Anda di halaman 1dari 4

BUKU BEN AGGER, TEORI SOSIAL KRITIS Kunci dari teori kritis terletak pada upaya pembebasan (pencerahan).

Ilmuwan tidak selayaknya mengacuhkan masyarakat demi mengejar obyektivitas ilmu. Ilmuwan haruslah menyadari posisi dirinya sebagai aktor perubahan sosial. Karena itu, teori kritis menolak tegas positivisme, dan ilmuwan sosial wajib mengkritisi masyarakat, serta mengajak masyarakat untuk kritis. Sehingga, teori kritis bersifat emansipatoris. Emansipasi mutlak diperlukan, untuk membebaskan masyarakat dari struktur yang menindas. Kesadaran palsu senantiasa ada dalam masyarakat, dan itu harus diungkap dan diperangi. Selain itu, ciri lain dari studi kritis adalah interdispliner. Ben Agger menyebutkan ciri-ciri teori kritik sebagai berikut: teori kritis berlawanan dengan positivisme. Pengetahuan bukanlah refleksi atas dunia statis di luar sana, namun konstruksi aktif oleh ilmuwan dan teori yang membuat asumsi tertentu tentang dunia yang mereka pelajari sehingga tidak sepenuhnya bebas nilai. Selain itu, jika positivis mengharuskan untuk menjelaskan hukum alam, maka kritis percaya bahwa masyarakat akan terus mengalami perubahan. teori sosial kritis membedakan masa lalu dan masa kini, yang secara umum ditandai oleh dominasi, eksploitasi, dan penindasan. Oleh karena itu, ilmuwan kritis harus berpartisipasi untuk mendorong perubahan. teori kritis berasumsi bahwa dominasi bersifat struktural. Tugas teori sosial kritis adalah mengungkap struktur itu, guna membantu masyarakat dalam memahami akar global dan rasional penindasan yang mereka alami. pada level struktur itu, teori sosial kritis yakin bahwa struktur didominasi oleh kesadaran palsu manusia, dilanggengkan oleh ideologi (Marx), reifikasi (Lukacs), hegemoni (Gramsci), pemikiran satu dimensi (Marcuse), dan metafisika keberadaan (Derrida). teori sosial kritis berkeyakinan bahwa perubahan dimulai dari rumah, pada kehidupan sehari-hari manusia, misalnya; seksualitas, peran keluarga, dan tempat kerja. Disini, teori sosial kritis menghindari determinisme dan mendukung voluntarisme. mengikuti pemikiran Marx, teori sosial kritis menggambarkan hubungan antara struktur manusia secara dialektis.

teori sosial kritis menolak asumsi bahwa kemajuan adalah ujung jalan panjang yang dapat dicapai dengan mengorbankan kebebasan dan hidup manusia. Di sisi lain, kritis juga menolak pragmatisme revolusioner. Teori sosial kritik juga dikritik dalam hal metodologi dimana teori kritis bersifat non kuantatif,sehingga gagal meraih standar metodologis sains. Teori kritis dinyatakan bersifat politisi menolak mengadopsi standar nilai bebas positivis, ini adalah sosiologi kursi malas. Teori kritis tidak memiliki data mempertahankan spekulasi murni kalu ia adalah kursi malas. Penerapan teori kritis mulai mentransformasikan metodologi penelitian secara signifikan. perspektif ini mendorong penelitian kualitatif sebagai penelitian yang sah dan keniscayaan dalam rangka memahami aspek dalam kehidupan sehari-hari dan pengalaman pribadi yang tidak dapat diakses oleh instrumen survey anonim. Teori sosial kritis bahkan berdampak pada bagaimana manusia menjalankan analisis kuantitatif, dengan menunjukkan ketidakmenentuan yang melekat secara inheren dalam operasionalisasi empiris atas berbagai variabel sebagaimana pengungkapan motif

