Anda di halaman 1dari 2

Detik detik ujian

Ujian Nasional tiba. Arie memenuhi tanggung jawab sosial bermasyarakat. Setengah memacu motor, Arie berusaha setepat mungkin sampai di rumah. Baru saja memarkir motor, mama Arie sudah menghampiri. Anak-anak sudah tunggu tuh, kata mama. Iya, mandi dulu, kata Arie. Mandi sekedar mandi. Asal seluruh badan terkena sabun, gosok gigi. Selesai. Trada waktu untuk yang lain. Emi, Adit dan Reis duduk di teras. Bagaikan granat tangan. Begitu dilepas langsung meledak. Tidak butuh waktu lama bagi ketiganya untuk meledakkan rumah Mama karena memang ketiganya tiap hari nongkrong di sini, terbiasa main di sini. Anak-anak Pondok Yoyayo, demikian Arie menjuluki mereka. Bagaimana ujian tadi siang?, sapa Arie tersenyum ramah. Ketiganya tengah menjalani Ujian Nasional untuk tingkat Sekolah Dasar. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Arie selalu diminta bantuan tetangga untuk mempersiapkan anak-anak. Padahal tidak berlatar belakang pendidikan guru apalagi bekerja sebagai guru. Punya waktu kak? kata Rossie, teman Arie, satu waktu Ya tidak punya, tapi senang saja waktu melakukannya. Jadi disempat-sempatkan, Kata Arie. Senang saja... bukan sekadar memenuhi tanggungjawab sosial bermasyarakat. Mengulang beberapa point-point penting. Peredaran darah, pernafasan, pencernaan, anatomi indera, listrik, pesawat sederhana, hingga menjawab contoh-contoh soal. Persiapan tiap sekolah di Kota cukup baik, digambarkan dengan ketiga anak ini. Meski berbeda sekolah, ketiganya dapat menjawab pertanyaan dengan dengan baik. Namun ada yang yang menggelitik Arie. Soal-soal yang dihafal anak-anak dan yang tak dimengerti mereka. Apa fungsi akar tumbuhan? Ketiganya menjawab dengan berebutan. Akar juga berfungsi sebagai alat pernafasan, contohnya tumbuhan apa? Bakau, jawab Reis

Tau pohon bakau? tanya Arie Pohon lolaro, jawab Emi Sembarang saja, pohon bakau itu tumbuhan yang tumbuh di pinggir pantai mo, kata Adit Iya, bakau ya... Lolaro... sama. Akarnya berada di permukaan air itu yang berfungsi membantu pernafasan, Ketiganya mengangguk. Mereka tau... tapi tak mengerti benar apa yang dihafalnya. Sama juga ketika pertanyaan tentang tumbuhan yang beradaptasi dengan menggugurkan daunnya. Ketiganya menjawab dengan lantang, Pohon Jati, Tau pohon jati? Ketiganya menggeleng. Ingat pohon yang berdaun lebar yang tumbuh di sekitar kolam renang lembah Furia Kotaraja? tanya Arie membantu ingatan mereka. Arie selalu menyempatkan diri piknik dengan anak-anak kompleks. Yang tinggi itu? tanya Adit. Iya, biasanya diambil kayunya. Seperti kayu besi. Tapi sa heran, kenapa dong tanam kayu Jati di Papua, bukan tanaman kayu besi saja yang su pasti tumbuh dan berdaya jual tinggi? kata Arie Ketiganya menggeleng"Mungkin karena Kayu besi di Papua banyak, jadi dong tra tanam lagi," kata Adit. "mungkin!!" Mama Arie keluar dari ruang tamu, cemberut sambil menggeleng seakan berkata, Rie, jangan racuni anak-anak dengan idealismemu. Biarkan mereka tumbuh dengan bebas, Arie tersenyum dan mengangguk. Kacau.... Ya, seharusnya saya tidak meracuni mereka, bisik Arie. Belum waktunya, meski saat berdiskusi Arie selalu menanamkan sifat Kritis terhadap apa saja yang mereka diskusikan. 09.45, meski ngantuk berat , Arie berusaha mengakhiri sesi ini dengan baik. Mengingatkan triktrik agar mereka mampu menjawab dengan baik dan cepat menyelesaikan soal, memberikan motivasi sebelum meminta anak-anak pulang. "Tante pu tanda tangan bagaimana e?," tanya Emi tiba-tiba sambil menyodorkan kertas. Arie lalu menandatangani kertas yang disodorkan Emi."Itu karena tante pu namai Arie," kata Arie menjelaskan arti coretan yang dibuatnya itu. Emi mengangguk. "Coba tante tandatangan sa pu tandatangan?" kata Emi, yang disambut senyuman lebar Arie. "Wuih.. Emi harus punya tandatangan sendiri," kata Arie"Itu sudah tante, sa ni belum punya tandatangan jadi tante bisa bantu saya ka?" Arie tertawa lebar.. Akhirnya 15 menit terakhir diisi dengan latihan tandatangan. Toh mereka memang harus latihan, karena nantinya mereka harus menandatangani Ijazah mereka sendiri. Arie bersyukur, untung anak-anak ini terbuka, sehingga tidak mengulang kesalahan yang sama seperti dirinya. Ijazah SD lebih mirip ditandatangani oleh seekor ayam dibandingkan manusia.