P. 1
Revolusi Sosial Sumatera Timur

Revolusi Sosial Sumatera Timur

|Views: 569|Likes:
Dipublikasikan oleh Sazali サンミューズ

More info:

Published by: Sazali サンミューズ on Apr 11, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/20/2015

pdf

text

original

Revolusi Sosial Sumatera Timur

Revolusi Sosial Sumatera Timur adalah gerakan sosial di Sumatera Timur oleh rakyat terhadap penguasa kesultanan Melayu yang mencapai puncaknya pada bulan Maret 1946. Revolusi ini dipicu oleh gerakan kaum komunis yang hendak menghapuskan sistem kerajaan dengan alasan antifeodalisme. Revolusi melibatkan mobilisasi rakyat yang berujung pada pembunuhan anggota keluarga kesultanan Melayu yang dikenal pro-Belanda namun juga golongan menegah proRepublik dan pimpinan lokal administrasi Republik Indonesia. [1]

Latar belakang
Karena sulitnya komunikasi dan transportasi, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus baru dibawa oleh Mr. Teuku Muhammad Hasan selaku Gubernur Sumatra dan Mr. Amir selaku Wakil Gubernur Sumatra dan diumumkan di Lapangan Fukereido (sekarang Lapangan Merdeka), Medan pada tanggal 6 Oktober 1945. Pada tanggal 9 Oktober 1945 pasukan AFNEI dibawah pimpinan Brigjen T.E.D. Kelly mendarat di Belawan. Kedatangan pasukan AFNEI ini diboncengi oleh pasukan NICA yang dipersiapkan untuk mengambil alih pemerintahan dan membebaskan tawanan perang orang-orang Belanda di Medan.[2] Pada pertengahan abad ke-19, perkebunan tembakau tumbuh dengan pesat di wilayah kesultanan Deli [5] sehingga mengakibatkan migrasi buruh (koeli) perkebunan yang diangkut oleh Belanda. Pada awal abad ke-20, hampir separuh penduduk Sumatra Timur adalah buruh pendatang yang banyak dieksploitasi oleh Belanda. Meletusnya revolusi sosial di Sumatera Utara tidak terlepas dari sikap sultan-sultan, raja-raja dan kaum feodal pada umumnya, yang tidak begitu antusias terhadap kemerdekaan Indonesia karena setelah Jepang masuk, pemerintah Jepang mencabut semua hak istimewa kaum bangsawan dan lahan perkebunan diambil alih oleh para buruh. Kaum bangsawan tidak merasa senang dan berharap untuk mendapatkan hak-haknya kembali dengan bekerja sama dengan Belanda/NICA, sehingga semakin menjauhkan diri dari pihak pro-republik. Sementara itu pihak pro-republik mendesak kepada komite nasional wilayah Sumatera Timur supaya daerah istimewa seperti Pemerintahan swapraja/kerajaan dihapuskan dan menggantikannya dengan pemerintahan demokrasi rakyat sesuai dengan semangat perjuangan kemerdekaan. Namun pihak pro-repbulik sendiri terpecah menjadi dua kubu; kubu moderat yang menginginkan pendekatan kooperatif untuk membujuk kaum bangsawan dan kubu radikal yang mengutamakan jalan kekerasan dengan penggalangan massa para buruh perkebunan.[3] ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya

Revolusi Sosial Maret 1946

Amir Hamzah salah satu korban Revolusi Sumatra Timur Di Tanjung Balai, Asahan 3 Maret 1946 sejak pagi ribuan massa telah berkumpul. Mereka mendengar bahwa Belanda akan mendarat di Tanjung Balai. Namun kerumunan itu berubah haluan mengepung istana Sultan Asahan. Awalnya gerakan massa ini dihadang TRI namun karena jumlahnya sedikit, massa berhasil menyerbu istana sultan. Besoknya, semua bangsawan Melayu pria di Sumatera Timur ditangkap dan dibunuh. Hanya dalam beberapa hari, 140 orang kedapatan mati, termasuk para penghulu, pegawai didikan Belanda, dan sebagian besar kelas tengku. Di Tanjung Balai dan di Tanjung Pasir hampir semua kelas bangsawan mati terbunuh. Sedangkan di Simalungun, Barisan Harimau Liar membunuh Raja Pane. Gerakan ini juga memakan korban yang terjadi di Tanah Karo. Di daerah kesultanan besar, Deli, Serdang, dan Langkat Persatuan Perjuangan mendapat perlawanan. Serdang yang memang dalam sejarahnya anti-Belanda tidak terlalu dibenci masyarakat dan juga terlindung karena ada markas pasukan TRI di Perbaungan. Sedangkan istana Sultan Deli terlindung karena adanya benteng pertahanan tentara sekutu di Medan sedangkan istana Langkat juga terlalu kuat untuk diserbu. Pergolakan sosial berlanjut pada 8 Maret. Sultan Bilah dan Sultan Langkat ditangkap lalu dibunuh. Berita yang paling ironis adalah pemerkosaan dua orang putri Sultan Langkat, pada malam jatuhnya istana tersebut, 9 Maret 1946 dan dieksekusinya penyair terkemuka Tengku Amir Hamzah. Meskipun pemerkosa ditangkap dan dibunuh namun revolusi telah melenceng jauh. [3] Gerakan itu begitu cepat menjalar ke seluruh pelosok daerah Sumatera Timur oleh para aktivis PKI, PNI dan Pesindo. Puluhan orang yang berhubungan dengan swapraja ditahan dan dipenjarakan oleh lasykar-lasykar yang tergabung dalam Volksfront. Di Binjai, Tengku Kamil dan Pangeran Stabat ditangkap bersama beberapa orang pengawalnya. Istri-istri mereka juga ditangkap dan ditawan ditempat berpisah. [4] Pada tanggal 5 Maret Wakil Gubernur Mr. Amir mengeluarkan pengumuman bahwa gerakan itu suatu “Revolusi Sosial”. Keterlibatan aktivis Partai Komunis dalam revolusi sosial di Sumatera Timur memberikan kontribusi besar; terlebih lagi tanggal 6 Maret 1946, Wakil Gubernur Dr. Amir secara resmi mengangkat M. Joenoes Nasoetion, yang juga ketua PKI Sumatra Timur sebagai Residen Sumatera Timur. Untuk meminimalkan korban Revolusi Sosial, Residen Sumatera Timur M. Joenoes Nasution untuk sementara waktu bekerjasama dengan BP.KNI maupun Volksfront, dan Mr. Luat Siregar diangkat menjadi Juru Damai (Pacifikator) untuk seluruh wilayah Sumatera Timur dengan kewenangan seluas-luasnya. [5]

maka didatangkanlah suku Batak Toba Kristen sebagai penyeimbang populasi (dan malahan melampaui populasi penduduk asli). Dolog Silou. Dengan demikian orang Simalungun semakin terjepit dan menjadi kelompok minoritas di kampungnya sendiri. barulah saya paham. B. Siantar dan Tanoh Jawa pada abad XV. sebab menyangkut sejarah perjalanan orang Simalungun yang mengalami kekerasan dan pelanggaran HAM berat. Sejak abad XIII diberitakan bahwa orang Simalungun sudah bersentuhan dengan budaya Jawa-Hindu yang dibuktikan dengan pemakaian destar batik sebagai tutup kepala laki-laki Simalungun. biarlah kejadian itu berlalu seiring dengan beralihnya waktu.REVOLUSI SOSIAL BERDARAH DI SIMALUNGUN TAHUN 1946* Oleh : Juandaha Raya Purba Dasuha “Ketika itu tidak mungkin kita berbuat sesuatu. mengapa orang Simalungun seakan tabu membicarakan Revolusi Sosial itu. Mereka mengatakan bahwa isu Revolusi Sosial tidak pantas untuk dibuka kembali. Demikian seterusnya sampai kedatangan penjajah Belanda ke Simalungun sejak akhir abad XIX yang membawa perubahan sosial yang besar di Simalungun lewat kehadiran para planters (tuan-tuan kebun). para buruh kuli kontrak dari Jawa dan petani penggarap sawah dari Tapanuli Utara (Batak Toba) yang sengaja didatangkan Belanda demi menunjang kelanggengan usaha para planters yang menguntungkan keuangan kolonial itu. Siapa yang mencoba-coba menghalang-halangi karena terlihat sudah melampaui batas akan turut musnah dalam arus pergolakan. Dr. . Seterusnya demi menghempang masuknya pengaruh Islam yang semakin meluas di kalangan suku Simalungun. Justru hal ini yang mendorong penulis untuk lebih jauh mengetahui apa sih Revolusi Sosial itu? Ketika saya membaca buku Anthony Reid yang berjudul Perjuangan Rakyat. Seterusnya pengaruh Aceh pun masuk ke Simalungun lewat vazal-vazalnya di pesisir (Serdang dan Deli) dengan kehadiran lembaga konfederasi Raja Marompat yang terdiri dari kerajaan-kerajaan Panei. Pendahuluan Sebagian orang Simalungun tidak sependapat dengan penulis tentang topik yang sensitif ini. A. di mana satu generasi kaum terpelajar orang Simalungun yang kebetulan berlatar belakang kaum bangsawan Simalungun dibantai dengan sangat sadis dan kejam di luar perikemanusiaan oleh orang-orang yang berhati iblis atas nama “Kemerdekaan Republik Indonesia”. Karo dan di timur dekat pantai berdiam orang-orang Melayu. Maka dalam waktu singkat segala barang-barang yang ada dalam istana berantakan atau lenyap bersama penghuni-penghuninya yang dijagal dengan buas”. Sedangkan budaya India-Hindu diperkirakan sudah hadir di antara orang Simalungun setidaknya sejak abad ke VI dengan hadirnya Kerajaan Nagur yang menurut kisah orang-orangtua berketurunan dari tanah India nun jauh di seberang pulau Sumatra. Simalungun Menjelang Revolusi Sosial Daerah Simalungun yang penduduk aslinya adalah halak (suku bangsa) Simalungun berada di antara suku-suku Batak lainnya. seperti Tapanuli yang dihuni suku Batak Toba dan Pakpak. Marnixius Hutasoit-mantan pejabat RI di Pematangsiantar tahun 1946.

