Anda di halaman 1dari 29

KONSENTRASI II

LAPORAN BUKU I A HISTORY OF CHRISTIANITY IN INDONESIA


Edited by Jan S. Aritonang & Karel Steenbrink

Oleh YUPRINADIE

Dosen Pembimbing : Pdt. Jan S. Aritonang, Ph.D

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI JAKARTA NOVEMBER 2010


0

LAPORAN BUKU Jan S. Aritonang & Karel Steenbrink (eds), A History of Christianity in Indonesia. Leiden: Koninklijke Brill NV, 2008, xvi + 1004 hlm. ISBN 9789004170261. Harga: $ 265.00 (hardback) A. Pendahuluan Buku A History of Christianity in Indonesia ini merupakan kumpulan karangan yang berusaha menggambarkan sejarah kekristenan di Indonesia secara menyeluruh. Seperti diakui oleh kedua editor (Jan S. Aritonang dan Karel Steenbrink), buku ini tidak berangkat dari nol, karena sejarah kekristenan di Indonesia juga telah dipaparkan dalam buku-buku maupun artikel-artikel lain yang membahas tentang perkembangan Protestan atau yang membahas tentang perkembangan Katolik di Indonesia. Namun buku ini berusaha untuk menyajikan sejarah kekristenan di Indonesia yang lengkap, tentang Protestan dan Katolik, sebagai buku pertama yang disajikan dalam bahasa Inggris, dan ditujukan terutama kepada para pembaca yang tidak terlalu mengenal geografi, budaya dan sejarah Indonesia (h. viii). Dalam hal ini, para penulis buku tidak berusaha untuk menyajikan sejarah badan zending atau misi dan anggotanya secara mendalam tetapi lebih memfokuskan diri pada perkembangan kekristenan yang banyak dipengaruhi oleh orang-orang pribumi atau lokal sehingga membentuk sebuah warna (varian) kekristenan yang berciri lokal. Alur berpikir buku ini dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertama membahas tentang kemunculan kekristenan hingga tahun 1800. Bagian kedua membahas tentang perkembangan kekristenan secara rinci di daerah-daerah seluruh Indonesia. Dan bagian ketiga membahas aspek-aspek yang paling penting dalam kehidupan orang Kristen (h. ix). Seluruh bagian tersebut disajikan ke dalam 21 bab bahasan. Untuk kepentingan laporan buku, Pelapor hanya mengambil enam bab dari buku ini yakni bab 1, 2, 6, 9, 10, dan 16.

B. Isi Buku Dalam Bab I, Christianity in Pre-Colonial Indonesia, Heuken

menggambarkan kedatangan kekristenan di Indoensia sebelum masa kolonial berlangsung. Heuken menggambarkan bahwa kehadiran kekristenan di Indonesia
1

tidak lepas dari perkembangan kekristenan di Asia, yang lebih banyak dipengaruhi oleh Gereja Nestorian. Para rahib secara khusus dilatih di wilayah Mesopotamia untuk dikirim melakukan penginjilan ke timur, ke wilayah India dan sekitarnya bersama para pedagang Kristen. Para pedagang Persia yang mengelilingi Asia juga sangat memegang peranan penting dalam penyebaran kekristenan Nestorian di Asia, meskipun sebenarnya mereka tidak secara khusus melakukan penginjilan di Asia. India yang pada mulanya diinjili oleh Rasul Tomas (meski para ahli masih belum sependapat dengan teori ini), juga turut dipengaruhi oleh Gereja Nestorian melalui para pedagang Persia dan melalui kontak yang mereka lakukan dengan Gereja Mesopotamia dan Persia yang bercorak Nestorian. Di sinilah diperlihatkan peran penting para pedagang Persia yang berdagang hingga ke wilayah Indonesia untuk menghadirkan kekristenan di Indonesia. Dalam keterangan Abu Salih yang singkat, seperti yang dikutip Heuken, telah terdapat beberapa Gereja Nestorian di Pansur, dekat Barus, Sumatera Utara. John C. England, mengutip Muskens, lebih lanjut mencatat bahwa Gereja Nestorian di Pansur itu diketahui dari para pelancong Arab yang menemukannya pada abad ke7 M.1 Pada zaman pemerintahan Ratu Tribhuwana (1329-1350), J. de Marignolli dalam perjalanannya dari Beijing tahun 1347 menemukan orang-orang Kristen di Majapahit dan Palembang. Peneliti lokal baru-baru ini juga menemukan suatu tempat tua dekat Barus yang bernama Janji Mariah. Perlu diperhatikan pula bahwa pada tahun 1503 tiga orang uskup ditahbiskan oleh Elias V untuk melakukan penginjilan ke Dabbagh (Sumatera atau Jawa; England : Sriwijaya), Sin dan Masin (Cina). Uraian di atas menggambarkan kepada kita bahwa walaupun tidak secara tepat dipastikan, kekristenan pra kolonial telah hadir di Indonesia paling tidak sejak abad ke-7, dengan bercorak Nestorian. Pelapor dalam hal ini tidak dapat memastikan mengapa Gereja Nestorian kemudian tidak berkembang di Indonesia. Mungkin saja karena pengaruh Portugis yang Katolik dan menganggap Gereja Timur sebagai bidat, sehingga dibatasi perkembangannya. Atau mungkin juga terjadi perpindahan secara sengaja dengan berbagai motif orang-orang Kristen
1

Desakan Islam

J.C. England, The Hidden History of Christianity in Asia (1996), h. 97.

Nestorian ke Katolik (Portugis) atau Protestan (Belanda/Jerman/Inggris), mengingat bahwa Eropa Barat berkuasa di Indonesia paska Nestorian dan pengaruh Islam yang semakin kuat di Indonesia. Dalam Bab II, 15301670: A Race between Islam and Christianity?, Azyumardi Azra mengetengahkan realita pertarungan antara Islam dan Kristen. Dengan judul yang diakhiri dengan tanda tanya (?) Azra memberikan gambaran bahwa pertarungan antara Islam dan Kristen di Nusantara pada abad ke-16 dan 17 merupakan pertarungan yang sarat dengan kepentingan politik dan ekonomi, terutama antara kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara dengan Portugis yang berusaha melakukan monopoli perdagangan. Azra berangkat dari teori Schrieke yang mencoba menghubungkan kebencian Portugis terhadap Islam dengan peristiwa Perang Salib di Timur Tengah. Kendati teori ini dikritik oleh Al-Attas, namun terlihat jelas kedatangan Portugis dalam ekspansi perdagangannya di Asia serta merta juga membawa kekristenan (Katolik). Kendati demikian, kedatangan Portugis ke Asia sebenarnya pertama-tama karena kepentingan perdagangan. Alhasil bahwa dengan kedatangannya menimbulkan motif agama, Portugis tidak terlalu menekankan soal tersebut. Bila melihat latar belakang penguasaan Portugis terhadap daerah Islam, terlihat pada abad ke-13 Islam sangat menguasai ekonomi dan politik. Jalur perdagangan dikuasai oleh Islam seperti jalur dari teluk Persia melalui Baghdad ke daerah Syria dan Asia Kecil, dan jalur dari pantai Yaman melalui Laut Merah ke Alexandria, Mesir. Melalui penguasaan jalur perdagangan ini Islam juga disebarkan hingga ke wilayah India. Bahkan melalui para pedagang Gujarat yang mendominasi perdagangan, Islam disebarkan ke kepulauan Indonesia melalui jalur perdagangan Samudera Hindia.2 Dalam upaya menguasai jalur perdagangan di Asia, pertama-tama Portugis menancapkan kekuasaannya di India, melalui kedatangan Vasco da Gama bersama armada kecilnya pada tahun 1498. Setelah itu Portugis melakukan teror

Bnd. Ricklefs yang mengajukan kemungkinan Islam telah masuk ke Indonesia sejak abad ke-10 melalui para utusan Sriwijaya ke Cina yang bernama Arab, dan bukti-bukti nisan sejak abad ke-13. M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia since c. 1200 (2001), h. 3ff. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Sejarah Indonesia Modern 12002008 (terbitan Serambi, tahun 2008) dengan tambahan satu bab yang berbicara tentang perkembangan Indonesia sejak tahun 2004.

