Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MATA KULIAH ENTOMOLOGI

KEMAMPUAN SERANGGA MEMPERTAHANKAN DIRI DARI KONDISI SULIT ATAU TIDAK MENGUNTUNGKAN

DISUSUN OLEH : ARTHANUR RIFQI H. SAYEKTI KURNIA R. H0708057 H0709107

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

A. PENDAHULUAN

Melihat ukuran serangga yang relatif kecil menumbuhkan keraguan akan kemampuan mereka bertahan terhadap berbagai hambatan dan gangguan dari lingkungan. Akan tetapi, Tuhan memang Maha Adil. Di balik ukurannya yang kecil, serangga menyimpan banyak kemampuan untuk menjadi kuat dan mampu bertahan di alam. Kemampuan ini disebut dengan kemampuan adaptasi. Salah satu factor adaptasi yang menyebabkan serangga mampu hidup di kondisi lingkungan cuaca yang ekstrim adalah sifat poikilotherm atau berdarah dingin yang mengalir di dalam tubuhnya. Darah yang sebenarnya hemolimfa ini, akan menjadi dingin jika kondisi suhu di luar juga dingin, dan sebaliknya. Dengan demikian, tubuh serangga tidak akan menghadapi perbedaan suhu yang menyolok dengan suhu di luar tubuhnya. Ukuran badan serangga yang relatif kecil juga menyebabkan kebutuhan makannya relatif sedikit dan lebih mudah memperoleh perlindungan terhadap serangan musuhnya. Kemampuan reproduksi serangga juga lebih besar dan cepat, serta keragaman genetik yang lebih besar. Dengan kemampuannya untuk beradaptasi ini, banyak jenis serangga hama tanaman budidaya yang mampu dengan cepat mengembangkan sifat resistensi terhadap insektisida. Walaupun ukuran badan serangga relatif kecil dibandingkan dengan vertebrata, kuantitasnya yang demikian besar menyebabkan serangga sangat berperan dalam biodiversity (keanekaragaman bentuk hidup) dan siklus energi. Ukuran tubuh serangga bervariasi dari mikroskopis seperti Thysanoptera, hingga yang besar seperti walang kayu. Dalam suatu habitat di hutan hujan tropika diperkirakan, dengan hanya memperhitungkan serangga sosial (jenis-jenis semut, lebah dan rayap), peranannya dalam siklus energi adalah 4 kali peranan jenis-jenis vertebrata.

B. PEMBAHASAN

1. Faktor-Faktor yang Mendukung Kemampuan Serangga untuk Bertahan dari Goncangan Lingkungan a. Eksoskeleton Tubuh serangga diselubungi oleh lembaran kutikula yang disebut sklerit, yang bersama epidermis membentuk kerangka, dikenal dengan nama kerangka luar (eksoskeleton). Kutikula serangga didominasi oleh senyawa kitin, sebuah senyawa polisakarida yang tersusun dari Nasetilglukosamin, protein, lemak (lipida), dan katekolamin. Lemak ini diyakini mampu menahan senyawa-senyawa kimia (terutama yang berbentuk cair) agar tidak masuk ke dalam tubuh serangga, di samping sebagai alat pertahanan terhadap musuh alami. Contoh, larva kupu-kupu Ithomiine Mechanitis polymnia mempunyai kelulus hidupan larva mencapai 80% dari pemangsaan oleh musuh alaminya, disebabkan oleh adanya kandungan zat lemak kutikular pada lembaran kerangka luarnya yang mirip dengan zat pada tanaman inangnya. Dengan demikian, musuh alami akan kesulitan menentukan keberadaan sang larva, melalui mekanisme yang disebut pengaburan (kamuflase) atau pengalihan perhatian. Skeleton ini juga berfungsi sebagai tempat perlekatan alat-alat dalam, pelindung alat dalam yang lemah, dan pengatur transportasi air ke dalam maupun ke luar tubuh. Kutikula serangga bahkan dibuktikan mempunyai aktivitas pertahanan terhadap mikroorganisme yang berpotensi bahaya. Ketika dilakukan pemaparan bakteri Bacillus licheniformis dan Enterobacter cloacae pada kutikula larva Bombyx mori, senyawa peptida antibakteri cecropin segera terbentuk setelah itu. Hal ini menunjukkan bahwa kutikula secara aktif berperan sebagai benteng pertahanan terhadap serangan mikroorganisme, misalnya bakteri. Meskipun tampak kaku, namun serangga terbukti mampu mempertahankan keluwesan dalam bergerak. Hal ini disebabkan oleh

adanya membran antar ruas yang menghubungkan lembaran-lembaran sklerit, sehingga memungkinkan berlangsungnya pergerakan yang luwes. b. Ukuran tubuh kecil Ukuran tubuh serangga yang relatif kecil ternyata menguntungkan dari segi efisiensi penggunaan sumber pakan, sekaligus membantu mereka untuk menghindar dari jangkauan musuh-musuhnya. Cobalah untuk mengamati perilaku kecoa yang berusaha untuk menghindari manusia. Kecoa tersebut memanfaatkan tubuhnya yang pipih untuk bersembunyi di balik perkakas sehingga menyulitkan manusia untuk menjangkaunya. c. Kemampuan reproduksi tinggi dan siklus hidup pendek Serangga mampu menghasilkan keturunan dalam jumlah banyak. Kemampuan ini menjadikan serangga mampu menyesuaikan diri dengan cepat terhadap lingkungan barunya. Beberapa spesies serangga, misalnya kutu daun bahkan mampu memperbanyak individunya tanpa melalui proses perkawinan, (partenogenesis). Nimfa kutu daun yang baru dilahirkan (kutu afid tanpa pejantan tidak bertelur, namun melahirkan keturunannya atau vivipar) bahkan sudah mampu menghasilkan keturunan, dan disebut telescoping generation. Individu kasta pekerja dari koloni lebah madu Afrika, Apis mellifera capensis mampu menghasilkan telur yang bersifat diploid secara partenogenesis yang dapat berkembang menjadi ratu yang baru, jika ratu sebelumnya mati, sehingga menguntungkan keberlanjutan proses-proses di dalam koloni. Beberapa spesies dari empat famili tawon parasitoid, yaitu Braconidae, Platygasteridae, Encyrtidae, dan Dryinidae mempunyai kemampuan menghasilkan banyak individu dari sebuah telur yang dibuahi, disebut poliembrioni. Beberapa penelitian juga membuktikan bahwa kemampuan serangga untuk berkembang menjadi resisten terhadap pestisida, salah satunya dipicu oleh kemampuan reproduksi yang tinggi dan siklus hidup yang pendek.

Gambar 1. Kutu afid, Aphis craccivora d. Metamorfosis Metamorfosis diartikan sebagai perubahan bentuk dan ukuran tubuh selama kurun waktu tertentu. Perubahan bentuk ini dianggap sebagai salah satu keuntungan yang dimiliki serangga dalam kaitannya dengan adaptasi terhadap lingkungan, misalnya penimbunan pakan (oleh larva), sekaligus pergerakan untuk mencari sumber pakan, pasangan kawin, dan penghindaran terhadap risiko termangsa (oleh imago atau dewasa). Kemunculan calon kupu-kupu akan dimulai dari upaya sang induk mencari tempat yang tepat bagi sang calon individu baru. Dalam hal ini, sang induk berperan menghasilkan bakal calon individu baru, sekaligus mencarikan tempat hidup yang memenuhi syarat. Selanjutnya, di tempat yang sudah ditentukan oleh sang induk, maka telur akan menetas menjadi larva yang dari waktu ke waktu tidak berhenti makan untuk menimbun zat-zat penting yang dibutuhkan pada proses pembentukan individu dewasa. Dengan kata lain, keberhasilan larva dalam mengumpulkan zat-zat penting tersebut menentukan keberhasilan tahap hidup selanjutnya, yaitu pupa dan imago (serangga dewasa). e. Sayap Pada serangga, sayap adalah alat pendukung kehidupan yang sangat penting. Sayap digunakan untuk berpindah tempat, melindungi diri

dari ancaman dan gangguan lingkungan, termasuk dari potensi pemangsaan oleh musuh alaminya. Pada Kupu-kupu Raja (Monarch Butterfly), Danaus plexippus (Lepidoptera: Danaidae), yang hidup di Amerika Utara, sayap digunakan untuk melakukan perpindahan tempat (migrasi). Pada musim dingin mereka berpindah dari daerah asal di Amerika Utara (termasuk Kanada) ke bagian selatan yang lebih hangat, misalnya di wilayah selatan-tengah Meksiko, atau Kuba. Setelah musim semi tiba, mereka akan terbang pulang ke daerah asalnya di bagian utara Amerika. Jarak yang mampu mereka tempuh tercatat sampai 4.000 km. Beberapa contoh serangga lain yang memanfaatkan sayapnya untuk melakukan migrasi adalah kutu afid, dan wereng coklat. Beberapa jenis belalang sembah (ordo Mantodea) menggunakan sayapnya sebagai alat untuk menyamarkan keberadaannya di antara dedaunan. Pada capung, sayap digunakan untuk mendukung aktivitasnya dalam menangkap mangsa. f. Kekuatan tubuh yang luar biasa Menurut pengamatan, semut mampu mengangkat beban yang bobotnya kurang lebih 50 kali bobot tubuhnya. Ukuran serangga yang kecil justru meningkatkan potensi kekuatan ototnya, disebabkan semut tersebut hanya mengangkat tubuhnya yang berukuran kecil, sehingga ototnya dapat digunakan untuk mengangkat benda lain selain tubuhnya sendiri. Serangga lain, yaitu kumbang scarabid Onthophagus taurus telah diuji, dan terbukti mampu menarik benda seberat 1.141 kali bobot tubuhnya sendiri, atau kira-kira sama dengan manusia dewasa yang menarik enam bus bertingkat yang terisi penuh penumpang. 2. Kemampuan Serangga dalam bertahan pada Suhu Dingin Serangga mampu bertahan hidup di wilayah Antartika yang cuacanya lebih dingin dibanding Arktik. Kondisi Antartika sangat keras, sehingga tidak ada satu pun hewan darat besar yang hidup di sana. Namun, beberapa

serangga kecil dan laba-laba dapat hidup dan berkembang di tepi laut Antartika. Mereka dianggap sebagai salah satu makhluk hidup yang paling kuat bertahan di dunia. Serangga dapat ditemukan di berbagai habitat dan mampu beradaptasi dalam beberapa kondisi ekstrim seperti daerah yang sangat dingin seperti Antartika. Pada saat musim salju banyak serangga hidup dan berkembang, tetapi banyak juga yang berdiapause dalam bentuk larva dan pupa. Serangga yang bertahan di musim salju dan tidak berdiapause, mempunyai gliserol (glycerol) dalam tubuhnya yang berfungsi sebagai anti freezing

(Tarumingkeng, 1994). Diapause adalah fase ketika organisme berhenti berkembang dan terjadi pada siklus tahunan. Diapause adalah pelambatan perkembangan sebagai tanggapan terhadap kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, misalnya suhu yang ekstrim atau ketersediaan pakan yang minim. Oleh karena itu, pada kondisi ekstrim, serangga masih mampu bertahan hidup dengan mengurangi (atau meminimalkan) proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya, sehingga kebutuhan pakan dapat dikurangi. Diapause pada serangga adalah fenomena yang unik yang biasanya terjadi pada serangga yang hidup di lingkungan yang tidak cocok atau daerah yang mempunyai periode dingin yang relatif panjang. Serangga melakukan adaptasi demikian agar mampu menyelesaikan siklus hidupnya. Faktor-faktor yang mengakibatkan diapause antara lain fotoperiodisme, temperatur, dan kualitas makanan. Serangga mempunyai waktu diapause yang bervariasi dan bergantung pada spesiesnya. Berdasarkan peristiwa terjadinya diapause dibagi atas diapause obligatif dan diapause fakultatif. Diapause dapat dihentikan dengan cara didedahkan pada temperatur yang rendah dalam periode waktu tertentu. Perubahan temperatur di sekitar larva dipengaruhi oleh kelembaban. Temperatur adalah faktor utama yang sangat erat kaitannya dengan sala uap air sebagai pengendali panas dengan cara menangkap dan melepaskan (buffer) panas tersebut.

Di daerah subtropika, pada spesies univoltine (satu generasi per tahun), diapause obligat sering terjadi. Sedangkan untuk spesies multivoltine, diapause fakultatif mungkin terjadi. Ada juga jenis serangga yang mengalami quiescene, yang merupakan respon sementara terhadap kondisi yang kurang menguntungkan seperti kekeringan atau temperatur rendah. Ketika musim dingin, cuaca akan menjadi sangat dingin bagi para serangga untuk aktif, dan untuk itu mereka bertahan hidup sebagai telur atau larva di es atau daratan yang membeku. Ketika musim semi datang dan es mencair kembali, telur atau larva itu akan menetas dalam jumlah yang amat besar, dan memakan tumbuh-tumbuhan yang tumbuh subur di cuaca hangat. Kebanyakan serangga akan lesu pada suhu rendah. Namun ternyata ada juga beberapa serangga yang tetap giat dan hidup subur di daerah es. Seperti yang ditemukan oleh para ilmuwan di salah satu gletser daerah Himalaya. Serangga itu disebut agas gletser. Tubuhnya tahan dingin dan tetap giat pada suhu di bawah titik beku. Bahkan adaptasinya terhadap cuaca dingin sangat baik sehingga serangga ini justru tidak tahan panas dan mati apabila dipegang tangan manusia. Sayap agas telah mengecil sehingga tidak dapat terbang. Agas gletser berjalan di atas salju dan es. Larva dan pupanya yang sedang tumbuh, hidup di aliran tempat lelehan salju yang mengalir. Larvanya memakan ganggang dan bakteri. Selain agas gletser, ada lagi serangga yang lain, yaitu capung jangkung dan capung batu. Kedua serangga ini memakan ganggang dan bahan organik lain di salju dan bertelur di situ. Capung batu tumbuh dan mencapai kematangan di air dingin di bawah salju. Capung ini giat pada suhu serendah 500C, tetapi tidak dapat hidup di atas suhu 2000C. Serangga semacam itu dapat tetap giat pada suhu rendah berkat bahan kimia antibeku di dalam cairan tubuhnya. Zat antibeku alam Sel hidup akan mati kalau membeku. Sebabnya ialah kalau menjadi es, air di dalam sel akan mengembang sehingga akan menghancurkan selaput sel. Beberapa serangga dapat hidup di iklim beku karena mempunyai zat antibeku

alam yang disebut gliserol di dalam cairan tubuhnya. Sel serangga ini tidak beku sampai suhunya turun hingga -2000C. Sel-sel yang terlindung ini mengeluarkan cairan sehingga esnya terbentuk di luar sel, bukan di dalam sel. Sebagai perlindungan lebih lanjut bagi selaput ini, gliserol di dalam cairan ini menyebabkan kristal es terbentuk tanpa ujung menggerigi yang dapat merusak sel. Mengenai ketahanan gliserol ini, ada yang lebih hebat lagi. Seperti serangga kupu kubis, di mana pada musim dingin menjadi pupa. Di dalam cairan tubuhnya terdapat gliserol yang tahan pada suhu -3000C.

Gambar 2. Sel tahan dingin dan sel biasa 3. Kehidupan di gua Kehidupan serangga yang ekstrim dan sangat menarik adalah di tempat yang gelap total (troglobites), misalnya di dalam gua. Biasanya serangga tak bermata, namun dikompensasi dengan antena, tungkai, dan rambut perasa yang ramping dan panjang. Di Australia terdapat ratusan serangga di gua yang gelap total, contohnya adalah kecoa tanpa mata Trogloblatella nullarborensis (Blattidae: Blatellidae). Kecoa bernapas melalui ventilator di seluruh tubuhnya dan otak tidak mengontrol fungsi ini. Kecoa tidak memiliki tekanan darah seperti pada mamalia dan tidak akan bleed out dan sebagai seekor hewan berdarah dingin, hanya dengan makanan yang sedikit seekor kecoa dapat bertahan hidup sebulan penuh. Kecoa tanpa kepala dapat bertahan hidup cukup lama bahkan sampai 9 hari.

Selain itu ada juga serangga yang bersifat trogloxene yaitu menggunakan gua sebagai tempat hidup sementara, seperti jenis capung tertentu di Afrika yang hidup di gua pada siang hari. 4. Kondisi Perairan dan kekeringan (Desiccation) Pada kondisi perairan air tawar, banyak serangga beradaptasi dengan terjadinya modifikasi fisik serangga untuk hidup di air, seperti pada larva nyamuk, naiad capung dan kumbang air. Beberapa jenis serangga ada yang memiliki insang (tracheal gill) untuk adaptasi dalam air. Sejenis lalat (Diptera: Gerridae) mempunyai tungkai yang termodifikasi untuk berjalan di atas permukaan air, dan banyak juga ditemukan serangga yang memiliki tungkai seperti dayung untuk berenang di air. Untuk kondisi perairan laut, serangga banyak yang hidup di pantai dan tahan air laut atau menggunakan laut untuk sarana migrasi, misalnya dari Ujung Kulon ke Krakatau. Sedangkan untuk perairan laut dalam tidak ada serangga yang hidup. Selain bisa hidup di daerah perairan, beberapa serangga melakukan Cryptobiosis, yaitu istilah untuk mekanisme pertahanan hidup (survival) suatu organisme, termasuk dalam kondisi tanpa air sedikitpun, seperti sejenis larva nyamuk (Diptera: Chironomidae) yang dapat hidup tanpa air sedikitpun dalam tubuhnya dan bertahan di suhu sekitar 100oC sampai -270oC, serta masih bertahan direndam di ethanol absolut atau glycerol selama seminggu. Salah satu contoh serangga yang mampu bertahan di alam dengan kondisi ekstrim adalah larva chironomid, Polypedilum vanderplankei yang tahan terhadap kekeringan dan suhu ekstrim (-270 sampai 102C). Bahkan larva yang sudah dalam keadaan kering selama 10 tahun mampu hidup kembali ketika dicelupkan ke dalam air.

PENUTUP Serangga adalah jenis makhluk hidup yang memiliki keragaman dan jumlah terbanyak di bumi. Meskipun kecil, serangga memiliki tingkat pergerakan yang tinggi, disertai kemampuan adaptasi yang baik. Kemampuan adaptasi yang baik ini membuat serangga dapat bertahan pada kondisi hidup yang tidak menguntungkan atau sulit. Faktor-faktor yang membuat daya adaptasi serangga baik adalah : Rangka luar (eksoskeleton) yang melindungi serangga dari kematian akibat senyawa-senyawa kimia lain. Ukuran tubuh yang kecil, memudahkan dalam melarikan diri dari predator. Kemampuan reproduksi tinggi dan siklus hidup pendek, sehingga mampu mempertahankan populasi. Metamorfosis pada serangga tertentu Bentuk sayap yang membantu dalam migrasi ketika cuaca tidak lagi mendukung untuk bertahan hidup Kemampuan diapause dan zat anti beku (glycerol) yang membuat serangga-serangga tertentu dapat bertahan pada suhu dingin. Modifikasi fisik yang disesuaikan dengan habitatnya. Cryptobiosis, yang memungkinkan bagi serangga untuk bertahan hidup pada kondisi lingkungan yang kering atau kekurangan air.

DAFTAR PUSTAKA

Dockx, C., L.P. Brower, L.I. Wassenaar, & K.A. Hobson. 2004. Do North American Monarch Butterflies Travel To Cuba? Stable Isotope And Chemical Tracer Techniques. Ecological Application 14: 1106-1114. Garland, M.S., & A.K. Davis. 2002. An Examination Of Monarch Butterfly (Danaus Plexippus) Autumn Migration In Coastal Virginia. American Midland Naturalist 147: 170-174. Hinton, H. E., 1960. A Fly Larva That Tolerates Dehydration And Of Temperatures Of -270 C 102 C. Nature 188: 333-337. Narwan. 2011. Serangga Hidup di Es. http://sutopatilima.blogspot.com/ p/pengetahuan-umum.html. Diakses pada tanggal 8 April 2012. Portugal, A.H.E., & J. R. Trigo. 2005. Similarity Of Cuticular Lipids Between A Caterpillar And Its Host Plant: A Way To Make Prey Undetectable For Predatory Ants? Journal of Chemical Ecology 31: 2551-2561. Putra. 2011. Ketahanan Polypedilum Vanderplanki Terhadap Kondisi Kering Ekstrim. http://majalahserangga.wordpress.com/2011/11/12/ketahanan polypedilum-vanderplanki-terhadap-kondisi-kering-ekstrim/. Diakses pada tanggal 6 April 2012. Tarumingkeng, PhD, Rudy C. 1994. Dinamika Populasi. Pustaka Sinar Harapan