Anda di halaman 1dari 23

BAB 2 IHWAL TEKNIK ALFA DAN PEMBELAJARAN MENULIS NASKAH DRAMA

2.1 Teknik Alfa Teknik Alfa pada mulanya merupakan suatu cara untuk mencapai keadaan otak agar dapat konsentrasi secara santai. Cara mencapai keadaan tersebut pertama kali ditemukan oleh Dr. Georgi Lazanov yang menyatakan bahwa manusia memancarkan empat kegiatan gelombang otak, yaitu 1) beta adalah keadaan merasa awas dan aktif. 2) teta adalah keadaan hampir tidur atau bermimpi. 3) delta adalah keadaan tidur nyenyak. 4) alfa adalah keadaan konsentrasi secara santai. Dari hasil penemuannya itu, Dr. George Lazanov menindaklanjutinya dengan melakukan suatu percobaan tentang keadaan terbaik untuk melakukan kegiatan belajar. Dia menemukan suatu hasil belajar yang jauh lebih cepat dan menimbulkan hasil yang jauh lebih baik jika siswa yang sedang belajar dapat mencapai keadaan Alfa, yaitu kondisi konsentrasi yang santai (Schuster dan Gritton, 1980). Berdasarkan keberhasilan uji coba Dr. George Lazanov mengenai keadaan Alfa, tim pengajar supercamp menerapkan keadaan tersebut kepada para siswanya ketika mereka membutuhkannya. Ternyata hasilnya cukup baik dan memuaskan baik bagi tim pengajar dalam menyampaikan suatu materi. Maupun bagi para

siswa yang mengikuti program tersebut. Akhirnya, tim pengajar supercamp merumuskannya menjadi suatu teknik dalam proses belajar mengajar yang disebut dengan teknik Alfa. Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan bahwa teknik Alfa adalah suatu cara yang dilakukan guru dalam upaya memusatkan konsentrasi siswa dengan santai. Teknik ini dapat diterapkan seorang pengajar, khususnya guru Bahasa Indonesia ketika siswa sedang membutuhkan konsentrasi terfokus, misalnya saat membaca, mengerjakan soal, atau sedang menulis karangan. Penerapan teknik Alfa dalam kegiatan belajar mengajar yakni seorang guru terlebih dahulu harus membantu siswa untuk mencapai keadaan Alfa melalui bimbingan guru dalam visualisasi. Setelah siswa belajar dengan nyaman, seorang guru tidak usah mengulangi visualisasi. Bilamana guru menghendaki siswa berkonsentrasi penuh, lakukanlah langkah-langkah yang dikembabgkan oleh seorang konsultan pendidikan bernama Steve Snyder berikut. Pertama, atur posisi mereka. Minta para siswa duduk tegak, sedikit condong ke depan dengan kaki rata di lantai. Selanjutnya, suruh siswa memejamkan mata, bernafas dalam-dalam, dan memikirkan tempat khusus yang mereka visualisasikan, memutar mata ke atas dan ke bawah, lalu mereka harus merasa terpusat, santai, dan waspada.

10

2.2 Menulis 2.2.1 Pengertian menulis Menurut KBBI menulis adalah melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Rusyana (1986) menjelaskan bahwa menulis adalah kemampuan menggunakan pola-pola dalam penampilannya secara tertulis untuk mengungkapkan suatu gagasan atau pesan. Sedangkan menurut Tarigan (1994:21). menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang

menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu. Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa menulis adalah suatu keterampilan menuangkan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan, sehingga orang lain (pembaca) dapat memahami gagasan-gagasan yang dituliskannya.

2.2.2 Fungsi dan Tujuan Menulis Fungsi menulis sangatlah beragam, tapi fungsi utamanya adalah sebagai alat komunikasi tidak langsung, artinya antara penulis dan pembaca tidak langsung saling berhadapan. Menurut DArgelo (dalam Tarigan, 1984:22) fungsi utama dari tulisan adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung. Dapat memudahkan dalam berpikir kritis, memperdalam daya tanggap atau persepsi kita, memecahkan

11

masalah dan menjelaskan pikiran-pikiran kita. Namun yang paling utama fungsi tulisan adalah penemuan, susunan, dan gaya. Hugo Hartig (dalam Tarigan, 1994: 240) merangkumkan tujuantujuan penulisan suatu tulisan sebagai berikut : a. Assignment Purpose (tujuan penugasan) Penulis menulis sesuatu karena ditugaskan, bukan atas kemauan sendiri. b. Altruistic Purpose (tujuan altruistik) Penulis bertujuan untuk menyenangkan para pembaca,

menghindarkan kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu. c. Persuasive Purpose (tujuan persuasif) Tulisan yang bertujuan meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan. d. Informational Purpose (tujuan informasi/penerangan) Tulisan yang bertujuan memberi informasi atau

keterangan/penerangan kepada para pembaca. e. Self-expresive Purpose (tujuan pernyataan diri) Tulisan yang bertujuan memperkenalkan atau menyatakan diri sang pengarang kepada para pembaca. f. Creative Purpose (tujuan kreatif)

12

Tulisan yang bertujuan mencapai nilai-nilai artistik, nilai-nilai kesenian. g. Problem-solving Purpose (tujuan pemecahan masalah) Dalam tulisan seperti ini, sang penulis ingin memecahkan masalah yang dihadapi. Sang penulis ingin menjelaskan dan menjernihkan pikiran-pikiran dan gagasan-gagasannya agar dapat dimengerti dan diterima oleh para pembaca.

2.2.3 Manfaat Menulis Sabarti Akhadiah (dalam Sagita, 2003:14) mengemukakan beberapa manfaat sebagai berikut 1) Dengan kegiatan menulis kita dapat lebih mengenai kemampuan dan potensi diri kita, sehingga kita dapat mengetahui sampai dimana pengetahuan kita tentang suatu topik. 2) Dengan kegiatan menulis, kita dapat mengembangkan berbagai gagasan. 3) Dengan kegiatan menulis, kita lebih banyak menyerap serta menguasai informasi sehubungan dengan topik yang kita tulis. 4) Dengan kegiatan menulis, kita dapat memecahkan permasalahan yaitu dengan menganalisisnya secara tersurat dalam konteks yang kongkret.

13

2.3. Drama 2.3.1 Pengertian Drama Drama adalah salah satu genre sastra yang hidup dalam dua dunia, yaitu seni sastra dan seni pertunjukan. Menurut Ferdinan Brunetiere dan Bolthazar Verhagen (dalam WS, 1996:2), drama adalah kesenian yang melukiskan sifat dan sikap manusia dan harus melahirkan kehendak manusia dan harus melahirkan kehendak manusia dengan action dan perilaku. Menurut Hasanudin (1996:7) drama adalah suatu genre sastra yang ditulis dalam bentuk dialog-dialog dengan tujuan untuk dipentaskan sebagai suatu seni pertunjukan. Batasan mengenai drama ini memang telah banyak dikemukakan oleh para ahli dalam Websteis New International Dictionary drama dikemukakan sebagai berikut, Drama adalah suatu karangan, kini biasanya dalam prosa disusun untuk pertunjukan dan dimaksudkan untuk memotret kehidupan (tokoh) atau mengisahkan suatu cerita dengan gerak, dan biasanya dengan dialog yang bermaksud memetik beberapa hasil berdasarkan cerita dan sebagainya. Suatu lakon direncanakan atau disusun sedemikian rupa untuk dipertunjukan oleh para pelaku diatas pentas (Tarigan, 1984:71). Selanjutnya dalam Dictionary Of Word Literature drama dikatakan sebagai berikut Kata drama dapat ditafsirkan dalam berbagai pengertian dalam arti yang sangat luas, drama mencakup setiap jenis pertunjukan tiruan perbuatan, mulai dari produksi hamlet, komedi, pantomim, ataupun upacara keagamaan orang primitif. Lebih khusus lagi, mengarah pada suatu lakon yang ditulis agar diinterpretasikan oleh para aktor. Dari beberapa pengertian di atas, Tarigan menarik kesimpulan berikut ini:

14

1. 2. 3. 4. 5.

drama adalah salah satu cabang seni sastra, drama dapat berbentuk prosa dan puisi, drama mementingksn dialog, gerak, perbuatan, drama adalah suatu lakon yang dipentaskan di atas panggung drama adalah seni yang menggarap lakon-lakon sejak penulisannya hingga pementasannya 6. drama membutuhkan ruang, waktu, dan audience, 7. drama adalah hidup yang disajikan dalam gerak, 8. drama adalah sejumlah kejadian yang memikat dan menarik hati. Dari kesimpulan tersebut, menunjukan bahwa drama bersifat tiruan

dari kehidupan manusia dengan mementingkan unsur gerak dan dialog. Drama adalah gambaran kehidupan atau mengisahkan suatu cerita yang disajikan dengan gerak. Fungs drama dapat dibedakan menjadi dua,

yakni drama yang berfungsi sebagai karya sastra yaitu untuk dibaca (dalam buku naskah drama) dan ada drama yang berfungsi untuk dipentaskan (drama dalam bentuk pertunjukan), karena tidak setiap drama dipentaskan.

2.3.2 Drama Sebagai Seni Sastra dan Seni Pertunjukkan. Tarigan (1984: 73) mengatakan bahwa jika kita berbicara mengenai drama, maka kita selalu bertemu dengan istilah-istilah text play (naskah) repertoire, theater (teater), sebab dalam perkembangannya drama ini mengalami berbagai pengaruh dalam pengertiannya. Perubahan tersebut harus memisahkan dua bagian pengertian drama, yaitu sebagai berikut: 1. drama sebagai text play atau repertoire; 2. drama sebagai theater atau performance.

15

Hubungan antara text play dengan theater memang sangat erat. Dapat dikatakan bahwa setiap theater membutuhkan text play. Dengan kata lain, setiap pertunjukkan harus mempunyai naskah yang akan dipentaskan. Sebaliknya, tidaklah otomatis setiap naskah mempunyai theater, sebab ada saja kemungkinan sesuatu naskah sukar atau tidak mungkin dimainkan. Dengan demikian, naskah yang seperti itu hanyalah berfungsi sebagai bahan bacaan saja, bukan untuk dipertunjukkan. Istilah lain untuk text play ini adalah repertoire atau closet-drama. Akan tetapi, baik drama dipandang sebagai karya sastra maupun bagian dari kelengkapan teater, teks drama selalu berkiblat pada pementasan. Orientasi pada pementasan ini membuat drama mendapatkan dua penafsiran yang berbeda. Tafsiran pertama dilakukan oleh para pekerja teater ketika akan mementaskan sebuah drama. Kemudian tafsiran kedua dilakukan oleh para penonton (Luxemburg, dalam Hakim 2006: ) Ketika seorang penulis akan menulis sebuah naskah drama, imajinasi pementasan harus terbentuk ketika proses penulisan naskah drama berlangsung. Artinya, seorang penulis naskah juga harus mempunyai gambaran tentang ceritanya dalam naskah ketika dalam bentuk sebuah pertunjukkan. Dalam penelitian ini, yang akan dibahas hanya pada tatanan drama sebagai suatu karya sastra, yaitu drama dalam bentuk naskah dengan tidak

16

sampai pada tahap pertunjukkan. Tapi, imajinasi pementasan harus terbayang ketika proses penulisan naskah drama.

2.3.3 Konvensi dan kaidah umum dalam drama Talha Bachmid (dalam Hakim, 2006: 19), seorang doktor dalam bidang kajian drama, mengutip pendapat Patrice Pavis bahwa Drama memiliki konvensi dan kaidah umum yang dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar. Yang pertama, berhubungan dengan kaidah bentuk, seperti alur dan pengaluran, latar: ruang dan waktu, dan perlengkapan. Yang kedua, berkaitan dengan konvensi stilistika atau bahasa dramatik.

Berikut akan diuraikan kaidah dan konvensi drama tersebut secara sepintas. Konvensi itu juga nampaknya berlaku atau merupakan bagian dari konvensi sastra lainnya, khususnya prosa fiksi. a. Alur dan pengaluran Yang menyangkut kaidah alur adalah pola dasar cerita, konflik, gerak alur, dan penyajiannya. Semenjak zaman Aristotelles dinyatakan bahwa alur drama mesti tunduk pada pola dasar cerita yang menuntut adanya konflik yang berawal, berkembang, dan kemudian

terselesaikan. Yang disebut konflik adalah terjadinya tarik-menarik antara kepentingan-kepentingan yang berbeda, yang memungkinkan lakon berkembang dalam suatu gerak alur yang dinamis. Dengan demikian, gerak alur terbentuk dari tiga bagian utama, yaitu situasi awal (pemaparan), konflik, dan penyelesaian.

17

Penyajian pola dasar tersebut dilakukan dengan membaginya menjadi bagian-bagian yang disebut babak dan adegan. Kekhasan sebuah drama terlihat dari adanya susunan babak dan adegan dalam penyajian ceritanya. Dalam penyusunan babak dan adegan, pengarang drama akan menjaga kepaduan dan keterjalinan bagian-bagian alur maupun unsur bentuk yang disebut sebagai koherensi cerita. b. Tokoh dan penokohan Tokoh dalam drama mesti memiliki ciri-ciri, seperti nama diri, watak, dan lingkungan sosial yang jelas. Tokoh atau karakter yang baik harus memiliki ciri atau sifat yang tiga dimensional, yaitu fisiologis, psikologis, dan sosiologis. Menurut Harymawan (dalam Mulyana, 1998: 148) dimensi fisiologis terdiri atas usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, dan ciri-ciri muka; dimensi sosiologis terdiri atas status sosial, pekerjaan, pendidikan, kehidupan pribadi, pandangan hidup, aktivitas sosial, hobi dan kegemaran.; sedangkan dimensi psikologis terdiri atas mentalitas, moralitas, temperamen, dan intelegensia. Tokoh-tokoh utama biasanya muncul di awal cerita. Hal ini dimaksudkan agar penonton atau pembaca dapat mengenalinya. Sepanjang cerita, tokoh-tokoh akan mempertahankan ciri-ciri mereka. Konflik terjadi akibat adanya perbedaan yang terdapat di antara tokohtokoh yang berupaya mewujudkan keinginan mereka. Perbedaan itu akan semakin meningkatkan konflik dan berpuncak sebagai klimaks.

18

c. Latar: ruang dan waktu Unsur ruang dan waktu didasari pada peniruan realitas kehidupan. Ruang dapat disisipi dengan petunjuk pemanggungan (kramagung, waramimbar atau teks samping) dan dialog, cakapan atau wawancang. Ruang yang merupakan pijakan tempat peristiwa terjadi umumnya jelas, menunjang lakuan drama, dan sesuai dengan lingkup cerita. Konvensi waktu juga mesti tunduk pada kepaduan dan kejelasan. Dalam drama, waktu lakuan adalah waktu kini, sedangkan waktu cerita dapat berupa waktu lampau maupun waktu mendatang. d. Perlengkapan Perlengkapan juga tunduk pada konvensi. Perlengkapan merupakan unsur khas teater, yang dapat berupa benda-benda yang diperlukan sebagai pelengkap cerita, seperti kostum, perlengkapan tokoh dan perlengkapan panggung. e. Bahasa Bahasa dalam drama konvensional juga tunduk pada konvensi stilistika. Tokoh menggunakan bahasa yang sesuai dengan lingkungan soial serta watak mereka. Selain itu, komunikasi yang mereka lakukan akan menyampaikan suatu amanat, dan diantara tokoh-tokoh

diharapkan terjadi dialog yang bermakna yang akan menyebabkan berkembangnya cerita.

19

2.4 Menulis Naskah Drama 2.4.1 Pengertian menulis naskah drama Menulis adalah aktivitas produktif menuangkan segala pikiranpikiran dan gagasan-gagasan dalam bahasa tulis. Luxemburg dkk (dalam Hakim, 2006: 22) mengemukakan bahwa yang membedakan teks drama dengan teks lainnya adalah teks drama menggunakan situasi bahasa dialog.

2.4.2 Menulis naskah drama Drama adalah salah satu genre sastra yang hidup dalam dua dunia, yaitu seni sastra dan seni pertunjukan (Mulyana dkk, 1998: 144). Orang yang menganggap drama sebagai karya sastra akan memumpunkan perhatiannya pada teks drama yang merupakan wujud seni bahasa tulis. Menurut Remy Silado (dalam Mulyana dkk, 1998: 154) ada empat segi kualifikasi ketika kita akan menulis drama, yakni sebagai berikut. 1) Isi dramatik Dalam drama hendaknya terdapat premis dan tema. Premis merupakan persoalan utama yang hendak diangkat dalam cerita, sedangkan tema dapat dipahami sebagai perwujudan dari premis, yaitu dengan memberi jawaban atau pemecahan yang bersifat menyimpulkan. Setelah kita dapat menentukan premis dan tema, kita pun dapat menguraikan secara singkat isi dramatik yang akan dikembangkan dalam drama nanti.

20

2) Bahasa dramatik Bahasa drama yang kita gunakan dapat prosaik, puitik, atau sosiologik. Bahasa drama yang prosaik bisa dilihat dari dialog-dialog yang disusun dengan kalimat-kalimat seperti layaknya karya sastra bergenre prosa dan dengan melihat keseimbangan linguistik dan artistik. Namun, jika kita menuliskannya dengan berfokus pada verifikasi, seperti penataan bait, larik, rima, dan irama, maka bahasa drama tersebut bersifat puitik. Sedangkan jika dialog-dialog yang disusun disesuaikan dengan konteks, memungkinkan munculnya ragam dan dialek bahasa Indonesia, maka bahasa drama tersebut bersifat sosiologik. 3) Bentuk dramatik Yang menyangkut bentuk dramatik adalah ragam ekspresi, gaya ekspresi, dan plot literer. Gaya ekspresi menyangkut visi dan pandangan penulis, yang biasanya penuangannya sesuai dengan paham atau aliran yang dianutnya. Apakah realisme, ekspresionisme, eksistensialisme, atau absurdisme. Plot literer adalah plot yang terdapat dalam teks drama. Jadi, plot yang dibuat oleh pengarang, bukan plot yang diwujudkan oleh gerak eksternal maupun internal yang dilakukan aktor di panggung. 4) Struktur dramatik Struktur dramatik menyangkut perkembangan dan kaitan

antarkonflik yang muncul, memuncak, dan berakhir. Dalam drama konvensional, struktur dramatiknya biasanya seperti konvensi klasik, yaitu

21

eksposisi, komplikasi, resolusi, klimaks, dan konklusi. Konklusi dalam tragedi disebut katastrof (berakhir dengan kesedihan), sedangkan dalam komedi disebut denumen (berakhir dengan kebahagiaan).

2.4.3 Kerangka naskah drama Kerangka drama disebut juga kerangka cerita. Hal ini disebabkan setiap cerita itu pada umumnya bergerak dari permulaan sampai akhir. Muchlison (dalam Hakim 2006: 25) melukiskan perjalanan kerangka drama dengan gambar-gambar sebagai berikut: d c 1. a b e f

d 2. a b d c e c e f

3.

22

Keterangan: a. Eksposisi b. Konflik : perkenalan : insiden mulai terjadi

c. Komplikasi : pengenalan konflik d. Krisis e. Resolusi : pertentangan : penyelesaian persoalan

f. Keputusan : konflik berakhir

2.4.4 Unsur-unsur dalam Menulis Naskah Drama Tarigan (1984: 74-78) membagi unsur-unsur drama sebagai berikut: 1. Alur a. Permulaan (beginning/eksposisi) b. Pertengahan (middle/komplikasi) c. Akhir (ending/resolusi) 2. Penokohan a. Tokoh pembantu (the foil character) b. Tokoh serba bisa (the type character) c. Tokoh statis (the static chatacter) d. Tokoh berkembang (the character who develops in the course of the play) 3. Dialog a. Dialog haruslah dapat mempertinggi nilai gerak. b. Dialog haruslah baik dan bernilai tinggi 4. Aneka sarana kesastraan dan kedramaan a. Perulangan: kontras dan paralel b. Gaya dan atmosfer c. Simbolisme d. Empati dan jarak estetik Hasanuddin (1996: 65-104) menyatakan bahwa drama terbentuk dari struktur dalam (unsur intrinsik) dan struktur luar (unsur ekstrinsik). Unsur intrinsik meliputi: tema, amanat, konflik, alur, penokohan, latar, sudut pendang, dan gaya bahasa. Sedangkan unsur ekstrinsik meliputi: realitas objek (norma-

23

norma, ideologi, tata nilai, konvensi sastra, dan konvensi bahasa) dan pengarang (kepekaan, imajinasi, intelektualitas, dan pandangan hidup).

2.4.5 Kriteria Penulisan Naskah Drama Berbagai pendapat para ahli tentang pengertian drama dapat menjadi pendukung kriteria penulisan naskah drama. Kesimpulan ynag dapat diambil dari pendapat para ahli tersebut tentang drama diantaranya adalah drama mementingkan dialog dan drama adalah seni yang menggarap lakon-lakon sejak penulisannya hingga pementasannya (Tarigan, 1984: 158). Perlu dibedakan antara drama sebagai bahan bacaan (naskah) dan drama sebagai seni pertunjukkan. Maka dari itu, drama tidak lepas dari istilah text repertoir dan theater/performance. Dalam penelitian ini, drama digunakan sebagai text play. Kriteria penulisan teks drama tidak terlepas dari aspek yang terdapat dalam drama. Adapun aspek tersebut adalah adanya kramagung (petunjuk laku), dialog, dan tokoh.

2.4.6. Kriteria Penulisan Naskah Drama Mulyana dkk (1998: 195) membuat format penilaian naskah drama dengan menekankan pada kemampuan mengolah konvensi drama. Adapun formatnya adalah sebagai berikut.

24

Tabel 2.1 Kriteria Penulisan Naskah Drama


No Peserta Aspek yang dinilai Pengolahan Pencapaian Inovasi/ konvensi dan efek orisinalitas bahasa dramatik Jumlah Ket

Tabel di atas merupakan format penilaian yang murni, tanpa menggunakan teknik apapun. Oleh karena itu, untuk kepentingan penelitian ini, penulis menggunakan format penilaian menulis naskah drama yang mengacu pada buku Hidayah (1998: 55 dalam Hakim, 2006:29). Adapun format yang dimaksud dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 2.2 Format Penilaian Menulis Naskah Drama (Menggunakan Teknik Alfa) Skala Penilaan No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Aspek Yang Dinilai Isi dengan judul Pengembangan Isi Kualitas isi Penokohan Dialog Penghadiran latar yang mendukung Penulisan Naskah Drama Orisinalitas Jumlah 1 2 3 4 5 Bobot 2 3 3 2 2 2 2 4 20 Skor

Keterangan 1) Arti skala secara umum

25

1 = Sangat kurang 2 = Kurang

3 = Cukup/rata-rata 4 = Baik

5 = Sangat baik

Penentuan bobot pada setiap aspek didasari

pertimbangan penulis

terhadap tingkat kesulitan dalam penulisan naskah drama. Untuk aspek isi dengan judul, penokohan, dialog, penghadiran latar yang mendukung, dan penulisan naskah drama, penulis memberi bobot 2 (dua). Pemberian bobot ini dengan pertimbangan bahwa aspek ini memiliki tingkat kesulitan yang tidak terlalu sulit dibanding aspek-aspek lain. Aspek pengembangan isi dan kualitas isi diberi bobot 3 (tiga) dengan pertimbangan bahwa aspek-aspek tersebut memerlukan pemikiran yang lebih, karena kedua aspek tersebut untuk mengembangkan cerita sesuai dengan imajinasi. Penulis memberi bobot tertinggi 4 (empat) untuk aspek orisinalitas, dengan pertimbangan bahwa aspek ini adalah aspek yang terpenting diantara aspek-aspek yang lain karena menyangkut asli tidaknya ide/imajinasi yang dibuat. Selain itu aspek ini juga menyangkut kreativitas dalam mengolah ide sehingga menjadi sebuah cerita yang menarik dan tanpa harus menjiplak hasil karya orang lain.

2) Deskripsi skala penilaian secara khusus 1. Isi dengan Judul 5 = Judul dan isi naskah menarik dan saling berkaitan dan sesuai dengan tema. 4 = Judul dan isi naskah saling berkaitan dan sesuai dengan tema. 3 = Judul dan isi naskah cukup berkaitan.

26

2 = Banyak isi naskah tidak ada hubungannya dengan judul. 1 = Hampir semua isi naskah menyimpang dari judul.

2. Pengembangan Isi 5 = Pengembangan isi begitu padat, terdapat banyak konflik namun tetap sebagai satu kesatuan cerita. 4 = Pengembangan isi sudah cukup bagus, terdapat pengembangan cerita. 3 = Ada pengembangan, tapi tidak dikembangkan lebih dalam. 2 = Pengembangan isi masih biasa-biasa saja, hanya pemaparan cerita biasa. 1 = Isi naskah betul-betul sedikit, siswa tidak tahu apa yang harus ditulisnya.

3. Kualitas Isi 5 = Naskah drama memiliki konflik tersendiri, bisa memanfaatkan tokoh dan situasi sehingga isi naskah begitu padat. 4 = Naskah drama memiliki konflik tersendiri, tetapi kurang bisa memanfaatkan tokoh dan situasi. 3 = Terdapat konflik, namun tidak begitu beraturan. Jalan cerita masih sedikit lambat. 2 = Hanya ada satu atau dua isian/konflik dalam naskah. 1 = Tidak ada konflik dalam cerita.

27

4. Penokohan 5 = Adanya pengembangan karakter, porsi tokoh sudah tepat dengan apa yang diperlukan dalam naskah, tokoh dibuat dengan ciri khas tersendiri. 4 = Adanya pengembangan karakter, porsi tokoh sudat tepat dengan apa yang diperlukan dalam naskah. 3 = Adanya pengembangan karakter yang cukup bagus. 2 = Memunculkan tokoh, tapi pengembangan karakter belum maksimal. 1 = Hanya memunculkan tokoh.

5. Dialog 5 = Percakapan banyak memicu konflik, penggunaan kosakata yang bervariasi, dan sesuai dengan karakter tokoh yang dibangun. 4 = Percakapan antartokoh sudah bagus dapat menimbulkan konflik dengan penggunaan kosakata yang bervariasi. 3 = Percakapan antartokoh sudah bagus tapi penggunaan kosakata tidak bervariasi. 2 = Percakapan antartokoh cukup bagus, ada permasalahan yang diangkat. 1 = Hanya sekadar percakapan saja.

6. Penghadiran Latar yang Mendukung 5= Situasi digambarkan dengan adanya latar tempat dan waktu yang sesuai dengan cerita, petunjuk gerak sudah jelas.

28

4= Situasi digambarkan dengan adanya latar tempat/waktu yang sesuai dengan cerita, petunjuk gerak belum begitu jelas. 3= Situasi digambarkan, terdapat latar tempat/waktu yang sesuai dengan cerita. 2= Situasi tidak digambarkan dengan jelas hanya terdapat latar tempat/waktu. 1= Situasi tidak digambarkan dengan jelas, tidak terdapat latar tempat/waktu.

7. Penulisan Naskah Drama 5 = Format penulisan sudah sesuai dengan penulisan naskah drama. 4 = Ada sedikit kesalahan dalam format penulisan, tetapi mungkin hanya kekeliruan tulis, karena tidak selalu salah. 3 = Di sana-sini masih terdapat kesalahan format penulisan, tetapi secara umum masih dianggap baik. 2 = Cukup banyak terdapat kesalahan format penulisan yang mencerminkan penguasaan yang masih kurang. 1 = Sangat banyak dijumpai kesalahan format penulisan karena tidak menguasainya.

8. Orisinalitas 5 = Ide dalam naskah benar-benar baru dan unik belum pernah ada sebelumnya. 4 = Ide dalam naskah cukup unik belum pernah ada sebelumnya.

29

3 = Ide dalam naskah sudah cukup banyak digunakan orang lain, tapi diolah lagi menjadi naskah yang baru dan unik. 2 = Ide dalam naskah merupakan cerita yang biasa hanya mengalami sedikit perubahan. 1 = Ide cerita benar-benar jiplakan dari cerita yang sudah ada.

2.5 Pembelajaran Menulis Naskah Drama dalam KTSP Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tertulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra manusia Indonesia. Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Dalam KTSP SMP terdapat standar kompetensi mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama. Di sini, siswa dituntut untuk mampu menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah drama. Kompetensi dasar yang terdapat dalam kurikulum yaitu menulis kreatif naskah drama. Adapun indikator pencapaian dalam pembelajaran ini yaitu siswa mampu menuliskan naskah drama satu babak dengan memperhatikan keaslian ide dan keserasian kaidah penulisan naskah drama.

30

Materi pokok dalam pembelajaran ini adalah penulisan naskah drama, dengan unsur-unsur antara lain plot, tema, tokoh, latar, bahasa, amanat, dan format penulisan naskah drama. Pengalaman belajar yang didapatkan siswa melalui pembelajaran menulis naskah darama ini yaitu menentukan tema dan menulis naskah drama satu babak.

31