Anda di halaman 1dari 16

2.

Graf Ajaib dan Pohon Graceful

Pada bagian ini kita memandang bahwa graf dan kemungkinan pebilanganan untuk setiap simpul, setiap sisi, atau keduanya, dengan kondisi tertentu. Hal ini berbeda dengan masalah pewarnaan karena kita boleh menggunakan beberapa sifat dan susunan bilangan seperti pengurutan dan penambahan yang bukan merupakan sifat-sifat dari warna. Kita mulai dengan sebuah curiosity. Sedlek menemukan ac pelabelan sisi dari kubus yang diilustrasikan pada Gambar ??. Perhatikan bahwa pada masing-masing simpul, jumlah label dari sisi yang terkait dengan simpul tersebut adalah 83. Lebih jauh, semua label sisi berbeda, dan merupakan bilangan prima semua!

Gambar 2.1.1 Kubus sedlek. ac Andaikan G adalah graf dengan q buah sisi. Kita bisa menyebut bahwa G ajaib jika sisi dari G dapat dilabeli oleh bilangan 1, 2, 3, . . . , q dengan cara tertentu sehingga jumlah label dari seluruh sisi yang terkait dengan simpul sama dengan jumlah label dari seluruh sisi yang terkait dengan simpul yang lain. Gambar 1

Bab 2. PELABELAN GRAF

2.1.2 menunjukkan dua contoh graf ajaib. Dalam literatur itu, apa yang telah kita denisikan sebagai ajaib adalah mengacu pada super-ajaib.

Gambar 2.1.2

Gambar 2.1.3 Pada Gambar 2.1.3, kita mempunyai graf K3,3 . Sisi dilabeli dengan bilangan 1,2,3, . . . , 9 sedemikian hingga jumlah label yang terkait pada sisi setiap simpul adalah 15. pelabelan ini berasal dari persegi ajaib yang terkenal pada Gambar 2.1.4, sebagaimana berikut ini. Sebut saja baris pada persegi tersebut simpul merah dan kolomnya simpul biru. Beri label sisi yang berada di antara simpul merah dan simpul biru dengan label persegi ajaib pada baris dan kolom tersebut. Diketahui bahwa untuk setiap n = 3 terdapat nn persegi ajaib. Gambar 2.1.5 menunjukkan sebuah persegi ajaib 4x4. pelabelan K4,4 dalam Gambar 2.1.6 adalah ajaib.

Teorema 2.1.1 Kn,n adalah ajaib untuk n = 2.


Perhatikan bahwa K4,4 dapat didekomposisikan menjadi dua siklus Hamilton. pelabelan pada sisi dari salah satu siklus Hamilton pada Gambar 2.1.6 adalah 15, 1, 13, 3, 11, 5, 9, 7. Sisi dari siklus Hamilton yang lain dilabeli dengan 2, 16, 4, 14, 6, 12, 8, 10.

2.1. Graf Ajaib dan Pohon Graceful

Gambar 2.1.4 Gambar 2.1.5

Gambar 2.1.6 Graf pada Gambar 2.1.7 adalah contoh lain dari graf bipartit yang dapat didekomposisikan menjadi dua siklus Hamilton dan merupakan ajaib. Strategi pelabelannya sama seperti dalam Gambar 2.1.6 dan dalam bukti dari teorema berikut.

Teorema 2.1.2 Jika sebuah graf bipartit G dapat didekomposisikan menjadi dua
siklus Hamilton, maka G adalah ajaib. Bukti . Karena G adalah bipartit, panjang dari siklus Hamilton adalah genap, katakanlah 2n. Jadi bilangan sisi dalam G adalah q = 4n. Sebagaimana dalam dua contoh sebelumnya, kita melabeli salah satu siklus Hamilton dengan bilangan genap dan yang lainnya dengan bilangan gasal. Kita pilih sebuah simpul a dan melabeli sisi dari siklus Hamilton yang pertama mulai dari a oleh 4n 1, 1, 4n 3, 3, ., 2n + 1, 2n 1. Kemudian kita labelkan sisi dari siklus Hamilton kedua , mulai dari a, oleh 2, 4n, 4, 4n 2, ...., 2n, 2n + 2. Karena G adalah bipartit, simpul dapat diwarnai merah dan biru dengan tanpa dua simpul yang bilangannya sama bertetangga. Jika a adalah biru, maka jumlah dari

Bab 2. PELABELAN GRAF

Gambar 2.1.7 sisi berbilangan gasal pada semua simpul biru selain a adalah 4n 2. Hal ini dapat dicek dengan melihat baris berbilangan gasal di atas. Jumlah dari sisi bernommor genap pada semua simpul selain a adalah 4n + 4. Jumlah dari semua simpul pada a adalah 8n + 2, dengan pemeriksaan langsung. Jadi, jumlah seluruh sisi pada simpul biru adalah 8n + 2. Jumlah sisi berbilangan gasal pada masing-masing simpul merah adalah 4n. Jumlah sisi berbilangan genap pada masing-masing simpul merah adalah 4n + 2. Karena itu jumlah seluruh sisi pada simpul merah adalah 8n + 2, dan G dapat dibuktikan untuk menjadi ajaib. Gambar 2.1.8 menunjukkan graf kubus empat dimensi. Graf ini dapat didekomposisikan menjadi dua siklus Hamilton dan merupakan bipartit, sehingga dengan Teorema 2.1.2 itu adalah ajaib. Lihat latihan 6.1.4. Gambar 2.1.9 merupakan contoh graf yang dapat didekomposisikan menjadi dua siklus Hamilton. Tetapi graf tersebut tidak bipartit, sehingga metode pelabelan dari Teorema 2.1.2 tidak berhasil. pelabelan pada Gambar 2.1.9 berhasil dengan cara ad hoc. Pada Latihan 6.1.6, adalah mungkin menunjukkan bahwa jika n merupakan kelipatan dari 4, maka Kn bukanlah ajaib, tapi diketahui bahwa untuk setiap selain n 6, Kn adalah ajaib. Gambar ?? menunjukkan pelabelan ajaib dariK7 .

Teorema 2.1.3 Jika sebuah graf G dapat didekompposisikan menjadi dua perentang subgraf ajaib G1 dan G2 dimana G2 adalah regular, maka G adalah ajaib. Bukti . Misalkan q1 dan q2 merupakan bilangan dari sisi G1 dan G2 , secara berturut-turut. Anggaplah sebuah pelabelan ajaib dari G1 dan G2 . Untuk masingmasing pelabelan G2 , kita tambahkan q1 . Karena G2 teratur, kita telah menam-

2.1. Graf Ajaib dan Pohon Graceful

Gambar 2.1.8

Gambar 2.1.9 bahkan jumlah yang sama pada masing-masing simpul. Kita sekarang memiliki sisi G yang dilabeli dengan bilangan bulat 1, 2, 3, ..., q1 + q2 , dan jumlah label dari masing-masing simpul adalah sama. Karena itu G adalah ajaib. Gambar 2.1.11 menunjukkan contoh-contoh dari graf yang sisinya dilabeli dengan bilangan bulat 1, 2, ..., q sehingga jumlah label pada setiap simpul yang diberikan berbeda dari simpul yang lain, dengan kata lain, tidak ada dua simpul yang memiliki jumlah yang sama. Kita dapat menyebut graf tersebut dengan label antimagic (anti-ajaib). Dugaan. Setiap graf terhubung yang berbeda dari K2 adalah anti-ajaib.

Jikalau kita melarang untuk menjadi pohon (pohon), kita tidak tahu pasti jika semua selain K2 adalah anti-ajaib.

Bab 2. PELABELAN GRAF

Gambar 2.1.10

Gambar 2.1.11 Dugaan. Setiap pohon yang berbeda dari K2 adalah anti-ajaib.

Dalam latihan, pembaca akan memiliki kesempatan untuk membuktikan dugaan anti-ajaib untuk beberapa kelas graf.

