Anda di halaman 1dari 60

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Tujuan didirikannya sebuah perusahaan adalah untuk melanjutkan kegiatan usahanya secara berkelanjutan dan terus-menerus untuk memperoleh laba yang maksimal. Di dalam persaingan dunia bisnis dewasa ini yang semakin kompetitif, di mana para pelaku ekonomi melakukan berbagai upaya agar dapat tampil sebagai pemenang dalam percaturan bisnis. Upaya-upaya yang dilakukan oleh para pelaku bisnis ini sangatlah beragam, diantaranya melakukan perluasan wilayah dalam pendistribusian barang, melakukan peningkatan volume penjualan, serta pengawasan intern dalam saluran kegiatan usahanya. Setiap perusahaan yang melakukan transaksi penjualan secara kredit harus melakukan pencatatan piutang secara teliti, karena setiap para langganannya tentu ingin mengetahui berapa saldo hutangnya pada setiap saat sehingga piutang tersebut perlu diawasi, karena pengawasan yang lemah akan membuat kesalahan, kesilapan dan kecurangan. Perusahaan yang melakukan penjualan secara kredit harus terlebih dahulu memperhatikan berbagai faktor sebagai berikut: 1. keuntungan yang diperoleh perusahaan melalui penjualan yang dilakukan secara kredit.

2. kemampuan membayar dari calon konsumen yang akan memperoleh secara kredit, hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi kerugian yang mucul dari ketidak mampuan melunasi kreditnya. 3. Kemampuan perusahaan dalam menagih dan mencatat penagihan tersebut secara tepat dan terus menerus. 4. kebijaksanaan yang ditempuh perusahaan terhadap adanya piutang tak tertagih. PT. Mulia Prima Sentosa merupakan perusahaan yang bergerak di bidang distribusi barang dagangan, dimana perusahaan melakukan penjualan secara kredit, dimana akan menimbulkan piutang di pihak perusahaan. Sering sekali terjadi penunggakan atau batas jatuh tempo pada piutang perusahaan. Hal ini menyebabkan pihak manajemen mengalami kesulitan dalam hal penagihan serta pencatatan tentang penjualan. Dalam aktivitasnya, PT. Mulia Prima Sentosa Medan melakukan transaksi penjualan secara kredit, yang membutuhkan pengawasan dalam kegiatannya. Setelah di lakukan penelitian dan pengamatan, penulis dapat menyimpulkan bahwa : 1. Dalam penjualan secara kredit perusahaan kurang melakukan pengawasan terhadap karyawan, khususnya bagian penagihan atau salesman, hal ini terjadi hanya pada toko atau agen luar kota, dimana bagian penagihan atau salesman memberlakukan hitungan mundur pada piutang yang telah dibayar secara tunai oleh agen atau konsumen tersebut. Di tambah dengan pasifnya bagian keuangan dalam berkomunikasi dengan toko atau agen, sehingga menyebabkan bagian penagihan atau salesman lebih leluasa menggunakan piutang perusahaan tersebut terlebih dahulu. Sehingga kesemuanya ini menyebabkan pembayaran

piutang selalu melewati tanggal jatuh tempo dan tidak sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. 2. Adanya intervensi dari manager perusahaan terhadap penilaian dari calon pelanggan, persetujuan pemberian kredit maupun batas pemberian kredit. Dimana kesemuanya ini bertujuan untuk meningkatkan penjualan. Namun kesemuanya ini mempunyai implikasi terhadap munculnya piutang yang tidak tertagih. PT. Mulia Prima Sentosa pada dasarnya memiliki sistem pengawasan terhadap piutang, tetapi dalam pelaksanaannya masih belum sepenuhnya di jalankan oleh para karyawan. Kondisi perusahaan yang seperti ini mengharuskan perusahaan untuk lebih mengawasi pengawasan intern terhadap piutang yang telah ada, untuk menghindari adanya penyimpangan-penyimpangan yang akan terjadi dengan disengaja maupun tidak di sengaja oleh para karyawan dalam menjalankan kebijaksanaan pemberian kredit terutama dalam melakukan penilaian terhadap calon pelanggan dan prosedur penjualan kredit maupun dalam hal penagihan piutang. Menurut J. Freed Weston (1994, hal. 474) kebijakan pemberian kredit yaitu: 1. Periode Kredit Yaitu jangka waktu yang di berikan perusahaan kepada para pelanggannya untuk membayar dalam jangka waktu kredit biasa 30, 60, dan 90 hari

2. Diskon

Potongan tunai yang dimaksudkan untuk mendorong para pembeli agar membayar lebih cepat 3. Standar Kredit Persyaratan layak tidaknya seorang pelanggan untuk mendapat kredit, misalnya syarat umum perusahaan adalah pembayaran dalam waktu 30 hari 4. Kebijaksanaan Mengenai Penagihan Yaitu sejauh mana tindakan atau kelonggaran yang diberikan perusahaan atas piutang yang tidak di bayar pada waktunya Dengan adanya pengawasan yang lebih terhadap pengawasan intern piutang yang telah ada di perusahaan dapat mengontrol kegiatan operasinya serta dapat menghindari kecurangan-kecurangan yang nantinya dapat mengurangi besarnya pendapatan piutang yang akan di terima perusahaan. Dari uraian tersebut di atas dan setelah mengetahui aspek-aspek teoritis permasalahan yang terjadi pada analisis pengawasan intern piutang perusahaan, maka penulis merasa tertarik untuk mengangkat pengawasan piutang menjadi judul dari pada tugas akhir ini. Adapun judul tugas akhir ini adalah ANALISIS PENGAWASAN INTERN PIUTANG PADA PT. MULIA PRIMA SENTOSA MEDAN. B. Identifikasi Masalah Pengawasan intern piutang di laksanakan untuk mengelola perusahaan, di maksudkan untuk menghindari kebocoran, kecurangan, dan menjaga kasinambungan, karena itu analisis pengawasan intern piutang ini akan memenuhi berbagai masalah yang sering dihadapi, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Sering terjadinya keterlambatan pembayaran piutang kepada perusahaan yang tidak sesuai dengan perjanjian. 2. Tidak tertagihnya piutang dari kreditur. C. Batasan dan Rumusan Masalah Batasan Masalah Sehubungan dengan keterbatasan pengetahuan, waktu serta kemampuan penulis, maka luas penelitian ini hanya membatasi pada pengawasan intern terhadap piutang dagang. Rumusan Masalah Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada PT. Mulia Prima Sentosa, di temukan bahwa masalah yang dihadapi oleh perusahaan adalah Bagaimana mengatasi dan mengawasi jumlah piutang yang tidak tertagih yang cukup besar pada perusahaan ini. D. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan Penelitian Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah: 1. Untuk memberikan masukan bagi PT. Mulia Prima Sentosa, tentang bagaimana cara mengatasi masalah jumlah piutang yang tidak tertagih yang cukup besar pada perusahaan. 2. Untuk bahan masukan dan pertimbangan bagi PT. Mulia Prima Sentosa dalam mengembangkan pengawasan intern piutang dimasa yang akan datang. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Menjadi bahan masukan bagi perusahaan agar lebih memperhatikan dan mengetahui bagaimana pentingnya pengawasan piutang. 2. Memperluas wawasan dan pengetahuan penulis khususnya mengenai analisis pengawasan intern piutang di perusahaan.

BAB II LANDASAN TEORI

A. Uraian Teoritis 1. Pengertian dan jenis Piutang a. Pengertian Piutang Penjualan barang atau jasa pada saat ini banyak dilakukan dengan kredit, sehingga tenggang waktu sejak penyerahan barang atau jasa sampai saat diterimanya pembayaran oleh pelanggan. Tagihan terhadap pelanggan ini sering di sebut piutang dagang. Tagihan-tagihan yang timbul dari luar aktivitas penjualan barang dan jasa antara lain adalah piutang bunga dan piutang pegawai. Menurut Mulyadi (2002,hal.87), Piutang merupakan klaim terhadap pihak lain atas uang, barang atau jasa yang dapat diterima dalam jangka waktu satu tahun atau dalam satu siklus kegiatan perusahaan. Menurut Kieso dan Waygandt (1995,hal.324), piutang adalah merupakan klaim terhadap pelanggan dan yang lain atas uang, barang atau jasa. Selanjutnya, menurut Niswonger dan Fess (1999,hal.324), Piutang (receivable) adalah meliputi semua klaim dalam bentuk uang terhadap entitas lainnya, termasuk individu, perusahaan, atau organisasi lainnya. Piutang dinyatakan sebesar jumlah kotor tagihan dikurangi dengan taksiran jumlah piutang yang tidak tertagih. Jumlah kotor piutang harus tetap disajikan dalam neraca, diikuti dengan penyisihan untuk piutang yang di ragukan atau taksiran jumlah yang tidak tertagih.

Menurut Henry Simamora (2000,hal.228), piutang merupakan klaim yang muncul dari penjualan barang dagangan, penyerahan jasa, pemberian pinjaman dana, atau jenis transaksi lainnya yang membentuk suatu hubungan dimana satu pihak berhutang kepada pihak lain. Dari definisi-definisi piutang yang di kemukakan oleh beberapa ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa piutang adalah tagihan perusahaan kepada pihak lain yang penyelesaiannya dilakukan dengan penerimaan sejumlah uang atau barang apabila telah sampai waktu jatuh temponya. Perusahaan dalam usaha memperbesar volume penjualan biasanya melakukan kebijakan-kebijakan penjualan secara kredit. Volume penjualan yang semakin besar akan meningkatkan keuntungan perusahaan. Namun perlu diingat, bahwa makin besar piutang akan diikuti dengan adanya resiko piutang yang tidak tertagih, yang merupakan beban kerugian piutang. b. Jenis piutang Menurut Azhar Maksum (1998,hal.30), Piutang itu dibedakan atas Piutang Usaha dan Piutang Lain-lain. Piutang Usaha adalah piutang yang timbul sebagai akibat di lakukannya transaksi penyerahan/penjualan barang atau jasa kepada pihak lain dalam rangka kegiatan normal perusahaan. Piutang Lian-lain adalah jenis piutang yang berasal dari kegiatan di luar operasi normal perusahaan, dengan kata lain piutang ini muncul bukan dari transaksi penjualan barang atau jasa secara kredit.

