Anda di halaman 1dari 4

Jika meninjau bahwa ekonomi merupakan salah satu sektor penting dalam sebuah peradaban, maka mempelajari ilmu

ekonomi juga dapat dikatakan penting. Namun jika menilik beberapa sudut pandang dari filsafat ilmu, hanya ada beberapa ilmu yang diakui kontribusinya sebagai dasar tindakan manusia pada umumnya; filfasat, sosiologi, politik, dan psikologi. Kalau dilihat dari situ sepertinya ekonomi tidak termasuk di dalamnya. Padahal eksistensi forum kajian sebagai media sharing pemikiran sangat vital bagi para pelajar. Tidak tahu dimulai sejak kapan forum-forum kajian di sana-sini membahas bidang-bidang kajian itu. Dahulu awal mula forum studi Bung Karno di Bandung algemeene studie club yang akhirnya berevolusi menjadi partai PNI- masih membicarakan masalah ekonomi, meski masalah ekonomi yang simpel seperti lebih baik mana makanan pokok nasi dengan jagung, dsb. Tapi jangan kira itu karena bacaan para peserta kajian itu tak seberapa, dunia pemikiran sudah mulai dijajaki sejak mereka masih sekolah menengah1. Memang ilmu ekonomi tergolong masih muda dibanding keempat ilmu itu. Dahulu jika seorang pemikir tertarik untuk belajar ekonomi, ia harus belajar hukum terlebih dahulu. Dan jika ia ingin mengajar, maka ia harus masuk fakultas hukum karena ilmu ekonomi masih masuk dalam mata kuliah di fakultas hukum. Baru setelah gagasan Alfred Marshall -penggagas kurva penawaran dan permintaan-, ilmu ekonomi lepas dan berdiri menjadi bidang studi sendiri. Akan tetapi permasalahannya, setelah terbentuk bidang studi sendiri, para ekonom melepaskan integrasi ilmuilmu lain dalam mempelajari ekonomi. Dahulu para ekonom tidak lepas dan berdiri independen dari disiplin ilmu yang lain. Filsafat, moral, sosiologi, psikologi, dan politik biasanya masuk ke dalam otoritas keilmuan mereka. Ekonom yang berdiri di atas disiplin ilmu ekonomi saja biasanya hanya menjadi ekonom yang membebek dan secara tidak sengaja disetir untuk mengikuti paradigma ekonom-ekonom besar. Ekonom bebek itu merasa PD dengan independensi intelektualnya dari pengaruh pemikir lain, padahal kalau dilihat ia seperti sebuah kapal yang berlayar ke utara padahal arus samudera bergerak ke barat, tentunya ia juga ikut terbawa ke arah barat. Manusia-manusia praktist yang percaya bahwa diri mereka sendiri bebas dari setiap pengaruh intelektual, biasanya adalah budak dari ekonom-ekonom besar yang telah meninggal, begitu kata Keynes2. Efek samping dari struturisasi sebuah disiplin keilmuan memang ada efek negatifnya. Strukturisasi disiplin ilmu menciptakan sebuah madzhab dan komunitas orang-orang yang mengikutinya. Pada awalnya ilmuwan yang menstrukturkan hanya berniat mempermudah dan memperkuat gerakan budaya. Tapi para pengikut-pengikut setelahnya menjadi saklek dan menolak ilmu lain yang tidak masuk dalam strukturnya. Kalau tidak percaya coba saja masukan pendekatan sosiologis dan psikologi dalam skripsi ekonomi, sebagian besar dosen akan cenderung memberi respon aneh. Seakan-akan kharom hukumnya mengkaji ekonomi atau bisnis dengan pendekatan psikologis atau sosiologis. Boro2, bikin skripsi keuangan pakai pendekatan ekonomi pembangunan aja udah diinterogasi. Padahal ketika Karl Marx membredel dinamika kapitalisme, ia memperkuat aspek psikologis juga di situ3. Ibnu Taimiyah juga mencoba memperkuat urgensi imamah -yang seharusnya merupakan objek ilmu politik- dengan pendekatan sosiologis, yang diperdetail oleh Ibnu Khaldun kemudian. Coba kalau Pigou gak pakai pendekatan sosial dalam analisis biaya perusahaan4, istilah yang namanya CSR gak akan muncul sekarang, apalagi carbon trading. Gitu kok masih ada

