Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS LARUTAN AMINA DENGAN GAS KROMATOGRAFI

I.

Pendahuluan Saat ini, metoda yang paling umum untuk menganalisis gas alam dalam larutan

1.1 Latar Belakang amina adalah dengan titrasi kimia basah, yang mana metode ini membosankan dan memakan waktu yang lama. Sebuah metode kromatografi gas yang sederhana telah digunakan pada percobaan ini yang lebih akurat dan hanya membutuhkan waktu analisis selama 8 menit. I.2 Tujuan a. b. c. Analisis gas a;am dari sampel larutan amina. Mempelajari prinsip dan cara kerja dari alat kromatografi gas. Analisis perbandingan metode yang baik digunakan untuk analisis gas alam dari larutan amina.

II. Isi Ketika kekuatan energi terus meningkat, kinerja dan efisiensi semua peralatan dan pengolahan gas menjadi sangat penting. Dalam banyak kasus, pelaksanaan penilaian hasil cukup sulit karena kurang sesuainya analisis prosedur (metode). Hal ini terutama berlaku untuk bahan pemanis gas amina, dimana kadar pengukuran gas asam dan hidrokarbon dari larutan amina itu memakan waktu lama. Saat ini metode yang paling populer untuk menentukan konsentrasi gas asam dalam larutan amina menggunakan titrasi kimia basah. Dalam metode untuk penetapan CO2, sampel amina dicampur dengan kelebihan dari standar basa dan dipanaskan sampai mendidih. Karena amina/kompleks gas asam panasnya tidak stabil, gas asam dikonversi menjadi jenis ion dan diendapkan oleh garam logam yang sesuai. Filtratnya dititrasi dengan standar asam untuk menentukan konsentrasi dari amina dalam sampel. Bromcresol hijau, kresol merah dan PP biasanya digunakan untuk menunjukkan titik akhir. Jumlah amina dalam larutan biasanya ditentukan oleh titrasi cairan sampel dengan standar asam dari indicator. Bromfenol biru, metil jingga dan metil merah yang digunakan untuk menunjukkan titik akhir dalam titrasi ini. Kadar CO2 dari larutan dihitung sebagai perbedaan antara jumlah amina total dengan amina tanpa karbonat yang diasumsikan stoikiometrinya 1 : 1 antara asam amina dan CO2. Hikita dkk telah menguji perbandingan stoikiometri ini untuk TEA amina tersier. Kadar air yang paling sering ditentukan secara Kiselbach yang merupakan modifikasi dari metoda Karl Fischer. Titik akhir ditentukan dengan detector elektronik dan metode ini dapat dipakai lagi dengan jarak yang jauh dari konsentrasi air. Titrasi kimia basah memiliki beberapa kekurangan, yaitu total waktu yang dibutuhkan untuk menemukan menganalisa 1 larutan amina berkarbonasi bisa selama 1-1/2 jam. Dalam rentang waktu tersebut CO2 dari larutan amina dapat lepas atau menghilang ke atmosfer sehingga dapat mempengaruhi hasil analisis. Beberapa masalah juga dihadapi ketika mencoba untuk mengalirkan larutan amina dibawah tekanan. Jelas, pelaksanaan yang berarti akan terjadi dalam banyak kasus ketika tekanan diberikan pada larutan amina dengan konsentrasi tinggi. Baru-baru ini

