Anda di halaman 1dari 3

ANASTETIK INTRAVENA

Anastetik intravena digunakan sebagai adjuvant bagi anastetik inhalasi maupun sebagai anastetiktunggal karena tidak diperlukan peralatan rumit dalam penggunaannya. Tujuan pemberiannya adalah sebagai berikut : 1. Induksi anastesia 2. Induksi dan pemeliharaan anastesia pada tindak bedah singkat 3. Menambah efek hypnosis pada anastesia atau analgesia local 4. Menimbulkan sedasi pada tindak mesik (Setiabudi, 2007) Analgesia intravena yang ideal adalah analgesia yang memiliki kriteria-kriteria sebagai berikut : 1. Cepat menghasilkan hypnosis 2. Mempunyai efek analgesi 3. Menimbulkan amnesia pasca anastesia 4. Dampak buruknya mudah dihilangkan oleh antagonisnya 5. Cepat dieliminasi oleh tubuh 6. Tidak atau sedikit mendepresi fungsi respirasi dan kardiovaskulas 7. Pengaruh farmakokinetikna tidak bergantung pada disfungsi organ (Setiabudi, 2007) Kebanyakan anastetik intavena digunakan untuk iduksi, tetaoi kini anastetik intravena digunakan untuk pemeliharaan anastesia atau dala dikombinasi dengan anastetik inhalasi sehinga dimungkinkan penggunaan dosis inhalasi yang lebih kecil dan efek anastetik lebih mudah menghasilkan potensiasi atau salah satu obat dapat mengurangi efek buruk obat lainnya (Setiabudi, 2007).

1. BARBITURAT Seperti anastetik inhalasi, barbituraat menghilangkan kesadaran dengan cara memfasilitasi pengikatan GABA pada reseptor GABAA di membrane neuron SSP. Bersifat GABA-mimetik dengan langsung merangsang kanal klorida. Barbiturate juga menekan kerja neurotransmitter system stimulasi (perangsang). Barbiturate yang digunakan untuk anastesia ialah yang termasuk barbiturate kerja sangat singkat, yaitu teopental, metoheksital, dan tiamilal yang diberikan secara bolus intravena atau secara infuse. Pada penyuntikan thiopental, mula-mula

timbul hiperalgesia diikuti analgesia bila dosis terus ditingkatkan, terapi barbiturate bukan analgesic yang kuat (Setiabudi, 2007). 2. BENZODIAZEPIN Benzodiazepin yang digunakan sebagai anastesi ialah diazepam, lorazepam, dan midazolam. Dengan dosis untuk induksi anastesia, kelompok obat ini menyebabkan tidur, mengurangi cemas, dan menimbulkan amnesia retrograde, tetapi tidak berefek analgesic. Diazepam IV segera didistribusi ke otak, tetapi efek nya baru tampak setelah beberapa menit. Kadarnya segera turun karena adanya redistribusi, tetapi sedasis erring muncul lagi setelah 6-8 jam akibat adanya penyerapan ulang diazepam yang dibuang melalui empedu. Masa paruh diazepam memanjang dengan meningkatnya usia, kira-kira 20 jam pada usia 80 ahun. Klirens plasma hamper konstan (20-32 ml/menit0, karena itu pemeberian diazepam jangka lama tidak memerlukan koreksi dosis. Dosis diazepam untuk induksi adalah 0,1-0,5 mg/kgBB. Pada orang sehat, dosis diazepam 0,2 mg/kgBB sebagai medikasi pra-anastetik yang diberikan bersama narkotik analgesic sudah menyebabkan tidur. Pada pasien dengan resiko tinggi hanya dibutuhkan 0,1-0,2 mg/kgBB. Untuk menimbulkan sedasi, penambahan 2,5 mg diazepam tiap 30 detik diberikan sampai pasien tidur ringan atau terjadi nistagmus, ptosis, atau gangguan bicara. Umumnya dibutuhkan 5-30 mg untuk sedasi ini (Setiabudi, 2007). 3. OPIOID Fentanil, sulfentanil, alfentanil, dan remifentanil adalah opioid yang lebih banyak digunakan disbanding morfin karena menimbulkan analgesia anastesi yang lebih kuat dengan depresi napas yang lebih ringan. Fentanil yang lama kerjanya sekitar 30 menit segera didistribusi, tetapi pada pemberian berulang atau dosis besar akan terjadi akumulasi. Dengan dosis besar (50-10 mg/kgBB0, fentanil menimbulkan analgesia dan hilang kesadaran yang lebih kuat disbanding morfin, tetapi amnesianya tidak lengkap, instabilitas tekanan darah, dan depresi napas lebih singkat. Oleh karena itu fentanil lebih disukai disbanding morfinm khususnya utnuk dikombinasi dengan anastetik inhalasi (Setiabudi, 2007). 4. KETAMIN Ketamin ialah larutan yang tidak berwarna, stabil pada suhu kamar dan relative aman. Ketamin mempunyai sifat analgesic, anastetik, dan kataleptik dengan kerja singkat. Sebagian besar ketamin mengalami dealkilasi dan hidolisis dalam hati, kemudian diekskresi terutama dalam bentuk metabolit dan sedikit dalam bentuk utuh. Dosis unduksi ketamin adalah 1-2

mg/kgBB IV atau 3-5 mg?kgBB IM. Stadium depresi dicapai dalam 5-10 menit. Untuk mempertahankan anastesia dapat diberikan dosis 25-100 mg/kgBB/ menit. Stadium operasi terjadi dalam 12-25 menit (Setiabudi, 2007). 5. ETOMIDAT Etomidatialah sedative kerja sangat singkat nonbarbiturat yang terutama digunakan untuk induksi anastesia. Obat ini tidak berefek analgesia tetapi dapat digunakan untuk anastesia dengan teknik anastesia berimbang (Setiabudi, 2007). 6. PROPOFOL Secara kimiawi propofol tidak ada hubungannya dengan anastetik IV lain. Zat yang berupa minyak pada suhu kamar ini tersedia sebagai emulsi 1%. Propofol IV 1,5-2,5 mg/kgBB menimbulkan induksi anastesia secepat thiopental, tetapi dengan pemulihan yang lebih cepat dan pasien merasa lebih baik debanding setelah penggunaan anastetik lain. Propofol segera dimetabolisme di hati (lebih cepat daripada eliminasi thiopental) tetapi klirens totalnya ternyata lebih besar dari aliran darah hati yang menunjukkan bahwa ada eliminasi ekstrahepatik. Sifat ini menguntungkan untuk pasien dengan gangguan metabolism hati. (Setiabudi, 2007) Setiabudi, Rianto. 2007. Farmakologi dan Terapi. Jakarta : Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI