Anda di halaman 1dari 39

PEMBENTUKAN MINERAL YANG BERASAL DARI LARUTAN

Larutan yang terdapat di dalam kulit bumi berasal dari salah satu dari dua kemungkinan: 1. Air permukaan, yang selama perjalanannya melalui batuan-batuan akan melarutkan mineral-mineral yang mudah larut dan disebut air meteorit atau air tanah. Larutan ini umumnya bersifat cair dan dingin. Mineral-mineralnya kelak akan diendapkan di dekat atau mata air tanah. 2. Air yang terdapat di bagian yang lebih dalam disebut air magmatis, ialah sisa cairan yang berasal dari intrusi batuan yang cukup besar. Pengendapan mineral dari air magmatis ini cukup dalam letaknya. Cara pengendapan mineral itu sendiri yang berasal dari larutan antara lain: 1. Penguapan larutan Anhydrit dan halit umumnya berasal dari larutan-larutan yang mengandung kedua bahan tadi. Pengendapannya sering berupa lapisan-lapisan yang tebal, seperti di Kansas, Lowa, Michigan. Di pulau Jawa seperti di daerah Tegalombo (Kab. Pacitan), Cepu, di pegunungan Pamotan dan lain-lain. 2. Pengeluaran gas yang bekerja sebagai pelarut Air yang mengandung banyak gas CO2 bila mengenai batuan kapur maka CaCO3 akan larut dalam bentuk asam bikarbonat CaH2 (CO3)2 yang merupakan persenyawaan yang tidak mantap (stabil). Karena pengaruh beberapa faktor seperti suhu, udara dll, maka gas CO2 dalam larutan akan keluar yang menyebabkan perubahan asam bikarbonat ke bentuk yang lebih sukar larut yaitu benstuk asalnya CaCO3. Di daerah kapur maka sering terjadi pelarutan CaCO3 yang banyak dan selanjutnya diendapkan di gua-gua dalam bentuk stalaktit dan stalakmit. Bentuk-bentuk ini kita jumpai umpamanya di Gua Petruk (Kebumen) Gua Cermin (Wonosari), dll. Sering pula terjadi pengendapan di dekat mata air atau tepi kali yang disebut Tufkapur. Travitin terjadi dengan jalan yang sama tetapi lebih padat. umpamanya terdapat di gunung Kapuran (dekat Bogor).

3. Penurunan suhu dan tekanan Larutan air magmatis terbentuk dalam keadaan dengan tekanan dan suhu air yang tinggi, sehingga banyak bahan yang berkurang, maka diendapkanlah mineral-mineral Hidrothermal. Sumber-sumber air panas dan geyser geyser terdapat di daerah dimana terdapat intrusi magma yang mendekati permukaan bumi. Maka air tanah yang bergerak ini akan mengalami penaikan suhu dan tekanan, sehingga akan lebih banyak bahan mineral yang terlarut di dalamnya dari pada keadaan biasa, dimana suhu dan tekanan ketika di permukaan. Maka di daerah ini akan banyak diendapkan tuf kapur dan travertine, sinter silisium, atau geyserit. 4. Interaksi larutan-larutan Keadaan ini terjadi seperti di dalam laboratorium, dimana dapat terjadi endapan kalau kita mencampurkan dua atau lebih macam larutan. Larutan CaSO4 bila ketemu dengan BaCO3 yang mudah larut maka akan langsung membentuk endapan BaSO4 (mineral Barit). Keadaan seperti di atas sering terjadi dengan memberikan endapan-endapan mineral sebagai akibat pencampuran air magmatis yang satu dengan yang lain, atau air magmatis dengan air permukaan dll. 5. Interaksi larutan dengan bahan padat Larutan yang mengandung ZnSO4 bila melalui derah kapur akan menyebabkan terbentuknya ZnCO3 (mineral Smithsonit) dan CaSO4 (Anhydrit atau Gips). Umumnya suatu larutan melarutkan suatu mineral, selanjutnya mengendapkan mineral lain di tempatnya. Maka mineral Galenit (PbS) dan sulfide lain akan diendapkan dari larutan sekaligus menempati / mengganti batuan kapurnya dimana larutan akan saling berhubungan. Tekstur atau struktur mineral yang terdahulu, umumnya dipertahankan oleh mineral yang menggantikannya. Contoh lain ialah pengisi bahan selisium (silikasi) kayu, dimana larutan silisium mengganti bahan selulosa dengan opal, tetapi dengan strukturnya seperti kayu. Keadaan ini dapat kita jumpai di Kali Baksoka (Punung, Wonogiri). Proses ini disebut metasomatis dan penting sekali pada pembentukan mineral bijih. 6. Interaksi gas-gas dengan larutan-larutan Air yang mengandung H2S akan memberikan endapan sulfide bila berhubungan dengan larutan dari daerah tambang yang mengandung Zn, Cu, Fe, dll.

7. Pengaruh atau pekerjaan makhluk-makhluk dalam larutan Mollusca, Crikoida dll menyerap CaCO3 dari air laut dan mengeluarkannya lagi dalam bentuk badan-badan pelindungnya, dalam bentuk aragonite atau kalsit. Radiolaria, Diatomea dan Bunga karang (spons) mengeluarkan bahan selisium dan membentuk diatomea. Kita dapat menemukannya di daerah Sangiran dan Bumiayu. Dapat juga dikeluarkan dalam bentuk batu api dan beberapa jenis calchedon. Limonit dan belerang dapat terjadi karena pengaruh bakteri-bakteri dalam air yang mengandung besi atau sulfat (di danau pegunungan Dieng), begitu pula pengendapan NaNO3dianggap sebagai hasil aktivitas makhluk hidup juga (di Chili).

Pembentukan Bahan Galian Melalui Proses Sublimasi

Proses terbentuknya bahan galian adalah komplek dan sering lebih dari satu proses yang bekerja sama, Prose-proses yang dapat membentuk endapan bahan galian dapat dibagi menjadi : 1.Konsentrasi magnetik 2.Sublimas 3.Kontak metasomatisme 4.Konsentrasi Hidrotermal 5.sedimentasi 6.Pelapukan 7.Metamorfisme 8.Hidrologi Nah dipostingan ini akan diterangkan sedikti tentang Pembentukan Bahan Galian melalui prose Sublimasi. Proses sublimasi merupakan proses yang tidak begitu berarti dalam pembentukan bahan galian, tetapi memang da bahan galian yang terbentuk oleh proses ini. Proses sublimaasi menyangkut merupakan perubahan langsung dari keadaan gas atau uap menjadi keadaan padat, tanpa melalui proses cair. Proses ini berhubungan erat dengan kegiatan gunung berapi dalam fumarol, tetapi sublimat yang dihasilkan sering jumlahnya tidak cukup banyak untuk dapt ditambang secera menguntungkan. Belerang adalah bahan galina yang terjadi sebagai akibat prose sublimasi, secara lokal sering cukup menguntungkan untuk ditambang, misalnya digunung welirang, Jawa Timur. Disamping belerang sering juga dapat dijumpai garam-garam klorida dari besi tembaga,seng, dan garam dari logam alkali lainnya, tetapi pada umumnya jumlahnya sangat kecil untuk dapat ditambang secara menguntungkan.

Pembentukan Endapan Mineral

Proses proses pembentukan endapan mineral mineral baik yang memiliki nilai ekonomis,maupun yang tidak bernilai ekonomis sangat perlu diketahui dan dipelajari mengenai proses pembentukan , keterdapatan serta pemanfaatan dari mineral mineral tersebut. Mineral yang bersifat ekonomis dapat diketahui bagaimana keberadaan dan keterdapatannya dengan memperhatikan asosiasi mineralnya yang biasanya tidak bernilai ekonomis. Dari beberapa proses eksplorasi penyelidikan , pencarian endapan mineral, dapat diketahui bahwa keberadaan suatu endapan mineral tidak terlepas dari beberapa faktor yang sangat berpengaruh,antara lain banyaknya dan distribusi unsur unsur kimia, aspek fisika dan biologis. Secara umumnya proses pembentukan endapan mineral baik jenis endapan logam maupun non logam dapat terbentuk karena proses mineralisasi yang diakibatkan oleh aktivitas magma ,dan endapan mineral ekonomis selain karena aktifitas magma ,juga dapat dihasilkan dari proses alterasi yaitu mineral hasil ubahan dari mineral yang telah ada karena suatu faktor.Pada proses pembentukan mineral baik secara mineralisasi dan alterasi tidak terlepas dari faktor faktor tertentu yang selanjutnya akan dibahas lebih detail untuk setiap jenis pembentukan mineral. Adapun menurut M Bateman maka proses pembentukan mineral dapat dibagi atas beberapa proses yang menghasilkan jenis mineral tertentu baik yang bernilai ekonomis maupun mineral yang hanya bersifat sebagai gangue mineral : 1) Proses Magmatis. Proses ini sebagian besar berasal dari magma primer yang bersifat ultra basa lalu mengalami pendinginan dan pembekuan membentuk mineralmineral silikat dan bijih. Pada temperatur tinggi > 600oC stadium likwido magmatis mulai membentuk mineral-mineral baik logam maupun non logam. Asosiasi mineral yang terbentuk sesuai dengan temperatur pendinginan pada saat itu. 1. Early magmatis yang terbagi atas : a) b) c) Disseminated, contoh endapannya Intan Segregasi, contoh endapan chromit Injeksi, contoh magmatik Kiruna

2. Late magmatis yang terbagi atas : a) b) Residual liquid segregation, contohnya Magmatis Taberg Residual liquid injection ,contohnya magmatik Adirondack

c) d)

Immiscible liquid segregation, contohnya sulfida Insizwa Immiscible liquid injection, contohnya Vlackfontein, Afrika Selatan.

2) Pegmatisme, Setelah proses pembentukan magmatisme, larutan sisa magma (larutan pegmatisme) yang terdiri dari cairan dan gas. Stadium endapan ini 600450oC berupa larutan magma sisa. Asosiasi batuan umumnya berupa granit. 3) Pneumatolisis,Setelah temperatur mulai turun 550 450oC akumulasi gas mulai membentuk mineral sampai pada temperatur 450oC volume unsur volatilnya makin menurun karena membentuk jebakan pneumatolitis dan tinngal larutan sisa magma yang makin encer. Unsur volatil akan bergerak menerobos batuan beku yang telah ada dan batuan samping disekitarnya kemudian akan membentuk mineral baik karena proses sublimasi maupun karena reaksi unsur volatile tersebut dengan batuan yang diterobosnya sehingga terbentuk endapan mineral yang disebut endapan pneumatolitis. 4) Proses hydrotermal, merupakn proses pembentukan mineral yang terjadi oleh pengaruh temperatut dan tekanan yang santa rendah ,dan larutan magma yang terbentuk ini merupakan unsur volatil yang sangat encer yang terbentuk setelah tiga tahapan sebelumnya.Secara garis besar endapan hidrotermal dapat dibagi atas 1. Endapan hipotermal, dengan ciri-ciri yaitu : Tekanan dan temperatur pembekuan relatif paling tinggi.

Endapan berupa urat-urat dan korok yang berasosiasi dengan intrusi dengan kedalaman yang besar. Asosiasi mineralnya berupa sulfida, misalnya pirit, kallopirit, galena, dan spalerit serta oksidasi besi. Pada intrusi granit sering berupa nedapan logam Au, Pb, Sn, W, dan Z. 1. Endapan Mesotermal, dengan ciri-ciri yaitu : Tekanan dan temperatur yang berpengaruh lebih rendah daripada endapan hipotermal. Endapannya berasosiasi dengan batuan beku asam-basa dan dekat dengan permukaan bumi.

Tekstur akibat cavity filling jelas terlihat, sekalipun sering mengalami proses penggantian antara lain berupa crustification dan banding. Sn. Asosiasi mineralnya berupa sulfida, misalnya Au, Cu, Ag, As, Sb dan Oksida Proses pengayaan sering terjadi. 1. Endapan Epitermal, dengan ciri-ciri sebagai berikut : Tekanan dan temperatur yang berpengaruh paling rendah. Tekstur penggantian tidak luas, jarang terjadi. Endapan bias dekat atau pada permukaan bumi. Kebanyakan teksturnya berlapis atau berupa fissure-vein. Struktur khas yang sering terjadi adalah cockade structure.

Asosiasi mineral logamnya berupa Au dan Ag dengan mineral ganguenya berupa klasit dan zeolit disamping kuarsa. Adapun bentuk bentuk endapan mineral yang dapat dijumpai sebagai endapan hidrotermal adalah sebagai Cavity filling Cavity filling yaitu proses mineralisasi berupa pengisian ruang-ruang bukaan atau rongga rongga dalam batuan yang terdiri atas mineral mineral yang diendapkan dari larutan pada bukaanbukaan batuan. , yang berupa Fissure veins ,Shear-zone deposits,Stockworks,Ladder veins,Saddle reefs,Tension crack fillings,Breccia fillings : vulkanik, Tektonik, dan Collapse,Solution cavity fillings : Caves and channels, Gash veins, Pore space fillings, Vessiculer fillings . 5) Replacement, atau metasomatic replacement merupakan proses dalam pembentukan endapan-endapan mineral epigenetic yang didominasi oleh pembentukan mineral pada endapan Hypothermal dan Mesothermal dan sangat penting dalam group Epithermal. Mineral-mineral bijih pada endapan metasomatic kontak telah di bentuk oleh proses ini, dimana proses ini dikontrol oleh pengayaan unsur-unsur sulfida dan dominasi pada formasi unsur-unsur endapan mineral lainnya.Replacement diartikan sebagai proses dari larutan yang sangat penting berupa pelarutan kapiler dan pengendapan yang terjadi secara serentak di mana terjadi penggantian suatu mineral atau lebih menjadi mineral-mineral baru yang lain. Atau dapat diartikan bahwa penggantian mineral membutuhkan ion yang tidak mempunyai

ion secara umum dengan zat kimia yang di gantikan. Penggantian mineral yang dibawa dalam larutan dan zat kimia yang dibawa keluar oleh larutan dan merupakan kontak terbuka.terbagi atas : Massive, Lode fissure, dan Disseminated. 6) Sedimenter, terbagi atas endapan besi, mangan, phospate, nikel dll. 7) Evaporasi, terdiri atas evaporasi laut, danau, dan air tanah. 8) Konsentrasi Residu dan mekanik, terbagi atas ; Konsentrasi Residu berupa endapan residu mangan, besi, bauxite dll Konsetrasi mekanik (endapan placers ), berupa : sungai, pantai, elivial, dan eolian. 9) Supergen enrichment 10)Metamorfisme, terbagi atas : endapan termetamorfiskan dan endapan metamorfisme

Mineral Penyusun Batuan Beku, Sendimen dan Metamorfosa


Mineral penyusun batuan beku Untuk menentukan komposisi mineral pada batuan beku, cukup dengan mempergunakan indeks warna dari batuan kristal. Atas dasar warna mineral sebagai penyusun batuan beku dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: Mineral felsik, yaitu mineral yang berwarna terang, terutama terdiri dari mineral kwarsa, feldspar, feldspatoid dan muskovit. Mineral mafik, yaitu mineral yang berwarna gelap, terutama biotit, piroksen, amphibol dan olivin. Batuan beku dapat diklasifikasikan berdasarkan cara terjadinya, kandungan SiO2, dan indeks warna. Dengan demikian dapat ditentukan nama batuan yang berbeda-beda meskipun dalam jenis batuan yang sama, menurut dasar klasifikasinya. Klasifikasi berdasarkan cara terjadinya, menurut Rosenbusch (1877-1976) batuan beku dibagi menjadi: Effusive rock, untuk batuan beku yang terbentuk di permukaan. Dike rock, untuk batuan beku yang terbentuk dekat permukaan.

Deep seated rock, untuk batuan beku yang jauh di dalam bumi. Oleh W.T. Huang (1962), jenis batuan ini disebut plutonik, sedang batuan effusive disebut batuan vulkanik. Klasifikasi berdasarkan kandungan SiO2 (C.L. Hugnes, 1962), yaitu: Batuan beku asam, apabila kandungan SiO2 lebih dari 66%. Contohnya adalah riolit. Batuan beku intermediate, apabila kandungan SiO2 antara 52% - 66%. Contohnya adalah dasit. Batuan beku basa, apabila kandungan SiO2 antara 45% - 52%. Contohnya adalah andesit. Batuan beku ultra basa, apabila kandungan SiO2 kurang dari 45%. Contohnya adalah basalt. Klasifikasi berdasarkan indeks warna ( S.J. Shand, 1943), yaitu: Leucoctaris rock, apabila mengandung kurang dari 30% mineral mafik. Mesococtik rock, apabila mengandung 30% - 60% mineral mafik. Melanocractik rock, apabila mengandung lebih dari 60% mineral mafik. Sedangkan menurut S.J. Ellis (1948) juga membagi batuan beku berdasarkan indeks warnanya sebagai berikut: Holofelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna kurang dari 10%. Felsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 10% sampai 40%. Mafelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 40% sampai 70%. Mafik, untuk batuan beku dengan indeks warna lebih dari 70%. Mineral penyusun batuan sendimen Batuan endapan atau batuan sedimen adalah salah satu dari tiga kelompok utamabatuan (bersama dengan batuan beku dan batuan metamorfosis) yang terbentuk melalui tiga cara utama: pelapukan batuan lain (clastic); pengendapan (deposition) karena aktivitas biogenik; dan pengendapan (precipitation) dari larutan. Jenis batuan umum seperti batu kapur, batu pasir, dan lempung, termasuk dalam batuan endapan. Batuan endapan meliputi 75% dari permukaan bumi. Penamaan batuan sedimen biasanya berdasarkan besar butir penyusun batuan tersebut Penamaan tersebut adalah: breksi, konglomerat, batupasir, batu lempung

Breksi adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih besar dari 2 mm dengan bentuk butitan yang bersudut Konglomerat adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih besar dari 2 mm dengan bentuk butiran yang membudar Batu pasir adalah batuan sedimen dengan ukuran butir antara 2 mm sampai 1/16 mm Batu lanau adalah batuan sedimen dengan ukuran butir antara 1/16 mm sampai 1/256 mm Batu lempung adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih kecil dari 1/256 mm

Mineral penyusun batuan metamorfosa Komposisi mineral Mineral-mineral penyusun batuan metamorf dapat dibedakan menjadi mineral-mineral yang : 1. Mineral yang berbentuk kubus: kuarsa, feldsfar,kalsit, garnet dan piroksin.\ 2. Berbentuk bukan kubus : mika, klorit, amfibol (hornblende), hematit, grafit dan talk. Susunan mineral (fabrik) Dari kenampakan tiga dimensional, fabrik dapat dibedakan menjadi : 1. Isotropik : susunan butir ke segala arah tampak sama. 2. Anisotropik : kenampakan susunan butir mineral tidak sama ke segala arah. Tekstur Berdasarkan ukuran butir mineralnya, dapat dibedakan menjadi : 1. Fanaretik : butiran cukup besar untuk dapat dikenal dengan mata telanjang. 2. Afanitik : butiran terlalu kecil untuk dapat dikenal dengan mata telanjang. Struktur Struktur dalam batuan metamorf dikenal ada tiga : 1. Granular : bila butir-butiran minerla yang berhubungan saling mengunci (inter locking). 2. Foliasi : bila mineral-mineral pipih menbentuk rangkaian permukaan subparalel. Lineasi : bila mineral-mineral prismatik membentuk kenampakan penjajaran pada batuan, seperti genggaman pensil.

Batuan 4 (Mineral Penyusun Batuan Sedimen)


Posted by wahyuancol pada Oktober25, 2010 Sebelum membicarakan mineral penyusun batuan sedimen, ada baiknya kita menoleh kembali pada macam-macam batuan sedimen. Tentang macam-macam batuan sedimen, secara sangat sederhana telah kita bicarakan sekilas di dalam posting Batuan 1 tentang klasifikasi batuan. Tetapi, pengelompokan batuan yang sangat sederhana tersebut masih sulit bagi kita untuk memahami tentang komposisinya. Agar lebih jelas, sebaiknya kita meninjau klasifikasi batuan sedimen berdasarkan asal usulnya atau genesanya. Berdasarkan genesanya, batuan sedimen dapat kita klasifikasikan menjadi: 1. Batuan sedimen terrigen: batuan sedimen yang berasal dari hasil erosi batuan di daratan.

2. Batuan sedimen volkanogenik: batuan sedimen hasil erupsi letusan gunungapi. 3. Batuan sedimen biogenik: batuan sedimen hasil aktifitas biologi. 4. Batuan sedimen hidrogenik: batuan sedimen hasil reaksi kimia an-organik di dalam air laut. Batuan ini disebut juga batuan sedimen autigenik. 5. Batuan sedimen kosmogenik: batuan sedimen yang berasal dari luar angkasa. Dari kelima kelompok batuan sedimen tersebut, bila kita lihat berdasarkan klasifikasi batuan sedimen yang membedakan batuan sedimen menjadi batuan sedimen klastik dan nonklastik, maka jenis batuan sedimen nomor 1 dan 2 masuk ke dalam batuan sedimen klastik, sedang nomor 3 dan 4 masuk kelompok batuan sedimen non-klastik. Untuk yang nomor 5, tidak dapat dimasukkan dalam skema klasifikasi yang hanya membedakan antara sedimen klastik dan non-klastik. Tetapi kita tidak perlu risau karena material yang berasal dari ruangkasa itu amat sangat sedikit dan tidak pernah dijumpai membentuk tubuh batuan tersendiri, sehingga dapat kita abaikan dalam pembicaraan ini. Batuan Sedimen Klastik Terrigen Secara sederhana, komposisi mineral batuan sedimen ini ditentukan oleh komposisi mineral batuan asalnya. Apa bila berasal dari rombakan batuan beku, misalnya granit, maka mineral-mineral dari granit tersebut menjadi penyusun batuan sedimennya. Jadi, mineral-mineral penyusunnya sangat ditentukan oleh batuan asal. Tetapi persoalannya tidak sesederhana itu. Ada proses pelapukan yang bekerja, baik kimiawi maupun mekanis. Pelapukan kimiawi terjadi dalam proses perombakan batuan asalnya sehingga mineralmineral penyusunnya terlepas. Sementara itu, pelapukan fisik terutama bekerja ketika transportasi butiran mineral terjadi. Kedua macam pelapukan ini akan menyisakan mineralmineral yang resisten (berdaya tahan kuat), sedang mineral-mineral yang lemah secara kimiawi akan hilang berubah menjadi mineral lain hasil pelapukannya, seperti mineralmineral lempung (clay minerals); sedang yang mudah lapuk secara fisik akan mudah hancur menjadi butiran halus yang pada gilirannya juga mudah lapuk secara kimiawi. Mineral yang paling resisten adalah kuarsa, dan kemudian tingkat di bawahnya adalah feldspar. Sedang mineral-mineral lainnya sangat mudah lapuk, sehingga tidak dapat terawetkan di dalam batuan sedimen. Pada tingkat pelapukan yang sangat lanjut, seluruh mineral asal dapat berubah sehingga kita tidak dapat lagi mengetahui batuan asalnya. Dengan demikian, tingkat pelapukan akan menentukan mineral penyusun batuan sedimen. Kesimpulannya, komposisi mineral di dalam batuan sedimen klastik terrigen ditentukan oleh komposisi mineral batuan asalnya, mekanisme perombakan batuan asalnya, transportasi sedimen, tingkat pelapukan batuan sedimen.

Batuan Sedimen Volkanik Klastik Material penyusun batuan sedimen ini berasal dari hasil erupsi letusan gunungapi yang melemparkan batuan ke udara. Seperti letusan Gunung Merapi beberapa waktu yang lalu. Ketika masih dalam bentuk sedimen lepas, kita masih dapat mengenal kehadiran mineralmineral plagioklas, piroksin atau fragmen batuan. Tetapi bila telah menjadi batuan dan sangat lapuk, maka mineral-mineral dan fragmen batuan tersebut jarang terawetkan. Batuan Sedimen Biogenik Batuan sedimen biogenik adalah hasil aktifitas organisme. Berbagai macam organisme yang dapat dijumpai menyusun batuan sedimen antara lain adalah: koral, moluska, foraminifera, diatom, radiolaria. Kelompok koral, moluska dan foraminifera menghasilkan sedimen karbonat (CaCO3), sedang diatom dan radiolaria menghasilkan sedimen silika. Batuan sedimen biogenik yang dominan adalah batuan karbonat, yaitu batugamping terumbu. Batugamping terumbu adalah hasil aktifitas organisme koral. Organisme penyusun batuan ini terutama adalah koral. Organisme penyusun lainnya yang mungkin dijumpai antara lain adalah foraminifera, moluska, dan alga. Secara mineralogi, mineral penyusunnya yang utama adalah mineral karbonat, yaitu kalsit. Pada kondisi tertentu, foraminifera (batugamping foraminifera) atau moluska (batugamping moluska) atau alga (batugamping alga) dapat menjadi penyusun batuan yang dominan. Untuk sedimen silika, diatom dapat dominan sehingga membentuk diatomit, sedang radiolaria membentuk radiolarit. Batuan Sedimen Hidrogenik Kelompok batuan ini dapat terbentuk oleh proses evaporasi air laut atau oleh pengendapan dari air laut melalui proses kimia. Batuan hasil evaporasi air laut seperti halit (garam batu) tersusun oleh mineral halit, gipsum (batu gipsum) tersusun oleh mineral gipsum, dolomit tersusun oleh mineral dolomit. Adapun batuan yang terbentuk oleh pengendapan kimia air laut antara lain rijang (chert) yang tersusun oleh mineral-mineral silika, dan batuan sedimen kaya besi (iron-rich sedimentary rock) yang tersusun oleh mineral-mineral silikat yang kaya besi seperti hematit, magnetit, glaukonit, pirit. Penutup Batuan sedimen yang umumnya kita jumpai adalah batuan sedimen klastik. Di lingkungan tertentu banyak kita jumpai batuan karbonat.

Batuan sedimen klastik biasa diklasifikasi berdasarkan ukuran butirnya seperti menjadi batupasir, batulanau atau batulempung. Berkaitan dengan komposisi kimianya, biasanya hanya disebutkan mengandung material karbonat atau tidak mengandung mineral karbonat. Berkaitan dengan material penyusunnya, biasa diamati batuan itu mengandung material volkanik atau tidak, atau mengandung organisme atau tidak (misalnya dengan menyebut mengandung fragmen moluska, atau berfosil), atau mengandung material lain seperti fragmen kayu, fragmen batuan dan lainnya.

Suka Be the first to like this post.

Entri ini dituliskan pada Oktober25, 2010 pada 8:10 am dan disimpan dalam Batuan, LITOSFER, Sedimen. Bertanda: batuan evaporit,batuan hidrogenik, Batuan sedimen, Batuan sedimen biuogenik, batuan sedimen klastik, batuan sedimen volkanik, batugamping. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.

2 Tanggapan to Batuan 4 (Mineral Penyusun Batuan Sedimen)

1.

Meida.Meliantini berkata
April3, 2012 pada 12:48 pm

ass.kl contoh btuan sedimen yang terbntuk dari proses biogenik apa? dan batuan beku yang memiliki tekstur glass? Balas

Wahyuancol berkata
April4, 2012 pada 12:12 am

Batuan yang terbentuk oleh proses biogenik adalah batugamping terumbu. Batugamping terumbu adalah batuan karbonat, tetapi tidak semua batuan karbonat adalah batuan yang terbentuk oleh proses biogenik. Batuan beku yang bertektur glassy adalah obsidian; basalt juga ada.

JENIS DAN KLASIFIKASI MINERAL


Posted on 27 April 2009 by

MINERAL Yaitu suatu benda padat homogen yang terdapat di alam, yang terbentuk secara anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas-batas tertentu dan memiliki atom-atom yang tersusun secara teratur. 2.2.1 Sifat sifat Mineral Mineral didasarkankan berbagai sifat, diantaranya : 1. Sifat fisik 2. Bentuk kristal 3. Sifat optik 1. Sifat Fisik a. Warna Mineral Banyaknya mineral mempunyai warna khusus, misalnya : mineral klopit berwarna hijau dan meneral epidot berwarna kuning hijau. b. Kilap Gejala ini terdapat apabila pada mineral di jatuhkan cahaya refleksi. c. Bentuk ________________________________________ Umumnya khas untuk mineral tertentu, misalnya : asbestos bentuk serat, mika berbentuk daun. d. Belahan Banyaknya mineral yang terbelah pada jurusan tertentu dan membentuk bidang belahan. e. Kekerasan Adalah ketahanan yang terdapat pada mineral apabila permukaannya digores dengan benda tajam.

Tingkat kekerasan mineral : 1. Talk 6. Ortoklas 2. Gipsum 7. Kuarsa 3. Kalsit 8. Topas 4. Fluorit 9. Kolorondum 5. Apatit 10. Intan 2. Bentuk Kristal Pada wujudnya sebuah kristalseluruhnya dapat ditentukan secara ilmu ukur dengan mengetahui sudut-sudut bidangnya. Dalam ilmu Kristalografi, geometri dipakai enam jenis sistem sumbu, yaitu : a. Sistem sumbu isometrik Ketiga sumbu kristal terletak tegak lurus satu dengan yang lain, mempunyai panjang yang sama. Contohnya : mineral yang mempunyai sistem, kordinat demikian adalah pirit, magnetik, garam dapur. b. Sistem sumbu Tetragonal Jumlah sumbu 3 buah, 2 buah sumbu mendatar sama panjang, satu tegak lurus dengan kesatuan sumbu lain, ketiga -tiganya saling tegak lurus sesamanya. Contohnya sirkon atau keseterit. ________________________________________ c. Sitem sumbu Ortorombik Jumlah sumbu tiga bsaling tegak lurus, ketiganya mempunyai panjang yang berbeda. Contohnya : Olivim atau Topas. d. Sistem Sumbu Monoklin Jumlah sumbu 3 buah, mempunyai panjang tidak sama, salah satu sumbu terletak tegak lurus pada sebuah sumbu mendatar. Contohnya : Ortoklas, horenblenda, mika, gipsum. e. Sistem Sumbu Triklin Jumlah sumbu 3 buah tidak sama panjang, tidak tegak lurus sesamanya. Contohnya : Plagioklas f. Sistem Sumbu Heksagonal Jumlah sumbu 4 buah, 3 buah sumbu herizontal dan sama panjang membuat sudut-sudut yang sama besarnya. Contohnya : Kalsit, kuarsa, aparit. 3. Sifat Optik Pengenalan mineral yang terdapat pada batuan umumnya dilakukan dengan mikroskopis polarisasi cahaya yang dipakai dipolarisasi, yaitu cahaya yang bergetas dalam sebuah bidang saja. Jenis cahaya yang demikian didapat dengan memakai dua prisma polarisasi/polarisator. 2.2.2 Pembagian Mineral

Dari hasil analisis kimia yang dilakukan pada batuan, ada 8 unsur yang membentuk kerak bumi. Unsur-unsur tersebut ternyata memebentuk berbagai macam silikat dan oksida, sebagian besar membentuk mineral utama yang terdapat dalam batuan yang disebut mineral pembentukan batuan. Unsur-unsur pembentuk kerak bumi tersebut yaitu: O 2 = 47 % Ca = 3,5 % Si = 27 % Na = 2,5 % Al = 8 % K = 2,5 % Fe = 5 % Mg = 2,5 % ________________________________________ Berdasarkan peranannya dalam ilmu batuan, mineral-mineral pembentuk batuan dibagi menjadi: Mineral utama. Mineral sekunder. Mineral aksesori atau mineral tambahan. 1. Mineral Utama Adalah komponen mineral dari batuan yang diperlukan untuk menggolongkan dan menamakan batuan, tetapi tidak perlu terdapat dalam jumlah yang banyak. Beberapa mineral penting yang sering terdapat dalam batuan: Felspar Adalah suatu kumpulan dari sejumlah mineral pembentuk batuan. Rumus umum = MAI (Al Si) 3 O 8 , M= K, Na, Ca, Ba, Rb, Sr, Fe. Felspar berwarna putih atau keputih-putihan. tidak mempunyai warna tersendiri tetapi sering diwarnai oleh pengotoran-pengotoran zat lain. Plagioklas Adalah jumlah mineral dengan sistem kristal triklin. Rumus umum : (Na, Ca) Al (Si, Al)) Si 2 O 8 Warna : putih, putih kelabu, kadang keijauan, kebiru-biruan. Komposisi plagioklas dibagi 3 : 1. Plagioklas asam 2. Plagioklas medium

3. Plagioklas basa Ortoklas Adalah mineral dari kumpulan feldspar alkali. Feldspar pembentuk batuan granit atau batuan asam. Berwarna putih, putih-kuning, kemerah-merahan, keabu-abuan. Mika Adalah sejumlah mineral dengan rumus (K, Na, Ca) (Mg, Fe, Li, Al) 23 (Al, Si ) 4 O 1 O (OH F) 2 . Warnanya mulai dari tak berwarna, putih perak, cokelat muda, kuning kehijauan atau hitam. ________________________________________ Muskovit Adalah salah satu mineral dari kumpulan mika. Berwarna cokelat dan tak berwarna. Mineral yang umum terdapat dalam batuan malihan, batuan asam, batuan endapan. Rumus umum : KAl2 (OH)2 AlSi3 O10) Biotit Adalah satu mineral dari kumpulan mika tesebar luas, merupakan mineral pembentuk batuan yang penting. Berwarna cokelat tua, hitam, atau hijau tua. Rumus umum : K 2 (Mg, Fe) 2 (OH) 2 (AlSi 3 O 10 ) Amfibol Adalah kumpulan sejumlah mineral pembentuk batuan. Berwarna

gelap. Rumus : A 2-3 B 5 (Si, Al) 8 O 22 (OH) 2 A = Mg, Fe +2 , Ca atau Na B + Mg, Fe +2 , Al atau Fe +3 Horenblenda Adalah salah satu mineral penting dari kumpulan amfibol. Berwarna hitam, hijau tua cokelat. Terdapat pada batuan asam atau batuan entermedier. Misalnya : granit, sianit, diorit, andesit. Piroksen Adalah kumpulan dari sejumlah mineral yang berwarna gelap. Rumus umum : ABSi2O6 A = Ca, Na, Mg atau Fe -2 B = Mg, Fe +3 , Al Augit Adalah salah satu mineral dari kumpulan piroksen. Umumnya berwarna hitam, hijau tua. Merupakan mineral pembentuk batuan basa. Misalnya : gabro, basal, peridotit. Olivin ________________________________________ Adalah mineral berwarna kuning kehijauan, kelabu kehijauan, atau cokelat. merupakan mineral pembentuk batuan beku basa, ultra basa dan batuan beku dengan kadar silikat rendah. Rumus : (Mg, Fe)

2 SiO 4 Kuarsa Merupakan mineral pembentuk batuan penting. Tidak berwarna dan tembus pandang, kadang-kadang berwarna cokelat, kuning ungu merah, hijau, biru atau hitam. Hal ini disebabkan oleh adanya pengotoran. Kuarsa juga terdapat sebagai mineral-mineral kecil dalam berbagai macam batuan, yaitu batuan beku, batuan endapan, batuan malihan. dalam industri kuarsa digunakan oleh pabrik kaca, semen, keramik, dll. Rumus : SiO 2 b. Mineral sekunder Yaitu mineral yang dibentuk kemudian kemudian dari mineral primer oleh proses pelapukan, sirkulasi larutan atau metamorfosis. Selain pada batuan yang telah lapuk juga pada batuan malihan. Contoh : Klorit, terbentuk dari mineral biotit oleh proses pelapukan. c. Mineral aksesori atau mineral tambahan Adalah mineral yang terbentuk oleh kristalisisi magma, terdapat dalam jumlah sedikit, umumnya kurang dari 5%. Mineral zirkon juga merupakan mineral aksesor yang umum terdapat dalam batuan asam (granit). 2.2.3 Klasifikasi mineral Mineral dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok besar, yakni : a. Mineral anorganik Adalah senyawa kimia yang ada secara alami kaecuali senyawa organik. b. Mineral organik ________________________________________ Mineral organik ________________________________________ Umumnya berupa senyawa karbon, kecuali karbonat dan karbida yang dimasukkan ke dalam kelompok mineral anorganik Klasifikasi mineral secara garis besar digambarkan sebagai berikut : Divisi I : unsur-unsur alami dan senyaawa intermetalik Divisi II : Karbida, nitrida dan fosfida Divisi III : Sulfida, garam sulfon, dan senyawa turunannya. Kelas 1 : Sulfida sederhana dan bine dan senyawanya. Kelas 2 : Garam sulfan. Divisi IV : Oksida Kelas 1 : Oksida sederhana

Kelas 2 : Hidroksida Divisi V : Garam oksigen Kelas 1 : Iodate Kelas 2 : Nitrat Kelas 3 : Karbonat Kelas 4 : Sulfat dan selenat Kelas 5 : Khromat Kelas 6 : Molibdat dan tungstat kelas 7 : Fosfat, arsenat, vanadat Kelas 8 : Arsenit Kelas 9 : Borat Kelas 10 : Mineral silikat, terdiri atas : a. Nesosilikat, dimana dua SiO 4 tetrahendra berdiri sendiri-sendiri. b. Sorosilikat, dimana dua SiO 4 berpolimerisasi c. Siklosilikat, dimana tetrahedra SiO 4 membentuk rantai siklis. d. Inosilikat, dimana tetrahedra SiO 4 membentuk lembaran kontinyu. ________________________________________ Page 22 e. filosilikat, dimana polimerasisasi SiO 4 membentuk struktur tiga dimensi. f. tekrosilikat, dimana tetrahedra SiO 4 berpolimerisasi membentuk struktur tiga dimensi yang kompleks. 2.2.4 Manfaat mineral

Digunakan untuk kosmetik Digunakan sebagai perhiasan (emas, perak,dll) Bumb

Klasifikasi mineral
KLASIFIKASI MINERAL

Berdasarkan sifat-sifat kimianya, mineral menurut BERZELIUS, dapat digolongkan menjadi 8, yaitu : I. II. III. IV. V. VI. VII. VIII. Native Elements Sulfides dan Sulfosalts Halides Oxides dan Hydroides Carbonates, Nitrates dan Borates Sulfates, Chromates, Molybdates dan Tungstates Phospates, Arsenates dan Vanadates Silicates

I.

NATIVE ELEMENTS = UNSUR-UNSUR MURNI

Adalah unsur-unsur bebas, bukan merupakan unsur-unsur gabungan. Digolongkan menjadi 3 kelompok : 1. Logam/Metal, mineral-mineral yang tergolong dalam kelompok ini adalah : Cooper (Cu),Gold (Au),Silver (Ag),Platinum (Pt),Nicel-Iron (Ni-Fe),Mercury (Mg).

Unsur-unsur bersifat sangat padat, lunak, dapat ditempa. Perawakannya (yang umum ditemui) berbentuk masif-dendritik; bidang belahan yang jelas jarang ditemui; merupakan penghantar listrik yang baik. 2. Semi Logam, mineral-mineral yang tergolong dalam kelompok ini adalah : Arsenic (As), Antimony (Sb), Bismuth (Bi). Merupakan penghantar listrik yang kurang baik; biasanya terdapat pada massa nodular. 3. Non Logam, mineral-mineral yang tergolong dalam kelompok ini adalah : Sulfur (S), dan Carbon (C), Diamond (C), Graphite (C) Tidak dapat menghantarkan arus listrik; berwarna transparant (jernih dan jelas) hingga transculent (tembus cahaya) dan cenderung mempunyai nidang belahan kristal yang jelas.

II.

SULFIDES DAN SULFOSALTS

Sulfides, adalah persenyawaan kimiawi dimana unsur Sulfur (S) bergabung/bersenyawa dengan unsur-unsur logam dan semi logam. Sulfides dibagi menjadi 2 kelompok : 1. Tellurides jika Tellurium menggantikan unsur Sulfur (S) Contohnya Sylvanite (AuAgTe4) 2. Arsenides jika Arsenic menggantikan unsur Sulfur (S) Contohnya Nickeline (NiAs), Smaltite [(Co,Ni)Ass], Chloanthite [(Ni,Co)As2] Sifat-sifat dari sulfides, Tellurides dan Arsenides tidak tetap/dapat berubah-ubah, mempunyai kilap Logam, lunak dan padat [seperti Galena (PbS), Molybdenite (MoS2)] dan beberapa Sulfides bersifat non-logam [seperti Realgar (AsS), Orpiment (As2S2)] dan sebagian lagi secara relatif bersifat keras [seperti Marcasite (FeS2), Cobaltite (CoAsS)]. Golongan sulfides merupakan bijih-bijih yang sangat penting dari Lead, Zinc, Iron dan Copper; sulfides terbentuk dalam lapisan-lapisan hydrothermal di bawah permukaan air/di dalam tanah sehingga dengan mudah mineral-mineral dapat dioksidasi oleh sulfates. Sulfosalts, adalah persenyawaan kimia dimana unsur-unsur logam bersenyawa dengan unsur-unsur sulfur dan semi logam (seperti Antimony dan Arsenic). Sifat dari sulfosalts mirip dengan sulfides.

Mineral-mineral yang termasuk golongan Sulfosalts, antara lain Enargite (Cu3AsS4), Pyrargyrite (Ag3SbS3), Proustite (Ag3AsS3), Polybasite (AgICr)16Sb2S11, Bournonite (PbCuSbS3), dll.

III.

HALIDES

Adalah persenyawaan kimiawi dimana unsur-unsur logam bersenyawa dengan unsur-unsur Halogen (Chlorine, Bromine, Flourine dan Iodine) Umumnya ditemui dalam sejumlah Lingkungan Geologi. Beberapa diantaranya ditemui dalam sequen evaporite, seperti Halite (NaCl), hal ini merupakan alterasi dari Lapisan-lapisan batuan sedimen yang mengandung evaporite seperti Gypsum, Halite dan Batuan Potash (batuan berkalium-Karbonat) dalam sebuah sequen yang sempurna antara lapisan dengan batuanbatuan seperti Marl dan Limestone. Halides yang lainnya seperti Flourite terbentuk lapisan-lapisan hidrothermal. Golongan Halides bersifat sangat lunak (Kekerasannya antara 2 4,5), mempunyai sumbu simetri kristal yang berbentuk kubik, Berat Jenis cenderung rendah. Contoh mineral-mineral golongan Halides antara lain Sylvite (KCl), Cryolite (Na3AlF6), Atacamite [Cu2ClC(OH)5].

IV. OXIDES DAN HYDROXIDES Oxides Oxides tersusun oleh unsur-unsur yang bersenyawa dengan oksigen. Contoh utama yang umum adalah Iron Oxide Hematite, dimana Iron bersenyawa dengan Oksigen. Sifat dari golongan Oxides tidak tetap/dapat beruba-ubah; Terbentuk/ditemui pada banyak Lingkungan Geologi dan pada tipe batuan yang bermacam-macam. Contoh-contoh mineral golongan oxides antara lain : Merupakan bijih-bijih logam yang penting seperti Hematite (Fe2O3), Magnetite (Fe2+Fe23+O4), Cassiterite (SnO2), Chromite (Fe2+Cr2O4). Mempunyai keanekaragaman sebagai batu Perhiasan seperti Corondum (Al2O3), Ruby dan Sapphire (Al2O3), Spinel (MgAl2O4), dll. Hydroxides Adalah persenyawaan antara unsur-unsur logam dengan air dan hydroksil (OH); dapat ditegaskan bahwa Hydroxides dapat terbentuk melalui reaksi kimia antara oksida dan air; sehingga biasanya mempunyai kekerasan mineral yang rendah/lunak (2 - 2,5)

Contoh-contoh mineral golongan Hydroxides antara lain Gibbsite [Al(OH)2], Brucite [Mg(OH)2], Stibiconite [Sb+3Sb+5(OH)].

V. CARBONATES, NITRATES DAN BORATES Carbonates Adalah persenyawaan kimia dimana satu atau lebih unsur-unsur logam atau semilogam bersenyawa dengan Carbonate radical (CO3)-2. Calcite (CaCO3) adalah Carbonate yang umum, terbentuk ketika Calcium bersenyawa dengan Carbonate radical. Terbentuk pula mineral-mineral khusus dalam golongan Carbonates, hal ini berlaku dengan adanya pergantian kedudukan unsur Calcium dalam komposisi kimianya, mineral-mineral tersebut antara lain : Witherite jika Barium menggantikan unsur Calcium Rhodochrosite jika Magnesium menggantikan komposisi/kedudukan Calcium Carbonates biasanya terbentuk dengan bentuk kristal Rhombohedral yan berkembang dengan baik. Sifat dari golongan Carbonates antara lain cenderung larut dengan mudah dalam larutan asam hydrochloric, dapat juga tidak berwarna atau dapat juga berwarna tajam/hidup. Nitrates Adalah persenyawaan kimia dimana satu atau lebih unsur-unsur logam atau semilogam bersenyawa dengan Nitrate radical (NO2)-1. Contoh mineralnya Nitratine (NaNO3). Terjadi pada daerah yang kering/gersang sebagai endapan yang berkembang pada permukaan, berasosiasi dengan Gypsum, Nitratine seringkali terdapat menutupi daerah yang luas pada tanah. Sifat golongan Nitrates/Nitratine : mudah larut dalam air, bila diletakkan pada nyala api dapat dengan mudah melebur, mempunyai bentuk kristal rhombohedral, umumnya kebanyakan berbentuk massive atau granular Borates Adalah persenyawaan kimia antara unsur logam bersenyawa dengan Borate radical (BO3)-3. Terjadi/terdapat pada endapan-endapan evaporite dan lapisan-lapisan mineral. Contoh mineralnya antara lain Borax (Na2B4O5(OH)4.8H2O), Colemanite (Ca2B6O11.5H2O), Kernite (Na2B4O6(OH)2.3H2O).

VI. SULFATES, CHROMATES, MOLYBDATES DAN TUNGSTATES Sulfates Adalah persenyawaan kimia dimana satu atau lebih unsur-unsur logam bersenyawa dengan Sulfates radical (SO4)-2. Gypsum adalah sulfates yang paling banyak terdapar dalam golongan ini yang terjadi pada endapan-endapan evaporite, sedangkan Barite khusus terjadi pada lapisan-lapisan hidrotermal. Sifat dari golongan sulfates antara lain lunak, berwarna terang/muda dan cenderung mempunyai Berat Jenis yang rendah/ringan. Contoh mineral-mineral yang termasuk golongan Sulfates antara lain Gypsum (CaSO4.2H2O), Celestine (SrSO4), Anhydrite (CaSO4), Barite (BaSO4). Chromates Adalah persenyawaan kimia antara unsur-unsur logam bersenyawa dengan Chromates radical (CrO4)-2. Golongan Chromates terdapat dalam jumlah yang sedikit dan cenderung jarang ditemui, contoh mineralnya Crocoite (PbCrO4) mempunyai warna yang cemerlang/terang, berwarna orange atau orange kemerahan. Terbentuk pada zona oxidasi dari lapisan-lapisan dan endapan-endapan yang mengandung Chromium dan Lead/Timah. Molybdates Adalah persenyawaan kimia antara unsur-unsur logam dengan Molybdates radical (MoO4)-2. Merupakan mineral-mineral yang padat, rapuh, berwarna cemerlang/hidup, misalnya mineral Wulfenite (PbMoO4). Sifat dari golongan Molybdates : mudah melebur, dapat larut dalam asam hydrochloric, bila dalam kondisi panas, berwarna cemerlang mulai dari orange, kuning atau coklat keabuabuan. Tungstates Adalah persenyawaan kimia antara unsur-unsur logam dengan Tungstate radical (WO4)-2. Merupakan mineral-mineral yang padat, rapuh, berwarna cemerlang. Contoh mineral-mineral dalam golongan Tungstates antara lain Wolframite (Fe+2WO4Mn+2WO4), Scheelite (CaWO4).

VII. PHOSPATES, ARSENATES DAN VANADATES Phospates Adalah persenyawaan kimia antara unsur-unsur logam dengan Phospate radical (PO4)-8. Ribuan species dari golongan ini dapat dikenali, namun keberadaannya tidaklah berlimpah. Beberapa Phospates, seperti Arsenic merupakan mineral yang utama, tetapi kebanyakan anggota-anggotanya secara keseluruhan membentuk kelompok-kelompok dari oksidasi sulfides. Sifat dari golongan ini : berubah-ubah, tetapi umumnya cenderung lunak, rapuh, sangat berwarna dan kristalisasinya baik, kekerasan berkisar antara 1,5 5 dan 6. Mineral-mineral radioaktif termasuk dalam golongan Phospates seperti : Torbenite [Cu(UO2)2(PO4)2.8-12H2O], Autunite [Ca(UO2)2(PO4)2.10-12H2O], Lazulite [(Mg,Fe)Al2(PO4)2(OH)2], Turquoise [CuAl6(PO4)4(OH)8.4H2O. Contoh mineral-mineral lain dalam golongan Phospates adalah Vivianite [Fe+2(PO4)2.8H2O], Wavellite [Al3(PO4)2(OH,F)3.5H2O], Apatite [Ca5(PO4)3(F,Cl,OH)]. Arsenates Adalah persenyawaan kimia antara unsur-unsur logam dengan Arsenate radical (AsO4)-8. Kebanyakan Arsenates sangat dicari oleh para kolektor mineral khususnya yang terkristalisasi dengan baik dan mempunyai species warna yang cemerlang seperti Mimetite [Pb5(AsO4)3Cl] (berwarna kuning), Adamite [Zn2AsO4(OH)] (kuning), Erythrite [CO3(AsO4)2.8H2O] (ungu tua pink). Golongan arsenates cenderung mempunyai Berat Jenis antara 3 5, kecuali Mimetite yang mempunyai B.J. 7 7,3. karena mengandung Lead/Timah serta mempunyai kekerasan yang rendah (lunak antara 1,5 - 4,5). Vanadates Adalah persenyawaan kimia antara unsur-unsur logam dengan Vanadate radical (VO4)-3/(VO4)1

Sifat dari golongan ini : cenderung lunak, rapuh, berwarna cemerlang seperti yang terlihat pada mineral Vanadinite [Pb5(VO4)3Cl], merupakan mineral terbaik yang dikenal pada kelompok Vanadates, dimana terbentuk kristal-kristal hexagonal merah orange. Mempunyai kekerasan berkisar antara 2 3,5. Contoh mineral lainnya seperti :

Descloizite [PbZn(VO4)(OH)], Carnotite [K2(UO2)2V2O8.3H2O].

VIII.

SILICATES

Adalah persenyawaan kimia antara unsur-unsur logam dengan salah satu dari Si O tetrahedra (SiO4)-4 tunggal atau berantai. Silicates adalah golongan mineral yang paling besar dan sangat berlimpah-limpah keberadaannya, dalam hal ini silicat adalah unsur pokok penyusun batuan beku dan batuan metamorf. Mineral-mineral silicates cenderung bersifat : keras, berwarna transparant (jernih dan tembus cahaya) hingga translucent (tembus cahaya) dan mempunyai Berat Jenis rata-rata sama. Pada umumnya dalam semua struktur silicat, silicon berada diantara 4 atom oksigen (kecuali yang terbentuk pada tekanan yang ekstrim). Dari strukturnya (sudut bangunnya) siliact dibagi menjadi 6 kelas, yaitu : 1. Nesosilicate Mempunyai (SiO4)-4 tetrahedra yang benar-benar terpisah (tetra hedra silikon-oksigen benar-benar terpisah), komposisi berupa SiO4. Mineral khasnya Forsterit (Mg2SiO4), mineral lainnya seperti : Olivine [(Mg,Fe)2SiO4], Zircon (ZrSiO4), Sillimanite (Al2SiO5). 2. Sorosilicate Mempunyai 2 tetrahedra yang dihubungkan oleh 1 atom oksigen yang merupakan milik bersama (dipakai bersama-sama), komposisi berupa Si2O7. Mineral khasnya Akermonite (Ca2MgSi2O7), mineral lainnya seperti : Heminorphite [Zn4Si2O7(OH)2.H2O], Zoisite [Ca2Al3(Si3O12)OH] 3. Cyclocilicate Mempunyai tetrahedra yang saling berhubungkan membentuk struktur lingkaran tertutup dengan komposisi berupa SinO3n. Bila mempunyai lingkaran 3 tetrahedra, misalnya mineral Benitoite (BaTiSi3O9), Bila mempunyai 6 mineral 3 tetrahedra, mineral Beryl (Be3Al2Si6O18).

Mineral lainnya seperti Cordierite [Mg2Al4Si5O18], Ferroxinite [Ca2FeAl2Bsi4O15(OH)], Manganaxinite [Ca2MnAl2BSi4O15(OH)]. 4. Inosilicate Mempunyai tetrahedra yang saling berhubungkan membentuk struktur rantai tunggal/ganda dan saling terikat oleh unsur logam. Rantai Tunggal mempunyai komposisi Si : O = 1 : 3, misalnya terlihat pada mineralmineral Piroksin Group seperti Diopside (CaMgSi2O6), Hornblende [CaFeSi2O6], Jadeite [Na(Al,Fe+3)Si2O6]. Rantai Ganda, dimana 2 rantai tunggal paralel yang posisi tetrahedranya berselangseling/terikat menyilang dengan perbandigan komposisi Si : O = 4 : 11 dicirikan oleh mineralmineral Amphibole group [(Ca,Na)(Mg,Fe)]Silicat-OH, seperti Tremolite [Ca2Mg5Si8O22(OH)2, Actinolite [Ca2(Mg,Fe)5Si8O22(OH)2], Hornblende [(Na,K,Ca)3(Mg,Mn)5Si8O22(OH)2]. Mineral lainnya seperti Wollastonite [CaSiO3], Rhodonite [(Mn, Fe, Mg)SiO3], Neptunite [Na2Kli(Fe,Mn)2Ti2Si8O24]. 5. Phylosilicate Mempunyai lapisan yang terbentuk oleh pemakaian secara bersama-sama oleh 3 ion oksigen dari tiap-tiap tetrahedra yang berbatasan disekitarnya sehingga membentuk lapisan datar yang luas dengan perbandingan komposisi Si : O = 2 : 5. Dicirikan dengan kelompok mineral Mica [K(Mg,Fe)Al-Silicat OH, seperti Muscovite [KAl2(AlSi3)O10(OH)2], Biotite [K(Mg,Fe)3(Al,Fe)Si3O10(OH,F)2], Phlogophite [K(Mg,Fe)3(Al,Si)3O10(F,OH)2], Lepidolite [K(Li,Al)3(Si,Al)4O10(F,OH)2]. Mineral lainnya seperti Vermicullite [(Mg,Fe,Al)3(Al,Si)4O10(OH)2.4H2O], Kaolinite [Al2Si2O5(OH)4], Serpentinite [(Mg,Fe)3Si2O5(OH)4] 6. Tectosilicate Mempunyai kerangka silicate yang mana setiap atom tetrahedra silicon/SiO4memakai bersama-sama semua (ke-empat) pojok-pojoknya dengan atom tetrahedra silicon lainnya yang berdekatan sehingga membentuk jaringan 3 dimensi dengan perbandingan komposisi Si : O = 1 : 2. Dicirikan dengan beberapa bentuk silica seperti Kwarsa (SiO2), Tridimite (SiO2), Kristobalite (SiO2) mempunyai susunan 3 dimensi tersebut. Mineral khas lainnya seperti Feldspar group :

Orthoclase (KAlSi3O8), Sanidine (KAlSi3O8), Microcline (KAl2Si3O8), Albite (NaAlSi3O8), Oligoclase [(Na,Ca)AlSi3O8].

Macam-Macam Batuan dan Mineral Beserta Pembentukannya


Kategori: Geografi Pembentukan berbagai macam mineral di alam akan menghasilkan berbagai jenis batuan tertentu. Proses alamiah tersebut bisa berbeda-beda dan membentuk jenis batuan yang berbeda pula. Pembekuan magma akan membentuk berbagai jenis batuan beku. Batuan sedimen bisa terbentuk karena berbagai proses alamiah, seperti proses penghancuran atau disintegrasi batuan, pelapukan kimia, proses kimiawi dan organis serta proses penguapan/ evaporasi. Letusan gunung api sendiri dapat menghasilkan batuan piroklastik. Batuan metamorf terbentuk dari berbagai jenis batuan yang telah terbentuk lebih dahulu kemudian mengalami peningkatan temperature atau tekanan yang cukup tinggi, namun peningkatan temperature itu sendiri maksimal di bawah temperature magma.

Siklus batuan

BATUAN BEKU Magma dapat mendingin dan membeku di bawah atau di atas permukaan bumi. Bila membeku di

bawah permukaan bumi, terbentuklah batuan yang dinamakan batuan beku dalam atau disebut juga batuan beku intrusive (sering juga dikatakan sebagai batuan beku plutonik). Sedangkan, bila magma dapat mencapai permukaan bumi kemudian membeku, terbentuklah batuan beku luar atau batuan beku ekstrusif. Batuan Beku Dalam Magma yang membeku di bawah permukaan bumi, pendinginannya sangat lambat (dapat mencapai jutaan tahun), memungkinkan tumbuhnya kristal-kristal yang besar dan sempurna bentuknya, menjadi tubuh batuan beku intrusive. Tubuh batuan beku dalam mempunyai bentuk dan ukuran yang beragam, tergantung pada kondisi magma dan batuan di sekitarnya. Magma dapat menyusup pada batuan di sekitarnya atau menerobos melalui rekahan-rekahan pada batuan di sekelilingnya. Bentuk-bentuk batuan beku yang memotong struktur batuan di sekitarnya disebut diskordan, termasuk di dalamnya adalah batholit, stok, dyke, dan jenjang volkanik.

Batholit, merupakan tubuh batuan beku dalam yang paling besar dimensinya. Bentuknya tidak beraturan, memotong lapisan-lapisan batuan yang diterobosnya. Kebanyakan batolit merupakan kumpulan massa dari sejumlah tubuh-tubuh intrusi yang berkomposisi agak berbeda. Perbedaan ini mencerminkan bervariasinya magma pembentuk batholit. Beberapa batholit mencapai lebih dari 1000 km panjangnya dan 250 km lebarnya. Dari penelitian geofisika dan penelitian singkapan di lapangan didapatkan bahwa tebal batholit antara 20-30 km. Batholite tidak terbentuk oleh magma yang menyusup dalam rekahan, karena tidak ada rekahan yang sebesar dimensi batolit. Karena besarnya, batholit dapat mendorong batuan yang di1atasnya. Meskipun batuan yang diterobos dapat tertekan ke atas oleh magma yang bergerak ke atas secara perlahan, tentunya ada proses lain yang bekerja. Magma yang naik melepaskan fragmen-fragmen batuan yang menutupinya. Proses ini dinamakan stopping. Blok-blok hasil stopping lebih padat dibandingkna magma yang naik, sehingga mengendap. Saat mengendap fragmen-fragmen ini bereaksi dan sebagian terlarut dalam magma. Tidak semua magma terlarut dan mengendap di dasar dapur magma. Setiap frgamen batuan yang berada dalam tubuh magma yang sudah membeku dinamakan Xenolith.

Stock, seperti batolit, bentuknya tidak beraturan dan dimensinya lebih kecil dibandingkan dengan batholit, tidak lebih dari 10 km. Stock merupakan penyerta suatu tubuh batholit atau bagian atas batholit.

Dyke, disebut juga gang, merupakan salah satu badan intrusi yang dibandingkan dengan batholit, berdimensi kecil. Bentuknya tabular, sebagai lembaran yang kedua sisinya sejajar, memotong struktur (perlapisan) batuan yang diterobosnya.

Jenjang Volkanik, adalah pipa gunung api di bawah kawah yang mengalirkan magma ke kepundan. Kemudaia setelah batuan yang menutupi di sekitarnya tererosi, maka batuan beku yang bentuknya kurang lebih silindris dan menonjol dari topografi disekitarnya.

Bentuk-bentuk yang sejajar dengan struktur batuan di sekitarnya disebut konkordan diantaranya adalah sill, lakolit dan lopolit.

Sill, adalah intrusi batuan beku yang konkordan atau sejajar terhadap perlapisan batuan yang diterobosnya. Berbentuk tabular dan sisi-sisinya sejajar.

Lakolit, sejenis dengan sill. Yang membedakan adalah bentuk bagian atasnya, batuan yang diterobosnya melengkung atau cembung ke atas, membentuk kubah landai. Sedangkan, bagian bawahnya mirip dengan Sill. Akibat proses-proses geologi, baik oleh gaya endogen, maupun gaya eksogen, batuan beku dapt tersingka di permukaan.

Lopolit, bentuknya mirip dengan lakolit hanya saja bagian atas dan bawahnya cekung ke atas.

Batuan beku dalam selain mempunyai berbagai bentuk tubuh intrusi, juga terdapat jenis batuan berbeda, berdasarkan pada komposisi mineral pembentuknya. Batuan-batuan beku luar secara tekstur digolongkan ke dalam kelompok batuan beku fanerik. Batuan Beku Luar Magma yang mencapai permukaan bumi, keluar melalui rekahan atau lubang kepundan gunung api sebagai erupsi, mendingin dengan cepat dan membeku menjadi batuan ekstrusif. Keluarnya magma di permukaan bumi melalui rekahan disebut sebagai fissure eruption. Pada umumnya magma basaltis yang viskositasnya rendah dapat mengalir di sekitar rekahannya, menjadi hamparan lava basalt yang disebut plateau basalt. Erupsi yang keluar melalui lubang kepundan gunung api dinamakan erupsi sentral. Magma dapat mengalir melaui lereng, sebagai aliran lava atau ikut tersembur ke atas bersama gas-gas sebagai piroklastik. Lava terdapat dalam berbagai bentuk dan jenis tergantung apda komposisi magmanya dan tempat terbentuknya. Apabila magma membeku di bawah permukaan air terbentuklah lava bantal (pillow lava), dinamakan demikian karena pembentukannya di bawah tekanan air. Dalam klasifikasi batuan beku batuan beku luar terklasifikasi ke dalam kelompok batuan beku afanitik. KLASIFIKASI BATUAN BEKU Pengelompokan atau klasifikasi batuan beku secara sederhana didasarkan atas tekstur dan komposisi mineralnya. Keragaman tekstur batuan beku diakibatkan oleh sejarah pendinginan magma, sedangkan komposisi mineral bergantung pada kandungan unsure kimia magma induk dan lingkungan krsitalisasinya. Tekstur Batuan Beku

Beberapa tekstur batuan beku yang umum adalah: 1. Gelas (Glassy), tidak berbutir atau tidak memiliki Kristal (amorf) 2. 3. Afanitik (fine grained texture), bebrutir sangat halus hanya dapat dilihat dengan mikroskop Fanerik (coarse grained texture), berbutir cukup besar sehingga komponen mineral pembentuknya dapat dibedakan secara megaskopis. 4. Porfiritik, merupakan tekstur yang khusus di mana terdapat campuran antara butiran-butian kasar di dalam massa dengan butiran-butiran yang lebih halus. Butiran besar yang bentuknya relative sempurna disebut Fenokrist sedangkan butiran halus di sekitar fenokrist disebut massadasar. Secara ringkas, klasifikasi batuan beku dapat dinyatakan sebagai berikut:

BATUAN METAMORF Batuan metamorf adalah jenis batuan yang secara genetis terebntuk oleh perubahan secara fisik dari komposisi mineralnya serta perubahan tekstru dan strukturnya akibat pengaruh tekanan (P) dan temperature (T) yang cukup tinggi. Kondisi-kondisi yang harus terpenuhi dalam pembentukan batuan metamorf adalah:

Terjadi dalam suasana padat Bersifat isokimia Terbentuknya mineral baru yang merupakan mineral khas metamorfosa Terbentuknya tekstur dan struktur baru.

Proses metamorfosa diakibatkan oleh dua factor utama yaitu Tekanan dan Temperatur (P dan T). Panas dari intrusi magma adalah sumber utama yang menyebabkan metamorfosa. Tekanan terjadi diakibatkan oleh beban perlapisan diatas (lithostatic pressure) atau tekanan diferensial sebagai hasil berbagai stress misalnya tektonik stress (differential stress). Fluida yang berasal dari batuan sedimen dan magma dapat mempercepat reaksi kima yang berlangsung pada saat proses metamorfosa yang

dapat menyebabkan pembentukan mineral baru. Metamorfosis dapat terjadi di setiap kondisi tektonik, tetapi yang paling umum dijumpai pada daerah kovergensi lempeng. Jenis-jenis metamorfosa adalah:

Metamorfosa kontak dominan pengaruh suhu Metamorfosa dinamik dominan pengaruh tekanan Metamorfosa Regional kedua-duanya (P dan T) berpengaruh

Fasies metamorfosis dicirikan oleh mineral atau himpunan mineral yang mencirikan sebaran T dan P tertentu. Mineral-mineral itu disebut sebagai mineral index. Beberapa contoh mineral index antara lain: Staurolite: intermediate high-grade metamorphism Actinolite: low intermediate metamorphism Kyanite: intermediate high-grade Silimanite: high grade metamorphism Zeolite: low grade metamorphism Epidote: contact metamorphism Pada prinsipnya batuan metamorfosa diklasifikasikan berdasarkan struktur. Struktur foliasi terjadi akibat orientasi dari mineral, sedangkan non-foliasi yang tidak memperlihatkan orientasi mineral. Foliasi merujuk kepada kesejajaran dan segregasi mineral-mineral pada batuan metamorf yang inequigranular. Batuan metamorf befoliasi membentuk urutan berdasarkan besar butir dan atau berdasarkan perkembangan foliasi. Urut-urutannya adalah: slate phyllite schist gneiss. Selain menunjukkan besar butir dan derajat foliasi urut-urutan ini juga menunjukkan kandungan mika yang semakin banyak dari kiri ke kanan. Salah satu ciri khas batuan metamorf yang dapat teridentifikasi adalah kenampakkan kilap mika. Sedangkan, untuk batuan metamorf non-foliasi contohnya adalah marmer, kuarsit dan hornfels. Sementara itu, untuk tekstur mineral pada batuan metamorfosa dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Lepidoblastik : terdiri dari mineral-mineral tabular/pipih, misalnya mineral mika (muskovit, biotit)

Nematoblastik : terdiri dari mineral-mineral prismatik, misalnya mineral plagioklas, k-felspar, piroksen

Granoblastik : terdiri dari mineral-mineral granular (equidimensional), dengan batas-batas sutura (tidak teratur), dengan bentuk mineral anhedral, misalnya kuarsa.

Tekstur Homeoblastik : bila terdiri dari satu tekstur saja, misalnya lepidoblastik saja.

Tekstur Hetereoblastik : bila terdiri lebih dari satu tekstur, misalnya lepidoblastik dan granoblastik

BATUAN PIROKLASTIK Berdasarkan kata pembentuknya: Pyro pijar Klastik fragmen Dapat disimpulkan bahwa batuan piroklastik adalah suatu batuan yang terbentuk dari hasil langsung letusan gunung api (direct blast) yang kemudian terendapkan pada permukaan sesuai dengan keadaan permukaannya (endapan piroklastik) dan lalu mengalami litifikasi untuk menjadi batuan piroklastik. Mekanisme pengendapan piroklast adalah sebagai berikut: Pyroclastic Flow Deposits Macam :

block & ash flows -scoria flows -pumice / ash flows Distribusi / penyebaran : di lembah / depresi; struktur : perlapisan (graded bedding, paralel laminasi); tekstur : sortasi buruk, terdiri dari kristal, litik, dan gelas (pumis); bagian bawah : pyroclastic surge deposits Pyroclastic Fall Deposits Pyroclastic Surge Deposits Partikel, gas dan air vulkanik konsentrasi rendah yang mengalir dalam mekanisme turbulensi sebagai sebuah gravity flow (runtuhan). Macam-macamnya adalah base, ground dan ash cloud. Strukturnya cross-bedding dengan sortasi yang buruk. Klasifikasi batuan piroklastik berdasrkan ukurannya (Schmid, 1981)
Endapan piroklastik Tefra Ukuran Piroklas ) Lapisan bom / blok > mm 64 Bom, blok Tefra blok Lapisan lapili atau lapili Tefra lapili bom atauAglomerat, piroklastik breksi (tak Batuanpiroklastik (terkonsolidasi)

terkonsolidasi

64

Batulapili (lapillistone)

mm

1/16 2 Abu/debu mm < mm kasar 1/16 Abu/debu halus Abu/debu halus tuf halus Abu kasar Tuf kasar

Berdasarkan terbentuknya, fragmen piroklast dapat dibagi menjadi: Juvenile pyroclasts : hasil langsung akibat letusan, membeku dipermukaan (fragmen gelas, kristal pirojenik) Cognate pyroclasts : fragmen batuan hasil erupsi terdahulu (dari gunungapi yang sama) Accidental pyroclasts : fragmen batuan berasal dari basement (komposisi berbeda) Fragmen: 1. Gelas/ Amorf 2. Litik 3. Kristalin MINERAL-MINERAL ALTERASI Alterasi = Metasomatisme Merupakan perubahan komposisi mineralogy batuan (dalam keadaan padat) karena pengaruh Suhu dan Tekanan yang tinggi dan tidak dalam kondisi isokimia menghasilkan mineral lempung, kuarsa, oksida atau sulfida logam. Proses alterasi merupakan peristiwa sekunder, tidak selayaknya metamorfisme yang merupakan peristiwa primer. Alterasi terjadi pada intrusi batuan beku yang mengalami pemanasan dan pada struktur tertentu yang memungkinkan masuknya air meteoric untuk dapat mengubah komposisi mineralogy batuan.

Beberapa contoh mineral alterasi antara lain: Kalkopirit

Pirit Limonit Garnierit Epidote Malakit Khlorit Orphiment Realgar Galena BATUAN SEDIMEN Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari pecahan atau hasil abrasi dari sedimen, batuan beku, metamorf yang tertransport dan terendapkan kemudian terlithifikasi. Ada dua tipe sedimen yaitu: detritus dan kimiawi. Detritus terdiri dari partikel-2 padat hasil dari pelapukan mekanis. Sedimen kimiawi terdiri dari mineral sebagai hasil kristalisasi larutan dengan proses inorganik atau aktivitas organisme. Partikel sedimen diklasifikasikan menurut ukuran butir, gravel (termasuk bolder, cobble dan pebble), pasir, lanau, dan lempung. Transportasi dari sedimen menyebabkan pembundaran dengan cara abrasi dan pemilahan (sorting). Nilai kebundaran dan sorting sangat tergantung pada ukuran butir, jarak transportasi dan proses pengendapan. Proses litifikasi dari sedimen menjadi batuan sedimen terjadi melalui kompaksi dan sementasi. Batuan sedimen dapat dibagi menjadi 3 golongan: 1. Batuan sedimen klastik terbentuk dari fragmen batuan lain ataupun mineral 2. Batuan sedimen kimiawi terbentuk karena penguapan, evaporasi 3. Batuan sedimen organic terbentuk dari sisa-sisa kehidupan hewan/ tumbuhan Klasifikasi batuan sedimen klastik adalah berdasarkan besar butirnya, oleh karenanya digunakan skala Wentworth. Sedangkan untuk klasifikasi batuan sedimen kimiawi dilakukan berdasarkan matriks maupun fragmennya dengan klasifikasi dari Dunham, Embry-Klovan.

KOLOM WAKTU GEOLOGI

Urutan stratigrafi yang disusun berdasarkan fosil indeks dan umur relative dari seluruh dunia memperlihatkan persamaan. Dari korelasi stratigrafi di dunia disusun suatu Kolom Waktu Geologi, yang merupakan standar urutan kejadian di bumi. Apabila ada penemuan baru, fosil misalnya, kolom ini selalu akan disempurnakan. Skala waktu internasional yang dipergunakan untuk satuan waktu dalam kolom waktu geologi adalah:

Kurun (eon) masa (era) zaman (period) kala (epoch)

Eon merupakan pembagian interval terbesar dari waktu geologi, yang terdiri dari Hadean, Archean, Proterozoic dan Phanerozoic. Kurun dibagi menjadi beberapa era dan era dibagi lagi menjadi beberapa masa. Masa dibagi menjadi 3, dan zaman serta kala menjadi lebih detail, atau interval yang lebih pendek.

KURUN (Eon)
Hadean, berasal dari bahasa Yunani yang berarti dibawah bumi, merupakan sejarah bumi paling awal dimana tidak ada atau belum ditemukan rekaman batuan untuk umur ini. Namun bagaimanapun ada juga batuan dari kurun ini di planet lain, yang batuan keraknya hanya mengalami sedikit gangguan sejak terbentuknya. Archean, dari bahasa Yunani, artinya purba (ancient). Batuan dari umur ini masih ada yang dijumpai, merupakan batuan tertua yang dikenal di bumi, mengandung bentuk kehidupan mikro bersifat bakteri.

Proterozoic, yang berarti awal kehidupan, pada batuan di umur ini terdapat tandatanda bagian yang keras dari organisme bersel banyak yang tidak tersimpan dengan baik. Data dari kurunArchean dan Proterozoic tidak sebaik dari umur yang lebih muda, karena batuannya telah mengalami deformasi, metamorfosisme dan erosi yang intensif. Phanerozoic, yang dapat diartikan terlihat kehidupan, batuannya penuh dengan bukti kehidupan berupa bagian yang keras dan tersimpan dengan baik.

MASA (Era)
Kurun Archean dan Proterozoic tidak diketahui sebaik Phanerozoic, yang dibagi menjadi Paleozoikum (Paleozoic), Mesozoikum (Mesozoic) dan Kenozoikum (Cenozoic). Nama tersebut mencerminkan tingkat kehidupan. Paleozoic, pada masa ini berkembang dari invertebrate laut sampai ikan, ampibi dan reptile. Pada masa akhir ini mamalia mulai berkembang. Mesozoic, saat jayanya dinosaurus, menjadi vertebrata dominan di darat. Pada akhir masa ini mamalia dan tumbuhan berbunga mulai berkembang. Cenozoic, mamalia dominan di darat dan tumbuh rerumputan yang penting bagi makanan mamalia.

ZAMAN (Period)
Masa Phanerozoic dibagi dalam beberapa zaman dengan interval sekitar 100 tahun. Penamaan zaman geologi tidak konsisten. Kebanyakan berdasarkan geografi dimana lapisan batuannya ditemukan pertama kali, seperti Jerman, Inggris, Rusia, dan Amerika. Tetapi ada beberapa yang berdasarkan karakteristik lapisan di tempat dimana studinya pertama kali dilakukan. Zaman tertua dari Paleozoic adalah Kambrium (Cambrian), saat pertama kali muncul binatang berkult keras dalam sejarah geologi. Sebelumnya, semua binatang bertubuh lunak, tidak mempunyai bagian tubuh keras, sehingga fosil yang ditinggalkan sangat jarang dijumpai. Batuan yag terbentuk selama Archean dan Proterozoic sukar dipisah dengan fosil. Oleh karena itu untuk memudahkan disatukan menjadi Prekambrium (Precambrian).

KALA (Epoch)
Kala dari zaman Tersier dijabarkan secara bertahap. Charles Lyell mempelajari lapiasan sedimen laut di cekungan Perancis dan Italia dan membagi umur lapisan batuan berdasarkan persentase dari fosil-fosil yang spesiesnya sekarang masih ada. Demikian pula dengan Paleozoic dan Mesozoic, dibagi dalam beberapa zaman dan kala.