larutan amina dari standarisasi asam dan basa juga harus tersedia dan diuji setiap hari sebelum digunakan. Blanko juga harus dibuat untuk mendapatkan nilai titrasi yang bagus . Analisis larutan dengan cara titrasi sering mengalami kendala karena adanya zat pengotor sehingga terjadi penurunan hasil. Beberapa dari hasil degradasi tidak bisa bereaksi dengan gas asam tapi dititrasi sebagai amina berkarbonasi. Degradasi produk lain yang memanaskan garam stabil dititrasi sebagai amina bebas. Sebagian besar metode kimia dari etanolamina tergantung pada fungsi amina dan sering tidak spesifik dan analisis tidak akurat. Wisniewski menemukan teknik GC yang dapat menganalisa amina pada 1 kolom, gas asam dan H2O pada kolom lain, tapi tidak dapat menganalisa semua komponen dengan satu kali injeksi sampel. Ketika menganalisis gas asam dan H2O, kolom telah dengan injeksi dengan HCl terlebih dahulu. HCl menghilangkan amina dari sampel dan memungkinkan gas asam dan H2O dielusi untuk kemudian dianalisis. Penjenuhan kolom dengan amina membuat reproduktifitas sulit. Semua metoda diatas digunakan untuk menganalisis larutan amina yang mempunyai 1 atau lebih kesulitan yang berarti dan tidak ada metode yang dapat menganalisis semua komponen dalam larutan. Pada penelitian ini, keuntungan yang bagus diperoleh dari metode GC untuk analisis gas asam, hidrokarbon, air dan kadar amina dari larutan amina. Pengembangan metode GC Dalam mengembangkan metoda GC, beberapa masalah yang sering timbul telah diantisipasi. Pertama, etanolamina adalah senyawa yang sangat reaktif. Polar hidroksil dan golongan amina memiliki sifat penyerapan afinitas yang kuat, untuk senyawa kolom silica lebih bagus digunakan. Keberhasilan dari keseimbangan larutan yang mendukung adalah karena tidak mungkinnya interaksi fisikokimia kuat dan difusi lambat dari amina melalui cairan. Namun, Saha dkk telah menunjukkan bahwa kolom pendek dengan kemasan Tenax-GC dapat digunakan untuk menganalisa MEA, DEA, TEA, dan ketidakmurniannya. Ketajaman puncak yang berbeda dengan pemisahan yang bagus diperoleh dalam waktu kurang dari 8 menit menggunakan Perkin-Elmer model 900 gas kromatogafi dengan detector ionisasi nyala. Tenax-GC adalah polimer organic dengan permukaan interaksi yang lemah

yang memungkinkan perpindahan massa yang cepat, elusi cepat dan puncak tajam dan diketahui memiliki kestabilan termal yang bagus. Masalah potensial kedua adalah pembentukan dari hasil penurunan panas pada suhu tinggi di dalam kolom GC. Namun, Saha dkk melaporkan bahwa alkanolamina tidak mengalami dekomposisi panas yang cepat pada injeksi dengan suhu sampai 375oC. Degradasi amina mungkin lebih berfungsi dari waktu dibanding suhu. Dengan menggunakan GC, waktu yang diabiskan pada kolom sangat pendek sehingga penurunannya tidak signifikan. Masalah ketiga dengan menganalisis komponen dalam larutan amina adalah rentang titik didihnya yang lebar yaitu dari -80oC untuk CO2 sampai 250oC untuk MDEA. Dengan demikian oven kolom isothermal tidak dapat digunakan dan program temperatur yang cepat dibutuhkan untuk waktu elusi pendek. Sebuah injeksi tinggi port suhu dapat diperlukan untuk penguapan sampel. Selain itu, detector ionisasi nyala tidak akan akan memberikan hasil yang bagus jika H2O dan CO2 tidak terbakar (nyala). Konfigurasi kolom Dengan pedoman diatas, GC yang digunakan yang mempunyai kemampuan memprogramkan suhu, konduktivitas termal detector dan saringan molekuler sebagai referensi kolom. Gas pembawa adalah He dengan kecepatan aliran 40 ml/menit. GC adalah model Shimadzu GC-8A dengan model Shimadzu Cintegrator RIB, GC Shimadzu pertama kali dikonfigurasikan dengan kolom TenaxGC tunggal. Suhu injeksi port 270oC dan program suhu dari 20oC/menit digunakan untuk menyelidiki kemampuan kolom. Sayangnya, Tenax-GC sendiri masih tidak mampu untuk menghasilkan pemisahan antara komponen cahaya (H2S, CO2, H2O, C1, C2, dll). Untuk memisahkan komponen cahaya, sebuah kolom sederhana dialihkan kea lat dengan 2 kolom yang telah disusun. Kolom pertama berisi Tenax-GC yang dirancang untuk memberikan pemisahan yang baik antara amina dan komponen cahaya. Kolom kedua berisi Poropak Q dirancang untuk memisahkan komponen cahaya. Poropak Q adalah kopolimer etilvinilbenzen-divinilbenzen yang bisa menahan suhu sedikitnya 250oC sebelum polimer terdegradasi. Penurunan tekanan pada kolom Poropak Q

diimbangi dengan katup pembatas. Kedua kolom di pak dari Altech Associate. Susunan kolom ditunjukkan gambar 1 :

Setelah injeksi, sampel menguap dan komponen cahaya mengalir cepat melalui kolom tenax-GC dan kedalam kolom Poropak Q. Amina dengan kelompokkelompok yang berinteraksi berjalan lebih lambat. Setelah mengelusi komponen cahaya. Katup beralih keposisi 2 seperti yang ditunjukkan pada gambar 3 dan amina dielusi dari kolom Tenax-GC menuju ke katup restrictor dan ke detector. Dengan demikian, Poropak Q keliling dilindungi dari adsorbs irreversible/penonaktifan oleh amina.

