Revolusi Sosial Sumatera Timur

Revolusi Sosial Sumatera Timur adalah gerakan sosial di Sumatera Timur oleh rakyat terhadap penguasa kesultanan Melayu yang mencapai puncaknya pada bulan Maret 1946. Revolusi ini dipicu oleh gerakan kaum komunis yang hendak menghapuskan sistem kerajaan dengan alasan antifeodalisme. Revolusi melibatkan mobilisasi rakyat yang berujung pada pembunuhan anggota keluarga kesultanan Melayu yang dikenal pro-Belanda namun juga golongan menegah proRepublik dan pimpinan lokal administrasi Republik Indonesia. [1]

Latar belakang
Karena sulitnya komunikasi dan transportasi, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus baru dibawa oleh Mr. Teuku Muhammad Hasan selaku Gubernur Sumatra dan Mr. Amir selaku Wakil Gubernur Sumatra dan diumumkan di Lapangan Fukereido (sekarang Lapangan Merdeka), Medan pada tanggal 6 Oktober 1945. Pada tanggal 9 Oktober 1945 pasukan AFNEI dibawah pimpinan Brigjen T.E.D. Kelly mendarat di Belawan. Kedatangan pasukan AFNEI ini diboncengi oleh pasukan NICA yang dipersiapkan untuk mengambil alih pemerintahan dan membebaskan tawanan perang orang-orang Belanda di Medan.[2] Pada pertengahan abad ke-19, perkebunan tembakau tumbuh dengan pesat di wilayah kesultanan Deli [5] sehingga mengakibatkan migrasi buruh (koeli) perkebunan yang diangkut oleh Belanda. Pada awal abad ke-20, hampir separuh penduduk Sumatra Timur adalah buruh pendatang yang banyak dieksploitasi oleh Belanda. Meletusnya revolusi sosial di Sumatera Utara tidak terlepas dari sikap sultan-sultan, raja-raja dan kaum feodal pada umumnya, yang tidak begitu antusias terhadap kemerdekaan Indonesia karena setelah Jepang masuk, pemerintah Jepang mencabut semua hak istimewa kaum bangsawan dan lahan perkebunan diambil alih oleh para buruh. Kaum bangsawan tidak merasa senang dan berharap untuk mendapatkan hak-haknya kembali dengan bekerja sama dengan Belanda/NICA, sehingga semakin menjauhkan diri dari pihak pro-republik. Sementara itu pihak pro-republik mendesak kepada komite nasional wilayah Sumatera Timur supaya daerah istimewa seperti Pemerintahan swapraja/kerajaan dihapuskan dan menggantikannya dengan pemerintahan demokrasi rakyat sesuai dengan semangat perjuangan kemerdekaan. Namun pihak pro-repbulik sendiri terpecah menjadi dua kubu; kubu moderat yang menginginkan pendekatan kooperatif untuk membujuk kaum bangsawan dan kubu radikal yang mengutamakan jalan kekerasan dengan penggalangan massa para buruh perkebunan.[3] ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya

Revolusi Sosial Maret 1946

Amir Hamzah salah satu korban Revolusi Sumatra Timur Di Tanjung Balai, Asahan 3 Maret 1946 sejak pagi ribuan massa telah berkumpul. Mereka mendengar bahwa Belanda akan mendarat di Tanjung Balai. Namun kerumunan itu berubah haluan mengepung istana Sultan Asahan. Awalnya gerakan massa ini dihadang TRI namun karena jumlahnya sedikit, massa berhasil menyerbu istana sultan. Besoknya, semua bangsawan Melayu pria di Sumatera Timur ditangkap dan dibunuh. Hanya dalam beberapa hari, 140 orang kedapatan mati, termasuk para penghulu, pegawai didikan Belanda, dan sebagian besar kelas tengku. Di Tanjung Balai dan di Tanjung Pasir hampir semua kelas bangsawan mati terbunuh. Sedangkan di Simalungun, Barisan Harimau Liar membunuh Raja Pane. Gerakan ini juga memakan korban yang terjadi di Tanah Karo. Di daerah kesultanan besar, Deli, Serdang, dan Langkat Persatuan Perjuangan mendapat perlawanan. Serdang yang memang dalam sejarahnya anti-Belanda tidak terlalu dibenci masyarakat dan juga terlindung karena ada markas pasukan TRI di Perbaungan. Sedangkan istana Sultan Deli terlindung karena adanya benteng pertahanan tentara sekutu di Medan sedangkan istana Langkat juga terlalu kuat untuk diserbu. Pergolakan sosial berlanjut pada 8 Maret. Sultan Bilah dan Sultan Langkat ditangkap lalu dibunuh. Berita yang paling ironis adalah pemerkosaan dua orang putri Sultan Langkat, pada malam jatuhnya istana tersebut, 9 Maret 1946 dan dieksekusinya penyair terkemuka Tengku Amir Hamzah. Meskipun pemerkosa ditangkap dan dibunuh namun revolusi telah melenceng jauh. [3] Gerakan itu begitu cepat menjalar ke seluruh pelosok daerah Sumatera Timur oleh para aktivis PKI, PNI dan Pesindo. Puluhan orang yang berhubungan dengan swapraja ditahan dan dipenjarakan oleh lasykar-lasykar yang tergabung dalam Volksfront. Di Binjai, Tengku Kamil dan Pangeran Stabat ditangkap bersama beberapa orang pengawalnya. Istri-istri mereka juga ditangkap dan ditawan ditempat berpisah. [4] Pada tanggal 5 Maret Wakil Gubernur Mr. Amir mengeluarkan pengumuman bahwa gerakan itu suatu “Revolusi Sosial”. Keterlibatan aktivis Partai Komunis dalam revolusi sosial di Sumatera Timur memberikan kontribusi besar; terlebih lagi tanggal 6 Maret 1946, Wakil Gubernur Dr. Amir secara resmi mengangkat M. Joenoes Nasoetion, yang juga ketua PKI Sumatra Timur sebagai Residen Sumatera Timur. Untuk meminimalkan korban Revolusi Sosial, Residen Sumatera Timur M. Joenoes Nasution untuk sementara waktu bekerjasama dengan BP.KNI maupun Volksfront, dan Mr. Luat Siregar diangkat menjadi Juru Damai (Pacifikator) untuk seluruh wilayah Sumatera Timur dengan kewenangan seluas-luasnya. [5]

Marnixius Hutasoit-mantan pejabat RI di Pematangsiantar tahun 1946. Siapa yang mencoba-coba menghalang-halangi karena terlihat sudah melampaui batas akan turut musnah dalam arus pergolakan. para buruh kuli kontrak dari Jawa dan petani penggarap sawah dari Tapanuli Utara (Batak Toba) yang sengaja didatangkan Belanda demi menunjang kelanggengan usaha para planters yang menguntungkan keuangan kolonial itu. B. Dr. Siantar dan Tanoh Jawa pada abad XV. maka didatangkanlah suku Batak Toba Kristen sebagai penyeimbang populasi (dan malahan melampaui populasi penduduk asli). Maka dalam waktu singkat segala barang-barang yang ada dalam istana berantakan atau lenyap bersama penghuni-penghuninya yang dijagal dengan buas”. Sejak abad XIII diberitakan bahwa orang Simalungun sudah bersentuhan dengan budaya Jawa-Hindu yang dibuktikan dengan pemakaian destar batik sebagai tutup kepala laki-laki Simalungun. Simalungun Menjelang Revolusi Sosial Daerah Simalungun yang penduduk aslinya adalah halak (suku bangsa) Simalungun berada di antara suku-suku Batak lainnya. Dolog Silou. Seterusnya demi menghempang masuknya pengaruh Islam yang semakin meluas di kalangan suku Simalungun. seperti Tapanuli yang dihuni suku Batak Toba dan Pakpak. Mereka mengatakan bahwa isu Revolusi Sosial tidak pantas untuk dibuka kembali. barulah saya paham. Dengan demikian orang Simalungun semakin terjepit dan menjadi kelompok minoritas di kampungnya sendiri. Seterusnya pengaruh Aceh pun masuk ke Simalungun lewat vazal-vazalnya di pesisir (Serdang dan Deli) dengan kehadiran lembaga konfederasi Raja Marompat yang terdiri dari kerajaan-kerajaan Panei. mengapa orang Simalungun seakan tabu membicarakan Revolusi Sosial itu. A. Justru hal ini yang mendorong penulis untuk lebih jauh mengetahui apa sih Revolusi Sosial itu? Ketika saya membaca buku Anthony Reid yang berjudul Perjuangan Rakyat. Demikian seterusnya sampai kedatangan penjajah Belanda ke Simalungun sejak akhir abad XIX yang membawa perubahan sosial yang besar di Simalungun lewat kehadiran para planters (tuan-tuan kebun).REVOLUSI SOSIAL BERDARAH DI SIMALUNGUN TAHUN 1946* Oleh : Juandaha Raya Purba Dasuha “Ketika itu tidak mungkin kita berbuat sesuatu. Sedangkan budaya India-Hindu diperkirakan sudah hadir di antara orang Simalungun setidaknya sejak abad ke VI dengan hadirnya Kerajaan Nagur yang menurut kisah orang-orangtua berketurunan dari tanah India nun jauh di seberang pulau Sumatra. Karo dan di timur dekat pantai berdiam orang-orang Melayu. Pendahuluan Sebagian orang Simalungun tidak sependapat dengan penulis tentang topik yang sensitif ini. biarlah kejadian itu berlalu seiring dengan beralihnya waktu. di mana satu generasi kaum terpelajar orang Simalungun yang kebetulan berlatar belakang kaum bangsawan Simalungun dibantai dengan sangat sadis dan kejam di luar perikemanusiaan oleh orang-orang yang berhati iblis atas nama “Kemerdekaan Republik Indonesia”. . sebab menyangkut sejarah perjalanan orang Simalungun yang mengalami kekerasan dan pelanggaran HAM berat.

