Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

Semakin hari penduduk dunia semakin bertambah. Hal inipun berdampak pada semakin meningkatnya kegiatan yang dilakukan. Kegiatan yang dilakukan makhluk hidup banyak yang menghasilkan limbah. Produksi limbah yang berlebihan dapat menimbulkan masalah bagi lingkungan. Hal ini juga terjadi di Negara kita Indonesia dengan jumlah penduduk yang semakin hari semakin bertambah. Permasalahan limbah yang semakin meningkat terus menjadi perbincangan serta permasalahan dunia. Hal ini terjadi karena masalah limbah adalah masalah yang tak ada habisnya. Selama makhluk hidup ada, maka limbah akan tetap lestari. Masalah limbah yang semakin mendunia menuntut setiap orang untuk mengendalikannya. Di negara maju telah ada penanganan yang lebih serius, misalnya peraturan yang ketat tentang pembuangan limbah terutama limbah beracun dan berbahaya. Mereka mengendalikan industri agar tidak membuang limbah yang mereka hasilkan dengan sembarangan. Seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri di Indonesia, permasalahn limbah khususnya limbah cair menjadi salah satu permasalahan yang cukup besar yang dihadapi oleh lingkungan hidup saat ini. Limbah cair merupakan sisa buangan hasil suatu proses yang sudah tidak dipergunakan lagi, baik berupa sisa industri, rumah tangga, peternakan, pertanian, dan sebagainya.Komponen utama limbah cair adalah air (99%) sedangakan komponen lainnya bahan padat yang bergantung asal buangan tersebut Limbah cair yang dihasilkan industri banyak mengandung senyawa organik, dan sedikit senyawa anorganik. Senyawa organik apabila berada pada konsentrasi tinggi akan menimbulkan pencemaran pada lingkungan yang berbahaya bagi kesehatan. Pada industri kertas dihasilkan limbah cair, dimana salah satu jenis limbahnya adalah amonia. Mengingat berbahayanya limbah ammonia, maka diperlukan suatu metode pengolahan limbah amonia untuk mengatasi masalah yang
1

dapat ditimbulkan oleh limbah tersebut khususnya pada lingkungan. Oleh karena itu, makalah ini disusun dengan maksud dapat dijadikan sebagai salah satu sumber refrensi dalam pengolahan limbah cair. Dengan menggunakan metode pengolahan limbah dalam makalah ini diharapkan kita bisa menangani permasalahan limbah cair pada lingkungan sekitar.

BAB II PEMBAHASAN A. Proses Pembuatan Kertas


1. Pemilihan Jenis Kayu Jenis kayu yang banyak digunakan dalam pembuatan kertas adalah: a. Kayu lunak (softwood), adalah kayu dari tumbuhan konifer contohnya pohon pinus. Kayu lunak yang memiliki panjang dan kekasaran lebih besar digunakan untuk memberi kekuatan pada kertas. b. Kayu keras (hard wood), adalah kayu dari tumbuhan yang menggugurkan daunnya setiap tahun. Kayu keras lebih halus dan kompak sehingga menghasilkan permukaan kertas yang halus. Kayu keras juga lebih mudah diputihkan hingga warnanya lebih terang karena memiliki lebih sedikit lignin. Kertas umumnya tersusun atas campuran kayu keras dan kayu lunak untuk mencapai kekuatan dan permukaan cetak yang diinginkan pembeli. 2. Persiapan Kayu a. Input 1) 2) b. 1) 2) 3) 4) c. Proses Proses penghilangan pith (depithing) untuk bagasse, Pemecahan kayu menjadi potongan kecil-kecil (chiping) untuk bahan baku kayu. Kulit kayu dikelupas secara mekanis atau hidraulis sebelum dicacah menjadi serpihan kayu. Kemudian dicuci dan disaring untuk menghilangkan debu yang melekat. Output mengandung partikel halus batang kayu dan padatan terlarut. Bahan baku yang mengandung selulosa seperti kayu, bambu, serat kapas, bagas dan Air lain-lain

