Anda di halaman 1dari 9

ABSTRAK

Kata Kunci: Aceh, Tantangan, Multikulturalisme Aceh yang terlahir sebagai indentitas plural dan jamak telah melalui sejarahnya dengan panjang dan unik. Aceh tidak tunggal dalam memaknai perjalanan dirinya, karena Aceh adalah kumpulan keberagaman. Baik itu etnis, ras, suku, agama, sejarah bangsa bahkan juga pandangan politik. Dimasa-masa awal Aceh, keberagaman ini dapat dimaknai dan diapresiasi secara positif, sehingga Aceh lahir menjadi titik tolak peradaban bagi wilayah sekitarnya. Kini kedewasaan tersebut mendapat tantangan, karena Aceh sudah berada pada fase yang manentukan, pasca konflik dan tsunami. Bahwa kini di Aceh dituntut kembali untuk menmgelola keberagamannya, seperti masa-masa awal. Pengelolaan secara positif ini dinamai dengan multikulturalisme. Paham yang menerangkankan akan pentingnya apresiasi positif terhadap perbedaan, dengan kacamata kesetaraan.

I. PENDAHULUAN Aceh dalam lintasan sejarah adalah sebuah indentitas yang tunggal, independen serta unik. Aceh yang memiliki hamparan geografis yang strategis, telah membuat bangsa ini memiliki keragaman suku, etnis dan juga sejarah. Bagi Aceh, keragaman ini telah menorehkan tinta emas dalam perjalan sejarahnya. Keberagaman tersebut yang telah membawa Aceh menjadi indentitas yang kosmopolit, egaliter, progresif terhadap gagasan baru, selama tidak mengganggu indentitas sejatinya. Keunikan ini semakin mendapatkan bentuknya, ketika di Aceh, tepatnya di Kerajaan Samudera Pasai, memeluk agama Islam, bahkan sebagai agama resmi negara. Ajaran Islam yang menekankan kepada nilai-nilai kemanusiaan, seperti kesetaraan, keadilan, pluralisme dan progresifitas ternyata mendapatkan bentuk yang tepat di Aceh. Karakter inilah yang dibawa oleh kerajaan di Aceh sesudahnya, seperti kerajaan Peureulak dan Aceh Darussalam yang bertempat di Banda Aceh. Keberadaan dua kerajaan besar tersebut tetap mewakili semangat Islam, sehingga melanjutkan usaha penyebaran Islam yang telah dirintis oleh kerajaan Samudera Pasai di nusantara. Perjalanan keberagaman Aceh ini yang diceritakan dengan begitu baik oleh dinamika sejarah, yang dengan sendirinya tentu membentuk karakter masyarakat Aceh yang siap mengapresiasikan segala perbedaan secara positif. Kekuatan ini sendiri sesungguhnya dibentuk oleh penghayatan nilai-nilai keagamaan yang sudah menjadi budaya keseharian masyarakat Aceh. Inilah sesungguihnya yang membuat masyarakat Aceh dari berbagai generasi bisa menerima keberagaman, entah itu dari segi etnis, pandangan agama, sejarah dan ras. II. PEMBAHASAN 2.1. Pengertian Multikulturalisme Multikulturalisme berasal dari dua kata; multi (banyak/beragam) dan cultural (budaya atau kebudayaan), yang secara etimologi berarti keberagaman budaya. Budaya yang mesti dipahami, adalah bukan budaya dalam arti sempit, melainkan mesti dipahami sebagai semua dialektika manusia terhadap kehidupannya. Dialektika ini akan melahirkan banyak wajah, seperti sejarah, pemikiran, budaya verbal, bahasa dan lain-lain. Kesadaran akan adanya keberagaman budaya disebut sebagai kehidupan multikultural. Akan tetapi tentu, tidak cukup hanya sampai disitu. Bahwa suatu kemestian agar setiap kesadaran akan adanya keberagaman, mesti ditingkatkan lagi menjadi apresiasi dan dielaborasi secara positif. pemahaman ini yang disebut sebagai multikulturalisme. Mengutip S. Saptaatmaja dari buku Multiculturalisme Educations: A Teacher Guide To Linking Context, Process And Content karya Hilda Hernandes, bahwa multikulturalisme adalah

bertujuan untuk kerjasama, kesederajatan dan mengapresiasi dalam dunia yang kian kompleks dan tidak monokultur lagi. Pengertian ini memang sangat relevan dengan keadaan yang multikultur dewasa ini. Pengertian dari Hilda ini mengajak kita untuk lebih arif melihat perbedaan dan usaha untuk bekerjasama secara positif dengan yang berbeda. Disamping untuk terus mewaspadai segala bentuk-bentuk sikap yang bisa mereduksi multikulturalisme itu sendiri. Lebih jauh, Pasurdi Suparlan memberikan penekanan, bahwa multikulturalisme adalah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individu maupun kebudayaan. Yang menarik disini adalah penggunaan kata ideologi sebagai penggambaran bahwa betapa mendesaknya kehidupan yang menghormati perbedaan, dan memandang setiap keberagaman sebagai suatu kewajaran serta sederajat. 2.2. Aceh yang Multikultural Seperti yang ditulis di atas, keberadaan Aceh dari awalnya adalah wajah keberagaman. Keberagaman ini diwakili banyak wajah, baik itu etnis, sejarah, budaya, pemikiran keagamaan dan lain-lain. Dibawah ini coba akan diuraikan tentang keberagaman yang ada. Ini sebagai bentuk awal pemetaan kehidupan multikultural di Aceh. 2.2.1. Keberagaman Etnis Aceh merupakan hamparan geografis yang luas, dengan kenyataan demikain, maka tidak heran kalau Aceh memiliki keragaman etnis yang tentu juga keragaman Budaya, tata nilai, pengalaman serta kearifan local. Istilah Aceh adalah merujuk kepada daerah ujung sumatera. Penamaan Aceh sering disebut sebagai akronim dari Arab, Cina, Eropa dan Hindia. Lain lidah lain pula penyebutan nama daerah ini. Bagi orang Arab menyebutnya Asyi, orang perancis menyebutnya Achem, orang Ingris menyebutnya Acheen. Terlepas dari penamaan nama Aceh yang memang sudah lama sekali ada. Aceh adalah wilayah yang secara geografis memang strategis karena berada di lintasan Selat Malaka. Lalu lintas laut yang sangat strategis menyebabkan Aceh menjadi wilayah yang kosmopolitan dari segala aspek, baik politik, ekonomi maupun agama. Secara politik Aceh sedari dulu memang sudah kosmopolit. Ini ditunjukan dengan sudah terjalinnya hubungan diplomatik dengan banyak negara-negara dibelahan dunia lainnya. Secara ekonomi Aceh menjadi tempat persinggahan yang strategis oleh pedagang-pedagang mancanegara. Hubungan ekonomis inilah yang juga membawa Aceh berinteraksi dengan Islam yang diterima dengan baik oleh penguasa setempat. Interaksi agama inilah yang membawa Aceh semakin memperluas eksistensinya kedunia luar. Karena Aceh saat itu juga mendapat legitimasi keagamaan oleh karena menjadi tempat persinggahan para jamaah haji. Persinggahan inilah yang membuat Aceh disebut sebagai Serambi Mekkah. Penerimaan Aceh terhadap Islam juga berpengaruh ke dalam sendi-sendi kehidupan lainnya. Menakar Aceh dalam setiap bagiannya pastilah mesti mengikatkannya dengan Islam. Dalam kebudayaan misalnya, mulai dari artefak, seni suara, seni tari, arsitektur, seni rupa, kesustraan, semuanya menyertakan Islam. Penduduk yang mendiami Aceh beragam suku. Suku Aceh, Jamee, Gayo, Alas, Tamiang, Aneuk Jamee, Kluet, Singkil, Defayan, dan Sigulai. Selain itu pula pengaruh suku bangsa luar juga sangat kuat. Seperti adanya masyarakat Aceh keturunan Arab, Tiongha, India serta Eropa. Keberagaman suku bangsa ini juga mempengaruhi bahasa yang digunakan, walau mayoritas memakai bahasa Aceh, tentu dengan dialek yang berbeda pula. Pada daerah-daerah tertentu, terdapat pula pemakaian bahasa yang berbeda, sesuai dengan suku bangsanya. Seperti bahasa Gayo yang sering digunakan oleh masyarakat Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Bahasa Simeulue dan beberapa bahasa lainnnya di dearah Simeulue, Aceh Tamiang, juga ada bahasa Aneuk Jamee yang merupakan perpaduan dialek Minangkabau dan Kluet. 2.3. Keberagaman Sejarah Aceh awalnya terdiri dari Kerjaan kecil yang menguasai daerah-daerah terbatas. Seperti kerajaan Pasai, Peurelak, Pidie, Takengon dan juga Tamiang. Pada awal abad 16 lahirlah kerajaan Aceh Darussalam yang berada di Banda Aceh. Pada awalnya, kerajaan ini hanyalah

kerajaan kecil yang hanya berkuasa disekitar Aceh besar saja, dengan Ali Mughayat Syah sebagai Sultan pertama. Kerajaan ini semakin membesar ketika mereka meraih kemenangan melawan Portugis pada bulan Mei 1521. Kekuasaan Aceh Darussalam pada tahun 1524 sudah meliputi daerahdaerah diluar Aceh Besar dengan berhasil ditaklukkannya kerajaan Deli, Daya, Pedir (Pidie) dan Pasai. Sebenarnya, Kerajaan Aceh Darussalam benar-benar menjadi kekuatan besar ketika mereka berhasil mematahkan dominasi Portugis di Sumatera. 2.4. Keberagaman Pemikiran Keagamaan Bahwa Aceh pernah dipengaruhi pemikiran Syiah dan Sunni, ini bisa dilihat dari adanya ulama-ulama seperti al-Sumateratani, Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar-raniry dan Abdul Rauf Assingkily. Kebergaman ini pernah hidup dengan berdampingan. Secara umum, pemikiran keagamaan di Aceh adalah syariah dan tassawuf. Islam syariah adalah penafsiran Islam yang mengedepankan lahiriah, ini diwakili oleh Syeikh Nuruddin Ar-Raniry, ulama asal India. Sedangkan Islam tassawuf yang mengedepankan batiniah diwakili Syamsuddin al-Sumatrani. 2.5. Penghargaan Terhadap Multikulturalisme Sebelum Abad 20 Ini bisa dilihat dari berbagai perspektif, bahwa betapa masyarakat Aceh bisa menerima walau dipimpin oleh yang bukan berasal dari Aceh. Tentu ini adalah wajah multikulturalisme yang luar biasa. Untuk ulama juga demikian. Dari sekian ulama yang ada, hanya Abdul Rauf yang berasal dari Aceh. Seperti Ar-Raniry yang berasal dari daerah Ranir di India. Penghargaan inilah yang membuat Aceh mampu membangun jaringan ulama, baik di nusantara maupun di Timur Tengah. Secara politik, Aceh juga memperlihatkan penghargaan tinggi terhadap bangsa-bangsa lain seperti halnya dengan Turki misalnya, bahkan juga untuk kepemimpinan wanita, baik di bidang legislatif maupun kepemimpinan wanita sebagai Sultan Aceh, yang berlangsung kurang lebih enam puluh tahun. kemimpinan seperti ini ada karena tradisi yang telah mengakar kuat, sehingga di Aceh bisa muncul kepemimpinan perempuan. 2.7. Persoalan Multikultralisme di Aceh. Sejarah panjang kehidupan masyarakat Aceh yang menghargai multikulturalisme mendapat tantangan pada masa-masa sekarang. Diawali oleh munculnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang diploklamirkan oleh Hasan Tiro pada 4 Desember 1976erakan bersenjata ini muncul akibat ketidakpuasan Aceh terhadap pemerintah Jakarta yang dianggap telah berlaku tidak adil dalam berbagai hal, terutama ekonomi. Dimana hasil alam Aceh dieksploitasi secara besarbesaran namun ironinya Aceh tidak mengalami pembangunan yang setara dengan hasil alamnya yang melimpah dan habis dikeruk ke Jakarta. Kekecewan pada pemerintah pusat juga masih mengendap dengan kuat karena penyelesaian konflik yang tidak adil terhadap pemberontakan DI/TII. Keistimewaan Aceh sebagai solusi dari pergolakan Aceh tersebut ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan. Berarti munculnya GAM ini bisa dikatakan sebagai kelanjutan dari pemberontakan DI/TII yang dipimpin Tgk. M. Daud Beureuh. Pemberontakan GAM ini juga dibangun dengan landaskan ideologi nasionalis ke-Aceh-an yang dibangun oleh Hasan Tiro. Hasan Tiro yakin bahwa idologi ini lebih memberikan kekuatan untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah pusat. Hasan Tiro juga orang yang sangat percaya akan kekuatan sejarah Aceh yang gemilang. Baginya, sejarah Aceh adalah identitas sekaligus kekuatan Aceh sendiri.Untuk arah perjuangan GAM, Hasan Tiro menulis dalam satu bukunya yang monumental, Demokrasi Untuk Indonesia. Buku ini menjelaskan bahwa Hasan Tiro menolak bentuk negara kesatuan, bagi Hasan Tiro, negara kesatuan sangat tidak relevan dengan keberagaman yang dimiliki oleh wilyah yang berada di nusantara ini. Pemberontakan GAM sendiri mengalami pasang surut. Pada awal deklarasi, gerakan ini langsung mendapat tekanan dari pemerintah pusat dengan melakukan operasi militer. Pada mulanya tekanan ini berhasil membuat kekuatan GAM lemah. Kondisi ini terus berlanjut sampai akhir tahun 1980-an. Pada akhir 80-an GAM kembali bangkit. GAM fase itu adalah generasi kedua, dimana banyak personilnya berasal dari alumni pelatihan militer di Libya. Aksi-aksi militer

dari anggota GAM alumni Libya ternyata lebih kuat dan lebih variatif. Keadaan ini memaksa pemimpin daerah Aceh melakukan tindakan yang lebih gencar untuk menghalangi semakin meluasnya aksi-aksi GAM tersebut. Akhirnya untuk meredam GAM pemerintah pusat menetapkan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer yang menjadi catatan kelam untuk sejarah Aceh. Karena selama DOM Aceh menjadi ladang pembantaian kemanusiaan yang terbesar di Indonesia (genocida). Ironisnya, kejadian terjadi disaat bangsa ini sedang berada dalam masa pembangunan. Kekuatan GAM juga sempat kembali surut karena operasi militer yang sangat represif, akan tetapi setelah Indonesia menikmati alam kebebasan sebagai buah reformasi, GAM kembali muncul. Bahkan menjadi lebih kuat dari apa yang pernah dibayangkan, bahkan oleh GAM sendiri. Kekuatan GAM ini ternyata dapat dipelihara dengan baik, ini terlihat dari dua kali periode Darurat Militer (DM) dan Darurat Sipil (DS). Kekuatan GAM tidak juga berkurang. DM & DS juga telah mengakibatkan kehancuran di berbagai penjuru Aceh. Dari pembunuhan warga sipil, dibakarnya sekolah-sekolah sampai matinya roda perekonomian rakyat. Kedaan ini seakan-akan tidak akan pernah berakhir. Sampai Aceh diguncang gempa dan tsunami tanggal 26 Desember 2004 yang memporak-pandakan Aceh secara luar biasa. Keadaan inilah yang kembali membuat mata dunia internasional kembali melihat Aceh, yang selama darurat militer dan sipil terisolasi oleh dunia internasional. Walau pada awalnya perhatian dunia internasional lebih tertuju kepada bantuan kemanusiaan. akan tetapi lama kelamaan dialihkan kepada bantuan secara politik, yaitu mengusahakan perdamaian antara RI-GAM yang telah berkonflik hampir tiga puluh tahun. Perdamaian antara RI dan GAM yang fasiltasi oleh CMI, lembaga yang bertempat di Finlandia, ditandatangani di Helsinki tanggal 15 April 2005 itu telah memberi wajah baru bagi Aceh dalam menata hidup yang lebih bermartabat dan terhormat. Perdamaian telah memberi ruang gerak yang luas bagi berbagai pihak di Aceh untuk melakukan perbaikan di berbagai bidang, dari politik sampai dengan ekonomi. Selain masalah panjang diatas, Aceh juga dicatat sebagai wilayah yang menghadirkan ketimpangan sosial. Seperti ada daerah-daerah yang maju, akan tetapi masih juga wilayah di Aceh yang masih tertinggal. Kondisi ini tentu bisa membuat multikulturalisme terancam. Bahwa kini, stereotip Aceh pesisir dan Aceh Pedalaman telah ada di kalangan masyarakat Aceh, sehingga munculah gerakan-gerakan politik seperti ALA-ABAS (terlepas adanya kepentingan segelintir elit, yang menuntut pemekaran provinsi), Walau kini tuntutan tersebut tidak lagi muncul, ini bukan semata-mata karena kuatnya pemahaman multikultralisme di Aceh, melainkan lebih kepada keputusan politik pemerintah yang tidak lagi melihat pemekaran provinsi sebagai suatu keputusan politik yang strategis dalam pembangunan. Secara budaya, jelas kita melihat apresiasi yang sangat rendah terhadap kearifan lokal daerah setempat, yang ternyata menjadi kebajikan bersama, yaitu Seumong. Pada tanggal 26 Desember 2004, ketika gempa dan naiknya gelombang pasang ke daratan, masyarakat Banda Aceh berteriak-berteriak air laut naik-air laut naik. Tidak lama kemudian, gelombang pasang yang menewaskan dua ratus ribu lebih masyarakat Aceh yang mendiami pesisir di kenal dengan nama Tsunami. Istilah yang diambil dari bahasa Jepang. Padahal tidak jauh dari Banda Aceh, di pulau Simeulue ada satu kearifan lokal yang bernama Seumong, yang telah menyelamatkan ribuan masyarakat Simeulue dari musibah tersebut. Akan tetapi istilah ini tidak menjadi milik bersama masyarakat Aceh. Kita lebih senang menggunakan istilah dari negeri jauh, dari pada punya saudara dekat sendiri. III. KESIMPULAN: 3.1.Multikulturalisme Sebagai Suatu Kemestian Memang keterbukaan yang kini telah dinikmati oleh berbagai kalangan dan lapisan tentu positif, apabila dimaknai dengan baik. Akan tetapi bisa berakibat negatif bila dimaknai sebagai serba boleh dan kebebasan yang destruktif. Oleh karenanya, Aceh mesti memiliki kearifan untuk memaknai keberagaman ini dengan multikulturalisme. Dimana multikulturalisme dimaknai sebagai representasi antropologis dalam pembentukan bangsa,dikarenakan Aceh adalah identitas kebangsaan yang kosmopolit dan plural.

Oleh karenanya, multikulturalisme di Aceh mesti ditempuh dengan memberikan pendidikan multikulturalisme yang merata ke segala lapisan, baik secara kultural maupun struktural. Pendidikan multikulturalisme ini mesti bisa menyentuh inti dari persoalan multikulturalisme ini. Entah multikultural di bidang agama, budaya, cara pandang, sejarah, dan politik. Selain itu, pendidikan multikulturalisme yang dibangun tidak boleh melupakan aspek konflik, artinya konflik yang telah berlangsung selama 30 tahun harus nenjadi titik tolak membangun kehidupan multikultural di Aceh. Ini dikarenakan konflik telah banyak meruntuhkan sendi-sendi sosial kemasyarakatan. Selain dengan pendidikan, jalur kultural juga mesti pula kuat dalam persoalan multikultralisme. Tentu, pendidikan multikulturalisme di Aceh akan tidak akan sukses, jika jalur kultural, seperti keluarga, masyarakat, sektor pendidikan baik formal maupun non-formal tidak mendukung. Yang tidak boleh dilupakan adalah jalur struktural. Bahwa negara, dalam hal ini Pemerintah Aceh yang baru juga mesti menempatkan multikultralisme sebagai keputusan politiknya. Negara atau mesti memiliki keputusan politik yang menempatkan keberagaman sebagai potensi positif dan mesti dimaknai dengan kebijakan politik yang kondusif kearah multikulturalisme. Pluralitas ke-Acehan adalah tradisi Aceh itu sendiri, ditampilkan dalam berbagai wajah, baik suku, etnis dan bahasa. Terlalu sulit untuk mengatakan bahwa Aceh memiliki satu indentitas mayoritas. Bahkan pasca Perang Aceh pemerintah Hindia Belanda melakukan sensus, tahun 1930 ternyata penduduk Aceh masih sangat plural dengan total 1.002.900. yang terdiri dari 3.251 orang Eropa, 976.265 Aceh, yang itu terdiri beragam suku yang telah lama hidup bersandingan, baik itu suku Aceh, Jame, Gayo dan lain-lain. 21.649 Cina dan 1.735 Timur Asing. Padahal pada tahun 1905 yaitu usai Perang Aceh, jumlah penduduk (1873-1904) jumlah pendudunya hanya 570.000 jiwa. Di zaman Kesultanan Aceh, jumlah penduduk diseluruh Aceh berada sekitar setengah juta jiwa. Baca H. Rosihan Anwar, Perkisahan Nusa: Masa 1973-1986, (Jakarta: Pustaka Gratifipers, 1986) hal. 3. Islam sebagai gagasan dan menjadi agama mayoritas di Nusantara menggunakan Aceh sebagai pintu gerbangnya. Banyak perdebatan mengenai kedatangan awal Islam di nusantara, akan tetapi itu semua mengkristal bahwa Aceh adalah daerah pertama di Nusantara yang menerima Islam. banyak pengamat mengatakan bahwa Islam sudah disebarkan di Aceh pada abad pertama Hijriah. Dan menjadi resmi pada abad 12-13 Masehi. Ini ditandai dengan adanya makam Sultan Kerajan Pasai, Malikul Shalih tahun 698/1297. Untuk lebih jelas kedatangan awal Islam di Nusantara baca Azyumardi Azra, Jaringan Ulama timur tengah dan kepulauan nusantara Abad XVII&XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia (Jakarta:Kencana, 2004) Hal. 5-19. Penyebaran Islam di Nusantara menjadi kajian yang tetap menarik sampai kapanpun oleh para peneliti keindonesiaan. Meneliti Islam, di Indonesia tidak akan pernah bisa dilepaskan dari keberadaan kerajaan Aceh tempo dulu yang telah memberikan peran sentral terhadap pengislaman nusantara, walau Kerajaan Aceh seperti Smudera Pasai pernah mendapat serangan dari kerajaan Hindu-jawa Majapahait tahun 1380, akan tetapi dapat tetap terus eksis dan memberikan sumbangan berarti perkembangan Islam, ini dibuktikan dengan berdirinya kerajaan Islam pertama di Jawa, yaitu Demak. Baca Saifuddin Zuhri, Sejarah kebangkitan Islam Dan Perkembangan Islam di Indonesia, (Bandung: Almaarif) hal. 194-213. Untuk proses penyebaran Islam di daerah lain baca juga H.M.Zainuddin, Tarich Atjeh dan Nusantara, (Medan: Iskandar Muda, 1961) hal. 250-262. Penyebaran Islam dari Aceh ke Nusantara tetap memakai cara damai, sama seperti ketika Islam pertama kali datang ke Aceh. Ditambah pada saat penyebaran, kerajaan Hindu seperti Sriwijaya dan Majapahit sedang mengalami kemunduran hebat karena berbagai krisis politik. Sehingga penerimaan Islam di bagian nusantara lain bersifat akomodatif dan kompromis. Karakteristik utama penyebaran Islam di nusantara ditandai dengan tarnsformasi intelektual, yang akhirnya membentuk benang merah tradisi ilmiah dan jaringan ulama nusantara. Baca Azyumardi Azra, Jaringan Ulama...hal. 197-259

Ajakan kepada pemahaman yang multikulturalisme sedang giat-giatnya disuarakan oleh para cendikawan. Dintaranya tercatat M. Amin Abdullah, Pendidikan Agama Era MultikulturalReligius (Jakarta: PSAP, 2005) dan Abdul Munir Mulkhan, Kesalehan Multikultural:BerIslam Secara Autentik-Kontekstualk di Arus Peradaban Global (Jakarta: PSAP, 2005). Parsudi Suparlan, Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural, 2002. A. Rani Usman, Sejarah Peradaban Aceh, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003), hal. 19. Ibid,...hal. 38. Ada yang memperkirakan bahwa penduduk asli Aceh berasal dari Champa, Kochin-China dan Kamboja. Ada yang mengatakan karena kedatangan golongan melayu muda yang lebih tinggi peradabannya, maka bahwa penduduk asli menyingkir jauh kepedalaman, yang dikenal sekarang dikenal dengan Gayo dan Alas. Untuk lebih jelas baca Tuhana Taufik A, Aceh Bergolak Dulu dan Kini, (Yogyakarta: Gama Global Media, 2000), hal. 68-69. www.wikepdia.com diakses tanggal 13 Desember 2006.. Tidak jelas kapan Ali Mughayah naik tahta. Akan tetapi makamnya menunjukkan bahwa dia meninggal pada 7 agustus 1530. Baca Denys Lombard, Kerajaan Aceh..., hal. 49. Perang antara Aceh dan Portugis pertamakali terjadi antara tahun Mei 1521. pada saat portugis sudah menjalin kerjasama dengan kerajaan Pedir dan Pasai. Sehingga pada perang pertama ini tidak hanya Portugis saja yang dikalahkan tapi juga kerajaan Pedir dan pasai sekalian. Baca Muhammad Said, Atjeh Sepanjang Abad, (Medan: Waspada, 1960), hal. 94. Berbeda dengan Syamsuddin al-Sumatrani yang menganut paham wahdatul wujud, Nuruddin Ar-Raniry adalah seorang yang lebih mementingkan syariat. Sehingga pada masa awal pemerintahan sultan Iskandar Tsani terjadi konflik agama antara pendukung ide Syamsuddin alSumatrani dan Nuruddin Ar-Raniry. Dimana pengikut Syamsudin Sumatrani dikejar-kejar dan karyanya dibakar. Awalnya Nuruddin Ar-Raniry telah mendatangi Aceh pada pemerintahan sultan Iskandar Muda, akan tetapi dia tidak terima, karena tidak sultan Iskandar Muda lebih memilih Syamsuddin al-Sumatrani sebagai Mufti kerajaan. Kemudian setelah mangkatnya iskandar Muda dan digantikan oleh Iskandar Tsani, pada 31 Mei 1637 barulah dia kembali ke Aceh dan mendapat jabatan sebagai Qadhi Malikul Adil selama 17 tahun, berarti Nuruddin ArRaniry juga pernah menjabat Qadhi Malikul Adil pada pemerintahan Ratu Safiatuddin selama beberapa tahun. Baca Ali Hasjmy, Sejarah, hal. 200-201 Syamsuddin al-Sumatrani dilahirkan di sumatera pada akhir abad XVI, ulama yang menganut paham wahdatul wujud ini adalah seorang yang berjasa dalam meendirikan bangunan pikiran dan ilmu pengetahuan dan politik di kerajaan Aceh, sebab Syamsuddin al-Sumatrani adalah seorang yang fasih dalam filsafat, fikh, tassawuf, sejarah, manthik, tauhid, bahasa arab serta ilmu-ilmi politik. Baca Ali Hasymi, Sejarah Kebudayaan Aceh (Jakarta: Beuna, 1983), hal. 197. Butanus Salatin menulis bahwa Iskandar Muda hendak menaklukkan negeri pahang karena ingin mengambil sultan Iskandar Tsani sebagai pegantinya. Selain itu juga dia melihat kalau anak laki-lakinya tidak memiliki kapasitas sebagai pegantinya sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan kekacauan. Baca Nuruddin Ar-raniry (terj:Teuku Iskandar), Butanuss-Salatin: Bab II Fasal 13, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka), hal. 12-13.

Penyebaran Islam di Nusantara menjadi kajian yang tetap menarik sampai kapanpun oleh para peneliti keindonesiaan. Meneliti Islam, di Indonesia tidak akan pernah bisa dilepaskan dari keberadaan kerajaan Aceh tempo dulu yang telah memberikan peran sentral terhadap pengislaman nusantara, walau Kerajaan Aceh seperti Smudera Pasai pernah mendapat serangan dari kerajaan Hindu-jawa Majapahait tahun 1380, akan tetapi dapat tetap terus eksis dan memberikan sumbangan berarti perkembangan Islam, ini dibuktikan dengan berdirinya kerajaan Islam pertama di Jawa, yaitu Demak. Baca Saifuddin Zuhri, Sejarah kebangkitan Islam Dan Perkembangan Islam di Indonesia, (Bandung: Almaarif) hal. 194-213. Untuk proses penyebaran Islam di daerah lain baca juga H.M.Zainuddin, Tarich Atjeh dan Nusantara, (Medan: Iskandar Muda, 1961) hal. 250-262. Penyebaran Islam dari Aceh ke Nusantara tetap memakai cara damai, sama seperti ketika Islam pertama kali datang ke Aceh. Ditambah pada saat penyebaran, kerajaan Hindu seperti Sriwijaya dan Majapahit sedang mengalami kemunduran hebat karena berbagai krisis politik. Sehingga penerimaan Islam di bagian nusantara lain bersifat akomodatif dan kompromis. Karakteristik utama penyebaran Islam di nusantara ditandai dengan tarnsformasi intelektual, yang akhirnya membentuk benang merah tradisi ilmiah dan jaringan ulama nusantara. Baca Azyumardi Azra, Jaringan Ulama...hal. 197-259 Sesungguhnya yang menarik dari majelis makamah rakyat yang berjumlah 73 orang ini adalah perbandingan jumlah antara anggota laki-laki dan perempuan yang hampir berimbang yaitu 47-26, berarti lebih kurang 40% dari keseluruhan anggota majelis makamah rakyat adalah perempuan. Berarti penghormatan terhadap perempuan merupakan tradisi Aceh yang sudah sangat, sehingga kedepan munculnya kepemimpinan perempuan, baik sebagai ratu maupun pimpinan perang adalah suatu pemandangan yang sebenarnya biasa. Untuk lebih mengetahui susunan anggota majelis makamah rakyat Ibid, hal. 29. Dengan sangat menarik Ali Hasjmy mencatat nama-nama wanita yang pernah memimpin Aceh, baik pada masa kerajaRatu zakiatuddin, Ratu Kamalt, Teungku Fakinah Cut Nyak Dhien, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan dan Cutpo Fatimah. Baca Ali Hasjmy, 59 Tahun Aceh Merdeka di Bawah Pemerintahan Ratu, (Jakarta: Bulan Bintang,) Dipilihnya tanggal tersebut sebagai peringatan atas gugurnya Tgk. Maat Tiro, sepupu ibunya. Menurut Hasan Tiro,Tgk. Maat Tiro adalah penguasa terakhir kesultanan Aceh. Baca Isa Sulaiman, Aceh Merdeka: Ideologi, Kepemimipinan dan Gerakan, (Jakarta: Pustaka Kautsar, 2000), hal. 26. Keterkaitan gerakan ini adalah restu terselubung yang diberikan terhadap Tgk. M. Daud. Beureuh terhadap Hasan Tiro untuk memimpin gerakan ini. walaupun mendapat restu dari Tgk. M. Daud Beureuh, Hasan Tiro tidak mendapat dukungan dari mantan pengikut Tgk. M. Daud Beureh di DI/TII, sebab mereka punya memori yang tidak baik dengan Hasan Tiro ketika bahu membahu melawan pemerintah Jakarta. Selain itu juga, ideologi yang diperjuangkan oleh Hasan tiro brbeda dengan apa yang diinginkan oleh mantan pejuang DI/TII yang memilih Islam, bandingkan dengan hasan tiro yang lebih yakin dengan ideologi nasinalis keAcehannya yang kental untuk Salah satu yang membedakan gerakan DI/TII dan GAM adalah tema perjuangan yang diusung. DI/TII begitu yakin dengan ideologi Islam dan bertahan dengan dalam konteks keindonesiaan. Sedangkan GAM lebih memilih ideologi nasionalis-sekuler keAcehan, karena menurutnya lebih memungkinkan mendapat bantuan dunia internasional. Yang menariknya, idologi tersebut beranjak dari romantika perang Aceh, lebih tepatnya romantika keluarga Tiro. Ini bisa dilihat dari klaim Hasan Tiro bahwa dia sebgai pewaris sah tahta kerajaan Aceh. Untuk mengetahui manifesto politik Hasan Tiro baca Hasan Muhammad Tiro, Demokrasi Untuk Indonesia, (Jakarta: Teplok Press, 1999)

Operasi militer ini berhasil menekan kekuatan GAM, sehingga membuat Hasan Tiro kembali meninggalkan Aceh 28 maret 1979. selain operasi militer, di Aceh juga diadakan kampanye yang dilakukan oleh komponen pemerintah daerah, KODAM Iskandar Muda dan MUI untuk ditengah masyarakat untuk mengajak masyarakat menolak kehadiran GAM. Baca Isa Sulaiman, Aceh Merdeka Ideologi...hal, 25-41. Tgk. M. Daud Beureuh yang dianggap memberi restu juga mendapat imbas dari penekanan terhadap GAM. Pada tanggal 1 Mei 1978 Tgk. M. Daud Beureuh pernah diasingkan ke Jakarta untuk menghindari kemungkinan meluasnya dukungan untuk GAM karena pengaruh Tgk. M. Daud Beureuh. Baca M. Nur El-Ibrahimi, Peranan Tgk. M. Daud Beureuh...,hal. 275-280. Yang harus melarikan pada saat operasi TNI bukan hanya Hasan Tiro tapi juga zaini abdullah dan juga Daud Paneuek pada bulan juni 1981 yang mengikuti jejak Hasan Tiro ke Swedia sedangkan yang lainnya menetap di malaysia. Baca Isa Sulaiman, Aceh Merdeka Ideologi...,hal. 41. Aksi-aksi kekerasan di Aceh pada akhir tahun 1980-an membuat Gubernur Aceh kala itu Ibrahim Hasan gundah. Menurutnya ini akan mengganggu stabilitas dan pembangunan yang sedang digalakkan. Ibid. Hal 78. kini, apa yang dilakuakn oleh Ibrahim Hasan adalah sebagai dosa sejarhnya yang paling besar. Padahal tidak sepantasnya publik mengarahkan kesalahan kepda dia seorang. Karenan memang Ibrahim Hasan tidak pernah membayangkan bahwa bantuan militer yang dia minta akan berbuah pahit seperti itu. Pada awal pendiriannya, GAM tidak lebih dikawal tidak sampai 100 orang dan hanya memiliki beberapa pucuk senjata. Akan tetapi setelah reformasi, GAM menjadi sangat kuat., bahkan memiliki simpul-simpul serta taktik perjuangan yang lebih kreatif. Selain itu kekuatan senjata dan personil GAM semakin bertambah. Ini dapat terjadi karena berbagai sebab. Diantaranya alam keterbukaan yang semakin lebar, rasa frustasi rakyat atas sikap pemerintah Jakarta dengan militernya yang sering tidak adil kepada mereka. Secara tepat GAM mampu mencuri simpati masyarakat dengan menampilkan diri sebagai kelompok yang akan mewujudkan segala keinginan dan impian rakyat., maka ramailah segala acara-acara GAM dihadiri oleh warga, seperti ceramah propaganda GAM dan antusiasnya pemuda Aceh untuk bergabung dengan sayap militer GAM. Hala lainnya sperti, sidang akbar rakyat yang diselenggarkan oleh SIRA pada tanggal 8 November 1999 yang pada akhirnya melahirkan tuntutan referendum sebagai solusi untuk mengakhiri konflik Aceh. Tentunya desakan dari yang dikomandoi oleh kelompok sipil tersebut juga sedikit banyaknya membantu GAM dalam mewujudkan cita-citanya: memerdekakan Aceh! Untuk lebih mengetahui detil tentang segala dinamika GAM baca Neta S. Pane, Sejarah dan Kekuatan Gerakan Aceh Merdeka: Solusi, harapan dan Impian. (Jakarta: Grasindo, 2001) Darurat militer diberlakukan di Aceh pasca kegagalan berbgai perundingan yang coba di gagas di luar negeri. Darurat militer yang diikuti dengan darurat militer tahap kedua dan dilanjutkan dnegan darurat sipil, walau dalam tataran luar seakan-akan mampu membuat GAM bertekut lutut. Akan tetapi ini salah, sebab GAM masih sangat kuat. Baik secra militer maupun secara politik, terutama diluar negeri. Kondisi darurat sipil itupun bisa berakhir karena Aceh tertimpa tsumani tanggal 26 Desember 2004 yang lalu dilanjutkan dengan perdamaian Helsenki 15 Agustus 2005. Proses perdamaian memang telah dilakukan sebelum tsunami oleh pemerintah Indonesia yang baru hasil pemilu 2004. akan tetapi tsunami menjadi pendorong utama. Menurut Raihan ini merupakan kekuasaan Tuhan yang diatas kuasa manusia, sehingga Aceh kini damai. Wawancara dengan H. Raihan Iskandar, Lc (wakil ketua DPRD NAD).

Moeslim Abdurrahman, Multikulturalisme, Tauhid Sosial, dan Gagasan Islam Transformatif dalam Zakiyuddin Baidhawi dan M. Thoyibi (ed), Reinvensi Islam Multikultural, (Surakarta: PSB-PS UMS, 2005), hal. 9.

DAFTAR PUSTAKA Abdullah Ali (ketua penyusun), Sejarah perjuangan rakyat Aceh Dalam perang Kemerdekaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Banda Aceh Achmad Fedyani Saifuddin, 2005, Antropologi Kontemporer: Suatu pengantar Kritis Mengenai Paradigma Cetakan Pertama Kencana Jakarta Agusni Yahya (ed), 2005, Doktrin Islam dan Studi Kawasan: Potret keberagamaan Masyarakat Aceh, Ar-Raniry press, Banda Aceh. Ali Hasjmi, 1983, Sejarah Kebudayaan Aceh, Beuna , Jakarta ---------------, 59 Tahun Aceh Merdeka di BawahPemerintahan Ratu, Bulan Bintang, Jakarta: Aceh, Banda Aceh Anthony Reid, Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera, Azyumardi Azra, 2002, Jaringan Global dan Lokal Islam Nusantara, Cetakan Pertama, Mizan, Bandung. --------------------, 2004, Jaringan Ulama Timur dan Kepulauan Nusantara Abad XVII&XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia, Edisi Revisi, Kencana, Jakarta. Dr. Isa Sulaiman, 2000, Aceh Merdeka: Ideologi Kepemimipinan dan Gerakan Cetakan Pertama Pustaka Al-Kautsar Jakarta. H. C. Zentgraaff, 1983, Aceh, Cetakan Pertama, Beuna, Jakarta. Hasanuddin Yusuf Adan, 2005, Teungku Muhammad Dawud Beureu-eh: Ulama, pemimipin dan Tokoh pembaharuan, Penerbit Universiti kebangsaan Malaysia, Selangor. Hasbi Amiruddin, 2004, Perjuangan Ulama Aceh di Tengah Konflik, Cininnets, Yogyakarta. Hasan Muhammad Tiro, 1999, Demokrasi Untuk Indonesia, Teplok Press, Jakarta. M. Nur El Ibrhimy, 1982, Tgk. M. Daud Beureueh: Peranannya Dalam Pergolakan di Aceh, Cetakan Kedua, Gunung Agung, Jakarta. Nazaruddin Sjamsuddin, 1990, Pemberontakan Kaum Republik: Kasus Darul Islam Aceh, Cetakan Pertama, Grafiti, Jakarta. -----------------------------, 1989, Integrasi Politik di Indonesia, Cetakan Pertama Gramedia, Jakarta. -----------------------------, 1999 Revolusi di Serambi Mekkah:Perjuangan Kemerdekaan dan Petarungan Politik di Aceh 1945-1949, UI-Press, Jakarta. Neta S. Pane, 2001, Sejarah dan Kekuatan Gerakan Aceh Merdeka: Solusi, harapan dan Impian, Grasindo, Jakarta. Zakiyuddin Baidhawy dan M. Thoiyibi (ed), 2005, Cetakan pertama Reveinsi Islam Multikultural PSB-PS UMSSurakarta.