suku Simalungun diakui oleh para antropolog dan sejarawan sebagai penduduk asli (native groups) daerah Sumatera Timur. Purba. Setelah pecah pemberontakan PKI di Jawa dan Sumatera pada 1926-1927 para tokoh-tokoh PKI banyak yang ditangkap dan dibuang Belanda ke Boven Digul Papua. mereka berharap kedatangan Belanda kembali akan merestorasi kedudukan mereka sebelum perang. Dolog Silou dan Silimakuta. Panei. Semangat kemerdekaan yang besar di kalangan rakyat tidak diikuti semangat serupa di kalangan kaum bangsawan. Di antara yang dibuang itu terdapat seorang pemuda Batak Toba terpelajar berpendidikan Belanda. Sebaliknya kaum aristokrat Sumatera Timur itu dengan terang-terangan menunjukkan sikap yang menyebabkan kebencian di kalangan pendukung kemerdekaan.Meskipun demikian.[1] Sesudah kekalahan Jepang dan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia di Jakarta yang wilayahnya diklaim meliputi bekas daerah kekuasaan Hindia Belanda (dengan demikian termasuk Sumatera Timur) pada 17 Agustus 1945. Pada zaman Jepang dia berhasil mengambil simpati sunseibucho (Gubernur Jepang) Nakashima dan membentuk organisasi BOMPA (Badan Oentoek Membantoe Pertahanan Asia). Khususnya terhadap sultan Langkat dan sultan Deli yang merupakan penguasa pribumi Melayu yang cukup kaya dengan keuntungan minyaknya dan sewa atas tanah perkebunan dari para planters. Urbanus Pardede yang kelak memimpin aksi Revolusi Sosial di Simalungun dan menggantikan Maja Purba sebagai Bupati Simalungun. sebab daerah Simalungun sudah diatur secara struktur birokrasi yang berpola monarki dengan pusat pemerintahan yang disebut pamatang tempat kedudukan raja dan para pejabat-pejabat kerajaannya. Untuk daerah Sumatera Utara deklarasi kemerdekaan diumumkan kemudian tanggal 30 September 1945 dalam suatu pawai para pemuda nasionalis di Medan ibukota keresidenan Sumatera Timur. Akibatnya pecah ketegangan di antara kaum pergerakan nasionalis Indonesia dengan para aristokrat itu yang menyebabkan garis di antara kedua kelompok itu semakin tajam perbedaannya. mereka tidak perlu repot membentuk struktur pemerintahan baru. Mereka kemudian membentuk dan memimpin . Gaya hidup serba kemewahan dan keborosan serta kesombongan kaum aristokrat Melayu semakin menuai kebencian dan dendam di antara rakyat yang hidup dalam kemiskinan dan serba kekurangan. Demikianlah sampai masuknya dan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 daerah Simalungun berdiri atas pemerintahan tersendiri yang terbagi atas kerajaankerajaan (urung) yaitu: Tanoh Jawa. Tanjung Kasau dan Siantar) dan dipatahkannnya perlawanan sekelompok masyarakat di Raya oleh Rondahaim yang wafat 1891 masih mempertahankan struktur sosial masyarakat Simalungun yang berpola kerajaan itu. Siantar. rupa-rupanya pemerintah Belanda yang sudah menguasai daerah Simalungun sejak tahun 1888 itu (takluknya Tanoh Jawa. [2] Selanjutnya Xarim MS (Mau Senang) seorang ahli pidato dan tokoh komunis terkemuka di Aceh yang sudah malang-melintang di gerakan PKI sejak tahun 1926-1927. Hal ini memang disengaja oleh pemerintah kolonial dalam rangka penghematan anggaran dan mempermudah pengawasannya atas daerah ini. Partindo dan Gerindo sejak zaman Belanda. Situasi rawan yang seperti ini sudah pasti menjadi api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa meledak dan dengan sangat baik sekali dimanfaatkan kaum berhaluan kiri. Daerah Simalungun sendiri berada dalam lingkup wilayah Propinsi Sumatera Timur yang berkedudukan di Medan. khususnya orang-orang Komunis. . Gagasan komuis sendiri sudah sejak 1925 masuk ke Sumatera di bawah pimpinan Sutan Said Ali. Bersama etnis Melayu dan Karo. Kemudian Jakub Siregar anak Martua Raja Siregar yang aktif di politik bersama dengan Saleh Umar.[3] Selain itu masih terdapat nama Saleh Umar seorang pemimpin nasionalis yang sudah memimpin PNI. Raya.

Lalu dr. “Apakah kaum pendatang tidak pantas untuk menghormati dan tunduk kepada aturan pemerintah yang berlaku di Panei?” Dengan menunjuk persawahan yang luas di sekitar Pamatang Panei sampai ke Sabah Dua.. Sedangkan Saragihras sebagai komandan BHL di Simalungun lebih berperan sebagai eksekutor atas perintah dari para aktor intelektual di atas. yakni dipelopori oleh A. sikap mana sebaliknya dipandang .. strategi militer dan ajaran nasionalisme selama satu sampai tiga bulan. dia mengatakan bahwa jika Tuan Sidamanik menindas para pendatang dari Tapanuli tidak akan mungkin penduduk Tapanuli . Kemewahan inilah yang menyebabkan raja-raja bertambah angkuh dan bersifat feodal. Saleh Umar sebagai kepala staf dan Abdullah Jusuf dan Nulung Sirait sebagai perwira staf.. Dengan nada diplomatis. E. “Kalau ayah saya menindas pendatang dari Tapanuli ini.[7] Sementara itu Tuan Djariaman Damanik juga berkata senada dengan Tuan Kamen Purba Dasuha. tidak lebih dari saudaranya sendiri sebagai kepala masyarakat hukum adat Dalihan Natolu . Jumlah kadernya sekitar 50000 orang yang terdiri dari kaum tani dan nelayan dari etnis Batak Toba. pihak raja-raja tidak menghormatinya atau menentang mereka”. Dengan sendirinya pihak raja-raja menjadi mewah terutama Siantar. Ada kalimat bernada provokatif dari buku Batara Sangti Simanjuntak: “Maka tidak heran apakala revolusi sosial meletus pada bulan Maret-April 1946. Jacob Siregar sebagai wakil komandan.. Para pemuda direkrut untuk dikirim mengikuti pelatihan Talapeta dalam bidang pertanian. merupakan durian runtuh tiba-tiba. Saya lalu menanyakan tentang kebenaran “raja-raja menindas rakyat” yang diutarakan oleh Batara Sangti tersebut kepada Tuan Kamen Purba Dasuha putera raja Panei terakhir dan Tuan Djariaman Damanik Raja Muda Sidamanik terakhir. Justru kami sebagai ahliwaris raja Panei yang akhirnya kebagian lahan warisan yang paling sedikit dibanding kaum pendatang”. Tuan Kamen berkata..[5] Selanjutnya masih ada nama Luat Siregar sahabat karib Xarim MS yang menjadi anggota PKI sejak 1945 dan pernah menjabat residen Sumatera Timur (April-September 1946) setelah berhasil menyingkirkan Tengku Hafas kerabat Sultan Deli dari Bedagai. pegawai dan penghulu-penghulu yang memegang peranan dalam aksi-aksi penindasan rakyat itu. Simalungun dan Karo yang beroperasi di dataran tinggi Sumatra Timur. [4] Organisasi ini diresmikan secara rahasia pada 20 Maret 1945 sebagai suatu organisasi militer.pada tahun 1944 organisasi Ken Ko Ku Tui Sin Tai atau Barisan Harimau Liar di bawah pelatihan dari Inoue seorang perwira Jepang. dengan Inoue sebagai komandan. di mana banyak jatuh korban di pihak raja-raja. Saragih alias Saragih Ras pimpinan Barisan Harimau Liar yang terkenal dan Urbanus Pardede dari PKI (yang menjadi Bupati Kabupaten Simalungun pertama sesudah revolusi sosial tersebut)”[6] Benarkah statement di atas? Perhatikan kalimat yang dia tulis di halaman 187: “Hasil pembangunan Simalungun yang begitu rupa. Pane dan Raya. Sedang orang-orang Toba yang berjiwa dinamis dan demokratis itu memandang . Tanah Jawa. Tuan Kamen balik bertanya kepada penulis.. Mohammad Amir seorang ahli jiwa dokter pribadi Sultan Langkat yang menjabat Wakil Gubernur Sumatera yang setelah pecah Revolusi Sosial membelot ke pihak Belanda (isterinya seorang Belanda). tidak mungkin mereka dapat memiliki persawahan dan pemukiman yang luas di Panei ini. menyebabkan kantong pihak raja-raja dan kas pemerintahan swapraja-swapraja Simalungun mendadak dalam waktu singkat terus kaya-raya. lebih berkecamuk di daerah Simalungun.

Revolusi Sosial Pecah di Simalungun Secara teoritis.000 hektar (luas Simalungun 441. revolusi muncul akibat adanya ketidakpuasan yang selanjutnya disulut oleh agitasi dan provokasi dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan menunjukkan kelemahan atau rasa kebencian pada rezim yang akan dijatuhkan. sementara penduduk asli semakin terpinggirkan dan akhirnya pindah ke daerah yang relatif tandus di pegunungan. Sepertiga atau 151. penduduk asli Simalungun yang berada dipihak yang sangat dirugikan dibanding para pendatang. khususnya identitas Batak Toba. Penduduk orang Eropa 816 jiwa dan Timur Asing 10. Selanjutnya menjalar pada perpindahan kesetiaan intelektual sebagai hasil agitasi kelompok tertentu dengan cara-cara tertentu seperti penyebaran pamflet atau doktrin yang menentang rezim yang lama.[9] Sementara itu penduduk asli Simalungun merosot jumlahnya menjadi kelompok minoritas (69.[14] Dari paparan teoritis ini.531 jiwa). Artinya suatu revolusi tidak pernah berjalan spontan.852 jiwa). praktis kekuasaan dan pengaruh penduduk asli Simalungun semakin terabaikan. pembentukan ulang masyarakat dari dalam dan pembentukan ulangmanusia.[10] Persoalan perebutan lahan garapan di antara kaum pendatang Batak Toba itu menjadi perkara yang memusingkan raja-raja Simalungun. migran lain kebanyakan orang Jawa (23. Kasus revolusi sosial (yang .865 jiwa. keluhan. Perlu diingat sejak masuknya para planter yang didukung pemerintah kolonial Belanda. kekacauan dan konflik yang disebabkan krisis ekonomi atau fiskal.[8] Dari buku yang ditulis Batara Sangti Simanjuntak itu tergambar sekilas bagaimana ketegangan etnis yang sempat terjadi di Simalungun sebagai ekses dari migrasi kaum pendatang Batak Toba ke Simalungun dengan penduduk asli Simalungun.[12] Dengan demikian pernyataan di buku-buku sejarah selama ini yang menyatakan ketertindasan rakyat oleh para kaum aristokrat Simalungun pantas untuk diteliti kembali kebenarannya. dia berada dalam posisi direncanakan secara rapi dengan memanfaatkan situasi ketidakpuasan publik. Revolusi tidak menyisakan apapun dari keadaannya sebelumnya.653 jiwa) dan kuli kontrak orang Jawa (44. khususnya di sekitar gunung Simbolon. identitas pendatang semakin dominan.040 jiwa). Jadi sangat tidak benar bila dikatakan bahwa revolusi sosial di Sumatera Timur itu adalah suatu peristiwa yang berjalan spontan. Di Pematangsiantar sendiri kota itu semakin kehilangan indentitas aslinya sebagai kediaman tradisional suku Simalungun. sebagai tanda perpecahan mendasar dalam proses historis.yang pindah ke Sidamanik melampaui jumlah penduduk asli Simalungun dan menguasai tanah yang lebih luas dari keturunan Tuan Sidamanik.[11] Data-data ini menunjukkan bahwa sesungguhnya akibat politik kolonial Belanda. yang pertama sekali didahului oleh kondisi khas yang disebut “revolutionary prodrome” yang ditandai oleh ketidakpuasan. revolusi adalah tanda kesejahteraan sosial. migran Batak Toba (26. C. revolusi adalah wujud perubahan sosial paling spektakuler.[13] Dalam pengertian ini menurut Stzompka. terutama di daerah konsentrasi perkebunan dan persawahan di Simalungun Bawah.380 hektar) berada dalam penguasaaan para pengusaha perkebunan asing. Jalannya revolusi menurut para sosiolog berada dalam sepupuh tahapan.

Tetapi sudah pasti berdasarkan dokumen rahasia dari pihak Sekutu tanggal 2 Maret 1946 (sehari sebelum revolusi) sudah mereka ketahui bahwa PKI dan Harimau Liar bekerjasama erat sekali dalam tindakan itu. Nainggolan turut bergabung. Inggris. panitia yang akan menangkapi para tokoh kemerdekaan. sudah jelas otak di balik serangkaian tindakan kejam di luar perikemanusiaan itu adalah Markas Agung yang dilaksanakan Volksfront dengan pimpinan utama Sarwono Sastro Sutardjo. Tetapi yang lebih mengejutkan dari penelitian Tengku Luckman Sinar. Pesindo sendiri selaku organisasi pemuda pejuang sudah sedemikian rupa dipengaruhi oleh PKI. .[18] Tuduhan yang sampai hari ini tidak terbukti. Untuk kasus di Sumatera Timur. E. Zainal Baharuddin. Sungguh beruntung kita mendapat informasi terkini dari saksi mata hidup dari kalangan korban revolusi sosial Tengku Luckman Sinar tentang duduk perkara Comite van Onvangst (Panitia Penyambutan) yang dijadikan dasar tuduhan dari golongan kiri membenarkan tindakan kejam yang disebut mereka revolusi sosial itu. F. Barisan Harimau Liar. sultan Melayu dan Sibayak Karo. Muncul desas-desus bahwa tentara Sekutu (Belanda. Nathar Zainuddin dan Abdul Xarim MS yang bekerja di balik layar. tidak diketahui apakah ada etnis Simalungun yang duduk di belakang meja mengatur tindakan biadab itu. Saleh Umar.pertama sekali diungkapkan oleh dr. Amerika) akan masuk ke Sumatera mengurus tawanan perang Jepang setelah kekalahan Jepang terhadap Sekutu. Berita seperti itu pun cenderung ditutupi kantor-kantor berita pemerintah fasis Jepang. Yusuf berunding di rumahnya membentuk panitia diketuai Sultan Langkat dan wakil ketua Tengku Mansyur untuk menjelaskan kepada Sekutu alasan mereka bekerjasama dengan Jepang. selain A. meskipun para pelaku revolusi sosial telah menggeledah dan membakar istana-istana raja Simalungun. Amir) yang terjadi di Sumatera Timur itu betul-betul suatu gerakan yang sudah direncanakan secara matang oleh kelompok-kelompok yang punya kepentingan dengan pembantaian para kaum bangsawan dan cendekiawan Sumatera Timur itu. demikian ulasan majalah Tempo edisi 50/Feb/1997. Amaliun Medan. M. J. Menurut keterangan Tengku Luckman Sinar. seperti Xarim MS dan Mr. Atas inisiatif Tengku Mansyur (kerabat Sultan Asahan) selaku Ketua Shu Sangi Kai Sumatera Timur pada tanggal 25 Agustus 1945 mengundang para tokoh dan penguasa tradisional Sumatera Timur ke rumahnya di Jl Raja/Jl.[16] Motif pembantaian kaum aristokrat dan cendekiawan Sumatera Timur lebih dominan pada intrik politik dan balas dendam. Panitia inilah yang diisukan kaum kiri sebagai Comite van Onvangst. seperti dituturkan saksi mata Maxinius Hutasoit. Napindo. Saragihras yang menjadi eksekutor di lapangan. “Sudah tentu bahwa dalam revolusi sosial itu terselundup pula segala macam hal yang sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya secara obyektif dengan persoalan feodal.[17] Apa yang dikatakan oleh saksi mata di atas akan kita lihat kebenarannya pada uraian selanjutnya. Volksfront (front perjuangan rakyat) dan PARSI yang berdiri pertengahan Februari 1946 yang mana “Pasukan Kelima” dari dr. Kepentingan-kepentingan sendiri diboncengkan. berita itu masih desas-desus di Sumatera (maklum komunikasi tidak secanggih sekarang ini). “kaum feodal yang harus dibunuh” dan lagu “Darah Rakyat” menggelora di mana-mana. dendam pribadi dibalas. setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan di Jakarta. seperti “rajar-raja penghisap darah rakyat”. nafsu rendah memperoleh pelampiasannya”. Para provokator ini kebanyakan adalah dari etnis bukan Simalungun. Barisan Merah (PKI) dan Hizbullah didukung buruh Jawa dari perkebunan serta kaum tani.[15] Laskar yang berperan dalam aksi ini adalah Pesindo. Slogan-slogan bernada revolusioner.

