Anda di halaman 1dari 25

ACARA I

PERBANYAKAN TANAMAN

Oleh: Nama NIM Kelompok Anggota : Muhamad Fahmi Faizal : A0A010043 :6 : Muhammad Denur Pratama Novi Cahyaningrum Umi Salamah Pebri Sribaskoro Muhamad Fahmi Faizal

(A0A010001) (A0A010003) (A0A010017) (A0A010037) (A0A010043)

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Salah satu teknik perbanyakan yang dapat dilakukan dalam waktu singkat dan jumlah yang banyak adalah dengan perbanyakan secara vegetative. Hal ini perlu dilakukan mengingat perbanyakan secara generatif (benih) menghasilkan bibit tanaman/turunan yang beraneka ragam karena berasal dari benih yang tidak diketahui mutunya. Sedangkan kualitas bibit merupakan suatu kriteria yang sangat penting untuk mencapai suatu produksi yang diinginkan dalam pembangunan hutan tanaman. Perbanyakan secara vegetatif dilakukan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada di bagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang dan daun sekaligus. Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan cara cangkok, rundukan, stek, okulasi dan kultur jaringan. Keunggulan perbanyakan ini adalah menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan pohon induknya. Selain itu, tanaman yang berasal dari perbanyakan secara vegetatif lebih cepat berbunga dan berbuah. Sementara itu, kelemahannya adalah membutuhkan pohon induk dalam jumlah besar sehingga membutuhkan banyak biaya. Kelemahan lain, tidak dapat menghasilkan bibit secara massal jika cara perbanyakan yang digunakan cangkok atau rundukan. Untuk menghasilkan bibit secara massal sebaiknya dilakukan dengan stek. Namun tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan cara stek dan tingkat keberhasilannya sangat kecil. Terlebih jika dilakukan oleh para hobiis atau penangkar pemula.

B. Permasalahan dan Tujuan a. Permasalahan Cara memperbanyak tanaman sangat banyak ragamnya. Perbanyakan tanaman bisa digolongkan menjadi tiga golongan besar yaitu, perbanyakan secara generatif, vegetatif, dan vegetatif-generatif. Perbanyakan tanaman bergantung pada beberapa faktor, misalnya cara perbanyakan, jenis tanaman, waktu memperbanyak, keterampilan pekerja, dan sebagainya. Perbanyakan generatif merupakan teknik perbanyakan tanaman yang menggunakan bahan berupa biji. Teknik menggunakan biji mempunyai kelemahan berupa ketidaksesuaian dengan induknya. Perbanyakan secara generatif membutuhkan waktu yang sangat lama. Perbanyakan vegetatif merupakan cara mengatasi ketidaksesuaian dengan induknya serta untuk mempersingkat waktu dalam perbanyakkan tanaman. Macam-macam teknik pembiakan secara vegetatif meliputi stek, cangkok, dan okulasi. Perbanyakan tanaman secara vegetatif sangat penting artinya untuk pengembangan klon dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kegiatan pemuliaan pohon karena, karanannya yang sangat besar dalam meningkatkan perolehan genetik bandingkan dengan benih hasil, penyerbukan alam (Shelbourne, 1992 dan Rimbawanto, 2000). Melalui pembiakan vegetatif kualitas genetik ing diperoleh melalui program pemuliaan dapat disebarluaskan secara lebih efektif (Umboh et al. 1990).

Perbanyakan Tanaman dengan Cara Stek Stek berasal dari kata stuk (bahasa Belanda) dan cuttage (Inggris) yang artinya potongan. Sesuai dengan namanya, perbanyakan ini dilakukan dengan menanam potongan pohon induk ke dalam media agar tumbuh menjadi tanaman baru. Bagian tanaman yang ditanam dapat berupa akar, batang, daun, atau tunas. Perbanyakan dengan stek mudah dilakukan karena tidak memerlukan peralatan dan teknik yang rumit. Keunggulan teknik ini adalah dapat menghasilkan tanaman baru dalam jumlah banyak walaupun bahan tanam yang tersedia sangat terbatas. Namun, tidak semua tanaman dapat

diperbanyak dengan stek. Hanya tanaman yang mampu bertahan hidup lama setelah terpisah dari pohon induknya saja yang dapat diperbanyak dengan tehnik ini. Misalnya anggur, kedondong, sukun, jambu air, markisa, alpukat, dan beberapa jenis jeruk serta tanaman hias seperti aglonema, dieffenbachia dan mawar. Sama seperti tanaman hasil perbanyakan cangkok, tanaman hasil perbanyakan stek juga tidak memiliki akar tunggang sehingga mudah roboh saat tertiup angin kencang. Oleh karena itu, tanaman hasil perbanyakan stek hanya dapat ditanam di lokasi yang permukaan air tanahnya dangkal. Berdasarkan asal bagian tanaman yang digunakan, ada beberapa macam setek. Yaitu stek batang, akar, tunas dan daun.

