Anda di halaman 1dari 5

Nama penuh beliau ialah Abdullah Ibn Umar Ibn al-Khattab al-'Adawi.

Beliau adalah anak kepada sahabat Nabi yang terkenal juga Khulafa al-Rasyidin kedua iaitu Umar Al-Khattab. Di lahirkan di Makkah selepas Rasulullah diutuskan sebagai Rasul. Memeluk Islam ketika masih kecil dan menyertai Hijrah bersama ayah dan ibunya, Zainab binti Maz'un. Salah seorang ahli fekah dalam kalangan sahabat yang banyak meriwayatkan hadis daripada Rasulullah 1,630 hadis. Beliau adalah seorang penghafaz hadith yang terkemuka selepas Abu Hurairah.

Beliau pernah meminta kebenaran dari Rasulullah S.A.W untuk ikut serta dalam Perang Badar. Akan tetapi hasrat beliau bersama Zaid ibn Thabit ditolak permohonannya untuk berjuang. Perang Khandak berkecamuk. Tersebar berita, siapa sahaja lelaki berusia 15 tahun ke atas berhak ikut berjihad. Mendengar itu Ibn Umar berseri-seri kegembiraan. Usianya saat itu masuk 15 tahun. Ia segera mendaftarkan diri. Itulah idamannya selama ini: berjihad bersama Rasulullah. Keikutsertaannya dalam berbagai medan jihad tak pernah lepas dalam sejarah hidup pemuda itu. Saat perang membuka kota Mekah (Futuh Makkah), ia berusia 20 tahun dan termasuk pemuda yang menonjol di medan perang. Dialah, Abdullah ibn Umar, atau Ibnu Umar.

Menurut sebahagian penulis riwayat, kaum muslimin masa itu sedang berjaya-jayanya. Muncul daya tarik harta dan kedudukan membuat sebahagian orang tergoda memperolehnya. Maka para sahabat melakukan perlawanan pengaruh material itu dengan mempertegas dirinya sebagai contoh gaya hidup zuhud dan salih, menjauhi kedudukan tinggi. Ibnu Umar pun dikenal sebagai peribadi yang bersahabat malam untuk beribadah, dan bersahabat dengan dinihari untuk menangis memohon ampunan-Nya. Akan halnya soal solat malam ini, ada riwayatnya. Di masa hayat Rasulullah, Ibnu Umar mendapat kurnia Allah. Setelah selesai salat bersama Rasulullah, dia pulang, dan bermimpi. "Seolah-olah di tanganku ada selembar kain beludru. Tempat mana saja yang kuingini di surga, kain beledru itu akan menerbangkanku ke sana. Dua malaikat telah membawaku ke neraka, memperlihatkan semua bahagian yang ada di neraka. Keduanya menjawab apa saja yang kutanyakan mengenai keadaan neraka," begitulah diungkapkan Ibnu Umar kepada saudarinya yang juga isteri Rasul, Hafshah, keesokan harinya. Saidatina Hafshah terus bertanyakan mimpi adiknya kepada Rasulullah. Rasulullah SAW bersabda: "nimarrajulu 'abdullah, lau kaana yushallii minallaili fayuksiru", akan menjadi lelaki paling utamalah Abdullah itu, andainya ia sering solat malam dan banyak melakukannya. Semenjak itulah, sampai meninggalnya, Ibnu Umar tak pernah meninggalkan qiyamullail, baik ketika mukim atau bermusafir. Ia demikian tekun menegakkan solat, membaca Al-Quran, dan banyak berzikir menyebut asma Allah.

Kenapa Ibnu Umar dikatakan tak berhasrat pada dunia, sedang ia pedagang yang berjaya? Ini kerana. Sebagai pedagang ia berpenghasilan banyak kerana kejujurannya berniaga. Selain itu ia menerima gaji dari Baitul Maal. Tunjangan yang diperolehnya tak sedikitpun disimpan untuk dirinya sendiri, tetapi dibagi-bagikannya kepada fakir miskin. Berdagang buat Ibnu Umar hanya sebuah jalan memutar rezeki Allah di antara hamba-hambanya. Kedermawanan Ibnu Umar antara lain juga ditunjukkan dengan sikap hanya memberi mereka yang fakir miskin. Dia pun jarang makan bersendirian. Anak-anak yatim atau golongan melarat kerap diajaknya makan bersama-sama. Dia pernah menyalahkan anak-anaknya sendiri lantaran mengundang jamuan makan untuk kalangan hartawan. "Kalian mengundang orang-orang yang dalam kekenyangan, dan kalian biarkan orang-orang kelaparan." Sang dermawan memang bukan mencari nama dengan kedermawanannya. Dalam kesehariannya, kaum dhuafa akrab dengan Ibnu Umar. Sifat santunnya, terutama kepada fakir miskin, bukan basa-basi. Orang-orang fakir dan miskin sudah duduk menunggu di tepi jalan yang diduga bakal dilewati Ibnu Umar, dengan harapan mereka akan terlihat oleh Ibnu Umar dan diajak ke rumahnya.

Abdullah Ibn Umar memang hidup dalam beberapa masa kekhalifahan, di antaranya ada masa-masa penuh pergolakan antara kelompok Islam. Menghadapi situasi keras, Ibn Umar tak berubah menjadi kasar dan pembalas. Suatu ketika, Gabenorr Muawiyah, Al-Hajjaj ibn Yusuf, yang berkedudukan di Hijaz tengah berpidato di masjid. Sang gabenor yang terkenal kejam dan fasik. Kebetulan Abdullah ibn Umar ada di masjid itu. Saat itulah, orang-orang semasanya mendapat bukti, betapa kelembutan dan kesabaran Ibnu Umar, tidak bererti lemah terhadap kezaliman. Dengan tenang, Ibnu Umar berdiri masih saat Gabenor Hajjaj masih di mimbar, dan berkata, "Engkau musuh Allah. Engkau menghalalkan barang yang diharamkan Allah. Engkau meruntuhkan rumah Allah, dan engkau membunuh banyak wali Allah." Al Hajjaj memberhentikan pidatonya. "Siapakah orang bicara tadi?" Seseorang menjawab, itu Abdulah ibn Umar. Lalu Hajjaj meneruskan pidatonya. "Diam, wahai orang yang sudah pikun." Seteleh Al-Hajjaj kembali ke pejabatnya, diperintahkannya pembantunya menikam Abdullah ibn Umar dengan pisau beracun. Si pembantu berhasil menorehkan pisau beracun itu ke tubuh Abdullah ibn Umar yang lantas jatuh sakit. Di pembaringan, Ibnu Umar dijenguk Al-Hajjaj. Al-Hajjaj memberikan salam, Ibnu Umar tak menjawab. AlHajjaj menanyakan sesuatu, berbicara dengan Abdullah ibn Umar tetapi Abdullah ibn Umar tak menjawab sepatah katapun. Ibnu Umar wafat tahun 72 Hijriyah dalam usia 84 tahun. Putra Umar ibn Khattab sebagaimana ayahnya, sama-sama penggiat Islam, telah pergi. Kalau Umar ibn Khattab hidup di suatu masa di mana banyak pula sahabat Rasulullah yang wara dan ahli ibadah, maka orang-ornag semasa Abdullah ibn Umar mengatakan, zaman ketika Ibnu Umar hidup sulit menemukan insan yang sealim dan seteguh dia.