pada jalur perdagangan Asia, sehingga kemudian menguasai jalur perdagangan tersebut. Teror yang mereka lakukan tidak terlepas dari misi sucinya yakni sebisa mungkin membersihkan orang Islam dari muka bumi (h. 12). Mereka memburu dan menghancurkan kapal-kapal dagang Islam, termasuk kapal Sultan Mamluk. Mereka juga membunuh para kru dan penumpang kapal yang sedang dalam perjalanan naik haji ke Mekah. Di sini terlihat Portugis meniup bara api permusuhan agama dengan Islam. Portugis juga mengincar kota-kota pusat perdagangan yang ada di Asia. Karena itu Portugis kemudian berlayar ke arah Malaka dan tiba di sana pada tahun 1509. Dua tahun kemudian yakni tahun 1511, Portugis menguasai Malaka dan berusaha memonopoli perdagangan di Malaka. Penguasaan Portugis atas Malaka paling tidak berakibat pada dua hal besar. Pertama, berubahnya pusat dan jalur perdagangan yang selama ini dikuasai kerajaan-kerajaan Islam. Pusat perdagangan kemudian berpindah dari Malaka ke kesultanan Aceh. Kedua, terjadinya bentrokan militer antara Portugis dan kerajaan-kerajaan sekitar yang notabene beragama Islam. Bentrokan ini kemudian berdampak pada bentrokan agama antara Islam dan Kristen. Musuh terkuat Portugis di daerah barat Indonesia adalah kesultanan Aceh. Baik itu karena motif ekonomi dan politik, maupun karena motif agama, perseteruan antara Aceh dan Portugis menjadi perseteruan yang berlangsung amat panjang. Kedua-belah pihak saling serang meski tidak pernah mampu menguasai lawannya. Kesultanan Aceh juga dengan motif agama mencari bantuan dari kerajaan-kerajaan Islam lainnya seperti dari daerah Turki (terutama Kesultanan Ottoman), Gujarat, Abisinia, dan Malabar. Dampak dari kesibukan Portugis menghadapi perang melawan Aceh membuat Portugis tidak mempunyai kesempatan untuk menyebarkan kekristenan di daerah barat Indonesia kecuali di Malaka saja. Sebaliknya, perseteruan antara Aceh dan Portugis mengakibatkan konsolidasi antarkerajaan Islam (h. 17). Semenjak Malaka dikuasai, antara tahun 1511 dan 1522 Portugis mengirim ekspedisi dagang ke timur Indonesia, ke kepulauan Maluku dan sekitarnya, di bawah pimpinan Francisco Serro. Di bagian timur inilah mereka menemukan pusat cengkeh dan pala yang menjadi komoditas dagang internasional. Karena itu, mereka segera ingin menguasai daerah timur ini untuk

kepentingan dagang mereka. Namun, rupanya daerah timur sudah dipengaruhi Islam yang telah hadir sejak 50-80 tahun sebelum kedatangan Portugis. Sehingga ketika Portugis tiba di daerah timur, ia berhadapan dengan para pemimpin kesultanan Islam lokal. Di samping itu pula ia harus bersaing dengan Spanyol yang rupanya juga sudah hadir di timur Indonesia ini. Perseteruan antara kesultanan Ternate dan Tidore berimbas pada perseteruan Portugis dan Spanyol. Untuk kepentingan politik dan ekonomi, Ternate bersekutu dengan Portugis, dan Tidore bersekutu dengan Spanyol. Perseteruan antara kedua negara Eropa ini kemudian diakhiri pada tahun 1580 ketika Portugal menjadi bagian kekaisaran Spanyol. Spanyol kemudian berpindah ke Filipina, sedangkan kepulauan Maluku diserahkan kepada Portugis. Hubungan Portugis dengan Ternate menjadi buruk ketika Portugis membunuh Sultan Hairun. Anaknya, Sultan Baabullah kemudian melakukan perlawanan dan berhasil mengusir Portugis dari Ternate. Baabullah kemudian sangat berpengaruh dan disegani oleh penduduk lokal. Momentum ini dimanfaatkan oleh Baabullah untuk menyiarkan Islam di seluruh kepulauan Maluku, bahkan ke wilayah timur dan utara Sulawesi, dan wilayah selatan Mindanau. Ia memaksa orang-orang Kristen untuk menerima Islam sebagai tanda kesetiaan kepada sultan. Sehingga, penerimaan terhadap Islam menjadi sebuah bentuk kesetiaan yang sangat penting kepada raja Ternate. (h. 19). Pada Bab VI, 18002005: a National Overview, Th van den End dan Aritonang secara umum membicarakan perkembangan kekristenan di Indonesia sejak tahun 1800 hingga 2005 yang diletakkan dalam situasi nasional Indonesia. Untuk menjelaskan rentang waktu tersebut, kedua penulis membaginya ke dalam empat era besar, yakni: era kolonial (1800-1900), era akhir kolonial (1900-1942), era pendudukan Jepang (1942-1945), dan era Indonesia merdeka (1945-2005). Pada keempat era ini, kekristenan mengalami perkembangan dengan

karakteristiknya masing-masing. Perkembangan kekristenan pada era kolonial (1800-1900) ditandai dengan kebangkrutan yang dialami oleh VOC pada tahun 1799 sehingga diambil-alih oleh kerajaan Belanda. Sehingga otomatis Hindia Belanda (Indonesia) langsung berada di bawah kerajaan Belanda. Di negeri Belanda sendiri terjadi perubahan besar

akibat pengaruh Pencerahan. Sejak tahun 1796 dilakukan pemisahan antara Gereja dan negara. Namun dalam praktiknya di Indonesia, pemisahan itu tidak dapat diterapkan sepenuhnya. Karena pemerintah kolonial di Hindia Belanda tetap mempunyai andil besar dalam perkembangan agama khususnya kekristenan (Protestan). Bahkan atas inisiatif pemerintah kolonial, orang-orang Kristen Protestan digabung ke dalam satu organisasi gereja yakni Gereja Protestan di Hindia Belanda. Hal ini tidak lepas dari politik pemerintah yang hendak menggunakan Gereja sebagai perpanjangan tangan pemerintah untuk menjaga stabilitas politik di tanah jajahannya, dan untuk memudahkan pemerintah mengontrol perkembangan Protestan. Pemerintah memberi subsidi kepada Gereja dan menggaji para pendeta yang melayani di Gereja tersebut. Untuk kepentingan politik pula, pemerintah mengijinkan dilakukannya penginjilan ke daerah-daerah. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh berbagai badan zending yang telah terbentuk sejak akhir abad ke-18 dan 19 sebagai akibat kebangkitan pietisme di Eropa. Mereka masuk ke Hindia Belanda dan mulai melakukan penginjilan ke berbagai daerah. Penginjilan ini dilakukan baik itu oleh badan zending Protestan maupun oleh badan misi Katolik. Dalam catatan penulis bab ini, antara tahun 1800 dan 1900 ada sekitar 15 badan zending yang bekerja di Hindia Belanda (h. 141). Para zendeling yang bekerja di lapangan dilatih di seminari-seminari zending yang dipengaruhi pietisme dan berlandaskan Alkitab. Sehingga dapat dipahami bahwa para zendeling seringkali mengabaikan kritik-kritik terhadap Alkitab yang dipelopori Pencerahan. Karena menurut mereka, kritik-kritik tersebut akan mengganggu semangat penginjilan yang ada pada diri mereka. Mereka juga beranggapan bahwa mereka datang dari benua yang peradabannya lebih tinggi mutunya (superior), dan karena itu membawa agama yang bermutu tinggi pula. Sehingga mereka memandang peradaban lokal lebih rendah mutunya (inferior), dan tentu saja agama mereka bermutu rendah pula. Karena itu, dalam pelaksanaan penginjilan yang dilakukan, upaya westernisasi sangat kental diterapkan kepada penduduk lokal. Bangunan gereja terbuat dari bambu atau kayu dengan model Barat. Demikian juga bentuk liturgi dan lagu-lagu yang banyak mengadopsi Barat.

Metode penginjilan yang mereka lakukan adalah melalui khotbah dan percakapan lisan dengan tiap-tiap orang yang mereka temui. Sebisa mungkin mereka melakukan percakapan dalam bahasa setempat. Di samping itu pula mereka mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit sebagai sarana penginjilan. Agar Alkitab bisa dibaca oleh penduduk setempat, maka dimulailah penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Melayu dan bahasa daerah. Hasil dari penginjilan bermacam-ragam. Ada yang menerima dan ada pula yang menolak. Mereka yang menerima karena berbagai alasan, yakni karena terkesan dengan kepribadian para zendeling; kekristenan menghapuskan perang Pendidikan antar suku dan pemenggalan kepala; merasa naik derajatnya kalau menjadi anggota agama orang Eropa yang superior; acara keagamaan Kristen lebih murah dibandingkan acara keagamaan tradisional; dan Kristen tidak melarang untuk makan babi. Namun, ada juga yang menolak kekristenan dengan alasan karena takut dikucilkan dari komunitas lokal; benci kepada orang-orang kulit putih; tidak mengerti pesan Injil yang disampaikan zendeling; dianggap sebagai agama kaum budak; dan takut dibunuh penduduk setempat. Hingga pertengahan abad ke-19 bisa dikatakan hampir tidak ada organisasi gereja terbentuk. Hanya beberapa saja jemaat lokal yang terbentuk dan masih berpusat di kota-kota besar saja, kecuali di Maluku dan Minahasa. Organisasi Gereja ini akan sangat terlihat perkembangannya terutama ketika terjadi Perang Dunia Kedua yang mengakibatkan banyak zendeling dan orang Eropa yang diinternir oleh pihak Jepang dan mengakibatkan banyaknya organisasi Gereja lokal terbentuk. Sebelumnya para zendeling tidak terlalu memperhatikan perlunya membentuk organisasi Gereja lokal. Sehingga ketika para zendeling melakukan penginjilan, mereka hanya mengumpulkan orang-orang Kristen pribumi di suatu tempat di tiap-tiap kampung yang diinjilinya untuk kebaktian dan pemahaman Alkitab. Di tempat-tempat ini para zendeling sekaligus menjadi pemimpin baik itu spiritual maupun sekuler bagi perkumpulan orang Kristen ini. Untuk mengkoordinir perkumpulan tersebut, para zendeling memilih seorang penatua yang bertanggung jawab untuk menjaga orang Kristen yang ada di kampungkampung tersebut. Namun karena perkembangan orang Kristen semakin banyak dan di samping itu zendeling sangat terbatas, sehingga orang-orang Kristen lokal
menjadi faktor pendorong terima Kristen

diberdayakan

dan

dijadikan

pendeta

pembantu

(hulpprediker).

Mereka

disekolahkan di seminari zending dan berhak melaksanakan sakramen di daerahnya masing-masing. Para pendeta pembantu ini juga melakukan pengawasan kepada para guru jemaat yang bertugas di jemaat-jemaat besar dan membantu ketika melaksanakan Perjamuan Kudus. Memang, pemilihan tenaga pribumi ini sepenuhnya di tangan zendeling. Kita melihat bahwa pengaruh superior Barat masih berlaku bahkan hingga tahun 1930-an. Kita hampir tidak menemukan pendeta pribumi, kecuali di tanah Batak yang telah menahbiskan pandita Batak sejak tahun 1885. Umumnya hingga akhir abad ke-19, superioritas zendeling sangat terasa dalam pelaksanaan penginjilan di Hindia Belanda. Kepercayaan kepada pribumi untuk berdiri sendiri sangat kurang. Karena itu sikap paternalistik para zendeling dan ketergantungan orang-orang Kristen lokal kepada para zendeling menjadi dua warna yang berhubungan erat dan saling membutuhkan hingga memasuki abad ke-20. Pada era kedua (1900-1942), terjadi perkembangan ekonomi dan politik di Hindia Belanda, di mana pada tahun 1901 Politik Etis mulai dicanangkan sebagai sebuah tanggung-jawab kerajaan Belanda terhadap negara jajahannya untuk menyejahterakan rakyat jajahannya.3 Jalan raya dan jalur kereta api dibuat. Rumah sakit dan sekolah-sekolah didirikan. Telegraf dan radio diperkenalkan. Bahkan jalur penerbangan Amsterdam-Batavia pun dibuka. Pada waktu yang sama, semangat nasionalisme orang-orang pribumi di Hindia Belanda mulai menguat. Pada abad sebelumnya, perlawanan terhadap Belanda masih bersifat regional, tetapi memasuki abad ke-20, terjadi perlawanan yang bersifat nasional. Kaum cerdik pandai membentuk organisasi baik itu berhaluan nasionalis maupun berhaluan agama, baik itu untuk kepentingan ekonomi maupun maupun untuk kepentingan politik, baik secara terang-terangan maupun secara diam-diam. Organisasi-organisasi itu antara lain Budi Utomo (1908), Muhammadiyah (1912), Sarekat Islam (1913), Perserikatan Kaoem Christen (1918), dan Pakempalan
Politik Etis berpumpun pada pemahaman bahwa Belanda mempunyai kewajiban dan tanggung jawab moral untuk meningkatkan kemakmuran material dan spiritual anak-anak asuhnya di Hindia Belanda. Ada tiga bidang yang dianggap sebagai perhatian utama Politik Etis, yakni educatie, emigratie, irrigatie (pendidikan, perpindahan penduduk, dan pengairan). J.S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia ( 2006), h. 147-148.
3

Politik Katolik Djawi (tahun 1930 berubah menjadi Persatuan Politik Katolik Indonesia), Persatuan Minahasa, dan Sarekat Ambon.4 Di lapangan misi Katolik, dekade pertama abad ke-20 menjadi dekade misi Katolik yang semakin pesat di Hindia Belanda. Kaum Yesuit, SVD dan MSC melakukan misi secara giat dan menunjukkan kualitas misi di bidang kesehatan dan pendidikan. Rumah sakit-rumah sakit dan sekolah-sekolah Katolik menjadi tempat terbaik dan didatangi oleh banyak orang. Kendati demikian, para misionaris Katolik lebih banyak berasal dari Eropa, dan sedikit saja yang berasal dari penduduk pribumi. Baru pada tahun 1926 ada seorang pastor pribumi diangkat. Sebaliknya dari pihak Protestan, sedikit saja para zendeling yang berasal dari Eropa; lebih banyak dari penduduk pribumi. Pendidikan para misionaris Katolik sangat diperhatikan. Mereka menjadi misionaris setelah lulus dari pendidikan tinggi dengan penekanan teologi dan filsafat yang ketat. Sebaliknya, pada zendeling Protestan, pendidikan tinggi tidak terlalu ditekankan, yang penting adalah semangat penginjilan. Mereka umumnya hanya dipersiapkan sebagai tenaga praktis yang siap diterjunkan di lapangan. Untuk sedikit pengecualian bagi mereka yang berasal dari Federasi Mahasiswa Kristen Belanda (NCSV). Barulah setelah PD-II, gelar teologi menjadi prasyarat calon zendeling (h. 169). Pada dekade ini pula, aliran Pentakostal terutama dari Amerika Utara mulai masuk dan melakukan penginjilan di Hindia Belanda, dan menjadi salah satu denominasi terbesar di dalam Protestan Indonesia setelah PD-II. Perubahan mendasar mulai terlihat dalam perkembangan misi awal abad ke-20. Para penginjil Katolik dan Protestan mulai mengubah paradigmanya terhadap kepercayaan dan adat lokal. Mereka mulai mencari sisi-sisi positif dari kepercayaan dan adat tersebut agar mereka dapat melakukan penginjilan dengan baik dan dapat diterima oleh masyarakat setempat. Karena itu mereka mulai mempelajari agama dan budaya lokal, termasuk pendekatan kepada orang Islam. Paradigma superior Barat diubah. Keluhuran budaya lokal dicari dan dimaknai. Kita mengenal beberapa tokoh paradigma ini di antaranya Wilhelm Schmidt, Paul
Bnd. Hoekema yang menulis beberapa perkumpulan Kristen seperti Rentjono Boediyo di Jawa Timur (1909) yang mirip dengan Budi Utomo, Mardi Pratjojo (1913) yang dianggap mengimbangi Sarekat Islam, Pardonganan Mission Batak (1899), Hatopan Kristen Batak (1917), Sarekat Ambon dan Persatuan Minahasa. A.G. Hoekema, Berpikir dalam Keseimbangan yang Dinamis (1997), h. 109-111.
4

Arndt, Donatus Dunselman, Jan Verschueren, Albert C. Kruyt, Johan H. Neumann, Bernard Arps dan Hendrik Kraemer. Pendekatan tidak lagi ditujukan kepada pertobatan individu tetapi kepada penguatan komunitas lokal. Nasionalisme yang semakin tumbuh di antara penduduk pribumi menjadi perhatian serius Kraemer. Di samping itu keberadaan badan zending yang semakin lesu, terutama karena PD-I yang berdampak langsung kepada RMG, membuat perlu segera dipikirkan suatu gereja lokal yang mandiri. Karena itu, sejak tahun 1930-an Gereja-gereja lokal didirikan, misalnya HKBP (1930), GKJ dan GKJW (1931), GKP dan GMIM (1934), dan lain-lain. Tampaklah bahwa perubahan mendasar telah diletakkan kepada Gereja Tuhan di Hindia Belanda. Sebuah pemahaman menuju Gereja yang esa, yang di dalamnya anggota-anggota tubuh Kristus bersekutu dan bersatu dengan dipimpin oleh Roh Kudus (h. 176). Meskipun demikian, kecuali GKJ, Majelis Sinode Gereja masih dipimpin oleh para zendeling Barat. Barulah sejak masa pendudukan Jepang nanti pengurus Gereja didominasi oleh orang-orang Kristen lokal. Era ketiga, yakni era pendudukan Jepang (1942-1945) merupakan era yang sangat sulit bagi orang-orang Kristen pribumi dan pekerja misi Barat. Para pekerja misi Barat (Protestan dan Katolik) diinternir, bahkan ada yang dibunuh. Mereka harus segera meninggalkan lapangan misi, dan membiarkan Gereja-gereja muda yang baru terbentuk bertahan hidup secara mandiri. Gereja-gereja Katolik di Timor dan Kai banyak yang dijadikan barak tentara. Sekolah dan rumah sakit diambil-alih oleh pemerintah pendudukan Jepang. Di Gereja diperkenalkan caracara penyembahan kepada Kaisar. Di tiap-tiap bangunan Gereja harus dikibarkan bendera Jepang. Untuk mengurus Gereja-gereja Protestan yang tersebar di berbagai tempat, Jepang membentuk Dewan Gereja regional (Kiristokyo Rengokai) yang dipimpin oleh orang Jepang, seperti di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan dan Maluku. Demikian juga diberlakukan untuk Katolik. Gereja-gereja muda ini kemudian harus berbenah dan menyesuaikan diri dengan pemerintah pendudukan Jepang. Propaganda perang tentang kebangkitan Asia semakin menguatkan kebangkitan nasionalisme dan ekumenis di antara Gereja-gereja muda. Kebangkitan ini menjadi benih-benih yang akan membentuk

