Anda di halaman 1dari 14

Bahasa prokem Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa

Ada usul agar artikel atau bagian ini digabungkan ke halaman Bahasa prokem (diskusikan) Bahasa prokem Indonesia atau bahasa gaul atau bahasa prokem yang khas Indonesia dan jarang dijumpai di negara-negara lain kecuali di komunitaskomunitas Indonesia. Bahasa prokem yang berkembang di Indonesia lebih dominan dipengaruhi oleh bahasa Betawi yang mengalami penyimpangan/ pengubahsuaian pemakaian kata oleh kaum remaja Indonesia yang menetap di Jakarta. Kata prokem sendiri merupakan bahasa pergaulan dari preman. Bahasa ini awalnya digunakan oleh kalangan preman untuk berkomunikasi satu sama lain secara rahasia. Agar kalimat mereka tidak diketahui oleh kebanyakan orang, mereka merancang katakata baru dengan cara antara lain mengganti kata ke lawan kata, mencari kata sepadan, menentukan angka-angka, penggantian fonem, distribusi fonem, penambahan awalan, sisipan, atau akhiran. Masing-masing komunitas (daerah) memiliki rumusan sendirisendiri. Pada dasarnya bahasa ini untuk memberkan kode kepada lawan bicara (kalangan militer dan kepolisian juga menggunakan). Contoh yang sangat mudah dikenali adalah dagadu yang artinya matamu. Perubahan kata ini menggunakan rumusan penggantian fonem, dimana huruf M diganti dengan huruf D, sedangkan huruf T diubah menjadi G. Sementara huruf vokal sama sekali tidak mengalami perubahan. Rumusan ini didasarkan pada susunan huruf pada aksara jawa yang dibalik dengan melompati satu baris untuk masing-masing huruf. Bahasa ini dapat kita jumpai di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Belakangan ini bahasa prokem mengalami pergeseran fungsi dari bahasa rahasia menjadi bahasa pergaulan anak-anak remaja. Dalam konteks kekinian, bahasa pergaulan anak-anak remaja ini merupakan dialek bahasa Indonesia non-formal yang terutama digunakan di suatu daerah atau komunitas tertentu (kalangan homo seksual atau waria). Penggunaan bahasa gaul menjadi lebih dikenal khalayak ramai setelah Debby Sahertian mengumpulkan kosa-kata yang digunakan dalam komunitas tersebut dan menerbitkan kamus yang bernama Kamus Bahasa Gaul pada tahun 1999. Daftar isi

1 Sejarah 2 Penggolongan

3 Distribusi geografis 4 Pemakaian resmi 5 Pengucapan 6 Tatabahasa 7 Bahasa prokem Tegal 8 Partikel yang sering dipakai
o o o o o o o o o o o

8.1 Deh/ dah 8.2 Dong 8.3 Eh 8.4 Kan 8.5 Kok 8.6 Lho/Loh 8.7 Nih/ ni 8.8 Sih 8.9 Tuh/ tu 8.10 Ya 8.11 Yah

9 Lihat pula 10 Pranala luar [sunting]Sejarah Bahasa prokem merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa dalam pergaulan anak-anak remaja. Istilah ini muncul pada akhir tahun 1980-an. Pada saat itu ia dikenal sebagai 'bahasanya para bajingan atau anak jalanan' disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman. Saat ini bahasa prokem telah banyak terasimilasi dan menjadi umum digunakan sebagai bentuk percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkungan sosial bahkan dalam media-media populer serperti TV, radio, dunia perfilman nasional, dan seringkali pula digunakan dalam bentuk pengumuman-pengumuman yang ditujukan untuk kalangan remaja oleh majalah-majalah remaja populer. Karena jamaknya, kadang-kadang dapat disimpulkan bahasa prokem adalah bahasa utama yang digunakan untuk komunikasi verbal oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari, kecuali untuk keperluan formal. Karenanya akan menjadi terasa 'aneh' untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain menggunakan bahasa Indonesia formal. Bahasa prokem senantiasa berkembang. Banyak sekali kata-kata yang menjadi kuno atau pun usang disebabkan kecenderungan dan perkembangan zaman.

[sunting]Penggolongan Tiada penggolongan formal dari bahasa prokem, kecuali barangkali bahasa tersebut termasuk sebagai bagian ataupun cabang dari bahasa Indonesia. [sunting]Distribusi

geografis

Bahasa prokem umumnya digunakan di lingkungan perkotaan. Terdapat cukup banyak variasi dan perbedaan dari bahasa prokem bergantung pada kota tempat seseorang tinggal, utamanya dipengaruhi oleh bahasa daerah yang berbeda dari etnis-etnis yang menjadi penduduk mayoritas dalam kota tersebut. Sebagai contoh, di Bandung, Jawa Barat, perbendaharaan kata dalam bahasa prokemnya banyak mengandung kosakatakosakata yang berasal dari bahasa Sunda. [sunting]Pemakaian

resmi

Bahasa prokem bukanlah bahasa Indonesia resmi meskipun bahasa ini digunakan secara luas dalam percakapan verbal dalam kehidupan sehari-hari. [sunting]Pengucapan Cara pengucapan bahasa gaul dilafalkan secara sama seperti halnya bahasa Indonesia. Kosakata-kosakata yang meminjam dari bahasa lain seperti bahasa Inggris ataupun Belanda diterjemahkan pengucapannya, contohnya, 'Please' ditulis sebagai Plis, dan 'Married' sebagai Merit. Untuk contoh lainnya, lihat juga (Inggris) SEASite guide to pronunciation of Indonesian. [sunting]Tatabahasa Struktur dan tatabahasa dari bahasa prokem tidak terlalu jauh berbeda dari bahasa formalnya (bahasa Indonesia), dalam banyak kasus kosakata yang dimilikinya hanya merupakan singkatan dari bahasa formalnya. Perbedaan utama antara bahasa formal dengan bahasa prokem utamanya dalam perbedaharaan kata. Banyak orang asing yang belajar Bahasa Indonesia merasa bingung saat mereka berbicara langsung dengan orang Indonesia asli, karena Bahasa yang mereka pakai adalah formal, sedangkan kebanyakan orang Indonesia berbicara dengan bahasa daerahnya masing-masing atau juga menggunakan bahasa prokem. Contoh: Bahasa Indonesia Bahasa prokem (informal)

Aku, saya

Gue, gua (ditulis pula gw)

Kamu

Lu, lo (ditulis pula lw)

Penatlah!

Capek deh!

Benarkah?

Emangnya bener?

Tidak

Enggak

Tidak peduli

Emang gue pikirin!

[sunting]Bahasa

prokem Tegal

Salah satu daerah yang memiliki bahasa prokem unik adalah Kota Tegal dan sekitarnya. Awal penggunaan bahasa prokem di Tegal adalah sejak perang melawan penjajahanBelanda. Laskar yang bergerilnya menggunakan bahasa sandi yang setelah era kemerdekaan masih tetap dipergunakan sebagai bahasa prokem hingga kini, disampingdialek Tegalan. Bahasa prokem Tegal tidak menggunakan satu rumusan. Ada sebagian kata yang sekadar mengadopsi dari bahasa Arab seperti harem menjadi kharim (istri), distribusi fonem, seperti bapak/ bapa menjadi jasak, wadon (perempuan) menjadi tarok. Ada pula yang menggunakan variabel nama untuk seseorang yang sering jadi bahan olokan, obyek penderita, seperti Dalban, Waknyad, atau Mardiyah. Lantaran keragaman rumusan itulah mengakibatkan tidak semua orang (pendatang) dapat memahami bahasa gaul Tegal. Jika mengacu pada contoh di atas, ada kosa kata yang tidak jelas perumusannya, seperti berikut ini:

Jakwir berasal dari kata batir (teman), semestinya dilafalkan (ditulis) jawir. Jagin, berasal kata balik (pulang), namun sering diucapkan sebagai jegin

[sunting]Partikel

yang sering dipakai

Sih, nih, tuh, dong, merupakan sebagian dari partikel-partikel bahasa prokem yang membuatnya terasa lebih "hidup" dan membumi, menghubungkan satu anak muda dengan anak muda lain dan membuat mereka merasa berbeda dengan orang-orang tua

yang berbahasa baku. Partikel-partikel ini walaupun pendek-pendek namun memiliki arti yang jauh melebihi jumlah huruf yang menyusunnya. Kebanyakan partikel mampu memberikan informasi tambahan kepada orang lain yang tidak dapat dilakukan oleh bahasa Indonesia baku seperti tingkat keakraban antara pembicara dan pendengar, suasana hati/ekspresi pembicara, dan suasana pada kalimat tersebut diucapkan. [sunting]Deh/

dah

Deh/ dah asalnya dari kata sudah yang diucapkan singkar menjadi deh/ dah atau udah. Namun dalam konteks berikut, deh/ dah ini sebagai penekanan atas pernyataan.

