Anda di halaman 1dari 3

FATMA SEPTYA ABUBAKAR E13109262

TUGAS STUDI KAWASAN EROPA (CHAPTER 3. EUROPE AND THE UNITED STATES, The Obama Era and Weight of History)

UNUSUAL RELATIONSHIP BETWEEN EUROPE AND USA


Sejarah panjang hubungan Eropa dan Amerika telah banyak mewarnai peta politik dunia. Dan melihat bentuk kerjasama yang terbangun antara keduanya dapat dikatakan sangat tidak lazim. Hal ini disebabkan oleh seringkalinya terjadi rivalitas kepentingan terhadap keduanya namun disisi lain keduanya masih menganggap pentingnya aliansi bersama. Dan belakangan ini, yaitu pada era pemerintahan Obama semangat aliansi semakin memudar. Dalam memahami pergeseran paradigma Eropa, dapat terefleksikan dari sejarah terbentuknya aliansi keduanya. Hubungan kerjasama Amerika dan Eropa selalu menjadi pusat perhatian dunia. Meskipun integrasi di Eropa terjadi namun hanya mengcover persoalan ekonomi dan kerjasama politik saja dan dalam persoalan perang dan damai, Eropa telah sangat terkenal akan ketidakmampuannya. Dibuktikan dengan tercetusnya PD I dan PD II. Maka disinilah peran Amerika yakni sebagai penyokong sekaligus pelindung keamanan Eropa. Pasca PD II, Amerika menjadi negara yang memegang kekuasaan bagi benua ini. Pada tahun 1947 Amerika mengeluarkan kebijakan marshall plan dalam membangun kembali puing-puing kehancuran Inggris. Dan ditahun 1949 dibentuklah NATO sebuah kerjasama nyata antara sekutu dan aliansi dalam melawan persebaran komunisme Soviet. Ditahun ini pula Jerman barat bergabung melalui unifikasi. Amerika memberikan dukungan penuh akan persatuan dari negara-negara Eropa barat sebab hal ini akan memperkuat pertahanan dalam melawan komunisme. Tidak dapat dielakkan pula, bahwa pada dekade berikutnya tensi terjadi di sejumlah negara aliansi utamanya yang melibatkan persaingan antara Inggris dan Perancis. Hubungan Amerika dan Eropa juga diawarnai ketegangan akan krisis yang terjadi di Timur Tengah mengenai dinasionalisasinya terusan Suez oleh Nasser. Inggris berpendapat hal ini akan menjadi ancaman bagi supply minyak dan Perancis berpandangan bahwa ini merupakan peluang tepat dalam mendominasi Algeria namun pada saat itu Amerika tidak berkehendak dalam melakukan konfrontasi melawan Nasser karena belum memiliki kapasitas militer yang cukup. Pada akhirnya aksi Inggris dan Perancis dalam melakukan perlawanan mengalami kegagalan sehingga Inggris kembali mendukung langkah Amerika. Namun Perancis memutuskan untuk mengambil langkah lain dengan membangun Eropa sebagai sebuah kekuatan yang akan menyaingi Amerika. Beberapa bulan kemudian, perjanjian Roma mengenai perdagangan ditandatangani oleh 6 negara. Rivalitas antara Perancis dan inggris-Amerika semakin
1

jelas. Hal ini juga berujung pada penolakan 6 negara European Economic Community (EEC) untuk memasukkan Inggris. Pada tahun 1973 aliansi ini kembali diperbaiki dengan memanfaatkan krisis yang terjadi di Eropa yang disebabkan oleh devaluasi kedua Dolar, perang Arab-Israel, kenaikan harga minyak oleh OPEC. Namun di tahun 1980 keputusan NATO dibawah Amerika yang mencoba untuk memodernisasi arsenal nuklir sempat mematahkan kembali aliansi karena kondisi negara-negara di Eropa barat saat itu yang memiliki kedekatan dengan Soviet karena kepentingannya dan menolak keras pandangan Amerika mengenai kebijakan neo-perang dingin. Namun disisi lain dukungan Inggris terhadap Amerika terus mengalir meskipun sempat bermasalah pada persoalan Falklan Island. Pada tahun 1987 Amerika mengeluarkan perjanjian intermediate-range nuclear forces treaty dengan Moskow, dan hal ini ternyata meningkatkan antusiasme dari negara-negara Eropa barat melalui dukungannya. Hal ini sekaligus menandai awal dari akhir pembangunan militer antara timur dan barat. Pada tahun 1989 tembok berlin runtuh. Jika bukan karena perang dingin maka negara-negara di Eropa tidak akan menjadi perhatian geopolitik dari Amerika. Selain itu sebagai hasil dari resiko persaingan nuklir ternyata telah membawa keamanan di kawasan ini. Masuknya Jerman juga menghapuskan perimbangan kekuasaan yang selalu berujung pada perang di benua ini. Namun kejatuhan Soviet ternyata menjadi awal mula munculnya keraguan mengenai masa depan aliansi ini. Kemenangan akan perang dingin telah menimbulkan pertanyaan bagi keamanan kolektif ini, apakah Amerika masih membutuhkan Eropa? Seberapa besar upah yang harus dibayarkan kepada aliansinya dalam membangun kembali benua? Apakah para politisi Amerika akan memutuskan untuk menarik kembali tentaranya? Kekhawatiran akan masa depan benua inilah yang menjadi masalah selanjutnya. Namun Inggris melihat bahwa NATO dapat digunakan sebagai alat untuk tetap mempertahankan keberadaan Amerika di Eropa. Di tahun-tahun selanjutnya 1991-1992 dibalik berbagai persoalan yang dihadapi Amerika dengan Kuwait, dan Bosnia, Eropa melalui Uni Eropa telah tumbuh menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang cukup besar dan menjadi saingan dagang bagi Amerika. Namun ketidakmampuan Uni Eropa dalam menciptakan keamanan bagi halaman belakangnya sendiri terlihat dari pecahnya perang yang terjadi di Serbia dan Balkan. Hal ini juga disebabkan oleh keengganan Amerika dalam melakukan intervensi, ditambah dengan tidak adanya aksi dari negara Eropa yang memegang kekuasaan. Perjanjian Daytonlah yang kemudian menyelamatkan kondisi transatlantic, dimulai pada tahun 1996 sebanyak 60.000 tentara NATO dikirim ke Bosnia. Pada tahun 1997 perayaan akan 50 tahun aliansi diselenggarakan, Toni Blair, Perdana menteri Inggris melalui pidatonya mencoba mendefinisikan kembali visi aliansi (NATO) yaitu berkomitmen dalam melawan berbagai tirani didunia. Dan mengusulkan doktrin intervensi kemanusiaan. Perbedaan pandangan kembali muncul antara aliansi Amerika-Eropa dalam peristiwa 9/11 yang kemudian ditandai dengan kehadiran artikel 5 yang menyatakan
2

bilamana terjadi serangan terhadap salah satu negara anggota NATO maka serangan tersebut dianggap merupakan serangan terhadap kesemua anggota NATO. Bush dengan doktrin poros setan dan war on terror cukup memberikan ketidaknyaman bagi Eropa. Hal ini memperlihatkan sikap Amerika yang mencoba untuk menggeneralisasi perang dengan islam, hal ini juga bertujuan untuk memompa ketegangan dikalangan umat muslim dunia. Selain itu bahaya lain yang dirasakan Eropa semakin berlipat dengan keengganan Amerika dalam mewujudkan perdamaian antara Palestina dan Israel. Eropa juga memandang bahwa konflik Arab-Israellah yang telah menyebabkan meningkatnya radikalisme muslim. Namun bagaimanapun persoalan yang terjadi, Inggris tetap memihak Amerika dengan mengirimkan pesawat perangnya dalam membom Sadam. Sejak awal dilantiknya Bush, negara-negara Eropa telah menaruh kecurigaan terhadapnya ditandai dengan tindakan penghinaan Bush terhadap pemimpin-pemimpin Eropa dengan tidak meratifikasi protokol kyoto serta penolakannya dalam International Criminal Court (ICC) mengenai perjanjian anti misil balistik menampakkan pemaksaan Amerika untuk bebas bertindak. Sejarah kerjasama Eropa dan Amerika memberikan gambaran mengenai kuatnya dominasi/posisi Amerika bagi negara-negara di Eropa. Dan hal ini merupakan sebuah kewajaran melihat biaya yang harus Amerika korbankan dalam menopang keamanan dunia. Dominasi tersebut juga berasal dari karakteristik masing-masing dimana Amerika adalah negara yang kuat yang dibuktikannya dengan kapasitas militernya dan Eropa adalah kelompok yang lemah dengan keterbatasannya pada soft power. Amerika terbukti senantiasa memiliki insting dalam memperbaiki sesuatu ketimbang Eropa yang terbatas hanya pada kemampuannya untuk mengatur. Dewasa ini telah terjadi perubahan yang cukup signikan akan hubungan keduanya, disebabkan oleh munculnya kekuatan-kekuatan baru dunia seperti China, India, Rusia (sebagai penyuplai energi terbesar), Amerika Latin, dan Asia telah membentuk kembali peta politik dunia. Ditambah dengan pergeseran fokus kebijakan luar negeri Amerika yang berorientasi ke Asia. Namun tidak dapat dipungkiri pula bahwa pada era pemerintahan Obama lahir sebuah optimistik bagi negara-negara Eropa akan sebuah bentuk aliansi yang lebih baik. Pertemuan Amerika dengan para pemimpin Eropa di Starsbourg yang menandai perayaan 60 tahun NATO menunjukkan harapan Amerika dalam melihat komitmen aliansinya. Namun ternyata hal tersebut tidak sejalan dengan ekspektasi Amerika dimana Amerika memperoleh kekecewaan disebabkan oleh respon dari Eropa yang tidak berniat dalam memperkuat kembali hubungan keduanya(NATO). Hal ini tampaknya cukup berasalan melihat sejarah hubungan keduanya yang senantiasa diwarnai dengan tarik-menarik kepentingan. Dan Eropa berpendapat bahwa harga yang perlu dibayarkannya kepada Amerika telah cukup. Aliansi yang ada kini tidak lagi disandarkan pada musuh bersama ataupun menjaga keamanan di balkan namun sebatas menjaga keberlanjutan dari solidaritas dibalik berbagai kepentingan yang berbeda.