Bersama etnis Melayu dan Karo. Mereka kemudian membentuk dan memimpin . Semangat kemerdekaan yang besar di kalangan rakyat tidak diikuti semangat serupa di kalangan kaum bangsawan. [2] Selanjutnya Xarim MS (Mau Senang) seorang ahli pidato dan tokoh komunis terkemuka di Aceh yang sudah malang-melintang di gerakan PKI sejak tahun 1926-1927. Partindo dan Gerindo sejak zaman Belanda. Setelah pecah pemberontakan PKI di Jawa dan Sumatera pada 1926-1927 para tokoh-tokoh PKI banyak yang ditangkap dan dibuang Belanda ke Boven Digul Papua. Panei. Purba. suku Simalungun diakui oleh para antropolog dan sejarawan sebagai penduduk asli (native groups) daerah Sumatera Timur. Situasi rawan yang seperti ini sudah pasti menjadi api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa meledak dan dengan sangat baik sekali dimanfaatkan kaum berhaluan kiri. . Demikianlah sampai masuknya dan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 daerah Simalungun berdiri atas pemerintahan tersendiri yang terbagi atas kerajaankerajaan (urung) yaitu: Tanoh Jawa. Sebaliknya kaum aristokrat Sumatera Timur itu dengan terang-terangan menunjukkan sikap yang menyebabkan kebencian di kalangan pendukung kemerdekaan. Khususnya terhadap sultan Langkat dan sultan Deli yang merupakan penguasa pribumi Melayu yang cukup kaya dengan keuntungan minyaknya dan sewa atas tanah perkebunan dari para planters. Di antara yang dibuang itu terdapat seorang pemuda Batak Toba terpelajar berpendidikan Belanda.[3] Selain itu masih terdapat nama Saleh Umar seorang pemimpin nasionalis yang sudah memimpin PNI.Meskipun demikian. Urbanus Pardede yang kelak memimpin aksi Revolusi Sosial di Simalungun dan menggantikan Maja Purba sebagai Bupati Simalungun. Hal ini memang disengaja oleh pemerintah kolonial dalam rangka penghematan anggaran dan mempermudah pengawasannya atas daerah ini. mereka tidak perlu repot membentuk struktur pemerintahan baru. Tanjung Kasau dan Siantar) dan dipatahkannnya perlawanan sekelompok masyarakat di Raya oleh Rondahaim yang wafat 1891 masih mempertahankan struktur sosial masyarakat Simalungun yang berpola kerajaan itu. khususnya orang-orang Komunis. Untuk daerah Sumatera Utara deklarasi kemerdekaan diumumkan kemudian tanggal 30 September 1945 dalam suatu pawai para pemuda nasionalis di Medan ibukota keresidenan Sumatera Timur.[1] Sesudah kekalahan Jepang dan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia di Jakarta yang wilayahnya diklaim meliputi bekas daerah kekuasaan Hindia Belanda (dengan demikian termasuk Sumatera Timur) pada 17 Agustus 1945. sebab daerah Simalungun sudah diatur secara struktur birokrasi yang berpola monarki dengan pusat pemerintahan yang disebut pamatang tempat kedudukan raja dan para pejabat-pejabat kerajaannya. Kemudian Jakub Siregar anak Martua Raja Siregar yang aktif di politik bersama dengan Saleh Umar. Raya. Gagasan komuis sendiri sudah sejak 1925 masuk ke Sumatera di bawah pimpinan Sutan Said Ali. mereka berharap kedatangan Belanda kembali akan merestorasi kedudukan mereka sebelum perang. Dolog Silou dan Silimakuta. rupa-rupanya pemerintah Belanda yang sudah menguasai daerah Simalungun sejak tahun 1888 itu (takluknya Tanoh Jawa. Siantar. Gaya hidup serba kemewahan dan keborosan serta kesombongan kaum aristokrat Melayu semakin menuai kebencian dan dendam di antara rakyat yang hidup dalam kemiskinan dan serba kekurangan. Daerah Simalungun sendiri berada dalam lingkup wilayah Propinsi Sumatera Timur yang berkedudukan di Medan. Akibatnya pecah ketegangan di antara kaum pergerakan nasionalis Indonesia dengan para aristokrat itu yang menyebabkan garis di antara kedua kelompok itu semakin tajam perbedaannya. Pada zaman Jepang dia berhasil mengambil simpati sunseibucho (Gubernur Jepang) Nakashima dan membentuk organisasi BOMPA (Badan Oentoek Membantoe Pertahanan Asia).

Sedang orang-orang Toba yang berjiwa dinamis dan demokratis itu memandang ... Tanah Jawa. Kemewahan inilah yang menyebabkan raja-raja bertambah angkuh dan bersifat feodal. Saleh Umar sebagai kepala staf dan Abdullah Jusuf dan Nulung Sirait sebagai perwira staf. Tuan Kamen balik bertanya kepada penulis. Justru kami sebagai ahliwaris raja Panei yang akhirnya kebagian lahan warisan yang paling sedikit dibanding kaum pendatang”. Sedangkan Saragihras sebagai komandan BHL di Simalungun lebih berperan sebagai eksekutor atas perintah dari para aktor intelektual di atas. pegawai dan penghulu-penghulu yang memegang peranan dalam aksi-aksi penindasan rakyat itu.. dengan Inoue sebagai komandan.[5] Selanjutnya masih ada nama Luat Siregar sahabat karib Xarim MS yang menjadi anggota PKI sejak 1945 dan pernah menjabat residen Sumatera Timur (April-September 1946) setelah berhasil menyingkirkan Tengku Hafas kerabat Sultan Deli dari Bedagai. lebih berkecamuk di daerah Simalungun. yakni dipelopori oleh A. Dengan sendirinya pihak raja-raja menjadi mewah terutama Siantar. Lalu dr. dia mengatakan bahwa jika Tuan Sidamanik menindas para pendatang dari Tapanuli tidak akan mungkin penduduk Tapanuli .. sikap mana sebaliknya dipandang . Jacob Siregar sebagai wakil komandan. Ada kalimat bernada provokatif dari buku Batara Sangti Simanjuntak: “Maka tidak heran apakala revolusi sosial meletus pada bulan Maret-April 1946. Saragih alias Saragih Ras pimpinan Barisan Harimau Liar yang terkenal dan Urbanus Pardede dari PKI (yang menjadi Bupati Kabupaten Simalungun pertama sesudah revolusi sosial tersebut)”[6] Benarkah statement di atas? Perhatikan kalimat yang dia tulis di halaman 187: “Hasil pembangunan Simalungun yang begitu rupa.pada tahun 1944 organisasi Ken Ko Ku Tui Sin Tai atau Barisan Harimau Liar di bawah pelatihan dari Inoue seorang perwira Jepang. merupakan durian runtuh tiba-tiba.[7] Sementara itu Tuan Djariaman Damanik juga berkata senada dengan Tuan Kamen Purba Dasuha. [4] Organisasi ini diresmikan secara rahasia pada 20 Maret 1945 sebagai suatu organisasi militer. Jumlah kadernya sekitar 50000 orang yang terdiri dari kaum tani dan nelayan dari etnis Batak Toba.. di mana banyak jatuh korban di pihak raja-raja. Tuan Kamen berkata. E. menyebabkan kantong pihak raja-raja dan kas pemerintahan swapraja-swapraja Simalungun mendadak dalam waktu singkat terus kaya-raya. strategi militer dan ajaran nasionalisme selama satu sampai tiga bulan. Mohammad Amir seorang ahli jiwa dokter pribadi Sultan Langkat yang menjabat Wakil Gubernur Sumatera yang setelah pecah Revolusi Sosial membelot ke pihak Belanda (isterinya seorang Belanda). “Kalau ayah saya menindas pendatang dari Tapanuli ini. tidak mungkin mereka dapat memiliki persawahan dan pemukiman yang luas di Panei ini. Pane dan Raya. “Apakah kaum pendatang tidak pantas untuk menghormati dan tunduk kepada aturan pemerintah yang berlaku di Panei?” Dengan menunjuk persawahan yang luas di sekitar Pamatang Panei sampai ke Sabah Dua. Dengan nada diplomatis.. Simalungun dan Karo yang beroperasi di dataran tinggi Sumatra Timur. pihak raja-raja tidak menghormatinya atau menentang mereka”. tidak lebih dari saudaranya sendiri sebagai kepala masyarakat hukum adat Dalihan Natolu . Saya lalu menanyakan tentang kebenaran “raja-raja menindas rakyat” yang diutarakan oleh Batara Sangti tersebut kepada Tuan Kamen Purba Dasuha putera raja Panei terakhir dan Tuan Djariaman Damanik Raja Muda Sidamanik terakhir. Para pemuda direkrut untuk dikirim mengikuti pelatihan Talapeta dalam bidang pertanian.