Bagaimana kalau ...

Coba dulu deh. (tidak menggunakan intonasi pertanyaan) - Bagaimana kalau dicoba dahulu? Besok pagi aja deh. - Bagaimana kalau besok pagi saja?

Saya mau ...

Lagi deh. - Saya mau lagi. Yang biru itu deh. - Saya mau yang biru itu saja. Aku pergi deh. - Saya mau pergi dahulu.

Partikel ini tidak dapat dipakai di awal kalimat lengkap atau berdiri sendiri. [sunting]Dong Partikel dong digunakan sebagai penegas yang halus atau kasar pada suatu pernyataan yang akan diperbuat.

Tentu saja ...

Sudah pasti dong. - Sudah pasti / Tentu saja. Mau yang itu dong - Tentu saja saya mau yang itu.

Kata perintah atau larangan yang sedikit kasar / seruan larangan.

Maju dong! - Tolong maju, Pak/Bu. Pelan-pelan dong! - Pelan-pelan saja, Kak/Dik.

Partikel ini tidak dapat dipakai di awal kalimat lengkap atau berdiri sendiri. [sunting]Eh

Pengganti subjek, sebutan untuk orang kedua.


Eh, namamu siapa? - Bung, namamu siapa? Eh, ke sini sebentar. - Pak/Bu, ke sini sebentar. Ke sini sebentar, eh. - Ke sini sebentar, Bung. Dua ratus, eh, tiga ratus. - Dua ratus, bukan, tiga ratus. Biru, eh, kalau tidak salah hijau. - Biru, bukan, kalau tidak salah hijau. Eh, kamu tahu tidak ... - Omong-omong, kamu tahu tidak ... Eh, jangan-jangan ... - Hmm... jangan-jangan ... Eh...

Membetulkan perkataan sebelumnya yang salah.


Mengganti topik pembicaraan


Berdiri sendiri: menyatakan keragu-raguan

Selain 'eh' sebagai sebutan untuk orang kedua, partikel ini biasanya tidak dapat dipakai di akhir kalimat lengkap. [sunting]Kan

Kependekan dari 'bukan', dipakai untuk meminta pendapat/penyetujuan orang lain (pertanyaan).

Bagus kan? - Bagus bukan? Kan kamu yang bilang? - Bukankah kamu yang bilang demikian? Dia kan sebenarnya baik. - Dia sebenarnya orang baik, bukan?

Jika dirangkai dalam bentuk "kan ... sudah ..." menyatakan suatu sebab yang pasti (pernyataan).

Kan aku sudah belajar. - Jangan khawatir, aku sudah belajar. Dia kan sudah sabuk hitam. - Tidakkah kamu tahu bahwa dia sudah (memiliki tingkatan) sabuk hitam.

Berdiri sendiri: menyatakan dengan nada kemenangan "Lihatlah, bukankah aku sudah bilang demikian"

Kan...

[sunting]Kok

Kata tanya pengganti 'Kenapa (kamu)'

Kok kamu terlambat? - Kenapa kamu terlambat? Kok diam saja? - Kenapa kamu diam saja? Kok dia mukanya masam? - Kenapa dia mukanya masam? Kok aku tidak percaya kamu? - Kenapa aku tidak dapat mempercayaimu?

Memberi penekanan atas kebenaran pernyataan yang dibuat.

Saya dari tadi di sini kok. - Saya mengatakan dengan jujur bahwa dari tadi saya ada di sini. Dia tidak mencurinya kok. - Saya yakin bahwa dia tidak mencurinya.

Berdiri sendiri: menyatakan keheranan yang tidak dapat diungkapkan dengan katakata

Kok???

[sunting]Lho/Loh

Kata seru yang menyatakan keterkejutan. Bisa digabung dengan kata tanya. Tergantung intonasi yang digunakan, partikel ini dapat mencerminkan bermacammacam ekspresi.

Lho, kok kamu terlambat? - Kenapa kamu terlambat? (dengan ekspresi heran) Loh, apa-apaan ini! - Apa yang terjadi di sini? (pertanyaan retorik dengan ekspresi terkejut/marah) Lho, aku kan belum tahu? - Aku sebenarnya belum tahu. (dengan ekspresi tidak bersalah) Loh, kenapa dia di sini? - Kenapa dia ada di sini? (dengan ekspresi terkejut)

Kata informatif, untuk memastikan / menekankan suatu hal.

