Anda di halaman 1dari 6

MELIHAT KENYATAAN SEBAGAI KENYATAAN

Hidup tidak akan pernah terbebas dari cobaan : Cobaan adalah sebuah keniscayaan manusia

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-Ankabut 29 : 2-3).
Allah menguji manusia dengan kebaikan dan keburukan; susah dan senang, sehat dan sakit, berkelebihan dan kekurangan. .

. .

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (Al-Anbiya 21 : 35)
Allah menguji hamba-Nya untuk mengetahui siapa yang benar-benar mujahid dan sabar.

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (Muhammad 47 31).
Man shabara zafara : barang siapa sabar ia akan sukses Ash-shabru nisful iman wa nisfahu asy-syukru : sabar itu setengah iman dan setengahnya lagi adalah syukur

Cara mensikapai ujian atau cobaan adalah dengan : 1. Iman dan Ridha Terhadap Ketentuan (Qadar) Allah 1

Kita wajib beriman bahwa musibah/kemalangan apa pun yang menimpa kita. sudah ditetapkan Allah SWT dalam Lauhul Mahfuzh. Kita pun wajib menerima ketentuan Allah ini dengan lapang dada (ridha). Allah SWT berfirman : Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS al-Hadid [57] : 22) 2. Terus menjaga pikiran positif kepada Allah/khusnud dzon, al-Baqarah : 216, an-Nisa 4 : 19

( N39 n . uqdur A$tF)9$# N6 n=t |=G. yz uqdur $\ x (#qdt 3s? br& #|tur uqdur $\ x (#q 6s? br& #|tur ( N69 w OFRr&ur Nn=t !$#ur 3 N39 @

cqJn=s? Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.(Al-Baqarah 2: 216)

(#qdt 3s? br& #|ys `dqJFd x. b*s 4 #Z yz m !$# @ygs ur $\ x W 2

#Z

..Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (an-Nisa 4 : 19)

3. . .
Boleh jadi Allah memberimu faedah pada saat malam kesempitan yang tidak kaudapatkan pada saat siang kelapangan. Kalian tidak mengetahui mana yang lebih bermanfaat bagi kalian (Q 4:11). Jangan terus bersedih bila hidupmu terasa pedih! Ini perputaran-kehidupan yang wajar. Pergeseran keadaan yang lumrah. Dan, dalam setiap perputaran waktu yang dijalankanNya selalu ada makna dan pesan yang bisa kita ungkap. Kesempitan dan penderitaan kadang justru membuat kita makin dekat dengan-Nya. Kita pun jadi sering datang kepadaNya untuk mencurahkan segala keluh kesah. Bukankah halhal besar sering kali diperoleh justru saat kita mengalami kesulitan? Bukankah perubahan juga kadang muncul dari situasi penuh tekanan? Para penempuh jalan menuju-Nya mendapatkan banyak pencerahan batin dari penderitaan yang mereka lalui. Selalu ada manfaat dari situasi apa pun yang kita alami. Masihkah engkau meragukan-Nya? Sungguh, kelapangan dan kesempitan hanyalah cara-Nya mengujimu agar menjadi hamba-Nya yang layak memperoleh penghargaan-Nya. 4. sabar dan shalat

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (Al-Baqarah 2 : 45-46)

. .

MELIHAT KENYATAAN SEBAGAI KENYATAAN Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan agar kita memperhatikannya:

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat Allah. (Adz-Dzariyat 51 : 49)
3

Hidup itu dipaksa oleh realitas : kita dipaksa untuk memberi respon dan makna terhadap semua peristiwa yang hadir di hadapan kita. Hidup senantiasa berhadapan dengan peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan makhluk-makhluk Tuhan = dengan meresponya dengan benar dan tepat kita akan bertambah dewasa secara spiritual. Jadi dengan adanya makhluk Tuhan di luar diri kita merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas keberadaan kita. Oleh karena itu, sesuatu yang di luar diri kita jangan dinilai sekehendak hati. Kita hanya menilai, jika kita sanggup menilai dengan penilaian Allah. Kita tak pantas menilai milik Allah. Jangan menilai atau memprasangkai makhluk-makhluk-Ku.

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Baqarah 2 : 284)

> .

Seseorang mudah menilai sehingga akan menerima atau menolak sesuatu yang hadir di depannya. Pengalaman masa lalu menyebabkan seseorang mudah menerima sebagian peristiwa dan menolak sebagian yang lain. Seperti rezeki kita terima dan sakit kita tolak. Kita harus hati-hati merespon sesuatu karena banyak hal yang bersifat paradoks. Pintar tapi tidak bijak; rambut gondrong tapi hatinya lembut. Kebanyakan manusia terhadap suatu kenyataan yang hadir di depannya, disikapi dengan sikap keluh kesah. Manusia begitu akrab dengan kesedihan dan kekecewaan karena terlalu percaya kepada waham (angan-angan) dan khiyal (khayalan).

9$# mtB #s ) %q=yd t,=z z`|SM}$# b) * $qZtB s :$# mtB #s )ur $Yr y_ NkE x| 4 n?t Nd t%!$# t,j#|J9$# w) tbqJ!#y Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya. (Al-Maarij 70 : 19-23) mB b)ur y 9$# !%t `B `|RM}$# Nto w qZs% qu s 9$# Manusia tidak jemu (selalu) memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan. (Fushilat 41 : 49)

Menurut para sufi manusia sulit melihat hakikat karena terhalang oleh waham dan khiyal. Sesuatu yang hadir sebagai kenyataan kita prasangkai, dan sesuatu yang tidak ada landasannya malah kita ingini. Waham dan khiyal menyeret manusia untuk melihat sesuatu sebagai hasil pikirannya terhadap sesuatu. Padahal, kenyataan merupakan raga dari kebenaran. Kenyataan ibarat jasmani, sedangkan kebenaran ibarat ruhani. Manusia mempunyai 3 lintasan (khathar) yang saling bertentangan : lintasan nafsu/fisikal, lintasan fikr/rasional, dan lintasan hati/moral. Dan untuk bisa menyeleraskannya manusia membutuhkan pertolongan berupa lintasan rabbaniy (Sang Ruh/Sang Aku). Sang Ruh akan bekerja ketika ketiga potensi yang ada sudah tidak mampu merespon situasi. Kasus Ibrahim yang akan menyembelih Ismail. Di dalam mensikpai sesuatu yang hadir di hadapannya biasanya manusia memakai : masa lalu sebagai referensi; masa kini yang merefleksikan kebutuhan dan masa depan sebagai harapan.

Jangan salahkan situasi dan pihak lain apabila keinginannmu gagal, karena itu hanyalah menandakan bahwa kamu yang belum siap atau kurang natural. Rasulullah senantiasa mengatakan sesuatu yang baik dari apa yang beliau lihat, meskipun yang dilihat adalah sesuatu yang buruk. Yang dicari beliau adalah sisi baiknya (hikmahnya). Seperti ketika melihat bangkai anjing beliau mengatakan : Betapa putih gigi anjing itu. Menangkap suatu kebenaran melalui apa pun yang hadir di depan kita menjadi mungkin kita peroleh jika kita sanggup menangkap kenyataan sebagai kenyataan tanpa kita prasangkai. Rasulullah mengajarkan pola transendensi =memproyeksikan sesuatu yang bersifat horizontal pada yang vertical. Rasulullah kaya akan kalimat-kalimat transendensi : alhamdulillah `ala kulli hal, astaghfirullah (marah/salah), inna lillaahi wa inna ilaihi roji`un (kehilangan), subhanallah (kagum), allaahu akbar (takut), laa haula wa laa quwwata illa billaah (panik). Jika kita sanggup melihat hakikat, ia akan mengantarkan kita untuk memahami kehendak Tuhan. Apa sebenarnya kemauan Tuhan dengan menghadirkan sesuatu di depan kita.

.
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Al-Hadid 57 : 23)