Operasi Masalah

Sejumlah percobaan injeksi telah dilakukan dan beberapa masalah operasional telah dikembangkan. Karena gas He tidak melewati saluran pembersih, maka aliran dasar dihasilkan. Masalahnya telah dikoreksi dengan memasukkan 2 alat pembersih. Sebuah kolom bermolekul besar menghilangkan air dan alat pembersih gas dengan kapasitas tinggi diproduksi oleh supelco katalis yang mampu menghapus sejumlah kecil O2 dan air. Karena dibutuhkan suhu injeksi port yang tinggi untuk menguapkan amina, injeks Septa kurang baik. Septum kurang baik mengakibatkan puncak imajiner (karena bocornya He dari septum saat diinjeksikan) dan reproduktifitas kurang baik, beberapa sampel bocor antara septum dan syringe sampel). Untuk mengatasi masalahini, septum dengan suhu tinggi yang baru diselipkan setelah dipasang. Sebuah prosedur rutin mengubah septa sekitar 20 injeksi terbukti memuaskan. Kadang-kadang jarum suntik (syringe) dimasukkan terlalu jauh kedalam GC dan titik sampel yang diinjeksi yang sebenarnya adalah menghalangi penguapan. Suhu oven awal tidak cukup tinggi untuk menguapkan sampel terkondensasi.Suhu awal kolom dipilih pada temperature 120 0C untuk mencegah penguapan amina. Pembaruan secara reguler untuk kolom dan detector penting untuk adsorbsi dari MDEA. Kondisi Operasi Optimal GC Berbagai macam kondisi operasi dilakukan dengan kombinasi optimal yang dapat memberikan pemisahan yang baik dari semua komponen dalam waktu 8 menit. Reprodusibilitas dari masing-masing analisis 2%. Kondisi operasi terbaik untuk GC terbukti :
1. Injector/suhu detector 270oC 2. Temperature awal kolom 120oC 3. Temperatir akhir kolo,m 240oC 4. Kecepatan program suhu 20oC/menit 5. 6. 7.

Arus detector 60 mA GC attenuation 1 Integrator attenuation 4 Perpindahan katup digerakkan pada suhu oven 180oC.

Hasil dan Validasi Teknik GC Kromatogram sampel yang menggambarkan pemisahan untuk H2S, CO2,H2O MDEA dan beberapa hidrokarbon ditunjukkan pada gambar 4 s/d 7. Pada gambar 4, sampel berisi CO2 terlarut dalam 10% MDEA dalam air. Kondisi pengoperasian GC sama dengan kondisi pada pengukuran yang telah dilakukan sebelumnya pada analisis ini. Pemisahan yang dihasilkan sangat baik dan diperoleh puncak yang tajam. Pada gambar 5 larutan H2S, CO2, MDEA dan air juga dianalisis dengan kondisi pengoperasian yang sama seperti analisis sebelumnya. Hasil pemisahan yang didapatkan juga baik yang dapat dilihat dari puncak yang diperoleh tajam.

Figure 4. GC results using TENAX-GC and POROPAK Q columns with temperature programming.

Figure 5. GC results using TENAX-GC and POROPAK Q columns with temperature programming.

Pada tekanan atmosfer, jumlah yang sedikit dari cahaya hidrokarbon dapat dilarutkan dalam larutan MDEA untuk kemudian dideteksi menggunakan metode arus (aliran listrik). Beberapa kali penginjeksian dilakukan dari kalibrasi gas untuk menunjukkan kemungkinan pemisahan. Hasil pengukuran dengan GC dari gas yang berisi N2, H2S dan C3H8 ditunjukkan pada gambar 6. Sebagai catatan pada gambar 6, analisis ini dilakukan pad suhu kolom isotermal yaitu pada 80 oC. Kromatogram untuk gas yang berisi N2, O2, CO, CH4, CO2, C2H4,C3H6,C3H8. ditunjukkan pada gambar 7. Temperatur kolom yag digunakan masih pada keadaan isothermal 80 oC. Dapat dilihat dari gambar 7 gas N2, O2, CO2 dan CH4 yang dielusi pada suhu yang sama. Pemisahan ini membutuhkan perlakuan ulang. Pemisahan yang baik dihasilkan antara C2H4 dan C2H6 dan juga antara C3H6 dan C3H8.

