Anda di halaman 1dari 4

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Kehamilan termasuk salah satu periode krisis dalam kehidupan seorang wanita, tak dapat dielak, situasi ini menimbulkan perubahan yang sangat drastis pada seorang wanita. Bukan hanya itu, adanya kehamilan juga menjadi harapan dari sebuah pernikahan yang berdampak pada keharmonisan rumah tangga. Namun pada era modern ini, tidak sedikit pasangan yang telah merencanakan kehamilannya, salah satu metode yang dipakai adalah dengan

memasang/memakai alat kontrasepsi. Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti mencegah atau melawan, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan www.bkkbn-jatim.go.id/bkkbnjatim/html/cara.htm. Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu

pelayanan kesehatan yang paling utama bagi wanita. Berkontrasepsi berpangkal pada suatu masalah kebutuhan seksual dan masalah reproduksi. Dalam perkawinan, keterkaitan kedua masalah ini merupakan hubungan sebab dan akibat. Perempuan mempunyai control terhadap apa yang diputuskan, sekaligus membawanya dalam konflik sewaktu timbul masalah dalam berkontrasepsi. Pada umumnya perempuan berkontrasepsi karena belum atau tidak menghendaki suatu kehamilan, atau ada juga karena alasan untuk kepentingan anak. Ia menilai bahwa dengan membatasi jumlah anak, kesempatan memberi perhatian yang berkualitas menjadi lebih luluasa. Dalam

membentuk kedekatan dan memelihara kerukunan keluarga, berkontrasepsi merupakan perlindungan dari kemungkinan kehamilan. Dengan perlindungan ini emosi positif aman dan senang timbul, dan kebijakan untuk melayani serta memperhatikan kebutuhan seksual diri sendiri maupun suami menjadi tidak terbatas. Di Indonesia, sekitar tahun 1970-an dimulai pengenalan kontrasepsi secara nasional melalui BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, 1995). Pada tahun 1971, 31% perempuan usia 15-49 tahun menggunakan kontrasepsi. Pada tahun 1983 penggunaan kontrasepsi mengalami kenaikan yang besar (data BKKBN menunjukkan kenaikan peserta kontrasepsi baru di Jawa dan Bali dari sekitar 2,2 juta pada 1975 menjadi 8,4 juta peserta baru pada tahun 1983). Banyak wanita yang kesulitan menentukan pilihan dalam

berkontrasepsi, tidak hanya karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia tetapi juga karena metode-metode tertentu mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan nasional KB, kesehatan individual dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi (Depkes RI, 1998). Sebenarnya ada cara yang baik dalam memilih alat kontrasepsi bagi wanita. Sebelumnya perlu mencari terlebih dahulu tentang cara-cara KB berdasarkan informasi yang akurat, lengkap dan benar. Untuk itu dalam memutuskan suatu cara kontrasepsi sebaiknya mempertimbangkan penggunaan

kontrasepsi

yang

rasional,

efektif

dan

efisien

(http:/psikos.bkkbn.go.id/gemopria.articles.php). Ada beberapa faktor kemungkinan yang mempengaruhi wanita dalam memilih pemakaian kontrasepsi, (1) Dukungan Keluarga, dukungan keluarga merupakan peran besar dalam menentukan pemakaian kontrasepsi. Jika seluruh keluarga mendukung dan ikut serta dalam menentukan pemakaian kontrasepsi maka dapat membantu angka kematian serta menekan laju pertumbuhan penduduk. Karena keluarga dapat melaksanakan 8 fungsi keluarga secara optimal menuju keluarga yang maju, mandiri dan berketahanan tinggi (PP No 21 tahun 1999). Yang penyelenggaraan pembangunannya meliputi fungsi keagamaan, fungsi social, fungsi budaya, fungsi cinta kasih, fungsi keamanan dan fungsi pembinaan, (2) Kepercayaan, pada dasarnya semua kepercayaan yang ada di Indonesia menerima gagasan dari program KB walaupun terdapat perbedaan pandangan tentang metode pelaksanaan dan alat kontrasepsi yang digunakan, (3) Umur, berperan dalam pola pelayanan kontrasepsi kepada masyarakat yang berkaitan dengan memperhatikan reproduksi kesehatan, dimana pada wanita dengan umur 20-30/35 tahun merupakan fase menjarangkan kehamilan. (4) Pendidikan, factor pendidikan seseorang sangat menentukan dalam pola pengambilan keputusan dan menerima informasi dari pada seseorang yang berpendidikan rendah. Pendidikan merupakan salah satu factor yang sangat menentukan pengetahuan dari persepsi seseorang terhadap pentingnya suatu hal, termasuk pentingnya keikutsertaan dalam KB. Kepandaian membaca dan menulis memudahkan penyebaran keterangan

tentang KB, tapi juga mengenai tentang pengertian dasar tentang bagaimana dan mengapa bagaimana cara membatasi kelahiran yang dibatasi selama ini berhasil dan apa keuntungan ditiap-tiap cara tersebut (Affandi, 2007), (5) Pengetahuan, kontrasepsi digunakan untuk merencanakan sebuah keluarga. Jumlah alat kontrasepsi yang tersediapun sangat beragam dengan segala kelabihan dan kekurangannya (6) Biaya, metode kuluarga berencana juga sangat bervariasi dalam hal biaya pemakaian dan penyebaran petugas sepanjang waktu. B. RUMUSAN MASALAH Apakah Hubungan antara Pemilihan Pemakaian Alat Kontrasepsi dan Kenyamanan dengan Keharmonisan dalam Rumah Tangga? C. TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini bertujuan agar para Ibu lebih persepektif dan percaya diri dalam memilih pemakaian alat kontrasepsi D. MANFAAT PENELITIAN Secara teori hasil penelitian ini diharapkan sebagai