Anda di halaman 1dari 26

FREKUENSI KEJANG DEMAM SEDERHANA PADA ANAK PERIODE 1 JANUARI 2000 31 DESEMBER 2001DI RSU PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

A Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Derajat SarjanaKedokteran Universitas Muhammadiyah YogyakartaDisusun oleh : Bambang Utoyo99310027 FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA MOTTO Sesungguhnya Allah tidak akanmerubah keadaan suatu kaumsehingga mereka merubahkeadaan yang ada dalam dirimereka sendiri .(QS. Ar-Rad [13] : 11) DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL....iHALAMAN PENGESAHAN.iiHALAMAN MOTTOiiiHALAMAN PERSEMBAHANiiiKATA PENGANTARivDAFTAR ISI..viDAFTAR TABEL.viiiINTISARI ixBAB I PENDAHULUAN1.1.Latar Belakang..11.2.Perumusan Masalah..31.3.Tujuan Penelitian..4BAB II TINJAUAN PUSTAKA Definisi Kejang Demam52.2. Angka Kejadian.52.3. Klasifikasi Kejang Demam..72.4. Etiologi Kejang Demam..122.5. Patofisiologi Kejang Demam..152.6. Manifestasi Klinis Kejang Demam.172.7. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium..182.8. Perbedaan Kejang Demam dan Epilepsi.192.9. Penatalaksanaan Kejang Demam202.9.1. Terapi pada fase akut...202.9.2. Pengobatan Profilaksis Terhadap Kambuhnya KejangDemam22BAB III CARA PENELITIAN3.1. Subyek penelitian273.2. Pengukuran hasil penelitian273.3. Pelaksanaan penelitian283.3.1. Pengumpulan data283.3.2. Teknik pengolahan data..28BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN4.1. Hasil Penelitian...294.2. Pembahasan.31BAB V KESIMPULAN DAN SARAN5.1. Kesimpulan.37

5.2. Saran...38DAFTAR PUSTAKA40LAMPIRAN ...42 DAFTAR TABEL Tabel 1. Penyebab demam pada 297 penderita kejangdemam.............14Tabel 2. Data penderita kejang demam sederhana pada anak di RSU PKUMuhammadiya Yogyakarta tahun 2000..29Tabel 3. Data penderita kejang demam sederhana pada anak di RSU PKUMuhammadiyah Yogyakarta tahun 200130Tabel 4. Distribusi frekwensi kejang demam sederhana pada anak di RSU PKUM u h a m m a d i ya h Y o g ya k a r t a t a h u n 2 0 0 0 2001 berdasarkan v a r i a b e l umur31Tabel 5. Distribusi frekwensi kejang demam sederhana pada anak di RSU PKUMuhammadiyah yogyakarta tahun 2000-2001 berdasarkan variabel jeniskelamin33 Tabel 6. Distribusi frekwensi kejang dema m sederhana pada anak di RSU PKUMuhammadiyah Yogyakarta tahun 2000-2001 berdasakan variabel suhutubuh dengan metode Group statistics35 INTISARI Kejang demam merupakan salah satu kejadian neurologis yang s e r i n g d i j u m p a i p a d a b a yi d a n a n a k . D a r i p e n e l i t i a n o l e h b e r b a g a i p a k a r d i d a p a t k a n bahwa sekitar 2,2%-5% anak pernah mengalami kejang demam sebelum merekamencapai usia 5 tahun. Peneliti di Jepang bahkan mendapatkan angka kejadianyang lebih tinggi, Maeda dkk,1993, mendapatkan angka 9,7% (pada pria 10,5%dan wanita 8,9%) dan Tsuboi mendapatkan angka sebesar 7%.Dari permasalahan yang terpapar bahwa tingginya frekuensi kejadian k e j a n g d e m a m y a n g t e r j a d i d i m a s y a r a k a t , d i m a n a o b y e k d a r i k e j a n g d e m a m adalah bayi dan anak-anak dan sering terjadi pengulangan serangan (kambuh)kejang demam, menyadarkan penulis untuk membahas tentang frekuensi kejangdemam sederhana pada anak yang terjadi di masyarakat. Subyek penelitian yang digunakan adalah anak yang menderita kejang demam sederhana yang dirawat di bangsal anak RSU.PKU Muhammadiyah Yogyakarta .Data penelitian diperoleh dari sub bagian rekam medis RSU.PKU Muhammadiyah Yogyakarta dari tanggal1 januari 2000 31 desember 2001.F r e k u e n s i k e j a n g d e m a m s e d e r h a n a y a n g t e r j a d i d i R S U P K U Muhammadiyah Yogyakarta dalam kurun waktu antara tahun 2000 sampai tahun2001 adalah sebagai berikut: pada tahun 2000 berdasarkan kelompok umur anak yaitu umur < 1 tahun 62 orang (49,2%), umur 1-4 tahun 49 orang (38,9%), padat a h u n 2 0 0 1 u m u r < 1 t a h u n 6 8 o r a n g ( 4 4 , 4 % ) , u m u r 1 - 4 t a h u n ( 4 7 , 1 % ) . Berdasarkan kelompok suhu badan anak pada tahun 2000 adalah 38,568 o C d a n tahun 2001 adalah 38,791 o

C. Sementara itu berdasarkan kelompok jenis kelaminanak tahun 2000 pada anak lakilaki 69 orang (54,8%) dan anak perempuan 57orang (45,2%), tahun 2001 pada anak laki-laki 88 orang (57,5%) dan pada anak perempuan 65 orang (42,5%).D a l a m p e n a n g a n a n k e j a n g d e m a m s e d e r h a n a s a n g a t d i s a d a r i b a h w a perlunya pengetahuan pada orang tua atau pengasuh anak tentang penatalaksanaan p e n a n g a n a n k e j a n g d e m a m s e d e r h a n a s e h i n g g a d a p a t d i l a k u k a n p e r t o l o n g a n secara cepat dan tepat, mencegah dan mengurangi angka kejadian kejang demamsederhana.Kata kunci : Kejang Demam Sederhana, umur, suhu badan, jenis kelamin ABSTRACT Febris convulsion is one of the neurological symptom that u s u a l l y happens to babies and children. From scientists reseaches, it can be known thatapproximately 2,2%-5% of children have had febris convulsion before their age of 5 year. The Japanese scientists said that theres higher incidence o f f e b r i s convulsion, Maeda et al,1993 found that the incidence of 9,7% febris convulsion(10,5% are men and 8,9% are women) and Tsuboi got the percentage of 7%.W e know that theres a problem about the high frequency of f e b r i s convulsion in our community, as the object of f ebris convulsion are babies andchildren, and theres a febris convulsion recurrency. It gives an idea to us to studyabout the incidence of simple febris convulsion in our community. The subject of t h i s study is the children that suffered from simple febris convulsion in t h e children unit of RSU PKU Muhammadiyah, Yogyakarta, during January 1 st , 2000 December 31 st , 2001.The prequency of simple febris convulsion in RSU PKU Muhammadiyah,Y o g y a k a r t a , d u r i n g t h e y e a r 2 0 0 0 - 2 0 0 1 a r e : i n t h e ye a r o f 2 0 0 0 , b a s e d o n t h e group of age < 1 year old (62 children or 49,2 percent), 1-4 years old (49 childrenor 38,9 percent). In the year of 2001, based on the group of age are < 1 years old(68 children or 44,4 perceent), 1-4 years old (72 children or 47,1 percent). Basedon the group of childrens body temperature in the year of 2000 are 38,568 o C andin the year of 2001 are 38,791 o C. based on childrens sex, in the year of 2000 are69 boys (54,8 percent) an 57 girls (45,2 percent). In the year of 2001 are 88 boys(57,5 percent) and 65 girls (42,5 percent).In the treatment of simple febris convulsion , we must aware that we needto tell about enough knowledge about this symptom to the parents and the babysitters. We can tell them about the treatment of simple febris convulsion, so wec a n h e l p t h e children who are suffering from febris convulsion exactly and q u i c k l y , and we can prevent and decrease the incidence of simple f e b r i s convulsion.Keywords : simple febris convulsion, Age, Body temperature, Sex BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar Belakang Bahwa anak dapat mengalami kejang demam bila menderita demam telahlama di ketahui. Hipocrates, Pakar ilmu kedokteran asal Yunani yang hidup padaa b a d k e e m p a t s e b e l u m M a s e h i a n t a r a l a i n p e r n a h m e n u l i s : k e j a n g d a p a t terjadi pada anak bila terdapat demam akut sampai usia 7 tahunanak yangl e b i h t u a d a n o r a n g d e w a s a t i d a k s a m a m u d a h n ya d i c e k a m s e r a n g a n k e j a n g , kecuali bila sebelumnya terdapat kelainan yang lebih parah dan buruk(Lumbantobing, 1995).O r a n g

