tutup dengan kaca penutup. Usahakan jangan ada gelembung udara didalamnya. 5) Sediaan siap diamati menggunakan mikroskop. A. Membuat Awetan Kering Awetan kering tumbuh-tumbuhan disebut Herbarium, sedangkan awetan kering serangga disebut Insectarium. Hewan vertebrata dapat diawetkan dengan membuang otot dagingnya sehingga tinggal kulit dan rangkanya. Selanjutnya hewan diisi dengan kapas atau kapuk dan dibentuk sesuai aslinya. Awetan demikian disebut taksidermi.
12

Dalam uraian berikut, kalian dapat mempelajari cara mengawetkan tumbuhan (herbarium) dan insecta (Insectarium) a. Cara membuat Herbarium Cara membuat herbarium adalah sebagai berikut. 1. Jika memungkinkan, kumpulkan tumbuhan secara lengkap, yaitu ada bagian akar, batang, daun dan bunga. Tumbuhan berukuran kecil dapat diambil seluruhnua secara lengkap. Tu,buhan berukuran besar cukup diambil sebagian saja, terutama ranting, daun dan jika ada bunganya. 2. Semprotlah dengan alkohol 70% untuk mencegah pembusukan oleh bakteri dan jamur 3. Sediakan beberapa kertas koran, ukurannya misal 32 x 48 cm. 4. Atur dan letakkan bagian tumbuhan diatas koran. Daun hendaknya menghadap keatas dan sebagian menghadap ke bawah terhadap kertas koran tersebut. Agar posisinya baik, dapat dibantu dengan mengikat tangkai atau ranting dengan benang yang dijahitkan ke kertas membentuk ikatan . 5. Tutup lagi dengan koran. Demikian seterusnya hingga kalian dapat membuat beberapa lembar. 6. Terakhir tutup lagi dengan koran, lalu jepit kuat-kuat dengan kayu atau bambu, ikat dengan tali. Hasil ini disebut spesimen. 7. Simpan selama 1-2 minggu di tempat yang kering dan tidak lembap. Catatan : a) Di lingkungan yang udaranya lembap, spesimen dijemur di bawah terik matahari atau di dekat api. b) Secara periodik, gantilah kertas koran yang lembap atau basah dengan yang kering beberapa kali. Kertas yang lembab dapat dijemur untuk digunakan berulang kali. c) Jangan menjemur spesimen dengan membuka kertas koran yang menutupinya. Menjemur spesimen tidak boleh terlalu lama sebab proses pengeringan yang terlalu cepat hasilnya kurang baik 8. Jika telah kering, ambil spesimen tumbuhan dan tempelkan diatas kertas karton ukuran 32 x 48 cm. Caranya harus pelan dan hati-hati.
13

Bagian-bagian tertentu dapat diisolasi agar melekat pada kertas herbarium. 9. Buatlah label yang memuat: nama kolektor, nomor (koleksi (jika banyak), tanggal pengambilan spesimen, nama spesimen (ilmiah, daerah), nama suku (famili) spesimen, dan catatan khusus tentang bunga, buah, atau ciri lainny. 10. Tutup herbarium dengan plastik. 11. Jika disimpan, tumbuhan herbarium harus diberi kapur barus (kamper). b. Cara membuat Insectarium Cara membuat insectarium adalah sebagai berikut: 1. Tangkaplah serangga dengan menggunakan jaring serangga. Hati-hati terhadap serangga berbahaya. 2. Matikan serangga dengan jalan memasukkannya kedalam kantong atu stoples plastik yang telah diberi kapas yang dibasahi kloroform. 3. Serangga yang sudah mati dimasukkan ke dalam kantong atau stoples tersendiri. Kupu-kupu dan capung dimasukkan ke dalam amplop dengan hati-hati agar sayapnya tidak patah. 4. Suntiklah badan bagian belakang serangga dengan formalin 5%. Sapulah bagian tubuh luar dengan formalin 5%. 5. Sebelum mengering, tusuk bagian dada serangga dengan jarum pentul. 6. Pengeringan cukup dilakukan di dalam ruangan pada suhu kamar. Tancapkan jarum pentul pada plastik atau karet busa. 7. Untuk belalang, rentangkan salah satu sayap kearah luar. Untuk kupukupu, sayapnya direntangkan pada papan perentang atau kertas tebal, sehingga tampak indah. Demikian pula untuk capung. 8. Setelah kering, serangga dimasukkan kedalam kotak insectarium (dari karton atau kayu). Ke dalam kotak insectarium dimasukkan kapur barus (kamper). 9. Beri label (tempelkan di sisi luar kotak) yang memuat: nama kolektor,
14

nomor koleksi, tanggal pembuatan, nama serangga (ilmiah, daerah), nama suku (famili) serangga, dan catatan khusus lainnya.

15

DAFTAR PUSTAKA

http://imef.forumscorp.com/t4-sedian-preparat Tanggal akses: 29 Agustus 2011 http://suhadinet.wordpress.com/2009/08/07/cara-membuattaksidermi-awetan-kering-hewan/ Tanggal akses: 29 Agustus 2011 http://mediapendidikanok.blogspot.com/2010/11/pengawetan-hewandengan-taksidermi.html Tanggal akses: 29 Agustus 2011 http://suhadinet.wordpress.com/2009/08/07/cara-membuat-taksidermiawetan-kering-hewan/ Tanggal akses: 29 Agustus 2011 http://www.riobelajar.co.cc/2010/10/pembuatan-herbarium.html Tanggal akses: 29 Agustus 2011 http://suhadinet.wordpress.com/2009/08/27/cara-membuat-awetanbasah-tumbuhan-lumut/ Tanggal akses: 29 Agustus 2011

16