Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

I. 1 Latar Belakang Sejarah mencatat bahwa kehidupan bahari bangsa Indonesia sudah lahir jauh sebelumnya, hal ini dibuktikan dengan adanya temuan-temuan situs prasejarah maupun sejarah. Penemuan situs prasejarah di gua-gua Pulau Muna, Seram dan Arguni yang dipenuhi oleh lukisan perahu-perahu layar,

menggambarkan bahwa nenek moyang Bangsa Indonesia merupakan bangsa pelaut, selain itu ditemukannya kesamaan benda-benda sejarah antara Suku Aborigin di Australia dengan di Jawa menandakan bahwa nenek moyang kita sudah melakukan hubungan dengan bangsa lain yang tentunya menggunakan kapal-kapal yang laik layar. Kerajaan Sriwijaya (683 M 1030 M) memiliki armada laut yang kuat, menguasai jalur perdagangan laut dan memungut cukai atas penggunaan laut. Pengaruhnya meliputi Asia Tenggara yang mana hal ini dikuatkan oleh catatan sejarah bahwa terdapat hubungan yang erat dengan Kerajaan Campa yang terletak di antara Camboja dan Laos. Bangsa Indonesia dengan karakteristik sosial budaya kemaritiman, bukanlah merupakan fenomena baru. Fakta sejarah menunjukan bahwa fenomena kehidupan kemaritiman, pelayaran dan perikanan beserta kelembagaan formal dan informal yang menyertainya merupakan kontinuitas dari proses perkembangan kemaritiman Indonesia masa lalu. Keperkasaan dan kejayaan nenek moyang kita di laut haruslah menjadi penyemangat generasi

SEJARAH KEMARITIMAN INDONESIA

Page 1

sekarang dan yang akan datang. Bentuk implementasinya masa kini, bukan hanya sekedar berlayar, tetapi bagaimana bangsa Indonesia wilayahnya adalah dua per tiga adalah lautan dapat dimanfaatkan demi kesejahteraan pembangunan bangsa.

I. 2 Maksud dan Tujuan Makalah yang berjudul Sejarah Kemaritiman Indonesia dibuat dengan maksud memenuhi tugas kuliah mata kuliah WSBM. Tujuan pembuatan makalah ini adalah menjelaskan/mengulas kembali tentang mengapa Indonesia disebut sebagai Negara maritim dan mengetahui kerajaan kerajaan maritim yang pernah berjaya di Indonesia sehingga dapat menumbuhkan kesadaran betapa pentingnya wilayah maritim untuk masyarakat Indonesia.

I. 3 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian tersebut diatas, tulisan ini secara khusus akan membahas permasalahan : 1) Mengapa Indonesia di sebut sebagai negara maritim. 2) Bagaimana kejayaan kerajaan maritim Indonesia masa lalu. 3) Bagaimana menyikapi agar potensi kemaritiman Indonesia dapat

dimanfaatkan untuk kesejahteraan bangsa Indonesia.

SEJARAH KEMARITIMAN INDONESIA

Page 2

BAB II PEMBAHASAN

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di Dunia. Negeri ini memiliki bentang Laut wilayah 70% dibanding dengan luas daratan yg hanya 30%. Sejatinya, Bangsa indonesia adalah masyarakat bahari. Sebelum penjajahan belanda, Indonesia terkotak-kotak kedalam kerajaan-kerajaan kecil. Di antara sekian banyak kerajaan kecil itu, terdapat kerajaan besar berbasis maritim di Tanah air yang mampu untuk menyatukannya yaitu Sriwijaya dan Majapahit. Kerajaan ini menurut berbagai pakar sejarah cukup disegani di kawasan Asia Tenggara.

Sudah sepantasnya kita mengoptimalkan Unclos 1982 yang merupakan peluang terbesar negara kepulauan, namun lemahnya perhatian dan keberpihakan pemerintah di laut maka beberapa kerugian yang ditimbulkannya, seperti lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan pada tahun 2002 dengan alasan ineffective occupation atau wilayah yang diterlantarkan. Posisi strategis Indonesia setidaknya memberikan manfaat setidaknya dalam tiga aspek, yaitu; alur laut kepulauan bagi pelayaran internasional (innocent passage, transit passage, dan archipelagic sea lane passage) berdasarkan ketentuan IMO; luas laut territorial yang dilaksanakan sejak Deklarasi Djuanda 1957 sampai dengan Unclos 1982 yang mempunyai sumberdaya kelautan demikian melimpah; dan sumber devisa yang luar biasa jika dikelola dengan baik. Minimnya keberpihakan kepada sektor

SEJARAH KEMARITIMAN INDONESIA

Page 3

bahari (maritime policy) salah satunya menyebabkan masih semrawutnya penataan selat Malaka yang sejatinya menjadi sumber devisa. Hal lainnya adalah pelabuhan dalam negeri belum menjadi international hub port, ZEE yang masih terlantar, penamaan dan pengembangan pulau-pulau kecil, terutama di wilayah perbatasan negara tidak kunjung tuntas, serta makin maraknya praktik illegal fishing, illegal drug traficking, illegal people, dan semakin meningkatnya penyelundupan di perairan Indonesia.

II. 1 Indonesia Sebagai Negara Maritim

Indonesia merupakan negara kepulauan, antara pulau yang satu dengan pulau yang lainnya dipisahkan oleh laut, tapi dalam hal ini laut bukan menjadi penghalang bagi tiap suku bangsa di Indonesia untuk saling berhubungan dengan suku-suku di pulau lainnya. Sejak zaman bahari, pelayaran dan perdagangan antar pulau telah berkembang dengan menggunakan berbagai macam tipe perahu tradisional, nenek moyang kita menjadi pelaut-pelaut handal yang menjelajahi untuk mengadakan kontak dan interaksi dengan pihak luar. Bahkan, yang lebih mengejutkan lagi, pelayaran yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia (Nusantara) pada zaman bahari telah sampai ke Mandagaskar. Bukti dari berita itu sendiri adalah berdasarkan penelitian yang dilakukan yaitu tipe jukung yang sama yang digunakan oleh orang-orang Kalimantan untuk berlayar Fantastis.

Apa yang terjadi dalam dunia maritim Indonesia pada zaman bahari telah menjadi Trade Mark bahwa Indonesia merupakan negara maritim. Tetapi apakah benar sekarang ini Indonesia merupakan negara maritim? Negara yang

SEJARAH KEMARITIMAN INDONESIA

Page 4

mempunyai banyak pulau, luasnya laut, belum menjadi modal utama bahwa negara tersebut adalah negara maritim. Namun, seberapa besar penduduk suatu negara itu berorientasi ke laut, itulah yang menjadi acuan bahwa negara itu adalah negara maritim. Bagaimana dengan Indonesia? Mengutip pernyataan salah seorang sejarawan kal-sel yaitu bapak Bambang subiyakto dalam tulisannya yang berjudulPelayaran, pelabuhan dan perdagangan Banjarmasin 1857-1957 bahwa Indonesia adalah Negara kepulauan, Indonesia adalah Nusantara, Indonesia adalah Negara Maritim dan Indonesia adalah Bangsa Bahari,Berjiwa Bahari serta Nenek Moyangku Orang Pelaut hanya merupakan slogan kata, sloganistis.

Suatu hal yang hanya diucapkan belaka oleh manusia Indonesia sejak Balita sampai Manula. Sebuah pernyataan yang relevan dan sesuai untuk menggambarkan citra dunia maritim Indonesia saat ini. Indonesia menyandang predikat Negara Maritim dan juga Negara Agraris. Predikat itu telah ada sejak zaman kerajaan, dimana kerajaan-kerajaan tersebut masing-masing berorientasi ke laut dan juga berorientasi ke pedalaman, dalam hal ini pertanian. Kita bisa bangga, bagaimana kerajan Sriwijaya dan kerajan majapahit menjadi kekuatan yang begitu besar dan mempunyai pengaruh yang sangat kuat di Asia Tenggara, itu semua dikarenakan mereka membangun kekuatan dengan mengembangkan kemaritiman untuk kejayaan negara,

Meski setelah Sriwijaya dan Majapahit runtuh dikarenakan pergolakan politik dalam negeri dan juga mulai meluasnya pengaruh Islam pada zaman Majapahit. Namun, potensi kemaritiman terus berkembang. Berdirinya kerajaan-

SEJARAH KEMARITIMAN INDONESIA

Page 5

kerajaan Islam di pesisir pantai seperti Demak, Banten, Aceh, dan lain - lain. Menjadi bukti bahwa kerajaan-kerajaan tersebut terus mengembangkan potensi laut untuk kejayaan negaranya masing-masing.

Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia tidak pelak lagi terbukti dengan pengakuan dunia yang tertuang dalam UNCLOS (United Nation Convention on the Law of the Sea) yang diratifikasi oleh negara-negara sedunia, serta melalui Deklarasi Juanda yang mengatur hal-hal yang berkaitan kedaulatan Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan. Seperti diketahui bersama bahwa 3/5 dari wilayah negara kita merupakan wilayah perairan dengan dikelilingi oleh 17.508 pulau yang kaya akan sumber daya hayati dan nirhayati yang sampai hari ini oleh karena pergeseran nilai dan paradigma yang tidak tepat memandang konsep negara kepulauan menyebabkan potensi kelautan kita belum benar-benar bisa dimaksimalkan pengelolaan dan pemanfaatannya.

II. 2 Kejayaan Kerajaan Maritim Yang Pernah Ada Di Indonesia

Dari berbagai belahan penjuru Nusantara tersebar banyak bandar atau pelabuhan besar. Juga banyak peninggalan budaya yang melukiskan kegagahan nenek moyang orang Indonesia sebagai pelaut. Sejarah pun telah menyebutkan bahwa bersatunya Nusantara adalah karena kebesaran armada maritim. Sejak abad ke-9 Masehi, bangsa Indonesia telah berlayar jauh dengan kapal bercadik. Mereka ke Utara mengarungi lautan, ke Barat memotong lautan Hindia hingga Madagaskar, ke Timur hingga Pulau Paskah. Dengan kian ramainya arus pengangkutan komoditas perdagangan melalui laut, mendorong munculnya

SEJARAH KEMARITIMAN INDONESIA

Page 6

kerajaan-kerajaan di Nusantara yang bercorak maritim dan memiliki armada laut yang besar.

Pada masa lalu di era kerajaan Sriwijaya, Majapahit hingga Demak, Indonesia adalah negara besar yang disegani di kawasan Asia, bahkan mungkin di seluruh dunia. Berbagai negara mulai dari Tumasik, Pasai, hingga Campa tunduk oleh kegagahan armada kapal Sriwijaya dan cetbang (meriam api) Majapahit. Sebagai kerajaan maritim yang kuat di Asia Tenggara, Sriwijaya (683-1030 M) telah mendasarkan politik kerajaannya pada penguasaan alur pelayaran dan jalur perdagangan serta menguasai wilayah-wilayah strategis yang digunakan sebagai pangkalan kekuatan lautnya. Angkatan Kerajaan Sriwijaya umumnya telah ditempatkan di berbagai pangkalan strategis dan mendapat tugas mengawasi, melindungi kapal-kapal dagang yang berlabuh, memungut biaya cukai, serta mencegah terjadinya pelanggaran laut di wilayah kedaulatan dan kekuasaannya.

Petualang Tiongkok, I Tsing, mencatat, Shih Li Fo Shih (Sriwijaya) adalah kerajaan besar yang mempunyai benteng di Kotaraja, armada lautnya amat kuat. Guna memperkuat armada dalam mengamankan lalu lintas perdagangan melalui laut, Sriwijaya memanfaatkan sumber daya manusia yang tersebar di seluruh wilayah kekuasaannya yang kini disebut kekuatan pengganda".

Sayang, Sriwijaya hanya negara maritim tidak sekaligus sebagai agraris, maka ia tak bertahan lama. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa kota pelabuhan harus ditopang oleh hasil pertanian yang menjadi komoditas unggulan dari wilayah pedalaman. Ketangguhan agraria dan maritim adalah pilar-pilar

SEJARAH KEMARITIMAN INDONESIA

Page 7

utama untuk kejayaan Nusantara. Ketangguhan agraris dan maritim pertama kali ditunjukkan oleh Singasari di bawah pemerintahan Kertanegara pada abad ke-13. Dengan kekuatan armada laut yang tidak ada tandingannya, pada tahun 1275 Kertanegara mengirimkan ekspedisi bahari ke Kerajaan Melayu dan Campa untuk menjalin persahabatan agar bersama - sama dapat menghambat gerak maju Kerajaan Mongol ke Asia Tenggara. Tahun 1284, ia menaklukkan Bali dalam ekspedisi laut ke timur.

Puncak kejayaan maritim nusantara terjadi pada masa Kerajaan Majapahit (1293-1478). Majapahit lalu berkembang menjadi kerajaan maritim setelah Gajah Mada menjadi mahapatih. Dengan Sumpah Palapa, Gajah Mada bercita-cita menyatukan nusantara dan diangkatlah Laksamana Nala sebagai Jaladimantri yang bertugas memimpin kekuatan laut Kerajaan Majapahit. Dengan armada laut yangkuat, kekuasaan Majapahit amat luas hingga keluar nusantara. Di bawah Raden Wijaya, Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, Majapahit berhasil menguasai dan mempersatukan nusantara. Pengaruhnya bahkan sampai ke negaranegara asing seperti Siam, Ayuthia, Lagor, Campa (Kamboja), Anam, India, Filipina, China.

Kejatuhan Majapahit diikuti munculnya Kerajaan Demak. Kebesaran Kerajaan Demak jarang diberitakan, tetapi bukti kekuatan maritim Kerajaan Demak mampu mengirim armada laut yang dipimpin Pati Unus yang bergelar Pangeran Sabrang Lor membawa 100 buah kapal dengan 10.000 prajurit menyerang Portugis di Malaka. Sejarah itu menggambarkan kehebatan armada

SEJARAH KEMARITIMAN INDONESIA

Page 8

niaga, keandalan manajemen transportasi laut, dan armada militer yang mumpuni dari beberapa kerajaan di nusantara yang mampu menyatukan wilayah luas dan disegani bangsa lain. Dengan armada niaga yang besar, kerajaan bersosialisasi dan membawa hasil alam sebagai komoditas perdagangan ke negeri lain. Dan untuk menjaga keamanan, kerajaan memiliki armada laut yang kuat.

Sayang, beberapa kerajaan besar itu jatuh bukan karena serangan lawan, tetapi karena perang saudara. Kondisi itu dimanfaatkan kekuatan asing untuk menguasai wilayah ini. Dengan mempelajari kondisi kerajaan dan kultur penguasa di nusantara, kekuatan asing mampu menduduki negeri ini dengan menjauhkan penghidupan masyarakat dari laut. Masyarakat digiring untuk kembali menjadi petani. Lama-kelaman armada laut kerajaan menjadi kecil. Kesempatan ini dimanfaatkan kekuatan asing, seperti Portugis, Inggris, dan VOC, untuk ganti menguasai laut nusantara. Dengan terdesaknya raja-raja ke pedalaman dan dikuasainya berbagai pelabuhan oleh asing, sejak saat itu paradigma maritim kita diubah penjajah, menjadi bangsa agraris

Kilasan sejarah itu memberi gambaran, beberapa kerajaan di Nusantara mampu menyatukan wilayah luas dan disegani bangsa lain karena kehebatan armada niaga, keandalan manajemen transportasi laut, dan armada militer yang mumpuni. Sejarah telah mencata dengan tinta emas bahwasannya Sriwijaya dan Majapahit pernah menjadi center of excellence di bidang maritim, kebudayaan, dan agama di seluruh wilayah Asia Tenggara Kejayaan para pendahulu negeri ini dikarenakan kemampuan mereka membaca potensi yang mereka miliki.

SEJARAH KEMARITIMAN INDONESIA

Page 9

Ketajaman visi dan kesadaran terhadap posisi strategis nusantara telah membawa negara ini disegani oleh negara-negara lain. Namun sayang, kini kejayaan masa lalu bangsa Indonesia ini tidak lagi banyak dikenang. Kejayaan tersebut seakan tertutup oleh potret kemiskinan yang melanda rakyat Indonesia. Kecintaan kita kepada laut juga sepertinya semakin dangkal. Rasa keberpihakan negara terhadap dunia maritim pun masih lemah.

II. 3 Menyikapi Potensi Kemaritiman Indonesia

Berkaca dari masa lalu, melihat bagaimana kejayaan masa lampau diperoleh karena mengoptimalkan potensi laut sebagai sarana dalam suksesnya perekonomian dan ketahanan politik suatu negara, maka menjadi suatu hal yang wajar bila sekarang ini Indonesia harus lebih mengembangkan laut demi tercapianya tujuan nasional. Indonesia menyandang predikat Negara Maritim atau negara kepulauan, predikat ini mustahil ditinggalkan, lain halnya dengan predikat Negara Agraris yang suatu saat bisa berganti dengan industri. Konsekwensi sifat maritim itu sendiri lebih mengarah pada terwujudnya aktifitas pelayaran di wilayah Indonesia. Dalam kalimat ini bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan dalam membangun perekonomian akan senantiasa dilandasi oleh aktivitas pelayaran.

Pentingnya pelayaran bagi Indonesia tentunya disebabkan oleh keadaan geografisnya, posisi Indonesia yang strategis berada dalam jalur persilangan dunia, membuat Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk mengembangkan laut. Laut akan memberikan manfaat yang sangat vital bagi

SEJARAH KEMARITIMAN INDONESIA

Page 10

pertumbuham dan perkembangan perekonomian Indonesia atau perdaganagan pada khususnya.

Dunia maritim Indonesia telah mengalami kemunduran yang cukup signifikan, kalau pada zaman dahulu mencapai kejayan baik dalam bidang politik maupun ekonomi, sekarang ini tidak tampak sedikit pun kemajuan yang dapat dilihat. Ironis memang, Indonesia yang mempunyai potensi laut sangat besar di dunia kurang begitu memperhatikan sektor ini. Padahal, laut menjadi salah satu faktor dalam mempertahankan eksestensi wilayah suatu negara Bahkan barang siapa yang menguasai laut, ia akan menguasai dunia, demikian dalil yang dikemukakan oleh Mahan, wajar saja kalau Mahan mengeluarkan pernyataan tersebut, dalam karyanya yang berjudul The Influence of Sea Power Upon History (1660-1783), yang terbit untuk pertama kalinya pada tahun 1890 dan telah mengalami cetakan ulang beberapa kali.

Alfred Thayer Mahan menggambarkan proses pertumbuhan Inggris yang pada abad ke-19 telah menjadi adidaya laut yang menguasai dunia pada waktu itu. Angkatan lautnya disegani dunia, sedangkan armada niaganya menjelajahi seluruh samudera, bangsa yang menguasai daratan betapa pun besar dan kuatnya angkatan daratnya, tidak akan mampu menguasai dunia. Di daratan banyak rintangan berupa gunung, jurang dan sebagainya, sedangkan laut merupakan lapangan yang luas, bebas dan terbuka. Buku Mahan in ternyata berpengaruh sekali terhadap kekuatan-kekuatan dunia pada waktu itu, Inggris semakin meningkatkan kemampuan maritim. Pada akhir abad XIX, Amerika serikat di bawah Theodore

SEJARAH KEMARITIMAN INDONESIA

Page 11

Rosevolt, Jerman di bawah kaisar Wilhem II dan Jepang dibawah pemerintahan Meiji mulai membangun kekuatan laut yang besar. Studi Mahan telah membuktikan bahwa bukan jumlah penduduk semata-mata yang membuat suatu bangsa berjaya, melainkan jumlah pendududk yang berorientasikan ke laut dan yang ditopang oleh pemerintah yang memperhatikan dunia Baharinya.

Harus di akui bahwa orientasi ke dunia bahari sudah dimulai sejak kita menerima wawasan Nusantara sebagai dasar pemikiran negara, namun dikalangan banyak pengambil keputusan, wawasan ini masih berupa slogan. Wawasan nusantara setiap jengkal wilayah sama penting, akan tetapi masih banyak pulau belum disentuh, malahan belum ada namanya. Hanya jika sebuah pulau disengketakan oleh negara lain, baru ada upaya untuk memperhatikannya. Seperti kasus pulau Sipadan dan Ligitan juga kepulauan Ambalat yang berbuntut pada sengketa panas antara Indonesia dengan Malaysia. Agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali, hendaknya pemerintah Indonesisa mengambil langkah-langkah untuk segera mengamankan pualu-pulau terluar di Indonesia agar tidak di caplok oleh negara tetangga. Mungkin negara-negara tetangga seperti Malaysia menganggap remeh kekuatan laut kita hingga ia begitu berani keluar masuk perairan Indonesia. Untuk itu sudah saatnya lah kita bangkit, mari bersama-sama membangun kembali dunia maritim Indonesia,menhargai laut dan menjaga eksistensi.

Sekarang laut bukan hanya sebagai sumber protein dan tempat pelaut mengadakan hubungan antar pulau. Pertambangan laut dan pemanfaatanya

SEJARAH KEMARITIMAN INDONESIA

Page 12

sebagai sumber energi makin banyak dikembangkan, begitu pula usaha wisata bahari. Dengan kata lain, kompleksitas dunia bahari makin berekembang sehingga perlu antisipasi untuk merencanakan masa depan bangsa negara. Namun tidak sesederhana itu ternyata bayang keinginan untuk mewujudkan visi maritim sebagai mainstream bagi negara Indonesia. Berbagai kendala menjadi masalah tersendiri bagi upaya ini. Masalah utama adalah masalah paradigma. Paradigma darat/agraris masih kuat melekat pada kebanyakan masyarakat Indonesia, termasuk pemerintahnya. Bangsa Indonesia masih mengidap kerancuan identitas. Di satu pihak mempunyai persepsi kewilayahan tanah air, tetapi memposisikan diri secara kultural sebagai bangsa agraris dengan puluhan juta petani miskin yang tidak sanggup kita sejahterakan, sedangkan kegiatan industri modern sulit berkompetisi dengan bangsa lain, antara lain karena budaya kerja yang berkultur agrarian konservatif, disamping berbagai inefisiensi birokrasi dan korupsi.

Industri pun kita bangun tidak berdasar pada keunggulan kompetitif namun pada keunggulan komparatif, tanpa kedalaman struktur dan tanpa masukan keilmuan dan teknologi yang kuat. Akibat dari hal ini adalah pembangunan perekonomian maritim dan pembangunan sumber daya manusia tidak pernah dijadikan arus utama pembangunan nasional, yang didominasi oleh persepsi dan kepentingan daratan semata. Dewan Kelautan Nasional memang pernah dibuat tetapi dengan mandat terbatas dan menduduki hirarki yang tidak signifikan dalam kelembagaan pemerintahan. Jika masalah paradigma ini tidak selesai maka tidak akan ada visi maritim yang sesungguhnya. Tidak adanya visi ini akan membuat pembangunan di sektor bahari hanya sekadar formalitas belaka memenuhi

SEJARAH KEMARITIMAN INDONESIA

Page 13

tuntutan sebagian kalangan. Ini bisa kita lihat pada kasus Dewan Maritim Indonesia (DMI). Selama ini DMI hanya berperan sebagai lembaga konsultatif yang memberikan masukan pada Presiden. Sebagai eksesnya Inpres No. 5/2005 tentang Program Pemberdayaan Industri Pelayaran Nasional tidak berjalan dengan semestinya karena berbagai pihak yang mendapat amanat tersebut belum mampu berkomunikasi secara maksimal. Sementara, selama ini kegiatan sektor kemaritiman melibatkan banyak instansi seperti Departemen Perhubungan, Departemen Perdagangan, Departemen Keuangan, Departemen Kelautan dan Perikanan, serta aparat penegak hukum di laut.

Sebagai akibat dari belum adanya kejelasan visi maritim tersebut adalah masalah-masalah yang faktual di lapangan, seperti masalah perbatasan dengan beberapa negara tetangga, masalah infrastruktur kemaritiman yang masih kurang memadai seperti armada laut yang jauh dari memadai. Bayangkan pertahanan laut serta teknologi kelautan. Agaknya, memang bukan pekerjaan mudah

mengembalikan kejayaan yang pernah kita capai. Namun, yang tidak mudah itu bukan berarti tidak bisa. Kita bisa seperti para pendahulu kita jika bisa dengan tepat dan ada kemauan untuk mulai berkomitmen penuh terhadap pembangunan maritim yang sesungguhnya.

JAYA DI LAUT..SEJAHTERA DI DARAT

SEJARAH KEMARITIMAN INDONESIA

Page 14

SEJARAH KEMARITIMAN INDONESIA

Page 15