Anda di halaman 1dari 3

Contoh bahan korosif yang berwujud cair:

Asam mineral: asam nitrat, asam klorida, asam sulfat, asam fosfat, asam florida Asam organik: asam formiat, asam asetat, asam monokloro asetat Pelarut organik: petroleum, hidrokarbon tetraklorinasi, karbondisulfida, terpentin

Bahan Korosif Padat


Sifat korosif dan panas yang ditimbulkan akibat proses pelarutan adalah penyebab iritasi yang sangat tergantung pada kelarutan zat pada kulit yang lembab. Contoh zat korosif yang berwujud padat adalah :

Basa: NaOH, KOH, Natrium silikat, asam karbonat, CaO, CaC2, Ca(CN)2 Asam: trikloroasetat Lain-lain: fenol, natrium, kalsium, fosfat, perak, nitrat

Bahan Korosif Gas Bentuk gas paling berbahaya dibandingkan dengan bahan padat atau cair, karena bahan gas akan menyerang saluran pernapasan yang ditentukan oleh kelarutan gas dalam permukaan saluran yang lembab atau berlendir. Jenis iritan dapat digolongkan pada kecilnya kelarutan yang juga menetukan daerah serangan pada alat pernapasan sebagai berikut:

Kelarutan tinggi, dengan daerah serangan pada bagian atas saluran pernapasan: amoniak, HCl, HF, formaldehid, asam asetat, sulfur klorida, tionil klorida, sulfuril klorida Kelarutan sedang, efek pada saluran pernapasan bagian atas dan lebih dalam (bronchin) : belerang oksida, klorin, arsen tri klorida, fosforpentaklorida Lain-lain, efek iritasi oleh mekanisme bukan pelarutan: akrolein, dikloroetil sulfida, dikloro metil eter, dimetil sulfat, kloro pikrin 8. CARA MENGGUNAKAN

1) Bahan tidak boleh dipanaskan langsung. Gunakan penangas uap atau penangas air. 2) Di laboratorium, sediakan dalam jumlah yang minimum. Pelarut yang tidak digunakan lagi dikembalikan ke botol pelarut. 3) Sediakan alat pemadam kebakaran. Bila terjadi kebakaran dengan api kecil gunakan kain basal atau pasir, tapi bila api besar gunakan alat pemadam. 4) Jangan membuang cairan yang mudah terbakar ke dalam bak cuci. 5) Pada saat memanaskan jangan mengisi gelas kimia dengan cairan mudah terbakar melebihi kapasitasnya. Gunakan batu didih guna menghindarkan ledakan/letupan. 6) Botol penyimpanan bahan mudah terbakar jangan diisi sampai penuh, sediakan 1/8 isinya untuk udara. Gunakan botol yang tidak mudah terbakar dan jauhkan dan sumber perapian.

7) Kontrol semua bahan secara periodik. 8) Menggunakan pelindung diri. 9) Memasang detektor kebocoran gas. 10) Cairan yang mudah terbakar hanya boleh dikeluarkan dengan bantuan gas inert

9.

CARA MENYIMPAN

1) Bahan padat mudah terbakar disimpan di tempat sejuk, dijauhkan dari sumber panas, bahan lembab dan air, bahan pengoksidasi atau asam. 2) Jangan menyimpan cairan mudah terbakar dekat dengan bahan pengoksidasi atau bahan korosif. 3) Tempat penyimpanan harus cukup sejuk, dengan tujuan mencegah nyala jika uapnya tercampur udara. 4) Daerah penyimpanan harus terletak jauh dari sumber panas dan terhindar dari bahaya kebakaran. 5) Bahan padat mudah terbakar disimpan di tempat sejuk, dijauhkan dari sumber panas, bahan lembab dan air, bahan pengoksidasi atau asam. 6) Jangan menyimpan cairan mudah terbakar dekat dengan bahan pengoksidasi atau bahan korosif. 7) Tempat penyimpanan harus cukup sejuk, dengan tujuan mencegah nyala jika uapnya tercampur udara. 8) Daerah penyimpanan harus terletak jauh dari sumber panas dan terhindar dari bahaya kebakaran. 9) Tempat penyimpanan harus terpisah dari bahan oksidator kuat, bahan yang mudah menjadi panas dengan sendirinya, atau bahan yang bereaksi dengan udara atau uap air yang lambat laun menjadi panas. 10) Di tempat penyimpanan tersedia alat-alat pemadam api dan mudah dijangkau. 11) Menyingkirkan semua sumber api dari tempat penyimpanan. 12) Pada daerah penyimpanan dipasang sambungan tanah/arde serta dilengkapi alat deteksi asap atau api otomatis dan diperiksa secara periodik. 13) Di daerah penyimpanan dipasang tanda dilarang merokok. 14) Fosfor kuning akan terbakar bila berhubungan dengan udara. Simpan dalam air dan kontrol selalu permukaan airnya karena permukaan air akan menurun akibat penguapan. 15) Logam K dan Na akan terbakar jika kontak dengan air, simpan didalam minyak paraffin. 10. EFEK 1. 2. 3. Keracunan Gas Kebakaran Ledakan

11. a)

CARA MENGATASI Menghilangkan bahan yang dapat terbakar.

b) Membuang panas. c) Mencegah masuknya oksigen ke dalam bahan yang terbakar. d) Jika apinya kecil, maka lakukan pemadaman dengan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). e) Mematikan sumber listrik. f) Melokalisasi api agar tidak merembet. g) Menghubungi PBK (Pertolongan Bahaya Kebakaran) jika api membesar. h) Bersikap tenang dalam menangani kebakaran, dan jangan mengambil tidakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. i) Membawa korban keracunan gas ke tempat terbuka, dan segera dibawa ke rumah sakit. j) Bila terjadi kebakaran logam Alumunium, Magnesium, dan Zink (seng) dalam keadaan murni, jangan gunakan pemadam berisi air tetapi gunakanlah serbuk pemadam.