Gambar 2.1.12 Pohon Leech. Gambar 2.1.12 adalah gambar dari pelabelan pohon. Pohon tersebut memiliki 6 enam simpul, jadi ada pasang simpul, dan setiap 2 simpul terhubung oleh 2 lintasan tunggal. Jika kalian menambahkan bilangan pada sisi untuk masing-masing 6 lintasan, masing-masing bilangan dari 1 sampai terlihat tepat sebagai salah 2 satu dari jumlah tersebut. Untuk nilai n manakah sehingga memungkinkan pela-

2.1. Graf Ajaib dan Pohon Graceful

Gambar 2.1.13

Gambar 2.1.14

belan pohon pada n buah simpul? John Leech memberikan jawaban untuk n 6, termasuk contoh pada Gambar 2.1.12 dan fakta bahwa hal ini tidak mungkin untuk n = 5. Hal tersebut tidak diketahui jika memungkinkan untuk n > 6. Jika sebuah pohon memiliki n buah simpul, maka mempunyai n 1 sisi. Jika memungkinkan untuk melabeli simpul tersebut dengan bilangan bulat 1, 2, 3, ..., n dan sisinya dengan 1, 2, 3, .., n 1 sehingga label pada setiap sisi sama dengan selisih antara pelabelan dua titik-akhirnya, maka pohon itu disebut gracef ul. Gambar 2.1.13 dan 2.1.14 menunjukkan pelabelan graceful dari pohon. Gerhard Ringel telah menduga bahwa seluruh pohon adalah graceful. Dugaan tersebut telah dibuktikan untuk beberapa kelas pohon, tapi belum dibuktikan secara umum. Ada aplikasi matematika yang menggunakan pelabelan graceful dan trik penyusunan (turning trick). Pohon T dari Gambar 2.1.13 memiliki delapan sisi. Kita akan lebih suka mendekomposisi K17 menjadi tujuh belas salinan dari T . Kita lakukan hal ini dalam cara berikut. Pertama kita tempatkan tujuh belas simpul di sekeliling sebuah sirkuit dan kita menamakan 9 simpul berurutan 1, 2, 3, . . . , 9.

Bab 2. PELABELAN GRAF

Lalu kita tambahkan sebuah sisi antara dua simpul berbilangan jika simpul yang dilabeli oleh dua bilangan itu bertetangga di dalam T . Karena pelabelan T adalah graceful, setiap sisi memiliki sebuah label yang berbeda, dan dengan demikian setiap sisi memiliki panjang geometris yang berbeda. Maka dari itu trik penyusunan akan memberikan kita dekomposisi dari K17 menjadi tujuhbelas salinan T . Konstruksi macam ini memungkinkan untuk setiap pohon graceful dan mengarahkan kita menuju teorema berikut.

Teorema 2.1.4 Jika sebuah pohon T dengan n buah sisi adalah graceful, maka
graf lengkap K2n+1 dapat didekomposisikan menjadi 2n + 1 buah pohon, masingmasing isomork pada pohon T yang diberikan. Kita tidak tahu bahwa setiap pohon adalah graceful. Jika ada pohon dengan n buah sisi yang tidak graceful, dekomposisi K2n+1 menjadi 2n + 1 buah salinan dari pohon yang diberikan maasih memungkinkan. Masalah pelabelan yang berhubungan pada masalah graceful disarankan oleh Slater. Pandang sebuah pelabelan dari himpunan simpul dan sisi dari pohon T dengan n buah sisi oleh urutan bilangan bulat 1, 2, 3, ..., 2n 1. pelabelan T itu disebut dengan pelabelan berurutan (consecutive labeling) dari T , jika label dari masing-masing sisi sama dengan selisih di antara label dari dua simpul. Jika sebuah pelabelan berurutan dari T adalah mungkin sebagaimana ditunjukkan dalam gambar berikut, maka pohon T disebut berurutan (consecutive).

Perhatikan bahwa jika kita diberikan pelabelan graceful dari pohon T dengan n buah sisi, kita dapat memodikasi pelabelan dalam cara berikut untuk mendapatkan pelabelan berurutan.