Piutang Usaha dapat di golongkan ke dalam 2 kelompok, yaitu: 1. Piutang Dagang

Menurut Hendry Simamora (2000,hal.228), Piutang dagang merupakan aktiva yang relatif likuid, biasanya dikonversikan menjadi kas dalam jangka waktu 30 sampai 60 hari. Transaksi penjualan kredit terjadi setelah dicapai sebuah kesepakatan antara penjual dan pembeli mengenai jenis barang, harga, dan saat pembayaran. Selanjutnya bagian penjualan akan menerbitkan faktur-faktur penjualan sebagai dasar untuk mencatatat penjualan, sehingga baru sah menjadi piutang dagang. Biasanya piutang dagang tidak mencakup bunga, meskipun bunga atau biaya jasa dapat saja ditambahkan bilamana pembayarannya tidak dilakukan dalam periode tertentu. 2. Piutang Wesel

Menurut Hendi Soemantri (1996,hal.68), Piutang wesel merupakan tuntutan terhadap debitur yang di buktikan dengan suatu janji tertulis untuk membayar sejumlah uang pada waktu yang ditentukan, dimintakan oleh penjual atau dibuat sendiri oleh debitur. Piutang wesel dapat di golongkan menjadi atas dua jenis, yaitu: piutang wesel berbunga dan piutang wesel tidak berbunga. a. Piutang Wesel berbunga

Piutang wesel berbunga dengan suatu tingkatan bunga tertentu dan jangka waktu pelunasannya. Pada saat pelunasan yang menandatangani wesel membayar sejumlah nilai nominal wesel ditambah bunga terutang b. Piutang Wesel tidak berbunga

Sama halnya dengan piutang wesel berbunga, piutang wesel tidak berbunga juga dinyatakan saat pelunasannya, tetapi tingkat bunga tidak di nyatakan dengan jelas. Namun demikian, bukan berarti piutang tidak bebas dari bunga, jumlah yang tercantum pada wesel merupakan jumlah nominal wesel ditambah dengan bunga. 2. Prosedur Pencatatan Piutang Piutang termasuk aktiva yang mudah di selewengkan sehingga untuk pencegahannya perlu suatu standart yang dapat memberikan pengawasan terhadap piutang usaha. Sebelum membahas prosedur pencatatan piutang, perlu diketahui yang dimaksud dengan prosedur. Prosedur adalah suatu urutan pekerjaan yang biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu bagian atau lebih disusun untuk menjamin adanya perlakuan yang seragam terhadap transaksi yang sering terjadi. Suatu piutang usaha yang timbul dari penjualan barang pada umumnya dicatat pada saat hak atas barang tersebut pindah kepada pembeli, karena pada saat hak pemindahan tersebut dapat berbeda-beda menurut persyaratan penjualannya, maka sudah merupakan praktek yang umum untuk mencatat piutang usaha pada saat barang dikirimkan pada pelanggan. Piutang tidak boleh di catat bilamana barang tersebut dikirimkan kepada pelanggan tetapi pengiriman tetap menahan hak atas barang tersebut sampai saat serah terima formal atau untuk barang-barang dikirimkan berdasarkan konsinyasi, pengiriman tetap menahan hak atas barang sampai saat barang tersebut terjual oleh penjual (penjualan barang titipan).

10

Pencatatan piutang dapat dilakukan dengan 3 cara dalam mengerjakan jurnal dan posting yaitu: 1. Metode Tangan 2. Metode Langsung 3. Metode Tanpa Buku Pembantu Metode Tangan (Pen and Ink System) Dalam metode ini terdapat beberapa variasi dalam pekerjaan pencatatan (posting) ke buku pembantu piutang dan rekening kontrol kedalam buku besar piutang. a. Posting ke buku pembantu piutang dari jurnal Pencatatan kebuku pembantu piutang dilakukan dari jurnal penjualan kredit maupun dari jurnal penerimaan kas. Faktur penjualan di catat setiap hari dalam jurnal penjualan, kemudian dari jurnal penjualan di posting ke buku pembantu piutang. Setiap periode tertentu, jurnal penjualan di jumlahkan dan di posting ke buku besar. Posting ke buku besar dan buku pembantu piutang dilakukan dari jurnal penjualan, dengan demikian kesalahan dalam mencatat jurnal akan terbawa ke buku besar dan buku pembantu piutang. Oleh karena itu, kesalahan dalam menjurnal akan dapat di ketahui dari pengecekan posting.

Gambar Prosedur pencatatn sebagai berikut: Gambar A Prosedur Pencatatan

11

Posting ke Buku Pembantu Piutang dari jurnal Faktur Penjualan Jurnal Penjualan Buku Besar Pembantu

Buku Pembantu Piutang Sumber : Mulyadi (2002) b. Jurnal di Catat dari Pre List Tape Posting langsung ke rekening atau surat pernyataan Cara ini hampir sama dengan pencatatan dari transaksi ke buku pembantu, cara ini di gunakan apabila faktur penjualan dari bukti penerimaan uang setiap hari jumlahnya cukup banyak. Urutan-urutan pekerjaan jurnal dan postingnya adalah sebagai berikut: Faktur-faktur dari bagian penjualan diterima oleh bagian piutang bersama dengan pre list tape. Faktur-faktur ini di posting ke buku pembantu piutang, jumlah dalam pre list tape di catat ke dalam jurnal penjualan, sehingga setiap harinya ada satu jurnal.

Gambar B Prosedur Pencatatan Piutang Jurnal di catat dari Pre List Tape

12

Faktur Penjualan

Pre List Tape

Jurnal Penjualan

Buku BesarPiutang Buku Pembantu Piutang

Sumber : Mulyadi (2002) Metode Langsung Apabila pencatatan piutang menggunakan metode langsung, maka pekerjaan membuat surat pernyataan piutang dapat di gabungkan sekaligus dengan pekerjaan posting ke buku Pembantu piutang. Bukti transaksi yang diterima bagian akuntansi di posting ke rekening-rekening buku pembantu. Dalam hal ini di buatkan tembusan dari buku pembantu yang berfungsi sebagai buku jurnal. Gambar C Prosedur Pencatatan Piutang Metode langsung Faktur Penjualan Buku Besar Pembantu Jurnal Sumber : Mulyadi (2002) Buku Besar Piutang

Metode Tanpa Buku Pembantu

13

Pencatatan piutang dengan menggunakan metode tanpa buku pembantu dilakukan dengan menyimpan faktur penjualan sesuai dengan nama langganan. Metode ini tidak mempergunakan buku pembantu piutang sehingga tidak ada pekerjaan posting ke buku pembantu, simpanan faktur berfungsi sebagai buku pembantu piutang. Apabila terjadi pelunasan piutang, ada 2 cara yang dapat di gunakan yaitu : 1. Apabila pelunasan tidak di bayar semua atau tidak sejumlah fakturnya, maka bukti penerimaan uang disimpan bersama dengan faktur yang baru di bayar sebagian, jumlah yang sudah dilunasi ditulis di dalam faktur dan di tulis saldo akhirnya. 2. Apabila pembayaran sebesar fakturnya, maka faktur-faktur yang disimpan dalam map kreditur diambil dan di cap lunas, kemudian dipindahkan ketempat faktur yang telah dilunasi. Metode pencatatan piutang tanpa buku besar pembantu Gambar D Prosedur Pencatatan Piutang Metode Tanpa Buku Besar Pembantu Faktur Penjualan Buku Jurnal Buku Besar Sumber : Mulyadi (2002) 3. Pengertian Pengawasan Intern Map Kreditur

14

Pengertian Pengawasan Intern mempunyai beberapa pengertian yang berlainan, tergantung dari orang yang mempergunakannya. Istilah intern sering disebut sebagai internal kontrol atau pengendalian intern. Semakin besar perusahaan semakin diperlukan pengawasan intern yang baik. Pengawasan intern memiliki peranan yang penting dalam organisasi perusahaan, karena pengawasan intern memiliki peranan yang penting dalam organisasi perusahaan, karena pengawasan intern ini merupakan alat yang digunakan oleh manajer untuk mengetahui suatu kondisi perusahaan. Pengawasan ini bertujuan untuk mencegah atau menghindari dari kecurangan dan pemborosan serta penyalahgunaan wewenang dan tanggung jawab, sehingga dapat mengakibatkan tidak tercapainya tujuan perusahaan. Dalam pengertian yang sempit, pengawasan intern merupakan suatu cara pengecekan penjumlahan baik yang dilakukan secara mendatar maupun secara menurun. Sedangkan dalam pengertian yang luas, pengawasan tidak hanya meliputi pekerjaan pengecekan, tetapi meliputi semua alat-alat yang digunakan menajemen untuk mengadakan pengawasan.

Menurut Tungga (1995,hal.1), pengawasan intern meliputi organisasi dan semua metode serta ketentuan-ketentuan yang terkoordinasi dalam suatu perusahaan untuk mengamankan kekayaan, memelihara kecermatan dan sampai seberapa jauh dapat di percaya data akuntansi, meningkatkan efisiensi usaha dan mendorong di patuhinya kebijakan pimpinan yang telah ditetapkan. Menurut IAI (2001,SPAP seksi 319,2),

15

pengawasan intern adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen, dan personal lainnya yang di desain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tujuan. Menurut AICPA yang dikemukakan Z. Baridwan (1993,hal.47), pengawasan intern meliputi struktur organisasi dan semua cara-cara serta alat-alat yang dikoordinasikan yang digunakan di dalam perusahaan dengan tujuan untuk menjaga keamanan harta milik perusahaan, memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi, memajukan efisiensi di dalam operasi dan membantu menjaga dipatuhinya kebijaksanaan manajemen yang telah ditetapkan lebih dahulu. Menurut Mulyadi dan Kanaka (1998,hal.171) pengawasan intern adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris manajemen, dan personal lainnya yang di desain untuk memberikan keyakinan tentang pencapaian tiga golongan berikut ini: 1. Kehandalan pelaporan keuangan 2. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku 3. Efektifitas dan efisiensi operasi. Dari definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian tersebut terdapat kata penting yaitu kebijakan, prosedur, dan tujuan organisasi. Kebijakan adalah pedoman yang di buat oleh manajemen untuk mencapai tujuan organisasi. Manajemen puncak suatu perusahaan menentukan kebijakan harga jual produk, pemberian kredit kepada pelanggan dan kebijakan daerah pemasaran baru untuk mencapai tujuan pangsa pasar sebesar persentase tertentu. Menurut Hendi Soemantri (1997,hal.181), prosedur adalah rangkaian kegiatan tulis menulis yang berurutan melibatkan beberapa orang dalam satu atau beberapa bagian, yang dibuat untuk menjamin keseragaman suatu transaksi perusahaan yang terjadi berulang-ulang. Pengawasan intern yang baik biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

16

1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tugas 2. Sistem wewenang dan prosedur pencatatatan yang memberikan perlindungan

yang cukup terhadap kekayaan, hutang, pendapatan dan biaya. 3. 4. Praktik yang sehat dalam melaksanakn tugas dan fungsi setiap organisasi. Karyawan yang dituntut sesuai dengan tanggung jawabnya.

4. Unsur-unsur Pengawasan Intern Menurut IAI (2000,SPAP seksi 319,2), pengendalian intern terdiri dari lima komponen yang saling terkait : 1. Lingkungan Pengendalian 2. Penaksiran Resiko 3. Aktivitas Pengendalian 4. Informasi dan Komunikasi 5. Pemantauan 1. Linkungan Pengendalian Lingkungan pengendalian menetapkan corak suatu organisasi dan mempengaruhi kesadaran pengendalian orang-orangnya. Lingkungan pengendalian merupakan dasar untuk semua komponen pengedalian intern yang lain di dalam menyediakan disiplin dan struktur. Menurut Arens dan Loebbeck (1997,hal.261), lingkungan pengendalian intern mencakup : a. Integritas dan nilai-nilai etika b. c. Komitmen terhadap kompetensi Falsafah manajemen dan gaya operasi

17

d. e. f. g.

Struktur organisasi Dewan komisaris dan komite Pelimpahan wewenang dan tanggung jawab Kebijakan dan prosedur kepegawaian

Auditor harus memperoleh pengetahuan yang memadai tentang lingkungan pengendalian untuk memahami sikap, kesadaran dan tindakan manajemen dan dewan komisaris terhadap lingkungan intern, dengan mempertimbangkan baik substansi pengendalian maupun dampak secara kolektif. Auditor harus memusatkan substansi pada pengendalian dari pada bentuk luarnya karena pengendalian mungkin dibangun namun tidak dilaksanakan sebagai contoh manajemen dapat membangun aturan perilaku formal, namun bertindak yang melanggar apa yang telah ditetapkan dalam aturan tersebut. Sebagai contoh, pengendalian oleh menajer pemilik dapat mengurangi ada tidaknya pemisahan tugas dalam suatu bisnis kecil atau dewan komisaris yang aktif dan independent dapat mempengaruhi filosofi dan gaya operasi manajemen senior dalam entitas yang lebih besar. Namun kebijakan praktek SDM diarahkan kepenerimaan personel akuntansi keuangan yang kompeten, menyajikan laba dalam jumlah yang lebih tinggi. 2. Penaksiran Resiko Penaksiran Resiko adalah entitas untuk tujuan pelaporan keuangan merupakan identifikasi analisis dan menejemen terhadap resiko yang relevan dengan penyusunan laporan keuangan yang wajar sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. Sebagai contoh penaksiran resiko dapat ditujukan ke bagian entitas mempertimbangkan

18

kemungkinan transaksi tidak dicatat atau mengidentifikasikan dan menganalisa estimasi yang dicatat dalam laporan keuangan. Resiko yang relevan dengan pelaporan keuangan mencakup peristiwa dan keadaan intern maupun ekstern yang dapat terjadi dan secara negative mempengaruhi kemampuan entitas untuk mencatat, mengolah, meringkas, dan melaporkan data keuangan konsisten dengan asersi manajemen dalam laporan keuangan. Resiko dapat timbul atau berubah karena keadaan berikut ini: 1. Perubahan dalam lingkungan operasi 2. Personel baru 3. Sistem informasi yang baru atau yang diperbaiki 4. Teknologi baru 5. Lini produk-produk atau aktivitas baru 6. Restrukturisasi korporasi 7. Operasi luar negeri 8. Standart akuntansi baru Auditor harus memperoleh pengetahuan tentang proses penaksiran resiko entitas untuk memadai bagaimana manajemen mempertimbangkan resiko yang relevan dengan tujuan pelaporan keuangan dan memutuskan tentang tindakan yang ditujukan ke resiko tersebut. Tujuan penaksiran resiko entitas adalah untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola resiko yang berdampak terhadap tujuan entitas. 3. Aktivitas Pengendalian Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang membantu memastikan bahwa arahan manajemen dilaksanakan. Aktivitas tersebut membantu

19

memastikan bahwa pencapaian entitas.

tindakan yang diperlukan untuk menanggulangi resiko dalam

Umumnya aktivitas di golongkan sebagai kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan berikut ini: a. Review terhadap kinerja b. Pengolahan informasi c. Pengendalian Fisik d. Pemisahan Tugas Auditor harus memperoleh suatu pemahaman atas pengendalian yang relevan untuk merencanakan audit. Pada waktu auditor memperoleh pemahaman tentang komponen lain, ia juga mungkin memperoleh pemahaman tentang dokumen, catatan, dan terhadap pengolahan dalam sistem pelaporan keuangan yang berkaitan dengan kas, auditor mungkin menjadi sadar apakah rekening bank telah di rekonsiliasi. Besarnya pencapaian auditor tidak mengisyaratkan pemahaman atas aktivitas pengendalian yang berkaitan dengan setiap saldo akun, golongan transaksi dan kompenen pengungkapan dalam laporan keuangan atas setiap asersi yang relevan dengan saldo akun, transaksi dan pengungkapan tersebut. 4. Informasi dan Komunikasi Sistem informasi yang relevan dengan tujuan pelaporan keungan yang meliputi sistem akuntansi terdiri dari metode dan catatan yang dibangun untuk mencatat,

mengolah, meringkas, dan melaporkan transaksi entitas dan untuk memlihara akuntabilitas bagi aktiva, utang, dan ekuitas yang bersangkutan. Kualitas informasi yang dihasilkan dari sistem tersebut berdampak terhadap kemampuan manajemen untuk

20

membuat keputusan semestinya dalam mengendalikan aktivitas entitas dan menyiapkan laporan keuangan yang handal. Komunkasi mencakup penyediaan suatu pemahaman tentang peran dan tanggung jawab individual berkaitan dengan pengendalian intern terhadap pelaporan keuangan. Auditor harus memperoleh pengetahuan memadai tentang sistem informasi yang relevan dengan pelaporan keuangan untuk memahami: a. Golongan transaksi dalam operasi entitas yang signifikan bagi laporan keuangan. b. c. Bagaimana transaksi itu dimulai. Catatan akuntansi, informasi pendukung dan akun tertentu

dalam laporan keungan yang tercakup dalam pengolahan dan pelaporan transaksi. d. Pengolahan akuntasi yang dicakup sejak saat transaksi di

mulai sampai dengan dimasukkan ke dalam laporan keungan, termasuk alat elektronik yang digunakan untuk mengirim, memproses, dan mengakses informasi. Di samping itu auditor memperoleh pengetahuan yang memadai mengenai cara yang digunakan entitas untuk mengkomunikasikan peran dan tanggung jawab pelaporan dan keuangan dan masalah-masalah signifikan yang berkaitan dengan pelaporan keuangan. 5. Pemantauan

21

Suatu tanggung jawab manajemen yang penting adalah membangun dan memelihara pengendalian intern. Manajemen pengendalian untuk mempertimbangkan apakah pengendalian tersebut beroperasi sebagaimana yang diharapkan dan bahwa pengendalian tersebut dimodifikasi sebagaimana mestinya jika perubahan kondisi menghendaki. Pemantauan adalah proses penentuan kualitas kerja pengendalian intern sepanjang waktu. Pemantauan itu mencakup penentuan desain dan operasi pengendalian tepat waktu dan pengambilan tindakan koreksi. Proses ini dilaksanakan melalui kegiatan yang berlangsung terus-menerus secara terpisah atau dengan kombinasi dari keduanya. Sistem Akuntansi Piutang Sistem akuntansi merupakan bagian dari analis pengawasan intern suatu perusahaan. Tanpa informasi yang dihasilkan oleh sistem akuntansi, manajemen tidak akan mempunyai kemampuan untuk merencanakan dan mengarahkan operasi kegiatan perusahaan. Menurut Hendi Soemantri (1997,hal.182), Sistem akuntansi adalah suatu jaringan sekelompok prosedur yang dikembangkan sesuai dengan rencana guna melaksanakan aktivitas perusahaan. Sedangkan menurut S. Hadibroto (1994,hal.122), Sistem Akuntansi dapat di rumuskan sebagai suatu sistem yang meliputi unsur-unsur, prosedur, metode dan teknik untuk mengumpulkan data akuntansi, mengolahnya untuk menghasilkan informasi akuntansi dan untuk alat pengawasan. Sistem Akuntnsi Piutang terdiri dari: 1. Prosedur Penjualan Kredit

22

Penjualan kredit yang dilakukan perusahaan diharapkan akan menambah total penjualan dan sekaligus menambah laba perusahaan. Hal ini dapat di tercapai apabila pertambahan biaya administrasi dan biaya piutang yang tidak tertagih tidak melebihi atau lebih besar dari pertambahan laba yang dihasilkan dari transaksi penjualan tersebut, sehingga di perlukan adanya prosedur penjualan. Bagian-bagian yang terlibat dalam prosedur penjulan secara kredit tersebut tergantung kepada kondisi dan besar kecilnya perusahaan. Dalam prosedur pesanan, langganan dapat mengadakan pesanan kepada bagian pesanan untuk setiap jenis dan jumlah barang yang dikehendaki atau pesanan disampaikan kepada penjual yang bertugas untuk perusahaan. Dalam hal tersebut pihak langganan dapat melakukan pesanan dengan cara menandatangani langsung atau melalui telepon. Apabila melalui telepon, maka pihak perusahaan akan menggunakan formulir pesanan khusus untuk mencatat informasi, formulir pesanan kepada pihak langganan untuk meminta pengesahan. Setelah bagian pesanan menerima pesanan dari langganan terlebih dahulu diotorisasi oleh kepala bagian kredit. Bagian kredit akan menganalisa penjualan kredit tersebut, apakah diterima atau ditolak, atau pesanan diterima untuk suatu jumlah tertentu. Setelah bagian kredit mengambil keputusan diterima atau ditolak, penolakan tersebut harus di sampaikan kepada pelanggan. Untuk pesanan yang disetujui diterbitkan SPP (Surat Perintah Pengiriman) rangkap tiga. Lembar pertama dikirim langsung ke bagian pengiriman, lembar kedua dikirim ke bagian gudang, dan lembar ketiga sebagai pertinggal. Bagian gudang

23

mengeluarkan barang berdasarkan SPP dan barang membuat STM (Surat Tanda Muat) barang dalam rangkap tiga. Lembar pertama dikirim bersama barang kepada pelanggan, lembar kedua ke bagian SPP, dan lembar ketiga sebagai pertinggal. Selanjutnya bagian pesanan menyesuaiakn SPP dan STM yang diterima dengan SPP pertinggal. Setelah sesuai, bagian pesanan membuat tanda cek/pemeriksaan serta tanggal pengiriman, untuk kemudian mengirimkannya ke bagian faktur. Bagian faktur berdasrkan SPP dan STM yang diterima membuat faktur penjualan dalam rangkap tiga. Lembar pertama dan kedua beserta STM dikirim kepada pelanggan. Sedangkan lembar ketiga dikirim ke bagian pesanan untuk di catat nomor dan tanggal faktur penjualan tersebut pada SPP yang ada di bagian pesanan (arsip/file). Selanjutnya dikirim ke bagian pembukuan untuk dibukukan. Berdasarkan faktur penjualan inilah pembukuan mengadakan pencatatan ke dalam buku harian, buku besar dan buku tambahan piutang. Dari buku tambahan piutang ini dapat dilihat setiap perubahan piutang dari masing-masing langganan.

24

Bagan Alir Sistem Informasi Akuntansi Penjualan Kredit


Bagian Order Penjualan Mulai Bagian Kredit Bagian Gudang 1
1

4
1

6
1

3
1

Meneri ma Order dari Pesanan

Surat Order 7 Pengiriman

Surat Order Pengiriman

Surat Order 7 Pengiriman (credit Copy)

Surat Order 1 Pengiriman

Surat Order Mencatat tgl pengiriman pd surat order pengiriman lembar 9

Memeriks

a status kredit

Persiapa n barang

Membuat Surat Order Pengiriman Faktur

Member i Otorisasi Kredit Surat Order Pengiriman

Penyerah an

barang

9 8 7 6 5 4 3
Surat Order Pengiriman 7

Surat Order 7 Pengiriman (credit copy)

Surat Order 1 Pngiriman

T A

Kartu Gudan g

25

Bagian Pengiriman
5 2

Bagian Penagihan
2

Bagian Piutang
8

Surat Order Pengiriman

5 4
Surat Order Pengiriman Surat Order Pengiriman Faktur Penjualan

Membua t Faktur Menempel Surat Order Pengiriman pd pembungkus barang

5 4
Menyerahkan barang kepada Perusahaan

8
Faktur Penjualan

10 5 9

Kartu Gudan g

Surat Order Pengiriman

N 6

Sunber : Bagan Alir Sistem Penjualan Kredit (lanjutan) Mulyadi (2002,hal.13)

26

2. Prosedur Penagihan Piutang Piutang yang sudah jatuh tempo akan dilakukan penagihannya. Penagihan piutang dalam jumlah sedikit ataupun jumlah debiturnya sedikit akan lebih mudah dan sederhana. Jika jumlah debitur banyak tentunya diperlukan suatu penanganan yang khusus agar terciptanya sistem pengawasan intern atas penagihan piutang. Menurut Z. Baridwan (1998,hal.166), prosedur penerimaan piutang melalui kasir adalah sebagai berikut: 1. Langganan menyerahkan uang kepada kasir. 2. Kasir menyiapkan bukti kas masuk bernomor urut rangkap 3 dan didistribusikan sebagai berikut: a. Lembar assli untuk langganan b. Lembar kedua untuk bagian akuntansi sesudah diverifikasi c. Lembar Ketiga untuk arsip kasir, sesuai nomor 3. Kasir membuat daftar penerimaan uang harian rangkap 3 dan didistribusikan sebagai berikut: a. Lembar asli untuk bagian akuntansi b. Lembar kedua untuk kepala keuangan sesudah diverifikasi c. Lembar ketiga untuk arsip kasir, sesuai nomor 4. Kasir menyiapkan bukti setor ke bank rangkap 3, berdasarkan penerimaan uang harian dan didistribusikan sebagai berikut: a. Lembar asli untuk kasir b. Lembar kedua untuk bagian akuntansi(langsung dari bank)

27

c. Lembar ketiga untuk bank 5. Bagian piutang memposting buku kas masuk dalam buku pembantu piutang dan mengarsipkan bukti kas masuk. 6. Bagian buku besar mencatat daftar penerimaan uang harian jurnal dan setiap periode memposting jurnal penerimaan kas ke buku besar. Daftar penerimaan uang harian disimpan dalam arsip urut tanggal. 2. Prosedur Penerimaan Penagihan Piutang

Penghapusan piutang merupakan pengurangan jumlah piutang, karena langganan tidak dapat memenuhi kewajibannya atau melunasi piutang perusahaan. Setiap akhir periode bagian piutang membuat analisa umur piutang dan memberikannya kepada bagian kredit untuk mengadakan penagihan lanjutan terhadap tunggakan kredit. Jika ada piutang yang tidak mungkin dapat ditagih lagi, maka bagian kredit akan membuat nota penghapusan piutang tersebut dan harus mendapat persetujuan dari kreditur keuangan. Setelah mendapat persetujuan dari direktur keuangan, maka bagian kredit mengirim nota tersebut ke bagian pembukuan serta kepada auditor intern. Penghapusan piutang tersebut dilakukan apabila terdapat bukti-bukti yang nyata bahwa piutang benar-benar tidak dapat ditagih lagi, misalnya debitur dalam keadaan pailit yang disahkan oleh pengadilan atau debitur melarikan diri karena suatu alasan yang tidak diketahui keberadaannya.

5 Tujuan Pengawan Intern

28

Untuk mencapai tujuan yang di harapkan perusahaan, maka pimpinan perusahaan harus pula menetapkan tujuan dari pengawasan intern piutang yang merupakan hal penting dalam mencapai tujuan perusahaan. Tujuan dari pengawasan intern piutang ada 4 (empat) hal pokok yaitu: 1. Untuk menjaga harta (kekayaan) organisasi 2. 3. 4. Mengecek ketelitian dan kehandalan data akuntansi Mendorong efisiensi operasi Meningkatkan di patuhinya kebijakan manajemen.

1. Untuk Menjaga Harta (kekayaan) Organisasi Harta milik perusahaan ada kemungkinan untuk disalahgunakan, dirusak, ataupun dihilangkan keberadaannya jika tidak dilindungi dengan baik. Pengamanan harta milik perusahaan meliputi 2 aspek, yaitu pengawasan secara fisik dan pengawasan secara akuntansi. Pengawasan secara fisik dapat dilakukan dengan cara: a. Penunjang tanggung jawab yang jelas kepada seseorang atas pengawasan fisik milik perusahaan. b. Harta milik perusahaan disimpan dengan cara yang cukup memadai. c. Penerimaan dan pengeluaran barang harus berdasarkan otorisasi dari pihak yang berwenang. Pengawasan secara akuntansi adalah pengamanan harta kekayaan yang memadai, dimana hanya yang sah saja dapat menembus sistem dan prosedur tersebut. Sistem dan

29

prosedur itu dirancang sedemikian rupa, sehingga mampu menyaring setiap transaksi yang terjadi. 2. Mengecek Ketelitian dan Keandalan data Akuntansi Didalam menjalankan tugasnya menajer perlu memenuhi informasi yang cermat, tepat, dan dapat dipercaya. Pengawasan intern dirancang untuk memberikan jaminan proses pengolahan data akuntansi untuk menghasilkan informasi yang teliti dan handal. Karena data akuntansi mencerminkan perubahan kekayaan perusahaan, maka ketelitian dan kehandalan data akuntansi merekfleksikan pertanggung-jawaban penggunaan harta perusahaan. 3. Mendorong Efesiensi Operasi Pengawasan intern dalam perusahaan ditujukan untuk mencegah duplikasi usaha yang tidak perlu atau setidak-tidaknya dapat meminimalkan kemungkinan terjadinya pemborosan sumber daya perusahaan yang tidak efisien. 4. Meningkatkan Dipatuhinya Kebijakan Manajemen Untuk mencapai tujuan perusahaan, manajer mengadakan prosedur atau aturan pelaksanaan sistem pengawasan intern, hal ini dimaksudkan untuk meyakinkan manajer bahwa prosedur dan aturan yang telah di gariskan dengan mudah dapat terditeksi dan dapat di identifikasikan, serta manajer dapat dengan mudah mengambil tindakan pencegahan dan perbaikan dengan cepat dan tepat apabila terdapat penyimpangan.

