Anda di halaman 1dari 3

Tangan yang terkontaminasi memiliki peran penting pada transmisi penyakit melalui fecal oral.

Menurut Dr Semmelweis Ignac, terdapat hubungan antara infeksi dan tangan yang tidak bersih, dan mendemonstrasikan bahwa mencuci tangan dapat mengurangi transmisi demam puerperal. Mencuci tangan dapat mengurangi transmisi infeksi dengan menghilangkan mikroorganisme berpotensi dan kotoran yang menyebabkan mikroorganisme bertahan lebih lama. Meskipun telah terbukti efektif, terdapat pervalensi berbeda akan kebiasaan mencuci tangan di dunia dan penggunaan sabun untuk mencuci tangan tidak menyeluruh. Studi dari Yunani menemukan dari 52,9% dari tangan anak dari 1956 sampel sekaan tangan telah terkontaminasi fecal streptococci. Studi ini didesain untuk menemukan pervalensi kontaminasi tangan diantara anak sekolah. Objeknya adalah: 1. Untuk menemukan prevalensi kontaminasi bakteri pada tangan anak sekolah sebelum makan siang. 2. Untuk memahami presepsi anak sekolah terhadap isu utama pada mencuci tangan Bahan dan Metode Studi dilakukan pada dua sekolah masing-masing di Kolkata dan Bangalore, India dan dipilih 100 dan 108 anak. Rentang umur berkisar 1014 tahun. Kunjungan dilakukan selama 34 hari berturut-turut selama jam makan siang dan siswa tidak diberi tahu perihal studi tersebut. Sarana untuk mengambil sekaan dibuat dan tangan siswa diseka mulai dari pergelangan tangan, melewati telapak tangan dan sampai kelima jari ( mulai dari ibu jari ) termasuk lipatan dan kuku. Anak-anak juga diberi kuesioner mengenai cuci tangan sebelum makan dan sesudah defekasi, bahan yang digunakan untuk mencuci tangan, fasilitas mencuci tangan di rumah dan sekolah, ketersediaan air dan sabun pada fasilitas tersebut, kepentingan untuk mencuci tangan, dan presepsi siswa mengenai area kotor pada tangan. Sekaan dikumpulkan dan setelah 24 jam diinkubasi, diidentifikasi patogenpatogen dengan cara sebagai berikut: 1. Bakteri enterik atau koliform seperti Escherichia coli, Klebsiella, Enterobacter, Proteus, enterococci-( penyakit diare ) deteksi oleh koloni terwarnai berkarakteristik pada agar urochrome. 2. Staphylococcus aureus ( penyakit diare, pernapasan dan kulit ), deteksi koloni pada agar urochrome dan agar darah, perwarnaan Gram dan tes koagulan. 3. Pnemuococci ( penyakit pernapasan ), deteksi koloni pada agar darah dan morfologi perwarnaan Gram. 4. Subkultur pada media spesial dan tes biokimia jika dugaan Salmonella atau Shigella ( penyakit diare atau enterik ). 5. Non-patogenik komensal biasa seperti coagulase-negative staphylococci, viridans streptococci, diphteroids, Candida sp., dideteksi dengan koloni agar urochrome dan darah dan perwarnaan gram.

6. Non-patogenik flora lingkungan normal seperti Micrococcus sp., Bacillus sp., Pseudomonas sp., Acinetobacter sp., dideteksi pada kolin morfologi urochrome dan atau darah dan atau perwarnaan gram. Hasil Dari total 208 anak yang diuji, 161 ( 77,4%) adalah perempuan dengan umur ratarata 12,8 tahun dan rentang 919 tahun. Mayoritas siswa merasa telapak tangan adalah daerah paling kotor ( 78% ) sedangkan kurang dari 70% merasa bahwa celah-celah jari juga kotor. Hampir 86% siswa selau mencuci tangan sebelum makan, namun 47,3% tidak pernah menggunakan sabun sedangkan 30,9% siswa menggunakannya kadangkadang, dan hanya 21,3% selalu menggunakan. Pada makan malam, 88% anak mencuci tangan dan 52% selalu menggunakan sabun untuk mencuci tangan sebelum makan malam. Pada defekasi, 97,6% siswa selalu mencuci tangan setelah defekasi dan hanya 72,9% dari mereka yang menggunakan sabun. Mengenai fasilitas mencuci tangan di rumah mereka, 97% mengatakan terdapat fasilitas mencuci tangan, dan 85% telah terdapat sabun. Fasilitas mencuci tangan dekat toilet di sekolah siswa dilaporkan hanya pada 99,5% siswa dan hanya 18,4% pada toilet ini terdapat sabun. Pada 63% siswa digunakan saputangan untuk mengeringkan tangan. Dilaporkan bahwa 52,4% siswa menggunakan sabun saat terakhir kali mencuci tangan. Siswa memiliki jawaban beragam mengenai kepentingan untuk mencuci tangan. Sekitar 33,2% mengatakan untuk menghilangkan kotoran dan tangan menjadi bersih, 40% untuk menghindari penyakit dan menjaga tetap sehat, dan 51,4% untuk harus dilakukan karena tangan memiliki kuman dan mencuci tangan untuk menghilangkannya. Dari sekaan tangan 208 siswa, 127 ( 61%) diantaranya memiliki patogen berpotensi. Yang paling sering ditemukan adalah S. aureus yang ditemukan pada 44% sampel. Bakteri Enterococcus fecalis ditemukan pada 49 ( 24% ) sampel, E. coli ditemukan pada 25 ( 12%) sampel dan Klebsiella sp. di 14 ( 7% ) sampel. Keberadaan streptococcus grup A yang berpotensi pada patogen pernafasan dan kulit terdapat pada 5 ( 2,4% ) sampel. Pertumbuhan flora umum yang nonpatogenik terdapat pada 76 ( 36,5% ) sampel. Diskusi Pada studi ini, praktek mencuci tangan telah tinggi, namun penggunaan sabun masih suboptimal. Tersedianya sabun pada fasilitas mencuci tangan khususnya sekolah masih rendah. Sekitar 50% anak mengetahui cuci tangan dapat menghilangkan kuman namun 30% masih belum mengetahui kuku atau celah jari dapat menjadi area kotor pada tangan. Terdapat hubungan antara konten bakteri

pada tengan dengan cara mencuci tangan yang tidak benar dimana menurut Ray dkk, terdapat penurunan koloni sebanyak 60% setelah sampel mencuci tangan. Untuk mengurangi insiden penyakit, tiga aspek mencuci tangan yang perlu diperhatikan adalah: mencuci tangan dengan sabun, mengikuti langkah-langkah dengan benar, menggunakan air bersih dan mengeringkan tangan dengan kain kering. Kesimpulan Kurangnya infrakstruktur mencuci tangan berupa air dan sabun dapat mencegah terjadinya kebiasaan mencuci tangan yang baik dan benar pada anak-anak. Hal ini mengakibatkan tangan tetap terkontaminasi sebelum siswa makan. Pihak sekolah harus memantau agar tetap terdapat sabun pada toilet sekolah dan peran guru untuk memberi tahu mengeringkan tangan dengan air bersih atau efek mencuci tangan akan hilang juga penting.