Anda di halaman 1dari 10

PRESENTASI KELOMPOK FEMINISME Gender Dalam Institusi Keluarga

Oleh :

1. Sendhi Bayu 2. Priscillia Marietta 3. Laras Ayu 4. Victor Efenly 5. Bachrudin Yusuf

362008019 362008035 362008040 362008064 362007066

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA 2012

PENGANTAR Memahami persoalan gender bukanlah hal yang mudah, tetapi diperlukan berbagai kajian yang bisa memberikan pemahaman yang benar tentang gender. Kajian-kajian yang sering digunakan untuk memahami persoalan gender adalah kajian-kajian dalam ilmu-ilmu sosial, terutama sosiologi. Dari berbagai kajian sosial inilah muncul berbagai teori sosial yang kemudian dijadikan sebagai teori-teori gender atau sering juga disebut teori-teori feminisme. Beberapa teori feminisme yang berkaitan dengan tema pembahasan Gender dalam insitiusi keluarga akan dipaparkan di bawah ini.

1. Teori Struktural-Fungsional Teori atau pendekatan struktural-fungsional merupakan teori sosiologi yang diterapkan dalam melihat institusi keluarga. Teori ini berangkat dari asumsi bahwa suatu masyarakat terdiri atas beberapa bagian yang saling memepengaruhi. Teori ini mencari unsur-unsur mendasar yang berpengaruh di dalam suatu masyarakat, mengidentifikasi fungsi setiap unsur, dan menerangkan bagaimana fungsi unsur-unsur tersebut dalam masyarakat. Banyak sosiolog yang

mengembangkan teori ini dalam kehidupan keluarga pada abad ke-20, di antaranya adalah William F. Ogburn dan Talcott Parsons. Teori struktural-fungsional mengakui adanya segala keragaman dalam kehidupan sosial. Keragaman ini merupakan sumber utama dari adanya struktur masyarakat dan menentukan keragaman fungsi sesuai dengan posisi seseorang dalam struktur sebuah sistem. Sebagai contoh, dalam sebuah organisasi sosial pasti ada anggota yang mampu menjadi pemimpin, ada yang menjadi sekretaris atau bendahara, dan ada yang menjadi anggota biasa. Perbedaan fungsi ini bertujuan untuk mencapai tujuan organisasi, bukan untuk kepentingan individu. Struktur dan fungsi dalam sebuah organisasi ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh budaya, norma, dan nilai-nilai yang melandasi sistem masyarakat. Terkait dengan peran gender, pengikut teori ini menunjuk masyarakat pra industri yang terintegrasi di dalam suatu sistem sosial. Laki-laki berperan sebagai pemburu (hunter) dan perempuan sebagai peramu (gatherer). Sebagai pemburu, laki-laki lebih banyak berada di luar rumah dan bertanggung jawab untuk membawa makanan kepada keluarga. Peran perempuan lebih terbatas di sekitar rumah dalam urusan reproduksi, seperti mengandung, memelihara, dan menyusui anak. Pembagian kerja seperti ini telah berfungsi dengan baik dan berhasil menciptakan kelangsungan masyarakat yang stabil. Dalam masyarakat ini stratifikasi peran gender sangat ditentukan oleh sex (jenis kelamin). Menurut para penganutnya, teori strukturalfungsional tetap relevan diterapkan dalam masyarakat modern. Talcott Parsons dan Bales
2

menilai bahwa pembagian peran secara seksual adalah suatu yang wajar. Dengan pembagian kerja yang seimbang, hubungan suami-isteri bisa berjalan dengan baik. Jika terjadi penyimpangan atau tumpang tindih antar fungsi, maka sistem keutuhan keluarga akan mengalami ketidakseimbangan. Keseimbangan akan terwujud bila tradisi peran gender senantiasa mengacu kepada posisi semula. Teori struktural-fungsional ini mendapat kecaman dari kaum feminis, karena dianggap membenarkan praktik yang selalu mengaitkan peran sosial dengan jenis kelamin. Laki-laki diposisikan dalam urusan publik dan perempuan diposisikan dalam urusan domistik, terutama dalam masalah reproduksi. Menurut Sylvia Walby, teori ini akan ditinggalkan secara total dalam masyarakat modern. Sedang Lindsey menilai teori ini akan melanggengkan dominasi laki-laki dalam stratifikasi gender di tengah-tengah masyarakat. Meskipun teori ini banyak memperoleh kritikan dan kecaman, teori ini masih tetap bertahan terutama karena didukung oleh masyarakat industri yang cenderung tetap mempertahankan prinsip-prinsip ekonomi industri yang menekankan aspek produktivitas. Jika faktor produksi diutamakan, maka nilai manusia akan tampil tidak lebih dari sekedar alat produksi. Nilai-nilai fundamental kemanusiaan cenderung diabaikan. Karena itu, tidak heran dalam masyarakat kapitalis, industri seks dapat diterima secara wajar. Yang juga memperkuat pemberlakuan teori ini adalah karena masyarakat modernkapitalis, menurut Michel Foucault dan Heidi Hartman cenderung mengakomodasi sistem pembagian kerja berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Akibatnya, posisi perempuan akan tetap lebih rendah dan dalam posisi marginal, sedang posisi laki-laki lebih tinggi dan menduduki posisi sentral. 2. Teori Marxis Sosialis Feminisme ini bertujuan mengadakan restrukturisasi (menata kembali) masyarakat agar tercapai kesetaraan gender. Ketimpangan gender disebabkan oleh sistem kapitalisme yang menimbulkan kelas-kelas dan division of labour, termasuk di dalam keluarga. Feminisme Marxis dan Sosialis percaya bahwa ketimpangan yang dialami perempuan bukanlah hasil tindakan sengaja dari satu individu, melainkan produk dari struktur politik, sosial, dan ekonomi tempat individu itu hidup Gerakan kelompok ini mengadopsi teori praxis Marxisme, yaitu teori penyadaran pada kelompok tertindas, agar kaum perempuan sadar bahwa mereka merupakan kelas yang tidak diuntungkan. Proses penyadaran ini adalah usaha untuk membangkitkan rasa emosi para perempuan agar bangkit untuk merubah keadaan. Berbeda dengan teori sosial-konflik, teori ini tidak terlalu menekankan pada faktor akumulasi modal atau pemilikan harta pribadi sebagai
3

kerangka dasar ideologi. Teori ini lebih menyoroti faktor seksualitas dan gender dalam kerangka dasar ideologinya. Teori ini juga tidak luput dari kritikan, karena terlalu melupakan pekerjaan domistik. Marx dan Engels sama sekali tidak melihat nilai ekonomi pekerjaan domistik. Pekerjaan domistik hanya dianggap pekerjaan marjinal dan tidak produktif. Padahal semua pekerjaan publik yang mempunyai nilai ekonomi sangat bergantung pada produk-produk yang dihasilkan dari pekerjaan rumah tangga, misalnya makanan yang siap dimakan, rumah yang layak ditempati, dan lain-lain yang memengaruhi pekerjaan publik tidak produktif. Kontribusi ekonomi yang dihasilkan kaum perempuan melalui pekerjaan domistiknya telah banyak diperhitungkan oleh kaum feminis sendiri. Kalau dinilai dengan uang, perempuan sebenarnya dapat memiliki penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki dari sektor domistik yang dikerjakannya.

PERAN DAN KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM KELUARGA Adanya struktur hukum perkawinan yang tidak berkeadilan gender adalah karena hukum perkawinan kita telah mengadopsi nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat dan bermuatan ideologi familialisme. Itulah yang disebut dengan hukum perkawinan patriarki. Di sana, wanita diposisikan secara berbeda dengan pria, yaitu menjadi kelompok yang "subordinat" dan bukan pada posisi yang "koordinat" dalam berbagai hal sering dikorbankan atau diperlakukan secara tidak adil oleh pria. Berbagai rambu "ketimuran" dibuat dan didengung-dengungkan untuk wanita. Bahkan, masih ada daerah tertentu yang kaum wanitanya tidak hanya tidak bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri, tetapi malah menjadi objek belian dan warisan dalam struktur keadatan mereka. Pembagian peran publik privat bagi suami-istri dalam perkawinan karena penerapan struktural fungsional dalam keluarga, menimbulkan ketidakadilan gender, dan potensi konflik. Hal itu disebutkan bahwa setiap masyarakat selalu mengalami perubahan sosial, konflik-konflik sosial, paksaan oleh sejumlah kelompok masyarakat. Selain itu, teori struktural fungsional terlalu terikat dengan kenyataan masyarakat praindustri. Padahal struktur dan fungsi dalam masyarakat sudah banyak berubah. Keluarga dan unit rumah tangga tidak lagi bersifat kolektif seperti dulu, tetapi sudah mengalami perubahan. Peran domestik sudah tidak lagi diurus secara bersama-sama dalam masyarakat kolektif, tetapi perkembangan pada keluarga inti, bahkan pada keluarga dengan orangtua tunggal. Peran secara tradisional antara suami-istri dalam masyarakat modern tidak lagi dapat dipertahankan, tetapi peran didasarkan pada keterampilan dan daya saing.
4

Dalam pembagian peran pun diskriminatif, istri sebagai ibu rumah tangga. Sedangkan suami selalu diposisikan sebagai kepala rumah tangga, pelindung dan memberi nafkah, akibatnya istri amat tergantung kepada suami secara ekonomi. Istri pun dituntut untuk dapat melakukan pelayanan secara sempuma terhadap suami. Bila istri tidak bisa melahirkan anak, maka dianggap tidak layak sebagai istri. Hal ini bertentangan dengan ketentuan yang mengatakan bahwa suami-istri saling setia, dan memberi bantuan lahir batin. Masih banyak hal lain yang bisa dipermasalahkan kaitannya dengan masalah gender ini. Hal itu telah dilegitimasi melalui pengaturan oleh negara, baik lewat perangkat ideologi, kelembagaan maupun hukum.

PERAN PEREMPUAN DALAM KELUARGA Peranan perempuan dalam keluarga adalah tergantung dari fungsi perempuan dalam keluarga itu sendiri. Perempuan bisa berfungsi sebagai anak, Ibu, menantu, mertua, adik, kakak dan istri. Perempuan sebagai anak dalam keluarga, biasanya akan mulai mempelajari peranannya sebagai calon ibu dan istri ketika ia melihat bagaimana ibunya menjalankan fungsinya sebagai ibu dan istri. Banyak hal yang bisa dipelajari oleh anak perempuan ini, secara praktisnya mungkin dengan ikut menjalankan kewajiban-kewajiban ibunya di dalam mengatur kebersihan rumah, di dalam memasak, dan lain-lainnya. Bila ibunya adalah perempuan bekerja, mungkin bisa mempelajari bagaimana cara mengatur waktu antara pekerjaan dan keluarga. Perempuan sebagai ibu dalam keluarga, idealnya menjadikan dirinya teladan yang bisa dicontoh anak perempuannya dalam segala hal yang dilakukannya di dalam urusan rumah tangga. Perempuan sebagai menantu dalam keluarga, idealnya menjadikan keluarga suaminya sebagai keluarga kedua, dan memperlakukan kedua keluarga dengan sama baiknya, karena bila kita menikah, kita menikah tidak hanya dengan orang yang bersangkutan, tetapi juga dengan keluarganya. Ibunya adalah ibu kita juga, ayahnya adalah ayah kita juga. Perempuan sebagai mertua di dalam keluarga, idealnya harus bisa menyadari bahwa ia sudah diluar kehidupan anaknya, dan berfungsi hanya sebagai penasehat dan bukan yang ikut menentukan jalan pernikahan anaknya. Mertua yang baik adalah yang mendukung pernikahan anaknya di dalam doa serta memberikan bantuan nasehat, dan lainnya bila diperlukan. Perempuan sebagai adik / kakak dalam keluarga, berperan sebagai saudara yang saling memperhatikan , saling mendukung dan saling menghargai sebagai sebuah keluarga.
5

Perempuan sebagai istri dalam keluarga, berperan sebagai penolong, teman hidup pasangannya di kala suka dan duka. Melayani suami bisa disebut hak kita sebagai istri, bisa juga disebut sebagai kewajiban kita sebagai istri. Istri juga adalah teman berbagi dan teman untuk mendiskusikan segala sesuatunya sebelum keputusan diambil oleh suami sebagai kepala rumah tangga. Perempuan sebagai istri juga harus tunduk dan taat kepada suami dengan sikap hati yang benar. Artinya, sebagai istri mungkin pendapat kita kadang berbeda, tetapi bila keputusan sudah diambil kita harus mendukung keputusan tersebut, karena di sebuah kapal hanya ada satu nahkoda dan di dalam pernikahan hanya ada satu kepala keluarga.

