Anda di halaman 1dari 43

Change This World!! Frey Floida Adreass, itu aku! Aku adalah anak yang lumayan pintar dikelas.

Aku sekarang kelas empat. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adikku bernama, Sharva Eolagine Marciella. Dia juga lumayan pintar. Aku kadang kesal melihat berita penebangan hutan, limbah pabrik, polusi udara, dan hal-hal lain yang dapat merusak alam. Ingin rasanya memprotes. Tapi, mana bisa? Ya, aku bukan menteri ataupun orang-orang penting yang dapat menentang terjadinyaa hal tersebut. Aku sadar, sekalipun penebangan hutan, ataupun hal lain yang merusak alam, pasti tidak terlalu dihiraukan lagi. Karena, pasti bagi dunia ini hal itu sudah biasa. Iya, kan? Kini orang-orang sudah tidak mempedulikan hutan hujan lagi. Mereka hanya menggunakannya sebagai tempat perindustrian. Bahkan, di kota kecil pun, kadang mereka masih melakukan penghijauan. Iya kan? Kenapa malah di kota besar tidak? Dunia memang sudah terbalik! Mom, apa Mom masih peduli pada alam? tanyaku. Mom menatapku dengan bingung. Apa maksudmu, Frey? Mom malah balik bertanya. Ya apa Mom masih peduli? Kalau misalnya Mom melihat berita penebangan hutan kek, apa kek apa Mom masih peduli? aku menjelaskan dengan malas. Mom tersenyum tipis. Ya, tergantung, sayang. Apabila di hutan bakau dilakukan penebangan, ya Mom sudah biasa. Tapi kalau menebang sembarangan, Mom tidak suka, Mom mengelus kepalaku. Oh ya sudah, deh Mom. Aku mau minum dulu. Ujarku sambil beranjak ke dapur. Mengambil air putih dengan mug kesayanganku. Aku masih memikirkan atas hal-hal yang dapat merusak bumi. Kenapa dunia harus seperti ini? dunia tidak adil!aku beranjak ke kamar. Mengambil novel yang baru aku beli. Judulnya, You Can Save This World. Isinya tentang cara-cara mudah untuk mengurangi pencemaran dunia yang sudah merajalela. Ya, itulah yang aku inginkan!

Bisa menyelamatkan dunia. Mr. Hardey pernah berkata bahwa sebuah pohon dari hutan hujan dapat menghasilkan lebih dari 500 pensil. Bisa dibagikan ke semua murid di sekolahku! Aku memikirkan salah satu cara yang paling awal ketika membaca bahwa kita bisa memulainya dengan mengumpulkan botol bekas, plastik, kaleng bekas, atau apalah lagi. Dan dapat menggunakannya untuk didaur ulang, atau pohon buatan dari plastik. Saat pelajaran IPA bersama Mr. Hardey, dia berkata, bahwa kalau salah Satu dari kami mengetahui beberapa cara untuk mengurangi pencemaran, kami sekelas bisa melakukannya. Mr. Hardey, saya tahu! Saya tahu! pekikku sambil berdiri dari kursi. Yak, Frey? Kamu tahu salah satu caranya? Mr. Hardey menunjuk tangannya ke arahku. Spontan, aku mengangguk. Kita bisa memulai dengan cara mengumpulkan botol bekas, kaleng bekas, atau apalah lalu kita bisa jadikan pohon buatan atau kita daur ulang. Bukankah itu sudah mengurangi pencemaran? aku menjelaskan dengan semangat. Yap, itu memang betul, Frey! Jadi, apa kalian mau mengikuti jejak Frey mencoba memulai? Kalau Mr. Hardey sih, mau saja. Mr. Hardey mengajak kami untuk memulai. Beberapa saat, anak-anak terdiam sambil berbisik-bisik. Aku mengharapkan jawaban positif dari mereka. Yaaa!!! mereka bersorak sampai terdengar ke ruang guru. Oke. Jadi, begini rencananya. Kita mulai dari sekarang. Kelas kita akan Mr. Hardey jadikan lima kelompok. Kelompok satu, Viana, Rossa, Charter, dan Dave. Kelompok dua, Ginnie, Ocha, Frey danOzy. Oke? tanya Mr. Hardey. Kelompok satu dan dua bersorak, Yaaa! Setuju!! Kelompok tiga, Liza, Divana, Billy, dan Hanny. Kelompok empat, Monic, Sharfy, Robert, dan Christoper. Yang kelima, Yasmine, Popy, Marine, dan yang terakhir pasti

Cary!!! kami semua bersorak-sorai. Akhirnya, aku dan kelopokku berdiskusi sepulang sekolah. Aku amat-sangat bersemangat. Pertama-tama, kami pergi ke rumah Ozy. Memang rumah Ozy sih, yang paling dekat dari sekolahku. Kami memulainya dari gudang lama rumah Ozy yang sudah berdebu. Uhuk, uhuk! Ozy, ini gudang berdebu banget! Kapan terakhir kali dibersihkan? keluhku sambil menutup mulut. Dari mukanya terlihat bahwa dia sedang mengingat-ingat. Bulan Februari! ternyata, itu toh, jawabannya! Haaah?!?! Februari?! pekikku dan yang lain. Berarti sudah lima bulan?! Ini kan, udah bulan Juli! Oh, ya ampun! Pantas saja! Ginnie kembali menutup melutnya yang terkena debu. Di gudang itu, kami menemukan sebuah plastik yang cukup besar. Isinya ada botol dan kaleng oli bekas. Kami bersorakan. Lalu, tempat kedua, di gudang yang baru. Karena gudang pertama sudah penuh, makanya bulan Mei yang lalu, dibuat gudang baru! Oh, kami menemukan dua kardus besar terisi penuh oleh berbagai macam botol. Botol minuman, air mineral, oli, bahkan botol bekas minyak. Setelah di rumah Ozy selesai, kami beranjak pergi ke rumah Ginnie. Di rumah Ginnie, kami menemukan semacam peti berbentuk peti harta karun. Tapi tak terlalu mirip. Isinya ternyata kaleng-kaleng makanan instan. Kami cukup senang. Berapa banyak lagi? Ocha menatap kaleng-kaleng yang bertumpuk itu. Sebanyak mungkin, dong! Malah kalau bisa, lima kardus lagi! Ozy memberi semangat. Aku mengangguk dan menepuk bahu Ocha, Iya dong! Biar kita yang dapat nilai yang paling tinggi! Ocha terperangah dan mengangguk sambil tersenyum lebar. Berikutnya, kami mengumpulkan barang bekas dari rumahku. Aku pergi ke gudang utama di lantai bawah. Woooww!! seru teman-temanku. Gila!! Banyak banget! pekik Ocha dengan mata jernihnya. Ya, banyak banget! Satu kardus kaleng bekas dan empat kardus botol bekas. Sampai-sampai, kami

kesusahan membawanya. Untung saja, Dad bersedia mengantar kami pergi ke rumah Ocha. Dia yang paling terakhir. Ketika aku dan teman-temanku sedang ngobrol di mobil, aku melihat bahwa Ozy tiba-tiba terdiam dan termenung. Ada apa Zy? pertanyaanku membuat Ozy tersentak kaget. Euuu sekalipun kita dapat botol dan kaleng sangat banyak, dimana kita dapat mempraktek atau membuat botol buatan? Bukankah itu tujuan utama kelas kita? aku terdiam dan teman-temanku juga mengikutiku jadi terdiam. Pasti Mr. Hardey punya jawaban yang tepat, kok! itulah jawabanku. Sebenarnya, aku masih ragu dengan jawabanku. Ini dia! Rumah Ocha. Di mana gudangmu Cha? aku menatap sekeliling rumah Ocha yang lebih kaya dari kami. TV model terbaru, gorden yang menjuntai dari lantai tiga sampai lantai bawah, puluhan guci warna emas, pokoknya, Ocha itu adalah anak yang beruntung! Ya iyalah! Ayahnya adalah arsitek dan sebagai direktur utama di sebuah perusahaan pertambangan. Kalau ibunya, adalah seorang designer terkenal dan seorang dokter ahli janin. Kami tidak punya gudang, tapi kami punya ruang bawah tanah. Di sana tempat Dad menyimpan dokumen-dokumen penting di dalam brankas besi. Lalu Sudah! Sudah!! Kami tidak meminta kamu untuk bercerita! Cepat saja antar kami ke ruangan bawah tanahnya! pekikku yang sudah bosan mendengar cerita Ocha. Ocha tertawa sambil memandu kami ke sebuah ruangan yang tak ada apaapanya. Aku hanya melihat sebuah lampu dan dua tombol. Yang satu tombol berbeda dengan yang satunya lagi. Yang satu ada pelindungnya berupa aluminium transparan. Dan yang satu lagi tidak ada pelindungnya. Tombol yang satu lagi tombol apa? tanyaku sembari menunjuk tombol berwarna biru yang dilindungi tersebut. Nnggg itu tombol menuju ruang bawah tanahnya, Ocha berbisik. Ya udah, yuk, langsung aja!! aku menarik tangan Ocha. Lalu, aku berusaha membuka pelindung aluminium tersebut. Tanganku sampai memerah dan sakit. Tapi,

belum terbuka juga! Ini pelindungnya lagi rusak, ya?! pekikku sambil memegangi tanganku yang memerah dengan jengkel. Nggak semudah itu, Frey! Ini ada kuncinya, dan juga ada kodenya. Setiap anggota keluarga kami punya satu kunci dan tahu kodenya, gitu. Dengan langkah tegap, dia maju dan memasukkan kunci ke dalam lubang kunci yang tersembunyi. Sejenak, terjadi hal yang ganjal: lantai menjadi bergetar seperti gempa. Tetapi, itu hanya akan terasa di lantai pertama di rumah Ocha. Ternyata, yang menyebabkan bergetar adalah lantainya yang menjadi berlubang. Kami tersentak kaget dan menyingkir (kecuali Ocha). Lalu, kami turun lewat tangga besi yang meliuk dua kali. Di sana, aku melihat belasan brankas besi berwarna silver. Lalu, ada pintu masuk menuju suatu tempat. Ternyata, di situlah paviliunnya! Ocha kaya banget, ya! Paviliun itu disulap menjadi seperti bukan paviliun lagi! Tapi, jadi ruangan yang nyaman! Tak tercium bau debu, tak pengap (malah sejuk), dan rapi sekali!! Kami semua kaku melihat paviliun itu. Saking rapinya, ruangan yang tadinya sangat sempit, kini jadi sangat nyaman dan luas. Sudahlah! Tadi kalian kan, yang memaksaku untuk mengantar kalian ke sini? Mendingan langsung ambil saja deh, botol bekasnya! Daripada bengong terus! kami mendapatkan dua buah kardus yang berisi plastik dan kaleng bekas. Kami pergi dari ruangan bawah tanah dan Ocha kembali mengunci ruangan bawah tanahnya. Aih, sudah tidak sabar menunggu besok! Akhirnya kelasku akan memulai mengurangi pencemaran! Selama malam sebelum pengumpulan botol dan kaleng bekas, Frey termenung sambil membayangkan kelasnya akan menjadi bahan pembicaraan di sekolahnya. Sayang, kenapa belum tidur? Sudah malam lho, Mom duduk di ranjangku. Ya aku memikirkan besok. Jawabku tak acuh. Kalau kamu tidak mau tidur sekarang, bisa-bisa kamu telat bangun besok. Kamu nggak mau besok terlambat, kan? Mom membelai rambut cokelatku yang lurus sampai sebahu. Aku menatap Mom yang tersenyum.

