Anda di halaman 1dari 4

Kebutuhan energi saat ini sudah menjadi masalah nasional yang begitu nyata dan mendesak, sehubungan dengan

melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) dunia yang sangat besar dampaknya diberbagai sektor perekonomian nasional. Merespon masalah tersebut di atas Pemerintah sudah mengeluarkan Inpres No.10 tahun 2005 tentang Penghematan Energi dan ditindaklanjuti Permen ESDM No.0031 tahun 2005 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penghematan Energi. Juga Perpres No.5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional dan Inpres No.1 tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) atau Biofuel. Selanjutnya pemerintah telah membentuk Timnas BBN untuk menyiapkan Program Pengembangan BBN, serta ditindaklanjuti dengan berbagai peraturan dan kebijakan lainnya. Hal tersebut diperkuat dengan adanya UU No.30 tahun 2007 tentang Energi, maka sudah cukup kuat landasan bagi kita untuk mengoptimalkan penggunaan energi dan mencari sumber energi baru dan terbarukan sehingga bisa memberikan solusi terhadap permasalahan krisis energi nasional. Meningkatnya harga energi yang sangat melambung saat ini dan meningkatnya kepedulian masyarakat tentang dampak lingkungan dari penggunaan energi serta liberalisasi sektor industri energi mengakibatkan semakin pentingnya pemahaman manajemen energi dan konservasi energi dalam rangka mengantisipasi perkembangan teknologi yang pesat dan sumber energi yang semakin terbatas. Untuk itulah perlu adanya suatu riset dan analisis lebih jauh untuk menginventarisasi berbagai permasalahan, memetakan semua potensi yang ada, menghitung adanya peluang dan resiko investasi, serta memberikan solusi multiperspektif dan multidimensi, agar permasalahan krisis energi bisa kita atasi bersama. Dalam hal ini riset akan kita fokuskan pada sumber energi baru dan terbarukan, yaitu Pabrik Biodiesel Skala Komersial. Manajemen energi adalah salah satu solusi untuk konservasi energi dan meningkatkan efisiensi energi dalam suatu industri. Yang mana kegiatan pengelolaan energi meliputi pemantauan, pencatatan, pengukuran, akuntansi, penetapan target, dan rekomendasi tindak lanjut. Langkah-langkah yang akan dilakukan adalah dengan mengoptimalkan semua peralatan dan proses yang ada, yaitu dengan melakukan audit energi dan audit teknologi pada pabrik biodiesel tersebut. Melalui Benchmarking akan diperoleh data kebutuhan penggunaan energi, dan sekaligus ditemukan adanya potensi/ peluang penghematan energi. Selanjutnya dari hasil kajian, identifikasi dan analisis akan diperoleh suatu optimasi disain/ peralatan/ proses/ prosedur dan optimasi sistem lainnya pada pabrik biodiesel tersebut. Dengan menerapkan manajemen energi maka diharapkan akan meningkatkan efisiensi pemakaian energi serta meningkatkan produktifitas biodiesel yang dihasilkan, dengan tanpa mengurangi kinerja, kenyamanan dan keselamatan dalam proses industri tersebut. Sehingga riset ini turut serta berperan mengawal kebijakan pemerintah dalam menciptakan ketahanan energi nasional dengan didapatkan sumber energi baru dan terbarukan dari Pabrik Biodiesel Skala Komersial yang lebih efisien dan berdaya saing tinggi. LATAR BELAKANG (STATE OF THE ART) : Kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri jumlahnya terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk. Pada tahun 2003 hampir 75% dari kebutuhan BBM dipasok dari kilang dalam negeri, dan sisanya dipenuhi dari impor. Diperkirakan pada tahun 2010 kebutuhan BBM dua kali lipat kebutuhan BBM pada tahun 2003. Untuk mengantisipasinya perlu dilakukan diversifikasi energi atau mencari alternatif lain dan segera mensosialisasikan kampanye hemat energi kepada masyarakat luas secara menyeluruh guna mengurangi ketergantungan kepada bahan bakar fosil. Konsumsi bahan bakar diesel baik di sektor transportasi maupun industri kian meningkat dan perbandingan volume antara produksi dan konsumsi di dalam negeri sudah tidak seimbang. Tercatat pada tahun 2003 produksi minyak solar dan minyak diesel adalah sekitar 17,0 juta KL, sedangkan total konsumsi saat itu mencapai 26,4 juta KL (165 juta barrel), sehingga harus dilakukan impor sebesar 9,4 juta KL (35,7% dari total konsumsi). Dari angka tersebut menunjukkan terjadinya kekurangan pasokan bahan bakar diesel yang

