Anda di halaman 1dari 5

ILMU TANPA AGAMA BUTA AGAMA TANPA ILMU LUMPUH Maria Bhekti Utari Sekolah Victory Plus Bekasi

Tugas Individual 1 28 Maret 2012 Mata Kuliah : Filsafat Ilmu Pengajar : Prof. Dr. Ir. Amos Neolaka Program Pasca Sarjana Universitas Kristen Indonesia

Ilmu Tanpa Agama Buta dan Agama Tanpa Ilmu adalah Lumpuh Ilmu dan agama merupakan prestasi manusiawi, yang pada hakikatnya, muncul dari semangat yang samaagar manusia dapat survive. Dengan kata lain, ilmu dan agama lahir karena kebutuhan, yaitu untuk menjawab berbagai macam tantangan yang selalu dihadapi manusia dalam eksistensinya (Wijaya, 2006). Sesuatu yang penting untuk disadari bersama bahwa agama bukanlah segala-galanya, demikian juga ilmu hanya merupakan salah satu jenis pengetahuan di antara jenis pengetahuan yang lain. Di dalam kehidupan konkret, agama dan ilmu bersifat saling melengkapi. Afanasyef, seorang pemikir Marxist bangsa Rusia berpendapat ilmu adalah pengetahuan manusia tentang alam, masyarakat, dan pikiran. Ia mencerminkan alam dan konsep-konsep, kategori dan hukum-hukum, yang ketetapannya dan kebenarannya diuji dengan pengalaman praktis. Dengan demikian ilmu mempunyai ciri-ciri utama antara lain empiris, sistematis, dapat diukur dan dibuktikan, mempunyai koherensi sistematik, dan adanya metodologi. (Bakhtiar, 2012). Sedangkan agama adalah kumpulan keyakinan, kepercayaan, hukum-hukum, dan etikaetika yang bertujuan untuk menyempurnakan dan mengatur kehidupan manusia menuju kepada kebaikan di dunia dan akherat. Meski pun agama itu berbeda-beda tetapi ada hal yang universal dan mirip dalam setiap agama: adanya peribadatan, seruan untuk berbuat baik, dan eskatologi (percaya pada hari kemudian). Bruno Guiderdoni membedakan istilah ilmu dan agama dalam banyak definisi, yaitu : 1. Bahwa ilmu menjawab pertanyaan bagaimana, sedangkan agama menjawab pertanyaan mengapa. 2. Ilmu berurusan dengan fakta, sedangkan agama berurusan dengan nilai atau makna. 3. Ilmu mendekati realitas secara analisis, sedangkan agama secara sintesis. 4. Ilmu merupakan upaya manusia untuk memahami alam semesta yang kemudian akan mempengaruhi cara hidup kita, tetapi tidak membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Sedangkan agama adalah pesan yang diberikan Tuhan untuk membantu manusia mengenal Tuhan dan mempersiapkan manusia untuk menghadap Tuhan. (Kusmayadi, 2010) Agama lebih mengedepankan moralitas dan menjaga tradisi yang sudah mapan (ritual) cenderung eksklusif dan subjektif. Sementara ilmu selalu mencari yang baru, tidak terlalu terikat dengan etika, progresif, bersifat inklusif dan objektif. Kendati agama dan ilmu berbeda keduanya memiliki persamaan, yakni bertujuan memberi ketenangan dan kemudahan bagi manusia. Agama memberikan ketenangan dari segi batin karena ada janji kehidupan setelah

mati, sedangkan ilmu memberikan ketenangan sekaligus kemudahan bagi kehidupan di dunia. (Bakhtiar, 2012 : 230 231) Karakateristik agama dan ilmu tidak selalu harus dilihat dalam konteks yang berseberangan, tetapi juga perlu dipikirkan bagaimana keduanya bersinergi dalam membantu kehidupan manusia yang lebih layak. Ilmu dapat membantu menyampaikan lebih lanjut ajaran agama kepada manusia. Sebaliknya, agama dapat membantu memberikan jawaban terhadap problem yang tidak dapat dijawab oleh ilmu. Agama adalah yang menentukan tujuan, dan ilmu hanya dapat diciptakan oleh mereka yang telah terilhami oleh aspirasi terhadap kebenaran dan pemahaman. Sumber perasaan ini, tumbuh dari wilayah agama. Dengan demikian, agama telah memberikan ruang lingkup bagi pengembangan ilmu dan teknologi. Disisi lain pengembangan ilmu dan teknologi jangan sampai menjauhkan apalagi menghapuskan peran agama. Ilmu itu sendiri dalam kerangka agama yang mengakui dan mengembangkan keberadaan ilmu pengetahuan bagi kebaikan kehidupan manusia. Manusia sebagai ciptaan Tuhan berkewajiaban memakmurkan bumi. Untuk itu mereka menggunakan anugerah dari Tuhan berupa akal pikiran dan agama. Kedua hal ini merupakan ciri khas manusia yang sekaligus membedakannya dengan makhluk lain. Dengan potensi akal pikiran manusia, jika digunakan secara optimal membuka untuk menjawab tantangan yang dihadapinya. Kendati demikian, realitas menunjukkan, banyak manusia gagal dalam menapaki kehidupannya untuk memakmurkan bumi, karena akal pikiran yang diharapkan memberikan panduan untuk menemukan jati dirinya, ternyata menjadi bumerang, karena hasil olah pikir mereka, yang telah melahirkan ilmu dan teknologi yang membuat manusia terpenjara oleh ilmu dan teknologi itu sendiri. Manusia hanya menjadi bagian dari mekanisasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Contohnya adalah keputusan manusia dalam penggunaan teknologi nuklir. Bila tidak dilandasi sisi agama, yang mengatur kehidupan manusia menuju kepada kebaikan di dunia dan akherat, maka nuklir akan digunakan sebagai senjata pemusnah, tetapi bila dilandasi kebaikan agama makan teknologi tersebut dapat digunakan untuk hal-hal positif seperti kedokteran dan pembangkit listrik. Ilmu perlu mempertimbangkan perhatian agama pada masalah harkat kemanusiaan. Ilmu bukanlah satu-satunya jalan menuju kebenaran, dan ilmu bukan hanya untuk ilmu tetapi ilmu juga untuk kemanusiaan. Di lain sisi, ditemukan juga realitas bahwa ada diantara manusia, memberikan porsi yang lebih banyak pada aktifitas keagamaan dan kurang mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi, mengantarkan mereka kepada situasi yang tidak seimbang. Dengan belajar dari ilmu, agama dapat membangun kesadaran kritis dan lebih terbuka sehingga tidak terlalu over sensitive terhadap hal-hal yang baru.

Bagaimana penerapannya dalam dunia pendidikan? Aspek ilmu dan agama harus berjalan bersama juga berlaku dalam dunia pendidikan. Melalui pendidikan kognitif kita memberikan bekal akademik kepada peserta belajar berupa ilmu-ilmu pengetahuan. Memang ada kecenderungan saat ini pendidikan terlalu diarahkan ke tujuan-tujuan yangsifatnya duniawi. Manifestasi tujuan duniawi dapat kita lihat pada tujuan pendekpendidikan kita yang berorientasi pada nilai akademik semata sedangkantujuan akhirnya adalah uang dan status sosial. Beberapa kenyataan yang sering kita jumpai bersama, antara lain maraknya korupsi di Negara kita, penggunaan kekuasaan demi kepentingan pribadi serta pemimpin yang tidak merakyat. Dalam hal ini pendidikan kognitif semata adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan pun dengan tidak dengan arah yang benar. Penggunaan pengetahuan tidak dilandasi dengan pemahaman agar bermanfaat bagi kehidupan bersama. Dengan demikian, pendidikan kognitif perlu diseimbangkan sehingga hasilnya membawa manfaat bagi kebaikan manusia lainnya. Penyeimbang pendidikan kognitif adalah pendidikan karakter. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. Seperti Theodore Roosevelt mengatakan: To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat). Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak sematamata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis dan kognisinya (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan, kecakapan soft skill ini terbentuk melalui pelaksanaan pendidikan karater pada anak didik. (Wibowo) dikendalikan orang lain. Demikianlah yang dikatakan oleh Albert Einstein (1897-1917) bahwa Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh yang menunjukkan bahwa jika manusia ingin memperoleh kehidupan yang layak di dunia, perpaduan yang harmoni antara akal pikiran (yang menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi) dan agama menjadi satu keniscayaan. BIBLIOGRAFI Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh sehingga mudah disetir, dimanfaatkan dan

Bakhtiar, Amsal. 2012. Filsafat Ilmu. Jakarta : Rajawali Press Internet Documents : Hajar, Puspita Sita. Mensinergikan Agama dan Ilmu Pengetahuan. November 2011. Retrieved on Friday, 23 March 2012 from http://hminews.com/news/ mensinergikan-agama-danilmu-pengetahuan/ Kusmayadi, Dedi E. Ilmu Tanpa Agama Buta, Agama Tanpa Ilmu Lumpuh. Desember 2010. Retrieved on Tuesday, 27 March 2011 from http://www.kompasiana.com/ dediekusmayadi Kuswanjono, Arqom. Integrasi Ilmu dan Agama, Persepektif Filsafat Mulla Shadra. May 2011. Retrieved on Tuesday, 27 March 2012 from http://sadra.or.id/Filsafat-Irfan/integrasiilmu-dan-agama.html Rusdiasyah. Ilmu Tanpa Agama adalah Buta (Filsafat Ilmu ). Agustus 2008. Retrieved on Friday, 23 March 2012 from http://ntbonline.wordpress.com/ 2008/08/24/ilmu-tanpaagama-adalah-buta-filsafat-ilmu/ Wibowo, Timothy. Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Dunia Pendidikan. Retrieved on Monday, 9 April 2012 from http://www.pendidikankarakter.com/pentingnya-pendidikankarakter-dalam-dunia-pendidikan/ Wijaya, Cuk Ananta. Ilmu dan Agama dalam Perspektif Filsafat Ilmu. Agustus 2006. Retrieved on Friday, 23 March 2012 from http://jurnal.filsafat.ugm.ac.id/ index.php/jf/article/viewFile/74/72 Wikipedia. Agama. 2012. Retrieved on Monday, 26 March 2012 from http://ms.wikipedia. org/wiki/Agama #Fungsi_Agama_Kepada_Manusia