Perbanyakan Tanaman dengan Cara Cangkok Pencangkokan merupakan salah satu cara pembiakan vegetatif buatan yang dapat pula terjadi secara alamiah. Bagian tepi atau ujung batang yang terkulai cenderung berakar bila bersentuhan dengan tanah. Pembentukan akar pada pencangkokan dapat dipermudah dengan perlakuan seperti pelukaan, pengikatan, etiolasi, dan penyalah arahan dari batang yang mempengaruhi gerakan dan penumpukan auksin serta karbohidrat pada bagian batang tersebut. Bagian vegetatif tanaman dengan pencangkokan dapat dibedakan atas dua macam cara yaitu: pencangkokan dalam tanah dan pencangkokan di atas tanah. Keuntungan pencangkokan di dalam tanah adalah tanaman menyediakan tunas-tunas cangkokan dengan karbohidrat, hormon, air, dan zat-zat hara sampai tunas-tunas tersebut berkembang hingga akar dan daun mencukupi untuk berkembang sendiri. Cangkokan di dalam tanah dikenal beberapa cara yaitu: tip layerage, simple layerage,simple layerage,trench layerage, serpentine layerage, dan mount layerage. Pencangkokan di atas tanah ada beberapa macam, yaitu air layerage, pot layerage, chinese layerage, marcottage layerage. Keuntungan pembiakan vegetatif dengan cara pencangkokan di atas tanah ada beberapa hal, yaitu: pohon yang tumbuh cepat menghasilkan buah, sifat-sifat

tanaman yang tumbuh sama dengan induknya. Di samping kebaikanya, cangkokan juga mempunyai kelemahan yaitu: pohon induk sering rusak bentuknya karena banyak cabang yang baik-baik diambil untuk cangkokan, hasil pohon induk akan menurun, dalam waktu yang singkat tidak dapat menyadiakan jumlah cangkokan yang banyak karena perkembangan tanaman jalanya sangat lambat, perakaran pohon

cangkokan kurang baik sehingga diperlukan sanggahan atau tunjangan, cangkokan sering kali tidak jadi/mati karena mencangkok memerlukan ketelitian kerja dan pemeliharaan dan bentuk cangkokan sukar dipelihara. (Rahardjo, 2004)

Perbanyakan Tanaman dengan Cara Okulasi Perbanyakan tanaman dengan cara okulasi paling banyak dilakukan dalam tanaman perkebunan terutama pada perkebunan karet dan kakao. Beberapa kelebihan dari perbanyakan tanaman dengan cara okulasi yaitu : Dengan cara diokulasi dapat diperoleh tanaman yang dengan produktifitas yang tinggi, Pertumbuhan tanaman yang seragam. Penyiapan benih relatif singkat. Pada musim gugur daun pada tanaman karet daun yang gugur dari satu klon agar serentak pada waktu tertentu, dengan demikian akan memudahkan pengendalian penyakit Oidium hevea bila terjadi. Kelemahan dari perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan cara okulasi yaitu : Terkadang suatu tanaman hasil okulasi ada yang kurang normal terjadi karena tidak adanya keserasian antara batang bawah dengan batang atas (entres), Perlu menggunakan tenaga ahli untuk pengokulasian ini, Bila salah satu syarat dalam kegiatan pengokulasian tidak terpenuhi kemngkinan gagal atau mata entres tidak tumbuh sangat besar. (Romadhon, 2008)

Masalah yang sering timbul dalam pelaksanaan teknik ini menurut Ashari (1995) adalah sukarnya kulit kayu batang bawah dibuka, terutama pada saat tanaman dalam kondisi pertumbuhan aktif, yakni pada saat berpupus atau daun-daunnya belum menua. Hal ini berkaitan dengan kondisi fisiologis tanaman. Sebaiknya okulasi dilakukan saat tanaman dalam kondisi dorman. Budding dapat menghasilkan sambungan yang lebih kuat, terutama pada tahun-tahun pertama daripada metode grafting lain karena mata tunas tidak mudah bergeser. Budding juga lebih ekonomis menggunakan bahan perbanyakkan, tiap mata tunas dapat menjadi satu tanaman baru (Hartmann etal, 1997). Metode budding yang sering digunakan antara lain okulasi sisip (chip budding), okulasi tempel dan sambung T (T-budding). Pemilihan metode tergantung pada beberapa pertimbangan, yaitu jenis tanaman, kondisi batang atas dan batang bawah, ketersediaan bahan, tujuan propagasi, peralatan serta keahlian pekerja (Ashari, 1995).

b. Tujuan 1. Untuk mengetahui perbanyakan tanaman secara asexual/vegetatif berupa stek, cangkok, dan okulasi, 2. Membandingkan pertumbuhan tunas-tunas yang tumbuh dari akar, batang dan daun, 3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap pertumbuhan akar, batang, dan daun pada pertumbuhan vegetatif.

BAB II PELAKSANAAN PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan 1. Alat Gunting stek Pisau/cutter Cungkir

2. Bahan Polibag Batang tanaman jambu biji (untuk okulasi) Batang tanaman jambu air (untuk cangkok) Tanaman lidah mertua (untuk stek daun) Media tanam Plastik Tali rafia

B. Prosedur Kerja 1. Penanaman setek: a. Meyiapkan tanaman sansivera dan memotongngnya hingga menjadi beberapa bagian. Kemudian potong bagian daun sensivera tersebut menjadi 5 bagian. Lalu menanamkan pada medium campuran dalam polibag, b. Memberi label pada polibag. Label memuat nama mahasiswa dan tanggal praktikum, c. Meletakkan polibag di tempat yang teduh atau di gedung greenhouse, d. Stek dipelihara sampai tumbuh dan diamati tinggi tanaman, panjang akar dan tunas.

2. Pencangkokan a. Memilih 1 batang pohon jambu air yang akan dicangkok, b. Melakukan penyayatan kulit pada batang tersebut, panjang sayatan 57 cm, hingga terlihat bagian kayunya, c. Setelah disayat, sayatan tersebut diisi dengan tanah dan dibalut dengan plastik atau kresek lalu diikat dengan tali rafia, d. Memelihara cangkokan dengan penyiraman air sampai tumbuh akar dan catat hasilnya.

3. Okulasi/budding/menempel a. Menyiapkan tanaman batang bawah yang sehat dan batang atas sebagai sumber mata tunas yang mempunyai sifat-sifat unggul, b. Mengiris atau menyayat batang bawah pada ketinggian 20-25 cm dari leher akar menyerupai huruf H dengan ukuran disesuaikan dengan ukuran mata tunas batang atas, c. Menyiapkan mata tunas batang atas dengan menyayat secara hati-hati berbentuk segi empat, d. Menempelakan mata tunas ke dalam batang bawah yang sudah disayat kemudian mengikat dengan menggunakan isolatip, e. Memelihara bibit yang telah diokulasi di tempat yang teduh, f. Setelah 2 minggu okulasi dibuka, jika okulasi tersebut berhasil selanjutnya dilakukan pemotongan batang bawah tepat 2-3 cm di atas mata tempelan,
g. Setelah batang bawah dipotong selanjutnya bibit tempelan dipelihara

dengan penyiraman secukupnya untuk mengetahui perrtumbuhan tunas tempelan tersebut.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Tabel Pengamatan Stek Daun Lidah Mertua Saat Muncul Tanaman Tunas/Anakan Daun Tinggi/Jmlh Akar/Jmlh Tunas/Jmlh Daun

Keterangan

Muncul akar 3 I minggu setelah tanam

Tinggi tan = 5,8 cm Jmlh akar = 2 Jmlh tunas = Jmlh daun = -

- Panjang akar bertambah sedikit demi sedikit, - Tunas belum keluar Salah dalam pengambilan

II

Mati

bagian tanaman yang dijadikan stek, kemungkinan terlalu muda - Panjang akar

Muncul akar 3 III minggu setelah tanam

Tinggi tan = 5,3 cm Jmlh akar = 2 Jmlh tunas = Jmlh daun = -

bertambah dari minggu ke minggu, - Tunas belum keluar - Panjang akar

Muncul akar 2 IV minggu setelah tanam

Tinggi tan = 7,8 cm Jmlh akar = 14 Jmlh tunas = Jmlh daun = -

bertambah dari minggu ke minggu, tunas belum keluar, - Jumlah akar

bertambah cepat Tinggi tan = 4,5 cm Jmlh akar = 2 Jmlh tunas = Jmlh daun = - Pertambahan panjang akar lambat, - Tunas belum keluar

Muncul akar 3 V minggu setelah tanam

Tabel Hasil Pengamatan Okulasi Tanaman Jambu Biji Saat Muncul Tunas Keterangan Mata entress tanaman jambu biji masih tumbuh Tanggal 17 November 2011 atau hidup karena baru saja dilakukan okulasi atau pemindahan mata entressnya. Tunas 1 Minggu setelah tanam berwarna coklat kehitam-hitaman

mungkin karena dari awal cara atau teknik okulasinya kurang tepat. Mata entress yang ada tunasnya akhirnya mati,

Gagal

kemungkinan tepat.

penempelannya

yang

kurang

Tabel Hasil Pengamatan Cangkok Tanaman Jambu Air Saat Muncul Tunas Akar Tanggal 21 Desember 2011 Keterangan - Dalam cangkokan, keluar bakal calon akar, - Akar berwarna putih. Plastik terkelupas, sehingga batang yang

Tanggal 28 Desember 2011

dicangkok kering dan akhirnya mati.

10

B. Pembahasan Cara memperbanyak tanaman sangat banyak ragamnya. Perbanyakan tanaman bisa digolongkan menjadi tiga golongan besar yaitu, perbanyakan secara generatif, vegetatif, dan vegetatif-generatif. Perbanyakan tanaman bergantung pada beberapa faktor, misalnya cara perbanyakan, jenis tanaman, waktu memperbanyak, keterampilan pekerja, dan sebagainya. Perbanyakan generatif merupakan teknik perbanyakan tanaman yang menggunakan bahan berupa biji. Teknik menggunakan biji mempunyai kelemahan berupa ketidaksesuaian dengan induknya. Perbanyakan secara

generatif membutuhkan waktu yang sangat lama. Perbanyakan vegetatif merupakan cara mengatasi ketidaksesuaian dengan induknya serta untuk mempersingkat waktu dalam perbanyakkan tanaman. Macam-macam teknik pembiakan secara vegetatif meliputi stek, cangkok, dan okulasi.