1) Efluen dari proses persiapan kayu berasal dari air bilasan kayu yang

2) Proses ini juga menghasilkan limbah padat berupa potongan kayu tidak layak pakai dan kulit kayu yang dapat digunakan sebagai kayu bakar. d. Penanganan bahan baku Bahan baku kayu dan yang telah dijadikan serpihan-serpihan kecil (chips) yang disimpan ditanah akan terkontaminasi oleh kotoran dan kerikil halus. Untuk mengatasinya direkomendasikan untuk mengeraskan dengan aspal atau beton di areal penyimpanan bahan baku kayu atau yang sudah menjadi chips. 3. Pembuburan Kayu (Pulping) Pulping adalah proses pemisahan serat selulosa dari bahan pencampur (lignin & pentosan), pelepasan bentuk bulk menjadi serat atau kumpulan serat. Proses pembuatan pulp ada 3 jenis : a. Proses Pembuatan Pulp dengan Cara Kimia Input Alat : Tabung bertekanan yang disebut digester Bahan : Larutan putih (white liquor), yaitu larutan campuran sodium hidroksida dan sodium sulfida, air panas dan zat kimia. Proses 1) Dalam proses pulping secara kimiawi ditambahkan panas dan zat kimia pada serpihan kayu yang dimasukkan ke dalam tabung bertekanan yang disebut digester. 2) Pembuatan pulp dengan proses kraft menggunakan larutan putih (white liquor), yaitu larutan campuran sodium hidroksida dan sodium sulfida yang secara selektif akan melarutkan lignin dan membuatnya lebih larut dalam cairan pengolah. 3) 4) 5) Setelah 2-4 jam, campuran antara pulp, sisa zat kimia dan limbah kayu dikeluarkan dari digester. Pulp kemudian dicuci untuk memisahkannya dari cairan hitam (sisa zat kimia dan limbah). Larutan yang mengandung serat kayu terlarut kemudian masuk ke digester dan dipanaskan.

6) 7) 8)

Larutan hasil pemanasan yang berwarna hitam (black liquor) dipisahkan dari pulp (brownstock) setelah proses pemanasan. Dalam batch digester, pulp (brownstock) diambil dari dasar digester tabung untuk dilanjutkan dengan pencucian. Pada digester bersinambungan, pencucian dilakukan di dalam digester untuk menghilangkan larutan lain dan mendinginkan pulp.

Output 1) 2) Kraft pulping adalah proses dengan hasil rendah yaitu hanya 45% dari kayu akan menjadi pulp yang dapat digunakan. Pulp atau disebut brownstock pada tahap ini siap untuk diputihkan. 4. Pencucian (Brown stock washing) Tujuan: Menghilangkan materi yang tidak diinginkan dalam pulp. Pencucian pulp secara efisien sangat penting dilakukan untuk memastikan kebutuhan maksimal zat kimia dalam proses pulping dan mengurangi jumlah limbah organik yang terbawa oleh pulp dalam proses pemutihan. Pulp yang kurang tercuci membutuhkan dosis zat pemutih yang lebih besar. Input a. Pulp b. Air Proses : Pencucian pulp dilakukan mengikuti masing-masing proses. Output a. Black liquor, debu, lignin, dan pemutih dihilangkan setelah tiap tahapan proses selesai. b. Efisiensi pencucian diukur berdasarkan tingkat kebersihan bubur kertas dan jumlah air yang digunakan untuk mencapai tingkat kebersihan tersebut. 5. Menyuling (Refining) Input Alat : Piringan yang berputar, pemotong Bahan : Pulp

Proses a. Pulp melewati slot dalam piringan yang berputar untuk memisahkan gumpalan selulosa menjadi serat dan mempersiapkan pulp untuk proses pembuatan kertas. b. Serat dipotong dengan panjang yang seragam dan diperlakukan untuk memperbaiki ikatan dan kekuatan produk akhir kertas. Output a. b. Serat Ikatan dan kekuatan produk akhir kertas yang lebih baik. Oksigen Delignification merupakan Penghilangan lignin (delignifikasi) menggunakan oksigen. Lignin harus dihilangkan karena dapat membuat kertas mengalami degradasi. Selain itu, bila pulp masih mengandung lignin yang tinggi maka kualitas kertas menjadi rendah dengan sifat kaku, mudah patah dan berwarna gelap. Input Alat : Reaktor pemanas Bahan : Pulp (brownstock), oksigen, larutan putih Proses a. Penghilangan lignin (delignifikasi) menggunakan oksigen diperlukan untuk menghilangkan prebleaching. b. c. d. Oksigen dan larutan putih ditambahkan ke dalam brownstock dalam reaktor pemanas. Senyawa lignin akan lepas dan dihilangkan dengan pencucian dan ekstraksi. Oksigen delignification akan mengurangi jumlah klorin yang dibutuhkan dalam proses pemutihan (bleaching). Output Dengan mengurangi lignin akan dihasilkan bubur kayu yang lebih putih. sisa lignin dari brownstock yang merupakan tahap