FAKTOR-FAKTOR

YANG

MEMPENGARUHI

PERAN

&

KEDUDUKAN

PEREMPUAN DALAM KELUARGA Faktor-faktor yang mempengaruhi pandangan peran gender dapat dilihat dari 2 masa hidup manusia, antara lain: A. Masa Kanak-kanak Menurut Hurlock (1991) faktor-faktor yang mempengaruhi pandangan peran gender pada masa anak-anak adalah : 1) Orangtua Peran orang tua dalam penentuan peran gender anak bermacam-macam tergantung dari jenis kelamin dan usia anak. Karena ibu lebih banyak bertanggung jawab dalam pendidikan anak selama awal masa kanak-kanak dibandingkan dengan ayah maka ibu lebh berperan dalam penentuan peran gender anak. dengan bertambahnya usia dan meluasnya lingkup social, anak menemukan bahwa peran ayah lebih bergengsi daripada ibu. Akibatnya ayah mulai mempunyai pengaruh yang lebih besar pada penentuan peran gender anak. Bagi anak laki-Iaki, figur ayah bertindak sebagai model peran dan bagi anak perempuan figur ayah dijadikan sebagai sumber pegangan untuk persetujuan atau ketidaksetujuan perilaku yang sesuai dengan jenis keiamin anak. Langlois dan Downs (dalam Atkinson, 1994) mengemukakan bahwa para bapak lebih memikirkan perilaku tipe seks daripada para ibu, terutama dalam hal anak lakilaki, dengan bereaksi negatif ketika anak laki-Iaki bermain dengan mainan feminin. Sedangkan para bapak kurang merasa khawatir jika anak perempuan sibuk dengan permainan maskulin.

2) Guru Fagot & Patterson (dalam Berk, 1989) menyatakan bahwa guru taman kanak-kanak dan sekolah dasar lebih memberikan penguatan positif pada anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-Iaki dalam memberikan instruksi dan aktivitas bermain. Hal ini disebabkan karena anak perempuan dapat memenuhi tuntutan seperti ketenangan, kedisplinan dan kepatuhan dibandingkan dengan anak laki-Iaki. Anak laki-Iaki cenderung dianggap nakal sehingga akibatnya guru sering menghukum anak laki-Iaki.

3) Teman Sebaya

Teman sebaya merupakan faktor yang penting dalam pembentukan tingkah laku yang sesuai dengan jenis kelamin. Ketika anak perempuan dan anak laki-Iaki mulai bermain dan membentuk persahabatan dengan teman sebaya dari jenis kelamin yang sama, dimulailah pelajaran tentang jenis kelamin dan tingkah laku tertentu yang berlaku dan diharapkan oleh kelompoknya. Kegagalan bertingkah laku yang sesuai dengan harapan kelompok, sering mengakibatkan ditolaknya anak dari kelompok sebayanya. Kekhawatiran terhadap penolakan ini mendorong anak untuk berusaha menampilkan tingkah laku yang berlaku dalam kelompoknya.

4) Media Massa Buku cerita anak-anak maupun buku pelajaran, umumnya menggambarkan perempuan dalam peran yang kurang penting ataupun peran fem;nin yang tradisional, misalnya memasak, berbelanja, membersihkan rumah. Televisi juga cenderung menampilkan acara-acara yang menggambarkan laki-Iaki sebagai seorang jagoan yang pandai, agresif, rasional dan selalu menjadi pemimpin. Sementara perempuan digambarkan sebagai pihak yang pasif, mudah menangis, kurang mampu mengatur keuangan dan senang bergosip. Hal ini sangat besar peranannya sebagai sumber informsi tentang peran gender, yang dipercayai anak bahwa segala sesuatu yang dibaca atau dilihat itu adalah benar.

B. Masa Dewasa Pada masa dewasa, faktor-faktor yang mempengaruhi pandangan peran gender menurut Losh-Hesse/bart adalah : 1) Pendidikan Lingkungan kampus dan perguruan tinggi, mendorong individu untuk berpikir kritis dan bertingkah laku yang tidak tergantung pada orang lain. Peran gender menjadi lebih liberal dan mengalami banyak peru bahan, misalnya seorang gadis SMU akan beranggapan bahwa tujuan utama seorang gadis adalah menjadi populer dimata remaja laki-Iaki dengan tubuh yang menawan. Di Perguruan Tinggi, perempuan yang disukai adalah yang dapat diajak berdiskusi tentang politik atau hal-hal ilmiah. Perempuan dapat memilih karir sebagai dokter atau hakim, padahal dahulu kebanyakan memilih menjadi guru atau perawat.

2) Perkawinan Harapan dan pasangan dalam perkawinan merupakan faktor yang penting dalam menentukan peran gender. Suami biasanya beranggapan bahwa isteri secara aiamish /ebih msndiri dalam hal memasak, membersihkan rumah, berbelanja, mengurus anak, nsmun dslam perkawinan akan terjadi saling mempengaruhi antar suami-istri. Menurut hasil penelitian Mirowsky & Ross (dalam Strong & De Vault, 1989), walaupun perempuan mempunyai pekerjaan di luar rumah, perempuan tetap dituntut untuk berfungsi penuh sebagai ibu rumah tangga.

3) Tempat Kerja Tempat kerja mempunyai pengaruh tergantung dan pandangan manajer di tempat individu bekerja. Pekerjaan dapat membuat individu lebih aktif, f1eksibel, terbuka dan demokratis, jika manajer mempunyai pandang yang modem. Jika perempuan memiliki status yang lebih rendah daripada laki-Iaki dalam pekerjaan, hal ini lebih disebabkan karena kurangnya kesempatan untuk dipromosikan, akibat pandang manajer yang tradisional.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pandangan peran gender ditentukan dari masa kanak-kanak sampai masa dewasa. Orang tua, guru, teman sebaya dan media masa membentuk pandangan terhadap peran gender pada masa kanak-kanak melalui proses identifikasi baik dali cara pola asuhnya maupun proses imitasi yang dilihat anak. Pendidikan, perkawinan dan tempat kerja merupakan faktor yang

membentuk pandangan terhadap peran gender pada masa dewasa, yang pada akhimya membedakan peran antara laki-Iaki dan perempuan.

MENGATASI PERMASALAHAN GENDER DALAM KELUARGA Masyarakat menganggap kekerasan dalam rumah tangga sudah terjadi jika sudah ada bukti secara fisik yang dapat dirasakan oleh panca indra, padahal jika masyarakat mau kritis, kekerasan rumah tangga lebih dari sekadar luka fisik saja namun termasuk luka secara batiniah yang dirasakan oleh si korban sulit diobati, mungkin saja dapat meninggalkan trauma yang cukup dalam dan bisa saja menganggu kehidupan korban di masa yang akan datang. Konstruksi ini dibangun bertahun-tahun atau mungkin berabad-abad yang lalu sehingga sulit untuk menrubah opini masyarakat apalagi merubah tatanan sosial yang ada. Namun disamping itu, ada beberapa hal dapat menjadi solusi dalam menghadapi permasalahan gender dalam keluarga, antara lain: Pendidikan Keputusan untuk terus belajar baik secara formal atau pun non formal dengan harapan bahwa pendidikan akan membawa angin baru di kehidupan keluarganya atau generasi setelahnya (anak). Pendidikan tidak hanya akan menaikan prestis individu di masyarakat, namun membawa wawasan bagi pelakunya untuk berfikir lebih lebar dan belajar untuk melihat dirinya sebagai pribadi di luar kotak. Dengan demikian diharapkan akan tumbuh kredibilitas yang tinggi dan menciptakan nilai plus bagi si empunya yang pasti akan bersifat positif baik dari dalam mau pun luar lingkungan keluarga. Cara lainnya adalah keputusan untuk tetap bekerja dan berpenghasilan, sama, baik secara formal (sebagai wanita karir) atau non formal (wiraswasta). Sudah terbukti, selama ini bahwa wanita memiliki kekuatan luar biasa di dunia UKM (yang tidak tergoyahkan selama krisis moneter), artinya wanita memiliki potensi luar biasa sebagai pendukung finansial keluarga. Efek dari mandiri secara finansial, biasanya para wanita yang notabene menjadi istri, memiliki bargain power yang cukup besar dalam menuntut peranan dalam keluarga dengan porsi yang layak, bukan sekedar pendengar, pembantu, penghabis uang.

DAFTAR PUSTAKA Tong, Rosemarie Putnam. 2008. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Yogyakarta: Jalasutra.

http://sosbud.kompasiana.com/2011/11/24/menggugat-feminisme-dalam-rumah-tangga/ (Diakses: 27 januari 2012 , Pukul: 12.15)

http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/40275/3/Pages%20from%20TEORI%20GE NDER%20DAN%20APLIKASINYA%20DALAM%20KEHIDUPAN%20KELUARGA %20(44-136).pdf (Diakses: 24 Januari 2012, Pukul: 17.15)

http://duniaperempuan.com/peranan-wanita-dalam-keluarga.html (Diakses: 27 Januari 2012, Pukul : 13.05)

10