1 2

Cindy Adams, Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia Otobiografi, cetakan Gunung Agung Steven Pressman, Fifty Major Economists, 1999 3 Marx, Kapital, ebook terjemahan 4 Steven,..

pertanyaan, Lho itu kan pendekatan kalau skripsinya ekonomi pembangunan?. Iya tapi yang dikaji kan tetap keuangan, lha itu ada ayat quran n hadis segala, kok ga dikira skripsi anak FAI sekalian?, hehehe. Seorang filsuf pernah berkata, ada sebuah teori penciptaan; ketika dua disiplin ilmu digabungkan, akan tercipta karya-karya fenomenal. Ilmu awal mulanya tidak terpecah-pecah menjadi berbagai disiplin seperti sekarang, dahulu di jaman Yunani Kuno rektor sekolah tinggi Akademia hanya membagi ilmu menjadi dua bidang, yaitu seni dan musik5. Lhah kalau sekarang semakin banyak, lama kelamaan di masa depan disiplin keilmuan juga semakin banyak. Terlebih akibat merajalelanya paradigma jual beli pendidikan, akan muncul fakultas-fakultas baru dan aneh untuk dibisniskan oleh universitas2 ternama. Misal awalnya ada Fakultas Ilmu Sosial, kemudian muncul pecahannya yaitu Fakultas Bahasa, lalu muncul Fakultas Ilmu Komunikasi, lalu Fakultas Media, Fakultas Televisi, Fakultas Iklan, Fakultas Presenter, sampai Fakultas Jadi Artis pun jangan-jangan juga akan ada. Kalau kita hanya saklek pada disiplin keilmuwan kita saja -apalagi yang disiplin keilmuwannya hanya menempati sudut kecil dari ilmu-, kita akan rugi sendiri karena ilmu yang dipelajari tidak dapat memberi kontribusi yang besar bagi bumi dan umat manusia. Di samping itu, kita hendaknya tidak terlena hanya pada asiknya dimensi ontologi dan epistemologi ilmu saja, kemudian mengabaikan dimensi aksiologisnya. Harus kita selami betul apa urgensi ilmu yang kita pelajari bagi Islam. Dimana kontribusinya dalam memajukan Islam, baik aspek agama dan peradabannya. Dimana peran ilmu syariah dalam membangun peradaban Islam, dimana peran pendidikan, politik, ekonomi, sains, dsb. Untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut kita bisa juga meminjam metode madzhab historis Jerman dengan menilik sejarah kontribusi tiap sektor dalam peradaban. Misalkan saja peran ekonomi dalam kebangkitan peradaban Barat. Biasanya peradaban barat dikatakan bangkit paska masa renaissance. Dan kebanyakan orang mengatakan renaissance diawali di dua tempat, revolusi politik bermula di Perancis dengan revolusi Perancis dan revolusi ekonomi bermula di Inggris dengan ditemukannya mesin uap pada abad 18. Namun sebenarnya kebangkitan ekonomi Eropa dimulai dari Italia, bukan di Inggris. Diciptakannya mesin uap dan lahirnya era industri di Inggris, menurut Schumpeter hanya merupakan salah satu dari sekian banyak gelombang kondratieff yang menciptakan revolusi perdagangan selama 45-60 tahunan ke depan. Begitu juga sekarang yang dikenal dengan revolusi 3T, TelecomunicationTransportation-Tourism, juga sebenarnya merupakan gelombang kondratieff sekitar 60 tahunan itu.6 Tiga kota pelabuhan Italia; Genoa, Pisa, dan Venesia merupakan pusat-pusat perdagangan yang mengambil alih dominasi para pedagang muslim di laut Mediterania pada awal abad ke-12 dan semakin kuat paska perang salib. Penduduk di kota-kota tersebut lantas menjadi makmur dan meningkat taraf hidupnya. Dari situ kemudian kota-kota yang berhubungan dagang dengan kota pelabuhan itu menyusul. Perkembangan terjadi di kota Florence, Tuscany, Sienna, Rhone, Marseilles, Montpeller, Norbonne, Milan, Palermo, Barcelona, dan kota-kota di sepanjang sungai Danube, Rhine, dan Rhone. Salah satu gambaran kekuatan ekonomi di salah satu kota misalnya, waktu itu Florence telah memiliki banyak industri tekstil yang mampu menyerap hingga 30.000 tenaga kerja. Faktor inilah yang menopang Florence menjadi kota pelopor kebudayaan Renaissance. Para pengusaha-pengusaha kaya di sana selanjutnya mengembangkan sektor keuangan dalam usaha
5 6

Kuliah Privat Awaluddin Marwan, Intelektual Muda Madzhab Srampangan, eh Sampangan Gelombang Kondratieff itu ditemukan oleh Nikolai Kondratieff kemudian diperdalam oleh Schumpeter bersama teori siklus Ketchin Cycle dan Juglar Cycle, ada di buku Steven,...

perbankan.7 Dimulai sejak abad ke 12 Italia menjadi pusat perkembangan ekonomi dan titik tolak Renaissance. Ekonomi dalam peradaban menjadi kekuatan penopang sektor-sektor yang lain, baik pendidikan, politik, militer, dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu zakat termasuk salah satu rukun Islam, sedangkan masalah imamah atau politik menurut Ibnu Taimiyah- tidak termasuk masalah hal asas dalam Islam8. Itu karena zakat memiliki peran penting sebagai sumber kekuatan ekonomi umat jika kita tinjau dari dimensi peradaban. Mari kita ingat apa yang dipersiapkan oleh Nabi saw ketika akan berangkat perang Tabuk, bukankah beliau melakukan penggalangan kekuatan ekonomi untuk itu. Respon sahabat bagaimana mereka menyumbangkan hartanya sungguh luar biasa. Kita bisa dibuat merinding jika mengingat Abu Bakar yang mensedekahkan seluruh hartanya. Itu adalah pengorbanan yang luar biasa besarnya hingga membuat Umar bin Khattab merasa tidak dapat menyaingi Abu Bakar lagi, padahal beliau telah mensedekahkan separuh dari hartanya. Begitu juga Usman bin Affan yang menaburkan seribu dinar ke pangkuan Rasulullah. Sungguh besar pengorbanan para sahabat untuk Islam.9 Islam sebagai agama yang sempurna tentu memiliki sistem kekuatan ekonomi umat karena begitu pentingnya aspek itu dalam mewujudkan tatanan sosial masyarakat Islam beserta peradabannya. Sebagian dari sistem tersebut dapat kita pahami jika kita melihat zakat dalam konteks peradaban. Masuknya zakat ke dalam salah satu rukun Islam menunjukkan pentingnya menggalang kekuatan ekonomi dalam suatu tatanan peradaban. Jika diterapkan dengan baik, zakat minimal dapat menjamin kesejahteraan umat dan memberantas kemiskinan. Konsep ini bukan sesuatu yang utopis. Umar bin Abdul Aziz berhasil membongkar ekonomi kekhalifahan yang korup menjadi ekonomi dengan tingkat kemiskinan nol persen hanya dalam waktu 2,5 tahun.10 Jika telah mencapai taraf itu zakat dapat menopang sektor-sektor yang lain, belum jika ditambah dengan kharaj, infaq, shodaqoh, hibah, dan sumber dana umat lainnya. Pentingnya pilar kekuatan ekonomi tersebut membuat zakat disejajarkan sama pentingnya dengan kewajian shalat, hingga Abu Bakar ra sampai harus memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Ketika Umar bin Khattab ra menanyai Abu Bakar mengapa mereka harus diperangi padahal orang yang masuk Islam telah aman harta dan darahnya. Beliau menjawab, Demi Allah andai saja mereka enggan untuk menyerahkan anak unta yang sebelumnya mereka serahkan kepada Rasulullah, pastilah akan kuperangi mereka semua karenanya. Sesungguhnya zakat itu adalah hak harta. Dan demi Allah aku pasti akan memerangi orang yang membedakan (kewajiban) shalat dan zakat! Maka Umar berkata, Akhirnya aku sadari bahwa Allah telah melapangkan hati Abu Bakar untuk memerangi mereka dan aku yakin itulah yang benar. Kemudian Umar menyampaikan sebuah ayat, Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS Taubah: 5).11

Renaissans, Microsoft Encarta Reference Library, 2005 dalam Ajat Sudrajat, Perang Salib dan Kebangkitan Ekonomi Eropa, 8 Qomarudin Khan, Pemikiran Politik Ibnu Taimiyah 9 Abul Hasan an Nadwi, Siroh Nabawiyah, cetakan Mardhiyah Press 10 Ali Muhammad Ash Shallabi, Umar bin Abdul Aziz Ulama dan Pemimpin yang Adil, cetakan Darul Haq 11 Ibnu Katsir, Perjalanan Hidup Empat Khalifah Rasul yang Agung, cetakan Darul Haq

Jika kita gali, masih banyak teladan-teladan semangat dan pengorbanan para pendahulu dalam membangkitkan ekonomi umat. Tradisi ilmiah atau tradisi intelektual juga berkembang dengan ditopang oleh kekuatan ekonomi ini. Buku-buku dalam perpustakaan Baytul Hikmah tidak dapat terbeli hingga terkumpul sebanyak itu seandainya kekhalifahan dalam keadaan miskin. Khalifah al Makmun juga tidak akan bisa memberi hadiah kepada para penulis dan penerjemah dengan emas seberat buku jika kekhalifahannya masih banyak utang. Padahal dari buku-buku dan perpustakaan itulah para ulama, ilmuwan, filosof, dan intelektual belajar. Para penerjemah di Cordoba dan Toledo juga dibayar dengan gaji tinggi untuk memasok buku-buku terjemahan ke Eropa. Dengan adanya kekuatan ekonomi itu, khasanah ilmu dalam buku-buku dapat dinikmati oleh umat Islam. Tampaknya urgensi menggalang kekuatan ekonomi umat ini juga disadari oleh seorang pemikir Islam asal Turki, Fethullah Gulen. Organisasi dan gerakan yang dipimpin olehnya menjadi besar dan kuat hingga memiliki cabang di puluhan negara, juga karena kehebatan penggalangan kekuatan ekonomi umat olehnya. Kisah bagaimana Gulen membakar semangat para esnaf atau para pengusaha muslim untuk mengorbankan harta seperti para sahabat telah menjadi kisah yang masyhur. Sedemikian pentingnya kekuatan ekonomi dalam menyangga kebangkitan Islam dan peradabannya. Oleh karena itu upaya memahamkan penggalangan kekuatan ekonomi pada umat tidak dapat dikesampingkan dalam gerak kebangkitan Islam. Dan seharusnya ilmu ekonomi Islam sekarang jangan sibuk ngurusi bank-bank dan keuangan saja, seharusnya concern dulu ke arah pembangunan ekonomi umat. Bukanlah maksud si pandir ini hendak sok mengajari para ekonom Islam, namun memang demikianlah dilema ilmu ekonomi Islam yang sama-sama kita pelajari sekarang. Terlalu fokus pada proses pengkonsepan Islamisasi, namun tidak menyadari kalau kekuatan ekonomi umat belum dibangun. Kalau ekonomi umat sudah kuat, tak perlu lagi kita pusing pada benturan regulasi dari bank sentral yang disetir IMF itu. Kita tendang saja IMF keluar dari campur tangan urusan umat Islam, toh kita punya kekuatan ekonomi sendiri. Buat baitul mal berapa pun akan mudah saja. Maka dari itu bangun kekuatan ekonomi umat dulu. Kita sadari atau tidak, sebenarnya pengorbanan kita untuk Islam masih belum bisa dihitung karena saking sedikitnya. Sebagai mukmin kita hendaknya selalu mengevaluasi seberapa besar pengorbanan kita untuk Islam, dan merefleksikan diri pada nabi dan para sahabat. Tidaklah sama antara mukmin yang duduk yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS An Nisa: 95-96)