Teuku Hasan menulis: “Firasat itu benar. dilancarkanlah aksi pembantaian tersebut. Sedangkan seluruh penguasa swapraja Sumatera Timur hadir termasuk sultan Siak Sri Indrapura dari Riau. Kehadiran Gubernur Teuku Mohammad Hasan di Medan dianggap akan menggagalkan rencana Markas Agung tersebut. Dia kemudian meninggal di Belanda tahun 1949. Saleh Umar dan Yacob Siregar sebagai gembongnya untuk menghapuskan kerajaan di Sumatera Timur yang dituduh penghalang pada kemerdekaan. dan dengan bantuan wakil gubernur Moh. perampokan bahkan pemerkosaan yang jelas tindakan manusia-manusia yang tidak bertuhan. Sehari sebelum gubernur berangkat. termasuk dr. Jalannya Aksi Pembantaian Pada tanggal 3 Februari 1946 raja-raja. [21] D. Tahir dan Mahruzar (adik Sutan Syahrir). Pada tahun 1926. A. di mana kekuasaan kerajaan bumiputera semakin diperkecil. Eksekusi dilaksanakan mulai pukul 00.00 WIB tanggal 3-4 Maret 1946 tepat pada saat Gubernur Sumatera tidak berada di Medan.ternyata aksi revolusi sosial itu ternyata sudah lama juga direncanakan pihak penjajah Belanda sejak tahun 1906. sebab hanya dengan alasan “antek penjajah” yang dialamatkan kepada kaum bangsawan Sumatera Timur sudah menjadi dasar untuk tindakan pembantaian. volksfront/PKI—M. Yunus Nasution dan Marzuki Lubis bersama divisi IV-TRI-Kol. Saragihras dari Barisan Harimau Liar (BHL) di Simalungun. sibayak dan sultan seluruh Sumatera Timur sudah menyatakan tekad mendukung dan berdiri di belakang pemerintah Republik Indonesia di hadapan wakil pemerintah Gubernur Mohammad Hasan. Dari Simalungun hadirRaja Panei Tuan Bosar Sumalam Purba Dasuha. Residen Sumatera Timur Tengku Hafas (yang kemudian dipecat Markas Agung) mengunjungi gubernur di rumahnya. Tengku Hafaz. Dalam pemeriksaan oleh pihak berwajib mereka mengaku bahwa tindakan itu digerakkan atas perintah Sarwono. seperti kerajaan Riau (1911). Belanda telah memakai agennya bernama dr. Ternyata firasat Tengku Hafas benar. sebab pada hari itu Gubernur sudah “sengaja” diatur Markas Agung untuk kunjungan ke Sumatera Selatan. Moh. mengungkapkan firasat buruknya. E. 1 Maret bertempat di kediaman Mr. Belanda sudah mengangkat panitia untuk itu yaitu Extraterritorialiteitcommisie yang bertujuan bahwa wilayah pemerintahan sendiri yang otonomi itu harus dilenyapkan secara perlahan-lahan dan tatkala raja-raja sudah tidak ada lagi maka demokrasi lokal akan berkembang dan hapuslah kerajaan bumiputera itu. Raja . Abdul Xarim MS dan pejabat Republik lainnya. bahkan ada yang dihapus.[19] Dan untuk tujuan itu. Amir—bermusyawarah untuk menumpas kerajaankerajaan di Sumatera Timur pada tanggal 3 Maret 1946. bahwa sepeninggal gubernur akan terjadi suatu peristiwa. Luat Siregar di Medan. Di saat Gubernur tidak berada di Medan. Wakil Gubernur Mohammad Amir yang sepaham dengan Markas Agung (Residen Abdul Karim) mengatur perjalanan Gubernur mulai 6 Februari 1946. Tengku Luckman Sinar dari hasil penelitiannya membuktikan bahwa tindakan segerombolan orang yang mengaku republikein itu merupakan proyek rahasia dari Markas Agung pimpinan komunis Sarwono dan Zainal Baharuddin dan Saleh Umar serta eksekutor lapangan A. Amir wakil gubernur Sumatra seorang teosof lulusan Belanda yang beristrikan seorang perempuan Belanda (yang pada zaman Belanda sudah disamakan statusnya dengan Belanda)yang membelot ke NICA pada 23 April 1946. Raja Purba Tuan Mogang Purba Pakpak. Amir.[20] Pembantaian atas kaum bangsawan Simalungun ini memang sejarah yang sulit diterima logika.

kedua puteri itu menjerit-jerit kesakitan dan setiap rintihan merupakan pisau sembilu menusuk jantung Sultan yang mendengar itu dari kamar sebelah”.[29] . Raja Siantar Tuan Sawadim Damanik. pemangku Raja Raya Tuan Jan Kaduk Saragih Garingging dan lainlain. aksi pembantaian tetap berlangsung yang diiringi tindakan perampokan harta benda para kaum bangsawan. Menurut Tengku Luckman Sinar. Raja Raya diwakili Tuan Jan Kaduk Saragih Garingging dan Raja Tanoh Jawa Mr.[22] Sultan Langkat pada waktu itu mewakili seluruh pemerintah swapraja Sumatera Timur menugucapkan pidato yang salah satunya berbunyi: “kami sultan-sultan dan raja-raja telah mengambil keputusan bersama untuk melahirkan sekali lagi itikad kami bersama untuk berdiri teguh di belakang Presiden dan Pemerintah Republik Indonesia dan turut menegakkan dan memperkokoh Republik kita”.[23] Meskipun demikian tegas pernyataan para penguasa tradisional tersebut. pertama untuk membiayai perbekalan TNI di Sidikalang dan kedua. Selanjutnya harta benda yang tersisa diserahkan kepada komandan teritorium Sumatera Kolonel Alex Kawilarang pada tahun 1950..[28] Harta rampasan dari para bangsawan itu diserahkan pada awal tahun 1949 kepada Mohammad Saleh Umar yang sudah diangkat menjadi Residen Sumatera Timur (setelah menggulingkan Tengku Hafaz). eksekutornya adalah komandan Barisan Harimau Liar (BHL) A.. dijawab oleh Saleh Umar: “Perintah ini adalah rahasia dan sayalah yang menanggung akibatnya”. Menurut Saragihras dari perintah Saleh Umar itu. Peristiwa sadis ini berlangsung di istana Tanjungpura kesultanan Langkat. Harta benda bangsawan itu pernah dipakai sebanyak dua kali. Saragihras yang masih kerabat Kerajaan Panei.[26] Saleh Umar pimpinan tertinggi Markas Agung ketika dimintai ketegasan hitam di atas putih oleh Saragihras. raja-raja yang dianggap penghalang kemerdekaan yang harus dihabisi adalah Raja Panei Tuan Bosar Sumalam Purba Dasuha. bahwa dia pada tahun 1944 sudah menjadi anggota Kenkoku Teisintai (Barisan Harimau Liar) yang dibentuk Inoue dan tahun 1945 memimpin BHL. Perintah menghabisi para raja itu diperoleh atas perintah Sarwono pimpinan Markas Agung dan Sekretaris Zainal Abidin yang mengunjunginya menyampaikan perintah rahasia itu.[24] Di Simalungun sendiri seperti telah dijelaskan di depan. Puteri Langkat itu demi menyelamatkan nyawa ayahnya Sultan Langkat terpaksa bersedia melayani nafsu binatang Marwan dan Usman Parinduri pelaku pembantaian itu. pembakaran dan perusakan istana kerajaan bahkan pemerkosaan puteri-puteri bangsawan seperti terjadi di kesultanan Langkat. Tuan Kaliamsyah Sinaga. “. Kesadisan mereka dituliskan oleh Tengku Luckman Sinar. E.[27] Untuk Kerajaan Tanoh Jawa eksekusi atas kaum bangsawan di sana dipercayakan kepada Bagus Saragih pimpinan PKI di Tanoh Jawa. ketika mereka berada di Pasar Matanggor (Tapanuli Selatan) untuk membeli senjata dari Singapura yang untuk ini ditugaskan Saleh Umar kepada saudagar Tionghoa Oei Boen Tjoen yang ternyata melarikannya. Yang sempat dirampas Belanda sempat disimpan di kluis NHM Pematangsiantar dibawah pengawasan Teuku Mohammad Hasan dan dikembalikan kepada pemiliknya tahun 1948. “kebanyakan pelaksananya adalah suku Toba meskipun pimpinan utamanya adalah Saragihras putera Simalungun asli dan Saleh Umar memberikan instruksi rahasia untuk menangkapi raja-raja di sana kepada Pesindo”.[25] Mohammad Said yang mewawancarainya di penjara (setelah aksi pembantaian itu) berdasarkan pengakuan Saragihras sendiri.Silimakuta Tuan Padiraja Purba Girsang yang sudah aktif di Markas Agung. Rapat Komite Nasional Indonesia (KNI) itu dipimpin oleh Ketua KNI Sumatera Timur Mr. Luat Siregar.

E. Raja. anak tertua Tuan Marjandi adik kandung raja Panei (Tuan Anggi Panei) menginformasikan kepada keluarga raja Panei di Pamatang Panei bahwa akan ada malam itu gerakan revolusi sosial terhadap raja-raja dan sultansultan. isteri raja Panei/puteri dari Siantar di ladang raja Panei di Nagahuta. meskipun raja Panei sudah mengetahui akan kedatangan pasukan BHL pimpinan laweinya sendiri A. Abangnya Tuan Nalim sedang bersekolah di Pematangsiantar. Beruntung Tuan Marga Idup Purba dan Tuan Iden.Pihak istana hanya melakukan tindakan antisipatif dengan menempatkan pengawal yang terdiri dari laksar Pesindo dengan pengawalan Raja Muda Panei Tuan Margabulan Purba Dasuha dan adik-adiknya yang sudah dewasa. Pada hari Minggu pagi. sepanjang perjalanan raja Panei disiksa dan akhirnya seluruh rombongan dibunuh dengan sadis di Nagori. Rakyat yang berkumpul pada waktu itu di sekitar istana menjaga keselamatan raja dan keluarganya. Mobil pribadi raja Panei dirampas dan dipakai Urbanus Pardede yang sudah mengkudeta Tuan Madja Purba sebagai Bupati. Sekolah (sekarang Jl. mengambil emas banyak sekali dari peti. Menurut Tuan Kamen Purba. rupanya pasukan BHL sudah mengepung istana. ada yang tewas dan sebagian diikat. uang perak gulden dan uang kertas Jepang.1. Pada masa itu yang memerintah di Panei adalah Tuan Bosar Sumalam Purba Dasuha. 3 Maret 1946 Tuan Mailan Purba Dasuha. Tuan Aliamta Purba yang masih berumur 5 tahun pada waktu itu sedang sakit dikelilingi oleh kelurga besar raja. Saragihras itu. supaya raja dan keluarga menyelamatkan diri ke rumah pesanggerahan raja Panei di Jl. Pokoknya semua disikat tidak ada yang ketinggalan. Tuan Abraham dan adik-adiknya berhasil melarikan diri dari istana berlari ke Nagahuta melewati kebun teh ke tempat markas tentara Jepang yang pada Minggu siang masih sempat berkunjung ke istana. Pasukan BHL berjumlah lebih kurang 50 orang itu naik ke istana. karena ketiadaan perawatan. Rumah pesanggerahan raja Panei di Jl. Saragihras dan laskarnya yang sudah terlatih akan datang menculik dan menjarah ke istana raja. Tuan Kamen sendiri pada malam itu bersama denggan Inang Bona (Puang Bona). Sekolah (sekarang Jl Sudirman) Pematangsiantar. Pada hari itu juga Tuan Nagapanei (berdasarakan informasi dari Richard Nainggolan) melaporkan kepada raja Panei bahwa A. supaya raja maklum dan segera menyelamatkan diri. Di tengah malam tiba-tiba listrik padam. Seluruh isi istana dijarah dan raja. Pasukan pengawal tidak berdaya menghadapinya. raja muda dan Tuan Djautih dan seluruh perempuan dewasa diikat tangannya. Serempak mereka masuk dan menjarah seluruh istana raja membawa karung masuk ke dalam kamar perbendaharaan raja. abangnya Raja Muda pada waktu itu sudah aktif di pasukan Marsose yang berjuang melawan Belanda. Sudirman) sudah dikuasai BHL dan dijadikan markas mereka. dekat Tiga Sibuntuon. Sedangkan Rumah Bolon yang merupakan istana lama utuh tetapi puluhan tahun tidak terawat runtuh dimakan usia. Harta raja Panei habis disikat dan istana (rumah panggung berasiterktur semi Melayu) kemudian dibakar atas pimpinan seorang marga Sinaga. . Anehnya. dia bergeming tidak menyelamatkan diri ke Pematangsiantar. dua puteranya dan 28 rakyat yang tidak rela meninggalkan rajanya turut diikat dan dinaikkan ke dalam 2 buah truk. Senjata revolver rajamuda turut dirampas. Kerajaan Panei. Iringan BHL berjalan menuju ke Tigaras. Dari sana berangkat ke Pagarjawa dan dijemput pasukan TRI dan diamankan di Pematangsiantar (rumah Tuan Madja Purba Bupati Simalungun). mereka tidak berbicara dan memakai penutup wajah. E.

Dr. mayatnya dicincang dan dicampur dengan daging kerbau serta disuguhkan untuk santapan pasukan BHL. menyusul Tuan Kortas tuan Marjandi dan Tuan Mintari Purba kerani Kerajaan Panei. Pembantaian terhadap keluarga raja Panei masih berlanjut sampai bulan April 1947. Kerajaan Siantar. Tetapi saudaranya Tuan Dolog Panribuan Tuan Mintahain Sinaga dan puteranya rajamuda Tuan Hormajawa Sinaga (ayah Mayor Jatiman Sinaga) tewas dibunuh BHL beberapa bulan kemudian. Sampai raja Panei meninggal. diperkirakan ada ratusan korban mati dibantai oleh BHL di Sipolha. Mayat raja kemudian dimakamkan di dekat istananya yang sudah rata dengan tanah di Pamatang Panei. Tuan Bisara Sinaga tuan Djorlang Hataran. Tuan Nagapanei Tuan Djamonang Purba Sidadolog juga tewas dibunuh. Tetapi di Sipolha. beberapa kaum bangsawan tewas dibunuh. Tuan Baja Purba tuan Dolog Batunanggar.[31] Menurut Tuan Gindo Hilton Sinaga masih banyak korban revolusi sosial di Tanoh Jawa yang masih belum terungkap. beliau berada di rumahnya di Pamatang Bandar dilindungi oleh pendatang Batak Toba yang menggarap sawah di sana.[33] Beberapa hari kemudian Tuan Djariaman Damanik menemukan buku kecil berwarna merah darah beredar di kota Pematangsiantar yang judulnya “Revolusi Perancis dan Revolusi . maka tentara pun mengejar jejak BHL ke arah Saribudolok dan Tigaras. Tuan Sidamanik sendiri Tuan Ramahadim Damanik bersama rajamuda Sidamanik Tuan Mr. berikut seluruh keluarga dan rakyat kerajaan yang tewas itu. karena pada waktu itu.[32] 3. Raja Muda Tanoh Jawa Tuan Omsah Sinaga dan saudaranya raja Tanoh Jawa Tuan Kaliamsyah Sinaga selamat dari penculikan BHL dan mereka tinggal di Pematangsiantar. berhubung dengan lokasinya yang relatif lebih terisolir di pantai Danau Toba. yaitu 16 Agustus 1946. tombak menembus duburnya sampai ke leher dengan lidah dicabut paksa. Banyak keluarga tuan Sipolha yang menyelamatkan diri ke daerah Parapat bahkan mengungsi sampai ke luar negeri.Sesudah berita penculikan raja Panei terdengar oleh TRI. Bangsawan di Sipolha yang paling banyak mengalami pembantaian oleh BHL. Boas Saragih) tewas dibantai dengan kejam. jauh dari pengawasan TRI. mayat raja Panei. kepalanya dipenggal. Akhirnya mereka menemukan mayat keluarga aristokrat Panei berikut rakyat yang telah tewas mengenaskan itu. Anakboru Panei Tuan Djademan Saragih Garingging tuan Dologsaribu (ayah Prof. Nyaris saja seluruh keluarga bangsawan Panei punah bila tidak diselamatkan dengan sangat rahasia di Belawan. putera-putera raja Panei yang sudah aktif di perjuangan yaitu Tuan Margaidup Purba tewas dibunuh BHL. Pemangku raja Siantar Tuan Sawadim Damanik pada waktu itu luput dari pembunuhan oleh BHL. Setelah bermufakat di rumah pesanggerahan Tuan Sidamanik. dia masih bertahan dengan agama suku dan tidak pernah menjadi Islam atau Kristen (tetapi lebih condong ke Islam). Menurut berita. Djariaman Damanik (lahir 1920) sudah mengetahui gelagat buruk ini. Menurut Killian Lumbantobing. Djariaman bertolak belakang dengan tuduhan Markas Agung adalah seorang republikein sejati yang turut melatih pasukan TKR di Tapanuli dengan pangkat Letnan Satu. mereka menyingkir ke Pematangsiantar. Kaduk Saragih) berlindung di Kantor Polisi RI. Tanoh Jawa. Tuan Djansen Saragih tuan Raya Kahean (anak Tuan J. termasuk tuan Sipolha Tuan Sahkuda Humala Raja Damanik (ayah Tuan Djabanten Damanik). Mr.[30] 2.

