Anda di halaman 1dari 8

FRAKTUR COLUM RADIUS PADA ANAK

ABSTRAK
Bryan Hsi Ming Tan,1 Arjandas Mahadev2 1 Department of Orthopaedic Surgery, National University Health System, Singapore 2 Department of Orthopaedic Surgery, KK Womens and Childrens Hospital, Singapore

Tujuan. Melihat catatan dari 108 anak dengan fraktur colum radius dan membuat algoritma terapi. Metode. Tercatat 50 anak perempuan dan 58 anak laki-laki dengan rentang u7mur antara 2 sampai 14 tahun (rata-rata 8.7 tahun) dengan fraktur colum radius. Mekanisme cidera yang tersering adalah karena tersandung dan terjatuh dengan tangan yang menumpu (n=44), diikuti dengan terjatuh dari monkey bars (n=11). Type fraktur diklasifikasikan menjadi grade 1 (n=25, grade 2 (n=60), grade 3 (n=16, grade 4a(n=6), grade 4b (n=1). 21 pasien mengalami fraktur yang melibatkan olecranon, proksimal ulna, dan atau supracondylus humeri. Jarak antara kejadian dan terapi 0-7 hari. Terapi berupa casting tanpa manipulasi (n=86), reduksi Kirschner Wire perkutan dan casting (n=7), reduksi terbuka dan casting (n=7). Hasil. Pasien-pasien tersebut ditindak lanjuti antara 1-5 tahun (rata-rata 2,7 tahun). Hasilnya adalah sangat baik 93 pasien, baik 11 pasien, dan cukup 4 pasien. Grade fraktur yang lebih tinggi berkorelasi positif dengan hasil yang lebih buruk (p=0,001). Meskipun demikian, angulasi pasca reduksi tidak berbeda bermakna (p>0.05). Anak yang usianya lebih tua cenderung mendapatkan fraktur yang lebih buruk (p=0.04) dan mendapatkan hasil akhir yang lebih buruk, bahkan setelah reduksi sesuai dengan grade frakturnya (p=0.007). Pasien dengan fraktur yang Saling terkait memiliki hasil yang lebih buruk (p<0.05). Dua pasien berkembang menjadi synostosis pada sendi radioulnar. Salah satunya yang mendapatkan fraktur olecranon menjalani reduksi terbuka dan casting. Yang lainya mendapatkan fraktur proksimal ulna dan menjalani reduksi dengan Kirschner Wire secara berulang karena kehilangan reduksinya. Lima pasien berkembang menjadi osifikasi heterotopic. Empat diantaranya mendapatkan fraktur yang terkait (3 melibatkan olecranon dan satunya proksimal ulna). 14 pasien berkembang menjadi deformitas cubitus valgus sebesar 3 sampai 10.

Kesimpulan.

Reduksi

terbuka

hanya

dilakukan

setelah

terapi

konservatif

gagal

menghasilkan reduksi. Jarak antara kejadian dan terapi 0-7 hari. Terapi berupa casting tanpa manipulasi (n=86), reduksi Kirschner Wire perkutan tambah casting (n=7), reduksi terbuka dan casting (n=7). Kata kunci: fraktur radius; komplikasi, terapi, hasil akhir. PENDAHULUAN Fraktur colum radius merupakan 5-10% dari semua kejadian fraktur siku pada anak-anak. Pusat osifikasi dari radius proksimal muncul pada usia 4-5 tahun. Pisis menutup pada usia 14-17 tahun. Fraktur yang melintasi permukaan sendi sangat jarang pada anak. Tempat yang tersering kena adalah melintasi fisis (dengan sebuah fragmen metafisis, Salterharris type II) atau pada colum. Epifisis dari caput radius dielimuti oleh kartilago dan suplai darah masuk melalui metafisis. Nekrosis avaskular sangat jarang terjadi, karena lokasi cideranya sering pada bagian bawah dari pembuluh darahnya. Terapi dari fraktur colum radius sangat bervariasi, berdasarkan dari displacement, angulasinya, dan maturitas dari tulang tersebut. Kebanyakan dari fraktur yang terjadi adalah undisplaced, atau yang terdisplaced minimal yang diterapi dengan reduksi tertutup dan casting saja, hasilnya baik. Displaced yang terlalu dan mengalami angulasi mendapatkan hasil yang buruk bahkan setelah reduksi terbuka. Komplikasi meli[uti nyeri, penorunan ROM, cubitus valgus, radio-ulnar synostosis, osifikasi heterotropic, overgrowth dari caput radialis, penutupan fisis dini, nekrosis avaskular, malunion, dan non-union. Factor resiko yang berhubungan dengan hasil yang buruk meliputi usia, angulasi colum radius, associated injury, reduksi terbuka dan fiksasi internal. Kami meninjau catatan dari 108 anak dengan fraktur colum radius dan mengusulkan sebuah algoritma terapi. BAHAN DAN METODE Kami melihat catatan dari 50 anak perempuan dan 58 anak laki-laki usia 4 sampai 14 tahun (rata-rata 8.7 tahun) dengan fraktur colum radius yang terjadi antara 1997 dan 2001. 56 pasien cidera pada lengan kananya. Mekanisme cidera yang tersering adalah karena tersandung dan terjatuh dengan tangan yang menumpu (n=44), diikuti dengan

terjatuh dari monkey bars (n=11). Angulasi caput radius didefinisikan sudut 90 antara sumbu epifisis radius yang displaced dengan sudut poros radius (gbr 1). Berdasarkan klasifikasi Judet, tipe fraktur diklasifikasikan menjadi grade 1 (n=25, grade 2 (n=60), grade 3 (n=16), grade 4a(n=6), grade 4b (n=1). 21 pasien mengalami fraktur yang melibatkan olecranon (n=12), proksimal ulna (n= 5), supracondylus humeri (n=1), dan olecranon dan prksimal humeri dengan dislokasi siku (n=1).

Jarak antara kejadian dan terapi 0-7 hari. Terapi berupa casting tanpa manipulasi selama rata-rata 3.4 (antara 1-8) minggu untuk mereka yang angulasinya 0 sampai40 (rata-rata 8) (n=86), reduksi tertutup casting untuk angulasi 30 sampai 59 (rata-rata=51) (n=8), reduksi Kirschner Wire perkutan dan casting untuk angulasi 45 sampai 81 (ratarata=62) (n=7), reduksi terbuka dan casting untuk yang angulasinya 52 sampai dengan 80 rata-rata=65) (n=7). Hasil klinis dievaluasi langsung pada 79 npasien dan via telpon 29 pasien (table 2). Gambaran radiologi dinilai untuk melihat komplikasi. Untuk membaningkan dua grup digunakan students T-test. Korelasi Pearson digunakan untuk menilai korelasi antara hasil dan umur/ grade fraktur/ terapi. HASIL Pasien ditindak lanjuti selama 2.7 (antara 1-5) tahun. Hasil klinis sangat baik 94, baik 10, cukup 4. Tidak ada pasien yang mengalami nyeri kronis. Grade yang tinggi berkorelasi positif dengan hasil yang buruk (p=0.001, pearsons correlation) dan terapi invasive (p=0.001, pearsons correlation). Meskipun demikian, angulasi pasca reduksi tidak

berbeda bermakna (p>0.05, t-test dengan Befferoni correction). Anak yang usianya lebih tua cenderung mendapatkan fraktur yang lebih buruk (grade 3 atau lebih) (p=0.04, t-test) dan mendapatkan hasil akhir yang lebih buruk, bahkan setelah reduksi sesuai dengan grade frakturnya (p=0.007, t-test, table 3). Pasien dengan fraktur yang Saling terkait memiliki hasil yang lebih buruk (p<0.05, pearsons correlation). Diantar pasien-pasien dengan fraktur grade 3 (n=16), semakin invasive terapi berkorelasi positif dengan hasi yang buruk (p=0.006, pearsons correlation). Diantara pasien dengan fraktur grade 4 (n=7), ada kecenderunga hasil yang lebih bruk setelah reduksi terbuka daripada reduksi dengan kawat Krischner perkutan (Tabel 4). Seorang gadis 5 tahun dengan angulasi 51, dan displacement 50% menjalani reduksi dengan kawat Krischner. Kawat di lepas setelah 3 minggu dan casting dipertahankan 3 minggu kedepan. Dua pasien menjalani bedah ke dua dalam 2 minggu; satu karena reduksinya hiang setelah 2 hari menjalani pemasangan kawat Krischner perkutan dan casting; prosedurnya diulang. Pasien lainya mengalami kehilangan reduksi setelah 1 minggu menjalani reduksi tertutup dan casting, dan menjalani reduksi terbuka. Casting dipertahankan sampai 4 minggu kedepan.

Dua pasien mengalami synostosis dari sendi radio-ulnar. Salah satunya yang mengalami fraktur olecranon dan menjalani reduksi terbuka dan casting. Yang lainya dengan fraktur proksimal ulna dan menjalani reduksi dengan Kawat Krischner berulang dikarenakan