Figure 6. GC results using TENAX-GC and POROPAK Q columns at 80oC.

Pada saat ini,teknik GC yang baru dibandingkan dengan metoda titrasi kimia basa hanya untuk CO2. Metoda titrasi dijelaskan dalam buku Dow Gas Conditioning Fact Book (1962) yang digunakan untuk analisis perbandingan. Sampel disiapkan dengan cara membuat gelembung CO2 kedalam larutan MDEA dan dianalisis menggunakan GC dan metoda titrasi. Hasil dari perbandingan yang dilakukan ditunjukan pada gambar 8 dimana terbentuk sudut 45o yang menggambarkan hubungan antara kedua metoda tersebut. Seperti yang dilihat dari gambar 8, nilai titrasi kimia basah sedikit lebih besar dari pada GC pada konsentrasi CO2 yang tinggi. Penyimpangan yang terjadi disebabkan oleh kesalahan dari kedua

teknik. Hanya sebatas perbandingan yang telah dilakukan saat ini. Beberapa penyimpangan juga nterjadi karena sulitnya mengamati titik akhir titrasi keduanya.

Figure 7. GC results using TENAX-GC and POROPAK Q columns at 80oC.

Teknik secara GC memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan metode titrasi yaitu lebih cepat, kesalahan kecil (disebabkan oleh operator),senyawa spesifik dan lebih reproducible. Metode GC juga mempunyai keuntungan yang sangat bagus sebab dilengkapi dengan system sampling online pada saat memproses suhu dan tekanan. Penyamplingan yang akurat dari sedikit bahan yang mengandung banyak amina sulit dilakukan karena amina yang bersifat mudah menyala dan kemungkinan kehilangan gas asam dan cahaya dri hidrokarbon. Pada tekanan dibawah 100 psig, cahaya hidrokarbon mengandung larutan amnina dengan konsentrasi rendah namun hal ini bukanlah masalah yang serius. Namun pada range tekanan diatas 100 psig sampai 1000 psig atau lebih besar dari ini hilangnya cahaya dari hidrokarbon perlu diperhatikan. Berkaitan dengan proses dari larutan, gas asam dapat menyala pada saat penyamplingan di hampir semua tekanan. Belajar dari percobaan percobaan yang telah dilakukan sebelumnya, pengambilan sampel harus dilakukan secara bomb atau kantong. Volume dari cairan dan nyala gas harus diukur secara terpisah. Sampel cairan digunakan untuk analisis kandungan H2S dan CO2 secara titrasi dan sampel gas dianalisa dengan metode GC. Dengan teknik GC ini, putaran sampel dapat ditambahkan ke alat. Hal ini memungkinkan aliran GC menjadi tempat pengambilan sampel pada aliran suhu dan temperature. Tekanan pada sampel dihentikan setelah putaran sampel terisi, dan

diinjeksikan ke alat. Pada poin ini, nyala tidak penting setelah semua sampel diinjeksikan dan mengalami penguapan didalam system GC.

III. Ringkasan dan kesimpulan Sebuah metode kromatografi telah dikembangkan untuk menganalisis larutan amina untuk gas asam, hidrokarbon, air dan konsentrasi amina. Pemisahan dan puncak yang bagus dihasilkan oleh kebanyakan komponen dengan menggunakan peralatan Tenax-GC dan kolom Poropak Q bila dikombinasikan dengan program suhu.

Metode GC memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan metode titrasi. Proses dengan GC menghabiskan waktu untuk analisis kurang lebih 10 menit, artinya lebih efisien, memiliki kemampuan penyamplingan secara online dan sedikit gangguan. Metode Gc telah disepakati mempunyai hubungan yang erat dengan hasil titrasi untuk analisis CO2. Perbandingan metode untuk analisis komponenkomponen lainnya saat ini belum dilakukan.