Anda di halaman 1dari 4

Tinggi Pohon

Setelah diameter, tinggi pohon merupakan dimensi dasar penting lainnya. Tinggi pohon didefinisikan sebagai jarak atau panjang garis terpendek antara suatu titik pada pohon dengan proyeksinya pada bidang datar. Istilah tinggi pohon hanya berlaku untuk pohon yang masih berdiri, sedangkan untuk pohon rebah digunakan istilah panjang pohon. Seperti sudah dijelaskan di muka, tinggi pohon adalah salah satu dimensi yang harus diketahui untuk menghitung nilai volume pohon. Selain itu, peninggi yang didefinisikan sebagai rata-rata 100 pohon tertinggi yang tersebar merata dalam areal 1 hektar, dikaitkan dengan umur tegakan jenis pohon tertentu adalah merupakan komponen informasi yang diperlukan untuk menentukan indeks tempat tumbuh atau kualitas tempat tumbuh (bonita) yang mencerminkan produktivitas lahan dalam memberikan hasil (potensi tegakan). Pengukuran tinggi pohon pada umumnya menggunakan salah satu dari dua prinsip berikut : 1. Prinsip geometri atau prinsip segitiga sebangun.

F C O B A D Dari Gambar 1 di atas, apabila panjang alat (AC), AB dan DE diketahui, maka diperoleh tinggi pohon yaitu DF = (AC/AB).DE 2. Prinsip trigonometri atau prinsip pengukuran sudut. F Gambar 2. Prinsip Trigonometri dalam O ) ) D Dari Gambar 2 di atas, apabila jarak datar (OE), besar sudut kemiringan ke pangkal pohon () dan besar sudut kemiringan ke puncak pohon () diketahui, maka diperoleh tinggi pohon yaitu DF = DE + EF = OE (tg + tg ) Berdasarkan titik bagian atas yang diukur, tinggi pohon dibedakan atas : (1) Tinggi total, yaitu tinggi pohon sampai ke puncak tajuk ; (2) Tinggi bebas cabang, yaitu tinggi pohon sampai E
P Pengukuran Tinggi

Gambar 1. Prinsip Geometri dalam E Pengukuran Tinggi

cabang pertama yang masih hidup. Cabang yang dimaksud biasanya adalah cabang yang turut berperan dalam membentuk tajuk utama ; (3) Tinggi kayu tebal, yaitu tinggi pohon sampai batas diameter tertentu, biasanya sampai batas diameter 7 atau 10 cm. Apabila terdapat hubungan yang erat antara dbh dengan tinggi pohon, maka secara fungsional tinggi pohon dapat diduga oleh dbh. Cara ini dirasa lebih mudah dan praktis dibanding harus mengukur langsung tinggi pohon.

5.2 Pengukuran tinggi pohon Tinggi pohon dalam ITSP diukur dari pangkal pohon sampai cabang besar pertama atau tinggi batang bebas cabang. Khusus untuk pohon panen yang diperkirakan bisa ditebang, tinggi pohon diukur dari titik pemotongan pangkal sampai titik pemotongan tajuk. Titik pemotongan pangkal adalah: 30 cm dari permukaan tanah untuk pohon tanpa banir di atas banir untuk pohon berbanir. Titik pemotongan atas (pemotongan tajuk) adalah di bawah: cabang besar pertama titik cacat benjolan bengkokan atau sampai titik dimana diameter masih memenuhi diameter ujung yang ditentukan oleh bagian produksi atau bagian pemasaran perusahaan Hasil pengukuran tinggi pohon panen adalah sama dengan panjangnya kayu log yang bisa diperoleh dari pohon tersebut.

1. Ukur Jarak datar 30 m 2. Ambil Helling ke atas, 60% 3. Ambil Helling ke bawah 10 % Tinggi 60% dari 30 m = 18 m Tinggi 10% dari 30 m = 3 m Tinggi Total = 21 m

Volume pohon panen akan dihitung dari hasil pengukuran diameter dan tinggi pohon panen. Dengan asumsi penentuan jumlah pohon panen tepat dan dengan perhitungan volume kulit maka akan diperoleh potensi produksi log yang nanti kalau pembalakan sudah dilaksanakan akan dibandingkan dengan hasil produksi per petak. Bahkan hasil pengukuran setiap pohon panen dapat dibandingkan dengan hasil pembalakan (per pohon). Karena itu semua pengukuran atau taksiran dimensi pohon panen harus dilaksanakan setepat mungkin. Gambar 11 : Pengukuran tinggi pohon dengan alat meteran dan klinometer bila pangkal pohon di bawah mata pengukur Cara kerja: 1 Ukur jarak datar dari pohon ke pengukur; jarak pohon dengan pengukur kurang lebih sama dengan tingginya pohon yang diukur; untuk pohon besar jaraknya 20 atau 30 meter. Pengukur harus dapat melihat dengan jelas pangkal dan ujung batang pohon yang diukur. 2 Ambil helling ke titik pemotongan atas dengan menggunakan klinometer dalam satuan % dan catat hasilnya.

3 Ambil helling ke titik pemotongan bawah dan catat hasilnya (dalam satuan %). 4 Menghitung tinggi pohon dengan menggunakan rumus seperti pada contoh berikut ini:

Pangkal pohon berada di bawah mata pengukur

jarak datar 30 m helling ke atas 60 % helling ke bawah 10 % (karena pangkal pohon berada di bawah dari mata pengukur) helling tinggi pohon adalah helling ke atas + helling ke bawah = 70 % tinggi pohon 70 % dari 30 m = 21 m

Pangkal pohon berada di atas mata pengukur

jarak datar 30 m helling ke atas 110 % helling ke bawah 20 % Helling tinggi pohon adalah helling ke atas helling ke bawah = 90 % tinggi pohon 90 % dari 30 m = 27 m Gambar 12 : Pengukuran tinggi pohon kalau pangkal pohon di atas mata pengukur