1. Stek Stek merupakan cara perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan dengan menggunakan sebagian batang, akar, atau daun tanaman untuk ditumbuhkan menjadi tanaman baru. Sebagai alternarif perbanyakan vegetatif buatan, stek lebih ekonomis, lebih mudah, tidak memerlukan keterampilan khusus dan cepat dibandingkan dengan cara perbanyakan vegetatif buatan lainnya. Cara perbanyakan dengan metode stek akan kurang menguntungkan jika bertemu dengan kondisi tanaman yang sukar berakar, akar yang baru terbentuk tidak tahan stress lingkungan dan adanya sifat plagiotrop tanaman yang masih bertahan. Keberhasilan perbanyakan dengan cara stek ditandai oleh terjadinya regenerasi akar dan pucuk pada bahan stek sehingga menjadi tanaman baru yang true to name dan true to type. Regenerasi akar dan pucuk dipengaruhi oleh faktor intern yaitu tanaman itu sendiri dan faktor ekstern atau lingkungan. Salah satu faktor intern yang mempengaruhi regenerasi akar dan pucuk adalah fitohormon yang berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh. Faktor intern yang paling penting dalam mempengaruhi regenerasi akar dan pucuk pada stek adalah faktor genetik. Jenis tanaman yang berbeda

11

mempunyai kemampuan regenerasi akar dan pucuk yang berbeda pula. Untuk menunjang keberhasilan perbanyakan tanaman dengan cara stek, tanaman sumber seharusnya mempunyai sifat-sifat unggul serta tidak terserang hama dan/atau penyakit. Selain itu, manipulasi terhadap kondisi lingkungan dan status fisiologi tanaman sumber juga penting dilakukan agar tingkat keberhasilan stek tinggi. Kondisi lingkungan dan status fisiologi yang penting bagi tanaman sumber diantaranya adalah: a. Status air. Stek lebih baik diambil pada pagi hari dimana bahan stek dalam b. kondisi turgid. c. Temperatur. Tanaman stek lebih baik ditumbuhkan pada suhu 12C hingga 27C. d. Cahaya. Durasi dan intensitas cahaya yang dibutuhkan tamnaman sumber tergantung pada jenis tanaman, sehingga tanaman sumber seharusnya ditumbuhkan pada kondisi cahaya yang tepat. e. Kandungan karbohidrat. Untuk meningkatkan kandungan karbohidrat bahan stek yang masih ada pada tanaman sumber bisa dilakukan pengeratan untuk menghalangi translokasi karbohidrat. Pengeratan juga berfungsi menghalangi translokasi hormon dan substansi lain yang mungkin penting untuk pengakaran, sehingga terjadi akumulasi zat-zat tersebut pada bahan stek. Karbohidrat digunakan dalam pengakaran untuk membangun kompleks makromolekul, elemen struktural dan sebagai sumber energi. Walaupun kandungan karbohidrat bahan stek tinggi, tetapi jika rasio C/N rendah maka inisiasi akar juga akan terhambat karena unsur N berkorelasi negatif dengan pengakaran stek (Hartmann et al, 1997). Faktor lingkungan tumbuh stek yang cocok sangat berpengaruh pada terjadinya regenerasi akar dan pucuk. Lingkungan tumbuh atau media pengakaran seharusnya kondusif untuk regenerasi akar yaitu cukup lembab, evapotranspirasi rendah, drainase dan aerasi baik, suhu tidak terlalu dingin atau panas, tidak terkena cahaya penuh (200-100 W/m2) dan bebas dari hama atau penyakit.

12

a. Stek Daun Lidah mertua (Sanseviera trifasciata var. Lorentii) merupakan salah satu tanaman hias yang banyak diminati masyarakat. Sebagai tanaman hias, sansevieria banyak dimanfaatkan sebagai tanaman penyerap polutan. Sansivieria umumnya diperbanyak dengan cara setek potongan daun. Teknik perbanyakan setek banyak dilakukan karena bahan induk yang digunakan relatif sedikit dan dapat menghasilkan bibit tanaman dalam jumlah yang besar. Tanaman yang dihasilkan mempunyai beberapa kelebihan, yaitu keseragaman umur, ukuran, tinggi, dan dapat memperoleh tanaman yang sempurna dalam waktu singkat. Setiap bagian tanaman dapat digunakan sebagai bahan setek. Pembentukan akar dan tunas pada setek merupakan indikasi berhasil atau tidaknya usaha penyetekan. Zat pengatur tumbuh dapat digunakan untuk mempercepat pertumbuhan akar dan tunas. Bahan awal perbanyakan yang dapat digunakan pada stek daun dapat berupa lembaran daun atau lembaran daun beserta petiol. Bahan awal pada stek daun tidak akan menjadi bagian dari tanaman baru. Penggunaan bahan yang mengandung kimera periklinal dihindari agar tanaman-tanaman baru yang dihasilkan bersifat true to type (Hartmann et al, 1997). Akar dan tunas baru pada stek daun berasal dari jaringan meristem primer atau meristem sekunder. Pada tanaman Bryophyllum, akar dan tunas baru berasal dari meristem primer pada kumpulan sel-sel tepi daun dewasa, tetapi pada tanaman Begonia rex, Saint paulia (Avrican violet), Sansevieria, Crassula dan Lily, akar dan tunas baru berkembang dari meristem sekunder dari hasil pelukaan. Pada beberapa species seperti Peperomia, akar dan tunas baru muncul dari jaringan kalus yang terbentuk dari aktivitas meristem sekunder karena pelukaan. Masalah pada stek daun secara umum adalah pembentukan tunas-tunas adventif, bukan akar adventif. Pembentukan akar adventif pada daun lebih mudah dibandingkan pembentukan tunas adventif (Hartmann, et al, 1997). Secara teknis stek daun dilakukan dengan cara memotong daun dengan panjang 7,5 10 cm (Sansevieria) atau memotong daun beserta petiolnya kemudian ditanam pada media (Hartmann et al, 1997). Untuk Begonia dan

13

Violces, perlakuan kimia yang umum dilakukan adalah penyemprotan dengan IBA 100 ppm. Pada praktikum kali ini, kelompok kami melakukan stek daun tanaman lidah mertua. Stek daun ini dibutuhkan tanaman lidah mertua yang masih muda atau jangan terlalu tua. Beberapa tanaman sensivera diambil bagian tengahnya untuk dijadikan stek daun. Kemudian siapkan 5 polibag yang sudah diisi dengan tanah untuk penanaman stek. Selanjutnya potongan daun/stek ditanamkan pada polibag dengan posisi berdiri (bekas potongan berada di bawah). Praktikum stek daun ini dilaksanakan pada tanggal 17 November 2011. Hasil pengamatan pada polibag I yaitu muncul akar 3 minggu setelah tanam dengan tinggi tanaman 5,8 cm (tetap) dan jumlah akar yaitu 2. Akar yang keluar halus dan berwarna putih. Pada stek ini panjang akar bertambah lambat dan tunas belum keluar. Pada polibag II, tanaman yang dijadikan stek ternyata mati setelah berumur 2 minggu. Padahal penyiraman terhadap stek tersebut rutin. Mungkin karena salah dalam pengambilan bagian tanaman yang dijadikan stek yaitu tanaman terlalu muda. Pada polibag III, muncul akar pada saat 3 minggu setelah tanam dengan tinggi tanaman yaitu 5,3 cm (tetap) dan jumlah akar sebanyak 2 buah. Akar tersebut berwarna putih dan panjangnya 3 cm. Perpanjangan akar bertambah cukup cepat dari minggu ke minggu. Tunas belum keluar sampai saat ini. Hasil pengamatan polibag IV, muncul akar 2 minggu setelah tanam dengan tinggi tanaman 7,8 cm (tetap) dan jumlah akarnya yaitu 14. Pertumbuhan stek ini baik, proses pertambahan panjang akar berlangsung cepat. Mungkin karena teknik stek yang dilakukan benar dan tepat. Tetapi, dalam stek ini masih juga belum keluar tunasnya. Pada polibag V, pertumbuhan akar lambat tetapi masih tetap hidup dan tumbuh. Jumlah akar 2 buah dan tinggi tanaman 4,5 cm (tetap). Pertambahan akar lambat mungkin karna salah dalam teknik penyetekan dan stek tersebut juga tidak diberi hormone pertumbuhan jadi tumbuhnya lambat.

14

Kemampuan setek membentuk akar dan tunas dipengaruhi oleh kandungan karbohidrat dan keseimbangan hormon yang tercermin pada C/N rasio (Salisbury dan Ross, 1995). Diduga bahan setek yang berasal dari bagian tengah memiliki rasio C/N yang ideal sehingga memberikan respon yang terbaik. Bahan setek dengan C/N rasio yang tinggi akan lebih mudah membentuk akar. C/N rasio yang tinggi menunjukkan kandungan karbohidrat atau cadangan makanan yang tinggi yang diperlukan pada awal pertumbuhan akar. Terbentuknya akar pada setek merupakan hal penting, karena untuk kelangsungan hidup setek sangat tergantung pada banyaknya akar yang terbentuk. Awal terbentuknya akar dimulai oleh adanya metabolisme cadangan nutrisi berupa karbohidrat yang menghasilkan energi yang selanjutnya mendorong pembelahan sel dan membentuk sel-sel baru dalam jaringan. Setiap tanaman memiliki kemampuan totipotensi dan dediferensiasi sehingga dapat menumbuhkan tanaman baru yang utuh. Pembentukan dan pertumbuhan tunas akan terjadi setelah akar terbentuk dengan baik. Setelah primordia akar terbentuk maka akar tersebut segera dapat berfungsi sebagai penyerap makanan dan titik tumbuhnya akan dapat segera menghasilkan zat pengatur tumbuh (sitokinin) yang diperlukan untuk menginduksi tunas. Kandungan karbohidrat bahan setek bagian tengah setelah terbentuk akar dimanfaatkan untuk menumbuhkan tunas.

b. Setek Batang Sebagian orang menyebut setek batang dengan setek kayu, karena umumnya tanaman yang dikembangbiakkan dengan setek batang adalah tanaman berkayu. Setek batang ini meliputi setek batang yang telah tua dan batang yang setengah tua. Digolongkan demikian karena ada beberapa tanaman yang hanya dikembangbiakkan dengan setek batang yang telah tua, tapi ada juga yang hanya dapat disetek batang tuanya adalah kedondong, jambu air, jambu semarang, beberapa jenis jeruk (seperti Rough Lemon, Japansche Citroen), buah negeri, markisa, delima, cermai, alpukat, dan anggur. Sedang tanaman yang dapat dikembangbiakkan dengan setek batang

15

biasanya memerlukaan batang yang setengah tua, misalnya bugenvil, melati, mawar, dan klerodendron. Walaupun demikian ada juga tanaman hias yang dapat diperbanyak dengan setek batang yang telah tua, misalnya kembang sepatu. Untuk memudahkan pertumbuhan akar pada setek ini, kadang-kadang kita juga perlu mengikutkan sebagian kayu dari cabang induk, sehingga setek batang ini tidak hanya lurus tetapi bertumit atau dapat berbentuk seperti martil. Setek yang mempunyai bentuk yang bertumit sering disebut setek bertumit, sedangkan setek yang mirip dengan martil disebut setek bermartil. Dua metode setek batang ini sering digunakan untuk memperbanayak tanaman yang mempunyai empulur banyak, dengan demikian dianggap perlu untuk menambah kayu pada dangkal setek agar karbohidrat yang tersedia berjumlah cukup. Seperti yang kita tahu bahwa peranan karbohidrat untuk membentuk perakaran sangat besar.

c. Setek Mata Setek mata yang juga sering disebut setek tunas ini, sebenarnya merupakan setek batang, hanya saja batang yang digunakan untuk setek hanya mempunyai satu mata. Dengan demikian umuran seteknya lebih pendek jika dibandingkan setek batang. Cara mengambil setek ini dengan memotong batang yang ada mataanya. Mata atau tunas harus dipilih yamg tumbuh subur dengan tanda-tanda bentuknya besar dan bulat. Pangkal dan ujung setek dipotong miring dengan sudut kemiringan 450 dan pangkalnya sekitar 1 cm. untuk memotongnya digunkan pisau yang tajam agar diperoleh potongan yang halus dan kulit tidak tersobek. Potongan yang tidak halus akan mempersulit terbentuknya kalus, sedang kulit batang yang tersobek akan mudah dimasuki penyakit. Hal yang demikian akan dapat menggagalkan setekan. Supaya tersedia makanan pada tahap pertama pertumbuhan setek tunas, maka batang dari setek ini sebagian harus diikutkan. Persediaan makanan memang sangat diperlukan, karena mengingat akar setek belum ada sehingga tidak bisa memperoleh makanan dari lingkunganya.

16

2. Okulasi Penempelan atau okulasi (budding) adalah penggabungan dua bagian tanaman yang berlainan sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh dan tumbuh sebagai satu tanaman setelah terjadi regenerasi jaringan pada bekas luka sambungan atau tautannya. Bagian bawah (yang mempunyai perakaran) yang menerima

sambungan disebut batang bawah (rootstock atau understock) atau sering disebut stock. Bagian tanaman yang ditempelkan atau disebut batang atas, entres (scion) dan merupakan potongan satu mata tunas (entres). Pada praktikum okulasi ini, dilakukan okulasi pada tanaman jambu biji. Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 17 November 2011. Pada saat itu mata entress tanaman jambu biji masih hidup (berwarna hijau) karena baru saja dilakukan okulasi atau pemindahan mata entressnya. Kemudian, 1 minggu setelah itu, mata entress atau tunas berwarna coklat kehitam-hitaman. Mungkin sudah terlihat tanda-tanda bahwa okulasinya tidak berhasil. Pada tanggal 28 Desember 2011, mata entress mati dan warnanya menjadi hitam karena salah dalam proses atau teknik okulasinya yang kurang tepat. Atau salah dalam pengambilan mata tunasnya, terlalu muda dan salah dalam pemotongannya. a. Syarat Batang Bawah Untuk Okulasi Dapat menggunakan biji asalan atau "sapuan" untuk menghasilkan batang bawah, tetapi ada varietas durian yang baik khusus untuk batang bawah yaitu varietas bokor dan siriwig, karena biji besar sehingga mampu menghasilkan sistem perakaran yang baik dan tahan terhadap busuk akar. Berdiameter 3-5 mm, berumur sekitar 3-4 bulan. Dalam fase pertumbuhan yang optimum (tingkat kesuburannya baik), kambiumnya aktif, sehingga memudahkan dalam pengupasan dan proses merekatnya mata tempel ke batang bawah. Disarankan penyiraman cukup (media cukup basah). Batang bawah dipupuk dengan Urea 1-2 minggu sebelum penempelan. Gunakan media tanam dengan komposisi tanah subur : tanah, pupuk kandang : sekam padi( 1:1:1).

17

Gunakan polybag ukuran 15x20 cm yang sanggup bertahan dari biji sampai 3 bulan siap tempel sampai dengan 3 bulan setelah tempel, setelah periode tersebut polybag harus diganti dengan ukuran yang lebih besar 20x30 cm, atau langsung ke polybag 30x40 cm tergantung permintaan pasar dan seterusnya semakin besar pertumbuhan tanaman harus diimbangi dengan ukuran besar polybag.Kecuali untuk alasan pengangkutan jarak jauh untuk efisiensi tempat kita gunakan polybag yang lebih kecil dari biasanya.

b. Syarat Batang Atas Untuk Okulasi Entres yang baik adalah yang cabangnya dalam keadaan tidak terlalu tua dan juga tidak terlalu muda (setengah berkayu).Warna kulitnya coklat muda kehijauan atau abu-abu muda. Entres yanng diambil dari cabang yang terlalu tua pertumbuhannya lambat dan persentase keberhasilannya rendah. Besar diameter cabang untuk entres ini harus sebanding dengan besarnya batang bawahnya. Cabang entres untuk okulasi ini sebaiknya tidak berdaun (daunnya sudah rontok). Pada tanaman tertentu sering dijumpai cabang entres yang masih ada daun melekat pada tangkai batangnya. Untuk itu perompesan daun harus dilakukan dua minggu sebelum pengambilan cabang entres. Dalam waktu dua minggu ini, tangkai daun akan luruh dan pada bekas tempat melekatnya (daerah absisi) akan terbentuk kalus penutup luka yang bisa mencegah masuknya mikroorganisme penyebab penyakit (patogen). Syarat lain yang perlu diperhatikan pada waktu pengambilan entres adalah kesuburan dan kesehatan pohon induk. Untuk meningkatkan kesuburan pohon induk, biasanya tiga minggu sebelum pengambilan batang atas dilakukan pemupukan dengan pupuk NPK. Kesehatan pohon induk ini penting karena dalam kondisi sakit, terutama penyakit sistemik mudah sekali ditularkan pada bibit. Entres diambil setelah kulit kayu cabangnya dengan mudah dapat dipisahkan dari kayunya (dikelupas). Bagian dalam kulit kayu ini (kambium) akan tampak berair, ini menandakan kambiumnya aktif, sehingga bila mata tunasnya segera diokulasikan akan mempercepat pertautan dengan batang bawah.

