Anda di halaman 1dari 5

LAYAR TERKEMBANG Tuti dan Maria anak wedana pensiunan R.

Wiriaatmadja, ketika berada di Gedung Akuarium Jakarta bertemu dengan Yusuf mahasiswa Fakultas Kedokteran. Maria siswa HBS, seorang yang lincah dan periang. Sebaliknya Tuti kakaknya, gadis pemikir yang hanya mempercakapkan hal-hal yang dianggapnya perlu, aktivitas organisasi wanita yang dengan gagah memperjuangkan kemajuan kaumnya. Pidatonya sellau membangkitkan semangat agar kaum wanita sadar untuk mengangkat martabat dirinya. Wanita jangan menggantungkan hidup pada pria sehingga selalu diperalat. Antara Maria dan Yusuf terjalin hubungan cinta. Ketika Tuti dan Maria berlibur ke Bandung, tiba-tiba saja Yusuf menyusul padahal saat itu ia pun sedang berlibur di kampungnya Sumatra Selatan. Melihat hubungan adiknya dengan Yusuf, Tuti memberikan komentar agar Maria jangan terlalu mabuk cinta dan memperlihatkan ketergantungannya kepada laki-laki. Komentar ini mengakibatkan pertengkaran antara kedua kakak beradik tersebut. Hubungan Maria dan Yusuf membuat Tuti teringat akan hubungannya dengan Hambali yang sengaja diputuskannya karena pria itu tidak mau mengerti akan perjuangannya. Baginya lebih baik menunda perkawinannya perjuangannya. Pada suatu penutupan Kongres Pemuda Baru, Maria dan Yusuf membawakan peran dalam sandiwara Sandyakala Ing Majapahit. Tuti kagum melihat permainan mereka. Sehabis pertunjukan Tuti mengajukan kritik terhadap cerita sandiwara tersebut yang berisikan filsafat Hindu yang menganggap bahwa kehidupan di dunia ini bersifat maya. Menurut Tuti cerita ini tidak cocok bagi kaum muda karena melemahkan semangat perjuangan. Melihat hubungan Maria dan Yusuf, sering Tuti hatinya tergugah ingin bahagia seperti mereka tetapi ia wanita yang idealis. Lamaran Supomo yang berijazah Direktur Sekolah Lulusan Negeri Belanda ditolaknya karena ia tidak mau menyerahkan diri kepada pria yang kurang sebanding dan kurang ia cintai. Baginya perkawinan bukan tempat pelarian dari rasa kesepian dan takut dikejar usia. Maria jatuh sakit, menurut Dokter mengidap tuberculose sehingga harus dirawat di sanatorium Pacet. Tuti, Yusuf dan ayahnya sering menengok Maria. Di Sindang Jaya daripada harus bersuamikan pria yang menghalang-halangi

dekat Pacet tinggal saudara mereka, suami istri Saleh dan Ratna yang hidup bertani. Tuti kagum dengan pendirian mereka sebagai orang terpelajar yang mau bekerja diladang. Karena sering bersama-sama ke Pacet, lama-kelamaan Yusuf saling mengetahui pandangan hidup, perjuangan, dan selera mereka. Tuti juga mengagumi Yusuf sebagai pria yang mempunyai pendirian hidup, luas pandangan, dan menghargai keindahan. Penyakit Maria tidak dapat ditolong lagi. Sebelum mengehmbuskan nafasnya yang terakhir ia berpesan agar Yusuf dan Tuti membina kehidupan sebagai suami istri. Pesan Maria ini dilaksanakan. Tuti pun menikah dengan Yusuf dengan semboyan bahwa hidup mereka adalah bekerja. Unsur-unsur Intrinsik : Tema

Tema yang terkandung dalam novel yang berjudul Layar Terkembang ini adalah emansipasi wanita Plot/Alur

Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur campuran. Berikut rangkaian alur yang terdapat dalam novel : 1. Permulaan Pada bagian ini penulis mulai mengenalkan Tuti dan Maria yaitu dua gadis bersaudara yang memiliki sifat yang berbeda serta memaparkan kehidupan mereka yang merupakan anak dari R.Wiriaatmadja 2. Jalinan Kejadian Bagian ini penulis mulai menceritakan bagaimana Tuti dan Maria mulai mengenal Yusuf di sebuah pasar ikan. Serta menggambarkan ketertarikan Yusuf kepada Maria seorang gadis periang, dengan muka yang lebih berseri, memiliki mata yang menyinarkan kegirangan hidup. 3. Puncak Laku

Dalam novel ini, puncak laku terjadi disaat Tuti merasakan kebimbangan dan pertentangan hebat didalam dirinya. Ia merasa bahwa dalam dirinya terjadi peperangan antara penyerahan diri dalam cinta yang penuh pertimbangan sedangkan ia meragukan dirinya apakah akan mampu menerima seseorang yang menurut pandangannya tak sedikitpun mempunyai kelebihan dibanding dirinya. Sedangkan apabila ia terlalu memilah dan memilih calon suami bukan tidak mungkin dalam usianya yang sudah begitu lanjut ia tidak akan bersuami. 4. Ketegangan Menurun Tuti harus menerima kenyataan bahwa adiknya mengalami penyakit Malaria parah sehingga mengharuskan Maria dirawat di rumah sakit di Kota Pacet. 5. Peleraian Terjadi ketika Tuti dan Yusuf mulai akrab karena Yusuf sering mengunjungi Tuti dengan maksud mendengar kabar Maria dan menemani Tuti agar tidak kesepian. Mereka juga sering bercakap-cakap tentang Maria dan penyakitnya dan berharap agar lekas sembuh 6. Penutupan Maria meninggal karena karena penyakit yang dideritannya dan berpesan kepada Yusuf dan Tuti agar keduanya tetap meneruskan hubungannya yang kelak menjadi suami istri. Disinilah akhir pertentangan dan kebimbangan dalam diri Tuti karena ia telah mendapatkan seseorang yang sesuai dengan jiwanya. Beberapa waktu setelah meninggalya Maria, Tuti meangsungkan perkawinan dengan Yusuf Latar

1. Latar Tempat Novel ini menggunakan banyak latar tempat. Diantara banyak latar tempat yang digunakan, berikut ini beberapa latar tempat yang dominan dan dianggap berkesan serta memiliki kesan penting dalam novel ini

Gedung Akuarium, yang merupakan tempat pertemuan Tuti dan Maria serta Yusuf untuk yang pertama kalinya

Air terjun Dago, tempat dimana Maria dan Yusuf saling mengatakan cinta serta mengikrarkan janji akan menjadi pasangan suami istri di hari nanti

Pacet, daerah tempat Maria dirawat serta didaerah ini Tuti dan Yusuf menginap dirumah Saleh dan Ratna yang merupakan teman semasa di bangku sekolah. Di daerah ini terjalin keakraban diantara keduanya.

2. Latar Waktu 3. Latar Suasana Beragam suasana yang digambarkan dalam novel ini. Diantaranya

kegembiraan Tuti dan Maria saat berkenalan dengan yusuf, kekaguman Maria terhadap Yusuf, ketertarikan Yusuf terhadap maria, kebimbangan dan goncangan jiwa yang dialami Tuti, kegembiraan saat Maria dan Yusuf mengikrarkan janji di air terjun dago, serta kesedihan saat Maria harus meninggalkan orang-orang yang dikasihinya. Tokoh

Tokoh yang terlibat dalam novel ini diantaranya Tuti Maria Yusuf R. Wiriaatmadja Deman Munaf Hambali Soepomo Bupati Serang - Dokter - Soleh - Ratna

Penokohan

Cara pengarang menggambarkan watak tokoh dalam novel ini adalah penokohan secara tidak langsung (dramatic). Sudut Pandang

Dalam novel ini pengarang tidak berperan apa-apa. Pelaku utamanya adalah orang lain. Sehingga sudut pandang dalam novel ini adalah orang ketiga serba tahu. Gaya Bahasa

Untuk membangun kesan tertentu pada pembaca atas bahasa yang digunakan pada novel angkatan 20-30an, pengarang dapat menggunakan peribahasa. Peribahasa diartikan sebagai kelompok kata atas kalimat yang tersusun secara tetap, ringkas serta membangun makna perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup, dan aturan tingkah laku. Peribahasa yang digunakan pada Novel ini adalah Baginya perkawinan bukan tempat pelarian dari rasa kesepian dan takut dikejar usia Amanat

Dalam novel ini, pengarang menyampaikan pesan agar hendaknya kita lebih mendahulukan hal pendidikan ketimbang hal percintaan. Seperti peribahasa Raihlah gaun sarjanamu sebelum meraih gaun pengantinmu.

UNSUR EKSTRINSIK Nilai-nilai yang dapat diteladani dari novel tersebut adalah Nilai pendidikan