Jika sebuah simpul dilabeli oleh bilangan bulat k, gantilah label tersebut dengan 2k 1, sehingga seluruh simpul dilabeli oleh bilangan gasal. Sekarang jika kita melabeli masing-masing sisi dengan perbedaan titik-akhirnya, label pada masingmasing sisi akan menjadi genap dan menjadi dua kali label awal pada sisi itu. Kita sekarang memiliki pelabelan berurutan T .

Teorema 2.1.5 Jika sebuah pohon adalah graceful, maka T adalah berurutan.

2.2. Graf Konservatif

Diduga bahwa semua pohon memiliki pelabeln berurutan. Dugaan ini lebih lemah dari pada dugaan bahwa semua pohon adalah graceful, karena sebuah pelabelan berurutan tidak perlu hanya bilangan genap saja yang melabeli sisinya. Pelabelan berurutan dapat juga diterapkan pada graf secara umum, tidak hanya pada pohon. Tentunya, dalam kasus ini, himpunan simpul dan sisi akan dilabeli 1, 2, 3, ..., p, p + 1, ..., q + p.

2.2

Graf Konservatif

Hingga saat ini, kita hanya memandang graf tidak berarah. Mengingat bahwa graf G didenisikan menjadi sepasang himpunan (V, E), dimana V himpunan tidak kosong, dan E himpunan pasangan tidak terurut dari anggota V (yang mungkin berupa himpunan kosong). Graf berarah D adalah sepasang himpunan (V, A) dimana V adalah himpunan tidak kosong, dan A adalah himpunan pasangan terurut dari anggota V (yang mungkin berupa himpunan kosong). Dengan kata lain, D adalah graf dimana setiap sisi mempunyai arah, biasanya dinyatakan dengan anak panah. Sisi berarah tersebut biasanya disebut arcs. Ketika kita melihat pada pelabelan ajaib dari graf, labelnya ditambahkan pada masing-masing akhir dari dua sisi. Dalam pelabelan graf berarah, labelnya ditambahkan pada salah satu akhir dari arc dan diambil pada akhir yang lain, berdasarkan pada arah anak panah menunjuk. Jika anak panah jatuh ke arah simpul, kita tambahkan. Jika pelabelan jatuh menjauhi simpul, kita kurangi.

Gambar 2.2.1

Gambar 2.2.2

Sisi graf pada Gambar 2.2.1 dapat diarahkan dan dilabeli dengan bilangan 1, 2, 3, . . . , 9 sehingga jumlah label pada arc menuju ke dalam suatu simpul sama dengan jumlah label pada arc yang keluar simpul. Sebuah graf dengan q buah sisi yang dapat diarahkan dan dilabeli dengan bilangan 1, 2, 3, ..., q disebut konservatif (conservative). Sehingga graf tidak berarah pada Gambar 2.2.1 adalah konservatif, karena arah dan label graf dari Gambar 2.2.2 menunjukkannya. Sifat tersebut di

10

Bab 2. PELABELAN GRAF

atas pada masing-masing simpul telah diketahui untuk waktu yang lama sebagai Hukum Arus Kircho (Kirchos Current Law). Hukum Arus Kircho. Dalam pelabelan arah dari graf konservatif, jumlah dari label yang datang sama dengan jumlah dari label yang keluar pada masing-masing simpul. Kadang-kadang, untuk ringkasnya, kita dapat mengatakan jumlah arah masingmasing simpul adalah nol. Kircho mula-mula memperhatikan aliran air melalui sistem pipa atau aliran listrik melalui sebuah sirkuit. Misalnya, jika arcs dalam Gambar 2.2.2 adalah pipa air, dan jika label pada sebuah arcs mewakili liter/sekon, maka jika Hukum Arus Kircho berlaku pada masing-masing simpul, air dapat benar-benar mengalir melalui sistem. Graf bidang dua belas (dodecahedron) dari Gambar 1.2.5 adalah konservatif. Gambar 2.2.3 menunjukkan pelabelan konservatif bidang dua belas tersebut. pelabelan itu ditemukan oleh Sharon cabaniss, menggunakan sebuah computer.

Teorema 2.2.1 Jika G dapat didekomposisikan menjadi dua siklus Hamilton, maka G adalah konservatif.

Bukti . Asumsikan bahwa G mempunyai n buah simpul. Pilih sebuah simpul a dan lewati sisi dari satu siklus Hamilton, sesuaikan (tempatkan panah padanya) dalam arah yang sama sebagaimana kalian pergi. labelkan sisi permulaan pada a dengan 1, 3, 5, . . . , 2n-1. Lihatlah Gambar 6.2.4 untuk contoh n = 7. Lalu lewatkan dan sesuaikan sisi dari siklus Hamilton kedua seperti sebelumnya, dan labeli sisi permulaan q dengan 2n, 2n 2, 2n 4, ..., 4, 2. Perhatikan bahwa dalam baris pertama, pada masing-masing simpul selain a terdapat jaring pertambahan dua, dan dalam baris kedua pada masing-masing simpul terdapat jaring pertambahan dua. Pada a terdapat label 2n dan 1 menuju keluar dan 2n 1 menuju ke dalam. Jadi Hukunm Arus Kircho memegang pada masing-masing simpul. Kita periksa bahwa Hukum Arus Kircho memegang pada simpul a dalam bukti Teorema 2.2.1, tapi hal ini benar-benar tidak dibutuhkan, karena terdapat teorema berikut.

Teorema 2.2.2 (Hukum Arus Kircho Global / Kircho s global Current law).
Jika G berlabel, merupakan graf berarah seperti Hukum Arus Kircho memegang pada masing-masing simpul G selain simpul khusus a, maka Hukum Arus Kircho juga memegang pada simpul a. Bagi seorang sikawan yang memikirkan arus air atau listrik dalam sistem, teorema ini akan sungguh alami, tapi seorang ahli matematika menginginkan sebuah bukti. Buktinya benar-benar sangat sederhana untuk ditulis.

2.2. Graf Konservatif

11

Gambar 2.2.3 Cabaniss bidang dua belas

Gambar 2.2.4

Bukti . Andaikan derajat a adalah h + f , dimana sisi yang datang pada a dilabeli c1 , c2 , ..., ch , sisi yang keluar dari a dilabeli b1 , b2 , ..., bf , dan label-label lain dalam graf akan ditunjukkan dengan di . Misalkan S menjadi himpunan seluruh simpul selain a. Dengan anggapan, Hukum Arus Kircho memegang pada simpul di dalam S. Sehingga pada masing-masing simpul dalam S, jika kita menambahkan label menuju ke dalam dan label menuju keluar, jumlah arah akan menjadi nol. Jumlah dari seluruh kumpulan sebagaimana berikut ini:

d1 d2 + d2 d2 + ... + b1 + b2 + + bf c1 c2 ... ch = 0

12

Bab 2. PELABELAN GRAF

Setiap di menjadi dua kali, satu sebagai masuk dan satu sebagai keluar, sehingga semuanya dibatalkan, dan kita ditinggali dengan b1 + b2 + ... + bf = c1 + c2 + ... + ch , Dan oleh karena itu Hukum Arus Kircho memegang pada a. Perhatikan bahwa jika kita menambahkan bilangan yang sama, seperti contoh 100, pada setiap label dalam Gambar 2.2.4, Hukum Arus Kircho masih memegang pada setiap simpul. Jika kita mencoba dengan Gambar 2.2.2, tidak akan bekerja. Hal ini menunjukkan pada kita pada denisi berikut. Sebuah graf G dengan q buah sisi disebut betul-betul konservatif (strongly conservative) jika untuk setiap bilangan h terdapat pelabelan arah dari sisi G dengan bilangan h+1, h+2, ..., h+q seperti Hukum Arus Kircho memegang pada setiap simpul. Jadi graf pada Gambar 2.2.4 betul-betul konservatif, dimana Gambar 2.2.1 dan Gambar 2.2.2 mungkin betulbetul konservatif atau mungkin tidak. Kita tidak dapat menyatakannya sekarang. Bukti dari teorema berikut benar-benar lebih mudah dari pada teorema yang berhubungan dengan graf ajaib.

Teorema 2.2.3 Jika G dapat didekomposisikan menjadi dua buah subgraf H1


dan H2 , dan jika H1 konservatif, dan H2 betul-betul konservatif, maka G adalah konservatif. Bukti . Misalkan q1 menjadi bilangan dari sisi di dalam H1 dan q2 bilangan dari sisi di dalam H2 , maka bilangan dari sisi di dalam G adalah q1 + q2 . Ambillah sebuah pelabelan konservatif dari H1 menggunakan bilangan 1, 2, 3, ..., q1 dan sebuah pelabelan betul-betul konservatif dari H2 menggunakan bilangan q1 + 1, q1 + 2, ..., q1 + q2 . Dalam kedua pelabelan itu, Hukum Arus Kircho memegang, sehingga jumlah arah pada masing-masing simpul dalam G adalah nol. Karenanya kita telah memperlihatkan sebuah pelabelan konservatif dari G. Sekarang kita andaikan bahwa H1 dan H2 keduanya betul-betul konservatif, dan h adalah bilangan yang diberikan. Ambillah pelabelan betul-betul konservatif dari sisi H1 menggunakan bilangan h + 1, h + 2, ..., h + q1 , dan pelabelan betulbetul konservatif dari sisi H2 menggunakan bilangan h + q1 + 1, h + q1 + 2, ..., h + q1 + q2 . Sekali lagi, jumlah arah pada masing-masing simpul adalah nol, dan kita memperoleh pelabelan betul-betul konservatif dari sisi G menggunakan bilangan h + 1, h + 2, ..., h + q1 + q2 . Jadi G betul-betul konservatif. Perhatikan bahwa graf dari Teorema 2.2.1 sesungguhnya betul-betul konservatif, karena pelabelan konservatif mengandung dua sisi berarah ke dalam dan dua sisi berarah keluar pada masing-masing simpul. Karenanya, penambahan konstanta h pada label masing-masing sisi tidak mempengaruhi jumlah arah pada masing-masing simpul.

2.2. Graf Konservatif

13

TEOREMA 6.2.1 Jika G dapat didekomposisikan menjadi dua siklus Hamilton, maka
G adalah betul-betul konservatif.

Teorema 2.2.4 Jika graf dengan n buah simpul, dimana n adalah gasal, dan G
dapat didekomposisikan menjadi tiga siklus Hamilton, maka G adalah betul-betul konservatif. Bukti . Sebutlah tiga siklus Hamilton H1 , H2 , dan H3 . Kita arahkan sisi-sisi pada setiap H1 , H2 , dan H3 dengan cara sedemikian hingga sebuah perjalanan mengelilingi salah satu siklus itu lalu menemukan seluruh anak panah menuju ke dalam arah yang sama. Lihatlah Gambar 2.2.5 dan 2.2.6. Kita pilih simpul a dan melabeli sisi H3 , dimulai dari a, dengan (H3 ) a 3n, 3n 6, ..., 15, 9, 3,b 3n 3, ..., 18, 12, 6. Lalu kita melabeli sisi H3 , dimulai dari a, dengan (H1 ) a 1, 4, 7, ..., 3n 5, 3n 2. Untuk H2 , kita tidak memulai dari a. kita mulai dari simpul b di antara sisi berlabel 3 dan sisi berlabel 3n 3 dalam H3 (H2 ) ..., 5n 1,b 2, 5, 8, ... Lalu pada setiap simpul selain a dan b terdapat jaring kurang dari enam dalam H3 , jaring lebih dari tiga dalam H1 , dan jaring lebih dari tiga dalam H2 . Karenanya Hukum Arus Kircho memegang pada setiap simpul selain a dan b. Pada simpul a, maneju ke dalam kita mempunyai label 6, 3n 2, dan t, untuk suatu bilangan t. Menuju keluar kita memiliki label 3n, 1, dan t + 3. Jumlah yang masuk adalah 3n + t + 4, yang mana sama dengan jumlah yang keluar. Jadi Hukum Arus Kircho memegang pada a. Dengan Teorema 2.2.2, Hukum Arus Kircho harus memegang pada b. Tentunya salah satu juga dapat memeriksanya secara langsung. Karena pada setiap simpul terdapat tiga anak panah menuju ke dalam dan tiga anak panah menuju keluar, konstanta h dapat ditambahkan pada setiap label, dan Hukum Arus Kircho akan masih memegang. Sebab itu G adalah betul-betul konservatif.

Teorema 2.2.5 Jika n adalah gasal, n 5, maka Kn adalah konservatif.


Bukti . Jika n adalah gasal, Kn dapat didekomposisikan menjadi n1 siklus Ha2 milton dengan Teorema 2.3.1. bilangan n1 dapat ditulis sebagai 2 + 2 + 2 + + 2 2 atau 2 + 2 + 2 + + 3. Dengan Teorema 2.2.4, gabungan dari tiga siklus Hamilton adalah betul-betul konservatif. Dengan Teorema 2.2.1, gabungan dari dua siklus Hamilton adalah betul-betul konservatif. Lalu kita dekomposisikan Kn , n 5 yang gasal, menjadi suatu bilangan subgraf yang betul-betul konservatif. Dengan menerapkan Teorema 2.2.3 beberapa kali, Kn ditunjukkan menjadi konservatif untuk n gasal dan n 5.

Teorema 2.2.6 Untuk n 3, roda dengan n buah jari-jari, Wn , adalah konservatif.

14

Bab 2. PELABELAN GRAF

Gambar 2.2.5

Gambar 2.2.6 Bukti . Untuk n gasal, arahkan sisi dari siklus luar dalam arah jarum jam. Pilih pelabelan untuk siklus dan jari-jari sebagaimana pada Gambar 2.2.10, dimana kurva di atas menggambarkan siklus. Lihatlah Gambar 2.2.9 untuk n = 9. Seseorang dapat memeriksa bahwa setiap bilangan dari 1 sampai 2n terjadi dengan tepat sekali. Hal ini berguna untuk mengamati bahwa semua bilangan siklus selain 2 dan 2n adalah gasal dan bahwa semua bilangan pada jari-jari selain 1 dan n adalah genap. Seseorang juga dapat memeriksa bahwa Hukum Arus Kircho memegang pada setiap simpul berderajat 3. Maka, dengan Teorema 2.2.2, Hukum Arus Kircho juga memegang pusat simpul, yang berderajat n. Jika n adalah genap, kita mengacu pada Gambar 2.2.11. Lihatlah Gambar 2.2.8

2.2. Graf Konservatif

15

Gambar 2.2.7

Gambar 2.2.8

Gambar 2.2.9

Gambar 2.2.10 untuk n = 8. Perhatikan bahwa sisi berlabel 2 diarahkan secara berbeda. Sekali lagi, seseorang dapat memeriksa bahwa setiap bilangan dari 1 sampai 2n terjadi dengan tepat sekali dan bahwa Hukum Arus Kircho memegang setiap simpul. Jadi Wn adalah konservatif untuk n 3.

16

Bab 2. PELABELAN GRAF

Gambar 2.2.11

Teorema 2.2.7 Jika n adalah genap, n 4, maka Kn adalah konservatif.


Bukti . Bukti umum bekerja untuk n = 6. untuk kasus n = 6, Gambar 2.2.12 menunjukkan K6 adalah konservatif. Kita tuliskan Kn sebagai gabungan dari Wn dan Kn1 Cn1 , sehingga Kn1 dikurangi sisi dari siklus Hamilton. Wn adalah konservatif, dengan Teorema 2.2.6, dan Kn1 Cn1 adalah betul-betul konservatif dengan Teorema 6.2.1*, 2.2.3, dan 2.2.4. Dan juga, dengan Teorema 2.2.3, Kn adalah konservatif untuk n genap, dan n 4.

Gambar 2.2.12