Bersama beliau turut tewas dibunuh dokter pertama orang Simalungun dr. Penulis buku itu menginformasikan bahwa tindakan “revolusi sosial di Suamatera Timur” pada 3-4 Maret 1946 adalah gerakan yang sama. Raja Dologsilou terakhir Tuan Bandar Alam Purba Tambak berhasil diselamatkan rakyatnya sendiri dari keganasan pasukan BHL dan berdiam di Pematangsiantar. keduanya adalah anak yang dilahirkan Puangbolon Kerajaan Purba dari Siantar. sampai-sampai orang tidak mau memakan ikan dari danau Toba. Pantai Haranggaol pada masa itu dikabarkan penuh dengan mayat-mayat manusia yang tewas dibantai dengan sadis. Kerajaan Purba. Kerajaan Dolog Silou.[34] 4. Kerajaan Raya. Keturunan raja Purba yang lain Mr. Anaknya Tuan Madja Purba pejabat pemerintah RI yang pernah menjadi Bupati Simalungun (dan dikudeta tokoh PKI Urbanus Pardede pasca revolusi) dan pejabat Gubernur Sumatera Utara. Tuan Djomat Purba (Tuan Anggi) terakhir Kolonel TNI aktif memimpin pasukan Blaw Pijper NST (untuk mempertahankan diri dari pelaku revolusi). Konon mayat Raja Silimakuta dihanyutkan di sungai Lau Dah dekat Kabanjahe. . Kerajaan Silimakuta. Tuan Djariaman Damanik memilih berangkat ke Tapanuli bergabung dengan TKR RI atas saran Komandan TKR Pematangsiantar Rikardo Siahaan. simbol partai komunis. 7. Pada tahun 1947 pemangku raja Purba Tuan Karel Tanjung gelar Parajabayak tewas terbunuh oleh BHL di Haranggaol. Melihat keadaan yang semakin memanas. Turut juga ditangkap Pangulubalei Djaudin Saragih abang Pdt. Silimakuta Barat. Wismar Saragih dan ditahan di Raya Berastagi tetapi beliau mujur masih hidup diselamatkan TRI. 6. Tuan Djaidin Purba pernah menjabat sebagai walikota Medan. sewaktu mengungsi ke Tanah Karo.Soviet Rusia” di sampul terdapat lukisan palu arit. Meskipun raja Purba Tuan Mogang Purba telah mengungsi ke Markas Langit bersama anaknya Tuan Jamin Purba. Baik Tuan Mogang dan Tuan Djomat adalah putera Simalungun yang pantas dibanggakan.[35] 5. Djasamen Saragih (anak Pangulubalei Djaudin Saragih). Semuanya berlangsung di sekitar bulan April tahun 1947 (agresi kedua). tetapi keduanya tewas secara misterius. karena sering kedapatan jari manusia dalam perut ikan itu. Tuan Jamita Purba dan Tuan Lintar Purba tewas disekitar Tigaras. Keluarga raja Silimakuta kemudian mendirikan tugu baginya di Tigaraja Kec. Raja Silimakuta yang saudah aktif di Markas Agung juga tewas dan tidak diketahui di mana makamnya. J. Dikawatirkan bergabungnya Rajamuda Sidamanik ke dalam TKR menimbulkan kesan TKR = Tentara Keamnana Raja.

Willem Saragih. Keluarga bangsawan Raya lainnya melarikan diri ke hutan atau tempat yang aman. Salah seorang yang terkenal di antaranya adalah Tuan Bill Amirsjah Rondahaim Saragih yang dikenal sebagai seorang komponis jazz yang lama berdiam di Australia dan Aberson Marle Sihaloho yang dikenal selaku politisi. tetapi justru sejarah kelam.[36] Menurut Dja Sarlim Sinaga. sungguh banyak pembangunan yang dirasakan masyarakat seperti pengadaan listrik dan air minum serta transportasi bus yang diberi nama “Sinanggalutu” dengan rute Pematangsiantar-Pematang Raya. Beliau ditangkap pasukan BHL sewaktu menghadiri acara keluarga saudaranya Tuan Manakraya. sehingga keturunan raja-raja Simalungun menjadi risau dan kuatir akan keselamatannya. guru bahkan mereka yang kesan hidupnya terlihat kebarat-baratan. sedangkan Saulus Siregar dan Tuan Kaduk tewas dipenggal lehernya dan dihanyutkan di sungai Bah Hutailing tersebut. bidan). Menanggalkan identitas kebangsawanannya dengan identitas yang aman di daerah pengungsian atau bahkan di kampungya sendiri. Amir (otak pembantaian) bukanlah revolusi dalam arti yang sesungguhnya yang mendatangkan kesejahteraan. Mayatnya kemudian ditemukan TRI dan dibawa ke Pematangsiantar dan dimakamkan secara agama Kristen di belakang Gereja HKBP Kampung Kristen Pematangsiantar oleh pendeta HKBP. Pada waktu dia meninggal baru dua orang anaknya yang sudah berumahtangga dari 12 orang puteraputerinya. banyak yang akhirnya menutupi identitasnya dan memakai identitas yang dirasakannya aman. mantri. Semasa dia menjabat sebagai penguasa swapraja di Raya. Opas Radan Sitopu dapat meloloskan diri dengan berpura-pura mati dan menjatuhkan dirinya ke sungai. Parudo Girsang dari Saribudolok.Nasib naas menimpa pemangku raja Raya Tuan Jaulan Kaduk Saragih Garingging gelar Tuan Raya Kahean. Ketiganya ditangkap dan dibawa ke bawah jembatan Bah Hutailing (dekat Sirpang Sigodang). pemegang hak ulayat di Simalungun. Identitas selaku orang Simalungun apalagi yang kebetulan marganya dekat atau masih ada keturunan dengan marga kerajaan sudah cukup untuk alasan pihak yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan tindakan kekerasan. Penutup Tidak cukup rasanya hanya dengan sekian lembar halaman uraian tentang sejarah pembantaian kaum bangsawan Simalungun ini. Tuan Anggi Raya yang dikenal dengan gelar Tuan Pamah (Tuan Pusia Saragih Garingging) memilih harakiri (gantung diri) di kampung Hutadolog Merekraya ketimbang ditangkap BHL. Kita lihat bahwa korban-korban yang jatuh itu adalah top leaders-nya masyarakat adat Simalungun. Masyarakat Simalungun menjadi terkotak-kotak dan mengalami beban sejarah. tetapi juga mereka yang kebetulan posisinya sebagai pejabat sipil. E. bersama Opas Radan Sitopu dan Penilik Sekolah (Schoolopziner) Saulus Siregar. yang banyak mengetahui mengenai adat. . Beliau seorang maestro seni Simalungun yang tidak ada tandingannya sampai hari ini dan perintis pembangunan jalan penghubung Sondiraya-Sindarraya. turut dibunuh Bisa Lingga. Topik ini sangat menarik untuk dikaij oleh sejarawan yang berminat pada masalah perubahan sosial. Orang Simalungun terpaksa harus menjalani hidupnya dengan segala ketertekanan akibat pengaruh revolusi ini. tetapi dibantai juga. Kita melihat bahwa revolusi sosial yang dikatakan dr.[38] Revolusi sosial dilihat sebagai sebagian orang sebagai ajang balas dendam dengan motif-motif pribadi yang berdampak sampai sekarang ini. Bungaronim Damanik. tenaga medis (dokter. Merekamereka ini adalah orang yang sebenarnya tidak ada hubungan darah dengan raja Raya.[37] Sasaran BHL bukan lagi kaum bangsawan.

