Anda di halaman 1dari 4

Sebab-sebab terjadinya persalinan, yaitu : a. Pengaruh hormonal.

Penurunan fungsi plasenta karena plasenta menjadi tua dengan tuanya kehamilan. Villi koriales mengalami perubahan-perubahan sehingga kadar progesteron dan estrogen menurun mendadak. Akibatnya, nutrisi janin dari plasenta berkurang. Penurunan kadar kedua hormone tersebut terjadi kira-kira 1-2 minggu sebelum partus dimulai. Progesteron merupakan penenang bagi otot-otot uterus. Pengaruh prostaglandin. Kadar prostaglandin dalam kehamilan dari minggu ke-15 hingga aterm meningkat, lebih-lebih saat partus. Dua teori pada proses persalinan, yaitu : 1) Corticotropin-releasing hormone (CRH) yang diproduksi oleh plasenta disekresikan ke sirkulasi janin. Hal tersebut menstimulasi sekresi corticotropin dari hipofisis anterior janin. CRH plasenta, melalui ACTH janin, menstimulasi kelenjar adrenal janin untuk memproduksi cortisol, yang berikatan dengan reseptor glucocorticoid placental untuk memblok efek inhibitor dari progesterone, yang selanjutnya menstimulasi produksi CRH yang mestimulasi persalinan. 2) Poros Hipotalamus-Hipofisis-Adrenal janin belum berfungsi selama separuh pertama masa kehamilan karena penekanannya oleh influx kortisol ibu, tetapi sepanjang separuh kedua masa kehamilan, peningkatan kadar estrogen menyebabkan peningkatan enzim plasenta 11bhydroxysteroid dehydrogenase, menyebabkan cortisol diubah menjadi metabolit inaktif, kortisol. Umpan balik negatif glucocorticoid pada hipofisis janin (kurangnya cortisol dari ibu ke janin) akan mengakibatkan peningkatan sekresi ACTH, cortisol dan DHEA sulfate janin, menghasilkan maturasi janin dan menstimulasi proses persalinan. b. Tekanan pada ganglion servikale dari pleksus Frankenhauser yang terletak di belakang serviks, menjadi stimulasi (pacemaker) bagi kontraksi otot polos uterus. c. Iskemia otot-otot uterus karena pengaruh hormonal dan beban, semakin merangsang terjadinya kontraksi. d. Peningkatan beban/stress pada maternal maupun fetal dan peningkatan estrogen mengakibatkan peningkatan aktifitas kortison, prostaglandin, oksitosin, menjadi pencetus rangsangan untuk proses persalinan 5. Mekanisme persalinan normal. a. Kala I (Kala Pembukaan Serviks)

Dimulainya proses salinan yang ditandai dengan adanya kontraksi yang teratur, adekuat, dan menyebabkan perubahan pada serviks hingga mencapai pembukaan lengkap. Kala I terdiri dari dua fase, yaitu : 1) Fase laten, yaitu pembukaan sampai mencapai 3 cm, berlangsung sekitar 8 jam. 2) Fase aktif, yaitu pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (10 cm), berlangsung sekitar 6 jam. Fase aktif terbagi atas : a) fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4 cm. b) fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm sampai 9 cm. c) fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai lengkap (10 cm). Peristiwa penting pada persalinan kala I, yaitu : 1) keluar lendir/darah (bloody show) akibat terlepasnya sumbat mukus (mucous plug) yang selama kehamilan menumpuk di kanalis servikalis, akibat terbukanya vaskular kapiler serviks, dan akibat pergeseran antara selaput ketuban dengan dinding dalam uterus. 2) ostium uteri internum dan eksternum terbuka sehingga serviks menipis dan mendatar. 3) selaput ketuban pecah spontan (beberapa kepustakaan menyebutkan ketuban pecah dini jika terjadi pengeluaran cairan ketuban sebelum pembukaan 5 cm). b. Kala II (Kala Pengeluaran) Dimulai pada saat pembukaan serviks telah lengkap. Berakhir pada saat bayi telah lahir lengkap. His menjadi lebih kuat, lebih sering, lebih lama, sangat kuat. Selaput ketuban mungkin juga baru pecah spontan pada awal kala 2. Peristiwa penting pada persalinan kala 2, yaitu : 1) Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun sampai dasar panggul. 2) Ibu timbul perasaan/refleks ingin mengejan yang makin berat. 3) Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologik) 4) Kepala dilahirkan lebih dulu, dengan suboksiput di bawah simfisis (simfisis pubis sebagai sumbu putar / hipomoklion), selanjutnya dilahirkan badan dan anggota badan. 5) Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk memperbesar jalan lahir (episiotomi). Gerakan utama pengeluaran janin pada persalinan dengan letak belakang kepala, yaitu :

a) Kepala masuk pintu atas panggul, yaitu sumbu kepala janin dapat tegak lurus dengan pintu atas panggul (sinklitismus) atau miring/membentuk sudut dengan pintu atas panggul (asinklitismus anterior/posterior). b) Kepala turun ke dalam rongga panggul, akibat : 1) tekanan langsung dari his dari daerah fundus ke arah daerah bokong, 2) tekanan dari cairan amnion, 3) kontraksi otot dinding perut dan diafragma (mengejan), dan 4) badan janin terjadi ekstensi dan menegang. c) Fleksi, yaitu kepala janin fleksi, dagu menempel ke toraks, posisi kepala berubah dari diameter oksipito-frontalis (puncak kepala) menjadi diameter suboksipito-bregmatikus (belakang kepala). d) Rotasi interna (putaran paksi dalam), yaitu selalu disertai turunnya kepala, putaran ubun-ubun kecil ke arah depan (ke bawah simfisis pubis), membawa kepala melewati distansia interspinarum dengan diameter biparietalis. e) Ekstensi, yaitu setelah kepala mencapai vulva, terjadi ekstensi setelah oksiput melewati bawah simfisis pubis bagian posterior. Lahir berturut-turut : oksiput, bregma, dahi, hidung, mulut, dagu. f) Rotasi eksterna (putaran paksi luar), yaitu kepala berputar kembali sesuai dengan sumbu rotasi tubuh, bahu masuk pintu atas panggul dengan posisi anteroposterior sampai di bawah simfisis, kemudian dilahirkan bahu depan dan bahu belakang. g) Ekspulsi, yaitu setelah bahu lahir, bagian tubuh lainnya akan dikeluarkan dengan mudah. Selanjutnya lahir badan (toraks,abdomen) dan lengan, pinggul/trokanter depan dan belakang, tungkai dan kaki. c. Kala III (Kala Pengeluaran Plasenta/Uri) Dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap. Berakhir dengan lahirnya plasenta.

Kelahiran plasenta adalah lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus, serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri. Lepasnya plasenta dari insersinya mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan perdarahan baru, atau dari tepi/marginal (Matthews-Duncan) jika tidak disertai perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral dan marginal. Pelepasan plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus adalah bersifat adhesi, sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan berdarah. Pada keadaan normal, kontraksi uterus bertambah keras, fundus setinggi sekitar/di atas pusat. Plasenta lepas spontan 5-15 menit setelah bayi lahir. d. Kala IV (Observasi Pascapersalinan) Bagian Kebidanan dan Kandungan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo masih mengenal kala IV, yaitu satu jam setelah plasenta lahir lengkap.

Hal ini dimaksudkan agar dokter, bidan, atau penolong persalinan masih mendampingi wanita selesainya bersalin, sekurang-kurangnya 1 jam postpartum. Dengan cara ini diharapkan kecelakaan-kecelakaan karena perdarahan postpartum dpt dikurangi atau dihindarkan. Sebelum meninggalkan wanita postpartum, 7 pokok penting harus diperhatikan: 1) Kontraksi uterus harus baik 2) Tidak ada perdarahan dari vagina atau perdarahan-perdarahan dalam alat genitalia lainnya 3) Plasenta dan selaput ketuban harus telah lahir lengkap 4) Kandung kencing harus kosong 5) Luka-luka pada perineum terawat dengan baik dan tidak ada hematoma 6) Bayi dalam keadaan baik 7) Ibu dalam keadaan baik. Nadi dan tekana darah normal, tidak ada pengaduan sakit kepala. Adanya frekuensi nadi yang menurun dengan volume yang baik adalah suatu gejala baik.
www.scribd.com/doc/47435626/repro-MODUL-2