Anda di halaman 1dari 12

KODE GENETIK

KODE GENETIK OLEH : ARI DWI KURNIAWAN ATIK SUSANTI DEWI SRI AYU M GABRIELLA NOOR A

OLEH :

ARI DWI KURNIAWAN ATIK SUSANTI DEWI SRI AYU M GABRIELLA NOOR A HOLIFATUR ROSYIDAH

POLITEKNIK KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN JURUSAN ANALIS KESEHATAN SURABAYA

JL. KARANGMENJANGAN 18 A SURABAYA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia nikmat, rezeki, dan ilmu sehingga kami tim penulis makalah ini dapat menyelesaikan tugas makalah ini sebagai tugas pertama dalam mata kuliah Biologi Medik. Tak lupa juga shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan pada junjungan Nabi besar Muhammad SAW, nabi penuntun umat dan suri tauladan yang baik bagi kita semua. Amin, Amin Ya Rabbalalamin Mengetahui dari pengalaman sehari-hari bahwa anak itu kerap kali memiliki sifat-sifat seperti orang tuanya, tidak saja kejasmaniannya tetapi juga mengenai kejiwaannya dan tingkah lakunya. Seringkali dikatakan juga dari si ayah dapat dikenal si anak dan juga sebaliknya. Namun demikian tidak ada seorang pun di dunia ini yang persis benar dengan orang lain. Semua orang memiliki perbedaan-perbedaan sifat keturunan, yang dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan terjadinya abnormalitas. Setelah para ilmuwan menemukan alat mikroskop dan kemudian dikenal kromosom, maka penelitian Biologi umumnya dan Genetika khususnya mengalami kemajuan dengan cepat. Tanpa ragu tim penulis juga menyadari bahwa belum sepenuhnya makalah ini tersusun dengan sempurna. Karena tim penulis juga tak lepas dari salah dan khilaf serta keterbatasan yang dimiliki. Untuk itu kiranya kami mengharapkan kepada segenap pembaca makalah ini untuk memberikan masukan berupa saran dan kritik guna membangun dan menambah ilmu serata wawasan bagi tim penulis. Dan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat berupa ilmu bagi pembaca semua.

Gresik, 16 Oktober 2009

Tim Penulis

2

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………………………… I

..

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………

...

II

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………III

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………………….…….4

BAB II KAJIAN PUSTAKA………………………………………………………………………….……5

  • 2.1 Pengertian Kode Genetik……………………………………………………………………….5

  • 2.2 Memecahkan Kode Genetik 8 .........................................................................................................

  • 2.3 m-RNA 8 .........................................................................................................................................

  • 2.4 Ketertiban Kode Genetik……………………………………………………………………….9

  • 2.5 Non-Standar Kode Genetik……………………………………………………………………10

BAB III KESIMPULAN………………………………………………………………………………… 11

..

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………… 12

..

3

BAB I PENDAHULUAN

Dari zaman ke zaman tujuan perkawinan bagi setiap muda-mudi adalah tetap, yaitu untuk

memperoleh keturunan, sedang bagi ayah dan ibu untuk memperoleh cucu.

Jauh sebelum seorang bayi lahir, calon orang tuanya biasanya sudah mengharapkan untuk

dikaruniai seorang anak laki-laki atau perempuan, sesuai dengan keinginan mereka. Bahkan sering juga

sudah dipersiapkan nama dan warna baju-bajunya, yaitu biru muda untuk laki-laki dan merah jambu untuk

perempuan. Ketika segera setelah sang bayi lahir, orang tua akan menanyakan pada dokter atau bidan yang

membantu mereka dalam proses kelahirannya apakah anak mereka dalam keadaan sehat dan lengkap. Setiap

orang tua pasti dan memang mengaharapkan anaknya lahir dengan selamat dan sehat, tanpa menderita

penyakit/kelainan keturunan.

Sudah dari dulu bahwa orang mengetahui dari pengalaman sehari-hari bahwa anak itu kerapkali

memiliki sifat-sifat seperti orang tuanya, tidak saja mengenai kejasmaniannya tetapi juga mengenai

kejiwaannya dan tingkah lakunya. Sering kali dikatakan juga bahwa dari si ayah dapat dikenal si anak,

sebaliknya juga seperti itu dari si anak dapat dikenal si ayah. Namun demikian tiada seorang pun di dunia

ini yang persisi benar dengan orang lain. Apabila semua orang persis sama, maka ilmu pengetahuan

Genetika Manusia tidak akan ada. Semua orang memiliki perbedaaan-perbedaan sifat keturunan, yang

dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan terjadinya abnormalitas.

Setelah para ilmuwan menemukan alat mikroskop dan kemudian dikenal kromosom, maka

penelitian Biologi umunya dan Genetika khususnya mengalami kemajuan dengan cepat. Bentuk, struktur

dan perilaku kromosom tak lama kemudian diketahui. Genetika Manusia sendiri dimulai dengan

ditemukannya golongan darah ABO oleh landsteiner pada permulaan abad ini.

Kemajuan dalam bidang biokimia memungkinkan para ahli menetapkan struktur serta susunan bahan

genetik yang berupa asam deoksiribosa atau AND dan asam ribonukleat atau ARN. AND dan ARN

merupakan komponen penting pada gen yang mengatur sintesa protein. Kode Genetik adalah suatu cara

untuk menetapkan jumlah serta urutan nukleotida yang berperan dalam menentukan posisi yang tepat dari

tiap asam amino dalam rantai peptide yang bertambah panjang.

4

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kode Genetik

Genetika merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang pewarisan sifat dari

parental kepada keturunan berikutnya.

Kode Genetik adalah suatu cara untuk menetapkan jumlah serta urutan nukleotida yang berperan

dalam menentukan posisi yang tepat dari tiap asam amino dalam rantai peptide yang bertambah panjang.

Sintesis protein didasarkan pada urutan mRNA, yang terdiri dari nukleotida sementara protein

terbuat dari asam amino. Harus ada hubungan tertentu antara sekuens nukleotida dan urutan asam amino.

Hubungan ini yang disebut kode genetik, yang diterjemahkan oleh Marshall Nirenberg dan rekannya pada

awal tahun 1960-an.

Nirenberg dan kawan-kawannya melakukan percobaan dengan membuat ARNd buatan (artificial

mRNA) dan memperoleh hasil sebagai berikut :

  • 1. Jka sebuah kodon (yaitu suatu set nukleotida yang spesifik untuk suatu asam amino tertentu) hanya terdiri dari satu nukleotida saja, maka akan didapatkan 4 1 = 4 kodon, yaitu A, G, S, U. Kode Genetik yang menggunakan kodon terdiri dari satu nukleotida disebut kode singlet. Berhubung jumlah asam amino 20, maka kode singlet ini tidak memenuhi syarat, sebab baru dapat mengkode 4 asam amino saja.

  • 2. Jika sebuah kodon terdiri dari dua nukleotida akan didapatkan 4 2 =16 kodon. Kode duplet ini pun belum memenuhi syarat karena baru 16 macam asam amino saja yang dapat diberi kode.

  • 3. Jika sebuah kodon terdiri dari tiga nukleotida akan didapatkan 4 3 = 64 kodon. Kode genetik ini disebut kode triplet. Walaupun dengan kode triplet didapatkan kelebihan 64 - 20 = 44 kodon tidak menjadi soal, karena beberapa macam asam amino dapat diberi kode oleh beberapa kodon.

5

Tabel 2.1

Kemungkinan kode singlet, duplet dan triplet dari ARNd

Kode Singlet

Kode Duplet

Kode Triplet

( 4 kodon )

( 16 kodon)

( 32 kodon)

 

AAA AAG AAS AAU

AGA AGG AGS AGU

ASA ASG ASS ASU

AUA AUG AUS AUU

GAA GAG GAS GAU

GGA GGG GGS GGU

A

AA AG AS AU

GSA GSG GSS GSU

G

GA GG GS GU

GUA GUG GUS GUU

S

SA SG SS SU

SAA

SAG SAS

SAU

U

UA UG US UU

SGA SGG SGA SGU

 

SSA SSG SSS SSU

 

SUA SUG SUS SUU

UUA UAG UAS UAU

UGA UGG UGS UGU

USA USG USS USU

UUA UUG UUS UUU

Jelaslah kiranya bahwa kode genetik yang berlaku sampai sekarang adalah kode triplet. Penggunaan

kodon yang terdiri dari tiga basa itu sesungguhnya serupa dengan 26 huruf di dalam alfabet. Adapun artinya

tergantung dari bagaimana pengaturan letak kodon-kodon itu. Kodon-kodon yang sama dapat membentuk

perkataan yang berlainan. Misalnya jika mengambil :

USU

= serin

= M

SAS

= histidin

= A

GUA

= valin

= S

SUS

= leusin

= U

AAU = asparagin

= K

Tabel 2.1 Kemungkinan kode singlet, duplet dan triplet dari ARNd Kode Singlet Kode Duplet Kode Triplet

didapatkan perkataan masuk

Akan tetapi bila letak kodon dirubah menjadi :

AAU = asparagin

= K

SAS = histidin

= A

USU = serin

= M

SUS = leusin

= U

Tabel 2.1 Kemungkinan kode singlet, duplet dan triplet dari ARNd Kode Singlet Kode Duplet Kode Triplet

didapatkan perkataan kamus

6

GUA = valin

=

S

Telah digunakan kodon- kodon yang sama untuk menerjemahkan dua pesan yang berlainan.

Perubahan pengaturan urutan kodon juga merubah penempatan atau urutan asam amino. Pengaturan kodon

dalam ARN menentukan struktur serta fungsi dari tiap protein.

Beberapa kodon dinamakn kodon nonsense (tidak berarti), karena tidak merupakan kode untuk salah

satu asam amino pun, misalnya UAA, UAG, dan UGA.

Kode genetik adalah universal karena kode yang sama berlaku unutk semua macam makhluk hidup.

Gambar 2.2. Kode genetik standar. Sintesis peptida selalu dimulai dari metionin (Met), dikodekan

oleh Agustus yang berhenti kodon (UAA, UAG dan UGA) sinyal akhir peptida. Tabel ini berlaku untuk

mRNA urutan.

GUA = valin = S Telah digunakan kodon- kodon yang sama untuk menerjemahkan dua pesan yang

7

2.2

Memecahkan Kode Genetik

Cara yang dilakukan neinberg dan kawan-kawan untuk memecahkan kode genetik:

  • 1. Mensintesis trinucleotide (misalnya uuu) yang menyerupai kodon di mRNA.

  • 2. Menyiapkan berbagai jenis aminoacyl-tRNA, misalnya, Thr-tRNA, Phe-tRNA, Lys-tRNA, dll

  • 3. Label radioaktif yang aminoacyl-tRNA (misalnya Phe-tRNA) yang mungkin berisi antikodon

untuk trinucleotide disintesis.

  • 4. Tempatkan trinucleotide, aminoacyl-tRNA dan ribosom pada filter nitroselulosa.

Gambar 2.3 memecahkan kode genetik menurut Neinberg

2.2 Memecahkan Kode Genetik Cara yang dilakukan neinberg dan kawan-kawan untuk memecahkan kode genetik: 1. Mensintesis

Individu trinucleotide dan aminoacyl-tRNA dapat melewati filter, tapi terlalu besar ribosom

melewatinya. Oleh karena itu, jika berlabel aminoacyl-tRNA yang berisi antikodon untuk trinucleotide,

tRNA akan mengikat ribosom di trinucleotide. Dalam hal ini, radioaktivitas dapat dideteksi pada filter dan

asam amino berlabel aminoacyl-Trna yang kemungkinan akan dikodekan oleh trinucleotide. Jika tidak ada

radioaktivitas yang terdeteksi, trinucleotide tidak mungkin menjadi kodon dari asam amino. Kebanyakan

dari 64 kodon mungkin dapat ditentukan dengan mengulangi prosedur ini untuk berbagai trinucleotides dan

label

  • 2.3 m-RNA

mRNA ditranskripsi dari DNA, membawa informasi untuk sintesis protein. Tiga kali berturut-turut

dalam mRNA, nukleotida menyandikan asam amino atau memberikan sinyal berhenti untuk sintesis protein.

.Trinucleotide sebagai kodon.

8

Gambar 2.4 Hubungan Urutan DNA, mRNA dan disandikan peptida. MRNA melengkapi untai DNA template, dengan demikian

Gambar 2.4 Hubungan Urutan DNA, mRNA dan disandikan peptida. MRNA melengkapi untai DNA template, dengan demikian sama dengan untai DNA kodon, kecuali bahwa T digantikan oleh U.

2.4 Ketertiban Kode Genetik

Kode genetik ini tidak secara acak. Jika asam amino dikodekan oleh beberapa kodon, mereka sering

berbagi urutan yang sama di dua posisi pertama dan berbeda dalam posisi ketiga. Penugasan tersebut

dilakukan dengan desain posisi bergoyang, tetapi " evolusi dinamis yang membentuk kode tetap menjadi

misteri ". Lihat Gambar 2.5 Kode genetik seperti yang diberikan dalam Gambar 2.1, tetapi diatur menurut sifat fisik asam amino.

Gambar 2.4 Hubungan Urutan DNA, mRNA dan disandikan peptida. MRNA melengkapi untai DNA template, dengan demikian

9

Dari gambar di atas, kita melihat bahwa asam amino dengan sifat-sifat fisik yang mirip memiliki

kodon serupa. Sebagai contoh, kedua Asp dan Glu bermuatan negatif. Kodon mereka semuanya

mengandung "GA" di dua posisi pertama. Sifat fisik Ser dan Thr juga sangat dekat. Mereka dikodekan oleh

UC dan AC, masing-masing.

Satu keuntungan untuk tugas ini adalah untuk mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh kesalahan

replikasi atau mutasi lain. Sebagai contoh, jika nukleotida ketiga dari kodon Ser bermutasi, asam amino

yang dihasilkan tetap Ser. Jika nukleotida pertama dari kodon Ser bermutasi menjadi A, itu akan

menghasilkan Thr, yang mirip dengan Ser. mutasi semacam itu tidak akan memiliki pengaruh signifikan

pada struktur protein dan fungsi.

2.5 Non-Standar Kode Genetik

Kode genetik standar berlaku untuk sebagian besar makhluk hidup, tapi dari hasil penelitian

diperoleh bahwa tidak semua makhluk hidup memakai kode genetik standar. Pengecualian telah ditemukan

dalam DNA mitokondria beberapa organisme dan dalam DNA nuklues beberapa organisme yang lebih

rendah. Beberapa contoh diberikan dalam tabel berikut.

Tabel 2.6 Contoh non-standar kode genetik.

Dari gambar di atas, kita melihat bahwa asam amino dengan sifat-sifat fisik yang mirip memiliki kodon

10

BAB III KESIMPULAN

Kode Genetik adalah suatu cara untuk menetapkan jumlah serta urutan nukleotida yang berperan

dalam menentukan posisi yang tepat dari tiap asam amino dalam rantai peptida yang bertambah panjang.

Sintesis protein didasarkan pada urutan mRNA, yang terdiri dari nukleotida sementara protein terbuat dari

asam amino.

kode genetik yang berlaku sampai sekarang adalah kode triplet. Penggunaan kodon yang terdiri dari

tiga basa Kode genetik adalah universal karena kode yang sama berlaku untuk semua macam makhluk

hidup. Telah digunakan kodon- kodon yang sama untuk menerjemahkan dua pesan yang berlainan.

Perubahan pengaturan urutan kodon juga merubah penempatan atau urutan asam amino. Pengaturan kodon

dalam ARN menentukan struktur serta fungsi dari tiap protein.

11

DAFTAR PUSTAKA

http//www.google.com/web book/kode genetik

Suryo. 2008. Genetika Manusia. Yogyakarta: GM University Press

12