cukup signifikan di Indonesia. Dengan adanya Protokol Kyoto menuntut negara-negara di dunia menggunakan bahan bakar yang ramah lingkungan, yang tidak mengeluarkan emisi yang menyebabkan efek rumah kaca atau rusaknya lapisan ozon di atmosfer. Dengan demikian agar ketersediaan bahan bakar diesel sesuai tuntutan issue lingkungan dapat terpenuhi, maka perlu dicari bahan bakar alternatif baik sebagai pencampur maupun sebagai pengganti bahan bakar diesel. Salah satu bahan bakar alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi hal tersebut di atas adalah biodiesel. Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif dari sumber terbarukan (renewable), dengan komposisi ester asam lemak yang dapat dibuat dari minyak trigliserida (minyak nabati) yang antara lain adalah minyak : kelapa sawit, kelapa, jarak pagar, kemiri, nyamplung, kedelai, kapuk, dan masih ada lebih dari 30 macam tumbuhan Indonesia yang potensial untuk dijadikan biodiesel. Dengan alasan tersebut, pemerintah melalui Perpres No.1 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional dan Inpres No.1 tahun 2006 yang mengamanatkan untuk menyediakan dan memanfaat bahan bakar nabati (biofuel) sebagai bahan bakar lain sebagai bagian dari sistem energi mix nasional. Dalam kaitan tersebut ditargetkan biofuel, yang salah satunya adalah biodiesel, mempunyai peran sebesar 5% dari konsumsi energi nasional pada tahun 2025. Target yang demikian ini telah sejalan dengan road map yang telah disusun dalam dokumen PEN (Perencanaan Energi Nasional) dimana target yang diberikan adalah mensubtitusi bahan bakar solar dengan biodiesel sebanyak 2% di tahun 2010, 3% di tahun 2015 dan 5% in 2025. Dari target tersebut, dapat diperlukan produksi biodiesel sebesar 800,000 KL di tahun 2005, yang harus dipenuhi dari 8 - 27 pabrik biodiesel dengan kapasitas 30,000 ton/tahun sampai dengan 100,000 ton/tahun (skala komersial). Untuk itu perlu dilakukan riset mengenai Optimasi pada Pabrik Biodiesel Skala Komersial untuk lebih meningkatkan daya saing dan efisiensinya, dalam rangka mendapatkan sumber energi alternatif yang baru dan terbarukan sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM). Maka dengan menerapkan Manajemen Energi beserta audit energi dan audit teknologi diharapkan akan didapatkan suatu optimasi disain/ peralatan/ proses pada industri tersebut. Hal ini sebagai kelanjutan pengembangkan biodiesel untuk memenuhi target penggunaan Biodiesel seperti yang tertuang dalam Perpres No.5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional sebagai rangkaian langkah-langkah yang sebaiknya diambil oleh pemerintah, institusi penelitian, universitas, entitas swasta dan masyarakat umumnya, serta berbagai implikasi ekonomi sebagai akibat dari pilihan kebijakan yang akan diambil pemerintah. TUJUAN DAN PENTINGNYA PENELITIAN : 1. Manajemen energi adalah suatu solusi dalam menerapkan konservasi energi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi dalam industri. Yaitu berupa kegiatan pengelolaan energi yang meliputi pemantauan, pencatatan, pengukuran, akuntansi, penetapan target, dan rekomendasi tindak lanjut. Selanjutnya langkah yang akan dilakukan diantaranya dengan mengoptimalkan semua peralatan / proses yang ada. 2. Audit energi adalah cara efektif yang dapat dilakukan di dalam melaksanakan program efisiensi energi dan merupakan langkah kunci dalam manajemen energi. Dari Benchmarking diperoleh data kebutuhan energi dan peluang penghematannya. 3. Audit teknologi bertujuan untuk meningkatkan kinerja dan efisiensi suatu industri, disamping untuk mengidentifikasi posisi teknologi suatu industri tersebut dibanding pesaingnya sehingga diharapkan akan meningkakan daya saing industri nasional. 4. Manajemen energi akan mengoptimalkan industri pabrik biodiesel khususnya untuk yang berskala komersial agar diperoleh rancangan disain industri yang lebih efisien dan lebih produktif sehingga meningkatkan daya saing industri nasional kita. 5. Manfaat-manfaat dari efisiensi energi adalah mengurangi resiko dan menaikkan keuntungan bagi perusahaan industri melalui : a. Pengurangan biaya operasi. b. Pengurangan pengaruh kenaikan harga energi dan kurangnya pasokan energi. c. Perbaikan produktivitas dan kualitas produk. d. Perbaikan reputasi dengan pelanggan, pemerintah dan masyarakat.

e. Perbaikan kesehatan, keselamatan dan moral. f. Perbaikan pemenuhan peraturan perundangan/hukum dan target ISO 14001. g. Perbaikan kinerja lingkungan.

