Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM HEMATOLOGI : DENGUE HAEMORRAGIC FEVER (DHF)

Diajukan untuk memenuhi tugas mata ajar Keperawatan Medikal Bedah V

Oleh : KARTIKA (30140109021)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SANTO BORROMEUS BANDUNG 2012

Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Hematologi Dengue Haemorragic Fever (DHF)

1. Definisi Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Christantie Efendy,1995 ). Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit febris akut yang disertai dengan sakit kepala, nyeri tulang/sendi dan otot, ruam, leucopenia sebagai gejalanya (Yasmin, 1999). DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegypty dan beberapa nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat menyebar secara efidemik. (Sir,Patrick manson,2001). Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. 2. Etiologi Penyebab DHF adalah Arbovirus (Arthropodborn Virus) melalui gigitan nyamuk Aedes (Aedes Albopictus dan Aedes Aegepty). 3. Tanda dan Gejala a. Demam tinggi selama 5 7 hari b. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi. c. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma. d. Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri. e. Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati. f. Sakit kepala. g. Pembengkakan sekitar mata. h. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening. i. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).

4. Patoflow Diagram
Infeksi virus dengue

Viremia

Kompleks virus antibodi

Depresi sumsum tulang

Demam

Mual, muntah

Aktivasi komplemen C3 C5

Trombositopenia

Dehidrasi

Antihistamin dilepaskan

Gangguan rasa nyaman : Pusing

Resti ketidaksei mbangan cairan

Permeabilitas membran meningkat

Resti perdarahan lebih lanjut

Kebocoran plasma hemokonsentrasi Gangguan aktivitas Gangguan pemenuhan nutrisi

Hipovolemia

Syok

Asidosis metabolik

Kematian

5. Klasifikasi a. Derajat I : Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positi, trombositopeni dan hemokonsentrasi. b. Derajat II : Manifestasi klinik pada derajat I dengan manifestasi perdarahan spontan di bawah kulit seperti peteki, hematoma dan perdarahan dari lain tempat. c. Derajat III : Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan manifestasi kegagalan system sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah, hipotensi dengan kulit yang lembab, dingin dan penderita gelisah. d. Derajat IV : Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan manifestasi renjatan yang berat dengan ditandai tensi tak terukur dan nadi tak teraba. 6. Test Diagnostik a. Darah 1) Trombosit menurun. 2) HB meningkat lebih 20 % 3) HT meningkat lebih 20 % 4) Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3 5) Protein darah rendah 6) Ureum PH bisa meningkat 7) NA dan CL rendah b. Serology : HI (hemaglutination inhibition test). c. Rontgen thorax : Efusi pleura. d. Uji test tourniket (+) 7. Komplikasi Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya : a. Perdarahan luas. b. Shock atau renjatan. c. Efusi pleura d. Penurunan kesadaran. 8. Penatalaksanaan Medis a. Tirah baring b. Pemberian makanan lunak . c. Pemberian cairan melalui infus. d. Pemberian obat-obatan : antibiotik, antipiretik,

e. f. g. h. i.

Anti konvulsi jika terjadi kejang Monitor tanda-tanda vital ( T,S,N,RR). Monitor adanya tanda-tanda renjatan Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari

9. Konsep Asuhan Keperawatan a. Pengkajian Dalam memberikan asuhan keperawatan, pengkajian merupakan dasar utama dan hal penting dilakukan oleh perawat. Hasil pengkajian yang dilakukan perawat terkumpul dalam bentuk data. Adapun metode atau cara pengumpulan data yang dilakukan dalam pengkajian : wawancara, pemeriksaan (fisik, laboratorium, rontgen), observasi, konsultasi. 1) Data subyektif Adalah data yang dikumpulkan berdasarkan keluhan pasien atau keluarga pada pasien DHF, data obyektif yang sering ditemukan menurut Christianti Effendy, 1995 yaitu : a) Lemah. b) Panas atau demam. c) Sakit kepala. d) Anoreksia, mual, haus, sakit saat menelan. e) Nyeri ulu hati. f) Nyeri pada otot dan sendi. g) Pegal-pegal pada seluruh tubuh. h) Konstipasi (sembelit). 2) Data obyektif : Adalah data yang diperoleh berdasarkan pengamatan perawat atas kondisi pasien. Data obyektif yang sering dijumpai pada penderita DHF antara lain : a) Suhu tubuh tinggi, menggigil, wajah tampak kemerahan b) Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor. c) Tampak bintik merah pada kulit (petekia), uji torniquet (+), epistaksis, ekimosis,hematoma, hematemesis, melena. d) Hiperemia pada tenggorokan. e) Nyeri tekan pada epigastrik. f) Pada palpasi teraba adanya pembesaran hati dan limpa. g) Pada renjatan (derajat IV) nadi cepat dan lemah, hipotensi, ekstremitas dingin,gelisah, sianosis perifer, nafas dangkal.

Pemeriksaan laboratorium pada DHF akan dijumpai : a) Ig G dengue positif. b) Trombositopenia. c) Hemoglobin meningkat > 20 %. d) Hemokonsentrasi (hematokrit meningkat). e) Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan hipoproteinemia, hiponatremia, hipokloremia. Pada hari ke- 2 dan ke- 3 terjadi leukopenia, netropenia, aneosinofilia, peningkatan limfosit, monosit, dan basofil a) SGOT/SGPT mungkin meningkat. b) Ureum dan pH darah mungkin meningkat. c) Waktu perdarahan memanjang. d) Asidosis metabolik. e) Pada pemeriksaan urine dijumpai albuminuria ringan b. Diagnosa Keperawatan 1) Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue 2) Resiko defisit cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma 3) Resiko terjadi syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh 4) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun. 5) Gangguan aktivitas sehari-hari b.d kondisi tubuh yang lemah 6) Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan faktor-faktor pembekuan darah ( trombositopeni ) 7) Kecemasan berhubungan dengan kondisi klien yang memburuk dan perdarahan c. Intervensi Keperawatan 1) DK : Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue Tujuan : Suhu tubuh normal (3637oC), Pasien bebas dari demam. Intervensi : a) Kaji saat timbulnya demam. Rasional : untuk mengidentifikasi pola demam pasien. b) Observasi tanda vital (suhu, nadi, tensi, pernafasan) setiap 3 jam. Rasional : tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien. c) Anjurkan pasien untuk banyak minum (2,5 liter/24 jam.7)

Rasional : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak. d) Berikan kompres hangat. Rasional : Dengan vasodilatasi dapat meningkatkan penguapan yang mempercepat penurunan suhu tubuh. e) Anjurkan untuk tidak memakai selimut dan pakaian yang tebal. Rasional : pakaian tipis membantu mengurangi penguapan tubuh. f) Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai program dokter. Rasional : pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tinggi. 2) DK : Resiko defisit cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma Tujuan : Tidak terjadi defisit cairan, volume cairan terpenuhi Intervensi : a) Kaji vital sign tiap 3 jam/lebih sering. Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan intravaskuler b) Observasi capillary Refill Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer c) Observasi intake dan output. Catat warna urine / konsentrasi, Berat Jenis (BJ) Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi. d) Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari ( sesuai toleransi ) Rasional : Untuk memenuhi kabutuhan cairan tubuh peroral e) Kolaborasi : Pemberian cairan intravena Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh, untuk mencegah terjadinya hipovolemic syok. 3) DK : Resiko terjadi syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh. Tujuan : TTV dalam batas normal, keadaan umum baik. Intervensi : a) Monitor keadaan umum pasien Rasional : memantau kondisi pasien selama masa perawatan terutama pada saat terjadi perdarahan sehingga segera diketahui tanda syok dan dapat segera ditangani b) Observasi tanda-tanda vital tiap 2 sampai 3 jam. Rasional : tanda vital normal menandakan keadaan umum baik. c) Monitor tanda perdarahan.

Rasional : Perdarahan cepat diketahui dan dapat diatasi sehingga pasien tidak sampai syok hipovolemik. d) Chek haemoglobin, hematokrit, trombosit Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien sebagai acuan melakukan tindakan lebih lanjut. e) Berikan transfusi sesuai program dokter. Rasional : Untuk menggantikan volume darah serta komponen darah yang hilang. f) Lapor dokter bila tampak syok hipovolemik. Rasional : Untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut sesegera mungkin. 4) DK : Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun. Tujuan : Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi, pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan posisi yang diberikan /dibutuhkan. Intervensi : a) Kaji keluhan mual, sakit menelan, dan muntah yang dialami pasien. Rasional : Untuk menetapkan cara mengatasinya. b) Kaji cara / bagaimana makanan dihidangkan. Rasional : Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan pasien. c) Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur. Rasional : Membantu mengurangi kelelahan pasien dan meningkatkan asupan makanan . d) Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering. Rasional : Untuk menghindari mual. e) Catat jumlah / porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien setiap hari. Rasional : Untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan nutrisi. f) Berikan obat-obatan antiemetik sesuai program dokter. Rasional : Antiemetik membantu pasien mengurangi rasa mual dan muntah dan diharapkan intake nutrisi pasien meningkat. g) Ukur berat badan pasien setiap minggu. Rasional : Untuk mengetahui status gizi pasien 5) DK : Gangguan aktivitas sehari-hari b.d kondisi tubuh yang lemah Tujuan : Pasien mampu mandiri setelah demam, kebutuhan sehari-hari terpenuhi Intervensi : a) Kaji keluhan pasien. Rasional : Untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien.

b) Kaji hal-hal yang mampu atau yang tidak mampu dilakukan oleh pasien. Rasional : Untuk mengetahui tingkat ketergantungan pasien dalam memenuhi kebutuhannya. c) Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan aktivitasnya sehari-hari sesuai tingkat keterbatasan pasien. Rasional : Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh pasien pada saat kondisinya lemah dan perawat mempunyai tanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari pasien tanpa mengalami ketergantungan pada perawat. d) Letakkan barang-barang di tempat yang mudah terjangkau oleh pasien. Rasional : Akan membantu pasien untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan orang lain. 6) DK : Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan faktor-faktor pembekuan darah ( trombositopeni ) Tujuan : Tidak terjadi perdarahan lebih lanjut, trombosit meningkat. Intervensi : a) Monitor tanda penurunan trombosit yang disertai gejala klinis. Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda kebocoran pembuluh darah. b) Anjurkan pasien untuk banyak istirahat Rasional : Aktivitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan perdarahan. c) Beri penjelasan untuk segera melapor bila ada tanda perdarahan lebih lanjut. Rasional : Membantu pasien mendapatkan penanganan sedini mungkin. d) Jelaskan obat yang diberikan dan manfaatnya. Rasional : Memotivasi pasien untuk mau minum obat sesuai dosis yang diberikan. 7) DK : Kecemasan berhubungan dengan kondisi klien yang memburuk dan perdarahan Tujuan : Kecemasan berkurang Intervensi : a) Kaji rasa cemas yang dialami pasien. Rasional : Menetapkan tingkat kecemasan yang dialami pasien. b) Jalin hubungan saling percaya dengan pasien. Rasional : Pasien bersifat terbuka dengan perawat. c) Tunjukkan sifat empati Rasional : Sikap empati akan membuat pasien merasa diperhatikan dengan baik. d) Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : Meringankan beban pikiran pasien.

e) Gunakan komunikasi terapeutik Rasional : Agar segala sesuatu yang disampaikan diajarkan pada pasien memberikan hasil yang efektif. d. Implementasi Pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien dengan DHF disesuaikan dengan intervensi yang telah direncanakan. e. Evaluasi Hasil asuhan keperawatan pada klien dengan DHF sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi ini didasarkan pada hasil yang diharapkan atau perubahan yang terjadi pada pasien. Adapun sasaran evaluasi pada pasien demam berdarah dengue sebagai berikut : 1) Suhu tubuh pasien normal (36- 370C), pasien bebas dari demam. 2) Pasien akan mengungkapkan rasa nyeri berkurang. 3) Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi, pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan atau dibutuhkan. 4) Keseimbangan cairan akan tetap terjaga dan kebutuhan cairan pada pasien terpenuhi. 5) Aktivitas sehari-hari pasien dapat terpenuhi. 6) Pasien akan mempertahankan sehingga tidak terjadi syok hypovolemik dengan tanda vital dalam batas normal. 7) Infeksi tidak terjadi. 8) Tidak terjadi perdarahan lebih lanjut. 9) Kecemasan pasien akan berkurang dan mendengarkan penjelasan dari perawat tentang proses penyakitnya.

DAFTAR PUSTAKA Christantie, Efendy. 1995. Perawatan Pasien DHF. Jakarta : EGC Handayani, Wiwik. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta : Salemba Medika Sumarmo dkk. 2002. Buku ajar IKA infeksi dan penyakit tropis IDAI Edisi I. Jakarta : Bag IKA FKUI Tarwoto. 2008. Keperawatan Medikal Bedah Sistem Hematologi. Jakarta : TIM