Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

Disusun oleh : Kelompok II

WIDI ANGG RIYANI KIMUN MEISIN BANGSAWAN


S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STIKES MUHAMMADIYAH MANADO TA. 2011 / 2012

KATA PENGANTAR Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat Rahmat dan karuniaNyalah, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik, tepat pada waktunya. Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Agama. Dalam penyelesaian makalah ini, kami banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang. Namun, berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan dengan cukup baik. Karena itu, sudah sepantasnya jika kami mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Rizal Arsyad, selaku Dosen mata kuliah Agama yang tidak lelah dan bosan untuk memberikan arahan dan bimbingan kepada kami setiap saat. 2. Orang Tua dan keluarga kami tercinta yang banyak memberikan motivasi dan dorongan serta bantuan, baik secara moral maupun spiritual. 3. Serta semua pihak yang ikut membantu dalam pencarian data dan informasi, baik secara langsung maupun tidak langsung, cetak maupun elektronik, yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Terima kasih atas semuanya.

Kami sadar, sebagai seorang mahasiswa yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan makalah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan makalah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Harapan kami, semoga makalah yang sederhana ini, dapat memberi pengetahuan mengenai Konsep Agama, Arti & Ruang Lingkup.

Manado, September 2011

Penyusun DAFTAR ISI

Halaman KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I i ii PENDAHULUAN 1

BAB II

PEMBAHASAN A. KONSEP AGAMA 2 B. ARTI AGAMA .. 2 C. RUANG LINGKUP . 3

BAB III

PENUTUP A. KESIMPULAN ............................................................................... 10 B. SARAN ...........................................................................................10

DAFTAR KEPUSTAKAAN 11

BAB I PENDAHULUAN . Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannnya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Dan sumber yang luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya sendiri. Misal Tuhan, Dewa, God, Syang-ti, Kami-Sama dan lain-lain atau hanya menyebut sifat-Nya saja seperti Yang Maha Kuasa, Ingkang Murbeng Dumadi, De Weldadige dll. Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri, yaitu:

menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasal dari Tuhan

menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dll yang diyakini berasal dari Tuhan

Dengan demikian diperoleh keterangan yang jelas, bahwa agama itu penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dalam pengertian agama terdapat 3 unsur, ialah manusia, penghambaan dan Tuhan. Maka suatu paham atau ajaran yang mengandung ketiga unsur pokok pengertian tersebut dapat disebut agama. Cara Beragama Berdasarkan cara beragamanya: 1. Tradisional, yaitu cara beragama berdasar tradisi. Cara ini mengikuti cara beragamanya nenek moyang, leluhur atau orang-orang dari angkatan sebelumnya.
4

Pada umumnya kuat dalam beragama, sulit menerima hal-hal keagamaan yang baru atau pembaharuan. Apalagi bertukar agama, bahkan tidak ada minat. Dengan demikian kurang dalam meningkatkan ilmu amal keagamaanya. 2. Formal, yaitu cara beragama berdasarkan formalitas yang berlaku di lingkungannya atau masyarakatnya. Cara ini biasanya mengikuti cara beragamanya orang yang berkedudukan tinggi atau punya pengaruh. Pada umumnya tidak kuat dalam beragama. Mudah mengubah cara beragamanya jika berpindah lingkungan atau masyarakat yang berbeda dengan cara beragamnya. Mudah bertukar agama jika memasuki lingkungan atau masyarakat yang lain agamanya. Mereka ada minat meningkatkan ilmu dan amal keagamaannya akan tetapi hanya mengenai hal-hal yang mudah dan nampak dalam lingkungan masyarakatnya. 3. Rasional, yaitu cara beragama berdasarkan penggunaan rasio sebisanya. Untuk itu mereka selalu berusaha memahami dan menghayati ajaran agamanya dengan pengetahuan, ilmu dan pengamalannya. Mereka bisa berasal dari orang yang beragama secara tradisional atau formal, bahkan orang tidak beragama sekalipun. 4. Metode Pendahulu, yaitu cara beragama berdasarkan penggunaan akal dan hati (perasaan) dibawah wahyu. Untuk itu mereka selalu berusaha memahami dan menghayati ajaran agamanya dengan ilmu, pengamalan dan penyebaran (dakwah). Mereka selalu mencari ilmu dulu kepada orang yang dianggap ahlinya dalam ilmu agama yang memegang teguh ajaran asli yang dibawa oleh utusan dari Sesembahannya semisal Nabi atau Rasul sebelum mereka mengamalkan,

mendakwahkan dan bersabar (berpegang teguh) dengan itu semua.