RANCANGAN (DESIGN / METODE) RISET : Manajemen energi di sektor industri biodiesel, melalui identifikasi peluang penghematan energi, penerapan teknologi hemat energi, dan perencanaan manajemen proses yang efisien sehingga diperoleh suatu optimasi disain/ peralatan/ proses. Analisis finansial juga sangat diperlukan untuk menentukan skala prioritas program penghematan energi suatu industri. Metodologi yang digunakan ada 6 (enam) tahap pendekatan, yaitu : Tahap 1 : Perencanaan / Organisasi. Tahap 2 : Pengkajian. Tahap 3 : Identifikasi Opsi-opsi. Tahap 4 : Analisis Kelayakan Opsi-opsi. Tahap 5 : Penerapan dan Pemantauan Opsi. Tahap 6 : Perbaikan Berkelanjutan. Obyek identifikasi peralatan dan proses industri meliputi : 1. Sistem Kelistrikan : kualitas power, jaringan, penerangan, motor-driven system. 2. Sistem Termal : boiler, heating and cooling system, burners and furnaces, cogeneration and waste heat recovery, refrigerasi, insulasi. 3. Sistem Mekanikal : pompa, motor, kompresor, fan, crane. 4. Sistem Transportasi : internal, eksternal (conveyor, truck). 5. Sistem Pengkondisian Udara : air conditioning, HVAC system, ventilasi. 6. Sistem Operating Procedure (SOP) : prosedur proses, ritme pengoperasian. RENCANA RISET : Rencana kegiatan riset adalah : 1. Bidang riset : Sumber Energi Baru dan Terbarukan. 2. Kerjasama PT : Universitas Indonesia. 3. Pembimbing : BPPT dan UI. 3. Lokasi / obyek : Pabrik Biodiesel BPPT di PUSPIPTEK Serpong, serta studi banding pada beberapa industri sejenis lainnya. 4. Lama kegiatan : 10 (sepuluh) bulan. Jadwal kegiatan disesuaikan dengan metodologi 6 (enam) tahap, yaitu : Tahap Perencanaan / Organisasi (1 bulan). Tahap Pengkajian (1 bulan). Tahap Identifikasi Opsi-opsi (1 bulan). Tahap Analisis Kelayakan Opsi-opsi (2 bulan). Tahap Penerapan dan Pemantauan Opsi (2 bulan). Tahap Perbaikan Berkelanjutan (2 bulan). Penyusunan Pelaporan Hasil Riset (1 bulan). Diharapkan riset ini bermanfaat untuk Pabrik Biodiesel Skala Komersial pada khususnya, dan hasilnya bisa juga diterapkan untuk Industri Proses pada umumnya. Semoga kegiatan ini bisa turut serta berperan mengawal kebijakan pemerintah dalam menciptakan ketahanan energi nasional, serta meningkatkan daya saing dan efisiensi pada produk industri nasional.

DAFTAR PUSTAKA 1. Energi Management Handbook, Fairmont Press, Lilburn, 6th Edtion, by Wayne C. Turner, Steve Dotty, 2006. 2. The Energy Manager Hanbook, Gordon Payne, 2nd Edition, Wesbury House-Great Britain, 1980. 3. Energy Management and Conservation Handbook, CRC Pres, by Frank Kreith and D. Yogi Goswami, 2007. 4. Handbook of Energy Audit, Gordon Payne, 6th Edtion, by Albert Thumann and William J. Younger, 2003. 5. Handbook on Energy Audit and Environment Management, TERI Press, by Y P Abbi, Shashank Jain, 2006. 6. Information Technology Audit Handbook, Prentice Hall, by Doug Dayton, 1997. 7. Information Technology Control and Audit, CRC Press, Frederick Gallegos, 2004. 8. The Biodiesel Handbook, AOCS Press (Michigan University), by Gerhard Knothe, Jon Harlan van Gerpen and Jurgen Krahl, 2005. 9. Biodiesel Power : the passion, the people, and the politics of the next renewable fuel, New Society Publishers, by Lyle Estill, 2005.