Begitu lho caranya. - Begitulah caranya. Nanti kamu kedinginan loh. - Nanti kamu akan kedinginan (kalau tidak menggunakan jaket, misalnya). Aku mau ikut lho. - Aku mau ikut, tahu tidak?. Ingat loh kalau besok libur. - Tolong diingat-ingat kalau besok libur. Jangan bermain api lho, nanti terbakar. - Ingat, jangan bermain api atau nanti akan terbakar.

Berdiri sendiri: menyatakan keheranan yang tidak dapat diungkapkan dengan katakata

Lho???

[sunting]Nih/

ni

Kependekan dari 'ini'.

Nih balon yang kamu minta. - Ini (sambil menyerahkan barang). Balon yang kamu minta. Nih, saya sudah selesaikan tugasmu. - Ini tugasmu sudah saya selesaikan. (I)ni orang benar-benar tidak bisa dinasehati - Orang ini benar-benar tidak bisa dinasehati

Tergantung intonasi yang digunakan, partikel ini dapat mencerminkan bermacammacam ekspresi (umumnya tentang keadaan diri sendiri).

Cape, nih. - Saya sudah lelah. (dengan ekspresi lelah) Saya sibuk, nih. - Saya baru sibuk, maaf. (dengan ekspresi menolak tawaran secara halus) Sudah siang, nih. - Sekarang sudah siang. Ayo lekas ...

Untuk memberi penekanan pada subjek orang pertama


Hanya saya yang tahu jawabannya.

Saya nih yang tahu jawabannya. -

Aku nih sebenarnya anak konglomerat. - Aku ini sebenarnya anak konglomerat.

Berdiri sendiri: memberikan/menyerahkan sesuatu kepada orang lain

Nih.

Lihat partikel "tuh/ tu". [sunting]Sih

Karena ...

Dia serakah sih. - Karena dia serakah. (dengan ekspresi mencemooh) Kamu sih datangnya terlambat. - Karena kamu datang terlambat. (dengan ekspresi menyesal)

Digunakan tepat setelah sebuah kata tanya yang artinya kurang lebih "Sebenarnya ..."

Tadi dia bilang apa sih? - Sebenarnya apa yang dia katakan tadi? Berapa sih harganya? jengkel) Maumu kapan sih? - Sebenarnya kapan yang kamu mau? Sebenarnya berapa harganya? Apa sih yang dia mau? - Sebenarnya apa yang dia mau? (dengan ekspresi

Membedakan seseorang dari sekumpulan orang.

Tetanggaku semuanya miskin, tapi orang itu sih kaya. - Orang itu lebih kaya daripada yang lain. Aku sih tidak akan terjebak, kan aku sudah belajar banyak. - (Yang lain boleh terjebak,) Saya pasti tidak akan terjebak, sebab saya sudah belajar banyak.

Kata yang mengakhiri satu pernyataan sebelum memulai pernyataan yang bertentangan.

Mau sih, tapi ada syaratnya. - Saya mau tetapi ada syaratnya. Saya bisa sih, cuma ada beberapa yang ragu-ragu. - Saya bisa tetapi ada beberapa yang saya masih ragu-ragu. Itu saya sih, tapi saya tidak bermaksud melukainya. - Itu sebenarnya saya, tetapi saya tidak bermaksud melukainya. Kalau aku sih tenang-tenang saja. - Kalau saya sekarang ini tenang-tenang saja.

Partikel ini tidak dapat dipakai di awal kalimat lengkap atau berdiri sendiri [sunting]Tuh/

tu

Kependekan dari 'itu', menunjuk kepada suatu objek

Lihat tuh hasil dari perbuatanmu. - Lihat itu, itulah hasil dari perbuatanmu. Tuh orang yang tadi menolongku. - Itu lihatlah, itu orang yang menolongku.

Tergantung intonasi yang digunakan, partikel ini dapat mencerminkan bermacammacam ekspresi (umumnya tentang keadaan orang lain).

Kelihatannya dia sudah sembuh, tuh. - Lihat, nampaknya dia sudah sembuh.

Tuh, kamu lupa lagi kan? - Lihat, kamu lupa lagi bukan? Ada yang mau, tuh. - Lihat, ada yang mau (barang tersebut).

Untuk memberi penekanan pada subjek orang kedua atau ketiga.

Dia tuh orangnya tidak tahu diuntung. - Dia sebenarnya orang yang tidak tahu berterima kasih. Kalau jadi orang seperti Bapak camat tuh. - Jadilah seseorang seperti Bapak camat. Kamu tuh terlalu baik. - Kamu orang yang terlalu baik.

