Anda di halaman 1dari 1

Anggia Wulansari : 071012064 International Constraints : The Joint-Decision Trap Hukum dalam European Court (EC) didasarkan pada

regulasi yang dapat ditulis ulang dalam bentuk statute yang memerlukan suara bersama atau kualifikasi mayoritas dalam persetujuan. Istilah Joint-Decision Trap pertama kali diperkenalkan oleh Fritc Scharpf yang disebut sebagai the difficulty of changing entrenched policies in EU atau kesulitan untuk merubah kebijakan yang telah menjadi landasan atau akar di dalam EU. Joint-decision trap akan terjadi ketika (1) pembuatan kebijakan dari pemerintah pusat dalam hal ini EU- bergantung pada kesepakatan negara-negara anggota, (2) ketika salah satu unsur kesepakatan tersebut mengharuskan adanya kebulatan suara atau hampir bulat, dan (3) ketika hasil dari ketidaksepakatan tersebut adalah kebijakan yang status quo. Negara-negara dapat menghalangi atribut dari kekuasaan baru dalam ECJ hingga masalah mereka terselesaikan. Namun, keberadaan joint-decision trap tersebut memungkinkan terjadinya proses pembalikan terhadap doktrin kunci dari ECJ. Di hadapan ECJ, kekuatan politik antar negara dipandang setara, dan di dalam ECJ, negara-negara kecil mempunyai jumlah suara yang tidak seimbang dan keputusan yang dibuat didasarkan pada suara mayoritas. Benelux dan Jerman berupaya untuk menghalangi adanya usaha pelemahan otoritas ECJ, sedangkan Inggris dan Perancis berusaha untuk menghalangi upaya untuk memperluas otoritas legal dari EU. Joint-decision trap dapat mempengaruhi kemampuan negara anggota untuk mengendalikan ECJ melalui proses perjanjian. Pembuatan kebijakan dalam EU dapat dilakukan di tingkat subunit dari negara anggota. Overcoming the Joint-Decision Trap? The 1996-97 IGC and the Treaty of Amsterdam Inggris mengusulkan pembentukan prosedur banding dalam ECJ yang dapat memberikan kesempatan kedua bagi pengadilan untuk merefleksikan keputusannya dalam ketidakpuasan politik yang ringan. Inggris juga menyarankan amandemen perjanjian untuk membatasi tanggung jawab atas kerugian dalam kasus-kasus dimana negara-negara anggota bertindak sesuai dengan good faith. Berdasarkan Treaty of Amsterdam, negara-negara kecil berupaya untuk mengatur beberapa aspek dari justice and home affairs untuk dipindahkan ke dalam bagian ECJ, tapi dengan cara-cara yang dibatasi. pada masalah-masalah mengenai hukum suaka, kebijakan migrasi, kontrol perbatasan, dan kesepakatan schengen, sistem pemerintahan awal memberikan perpanjangan bagi pengadilan hanya untuk contoh kasus yang terakhir, yaitu kesepakatan schengen. ECJ melakukan penolakan yurisdiksi terhadap masalah domestik yang concern mengenai order dan keamanan internal, termasuk penilaian dari proporsionalitas kemanan negara (artikel K.5 dan K.7).

Importance of national judiciary support national judiciary support mempunyai peranan penting dalam membatasi kemampuan pemerintah negara untuk mengabaikan keputusan hukum yang tidak diinginkan dari ECJ internasional.