6. Oksigen Delignification

7. Bleaching Bleaching dilakukan dalam beberapa tahap dengan tujuan menghilangkan lignin tanpa merusak selulosa. Input a. b. c. Pulp Chlorine dioxide (ClO2) NaOH Dalam industri kertas terdapat beberapa tahap dalam proses pemutihan. Masingmasing tahapan dijabarkan di bawah ini. C : tahap klorinasi, menggunakan Cl2 dalam media asam E : Extraksi Alkali, untuk melarutkan hasil degradasi lignin yang terbentuk pada tahap sebelumnya dengan larutan NaOH. D : Klorin dioksida, mereaksikan ClO2 dengan pulp pada kondisi asam O : Oksigen, digunakan pada tekanan tinggi dan suasana basa H : Hipoklorit, mereaksikan NaClO dalam media basa P : Peroksida, reaksi dengan hidrogen peroksida (H2O2) dalam kondisi basa Z : Ozon, menggunakan ozon (O3) dalam kondisi asam X : Xylanase, Biobleaching dengan enzim murni mikroba dalam kondisi netral Tahapan dalam bleaching disimbolkan dengan DED. a. D melambangkan chlorine dioxide (ClO2) 1) Dalam tahap ini, brownstock dicampur dengan ClO2 dalam reaktor D1 yang akan bereaksi dengan lignin. 2) Pencucian mengikuti tahap ini untuk menghilangkan senyawa lignin yang beikatan dengan klor dari bubur kayu. b. E melambangkan ekstraksi alkali. Tujuan : untuk menetralisasi pulp dan memperbaiki proses pencucian sebelumnya. NaOH ditambahkan pada aliran pulp dalam menara E dan diikuti dengan pencucian.. c. Menara D2 adalah tahap akhir dari proses bleaching dimana ClO2 memberikan pemutihan terakhir pada pulp. Jika proses bleaching didahului dengan

Process

oksigen delignification, maka prosesnya disingkat menjadi ODED. Klorin biasanya diperoleh melalui proses elektrolisis dari NaCl yang menghasilkan Cl2 dan NaOH. NaOH 2NaCl yang + dihasilkan edapat digunakan 2NaOH + pada Cl2 tahap + E. H2 ====>

Klorin dioksida diperoleh dari sodium klorat dengan katalis asam sulfit. Produk lainnya adalah Na2SO4 yang dapat digunakan dalam proses kraft pulping. NaClO3 + SO2 ===> 2ClO2 + Na2SO4 Output Pulp yang berwarna lebih putih. 8. Paper Making Input Alat : Mesin pembuat kertas, penggulung (roller) Bahan : Kaolin, pengikat yang mengandung formaldehyde., ammonia atau polivinil alkohol Proses a. b. c. d. Pulp yang sudah diputihkan kemudian dibawa ke mesin pembuat kertas dimana akan dibentuk lembaran pulp pada screen. Air dihilangkan dari lembaran dengan kombinasi vakum, panas, dan tekanan yang diberikan di bagian penggulung (roller). Kertas jadi dapat dibuat dengan berbagai jenis berat dan digulung menjadi gulungan besar untuk diproses lebih lanjut. Kertas jadi terkadang juga dilapisi dengan kaolin untuk memutihkan permukaan atau diberi pengikat yang mengandung formaldehyde., ammonia atau polivinil alkohol agar lebih kuat. e. Untuk mendapatkan permukaan yang halus (pada kertas cetak/tulis) dilakukan proses calendering sesudah pengeringan, sedangkan untuk membuat permukaan yang mengkilat dan berwarna, sesudah calendering dilakukan proses pelapisan (untuk produk kertas cetak). Penanganan mesin kertas (paper mill) Untuk mengurangi pemakaian bahan kimia pada mesin kertas direkomendasikan untuk memasang/menggunakan alat pengukur pH yang bekerja

secara otomatis, karena bila penambahan bahan kimia secara manual untuk menyesuaikan pH yang diinginkan bisa kurang akurat. Selanjutnya untuk mencapai target pengeringan direkomendasikan untuk meningkatkan performance pengering (dryer) antara lain dengan mengganti bagian-bagian yang rusak (misalnya: roll, pompa hydraulik), dan mengganti pipa carbon steel dengan stainless steel untuk menghindari terjadinya korosi. 9. Calender Stack Tahap akhir dari proses pembuatan kertas dilakukan pada calendar stack, yang terdiri dari beberapa pasangan silinder dengan jarak tertentu untuk mengontol ketebalan dan kehalusan hasil akhir kertas. 10. Pope Reel Bagian ini merupakan tahap akhir dari proses pembuatan kertas yaitu pemotongan kertas dari gulungannya. Pada bagian ini, kertas yang digulung dalam gulungan besar, dibelah pada ketebalan yang diinginkan, dipotong menjadi lembaran,dirapikan kemudian dikemas (Yuniarti, 2008)

B. Pengolahan Limbah Amoniak


Pada industri pulp dan kertas, bahan baku utama yang digunakan adalah serat yang berasal dari tanaman (dengan kandungan utama berupa selulosa). Dalam proses produksinya, salah satu limbah cairnya adalah ammonia. Paradigma pengelolaan lingkungan di lingkungan industri mulai berubah dari konsep end-pipe treatment menjadi zero waste. Konsep zero waste diartikan sebagai konsep untuk mengupayakan agar suatu kegiatan itu menghasilkan limbah dalam jumlah yang sekecil-kecilnya, bahkan kalau bisa, tidak menghasilkan limbah sama sekali. Upaya ini disebut sebagai minimisasi limbah. Dalam minimisasi limbah terdapat tiga hal yang harus dilakukan, yaitu perubahan bahan baku industri, perubahan proses produksi, dan daur ulang limbah. Perubahan bahan baku dan perubahan proses produksi dimaksudkan untuk menekan jumlah limbah yang dihasilkan, termasuk di dalamnya adalah efisiensi pemakaian bahan-bahan penolong dalam proses produksi. Bila dalam proses produksi ini masih menghasilkan limbah, maka upaya minimisasi dilakukan dengan daur ulang atau
9

pemanfaatan kembali limbah yang dihasilkan. Limbah yang dibuang ke lingkungan hanyalah limbah yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan kembali. Gambar 1 menunjukkan diagram alir proses produksi dari bahan baku hingga dihasilkan produk utama dan produk samping, serta kemungkinan reduksi dan minimisasi limbah. Minimisasi Limbah pada Industri Pulp dan Kertas (Ali M. & Suciningtias W.)
Emisi Recycle

Limbah

Air limbah Limbah

Media reaksi/pelarut padat Bahan baku Pemanfaatan Katalis

Proses Produksi

Produk
produk samping

Gambar 1. Diagram alir proses produksi dengan reduksi dan minimisasi limbah Amoniak adalah suatu senyawa nitrogen yang banyak digunakan untuk memproduksi berbagai hasil industri seperti pupuk, obat-obatan dan lain-lain. Dalam industri, pembuatan amoniak dilakukan dengan proses Haber, yaitu reaksi langsung antara hidrogen dan nitrogen dengan bantuan suatu katalis pada kondisi yang optimum. Sementara di alam amoniak berasal dari air buangan industri dan biodegradasi senyawa organik secara mikrobiologis (Keenan, 1989 dalam Naigolang 2003) Amoniak dalam air amat beracun bagi ikan, udang dan binatang air lainnya. Dapat menimbulkan kesuburan tanaman air (eutropia). Amonia dalam air dapat dibuang dengan proses tripping (pH optimum 12) atau dengan proses mikrobiologi. Amoniak sebagai salah satu penyebab pencemaran lingkungan dan dapat menyebabkan kekurangan oksigen dalam air, karena perubahan amoniak menjadi

10

nitrit oleh mikroorganisme membutuhkan 1,5 bagian oksigen untuk sebagian amoniak (Naigolang, 2003) Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengatasi masalah ini. Satu diantara adalah metode Stripping Amoniak. Prinsip dari stripping amoniak ini adalah perubahan dari bentuk cair ke gas. Metode ini pada dasarnya penghilangan amoniak dari limbah cari dengan mudah dilakukan dengan cara desorpsi yang secara teknis dapat dilakukan dengan cara mencampur bentuk cair dan bentuk gas seperti pada penggunaan semprotan udara, tanki aerasi dan sistem difusi udara. (Betty 1995 ; Manajam, 1985 dalam Naigolang, 2003). Stripping Amoniak atau Oksidasi ammonia anaerob (Anaerobic ammonia oxidation /ANAMMOX) merupakan salah satu teknologi alternative yang digunakan dalam proses pengolahan limbah terutama yang berkaitan dengan nitrogen.dalam proses ini, nitrit digunakan sebagai akseptor elektron dalam konversi ammonia menjadi gas nitrogen. Proses ini menawarkan kesempatan yang cukup besar untuk mengkonversi ammonia dalam sistem yang autotrof mutlak dengan bantuan biomassa. Dalam proses ini tidak dibutuhkan senyawa karbon organik, ammonia digunakan sebagai donor elektron untuk reduksi nitrit (Parlina, 2009). Oksidasi ammonia dapat dilangsungkan secara aerob dan anaerob dan terdapat beberapa agen bakteri yang memiliki kemamppuan oksidasi ammonia. Mereka melakukannya dalam 2 tahap yaitu mengoksidasi ammonia menjadi nitrit dengan hidroksilamin, kemudian mengoksidasi nitrit menjadi nitrat dengan menggunakan hydroxylamine oxidoreduxctase. Tahap kedua adalah mengoksidasi nitrat menjadi gas nitrogen secara anaerob. Bakteri pengoksidasi ammonia dari jenis kemolitoautotrof aerob merupakan jenis bakteri yang secar khusus dapat hidup pada media yang mengandung amonia dan CO2 dan mampu menggunakan ammonia monooxygenase untuk menkonversi ammonia dengan hidroksilamin. Beberapa bakteri heterotrof seperti P. Pantotropha dan Alcaligenes faecalis dapat menyelenggarakan reaksi yang sama. Metanotrop mampu mengkonversi ammonia menjadi hidroksilamin melalui methane monooxygenase yang dapat mengoksidasi metana menjadi CO2.

11

Proses ANaerobic AMMonium OXidation (ANAMMOX) pertama kali ditemukan pada tahun 1980-an namun sebenarnya telah diprediksi sejak lama. Van de Graff et al. (1997) dan Bock et al. (1995) menemukan bahwa nitrit lebih baik dalam menjadi akseptor electron. Aliran lainnya dengan kandungan Nitrogen yang tinggi dan kandungankarbon yang rendah seperti dalam leachet landfill dan kondensat evaporator dapat diolah dengan menggunakan proses ini. Dalam proses ANAMMOX, ammonia dioksidasi dalam kondisi anoksik, kondisi di mana nitrit dapat menjadi akseptor elektron. Ion ammonium dan nitrit dikonsumsi dalam basis yang hamper eqimolar. Proses ini dapat dikombinasikan dengan proses nitritasi parsial seperti proses SHARON di mana sebagian ammonia dioksidasi menjadi nitrit. Kedua proses autotrof tersebut dapat menambah sustainibilitas atau ketahanan pengolahan limbah terhadap kebutuhan penambahan karbon (dan secara bersamaan menambah produksi lumpur) yang dapat dihindari serta konsumsi oksigen dan emisi oksida nitrat dapat direduksi dalam jumlah besar. Kombinasi antara proses SHARON dan ANAMMOX diakhiri dengan proses penghilangan nitrogen Kehadiran bakteri pemroses ANAMMOX yang mampu memproduksi gas nitrogen dari ammonia dan nitrit/nitrat pertama kali didemonstrasikan dalam reactor unggun denitrifikasi terfluidisasi dalam proses pengolahan lumpur dari aliran effluent pembuangan kotoran dan limbah ammonia, dan endapan dari air laut. Yang termasuk ke dalam bakteri yang berperan penting dalam proses ANAMMOX ini adalah: 1. Brocadia yaitu Brocadia anammoxidans 2. Kuenenia yaitu Kuenenia stuttgartiensis 3. Scalindua yaitu Scalindua brodae, Scalindua wagneri, dan Scalindua sorokinii Adapun mekanisme terjadinya proses ANAMMOX ini dihipotesiskan oleh van de Graaf et al. (1997) dapat dijelaskan dengan dua metode sebagai berikut: 1. Oksidasi ammonia menjadi nitrit menjadi hidroksilamin, yang akan bereaksi dengan nitrit yang nantinya akan direduksi menjadi nitrogen. Pembentukan hidroksilamin dari ion ammonium dilakukan dengan bantuan enzim hydroxylamine

