Anda di halaman 1dari 5

Almarhum William Soeryadjaya atau biasanya dipanggil dengan sebutan Om Willem adalah salah satu tokoh pengusaha besar

(konglomerat) yang sangat layak dijadikan panutan bagi semua orang, terutama bagi para pengusaha (entrepreneur). Dari level bawah sampai dengan level konglomerat. Om Willem selain dikenal sebaik pioner otomotif Indonesia (apakah pemerintah pernah memberi penghargaan kepada beliau sekalipun hal ini tidak ada dalam pikirannya?), juga adalah seorang konglomerat yang jauh-jauh hari sebelum dipikirkan, apalagi sampai dibuat peraturannya, telah menerapkan apa yang sekarang dikenal dengan sebutan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility) lewat Grup Astra International-nya. Astra International juga sedari awal dikenal sebagai perusahaan yang taat membayar pajak. Om Willem membuktikan kepada kita semua bahwa berbisnis dengan sukses bahkan sangat sukses tidak harus meninggalkan akhlak, moral dan etika, yang berlandas pada keimanan agamanya yang kuat. Semua yang dilakukan itu tanpa banyak teori, tetapi lewat praktik langsung. Sehingga tanpa perlu mendengar pernyataan-pernyataan klise nan muluk seperti sering terjadi saat ini oleh para penguasa, maupun pengusaha, kita semua bisa menyaksikan bagaimana itu berbisnis dengan tetap berpegang teguh kepada akhlak, etika dan moral. Salah satu peristiwa yang akan dikenang sepanjang masa adalah dalam kasus Bank Summa yang kollaps. Bank yang dimiliki oleh sang anak Edward Soryadjaya itu bangkrut akibat kesalahan manajemen, (juga diisukan pula sebagai ulah rekayasa dari penguasa waktu itu, karena Om Willem menolak berkongkalikong). Walaupun secara hukum bukan tanggung jawab beliau, Om Willem malah dengan sukarela mengambilalih tanggungjawabtersebut demi menyelamatkan semua nasabahnya. Demi menyelematkan para nasabah Bank Summa itu Om Willem rela menjadikan dirinya sebagai personal guranty Bank Summa, dengan akibatnya melepaskan saham-sahamnya di Astra Internasional,

sebuah perusahaan raksasa yang didirikan dari nol selama puluhan tahun, untuk membayar semua dana nasabahnya. Gaya kepimpinannya juga telah melahirkan banyak pengusaha besar dan CEO-CEO perusahaan-perusahaan besar / multinasional terbaik, berintegrasi tinggi dan disegani di negeri ini, yang semuanya selalu mengenang beliau dengan rasa penuh hormat. Kebaikan hati dan keimanan Kristen Om Willem yang kuat sampai akhir hajatnya inilah yang barangkali membuat dirinya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa bertepatan dengan ketika umat Kristen merayakan Hari Raya Paskah pada 02 April 2010 lalu. Dalam mengenang wafatnya Om Willem tempo hari, banyak pihak, terutama pengusaha besar (termasuk konglomerat) yang memberi pernyataannya Salah satunya adalah konglomerat yang bernama Aburizal Bakrie. Harian Kompas mengutip pernyataannya untuk almarhum Om Willem. Dia mengatakan bahwa Om Willem adalah salah satu tokoh pengusaha yang sangat dikagumi dan menjadi panutan bagi dirinya dalam menjalankan usahanya. Saya terkadang mengamati beliau dari jauh dan menerapkan caracara beliau untuk usaha saya, Yang patut dijadikan contoh dari seorang William Soeryadjaya adalah dia selalu membagi keuntungan dengan berbagai pihak dan kerap menolong sesama. Demikian antara lain pernyataan dari Aburizal Bakrie ketika diminta pandangannya tentang Almarhum pada tanggal 03 April 2010 lalu. (lihat di

http://lipsus.kompas.com/topikpilihan/read/2010/04/03/14422 412/Ical.Oom.Willem.Contoh.bagi.Pengusaha.Lain)
Apakah pernyataannya tentang Om Willem, dan bahwa dia dalam praktik bisnisnya menjadikan Om Willem sebagai panutan merupakan sesuatu yang tulus dan sesuai dengan fakta?