18

c. Faktor yang Menunjang Keberhasilan Okulasi Waktu terbaik pelaksanaan okulasi adalah pada pagi hari, antara jam 07.00-11.00 pagi, karena saat tersebut tanaman sedang aktif berfotosintesis sehingga kambium tanaman juga dalam kondisi aktif dan optimum. Diatas Jam 12.00 siang daun mulai layu.Tetapi ini bisa diatasi dengan menempel di tempat yang teduh, terhindar dari sinar matahari langsung. Kebersihan alat okulasi, silet yang akan digunakan langsung kita belah dua saat masih dalam bungkusan kertas, sehingga silet kita tetap dalam kondisi bersih satu belahan kita gunakan sedangkan belahan lainnya kita simpan untuk pengganti belahan silet pertama apabila dirasa sudah tidah tajam lagi. Perawatan alat okulasi, setelah digunakan silet dibersihkan dan dibungkus lagi dengan kertas pembungkusnya agar tidak berkarat.

d. Cangkok Mencangkok merupakan salah satu cara pembiakan vegetatif buatan yang bertujuan untuk mendapatkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan induknya dan cepat menghasilkan. Pencangkokan dilakukan dengan menyayat dan mengupas kulit sekeliling batang, lebar sayatan tergantung pada jenis tanaman yang dicangkok. Penyayatan dilakukan sedemikian rupa sehingga lapisan kambiumnya dapat dihilangkan (dengan cara dikikis). Setelah luka yang dibuat cukup kering, Rootone-F diberikan sebagai perlakuan agar bahan cangkokan cepat berakar. Media tumbuh yang digunakan terdiri dari tanah dan kompos dan dibalut dengan sabut kelapa atau plastik. Bila batang diatas sayatan telah menghasilkan sistem perakaran yang bagus, batang dapat segera dipotong dan ditanam di lapang. Menurut Rochiman dan Harjadi (1973), hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pencangkokan tanaman adalah: (1) waktu mencangkok, sebaiknya pada musim hujan karena tidak perlu melakukan penyiraman berulang-ulang, (2) Memilih batang cangkok, pohon induk yang digunakan adalah yang umurnya tidak terlalu tua atau terlalu muda, kuat, sehat dan subur serta banyak dan baik buahnya, (3) Pemeliharaan cangkokan, pemeliharaan sudah dianggap cukup bila media cangkokan cukup lembab sepanjang waktu.

19

Keuntungan pembibitan dengan sistem cangkok: a. Produksi dan kualitas buahnya akan persis sama dengan tanaman induknya, b. Tanaman asal cangkok bisa ditanam pada tanah yang letak air tanahnya tinggi atau di pematang kolam ikan, c. Sifat tanaman sama dengan induknya, d. Tekniknya mudah, e. Cepat menghasilkan bunga dan buah. Kerugian pembibitan dengan sistem cangkok: a. Pada musim kemarau panjang tanaman tidak tahan kering, b. Tanaman mudah roboh bila ada angin kencang karena tidak berakar tunggang, c. Pohon induk tajuknya menjadi rusak karena banyak cabang yang dipotong, d. Dalam satu pohon induk kita hanya bisa mencangkok beberapa batang saja, sehingga perbanyakan tanaman dalam jumlah besar tidak bisa dilakukan dengan cara ini, e. Dapat merusak tanaman induknya. Adapun kelebihan memakai bungkus plastik untuk membungkus cangkokan yaitu: 1. Relatif murah dan mudah diperoleh, 2. Kedap air sehingga media tetap basah dan tidak perlu disiram, 3. Pembungkus dari plastik mudah dilepas, 4. Akar-akar yang baru tunbuh dalam cangkokan tidak akan putus karena tidak melekat di plastik. Dalam pencangkokan, ranting harus dipilih harus berukuran sebesar pensil, usia sedang dengan tanda warna kulit kayu berwarna abu-abu, sehat, tidak ada tanda-tanda kena jamur atau serangan hama. Pengupasan kulit kayu harus dilakukan dengan hati-hati supaya jaringan pembuluh kayu tidak ikut terkerok. Pengupasan kulit kayu akan memutus aliran zat makanan dari daun, sehingga zat makanan akan menumpuk di dekat sayatan atas dan merangsang