[9] Sementara itu penduduk asli Simalungun merosot jumlahnya menjadi kelompok minoritas (69. migran Batak Toba (26. pembentukan ulang masyarakat dari dalam dan pembentukan ulangmanusia. yang pertama sekali didahului oleh kondisi khas yang disebut “revolutionary prodrome” yang ditandai oleh ketidakpuasan. Di Pematangsiantar sendiri kota itu semakin kehilangan indentitas aslinya sebagai kediaman tradisional suku Simalungun. Jadi sangat tidak benar bila dikatakan bahwa revolusi sosial di Sumatera Timur itu adalah suatu peristiwa yang berjalan spontan. Kasus revolusi sosial (yang .[8] Dari buku yang ditulis Batara Sangti Simanjuntak itu tergambar sekilas bagaimana ketegangan etnis yang sempat terjadi di Simalungun sebagai ekses dari migrasi kaum pendatang Batak Toba ke Simalungun dengan penduduk asli Simalungun.852 jiwa).yang pindah ke Sidamanik melampaui jumlah penduduk asli Simalungun dan menguasai tanah yang lebih luas dari keturunan Tuan Sidamanik.[13] Dalam pengertian ini menurut Stzompka. khususnya identitas Batak Toba. penduduk asli Simalungun yang berada dipihak yang sangat dirugikan dibanding para pendatang.[12] Dengan demikian pernyataan di buku-buku sejarah selama ini yang menyatakan ketertindasan rakyat oleh para kaum aristokrat Simalungun pantas untuk diteliti kembali kebenarannya.[10] Persoalan perebutan lahan garapan di antara kaum pendatang Batak Toba itu menjadi perkara yang memusingkan raja-raja Simalungun.380 hektar) berada dalam penguasaaan para pengusaha perkebunan asing. sebagai tanda perpecahan mendasar dalam proses historis. Selanjutnya menjalar pada perpindahan kesetiaan intelektual sebagai hasil agitasi kelompok tertentu dengan cara-cara tertentu seperti penyebaran pamflet atau doktrin yang menentang rezim yang lama. Sepertiga atau 151.040 jiwa). identitas pendatang semakin dominan. sementara penduduk asli semakin terpinggirkan dan akhirnya pindah ke daerah yang relatif tandus di pegunungan. Perlu diingat sejak masuknya para planter yang didukung pemerintah kolonial Belanda.653 jiwa) dan kuli kontrak orang Jawa (44.865 jiwa.[11] Data-data ini menunjukkan bahwa sesungguhnya akibat politik kolonial Belanda. revolusi adalah wujud perubahan sosial paling spektakuler. Jalannya revolusi menurut para sosiolog berada dalam sepupuh tahapan. keluhan. dia berada dalam posisi direncanakan secara rapi dengan memanfaatkan situasi ketidakpuasan publik.[14] Dari paparan teoritis ini. praktis kekuasaan dan pengaruh penduduk asli Simalungun semakin terabaikan. C. kekacauan dan konflik yang disebabkan krisis ekonomi atau fiskal. revolusi muncul akibat adanya ketidakpuasan yang selanjutnya disulut oleh agitasi dan provokasi dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan menunjukkan kelemahan atau rasa kebencian pada rezim yang akan dijatuhkan. migran lain kebanyakan orang Jawa (23. terutama di daerah konsentrasi perkebunan dan persawahan di Simalungun Bawah. Artinya suatu revolusi tidak pernah berjalan spontan. Revolusi Sosial Pecah di Simalungun Secara teoritis.531 jiwa).000 hektar (luas Simalungun 441. revolusi adalah tanda kesejahteraan sosial. Revolusi tidak menyisakan apapun dari keadaannya sebelumnya. Penduduk orang Eropa 816 jiwa dan Timur Asing 10. khususnya di sekitar gunung Simbolon.

Nathar Zainuddin dan Abdul Xarim MS yang bekerja di balik layar. Para provokator ini kebanyakan adalah dari etnis bukan Simalungun. selain A. Slogan-slogan bernada revolusioner. Menurut keterangan Tengku Luckman Sinar. M. tidak diketahui apakah ada etnis Simalungun yang duduk di belakang meja mengatur tindakan biadab itu. Napindo. demikian ulasan majalah Tempo edisi 50/Feb/1997.[16] Motif pembantaian kaum aristokrat dan cendekiawan Sumatera Timur lebih dominan pada intrik politik dan balas dendam. E. Nainggolan turut bergabung. Tetapi yang lebih mengejutkan dari penelitian Tengku Luckman Sinar. Atas inisiatif Tengku Mansyur (kerabat Sultan Asahan) selaku Ketua Shu Sangi Kai Sumatera Timur pada tanggal 25 Agustus 1945 mengundang para tokoh dan penguasa tradisional Sumatera Timur ke rumahnya di Jl Raja/Jl. Pesindo sendiri selaku organisasi pemuda pejuang sudah sedemikian rupa dipengaruhi oleh PKI. Barisan Harimau Liar. Barisan Merah (PKI) dan Hizbullah didukung buruh Jawa dari perkebunan serta kaum tani. setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan di Jakarta. Muncul desas-desus bahwa tentara Sekutu (Belanda. sudah jelas otak di balik serangkaian tindakan kejam di luar perikemanusiaan itu adalah Markas Agung yang dilaksanakan Volksfront dengan pimpinan utama Sarwono Sastro Sutardjo. Berita seperti itu pun cenderung ditutupi kantor-kantor berita pemerintah fasis Jepang. seperti “rajar-raja penghisap darah rakyat”. . Amaliun Medan.pertama sekali diungkapkan oleh dr. Sungguh beruntung kita mendapat informasi terkini dari saksi mata hidup dari kalangan korban revolusi sosial Tengku Luckman Sinar tentang duduk perkara Comite van Onvangst (Panitia Penyambutan) yang dijadikan dasar tuduhan dari golongan kiri membenarkan tindakan kejam yang disebut mereka revolusi sosial itu. Tetapi sudah pasti berdasarkan dokumen rahasia dari pihak Sekutu tanggal 2 Maret 1946 (sehari sebelum revolusi) sudah mereka ketahui bahwa PKI dan Harimau Liar bekerjasama erat sekali dalam tindakan itu. Zainal Baharuddin. Saragihras yang menjadi eksekutor di lapangan. “kaum feodal yang harus dibunuh” dan lagu “Darah Rakyat” menggelora di mana-mana. Volksfront (front perjuangan rakyat) dan PARSI yang berdiri pertengahan Februari 1946 yang mana “Pasukan Kelima” dari dr. seperti dituturkan saksi mata Maxinius Hutasoit.[17] Apa yang dikatakan oleh saksi mata di atas akan kita lihat kebenarannya pada uraian selanjutnya. panitia yang akan menangkapi para tokoh kemerdekaan. Saleh Umar. Kepentingan-kepentingan sendiri diboncengkan. nafsu rendah memperoleh pelampiasannya”. Panitia inilah yang diisukan kaum kiri sebagai Comite van Onvangst. Untuk kasus di Sumatera Timur.[18] Tuduhan yang sampai hari ini tidak terbukti. dendam pribadi dibalas. Inggris. Amerika) akan masuk ke Sumatera mengurus tawanan perang Jepang setelah kekalahan Jepang terhadap Sekutu. meskipun para pelaku revolusi sosial telah menggeledah dan membakar istana-istana raja Simalungun. seperti Xarim MS dan Mr. Amir) yang terjadi di Sumatera Timur itu betul-betul suatu gerakan yang sudah direncanakan secara matang oleh kelompok-kelompok yang punya kepentingan dengan pembantaian para kaum bangsawan dan cendekiawan Sumatera Timur itu.[15] Laskar yang berperan dalam aksi ini adalah Pesindo. J. berita itu masih desas-desus di Sumatera (maklum komunikasi tidak secanggih sekarang ini). Yusuf berunding di rumahnya membentuk panitia diketuai Sultan Langkat dan wakil ketua Tengku Mansyur untuk menjelaskan kepada Sekutu alasan mereka bekerjasama dengan Jepang. F. sultan Melayu dan Sibayak Karo. “Sudah tentu bahwa dalam revolusi sosial itu terselundup pula segala macam hal yang sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya secara obyektif dengan persoalan feodal.