Tempat itu kemudian diisi orang Karo dan Mandailing dari Tapanuli Selatan. bangsawan Purba yang berhasil lolos dari pembantaian. etnis Karo. Dari kajian ini. telah mengakibatkan orang Simalungun berada dalam posisi terancam dan mereka harus memilih bergabung dengan saudaranya senasib suku Melayu dan Karo penduduk asli Sumatera Timur dalam wadah Negara Sumatera Timur yang mereka proklamirkan tidak lama setelah revolusi itu. Janji itu harus bersama-sama kita perjuangkan. Tuan Madja sendiri dipaksa mundur oleh PKI dari jabatannya sebagai bupati Simalungun dan harus menyerahkannya kepada seorang Batak Toba penganut paham komunis bernama Urbanus Pardede yang telah merampas mobil raja Panei untuk keperluannya pribadi.[39] Seperti disebutkan Tengku Luckman Sinar. Kita menjadi kehilangan identitas. Karo dan Simalungun perlu membuat suatu Seminar Nasional Revolusi Sosial di Sumatera Timur ini. Begitu gampangkah orang Simalungun diagitas dan diprovokasi sampai harus tega membunuh keluarganya sendiri? Rekomendasi: 1.sejarah dan budaya Simalungun. 2. harta benda mereka dikembalikan oleh negara. Melayu dan Simalungun sebagai penduduk asli Sumatera Timur harus bersatu. budaya dan hak-hak adat masyarakat Simalungun. penduduk asli daerah Sumatera Timur. Memang pemerintah pusat melalui KNIP Pusat tidak membenarkan aksi pembantaian itu. jatidiri dan cenderung melarutkan diri dengan identitas lain yang dirasakan aman. Mr. Dalam hal ini PMS dapat melaksanakannya bersama masyarakat Melayu dalam MABMI dan masyarakat Karo dalam Merga Silima. kita sangat kekurangan figur tokoh yang benar-benar mengetahui dan faham benar akan adat. merehabilitasi nama baik mereka yang dituduh . Para menteri seperti Sultan Hamengkubowono IX. 3. kita harus memperjuangkan kepada pemerintah agar mengusut kasus ini secara adil. sejarah. Maria Ulfah Santoso. Sudah saatnya tanggal 3 Maret ini menjadi hari yang pantas kita rayakan sebagai Hari Parmaluonkonni Halak Simalungun. Mrs. orang Simalungun dan Melayu tidak mampu duduk di jajaran penting di perkebunan itu karena kekurangan sumber daya manusia. Pada tahun 1958 sewaktu nasionalisasi perkebunan eks Belanda di Sumatera Timur. sebab mereka memiliki beban sejarah yang sama. Kita juga kehilangan sumber daya manusia yang berkualitas dan ketinggalan dengan suku-suku tetangga. tentara NST yang dikomandani Tuan Djomat Purba. Mohammad Roem dan Mr. Syarifuddin Prawiranegara pernah menjanjikan bahwa para korban revolusi sosial 1946 itu akan dikembalikan kehormatan. Dapat kita pahami analisis Liddle bahwa sebagai dampak revolusi itu. Sebab ketiga penduduk asli Sumatera Timur ini yang banyak menjadi korban pembantaian dan penjarahan serta pembakaran istana-istana kerajaan. mempersenjatai dirinya dan masuk kesatuan Blaw Pijper. Kita dapat merasakan dampaknya sampai hari ini. sangat mengherankan mengapa seorang Saragihras yang jelas punya hubungan keluarga yang sangat dekat dengan “lawei” nya sendiri Tuan Bosar Sumalam raja Panei dengan tega hati membantai dan menjarah isi istana. Simalungun. Melayu dan Karo harus menuntut janji itu dipenuhi oleh pemerintah—yang memang terbukti gagal melindungi para pemerintah swapraja itu—dan kita sebagai pemangku adat Simalungun (PMS) harus berjuang untuk itu demi kehormatan kita sebagai orang Simalungun. Organisasi masyarakat Melayu. Kasus pelanggaran HAM berat ini harus dituntaskan. khususnya Karo dan Toba.

1995.. . 1999. Mohammad. Mailan Purba. Hutasoit. New Haven and London: Yale University Press. Jakarta:Gaya Media Pratama. sebab telah merugikan eksistensi penduduk asli Sumatera Timur. Kenan. Bintan R. 1970. Memoar 80 Tahun St. 4. Reid. 1986. Liddle. 2005. Medan Area Mengisi Proklamasi. 1982. di antara keturunan para korban dan mereka yang terlibat dalam aksi pembantaian itu. D. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Party and National Integration: An Indonesian Case Study . Jakarta: Bina Budaya Simalungun. Naskah Ketikan.Wolfgang. Dasuha. Cornel Southeast Asia Program.). 1970. dan Sinaga.). Medan: Percetakan Waspada. Daftar Pustaka Clauss. 19 Oktober 2010. Harus ada rekonsiliasi di antara masyarakat adat Simalungun. Jakarta: Sardo Sarana Media. Sejarah Simalungun. dan Purba. bila perlu membawa kasus ini ke Amnesti Internasional. “Revolusi Sosial di Kabupaten Simalungun” naskah ketikan. Penegak Hukum. Juandaha Raya Purba . Saragih. Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatra (terj. R. Anthony. sebab kerajaan-kerajaan Simalungun sudah ada jauh sebelum republik ini berdiri. Jakarta: Prenada Media. Tokoh Masyarakat. Darwan Madja (eds. Piotr Sztompka. Saarbrucken Fort Laurderdale: Verlag BreitenbachPublishers. Martin Lukito. 1976. 15. Nainggolan. Arsiip Pribadi. 1973. Jakarta: Sinar Harapan. Indonesia no. Marnixius. Dasuha. Prima. Sehingga kita punya satu persepsi dalam membangun masyarakat Simalungun dan masa depan suku Simalungun ke depan. Tarombo ni Purba Sidasuha. William. 1987. Nursanni. “What was The “Social Revolution of 1946” in East Sumatra”. Hapoltakan. Purba. 80 Tahun Djariaman Damanik: Seorang Ningrat.anti kemerdekaan. arsip Djariaman Damanik. Medan. 2000. Pejuang Kemerdekaan. Economic and Social Change among The Simalungun Batak of North Sumatra. Said. Percikan Revolusi di Sumatera. 1986. Ethnicity. Dja Sarlim Sinaga.. Sosiologi Perubahan Sosial (diterjemahkan Alimandan. 2004. Harta dan hak-hak adat masyarakat adat Simalungun harus dipulihkan kembali.

Pematangsiantar. Sinar. Lingga. Kansi. . “Class and Conflict in Indonesia’s Decolonozation Process: A Study of East Sumatra”. Brosur: Pamatang Raya. J. Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur. Limapuluh. Siantar dan Tanoh Jawa. Percut (Deli). Simeloengoen. [2] Anthony Reid. Cornell Southeast Asia Program. Tanah Karo terdiri atas kerajaan-kerajaan (sibayak): Kutabuluh. Sunggal (Deli). 111. Panei. Indonesia No. Batara Sangti. Sejarah Batak. Becherer Stromdrukkerij. Suka dan Barusjahe. Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera (Jakarta: Sinar Harapan. Raya. 1982. hlm. 1922. [1] Michael van Langenberg. bekerja di Kantor Pusat GKPS Pematangsiantar. “Class and Ethnic Conflict in Indonesia’s Decolonization Process: A Study of East Sumatra’. April 1995. J. Indrapura (Asahan). Indonesia no. Michael. “What was The “Social Revolution of 1946” in East Sumatra?” Transl.Wismar Saragih.   Makalah disampaikan pada Harungguan Bolon DPP Partuha Maujana Simalungun di Auditorim Radjamin Purba USI Pematangsiantar tanggal 22-23 Oktober 2010. hlm. makalah Simposium Pembentukan Propinsi Sumatera Timur. Sinopsis Upacara Pemindahan Makam Tuan Djaulan Kaduk Saragih Garingging. Drs. Tideman. Terakhir Simalungun terdiri atas: Dolog Silou. Pesisir. Native States di Sumatera Timur pada tahun 1945 terdiri dari 12 buah kerajaan-kerajaan Melayu yaitu: Hamparan Perak (Deli). Pematangsiantar. Sarinembah. Bedagai (Deli). by Benedict Anderson and Toenggoel Siagian. Silimakuta. [3] Mohammed Said. Cornel South East Asia Program. 15. Tuan Gindo Hilton Sinaga keturunan Tuan Girsang tinggal di Tigadolok. 1977. “Eksistensi Sumatera Timur dari Sudut Pandang Sejarah dan Budaya”. Tuan St. 1987. Wawancara: Mr. 33. 157-158. Senembah (Deli). van Langenberg. Kamen Purba Dasuha.. Padang (Deli). Sukudua. Simanjuntak. hlm. bekas Raja Muda Sidamanik. Indonesia nomor 33/1982. Penulis adalah Pendeta GKPS. Medan. 2002. Balige: Karl Sianipar Co. suku Simalungun tinggal diJl Pdt. 1. Sukapiring (Deli). 2008. Purba. Tanah Datar. Tengku Luckman. Leiden: H. 1973. putera raja Panei di Pematangsiantar. Tuan Djariaman Damanik di Medan.Saragih.