30

6. Analisa Pengawasan Intern Piutang Pengawasan intern atas piutang di mulai dari penerimaan order penjualan, kemudian persetujuan pemberian kredit, pengiriman barang, pembuatan faktur, verifikasi faktur, pembukuan piutang, serta penagihaan piutang yang akhirnya akan mempengaruhi saldo kas/bank. Dalam hal ini, harus diperhatikan pula retur penjualan secara periodik serta perincian piutang menurut golongan usianya untuk menentukan tindakan apa yang perku dilakukan dalam menilai apakah bagian kredit dan bagian kas telah bekerja dengan efisien. Prosedur yang wajar dan cara pengamanan yang cukup terhadap piutang adalah penting bagi kelangsungan usaha dan juga memelihara hubungan yang memuaskan dengan para pelanggan. Prosedur pengawasan intern piutang tersebut berhubungan dengan pengawasan penerimaan kas di satu pihak lain. Menurut Wilson dan Campbell (1995,hal.418), apabila ditinjau dari cara pendekatan manajemen yang preventif, ada 3 bidang pengawasan yang umum, dimana suatu titik diambil tindakan untuk mewujudkan pengawasan piutang yakni: 1. Pemberian Kredit Dagang Mengenai kebijakan kredit dan syarat penjualan seharusnya kebijakan kredit tidak menghalangi penjualan kepada pelanggan yang keadaan keuangannya sehat dan juga tidak boleh menimbulkan kerugian yang besar karena adanya piutang ragu-ragu yang berlebihan. 2. Penagihan

31

Kredit yang diberikan diusahakan untuk memperoleh yang sesuai dengan syarat penjualan dalam tenggang waktu yang wajar. 3. Penetapan dan penyelenggaraan pengawasan intern yang layak Administrasi pembukuan terhadap faktur penyerahan barang dilakukan secara baik dan wajar sesuai prosedur. Pengawasan intern atas piutang mengharuskan diadakannya pemisahan fungsi pada masing-masing bagian yaitu penjualan kredit, penagihan, pencatatan, bagian faktur dan semua pihak yang terlibat dalam pemberian kredit. Piutang merupakan aktiva yang jumlahnya cukup besar, terutama apabila penjualan yang dilakukan sebagian besar adalah penjualan secara kredit. Dari ketentuan diatas dapat diketahui banhwa pengawasan intern mengharuskan diadakannya pemisahan fungsi pada bagian-bagian yang berhubungan dengan masalah piutang. Diperlukan review terhadap pengawasan intern yang terus menerus mencegah terjadinya penyimpangan. Pengawasan intern terhadap piutang dianggap baik apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. Fungsi penjualan harus dipisahkan dari fungsi pembukuan 2. Pembukuan penjualan harus dipisahkan dari penerimaan kas sebagai hasil penagihan piutang. 3. Retur, potongan harga dan penghapusan piutang ragu-ragu harus disetujui dengan tepat dan dipisahkan dari fungsi penerimaan kas. 4. Pejabat yang berwenang memutuskan penjualan kredit harus terpisah dari bagian penjualan.

32

5.

Rekening Koran harus dikirim kepada debitur setiap akhir bulan oleh petugas yang bukan memegang buku piutang dan bukan petugas pembuat faktur.

6.

Semua kartu piutang harus diverifikasi secara periodik oleh petugas independent sebaiknya oleh internal auditor.

7. 8.

Perusahaan harus membuat daftar analisa umur piutang secara periodik. Faktur penjualan, order penjualan dan nota kredit harus bernomor dan tercetak serta pemakaiannya dipertanggung jawabkan dengan baik. B. Kerangka Konseptual Untuk menjaga dan menghindari terjadinya penyelewengan terhadap piutang,

maka perlu adanya pengawasan intern yang baik. Dimana piutang merupakan aktiva atau kekayaan perusahaan yang timbul sebagai akibat dan dilaksanakannya penjualan baik berupa barang maupun jasa secara kredit. Piutang akan memberikan nilai tambah bagi perusahaan apabila diikuti dengan adanya pengawasan yang memadai. Melalui pengawasan piutang yang memadai diharapkan akan dapat mencegah terjadinya kecurangan atau penyelewengan, serta dapat mengurangi peningkatan piutang yang tidak tertagih. Besarnya piutang tak tertagih akan berakibat pada penerimaan pendapatan yang kurang optimal. Analisis diperlukan terhadap pengawasan intern piutang, karena merupakan alat yang penting untuk mengetahui apakah pengawasan intern terhadap piutang yang telah ditetapkan perusahaan telah dijalankan dengan baik oleh karyawan, dan apakah pengawasan yang diterapkan oleh perusahaan selama ini dapat dipertahankan atau perlu dilakukan perubahan agar penyimpangan dan penyelewengan dapat di minimalisir.

33

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Definisi Opersional Definisi opersional bertujuan untuk mengetahui sejauh mana hubungan analisa pengukuran dan penentuan pendapatan sehingga sasaran perusahaan, dapat dicapai. Adapun definisi operasional dalam penelitian ini yaitu Pengawasan merupakan klaim kepada pihak lain atas uang, barang atau jasa yang dapat diterima dalam jangka satu tahun atau dalam satu siklus kegiatan perusahaan. Variable penelitian ini diukur dengan menggunakan lembar observasi yang berisi unsure-unsur observasi terdiri dari 19 pertanyaan. Diukur dengan skal interval 1-4 dimana: Sangat Tepat Tepat Kurang Tepat Tidak Tepat =4 =3 =2 =1

Tabel III-1 : Kisi-kisi Instrumen Penelitian


No I II III IV V Komponen Lingkungan Pengendalian Penaksiran Resiko Aktivitas Pengendalian Informasi dan Komusikasi Pemantauan Nomor Butir 01, 09 10, 11, 19 02, 03, 04, 17 05, 08, 12, 14, 18 06, 07, 13, 15, 16 Total 19

B. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat Penelitian

34

Adapun penelitian ini di lakukan di PT MULIA PRIMA SENTOSA yang bergerak di bidang distribusi produk underwear dan t-shirt. PT. MULIA PRIMA SENTOSA beralamat di Jalan Merbau Komp. Merbau Lestari No. 44 Medan Waktu Penelitian Penelitian di laksanakan mulai Juli 2007 sampai dengan selesai. Adapun jadwal kegiatan dapat dilihat pada table berikut ini:
Tabel III-I Waktu Penelitian Tahun 2007 & 2008 KEGIATAN PENELITIAN Kunjungan ke perusahaan pengajuan Judul Pra Riset Penyusunan Proposal Pengajuan Seminar Pengumpulan Data Analisa Data 3 1 11 2 1 1 Juli 2 3 4 1 Agustus 2 3 4 1 September 2 3 4 1 Oktober 2 3 4 1 Nopember 2 3 4 1 Pebruari 2 3 4 2

Ket

Ming

Ming

Ming

Ming

Ming

Ming

Ming

C. Sumber dan Jenis Data Sumber Data Dalam menyelesaikan penulisan ini, jenis data yang penulis gunakan untuk variable yang diteliti terdiri dari :

1. Data Primer Yaitu data yang di peroleh langsung dari perusahaan melaui riset langsung di lapangan, yaitu PT. MULIA PRIMA SENTOSA Medan.

35

2. Data Sekunder Yaitu data yang diperoleh dari perusahaan yang merupakan data tertulis berupa sejarah singkat perusahaan, struktur organisasi dan pengawasan intern piutang serta sumber data lain yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Jenis Data a. Data subyek yaitu jenis data penelitian yang diperoleh langsung dari

pihak-pihak yang berkompeten dalam perusahaan. b. Data dokumenter yaitu jenis data yang diperoleh dari dokumen-dokumen

atau catatan historis perusahaan D. Teknik Pengumpulan Data Adapun metode pengumpulan data dilakukan melalui 1. Observasi, yaitu mengamati objek yang menjadi sumber data guna memperoleh gambaran serta membuat catatan-catatan yang diperlukan. 2. Wawancara, yaitu mengadakan Tanya jawab secara langsung dengan pihak yang berkompeten dalam perusahaan untuk memperoleh keterangan dan informasi yang dibutuhkan. 3. Dokumentasi, yaitu mempelajari data-data dan informasi yang ada dalam perusahaan yang berhubungan dengan analisis pengawasan intern piutang.

E. Metode Analisa Data Metode data yang digunakan adalah teknik analisis statistik deskriptif. Sugiyono (2002,hal.142), mengemukakan bahwa statistik deskriptif:

36

Statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Teknik analisa data bertujuan untuk mengolah data yang diperoleh dari penelitian, guna dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Oleh karena itu perlu dihitung rata-rata (M). Di mana

x = Total Nilai Observasi


i

n Xi

= Jumlah Unsur Observasi = Nilai rata-rata hasil observasi

BAB IV DESKRIPSI DATA DAN PEMBAHASAN

A.

Deskripsi Data

37

1. Sejarah Singkat Perusahaan PT. MULIA PRIMA SENTOSA adalah suatu perusahaan swasta yang didirikan pada bulan Mei tahun 2000, yang berkedudukan di Medan dan berkantor di Jl. Merbau Komp. Merbau Lestari Kav. 3 No. 44 Sekip Medan Petisah 20213. Kegiatan Utama PT. Mulia Prima Sentosa adalah mendistribusikan produk Rider (Underwear). Sebagai perusahaan distribusi PT. Mulia Prima Sentosa memperoleh langsung barang dagangan dari PT. Mulia Knitting Factory di Jakarta untuk didistribusikan di daerah Medan dan sekitarnya, Aceh, Padang, Pekan Baru, serta Batam. 2. Struktur Organisasi Perusahaan Organisasi merupakan sekelompok orang yang bekerjasama dengan menggunakan dana, alat-alat dan teknologi serta mau terikat dengan peraturan-peraturan dan lingkungan tertentu supaya dapat mengarah pada pencapaian tujuan yang diinginkan. Untuk menggerakkan organisasi dibutuhkan personil yang memegang jabatan tertentu dalam organisasi. Dan masing-masing personil diberi tugas, wewenang dan tanggung jawab sesuai dengan jabatannya. Hubungan dan kerjasama dalam organisasi dituangkan dalam struktur organisasi. Struktur organisasi meruapakan gambaran skematis tentang hubungan kerjasama dari orang-orang yang menggerakkan organisasi untuk mencapai tujuan bersama. PT. Mulia Prima Sentosa mempunyai strukstur organisasi yang berbentuk garis dan staff. Struktur organisasi tersebut atas beberapa bagian yang membawahi beberapa seksi-seksi. Masing-masing bagian dan seksi memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda sesuai dengan fungsi masing-masing bagian dalam organisasi. Adapun pemberian tugas dari organsisasi PT. Mulia Prima Sentosa dapat dilihat di bawah ini,

38

a.