tua manapun biasanya panik bila tiba-tiba anak b a l i t a n y a mengalami stuip atau kejang demam. Pada umumnya mereka mencari sendok makan yang di balut sapu tangan bersih, lalu gagang sendok tersebut di selipkandiantara gigi atas dan bawah, dengan tujuan agar jalan nafas terbuka dan lidah sianak tidak tergigit sewaktu kejang. Upaya lain, menurunkan suhu badan denganc a r a m e n g o l e s k a n c a i r a n a l k o h o l k e b a g i a n d a d a , t e n g k u k d a n d a h i s i a n a k . Sedangkan secara tradisional dengan mengoleskan tumbukan bawang merah dicampur jeruk nipis dan sedikit minyak kayu putih pada dada serta perut si anak.Menurut Dwi P Widodo, 2001, tindakan awal yang mesti di lakukan apabila anak terkena kejang demam adalah menempatkan anak pada posisi miring, tidak perlu memasukan apapun diantara gigi, sedangkan menurut M.V Ghozali, 2001, anak yang sedang demam tinggi jangan di selimuti dengan selimut tebal, karena malaha k a n m e n a m b a h d e m a m n y a a k i b a t p e m b e b a s a n p a n a s d a r i d a l a m t u b u h terhambat, selain itu pakaian yang kencang hendaknya di lepaskan.Mengoleskan alkohol juga bisa menurunkan demam, tet api kurang di anjurkank a r e n a d i k h a w a t i r k a n b i s a m e n g e n a i m a t a . B a g i ya n g t i d a k t a h a n t e r h a d a p baunya, anak cukup dikompres air hangat suam -suam kuku dengan harapan saatair hangat menguap, panas dari tubuh si anak ikut terangkat (Nanny Selamihardja,2001).Serangan kejang demam dapat terjadi satu kali, dua kali, tiga kali selamasatu periode demam. Penelitian Lumbantobing angka berulangnya sangat tinggi,yaitu 65,7% selama satu periode demam.Hal itu mungkin disebabkan oleh hal berikut:1.Sebagian besar anak tidak segera diberikan pengobatan.2.Mungkin banyak diantara anak yang mengalami satu kali serangan kejang tidak dibawa ke rumah sakit (Lumbantobing, 1995).K e j a n g d e m a m d a p a t b e r k e m b a n g s e b a g a i f a k t o r r e s i k o e p i l e p s i . Livingstone, 1980, mendapatkan 3% kejang demam sederhana menjadi epilepsidan 93% kejang demam kompleks menjadi epilepsi. Prichard & Mc.Greal, 1974,m e n d a p a t k a n 2 % k e j a n g d e m a m s e d e r h a n a m e n j a d i epilepsi dan 33% kejangdemam kompleks menjadi epilepsi. L u m b a n t o b i n g , 1 9 7 5 , m e n d a p a t k a n 6 % kejang demam menjadi epilepsi (Lumbantobing, 1995). Beberapa ahli menduga bahwa faktor resiko terjadinya kejang demam adalahadanya riwayat keluarga dengan kejang demam, ganguan kehamilan, persalinany a n g s u l i t , k a d a r n a t r i u m s e r u m d a r a h r e n d a h . F a k t o r r e s i k o u t a m a y a n g umumnya menimpa anak balita usia 3 bulan sampai 5 tahun ini adalah demamtinggi (diatas 38 o C). Bisa diakibatkan oleh misalnya infeksi tenggorokan atauinfeksi lain seperti radang telinga, campak, cacar air, dan lain -lain. Yang palingmengkhawatirkan kalau demam tinggi tersebut merupakan gejala peradangan otak, seperti meningitis atau ensefalitis (Nanny Selamihardja, 2001). 1.2. Perumusan Masalah Setiap dokter pasti pernah menghadapi pasien dengan kejang demam, baik pada saat pasien kejang maupun setelah kejang berhenti. Kejang selalu merupakan p e r i s t i w a y a n g menakutkan bagi orang tua, sehingga sebagai dokter w a j i b mengatasi kejang dengan cepat dan tepat. Setelah kejang dapat ditanggulangi,sering timbul pertanyaan selanjutnya (Lumbantobing, 1995):1 . A p a k a h k e j a n g d e m a m d a p a t m e r u s a k o t a k ? 2.Apakah kejang demam harus segera

dihentikan dan bagaimana caranya ? 3 . A p a k a h k e j a n g d e m a m p e r l u d i c e g a h a g a r t i d a k k a m b u h k e m b a l i d a n bagaimana caranya ?4 . S e b e r a p a b e s a r k e m u n g k i n a n p e n d e r i t a k e j a n g d e m a m m e n j a d i e p i l e p s i dikemudian hari ?5 . A p a k a h p e n d e r i t a k e j a n g d e m a m d a p a t m e n j a d i b o d o h , m e m p u n y a i tingkah laku yang tidak wajar ?

1.3. Tujuan Penelitian D a r i p e r m a s a l a h a n y a n g t e r p a p a r b a h w a t i n g g i n ya f r e k u e n s i k e j a n g demam yang terjadi di masyarakat, dimana obyek dari kejang demam adalah bayidan anak-anak dan sering terjadi pengulangan serangan (kambuh) kejang demam,m e n y a d a r k a n p e n u l i s u n t u k m e m b a h a s t e n t a n g f r e k w e n s i k e j a n g d e m a m sederhana pada anak yang terjadi di masyarakat.P e n u l i s mengambil topik dengan judul Frekuensi Kejang D e m a m Sederhana pada anak periode 1 januari 2000 - 31 desember 2001 di RSU PKUM u h a m m a d i ya h Y o g ya k a r t a a d a l a h d e n g a n m a k s u d u n t u k memberikangambaran tentang seberapa besar angka kejadian seorang a n a k d a p a t t e r k e n a kejang demam serta memberikan gambaran tentang penatalaksanaan penanganankejang demam sehingga dapat dilakukan pertolongan dan pengobatan secara cepatd a n t e p a t b i l a a n a k t e r k e n a k e j a n g d e m a m , m e n c e g a h d a n m e n g u r a n g i a n g k a kejadian kejang demam. BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1. Definisi Kejang Demam Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhut u b u h ( s u h u rektal lebih dari 38 o C ) y a n g d i s e b a b k a n o l e h s u a t u p r o s e s ekstrakranium.Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures, kejang demam adalah suatu k e j a d i a n p a d a b a yi a t a u a n a k , b i a s a n ya t e r j a d i a n t a r a u m u r 3 b u l a n s a m p a i 5t a h u n , b e r h u b u n g a n d e n g a n d e m a m t e t a p i t i d a k t e r b u k t i a d a n ya i n f e k s i intrakranial atau penyebab tertentu (Soetomenggolo, 1995).K e j a n g d e m a m m e r u p a k a n l o n c a t a n l i s t r i k d a r i s e k e l o m p o k n e u r o n d i otak, yang timbul secara mendadak, meluas ke neuron disekitarnya, atau meluasdari massa kelabu ke massa putih, dengan manifestasi kejang yang disebabkanoleh karena kenaikan suhu tubuh yang bersumber di luar otak (Freeman op.cit ,Mulyani, 1994). 2.2. Angka Kejadian Kejang demam merupakan salah satu kelainan neurologis yang s e r i n g d i j u m p a i p a d a b a yi d a n a n a k . D a r i p e n e l i t i a n o l e h b e r b a g a i p a k a r didapatkan bahwa sekitar 2,2%-5% anak pernah mengalami kejang demam sebelum merekamencapai usia 5 tahun ( Hauser, 1981 ).Peneliti di jepang bahkan mendapatkan angka kejadian (insidensi) yang lebihtinggi, yaitu: Maeda dkk, 1993, mendapatkan angka 9,7 % (pada pria 10,5% dan pada wanita 8,9%) dan Tsuboi mendapatkan angka sekitar 7% (Lumbantobing,1995 ).

1.3. Tujuan Penelitian D a r i p e r m a s a l a h a n y a n g t e r p a p a r b a h w a t i n g g i n ya f r e k u e n s i k e j a n g demam yang terjadi di masyarakat, dimana obyek dari kejang demam adalah bayidan anak-anak dan sering terjadi pengulangan serangan (kambuh) kejang demam,m e n y a d a r k a n p e n u l i s u n t u k m e m b a h a s t e n t a n g f r e k w e n s i k e j a n g d e m a m sederhana pada anak yang terjadi di masyarakat.P e n u l i s mengambil topik dengan judul Frekuensi Kejang D e m a m Sederhana pada anak periode 1 januari 2000 - 31 desember 2001 di RSU PKUM u h a m m a d i ya h Y o g ya k a r t a a d a l a h d e n g a n m a k s u d u n t u k memberikangambaran tentang seberapa besar angka kejadian seorang a n a k d a p a t t e r k e n a kejang demam serta memberikan gambaran tentang penatalaksanaan penanganankejang demam sehingga dapat dilakukan pertolongan dan pengobatan secara cepatd a n t e p a t b i l a a n a k t e r k e n a k e j a n g d e m a m , m e n c e g a h d a n m e n g u r a n g i a n g k a kejadian kejang demam. BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1. Definisi Kejang Demam Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhut u b u h ( s u h u rektal lebih dari 38 o C ) y a n g d i s e b a b k a n o l e h s u a t u p r o s e s ekstrakranium.Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures, kejang demam adalah suatu k e j a d i a n p a d a b a yi a t a u a n a k , b i a s a n ya t e r j a d i a n t a r a u m u r 3 b u l a n s a m p a i 5t a h u n , b e r h u b u n g a n d e n g a n d e m a m t e t a p i t i d a k t e r b u k t i a d a n ya i n f e k s i intrakranial atau penyebab tertentu (Soetomenggolo, 1995).K e j a n g d e m a m m e r u p a k a n l o n c a t a n l i s t r i k d a r i s e k e l o m p o k n e u r o n d i otak, yang timbul secara mendadak, meluas ke neuron disekitarnya, atau meluasdari massa kelabu ke massa putih, dengan manifestasi kejang yang disebabkan oleh karena kenaikan suhu tubuh yang bersumber di luar otak (Freeman op.cit ,Mulyani, 1994). 2.2. Angka Kejadian Kejang demam merupakan salah satu kelainan neurologis yang s e r i n g d i j u m p a i p a d a b a yi d a n a n a k . D a r i p e n e l i t i a n o l e h b e r b a g a i p a k a r didapatkan bahwa sekitar 2,2%-5% anak pernah mengalami kejang demam sebelum merekamencapai usia 5 tahun ( Hauser, 1981 ) Peneliti di jepang bahkan mendapatkan angka kejadian (insidensi) yang lebihtinggi, yaitu: Maeda dkk, 1993, mendapatkan angka 9,7 % (pada pria 10,5% dan pada wanita 8,9%) dan Tsuboi mendapatkan angka sekitar 7% (Lumbantobing, 1995 ).D a r i b e r b a g a i h a s i l p e n e l i t i a n d i d a p a t k a n b a h w a k e j a n g d e m a m agak s e r i n g d i j u m p a i p a d a a n a k l a k i - l a k i d a r i p a d a a n a k p e r e m p u a n , d e n g a n perbandingan berkisar antara 1,4:1 dan 1,2:1. Di dapatkan 42% dari anak berusia6 t a h u n ya n g m e n d e r i t a k e j a n g a d a l a h k e j a n g d e m a m (Patrick & Levy