Ya baiklah aku akan tidur, aku menidurkan kepalaku di bantal. Menarik selimut, dan mulai memejamkan mata. Setelah tidur, Mom mematikan lampu dan menutup kamarku yang berwarna oranye. Frey, ayo cepat, sayang!! Mom sudah buat sarapan, nih!! Mom memanggilku dari lantai bawah, tepatnya di dapur. Aku yang baru selesai mandi, segera menyahut, Ya Mom! Aku pakai baju dulu!! aku segera mengenakan kaos warna hijau-putih polos, jaket jeans biru, dan jeans pensil. Lalu, aku berlari ke bawah sambil membawa tas ransel berwarna cokelat. Mmm harum cream soup buatan Mom menyebar ke seluruh ruang makan. Aku melihat satu teko lemon tea, satu teko susu vanilla, sepiring nachos, omelet panas, dan roti beserta selai coklat dan strawberry Aku mengambil kursi di samping Marcie. Lalu aku mengambil semangkuk kecil cream soup, sebuah omelet, roti selai coklat, dan susu vanilla di mug-ku. Aku kurang menyukai nachos dan lemon tea. Setelah selesai, aku mengambil sepatu kets-ku. Oya, mengenai botol dan kaleng bekas yang kami kumpulkan, kami akan membawa masing-masing. Aku dibantu oleh Dad. Oow, Mr. Borneu. Senang bertemu dengan anda. Mr. Hardey berjabat tangan dengan Dad. Kelas kami hari ini jam masuknya lebih lama agar bisa bergotong royong membawa barang bekas yang kami kumpulkan ke gudang besar sekolah. Dari grup satu, botol bekasnya bejumlah 134 buah! Kalau kalengnya, 18 buah! Totalnya adalah 152 buah!! Mr. Hardey menyebutkan jumlah barang yang dikumpulkan oleh kelompok satu. Terdengar sorakan bangga dari kelompok satu. Dari grup dua, botol bekasnya berjumlah 302 buah!!! Kaleng, 111 buah!! Totalnya adalah 413 buah! pekik Mr. Hardey. Kelompok dua jauh lebih keras sorakannya. Dari kelompok tiga, botol bejumlah 93 buah! Tetapi, kaleng berjumlah 210 buah! Totalnya 303 buah!! kali ini, kelompok tiga hampir sebesar kami sorakannya. Wah, panjang sekali pidato Mr. Hardey! Jadi, aku hanya bilang berapa jumlah botol dan kaleng bekas yang lainnya, ya! Kelompok empat, botol 145, kalengnya 24 buah. Kalau ditotal, 169 buah. Kalau yang kelompok lima, botol 100 buah, kaleng 32 buah. Totalnya 132 buah. Kalau kami

semua digabung, wah, banyak sekali! Kalau digabung botol dan kaleng bekas kami berjumlah 1169 buah! Banyak sekali, bukan? Setelah itu, semua yang kami kumpulkan kami serahkan ke dinas. Kami tak tahu dinas apa, karena yang menyerahkan adalahMr. Hardey. Setelah dua hari sejak hari itu, kepala sekolah yang mengetahui kegiatan yang kami lakukan, mengadakan acara. Pada acara itu, kepala sekolah akan memberikan kami penghargan. Ada tiga penghargaan, lho. Yang satu dari dinas untuk kelas kami, yang kedua dari kepala sekolah untuk kelas kami. Dan yang ketiga adalah penghargaan yang diberikan dari sekolah untuk anak yang paling semangat dan mempengaruhi kegiatan mengumpulkan botol dan kaleng bekas itu. Ketika acara pidato selesai, kini saatnya untuk menyerahkan penghargaan kepada anak yang paling bersemangat dan mempengaruhi kegiatan yang kami adakan. Anak yang sangat mempengaruhi kegiatan ini berhak mendapatkan penghargaan ini. Penghargaan ini kami serahkan kepada agar lebih menegangkan, Mrs. White, kepala sekolah memberhentikan kata-katanya. Jantungku tak berhenti berdetak tak karuan. Keringat dari dahi bercucuran. Aku memeras-meras tangan yang sangat tegang. Saking tegangnya, ruangan pertemuan yang ber- AC dua itu terasa masih panas. FREY FLOIDA ADREASS!!! teriak Mrs. White. Sejenak, jantungku seperti berhenti. Akulah yang terpilih?!?! Ginnie yang duduk di sebelahku mendorongku. Sejenak, kutatap muka Ginnie. Dia mengerlingkan mata padaku. Dengan tegang, aku naik ke atas panggung. Mrs. White memberiku sebuah piala berbentuk bola dunia yang berukir gambar pohon. Piala itu sebesar kepalaku! Dan piala itu terbuat dari kaca. Oke, Frey. Ada yang ingin kamu sampaikan? tawar Mrs. White. Aku mengangguk. Piala ini saya persembahkan untuk orang tua saya, teman-teman saya, dan sekolah ini. For all, thank you very much!! aku mengangkat piala besar itu dan turun menuju kursi di mana aku duduk tadi. Suara tepuk tengan bergemuruh.

Teman-temanku terkagum-kagum dengan pialaku. Aih, betapa senangnya!! Setelah aku pulang, aku disambut oleh ibu. Lalu, aku memajang piala itu di kamarku. Aku berjanji pada dunia, aku akan selalu menjaganya. Agar semua orang tahu, dunia tidak hanya bisa dijadikan seperti permainan belaka, tapi harus kita jaga seperti harta yang sangat berharga.

Magic World Anak yang menyukai dan mengimpikan bisa tinggal di dunia sihir. Ya, itulah Cannie. Anak yang selalu berharap bisa tinggal di dunia sihir. Inilah kisah hidup Cannie. Cannie tinggal di sebuah desa kecil. Dia adalah anak yang ceria dan pemberani. Pada suatu hari di musim Semi, dia hendak mencari buah beri di kebun bibi Carol. Selamat pagi, bibi Carol! Apa kabar? sapa Cannie dengan perasaan cerianya. Bibi Carol tersenyum, dan menjawab, Tentu baik. Pasti hendak mencari buah beri, ya? bibi Carol balik bertanya. Tentu, dong! Boleh kan, bi? jawab Cannie lagi. Kali ini, bibi Carol tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah itu, Cannie berjalan sambil melompat dengan lincahnya. Wah! Kok, kayaknya sekarang buah berinya lebih banyak? Atau perasaanku saja? Ah, siapa peduli! seru Cannie. Kebun bibi Carol sangat dekat dengan hutan Terlarang dan semak berduri. Kata bibi Carol, ada suatu rahasia di hutan dan semak berduri tersebut. Tapi, beliau sama sekali tidak takut, lho! Setelah setengah keranjangnya dipenuhi oleh buah beri, Cannie baru menyadari sesuatu. Ia melihat sebuah benda besar dan panjang yang berwarna coklat. Mmm? Cannie agak bingung dengan apa yang dilihatnya. Itu semak berduri dan hutan terlarang aku agak takut kalau masuk ke sana. Tapi, aku sangat penasaran duh, gimana, nih ucapnya dalam hati. Akhirnya, dia nekat masuk ke hutan tersebut. Dia masih membawa keranjang kecilnya yang diisi beri. Ternyata, itu sebuah lorong tua yang sudah ditumbuhi tanaman liar dan lumut kering. Cannie masuk ke dalamnya dengan perasaan deg-degan. Setelah sekitar 4 meter berjalan, ada seberkas cahaya. Dia mendapati sebuah pintu kayu yang masih cukup kokoh. Masuk, nggak, masuk, nggak, masuk, nggak, masuk, nggak, masuk setelah mempertimbangkan, akhirnya Cannie mau masuk dengan perasaan taku-takut. BRAAASH! Tiba-tiba, Cannie keluar di tempat yang asing. A APA INI?! Tempat apa ini?! pekik Cannie dalam hati. Hey, tempat itu sangat aneh! Disana, hanya ada anakanak seumuran Cannie. Juga, disana, rumah-rumah berbentuk jamur dan pohon raksasa. Kendaraan mereka adalah sapu lidi yang biasa digunakan Cannie untuk menyapu halaman.

Jangan-jangan ini dunia Cannie tak melanjutkan kata-katanya. Dia memilih langsung bertanya pada seorang perempuan yang bermain di dekatnya. Hai kau tinggal di sini? Cannie bertanya pada anak perempuan yang berambut hitam dan lebat. Bulu matanya lentik, dia sangat cantik. Ha? Kamu pasti warga baru di Magic City ini! kenalin, namaku Vania Loura Recky! serunya sambil menyodorkan tangan. Aku hanya membalasnya walaupun masih ada perasaan bingung. Salam kenal juga! Aku Cannie Virecca McBrad. Boleh aku memanggilmu Vania? tanyaku. Oh, tentu! Itu nama panggilanku! Ayo, aku perkenalkan dengan temanku! seru Vania. Guys, ini Cannie. Pendatang baru yang terpilih dari desa. Hai, aku Hoffy Jack Addle! perempuan yang berambut coklat dan berikal sempurna, memperkenalkan dirinya. Cannie Virecca McBrad, senang berkenalan denganmu! jawabku. Ia hanya tersenyum. Dan aku, Frella Yone McNello! Cannie Virecca McBrad? Tanya anak perempuan yang bermata biru jernih. Ya, itu aku! seru Cannie. Setiap tahun, kota ini akan memilih anak yang mempunyai bakat. Dan tiap tahun pula, kota ini melepas seseorang yang paling tua dan pendidikan sihirnya sudah complete. Jadi, mau tidak mau, kamu harus tinggal disini sampai kamu boleh pulang lagi. Tutur Frella, anak yang paling mengerti soal sihir. Tapi, aku tak mempunyai bakat, kataku sambil menunduk. Frella tersenyum dan melanjutkan penjelasannya, Setiap anak yang masuk kesini, dia akan menyapa salah seorang anak. Dan, anak yang disapanya sudah memiliki grup tertentu yang akan menguasai salah satu ajaran dari tiap guru yang sudah tamat pelajarannya. Itu artinya, bakatmu sama dengan anak yang kamu sapa! Umurmu baru Sembilan tahun, kan? Frella bertanya setelah menyelesaikan penjelasannya. Iya, tapi, kalian udah tahu bakat kalian? Kalo udah, kan aku bisa langsung belajar, tutur Cannie. Mereka tersenyum, Bakat kamu, sama dengan kami, yaitu ilmu membuat obat dari kulit kayu dan akar, juga terbang. Kali ini, Hoffy yang menjelaskan. Nanti, apakah aku akan mendapatkan baju seperti kalian? Tanya Cannie, yang mengharapkan baju terusan di atas lutut, dan mengenakan Celana katun, juga topi seperti penyihir yang ada di dongeng, tapi, yang kali ini lebih kecil dan lucu.