Untuk menjawab pertanyaan ini, semua pembaca bisa dengan sangat jelas melihat fakta-faktanya di depan mata yang sudah dan sedang berlangsung sekarang. Faktanya, aneka persoalan besar negara yang lengket dengan sosok perusahaan-perusahaan milik konglomerat Aburizal Bakrie ini. Jangankan mau bertanggung jawab, justru dengan berbagai jurusnya Bakrie berupaya menyelamatkan diri, mengorbankan orang lain, dan menjadikan beban perusahaannya menjadi beban negara. Di pasar modal berbagai masalah ditimbulkan oleh Grup Bakrie. Di waktu Sri Mulyani masih sebagai Menteri Keuangan, dia merupakan halangan utama bagi Grup Bakrie untuk mengendalikan bursa (ingat kasus dicabutnya kembali penghentian sementara perdagangan saham PT. Bumi Resources. Tbk. atas perintah Sri Mulyani tempo hari?), sampai akhirnya Sri Mulyani berhasil ditendang keluar sebagai Menteri Keuangan atas persetujuan SBY. Kemudian ada lagi dugaan kasus pengeplangan pajak sampai Rp 2 triliun lebih oleh Grup Usaha Bakrie, yang sempat membuat SBY menggunakannya sebagai senjata untuk mengancam, atau lebih tepatnya sebagai alat tawar-menawar untuk membungkam suara Pansus DPR yang merupakan rahasia umum di bawah kendali Golkar dengan Ketua Umumnya itu. Pada waktu itu SBY dengan suara lantangnya menyatakan bahwa pemerintah harus segera menindak dengan tegas setiap pengeplangan pajak yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar (menyindir Bakrie). Tetapi ternyata itu hanyalah omong kosong belaka, terbukti setelah dia berkoalisi dengan Aburizal Bakrie, dengan Menteri Keuangan barunya, SBY tidak lagi bersuara tentang pengeplangan pajak tersebut. Di antara tujuh pokok perintah tugasnya kepada Menteri Keuangan Agus Martowardojo, tidak ada satu kata pun yang memerintah pengusutan pengepalangan pajak yang sempat dia berkoar-koar dengan nada tegas tersebut. Lumpur Lapindo adalah masalah maha besar lain lagi yang disumbangkan perusahaan milik keluarga Bakrie, yang membuat negara dan bangsa ini menderita lahir-bathin selama empat tahun

berturut-turut sampai dengan detik ini masih terus berlangsung entah sampai kapan. Alih-alih menyatakan pihaknya atau dirinya bertanggung jawab, sebaliknya malah menyalahkan alamlah yang bertanggung jawab, sedangkan ganti rugi kepada korban dan pembangunan infra struktur pengganti kalau bisa semuanya dialihkan kepada negara saja. Sedangkan uang pengganti (ganti rugi) yang seharusnya bisa diberikan dapat dihemat untuk disimpan sebagai dana politik mengamankan perusahaan-perusahaannya, dan membeli penguasa. Pemerintah di bawah SBY, bukannya mendesak pihak Bakrie bertanggung jawab dengan segala akibat hukumnya, malah sebaliknya menjadikannya sebagai alat untuk mencapai deal politik tingkat tinggi. Mengingat Grup Bakrie memang mempunyai kekuatan finansial yang seolah tanpa batas, dengan pemerintah yang lemah akan dengan mudah ditundukkan dan dibuat tergantung dengan kekuatan tersebut. Demi menyelamatkan kekuasaannya, bisa dikatakan korban Lumpur Lapindo, rakyat korban secara langsung, maupun negara dengan segala kerusakan infrastruktur dan kerugian ekonominya, dijadikan tumbal politik. Wujud penderitaan lahir bathin dimaksud adalah a.l : - Lumpur Lapindo telah mengubur selamanya daerah seluas 620 hektare, dan masih akan terus bertambah; - Meledakkan pipa gas Pertamina, dan menewaskan beberapa orang di lokasi; - Terjadi penurunan tanah dalam radius 6 km dari pusat semburan, sampai 1 meter, dan masih terus berlangsung; - Meneggelamkan jalan tol Surabaya Gempol. Biaya pembangunan jalan tol pengganti (baru) dibebankan kepada negara; - Saat ini Jalan Raya Porong sebagai alternatif utama terakhir pun terancam musnah tak bisa dipakai lagi, karena semakin lama semakin amblas dengan munculnya berbagai semburan lumpur panas baru di sekitarnya;

- Mengubur selamanya paling sedikit 12 desa; - Saat ini muncul semburan-semburan baru disertai gas beracun yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan jiwa warga; - Warga yang terpaksa menjadi pengungsi karena lahannya terkubur lumpur mencapai 30.000-an orang, dengan nasib serba tak menentu sampai sekarang. Bahkan seolah-olah dipermainkan baik oleh pihak Lapindo,maupun pemerintah lewat janji-janji ganti rugi yang jumlah, maupun jadwal pembayarannya terus berubah-ubah, molor-molor tak menentu; - Jumlah pabrik yang ditenggelamkan lumpur sebanyak 24 buah pabrik. Ini juga belum menerima ganti rugi yang layak. - Uang negara yang telah tersedot mencapai Rp. 4,3 triliun Dan, bagi Sang Presiden, SBY semua penderitaan itu ternyata diusulkan untuk dijual sebagai obyek wisata! Dari semua persoalan di atas, SBY bukannya memberi sanksi kepada pihak Bakrie, sebaliknya justru memberi hadiah kepada Aburizal Bakrie lewat pemberian jabatan Ketua Sekretaris Bersama partaipartai koalisi yang mempunyai wewenang memanggil para menteri! Dari semua hal di atas, masih percayakah Anda dengan pernyataan Aburizal Bakrie bahwa dalam menjalankan bisnisnya dia menjadikan Om Willem sebagai panutannya? Layakkah Aburizal Bakrie disejajarkan dengan Om Willem, yang katanya adalah panutannya? Bagaimana jika seandainya Lapindo milik pengusaha yang tidak mempunyai power politik? Bagaimana jika itu milik, misalnya, Grup Maspion? Sumber :
http://politik.kompasiana.com/2010/05/31/om-willem-dan-aburizalbakrie/