op.cit ,Mulyani, 1994).Dari 112 penderita kejang demam yang diteliti oleh Miyake dkk, 1992, 60 adalahlaki-laki dan 52 perempuan. Millichap, 1968, telah mengumpulkan 29 laporanmengenai kejang demam dan mendapatkan bahwa dari 4903 penderita kejangdemam, perbandingan pria dan wanita adalah 1,4:1.Sampai sekarang kejang demam merupakan kelainan yang banyak terjadi pada bangsal saraf. Kejang demam jarang terjadi pada anak yang berumur kurangdari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun.Aicardi, 1986, menyebutkan usia rata-rata penderita kejang demam adalah usia antara 17-23 bulan, sesekali kejang demam juga dijumpai pada usia yang lebih tuay a i t u 5 - 6 t a h u n . L u m b a n t o b i n g , 1 9 7 5 , m e n ye b u t k a n b a h w a i n s i d e n t e r t i n g g i antara usia 6 bulan sampai 1 tahun, dari 297 penderita kejang demam yang di telitinya. Kurang lebih 3% anak yang berumur 6 bulan sampai 9 tahun pernahmenderita satu kali atau lebih serangan kejang demam (Goodridge, 1987).D o e f f e r dan Wasser, 1987, melaporkan bahwa insidensi kejang demam 2 4 0 , 8/100000. Di Jepang penelitian yang di kerjakan oleh Tsuboi, 1986, mendapatkaninsidensi kejang demam pada balita sebesar 7% (Lumbantobing, 1995) Jumlah penderita kejang demam diperkirakan mencapai 2-4% dari jumlah penduduk di AS, Amerika selatan, dan Eropa barat. Namun di Asia dilaporkan j u m l a h penderitanya lebih tinggi. Sekitar 20% diantara jumlah p e n d e r i t a menderita kejang demam kompleks yang harus ditangani secara teliti. Bila di lihatdari jenis kelamin penderita, kejang demam sedikit lebih banyak menyerang anak lakilaki (Nanny Selamihardja, 2001). 2.3. Klasifikasi Kejang Demam U m u m n ya k e j a n g d e m a m d i b a g i m e n j a d i 2 g o l o n g a n . K r i t e r i a u n t u k penggolongan tersebut dikemukakan oleh berbagai pakar. Dalam hal ini terdapat beberapa perbedaan kecil dalam penggolongan tersebut, menyangkut jenis kejang,t i n g g i n y a d e m a m , u s i a p e n d e r i t a , l a m a n y a k e j a n g b e r l a n g s u n g , g a m b a r a n rekaman otak, dan lainnya.P r i c h a r d & M c . G r e a l , 1 9 8 5 , m e m b a g i k e j a n g d e m a m a t a s 2 g o l o n g a n , yaitu kejang demam sederhana dan kejang demam tidak khas (atipikal). Ciri -cirikejang demam sederhana ialah:1 . K e j a n g n ya b e r s i f a t s i m e t r i s , a r t i n ya a k a n t e r l i h a t l e n g a n d a n t u n g k a i k i r i yang kejang sama seperti yang kanan 2.Usia penderita antara 6 bulan sampai 4 tahun 3 . S u h u t u b u h 1 0 0 o F (37,78 o C) atau lebih4 . L a m a n y a k e j a n g b e r l a n g s u n g k u r a n g d a r i 3 0 m e n i t 5.Keadaan neurologi (fungsi saraf) normal dan setelah kejang juga normal6 . E E G ( e l e c t r o e n c h e p a l o g r a p h y - r e k a m o t a k ) y a n g d i b u a t s e t e l a h t i d a k demam adalah normal Kejang demam yang tidak memenuhi ketentuan butir tersebut diatas digolongkansebagai kejang demam tidak khas (atipikal).L i v i n g s t o n e j u g a m e m b a g i k e j a n g d e m a m m e n j a d i 2 g o l o n g a n , t e t a p i dengan ciri-ciri yang sedikit berbeda dibanding

dengan penggolongan menurutPrichard & Mc.Greal.P e n g g o l o n g a n k e j a n g d e m a m t e r s e b u t a d a l a h k e j a n g d e m a m s e d e r h a n a d a n epilepsi yang dicetuskan oleh demam.Ciri-ciri kejang demam sederhana ialah:1 . K e j a n g b e r s i f a t u m u m . 2.Lamanya kejang berlangsung singkat (kurang dari 15 menit).3.Usia waktu kejang demam pertama muncul kurang dari 6 tahun. 4 . F r e k u e n s i serangan 1-4 kali dalam satu tahun.5 . E E G n o r m a l . K e j a n g demam yang tidak sesuai dengan ciri tersebut diatas disebut o l e h Livingstone sebagai epilepsi yang dicetuskan oleh demam.Contoh epilepsi yang dicetuskan oleh demam menurut Livingstone, adalah:1 . K e j a n g b e r l a n g s u n g lama atau bersifat fokal/setempat. 2.Usia penderita lebih dari 6 tahun saat serangan kejang demam pertama.3 . F r e k u e n s i s e r a n g a n k e j a n g m e l e b i h i 4 k a l i d a l a m s a t u t a h u n . 4.Gambaran EEG, yang dibuat setelah anak tidak d e m a m l a g i , a d a l a h a b n o r m a l . Bila butir diatas ditemukan pada anak dengan kejang demam maka anak tersebutdigolongkan sebagai penderita epilepsi yang dicetuskan oleh demam.Fukuyama juga membagi kejang demam menjadi 2 golongan, yaitu kejangdemam sederhana dan kejang demam kompleks.Kejang demam sederhana harus memenuhi ketentuan sebagai berikut, yaitu:1 . D i k e l u a r g a p e n d e r i t a t i d a k a d a r i w a y a t e p i l e p s i . 2.Sebelumnya tidak ada r i w a ya t c e d e r a o t a k o l e h p e n ye b a b a p a p u n . 3.Serangan kejang demam yang pertama terjadi antara usia 6 bulan -6 tahun.4 . La m a n ya k e j a n g b e r l a n gs u n g t i d a k l e b i h d a r i 2 0 menit.5 . K e j a n g t i d a k b e r s i f a t f o k a l . 6.Tidak didapatkan gangguan atau abnormalitas pascak e j a n g . 7 . S e b e l u m n ya t i d a k d i d a p a t k a n a b n o r m a l i t a s n e u r o l o g i s a t a u a b n o r m a l i t a s perkembangan.8 . K e j a n g t i d a k b e r u l a n g d a l a m w a k t u s i n g k a t . Bila kejang demam tidak memenuhi kriteria tersebut diatas, maka digolongkansebagai kejang demam jenis kompleks (Lumbantobing, 1995).K l a s i f i k a s i ya n g d i b u a t o l e h P r i c h a r d & M c . G r e a l , L i v i n g s t o n e , d a n Fukuyama antara lain mengacu kepada kemungkinan angka menjadi epilepsi dikemudian hari Menurut pengamatan Prichard dan Mc.Greal dari kelompok anak yang menderitakejang demam sederhana kemungkinan menjadi epilepsi dikemudian hari ialahkurang dari 2%, sedangkan pada kelompok yang menderita kejang demam yang tidak khas kemungkinannya adalah sekitar 30%.Livingstone berhasil mengikuti perkembangan 201 anak dengan kejangdemam sederhana selama 10 tahun lebih dan menemukan bahwa 6 (3%) diantarakelompok anak yang diamati menjadi penderita epilepsi.Selain itu Livingstone juga mengikuti perkembangan 297 anak dari kelompok epilepsi yang dicetuskan oleh demam selama 10 tahun lebih, dan menemukan fakta bahwa 273 (93%) diantara mereka menjadi epilepsi. Angka yang didapatkanLivingstone ini sangat tinggi yaitu 93%, peneliti lainnya tidak pernah ada yang mendapatkan angka setinggi itu.Di sub bagian Saraf Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Jakarta,d i g u n a k a n m o d i f i k a s i k r i t e r i a L i v i n g s t o n e s e b a g a i p e d o m a n u n t u k m e m b u a t diagnosis kejang demam sederhana sebagai berikut:1 . U m u r a n a k k e t i k a k e j a n g a n t a r a 6 b u l a n - 4 t a h u n . 2.Kejang berlangsung sebentar, tidak melebihi 15 menit. 3 . K e j a n g b e r s i f a t u m u m . 4.Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbul demam.5 . P e m e r i k s a a n s e b e l u m d a n s e s u d a h d e m a m