Berdiri sendiri: menunjukkan sesuatu kepada orang lain

Tuh.

[sunting]Ya Ya di sini tidak selalu berarti persetujuan. Beberapa penggunaan partikel 'ya':

Kata tanya yang kurang lebih berarti "Apakah benar ...?"

Rapatnya mulai jam delapan ya? - Apakah benar rapatnya mulai jam delapan? Kamu tadi pulang dulu ya? - Apakah benar tadi kamu pulang dulu?

Kalau bukan ini, ya itu

Kalau tidak mau, ya tidak masalah. - Kalau tidak mau tidak masalah. Kalau mau, ya silakan. - Kalau mau silakan (ambil / ikut / beli / dll.)

Sebagai awal kalimat digunakan tepat setelah sebuah kalimat dengan nada bertanya.

Mahal? ya jangan beli. - Kalau mahal jangan dibeli. Apa? (dengan ekspresi tidak percaya) Ya jangan mau dong. - Apa? Kalau begitu jangan mau. Apa kamu bilang? Ya dilawan dong. - Apa kamu bilang? Tahu begitu seharusnya kamu melawan.

Berdiri sendiri: lawan kata 'tidak'; kependekan dari 'iya'; menyatakan persetujuan

Ya.

[sunting]Yah Selalu menyatakan kekecewaan dan selalu digunakan di awal kalimat atau berdiri sendiri.
Yah... Yah, kamu sih - Ini karena kamu. Yah, Indonesia kalah lagi - Indonesia kalah lagi (dengan ekspresi kecewa) Yah, sudah selesai - Belum-belum sudah selesai.

[sunting]Lihat

pula

BAHASA INDONESIA DI KALANGAN REMAJA Posted by arizkaseptiani on October 26, 2009 1 Comment Bahasa Indonesia merupakan bahasa asli dari negara Indonesia dan sudah sepantasnya sebagai warga Indonesia, seluruh masyarakat terutama para remaja menjaga dan melestarikan bahasa Indonesia. Namun apa yang terjadi saat ini sungguh sangat memprihatinkan. Kemampuan berbahasa Indonesia para remaja saat ini sudah semakin menurun. Banyak remaja yang menggunakan bahasa Indonesia di campur dengan bahasa yang mereka sebut dengan bahasa gaul. Padahal penggunaan bahasa gaul tersebut dapat merusak tata bahasa Indonesia yang benar. Bagi sebagian remaja, menggunakan bahasa gaul akan menciptakan image bagi mereka sebagai anak keren dan tidak ketinggalan jaman. Padahal apa yang mereka lakukan tidak benar dan dapat merugikan Bangsa Indonesia. Apalagi saat ini Malaysia telah mengklaim bahasa Indonesia sebagai bahasa negara mereka padahal sudah jelas bahwa bahasa Indonesia adalah milik negara Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa betapa rendahya kesadaran masyarakat terutama para remaja untuk mencintai bahasanya sendiri. Indonesia merupakan negara dengan suku dan budaya terbesar di dunia. Di Indonesia terdapat puluhan jenis bahasa seperti bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Padang dll. Namun sangat jarang remaja saat ini menggunakan bahasa daerahnya sendiri. Bahkan mereka cenderung sudah melupakan bahasa daerah maupun bahasa nasional mereka sendiri. Hanya sebagian remaja di daerah yang menggunakan bahasa daerahnya sendiri. Andai seluruh remaja seperti itu mau melestarikan bahasa nasional maupun bahasa daerahnya sendiri, pasti Indonesia akan lebih maju dan di hargai oleh negara lain di dunia. Bahasa Indonesia baku mulai dikhawatirkan ketika mulai dikikis oleh bahasa gaul, populer atau bahasa pasar. Padahal, bahasa baku sangat penting dalam kedudukan kebangsaan. Bahasa baku penting bagi sebuah negara, apalagi bagi Indonesia, kata Prof Dr Benny Hoedoro Hoed, pakar bahasa dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, dalam sebuah diskusi di Lembaga Pers Dr Soetomo, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (23/10). Menurutnya, bahasa baku memiliki fungsi mempersatukan negara Indonesia yang terdiri dari 400 bahasa daerah. Bahasa Indonesia baku diperlukan untuk memperlancar atau memfasilitasi komunikasi pada tataran nasional.

Bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa kebanggaan bangsa Indonesia, tutur Benny. Apa yang terjadi di Indonesia ini termasuk hal istimewa dibanding beberapa negara lain yang mengalami kesulitan menetapkan bahasa persatuan. Dia mencontohkan, di India ada bahasa Hindi dan Inggris, di Belgia menggunakan bahasa Belanda dan Perancis. Lalu ada tiga bahasa yang dipakai di Swiss, yakni Italia, Perancis, dan Jerman. Kanada ada bahasa Inggris dan Perancis. Bahasa baku menurut UU No 24/2009 adalah bahasa yang dianggap dapat digunakan sebagai bahasa di bidang pendidikan, administrasi negara, upacara resmi, karya tulis, hukum, peradilan, dan berbagai ranah yang dapat dipandang resmi.

Bahasa yang digunakan seseorang mencerminkan pribadinya Gaul, dong! Pede aja lagi! Kasihan deh, lo! Nyantai aja, Coy! Begitulah antara lain bahasa gaul yang seringkali kita dengar di kalangan remaja kini. Bahasa gaul itu seakan telah menjadi bahasa resmi mereka. Bahkan bila dalatn pergaulan mereka ada diantaranya yang menggunakan bahasa Indonesia - katakanlah - yang baku, penggunaan bahasa tersebut seolah terdengar aneh dan dianggap norak dalam komunitasnya. Nggak salah, sih, apabila para remaja menggunakan bahasa gaul. Sedangkan dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tentu Pusat Pembinaan Bahasa yang lebih berkompeten mengurusnya, Yang jelas-jelas salah adalah, jika bahasa gaul yang digunakan bersinggungan dengan nilai-nilai moral dan agama. Namun nyatannya, disadari atau tidak, justru hal itu yang sering terjadi. Dengan kata lain, banyak penggunaan bahasa gaul yang makna aplikatifnya cenderung tidak dibatasi oleh nilai-nilai atau norma-norma tadi (norm/essness). Gaul, dong! Dalam konteks sosial pergaulan remaja, gaul bukanlah sekedar kata.. Melainkan sudah menjadi semacam istilah atau ungkapan yang ruang lingkupnya menyentuh berbagai perilaku atau gaya hidup remaja. Sayangnya, istilah atau.ungkapan itu cenderung bertentangan dengan nilai atau norma-norma yang ada. Contohnya, berpacaran dengan ngeseks-nya, minum minuman keras (ngedrink), menggunakan obat terlarang (ngedrugs), berjudi (ngegambling) atau yang lainnya dianggap gaul. Begitu pula dengan kebiasaan nongkrong, ngeceng, atau yang jainnya. Lebih tegasnya, makna gaul lebih berkonotasi negatif. Kata gaul yang sudah menggejala bahkan membudaya itu, disadari atau tidaK memiliki makna psikologis yang relatif cukup kuat pengaruhnya dalam komunitas pergaulan remaja. Akibatnya karena ingin disebut gaul, tidak sedikit diantara remaja yang ikut-ikutan untuk segera memiliki pacar, ngedrink; nyimenk, ngedrugs, atau yang lainnya termasuk nongkrong atau ngecengnya. Entah di pinggiran jaian, di mal-mal, di tempat-tempat hiburan, dan lain sebagainya. Istilah mereka : Gaul dooong Pede aja, lagi! Pede (PD) adalah bahasa gaul yang mengungkapkan perlunya seseorang u.ntuk percaya diri, Namun ironisnya, himbauan, saran, atau perlunya seorang untuk bersikap percaya diri1 ini juga cenderung tidak dibatasi oleh norma-norma tadi, Misalnya seorang gadis berok mini dan berbaju you can see disarankan untuk pede (baca : percaya diri) dengan pakaiannya itu. Bahkan bisa jadi si gadis memang merasa lebih pede dengan model pakaian demikian. Pede aja lagi ! Begitulah bahasa mereka. Masih banyak contoh lain yang menunjukkan perlunya seseorang untuk bersikap pede namun tetap normlessness seperti tadi. Sebab ukuran pede yang seharusnya berlandaskan pada keluhuran nilai-nilai moral dan agama, terkikis oleh hal-hal yang bersifat fisik dan kebendaan. Contoh lainnya, seseorang merasa pede hanya lantaran kecantikan atau ketampanan wajahnya semata, pede hanya jika ke sekolah atau ke kampus membawa motor atau mobil, pede cuma karena mengandalkan status sosial keluarga, dan masih banyak kasus yang lain, Sedangkan merasa pede setelah memakal deodoran di ketiak, itu sih, tidak menjadi masalah. Daripada bauket dan mengganggu orang lain ? Ukuran pede seperti itu, jelas nggak bermutu, selain juga keliru. Pasalnya, pemahaman pede harus lebih ditempatkan dalam ukuran atau standarisasi nilai-nilai ahlak. Bukan karena landasan fisik dan kebendaan semata. Kasihan deh, Lo! Ungkapan ini juga termasuk bahasa gaul yang masih cenderung normless. Sebab ungkapan tersebut seringkali terlontar pada konteks yang tidak tepat. Sebagai contoh, seorang remaja yang tidak mau mengikuti tren tertentu dianggap : Kasihan deh, Lo!. Begitu pula dengan remaja yang membatasi diri dari perilaku lainnya yang

sesungguhnya memang perlu/harus dihindari karena tidak sesuai dengan nilai atau norma-norma agama (Islam). Misalnya karena.tidak pernah turun ke diskotek lengkap dengan ngedrink atau ngec/njgsnya, ataupun perilaku negatif lain yang sudah menjadi bagian dari gaya hidup remaja. Bisa juga ungkapan Kasihan deh, Lu ini tertuju pada remaja yang sama sekali tidak mengetahui berbagai informasi yang memang sesungguhnya juga tidak perlu untuk diketahui. Seperti tidak mengetahui siapa sajakah personil bintang Meteor Garden yang tergabung dalam f4"itu ? Siapa pula Delon itu? Atau yang lainnya Nyantai aja, Coy! Kekeliruan lain yang juga menggejala dalam bahasa gaul remaja adalah ungkapan : Nyantai aja, Coy! Tentu tidak masalah dalam kondisi tertentu kita nyantai, lebih tepatnya adalah bersantai atau istirahat untuk menghilangkan kepenatan. Namun yang menjadi masalah apabila Nyantai aja, Coy disini konteksnya mirip dengan lagu iklan Silver Queen : mumpung kiitaa masih muda, santai saja Ingat kan ? Nyantai aja, Coy! yang dilontarkan sebagian remaja seringkali bermakna ketidakpedulian terhadap kemajuan atau prestasi diri. Sebagai contoh, seorang remaja mengatakan, Nyantai aja, Coy! kepada temannya, karena temannya itu terlihat gelisah lantaran belum belajar untuk persiapan ujian besok pagi, Nyantai aja, Coy! terkadang bisa pula menunjukkan ketidakpedulian terhadap lingkungan sosial atau orang lain. Misalnya, seorang remaja putri sedang asyik ngobrol di telepon umum sementara banyak orang antri menunggu giliran. Ketika salah seorang yang antri menegurnya, ia malah menjawab Nyantai aja, Coy! Jika mau dicermati tentu masih banyak ungkapan : Nyantai aja, Coy! yang sering dilontarkan para remaja namun tidak sesuai dengan konteksnya bahkan menafikan keluhuran nilai-nilai akhlak, Repotnya, apabila mereka dinasihati untuk men}auhi berbagai perilaku yang tidak baik, termasuk dalam menggunakan ungkapan yang tidak tepat (karena tidak sesuai dengan konteksnya), maka dengan mudahnya mereka malah berbalik mengatakan, Nyantai aja, Coy! Membudayakan bahasa gaul yang positif Berbagai ungkapan seperti: Gaul, dong!, Pede aja lagi!, Kasihan deh, Lo!, Nyantai aja, Coy! atau mungkin berbagai ungkapan lain, dalam konteksnya sekali lagi seringkali tidak tepat atau tidak dibatasi oleh nilai-nilai : baik atau buruk. Karena ungkapan-ungkapan bahasa gaul itu mempunyai pengaruh psikologis yang relatif cukup kuat dalam mempengaruhi seorang remaja dalam komunitas pergaulannya, maka perlu adanya semacam upaya membudayakan bahasa gaul yang positif di kalangan mereka. Contoh yang benar menggunakan ungkapan-ungkapan tersebut disesuaikan dengan konteksnya atau sejalan dengan nilai-nilai moral adalah sebagai berikut : Ungkapan Gaul dong!. Sebagai seorang pelajar atau mahasiswa, gaul dong dengan buku! Masak pelajar atau mahasiswa gaulnya dengan ngedrugs, nongkrong, ngeceng, lagi. Masak remaja muslim gaulnya seperti itu. Gaul dong dengan remaja masjid. Ungkapan Pede aja, lagi! Kalau sudah belajar, pede aja lagi! Kalau kita berada dalam kebenaran, pede aja lagi! Kalau sudah berpakaian sopan, kenapa mesti tidak pede! Ungkapan Kasihan deh, Lo! Kasihan deh Lo! Masak ngaku pelajar atau mahasiswa tapi berurusan dengan polisi (karena terlibat narkoba misalnya). Masak seorang muslim tidak bisa baca Al Quran. Kasihan deh, Lo! Ungkapan Nyantai aja, Coy! Kalau kita sudah belajar dengan maksimal, nyantai aja menghadapi ujian. Sebagai remaja yang memiliki kemampuan berpikir, tentu kita tidak mau dong termasuk orang yang asbun alias asal bunyi dalam bicara. Nah karena itu, sebaiknya kita meninjau kembali apakah bahasa gaul yang setiap hah kita gunakan itu sudah sesuai tidak konteksnya dengan nilai-nilai kesopanan dan moral. Biar nggak asal bunyi. Bahasa yang digunakan seseorang mencerminkan pribadinya. Silakan saja menggunakan bahasa gaul sebagai cerminan bahwa kita memang remaja yang senang bergaul. Namun hati-hati, jangan karena kita merasa bangga jadi anak gaul tetapi bahasa gaul yang kita gunakan tidak tepat konteksnya atau bertentangan dengan nilai-nilai kesopanan dan moral. Sebab jika demikian bisa-bisa kita justru disebut anak yang salah gaul. Ya nggak?!

Penggunaan bahasa indonesia di kalangan remaja

Bahasa prokem Indonesia atau bahasa gaul atau bahasa prokem yang khas indonesia dan jarang dijumpai di negara-negara lain kecuali di komunitas-komunitas Indonesia. Bahasa prokem yang berkembang di Indonesia lebih dominan dipengaruhi oleh bahasa Betawi yang mengalami penyimpangan/ pengubahsuaian pemakaian kata oleh kaum remaja Indonesia yang menetap di jakarta. Kata prokem sendiri merupakan bahasa pergaulan dari preman. Bahasa ini awalnya digunakan oleh kalangan preman untuk berkomunikasi satu sama lain secara rahasia. Agar kalimat mereka tidak diketahui oleh kebanyakan orang, mereka merancang kata-kata baru dengan cara antara lain mengganti kata ke lawan kata, mencari kata sepadan, menentukan angka-angka, penggantian FONEM, distribusi fonem, penambahan awalan, sisipan, atau akhiran. Masing-masing komunitas (daerah) memiliki rumusan sendiri-sendiri. Pada dasarnya bahasa ini untuk memberikan kode kepada lawan bicara (kalangan MILITER dan KEPOLISIAN juga menggunakan). Contoh yang sangat mudah dikenali adalah dagadu yang artinya matamu. Perubahan kata ini menggunakan rumusan penggantian fonem, dimana huruf M diganti dengan huruf D, sedangkan huruf T dirubah menjadi G. Sementara huruf vokal sama sekali tidak mengalami perubahan. Rumusan ini didasarkan pada susunan huruf pada aksara jawa yang dibalik dengan melompati satu baris untuk masing-masing huruf. Bahasa ini dapat kita jumpai di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Belakangan ini bahasa prokem mengalami pergeseran fungsi dari bahasa rahasia menjadi bahasa pergaulan anak-anak remaja. Dalam konteks kekinian, bahasa pergaulan anak-anak remaja ini merupakan dialek bahasa indonesia non-formal yang terutama digunakan di suatu daerah atau komunitas tertentu (kalangan homo seksual atau waria). Penggunaan bahasa gaul menjadi lebih dikenal khalayak ramai setelah Debby Sahertian mengumpulkan kosa-kata yang digunakan dalam komunitas tersebut dan menerbitkan kamus yang bernama Kamus Bahasa Gaul pada tahun 1999.(sumber www.wikipedia.com) sedikit tambahan penggunaan bahasa indonesia yang asli sudah jarang di temui dalam kalangan remaja atau di kalangan orang tua sekalipun. Di karenakan pergaulan dan situasi kondisi di daerah sekitar nya,biasa nya di kalangan remaja lebih banyak menggunakan bahasa gaul seperti yang telah di jelaskan di atas dan itu semua karenakan ketakutan si remaja jikalau di anggap orang yang tidak punya pergaulan ataupun manusia kutu buku yang hanya berteman dengan buku bukunya,, saja hal ini jga mengakibatkan kalangan remaja sudah jarang menggunakan bahasa indonesia yang benar dan baik,