Amir. Sehari sebelum gubernur berangkat. Ternyata firasat Tengku Hafas benar. Amir wakil gubernur Sumatra seorang teosof lulusan Belanda yang beristrikan seorang perempuan Belanda (yang pada zaman Belanda sudah disamakan statusnya dengan Belanda)yang membelot ke NICA pada 23 April 1946. volksfront/PKI—M. Tengku Luckman Sinar dari hasil penelitiannya membuktikan bahwa tindakan segerombolan orang yang mengaku republikein itu merupakan proyek rahasia dari Markas Agung pimpinan komunis Sarwono dan Zainal Baharuddin dan Saleh Umar serta eksekutor lapangan A. 1 Maret bertempat di kediaman Mr. Teuku Hasan menulis: “Firasat itu benar. sibayak dan sultan seluruh Sumatera Timur sudah menyatakan tekad mendukung dan berdiri di belakang pemerintah Republik Indonesia di hadapan wakil pemerintah Gubernur Mohammad Hasan. A. dilancarkanlah aksi pembantaian tersebut. mengungkapkan firasat buruknya. Sedangkan seluruh penguasa swapraja Sumatera Timur hadir termasuk sultan Siak Sri Indrapura dari Riau. Abdul Xarim MS dan pejabat Republik lainnya. Dalam pemeriksaan oleh pihak berwajib mereka mengaku bahwa tindakan itu digerakkan atas perintah Sarwono. Raja . [21] D. Tahir dan Mahruzar (adik Sutan Syahrir). Saragihras dari Barisan Harimau Liar (BHL) di Simalungun. Dari Simalungun hadirRaja Panei Tuan Bosar Sumalam Purba Dasuha. Yunus Nasution dan Marzuki Lubis bersama divisi IV-TRI-Kol. Pada tahun 1926. Di saat Gubernur tidak berada di Medan. Eksekusi dilaksanakan mulai pukul 00. Jalannya Aksi Pembantaian Pada tanggal 3 Februari 1946 raja-raja.ternyata aksi revolusi sosial itu ternyata sudah lama juga direncanakan pihak penjajah Belanda sejak tahun 1906. bahkan ada yang dihapus. sebab pada hari itu Gubernur sudah “sengaja” diatur Markas Agung untuk kunjungan ke Sumatera Selatan. Belanda telah memakai agennya bernama dr.[20] Pembantaian atas kaum bangsawan Simalungun ini memang sejarah yang sulit diterima logika. Belanda sudah mengangkat panitia untuk itu yaitu Extraterritorialiteitcommisie yang bertujuan bahwa wilayah pemerintahan sendiri yang otonomi itu harus dilenyapkan secara perlahan-lahan dan tatkala raja-raja sudah tidak ada lagi maka demokrasi lokal akan berkembang dan hapuslah kerajaan bumiputera itu. dan dengan bantuan wakil gubernur Moh.00 WIB tanggal 3-4 Maret 1946 tepat pada saat Gubernur Sumatera tidak berada di Medan. Tengku Hafaz. Wakil Gubernur Mohammad Amir yang sepaham dengan Markas Agung (Residen Abdul Karim) mengatur perjalanan Gubernur mulai 6 Februari 1946. bahwa sepeninggal gubernur akan terjadi suatu peristiwa. di mana kekuasaan kerajaan bumiputera semakin diperkecil. Raja Purba Tuan Mogang Purba Pakpak. sebab hanya dengan alasan “antek penjajah” yang dialamatkan kepada kaum bangsawan Sumatera Timur sudah menjadi dasar untuk tindakan pembantaian. Moh. E. Kehadiran Gubernur Teuku Mohammad Hasan di Medan dianggap akan menggagalkan rencana Markas Agung tersebut. Residen Sumatera Timur Tengku Hafas (yang kemudian dipecat Markas Agung) mengunjungi gubernur di rumahnya. seperti kerajaan Riau (1911). perampokan bahkan pemerkosaan yang jelas tindakan manusia-manusia yang tidak bertuhan.[19] Dan untuk tujuan itu. Luat Siregar di Medan. Dia kemudian meninggal di Belanda tahun 1949. termasuk dr. Amir—bermusyawarah untuk menumpas kerajaankerajaan di Sumatera Timur pada tanggal 3 Maret 1946. Saleh Umar dan Yacob Siregar sebagai gembongnya untuk menghapuskan kerajaan di Sumatera Timur yang dituduh penghalang pada kemerdekaan.

aksi pembantaian tetap berlangsung yang diiringi tindakan perampokan harta benda para kaum bangsawan. Selanjutnya harta benda yang tersisa diserahkan kepada komandan teritorium Sumatera Kolonel Alex Kawilarang pada tahun 1950. Puteri Langkat itu demi menyelamatkan nyawa ayahnya Sultan Langkat terpaksa bersedia melayani nafsu binatang Marwan dan Usman Parinduri pelaku pembantaian itu.[24] Di Simalungun sendiri seperti telah dijelaskan di depan. pemangku Raja Raya Tuan Jan Kaduk Saragih Garingging dan lainlain. E. Menurut Saragihras dari perintah Saleh Umar itu. bahwa dia pada tahun 1944 sudah menjadi anggota Kenkoku Teisintai (Barisan Harimau Liar) yang dibentuk Inoue dan tahun 1945 memimpin BHL. Raja Raya diwakili Tuan Jan Kaduk Saragih Garingging dan Raja Tanoh Jawa Mr.. eksekutornya adalah komandan Barisan Harimau Liar (BHL) A. Rapat Komite Nasional Indonesia (KNI) itu dipimpin oleh Ketua KNI Sumatera Timur Mr. Menurut Tengku Luckman Sinar. Raja Siantar Tuan Sawadim Damanik.[27] Untuk Kerajaan Tanoh Jawa eksekusi atas kaum bangsawan di sana dipercayakan kepada Bagus Saragih pimpinan PKI di Tanoh Jawa. Yang sempat dirampas Belanda sempat disimpan di kluis NHM Pematangsiantar dibawah pengawasan Teuku Mohammad Hasan dan dikembalikan kepada pemiliknya tahun 1948.[26] Saleh Umar pimpinan tertinggi Markas Agung ketika dimintai ketegasan hitam di atas putih oleh Saragihras. ketika mereka berada di Pasar Matanggor (Tapanuli Selatan) untuk membeli senjata dari Singapura yang untuk ini ditugaskan Saleh Umar kepada saudagar Tionghoa Oei Boen Tjoen yang ternyata melarikannya.[29] . Peristiwa sadis ini berlangsung di istana Tanjungpura kesultanan Langkat.[25] Mohammad Said yang mewawancarainya di penjara (setelah aksi pembantaian itu) berdasarkan pengakuan Saragihras sendiri. pertama untuk membiayai perbekalan TNI di Sidikalang dan kedua. Perintah menghabisi para raja itu diperoleh atas perintah Sarwono pimpinan Markas Agung dan Sekretaris Zainal Abidin yang mengunjunginya menyampaikan perintah rahasia itu. Harta benda bangsawan itu pernah dipakai sebanyak dua kali. Saragihras yang masih kerabat Kerajaan Panei.[28] Harta rampasan dari para bangsawan itu diserahkan pada awal tahun 1949 kepada Mohammad Saleh Umar yang sudah diangkat menjadi Residen Sumatera Timur (setelah menggulingkan Tengku Hafaz). pembakaran dan perusakan istana kerajaan bahkan pemerkosaan puteri-puteri bangsawan seperti terjadi di kesultanan Langkat. dijawab oleh Saleh Umar: “Perintah ini adalah rahasia dan sayalah yang menanggung akibatnya”. kedua puteri itu menjerit-jerit kesakitan dan setiap rintihan merupakan pisau sembilu menusuk jantung Sultan yang mendengar itu dari kamar sebelah”. “.Silimakuta Tuan Padiraja Purba Girsang yang sudah aktif di Markas Agung..[22] Sultan Langkat pada waktu itu mewakili seluruh pemerintah swapraja Sumatera Timur menugucapkan pidato yang salah satunya berbunyi: “kami sultan-sultan dan raja-raja telah mengambil keputusan bersama untuk melahirkan sekali lagi itikad kami bersama untuk berdiri teguh di belakang Presiden dan Pemerintah Republik Indonesia dan turut menegakkan dan memperkokoh Republik kita”. Luat Siregar. Tuan Kaliamsyah Sinaga. raja-raja yang dianggap penghalang kemerdekaan yang harus dihabisi adalah Raja Panei Tuan Bosar Sumalam Purba Dasuha. “kebanyakan pelaksananya adalah suku Toba meskipun pimpinan utamanya adalah Saragihras putera Simalungun asli dan Saleh Umar memberikan instruksi rahasia untuk menangkapi raja-raja di sana kepada Pesindo”.[23] Meskipun demikian tegas pernyataan para penguasa tradisional tersebut. Kesadisan mereka dituliskan oleh Tengku Luckman Sinar.