n o r m a l . 6 . P e m e r i k s a a n E E G ya n g d i b u a t s e d i k i t n ya 1 m i n g g u s e t e l a h s u h u n o r m a l tidak menunjukan kelainan .7 . F r e k u e n s i b a n g k i t a n k e j a n g d a l a m 1 tahun tidak melebihi 4 kali. Kejang demam yang tidak memenuhi salah satu atau lebih dari ketujuh kriteriadiatas digolongkan pada epilepsi yang diprovokasi oleh demam.K e j a n g d e m a m sederhana tidak meninggalkan gejala sisa, akan tetapi k e j a n g d e m a m kompleks dapat meninggalkan gejala sisa berupa kelainanneurologis. Kelainan neurologis terbanyak adalah Hemiparese, Diplegi, Koreoatetosis, serta retardasi mental (Lumbantobing, 1995; Soetomenggolo,1995).Dengan menggunakan kriteria tersebut diatas ternyata sangat banyak penderita yang termasuk golongan epilepsi yang di provokasi demam, dengankonsekuensi bahwa penderita -penderita ini harus mendapat pengobatan rumat.Banyak penderita yang hanya menunjukan kelainan EEG sedangkan kriteria yanglain tidak dipenuhi. Juga sulit sekali untuk mene ntukan anamnesis berapa lamademam sudah berlangsung sebelum penderita mengalami kejang. Saat ini istilahepilepsi yang diprovokasi demam telah di tinggalkan. Penderita kejang demamtidak lagi dibagi menjadi kejang demam sederhana dan epilepsi yang diprovokasidemam, tetapi dibagi menjadi penderita yang tidak perlu pengobatan rumat dan pengobatan yang memerlukan pengobatan rumat (Soetomenggolo, 1995).Sejak tahun 1995 pembagian kejang demam yang digunakan di sub bagianSaraf Anak, bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Jakarta, terdiri atas 3 macamkejang demam, yaitu :1 . K e j a n g d e m a m k o m p l e k s , ya i t u k e j a n g d e m a m ya n g b e r l a n g s u n g l e b i h dari 15 menit, fokal atau multiple (lebih dari 1 kali kejang per episode demam) 2.Kejang demam sederhana, ialah kejang demam yang tidak m e m e n u h i kriteria kejang demam kompleks3 . K e j a n g d e m a m b e r u l a n g , i a l a h k e j a n g d e m a m ya n g t i m b u l l e b i h d a r i s a t u episode demam (Soetomenggolo, 1995). Dwi P Widodo, 2001, menguraikan bahwa kejang demam dibedakan atasdua macam. Pertama, kejang demam sederhana yang berlangsung kurang dari 15menit dan sama sekali tidak menimbulkan kerusakan otak ataupunmembahayakan jiwa si anak. Yang kedua adalah kejang demam kompleks yang berlangsung lebih dari 15 menit dan bisa terjadi lebih dari satu kali dalam 24 jam.Pada umumnya kejang demam kompleks si anak mempunyai kelainan neurologiatau riwayat kejang dalam keluarganya. Karena serangannya lebih lama, makaharus segera ditanggulangi. Bila tidak, adakalanya bisa menimbulkan kerusakanotak. Kejang yang berlangsung lama dan terus menerus bisa mengganggu peredaran darah ke otak, kekurangan oksigen, kekurangan keseimbangan air danelektrolit yang dapat mengakibatkan pembengkakan otak (Nanny Selamihardja,2001). 2.4. Etiologi Kejang Demam S e m u a j e n i s i n f e k s i ya n g b e r s u m b e r d i l u a r S S P ya n g menimbulkand e m a m d a p a t m e n y e b a b k a n k e j a n g d e m a m . P e n y a k i t y a n g p a l i n g s e r i n g menimbulkan kejang demam adalah i n f e k s i s a l u r a n n a f a s a t a s , o t i t i s m e d i a , pneumonia, gastroenteritis, exantema subitum, bronkhitis, dan infeksi saluran kemih (Goodridge, 1987; Hendarto, 1988; Soetomenggolo, 1989).

Ada beberapa faktor yang mungkin berperan dalam menyebabkan kejang demam,yaitu:1). Demam itu sendiri.2). Efek produk toksik daripada mikroorganisme (kuman dan virus) terhadap otak.3). Respon alergik atau keadaan imun yang abnormal oleh infeksi.4). Perubahan keseimbangan cairan atau elektrolit.5). Ensefalitis viral (radang otak akibat virus) yang ringan tidak diketahui.6). Gabungan semua faktor diatas.I n f e k s i v i r a l p a l i n g s e r i n g d i t e m u k a n p a d a k e j a n g d e m a m . H a l i n i mungkin disebabkan karena infeksi viral memang lebih sering menyerang pada anak, dan mungkin bukan merupakan sesuatu hal yang khusus.D e m a m y a n g d i s e b a b k a n o l e h i m u n i s a s i j u g a d a p a t m e m p r o v o k a s i k e j a n g demam. Anak yang mengalami kejang setelah imunisasi selalu terjadi waktu anak sedang demam. Kejang setelah imunisasi terutama didapatkan setelah imunisasi pertusis (DPT) dan morbilli (campak) (Fenichel GM, 1982).B e r d a s a r k a n p e n e l i t i a n ya n g d i l a k u k a n L u m b a n t o b i n g , 1 9 7 5 , d a p a t menentukan penyebab demam pada 232 dari 297 penderita. Diagnosis penyebabterutama didasarkan atas bagian tubuh yang terlibat peradangan. Ada penderitayang mengalami kelainan pada lebih dari satu bagian tubuhnya, misalnya tonsilofaringitis dan otitis media akut. Tabel 1. Penyebab demam pada 297 penderita kejang demam: N o P e n y e b a b d e m a m J u m l a h p e n d e r i t a 12345678910Tonsillitis dan atau faringitisOtitis media akut (radang liang telingatengah)Enteritis/gastroenteritis (radang salurancerna)Enteritis/gastroenteritis disertai dehidrasiBronkhitis (radang saluran nafas)B r o n k h o p n e u m o n i a ( r a d a n g p a r u d a n salurannafas)Morbilli (campak)Varisela (cacar air)Dengue (demam berdarah)Tidak diketahui1009122441738121166Pada penderita kejang demam ternyata insidensi tonsillitis/faringitis, otitismedia akut, dan gastroenteritis cukup tinggi, yaitu berturut 34%, 31%, dan 27%.Insiden infeksi ini memang tinggi pada anak (Lumbantobing, 1995).M i l l i c h a p , 1 9 6 8 , d i A m e r i k a S e r i k a t m e n d a p a t k a n b a h w a p a d a 1 4 4 episode kejang demam pada 110 anak, penyebab demamnya ialah tonsillitis ataufaringitis akut 54%, otitis media akut 17%, morbili 7%, bronchitis atau pneumoniaa k u t 6 % , g a s t r o e n t e r i t i s 3 % , v a r i s e l a 2 % , r o s e o l a i n f a n t u m 1,5% , mumps

(gondongan) 1,5% , rubella (campak jerman) 0,5% , herpangina 0,5%, dan tidak diketahui 7%. 2.5. Patofisiologi Kejang Demam Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau organ o t a k d i p e r l u k a n s u a t u e n e r g i ya n g d i d a p a t d a r i m e t a b o l i s m e . B a h a n b a k u u n t u k metabolisme otak yang terpenting adalah glukosa. Sifat proses itu adalah oksidasidimana oksigen disediakan dengan perantaraan fungsi paru -paru dan diteruskanke otak melalui sistem kardiovaskuler. Jadi sumber energi di otak adalah glukosayang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO 2 dan air.Sel dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permu kaan dalamadalah lipoid dan permukaan luar adalah ionik. Dalam keadaan normal membrans e l neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion Kalium (K + ) d a n s a n g a t s u l i t dilalui oleh ion Natrium (Na + ) dan elektrolit lainnya, kecuali ion Klorida (Cl ).Akibatnya konsentrasi K + dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na + rendah,s e d a n g k a n d i l u a r n e u r o n t e r d a p a t s e b a l i k n y a . K a r e n a p e r b e d a a n j e n i s d a n konsentrasi ion didalam dan diluar sel, maka terdapat perbedaan potensial yangd i s e b u t p o t e n s i a l m e m b r a n d a r i s e l n e u r o n . U n t u k m e n j a g a k e s e i m b a n g a n potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATPase yangterdapat pada permukaan sel.Keseimbangan potensial membran ini dapat dirubah oleh adanya:

1.Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler. 2 . R a n g s a n g a n ya n g d a t a n g n ya m e n d a d a k m i s a l n ya m e k a n i s , k i m i a w i a t a u aliran listrik dari sekitarnya.3 . P e r u b a h a n p a t o f i s i o l o g i d a r i m e m b r a n s e n d i r i k a r e n a p e n y a k i t a t a u keturunan.D a l a m k e a d a a n d e m a m , k e n a i k a n s u h u 1 o C pun akan mengakibatkank e n a i k a n m e t a b o l i s m e b a s a l ( j u m l a h m i n i m a l e n e r g i ya n g d i b u t u h k a n u n t u k mempertahankan fungsi vital tubuh) sebanyak 10%-15% sementara kebutuhanoksigen pada otak naik sebesar 20% (Nanny Selamihardja, 2001).P a d a s e o r a n g a n a k b e r u m u r 3 t a h u n s i r k u l a s i o t a k m e n c a p a i 6 5 % d a r i seluruh tubuh, dibandingkan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi kenaikan suhutubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neurond a n d a l a m w a k t u s i n g k a t t e r j a d i d i f u s i d a r i i o n k a l i u m m a u p u n i o n n a t r i u m melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik.Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh selm a u p u n k e m e m b r a n s e l t e t a n g g a n y a d e n g a n b a n t u a n b a h a n y a n g d i s e b u t neurotransmiter dan terjadilah kejang.Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung daritinggi rendahnya ambang kejang seorang anak menderita kejang pada kenaikansuhu tertentu. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38 o C sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40 o C atau lebih. Dari kenyataan ini dapatlah disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang.Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahayadan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang berlangsung lama(lebih dari 15 menit) biasanya disertai terjadinya apnea, meningkatnya kebutuhanoksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia,hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensia r t e r i a l d i s e r t a i d e n y u t j a n t u n g y a n g t i d a k t e r a t u r d a n s u h u t u b u h m a k i n meningkat disebabkan meningkatnya aktifitas otot dan selanjutnya menyebabkanmetabolisme otak meningkat. Rangkaian kejadian diatas adalah faktor penyebabhingga terjadinya kerusakan neuron otak selama berlangsungnya kejang lama.Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksias e h i n g g a m e n i g g i k a n p e r m e a b i l i t a s k a p i l e r d a n t i m b u l e d e m a o t a k y a n g mengakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada daerah mesial lobustemporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dan dapatm e n j a d i m a t a n g d i k e m u d i a n h a r i , s e h i n g g a t e r j a d i s e r a n g a n e p i l e p s i ya n g spontan. Jadi kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainananatomis di otak hingga terjadi epilepsi (Bagian IKA FKUI, 1985). 2.6. Manifestasi Klinis Kejang Demam

P a d a u m u m n ya k e j a n g d e m a m b e r l a n g s u n g s i n g k a t , b e r u p a serangankejang klonik atau tonik -klonik bilateral, sering kali kejang b e r h e n t i s e n d i r i . Setelah kejang berhenti, anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tapi setelah beberapa detik atau menit anak akan terbangun dan sadar kembali tanpad e f i s i t n e u r o l o g i s . K e j a n g d a p a t d i s e r t a i d e n g a n h e m i p a r e s i s s e m e n t a r a (Hemiparesis Tood) yang belangsung beberapa jam sampai beberapa hari.Kejang unilateral yang lama dapat diikuti hemiparesis yang menetap. Bangkitank e j a n g ya n g b e r l a n g s u n g l a m a l e b i h s e r i n g t e r j a d i p a d a k e j a n g d e m a m ya n g terjadi pertama kali (Soetomenggolo, 1995).S u h u t u b u h y a n g t i n g g i d e n g a n k e j a n g ya n g l a m a d a p a t m e n y e b a b k a n n e k r o s i s n e u r o n d a n k e r u s a k a n o t a k m e n e t a p . K e j a n g y a n g l a m a a k a n menyebabkan pembentukan jaringan ikat yang kemudian akan berp eran sebagaifokus epilepsi. Penderita kejang demam mungkin mengalami kekambuhan, kira-kira sepertiga penderita mengalami kambuh lebih dari satu kali. Kemungkinan kekambuhan bisa lebih besar bila kejang demam pertama terjadi pada usia kurangdari satu tahun. Kekambuhan pertama yang terjadi dalam tahun pertama setelah k e j a n g d e m a m a w a l , d i a l a m i o l e h 7 5 % k a s u s , s e d a n g k a n d a l a m d u a t a h u n pertama adalah 90% kasus (Bower, 1974).Wujud kejang dapat pula berupa mata terbalik keatas disertai kekakuanatau kelemahan atau terjadi gerakan sentakan berulang tanpa di dahului kekakuan.Serangan pada umumnya timbul pada awal kenaikan suhu tubuh dan berlangsungkurang dari 10 menit. Kejang seluruh tubuh ini akan berhenti dengan sendirinyasetelah mendapat pertolongan pertama. Setelah itu anak tampak capai, mengantuk d a n t i d u r p u l a s . B e g i t u t e r b a n g u n k e s a d a r a n s u d a h p u l i h k e m b a l i .(NannySelamihardja, 2001). 2.7. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Pada kejang demam sederhana tidak dijumpai kelainan fisik neurologik, m a u p u n laboratorik. Pada kejang demam kompleks dijumpai kelainan f i s i k neurologik berupa hemiplegi, diplegi (Goodridge, 1987, Soetomenggolo, 1989,Anonim, 1994).P a d a p e m e r i k s a a n E E G d i d a p a t k a n g e l o m b a n g a b n o r m a l b e r u p a g e l o m b a n g - gelombang lambat fokal bervoltase tinggi, kenaikan aktifitas delta, spike, iritatif dengan gelombang tajam (Soetomenggolo, 1989). Perlambatan aktifitas EEGkurang mempunyai nilai prognostik, walaupun penderita kejang demam komplekslebih sering menunjukan gambaran EEG abnormal. EEG abnormal juga tidak dapat digunakan untuk menduga kemungkinan terjadinya epilepsi dikemudianhari (Soetomenggolo, 1995). 2.8. Perbedaan Kejang Demam dan Epilepsi Untuk membedakan kejang demam dengan epilepsi tentunya masing masing mempunyai kriteria khusus tersendiri. Kriteria untuk kejang demam antaralain:1 . U s i a t i m b u l b i a s a n y a m u l a i 6 b u l a n s a m p a i 5 t a h u n . 2 . S e b e l u m k e j a n g d i d a h u l u i o l e h d e m a m ya n g b e r s u m b e r d a r i luar SSP.3 . S e b e l u m n y a p e n d e r i t a b e l u m p e r n a h k e j a n g . 4 . G a m b a r a n E E G n o r m a l . Sedangkan kriteria untuk epilepsi diantaranya adalah:1 . S e b e l u m k e j a n g t i d a k d i d a h u l u i d e n g a n d e m a m .

2.Dapat disertai penurunan suhu tubuh, selama dan sesudah kejang. 3 . K e j a n g tanpa demam yang berulang.4.Walaupun pada saat kejang t e r d a p a t d e m a m , t a p i s e b e l u m n y a p e r n a h mengalami kejang tanpa demam dan lebih dari satu kali.5 . G a m b a r a n E E G a b n o r m a l w a l a u p u n s e b e l u m d a n s e s u d a h k e j a n g (Doleranzo,1991; Soetomenggolo, 1995).Epilepsi itu sendiri merupakan faktor bawaan yang disebabkan karenagangguan keseimbangan kimiawi sel -sel otak yang mencetuskan muatan listrik berlebihan di otak secara tiba-tiba. Penderita epilepsi adalah seseorang yangmempunyai bawaan ambang rangsang rendah terhadap cetusan tersebut. Cetusan bisa dibeberapa bagian otak dan gejalanya beraneka ragam. Serangan epilepsi sering terjadi pada saat ia mengalami stress, jiwanya tertekan, sangat capai, atauadakalanya karena terkena sinar lampu yang tajam.Memang, menurut survei ada sekitar 15% kasus epilepsi yang didahului dengangejala kejang demam. Namun, kurang dari 5% anak kejang demam berkembangmenjadi epilepsi. (Nanny Selamihardja, 2001) 2.9. Penatalaksanaan Kejang Demam 2.9.1. Terapi pada fase akutP a d a s e b a g i a n b e s a r k a s u s k e j a n g d e m a m , k e j a n g b e r l a n s u n g s i n g k a t . Ketika penderita sampai di rumah sakit atau ditempat praktek dokter, kejang telahreda. Dalam hal demikian tindakan yang perlu adalah mencari penyebab demam,m e m b e r i k a n p e n g o b a t a n ya n g a d e k u a t t e r h a d a p p e n ye b a b p e n ya k i t t e r s e b u t , misalnya pemberian antibiotik yang sesuai untuk infeksi. Untuk mencegah agar kejang tidak berulang kembali sebaiknya diberi antikonvulsan. Seperti yang telahd i k e m u k a k a n s e b e l u m n ya , k e j a n g m a s i h d a p a t k a m b u h s e l a m a a n a k m a s i h demam.Pada sebagian kecil kasus, kejang masih berlangsung atau berulang lagisewaktu anak sampai di poliklinik atau di rumah sakit.Pada anak yang sedang mengalami kejang, dilakukan perawatan yang adekuat.Penderita dimiringkan agar jangan terjadi aspirasi ludah atau lendir dari mulut.Jalan nafas dijaga agar tetap terbuka lega, tujuannya adalah agar suplai oksigentetap terjamin. Bila perlu berikan oksigen. Fungsi vital, keadaan jantung, tekanandarah, kesadaran perlu diikuti dengan saksama.Bila penderita masih belum sadar dan keadaan tersebut berlangsung lama,harus diperhatikan kebutuhan dan keadaan cairan, kalori dan elektrolit. Suhu yangtinggi harus segera diturunkan dengan kompres dingin atau mandi air dingin atauditempatkan di kamar ber-AC. Selimut dan pembungkus badan harus dibuka agar pendinginan badan berlangsung baik. Pemberian obat penurun demam seperti asetaminofen atau antipiretik lainnya.Bila kejang sedang berlangsung, harus segera dihentikan, ini adalah untuk mencegah agar tidak terjadi kerusakan pada otak dan meningggalkan gejala sisaa t a u b a h k a n k e m a t i a n . S a a t i n i d i a z e p a m m e r u p a k a n o b a t p i l i h a n . D i a z e p a m diberikan secara intravena atau per rektum. Dosis intravena ialah 0,3 mg per kg berat badan dan dosis per rektum ialah 5 mg bila berat badan kurang dari 10 kgdan 10 mg bila berat badan lebih dari 10 kg. Berikan pula dosis awal luminal suntikan intramuskular (dosis 30 mg u n t u k n e o n a t u s ; 5 0 m g u n t u k ya n g b e r u s i a 1 b u l a n - 1 t a h u n , d a n 7 5 m g u n t u k ya n g berusia lebih dari 1 tahun).B i l a k e j a n g b e l u m j u g a b e r h e n t i , 1 5 m e n i t k e m u d i a n d i u l a n g i l a g i pemberian diazepam dengan dosis yang sama. Empat jam kemudian diberikanfenolbarbital ( luminal) dengan dosis untuk

hari pertama dan kedua 8-10 mg/kg berat badan/hari dibagi atas 2 dosis, dan pada hari berikutnya sampai demam redasebanyak 4-5 mg/kg berat badan/hari dibagi dalam 2 dosis (Lumbantobing, 1995).2.9.2. Pengobatan Profilaksis Terhadap Kambuhnya Kejang DemamK a m b u h n y a k e j a n g d e m a m p e r l u d i c e g a h , k a r e n a s e r a n g a n k e j a n g merupakan pengalaman yang menakutkan dan mencemaskan bagi keluarga. Bilak e j a n g d e m a m b e r l a n g s u n g l a m a d a p a t m e n g a k i b a t k a n k e r u s a k a n o t a k ya n g menetap (cacat).Ada 3 upaya yang dapat dilakukan, yaitu :1 . P r o f i l a k s i s i n t e r m i t e n , p a d a w a k t u d e m a m . 2.Profilaksis terus-menerus , dengan obat antikonvulsan tiap hari.3 . M e n g a t a s i s e g e r a b i l a t e r j a d i s e r a n g a n . a. Profilaksis intermitenP a d a p r o f i l a k s i s i n t e r m i t e n , o b a t a n t i k o n v u l s a n s e g e r a d i b e r i b e g i t u diketahui anak mengalami demam. Untuk itu dibutuhkan obat yang bekerja cepat.D i samping itu orang tua atau pengasuh anak harus mengetahui dengan p a s t i kapan anak mulai demam. Dilihat dari kemungkinan efek samping obat, cara p r o f i l a k s i s i n i l e b i h menguntungkan dari pada pemberian obat yang terus menerus.D i a z e p a m y a n g d i b e r i k a n m e l a l u i m u l u t ( o r a l ) a t a u r e c t u m d a p a t diandalkan dalam pengobatan intermiten (yaitu obat yang diberi hanya waktudemam). Dosis per rektum ialah 5 mg untuk penderita kurang dari 3 tahun dan 10mg bagi yang berusia lebih dari 3 tahun, diulang setiap 12 jam. Secara oral dapatd i b e r i 0 , 5 m g / k g b e r a t b a d a n / h a r i d i b a g i d a l a m 3 d o s i s b i l a p e n d e r i t a s e d a n g demam.M a r t i n e z d k k , 1 9 9 0 , m e n g g u n a k a n k l o n a s e p a m s e b a g a i o b a t a n t i k o n v u l s a n intermiten. Peneliti itu telah mempelajarinya pada 100 anak (52 wanita, 48 pria)dengan dosis 0,03 mg/kg berat badan/dosis tiap 8 jam selama suhu diatas 37 o Cd a n d i l a n j u t k a n s e l a m a m a s i h d e m a m . D i d a p a t k a n n ya b a h w a k a m b u h t e r j a d i hanya pada 2,5%. Frekuensi ini lebih kecil dibandingkan dengan yang dilaporkandi kepustakaan bagi penderita tanpa profilaksis.Tachibana dkk, 1985, meneliti khasiat supositoria kloralhidrat (dengandosis 250 mg bagi berat badan yang kurang dari 15 kg, dan 500 mg bagi yanglebih dari 15 kg) yang diberikan bila suhu diatas 38 o C. Kambuh terjadi pada 6,8% penderita yang menggunakan supositoria kloralhidrat, dan 32% pada yang tidak menggunakannya. Mereka berpendapat bahwa supositoria kloralhidrat efektif dalam mencegah kejang demam.A n a k ya n g h a n ya d i b e r i a n t i p i r e t i k t i d a k t e r l i n d u n g d a r i k a m b u h n ya kejang demam. Camfield, 1980, melakukan penelitian secara acak -buta gandadengan kelola, membandingkan kelompok anak yang diberikan fenolbarbital tiap hari ditambah antipiretik pada saat demam, dengan kelompok anak yang diberi plasebo (obat kosong) tiap hari ditambah antipiretik saat demam. Pada kelompok anak yang diberi fenolbarbital dan antipiretik tingkat kambuh kejang demam ialah5%, sedang pada kelompok dengan plasebo dan antipiretik tingkat kambuh ialah25% (Lumbantobing, 1995). b. Profilaksis Terus menerus (rumat, maintenance)Dari penelitian didapatkan bahwa pemberian fenolbarbital rumat dapatmengurangi kambuhnya sebanyak dua pertiga (dari 30% menjadi 8-12%). Efek profilaksis ini tidak didapatkan bila digunakan fenitoin atau karbamazepin.Obat lain yang dapat juga digunakan untuk profilaksis

kejang demam ialah asamvalproat.Di Jepang, Matsumo pada tahun 1992, melakukan survei pada dokter anak melalui kuesioner untuk mengetahui obat anti konvulsan yang digunakan sebagait e r a p i p a d a k e j a n g d e m a m . D i d a p a t k a n 1 2 0 r e s p o n d e n ( 6 2 , 8 % ) r e s p o n d e n . Ternyata bahwa pada pengobatan rumat 67% menggunakan fenolbarbital (dosis 3-5 mg/kg berat badan/hari) dan 31% menggunakan asam valproat (dosis 20 40mg/kg berat badan/hari).Pada pengobatan intermiten, 66% menggunakan diazepam (0,3-0,5 mg/kg berat badan/hari) dan supositoria kloralhidrat digunakan oleh 23%, sedang yang 11%selebihnya menggunakan obat lain termasuk fenolbarbital dan asam valproat.Pada profilaksis terus menerus harus dipertimbangkan antara khasiat obatdan efek sampingnya. Efek samping yang sering dijumpai pada fenolbarbital ialah perubahan watak, gangguan tingkah laku, hiperaktivitas, pada 20 -40% anak. IQ dapat pula menurun. Asam valproat lebih sedikit men gakibatkan gangguan atau perubahan tingkah laku, namun obat ini bersifat hepatotoksik. Untuk itu fungsihati harus dipantau secara teratur melalui pemeriksaan laboratorium.Dosis fenolbarbital ialah 3-4 mg/kg berat badan/hari dan asam valproat adalah 15-30 mg/kg berat badan/hari. Kadar obat didalam darah yang optimal bagifenolbarbital ialah 15-25 mkg/l, bagi asam valproat ialah 50-80 mkg/l.F a r w e l l d k k , 1 9 9 0 , m e l a k u k a n p e n e l i t i a n u n t u k m e l i h a t e f e k s a m p i n g fenolbarbital terhadap fungsi intelektual pada penderita kejang demam yang diberifenolbarbital rumat. Setelah pengobatan selama 2 tahun didapatkan penurunan IQsebanyak 7 angka pada penderita yang mendapat fenolbarbital dibanding yangmendapat plasebo.Mengingat efek samping obat, hendaknya pengobatan rumat dibatasi padayang perlu saja, kejang demam yang sederhana tidak membutuhkan pengobatanrumat. Consensus Statement di Amerika Serikat, mengemukakan kriteria yangdapat dipakai untuk pemberian terapi rumat.Profilaksis tiap hari dapat di beri pada keadaan berikut:1 ) B i l a t e r d a p a t k e l a i n a n p e r k e m b a n g a n n e u r o l o g i ( m i s a l n ya c e r e b r a l p a l s y, retardasi mental, mikrosefali).2)Bila kejang demam berlangsung lebih lama dari 15 menit, bersifat fokal, ataudiikuti kelainan neurologis sepintas atau menetap.3 ) T e r d a p a t r i w a ya t k e j a n g t a n p a d e m a m ya n g b e r s i f a t g e n e t i k p a d a o r a n g t u a atau saudara kandung.

L a m a p e m b e r i a n t e r a p i r u m a t ya n g d i a n j u r k a n i a l a h s a m p a i s e k u r a n g k u r a n g n ya 2 t a h u n , a t a u s a m p a i 1 t a h u n s e j a k k e j a n g t e r a k h i r . P e n g h e n t i a n antikonvulsan dilakukan bertahap selama 1-2 bulan.Millichap, 1991, merekomendasikan beberapa hal dalam upaya mencegah dan menghadapi kejang demam, yaitu:1 ) O r a n g t u a a t a u p e n g a s u h a n a k h a r u s d i b e r i c u k u p i n f o r m a s i m e n g e n a i penanganan demam dan kejang.2)Profilaksis intermiten dengan diazepam per oral dengan dosis 0,5 mg/kg berat badan/hari, dibagi dalam beberapa dosis, bila anak menderita demam. Sebagaialternatif dapat juga diberikan profilaksis terus menerus dengan fenolbarbital.3)Memberikan diazepam per rectum bila terjadi kejang.4 ) B i l a s e k i r a n ya t e r d a p a t i n d i k a s i p e m b e r i a n f e n o l b a r b i t a l r u m a t , p e m b e r i a n sebaiknya dibatasi sampai 6 -12 bulan kejang tidak kambuh lagi, dan kadar fenolbarbital didalam darah (15 mkg/ml) dipantau tiap 6 minggu-3 bulan, dan j u g a d i p a n t a u k e a d a a n t i n g k a h l a k u d a n p s i k o l o g i s a n a k ( L u m b a n t o b i n g , 1995).

BAB IIICARA PENELITIAN3.1. Subyek penelitian Subyek penelitian yang digunakan adalah anak yang menderita kejang d e m a m s e d e r h a n a ya n g d i r a w a t d i b a n g s a l a n a k R S U P K U M u h a m m a d i ya h Yogyakarta .D a t a p e n e l i t i a n d i p e r o l e h d a r i s u b b a g i a n r e k a m m e d i s R S U P K U Muhammadiyah Yogyakarta dari tanggal 1 januari 2000 31 desember 2001. 3.2. Pengukuran hasil penelitian 3.2.1. Alat ukur dan cara pengukuranA l a t u k u r y a n g d i g u n a k a n a d a l a h c a t a t a n r e k a m m e d i s R S U P K U Muhammadiyah Yogyakarta, sedangkan cara pengukuran dilakukan dengan caramenghitung prosentase dari hasil data rekam medik.Pengukuran hasil penelitian ini akan menggambarkan jumlah kasus berdasarkanf a k t o r r e s i k o ya n g d i t e l i t i . G a m b a r a n t e r s e b u t a k a n d i s a j i k a n d a l a m b e n t u k tabulasi distribusi frekuensi, karena data yang digunakan berdasarkan catatanr e k a m m e d i k s e h i n g g a v a l i d i t a s d a n r e l i a b i l i t a s d a t a s a n g a t t e r g a n t u n g p a d a metode, alat ukur yang digunakan dan kecermatan penelitian.3.2.1. Variabel penelitianVariabel-variabel yang dicatat dalam penelitian:U m u r a n a k - S u h u b a d a n a n a k - J e n i s k e l a m i n a n a k

3.3. Pelaksanaan penelitian 3.3.1. Pengumpulan dataPengumpulan data dilakukan secara retrospektif dengan melihat kembalik a r t u s t a t u s ya n g a d a d i c a t a t a n b a g i a n p e n c a t a t a n r e k a m m e d i k R S U P K U Muhammadiyah Yogyakarta.Data diambil dan dicatat dari formulir rekam medik mengenai umur anak, suhu badan anak, dan jenis kelamin anak.3.3.2. Teknik pengolahan dataP e n e l i t i a n i n i d i s a j i k a n d a l a m b e n t u k a n a l i s i s d e s k r i f t i f d e n g a n menghitung distribusi frekuensi terhadap tiap-tiap variabel dengan menggunakanmetode cross sectional dari data sekunder yaitu mengambil data dari rekam medisdi RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta.D a r i d a t a y a n g t e r k u m p u l , k e m u d i a n d i l a k u k a n a n a l i s i s d a t a s e b a g a i berikut:a.Distribusi frekuensi penderita kejang demam sederhana berdasarkan umur anak. b.Distribusi frekuensi penderita kejang demam sederhana berdasarkan jeniskelamin anak.c . D i s t r i b u s i f r e k u e n s i p e n d e r i t a k e j a n g d e m a m s e d e r h a n a b e r d a s a r k a n s u h u badan anak BAB IVHASIL DAN PEMBAHASAN4.1. Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian dari data sekunder di R S U P K U Muhammadiyah Yogyakarta diperoleh data sebagai berikut dalam bentuk tabel:T a b e l 2 . D a t a p e n d e r i t a k e j a n g d e m a m s e d e r h a n a p a d a a n a k d i R S U P K U Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2000 N o B u l a n KejadianJumlahKasusJ e n i s k e l a m i n U m u r L P < 1 t a h u n 1 4 t a h u n 5 1 4 t a h u n 1 J a n u

a 7 5 2 r i 5 3 r 1 6 2 p l 6 5 5 e 5 1 1 6 u i 1 4 5 7 u i 2 2 0 g t 1 8 4 p b 3 6 O b 2 4 N m 1 4

r 4 2 F u 1 4 M e 5 8 4 r 1 8 1 M i 4 4 0 J n 1 7 6 0 J l 5 3 3 8 u u 6 9 9 t e 6 4 k e 6 3 o b 0 5 v e 6 1 e r 7 1 t r 6 1 s s 8 3 S e a 2 8

i 3 0 b r 7 0 a t 9 5 A i 4 8

e m 1 3 0 o 1 5 1 e r 4 1

2 D e s e m b e r 6 4 2 4 2 0 Jumlah 1 2 6 6 9 5 7 6 2 4 9 1 5 Dari tabel 2. tersebut diatas diperoleh data bahwa jumlah penderita kejangdemam pada tahun 2000 sebanyak 126 orang, dan terbagi kedalam kelompok jeniskelamin yaitu: 69 orang penderita laki -laki, 57 orang perempuan, serta terbagikedalam kelompok umur penderita, yaitu: umur < 1 tahun 62 orang, umur 1-4tahun 49 orang, dan umur 5-14 tahun sebanyak 15 orang. Tabel 3. Data penderita kejang demam sederhana pada anak di R S U P K U Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2001 N o B u l a n J u m l a h kas usJenisKelaminUmur L P < 1 t a h u n 1 4 t a h u n 5 1 4 t a h u n 1 J a n u a r i 2 3 1 6 7 1 0 9 4 2 F e b r u a r i 2 0 1 6 4 6 1 1 3 3 M a r e t 8 4 4 4 4 0 4 A p r i l 1 2 4 8 4 8 0 5 M e i 1 5 5 1 0 7 7 1 6 J u n i 1

6 1 1 5 5 9 1 7 J u l i 1 5 1 3 2 8 7 0 8 A g u s t u s 1 5 4 1 1 1 1 3 1 9 S e p t e m b e r 1 2 4 8 3 8 1 1 0 O k t o b e r 5 4 1 4 1 0 1 1 N o v e m b e r 3 2 1 2 1 0 1 2 D e s e m b e r 9 5 4 4 4 1 Jumlah 1 5 3 8 8 6 5 6 8 7 2 1 3 Dari tabel 3. tersebut diatas diperoleh data bahwa penderita kejang demam pada tahun 2001 sebanyak 153 orang. Data ini terbagi kedalam variabel jenisk e l a m i n y a i t u t e r d i r i d a r i 8 8 o r a n g p e n d e r i t a l a k i - l a k i , 6 5 o r a n g p e n d e r i t a perempuan, dan data ini juga termasuk kedalam variabe l umur yaitu: umur < 1tahun 68 orang, umur 1-4 tahun 72 orang, dan umur 5-14 tahun 13 orang. 4.2. Pembahasan Tabel 4. Distribusi frekuensi kejang demam sederhana pada anak di RSU PKUMuhammadiyah Yogyakarta tahun 2000-2001 berdasarkan variabel umur.a. Dengan menggunakan metode Cross-tab

Dengan menggunakan metode Cross -tab diatas dapat diketahui bahwa jumlah penderita kejang demam sederhana berdasarkan variabel umur pada tahun2 0 0 0 a d a l a h 1 2 6 o r a n g , ya i t u t e r d i r i d a r i p e n d e r i t a ya n g b e r u m u r < 1 t a h u n sebanyak 62 orang (49,2%), umur 1-4 tahun 49 orang (40,5%), dan umur 5 -14t a h u n 1 5 orang (11,9%). Sementara itu pada tahun 2001 didapatkan jumlah p e n d e r i t a k e j a n g d e m a m s e d e r h a n a s e b a n y a k 1 5 3 o r a n g , y a n g t e r d i r i a t a s penderita yang berumur < 1 tahun adalah 68 orang (44,4%), umur 1-4 tahun 72orang (47,1%), dan umur 5-14 tahun sebanyak 13 orang (8,5%).Dengan melihat hasil perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa jumlah penderita yang mengalami kejang demam sederhana banyak terjadi pada umur < 1tahun pada tahun 2000 dan umur 1-4 tahun pada tahun 2001, hal ini sesuai denganklaifikasi kejang demam sederhana menurut sub bagian Saraf Anak FK UI Jakartayaitu umur anak mengalami kejang demam antara 6 bulan 4 tahun.

Sampai sekarang kejang demam merupakan kelainan yang banyak terjadi pada bangsal saraf. Kejang demam jarang terjadi pada anak yang berumur kurangdari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun.Aicardi, 1986, menyebutkan usia rata-rata penderita kejang demam adalah usiaantara 17-23 bulan, sesekali kejang demam juga dijumpai pada usia yang lebih tuay a i t u 5 - 6 t a h u n . L u m b a n t o b i n g , 1 9 7 5 , m e n ye b u t k a n b a h w a i n s i d e n t e r t i n g g i antara usia 6 bulan sampai 1 tahun, dari 297 penderita kejang demam yang ditelitinya. Kurang lebih 3% anak yang berumur 6 bulan sampai 9 tahun pernahmenderita satu kali atau lebih serangan kejang demam (Goodridge, 1987). b. Berdasarkan metode Chi-Square TestsV a l u e D f A s y m p . S i g . (2sided)P e a r s o n C h i S q u a r e 2 , 1 9 9 a 2 , 3 3 3 L i k e l i h o o d R a t i o 2 , 2 0 2 2 , 3 3

3 Liner-bylinear association, 0 2 9 1 , 8 6 4 N o f v a l i d c a s e s 2 7 9 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 12,65. Metode Chi-Square Tests ini digunakan untuk melihat p e r b a n d i n g a n frekuensi kejadian kejang demam sederhana pada anak antara tahun 2000 dengantahun 2001.Dari tabel 4.b. tersebut diatas dapat diketahui bahwa tidak ada perbedaan yangmencolok terjadinya kejang demam sederhana antara tahun 2000 dengan tahun2 0 0 1 , h a l i n i d a p a t d i l i h a t d e n g a n h a s i l p e r h i t u n g a n d i m a n a n i l a i p > 0 , 0 5 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna darik e l o m p o k v a r i a b e l u m u r a n t a r a t a h u n 2 0 0 0 d e n g a n t a h u n 2 0 0 1 t e r h a d a p peningkatan frekuensi kejadian kejang demam sederhana. Tabel 5. Distribusi frekuensi kejang demam sederhana pada anak di RSU PKUMuhammadiyah yogyakarta tahun 2000-2001 berdasarkan variabel jenis kelamina. Metode CrosstabJeniskelaminT a h u n T o t a l 2 0 0 0 2 0 0 1 L a k i - l a k i C o u n t % within jenis kelamin% within tahun6943,9%54,8%8856,1%57,5%157100,0%56,3%P e r e m p u a n C o u n t % within jenis kelamin% within tahun5746,7%45,2%6553,3%42,5%122100,0%43,7%Total Count% within jenis kelamin% within tahun12645,2%100,0%15354,8%100,0%279100,0%100,0%Dari tabel 5.a. dengan menggunakan metode Cross-tab didapatkan hasil bahwa frekuensi kejadian kejang demam sederhana pada tahun 2000 adalah 69 orang ( 54,8%) pada anak lakilaki, dan 57 orang (45,2%) pada anak perempuan.Sementara itu pada tahun 2001 didapatkan 88 orang (57,5%) pada anak laki -lakidan 65 orang (42,5%) pada anak perempuan.D e n g a n m e l i h a t h a s i l t e r s e b u t d i a t a s d a p a t d i k e t a h u i b a h w a j u m l a h p e n d e r i t a k e j a n g d e m a m s e d e r h a n a p a d a a n a k l e b i h b a n ya k terjadi pada anak laki-lakidaripada anak perempuan, hal ini sesuai d e n g a n p e n d a p a t M i ya k e d k k , 1 9 9 2 , dimana dari 112 penderita kejang demam yang diteliti diantaranya 60 adalah laki-l a k i d a n 5 2 p e r e m p u a n . M i l l i c h a p , 1 9 6 8 , t e l a h m e n g u m p u l k a n 2 9 l a p o r a n mengenai kejang demam dan mendapatkan bahwa dari 4903 penderita kejangdemam, perbandingan pria dan wanita adalah 1,4:1.Dari berbagai hasil penelitian didapatkan bahwa kejang demam agak sering di jumpai pada anak laki-laki dari pada anak perempuan, dengan perbandingan berkisar antara 1,4:1 dan 1,2:1. Di dapatkan 42 % dari anak berusia

6 tahun yang menderita kejang adalah kejang demam ( Patrick & Levy op.cit ,Mulyani, 1994 ). b. Metode Chi-square testsV a l u e D f A s y m p . S i g (2-sided)Exact Sig.(2-sided)Exact sig.(1-sided)P e a r s o n C h i s q u a r e , 2 1 3 b 1 , 6 4 4 Continuity Correction a , 1 1 6 1 , 7 3 4 L i k e l i h o o d R a t i o , 2 1 3 1 , 6 4 4 F i s h e r s E x a c t t e s t , 7 1 6 , 3 6 7 Linear-byLynear Association, 2 1 2 1 , 6 4 5 N o f v a l i d C a s e s 2 7 9 a. Computed only for a 2x2 table. b. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 55,10. Dari tabel 5.b. tersebut diatas dapat diketahui bahwa tidak ada perbedaanyang mencolok terjadinya kejang demam pada tahun 2000 dengan tahun 2001 berdasarkan penggolongan variabel jenis kelamin, hal ini dapat dilihat denganhasil perhitungan dimana nilai p > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna dari kelompok variabel jenis kelamin terhadap p e n i n g k a t a n f r e k u e n s i k e j a d i a n k e j a n g d e m a m s e d e r h a n a a n t a r a t a h u n 2 0 0 0 dengan tahun 2001. Tabel 6. Distribusi frekuensi kejang demam sederhana pada anak di RSU PKUMuhammadiyah Yogyakarta tahun 2000-2001 berdasakan variabel suhu tubuhdengan metode Group statisticsT a h u n

N M e a n S t d . DeviationStd. Error MeanSuhuTubuh( o C)2 0 0 0 1 2 6 3 8 , 5 6 8 , 9 1 6 , 0 8 2 2 0 0 1 1 5 3 3 8 , 7 9 1 , 9 0 8 , 0 7 4 Dari tabel 6. tampak bahwa pada tahun 2000 frekuensi suhu tubuh yangdapat menimbulkan gejala kejang demam adalah 38,568 o C, sementara itu padatahun 2001 adalah 38,791 o C, hal ini sesuai dengan pendapat Prichard & Mc.Greal,1985, dimana suhu tubuh yang dapat menimbulkan kejang demam sederhanaadalah 100 o F (37,78 o C) atau lebih., dan juga sesuai dengan pengertian dari kejangdemam itu sendiri yaitu bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh(suhu rektal lebih dari 38 o C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung daritinggi rendahnya ambang kejang seorang anak menderita kejang pada kenaikansuhu tertentu. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38 o C sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40 o C atau lebih. Dari kenyataan ini dapatlah disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang.Dalam keadaan demam, kenaikan suhu 1 o C pun akan mengakibatkank e n a i k a n m e t a b o l i s m e b a s a l ( j u m l a h m i n i m a l e n e r g i ya n g d i b u t u h k a n u n t u k

mempertahankan fungsi vital tubuh) sebanyak 10% -15% sementara kebutuhanoksigen pada otak naik sebesar 20% (Nanny Selamihardja, 2001) BAB VKESIMPULAN DAN SARAN5.1. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:1.Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhutubuh (suhu rektal lebih dari 38 o C) yang disebabkan oleh suatu prosesekstrakranium.2 . F r e k u e n s i k e j a n g d e m a m s e d e r h a n a p a d a a n a k d i R S U P K U Muhammadiyah Yogyakarta berdasarkan variabel jenis kelamin adalahsebagai berikut:Tahun 2000 adalah:a . P a d a a n a k l a k i - l a k i : 6 9 o r a n g ( 5 4 , 8 % ) . b . P a d a a n a k p e r e m p u a n : 5 7 o r a n g ( 4 5 , 2 % ) . Sedangkan pada tahun 2001 adalah:a . P a d a a n a k l a k i - l a k i : 8 8 o r a n g ( 5 7 , 5 % ) . b . P a d a a n a k perempuan: 65 orang (42,5%). 3 . F r e k u e n s i k e j a n g d e m a m s e d e r h a n a p a d a a n a k d i R S U P K U Muhammadiyah Yogyakarta berdasarkan variabel umur adalah sebagai berikut:Tahun 2000 sebagai berikut:a . U m u r < 1 t a h u n a d a l a h 6 2 o r a n g ( 4 9 , 2 % ) . b . U m u r 1 - 4 t a h u n adalah 49 0rang (38,9%)c.Umur 5 -14 tahun adalah 15 orang (11,9%) Tahun 2001 sebagai berikut:a . U m u r < 1 t a h u n a d a l a h 6 8 o r a n g (44,4%). b.Umur 1-4 tahun adalah 72 orang (47,1%).c.Umur 5 -14 tahun adalah 13 orang (8,5%).4 . F r e k u e n s i k e j a n g d e m a m s e d e r h a n a p a d a a n a k d i R S U P K U M u h a m m a d i ya h Y o g ya k a r t a b e r d a s a r k a n v a r i a b e l s u h u t u b u h a d a l a h sebagai berikut:a . T a h u n 2 0 0 0 a d a l a h 3 8 , 5 6 8 o C. b . T a h u n 2 0 0 1 a d a l a h 3 8 , 7 9 1 o C. 5.2. Saran 1.Diperlukan penelitian yang lebih intensif la gi dengan m e n g g u n a k a n v a r i a b e l ya n g l e b i h b a n y a k d a n d a l a m j a n g k a w a k t u ya n g l e b i h l a m a sehingga didapatkan data yang maksimal.2 . T e t a p l a h t e n a n g j i k a a n a k t e r k e n a k e j a n g d e m a m , b e r i k a n o b a t p e n u r u n panas dan kompres saat anak mulai demam, posisi kepala lebih rendahdari kaki, miring kekiri untuk menghindari bahaya aspirasi, bebaskan jalan nafas, jauhkan dari benda keras atau berbahaya, jangan memasukan benda apapun kedalam mulut anak, hindarkan lidah tergigit, segera bawake dokter atau ke rumah sakit bila kejang tidak dapat di tanggulangi.3 . A p a b i l a d i d a p a t k a n a n a k d e n g a n s u h u b a d a n y a n g tinggi (38 o C ataul e b i h ) m a k a s e b a i k n y a o r a n g t u a a t a u p e n g a s u h w a s p a d a d a n mengusahakan agar suhu badannya dapat turun. 4.Pada anak yang pernah satu kali atau lebih menderita kejang d e m a m maka orang tua atau pengasuh seharusnya lebih memperhatikan dan siagadengan menyediakan obat antipieretik dan anti konvulsan (sesuai denganresep dokter) karena kemungkinan dapat terjadi kejang demam berulang.5.Untuk anak pada usia antara 6 bulan sampai 5 tahun dari keluarga denganriwayat kejang tanpa demam (epilepsi) dan kejangnya berlangsung lama(lebih dari 15 menit), perlu mendapat perhatian dan konsultasi ke dokter syaraf

DAFTAR PUSTAKA Aicardi, J. 1986, Epilepsy in Children . Raven Press, New York.Anonim, 1994, Pedoman Diagnosis dan Terapi , Surabaya.Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak, 1985, Kejang Demam , FKUI, Jakarta : 847-55.Endy, 2002, Kejang Demam , Bahan Kuliah IKA, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.Hauser, AW., and Annegers, J.F, 1987, Prognosis of Children with FebrileSeizure . i n W o l f , P , D a m m , M . , J a n z , D . , a n d D r e i f u s s , F . E . e d s . Advencees in Epileptology, XVI th Epilepsy international symposium,Reven Press, New York.Livingstone, S. , 1970, Seizure Disorders dalam S.S. Gellis and B.M. Kagen (eds), Current Pediatrics Therapy 6 th , P h i l a d e l p h i a W B . S a u n d e r s Company, P. 129.Lumbantobing, 1995, Kejang Demam (Febrile Convulsion) , Balai Penerbit FK UI, JakartaMuhrodji, 1994, Kejang Demam Sederhana , Tugas Akhir sub bagian NeurologiL a b o r a t o r i u m I K A F K U G M U P F A n a k R S U P D r . S a r d j i t o , YogyakartaM u l y a n i , N S , 1 9 9 4 , Kejang Demam, Diajukan sub bagian NeurologiL a b o r a t o r i u m I K A F K U G M U P F A n a k R S U P D r . S a r d j i t o , Yogyakarta Nanny Selamihardja, 2001, Tetaplah Tenang Jika Anak Kejang Demam , www.intisari kesehatan.com.Soetomenggolo, T.S., 1989, Kejang Demam. Dalam Lumbantobing, S.M danIsmael,H.S eds. Penatalaksanaan Mutakhir Kejang Demam PadaAnak , FKUI. Jakarta.Soetomenggolo, 1995, Kejang Demam dan Penghentian Kejang, Kelainan Neurologis dalam Praktek Seharihari 210-220, JakartaY u n i a r t i , E v i , 1 9 9 9 , K e j a n g D e m a m , R e f e r a t u n t u k m e m e n u h i s ya r a t d a l a m Program Studi Kepaniteraan di bagian Ilmu Kesehatan Anak, RSUPProf. Dr. Margono Soekarjo, PurwokertoSoetomenggolo, T.S., 1989, Kejang Demam. Dalam Lumbantobing, S.M danIsmael,H.S eds. Penatalaksanaan Mutakhir Kejang Demam PadaAnak , FKUI. Jakarta