Anda di halaman 1dari 9

PROSES PERANCANGAN MAJALAH FASHION DALAM MENJAWAB TANTANGAN PELESTARIAN DAN PROMOSI BUSANA INDONESIA KAIN IKAT DAYAK

SINTANG

Sony Prasetya Wanandi 42409111 Metodologi Penelitian Kelas C

Jurusan Desan Komunikasi Visual Fakultas Seni dan Desain Universitas Kristen Petra Surabaya 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Permasalahan Akhir akhir ini, perkembangan ekonomi Indonesia juga terkontribusi

oleh berkembangnya industri fashion. Industri fashion telah berkembang pesat menjadi salah satu industri yang memainkan peranan penting di Indonesia. Banyak sekali rumah mode kenamaan di dunia internasional yang telah membuka cabang dan toko retail mereka di Indonesia, khusunya di kota Jakarta. Indonesia berkembang menjadi pusat mode kenamaan di wilayah Asia Tenggara, sejajar dengan posisi Singapura. Perkembangan industri fashion ini juga didukung dengan hadirnya majalah majalah fashion di Indonesia yang dalam setiap edisinya selalu menampilkan karya karya dan koleksi rumah mode ternama. Kehadiran majalah fashion ini menjadi sokoguru yang penting dalam perkembangan industri fashion Indonesia. Masyarakat Indonesia yang ekonominya sedang berkembang pun menyambutnya dengan kemampuan membeli yang berkembang pesat bila dibandingkan dengan kemampuan membeli masyarakat Indonesia di masa yang sebelumnya, sehingga industri fashion berubah menjadi lahan ekonomi yang sangat berprospek saat ini. Ironisnya, berkembang pesatnya industri fashion Indonesia ini hanya menguntungkan produk produk fashion mewah buatan luar negeri dan tidak menimbulkan perkembangan yang signifikan di industri fashion dalam negeri. Indonesia memiliki ribuan suku dan bangsa yang memiliki kekhasan budaya masing masing. Budaya yang mereka miliki bukan hanya soal tarian, makanan, dan juga tradisi, tetapi juga memiliki warisan budaya dalam bidang kebusanaan. Indonesia telah dikenal luas oleh masyarakat dunia sebagai negara asal kain batik, bahkan telah disahkan oleh PBB sebagai warisan budaya asli Indonesia. Batik pun telah terangkat namanya dan jauh lebih dihargai oleh masyarakat indonesia setalah diakui keberadaannya oleh PBB. Dewasa ini, bukan hanya masyarakat Indonesia yang gemar menggunakan dan membeli kain batik tapi juga masyarakat luar negeri. Hal tersebut menyiratkan sebuah

potensi ekonomi yang menjanjikan bagi para pelaku industri fashion tanah air, apabila produk dan komoditi mereka bisa ditampilkan di ajang internasional atau dipromosikan dengan benar, sehingga dikenal oleh masyarakat secara luas, baik nasional maupun internasional. Euforia tentang kehadiran batik sebagai kebudayaan ini pun menimbulkan efek negatif yang cukup mengkhawatirkan. Gegap gempita batik bisa membuat produk produk dan komoditi lainnya menjadi terlupakan, padahal masih banyak unsur busana lain yang tidak kalah apik dengan batik, namun masih belum dikenal luas oleh masyarakat. Indonesia bukan hanya sekedar tentang batik, tapi juga tentang warisa budaya lainnya, seperti Kain Tenun. Kain Tenun Ikat merupakan hasil kriya khas Indonesia yang bisa kita jumpai di berbagai wilayah Indonesia dengan keragamannya masing masing. Teknik tenun ikat terdapat di berbagai daerah di Indonesia. Daerahdaerah di Indonesia yang terkenal dengan kain ikat di antaranya Toraja, Sintang, Jepara, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, dan Timor. Kain gringsing dari Tenganan, Karangasem, Bali. Kain tenun dibuat dengan bahan helaian Benang Pakan atau Benang Lungsin yang sebelumnya diikat dan dicelupkan pada zat pewarna alami. Alat tenun yang dipakai juga bukan mesin, melainkan alat manual, sehingga karya tenun merupakan karya cratfmanships yang membutuhkan keahlian khusus dan juga ketelitian pembuatnya. Kain tenun yang ingin saya angkat dan perkenalkan pada msyarakat adalah Kain Tenun Ikat Dayak Sintang. Kain Tenun Dayak Sintang hanya ditemukan di Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu. Padahal dulunya kain tenun ikat Dayak ini hampir dikenal masyarakat di seluruh Kalbar. Pada masa lalu, usai berladang, kala santai, menenun menjadi salah satu kegiatan yang dapat membunuh rasa bosan serta menghasilkan uang. Sehingga, banyak kaum wanita Dayak yang melakukannya. Mereka juga belajar secara otodidak. Suku Dayak menggunakan gedok sebagai sarana mereka untuk menenun. Satu bulan merupakan waktu yang biasanya mereka butuhkan untuk menyelesaikan selembar kain tenun. Namun, jika dilakukan secara insentif, cukup hanya dua minggu. Seperti kain tenun lainnya, tenun ikat Dayak butuh waktu pengerjaan yang cukup lama. Mulai pemintalan benang pewarnaan, memasukkannya satu per satu ke alat yang dinamakan Gedo, sampai dengan pencipta motif. Namun, proses panjang tesebut membuahkan hasil yang

memuaskan pula. Tenun ikat suku Dayak ada yang telah menembus pasar Eropa. Harga Kain Tenun Ikat Dayak Sintang terbilang cukup murah untuk masyarakat Eropa, Kian Tenun ini dihargai sekitar Rp.750.000, harga ini semakin memanjakan penggemarnya, karena begitu terjangkau masyarakat Eropa. Tapi sangat disayangkan, keberadaannya kini kian langka. Agar tetap ada, tugas wanita muda Dayaklah untuk mempertahankan tenun ikat Dayak tersebut agar tetap ada. Memiliki kain Tenun Ikat Dayak mempunyai kebanggan tersendiri bagi para penggunanya, antara lain yaitu kita turut berpartisipasi mempertahankan warisan budaya yang hampir punah. Disamping itu orang yang memakainya terkesan elegan dan berkelas. Dari sekian banyak hal yang menarik dari kain tenun ikat ini adalah proses pewarnaannya dengan menggunakan bahan alami. Jadi tenun ikat benar-benar dibuat dengan tangan dan melalui proses alami dengan mencampur bahan alam kedalamnya. Telah dipahami bahwa seni budaya menenun merupakan kebudayaan yang diwariskan oleh generasi terdahulu yang mempunyai keunikan, nilai seni dan sejarah yang tinggi. Tahapan untuk menghasilkan sebuah karya kain tenun ikat dimulai dari penanaman kapas, pembuatan benang / memintal, ngaos (peminyakan benang), mewarna/mencelup, mengikat motif, menenun dan menjadikan pakaian adat merupakan rangkaian proses dilakukan ritual-ritual panjang. Dari beberapa tahapan tersebut yang dipercaya sebagai roh untuk tertentu

membangkitkan semangat dalam bekerja maupun untuk memperoleh hasil yang memuaskan. Ini merupakan tradisi dan kebudayaan dari leluhur masyarakat suku Dayak Desa yang dilakuakan puluhan tahun silam. Puluhan bahkan ratusan motif pada kain tenun ikat Dayak berasal dari inspirasi, mimpi dan pengetahuan para leluhur yang mengandung makna begitu mendalam sebagai nasehat, petuah, pantangan, dan semangat dalam kehidupan keseharian. Maka janganlah sampai budaya yang telah berlangsung begitu lama, bisa menjadi terlupakan oleh kita sebagai masyarakat Indonesia. Ironinya, masyarakat dunia terkesan lebih menghargai karya bangsa Indonesia dibandingkan dengan masayarakat Indonesia sendiri. Louis Vuitton, rumah mode kenamaan dari Perancis telah memasukkan Kain Ikat ke dalam koleksi syalnya dan koleksi ini digemari oleh banyak pelanggan Louis Vuitton, sehingga bila kita cermati dengan lebih

mendalam, karya tradisional khas indonesia memiliki nilai estetika tersendiri yang mampu dijual di masyarakat Internasional. Kesimpulan dari kasus di atas membuktikan bahwa karya anak bangsa juga bisa diapresiasi secara luas oleh masyarakat dunia. Melalui perancangan majalah fashion ini, diharapkan mampu menarik perhatian masayrakat Indonesia, khususnya para pecinta busana agar mampu mengenal busana khas Indonesia, khususnya Kain Tenun Dayak Sintang, juga bangga menggunakan Kain Tenun Dayak Sintang, sehingga bisa lebih dikenal luas oleh masyarakat Indonesia dan dunia. Media majalah yang akan dirancang akan menampilkan banyak karya dan komoditas budaya Indonesia lainnya, sehingga pada setiap issue, majalah ini mampu mengangkat banyak karya anak bangsa agar bisa lebih dikenal dan dipromosikan. Pengangkatan tema yang berbeda pada setiap issue pun diharapkan agar bisa menciptaka sustainibility isi dari majalah fashion ini. Dan juga melalui perancangan ini diharapkan dapat meningkatkan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap karya kriya dan budaya tradisional, sehingga eksistensi Kain Tenun Dayak Sintang bisa diketahui masyarakat luas dan juga diapresiasi sebagaimana mestinya. 1.2. Rumusan Masalah

Bagaimana meningkatkan tingkat apresiasi masyarakat Indonesia Bagaimana merancang media komunikasi dan promosi komiditi

terhadap komiditas fashion Kain Tenun Dayak Sintang ?

Kain Tenun Dayak Sintang yang mampu meningkatkan apresiasi masyarakat Indonesia secara luas ? 1.3. Tujuan Penelitian

Meningkatkan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap komoditi Merancang media komunikasi dan promosi komoditi Kain Tenun

Kain Tenun Dayak Sintang. Dayak Sintang yang mampu meningkatkan apresiasi masyarakat Indonesia secara luas.

1.3 Metode Perancangan 1.4.1 Metode Pencarian Data a. Studi Kepustakaan Pencarian bahan dan materi yang mendukung dari buku, literatur, dan situs-situs internet yang memuat segala informasi berkenaan dengan Kain Tenun Dayak Sintang, yang kemudian diseleksi dan diringkas sesuai kebutuhan untuk dijadikan bahan materi dan pengetahuan yang berkaitan dengan Kain Tenun Dayak Sintang. Data akan diseleksi dari buku buku dan karya literatur, sehingga data yang didapatkan bisa dipercaya keabshannya dan juga bisa mendukung proses perancangan secara maksimal dan terperinci. b. Observasi Observasi berarti mengamati objek yang bertujuan untuk mendapatkan data tentang suatu objek yang akan kita teliti secara sadar untuk mendapatkan suatu pemahaman atau sebagai alat pembuktian terhadap informasi yang didapatkan sebelumnya. Metode observasi digunakan untuk mengumpulkan data data lapangan yang dapat digunakan sebagai dasar sistematis dengan prosedur yang terstandar. Observasi dilakukan terhadap pembuat Kain Tenun Dayak Sintang dan juga kalangan pecinta busana. c. Wawancara Wawancara akan dilakukan kepada semua pihak yang terkait dan berperan dalam mengkontirbusi data - data, seperti produsen Kain Tenun Dayak Sintang, distributor Kain Tenun Dayak Sintang, dan orang-orang yang menjadi pakar di bidangnya tata busana tradisional. Wawancara mendalam

dilakukan untuk mendapatkan data yang variatif, ekstensif, dan seakurat-akuratnya melalui pertanyaan-pertanyaan yang kritis agar hasilnya dapat

digunakan sebagai bahan mendasar untuk penelitian ini. Tujuannya adalah mengumpulkan informasi tentang media media yang strategis untuk dilakukan promosi.

1.4.2

Metode Analisis Data Dalam menganalisa data pendukung perancangan majalah ini akan digunakan metode kualitatif. Metode kualitatif diambil karena topik penelitian bersifat nilai, rumit, sukar diukur dengan angka dan berhubungan dengan erat dengan interaksi sosial dan kebudayaan. Apalagi mengingat data-data yang diperoleh dari proses pencarian data merupakan jenis data yang berupa katakata. Pemakaian metode kualitatif adalah agar didapatkan sebuah pemahaman tentang komoditi Kain Tenun Dayak Sintang yang akan diangkat dan dapat lebih mengenal objek tersebut secara langsung. Berbagai informasi berupa sumber tertulis yang dapat mendukung dan menguatkan penelitian, dikumpulkan melalui studi kepustakaan dari berbagai media, seperti buku ilmiah yang berkaitan dengan ilmu kesehatan khususnya mengenai vitamin, artikel di majalah atau tabloid, dan internet.

1.4.3

Metode Kualitatif Metode kualiatatif adalah metode yang lebih menekankan pada aspek pemahaman secara mendalam terhadap suatu pemasalahan daripada melihat permasalahan untuk penelitian generalisasi. Metode penelitian ini lebih suka menggunakan teknik analisis mendalam (in-depth analysis), yaitu mengkaji masalah secara kasus per-kasus karena metodologi kualitatif yakin bahwa sifat suatu masalah satu akan berbeda dengan sifat dari masalah yang lainnya. Tujuan dari metodologi ini bukan suatu generalisasi

tetapi pemahaman secara mendalam terhadap suatu masalah. Penelitian kualitatif berfungsi memberikan kategori substantif dan hipotesis penelitian kualitatif. 1.4.4 Metode SWOT Metode SWOT digunakan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari komoditi kain Tenun Dayak Sintang baik dari faktor eksternal dan Internal. SWOT akan secara luas menyikapi dan meneliti posisis sebuah produk dalam masyarakat. Hal ini memudahkan kita untuk mengetahui serba serbi komoditas Kain Tenun Dayak Sintang secara maksimal. Data yang didapat bermacam macam baik yang mendukung secara maksimal maupun yang kurang mendukung sekalipun. Analisa SWOT menentukan media apa yang akan digunakan. Adapun penjabaran metode SWOT adalah sebagai berikut : a. Strength (S)

Menganalisa apa yang menjadi kekuatan dari Kain Tenun Dayak Sintang sebagai salah satu pusaka dan warisan budaya Indonesia. Menuliskan keunggulan dari Kain Tenun Dayak Sintang dibandingkan dengan komoditas kain lainnya. Kita juga bisa meneliti dari segi marketingnya yang telah ada, sehingga bisa mengetahui keunggulan dari produk ini. b. Weakness (W) Menganalisa apa yang menjadi kekurangan dan kelemahan dari produk Kain Tenun Dayak Sintang jika dikomparasikan dengan komoditas lainnya dan juga problematika tersebut.
c. Opportunity (O)

bagaimana solusi terhadap

Menganalisa

peluang

yang

dapat

digunakan

untuk

pengembangan promosional dan juga peningkatan pemasaran

produk Kain Tenun Dayak Sintang. Dari analisa berbagai peluang tersebut dapat dikontemplasikan bagaimana cara mengaplikasikannya ke dalam media yang efektif.
d. Threats (T)

Menganalisa kondisi dan hal lainnya yang dapat menjadi ancaman dan tantangan bagi pengembangan promosional dan juga pengenalan Kain Tenun Dayak Sintang baik yang sudah terjadi maupun yang berpotensi untuk menjadi ancaman. Mencari tahu apa yang menjadi ancaman dan juga solusi untuk mengatasi ancaman dan tantangan tersebut, agar bisa segera diatasi.