20

pertumbuhan akar. Kegagalan dalam mencangkok dapat di sebabkan oleh beberapa faktor seperti: 1. Media cangkok terlalu basah yang disebabkan oleh pemerasan media kurang tuntas atau ada air hujan yang masuk ke dalam media cangkok dan tidak mengalir keluar. 2. Ranting menjadi kering dan mati karena waktu mengerok kambium jaringan pembuluh kayu ikut terkerok cukup banyak ranting tetap tumbuh subur, tetapi tidak tumbuh akar akibat pergerakan kambium kurang sempurna. Dalam keadaan yang seperti ini, akar tidak akan tumbuh, tetapi akan tumbuh kulit kayu baru di bagian ranting yang dikerok. Pada praktikum ini, pencangkokan dilakukan pada batang tanaman jambu air yang dilaksanakan pada tanggal 17 November 2011. Pencangkokan dimulai dengan memilih cabang yang memenuhi persyaratan untuk dicangkok. Pada tanggal 21 Desember 2011, dalam cangkokan sudah keluar bakal calon akar dan calon akar tersebut berwarna putih. Selanjutnya, pada tanggal 28 Desember 2011, plastik yang digunakan untuk membungkus cangkokan ternyata terkelupas, sehingga calon akar dan batang cangkokan kering dan akhirnya mati. Berdasarkan data di atas didapat bahwa hasil cangkokan mati mungkin karena cangkokan tidak disirami setiap hari dan karena sering terkena hujan yang deras sehingga plastik cangkokan terkelupas dan batang cangkokan kering dan mati. Bisa juga salah dalam teknik atau cara pencangkokan ketika waktu pengerokan kambium, jaringan pembuluh kayu ikut terkerok cukup banyak ranting tetap tumbuh subur, tetapi tidak tumbuh akar akibat pergerakan kambium kurang sempurna

21

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Dari hasil praktikum perbanyakan tanaman dapat disimpulkan: 1. Dalam praktikum penyetekan lidah mertua, pada polibag I muncul akar 3 minggu setelah tanam dengan tinggi tanaman 5,8 cm (tetap) dan jumlah akar yaitu 2. Pada polibag II, tanaman yang dijadikan stek ternyata mati setelah berumur 2 minggu. Pada polibag III, muncul akar pada saat 3 minggu setelah tanam dengan tinggi tanaman yaitu 5,3 cm (tetap) dan jumlah akar sebanyak 2 buah. Akar tersebut berwarna putih dan panjangnya 3 cm. tanaman pada polibag IV, muncul akar 2 minggu setelah tanam dengan tinggi tanaman 7,8 cm (tetap) dan jumlah akarnya yaitu 14. Pada polibag V, pertumbuhan akar lambat tetapi masih tetap hidup dan tumbuh. Jumlah akar 2 buah dan tinggi tanaman 4,5 cm (tetap). Semua stek daun lidah mertua belum keluar tunas dan pertumbuhannya rata-rata kurang baik. 2. Dalam okulasi jambu biji tidak berhasil okulasinya. Pada saat tanaman berumur 1 minggu setelah tanam, mata entress atau tunas berwarna coklat kehitam-hitaman. Mungkin sudah terlihat tanda-tanda bahwa okulasinya tidak berhasil. Pada tanggal 28 Desember 2011, mata entress mati dan warnanya menjadi hitam karena salah dalam proses atau teknik okulasinya yang kurang tepat. Atau salah dalam pengambilan mata tunasnya, terlalu muda dan salah dalam pemotongannya. 3. Cangkok pada tanaman jambu air awalnya tumbuh calon akat cangkokan pada tanggal 21 Desember 2011, dalam cangkokan sudah keluar bakal calon akar. Selanjutnya, pada tanggal 28 Desember 2011, plastik yang digunakan untuk membungkus cangkokan ternyata terkelupas, sehingga calon akar dan batang cangkokan kering dan akhirnya mati. Berdasarkan data di atas didapat bahwa hasil cangkokan mati mungkin karena cangkokan tidak disirami setiap hari dan karena sering terkena hujan yang deras sehingga plastik cangkokan terkelupas dan batang cangkokan kering dan mati. Bisa juga salah dalam teknik atau cara pencangkokan ketika waktu pengerokan
22

kambium, jaringan pembuluh kayu ikut terkerok cukup banyak ranting tetap tumbuh subur, tetapi tidak tumbuh akar akibat pergerakan kambium kurang sempurna

B. Saran Asisten dosen dalam menjelaskan tata cara praktikum perbanyakan seharusnya yang jelas.

23

DAFTAR PUSTAKA

______________. 2012. Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif : Setek Daun. (http://penyuluhthl.wordpress.com/2012/01/09/perbanyakan-tanaman-secaravegetatif-setek-daun/). Diakses pada tanggal 9 Januari 2012, pukul 22:27 WIB. Redaksi Agromedia. 2007. Kunci Sukses Memperbanyak Tanaman. Agromedia Pustaka. Jakarta. ______________. 2011. Sistem Perbanyakan Tanaman.

(http://www.silvikultur.com/Sistim_Perbanyakan_Tanaman.html). Diakses pada tanggal 13 Januari 2012, pukul 00:56 WIB. Romadhon. 2008. Perkembangbiakan Vegetatif: Sambung, Cangkok, dan Okulasi. (http://adnanlpp.wordpress.com/). Diakses pada tanggal 13 Januari 2012, pukul 01:18 WIB. Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Rochiman, K. dan S. S. Harjadi. 1973. Pembiakan Vegetatif. Departemen Agronomi Fakultas Pertanian IPB. Ramadiana, S. 2007. Respon Pertumbuhan Stek Lidah Mertua pada Pemberian Berbagai Konsentrasi IBA dan Asal Bahan Tanaman. UNILA. Lampung

24

LAMPIRAN

Gambar 1. Pencangkokan tanaman jambu air

Gambar 2. Okulasi taman jambu biji

Gambar 3. Stek daun tanaman lidah mertua

25