dekat Tiga Sibuntuon. Dari sana berangkat ke Pagarjawa dan dijemput pasukan TRI dan diamankan di Pematangsiantar (rumah Tuan Madja Purba Bupati Simalungun). Abangnya Tuan Nalim sedang bersekolah di Pematangsiantar. Pokoknya semua disikat tidak ada yang ketinggalan.1. Sekolah (sekarang Jl. Rakyat yang berkumpul pada waktu itu di sekitar istana menjaga keselamatan raja dan keluarganya. Anehnya. isteri raja Panei/puteri dari Siantar di ladang raja Panei di Nagahuta. Menurut Tuan Kamen Purba. Pada hari Minggu pagi. Tuan Kamen sendiri pada malam itu bersama denggan Inang Bona (Puang Bona). mengambil emas banyak sekali dari peti. Sekolah (sekarang Jl Sudirman) Pematangsiantar. E. Raja. Pasukan pengawal tidak berdaya menghadapinya. Iringan BHL berjalan menuju ke Tigaras. Tuan Abraham dan adik-adiknya berhasil melarikan diri dari istana berlari ke Nagahuta melewati kebun teh ke tempat markas tentara Jepang yang pada Minggu siang masih sempat berkunjung ke istana. dua puteranya dan 28 rakyat yang tidak rela meninggalkan rajanya turut diikat dan dinaikkan ke dalam 2 buah truk. Pasukan BHL berjumlah lebih kurang 50 orang itu naik ke istana. Serempak mereka masuk dan menjarah seluruh istana raja membawa karung masuk ke dalam kamar perbendaharaan raja. Di tengah malam tiba-tiba listrik padam. Rumah pesanggerahan raja Panei di Jl.Pihak istana hanya melakukan tindakan antisipatif dengan menempatkan pengawal yang terdiri dari laksar Pesindo dengan pengawalan Raja Muda Panei Tuan Margabulan Purba Dasuha dan adik-adiknya yang sudah dewasa. supaya raja maklum dan segera menyelamatkan diri. mereka tidak berbicara dan memakai penutup wajah. Harta raja Panei habis disikat dan istana (rumah panggung berasiterktur semi Melayu) kemudian dibakar atas pimpinan seorang marga Sinaga. . Saragihras dan laskarnya yang sudah terlatih akan datang menculik dan menjarah ke istana raja. Pada masa itu yang memerintah di Panei adalah Tuan Bosar Sumalam Purba Dasuha. ada yang tewas dan sebagian diikat. Kerajaan Panei. abangnya Raja Muda pada waktu itu sudah aktif di pasukan Marsose yang berjuang melawan Belanda. Seluruh isi istana dijarah dan raja. rupanya pasukan BHL sudah mengepung istana. Beruntung Tuan Marga Idup Purba dan Tuan Iden. Tuan Aliamta Purba yang masih berumur 5 tahun pada waktu itu sedang sakit dikelilingi oleh kelurga besar raja. anak tertua Tuan Marjandi adik kandung raja Panei (Tuan Anggi Panei) menginformasikan kepada keluarga raja Panei di Pamatang Panei bahwa akan ada malam itu gerakan revolusi sosial terhadap raja-raja dan sultansultan. Mobil pribadi raja Panei dirampas dan dipakai Urbanus Pardede yang sudah mengkudeta Tuan Madja Purba sebagai Bupati. Pada hari itu juga Tuan Nagapanei (berdasarakan informasi dari Richard Nainggolan) melaporkan kepada raja Panei bahwa A. uang perak gulden dan uang kertas Jepang. E. sepanjang perjalanan raja Panei disiksa dan akhirnya seluruh rombongan dibunuh dengan sadis di Nagori. meskipun raja Panei sudah mengetahui akan kedatangan pasukan BHL pimpinan laweinya sendiri A. supaya raja dan keluarga menyelamatkan diri ke rumah pesanggerahan raja Panei di Jl. 3 Maret 1946 Tuan Mailan Purba Dasuha. Sedangkan Rumah Bolon yang merupakan istana lama utuh tetapi puluhan tahun tidak terawat runtuh dimakan usia. Sudirman) sudah dikuasai BHL dan dijadikan markas mereka. raja muda dan Tuan Djautih dan seluruh perempuan dewasa diikat tangannya. dia bergeming tidak menyelamatkan diri ke Pematangsiantar. Saragihras itu. karena ketiadaan perawatan. Senjata revolver rajamuda turut dirampas.

mayatnya dicincang dan dicampur dengan daging kerbau serta disuguhkan untuk santapan pasukan BHL. diperkirakan ada ratusan korban mati dibantai oleh BHL di Sipolha. Tuan Djansen Saragih tuan Raya Kahean (anak Tuan J. Banyak keluarga tuan Sipolha yang menyelamatkan diri ke daerah Parapat bahkan mengungsi sampai ke luar negeri. Akhirnya mereka menemukan mayat keluarga aristokrat Panei berikut rakyat yang telah tewas mengenaskan itu. Kerajaan Siantar. Sampai raja Panei meninggal. Djariaman bertolak belakang dengan tuduhan Markas Agung adalah seorang republikein sejati yang turut melatih pasukan TKR di Tapanuli dengan pangkat Letnan Satu. dia masih bertahan dengan agama suku dan tidak pernah menjadi Islam atau Kristen (tetapi lebih condong ke Islam).[30] 2. Kaduk Saragih) berlindung di Kantor Polisi RI. Anakboru Panei Tuan Djademan Saragih Garingging tuan Dologsaribu (ayah Prof. Tetapi saudaranya Tuan Dolog Panribuan Tuan Mintahain Sinaga dan puteranya rajamuda Tuan Hormajawa Sinaga (ayah Mayor Jatiman Sinaga) tewas dibunuh BHL beberapa bulan kemudian. berhubung dengan lokasinya yang relatif lebih terisolir di pantai Danau Toba. Tuan Sidamanik sendiri Tuan Ramahadim Damanik bersama rajamuda Sidamanik Tuan Mr. beberapa kaum bangsawan tewas dibunuh. Raja Muda Tanoh Jawa Tuan Omsah Sinaga dan saudaranya raja Tanoh Jawa Tuan Kaliamsyah Sinaga selamat dari penculikan BHL dan mereka tinggal di Pematangsiantar. Nyaris saja seluruh keluarga bangsawan Panei punah bila tidak diselamatkan dengan sangat rahasia di Belawan. Djariaman Damanik (lahir 1920) sudah mengetahui gelagat buruk ini.Sesudah berita penculikan raja Panei terdengar oleh TRI. Menurut berita. tombak menembus duburnya sampai ke leher dengan lidah dicabut paksa. Bangsawan di Sipolha yang paling banyak mengalami pembantaian oleh BHL. Tuan Bisara Sinaga tuan Djorlang Hataran. Mayat raja kemudian dimakamkan di dekat istananya yang sudah rata dengan tanah di Pamatang Panei. putera-putera raja Panei yang sudah aktif di perjuangan yaitu Tuan Margaidup Purba tewas dibunuh BHL. mereka menyingkir ke Pematangsiantar.[31] Menurut Tuan Gindo Hilton Sinaga masih banyak korban revolusi sosial di Tanoh Jawa yang masih belum terungkap.[32] 3. mayat raja Panei. Boas Saragih) tewas dibantai dengan kejam. menyusul Tuan Kortas tuan Marjandi dan Tuan Mintari Purba kerani Kerajaan Panei. Pemangku raja Siantar Tuan Sawadim Damanik pada waktu itu luput dari pembunuhan oleh BHL. kepalanya dipenggal. berikut seluruh keluarga dan rakyat kerajaan yang tewas itu. jauh dari pengawasan TRI. karena pada waktu itu. termasuk tuan Sipolha Tuan Sahkuda Humala Raja Damanik (ayah Tuan Djabanten Damanik). Tetapi di Sipolha. Tuan Nagapanei Tuan Djamonang Purba Sidadolog juga tewas dibunuh. Mr. yaitu 16 Agustus 1946. Dr. maka tentara pun mengejar jejak BHL ke arah Saribudolok dan Tigaras.[33] Beberapa hari kemudian Tuan Djariaman Damanik menemukan buku kecil berwarna merah darah beredar di kota Pematangsiantar yang judulnya “Revolusi Perancis dan Revolusi . Setelah bermufakat di rumah pesanggerahan Tuan Sidamanik. Pembantaian terhadap keluarga raja Panei masih berlanjut sampai bulan April 1947. Tanoh Jawa. Menurut Killian Lumbantobing. beliau berada di rumahnya di Pamatang Bandar dilindungi oleh pendatang Batak Toba yang menggarap sawah di sana. Tuan Baja Purba tuan Dolog Batunanggar.

Pada tahun 1947 pemangku raja Purba Tuan Karel Tanjung gelar Parajabayak tewas terbunuh oleh BHL di Haranggaol. 6. tetapi keduanya tewas secara misterius. Kerajaan Purba. Keturunan raja Purba yang lain Mr. Keluarga raja Silimakuta kemudian mendirikan tugu baginya di Tigaraja Kec. Kerajaan Dolog Silou. Bersama beliau turut tewas dibunuh dokter pertama orang Simalungun dr. keduanya adalah anak yang dilahirkan Puangbolon Kerajaan Purba dari Siantar. Tuan Djaidin Purba pernah menjabat sebagai walikota Medan. Baik Tuan Mogang dan Tuan Djomat adalah putera Simalungun yang pantas dibanggakan. Anaknya Tuan Madja Purba pejabat pemerintah RI yang pernah menjadi Bupati Simalungun (dan dikudeta tokoh PKI Urbanus Pardede pasca revolusi) dan pejabat Gubernur Sumatera Utara.[35] 5.Soviet Rusia” di sampul terdapat lukisan palu arit. Raja Silimakuta yang saudah aktif di Markas Agung juga tewas dan tidak diketahui di mana makamnya. Wismar Saragih dan ditahan di Raya Berastagi tetapi beliau mujur masih hidup diselamatkan TRI. Tuan Jamita Purba dan Tuan Lintar Purba tewas disekitar Tigaras. 7. sewaktu mengungsi ke Tanah Karo. Kerajaan Raya. karena sering kedapatan jari manusia dalam perut ikan itu. sampai-sampai orang tidak mau memakan ikan dari danau Toba. Silimakuta Barat. Semuanya berlangsung di sekitar bulan April tahun 1947 (agresi kedua). Tuan Djariaman Damanik memilih berangkat ke Tapanuli bergabung dengan TKR RI atas saran Komandan TKR Pematangsiantar Rikardo Siahaan. Konon mayat Raja Silimakuta dihanyutkan di sungai Lau Dah dekat Kabanjahe. Dikawatirkan bergabungnya Rajamuda Sidamanik ke dalam TKR menimbulkan kesan TKR = Tentara Keamnana Raja. Melihat keadaan yang semakin memanas. J. Meskipun raja Purba Tuan Mogang Purba telah mengungsi ke Markas Langit bersama anaknya Tuan Jamin Purba. Penulis buku itu menginformasikan bahwa tindakan “revolusi sosial di Suamatera Timur” pada 3-4 Maret 1946 adalah gerakan yang sama. simbol partai komunis. Raja Dologsilou terakhir Tuan Bandar Alam Purba Tambak berhasil diselamatkan rakyatnya sendiri dari keganasan pasukan BHL dan berdiam di Pematangsiantar. Kerajaan Silimakuta. Tuan Djomat Purba (Tuan Anggi) terakhir Kolonel TNI aktif memimpin pasukan Blaw Pijper NST (untuk mempertahankan diri dari pelaku revolusi).[34] 4. . Pantai Haranggaol pada masa itu dikabarkan penuh dengan mayat-mayat manusia yang tewas dibantai dengan sadis. Turut juga ditangkap Pangulubalei Djaudin Saragih abang Pdt. Djasamen Saragih (anak Pangulubalei Djaudin Saragih).

Parudo Girsang dari Saribudolok. Beliau seorang maestro seni Simalungun yang tidak ada tandingannya sampai hari ini dan perintis pembangunan jalan penghubung Sondiraya-Sindarraya. Opas Radan Sitopu dapat meloloskan diri dengan berpura-pura mati dan menjatuhkan dirinya ke sungai. turut dibunuh Bisa Lingga. Topik ini sangat menarik untuk dikaij oleh sejarawan yang berminat pada masalah perubahan sosial.[36] Menurut Dja Sarlim Sinaga. E. Keluarga bangsawan Raya lainnya melarikan diri ke hutan atau tempat yang aman. tenaga medis (dokter. Bungaronim Damanik.[37] Sasaran BHL bukan lagi kaum bangsawan. Masyarakat Simalungun menjadi terkotak-kotak dan mengalami beban sejarah. sehingga keturunan raja-raja Simalungun menjadi risau dan kuatir akan keselamatannya. yang banyak mengetahui mengenai adat. banyak yang akhirnya menutupi identitasnya dan memakai identitas yang dirasakannya aman. Beliau ditangkap pasukan BHL sewaktu menghadiri acara keluarga saudaranya Tuan Manakraya. Merekamereka ini adalah orang yang sebenarnya tidak ada hubungan darah dengan raja Raya. bersama Opas Radan Sitopu dan Penilik Sekolah (Schoolopziner) Saulus Siregar.[38] Revolusi sosial dilihat sebagai sebagian orang sebagai ajang balas dendam dengan motif-motif pribadi yang berdampak sampai sekarang ini. tetapi juga mereka yang kebetulan posisinya sebagai pejabat sipil. guru bahkan mereka yang kesan hidupnya terlihat kebarat-baratan. Penutup Tidak cukup rasanya hanya dengan sekian lembar halaman uraian tentang sejarah pembantaian kaum bangsawan Simalungun ini. mantri. Willem Saragih. Mayatnya kemudian ditemukan TRI dan dibawa ke Pematangsiantar dan dimakamkan secara agama Kristen di belakang Gereja HKBP Kampung Kristen Pematangsiantar oleh pendeta HKBP. . Identitas selaku orang Simalungun apalagi yang kebetulan marganya dekat atau masih ada keturunan dengan marga kerajaan sudah cukup untuk alasan pihak yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan tindakan kekerasan. Orang Simalungun terpaksa harus menjalani hidupnya dengan segala ketertekanan akibat pengaruh revolusi ini. Salah seorang yang terkenal di antaranya adalah Tuan Bill Amirsjah Rondahaim Saragih yang dikenal sebagai seorang komponis jazz yang lama berdiam di Australia dan Aberson Marle Sihaloho yang dikenal selaku politisi. sedangkan Saulus Siregar dan Tuan Kaduk tewas dipenggal lehernya dan dihanyutkan di sungai Bah Hutailing tersebut. bidan). pemegang hak ulayat di Simalungun. Amir (otak pembantaian) bukanlah revolusi dalam arti yang sesungguhnya yang mendatangkan kesejahteraan. Ketiganya ditangkap dan dibawa ke bawah jembatan Bah Hutailing (dekat Sirpang Sigodang). Tuan Anggi Raya yang dikenal dengan gelar Tuan Pamah (Tuan Pusia Saragih Garingging) memilih harakiri (gantung diri) di kampung Hutadolog Merekraya ketimbang ditangkap BHL. Menanggalkan identitas kebangsawanannya dengan identitas yang aman di daerah pengungsian atau bahkan di kampungya sendiri. Kita melihat bahwa revolusi sosial yang dikatakan dr. tetapi dibantai juga.Nasib naas menimpa pemangku raja Raya Tuan Jaulan Kaduk Saragih Garingging gelar Tuan Raya Kahean. Pada waktu dia meninggal baru dua orang anaknya yang sudah berumahtangga dari 12 orang puteraputerinya. Semasa dia menjabat sebagai penguasa swapraja di Raya. tetapi justru sejarah kelam. Kita lihat bahwa korban-korban yang jatuh itu adalah top leaders-nya masyarakat adat Simalungun. sungguh banyak pembangunan yang dirasakan masyarakat seperti pengadaan listrik dan air minum serta transportasi bus yang diberi nama “Sinanggalutu” dengan rute Pematangsiantar-Pematang Raya.