12

oxidoreduxctase. Proses ini nampak tidak memungkinkan karena adanya inhibis dari oksigen yang daya oksidasinya sangat kuat. 2. Reduksi parsial dari nitrit dengan pembentukan hidroksilamin (NH2OH) yang kemudian akan bereaksi lebih lanjut dengan ammonia membentuk hidrazin (N2H4). Hidrazin inilah yang akan dikonversi menjadi nitrogen. Oksidasi dengan mekanisme seperti ini akan memberikan daya reduksi yang ekivalen dengan yang dibutuhkan untuk kondisi awal reduksi nitrit. Kombinasi proses nitritasi (SHARON) dengan ANAMMOX memiliki tahapan reaksi sebagai berikut SHARON: NH3 + 1.5 O2 NO2- + H+ + H2O ANAMMOX: NO2- +NH3+ + H+ N2 +2 H2O Sehingga reaksi keseluruhan menjadi 2 NH3+ + 1.5 O2 N2 + 3 H2O Manfaat Proses ini dapat disebutkan sebagai berikut: 1. efektif dalam biaya 2. tidak diperlukan penambahan sumber karbon organic 3. energy yang diperlukan dapat direduksi sebanyak 60% dari kebutuhan energy biasa 4. emisi CO2 dapat dikurangi sampai 90% 5. tidak menghasilkan lumpur yang berlebihan 6. ringkas dan tidak merepotkan (Parlina, 2009). Limbah amoniak dapat air juga dinetralkan dengan asam sulfat (pupuk ZA). Adaoun baku mutu ambien untuk pencemaran amoniak adalah 2 ppm Naigolang, 2003).

BAB III
13

KESIMPULAN
A. Kesimpulan 1. Pembuatan Kertas dapat dilakukan dengan 10 proses yaitu: pemilihan jenis kayu, persiapan kayu, pembuburan kayu (pulping),pencucian, menyuling (refining), oksigen delignification, bleaching, paper making, calender stack, pope reel. 2. 3. Prinsip dari stripping amoniak ini adalah perubahan dari bentuk cair ke gas. Stripping Amoniak atau Oksidasi ammonia anaerob (Anaerobic ammonia oxidation /ANAMMOX) merupakan salah satu teknologi alternative yang digunakan dalam proses pengolahan limbah terutama yang berkaitan dengan nitrogen.dalam proses ini, nitrit digunakan sebagai akseptor elektron dalam konversi ammonia menjadi gas nitrogen. B. Saran Makalah ini diharapkan dapat menjadi suatu acuan dalam mengolah limbah, khususnya limbah amonia untuk mengurangi permasalahan lingkungan.

14

DAFTAR PUSTAKA

Hamonangan, Nainggolan. 2003. Perolehan kembali (recovery) amoniak dari serum pengolahan lateks pekat dengan Metode stripping. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Sumatera Utara. Sumatera. Masduqi, Ali dan Wardhani, Suciningtias. 2005. Minimilisasi Limbah Pada Industri Pulp dan Kertas. Jurusan Teknik Lingkungan ITS. Surabaya. Parlina, Iin. 2009. Metode Penghilangan Nitrogen Dari Limbah Dengan Sharon Anammox. (Online, http: http://kidnesia.com/Kidnesia/TanyaNesi/Sains//%28offset%29/10). Diakses Tanggal 10 Januari 2011. Yuniarti, Ade. 2008. Identifikasi Bahaya-bahaya Zat Kimia pada Industri Pulp/Kertas.(Online, http://www.ngobrolaja.com/showthread.php? t=61882). Diakses Tanggal 10 Januari 2011.

15