kekuasaan dibalik positivisme sosiologi yang ditujukkan oleh Foucault dan teorisi Frankurt dalam kritik mereka atas masyarakat yang disiplin dan sepenuhnya teradministrasi atau disebut masyarakat satu dimensi. Metodolog yang dipengaruhi oleh satu teori sosial kristis atau yang lain tidak semata-mata mencampakkan empirisisme namun justru mencoba menggabungkan pandangan dari teori kritis kedalam penelitian dan interpretasi data mereka sendiri. Teori sosial kritis secara sengaja dan bersifat interdisipliner dengan mengaburkan batasan disiplin dan menginterogasi identitas disipliner tradisional telah tertarik dengan teori kritis. Ilmuwan-ilmuwan ini telah mulai menerapakan pandangan teori kritis dengan berbagai sub bidang dan topik domain dimana mereka melakukan penelitian dan pengajaran empiris. Jadi jelas kiranya bahwa setiap sub bidang dalam sosiologi dari keluarga dan penelitian jender sampai kajian media, telah dipengaruhi. Bahkan bidang metodologi penelitian telah melihat intervensi teoritisi kritis yang menyarankan perlunya satu cara baru yang lebih kritis dalam melihat dan melakukan penelitian sosial empiris. CHAPTER 15. Sequence And Branch in the social Production of ideas Ada tiga jalur yang menjelaskan rangkaian kasus-kasus sejarah yaitu Cosmology, epistimology-metafisis dan matemathic. Ketiga sub ini terlihat pertama, adanya

pergeseran dari mitologi ke filosofi cosmologi, misalnya tidak terlepas dari argumen abstrak di India dan Yunani. Kedua, adanya interaksi antara epistimologi dan metafisis yang mendorong ke tingkat lebih tinggi dari abstraksi dan refleksivitas. Rangkaian ini diikuti dan dibangun pada kosmologis mitologi di India dan Grecee, Islam, kristen dan filsafat eropa. Di cina kuno rangkaian argumentatif dimulai dengan material yang sangat berbeda dengan India dan yunani, kemudian melanjutkan pada jalur yang sama, di sini urutan kosmologi mitologi tidak lagi di awal, tetapi dipotong menjadi urutan epistimological cina di kemudian hari, sekitar tujuh atau delapan generasi selanjutnya. Ketiga , ada versi dari rangkaian abstraksi-refleksivitas yang berlangsung pada medan khusus matematika, kembali ke filosofi, abstraksi dan refleksivitas ke tempat baru. Rangkaian ini ditemukan terutama di Eropa, sejak awal tahun 1600-an dan memainkan peran yang dominan dalam generasi sekitar tahun 1900. Filosofi kami "modern" atau "Barat" telah pergi jauh terutama dalam rangkaian refleksivitas abstraksi karena telah dibangun pada urutan ketiga. Mengapa berbagai wilayah dunia mulai urutan mereka dengan argumen seputar pertanyaan khas mereka? Diskusi awal ini diberikan karena kondisi eksternal. Filsafat Cina muncul dalam konteks diskusi politik atas ritual legitimasi dari kultus negara. Dalam Yunani latar belakang adalah desentralisasi pemujaan dan kuil, yang mengurangi pentingnya legitimasi keagamaan, bersama dengan: sekularisasi argumen politik dan hukum di negara kota negara berkembang. Di India itu menurunnya kekuatan imam Veda dan persaingan movemenrs agama saingan. Dalam Islam itu adalah sebuah koalisi penaklukan suku administrasi dan legitimasi sengketa suksesi dengan membentuk sekolah-sekolah hukum agama. Setelah masyarakat didasari argumentatif, dinamika penyebab dalam setiap pekerjaan rangkaian cara yang sama: membelah oposisi jaringan dalam setiap generasi, bersama dengan mengatasi secara periodik yang oposisi pada tingkat abstraksi yang baru.

TUGAS FILSAFAT ILMU KRITISI BUKU BEN AGGER TEORI SOSIAL KRITIS DDAN THE SOCIOLOGY OF PHILOSOPHIES RANNAL COLLINS

CHAPTER 15

OLEH HAVIZATHUL HANIM 1021218012

PROGRAM PASCA SARJANA JURUSAN SOSIOLOGI UNIVERSITAS ANDALAS 2011