BAB II PEMBAHASAN

A. KONSEP AGAMA

Agama bukanlah sekedar apa yang kita lakukan dalam kesendirian" (solitariness), sebagaimana yang diutarakan Whitehead. Bukan pula faith atau commulative traditions sebagaimana penuturanW.C Smith. Namun agama adalah sinergi antara iman (aspek akidah), islam (aspek syariat) dan ihsan (aspek akhlak), sebagaimana yang diutarakan dalam hadist Jibril riwayat Bukhari dan Muslim. Sebab, disitu secara gamblang Rasulullah saw berkata itu adalah J ibril yg mengajarkan manusia tentang dien (agama) mereka. Ia adalah sebuah konsep yang ajeg dan teoritik. Dimana praktek keimanan tidaklah boleh serampangan, tapi mestilah bersandar pada wahyu yang merupakan perwujudan kehendak Tuhan (syariat). Sehingga diri dan dunia dapatlah disejahterakan dengan kehadiran para wakil Tuhan (Khalifah) yang berakhlak mulia. Tentu, ketiadaan salah satunya dapat dianggap sebagai praktek lemah agama, bahkanlebih jauh, dapat menyeret pelakunya pada praktek religiusitas yangrancu. Namun, praksis dari konsep agama yang komprehensif itu kian kabur disekitar kita. Bias oleh nafsu, dan bermacam idil buatan manusia. Sehingga, sebagai negeri pengirim jamaah haji terbesar misalnya, Indonesia pun terkenal sebagai sarang koruptor. Disitu terlihat, bagaimana syariat haji tak berkorelasi dengan akhlak anti korupsi. Shalat tak menghasilkan kesalehan, itu pun lazim dalam masyarakat kita. Belum lagi soal gibah (gosip) yang kian menjadi hiburan terfavorit masyarakat, syirik juga. Pergaulan bebas yang kian membudaya, pemimpin yang tak dapat dipercaya, dsbnya. Sungguh, sebuah anomali di negeri yang mayoritas Muslim ini. Sebuah praktek beragama semu khas kita.

Itu tentu menegasikan apa yang pernah ditegaskan Rasulullah saw: Tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (H.R. Thabrani). Menganulir fungsi Muhamad saw sebagai uswatun hasanah, juga teladan dari generasi terbaik ummat ini tentunya. Menyebabkan fungsi agama kian kabur, dan eksistensi agama semakin sering dipertanyakan.

Muncul dan kian maraknya definisi-definisi agama yang baru dan rancu, juga kemunculan berbagai aliran sesat, itu sebenarnya merupakan refleksi dari kebingungan akan fungsi agama itu sendiri Untuk itulah ummat Islam mesti menjawabnya, bukan hanya dengan retorika kata dan logika, tapi dalam praktek konkrit dikeseharian kita. Agar fungsi dan makna agama dapat terpapar nyata dengan sendirinya. Itulah beragama yang sebenarnya, yang juga merupakan dawah sejati.

Maka tak perduli pada kemampuan menapak angin, menyembuhkan orang sakit, atau menemukan barang yang hilang, bila seseorang itu jarang shalat atau tak pandai mengaji, maka ia adalah pesulap, tukang obat atau dukun syirik. Bukan waliulllah sama sekali.

B. ARTI AGAMA Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta gama yang berarti "tradisi".[1]. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan Definisi

Definisi tentang agama dipilih yang sederhana dan meliputi. Artinya definisi ini diharapkan tidak terlalu sempit atau terlalu longgar tetapi dapat dikenakan kepada agamaagama yang selama ini dikenal melalui penyebutan nama-nama agama itu. Untuk itu terhadap apa yang dikenal sebagai agama-agama itu perlu dicari titik persamaannya dan titik perbedaannya Agama di Indonesia Enam agama besar yang paling banyak dianut di Indonesia, yaitu: agama Islam, Kristen (Protestan) dan Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Sebelumnya, pemerintah Indonesia pernah melarang pemeluk Konghucu melaksanakan agamanya secara terbuka. Namun, melalui Keppress No. 6/2000, Presiden Abdurrahman Wahid mencabut larangan tersebut. Tetapi sampai kini masih banyak penganut ajaran agama Konghucu yang mengalami diskriminasi dari pejabat-pejabat pemerintah. Ada juga penganut agama Yahudi, Saintologi, Raelianisme dan lain-lainnya, meskipun jumlahnya termasuk sedikit. Menurut Penetapan Presiden (Penpres) No.1/PNPS/1965 junto Undang-undang No.5/1969 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan Penodaan agama dalam

penjelasannya pasal demi pasal dijelaskan bahwa Agama-agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk Indonesia adalah: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Meskipun demikian bukan berarti agama-agama dan kepercayaan lain tidak boleh tumbuh dan berkembang di Indonesia. Bahkan pemerintah berkewajiban mendorong dan membantu perkembangan agama-agama tersebut. Sebenarnya tidak ada istilah agama yang diakui dan tidak diakui atau agama resmi dan tidak resmi di Indonesia, kesalahan persepsi ini terjadi karena adanya SK (Surat Keputusan) Menteri dalam negeri pada tahun 1974 tentang pengisian kolom agama pada KTP yang hanya menyatakan kelima agama tersebut. Tetapi SK (Surat Keputusan) tersebut telah dianulir pada masa Presiden Abdurrahman Wahid karena dianggap bertentangan dengan Pasal 29 Undang-undang Dasar 1945 tentang Kebebasan beragama dan Hak Asasi Manusia.

Selain itu, pada masa pemerintahan Orde Baru juga dikenal Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang ditujukan kepada sebagian orang yang percaya akan keberadaan Tuhan, tetapi bukan pemeluk salah satu dari agama mayoritas. Dinul Islam mengandung pengertian yang dalam dan sangat luas. Dengan demikian bagi yang telah memahami dan menghayatinya, diharapkan dapat dengan ikhlas dan sadar mengamalkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Tujuan dinul islam merupakan suatu arah yang harus dicapai oleh setiap muslim dan muslimat. Dengan mengetahui tujuanya maka akan timbul gairah atau semangat mengabdikan diri kepada Allah SWT. Setiap umat harus mengetahui apa yang ada dalam ruang lingkup dinul Islam, seperti pengetahuan yang menjelaskan tentang sarana, amalan, pengabdian dan batas batas yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan RasulNya. Pengertian Dinul Islam dapat dilihat dari segi bahasa (lugat) dan dari segi istilah (terminologi).

1. Dari segi bahasa dinul Islam terdiri atas dua kata :

Pengertian ad-din dapat dilihat seperti ini :

a. Addin berarti peraturan, undang-undang, pedoman, agama, tata cara dan adat istiadat. Firman Allah SWT : Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. (QS. Al-Kafirun : 6)

b. Addin yang berarti pembalasan dan kiamat. Firman Allah SWT : Penguasa hari pembalasan (kiamat) (QS. Al-Fatihah : 4)
9

c. Addin yang berarti nasihat. Bersabda Rasulullah SAW : Dia itu nasihat. (Al-Hadist) Sementara pengertian Islam itu sendiri mempunyai (memiliki) empat arti dalam bahasa Arab.

a. Islam berasal dari kata :

Artinya : Selamat, keselamatan atau kesejahteraan. Firman Allah SWT : Dengan kitab itulah Allah SWT menunjukkan orang-orang yang mengikuti keridhaanNya kejalan keselamatan dan (dengan kitab itu pula) Allah SWT mengeluarkan orangorang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya dan menunjukkan mereka kejalan yang lurus. (benar) (QS. Al-Maidah : 16) b. Islam berasal dari kata :

Artinya : Tunduk, menyerah dan pasrah. Firman Allah SWT :

..... Katakanlah : Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan Semesta Alam. (QS. Al-An-am : 71) c. Islam berasal dari kata :

10

Artinya : Jenjang atau tangga. Firman Allah SWT : Ataukah mereka mempunyai tangga (kelangit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)...? (QS. At-Tur : 38) d. Islam berasal dari kata :

Artinya : Damai atau tentram. Firman Allah SWT :

Masuklah kedalam syorga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. (QS. Qaf : 34) 2. Dari segi istilah, dinul Islam diartikan seperti berikut ini : Addin atau Din ialah peraturan tau undang-undang yang mengatur hidup dan kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Allah (khalik) dan hubungannya dengan sesama umat manusia (makhluk) agar tidak mengalami kekacauan dan hambatan. Firman Allah SWT :

.... dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar). (QS. Al-Bayyinah : 5) Dinul Islam berarti peraturan atau pedoman yang datangnya dari Allah berupa wahyu kepada Rasul-Nya untuk seluruh manusia agar memperoleh keselamatan. Dengan tunduk atau pasrah kepada Allah, dinul Islam wajib dilaksanakan menurut tahap kemampuannya sehingga tercapai kedamaian dan kebahagiaan dunia sampai akhirat. Firman Allah SWT :

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar
11

agar Dia memenangkannya ditas segala agama-agama meskipun orang musyrik benci. (QS. As-Saf : 9) Ulama besar, Syekh Al-Azhar Mesir yaitu Al-Ustadz Mahmud Syaltut, dalam bukunya : Al-Islam Akidah Was Syariah memberikan tarif (definisi) agama Islam sebagai berikut : Islam adalah agama Allah yang diwasiatkan untuk diajarkan prihal pokok-pokok serta peraturan-peraturan kepada Nabi Muhammad SAW dan memerintahkan untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia dan menyerukan agar umat manusia memeluknya. (Dari buku AL-Islam Akidah Was Syariah.) Tujuan Dinul Islam: Berupaya mengetahui tujuan dinul Islam merupakan suatu keharusan bagi seorang hamba muslim karena dapat menimbulkan gairah mengamalkannya. Tujuan dinul Islam dapat disimpulkan menjadi empat macam, yaitu seperti berikut : 1. Dinul islam bertujuan agar setiap muslim mentaati peraturan Allah dan RasulNya serta peraturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Peraturan harus ditaati dan dilaksanakan. Hanya dengan mentaati dan melaksanakan peraturan tersebut hidup kita akan selamat di dunia sampai akhiriat. 2. Dinul Islam bertujuan agar setiap muslim beriman kepada Allah dan berakidah secara benar, menghindari kemusyrikan, kekhurafatan dan ketahayulan. Tunduk dan pasrah kepada-Nya untuk memperoleh hidayah dari Allah dengan disertai ikhtiar merupakan wewenang yang dianugerahkan Allah SWT kepada setiap manusia. 3. Dinul Islam bertujuan agar setiap muslim bertakwa, beribadah sesuai dengan tuntunan syariat yang didasarkan atas kemampuannya sebagai muslim. Dinul Islam tidak merupakan beban berat jika dilaksanakan dengan penuh keikhlasan, kesadaran dan pemahaman yang tinggi apalagi pengamalan ibadah mengenai jenjang kesanggupan. Mengenai kewajiban seorang mukmin didalam menjalankan ibadah dijelaskan oleh Allah dalam Friman-Nya sebagai berikut :

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah
12

memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.... (QS. Al-Hajj : 78) 4. Dinul Islam bertujuan agar setiap muslim berakhlak mulia, beramal shaleh, bergaul dan memelihara hubungan dengan semua mahkluk Allah. Selain itu, setiap muslim harus berusaha memelihara lingkungan dan melestarikannya untuk memperoleh kedamaian dan ketentraman. Perhatikan Hadist Nabi SAW berikut ini :

Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok pagi. (HR. Ibnu Asakir) Ciri Ciri Dinul Islam.

Dinul Islam memiliki ciri-ciri khusus yang menunjukkan adanya perbedaan agama Islam dengan agama lainnya di dunia ini. Ciri-cirinya adalah Islam sebagai agama fitrah, penyempurnaan agma lain, pendorong kemajuan dan sebagai pedoman hidup. a. Islam sebagai Agama Fitrah

Agama fitrah artinya agama yang sesuai dengan tuntutan fitrah manusia. Misalnya, tentang kebersihan, Islam memerintahkan agar penganutnya berkhitan untuk menjaga kebersihan dalam ibadah. Menjaga kebersihan itu sendiri merupakan fitrah manusia. Sesuai firman Allah SWT

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) dan (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan

13

pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Rum : 30) b. Islam sebagai Penyempurna Agama Lain.

Dinul Islam menyempurnakan agama sebelumnya. Syariat dinul Islam sangat luas, apa yang belum pernah diajarkan oleh Nabi-nabi terdahulu, dalam dinul Islam diajarkan, misalnya adanya muamalat, waris dan munakahat dalam Islam yang diatur secara rapi. c. Islam sebagai Pendorong Kemajuan.

Dinul Islam sangat mendorong pemeluknya utnuk menggunakan akal. Al-Quran menyebutkan berkali-kali tentang peranan akal pikiran, misalnya : - Apakah kamu tidak memikirkan ?

- Apakah kamu tidak melihat ?