budaya dan hak-hak adat masyarakat Simalungun. Mr. Karo dan Simalungun perlu membuat suatu Seminar Nasional Revolusi Sosial di Sumatera Timur ini. Tempat itu kemudian diisi orang Karo dan Mandailing dari Tapanuli Selatan. Organisasi masyarakat Melayu. kita sangat kekurangan figur tokoh yang benar-benar mengetahui dan faham benar akan adat. Maria Ulfah Santoso. Kita juga kehilangan sumber daya manusia yang berkualitas dan ketinggalan dengan suku-suku tetangga. jatidiri dan cenderung melarutkan diri dengan identitas lain yang dirasakan aman. Melayu dan Karo harus menuntut janji itu dipenuhi oleh pemerintah—yang memang terbukti gagal melindungi para pemerintah swapraja itu—dan kita sebagai pemangku adat Simalungun (PMS) harus berjuang untuk itu demi kehormatan kita sebagai orang Simalungun. Dari kajian ini. Mohammad Roem dan Mr. penduduk asli daerah Sumatera Timur. kita harus memperjuangkan kepada pemerintah agar mengusut kasus ini secara adil. Kita dapat merasakan dampaknya sampai hari ini. telah mengakibatkan orang Simalungun berada dalam posisi terancam dan mereka harus memilih bergabung dengan saudaranya senasib suku Melayu dan Karo penduduk asli Sumatera Timur dalam wadah Negara Sumatera Timur yang mereka proklamirkan tidak lama setelah revolusi itu. Dalam hal ini PMS dapat melaksanakannya bersama masyarakat Melayu dalam MABMI dan masyarakat Karo dalam Merga Silima. Para menteri seperti Sultan Hamengkubowono IX. 3. Janji itu harus bersama-sama kita perjuangkan. bangsawan Purba yang berhasil lolos dari pembantaian. 2. mempersenjatai dirinya dan masuk kesatuan Blaw Pijper. Sudah saatnya tanggal 3 Maret ini menjadi hari yang pantas kita rayakan sebagai Hari Parmaluonkonni Halak Simalungun. sangat mengherankan mengapa seorang Saragihras yang jelas punya hubungan keluarga yang sangat dekat dengan “lawei” nya sendiri Tuan Bosar Sumalam raja Panei dengan tega hati membantai dan menjarah isi istana. Pada tahun 1958 sewaktu nasionalisasi perkebunan eks Belanda di Sumatera Timur. Dapat kita pahami analisis Liddle bahwa sebagai dampak revolusi itu. Begitu gampangkah orang Simalungun diagitas dan diprovokasi sampai harus tega membunuh keluarganya sendiri? Rekomendasi: 1. Mrs. orang Simalungun dan Melayu tidak mampu duduk di jajaran penting di perkebunan itu karena kekurangan sumber daya manusia.sejarah dan budaya Simalungun. Kasus pelanggaran HAM berat ini harus dituntaskan. Sebab ketiga penduduk asli Sumatera Timur ini yang banyak menjadi korban pembantaian dan penjarahan serta pembakaran istana-istana kerajaan. harta benda mereka dikembalikan oleh negara. Memang pemerintah pusat melalui KNIP Pusat tidak membenarkan aksi pembantaian itu. Simalungun. sejarah. Syarifuddin Prawiranegara pernah menjanjikan bahwa para korban revolusi sosial 1946 itu akan dikembalikan kehormatan. Melayu dan Simalungun sebagai penduduk asli Sumatera Timur harus bersatu. tentara NST yang dikomandani Tuan Djomat Purba. khususnya Karo dan Toba. Tuan Madja sendiri dipaksa mundur oleh PKI dari jabatannya sebagai bupati Simalungun dan harus menyerahkannya kepada seorang Batak Toba penganut paham komunis bernama Urbanus Pardede yang telah merampas mobil raja Panei untuk keperluannya pribadi.[39] Seperti disebutkan Tengku Luckman Sinar. sebab mereka memiliki beban sejarah yang sama. merehabilitasi nama baik mereka yang dituduh . Kita menjadi kehilangan identitas. etnis Karo.

1995. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Jakarta: Prenada Media. William. Jakarta: Sardo Sarana Media. “Revolusi Sosial di Kabupaten Simalungun” naskah ketikan. Harus ada rekonsiliasi di antara masyarakat adat Simalungun. Liddle. Said. Hapoltakan. Prima. Saarbrucken Fort Laurderdale: Verlag BreitenbachPublishers.. 15. Dasuha. 1982. Naskah Ketikan. “What was The “Social Revolution of 1946” in East Sumatra”. Jakarta: Bina Budaya Simalungun. dan Sinaga. Daftar Pustaka Clauss. Darwan Madja (eds. Piotr Sztompka. Tokoh Masyarakat. Nainggolan. Martin Lukito. Sejarah Simalungun.). Harta dan hak-hak adat masyarakat adat Simalungun harus dipulihkan kembali. Ethnicity. 1987. Saragih. 80 Tahun Djariaman Damanik: Seorang Ningrat. sebab kerajaan-kerajaan Simalungun sudah ada jauh sebelum republik ini berdiri. Reid. 1973.. Penegak Hukum. 19 Oktober 2010. bila perlu membawa kasus ini ke Amnesti Internasional. Cornel Southeast Asia Program. . New Haven and London: Yale University Press. Memoar 80 Tahun St. Indonesia no. 1999. 2000. Dasuha. dan Purba. 1976. R. sebab telah merugikan eksistensi penduduk asli Sumatera Timur.Wolfgang. Jakarta: Sinar Harapan. Jakarta:Gaya Media Pratama.). Economic and Social Change among The Simalungun Batak of North Sumatra.anti kemerdekaan. 2005. Dja Sarlim Sinaga. 2004. Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatra (terj. Medan. Marnixius. 1986. D. Sosiologi Perubahan Sosial (diterjemahkan Alimandan. arsip Djariaman Damanik. Sehingga kita punya satu persepsi dalam membangun masyarakat Simalungun dan masa depan suku Simalungun ke depan. Mohammad. Pejuang Kemerdekaan. 4. Anthony. Medan Area Mengisi Proklamasi. Juandaha Raya Purba . Purba. Tarombo ni Purba Sidasuha. 1970. Nursanni. 1986. di antara keturunan para korban dan mereka yang terlibat dalam aksi pembantaian itu. 1970. Medan: Percetakan Waspada. Percikan Revolusi di Sumatera. Party and National Integration: An Indonesian Case Study . Hutasoit. Mailan Purba. Bintan R. Kenan. Arsiip Pribadi.

Purba. Suka dan Barusjahe. “What was The “Social Revolution of 1946” in East Sumatra?” Transl.Saragih. van Langenberg. Panei. Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera (Jakarta: Sinar Harapan. Padang (Deli).. Indrapura (Asahan). Senembah (Deli). Sukapiring (Deli). Wawancara: Mr. Limapuluh. Becherer Stromdrukkerij. Siantar dan Tanoh Jawa. bekas Raja Muda Sidamanik. 1977. Michael. 1922. Balige: Karl Sianipar Co. 2008. [3] Mohammed Said. 111. 15. Sinar. Tideman. Simeloengoen. Sejarah Batak. Cornel South East Asia Program. putera raja Panei di Pematangsiantar. hlm. Indonesia no. Indonesia No. Sinopsis Upacara Pemindahan Makam Tuan Djaulan Kaduk Saragih Garingging. Silimakuta. Native States di Sumatera Timur pada tahun 1945 terdiri dari 12 buah kerajaan-kerajaan Melayu yaitu: Hamparan Perak (Deli). Sukudua. by Benedict Anderson and Toenggoel Siagian. Pesisir. J. Cornell Southeast Asia Program. Kamen Purba Dasuha. [1] Michael van Langenberg. Batara Sangti. Raya. Percut (Deli). Sarinembah.   Makalah disampaikan pada Harungguan Bolon DPP Partuha Maujana Simalungun di Auditorim Radjamin Purba USI Pematangsiantar tanggal 22-23 Oktober 2010. Simanjuntak. 1982. “Class and Ethnic Conflict in Indonesia’s Decolonization Process: A Study of East Sumatra’. Penulis adalah Pendeta GKPS. Tengku Luckman. 1. Tuan St. suku Simalungun tinggal diJl Pdt. 1973. hlm. [2] Anthony Reid. 33. Drs. Leiden: H. Medan. Lingga. Bedagai (Deli). Pematangsiantar. bekerja di Kantor Pusat GKPS Pematangsiantar. Tuan Gindo Hilton Sinaga keturunan Tuan Girsang tinggal di Tigadolok. Tuan Djariaman Damanik di Medan. April 1995. 157-158. Kansi. J. Tanah Karo terdiri atas kerajaan-kerajaan (sibayak): Kutabuluh. 1987. Indonesia nomor 33/1982. “Class and Conflict in Indonesia’s Decolonozation Process: A Study of East Sumatra”. hlm. Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur. Tanah Datar. Brosur: Pamatang Raya. Terakhir Simalungun terdiri atas: Dolog Silou.Wismar Saragih. 2002. Sunggal (Deli). “Eksistensi Sumatera Timur dari Sudut Pandang Sejarah dan Budaya”. . makalah Simposium Pembentukan Propinsi Sumatera Timur. Pematangsiantar.

3. 1992). hlm.. [12] R. [14] Ibid.. Medan Area Mengisi Proklamasi. 1970). Sosiologi Perubahan Sosial (diterjemahkan Alimandan) (Jakarta: Prenada Media. Berbeda dengan Tengku Luckman Sinar. Party and National Integration: Indonesian Case Study (New Haven and London: Yale University Press. Sejarah Batak (Balige: Karl Sianipar Company. cit. [15] Biro Sejarah Prima. hlm. [8] Dalam suatu percakapan di rumahnya di Medan.. 1922). cit. cit. hlm. Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur (Medan. hlm.. hlm. [21] Teuku Mohammad Isa (ed. 84. tp. hlm. [13] Piotr Sztompka. [11] R.. 363. Ethnicity. hlm. [7] Dalam suatu percakapan dengan beliau di rumahnya di makam raja-raja Panei di Pamatang Panei sekitar bulan Maret 2007. 1976). [5] Anthony Reid. 628. W. lihat juga Prima. Iii. [6] Batara Santi Simanjuntak. Economic and Social Change among The Simalungun Batak of North Sumatra (Saarbrucken Fort Laurderdale: Verlag BreitenbachPublishers. hlm. Teuku Mohammad Hasan dari Aceh ke Pemersatu Bangsa (Jakarta: Papas Sinar Sinanti. op..co. hlm. 28. 94. 46. 2009. [16] “Amuk Massal: Dari Awal sampai Akhir Abad ke-20”. 727-728. 219. [17] Marnixius Hutasoit. [18] Tengku Luckman Sinar. 1986).id/ang/min/01/50/nas.. Liddle. Tideman.htm. [20] Prima. 477. Simeloengoen (Leiden: Stoomdrukkerij Louis H. Mr. Partisipasi dan Partai Politik Indonesia pada Awal Orde Baru (Jakarta: Grafiti Press. hlm.[4] Ibid. op.). diakses 6/8/2010 pukul 1:47 AM. 1999). 364. 159. [10] J. hlm. 2008).tempo. www. Mohammad Said dalam Prima lebih positif memandang pembelotan Amir. W. hlm. 1977). Percikan Revolusi di Sumatera (Jakarta: BPK Gunung Mulia. . 2005). 188. Becherer. hlm. 40. [9] Wolfgang Clauss. op. hlm. 54. 1982). volume 1 (Medan: Badan Musyawarah Pejuang Republik Indonesia Medan Area. 357. Liddle. [19] Ibid. hlm. hlm.

hlm. 184. [35] T. cit. Tuan Porti Girsang.112. cit. 2000). Purba. 98. [30] Informasi via telepon dengan Tuan Kamen Purba Dasuha dari Jakarta. [29] Prima. op. sedangkan dagingnya dibagikan kepada seluruh rakyat yang hadir untuk disantap bersama. hlm. hlm.. op. Kenan Purba.. Maruahal Sinaga dan T. Tuan Sidasuhut Sipanganbolon. Pada zaman Belanda. cit. hlm. B. 497. Ketika ditanyakan seputar revolusi itu. [28] Mohammad Said. Penegak Hukum dan Tokoh Masyarakat (Jakarta: Gaya Media Pratama. 1982). yang tanduknya disangkutkan di Tiang Nanggar Rumahbolon sebagai tanda pelantikan seorang raja. Pada saat pelantikan raja di Tanoh Jawa. hlm. Gindo Sinaga). op.. 18 Oktober 2010. cit. 80 Tahun Djariaman Damanik: Seorang Ningrat. Kedudukan raja berada di Pamatang Tanoh Jawa dibantu oleh partuanon-partuanon. 638. 292. 184. [25] Tengku Luckman Sinar. Purba Tambak. 296. Informasi dari Tuan Gindo Hilton Sinaga dari Tiga Dolog.[22] Prima. 44. . [31] Immanuel. 30-40. Djariaman. Pejuang Kemerdekaan. Sejarah Simalungun (Pematangsiantar: Percetakan HKBP. 29-30. hlm. distrik Tanoh Jawa terdiri dari Dolog Panribuan di Tigadolog. hlm. [27] D. [26] Mohammad Said. cit. Tuan Girsang yang membawa “horbou panraja”. op. Agustus 2001. op. Sejarah Simalungun (Jakarta: Bina Budaya Simalungun. Tahun 1940 Girsang Sipanganbolon jadi satu distrik berkedudukan di Parapat dikepalai putera mahkota Kerajaan Siantar Tuan Sarmahata Damanik (anak raja Siantar T. cit. 1995). Tuan Sidahapittu Girsang. hlm. Tuan Sidahapittu Sipanganbolon dan Tuan Porti Sipanganbolon... Saragihras tidak ingin membicarakannya lebih dalam. [32] Kerajaan Tanoh Jawa meliputi wilayah terluas di seluruh Simalungun. [23] Ibid.. Saragihras yang pasukan BHL-nya mundur ke Tapanuli. Sangnaualuah Damanik). hlm. E. hlm. Wilayah Girsang Sipangan Bolon masuk dalam wilayah partuanon Jorlang Hataran. T. Jorlang Hataran di Tigabalata dan Bosar Maligas di Pasarbaru. Sewaktu di Dolok Sanggul Tapanuli. op. [33] Bintan R. Girsang pada zaman Belanda dipimpin oleh Raja Na Onom yaitu: Tuan Sidasuhut Girsang (Tuan Kaha) yaitu Ompu Ranjo (leluhur dr. 491. T. Djariaman Damanik bertemu dengan A. Dia hanya bertanya tentang keadaan keluarga T. hlm. A. Saragih dan Darwan M. [34] Ibid. hlm. [24] Tengku Luckman Sinar...

^ Kalender Peristiwa 6 Oktober 1945 Sejarah TNI [1] 3.412. 2002. Party and National Integration: An Indonesian Case Study (New Haven and London: Yale University Press. Kaduk Saragih Garingging. 54. Pematangsiantar.com/riwayat-kerajaan-simalungun. Sinaga. Dasuha dan Martin L. hlm. Foto Dr P Voorhoeve. R. Cornell University Press. Sumber: G. [37] Juandaha Raya P. Historisme. 1) Kerajaan Silimakuta 2) Kerajaan Dolog Silou 3) Kerajaan Purba 4) Kerajaan Raya 5) Kerajaan Panei 6) Kerajaan Siantar dan 7) Kerajaan Tanoh Jawa. Wara Sinuhaji. 1930 dalam KITLV Kerajaan-kerajaan Simalungun. Edisi No. [38] Liddle. 1-4. hlm. Ethnicity. dia ditahan bersama adiknya dan Parudo Girsang yang lebih dulu ditangkap. ^ Sejarah Kabupaten Karo [3] 5. Akhirnya berkat pertolongan Tarianus Sigumonrong (ayah Mansen Purba) dia pun dibebaskan. Raja-raja Simalungun. hlm.blogspot. Memoar 80 Tahun St. hal. L. [39] Kansi Saragih. 2003 (cetak pertama 1952). William. ^ Nationalism and Revolution in Indonesia.com/2011/10/revolusi-sosial-berdarah-di-simalungun. Raja Dolog Silou Tuan Ragaim Purba Tambak. “Eksistensi Sumatera Timur dari Sudut Pandang Sejarah dan Budaya”.[36] Sinopsis Pemakaman Kembali Tuan J. 6. hlm. Kiri-Kanan. 1930. ISBN 0-87727-734-6 2. Pamatangraya.com/revolusi-sosial-berdarah-di-simalungun-tahun-1946. Wilayah Onderafdeeling Simalungun pada zaman pemerintah Hindia Belanda.html ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Referensi 1. makalah Simposium Pembentukan Propinsi Sumatera Timur. George McTurnan Kahin. Dia diinterogasi seputar aktifitasnya di politik. 2004). 1970). dan dia meyakinkan penculik bahwa dia adalah republikein.html http://tondangmargana. ^ Revolusi Sosial di Sumatra Timur oleh Fandy Harwinanto .html http://simalungunonline. Sumber dari : http://simalungunonline. Pemangku raja Siantar Tuan Sawadim Damanik. 23/Tahun XI/Januari 2007 [2] 4. Dja Sarlim Sinaga (Jakarta: Sardo Sarana Media. Raja Raya Tuan Gomok Saragih Garingging. Raja Purba Tuan Mogang Purba Pakpak dan Raja Silimakuta Tuan Padiraja Purba Girsang. Raja Panei Tuan Bosar Sumalam Purba Dasuha. Raja Tanoh Jawa Tuan Sangma Sinaga. ^ a b Patologi Sebuah Revolusi: Catatan Anthony Reid tentang Revolusi Sosial di Sumatera Timur Maret 19461. 1995. Dja Sarlim Sinaga yang sudah bergabung dengan Pesindo ikut ditangkap saat sedang bekerja di sawah oleh dua orang BHL (beliau tidak mau menyebut nama) dan ditahan di Sondiraya. Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Sastra USU. 25. Tichelman (1930) Steenplastiek in Simeloengoen. Di dalam tahanan rakyat itu.

Situs : http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Sosial_Sumatera_Timur .m.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful