Anda di halaman 1dari 15

ANALISIS SEMIOTIKA CERPEN MEGATRUH KARYA TITON RAHMAWAN (KAJIAN SEMIOTIK ROLAND BARTHES) KELOMPOK X

oleh :

1. Taufik Rahman 306 1111 039 2. Herryadi 306 1111 149

3. Nurul Kamariah 306 1111 088

Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah STKIP PGRI Banjarmasin KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, kami telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik. Oleh karena itu, kami dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima kritik dan saran guna penyempurnaan makalah ini. Besar harapan kami, dengan makalah ini mahasiswa dapat mengetahui dan bermanfaat bagi pembaca.

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar isi. Pendahuluan... Analisis Semiotika Pada Cerpen Megatruh Kesimpulan. Daftar Pustaka

ANALISIS SEMIOTIKA CERPEN MEGATRUH

KARYA TITON RAHMAWAN (KAJIAN SEMIOTIK ROLAND BARTHES)

A. PENDAHULUAN

Menurut Endraswara (2003: 64) struktural semiotik muncul sebagai akibat ketidakpuasan terhadap kajian struktural yang hanya menitikberatkan pada aspek intrinsik, semiotik memandang karya sastra memiliki sistem sendiri. Karena itu, muncul kajian struktural semiotik untuk mengkaji aspek-aspek struktur dengan tanda-tanda. Seperti halnya bahasa, teater dapat menonjolkan atau membuat sesuatu yng aneh, asing, atau lain (make strange) unsur-unsur yang spesifik dari pemangungan sebagai cara untuk menciptakan makna yang lain sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh pemberi tanda (Indarti, 2004: 102). Segala sesuatu yang disajikan kepada penonton dalam kerangka teatrikal adalah tanda. Membaca tanda-tanda (untuk memahaminya) adalah suatu cara yang dapat kita mulai dengan jalan memahami apa saja yang berada di sekitar kita. Misalnya kita membaca orang-orang yang kita jumpai di jalan, bagaimana mereka berpakaian, rambut kusut, pakaian yang lusuh, dan sepasang sepatu yang jelek yang menandakan pria kota. Meskipun kita dengan sendirinya akan membaca dari apa yang kita lihat tersebut karena pengetahuan kita akan kode-kode pakaian (Barthes dalam Indarti, 2004: 99-100) Analisis prosa menggunakan pendekatan semiotik sebenarnya hampir sama dengan analisis semiotik puisi, yaitu bertujuan menemukan makna yang terkandung dalam karya

sastra. Umumnya analisis semiotik prosa menggunakan teori-teori struktural prosa, salah satunya dengan teori semiotik Roland Barthes. Barthes menggunakan metode analisis lima kode, yaitu kode teka-teki atau hermeneutik, kode konotatif atau semik, kode simbolis, kode aksian, dan kode budaya. Kelima kode ini digunakan untuk menganalisis karya sastra khususnya prosa dengan tujuan untuk menemukan amanat yang terkandung dalam karya tersebut. Dalam analisis ini menggunakan objek sebuah cerpen karya Titon Rahmawan yang berjudul Megatruh. Dalam cerpen ini diceritakan seorang anak yang tidak mau tahu dengan orang tuanya karena sudah merasa dibodohi dengan kelakuan orang tuanya. Akhirnya ia tahu jika ayahnya telah meninggal, dan ia mengalami pergulatan batin. Di samping itu dia harus menerima jika ia tidak sedikit pun mendapat warisan harta orang tuanya. Ia hanya diberi sajadah kumal, sarung kumal, dan layang-layang dari kain. Analisis cerpen Megatruh ini menggunakan teori semiotik yang dicetuskan oleh Roland Barthes, yaitu menggunakan analisis lima kode, yaitu kode hermeneutik, kode konotatif, kode aksian, kode simbolis, dan kode budaya. Dari analisis menggunakan metode lima kode Roland Barthes, dapat disimpulkan mengenai amanat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita ini, yaitu:

B. Analisis Semiotika Pada Cerpen Megatruh

Analisis cerpen Megatruh menggunakan teori semiotik yang dicetuskan oleh Roland Barthes,yaitu menggunakananallisis lima kode,yaitu kode hermeneutic, kode konotatif, kode aksian, kode simbolis,dan kode budaya.
1. Analisis Kode Hermeneutik

Pada bagian kode hermeneutic ini, analisis dilakukan untuk menemukan pertanyaan yang muncul ketika membaca cerpen ini.Pertanyaan-pertanyaan yang muncul ini akan digunakan sebagai salah satu pedoman dalam memperoleh amanat yang terkandung dalam cerita. Sungguh kebangetan kamu, Gung! suara Bulik Runi terdengar melengking diujung telepon. Kalau bukan karena menuruti amanat bapakmu tak sudi aku jauh-jauh pergi ke rumahmu di Bekasi! suara Bulik Runi kembali meninggi.(Megatruh dalam TBK, 180) Kutipan di atas akan memunculkan pertanyaan setelah membaca bagian tersebut.Pertanyaan yang akan muncul adalah amanat apa yang ingin disampaikan Bapak kepada Bulek Runi?. Pertanyaan ini akan mendapat jawaban di bagian berikutnya. Pada bagian awal cerpen Megatruh, pembaca disodorkan beberapa paragraph dan kalimat percakapan yang menyudutkan Agung. Pada bagian awal cerpen ini juga akan muncul pertanyaan kenapa Bulik Runi marah dengan Agung?. Pertanyaan ini akan lebih terasa pada kutipan berikut:

Pokoknya mulai hari ini aku tak akan bicara lagi padamu, Gung! Aku sudah serahkan barang titipan bapakmu kepada Putri. Dan mulai hari ini, jangan kau hubungi aku lagi! (Megatruh dalam TBK, 180) Pada bagian awal cerpen ini akan menjawab pertanyaan yang muncul pertama kali, yaitu mengenai amanat bapak yang ditititpkan kepada Bulik Runi. Amanat yang dititipkan oleh Bapak adalah sebuah bungkusan berwarna cokelatyang diserahkan Bulik Runi kepada istri Agung, Putri. Pertanyaan kedua pada bagian pertama ini, yaitu mengenai ketidakmauan Bulik Runi untuk bertemu Agung lagi, belum bisa terjawab pada bagean awalcerpen ini. Pada bagian kedua cerita ini, pertanyaan yang mungkin akan muncul pada pembaca merupakan kelanjutan pertanyaan yang muncul ketika membaca awal cerita ini. Tak ada yang dapat memahami mengapa Bapak memberikan sarung kumal dan sejadah itu pada diriku. Aku juga merasa heran. Walau setidaknya aku dapat menduga bahwa layang-layang itu tentulah diperuntukan untuk Danang, anak laki-laki yang sulung. (Megatruh dalam TBK, 182) Pada kutipan diatas Agung terlihat bingung dengan bungkusan dari Bapak yang dititipkan Bulik Runi pada Putri, istri Agung, yang isinya adalah sebuah sarung kumal, sajadah, dan laying-layang. Dari kutipan ini mun cul pertanyaan, kenapa Bapak memberikan sarung kumal, sajadah, dan laying-layang kepada agung? . Aku, anak lelaki Bapak yang tertua. Sementara Nunung, adik perempuanku, mendapat sebidang tanah di Wal;I Kukun. Tanah itu memang tidak seberapa luas, tapi

cukuplah dijadikan tempat bertanam rambutan, mangga, pisang, dan papaya, dan Bapak bahkan mewariskan rumah satu-satunya itu pada dirinya. (Megatruh, dalam TBK. 183 ) Pada kutipan diatas , terlihat gejolak batin pada diri Agung. Dari kutipan ininpula pertanyaan yang mencul sebelumnya, yaitu mengenai barang-barang pemberian Bapak, akan mendorong pertanyaan berikutnya, yaitu mengapa Bapak memberikan harta warisan lebih kepada saudara-saudara Agung, padahal Agung adalah anak lelaki tertua ? , yang muncul ketika mulai membaca kutipan di atas.
2. Analisis Kode Aksian

Dalam kode aksi yang dilihat adalah tindakan dan implikasinya. Kode ini mirip dengan tindak tutur dimana setiap ujaran atau tindakan punya implikasi lain. Pada cerpen Megatruh ini, kode aksian ditemukan. Karena pengarang telah memberikan tanda per bagian cerpen ini. Cerpen ini punya tiga bagian utama, yaitu bagian awal cerita, tengah cerita, dan akhir cerita. Pada bagian awal cerita merupakan pengenalan tokoh Agung. Pada bagian ini pengarang menyodorkan beberapa konflik yang menjadi cerita utama. Pengarang dengan pintar membuat alur cerita pada awal cerpen, sehingga pembaca bertanya dengan isi cerpen. Pada bagian awal cerpen ini pula, pengarang mulai membentuk bagian cerita. Agung yang awalnya bingung dengan barang titipan yang dimaksud oleh Bulik Runi mulai jelas dengan penjelasan yang diberikan oleh istrinya.

Pada bagian tengah cerita ini merupakan bagian klimaks yang menonjolkan terjadinya konflik batin pada diri Agung. Pada bagian tengah cerpen ini, pengarang menggambarkan suasana pikiran agung yg diselimuti oleh perasaan bingung atas apa yang telah ia terima. Agung juga mencoba mencari jawaban diatas apa yang telah diwariskan kepadanya dan mengapa ia mendapatkan warisan paling sedikit dibandingkan saudaranya . Pada bagian tengah ini, pengarang memberikan gambaran yg akan membawa cerita pada bagian akhir cerita. Bagian akhir cerita adalah bagian penutup yang merupakan sebuah cerita. Pada bagian ini, pengarang tidak secara langsung member simpulan atas konflik yang terjadi pada bagian sebelumnya. Pengarang hanya memberi simpulan dari konflik batin yang terjadi pada Agung. Agung menyimpulkan bahwa tujuan Bapak memberikan warisan berupa sarung kumal, sajadah, dan layang-layang karena Bapak menghukum Agung sebab ia tidak kunjung pulang ketika Bapak sakit.
3. Analisis Kode Konotasi

Analisis pada bagian ini merupakan analisis berhubungan dengan bahasa, Pengarang lebih sering menggunakan kata yang mudah dipahami masyarakat, sehingga pembaca gampang menangkap isi cerita. Bahasa yang sering digunakan dipengaruhi oleh bahasa dan budaya Jawa. Hal ini terlihat dari bahasa yang biasa digunakan seperti kebangetan, bulik, dan ngebut. Kata kebangetan mempunyai arti keterlaluan, bulik berarti saudara perempuan dari ayah atau ibu. dan ngebut berarti lebih cepat dalan berkendaraan. Secara tidak langsung pengarang

member penjelasan dari kata bulik dan ngebut . Penjelasan kata bulik terdapat pada kutipan dibawah ini : Bulik Runi adalah satu-satunya adik bapakku. Dan ia adalah satu-satunya kerabat yang tinggal berdekatan denganku. (Megatruh dalam TBK, 180) Sementara penjelasan kata ngebut terlihat pada percakapan Agung dengan supir taksi yang ia tumpangi. Berikut kutipannya: Taksi yang kutumpangi dari bandara telah malaju cukup kencang, namun aku merasakan merayap seperti keong. Aku menjadi tak sabar, Bisa lebih cepat lagi, Bang?. Ini juga sudah ngebut, Pak! jawab sopir taksi itu dengan suara ketus. Bahasa ini digunakan pengarang agar pembaca lebih bias menghayati dan memahami isi cerita.
4. Analisis Kode Simbolis

Analisis kode ini berhubungan dengan lambang yang dimanfaatkan pengarang sebagai sarana penyampaian pesan dari karya sastranya. Pada cerpen ini tokoh yang dimanfaatkan pengarang dalam menyampaikan pesan adalah tokoh Agung. Agung merupakan tokoh sentral ceruta. Dari tokoh inilah terjadi konflik batin antara tokoh yang satu dengan tokoh lain. Tokoh agung digambarkan sebagai tokoh yang tidak mau tahu dengan urusan sepele dibandingkan pekerjaan. Ia tak menghiraukan kabar Bapaknya yang lagi sakit. Ia telah lupa akan kondisi Bapak yang sakit keras hanya karena keegoisannya.

Saat istri menelpon bahwa Bapak sakit dan berniat mengumpulkan anak yang tersebar diberbagai kota, aku memang tak menanggapi serius. Sudah ketiga kalinya hal itu terjadi, dulu saat kami pulang, kami mendapati Bapak segar bugar, ternyata beliau hanya kangen dan ingin bertemu kami. Dengan pertimbangan itulah aku tak menanggapi telpon istriku dengan sungguhsungguh. Bahkan, ketika menelpon kedua kali aku hanya menganggap gurauan Bapak. Sampai kemudian Bulik Runi menelpon dengan nada marah dan memeksaku pulang. Aku terpaksa meninggalkan pekerjaan dan pulang secepatnya ke Indonesia , namun semuanya sudah terlambat. (Megatruh dalam TBK, 185) Suasana kemelut mewarnai Agung ketika ia menyadari bahwa Bapak telah memberikan harta warisan yang tidak adil untuknya. Ia hanya memperoleh benda menurutnya kurang bernilai,sedangkan adiknya memperoleh warisan yang lebih banyak dan bernilai. Aku tidak tahu kenapa, Bapak begitu tega membagi harta dengan cara yang tidak adil. Apakah hanya karena diriku tidak dapat datang pada saat beliau pulang ke Rahmatullah, sehingga aku tak kebagian apa-apa selain sarung dan sajadah? (Megatruh dalam TBK, 183) Dalam cerpen ini terbentuk dua oposisi dari konflik yang ada yaitu pekerjaan keluarga dan kedurhakaan. Dari oposisi yang pertama dapat disimpulkan bahwa dalam diri Agung terjadi konflik batin, dalam satu sisi iaharus professional dalam pekerjaannya dan di sisi lain ia tidak boleh mengacuhkan begitu saja keluarganya khususnya kondisi bapaknya.

Pada oposisi yang tetap yang menjadi sorotan adalah Agung sebagai tokoh sentral dalam cerita ini. Pada oposisi ini kepatuhan terjadi pada saat tokoh Agung masih sering pulang ketika mendapat kabar bahwa bapaknya kondisi sakit, walaupun itu ternyata hanya trik bapaknya agar Agung dan keluarganya mau berkunjung kerumah orang tuanya. Kedurhakaan diasosiasiakan sebagai suatu hukuman yang diterima Agung ketika ia hanya mendapatkan sarung dan sajadah kumal yang disebabkan karena Agung tidak mengindahkan informasi bahwa bapak sedang sakit keras. Dengan demikian seorang anak harus patuh pada orang tuanya. Pengarang selain menggunakan tokoh Agung sebagai pembawa arus konflik , pengarang juga memanfaatkan tokoh pembantu untuk memperjelas yang akan disampaikan kepada pembaca. Bulik Runi, dimanfaatkan oleh pengarang untuk mengawali cerita dan membuat pertanyaan tentang konflik yang akan terjadi pada tengah cerita, Putri, istri Agung dimanfaatkan pengarang untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang muncul ketika terjadi percakapan antara Agung dan Bulik Runi. Nunung , adik perempuan Agung, dimanfaatkan pengarang dalam membantu Agung mencari jawaban mengenai warisan yang diberikan oleh Bapak pada Agung.
5. Analisis Kode Budaya

Dalam analisi ini, budaya atau kebiasaan yang muncul dalam teks, dapat menjadi symbol yang dimanfaatkan penulis untuk menyampaikan pesannya. Pada cerpen Megatruh ini pengarang menggunakan budaya Jawa dan Islam dalam membuat ceritanya.

Budaya Jawa dimanfaatkan pengarang untuk membuat kebiasaan dalam percakapan yang dilakukan tokoh. Hal ini terlihat dalam penggunaan kosa kata dan susunan bahasa pada tokohnya. Selain itu budaya Islam digunakan pengarang untuk menceritakan mengenai pembagian harta warisan.

KESIMPULAN

a. Seorang anak harus patuh kepada orang tua, yang digambarkan dari tokoh Agung

yang tidak mau mendengar pesan-pesan keluarganya ketika bapaknya dalam kondisi sakit.
b. Sebaiknya lebih mengutamakan keluarga dari pekerjaan walaupun dituntut untuk

lebih profesional. Hal ini terlihat ketika Agung lebih memilih untuk bekerja daripada pulang menjenguk bapaknya yang sedang sakit.
c. Setiap orang harus selalu mendekatkan diri kepada Tuhannya dalam kondisi

apapun. Hal inin terlihat ketika Bapak mewariskan sajadah dan sarung kumal kepada Agung yang dapat diartikan walaupun dalam kondisi apapun tetap jangan meninggalkan solat.
d. Janji harus selalu ditepati. Pesan ini diperoleh dari layang-layang yang diberikan

kepada Agung. Bapak telah menjanjikan membuatkan layang-layang yang lebih bagus untuk putra Agung, dan Agung tak kunjung datang untuk menemui bapaknya sampai akhirnya bapaknya meninggal.

Daftar Pustaka

1. Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka

Widyatama.
2. Hudayat, Asep Yusup. 2007. Metode Penelitian Sastra. Modul. Bandung: Fakultas

Sastra, Universitas Padjajaran.


3. Indarti, Titik. 2004. Memahami Drama Sebagai Teks Sastra dan Pertunjukan.

Surabaya : Unesa University Press


4. Minderop, Albertine. 2005. Metode Karaktertistik Telaah Fiksi. Jakarta: Yayasan

Obor Indonesia.
5. Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada

University Press.
6. Rahmawan, Titon. 2007. Megatruh. Dalam Kumpulan Cerpen Tembang Bukit

Kapur, Cerpen Pilihan Escaeva. Fenty Febriyanti (Ed.). Jakarta: Escaeva.


7. Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia. 8. Todorov, Tzvetan. 1985. Tata Sastra. Diterjemahkan oleh Okke K.S. Zaimar, dkk.

Jakarta: Djambatan.
9. Van Zoest, Art. 1993. Semiotika : tentang tanda, cara kerjanya dan apa yang kita

lakukan dengannya (terjemahan Ani Soekawati). Jakarta : Yayasan Sumber Agung.