- Coba perhatikan bagaimana unta diciptakan.

d. Islam sebagai Pedoman Hidup :

Syariat dinul Islam memberikan tuntunan cara beriman yang benar dan bertuhan yang jelas. Syariat dinul Islam juga memberikan tuntunan dalam beribadah untuk melakukan pengabdian kepada Allah secara teratur dengan waktu yang teratur pula dan mensucikan harta yang tidak mementingkan diri sendiri, tetapi ada aturannya, seperti zakat, infak dan hadanah (memilhara anak). Demikianlah ciri-ciri dinul Islam yang secara ringkas dan masih perlu dijelaskan lebih luas lagi tentunya.

C. RUANG LINGKUP AGAMA


14

Para ilmuwan antropologi mengatakan agama sama dengan religi agama adalah sistem kepercayaan kepada yang gaib. Pernyataan definisi diatas adalah definisi yang kecil sekali karena hanya menjelaskan aspek spiritual definisi diatas mereka simpulkan demikian karena mereka mengamati agama-agama kebudayaan seperti Hindu, Budha, Sinto, Tao, Wicca, Voodoa, Aztec, Indian dan sebagainya. Mereka juga mengambilnya dari Yahudi dan Kristen yang spiritual belaka. Kalau kita tanya kepada orang-orang yang beragama dengan tekun, akan kita temukan justru agama itu sesuatu yang sangat besar melampaui sains, filsafat dan alam semesta. Agama adalah sistem Ilmu Pengetahuan yang mencakup Tuhan, malaikat, alam gaib dan alam semesta. Alam semesta mencakup energi, makhluk hidup, manusia dan masyarakat. Agama meliputi Pengetahuan tentang semua itu dan peraturan-peraturan yang berlaku di dalamnya sebagai hukum Tuhan. Pandangan ini merupakan pandangan yang luas bagi seorang yang beragama dengan kuat, teguh dan mantap. Dia memandang hidup sebagai aktivitas yang bertujuan untuk mengabdi kepada Tuhan yang telah memberi hidup. Dia memandang alam semesta sebagai ciptaan Tuhan untuk beribadah kepada Tuhan. Fungsi religius alam semesta adalah beribadah kepada Tuhan, sedangkan fungsi materiil benda-benda ada 2:

Bagi benda-benda yang berhubungan manusia, fungsinya adalah sebagai alat

bantu pekerjaan manusia untuk beribadah, aktivitas hidup dan sosial. Bagi benda-benda yang tidak berhubungan dengan manusia, fungsinya menjaga kestabilan alam semesta sesuai hukum Allah.

Pandangan diatas mengatasi sains filsafat. Dengan begitu paket informasi/ilmu pengetahuan dapat disusun sebagai berikut: Agama: ilmu pengetahuan mengenai segala hal, mencakup sampai ketuhanan, metafisika dan fisika. Filsafat : Ilmu pengetahuan teori ilmu pengetahuan dan realitas

15

Ilmu alam : Ilmu pengetahuan deskripsi struktur materi, energi, perilakunya di alam semesta.

Ilmu hayat : Ilmu pengetahuan deskripsi struktur kehidupan di dunia (bumi).

Ilmu sosial : Ilmu pengetahuan dan aktivitas manusia yang sosial.

Antropologi : Ilmu yang mempelajari manusia sebagai makhluk hidup dan keberadaan yang unik. Dengan begitu agama merupakan pandangan yang global. Meskipun tiap manusia mempunyai pandangan hidup sendiri sesuai genetik, lingkungan, pengetahuan, pengalaman dan riwayat hidupnya, agama memberikan sistem ilmu pengetahuan yang menyeluruh dan abadi melebihi seumur hidupnya. Oleh karena itu memiliki agama merupakan suatu hal yang amat penting. Agama memberikan pengetahuan, tujuan dan panduan hidup agama mengisi kelatihan hati manusia akan pujaan. Agama memenuhi kekosongan hidup manusia yang tak bisa diisi oleh materi sebagaimana kasus-kasus orang-orang sukses tapi hidupnya hampa.

Agama bukan candu seperti kata Marx. Agama bukan angan-angan kosong khayalan yang memberi utopia pada golongan tertindas atau teror mental bagi penjahat. Tapi agama adalah hal abstrak yang akal manusia sendiri menerimanya. Agama adalah wadah bagi ilmu pengetahuan yang dengannya ilmu pengetahuan menjadi bermakna, berarti dan bertujuan bagi hidup manusia. Jadi agama seperti air untuk mengisi kehausan dan kehidupan.

Ruang Lingkup Dinul Islam

16

Ruang lingkup dinul Islam mencakup sarana dan prasarana, amalan ibadah dan batasbatas dinul Islam. Sarana dan prasarana apa saja yang dibutuhkan, amalan ibadah yang bagaimana yang harus dikerjakan serta batas-batas mana yang wajib dijauhi oleh setiap muslim, inilah ruang lingkup dinul Islam. Untuk mengetahui ruang lingkup dinul Islam, berikut ini diuraikan sebuah Hadist Rasulullah SAW serta sejarah disabdakannya (as babul wurudnya) : Pada suatu hari, kami (Sayyidina Umar r.a. dan para Sahabat) duduk duduk bersama Rasulullah SAW, lalu muncul dihadapan kami seroang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda perjalanan. Tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah dan kedua telapak tangannya diletakkan diatas paha Rasulullah SAW, seraya berkata : Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam. lalu Rasulullah SAW menjawab : Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan mengerjakan haji apabila mampu. Setelah itu dia bertanya lagi : Kini beritahu aku tentang iman. Rasulullah SAW menjawab : Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari kiamat dan beriman kepada qadar baik dan buruknya. orang itu lantas berkata : Beritahu aku tentang ikhsan. Rasulullah menjawab : Beribadah kepada Allah seolahlah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, kerena sesungguhnya Allah melihat anda. Dia bertanya lagi : Beritahu aku tentang Assaah (azab kiamat). Rasulullah menjawab : Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya. setelah itu dia betanya lagi : Beritahu aku tentang tanda-tandanya. Rasulullah menjawab : Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung gedung bertingkat. setelah itu oran gitu pergi menghilang dari padangan mata, lalu Rasulullah SAW bertanya kepada Sayyidina Umar r.a. : Hai Umar, tehukah kamu siapa orang yang bertanya tadi? lalu aku (Umar r.a.) menjawab : Allah dan Rasulnya lebih mengetahui. Rasulullah SAW lantas berkata : Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian. (HR. Muslim)

17

Dari kisah tersebut dapat diketahui bahwa ruang lingkup dinul Islam meliputi rukun Islam, rukun iman dan ihsan. Ihsan merupakan masalah pengabdian, ketaatan kepada Allah, Rasul dan sesama makhluk. Ibadah am (umum) atau setiap ibadah termasuk dalam ihsan yang menumbuhkan takwa, keikhlasan dan kesadaran. Peringatan Rasulullah SAW tentang hancurnya lingkungan akibat umat lalai terhadap hari akhir. Perhatikan Firman Allah SWT : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu, (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklat (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuata kerusakan di muka bumi sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qasas : 77)

Adapun yang menjadi batas-batas dinul Islam ialah segala yang berakibat kerusakan, baik terhadap diri sendiri maupun masyarakat dan lingkungan. Demikian juga yang dilarang dan diharamkan sebab semua itu mendatangkan kerusakan. Bersabda Rasulullah SAW

..... dan sesungguhnya bagi setiap Raja memiliki batas berupa larangannya. Ingatlah larangan Allah adalah apa-apa yang diharamkan-Nya.... (HR. Bukhari dan Muslim)

18

BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN Agama bukanlah sekedar apa yang kita lakukan dalam kesendirian" (solitariness), sebagaimana yang diutarakan Whitehead. Bukan pula faith atau commulative traditions sebagaimana penuturan W.C Smith. Namun agama adalah sinergi antara iman (aspek akidah), islam (aspek syariat) dan ihsan (aspek akhlak), sebagaimana yang diutarakan dalam hadist Jibril riwayat Bukhari dan Muslim. Sebab, disitu secara gamblang Rasulullah saw berkata itu adalah Jibril yg mengajarkan manusia tentang dien (agama) mereka. Ia adalah sebuah konsep yang ajeg dan teoritik. Dimana praktek keimanan tidaklah boleh serampangan, tapi mestilah bersandar pada wahyu yang merupakan perwujudan kehendak Tuhan (syariat). Sehingga diri dan dunia dapatlah disejahterakan dengan kehadiran para wakil Tuhan (Khalifah) yang berakhlak mulia.

SARAN

19

DAFTAR KEPUSTAKAAN

MH, Amin Jaiz, Pokok-pokok Ajaran Islam, Korpri Unit PT. Asuransi Jasa Indonesia Jakarta, 1980

Monier Williams, 1899, A Sanskrit English Dictionary. Oxford University Pressa

20