Direktur Merupakan pimpinan tertinggi dalam mengelola operasi perusahaan, sebagi pemngambil keputusan dalam memperlancar perusahaan.

b.

Wakil Direktur Tugas dan tanggung jawabnya adalah :

Membuat perencanaan untuk mencapai tujuan utama perusahaan. Mengorganisasikan para bawahan untuk melakukan tugasnya

dengan lancar dan baik. c. Mengkoordinir dan mengawasi operasi perusahaan Mewakili perusahaan dalam mengadakan hubungan dengan pihak luar. Kepala Bagian Penjualan Tugas dan tanggung jawabnya adalah : Merumuskan kebijaksanaan di bidang penjualan Merencanakan, mengkoordinir dan mengawasi pelaksanaan kegiatan dan kelancaran penjualan barang-barng yang diperdagangkan perusahaan Menjaga hubungan baik dengan para langganan Menganalisa hasil penjualan dan meningkatkan jumlah penjualannya Mengkoordinir dan mengawasi salesman d. Kepala Bagian Pembelian Tugas dan tanggung jawabnya adalah : Merumuskan kebijaksanaan di bidang pengadaan barang

39

Menjamin tersedianya barang yang dibutuhkan tepat pada waktunya Mengawasi pelaksanaan pembelian Mengusahakan daftar harga barang e. Bagian Kredit Bertanggung jawab untuk menerima atau menolak permohonan kredit dari pelanggan. f. Bagian Administrasi Gudang Tugas dan tanggung jawabnya adalah : Bertanggung jawab atas barang masuk dan barang keluar dari gudang Bertanggung jawab atas kegiatan administrasi, perlengkapan kantor yang dibutuhkan dan formulir-formulir yang dibutuhkan. Mencatat persediaan / stock barang di gudang Mencatat kegiatan di gudang g. Bagian Kepala Keuangan Tugas dan tanggung jawabnya adalah : Mengkoordinir dan mengawasi kegiatan penagihan piutang atas semua penjualan Mengawasi penerimaan, penyimpangan dan pengeluaran uang, cek, dan surat-surat berharga lainnya. Menyerahkan laporan yang berhubungan dengan bidang kas, kegiatan kredit, dan yang lainnya sesuai dengan ketentuan perusahaan. h. Driver Mempunyai tugas-tugas sebagai berikut :

40

Transportasi barang dari pengangkutan ke gudang Transportasi barang dari gudang ke pelanggan i. Salesman Mempunyai tugas-tugas sebagai berikut :

Negosiasi langsung ke pelanggan Mengorder barang ke pelanggan Mengnavas barang ke pelanggan j. Kasir Mempunyai tugas-tugas sebagai berikut :

Menerima uang tunai/cek dari penjualan Mencatat semua hasil penjualan barang dagangan k. Penagihan Mempunyai tugas-tugas sebagai berikut :

Menagih segala piutang dagang yang telah jatuh tempo l. Office Boy Mempunyai tugas-tugas sebagai berikut : Mengantar surat-surat penawaran barang Mengantar paket-paket khusus ke pelanggan Menjaga, merawat dan membersihkan segala sarana dan prasarana kantor.

41

42

STRUKTUR ORGANISASI PT. MULIA PRIMA SENTOSA

DIREKTUR

WAKIL DIREKTUR PEMBELIAN

PENJUALAN

KREDIT

ADMINISTRASI

KEUANGAN

DRIVER

OFFICE BOY

KASIR

SALESMAN

PENAGIHAN

43

Penerapan Pengawasan Intern Piutang Lingkungan Pengendalian ( Control Environment) Untuk mempersempit pembahasan, seperti yang telah diuraikan pada bab II, maka pada bagian ini penulis membahas struktur organisasi yang diterapkan pada perusahaan terhadap sistem pengawasan intern piutang. a. Fungsi Penjualan harus terpisah dari Fungsi Kredit. Perusahaan dalam hal ini telah emisahkan kedua fungsi diatas sesuai dengan pemberian tugas masing-masing. Bagian kredit diberi wewenang untuk melakukan penjualan kredit sedangkan yang berhak memberikan kredit adalah wakil direktur. b. Fungsi Akuntansi harus terpisah dari fungsi penjualan dan Fungsi Kredit pada bagian ini perusahaan juga telah memisahkan ketiga fungsi diatas. Fungsi penjualan dan fungsi kredit telah dijelaskan diatas, sedangkan fungsi akuntansi dijalankan oleh bagian keuangan. c. Transaksi harus harus dilaksanakan oleh lebih dari satu orang atau lebih dari sau fungsi. Misalkan dalam hal penjualan di dalam perusahaan. Perusahaan telah memisahkan antara satu fungsi denga fungsi lainnya dalam satu transaksi. Fumhsi penjualan yaitu pada penjualan, fungsi kredit yaitu pada penjualan kredit, fungsi penagihan yaitu pada penagihan, dan fungsi akuntansi yaitu pada bagian keuangan. Penafsiran Resiko Prosedur-prosedur yang ditetapkan dalam perusahaan yang berkaitan dengan penafsiran resiko pada penjualan kredit yaitu prosedur penjualan kredit dan prosedur penagihan piutang.

44

Prosedur penjualan kredit dibuat pihak manajemen untuk menentukan debitur mana yang layak atau tidak layak untuk diberikan kredit, maka dalam hal ini manajemen membuat suatu ketentuan yaitu : 1. Calon debitur harus mampu melengkapi data-data yang dibutuhkan oleh perusahaan. Seperti KTP (Kartu Tanda Penduduk), serta mengisi formulir yang telah disediakan oleh perusahaan. 2. Pihak perusahaan dalam hal ini bagian kredit berhak untuk melakukan survey kepada calon debitur dan akan memberikan laporan kepada wakil direktur tentang keadaan calon debitur di lapangan. 3. Dari hasil laporan yag diberikan oleh bagian kredit, maka analisis akan memeriksa data tersebut dengan data yang diberikan oleh calon debitur, untuk mengetahui apakah sesuai atau tidak. 4. Laporan yang diperiksa akan diserahkan pada wakil direktur untuk menentukan apakah calon debitur telah sesuai ketentuan untuk diberikan kredit atau tidak. Sedangkan prosedur penagihan piutang dibuat agar dalam penagihan tidak terdapat penyelewengan-penyelewengan oleh karyawan yang dapat merugikan perusahaan. Berikut disajikan prosedur penagihan piutang pada PT. Mulia Prima Sentosa, antara lain : a. Faktur yang disediakan tiga lembar untuk pembayaran tunai, sedangkan untuk pembayaran dengan bilyet giro disediakan dua lembar tanda terima sementara. b. Tanda terima sementara beserta faktur diteruskan kepada bagian keuangan. Tugas keuangan mengelompokkan faktur berdasarkan nama dan tanggal jatuh tempo, lalu

45

mengarsip tanda terima sementara dan faktur lembar ketiga. Setelah itu faktur lembar pertama dan kedua diserahkan kepada kasir untuk di realisasi. 1. Jika debitur membayar langsung maka kasir menyerahkan faktur lembar pertama kepada debitur. 2. jika piutang angsuran yang telah jatuh tempo lewa dari satu minggu maka faktur lembar pertama dan lembar kedua diserahkan kepada keuangan untuk direalisasikan. Tugas keuangan selanjutnya adalah mengelompokkan faktur berdasarkan wilayah, jumlah faktur yang akan ditagih, jadwal penagihan, dan menyerahkan faktur tersebut kepada bagian penagihan untuk melakukan penagihan piutang, kemudian hasilnya disetor kepada kasir. Kasir menginput besar piutang yang tertagih lengkap dengan dengan data debitur, lalu pada saat bagian keuangan membuka file maka akan muncul hasil penagihan oleh bagian penagihan. Oleh bagian keuangan disusun daftar hasil penerimaan. Agar dapat dilihat oleh wakil direktur. c. Untuk pembayaran dengan bilyet giro dianggap sah setelah dikliringkan.

Informasi dan Komunikasi Komunikasi yang dipakai untuk mencapai informsi kepada semua personil yaitu dokumen pokok yang digunakan sebagai dasar pencatatan ke dalam kartu piutang yaitu : 1. Faktur Penjualan Dalam perusahaan ini terdapat faktur penjualan seperti perusahaan-perusahaan lain sebagai dasar adanya penjualan kredit.

46

2. Bukti Kas Masuk Digunakan perusahaan sebagai dasar pencatatan berkurangnya piutang dari transaksi pelunasan piutang oleh debitur. 3. Bukti Memorial Diguankan perusahaan sebagai dasar pencatatan dan penghapusan piutang yang sudah tidak dapat ditagih lagi. Aktivitas Pengendalian Pada aktivitas pengendalian ini perusahaan membuat prosedur-prosedurnya. Dalam hal ini penulis hanya menyajikan prosedur pengawasan yang dimiliki oleh perusahaan yaitu : a. Otorisasi Otorisasi harus diberikan oleh pejabat yang berwenang, tidak diizinkan oeh pejabat lain yang tidak ada hubungannya dengan transaksi yang bersangkutan, otorisasi dimulai dari timbulnya piutang sampai dengan berkahirnya piutang tersebut. Otorisasi ini dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang telah ada oleh bagian-bagian yang terkait. b. Pembagian Tugas yang Jelas Prosedur pengendalian piutang yang berhubungan dengan masalah pembagian tugas yaitu : 1.Keuangan dan banking bertugas memeriksa kelengkapan dokumen penagihan dan faktur pelunasan supplier, serta membuat rekapitulasinya. 2.Pihak penagih memonitor pelunasan kwitansi angsuran dan tanda terima sementara

47

3.Kasir bertugas menerima, mengelompokkan kwitansi angsuran dan tanda terima sementara penagihan, menghubungi debitur yang lalai melunasi cicilan dan melaporkannya di dalam laporan harian. 4.Penagihan bertugas melakukan penagihan piutang kemudian membuat laporannya. 5.Kasir bertugas menerima dan menghitung hasil penerimaan angsuran. C. Dokumen dan Catatan yang Memadai Salah satu faktor penting dari aktivitas pengawasan adalah adanya dokumen dan catatan yang memadai. Hal ini disebabkan karena dokumen dan catatan yang memadai. Hal ini disebabkan karena dokumen dan catatan yang menyangkut transaksi merupakan bukti yang nyata jika terjadi penyelewengan sebagai bahan buktinya. PT. Mulia Prima Sentosa dalam setiap penagihan piutang menggunakan dokumen dan catatan berikut : 1. Faktur merupakan bukti penagihan piutang, sekaligus tanda bukti bahwa pihak debitur telah membayar kewajibannya. 2. Tanda terima semenara merupakan tanda terima bilyet giro yang diterbitkan perusahaan kepada satu orang karyawan perusahaan yang berkompeten. 3. Daftar hasil penerimaan angsuran merupakan laporan penerimaan angsuran yang dikumpulkan dari hasil pembayran dan penagihan piutang. Apabila angsuran telah diterima, harus dikirimkan bukti-buktinya kepada bagian keuangan. Prosedur ini membantu bagian keuangan dan banking melakukan pencatatan sebagaimana mestinya dalam buku piutang dan dalam hal ini membantu apakah piutang usaha telah berakhir.

48

D. catatan

Pengamana yang cukup atas akses dan penggunaan aktiva perusahaan dan

Untuk mencegah tidak terjadi kehilangan baik asset maupun dokumen dan catatancatatan dalam prosedur pengawasan piutang PT. Mulia Prima Sentosa menetapkan hal-hal sebagai berikut : 1. Kendaraan disimpan di dalam gudang dan kantor perwakilan yang dipercayakan pada seorang karyawan yang berkompeten untuk memastikan bahw keamanan dan perawatan kendaraan dapat dijaga. 2. Dokumen dan catatan mengenai kendaraan hanya dapat dibuat oleh inventory control. 3. Dokumen serta catatan mengenai piutang dibuat tembusannya dan disimpan dalam arsip yang telah disediakan di kantor. 4. Pengawasan fisik atas penagihan piutang baik faktur maupun hasil penagihan berupa uang kertas/logam, giro dan cek disimpan dalam besi yang telah disediakan di kantor bagian keuangan. Sedangkan penerimaan dari kasir disetorkan ke bank oleh seorang staff yang kompeten melalui persetujuan bagian keuangan. Bagian keuangan memberikan otorisasi kepada bagian penagihan untuk melakukan penagihan piutang yang tertunggak. Hasilnya diserahkan kepada kasir untuk disimpan. Dari uraian diatas sudah terdapat verifikasi informasi diantara fungsi-fungsi otorisasi, fungsi operasi, fungsi pencatatan, dan fungsi penyimpanan. Hal ini bertujuan untuk menjamin dipatuhinya kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan oleh manajemen perusahaan, serta mencegah terjadinya penyelewengan terhadap pembayaran

49

yang telah dilakukan oleh debitur, baik uang muka cicilan maupun jumlah cicilan perbulannya. Pemantauan Pemantauan pada perusahaan ini dilakukan secara langsung oleh wakil direktur melalui cataan ataupun laporan yang ada. Dari laporan yang diperiksa akan dapat diketahui apakah karyawan telah melakukan atau menjalankan prosedur-prosedur yang ada di perusahaan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai perusahaan. Dari pemantauan ini juga dapat ditarik kesimpulan oleh wakil direktur apakah suatu prosedur masih layak dipakai atau perlu pembaharuan karena adanya kekurangan-kekurangan didalam kebijakannya. B. 1. PEMBAHASAN Analisis Terhadap Pengawasan Intern Piutang

Kebijaksanaan Pemberian Kredit Salah satu cara memperbesar volume penjualan ialah dengan mengadakan peningkatan penjualan secara kredit. Begitu juga pada PT. Mulia Prima Sentosa, untuk memperbesar omzet penjualannya perusahaan juga mengadakan penjualan kredit. Dalam pemberian kredit PT. Mulia Prima Sentosa hanya memberikan kredit kepada pelanggan yang melakukan pembelian tunai dalam jangka waktu 1 bulan, 3 bulan sampai 1 tahun berturut-turut, hal ini dilakukan dalam kebijaksanaan kredit adalah berdasarkan hubungan baik antara perusahaan dengan pelanggan. Dalam pemberian kredit ini seharusnya perusahaan memperhatikan faktor 5C dari pembeli yaitu : Character, Capacity, Capital, Collateral dan Condition. Karena

50

berdasarkan 5C tersebut bagian kredit mempunyai wewenang untuk memnolak pemberian kredit kepada langganan, sehingga dapat mengurangi resiko tidak tertagihnya piutang. Kebijaksanaan pemberian kredit yang diterapkan oleh perusahaan ini adalah kebijaksanaan pemberian kredit secara longgar. Karena perusahaan ingin memperbesar omzet pejualannya. Dibawah ini akan disajikan data piutang PT. Mulia Prima Sentosa. Berdasarkan analisa data diatas dapat dilihat bahwa peningkatan jumlah piutang yang menunggak tidak seimbang dengan peningkatan penjualan kredit. Hal ini menyebabkan tingkat perputaran piutang dari tahun ke tahun menjadi semakin rendah. Contohnya pada tahun 2005 tingkat perputaran piutang turun menjadi 5.8 kali. Hal ini berarti piutang berputar sebanyak 4.9 kali selama tahun 2006. Dengan demikian ada kelebihan dana yang tertanam dalam piutang, sedangkan dari waktu rata-rata pengumpulan piutang selama 3 tahun dapat dikethui bahwa piutang ditagih diatas 120 hari. Hal ini menggambarkan bahwa perusahaan kurang berhasil dalam melakukan penagihan piutang jauh diatas 90 hari. Prosedur Penjualan Kredit Pada hakekatnya prosedur penjualan kredit pada PT. Mulia Prima Sentosa telah sesuai dengan teori prosedur penjualan kredit. Perusahaan telah menerapkan prosedur pesanan (order penjualan), prosedur pembuatan faktur dan prosedur pencatatan, hanya saja bagian-bagian yang terkait tidakl semuanya sesuai dengan teori. Perbedaan yang terlihat antara lain pada otorisasi kredit dilakukan oleh Direktur melalui bagian kredit. Ditinjau dari segi pengawasan, hal ini sangatlah baik, namun Diektur sering tidak memperhatikan kriteria-kriteria pemberian kredit yang menjadi pertimbangan dari Bagian Kredit.

51

Prosedur Penagihan Piutang Dalam hal ini penagihan piutang, perusahaan kurang memperhatikan atau lalai dalam hal batas waktu piutang sehingga terhadap piutang yang telah jauth tempo sering belum dilakukan penagihan. Hal ini mengakibatkan piutang tersebut menjadi berlarutlarut, karena kemungkinan pada saat jatuh tempo, sebenarnya Debitur telah menyediakan uang untuk membayar hutangnya, akan teteapi karena belum dilakukan penagihan, maka uang tersebtu telah dipergunakan untuk keperluan lainnya. Dengan keterlambatan penagihan tersebut mengakibatkan penerimaan uang tersebut menjadi lama dari batas waktu syarat kredit yang telah ditentukan oleh perusahaan. Hal ini dapat menjadi kebiasaan bagi pelanggan untuk menunda pembayaran, selain itu pula perusahaan tidak memberlakukan denda atas keterlambatan pembayaran oleh debitur, tetapi hanya bersifat mengingatkan. Dari penelitian, menunjukkan bahwa piutang baru dapat ditagih diatas 90 hari dari jangka waktu kredit. Namun perusahaan belum menerapkan potongan untuk pembayaran lebih awal, sehingga debitur akan lebih tertarik untuk melakukan pembayaran awal dengan potongan. Dari hasil analisa diketahui pada perusahaan ini juga tedapat piutang yang tidak tertagih, yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut Klasifikasi Umur Piutang Per 31 Desember 2005 Umur Piutang 0 90 hari 90 120 121 240 hari hari Jumlah 80.215.520 40.376.027 57.257.641

52

241 360 hari Jumlah sumber

20.494.102 198.343.290

Table diatas memberikan indikasi umur piutang diatas satu tahun, berarti piutang yang mempunyai umur piutang 241 360 hari kemungkinan besar tidak tertagih lagi. Namun pada neraca perusahaan piutang disajikan tidak dibuat penyisihannya. Hal ini menunjukan suatu penyajian yang belum wajar sehingga dapat menyesatkan pemakaian laporan, dan tidak dengan Standar Akuntansi Keuangan. Pengawasan Piutang Secara umum, pengawasan piutang pada perusahaan ini sudah cukup baik, walaupun ada beberapa kekurangan di beberapa bagian dimana bagian tersebut harus segera dipebaikiagar tujuan yang diinginkan perusahaan sebelumnya dapat tercapai sebagaimana yang telah disepakati bersama pada awal berdirinya perusahaan. Pengawasan piutang sebgaimana diketahui merupakan baian dari pengawasan intern perusahaan yag tujuannya adalah untuk melindungi piutang dari penyelewengan, dengan cara mengadakan pembagian tugas yang serasi antara penerima pesanan, persetujuan penjualan kredit, pembuatan faktur, serta mengadakan konfirmasi piutang secara periodik. Namun perusahaan belum pernah mengadakan konfirmasi piutang secara periodik. Pelaksanaam konfirmasi piutang harus dilaksanakanoleh perusahaan setiap akhir tahun buku. Karena dengan demikian perkiraan piutang menurut buku besar sama dengan hasil konfirmasi tersebut. Bila terjadi perbedaan, maka harus dicari penyebabnya, apakah

53

ada unsure-unsur kesengajaan atau tidak. Bila disengaja berarti telah terjadi kesalahan pencatatan, namun bila disengaja berarti terdapat unsur penyelewengan. Kesalahan pencatatan dapat diperkecil apabila secara berkesinambungan dilakukan internal check antara buku besar piutang dengan buku pembantu piutang. Disamping itu dalam hubungannya dengan penagihan piutang. Perusahaan perlu meningkatkan pengawasan terhadap bagia penagihan yang gagal menagih piutang karena jika piutang gagal ditagih dalam jangka waktu tertentu dan dinyatakan direalisasikan, apabila jumlahnya material maka akan mempengaruhi modal kerja yang berakibat buruk pada kelancaran operasional perusahaan.

2.

Deskripsi Hasil Observasi Dalam melakukan penelitian ini, penulis mengumpulkan data dengan

menggunakan lembaran observasi, dimana penulis mengajukan 19 unsur variable yang diamati terhadap sistem pengawasan intern piutang pada PT. Mulia Prima Sentosa Medan. Dari hasil observasi yang telah dilakukan dan untuk mengoptimalkan penelitian maka digunakan lembaran observasi sebagai berikut :

No 1 a.

Unsur yang diamati Penggolongan Piutang Pengawasan intern piutang yang ada di perusahaan sudah menunjukan pembagian wewenang pembebasan tanggung jawab yang jelas

ST

Hasil Observasi T KT TT

Nilai

54

b. c. d. e.

Aktivitas pengawasan piutang sangat ditentukan oleh atmosfer yang diciptakan oleh lingkungan pengawasan intern Perusahaan menagih piutang dagang berdasarkan faktur penjualan Perusahaan membuat faktur penjualan memuat dan mengetahui jenis barang, harga barang dan waktu pembayaran Perusahaan memberikan piutang wesel kepada kreditur

Pencatatan Piutang f. Perusahaan dalam mencatat piutang menggunakan dokumen faktur penjualan kredit g. Komunikasi dalam perusahaan menggambarkan keadaan piutang di dalam perusahaan h. Perusahaan telah memberikan discount/potongan untuk mempercepat penerimaan piutang Penyajian piutang I. Perusahaan menggunkan metode penghapusan langsung untuk mengetahui kerugian dari piutang tak tertagih? j. Perusahaan dalam menentukan besarnya taksiran piutang tak tertagih berdasarkan persentase tertentu? k. Penafsiran resiko yang berupa prosedur penjualan kredit belum dapat sepenuhnya mengurangi tunggakan yang dilakukan debitur sehingga mengganggu pendapatan perusahaan l. Perkiraan penyisihan piutang tak tertagih di neraca mengurangi piutang dagang? Pengawasan Intern Piutang m. Perusahaan membandingkan faktur yang dikirin kepelanggan dengan memo pengiriman? n. Barang-barang yang dikeluarkan perusahaan mempunyai memo dan diberi nomor terlebih dahulu. o. Perusahaan memeriksa perincian piutang secara periodik terhadap buku besar dan disekonsiliasikan p. Perusahaan menugaskan seorang pemeriksa intern atau karyawan yang independen untuk mengecek piutang? q. Perusahaan telah memisahkan tugas pengurusan kas dengan tugas penyelenggaraan pembukuan piutang? r. Semua penyelesaian khusus untuk diskon retur atau potongan-potongan lain harus mempunyai persetujuan khusus s. Dengan adanya pemantauan didalam perusahaan sudah mengurangi kemacetan arus kas masuk dari piutang Jumlah

3.

4.

55

Keterangan : Alat yang digunakan penulis untuk memberia\kan jawaban sesuai variaebel yang diamati pada lembar observasi dengan menggunakan tanda ( ) pada salah satu jawaban yang dianggap tepat : 1. 2. 3. 4. Skor 4 = Skor 3 = Skor 2 = Skor 1 = Sangat Tepat (ST) Tepat (T) Kurang Tepat (KT) Tidak Tepat (T)

Untuk mengetahui lebih lanjut hasil penelitian yang dilakukan penulis berdasarkan observasi, maka dapat dihitung dengan menggunakan metode rata-rata dengan rumus :

X=

Xi

x=

53 19 = 2,8

jadi dapat disimpulkan bahwa penerapan pengawasan intern piutang pada PT. Mulia Prima Sentosa Medan adalah kurang tepat. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi yang dilakukan penulis.

56

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan penulis dan menuangkan kedalam pembahasan dapat memberikan kesimpulan dan saran yang meungkin nantinya dapat diterima dan dijadikan bahan pertimbangan bagi perusahaan dalam menerapkan pengawasan intern peiutang dimasa yang akan datang. A. Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dikemukakan adalah sebagai berikut : 1. Prosedur penjualan kredit pada PT. Mulia Prima Sentosa, masih belum memadai. Hal ini dapat dilihat dari prosedur dan kebijakan piutang yang dilakukan masih kurang memadai seperti otorisasi kredit dilakukan oleh direktur melalui bagian kredit, namun direktur kurang memperhatikan kriteria-kriteria pemberian kredit yang menjadi pertimbangan dari bagian kredit yang faktor 5C dari calon pelanggan dan dalam kebijakan kredit yang ada pada perusahaa kurang memperhatikan sistem potongan penjulan pembayaran lebih awal. 2. Pengawasan intern piutang pada PT. Mulia Prima Sentosa Medan kurang memadai. Hal ini dapat dilihat dari penagihan piutang yang sering lewat jatuh tempo, sehingga piutang menjadi berlarut-larut dan pengiriman konfirmasi kepada langganan peruahaan belum pernah melakukannya, sehingga pelanggan tidak dapat mengetahui kreditnya juga laporan keuangan yaitu neraca piutang yang

57

disajikan tidak dibuat penyisihannya. Selain itu piutang karyawan yang ada di perusahaan tidak disajikan ke dalam neraca sebagai kelompok piutang lain-lain. B. Saran Sehubungan denga kesimpulan yang dikemukakan, maka penulis akan memberikan saran-saran sebagai berikut: 1. Untuk mengurangi terjadinya piutang tak tertagih sebaiknya perusahaan melaksanakan kriteria 5C dari calon pelanggan agar piutang tak tertagih dapat dikurangi. 2. Perusahaan sebaiknya melakukan penagiha piutang dengan kebijaksanaan penagihan aktif, sehingga dengan kebijakan penagihan yang aktif penerimaan uang dari piutang dagang dapat tepat pada waktunya. 3. Sebaiknya perusahaan menerapkan sistem potongan untuk pembayaran lebih awal kepada pelanggan. Dengan demikian pelanggan akan lebih tertarik untuk melakukan pembayaran lebih awal sehingga piutang tersebut dapat lunas tepat pada waktunya.

58

DAFTAR PERTANYAAN Analisa Pengawasan Intern Piutang Pada PT. Mulia Prima Sentosa Medan Nama Responden Jabata Waktu Tanda tangan
No 1.

: : : :
Pertanyaan Hasil Kuisioner Ya Tidak Argumentasi

2.

3. 4. 5. 6. 7. 8.

Apakah pengawasan intern piutang yang ada di perusahaan sudah menunjukan pembagian wewenang pembebanan tanggung jawab yang jelas? Apakah aktivitas pengawasan piutang sangat ditentukan oleh atmosfer yang diciptakan oleh lingkungan pengawasan intern ? Apakah perusahaan menagih piutang wesel kepada kreditu ? Apakah perusahaan membuat faktur penjualan memuat dan mengerti jenis barang, harga dan waktu pembayaran ? Apakah perusahaan memberikan piutang wesel kepada kreditur ? Apakah perusahaan dalam mencatat piutang menggunakan dokumen faktur penjualan kredit? Apakah komunikasi dalam perusahaan menggambarkan keadaan piutang di dalam perusahaan? Apakah perusahaan telah memberikan discount/potongan untuk mempercepat penerimaan piutang? Apakah perusahaan menggunakan metode penghapusan piutang langsung untuk mengetahui kerugian dari piutang tak tertagih? Apakah perusahaan dalam menentukan besarnya taksiran piutang tak tertagih berdasarkan persentase tertentu?

9.

10.

59

11.

12. 13. 14.

15.

16.

17. 18.

Apakah penafsiran resiko yang berupa prosedur penjualan kredit belum dapat sepenuhnya mengurangi tunggakan yang dilakukan debitur sehingga menganggur pendapatan perusahaan? Apakah perkiraan penyisihan piutang tak tertagih di neraca mengurangi piutang dagang? Apakah perusahaan membandingkan faktur yang dikirim kepelanggan dengan dengan memo pengiriman? Apakah barang-barang yang dikeluarkan perusahaan mempunyai memo dan diberi nomor terlebih dahulu? Apakah perusahaan memeriksa perincian piutang secara periodik terhadap buku besar dan direkonsiliasikan? Apakah perusahaan menugaskan seseorang pemeriksa intern atau karyawan yang independen untuk mengecek piutang? Apakah perusahaan telah memisahkan tugas pengurusan kas dengan tugas penyelenggaraan pembukuan piutang? Apakah semua penyelesaian khusus untuk diskon retur atau potonganpotongan lain harus mempunyai persetujuan khusus? Apakah dengan adanya pemantauan di dalam perusahaan sudah mengurangi kemacetan arus kas masuk dari piutang?

19.

60