kehilangan reduksinya. Lima pasien mengalami osifikasi hipertropik. Empat diantaranya mengalami fraktur associated (3 melibatkan olecranon dan satu proksimal ulna). 14 pasien mengalami deformitas cubitus valgus antara 3 sampai 10. Empat pasien mengalami palsy nervus radialis transien karena cideranya. Tidak ditemukan adanya infeksi luka, wound dehiscence, nekrosis avaskular caput radialis. PEMBAHASAN Kesalahan penanganan dari fraktur colum radius dapan menyebabkan kehilangan fungsi siku. Semakin tinggi grade frakturnya, semakin buruk hasil akhirnya, terlepas dari perbaikan hasil akhir. Anak-anak dengan usia yang lebih tua cenderung mengalami fraktur yang lebih parah dan hasil akhir yang lebih buruk. Maturitas dari tulang membuat prognosis yang buruk. Ini mungkin berhubungan dengan tingginya energy yang terlibat pada cidera anak yang lebih tua. Selain itu, tulang pada anak yang lebih muda mengandung lebih banyak kartilago dan lebih lentur. Energy dari trauma lebih diserap, sehingga fraktur yang terjadi tidak terlalu parah. Tulangnya juga memiliki potensi remodeling yang sangat baik, karenanya dapat mencapai hasil yang lebih baik. Fraktur colum radius yang berkaitan dengan fraktur lain, umumnya mengindikasikan trauma yang melibatkan energy tinggi. ini memungkinkan terjadinya cidera jaringan lunak dan membuat hasil akhir yang buruk. Hasil yang buruk juga berhubungan dengan komplikasi (synostosis proksimal radio-ulnar, osifikasi heterotropic, yang mana mengurangi ROM atau deformitas cubitus. Hubungan antara osifikasi heterotropic dengan umur, grade fraktur, jumlah dan jenis tindakan bedah masih belum jelas. Meskipun demikian, hubungan antara osifikasi heterotropik dan fraktur associated sangat kuat, sebagaimana hubungan antara osifikasi hipertropik dengan dislokasi siku. sudut setelah reduksi dengan cara yang bermacam-macam. Hal ini menunjukan bahwa faktor-faktor selain reduksi post operative yang baik mempengaruhi

Synostosis dari sendi proksimal radio-ulnar merupakan komplikasi. Dilaporkan ada keterkaitan antara synostosis sendi proksimal radio-ulnar dan bedah terbuka, dimana bedah terbuka dan penusukan perkutan yang berulang menyebabkan disrupsi iatrogenic dari periosteum dan jaringan lunak disekitarnya, dan mengakibatkan disorganisasi kalus menyebabkan synostosis. Pada studi ini dua pasien yang mengalami synostosis sendi proksimal radio-ulnar adalah denga umur >7thn dan memiliki associated fraktur dan menjalani bedah terbuka untuk grade 3 dan 4. Untuk mencegah komplikasi yang buruk, kami mengajukan sebuah langkah bijak, protokol level of invasiveness (gbr. 2). Pasien dengan fraktur displaced atau undisplaced dengan sudut angulasi <45, harus di casting tanpa manipulasi. Untuk yang sudut angulasinya > 45, harus reduksi tertutup. Jika reduksi tertutup gagal, maka harus dilakukan reduksi perkutaneus dengan kawat Krischner menggunakan anestesi umum, jikalau masih gagal, reduksi terbuka dan crossiwring harus dilakukan.

REFERENCES

1. Rockwood CA, Wilkins KE, King RE. Fractures in children. Philadelphia: Lippincott; 1991:72851. 2. Tachdjian MO. Pediatric orthopedics. Philadelphia: WB Saunders; 1972. 3. Rang M. Childrens fractures. Philadelphia: JB Lippincott; 1974. 4. Dsouza S, Vaishya R, Klenerman L. Management of radial neck fractures in children: a retrospective analysis of one hundred patients. J Pediatr Orthop 1993;13:2328. 5. Jeffery CC. Fractures of the head of the radius in children. J Bone Joint Surg Br 1950;32:31424. 6. Waters PM, Stewart SL. Radial neck fracture nonunion in children. J Pediatr Orthop 2001;21:5706. 7. Metaizeau JP, Lascombes P, Lemelle JL, Finlayson D, Prevot J. Reduction and fixation of displaced radial neck fractures by closed intramedullary pinning. J Pediatr Orthop 1993;13:35560. 8. Newman JH. Displaced radial neck fractures in children. Injury 1977;9:11421. 9. Rodgers WB, Waters PM, Hall JE. Chronic Monteggia lesions in children. Complications and results of reconstruction. J Bone Joint Surg Am 1996;78:13229. 10. Vahvanen V, Gripenberg L. Fracture of the radial neck in children. A long-term follow-up study of 43 cases. Acta Orthop Scand 1978;49:328. 11. Jones ER, Esah M. Displaced fractures of the neck of the radius in children. J Bone Joint Surg Br 1971;53:42939. 12. Steinberg EL, Golomb D, Salama R, Wientroub S. Radial head and neck fractures in children. J Pediatr Orthop 1988;8:3540. 13. Gao GX, Zhang RY. Radial neck fracture in children. Chin Med J (Engl) 1984;97:8936. 14. Young S, Letts M, Jarvis J. Avascular necrosis of the radial head in children. J Pediatr Orthop 2000;20:158.

15. Evans MC, Graham HK. Radial neck fractures in children: a management algorithm. J Pediatr Orthop B 1999;8:93 9. 16. Steele JA, Graham HK. Angulated radial neck fractures in children. A prospective study of percutaneous reduction. J Bone Joint Surg Br 1992;74:7604. 17. Tibone JE, Stoltz M. Fractures of the radial head and neck in children. J Bone Joint Surg Am 1981;63:1006. 18. Judet H, Judet J. Fractures and orthopedique de l enfant. Paris: Maloine; 1974:319. 19. Radomisli TE, Rosen AL. Controversies regarding radial neck fractures in children. Clin Orthop Relat Res 1998;353:309. 20. Ilahi OA, Strausser DW, Gabel GT. Post-traumatic heterotopic ossification about the elbow. Orthopedics 1998;21:2658.