hlm. [7] Dalam suatu percakapan dengan beliau di rumahnya di makam raja-raja Panei di Pamatang Panei sekitar bulan Maret 2007..3. op. [13] Piotr Sztompka. hlm. . 1976). W. W. diakses 6/8/2010 pukul 1:47 AM. hlm. Mohammad Said dalam Prima lebih positif memandang pembelotan Amir. Liddle. hlm. 628..co. [8] Dalam suatu percakapan di rumahnya di Medan. [16] “Amuk Massal: Dari Awal sampai Akhir Abad ke-20”. [11] R. [9] Wolfgang Clauss. cit. 159. Partisipasi dan Partai Politik Indonesia pada Awal Orde Baru (Jakarta: Grafiti Press.tempo. hlm. Percikan Revolusi di Sumatera (Jakarta: BPK Gunung Mulia.. 28.). Mr. Tideman. Iii. Liddle. volume 1 (Medan: Badan Musyawarah Pejuang Republik Indonesia Medan Area. hlm. 46. 357. [18] Tengku Luckman Sinar.[4] Ibid. www. Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur (Medan. Ethnicity. 1922). lihat juga Prima. 94. Medan Area Mengisi Proklamasi. 2005). [12] R. Simeloengoen (Leiden: Stoomdrukkerij Louis H. tp. [10] J.htm. hlm. hlm. 1992). Sosiologi Perubahan Sosial (diterjemahkan Alimandan) (Jakarta: Prenada Media. [21] Teuku Mohammad Isa (ed. Teuku Mohammad Hasan dari Aceh ke Pemersatu Bangsa (Jakarta: Papas Sinar Sinanti. 54. Sejarah Batak (Balige: Karl Sianipar Company. 363. [6] Batara Santi Simanjuntak. 477. op. Berbeda dengan Tengku Luckman Sinar. [17] Marnixius Hutasoit. hlm. op. 727-728. [20] Prima. cit. 364. hlm. 1982). [15] Biro Sejarah Prima. 1970).. hlm. hlm. Becherer.. 84. hlm. 1977). 2009. hlm.. Economic and Social Change among The Simalungun Batak of North Sumatra (Saarbrucken Fort Laurderdale: Verlag BreitenbachPublishers. 219. cit. [5] Anthony Reid.. [14] Ibid. hlm. 40. 188. 1986). Party and National Integration: Indonesian Case Study (New Haven and London: Yale University Press.id/ang/min/01/50/nas. hlm. 2008). 1999). [19] Ibid.

Djariaman Damanik bertemu dengan A. Saragihras yang pasukan BHL-nya mundur ke Tapanuli. Sewaktu di Dolok Sanggul Tapanuli. Pada zaman Belanda. 2000). 497. [26] Mohammad Said. 98. op. Tuan Sidahapittu Girsang. hlm. [24] Tengku Luckman Sinar. Gindo Sinaga). hlm. Tahun 1940 Girsang Sipanganbolon jadi satu distrik berkedudukan di Parapat dikepalai putera mahkota Kerajaan Siantar Tuan Sarmahata Damanik (anak raja Siantar T. Djariaman.112. [33] Bintan R. 29-30. 1995). cit. Tuan Sidasuhut Sipanganbolon. [29] Prima. cit. T. op. Girsang pada zaman Belanda dipimpin oleh Raja Na Onom yaitu: Tuan Sidasuhut Girsang (Tuan Kaha) yaitu Ompu Ranjo (leluhur dr. hlm. sedangkan dagingnya dibagikan kepada seluruh rakyat yang hadir untuk disantap bersama. Pejuang Kemerdekaan.. . 292. Tuan Porti Girsang. hlm. [30] Informasi via telepon dengan Tuan Kamen Purba Dasuha dari Jakarta. Ketika ditanyakan seputar revolusi itu. Informasi dari Tuan Gindo Hilton Sinaga dari Tiga Dolog. Kedudukan raja berada di Pamatang Tanoh Jawa dibantu oleh partuanon-partuanon. 638. hlm. Maruahal Sinaga dan T. hlm. T... [23] Ibid. 30-40.. Purba Tambak. 1982). Penegak Hukum dan Tokoh Masyarakat (Jakarta: Gaya Media Pratama. cit. 184. Kenan Purba. hlm. Tuan Sidahapittu Sipanganbolon dan Tuan Porti Sipanganbolon. E. [34] Ibid. Sangnaualuah Damanik). yang tanduknya disangkutkan di Tiang Nanggar Rumahbolon sebagai tanda pelantikan seorang raja. op. B. op. Saragihras tidak ingin membicarakannya lebih dalam. [35] T. cit. 44. hlm. 18 Oktober 2010. hlm. distrik Tanoh Jawa terdiri dari Dolog Panribuan di Tigadolog. Sejarah Simalungun (Pematangsiantar: Percetakan HKBP. [25] Tengku Luckman Sinar. Dia hanya bertanya tentang keadaan keluarga T. Jorlang Hataran di Tigabalata dan Bosar Maligas di Pasarbaru... A. [27] D. 296.[22] Prima.. op. hlm. cit. Purba. Tuan Girsang yang membawa “horbou panraja”. Saragih dan Darwan M. [31] Immanuel. Agustus 2001. [28] Mohammad Said. [32] Kerajaan Tanoh Jawa meliputi wilayah terluas di seluruh Simalungun. Pada saat pelantikan raja di Tanoh Jawa. op. 184. hlm.. cit. hlm. Wilayah Girsang Sipangan Bolon masuk dalam wilayah partuanon Jorlang Hataran. 80 Tahun Djariaman Damanik: Seorang Ningrat. 491. Sejarah Simalungun (Jakarta: Bina Budaya Simalungun.

6. Dasuha dan Martin L. [38] Liddle. Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Sastra USU. hal. Wilayah Onderafdeeling Simalungun pada zaman pemerintah Hindia Belanda. William. ^ a b Patologi Sebuah Revolusi: Catatan Anthony Reid tentang Revolusi Sosial di Sumatera Timur Maret 19461. Cornell University Press. 2004). Dja Sarlim Sinaga yang sudah bergabung dengan Pesindo ikut ditangkap saat sedang bekerja di sawah oleh dua orang BHL (beliau tidak mau menyebut nama) dan ditahan di Sondiraya. Di dalam tahanan rakyat itu. Raja Panei Tuan Bosar Sumalam Purba Dasuha. 1) Kerajaan Silimakuta 2) Kerajaan Dolog Silou 3) Kerajaan Purba 4) Kerajaan Raya 5) Kerajaan Panei 6) Kerajaan Siantar dan 7) Kerajaan Tanoh Jawa.blogspot. 2003 (cetak pertama 1952). Raja-raja Simalungun.com/riwayat-kerajaan-simalungun. Foto Dr P Voorhoeve. Tichelman (1930) Steenplastiek in Simeloengoen. Sinaga. 25. Pamatangraya.html ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Referensi 1. 1930. dia ditahan bersama adiknya dan Parudo Girsang yang lebih dulu ditangkap. [39] Kansi Saragih. Ethnicity. ^ Revolusi Sosial di Sumatra Timur oleh Fandy Harwinanto .com/revolusi-sosial-berdarah-di-simalungun-tahun-1946. hlm. Edisi No. Party and National Integration: An Indonesian Case Study (New Haven and London: Yale University Press. 1970). Pemangku raja Siantar Tuan Sawadim Damanik. Dia diinterogasi seputar aktifitasnya di politik. ^ Sejarah Kabupaten Karo [3] 5. 23/Tahun XI/Januari 2007 [2] 4. 2002. Kiri-Kanan. ^ Nationalism and Revolution in Indonesia. Sumber: G. Memoar 80 Tahun St. Raja Purba Tuan Mogang Purba Pakpak dan Raja Silimakuta Tuan Padiraja Purba Girsang. George McTurnan Kahin. [37] Juandaha Raya P.com/2011/10/revolusi-sosial-berdarah-di-simalungun. L. Raja Dolog Silou Tuan Ragaim Purba Tambak. ISBN 0-87727-734-6 2. 1995. ^ Kalender Peristiwa 6 Oktober 1945 Sejarah TNI [1] 3. Wara Sinuhaji. hlm. makalah Simposium Pembentukan Propinsi Sumatera Timur.[36] Sinopsis Pemakaman Kembali Tuan J. Historisme. hlm. R. 1-4.412. dan dia meyakinkan penculik bahwa dia adalah republikein. Pematangsiantar. “Eksistensi Sumatera Timur dari Sudut Pandang Sejarah dan Budaya”. Sumber dari : http://simalungunonline. Kaduk Saragih Garingging. Raja Raya Tuan Gomok Saragih Garingging. 1930 dalam KITLV Kerajaan-kerajaan Simalungun. Dja Sarlim Sinaga (Jakarta: Sardo Sarana Media.html http://tondangmargana. 54. Akhirnya berkat pertolongan Tarianus Sigumonrong (ayah Mansen Purba) dia pun dibebaskan.html http://simalungunonline. Raja Tanoh Jawa Tuan Sangma Sinaga. hlm.

m.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Sosial_Sumatera_Timur .Situs : http://id.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->