Oh, tentu! Setelah kau bersekolah di Magic School. Kau juga akan mendapatkan sapu terbang. Kata Vania Mereka kok, bisa terbang? tanyaku ketika melihat beberapa anak terbang. Mereka bisa terbang, tapi ada batasnya. Kalau melebihi batas itu, tanggung sendiri jawabannya. Itulah istimewanya bakat terbang kita nanti. Kita boleh dan bisa terbang melebihi batas mereka, karena, kita memang tak punya batas terbang, kata Frella. Cannie tinggal bersama grupnya, sama seperti grup lainnya, yang tinggal bersama. Ayo kita pergi! Oya, Cannie, kamu memakai bajumu saja dulu. Nanti, pergrup memiliki kelas masing-masing. Dan kamu akan aku bonceng, jelas Hoffy. Pakai apa kita pergi? Tanya Cannie. Sapu terbang, jawab Hoffy datar. Hah?! pekik Cannie. Aaaah tak usah takut. Nanti akan aku bonceng, kan? Ayo cepat, kita berangkat! seru Hoffy memerintahkan agar gerakan kami labih cepat. Akhirnya, kami berangkat menuju Magic School. Setelah sampai, Cannie dipanggil guru yang mengajar grupnya. Kelas kami di kelas drugs and flying (obat dan terbang). Nama gurunya adalah Mrs. Donata Betty. Biasa dipanggil Mrs. Betty. Hai semuanya! Udah siap membuat ramuan obat?! seru Mrs. Betty. Tentu! seru kami serentak. Bagaimana dengan latihan terbang? Siap! kali ini, kami tak terlalu serempak. Oh, ya Cannie Virecca McBrad? Kami disini sudah mempelajari cara membuat obat alergi dengan campuran akar pohon kaktus dan kulit pohon yang sudah tersedia di sini. Baru itu kok, yang kami pelajari. Jadi, khusus untukmu, Ms. Betty akan memberimu PR membuat ramuan obat tersebut. Sudah dapat Buku Panduan Membuat Ramuan, kan? Papar Mrs. Betty. Tentu Mrs. Betty. Tapi, apakah sekarang kita akan belajar membuat ramuan yang kedua? Tanya Cannie dengan wajah yang

dibuat. Of course, Cannie! Nah, ayo kita mulai! Keluarkan buku panduan kalian! pinta Mrs. Betty. Kami mulai membuat ramuan obat kali ini. obat ini campuran dari tumbukan sarang lebah, kunyit yang tua, dan kulit pohon alami. Aku lupa nama pohonnya. Menggelikan, ya? Tumbukan sarang lebah. Obat ini berkhasiat menahan penyakit asma yang sudah parah. Setelah satu setengah jam, barulah kami selesai, dan akhirnya istirahat. Setelah setengah jam, bel tanda masuk dibunyikan. Sekarang, saatnya pelajaran terbang! Inilah jam yang ditunggu-tunggu Cannie. Akhirnya, gumam Cannie. Kamu pasti sudah tak sabar ingin belajar terbang, kan? Tanya Vania. Seratus untukmu, Van! Aku sangat menunggu jam pelajaran ini! Makanya, ayo cepetan! Kau nggak mau telat pada pelajaran ini, kan? Tanya Vania. Aku hanya mengangguk sambil mempercepat langkah. Kali ini, kami belajar terbang melewati batas. Maksudnya, kami belajar di atas batas anak-anak yang keahliannya bukan terbang. Pastinya, khusus untukku, aku belajar terbang dulu! Hey, ini nggak sulit! pekikku dengan girang. Cannie! Hebat kamu! Kami belajarnya cukup lama, lho! puji Vania. Cannie, kamu udah bisa? Cepet banget! Ayo, belajar setinggi kami! Hoffy mengajakku untuk terbang setinggi mereka. Shaaat ya ampun, aku bisa terbang lebih cepat dan lebih tinggi dari mereka! Saat itu, mereka tercengang melihat aku lebih tinggi dari mereka. Tapi, ternyata mereka juga bisa kok, setinggi dan secepat aku! Oke, kalian diberi waktu bebas bermain sapu terbang. Hati-hati, ya! Sekalian latihan kecepatan dan ketinggian. Mrs. Betty pergi dulu, ya! Oh, kalian diberi waktu main hanya 25 menit! papar Mrs. Betty panjang lebar. Makasih, Ms. Betty!! pekik kami dengan serentak. Mau main apa, nih? Tanya Cannie yang masih di udara. Lempar bola angkasa? Tanya Hoffy. Apaan, tuh? Cannie yang tak tahu, langsung bertanya.

Kita harus saling melempar satu sama lain sambil bertukar arah. Misalnya, Cannie di kanan, Vania di kiri. Kalian harus bertukar arah sambil melempar bola kalian. Itu dilakukan berpasangan. Barang siapa yang tak bisa menangkap bola dari dua orang di satu grup, akan suit dengan yang kalah juga di grup yang lain. Yang kalah, akan dicubit oleh yang menang dan yang menang suit, ngerti, Cann? panjang, ya penjelasannya! Wah, panjang sekali penjelasannya! Tapi, aku ngerti, kok! Cannie menjawab dengan semangat. Lets play!! Aku berpasangan dengan Frella, dan tentunya, Hoffy berpasangan dengan Vania. Ya ampun, aku kalah! Siapa, ya yang kalah dari VaniaHoffy? Vania kalah! Ya ampun aku suit dengan Vania! Oh yeah! Aku menang! Jadi, itu artinya, Vania akan kami cubit. Aku nggak terlalu keras, Hoffy pelan, Frella Keras. Auch!! Frell, keras amat! Seru Vania. Maaf, deh ucap Frella. Lalu, setelah bosan bermain lempar bola angkasa, mereka main kejar-kejaran. Begitulah perjalanan Cannie di Magic World. Bermain, belajar, berpetualang, bercanda, dan sebagainya. Hari, minggu, bulan, sampai akhirnya tahun, dilewati Cannie. Setelah tiga tahun tinggal di Magic World, akhirnya Cannie dipanggil untuk keluar dari Magic World. Sebenarnya, di grup Cannie, Frella-lah yang keluar duluan dari Magic World sebelum Cannie. Cannie diperbolehkan membawa pakaian dan sapunya. Dia juga diberi koper gratis dari Magic School, sekolahnya. Saat hendak akan pergi dari Magic World, dia Berpelukan dengan para sahabatnya, Vania dan Hoffy. Ingat, kan? Frella sudah pergi lebih dulu. Jangan pernah kau lupakan aku, ya ucap Cannie sambil terisak. Tak akan pernah aku lupa! Jangan lupakan aku juga, ya? balas Vania yang juga terisak. Cannie hati-hati, ya aaku akan merindukanmu Hoffy menangis sejadi-jadinya. Kau juga, jangan pernah bertengkar sama Vania, ya aku juga akan merindukanmu, Cannie menangis histeris. Isaknya belum juga reda. Tapi, ia mengusahakan agar isaknya berhenti. Janji sahabat ucap Cannie sambil menyodorkan kelingkingnya.

Janji sahabat, kali ini, Vania yang mengucapkannya sambil menyematkan kelingking. Janji sahabat, sekarang, giliran Hoffy yang mengucapkannya. Kami tak akan melupakan sahabat-sahabat dari grup kami. Frella, Cannie, Hoffy, Vania. Janji sahabat, ucap kami bersamaan. Itu adalah janji sahabat yang kami buat empat hari sebelum Frella dilepaskan. Semua yang telah kami pelajari akan digunakan untuk membantu orang-orang. GOOD BYE, MAGIC WORLD!!

Secret Hero Hanya seorang pahlawan yang bisa menyelamatkan bumi dari kejahatan yang sudah fatal. Siapakah dia? Dia adalah, Secret Hero. Pahlawan misterius yang menggunakan topeng sebatas mata yang berwarna perak. Hingga, tidak seorangpun yang mengetahui siapakah jati diri sang Secret Hero. Sebenarnya, dia adalah Shanede Gordiano McSilver. Itulah Secret Hero yang sebenarnya. Dia masih berumur sebelas tahun. Biasa dipanggil Shane. Mungkin, namanya seperti laki-laki, tapi, dia itu gadis remaja yang memiliki rambut cokelat kemerah-merahan. Dia cantik, pintar, dan pokoknya, jadi primadona deh, di sekolahnya! Awal mulanya adalah ketika Shane hampir terjatuh dari atas lemarinya. Tapi, tanpa disadari, badannya berhenti di udara dengan gaya miring. Shane sangat terkejut ketika menyadari apa yang dilakukannya. Dia baru menyadari bahwa dirinya memiliki sekuatan super natural. Sejak saat itu, dia menggunakan kekuatan supernya untuk menyelamatkan dunia. Dia menamai dirinya sendiri, Secret Hero. Bahkan teman karibnya, Deffiola Acky McQueen, tidak mengetahui bahwa Shane adalah sang Secret Hero. Dia pernah curiga bahwa Shane adalah Secret Hero. Karena Deffi pernah menemukan topeng perak yang persis sama dengan milik Secret Hero. Tapi, Shane berhasil meyakinkan bahwa itu hanya aksesori yang dia beli karena ngefans sama Secret Hero. Hari Senin, Shane pergi ke sekolahnya, Briland Elemantary School. Tanpa disadari, jam tangan pemberitahunya berbunyi tiga kali. Itu tandanya, ada kasus mendadak. Mr. Paul, saya permisi ke toilet, ujarku. Ya, tapi, segere kembali, ya! jawab Mr. Paul dengan ramah. Aku hanya mengangguk dan berlari ke toilet. Di sana, aku melakukan Speed Change. Itu adalah trik ganti baju hanya dengan kecepatan 2,3 detik. Lalu, aku segera melonjak lewat jendela atas toilet. Aku memanggil Gravity Car pribadiku. Benda itu khusus dan hanya milikku sendiri. Hanya ada satu Gravity Car. Yaitu milikku. Kudapat waktu menghadiri acara pemberian penghargaan di rumah presiden. Kali ini, kasus pencurian emas di toko Perfect Gold. Aku dapat melacak dimana pencuri itu bersembunyi.

Di jalan Alexander di perumahan, mmm Ah! Di perumahan Douz City! aku membaca petunjuk dari kompas pelacak. Tepat! Aku mendapat rumah yang lumayan kumuh. Disana, aku mendapati seorang pria yang kira-kira umurnya 20 tahun. Dia menjerit ketika melihat aku berada di depannya. Aaaa! S Secret Hero! Ampunilah aku a.. aku akan mengembalikan semua yang sudah aku curi selama ini ujarnya terbata-bata. Bagus, cepat serahkan. Aku akan memanggil polisi lebih dulu. Agar kau diperiksa, ucapku sambil mngancungkan senjata laser 180 derajat. Sekali kena, langsung meleleh atau hancur. Dia mengembalikan semuanya. Tapi, dia seperti bersiap-siap akan kabur. Mau kabur? Coba saja. Di sini sudah kuamankan dengan sengatan listrik. Kataku tak acuh. Aku merogoh handphone dari kantung bajuku. Selagi aku menelepon, dia berlari menuju pintu depan. Bbzzzz terdengar sengatan listrik selama satu detik. Kan sudah kubilang jangan cari mati dulu, deh! Rugi, lho gumamku sambil menutup telepon. Tak lama kemudian, polisi datang. Aku menyerahkan semua benda yang sudah pria itu curi. Ternyata, nama pria itu adalah Ronald Harry Bondville. Dia adalah buronan yang amat licik. Oh, sekali lagi saya berterima kasih pada anda, Secret Hero. Karena kami sangat sulit melacak keberadaan Ronald. Dia akan dikenakan hukuman penjara lima tahun. Sebagai imbalan, apakah anda menginginkan lima juta Dollar? Tanya ketua polisi sambil menawari. Mmm terima kasih tawarannya pak. Tapi, sebagai pahlawan, saya tidak perlu imbalan. Jika bapak membiarkan saya membantu bapak dari jauh, itu sudah lebih dari cukup, paparku. Baiklah kalau begitu. Sekali lagi, terima kasih, ya! Saya permisi dulu ke markas. Ujar Mr. Fred, nama asli dari komandan polisi. Sebenarnya, Shane hanya menggunakan kekuatan supernya hanya untuk beberapa kali, ketika perkara memang tidak bisa dihalangi dengan senjata lagi.

Saat aku memandang jam waktu mengemudikan Grafity Car, ternyata sudah pukul 12:43!! Tadi saat aku pergi, baru pukul 12:34. Aku sampai di sekolah pukul 12:45. Saat kembali ke kelas Shane! Ada apa gerangan? Kok, lama sekali? Pelajaran tinggal lima menit lagi! Gerutu Mr. Paul dengan gelisah. Maaf, Mr. Paul saya mmm aku mulai terbata-bata Ya sudah, sudah! Lain kali, jangan seperti ini, ya! nasihat Mr. Paul. Ya, Mr. Paul. Saya kembali, Ya? tanyaku. Mr. Paul hanya mengangguk. Krriiiing bel tanda pulang telah berdentang. Seluruh isi kelas termasuk aku, bersorak sambil mempercepat merapikan tas. Shane, pulang bareng, yuk! ajak Deffi, sahabat karibku. Eh, iya! Aku rapikan kotak pensil dulu! aku mempercepat merapikan kotak pensil kain biru-putih kesayanganku. Kami pulang naik mobil pribadi Deffi. Dia yang nyetir. Dia memutar lagu beautiful friendship. Itu lagu favorit kami. Bye, Shane! See you! Deffi melambaikan tangan. Dan mulai menutup jendela mobilnya. Aku hanya membalas melambaikan tangan. Oh ya! Kalian belum tahu ya, dimana aku menyimpan Grafity Car? Itu berada di ruang rahasia atau Secret Office. Aku menamainya begitu. Di sana, terisi dua buah rak buku, meja putih kecil yang terbuat dari batu buatan, Grafity Car (tentunya), dan sebuah sofa berwarna biru langit yang cerah. Di sana, tempat aku mencari berbagai kasus yang harus aku tangani. Dua rak buku itu berisi dari komik koleksiku, novel, ensiklopedia, buku sejarah (aku menyukai pelajaran sejarah), majalah, sampai beberapa buku geografi dan tentang luar angkasa. Dua minggu setelah kasus Ronald, aku diajak salah satu stasiun telavisi untuk datang ke talk show. Nama acara itu, Just With Mary Angelina. Acara itu sering mendatangkan artis lokal maupun luar, pelawak, dan lain-lain. Aku pergi ke sana tentu dengan bajuku yang berwarna perak-putih. Baju ketika aku bertugas. Oh iya, ekalipun

aku adalah Secret Hero, aku cukup terbuka lho! Aku mau mengikuti acara-acara seperti itu. Sebenarnya, aku hanya ingin jati diriku yang tak diketahui. Oke, kita sambut pahlawan misterius kita Secret Hero!!! pekik Mary dengan semangat. Ketika aku keluar, suara tepuk tangan bergemuruh. Hai semua!!! sapaku. Haaii!! mereka menjawab dengan semangat. Oke, silakan duduk, pahlawan muda! Mary mempersilahkan aku duduk di sofa panjang berwarna putih dengan bantal hitam. Nah, pertanyaan pertama, apa yang membutmu ingin menjadi pahlawan? Maksudnya mmm apa motifasinya, gitu Tanya Mary. Dia tampak sedikit bingung saat ingin menjelaskan pertanyaannya. Eum aku ingin membuat dunia ini damai tanpa ada kejahatan. Dengan begitu, semuanya bisa hidup dengan aman dan nyaman jawabku sambil tersenyum. Oh My God!! Pahlawan yang satu ini memang super sekali ya, pemirsa! seru Mary. Tepuk tangan kembali membuat ruangan menjadi berisik. Aku hanya tersenyum simpul. Bagaimana dengan bajumu? Seleramu cool juga, ya! Mary bertanya lagi. Ini, itu, ini, itu blablabla setelah sekitar lima belas menit tanya-jawab antara MaryShane (Secret Hero), dengan berhati-hati, Mary bertanya, Maukah kamu membuka topengmu? Bukannya ikut campur ya, tapi menurutku, pahlawan juga boleh kan, membuka topengnya? ungkap Mary. Aku terkejut. Mempertimbangkan sejenak, berpikir-pikir aku mengambil keputusan. Baiklah jika itu memang permintaan kalian semua, jawabku sambil tersenyum ragu. YA!! para penonton menjawab dengan sangat bersemangat. Lambat laun, aku mulai memegang tali topeng, dan perlahan membukanya !!! saking terkejutnya, Mary dan semua penonton terdiam kaku. Aku hanya bingung dengan sikap mereka. Shanede Gordiano McSilver?!?! pekik Mary sang presenter. Dia tampak sangat terkejut.

Dari mana kamu tahu nama asliku? aku bertanya ragu-ragu. Dia menjawab dengan wajah yang masih bingung, Wali kelasmu, Mr. Paul, teman baikku. Dia sering menceritakan tentang dirimu. Katanya, kamulah yang paling berprestasi di kelas. Benarkah itu? ia menjawab sekaligus bertanya. Ehm bukannya bermaksud sombong ya tapi Mr. Paul-lah yang mengatakan bahwa aku memang yang paling berprestasi di kelas. Jawabku. Super Girl!! Shanede Gordiano memang yang paling tepat untuk menjadi pahlawan muda! Sekali lagi tepuk tangannya! pinta Mary. Tentu saja, semua penonton bertepuk tangan.`aku menghembuskan nafas lega. Setelah acara Talk Show usai, aku ditemui oleh puluhan wartawan. Mereka ingin mengorek lebih dalam tentang diriku. Tentu, aku sangat kesal. Aku tetap tutup mulut. Walau sampai ada wartawan yang mengancam, aku tetap tutup mulut. Karena aku bisa balas mengancam mereka satu per satu. Setelah aku mengancam salah satu wartawan yang sudah mengancamku, wartawan yang lain menjadi takut dan menyingkir, membuat jalan lurus menuju Grafity Car-ku. Karena mobil pribadiku itu bisa melayang (namanya aja, Grafity Car), maka saat itu aku menggunakannya. Itu jalan terbaik menghindari wartawan usil. Keesokan harinya Selamat pagi, murid-muridku tercinta! Saya rasa, kalian sudah mendengar bahwa salah satu teman kalian memiliki talenta dan kekuatan yang sangat hebat. Saya rasa, kalian sudah melihatnya. Yak, kita sambut Shanede Gordiano McSilver!! pekik Mr. Paul. Aku datang seperti di acara Talk Show kemarin. Tepuk tangan bergemuruh. Oke, teman kalian inilah yang menyelamatkan dunia, kata Mr. Paul sambil tersenyum padaku. Aku membalasnya. Karena itu, hari ini, kelas kita tidak belajar efektif, ya. Sambung beliau. Sorak sorai dan tepuk tangan terdengar sampai ke luar kelas. Pada hari itu juga, aku mendapatkan sebuah piala yang lebih besar dari piala yang aku dapat ketika mengikuti olimpiade tingkat Negara. Piala itu bertuliskan, The Champion of Briland Elementary School. Aku amat sangat bangga dan senang. Hari tu juga, aku difoto dan masuk dalam koran, TV, internet, bahkan seluruh jaringan social. Ini adalah hari yang bisa aku jamin, TAK BISA AKU LUPAKAN!!!

Kisah Bang Hendry Bang Hendry adalah tukang bakso gerobak. Dia hidup bisa dibillang orang yang termasuk kurang berada. Rumahnya terbuat dari kayu bekas dan bambu-bambu yang sudah mulai lapuk. Atapnya terbuat dari seng bekas yang sudah lumayan banyak bolongnya. Bang Hendry membuka usahanya dengan modal yang kurang. Tetapi, dia tetap bermain dengan sportif. Dia orang yang baik, walaupun seling diejek dan dihina, dia tetap sabar. Selalu berdoa dan berzikir. Bang Hendry sering keliling kampung dan berhenti di depan mushalla Al-Iman. Di sana, cukup banyak pelanggan setia bang Hendry. Kata mereka sih, bakso buatan bang Hendry itu enak, bersih, harganya murah, penjualnya baik lagi! Di mushalla itulah Bang Hendry mendapatkan uang untuk makan dirinya. Kadangkala, pelanggan banyak sekali, kadang juga, pelanggan sedikit. Tapi, ia selalu bersabar. Itulah bang Hendry. Bakso, bakso! Bu, beli baksonya? tanya bang Hendry menawarkan dagangannya. Harumnya menggoda sekali! Berapa satu bungkus? tanya ibu itu. Bang Hendry tersenyum dan menjawab, Satu bungkus enam ribu lima ratus. Ucapnya. Mmmm Beli dua, ya! Ini uangnya, jadi tiga belas ribu, kan? tanya ibu itu. Bang Hendry hanya tersenyum sambil mengangguk. Dia memasukkan dua buah bakso kecil, sebuah bakso jumbo, mie kuning, mihun, dan kuah. Tak lupa, seplastik kecil cabai hijau yang ekstra pedas. Ini bu, terima kasih, ya! ucap bang Hendry, memberikan bakso, dan mendapatkan uang dari ibu itu. Terima kasih bu! Bakso, bakso!! Setelah beberapa lama, bang Hendry sampai di mushalla Al-Iman. Kebanyakan, anak MDA Al-Iman yang membeli dagangan bang Hendry. Di mushalla ini, memang ada MDA. Begitulah bang Hendry. Dia akan menyisihkan sebagian untuk ditabung, dan sebagian untuk makan. Setelah lama manabung dan menabung, bang Hendry memiliki modal yang cukup. Yaitu sekitar tiga juta lima ratus ribuan, lah bang Hendry membuka sebuah restoran bakso yang masih kecil, tapi bagus.

Warung bakso itu ditempel beberapa macam gambar bakso, mie pansit, mie ayam, dan nasi ikan bakar. Kursinya kursi dari anyaman bambu yang diberi warna cokelat ke hijau-hijauan. Mejanya juga sama, tapi bedanya, diatasnya terdapat kaca yang pas bentuk dan ukurannya dengan meja. Mirip sebuah kafe kecil. Bang Hendry juga memiliki dua orang pelayan dan satu orang yang ikut membantu membuat bakso, pansit, mie ayam, dan nasi ikan bakar. Nama warung bakso kecil itu, Hendrys Meat Ball. Karena sudah banyak yang mengenal bakso bang Hendry, warung kecil itu berkembang dengan cepat dan pesat. Bang Hendry yang dulunya kurang berada, kini sudah sukses. Beberapa hasil yang diperolehnya, di infakkan pada anak yatim, dan orang miskin. Sejak saat itu, bang Hendry sudah menjadi salah satu orang yang disegani di kampungnya.

New Moon Hai semuanya! Namaku Bethary Melania Simphony. Aku kelas tiga SD di Nevoradia Elementary School. Hidupku tidak sebaik teman-temanku. Aku mengalami kebutaan ketika aku lahir. Tapi, kata Mom, aku adalah anak yang spesial. Mungkin, sih. Karena, ayahku adalah seorang ilmuan. Karena itu, bakatnya turun kepadaku. Aku selalu mengimpikan bisa melihat suasana luar. Dan yang paling ingin aku lihat adalah bulan. Ketika aku kecil, Mom sering membacakanku buku-buku tentang alam. Dan yang paling mengesankan adalah cerita My Little Moon. Suatu hari, aku bertanya pada Mom, Nnggg Mom, apa suatu hari nanti aku bisa melihat? tanyaku tiba-tiba. Pertanyaan tersebut membuat Mom terkejut. Tentu, sayang. Pasti, pasti suatu hari nanti kamu bisa melihat. Jawab Mom. Aku tersenyum. Tanpa sepengetahuanku, ternyata Mom menangis dengan pelan. Suaranya tak terdengar. Serta merta, Mom memeluk dan membelai rambutku. Kamu itu peri kecil Mom, sayang. Jangan sedih atas kekuranganmu. Semua orang tidak ada yang sempurna ingat itu, sayang, Mom memelukku makin erat. Karena hari sudah malam, Mom menyuruhku untuk tidur. Ia menemaniku sampai ke kasur putih-biru milikku. Ia menyelimutiku dengan lembut. Tidur yang nyenyak ya, sayang mimpi yang indah, Mom mengecup keningku dan mematikan lampu. Tapi aku tidak mengetahuinya. Beberapa kali aku bermimpi hal yang sama: aku mendapati diriku sudah bisa melihat semuanya. Benda, alam, Mom, Dad, dan teman-temanku. Hal itu selalu menjadi bahan pertanyaan ketika aku mengingat mimpi itu kembali. Suatu hari, tepatnya hari Kamis, setelah aku pulang sekolah dijemput sopirku Benn, Mom menghampiriku dan langsung memelukku! Spontan, aku terkejut sekaligus bingung. M Mom, ini kenapa? Ada apa sih? aku berusaha melepas pelukan Mom yang membuatku sesak. Selamat, sayang!! Kami mendapat donor mata untukmu! Kamu senang, kan? Mom melepas pelukannya. Dan aku ternganga. Mom Mom benar? Ih, Mom bercanda? Apa ini tanggal satu April? April Mob? tanyaku yang belum percaya.

Mom nggak B-E-R-C-A-N-D-A, eja Mom. Aku dapat donor mata?! Mom! Thanks banget! aku melonjak saking girangnya. Bilang makasihnya sama Dad. Dia yang selama ini berusaha nyariin kamu donor mata, sayang, ujar Mom. Aih, betapa senangnya! Oh ya, jadwal operasinya hari Sabtu, pukul 12:30. Untung saja, hari Sabtu aku libur karena ada rapat guru di sekolah. Akhirnya hari itu Bethary Melania Simphony! panggil salah satu suster. Aku memeluk Mom sangat erat. Begitu juga Dad. Aku masuk ditemani suster itu. Operasi berlangsung selama dua jam. Aku dapat membuka mata satu jam setelah operasi. Mom? Dad? aku menemukan wajah mereka berdua. Sayang, ujar Mom sambil memelukku. Lalu melepaskan pelukannya. Dad hanya tersenyum. MOM!! DAD!! AKU BISA MELIHAT!! SEMUANYA!!! pekikku dengan lepas. Ternyata, beginilah suasana di Kanada. Indah dan asri. Malamnya, aku asyik melihat bulan purnama. Bulan itu seakan tersenyum padaku. Puas melihat bulan? tanya Mom yang tiba-tiba menghampiriku. Aku menatapnya. Ya, Mom dan juga, aku ternyata memiliki seorang Mom yang sangat cantik. Ucapku. Mom tersenyum. Dan Mom mamiliki peri kecil yang bisa menemani Mom, jawab Mom. Kami berpelukan. Hari ini, aku tulis kisahku di diary-ku dengan judul, New Moon.

Hanami KocchMuite! Namaku Hikaru Mommo Yakushima. Biasanya, dipanggil Mommo-chan! Jadi, panggil saja begitu! Aku berumur sembilan tahun. Tepatnya, kelas empat. Aku adalah salah satu murid yang berprestasi di kelas. Aku juga punya seorang adik laki-laki. Namanya Ikomayushi Dekitano Yakushima. Dia anak yang nakal. Dipanggil, Deki-kun.rumah kami bartingkat satu. Di lantai satu, ada dapur, ruang makan, ruang tamu, ruang TV, kamar ayah dan ibu, kamar tamu, dan kamar kecil untuk tamu. Sedangkan itu, di lantai dua, ada ruang bermain untukku dan Deki (di rumah kami memanggilnya Deki), kamarku, kamar Deki, dan balkon yang dibawahnya kolam renang. Oh iya! Lusa, tepatnya hari Minggu, kami sekeluarga akan pergi hanami. Kalian tahu hanami? Hanami adalah acara melihat bunga sakura yang mekar di suatu tempat. Acara itu bukan pribadi, tapi umum! Kata Mika-chan, temanku, dia mengatakan bahwa di sana padat, lho! Apalagi hari libur! Wah wah jangan ditanya! Mommo!! Cepat! Deki sudah saja sudah siap! Masa kamu kalah sama adikmu! ibu memanggilku. I, iya bu!! Lagi siap-siap, nih! pekikku seraya memasukkan kamera yang diberikan kakek ketika aku berulang tahun yang ke Sembilan. Aku mengenakan kaus hitam polos, jaket putih, dan jeans putih. Dan aku menggunakan flat shoes hitam dengan hiasan pita perak. Mereknya, Doquess flat. Aku mengikat buntut kuda rambutku yang cokelat pekat. Aku berlari sambil membawa tas selempangku yang berwarna putih. Lama amat, sih! Nanti keburu rame! gerutu Deki si cerewet. Maaf bu heh, Deki! Ga usah sok bijaksana, deh! Kamu tu, masih kecil! aku mencibir pada Deki. Dia hanya kembali menggerutu sambil melipat tangan. Eh, sudah, sudah! Mau melihat hanami, gak? Kalo ribut terus, nggak jadi, deh! ancam ibu. Akhirnya kami menurut saja. Akhirnya aku dan Deki kembali akrab. Kami main selama perjalanan. Siapa yang kalah, harus disentil. Aku selalu menang, dan Deki selalu kalah. Setiap kalah, Deki akan ngomel-ngomel nggak jelas. Itu yang

membuat ayah dan ibu tertawa. Tanpa terasa, kami sudah tiba di salah satu lokasi hanami. Yaitu, Saikoo Hanami Garden. Kata ayah, yang punya lokasi hanami yang satu ini, adalah temannya semasa dia kuliah dulu. Namanya, Yamana Saikoo Edo. Bayar karcisnya kalau kami digabung, semuanya 7000 Yen. Sebenarnya, itu udah dapat discount, lho! Kalau dapat discount, satu orang anak-anak 1000 Yen. Kalau dewasa, satu orang 2500 yen. Kalau kami sekeluarga digabung, totalnya 7000 Yen. Kalau nggak dapat discount, aslinya satu orang anak 2000 Yen. Satu dewasa, 3000 Yen. Otomatis, kalau kami digabung tanpa discount, totalnya 10000 Yen! Wah, untung 3000 Yen, nih! Hehehe Ternyata, hanami indah sekali, ya! Aku sibuk memotret. Deki sibuk menggambar, ayah dan ibu menyiapkan makan. Hey, kalian tahu, nggak? Gambar Deki itu bagus sekali! Bu, hanami indah, ya! Apalagi, Mommo baru pertama kali pergi hanami, ucapku. Oh iya, sayang ibu baru ingat! Ini yang ke tiga kalinya! Yang pertama, waktu kamu berumur satu tahun. Yang kedua, waktu berumur nnggg dua tahun! Kamu pasti nggak ingat. Ibu menjelaskan. Kami sangat senang akan hari itu. Setelah pulang, aku baru ingat, ada PR membuat karangan tentang alam beserta fotonya. Aku memutuskan untuk bercerita tentang hanami. Aku juga akan memberikan dua foto bunga sakura yang paling bagus untuk tugasku nanti.

Rahasia Okky Pelajaran Matematika diakhiri dengan bel tanda pulang yang dibunyikan. Semua siswa maupun siswi bersorak-sorai, termasuk Okky. Ibu Nefa, wali kelas mereka memberikan PR. Iren, teman Okky, menawarkan untuk mengerjakan PR bersama. Tentu, Okky menerima ajakan itu. Mereka janjian pada pukul tiga sore, di rumah Iren. Permisi, ucap Okky sembari mengetuk pintu rumah Iren yang megah. Dua kali Okky memencet tombol rumah Iren, sahabat karibnya. Akhirnya, bi Mini membukakan pintu. Bi Mini adalah pembantu di rumah Iren. Oh, ternyata non Okky masuk, masuk! ajak bi Mini mempersilahkan Okky masuk. Makasih, Bi Oya, Irennya mana, bi? tanyaku. Oh, itu non Iren di ruang belajarnya disamping kamarnya. Aduuh! Bibi lupa matiin kompor! Non Okky kesana aja! Bibi mau kedapur, ya! bibi Mini mulai berlalu menuju dapur. Tingkah laku bibi Mini tersebut membuat Okky tertawa tertahan. Iren, aku dateng, nih! Ayo mulai! panggilku. Iren yang memotong kuku tersentak kaget. Bu guru, kalau mau nyapa, jangan ngagetin! dengus Iren. Ya maap, deh! Yok mulai, professor! canda Okky. Mereka belajar sambil tertawa dan bermain. Eh, Okky! Ini gimana, sih? Soalnya menyebalkan! tanya Iren dengan muka kesal. OMG! Iren Iren ini kan, tinggal dikali sama negatif empat ini, lalu dibagi sama dua! Mudah sekali! jawab Okky sambil menirukan gaya orang yang mempromosikan alat elektronik yang dilihatnya di iklan. Bagimu aja yang mudah! Ya iyalah, bagimu mudah! Kamu teruus aja dapat juara satu! Aku? Tolong jangan ditanya! kata Iren sambil mengerjakan soal dengan petunjuk yang diberi Okky. Setelah sekitar satu setengah jam, barulah Okky meninggalkan rumah Iren. Tanpa diketahui oleh Iren maupun Okky, pensil kesayangan Iren terbawa oleh Okky! Pensil tersebut menjadi kesayangan Iren. Karena, itu pensil yang diberikan oleh sepupunya, Ilfa, ketika dia berulang tahun yang ke delapan. Sekarang, ia berumur

Sembilan tahun. Tapi, sekitar satu bulan sejak pensil itu diberikan, Ilfa meninggal dunia akibat kecelakaan mobilnya. Dia mengalami luka dalam di kepalanya. Dan meninggal ketika akan dibawa ke rumah sakit. Diantara pengunjung yang melayat ke makam, Iren-lah yang menangisnya pualing histeris. Dia sempat hampir menggali makam sepupunya yang sudah dia anggap sebagai saudara. Tapi, sempat dicegah oleh ibunya. Oleh karena itu, pensil itu amat berharga bagi Iren. Mmmm? Mana pensil kesayanganku? Iren mencari-cari pensil kesayangannya. Iren sempat hampir menangis karena hanya itu peninggalan Ilfa. Tapi, ia menahan tangisannya. Keesokan harinya Okky, apa kamu mengambil pensil mekanik warna biru-pink-ungu dari kotak pensilku kemarin? tanya Iren cemas. Ha? Pensilmu ilang? Aku kan ga minjem pensilmu kemarin. Jawab Okky bingung. Sampai pulang, Iren masih dalam keadaan cemas plus murung. Assalamu alaikum! Aku pulang! pekikku. Wa alaikum salam! jawab ibu. Aku tersenyum pada ibu dan berlari menuju kamar. Aku langsung mengerjakan PR IPA. Tiba-tiba, aku merasakan bahwa ada yang terjatuh. Saat aku lihat PENSIL MEKANIK IREN!! Aku terhenyak dan melongo. Allahu akbar! Ini kan, pensil kesayangan yang dibilang Iren! Aduuuh gimana, nih? Iren paling tidak suka pada orang yang berbohong! Masa aku harus bohong balik ke dia?! Ya Robb, tolonglah hamba mencari keputusan tepat! Ucapnya dalam hati. Dia jadi gelisah. Sampai esoknya, dia tetap gelisah dan tutup mulut. Pernah Mila menyapanya, dan dia masih bengong. Ketika ditanya, dia tergagap dan meresa deg-degan. Itu juga terjadi peda Ajeng, Adila, dan Hanna. Akhirnya, Okky berkeputusan. Aku harus siap! Apapun resikonya, aku harus tegar! Sekalipun tali persahabatan kami putus lebih baik daripada menjadi pembohong ucap Okky mantap. Walau kadang kalau memikirkannya takut, dia tetap berusaha tegar.

Keesokan harinya I Iren, maaf, maaf, maafkan aku, ya! Aku benar-benar nggak tahu bahwa pensilmu terbawa olehku! Aku tutup mulut selama lima hari! Aku nggak mau persahabatan kita putus jadi aku, aku minta maaf. Ini pensilmu, Okky berkata yang sejujurnya. Sebenarnya, Iren amat terkejut. Tapi, dia mangangkat muka Okky yang tertunduk dan tersenyum. Aku salut padamu! Aku nggak akan memusuhimu, kok! Karena, aku tahu bahwa kamu adalah sahabatku yang jujur. Sekalipun kita bertengkar, pasti akan berbaikan lagi! Lupakanlah kesalahanmu! Kita sahabat, bukan? Iren membuka hatinya untuk Okky. Pada hari itu juga, Okky mendapatkan pelajaran yang tak akan pernah terlupakan!

Kelas Baru Prita Anak-anak berhamburan keluar dari kelas mereka, setelah bel pulang dibunyikan. Prita pulang ke rumahnya dengan angktutan umum. Prita adalah murid teladan di sekolahnya. Kini, dia duduk dibangku kelas enam. Prita memasuki halaman rumahnya yang luas dan bersih. Dia mengucapkan salam ketika memasuki rumahnya yang dicat warna abu-abu. Ketika makan siang bersama ibunya, mereka sangat suka ngobrol. Tiba-tiba, ibunya mengatakan sesuatu yang sangat dibenci oleh Prita. Prita sayang, ibu minta maaf kalau bilangnya mendadak, ya. Soalnya, baru dibilang tadi pagi sama ayah. Ucap ibu. Prita menatap ibunnya lekat-lekat. Ada apa, sih bu? Jangan buat Prita deg-degan, dong! Atau ini kabar buruk?! tebak Prita was-was. Mungkin bagi ibu tidak terlalu, tapi sepertinya kalau ibu bilang padamu, sepertinya berita buruk, papar ibu. Prita menelan ludah. Dua minggu lagi, kita akan pindah ke Bogor, sayang. Sekalipun tidak mau, kamu HARUS ikut, jelas ibu dengan nada yang tidak menyenangkan. Aku hanya dapat pasrah saja. Lagi pula, ini yang ketiga kalinya. Pertama kali akan pindah, Prita sempat menolak dan meronta-ronta agar tidak jadi pindah. Tapi, sekarang, dia sudah biasa. Aslinya, mereka dari Batam, terus ke Medan, jalan lagi ke Makassar, terus ke Jakarta. Sampai kali ini, rencananya akan pindah ke Bogor. Bu, apa tidak bisa diperlambat? Dua mingguuu aja! Ya? Boleh, ya? tanyaku dengan muka memelas. Ibu tersenyum dan menjawab, Maaf, sayang sebenarnya, kata ayah, sampai ke minggu ini sudah diperlambat satu bulan. Tapi, ayah baru bilang tadi pagi. Jawab ibu sambil mengambil tiga buah cumi goreng tepung. HAH?! Satu bulan?! Berarti, harusnya, kita sudah berangkat bulan Maret, ya bu? tanyaku. Ibu mengangguk. Aku yang sudah biasa, kembali makan siang tersebut

dengan santai. Tapi bu, gimana kalau teman-teman baru Prita nanti ga baik? Sama kayak temen lama Prita di Medan? Yang pernah Prita ceritain itu, lho tanyaku. Kamu bisa mengaturnya, Prita bawa enjoy aja. Buktinya, teman kamu nakal-nakal waktu di Medan, kamu santai aja, tuh! ibu memberi semangat. Eu iya, sih, ucapnya sambil menyuapkan cumi goreng ke dalam mulut. Ibu udah tahu sekolah Prita nanti? tanya Prita sembari meminum jus mangga favoritnya. Pastinya belum, sih tapi, calonnya udah, jawab ibu. Dimana? tanya Prita singkat. Kalau nggak SD Nusa Bangsa, SDN 036 Cerdas Indonesia. Tapi, kata ayah lebih baik SD Nusa Bangsa. Abangmu Fetras (sepupu, ya), dulu sekolah di situ soalnya. Kamu maunya pilih yang mana? ujar ibu. Abang Fetras adalah anak dari kakak ayah yang bernama tante Farana. Dia orang yang baik. Kalau Prita, SD Nusa Bangsa aja, deh bu! aku memberi komentar. O, kalau begitu, kamu di situ aja ya, sayang, tanggap ibu. Aku hanya mengangguk. Lalu aku pergi ke kamar dan ibu akan menggosok pakaian. Ketika di kamar, aku merebahkan diri di ranjang, lalu menatap fotoku dan sahabat karibku, Syafira. Foto itu tersimpan apik di dalam bingkai berwarna ungu dengan gambar timbul pelangi. Satu minggu setelah itu, kami mulai berkemas-kemas. Bu, rasanya berat ninggalin Syafira, ujarku sedih. Ibu merangkulku dan menjawab, Walau kita sudah pindah, kan kalian tetap bisa komunikasi. Iya kan? Tapi, Prita belum pernah dapat teman sebaik dia. Syafira is the best, bu! akhirnya, ibu tetap menjawab hal yang sama. Kami kembali mengemas. Sekali lagi, aku melihat foto yang tersimpan apik itu. Aku menggeliat di atas ranjangku. Ah, pasti nanti aku akan kehilangan Syafira. Kenapa ayah harus bekerja sebagai TNI? Aku sering sih, ninggalin sahabat yang aku sayangi tapi, rasanya pasti berat meninggalkan Syafira.

Batinku dengan perasaan campur aduk, kesal, sakit, sedikit senang, berat, dan lainlain. Prita, ada Syafira tuh, di taman! panggil ibu dari bawah. Aku melonjak dari ranjang. Kini, aku mulai melupakan kesedihanku. Kenapa? Kok, tiba-tiba datang ke sini? tanyaku sambil duduk di ayunan. Nggak, Cuma mau ngasih ini aja, kata Prita sambil menyodorkan sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas kado berwarna ungu-putih. Apa ni? tanyaku. Kenang-kenangan. Itu kembar. Aku ada satu yang sama persis. Jawabnya. Tentu saja, aku menerimanya dengan senang hati. Aku memutuskan untuk membukanya nanti. Nggak dibuka sekarang? tanya Syafira. Nggak, nanti aja. Biar surprise, ucapku. Lalu, kami bercerita. Aku sampai benar-benar lupa akan kesedihanku. Ibu mengintip dari jendela, dan beliau tersenyum. Kami memuaskan pertemuan itu. Karena, tinggal satu minggu lagi bisa bertemu Syafira. Sudah tahu sekolah di Bogor? tanya Syafira sambil memakan keripik kentang. Ooo udah, udah! SD Nusa Bangsa. Kuharap, nggak kalah asyik dibanding di sini, ceritaku. Akhirnya, Syafira pulang ke rumahnya. Aku tidak memikirkan kesedihanku dan kembali mengemas baju-baju. Tiba-tiba, aku teringat akan kenang-kenangan yang diberikan Syafira. Aku membukanya dengan rapi. Wah, sebuah kalung setengah hati dengan gambar timbul bunga melati. Dan bisa dibuka. Disana, berisi fotoku dan foto Syafira yang berukuran mini. Tak lupa, foto-foto kami ketika darmawisata, di photo box, waktu di out bound, di taman mekarsari, dan di kolam renang. Aku menangis seketika melihat foto-foto tersebut. Ternyata, ada satu lagi yang menyelip di bawah foto-foto itu. Yaitu adalah gelang emas bertuliskan P & S. aku menggenggam kalung dan gelang itu. Kesedihanku

memuncak hingga membuatku tertidur di ranjang. Aku tertidur masih memegang kalung dan gelang tersebut. Keesokan harinya Anak-anak, sahabat kita Prita, akan pindah ke Bogor pada hari Minggu besok. Pada pelajaran pertama ini, kalian boleh bersalaman dan memberikan kenangan. Bapak Ahmad ada rapat antar guru, oke? itu kata terakhir sebelum bapak Ahmad keluar dari kelas. Suasana di kelas 6C jadi mengharukan. Tiara, Yolla, dan Ela memberiku kenang-kenangan. Sementara itu, yang lain pada bersalaman dan berpelukan saja. Ah, kelas ini adalah kelas terbaik yang pernah disinggahi Prita. Akhirnya, tibalah hari itu. Kami saling bertangisan. Syafira, Yolla dan Tiara menemaniku sampai bandara. Kami berpelukan. Semua, aku pergi dulu, ya! Kita tetap berkomunikasi, seruku sambil terisak ketika mendengar panggilan bahwa pesawatku sudah siap. Aku melambaikan tangan dengan senyum tipis. Teman-teman, suatu saat kita pasti bertemu lagi. Jadi, selamat tinggal! Selamat tinggal Jakarta! Pesawat sudah berada di atas aspal. Kini, aku dalam masa menuju Bogor. Good bye, Jakarta!

Debut Baru Viosa Miss Dolley, apakah plotku sudah bagus? tanyaku sambil menyodorkan kertas berisi plot kepada Miss Dolley. Hai! Namaku Viosa Lubyloss Magynne. Aku mengikuti manga school. Tetapi, aku memiliki suatu masalah, yaitu tidak bisa menciptakan suatu gambar dan jalan cerita yang bagus dan nyambung. Nggg ciptakanlah bahwa persahabatan mereka sering putus! Agar kisah persahabatan yang kamu ciptakan jauh lebih seru! Jangan selalu mulus! Ayo, biar naik level B! papar Miss Dolley yang cerewet. Aku sangat kesal karena masih saja berada di level C. level pemula! Harusnya aku udah level A kalau diikuti dengan baik. Buktinya, Emely saja sudah hampir lulus di klub komik ini dan siap meluncur dan bersaing dengan komikus lainnya! Uuuh! Ya sudah! Apa harus diulang semua? Atau diambil beberapa bagian? tanyaku dengan muka cemberut. Miss Dolley memang salah satu guru yang kubenci! Lagian mulutnya itu seperti mulut anak ayam kehilangan induknya! Cerewet terus bisanya! Ambil bagian persahabatan mereka yang terhambat karena kesalah pahaman, ketika menatap bulan bersama, dan ketika Mairo-chan berpisah dengan Jaiko-chan, oke? jelas Miss Dolley. Sekali lagi, aku cemberut karena itu bagian yang susah digambar. Ya, ya, ya jawabku lesu. Zee, apa kau ada pen dan kuas? Punyaku tertinggal, tanyaku. Ambil aja di kotak pensil warna hitam! ucapnya ramah. Makasih, aku merogoh laci kecil di tas Zee. Aku mulai menggambar dengan hati-hati. Aku menggambar garis tepi. Mmm hasilnya cukup rapi, kok! Akhirnya setelah selesai membuat dua lembar panel, aku mulai menggambar. Praang!! Aku mendengar bunyi yang tidak asing di telingaku. Ya! Suara beling pecah! Olala ternyata, yang jatuh adalah botol tinta milik Miss Dolley! Aku ingin membantu, tapi aku sibuk karena sketsa komik ini harus selalu dijaga!

Aku membuat adegan pertengkaran yang lumayan sengit. Yaitu ketika Mairochan salah sangka bahwa Jaiko-chan melupakannya ketika Monamo-chan masuk ke sekolah mereka. Zee, kau lagi apa? Aku lagi menggambar, tanyaku. Tunggu! Nah aku lagi nebelin, nih! serunya sambil menebalkan gambar yang dibuatnya. Gambar Zee jauh lebih bagus dari gambarku. Tapi, akhirnya aku dapat mengimbanginya. Karena, aku minta diajarkan Zee cara menggambar dengan baik. Ketika selesai membuat sketsa utama, aku melaporkan hasil karyaku ke Miss Dolley. Miss Dolley ngangguk-angguk dan tersenyum. Kenapa Miss? Ada yang salah? Uuuuh! Ya sudah, sini saya perbaiki! seruku menyambar kertas sketsaku dari tangan Miss Dolley. Siapa yang bilang gambarmu jelek? Baru kali ini Miss lihat hasil karyamu memuaskan, ucapnya bangga. Aku menatap curiga. Kenapa tiba-tiba Miss Dolley berubah 180 derajat? Padahal kayaknya gambarku sama aja, tuh! Masa? tanyaku yang masih curiga. Miss Dolley hanya mengangguk dan menyeruput cappuccino-nya. Aku kembali ke tempat dudukku dan menggaruk kepalaku yang tak gatal. Zee, apa gambarku jauh lebih bagus dari yang sebelumya? aku bertanya. Zee terbelalak ketika melihat gambar sketsa utamaku yang tinggal diberi warna dan ditebalkan. Ini kamu yang gambar? dia menyambar sketsa yang aku pegang. Aku yang malas menjawab, hanya mengangguk. Segera selesaikan! Kamu pasti langsung naik level! serunya. Apaan sih, beda gambar yang ini? aku masih bertanya-tanya. Lalu tiba-tiba Emely datang. Hei! Gimana gambarnya? Sukses? tanya Emely. Wah, kebetulan banget, nih! Emely, apa gambarku lebih baik? aku bertanya sambil menebalkan gambar yang aku buat. Emely yang aku tanyai mengambil dan mengoreksi gambarku. Layaknya seorang komikus professional. Bravo! Lanjutkan lagi! Emely mensupport-ku. Lalu dia berlalu melihat karya Zee. Eee tunggu Emely! pekikku memanggil Emely, dan dia pun menghampiriku. Apa lagi Vi? tanyanya sambil menyandarkan diri di kursi yang kosong.

Kenapa gambarku lebih bagus? Atau ini tipuan kalian? Ayo jelaskan! pintaku. Gambarmu yang kali ini lebih rapi. Lalu tata warnanya pas! Hey, gambarnya juga berubah dari yang sebelumnya! Dan yang paling berubah ceritanya nyambung dan memiliki arti dan makna yang bermanfaat! komentar Emely sambil menggerakgerakkan tangannya. Aku tidak menyangka, banyak sekali perubahan! Dan aku menjawab, Oke, makasih partisipasinya! Oya, satu lagi kalau ini aku kumpul ke Miss Mogy, apa mungkin bisa naik level A? tanyaku. Ya, iyalah! Aku juga dulu langsung kumpul bila Miss Dolley sudah memberi tanggapan positif. Ujarnya. Aku mengangguk dan berlari menuju lantai atas. Dan menuju kelas yang bertuliskan Manga Schools Level A. aku bertemu Miss Mogy dengan terengah-engah. Hah Hah Hah Miss Mogy, aku ingin mengumpulkan sketsa yang sudah siap ini, ucapku sambil menyodorkan beberapa lembar sketsa komikku. Karya baru, Viosa? tanya beliau sembari mengoreksi sketsa komik itu. Iya. Oya Miss, apa bisa langsung diberi pemberitahuan sekarang? Miss Mogy mengerutkan kening, Apa maksudnya? sekali lagi, Miss Mogy bertanya. Bahwa aku sudah bisa naik level atau belum,aku menjelaskan dengan singkat. Oooh ucapnya. Lalu beliau mengatakanbahwa tidak bisa sekarang. Sebab, Miss Mogy masih banyak kerjaan. Dan, kata Miss Mogy bahwa pengoreksian bisa memakan waktu sampai setengah jam. Wah, lama juga, ya! Aku terkejut ketika Emely sudah berada di tangga. Dia menghampiriku. Sudah dapat pemberitahuan? tanyanya. Aku bermuka senang, Belum sih tapi, sedang diperiksa Miss Mogy! Semoga bisa diterima! ujarku. Kami turun dari tangga sambil ngobrol. Gimana, udah dikasih? Gimana hasilnya? Zee seakan-akan tertular panyakit cerewet Miss Dolley.

Hoi sabar, sabar! Aku baru kasih, kok! Lagi dikoreksi sama Miss Mogy. Aku menjelaskan. Ah semoga bisa masuk nih! Emely yang mengerti perasaanku menyahut, Tenang, pasti masuk level A, kok! aku senang atas kata-kata Emely. Aku berusaha agar bisa tenang. Tapi susah! Ya, pasti semua orang pernah merasakan hal yang sama sepertiku. Kalian juga, kan? Woy bantuin, dong! Kan, kalian udah siap! panggil Zee. Aku dan Emely berlari menuju meja Zee. Sambil menunggu, aku ikut membantu Zee menyelesaikan sketsanya. Tiba-tiba Jacky, salah satu sahabatku, memberitahukanku bahwa Miss Mogy menungguku di ruangannya. Tiba-tiba, jantungku berdebar tak keruan. Kadang cepat, kadang lambat dan kadang normal. Akhirnya, aku ditemani Emely menuju ruangan Miss Mogy. Duduklah, pinta Miss Mogy. Gimana Miss, hasilnya?! Emely sudah keburu menyambar pertanyaan. Good Very Good! Ceritanya nyambung dan berkesan sahabat sejati. Garis tepi dan garis panelnya lurus dan bagus. Beraneka ragam, ya! Warnanya khas dan bagus. Adegannya bercampur dengan baik. Oke, dengan hasil bagus seperti ini, kamu bisa langsung naik level A tanpa harus ke level B! siap-siap bersaing dengan Emely, nih! jelas Miss Mogy panjaaang lebar. Ketika aku menatap Emely, dia mengerlingkan matanya. Lucu sekali! Sekarang berarti aku sudah level A! Wuih! Ini adalah level pematangan! Zee sudah menunggguku di bawah. Gimana? Masuk? dia memberiku pertanyaan yang bertubi-tubi. Dia mirip wartawan nyasar, nih! Miss Dolley yang berada di ambang pintu, menyambutku dengan sebuah sertifikat lulus level C. aku mengambilnya dengan senang hati. Ooow selamat, ya! Jangan mau kalah dari Emely. Nanti dia jadi rivalmu, lho! Miss Dolley memberiku sesuatu. Katanya, itu kenang-kenangan. Kenangkenangan itu berbentuk kubus kecil. Itu adalah kotak kado. Apaan ni Miss? tanyaku sambil memperhatikan kubus kecil itu.

Itu surprise! jawab Miss Dolley. Walau bingung, aku tetap mambawa kado kecil itu. Dan aku masukkan ke dalam tas selempangku. Hey, kamu harus langsung pergi ke atas! Kan, udah level A! atau mau terus disini? Emely tersadar dan menarik tanganku. Emely!! Sabar! Tasku saja belum kubawa! Lagi pula, aku ingin pamit dulu sama Miss Dolley, seruku melepaskan tangan Emely. Inilah kelas barumu. Kamu harus duduk di samping George! Lagian Cuma itu yang kosong. Dia mengantarku ke tempat duduk di samping George. George adalah anak yang pendiam tapi pintar! George, kenalin! Ini Viosa Lubyloss Magynne. Emely memperkenalkanku pada George si rambut pirang. Dia berjabat denganku dan hanya berkata, George, lalu kembali sibuk dengan pensilnya. Aku mendengus dengan jengkel. Jangan diambil hati. George emang kayak gitu. Kamu sendiri juga tau kan? Emely berhasil menenangkanku. Ya aku tahu aku menjawab dengan malas. Setelah lima menit memeriksa tasku, Emely memanggil dan mengisyaratkan bahwa Miss Mogy memanggilku. Spontan, aku mengangguk dan menyusul Emely. Aku menatap Emely yang tampak santai. Ada apa? tanyaku. Kamu tahu kan, arti apa yang aku isyaratkan tadi? balasnya. Iya, Miss Mogy memanggilku. Tapi, ada apa? kali ini, aku yang menjawab. Entahlah, tapi pasti bukan hal yang buruk! Tenanglah. Emely menepuk punggungku. Lalu kami kembali melewati koridor sekolah yang baru dicat. Ada apa, sih? Padahal kan, aku baru masuk level A. tapi, kok langsung dipanggil? Tanyaku dalam hati. Tapi, aku membuang firasat burukku. Nah akhirnya datang juga! Viosa, ini, ambillah! Miss Mogy memberiku seperangkat alat untuk membuat komik dari merek ternama. Aku terkejut sekaligus senang. Miss, ada apa ini? Apa saya memenangkan undian? tanyaku dengan mata berbinar ketika melihat seperangkat alat berkualitas tinggi itu.

Semua anak yang naik ke level ini, akan mendapat seperangkat alat berkualitas ini. ya termasuk kamu, dong!! penjelasan yang simpel, ya! Lalu kami keluar setelah aku berhasil membawa semua barang yang aku dapat. Lagian, banyak sekali!! Emely, apa kamu juga mendapat seperangkat alat komik ini ketika naik level?aku masih melihat alat-alat yang hebat itu. Ya iyalah! Kamu juga denger apa yang dibilang sama Miss Mogy, kan? He-eh. Aku menjawab dengan singkat. Oh, enak sekali rasanya naik ke level A. sebelum sampai di kelas level A, bel manga school berkumandang. Padahal, aku mau membuat komik baru. Ya aku harap lebih memuaskan dibanding yang sebelumnya. Sehari setelah aku masuk level A, aku mulai membuat komik baru yang berjudul Old Voice. Yang artinya, suara yang tua. Cerita ini menceritakan seorang detektif cilik bernama Boriou Amigos yang menyukai petualangan dan misteri, terperangkap dalam sebuah cerita misteri tentang kisah terbunuhnya salah satu penjahat yang disangka membunuh dirinya sendiri. Di sana, dia dapat membaca hal yang tepat dengan suara demi suara misterius yang didengarnya ketika memecahkan masalah demi masalah. Hingga mendapat suatu jawaban yang sulit dipercaya, tapi nyata. Cerita ini bercampur aduk dengan baik. Yaitu petualangan, misteri, horror, menyenangkan, sedikit humor dan menegangkan. Zee, Emely, Miss Mogy dan yang lainnya terperangah ketika membaca komik baruku tersebut. Banyak yang meminati dan bahkan membeli komik tersebut setelah aku cetak beberapa banyak. Viosa, kirim saja ke editor Miss Mogy. Namanya Mr. James! Miss yakin, pasti diterima. Ini kartu namanya, sesuai saran Miss Mogy, aku mengirimkan karyaku tersebut. Astaga! Ternyata, memang diterima! Lebih dari seratus kopi terjual! Laris manis! Sejak saat Old Voice diterbitkan, aku membuat komik lainnya. Antara lain: Forever Friend, Girls Force, dan maaasih banyak lagi! Dan lagi, aku sudah bersaing dengan komikus lain yang sudah professional dan lebih tua. Sejak komikku laris manis, kehidupanku berubah total!

The Story of Halloween Semua berpakaian kostum. Ada yang drakula, vampire, Gatot Kaca, mumi, Black Girl, penguin, medusa, dan lain-lain. Lalu, lampu lampion, ukiran labu, suara jeritan buatan, dan coklat berbentuk aneka ragam. Ya, selamat halloween! Aku, Afellord Queera Madona, alias Era (kependekan dari Queera), sedang merayakan halloween bersama teman-temanku! Diantara teman-temanku, aku adalah Black Girl, yaitu putri kegelapan. Pada acara halloween kali ini, aku yang mengadakannya di rumah. Kami bermain pinata, makan kue coklat berbentuk labu, dancing party, dan maaasih banyak lagi! Ini adalah halloween yang paling mengesankan! Tapi, diam-diam, aku dan teman-temanku kecuali Thamara, membuat sebuah kejutan! Karena Thamara ulang tahunnya bertepatan dengan halloween, jadi kami membuat kejutan. Ini rencananya: kami diam-diam membuat kue ulang tahun sederhana bertema halloween. Kami semua membawa kado. kami juga membuat tulisan Happy Birthday, Thamara! Pada sebuah kertas panjang yang besar! Ketika kertas besar itu akan diturunkan, kami semua meniup terompet dan beberepa temanku membawa kue yang kami buat. Thamara sangat suka kejutan. Makanya, kami membuat kejutan. Itu rencana yang hebat, bukan? acara pinata sudah selesai. Sekarang, aku dan teman-teman akan makan coklat! Wuih, halloween memang hebat! Guys, kan udah selesai, nih! Makan coklat yuk! aku memanggil temantemanku. Yeeeaah!! seru mereka sambil melompat. Ada yang mengambil yang berbentuk labu, hati, pedang, ada juga yang memilih bentuk peti mati. Itu semua coklat buatan kami, lho! Era, ini siapa yang buat? Enak banget! pekik Jonas. Yang buat? Aku, Melly, Mitchie, Darwin, dan Clove. Itu aja, kok! jawabku sambil menggerakkan jari.

Darwin?!?! Si pinter nan sombong itu ikut ngebantu? Wah, nggak beres nih! Jonas menjawab sambil terbahak-bahak. Aku hanya geleng-geleng kepala dan membalas, Nggak segitunya kali! Kamu itu lebay! balasku sambil berdiri dan meletakkan piring coklat ke tempat cucian piring. Stella, pembantuku, mencuci dengan santai. Dia sudah biasa melihat segunung piring seperti itu. Lalu, acara kembali meriah. Aku berharap ini halloween yang lebih menyenangkan dibanding yang dulu, ketika berada di rumah Mitchie. Oya, kalian sudah pernah merayakan halloween, kan? Wah, kalu aku sih, sejak masuk SD, itu kebiasaan wajib kami setiap tahun! Thamara mana? Dia datang, kan? aku berbisik pada Melly. Ya, tapi, dia tampak murung. Sepertinya sih, ada masalah. Sekalipun dia pernah murung, tapi nggak separah ini, kan? Melly menjawab dengan cemas. Dia takut kalau Thamara lagi bad mood. Kuharap, nanti tidak terjadi hal yang tidak menyenangkan, kataku sambil mengembuskan nafas. Ya, aku harap juga gitu. Semoga aja. Melly mulai berlalu. Kuharap ini tidak buruk ujarku. Yah semoga aja. Apa yang terjadi? tanya Clove sambil memakan coklatnya yang berbentuk peti mati. Kuharap, ini bukan tanda-tanda yang buruk, jawabku yang masih cemas. Hoi, emangnya kenapa, sih?! Clove makin penasaran. Sabar, dong! Kamu liat gak, dari tadi Thamara itu dieeem aja! Ga kayak waktu halloween tahun lalu. Kalo dulu, dia sampe berantem sama Toddy, biar bisa mukul pinata! aku menjelaskan dengan cepat. Iya juga, ya dari tadi diem terus tuh anak! Kenapa nggak kita samperin aja? Iya kan? tanya Clove manggut-manggut. Dia berdiri dan mengeluarkan satu langkah menuju kursi dimana Thamara duduk. Tapi aku sempat mencegahnya. Dia menatapku bingung ketika aku mengisyaratkan padanya agar jangan dulu bertanya. Karena, Thamara itu sensitif. Kenapa? Ada yang salah kalau aku bertanaya? dia menatapku jengkel.

Jangan salah sangka dulu, dong! Kamu sendiri juga tahu kan, Thamara itu sensitif? aku menatap Clove tajam. Dia mengangguk seakan tak berdaya. Kalau kamu tanya sekarang, sama aja kamu masuk ke kandang singa tanpa pengarahan petugas. Malah Thamaranya nggak mau buka mulut! Kalau Thamara lagi marah, kamu tahu akibatnya kan? Aku tahu kamu itu tipe orang yang mudah penasaran. Tapi, kamu harus jaga sikap juga, dong aku menjelaskan. Iya, iya nggak usah pidato, ya keluh Clove. Aku hanya memutar bola mataku dengan jengkel. Terserah, jawabku sambil memakan pudding coklat dan vanilla. Sebenarnya, aku masih cemas. Akhirnya kami merencanakan bahwa acara ulang tahun Thamara dipercepat. Inilah saatnya!! Treeet! Trreeet!! Terompet kami bunyikan. Kertas besar dan panjang itu kami turunkan. Sebenarnya kertas besar itu kami gantung di atas perapian. Clove, aku, Melly, dan Mitchie membawa kue. Setelah itu aku melihat bahwa Thamara tersenyum. Tapi, itu adalah senyuman yang dipaksa. Lebih baik, jangan ditanya dulu, deh ujarku dalam hati. Era, sebenarnya, Thamara kenapa, sih? bisik Mitchie. Aku hanya angkat bahu. Kami tetap membawa kue itu ke atas meja. Oke, kapan ya, waktu yang tepat? aku bertanya pada diriku sendiri. Maksudmu? tanya Melly. Aku nggak nanya sama kamu, Mell aku menghela nafas. Oh tapi, aku yakin, maksud kamu itu, nanya Thamara kan? Kenapa dia murung ga jelas kayak gitu. Iya kan? dia menebak-nebak. Udah tahu, kenapa masih ditanya? ucapku dengan lemas. Aku tahu kapan waktu yang tepat. Ujarnya sambil tersenyum bangga. Aku mengangkat wajahku yang tadi menunduk. Aku mulai bersemangat. Kapan? tanyaku. Melly masih tersenyum. Sebelum menjelaskan, dia mengajakku untuk duduk di kursi yang sudah dihias. Tingkahnya seperti dokter yang mau menjelaskan penyakit pasien saja!

Ketika dia sudah mau bicara. Ketika makan kue, mungkin dia masih sedikit murung, kan? Disitulah waktu yang tepat! Karena sudah diberi kejutan, pasti sudah lebih baik, kan? Kalau kamu dekati, pasti dia mau! Soalnya, kalau orang sensitif itu, kalau lagi sedih, di situlah kelemahannya! Kamu dekati, lalu tanyai, apa yang terjadi! Melly menjelaskan dengan bangga. Tepat! Orang yang sensitif itu lemah ketika sedang sedih! Hebat juga kamu Mell! aku menepuk bahu Melly. Tepat ketika makan kue, Thamara masih duduk sendirian. Padahal harusnya dia kan, senang. Aku mulai mendekatinya. Hai Tham! Kenapa? Kok, dari tadi aku lihat kamu murung terus? tanyaku bersimpati. Thamara tersenyum padaku. Lalu dia menjawab, Hai tadi kamu bilang, kenapa dari tadi aku diem terus? dia menghilangkan senyumannya dan mulai bercerita. Maaf, ya mungkin kalian pikir, aku tidak senang dengan pesta kita tahun ini. tapi, jujur! Aku senang sekali! Kalian bisa membuatku lebih baik dari yang tadi. Aku jadi lebih tenang sekarang, ujarnya. Langsung ceritanya saja, deh! aku hampir memaksa Thamara. Tapi akhirnya dia mau buka mulut juga. Sebenarnya sebenarnya Bibi Ann mengalami penyakit stroke dari umur empat belas tahun! Sudah lima kali koma. Yaitu ketika umur lima belas, Sembilan belas, dua kali ketika berumur dua puluh lima, dan ketika umur tiga puluh enam! Yaitu sekarang! Sampai akhirnya ketika empat hari di rumah sakit Holie Hospital, Bibi Ann Thamara tidak melanjutkan kata-katanya. Aku ikut menunduk. Makanya kamu kemarin tidak masuk sekolah? Thamara mengangguk setelah kutanyai. Jangan dipikirkan lagi! Have fun aja! Kalau sedih terus, bagimu hidup ini tidak akan berwarna! Iya kan? aku berusaha menyemangati Thamara. Dia menatapku lekat-lekat. Dan tersenyum senang. Aku tahu dia sudah jauh lebih baik. Thanks, Era! Kamu memang sahabat yang bisa menenangkan sahabat! ucapnya. Dia memelukku dengan mata yang berlinang air mata. Aku membalasnya, Nanti, pasti ada saat yang tepat ketemu Bibi Ann! Oya, daripada sedih terus, makan

cake-nya, dong! Enak, kan? aku menawari cake cokelat yang kami buat. Thamara mengangguk sambil melahap kue coklat tersebut. Kenapa sih, kamu itu sayang banget sama Bibi Ann? Menurutmu, apa yang istimewa dari beliau? tanyaku sambil mengharap jawaban Thamara. Kok, aku jadi banyak tanya? Bibi Ann wanita yang spesial. Ketika Shelvi sepupuku meninggal, Bibi Ann yang menenangkan aku. Ketika itu, Mom dan Dad pergi ke Itali. Abangku Charless Holmes berkuliah di Perancis. Aku sendiri di sini. Hanya Bibi Ann yang menemaniku. Lalu, ketika aku masih berumur empat tahun, Bibi Ann menolongku ketika aku hampir tertabrak. Yang paling istimewa darinya ketika aku pergi ke olimpiade tingkat Internasional. Hanya dia seoranglah yang menemaniku. Thamara hampir menangis lagi ketika dia menjelaskan keistimewaan Bibi Ann. Tetapi, dia berhasil menahan rasa sedihnya itu. Aku menepuk punggung Thamara. Ikut merasakan sedihnya hati Thamara. Coba pikir, gimana perasaan kita, kalau orang yang kita sayangi meninggalkan kita. Pasti sedih, kan? Ya, itulah perasaan Thamara sekarang. Aku berusaha menghapus rasa sedih Thamara. Setelah itu, akhirnya dia mau ikut dalam pesta tahun ini. pada halloween kali ini, aku mendapat pelajaran yang sangat berharga. Oya, happy halloween semuanya!