10

suatu wadah ekumenis yang terwujud di dalam DGI (1950) nantinya. Kendati di dalam penindasan, Gereja tetap bisa bertumbuh; belajar untuk menghidupkan dirinya sendiri. Sebagaimana diungkapkan S.T. Lande, Jemaat-jemaat yang tumbuh sebelum perang, tetap bertumbuh di masa perang (h. 186). Era Indonesia merdeka (1945-2005) menjadi penutup dalam bab VI ini. Dalam era ini perubahan terjadi secara signifikan bagi Gereja dan kekristenan di Indonesia. Gereja berubah dari pengaruh kuat misi Barat kepada gereja lokal dan nasional. Di dalam era ini pula, negara Indoesia berbenah diri dan melakukan pembangunan. Pada masa pembentukan konstitusi negara (1945), terjadi tarikmenarik yang sangat kuat antara orang-orang Kristen dan orang-orang Islam yang berpengaruh di pemerintahan pusat. Yang menarik, penulis mengetengahkan bahwa ada semacam blok-blok di dalam pemerintahan pusat. Di satu sisi adalah blok Islam yang berusaha untuk menegakkan syariat Islam sebagai dasar negara. Di sisi yang lain ada blok Kristen yang tidak menerima syariat Islam. Satu blok lagi, yakni blok nasionalis, menjadi penengah dan cenderung lebih setuju dengan konsep blok Kristen. Sehingga dalam perumusan konstitusi negara, koalisi nasionalis dan Kristen ini mampu mengarahkan dasar negara pada kesatuan negara tanpa memihak salah satu agama, kendati hingga saat ini masih ada upaya kaum Islam radikal yang tetap memperjuangkan syariat Islam menjadi bagian dari dasar negara Indonesia. Blok-blok ini akan terintegrasi ke dalam partai-partai politik yang didirikan pada tahun 1945, seperti Masyumi, Partai Kristen Indonesia, dan Partai Katolik Republik Indonesia, di samping Partai Nasional Indonesia yang didirikan tahun 1927. Sebenarnya, pada awal kemerdekaan, Indonesia masih belum aman dari rongrongan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Agresi militer I (1947) dan II (1948) menunjukkan ketidakrelaan Belanda untuk melepaskan Indonesia. Perjanjian-perjanjian antara Indoesia dan Belanda banyak merugikan Indonesia, yang mengakibatkan pemberontakan separatis DI/TII karena dianggap telah mengkhianati proklamasi kemerdekaan. Sehingga suhu politik dalam awal kemerdekaan menjadi perjuangan berat bangsa Indonesia. Di satu sisi berhadapan dengan Belanda, di sisi lain berhadapan dengan kelompok separatis yang adalah

11

sesama anak bangsa. Dalam hal ini, Gereja Protestan dan Katolik secara gamblang menyatakan dukungannya kepada kemerdekaan RI yang telah diproklamirkan. Tanggal 27 Desember 1949 kedaulatan Indonesia diakui oleh Belanda. Dan pada tanggal 17 Agustus 1950 RIS kembali menjadi NKRI, sebagai bentuk negara kesatuan dan bukan lagi sebagai negara federal. Sejak tahun inilah Orde Lama mulai berkuasa hingga tahun 1965. Semangat nasionalisme ini mendorong Gereja pula untuk bersatu, bahkan beberapa bulan sebelum terbentuknya NKRI telah dibentuk DGI (25 Mei 1950). Menurut penulis bab ini, terbentuknya DGI pada satu sisi merefleksikan kesadaran Gereja-gereja bahwa mereka berada pada sebuah negara kesatuan, dan pada sisi yang lain Gereja-gereja berpartisipasi di dalam perjuangan untuk menegakkan dan mengembangkan kesatuan bangsa dan negara. (h. 194). Para tokoh politik Kristen mengambil peran penting di dalam pemerintahan. Tampak antara lain ada beberapa tokoh Kristen yang terlibat di dalam pembentukan konstitusi negara, menjadi gubernur, menteri, dan perdana menteri. Dalam kenyataannya, para tokoh Kristen ini mendapat simpati dari kaum nasionalis, termasuk Soekarno. Keterlibatan tokoh Kristen rupanya sejalan dengan semangat nasionalis dalam membentuk negara kesatuan yang berdasarkan Pancasila. Di sinilah terjadi perdebatan panjang (yang berlangsung hingga pada masa kini) tentang dasar negara tersebut. Di dalam berbagai pertarungan politik dan perubahan-perubahan sistem pemerintahan RI, kelompok Islam masih bersikeras untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara dan agama negara. Namun perjalanan sejarah Indonesia membuktikan bahwa usaha ini tidak pernah berhasil dan selalu dimentahkan oleh koalisi nasionalis dan Kristen. Memang tarik-menarik ini seakan-akan menjadi konsumsi dua agama besar saja, yakni Kristen dan Islam -bisa jadi karena karakter agama samawinya yang misioner dan dakwah- dan tidak terlihat peran kelompok agama-agama lain (Hindu dan Buddha). Tetapi kita dapat menyimpulkan bahwa kelompok agama-agama lain ini tentu tidak akan sepakat dengan keinginan kelompok Islam yang mau menjadikan negara RI berdasarkan Islam dan menjadikan Islam sebagai agama negara. Kendati kekristenan tidak terlalu berkembang pesat pada masa Orde Lama, namun kekristenan mendapat tempat dan dihargai di pemerintahan. Dalam era ini

12

pula tiga universitas Kristen telah didirikan, yakni UKI, Universitas HKBP Nommensen, dan UKSW. Era Orde Baru (1966-1998) beranjak dari peristiwa G-30-S/PKI tahun 1965 (yang dalam berbagai analisis masih mempertanyakan keterlibatan PKI dalam gerakan ini). Soeharto menumpas gerakan ini dan menjadi Presiden menggantikan Soekarno. Gerakan pemuda dan mahasiswa juga turut mendukung penghapusan PKI dengan Tritura-nya. Akibatnya, PKI kemudian dibersihkan dari tanah-air Indonesia. Organisasi PKI dibubarkan. Orang-orang yang terlibat dengan PKI ditangkap, dipenjara, bahkan dihukum mati. Pemerintah Orde Baru kemudian memilih Golongan Karya (Golkar) sebagai kendaraan politiknya untuk Pemilu 1971. Sejak itu Golkar menjadi partai pemerintah dan mendukung setiap gerakan pemerintah. Untuk penyederhanaan partai-partai politik, pemerintah pada tahun 1973 membentuk dua partai baru di samping Golkar, yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk menggabung partai-partai Islam, dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) untuk partai nasionalis-sekuler, Parkindo dan Partai Katolik, yang semula ditolak oleh kedua partai terakhir ini. Tampaknya pemerintah telah berusaha melegalkan pengelompokkan Islam dan Kristen ke dalam dua partai yang berbeda (PPP dan PDI). Dimensi perseteruan Islam-Kristen ini terus berlanjut dalam sejarah Indoensia hingga masuk pada masa Orba ini, baik itu dalam bentuk fisik maupun dalam bentuk konseptual. Dalam bab ini, yang menjadi korban cenderung lebih banyak di pihak Kristen. Para tokoh Islam dari berbagai organisasi Islam dengan semangat mayoritasnya berusaha menekan Kristen sedemikian rupa. Bahkan pihak pemerintah seakan-akan tidak netral dan banyak memihak Islam, yang tampak dalam berbagai kebijakan yang diambil yang sepertinya berat sebelah. Tentu saja para tokoh Kristen tidak tinggal diam. Dalam berbagai kesempatan, mereka mengeluarkan nota protes yang seringkali tidak ditanggapi oleh pemerintah Orba. Pelapor berpikir bahwa bisa jadi ada keterkaitan dendam lama Soeharto yang didukung kelompok Islam terhadap Soekarno yang sangat dekat dengan PKI dan sangat menghormati Kristen. Karena dalam kenyataannya, ketika para simpatisan PKI diminta untuk memilih dan memeluk agama yang diakui pemerintah, mereka memilih agama Kristen sebagai agama mereka (h. 206).

13

Tentu saja kecemburuan Islam semakin besar kepada Kristen. Kekhawatiran yang berlebihan terhadap kristenisasi mengakibatkan Islam dengan berbagai cara melakukan upaya-upaya represif terhadap Kristen. Kebijakan-kebijakan

pemerintah juga sangat berbau Islam (karena dipengaruhi kaum intelektual Islam) dan melakukan pembatasan gerak Kristen, misalnya SKB Mendagri dan Menag no. 1/1969 dan SK Menag no. 70 dan 77/1978. Lengsernya Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 menandai lahirnya era reformasi. Munculnya era reformasi memberikan harapan yang besar kepada orang Kristen yang selama ini selalu merasa ditindas. Tetapi dalam kenyataannya, harapan itu tidak dapat terwujud sepenuhnya. Bahkan sejak era reformasi ini, konflik horisontal berbau agama sangat sering terjadi, seperti yang terjadi di Ketapang, Kupang, Ambon, Poso, dan Kalimantan. Kerusuhan-kerusuhan yang terjadi sebenarnya lebih banyak berasal dari pertikaian-pertikaian biasa, misalnya perkelahian antarpemuda. Namun sentimen agama dimunculkan sehingga pertikaian biasa itu berubah menjadi konflik antaragama (terutama Islam dan Kristen) yang mengakibatkan banyak korban harta dan jiwa. Entah sampai kapan perseteruan antara Islam dan Kristen ini berakhir. Yang jelas, dalam sejarah Indonesia hingga era reformasi terjadi pertikaian yang tidak pernah berakhir antara Islam dan Kristen, yang mengaku sama-sama agama samawi, agama yang diwahyukan oleh Allah. Bab IX, Moluccan Christianity in the 19th and 20th century between Agama Ambon and Islam, membicarakan perkembangan kekristenan di Maluku pada abad ke-19 dan 20, serta posisi kekristenan di antara Agama Ambon dan Islam. Agama Ambon merupakan pencampuran agama Kristen atau Islam dengan agama tradisional (bnd. h. 109). Maluku pada abad ke-19 dan 20 bukan lagi menjadi pusat ekonomi seperti beberapa abad sebelumnya pada zaman VOC. Posisinya sudah digantikan oleh Jawa dan Sumatra. Dalam perkembangan kekristenan, sejak tahun 1780-an hingga tahun 1815, jemaat Kristen seakan-akan tidak terurus. Dapat dilihat dari jumlah pendeta yang melayani sangat sedikit, bahkan antara tahun 1801 sampai 1815, tidak ada pendeta yang melayani di jemaat Ambon. Dalam situasi inilah, peran para penatua yang ada di jemaat-jemaat sangat besar untuk menjaga agar warga

14

jemaat tidak kembali kepada agama suku. Pemerintah mengalami kesulitan SDM yang akan dikirim ke Maluku. Karena itu pemerintah meminta bantuan badan zending untuk mengirimkan zendeling ke daerah ini. Dan tibalah Joseph Kam ke Maluku pada tahun 1815 untuk mengorganisir jemaat-jemaat yang ada dan mempersiapkan jalan masuk bagi para zendeling lainnya. Ia dikenal sebagai Rasul Maluku Ketiga setelah Francis Xavier dan Justus Heurnius. Dalam melaksanakan pekerjaan misi ini Kam menggabungkan ide-ide pietisme dengan unsur-unsur Gereja Reformed (h. 386). Jabez Carey, pendahulu Kam di Maluku, menolak untuk membaptis anak-anak. Sebaliknya Kam berpendapat bahwa sebuah kewajiban untuk membaptis semua orang yang lahir dari keluarga Kristen. Karena itu pada zaman Kam, banyak sekali anak-anak yang dibaptis, yang berarti penambahan kuantitas orang Kristen di Maluku. Kam juga melakukan perjalanan keliling untuk mengabarkan Injil menggunakan perahu yang dibuatnya sendiri. Orang Kristen semakin bertambah, jemaat-jemaat didirikan. Ia juga mengajak orang-orang muda untuk diberi kursus di rumahnya, di bawah bimbingan istrinya dan guru kepala (Meester Besaar) di Ambon, dengan tujuan untuk mempersiapkan tenaga pengajar di sekolah-sekolah. Ia mendorong pembangunan sekolah-sekolah, bahkan ia memberikan halaman belakang rumahnya untuk didirikan sekolah dasar. Ia juga membentuk Perkumpulan Pembantu Zendeling (Hulp-Zendelinggenootschap) yang bertujuan untuk memberi dukungan kepada para zendeling dari Eropa dan juga mempersiapkan para zendeling lokal untuk melawan penyembahan berhala dan perbudakan. Melalui percetakan yang dimilikinya, ia juga menerbitkan bacaan-bacaan Kristen seperti Alkitab, kitabkitab Mazmur, katekismus dan kumpulan khotbah. Setelah Kam, tokoh penting lainnya yang bekerja di Maluku adalah Bernhard Roskott. Ia menjadi kepala Sekolah Pelatihan Guru hingga tahun 1864. Sejak tahun 1843 ia dibantu oleh P. Picauly untuk mengurus sekolah ini. Di sekolah ini diajarkan baik itu pelajaran agama maupun pelajaran umum yang biasa diajarkan di sekolah dasar. Siswa juga diajarkan keahlian dalam hal pertanian, pertukangan, dan pekerjaan rumah tangga. Lulusan sekolah ini ternyata sangat bermanfaat untuk memenuhi kekurangan tenaga guru di Kepulauan Maluku dan sekitarnya, meski lulusan sekolah ini sangat sedikit. Peran Roskott juga terlihat
Saudara William Carey

15

dalam hal mengorganisir sekolah-sekolah pemerintah karena ia dipercayakan sebagai inspektur sekolah-sekolah pemerintah di Maluku. Ia mengusulkan agar roda pemerintahan di kampung-kampung diserahkan dari pemimpin-pemimpin tradisional kepada guru-guru. Tujuannya jelas, membentuk teokrasi Protestan di kampung-kampung Kristen (h. 390). Namun usulannya ini ditolak pemerintah. NZG yang menaungi Roskott bahkan ditarik dari Maluku pada tahun 1842. Badan zending diperintahkan untuk tidak mencampuri urusan persekolahan. Para zendeling NZG diminta bergabung dengan Gereja Protestan di HB (dikenal sebagai Gereja Hindia, Indische Kerk) sebagai pendeta pembantu (hulpprediker). Sejak itu, pengaruh Gereja Hindia sangat kuat di Maluku. Gereja Hindia dapat dikatakan sebagai Gereja pemerintah, karena Gereja mendapat subsidi dari pemerintah. Para pendeta juga digaji oleh pemerintah. Otomatis, Gereja Hindia berada di bawah kontrol pemerintah. Inilah yang menimbulkan upaya-upaya perlawanan terhadap kebijakan tersebut dengan mendirikan Gereja yang mandiri nantinya, yakni Gereja Protestan Maluku (GPM) pada tahun 1935. Hasil temuan pemerintah terhadap persekolahan di Maluku sungguh mengejutkan. Sejak tahun 1860-an dikeluarkan kebijakan pemisahan antara sekolah dan Gereja. Tetapi di Maluku, kebijakan itu tidak dapat diterapkan sepenuhnya. Karena guru-guru yang mengajar di sekolah-sekolah (guru midras) ternyata dalam kehidupan sosialnya mempunyai peran ganda. Di samping mengajar di sekolah-sekolah, mereka juga memimpin kebaktian, memberikan katekisasi, perkunjungan pastoral dan berkhotbah di Gereja-gereja. Mungkin ini karena pengaruh sekolah Roskott dahulu yang mempersiapkan para guru baik itu di bidang pelajaran agama maupun pelajaran umum. Tahun 1885 STOVIL didirikan sebagai sebuah sekolah teologi yang dikhususkan untuk pendeta-pendeta lokal. Sebagaimana diungkapkan di atas, GPM hadir dalam keadaan
bnd. Kroeskamp

kontroversial dengan pemerintah. Mereka berusaha melepaskan pengaruh pemerintah dari Gereja yang tampak dari struktur kemajelisan Gereja. Namun, pada dasarnya hal itu tidak terlalu berhasil. Sebagai Gereja Protestan, mereka dibawah naungan administrasi pemerintah. Sejak pendudukan Jepang,

16

kemandirian itu bisa terwujud. Namun, persoalan baru muncul. Mereka harus melawan otoritas Jepang yang menindas Gereja dan mengharuskan penghormatan kepada bendera Jepang sebelum kebaktian Minggu. Alhasil, 32 pendeta dan 47 guru jemaat GPM yang menolak dibunuh oleh Jepang. Setelah penduduk Jepang dan Indonesia merdeka, GPM berbenah di bawah pimpinan Thomas Pattiasina. GPM mendirikan sekolah-sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. GPM menjalin hubungan yang baik dengan pemerintah dan mendukung beberapa program pemerintah. Demikian pula pemerintah memberikan subsidi kepada Gereja. Protestan di daerah Maluku Utara dibawa oleh UZV yang datang pada tahun 1866. Hendrik van Dijken menjadi tokoh zending di Maluku Utara ini. Ia mendirikan kampung Kristen Duma yang menjadi sebuah tempat diberlakukannya hukum-hukum Kristen. Kampung ini tertutup dari orang lain selama Van Dijken melayani di tempat ini. Namun sejak Van Dijken meninggal tahun 1900 dan diganti oleh A. Hueting, kampung Duma menjadi terbuka dan dijadikan pusat pelatihan guru di Halmahera. Mereka ini nantinya yang akan mendirikan jemaatjemaat baru. Sejak pedudukan Jepang, komunitas Kristen di Halmahera keluar dari pengaruh badan zending asing. Hal ini mengakibatkan pada tahun 1949 mereka membentuk gereja baru yakni Gereja Masehi Injili Halmahera (GMIH). Di Maluku Tenggara, tiga agama besar, yakni Protestan, Katolik, dan Islam bertemu dan saling tarik menarik. Persaingan terutama antara Protestan dan Katolik pun terjadi yang mengakibatkan sering terjadinya gesekan dan upaya penguasaan terhadap anggota agama yang lain, termasuk agama suku. Antara tahun 1998 dan 2002 terjadi konflik antaragama di Maluku, yakni antara Kristen dan Islam. Konflik ini sebenarnya telah berakar lama bahkan sejak kedatangan Portugis. Kristen yang cenderung dekat dengan pemerintah kolonial dimusuhi oleh Islam yang berusaha tertutup terhadap pemerintah. Penduduk mengelompokkan diri dengan mendirikan kampung-kampung bernuansa agama, baik itu kampung Kristen maupun kampung Islam. Karena itu, dapat dipahami bahwa sentimen agama sangat kuat dengan pengelompokkan seperti itu. Sehingga peristiwa-peristiwa kecil dan remeh bisa berimbas pada konflik besar antarkampung atau antaragama. Di samping itu, masuknya penduduk Sulawesi
Bapak Pendidikan Maluku Modern

17

Selatan dan Tengah ke Maluku mengakibatkan penguasaan ekonomi dan pemerintahan oleh orang Islam yang selama ini dikuasai oleh orang Kristen. Kecemburuan sosial memberi potensi meledaknya konflik antaragama di kemudian hari. Tanggal 19 Januari 1999 konflik berdarah pertama terjadi di Ambon. Toko-toko dijarah, rumah-rumah dibakar, bahkan orang-orang dibunuh. Orang Kristen memakai ikat kepala merah, sedangkan orang Islam memakai ikat kepala putih. Dalam peristiwa ini dilaporkan 11 orang terbunuh. Tentang peristiwa ini, banyak spekulasi yang muncul sebagai penyebab terjadinya kerusuhan tersebut. Kerusuhan ini menyebar ke kepulauan Ambon dan pulaupulau sekitarnya. Pembakaran rumah penduduk, rumah ibadah dan sekolah terjadi di mana-mana. Ribuan orang mati terbunuh. Ribuan orang harus mengungsi untuk menyelamatkan diri. Hingga tahun 2002, tragedi kemanusiaan bermotif agama ini meluluh-lantakkan kepulauan Maluku dan sekitarnya. Bab X, How Christianity obtained a central position in Minahasa culture and society, membicarakan bagaimana kekristenan mempengaruhi budaya dan masyarakat Minahasa. Sebenarnya, pada dekade awal abad ke-19, kekristenan di Minahasa tidak terlalu berpengaruh. Sedikit saja kampung-kampung yang masih memeluk agama Kristen. Namun, sejak kedatangan Joseph Kam dari Maluku ke daerah Minahasa untuk meninjau kemungkinan misi di tempat ini, para zendeling NZG kemudian dikirim untuk mengabarkan Injil ke daerah ini. Salah satunya adalah G.J. Hellendoorn yang dikirim ke Manado pada tahun 1827. Tugas utama Hellendoorn adalah melayani jemaat kecil orang Eropa yang ada di sana. Tetapi kemudian, ia juga mengabarkan Injil kepada penduduk sekitar. Ia juga memberikan perhatian serius kepada pendidikan pribumi. Ia mencontoh Kam yang mendidik kaum muda di rumahnya untuk dipersiapkan sebagai tenaga pengajar di sekolah-sekolah. Aspek agama tentu saja tidak lepas dari kurikulum pendidikan yang ia selenggarakan di rumahnya tersebut. Setelah mereka sudah mantap, mereka kemudian dikirim ke daerahnya masing-masing untuk mendirikan sekolah dan mengajarkan orang lain dengan ilmu yang mereka dapatkan tersebut. Hingga kematian Hellendoorn pada tahun 1839, terdapat 56 sekolah dan 4.000 murid di Minahasa.

18

Riedel dan Schwarz yang meneruskan pekerjaan Hellendoorn, dengan giat menunjukkan kehebatan agama Kristen dari agama tradisional dalam rangka menginjili penduduk lokal sebanyak mungkin. Kristen diperkenalkan sebagai agama yang beradab (melarang pemenggalan kepala, mabuk-mabukan, dan pesta pora). Kekristenan juga membentuk manusia-manusia terdidik (manusia berkelas?) yang mampu berpikir cerdas dan realistis. Karena itu, seseorang harus meninggalkan kepercayaan lama yang penuh dengan kegelapan, dan harus memberlakukan hukum-hukum Kristen di dalam kehidupannya. Dalam bagian ini, kita perlu sadar bahwa para zendeling dipengaruhi oleh Pencerahan dan Pietisme di Eropa. NZG tidak bisa bertahan lama di Minahasa akibat krisis finansial di negeri Belanda dan akibat semakin luasnya wilayah misi NZG. Karena itu, sejak tahun 1870-an wilayah misi di Minahasa di bawah pengawasan Gereja Hindia (Indische Kerk), kendati beberapa zendeling menolak pemindahan tersebut. Seperti yang kita ketahui, Gereja Hindia dibiayai dan diatur oleh pemerintah kolonial, sehingga segala gerak langkah Gereja merupakan implementasi dari tujuan-tujuan pemerintah. Pemerintah menawarkan guru-guru sekolah yang selama ini dibiayai zending untuk menjadi guru-guru sekolah pemerintah. Ada yang menerima dan ada yang menolak. Mereka yang menerima kemudian dipekerjakan dan digaji oleh pemerintah. Sedangkan mereka yang menolak tetap mengajar di sekolah-sekolah yang didirikan oleh badan zending NZG. Ada perbedaan mendasar antara sekolah yang didirikan oleh zending dan sekolah yang didirikan oleh pemerintah. Pada sekolah zending, pelajaran agama sangat ditekankan. Sedangkan pada sekolah pemerintah, tidak ada pelajaran agama, yang ditekankan adalah pelajaran sekuler. Giatnya pelaksanaan pendidikan membawa dampak besar bagi penduduk Minahasa. Orangtua dengan semangat tinggi ingin menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya dengan segala kemampuan yang ada. Alhasil, masyarakat terdidik modern mulai tumbuh di Minahasa. Misi Katolik di Minahasa berawal dari kedatangan Johannes de Vries, seorang Yesuit yang diutus untuk melakukan misi di Minahasa pada tahun 1868. Kendati misi yang dilakukannya diprotes keras oleh kalangan Protestan dan pemerintah kolonial, namun ia tetap melakukan misi kelilingnya dan membaptis

19

banyak orang, baik itu mereka yang baru masuk Kristen maupun mereka yang berpindah dari Protestan. Misi Katolik terus berlanjut. Para misionaris dikirim ke Minahasa. Pada tahun 1886, terdapat 2.500 orang yang memeluk agama Katolik di Minahasa, dan pada tahun 1900 sudah mendekati 7.000 orang. Misi Katolik juga memperhatikan bidang pendidikan dan kesehatan. Mereka mendirikan sekolah-sekolah dari tingkat TK hingga perguruan tinggi. Yang menarik, para pengajar di sekolah Katolik ini banyak yang berasal dari Protestan. Mereka juga mendirikan dua rumah sakit. Sekolah dan rumah sakit ini terbukti sangat berkualitas. Misi juga memperhatikan kemajuan ekonomi masyarakat dengan membentuk Perserikatan Orang Berkeboen (POB), koperasi kredit, dan menggalakkan arisan di antara keluarga dan tetangga. Beberapa gereja yang lain juga hadir di Minahasa antara lain Gereja Advent dan Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM). Advent pertama kali dibawa oleh orang Minahasa sendiri yang bernama Samuel Rantung. Ia memperkenalkan Gereja Advent di kampungnya, di Ratahan. Setelah itu, beberapa penginjil Advent datang ke Minahasa untuk memperkenalkan Advent dan mencari anggota baru. Advent menawarkan gaya hidup asketik, menahan diri dari alkohol dan kopi, dan tidak turut pada kemewahan seperti perhiasan dan alat kecantikan (h. 433). KGPM hadir sebagai protes para guru sekolah zending terhadap peralihan lapangan misi dari NZG kepada Gereja Hindia. Mereka tidak mau bergabung dengan Gereja Hindia yang dianggap menjadi kaki-tangan pemerintah kolonial. Semangat anti kolonial ini semakin kuat dengan dukungan para nasionalis, sehingga KGPM sangat dekat dengan kaum nasionalis. Karena mereka adalah orang-orang yang berpengaruh di jemaat, maka dengan cepat anggota KGPM bertambah. Pada tahun 1941, KGPM sudah mempunyai 61 jemaat di Minahasa (sekitar 10% dari total orang Kristen di Minahasa). Pada tahun 1920-an, semangat untuk menjadi Gereja yang mandiri bergelora di hati orang-orang Kristen Minahasa. Mereka ingin melepaskan diri dari Gereja Hindia dan membentuk Gereja sendiri yang menggunakan identitas Minahasa. Tentu saja Gereja Hindia tidak terlalu menyetujui usul ini, meski akhirnya merelakan orang-orang Kristen Minahasa untuk membentuk organisasi Gereja sendiri yang diberi nama Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM) pada

20

tahun 1934. Persetujuan ini diberikan dengan syarat bahwa pemimpin Majelis Sinode (MS) GMIM adalah pendeta Belanda dan berada di bawah kontrol Majelis Gereja di Batavia, sedangkan untuk pemimpin klasis boleh berasal dari pendeta pribumi. Mungkin ini merupakan jalan tengah yang diambil pada waktu itu untuk mengakomodasi kehendak orang-orang Kristen Minahasa dan Gereja Hindia. Pada kenyataannya, Gereja Hindia sangat kuat berperan di dalam Gereja muda ini melalui MS GMIM. Beberapa keputusan yang tidak sejalan dengan Gereja Hindia dibatalkan oleh MS, karena memang MS adalah perpanjangan tangan Gereja Hindia, yang berarti perpanjangan tangan pemerintah juga. Pemimpin klasis berhak untuk memilih MS. Sedangkan pemimpin (ketua) MS GMIM ditunjuk oleh Gereja Hindia. Namun menjelang kedatangan Jepang, semangat untuk kemandirian yang penuh semakin kuat. Akhirnya pada tahun 1942, ketua MS dipegang oleh orang Minahasa sendiri, yakin A.Z.R. Wenas. Sejak itulah GMIM semakin mengarah kepada kemandirian dan melakukan konsolidasi dengan Gereja-gereja sekitar. Dalam beberapa peristiwa separatis seperti DI/TII dan Permesta/PRRI, GMIM berusaha untuk bersikap netral. MS GMIM mengeluarkan pernyataan bahwa GMIM menolak kekerasan yang dilakukan baik oleh kaum separatis maupun oleh pemerintah, serta mencari solusi damai agar pemberontakan itu bisa segera diselesaikan. GMIM juga melakukan pelatihan dan penguatan kepada warga Gereja untuk tidak termakan indoktrinasi PKI pada tahun 1960-an. Hubungan ekumenis ditingkatkan, keterlibatan di lapangan pendidikan dikuatkan, yang tampak dalam lembaga Sinode Am Gerejagereja Sulawesi dan berdirinya Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT). Perkembangan GMIM sejak tahun 1965 merupakan perkembangan yang kompleks. Gereja harus berbenah di dalam organisasinya sendiri dengan institusi Gereja yang semakin birokratis dan menipisnya semangat profetis. Korupsi di dalam institusi Gereja sangat marak. Konflik kepentingan mengakibatkan keputusan-keputusan yang diambil Gereja dapat dimanfaatkan pihak-pihak yang berkepentingan. Gereja juga harus berbenah untuk memilah dengan baik semangat kebangkitan identitas suku yang mau diterapkan di dalam Gereja (inkulturasi). Demikian pula Gereja harus menunjukkan diri sebagai Gereja profetis yang anti KKN, kendati beberapa oknum warga Gereja yang ada di pemerintahan

21

melakukan KKN. Benturan sosial akibat kesenjangan sosial antara si miskin dan si kaya membutuhkan keterlibatan sosial Gereja untuk melakukan mediasi dan penguatan ekonomi warga Gereja. Dengan peristiwa konflik antaragama di Ambon yang berimbas pada banyaknya pengungsi ke daerah Minahasa, mengharuskan Gereja terlibat dalam penanganan pengungsi dan rekonsiliasi konflik. Di kepulauan Sangir dan Talaud, kekristenan hadir akibat Pekabaran Injil (PI) yang dilakukan para zendeling sejak perkunjungan-perkunjungan yang dilakukan oleh Joseph Kam dari Maluku pada tahun 1817. Sejak itu para zendeling datang ke kepulauan ini secara bergantian, baik itu atas nama pribadi maupun lembaga. Upaya penggalangan dana di Belanda juga dilakukan untuk membantu pekerjaan PI di wilayah ini. Memasuki abad ke-20, para zendeling sepakat untuk memandirikan jemaat di kepulauan Sangir-Talaud. Mereka mempersiapkan para pendeta pribumi untuk melayani daerahnya sendiri. Alhasil, 16 pendeta lokal ditahbiskan pada tahun 1921. Mereka juga mempersiapkan struktur Gereja lokal yang bernuansa Presbiterian. Pada kenyataannya, setelah pendudukan Jepang, yakni pada tahun 1947, barulah Gereja Masehi Injil SangirTalaud (GMIST) resmi berdiri. Pekabaran Injil di daerah lain: Bolaang Mongondow, Gorontalo, dan kepulauan Banggai dan sekitarnya dapat membentuk Gereja-gereja lokal yang berdiri sendiri dengan anggota ribuan jiwa, kendati pengaruh Islam sangat kuat di daerah tersebut dan dapat mengakibatkan konflik antaragama. Dapat disebutkan di sini seperti Gereja Masehi Injili Bolaang Mongondow (1950), Gereja Protestan Indonesia Gorontalo (1965), Gereja

Protestan Indonesia Buol Toli-Toli (1965), dan Gereja Kristen Luwuk-Banggai (1966). Bab XVI, Theological thinking by Indonesian Christians, 18502000, membicarakan pemikiran-pemikiran teologi orang-orang Kristen di Indonesia, baik itu Protestan maupun Katolik. Pemikiran teologis ini merupakan sebuah upaya pengejewantahan ide-ide teologis yang bertema ke-Indonesia-an, pemikiran pribumi dalam konteksnya sendiri, dan bukan dalam pemikiran Barat (Eropa) yang seringkali berbeda ketika menghadapi konteks negara yang berbeda dengan

22

negara mereka. Karena teologi yang berkembang di Indonesia hingga akhir abad ke-19 masih didominasi oleh teologi Barat yang dianggap mempunyai standar yang tinggi dan dapat menjadi acuan teologi di daerah jajahan seperti Indonesia. Untuk itu, keterlibatan orang-orang Kristen lokal dalam berteologi masih kurang, kendati pada abad ke-19 sudah ada para pemikir teologi yang disebut dengan proto-teolog seperti Paulus Tosari, Asa Kiman, Ibrahim Tunggul Wulung dan Sadrach Surapranata. Para proto-teolog Indonesia ini mengungkapkan teologinya dalam nyanyian, puisi dan buku-buku kecil yang belum sistematis, hanya menampakkan kebijaksanaan Kristen yang ditemuinya di dalam kehidupan seharihari, dan dalam berbagai sisi terlihat berupaya untuk menggabungkan kekristenan dengan budaya dan agama setempat yang berkembang saat itu. Dalam 40 tahun pertama abad ke-20 terjadi perkembangan yang signifikan di bidang teologi Kristen Indonesia. Sekolah-sekolah guru baik yang didirikan oleh Protestan maupun yang didirikan oleh Katolik menjadi cikal bakal berteologi ke-Indonesia-an. Di sekolah ini para teolog pribumi digodok untuk menguasai ilmu umum dan agama Kristen, yang sertanya digodok untuk berpikir secara mandiri dengan menggunakan kebebasan berpikir dan berkreasi. Seminariseminari dan sekolah tinggi teologi juga didirikan untuk memfokuskan pengajaran pada bidang teologi Kristen. Teologi berkembang dari teologi Barat ke teologi lokal (kontekstual) dengan tujuan untuk memahami keberadaan lokal dengan seluk-beluknya yang sangat kompleks. Diskusi-diskusi teologis tentang adat, agama suku dan agama lainnya, serta tidak ketinggalan isu nasionalisme dan politik yang sedang menghangat pada waktu itu, diupayakan untuk dipahami dalam perspektif Kristen. Melalui penerbitan buku-buku, jurnal, majalah dan brosur, isu-isu ini diulas dan dikritisi. Karena itu, dapat dipahami bahwa pada 40 tahun pertama abad ke-20, upaya pemandirian Gereja lokal dalam semangat nasionalisme sangat kuat berkembang. Karena, setiap bangsa (orang,

kelompok bahasa) membutuhkan gerejanya sendiri agar menjamin identitas sosial-budayanya (h. 768). Di dalam semangat nasionalisme ini pulalah, kesadaran akan Gereja yang esa semakin berkobar, yang pada tahun 1950 terwujud dan melembaga di dalam DGI (tahun 1984 menjadi PGI).

23

Sejak Indonesia merdeka, para teolog Kristen Indonesia semakin mendapat tempat, terutama mempengaruhi gereja-gereja lokalnya masing-masing dan gereja seluruh Indonesia secara umum. Lulusan HTS (sekarang STT Jakarta) banyak yang menjadi pemimpin di dalam gereja-gereja lokal, bahkan menjadi pemimpin di dalam DGI, yang membawa semangat oikumene dan nasionalisme. Institut dan sekolah tinggi teologi semakin banyak didirikan baik itu yang didirikan oleh Protestan, Katolik, maupun Pentakostal, baik itu bersifat konvensional maupun bersifat liberal. Pemikiran teologi berkembang pesat ke arah teologi kontekstual. Di samping itu, untuk menaungi sekolah-sekolah teologi yang ada, dibentuklah Persekutuan Sekolah-sekolah Theologi di Indonesia (Persethia, sekarang Persetia) pada tahun 1961, yang pada tahun 2000 sudah mempunyai 33 anggota. Di tingkat regional Asia Tenggara juga sudah dibentuk Association for Theological Education in Southeast Asia (ATESEA). Penerbitan buku-buku dan jurnal teologi sejak Indonesia merdeka juga semakin giat dilakukan. Berbagai isu lokal dan nasional yang dikritisi secara teologis menjadi upaya pengejawantahan teologi yang kontekstual, dalam rangka pemaknaan teologi yang terlibat. Penggunaan media cetak dan elektronik pun diupayakan semaksimal mungkin dalam rangka menggulirkan isu kemasyarakatan dalam perspektif teologis. DGI/PGI sebagai wadah persekutuan gereja-gereja Protestan menjadi elemen penting dalam pengembangan teologi kemasyarakatan. Melalui wadah ini dirumuskan dan diumumkan kepada publik tentang pemikiran Kristen (Protestan) dalam berbagai situasi bangsa dan negara. Di DGI/PGI pula dirumuskan pemahaman ekumenis antargereja anggota DGI/PGI, antara lain Lima Dokumen Keesaan Gereja. MAWI/KWI sebagai wadah persekutuan umat Katolik tingkat nasional melakukan hal yang sama. MAWI/KWI mengeluarkan pernyataanpernyataan sebagai sikap umat Katolik terhadap permasalahan bangsa. Dan sejak Konsili Vatikan II, Katolik menjadi sangat ekumenis dan kultural. Jika selama ini Protestan dianggap sebagai musuh, maka sejak konsili tersebut, Protestan dianggap sebagai teman. Karena itu jalinan ekumenis Katolik dan Protestan mulai terbentuk. Dalam beberapa kasus yang menyangkut kekristenan secara umum, DGI/PGI melakukan kerjasama dengan MAWI/KWI untuk mengeluarkan

24

pernyataan bersama (joint statement) yang dapat menjadi acuan warga Gereja (Protestan dan Katolik) dalam menyikapi suatu permasalahan bangsa. Tidak diragukan lagi keterlibatan para teolog Kristen di pemerintahan, antara lain Johannes Leimena dari Protestan dan Soegijapranata dari Katolik. Parkindo dan Partai Katolik menjadi mesin politik dalam memperjuangkan hasrat orang Kristen dalam negara, kendati sulit kita memisahkan kepentingan pribadi dan golongan dari kepentingan universal orang Kristen dalam kancah politik yang dilakukan partai-partai Kristen ini. Pemikiran teologis tentang Gereja dan negara diungkapkan dalam berbagai persepsi. Latuihamallo, misalnya, mengusulkan Gereja sebagai partner negara yang dinamis dan kreatif. Juga Driyarkara yang menjelaskan etika kekuasaan dan permasalahan kebebasan dan pemerintahan. Fokus berteologi juga dinampakkan dalam bidang sosial dan budaya, baik dalam konsep maupun praktik. Josef Widyatmadja misalnya, melibatkan diri bersama orang-orang miskin di Surakarta dalam upaya menjelaskan teologi sosial dan kritik terhadap pemerintah. Tampaklah bahwa teologi yang dibangun tidak hanya selesai dalam tulisan tetapi dipraktikkan dalam tindakan. Perhatian teologis terhadap budaya atau adat setempat semakin menguat terutama dari teolog Katolik. Karena memang mereka sangat dipengaruhi oleh Konsili Vatikan II yang memberi tempat bagi kebudayaan setempat. Tentulah pemahaman teologi Kristen terhadap kebudayaan seringkali mendapat perlawanan dari agama suku yang mengklaim budaya setempat sebagai miliknya, dan memandang budaya Kristen sebagai budaya Barat. Kendati demikian, ada sisi-sisi pemikiran teologi Kristen yang dapat memberikan warna kekristenan dalam budaya setempat. Ukur dan Cooley dalam bukunya Jerih dan Juang, secara lugas memperlihatkan hubungan Gereja dan adat yang dalam perjumpaannya seringkali terjadi ketegangan dan juga terjadi pembauran. Secara keseluruhan, menurut Ukur dan Cooley, gereja-gereja di Indonesia mengambil sikap yang sama mengenai kebijaksanaan dalam hubungan dengan adat: dalam hal yang secara mendasar dianggap bertentangan dengan iman Kristen ditolak dan dilawan, sedangkan yang tidak dianggap bertentangan diterima dan dipergunakan.5

F. Ukur e.a., Jerih dan Juang: Laporan Nasional Survai Menyeluruh Gereja di Indonesia (1979), h. 322.

25

Pada abad ke-20 ini pula isu jender didengungkan melalui teologi feminis. Para tokoh feminis seperti Agustina Lumentut, Henriette Marianne Katoppo, Sientje Merentek-Abram, dan lain-lain mengetengahkan kesetaraan jender, keadilan, dan isu-isu sosial yang menyangkut perempuan. Teologi juga memandang hubungan antaragama, terutama terhadap Islam yang selama ini dianggap sebagai lawan oleh pihak Gereja. Oleh sebab itu dibangun pemahaman bersama terhadap agama lain di mana Kristen hadir. Upaya untuk saling memahami dan menghormati antaragama disampaikan dalam berbagai seminar atau dialog. Lembaga antar iman dibentuk antara lain DIAN/Interfidei. Di dalam Gereja sendiri, teologi berperan besar dalam merumuskan ajaran-ajaran Gereja, katekismus, dan liturgi. Dalam arsitektur, literatur dan seni, teologi juga dimanfaatkan dan memberi pemaknaan baru tentang iman Kristen yang kontekstual. Keluasan teologi ini memperlihatkan bahwa teologi Kristen telah merambah semua aspek kehidupan orang Kristen dalam berbagai situasi dan kondisi. Inilah yang memberikan tempat bagi teologi untuk terus berkembang dari waktu ke waktu.

C. Tanggapan Sejarah kekristenan di Indonesia seperti yang diungkapkan dalam buku A History of Christianity in Indonesia ini menggambarkan sejarah kekristenan yang menghasilkan pola identitas kekristenan lokal. Bahwa dalam kenyataannya kekristenan dibawa oleh bangsa Barat, hadir ke Indonesia dalam bentuk Barat, dengan tradisi superioritas Barat, telah dikoreksi sedemikian rupa oleh orangorang Kristen lokal dalam perjumpaan kekristenan dengan budaya lokal. Koreksi ini memberi gaung pada pentingnya identitas lokal untuk memahami kekristenan sebagai hak milik pribadi, dan bangsa, dan kaum, dan bahasa. Disparitas etnik yang terjadi dalam wajah kekristenan lokal bukan bermaksud untuk meniadakan esensi kekristenan itu sendiri, melainkan untuk memberi baju baru bagi kekristenan yang dibawa dari tradisi Barat. Upaya ini tentu saja bukanlah perkara yang mudah. Karena, seringkali di dalam diri orang Kristen lokal, terutama kaum tua, menolak esensi Kristen yang diberi baju baru identitas lokal. Superior Barat masih dianggap sebagai sebuah kebanggaan untuk menunjukkan bahwa agama

26

Kristen adalah agama yang berkelas. Di samping itu pula, pemberian baju baru kekristenan ini harus berhadapan dengan klaim budaya dari agama suku setempat. Kebijaksanaan kekristenan dalam menghadapi situasi ini yang mengharuskan kekristenan merunuskan pandangannya tentang budaya atau adat setempat. Tidak dapat disangkal bahwa peran badan zending di bidang pendidikan bagi orang-orang Kristen khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya sangat besar. Mereka membantu manusia Indonesia menjadi orang-orang yang terdidik, terlepas dari motif kristenisasi dan westernisasi mereka. Pendidikan menjadi modal penting untuk memajukan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang terdidik. Di dalam sejarah Indonesia, para pemimpin bangsa pra kemerdekaan menempuh pendidikan di sekolah-sekolah pemerintah kolonial dan zending, baik di dalam maupun di luar negeri. Namun, kita patut bersedih karena begitu banyak sekolah-sekolah zending yang dahulu tersebar luas hampir di seluruh Indonesia harus berakhir dengan diambil-alih oleh atau diserahkan kepada pemerintah, bahkan ditutup, karena kekurangan biaya operasionalnya. Gereja mandiri yang telah terbentuk dalam banyak kasus tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam hal Pendidikan Kristen (PK), tidak diragukan lagi inilah misi utama badan zending ketika pertama kali melakukan Pekabaran Injil (PI) di Indonesia. Karena ketika pertama kali datang, kristenisasi merupakan panggilan utama PI untuk sebanyak-banyaknya menjadikan orang beragama Kristen. PK diberi tempat yang besar dalam sekolah-sekolah zending. Melalui PK, seseorang dididik untuk menjadi seorang Kristen yang taat dan saleh, selanjutnya dalam perkembangan PK, dapat ditambah menjadi orang Kristen kontekstual, nasionalis, dan pluralis.

Referensi Aritonang, J.S.: Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006. England, J.C.: The Hidden History of Christianity in Asia. New Delhi: Cambridge Press, 1996. Hoekema, A.G.: Berpikir dalam Keseimbangan yang Dinamis. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997. Ricklefs, M.C.: A History of Modern Indonesia since c. 1200. Hampshire: Palgrave, 2001. Ukur, F. dan Cooley, F.L.: Jerih dan Juang: Laporan Nasional Survai Menyeluruh Gereja di Indonesia. Jakarta: LPS-DGI, 1979.

27

28

Anda mungkin juga menyukai